Tampilkan postingan dengan label TV Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TV Series. Tampilkan semua postingan
DI BALIK LAYAR - CRAZY GIRLFRIEND STADIUM 3
Rasyidharry
Artikel kali ini bukan sebuah review, bukan pula membahas film,
melainkan web series Crazy Girlfriend musim ketiga yang merupakan hasil produksi Web TV Asia Indonesia. Bukan,
ini juga bukan artikel endorsement.
Seperti judulnya, saya akan membahas sedikit proses di balik layar (sambil
sedikit promosi) serial ini, karena kebetulan, saya berkontribusi menulis
naskahnya.
Saya termasuk penonton musim
pertamanya yang tayang awal 2017 lalu dan cukup menyukainya. Bukan konsep baru,
tapi kegilaan Karina Nadila sebagai Gladys si pacar sinting jelas hiburan
menyenangkan di waktu senggang. Lebih dari setahun berselang, Gandhi Fernando
berniat melanjutkan Crazy Girlfriend
yang cukup lama tertunda, salah satunya karena persoalan biaya. Saya pun setuju menjadi penulis naskah, karena
sebelumnya pun sempat menulis beberapa episode Gadun the Series.
Pertanyaannya, “Bagaimana membuat
serial dengan biaya minim, atau bahkan sama sekali nihil?”. Akhirnya tercetus
ide untuk mengubah konsep. Setelah musim pertama dan kedua yang memiliki story arc panjang dengan durasi tiap
episode sekitar 5 menit (bahkan lebih), diputuskan bahwa musim ketiga cenderung
berbentuk sketsa berdurasi 1-2 menit. Saya pun mulai menulis sekitar 15
episode. Proses yang cukup memusingkan, karena lagi-lagi terbentur soal dana,
beberapa ide tidak bisa dimasukkan. Semua episode harus berlokasi di satu
tempat (indoor) dan hanya melibatkan
dua pemain: Karina dan Gandhi.
Saya sadar, setelah menembak
pacarnya sendiri di musim kedua, meningkatkan kegilaan Gladys bukan hal mudah. Saya
pun memutuskan menambah unsur absurditas (contohnya bisa dilihat di episode
pertama yang saya unggah di bawah). Tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada
modifikasi lain. “Nino (Gandhi Fernando) harus lebih berperan dalam humornya!”,
begitu pikir saya. Menyaksikan beberapa episode lama, saya berujar, “He’s too manly, too normal”. “Kejantanan”
Nino pun saya lucuti. Jadilah musim ketiga menampilkan Nino yang baru, lebih lemah, lebih cengeng, lebih penakut, lebih pasif, lebih (merasa) teraniaya.
Ditambah beberapa skrip yang sudah
Gandhi tulis sebelumnya (3 episode berkelanjutan yang menampilkan 2 bintang
tamu), proses pengambilan gambar pun dimulai. Sekitar 12 episode diambil selama
1 hari. Sayang saya tidak bisa bercerita banyak mengenai proses ini karena
kebetulan sedang ada di luar kota.
Sekarang episode pertama Crazy Girlfriend 3—yang seperti
musim-musim sebelumnya masih disutradarai oleh Achmad Romie—yang berjudul Kamu
Selingkuh? akhirnya sudah diunggah di kanal YouTube Gandhi Fernando. Kalian juga bisa menonton episode pertamanya di bawah artikel ini. Selamat
menikmati dengan santai!
Agustus 20, 2018
Achmad Romie
,
Gandhi Fernando
,
Indonesian Film
,
Karina Nadila
,
TV Series
DO(S)A, MINISERI AKSI KOLABORASI TIGA NEGERI
Rasyidharry
Kita tahu Hollywood tengah memasuki masa keemasan dalam
industri televisi, di mana berbagai serial berkualitas dengan beragam genre
telah diproduksi. Saya dan mungkin banyak dari anda bertanya-tanya, kapan negeri
kita menghasilkan karya serupa? Sebuah serial dengan production value mumpuni yang mengusung tema berbeda alih-alih
sekedar romansa konyol seperti kerap dikesploitasi layar kaca.
Sambut Do(s)a,
miniseri original produksi Tribe, yang merupakan bagian dari KolaboraSEA, yaitu
kolaborasi negara-negara Asia Tenggara yang siap menjawab kehausan kita akan
serial berkualitas negeri sendiri. Untuk Do(s)a
sendiri, negara yangb berkolaborasi adalah Indonesia, Malaysia, dan
Singapura. Ifa Isfansyah (Sang Penari,
Garuda di Dadaku) bertindak selaku sutradara,sementara naskahnya ditangani
oleh Salman Aristo (Laskar Pelangi,
Mencari Hilal, Ayat-Ayat Cinta). Jajaran pemainnya sendiri menggabungkan
talenta dari ketiga negara di atas, yaitu Ashraf Sinclair, Remy Ishak, Datuk M.
Nasir (Malaysia), Roy Marten, Reuben Elishama, Hannah Al Rashid, Maudy
Koesnaedi (Indonesia), Danielle Sya, dan Shenty Feliziana (Singapura).
Menggabungkan elemen action
dan kriminal seputar mafia, Do(s)a
bercerita mengenai tiga bersaudara asal Malaysia, Fuad (Ashraf Sinclair), Farid
(Remy Ishak), dan Fahad (Hisham Hamid) yang berusaha menyelamatkan saudara
mereka, Fara (Shenty Feliziana), yang kabur ke Jakarta guna mengejar seorang
anak jalanan asal Jakarta bernama Arian (Reuben Elishama). Arian sendiri adalah
anak jalanan asal Jakarta yang sebelumnya datang ke Kuala Lumpur untuk meminta
bantuan ayah para bersaudara tersebut, Latif (Datuk M. Nasir), yang merupakan
bos mafia dari Gerbang Utara. Di Jakarta, mereka justru terjebak di tengah
pertikaian antara mafia setempat.
Gelaran aksi bakal mengiringi perjuangan tiga bersaudara itu,
dan demi menghasilkan adu jurus martial
arts yang memukau, hadir Cecep Arif Rahman (The Raid 2: Berandal, Star Wars: The Force Awakens) sebagai
koreografer laga. Bukan saja bertugas mengarahkan adegan laga, Cecep pun turut
ambil bagian memerankan salah satu anggota mafia. Kita tahu bagaimana Ifa
Isfansyah piawai mengarahkan studi karakter seperti ini, begitu pula Salman
Aristo yang terkenal lewat penulisan drama mendalam. Kita pun tahu betul Cecep
Arif Rahman selalu piawai mengkreasi parade aksi seru berbalut jurus-jurus
memukau.
Kolaborasi kelas wahid ini bisa disaksikan secara streaming di aplikasi Tribe yang dapat
diunduh secara gratis lewat Google Play
dengan cara meng-klik link ini.
Jangan khawatir bakal boros kuota, sebab streaming
di Tribe bisa dilakukan tanpa kuota alias GRATIS bagi pengguna Telkomsel
yang memakai paket VideoMAX. Serial dalam negeri dengan tema serupa ditambah
penggarapan berkualitas masih jarang kita temui, jadi pastikan tidak melewatkan
Do(s)a. Supaya lebih meyakinkan,
simak dulu trailer dari Do(s)a the Series
berikut ini.
Untuk info lebih lanjut, bisa kunjungi akun-akun media sosial
Tribe di bawah ini:
Instagram :
instagram.com/tribe_id
Mei 01, 2018
Ashraf Sinclair
,
Cecep Arif Rahman
,
Danielle Sya
,
Datuk M. Nasir
,
Hannah Al Rashid
,
Ifa Isfansyah
,
Maudy Koesnaedi
,
Remy Ishak
,
Reuben Elishama
,
Roy Marten
,
Salman Aristo
,
Shenty Feliziana
,
TV Series
UNBREAKABLE KIMMY SCHMIDT SEASON 2 - TOP 10 BEST MOMENTS
Rasyidharry
Melanjutkan 10 momen terbaik dari musim pertama Unbreakable Kimmy Schmidts, sesuai janji saya pun membuat daftar lanjutan. Masih mengandalkan humor absurd yang acap kali merupakan satir tepat sasaran, sayangnya musim kedua ini tidak sesegar pendahulunya, terlebih karena Kimmy (Ellie Kemper) perlahan telah mampu beradaptasi dengan dunia luar. Menariknya, pasokan drama jauh lebih kuat, khususnya seputar para tokoh pendukung. Titus (Titus Burgess) merasakan cinta pertama sementara Jacueline (Jane Krakowski) mulai memahami cara menjadi ibu. Itu sebabnya 10 momen terbaik musim kedua bukan saja soal humor, pula drama hangat. These women are still as strong as hell, though.
Titus Falls for Mikey
Mentos Tooth Replacement
Monkey Jesus
Baby No Go Nite Nite
Weird Panicked Noises
Kimmy Goes Happy Tree Friends
Lillian's Heartwarming Speech About Parenting
Dyziplen
Mikey's "Weird" Grandmother
Titus's Geisha Song
November 15, 2017
Comedy
,
Ellie Kemper
,
Jane Krakowski
,
List
,
Titus Burgess
,
TV Series
UNBREAKABLE KIMMY SCHMIDT SEASON 1 - TOP 10 BEST MOMENTS
Rasyidharry
Beberapa minggu terakhir fokus saya teralih ke serial televisi. Ada Mindhunter yang luar biasa, musim kedua Stranger Things yang asyik walau tak sekuat pendahulunya, tapi yang paling mencuri perhatian justru Unbreakable Kimmy Schmidt yang tayang di Netflix sejak 2015. Sitcom buatan Tina Fey dan Robert Carlock yang sempat berkolaborasi dalam 30 Rock ini mengisahkan usaha Kimmy Schmidt (Ellie Kemper) menyesuaikan diri dengan dunia luar pasca diculik oleh Richard Wayne Gary Wayne (Jon Hamm) untuk bergabung dalam sekte yang percaya kiamat segera datang. Bersama tiga wanita lain, Kimmy tinggal di bunker itu selama 15 tahun. Lucu dan adiktif, Unbreakable Kimmy Schmidt sejauh ini sudah mengoleksi 9 nominasi Emmy berkat kepiawaian menyampaikan beragam isu terkait feminisme hingga rasisme. Berikut saya menyusun 10 momen terbaik dari musim pertama yang disusun secara acak. Daftar serupa untuk musim kedua dan ketiga akan segera menyusul. Females are strong as hell!
Kimmy and Titus Speaking "French"
Titus is A Supportive Friend
Every Jackie Lynn Moment
Korean Funeral
Titus Goes Viral
I Can't Fix America
Lion King One-Man Show
That Super Catchy Opening
Society Treats Werewolf Better Than Black Guy
PEENO NOIR!
November 11, 2017
Comedy
,
Ellie Kemper
,
Jon Hamm
,
List
,
Robert Carlock
,
Tina Fey
,
Titus Burgess
,
TV Series
AMERICAN HORROR STORY: ROANOKE (EPISODE 1-3)
Rasyidharry
Berbeda dibanding lima musim sebelumnya, musim keenam "American Horror Story" diselimuti misteri mengenai usungan temanya. Deretan trailer yang berkesan acak nyaris tak memberi petunjuk, kecuali janji Ryan Murphy bahwa season ini bakal kental unsur pembeda. Jika memang benar maka itu merupakan keputusan tepat mengingat semakin ke sini "American Horror Story" semakin terasa repetitif.
CHAPTER 1
Tanpa judul, tanpa opening sequence, episode pertama mengungkap tema plus perubahan format AHS. Cerita berpusat di acara docu-reality "My Roanoke Nightmare" di mana para narasumber menuturkan pengalaman horror mereka. Terdapat dramatic re-enactment, sehingga satu karakter diperankan dua aktor. Protagonisnya adalah suami istri, Shelby (Lily Rabe/Sarah Paulson) dan Matt (Andre Holland/Cuba Gooding Jr.) yang pindah ke daerah terpencil di North Carolina pasca peristiwa traumatik di Los Angeles. Tidak ada nuansa glamor serupa beberapa musim AHS. Skala pun kecil, hanya pasutri yang mendapat teror di rumah baru mereka. Satu-satunya tambahan karakter utama yaitu Lee (Adina Porter/Angela Bassett), mantan polisi sekaligus adik Matt. Jump scare dan gambar mengerikan menghiasi, tapi atmosfer ikut dimaksimalkan, menjadikannya salah satu episode AHS paling sederhana tapi efektif. Tanpa pengenalan setumpuk karakter dan sub-plot, hanya berpusat di teror satu lokasi. Format baru bak gimmick belaka namun menyuntikkan suasana segar sekaligus menghadirkan penasaran akan dibawa ke mana penceritaan di episode mendatang. Oh, and there are a lot of "Blair Witch" references. (4/5)
CHAPTER 2
Apa poin mengusung konsep baru jika eksekusi tetap formulaik? Begitulah episode kedua "Roanoke". Clliffhanger kala Shelby terjebak dalam human sacrifice yang dipimpin Tomasyn (Kathy Bates) selesai begitu saja dan sudah barang tentu saat polisi datang mereka telah menghilang. Inkonsistensi sikap tokoh terhampar kala Shelby yang sebelumnya memutuskan kabur kini berniat tinggal untuk melawan lalu memaksa pergi lagi. Di sisi lain Lee nekat membawa puterinya ke rumah walau tahu bahaya yang menanti. Sisanya adalah trik lama AHS berupa penampakan-penampakan random seperti dua suster psikopat atau monster babi. Bahkan Kathy Bates melakukan hal mirip dengan karakternya di "Coven" kala memasang kepala hewan ke tubuh manusia. Bedanya, kali ini bukan banteng melainkan babi. Repetitif, klise, seolah dibuat hanya untuk tease bagi serangkaian misteri. (2.5/5)
CHAPTER 3
This episode perfectly shows what's the best and the worst thing about "American Horror Story". Hal terbaiknya tak lain shock value, di mana scary imagery dan twisted story mendominasi. Kita akhirnya melihat rahasia kelam tentang koloni Roanoke yang hilang tanpa jejak dalam satu gory flashback berhiaskan kesintingan Kathy Bates. Muncul pula tokoh baru , cenayang Cricket Marlowe (Leslie Jordan) yang membantu pencarian puteri Lee. Kehadiran setumpuk disturbing moment jadi poin puncak, sebab Jennifer Lynch sang sutradara paham cara merangkai visual mengerikan. Hal terburuk terletak pada penulisan. Matt dan Shelby adalah protagonis AHS paling mengesalkan. Egois, inkonsisten, sekaligus penuh keklisean sikap skeptis mengenai hal-hal mistis. Sulit bersimpati saat mereka tak berbuat apapun kecuali menyalahkan satu sama lain atau pihak lain. Angela Bassett with her solid performance is much more likeable. Dilematis. Saya tertarik mencari tahu jawaban serangkaian misteri yang makin menarik, tapi enggan bertemu kembali dengan dua tokoh utamanya. (3/5)
DAREDEVIL: SEASON 2 (2016)
Rasyidharry
Akhirnya saya menyelesaikan musim kedua Daredevil setelah sempat tertunda cukup lama. Konsensus dari beberapa ulasan sepakat bahwa meski tergolong baik, musim ke dua masih berada di bawah musim pertama. Namun pendapat saya sebaliknya. Bukan hanya lebih baik daripada season pertama, season kedua ini layak dijadikan kiblat guna mengakali berbagai permasalahan yang kerap hadir dalam film superhero. Bahwa segala problema tersebut sangat mungkin terselesaikan melalui media series apabila digarap dengan baik. Selain itu, kita pun dijanjikan interpretasi live action layak bagi sosok Punisher setelah tiga versi layar lebar sebelumnya terasa mengecewakan.
Pasca jatuhnya Wilson Fisk/Kingpin (Vincent D'Onofrio), banyak kelompok mafia berusaha merebut tampuk kekuasaan. Namun di waktu bersamaan, muncul sosok misterius menebar teror bagi kriminal di Hell's Kitchen. Sosok itu tak lain adalah Frank Castle/Punisher (Jon Bernthal). Berbeda dibandingkan metode "no killing" milik Daredevil/Matt Murdock (Charlie Cox), bermodalkan senjata api, Frank tak segan membantai para penjahat secara sadis. Bagi Matt, permasalahan bukan saja berasal dari Frank, tapi juga mempertahankan keberlangsungan firma miliknya dan Foggy (Elden Henson) yang terancam bangkrut. Bertambah rumit tatkala Matt didatangi kembali oleh sang mantan kekasih, Elektra Natchios (Elodie Yung), membawanya berurusan dengan organisasi rahasia bernama "The Hand".
Terdapat segunung konflik di sini yang membuatnya layak disebut ambisius, selaras dengan formula sekuel yaitu "the bigger, the better". Ambisi ini justru kerap menghancurkan kualitas penceritaan. Untung Marco Ramirez dan Doug Petrie selaku showrunner cermat merangkai tiap keping cerita. Bukan hanya fokus tidak saling tumpuk, tiap subplot mendapat eksplorasi mencukupi. Empat episode awal memang agak repetitif dan stagnan -sering ditutup oleh perkelahian Daredevil melawan Punisher- namun sukses menggiring saya turut merasakan problema dilematis tentang gesekan ideologi Matt dan Frank. Keengganan Matt membunuh itu benar, tapi tatkala kriminalitas telah mengakar kuat, kebrutalan Frank sulit dipersalahkan. Apalagi menengok latar belakang tragedi masa lalunya, kebencian mendalamnya untuk kejahatan mudah dimaklumi.
Tapi baru pada episode kelima kisahnya mulai memasuki puncak kualitas, tepatnya setelah kehadiran Elektra, menyuguhkan romantika kompleks dia dan Matt. Awalnya hubungan mereka tampak destruktif. Matt anti membunuh, sebaliknya Elektra sangat "ringan tangan". Hingga kemudian eksplorasi terhadap sisi gelap Matt dimulai ketika saya -juga Matt- perlahan sadar jika kehadiran Elektra justru membuatnya semakin "hidup", bahwa kehidupan sebagai "Devil of Hell's Kitchen" jauh lebih menggairahkan dibanding rutinitas menjadi pengacara. Fakta ini memicu masalah lain ketika Foggy dan Karen (Deborah Ann) merasa Matt meninggalkan mereka di masa-masa sulit. Pada saat bersamaan, konflik mengenai Frank beralih dari baku hantam antar vigilante menuju courtroom drama solid berhiaskan penelusuran karakter Frank, pula memberi Karen tambahan peran, bukan sekedar asisten/love interest Matt.
Setumpuk cabang alur itu saling melengkapi, menciptakan satu kesatuan utuh. Semua berujung pada Matt sendiri, bagaimana ia mempertanyakan ideologi dan harus menemukan sisi gelap terpendamnya. Di komik, Daredevil bukan superhero dengan kehidupan menyenangkan. Anda kira hidup Batman berat? Coba tengok Matt Murdock bersama rangkaian tragedinya. Sulit bersimpati terhadap protagonis satu ini, namun Matt/Daredevil memang bukan sosok penebar simpati. Dia adalah representasi akan konsekuensi tatkala seorang manusia biasa memutuskan mengambil jalan hidup sebagai superhero. Terjadi banyak kehilangan. Benturan pun tak hanya secara fisik melainkan juga mental. Musim kedua ini sanggup mewakili aspek tersebut. Pencapaian di atas sulit ditemukan pada film berdurasi tiga jam sekalipun, sehingga format serial 13 episode di mana tiap musim berbeda fokus penceritaan jadi pilihan terbaik.
Marco Ramirez dan Doug Petrie tak hanya sukses membangun satu kesatuan menarik secara luas (satu musim), melainkan tiap episode. Daredevil Season 2 selalu memiliki cliffhanger atau engaging tease di akhir episode, sehingga saya membatalkan niat beristirahat guna lanjut menonton di lain waktu. Sangat adiktif. Terlebih pemaparan konfliknya solid, fokus pun sulit teralihkan dari segala momen. Semakin mengagumkan lagi menengok keberhasilan pembangunan universe-nya. Teruntuk dunia Daredevil sendiri, kembalinya Wilson Fisk meski hanya beberapa episode cukup menegaskan bahwa segala hal yang pernah atau sedang terjadi takkan lewat begitu saja. Semua bertempat di satu dunia dan bisa jadi kelak akan memiliki peran dalam cerita selanjutnya. Sedangkan bagi universe lebih luas, easter eggs serta munculnya beberapa tokoh telah menjembatani serial ini dengan Jessica Jones. Pondasi kuat ini berguna supaya crossover -termasuk The Defenders- tak terasa dipaksakan.
Walau begitu, sesungguhnya penulisan naskah jauh dari kata sempurna. Beberapa momen khususnya ketika Matt "berceramah" entah pada Frank atau Elektra mengenai ideologi serta kehidupan justru menciptakan kontradiksi. Tidak jarang, Matt mengatakan dua hal bertolak belakang hanya dalam hitungan detik. Kekurangan ini seringkali disebabkan oleh keinginan Marco Ramirez dan Doug Petrie menuturkan baris kalimat filosofis tanpa memperhatikan substansi atau kontinuitas pembicaraan yang tengah terjadi.
Serial Daredevil pastinya tak bisa lepas dari koreografi adegan aksi. Jika anda terpikat oleh sajian musim pertamanya, bersiaplah, karena musim kedua mengalami peningkatan signifikan dalam ranah ini. Aksi tangan kosong Daredevil masih brutal, dan porsinya berlibat ganda berkat kemunculan Elektra. Apabila musim pertama punya hallway fight yang memorable karena long take-nya, kali ini kita diberikan stairwell fight. Konsep long take masih dipertahankan, tapi durasi lebih lama dan pengadeganan lebih kompleks. Perkelahian tak hanya terjadi di satu lokasi dengan kamera statis, melainkan berjalan menuruni tangga. Kamera bergerak dinamis menangkap pergerakan adegan, menghasilkan intensitas tinggi.
Tidak bisa dipungkiri season 2 kehilangan sosok villain yang mampu mengikat penonton secara emosional macam Wilson Fisk atau Kilgrave (Jessica Jones). Untungnya kemunculan dua sosok baru; Elektra dan Punisher, menutupi kelemahan tersebut. Lupakan Black Widow, Elektra Natchios adalah femme fatale terbaik milik MCU saat ini. Saya bisa meracau berjam-jam hanya membicarakan sosoknya, but let me put it simply: she's badass yet sensual and likeable at the same time. Elodie Yung menjauhkan Elektra dari kesan dua dimensi, meyakinkan saya bahwa di balik kekejamannya, ia hanya tersesat akibat kurangnya cinta. Frank Castle? Kita semua mengharapkan pertumpahan darah dari Punisher, dan itu pula yang kita dapat -kekacauan di penjara adalah momen Punisher favorit saya. Jon Bernthal punya kharisma guna memunculkan aura intimidatif sang tokoh sembari tak lupa menyelipkan hati, menguatkan motivasi atas sikap karakternya. Setiap bertutur tentang keluarga, terpampang jelas kegetiran baik melalui ekspresi maupun pelontaran kalimat Bernthal.
Daredevil (lagi-lagi) memberi contoh bagaimana menuturkan kisah superhero secara gritty tanpa harus berusaha terlalu keras dan malah berakhir dipaksakan. Keberhasilan bukan didasari oleh seberapa depresif kisahnya, melainkan sedalam apa penggalian konflik. Karena semakin dalam penggalian, makin pula kisahnya menyentuh sisi psikis penuh konflik dilematis karakter, dan konflik semacam itu secara otomatis membawa kisah ke ranah lebih gelap sekaligus dewasa. Daredevil Season 2 merupakan serial adiktif berisi penceritaan solid, berhasil membuat saya terikat kuat, termasuk dengan karakternya. Sampai saat ini gejolak perasaan akibat finale menegangkan penuh getaran emosi masih teramat kuat. Damn you devastating finale!
April 03, 2016
Action
,
Crime
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
TV Series
AMERICAN HORROR STORY: HOTEL (EPISODE 11-12)
Rasyidharry
Berikut adalah review untuk "American Horror Story - Hotel" episode 11 dan 12 (finale). Untuk review episode-episode sebelumnya dapat dilihat pada link di bawah:
11 - BATTLE ROYALE
Dua episode terakhir rutin jadi momentum "AHS" untuk secepatnya memberi resolusi terhadap segala arc. Hasilnya selalu sama; penuh kejutan dan kejadian penting namun terburu-buru sehingga impact yang diharapkan tak maksimal. "Hotel" bukan pengecualian, dan itu terpampang jelas disini. "Battle Royale" melanjutkan cliffhanger ketika Liz dan Iris memberondong Countess dengan peluru. Dia terluka parah namun bertahan hidup. Setelah kegagalan itu, Liz dan Iris memilih membebaskan Ramona untuk dapat membunuh Countess. Sementara John yang mesti berburu guna memberi suplai darah pada Alex dan Holden masih harus berurusan dengan March. Banyak hal esensial terjadi. Dua orang tewas, satu rahasia terbongkar, dan kembalinya karakter dari musim ketiga (Coven). Menghibur, tapi terlalu banyak hal terjadi tanpa tension building memadahi sehingga hanya sekedar lalu. Terlebih suatu keputuan yang diambil Ramona membuat pengembangan karakternya selama ini sia-sia, meskipun jadi hal baru nan menarik melihat Countess dalam kondisi tak berdaya baik fisik dan mental. Entertaining indeed, but that's it. (3.5/5)
CONCLUSION: "Hotel" mengembalikan kepercayaan sekaligus antusiasme saya akan serial ini. Tentu bukan musim terbaik AHS, tapi jelas jauh diatas "Freak Show" yang membosankan itu. Menyenangkan pula melihat para reguler macam Evan Peter, Sarah Paulson dan Dennis O'Hare memerankan tokoh yang amat berbeda dibanding peran-peran mereka sebelumnya. Mungkin Lady Gaga belum sepadang dengan Jessica Lange, tapi untungnya "Hotel" adalah musim tanpa tokoh sentral. Masing-masing punya kesempatan bersinar, mengemban beban yang ditinggalkan Lange secara kolektif. Musim kelima ini juga dengan baik mengaitkan diri dengan musim-musim sebelumnya, sehingga universe bagi AHS terbentuk rapih. Bila harus membuat ranking tiap musim, begini kira-kira versi saya:
12 - BE OUR GUEST
Akhirnya "Hotel" mencapai episode finale, momen dimana kebanyakan musim AHS justru mencapai titik nadir akibat efek konklusi terburu-buru. Tapi tidak untuk kali ini. Liz dan Iris akhirnya mengambil alih Hotel Cortez dan berusaha memulai awal baru, merubah wajah hotel menjadi lebih baik, tanpa pertumpahan darah, tanpa tragedi. Untuk itu mereka harus mampu meyakinkan para arwah haus darah di dalamnya. "Be Our Guest" tidak lebih dari extended epilogue bagi tiap karakter. Alurnya nihil, lebih mirip gabungan beberapa segmen. Secara kelayakan storytelling hal ini buruk, tapi untuk pertama kalinya, "American Horror Story" memberikan akhir yang layak mengenai nasib tokoh-tokohnya. Kelayakan itulah yang memunculkan kepuasan dalam diri saya, apalagi secara nuansa, finale ini termasuk happy ending dibanding pendahulu-pendahulunya. Minim ketegangan tapi rasa puas sungguh mendominasi. Ditambah konsistensi performa Dennis O'Hare sebagai Liz Taylor, karakter terbaik sepanjang sejarah penayangan AHS, jadilah "Be Our Guest" penutup sempurna. (4/5)CONCLUSION: "Hotel" mengembalikan kepercayaan sekaligus antusiasme saya akan serial ini. Tentu bukan musim terbaik AHS, tapi jelas jauh diatas "Freak Show" yang membosankan itu. Menyenangkan pula melihat para reguler macam Evan Peter, Sarah Paulson dan Dennis O'Hare memerankan tokoh yang amat berbeda dibanding peran-peran mereka sebelumnya. Mungkin Lady Gaga belum sepadang dengan Jessica Lange, tapi untungnya "Hotel" adalah musim tanpa tokoh sentral. Masing-masing punya kesempatan bersinar, mengemban beban yang ditinggalkan Lange secara kolektif. Musim kelima ini juga dengan baik mengaitkan diri dengan musim-musim sebelumnya, sehingga universe bagi AHS terbentuk rapih. Bila harus membuat ranking tiap musim, begini kira-kira versi saya:
ASYLUM > COVEN > MURDER HOUSE = HOTEL > FREAK SHOW
KISAH CARLO - EPISODE 4 (KIVA)
Rasyidharry
Memasuki episode keempat, "Kisah Carlo" makin memperlihatkan dampak dari durasinya yang (kelewat) pendek dengan banyaknya jumlah karakter. Kali ini fokus diberikan pada Kiva (Mikhail Ghanialmer), anak kecil yang juga merupakan pasien Ruang Carlo. Diceritakan Kiva harus dibawa ke rumah sakit oleh kakek dan neneknya akibat menderita demam berdarah. Siapa Kiva? Bagaimana bocah sekecil dia bisa terjangkit HIV? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya hanya bisa dijawab melalui beberapa baris dialog, yang tentu saja tidak cukup memberi eksplorasi apalagi menjali ikatan emosi dengan penonton. Sayang, padahal terdapat pesan kuat mengenai seorang bocah yang sanggup memberi pelajaran kehidupan pada mereka yang jauh lebih tua.
Paul Agusta selaku sutradara jelas telah berusaha semaksimal mungkin di tengah segala keterbatasan. Begitu pula naskah hasil tulisan Andri Cung yang mau tidak mau hanya bisa melakukan penggalian karakter secara sekilas. Saya tentu sangat mengapresiasi effort keduanya, karena toh pendeknya durasi "Kisah Carlo" (mungkin) lebih dikarenakan bujet yang juga minim. Tapi kekurangan itu bisa dihindari andai saja ambisi untuk memperkenalkan banyak tokoh mau sedikit dikurangi. Karena diluar tokoh "baru" seperti Kiva dan keluarganya, muka lama yang karakternya sudah tergali nyatanya berhasil menciptakan jalinan drama kuat meski porsinya tidak banyak.
Maya (Putri Ayudya) tengah kebingungan tatkala sang suami, Surya (Natalius Chendana) sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah. Kita pun sejenak diajak lebih mengenal Suster Leli (Dayu Wijanto) lewat satu scene pendek saat ia menelepon keluarganya. Pesona episode ini muncul kala Maya dan Suster Leli secara bergantian mengisi screen time. Suster Leli dengan perpaduan sisi tegas dan lembut serta Maya yang rapuh sudah sejak awal menjadi karakter favorit saya. Memberi mereka waktu muncul bergantian meski tidak dalam satu frame sudah cukup menghidupkan dinamika.
Putri Ayudya konsisten menjaga supaya tidak terjadi kekosongan emosi. Kondisi Maya dalam episode ini diselimuti kekhawatiran pula kesedihan, dan kedua hal itu selalu bisa dirasakan tiap kali sosoknya muncul. Tapi rangkaian adegan sekitar tiga menit yang diambil secara single take menjadi highlight disaat Dayu Wijanto memberikan gradasi emosi luar biasa. Paul Agusta memilih penggunaan close-up yang sempurna menangkap proses perubahan emosi sang aktris, dari senyuman hangat hingga ketika air mata mulai mengalir. Bukan perkara mudah untuk menampilkan dua emosi bertolak belakang secara alamiah tanpa sekalipun terjadi pemotongan adegan. Sejauh ini Dayu Wijanto dan karakternya, Suster Leli merupakan hal terbaik dalam "Kisah Carlo".
Anda bisa menonton "Kisah Carlo" Episode 4 disini dan subscribe channel-nya.
Januari 16, 2016
Drama
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
REVIEW
,
TV Series
KISAH CARLO - EPISODE 3: NOVI
Rasyidharry
Novi (Anneqe Kartika S.) merupakan salah satu karakter dengan potensi penceritaan terbesar dalam serial ini. Sikap memberontak yang selalu ia munculkan pada sang ibu (Aifd Idawati) lebih dari cukup untuk memberi drama emosional tentang hubungan ibu dan anak. Episode ketiga garapan Paul Agusta ini menjadikan Novi sebagai sentral cerita, setidaknya begitu niatan awal yang diusung. Seperti biasa adegan mengenai Novi melibatkan curhatan sang ibu pada Dr. Jenny (Gesata Stella) tentang keengganan puterinya itu mematuhi aturan mengkonsumsi obat. Kemudian Novi akan melontarkan komentar ketus untuk ibunya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang praktek. Pola serupa -yang terasa repetitif- kembali terulang, bedanya kali ini diakhiri dengan Novi jatuh pingsan dan terpaksa menjalani rawat inap.
Memang episode ini menjelaskan alasan yang melatari sikap kasar Novi, tapi hanya sekilas bak "flash news" daripada seutuhnya mengajak penonton jauh lebih mengenal supaya bersimpati padanya. Berbeda jauh dibandingkan episode kedua yang mampu membuat saya menyukai dan ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Maya dan Surya. Novi tetap menjadi gadis menyebalkan sebelum secara tiba-tiba karakternya bertransformasi di akhir kisah. Caranya memberikan konklusi sudah tepat, hanya saja timing terburu-buru membuat emotional impact-nya nihil. Bahkan karena saya lebih terikat pada Surya, kemunculannya dalam beberapa menit jauh lebih menarik daripada keseluruhan kisah mengenai Novi.
Salah satu alasan gagalnya pengembangan karakter disebabkan oleh durasi yang terlalu pendek. Jika dua episode pertama berjalan sekitar 20 menit, episode ini hanya berdurasi 14 menit. Saya tidak tahu kenapa, tapi hal itu membuat eksplorasi menjadi dangkal dan progresi alur yang terburu-buru. Beberapa dialog serta eksekusi adegan yang cringe-worthy turut melemahkan kualitas narasi. Afid Idawati sering jadi "korban" dua hal tersebut. Walau sudah berusaha sebisa mungkin membuat semua momen terasa realistis, rentetan kalimat ketika ia menelepon mantan suaminya atau saat terlambat menyadari hilangnya Novi (bagaimana bisa???) benar-benar menggelikan. Daripada tersentuh atau ikut merasa cemas, saya justru tertawa melihatnya.
Sejak awal "Kisah Carlo" ditayangkan, saya menantikan hasil penyutradaraan Paul Agusta. Sayang sekali effort pertamanya justru tak hanya menjadi episode paling pendek tapi juga yang terlemah sejauh ini. Epsiode yang bagaikan filler memang, tapi saya tetap menyimpan harapan tinggi untuk pengembangan serial ini kedepannya.
Tonton Episode ketiga disini:
Januari 05, 2016
Drama
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
REVIEW
,
TV Series
KISAH CARLO - EPISODE 2: MAYA DAN SURYA
Rasyidharry
Setelah Pilot hanya bertugas sebagai perkenalan singkat kepada tiap tokoh, episode kedua yang masih ditulis dan disutradarai Andri Cung akhirnya membawa kita mengulik sisi personal karakter secara lebih dalam. Seperti yang telah nampak pada judulnya, karakter Maya (Putri Ayudya) dan suaminya, Surya (Natalius Chendana) menjadi fokus utama. Setelah divonis menderita HIV, Maya tak bisa berhenti memikirkan bagaimana ia bisa tertular virus tersebut. Adegan pembuka langsung memberikan jawabannya. Maya yakin asal muasal penyakit tersebut adalah dari sang mantan suami yang telah meninggal, Imron (Junior Napitupulu). Kita memang belum mengenal Maya lebih jauh, tapi fakta ia sebelunya sudah pernah menikah tetap memberi sedikit efek kejut.
Meski disebut "kejutan", tapi itu bukan twist, namun menyuguhkan kesan serupa seperti saat kita mulai mempelajari tiap sisi orang yang baru kita kenal. Karakter-karakternya menyimpan rahasia atau sekedar fakta yang sekedar belum dituturkan pada kita, dan "Maya dan Surya" membawa penonton mengenal lebih jauh dua titular character tersebut. Sentuhan kecil yang memberi efek signifikan, karena proses perkenalan itu jadi memiliki lebih banyak dinamika, bukan sekedar penjabaran trivia. Emosi dalam epsiode kedua ini juga lebih kuat, karena kisahnya masuk lebih jauh kedalam ruang privasi Maya dan Surya. Ada keintiman hangat menyaksikan keduanya berbicara di kamar atau sekedar makan bubur bersama.
Lebih banyak eksplorasi karakter juga berarti porsi "pertunjukkan akting" ikut meningkat. Putri Ayudya adalah "the next big thing", dan episode ini mengkonfirmasi kelayakannya. Seperti yang telah ia pertunjukkan pada episode perdana, lemahnya sosok Maya mampu disuguhkan dengan alamiah, tanpa interpretasi berlebihan terhadap sosok "orang sakit". Adalah detail kecil pada gerak pula ekspresi yang membuktikan kapasitas sang aktris. Terdapat banyak contoh, tapi ambil adegan ketika Maya berkonsultasi dengan Dr. Jenny (Gesata Stella). Maya tersenyum lembut, menunjukkan upaya tegar. Namun matanya jelas menyiratkan emosi lebih kompleks; takut, sedih, gundah. Pemain lain tidak buruk, tapi mudah menyebut Putri sebagai yang terbaik berkat detail kecil dan akting alamiah. Sebagai tambahan, saya menyukai chemistry Putri dan Natalius pada scene terakhir. Semoga momen "unscripted" macam itu lebih banyak muncul kedepannya (siapapun karakternya).
Salah satu kekurangan episode "Pilot" terletak pada penulisan dialog Andri Cung yang sering berputar-putar dan seringkali kasar dalam penempatan info mengenai HIV, membuatnya bagai iklan layanan masyarakat daripada drama. Pada "Maya dan Surya" untungnya poin minus itu tak lagi terulang. Masih terdapat beberapa sebaran informasi, tapi tidak mendominasi karena lebih banyak fokus diberikan pada penggalian karakter. Alhasil, saya pun lebih suka rela mencerna pengetahuan penting yang dituturkan. Kesubtilan juga lebih diperhatikan, dimana tiap aspek tidak lagi diungkapkan secara verbal. Pengaruhnya besar kepada pace alur yang alirannya jauh lebih nyaman diikuti. Alur lebih aktif bergerak namun tidak terburu-buru. "Maya dan Surya" adalah peningkatan signifikan yang mampu memanfaatkan potensi besar "Kisah Carlo".
Episode "Maya dan Surya" bisa disaksikan disini:
Desember 21, 2015
Bagus
,
Drama
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
TV Series
AMERICAN HORROR STORY: HOTEL (EPISODE 8 - 10)
Rasyidharry
Berikut adalah review untuk "American Horror Story: Hotel" episode 8-10. Untuk review episode-episode sebelumnya dapat dilihat disini:
Episode 1-3Episode 4-7
Ini bukan saja episode pertama sejak break, tapi juga selepas salah satu episode terbaik musim ini. Jadi terdapat beban berat yang ditanggung olehnya. Untuk itulah, Ryan Murphy yang turun tangan menulis naskah sedari awal langsung memberi jawaban atas salah satu misteri terbesar, yakni identitas The Ten Commandments Killer. Tapi untuk sebagian penonton, identitas sang pembunuh sudah bisa ditebak sejak lama. Jadi ketika Murphy memfokuskan satu episode untuk memberi jawaban sambil mengeksplorasi motif sang pembunuh lewat flashback, daya tarik gagal muncul. Ditambah lagi Murphy menyuntikkan segala ke-cheesy-an yang menjadi ciri (negatif) miliknya untuk mengeksplorasi kekacauan psikis seorang tokoh. Tentu tidak berhasil. Full of cheesy dialogue, self-loathing, and shallow exploration of madness, this episode is such a borefest. Makin memperburuk keadaan saat Murphy berusaha keras mengaitkan tiap benang merah -yang kusut- dalam pemaparan identitas sang pembunuh. Saking kacaunya hingga terkesan jawaban misteri baru dibuat belakangan, bukan rencana sejak awal. Episode terburuk "Hotel" sejauh ini. (2/5)
If you're a long fans of this series, than you already know when it's getting closer to the finale, everything will start to be such a mess. Story arc bertumpuk bakal secepat mungkin dituntaskan, membuat alur menjadi terburu-buru, kacau, bertumpuk. Episode yang giliran menampilkan Brad Falchuk selaku penulis naskah ini menunjukkan gejala serupa. Awalnya seperti akan berfokus pada Countess, tak butuh waktu lama untuk berpindah menuju karakter lain beserta flashback mereka. Saling bertumpukan tanpa meninggalkan kesan, tapi sutradara Michael Uppendahl mampu mengemasnya dengan rapih hingga kekacauan lebih jauh pun terhindarkan. Falchuk clearly did a better job than Murphy, yang ditunjukkan oleh kisah masa lalu Ramona. Kita dibawa melihat bahwa dibalik sosoknya yang berambisi balas dendam itu ada masa lalu tragis dan kehangatan seorang anak dengan orang tuanya. Overall masih kacau, tapi setidaknya kekacauan ini cukup menyenangkan. Tentu ketika Lady Gaga mendapat porsi lebih (seperti biasa) akan ada seks "panas" dan adegan telanjang (those stars on her breast though). (3/5)
10 - SHE GETS REVENGE
Melalui episode terakhir sebelum mid-break ini "Hotel" membuktikan bahwa fokus lebih pada Liz selalu berujung tontonan memuaskan. Liz tidak ingin lagi melanjutkan hidup tanpa Tristan, dan memilih untuk bunuh diri sebelum dicegah oleh Iris. Karena, jika masih ada urusan yang belum selesai, arwah Liz akan selamanya gentayangan di Hotel Cortez. Untuk itu ia mengambil keberanian bertemu kembali dengan sang putera yang tak pernah ditemuinya selama 31 tahun. Saat akhirnya reuni terjadi, kehangatan yang terasa, apalagi berkat respon emosi dari Denis O'Hare. Reuni juga terjadi antara John dan Alex, dimana mereka harus menyelesaikan kekacauan akibat pembunuhan berantai yang dilakukan vampir anak-anak. Melegakan mendapati John bukan lagi tokoh clueless dengan kegilaan tak menarik. Tapi disaat arc-nya harus bersanding bersama kisah Liz, pesonanya pudar. "She Gets Revenge" tidak malu terlihat "konyol" asalkan menghibur, seperti suatu joke tentang video norak buatan Iris serta jumlah followers Instagram-nya. And the ending is amazingly hilarious yet cool at the same time. Saya tidak bisa menahan diri untuk tertawa sambil bertepuk tangan. It's one of the coolest moment in the history of "American Horror Story" that also leaves the audience with a nice touch of cliffhanger. (4/5)KISAH CARLO - EPISODE 1: PILOT
Rasyidharry
Pada era modern seperti sekarang dimana segala bentuk informasi begitu mudahnya didapatkan, masih saja terdapat banyak kekeliruan dalam persepsi masyarakat umum mengenai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Alhasil pengaplikasian jargon "Jauhi penyakitnya bukan orangnya" pun masih tak berjalan baik. Masih banyak ODHA dijauhi pula dikucilkan karena dianggap berpotensi menularkan virus. Karena itu pembuatan web series "Kisah Carlo" yang digawangi oleh Andri Cung dan Paul Agusta ini menjadi tepat guna. Kisahnya sendiri terinspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di Ruang Carlo, sebuah pusat pelayanan dan pengobatan bagi para penderita HIV/AIDS yang terletak di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta Pusat. Episode pertamanya (Pilot) tayang pada 1 Desember 2015, bertepatan dengan hari AIDS sedunia. Web series ini terdiri dari 10 episode (6 disutradarai Andri Cung, 4 oleh Paul Agusta) yang rilis tiap Jumat minggu pertama dan ketiga.
Episode perdana ini menjadi media perkenalan kita dengan beberapa tokoh sentral; Maya (Putri Ayudya), wanita yang baru divonis mengidap HIV, Surya (Natalius Cendana) suami dari Maya, dr. Jenny (Gesata Stella) yang menaruh perhatian besar terhadap pasien dan tengah merencanakan pernikahannya, Suster Fransiska (Jajang C. Noer) yang bertindak sebagai salah satu konselor di Ruang Carlo, Suster Leli (Dayu Wijanto) yang keras terhadap bawahan tapi lembut pada pasien, Donny (Will Tjokro) seorang homophobic yang mengidap HIV, serta masih banyak karakter lain baik yang hadir sekilas maupun yang belum muncul. Meski Maya dan dr. Jenny nampak akan menjadi tokoh sentral, serial ini menjanjikan eksplorasi terhadap karakter-karakter lain. Inilah yang berpotensi menjadi tontonan menarik, bagaimana dinamika interaksi para individu dalam satu setting, bagaimana kisah personal mereka digali, yang mana terdapat benang merah yakni HIV/AIDS. Konsep satu lokasi memungkinkan pemberian fokus besar terhadap pengembangan karakter.
"Pilot" yang disutradarai Andri Cung ini memang masih sebatas tease terhadap berbagai hal potensial di atas supaya penonton memahami karakter dalam tataran permukaan. Ibarat kepingan puzzle, disini karakternya masih tersebar acak, menunggu disatukan menjadi satu kesatuan utuh yang menarik. Sekarang tinggal berhasil atau tidak Andri Cung serta Paul Agusta merangkai puzzle tersebut. Terdapat kekhawatiran dalam diri saya bahwa Andri Cung dan Paul Agusta akan membuat serial yang tak lebih dari sekedar "iklan layanan masyarakat" penuh pesan moral serta kebaikan. Andri nampak berusaha menjauh dari kesan tersebut melalui penuturan realis minim manipulasi emosi (ending berisi tangisan diiringi lagu "Usah Kau Lara Sendiri" itu sayangnya cheesy) atau karakter dengan dialog menggurui.
Terdapat beberapa dialog prosedural mengenai tata urutan pengobatan HIV tapi berkat konten adegan yang sesuai (ex: obrolan dokter dan pasien) serta penuturan kuat para aktornya, kalimat-kalimat itu terjauhkan dari kesan "penyuluhan mengenai HIV". Gesata Stella paling banyak mendapat porsi dialog semacam itu, dan dari aktingnya saya bisa merasakan seorang wanita dengan passion kuat untuk mengabdi pada pasien. Putri Ayudya pun sejauh ini memberi penampilan meyakinkan sebagai Maya yang lemah karena penyakitnya tanpa jatuh dalam stereotype akting "orang sakit", semisal batuk berulang yang berlebihan atau penuturan dialog diseret untuk memalsukan lemahnya kondisi tubuh. Saya pun terpikat dengan dualitas Dayu Wijanto yang keras sekaligus penuh perhatian tergantung dengan siapa dirinya berinteraksi. Karakter lain dengan potensi daya tarik tinggi namun belum mendapat porsi banyak dalam episode ini adalah Donny dan Marcel (Paul Agusta).
Satu-satunya pemberi kesan klise pada "Kisah Carlo" adalah cara bertutur Andri Cung beserta naskah yang terlalu banyak bermain secara verbal daripada visual atau emosi subtil aktor. Kekurangan itu sejatinya sudah nampak sedari film panjangnya "The Sun, The Moon & The Hurricane" yang terlalu "banyak bicara" pada bagian resolusi konflik. Penulisan dialognya sendiri tidak buruk namun tak cukup cerdas untuk membuat penonton terikat dengan obrolan yang terjalin. Tapi bisa saja kesan itu hadir karena belum banyak hal yang dituturkan oleh episode pertama ini. Seiring dengan makin banyaknya konflik serta penggalian karakter, semoga saja dialog jadi jauh lebih mengikat. Episode pertama ini memang masih sebatas perkenalan yang biasa saja, namun menyimpan potensi besar untuk menjadikan "Kisah Carlo" sebagai web series luar biasa berisikan observasi karakter pula pengetahuan penting tentang HIV/AIDS.
Episode pertama bisa anda tonton disini (subscribe juga channel "Kisah Carlo" untuk update lebih lanjut)
Desember 02, 2015
Cukup
,
Drama
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
TV Series
JESSICA JONES: SEASON 1 (2015)
Rasyidharry
Setelah "Daredevil" yang mengesankan dengan gritty tone, pendekatan realistis, serta character development mendalam khususnya pada sosok villain, wajar jika penonton begitu mengantisipasi perilisan "Jessica Jones" oleh Netflix. Digawangi oleh Melissa Rosenberg, serial berisikan 13 episode ini berkisah mengenai sang titular character yang berpofresi sebagai private investigator. Jessica Jones (Krysten Ritter) adalah detektif handal yang membuka biro investigasi bernama "Alias Investigations". Kasus yang ia tangani bervariasi mulai dari perselingkuhan hingga orang hilang. Tapi dibalik kehebatannya melakukan penyelidikan, Jessica memiliki senjata lain berupa kemampuan fisik yang melebihi manusia normal. Kekuatan itu turut membantunya dalam menyelesaikan banyak kasus yang tak jarang berujung pada adu fisik. Tapi Jessica bukan sejak awal menjadi detektif, karena sebelumnya ia menggunakan kekuatan tersebut untuk berperan sebagai superhero
Di sinilah sisi gelap mulai berperan dalam ceritanya. Alasan Jessica berhenti melakukan aksi kepahlawanan adalah karena Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) yang ia alami pasca konfrontasi dengan penjahat bernama Kilgrave (David Tennant). Kilgrave memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran, dan Jessica sempat jatuh dalam pengaruhnya. Trauma akan berbagai hal buruk yang telah ia lakukan di bawah kendali Kilgrave, Jessica pun meninggalkan kehidupan lamanya, termasuk menghilang dari Trish (Rachael Taylor), seorang pembawa acara talk show radio ternama sekaligus sahabat Jessica sedari kecil. Dalam diri Jessica kita takkan mendapati penggambaran superhero seperti pada umumnya, sebut saja layaknya para anggota Avengers di MCU. Dia memang memiliki kekuatan super, tapi sosoknya rapuh. Tiap hari Jessica hidup dalam ketakutan, bahkan mengalami delusi akibat PTSD-nya. Pekerjaan dan alkohol menjadi pelarian yang ia pilih.
Bahkan sedari opening sequence pun serial ini sudah mengikat saya. Pencahayaan gelap dengan ungu sebagai warna dominan plus iringan musik jazz buatan Sean Callery, atmosfer noir terasa pekat menyelimuti. Suasana tersebut turut mendominasi tiap episode, saling mendukung dengan tone kelam yang diusung ceritanya. Depresi, seksualitas, dan kekerasan adalah tiga hal utama pembangun tone. Seksualitas banyak dieksplorasi, dimana pemerkosaan bahkan aborsi sering dijadikan sentral. Dan itu bukan hanya shocking factor, melainkan aspek substansial bagi pengembangan cerita serta karakter, sama halnya dengan sajian kekerasan pula karakter utama yang depresif. Seperti "Daredevil", ambiguitas moral juga hadir. Pada satu titik saya bersimpati pada Jessica tapi di titik berikutnya giliran Kilgrave yang menarik perhatian. Tidak ada kebenaran hakiki, karena masing-masing karakter memiliki motivasi kuat atas perbuatan mereka.
Semenjak episode pertama yang berjudul "AKA Ladies Night", saya sudah jatuh cinta, baik pada eksplorasi tema, penulisan dialog, hingga karakter. Saya mencintai Jessica dengan segala sarkasmenya. Saya peduli padanya, karena seperti yang telah saya ungkapkan, meski kuat secara fisik namun psikisnya rapuh. Bahkan saat pertama kali mendengar kabar bahwa Kilgrave masih hidup, hal pertama yang terlintas di pikiran Jessica adalah lari sejauh mungkin. Saya khawatir padanya, karena percaya bahwa dibalik kekuatan super itu Jessica tidak jauh beda dengan manusia pada umumnya. Krysten Ritter punya segalanya untuk menghidupkan seorang Jessica Jones. Tatapan mata, caranya melontarkan dialog (khususnya pada sarkasme), bahkan emosi terpendam sekalipun. Sebagai karakter, perlahan masa lalu Jessica bakal diungkap lewat beberapa flashback selaku pondasi kokoh, membuat penonton memahami bagaimana ia bisa menjadi Jessica Jones yang sekarang.
Hal sama bisa dialamatkan untuk David Tennant. Kilgrave ada pada level yang sama dengan Wilson Fisk; mengerikan sekaligus kompleks. Pada paruh awal mudah membenci Kligrave yang tak lebih dari penjahat sadis juga pervert. Tapi memasuki episode kedelapan, "AKA WWJD?" terungkap bahwa ia lebih dari itu. Dia jahat, tapi ia pun tak ubahnya korban dari peristiwa masa lalu. Kilgrave adalah pria kesepian yang terobsesi akan seorang wanita, dan karena tak pernah melakoni proper social interaction, cara melampiaskan obsesinya pun keliru. David Tennant merealisasikan kompleksitas karakternya secara nyata, disaat interpretasi yang kurang tepat dari seorang aktor berpotensi membuat Kilgrave jatuh sebagai over the top villain. Dia gila, dia mengerikan, tapi seringkali amarah dan ekspresi kesedihan yang terpancar membuat saya menaruh iba pada karakternya. Kilgrave mampu mengendalikan pikiran, tapi yang sosoknya makin intimidatif adalah, tanpa kekuatan itupun ia telah memiliki kemampuan persuasi yang sulit untuk ditolak. Oh, and he's also charming as hell. Behold girls, this is your new Loki!
Baik Kilgrave maupun Jessica tak lebih dari dua orang yang terluka luar dalam. Ada sisi gelap dalam diri Jessica, Kilgrave pun memiliki sisi terang. Terdapat momen menarik saat keduanya bekerja sama menghentikan sebuah aksi kejahatan. Saya mulai menonton serial ini dengan kebencian terhadap Kilgrave, selalu berharap suatu saat Luke Cage (Mike Colter) akan menghajarnya. Tapi semakin jauh kisah berjalan, saya tak tahu lagi harus memihak pada siapa. Tak hanya Jessica dan Kilgrave, supporting character macam Luke, Trish, Simpson (Will Traval) hingga Malcolm (Eka Darville) punya momen untuk bersinar dan menjadi kepingan penting.
"Jessica Jones" juga sukses dalam membangun intensitas ketegangan serta dinamika emosi. Pada episode-episode awal, rasa takut selalu menggelayuti saya, khawatir akan nasib Jessica yang selalu mendapat teror dari Kilgrave. Siksaan psikis yang ia alami terasa menyakitkan untuk dilihat. Kemudian semakin rumit konflik, makin banyak karakter yang dieksplorasi, makan sering pula terjadi permainan emosi. Saya dibuat sedih, marah, cemas, bahkan bahagia oleh selipan humor dalam dialog. Banyak barter kalimat menggelitik antar-karakter yang sanggup memancing tawa, khususnya saat melibatkan sarkasme Jessica. Melalui serial ini, Marvel membuktikan bahwa perpaduan tone kelam dengan komedi segar tidaklah mustahil. Dengan penuturan yang tepat, tidak pernah terjadi pergantian tone kasar yang mengganggu.
Tiap episode pun selalu meninggalkan pertanyaan atau cliffhanger sehingga antusiasme penonton untuk mengikuti kisahnya terus terjaga. Sayang intensitas itu tak bertahan hingga akhir. Episode sembilan, "AKA Sin Bin" adalah puncak. Saya tercengang dan menahan nafas pada klimaksnya. Setelah itu, empat episode terakhir sedikit mengalami penurunan karena semua misteri telah terjawab, eksplorasi karakter telah lengkap, konflik utama pun usai. Yang tersisa tinggal konfrontasi terakhir antara Kilgrave dan Jessica, serta pertanyaan "apakah Kilgrave mampu meningkatkan kekuatannya?", yang mana tak terlalu menarik karena kita tahu apapun jawabannya, Jessica akan menjadi pemenang di akhir.
Eksplorasi tema yang berani, konflik penuh misteri dan twist menarik, eksplorasi karakter mendalam, sampai dua hal yang tidak dipunyai versi film MCU pun dimiliki "Jessica Jones", yakni kisah cinta menarik (Jessica-Luke is a sweet love story, while Jessica-Kilgrave is a very twisted love story) dan memorable villain menjadi beberapa poin keberhasilan utama. Adanya beberapa koneksi serta referensi untuk dunia MCU secara lebih luas pun menjadi hiburan tersendiri, termasuk kehadiran salah satu karakter dalam serial "Daredevil". Melissa Rosenberg menghadirkan para wanita kuat dalam kisahnya tanpa segan memberi gambaran mereka sebagai korban keliaran seksual. Karena menjadi korban bukan ukuran kekuatan, tapi bagaimana mereka mampu bangkit untuk melawan adalah kuncinya. Saya menyukai cara Rosenberg mengeksplorasi kekuatan para wanita, dan perjalanan untuk bangkit itu memang mendominasi "Jessica Jones". Sajian terbaik yang pernah diproduksi oleh Marvel sejauh ini.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






































