MATA DEWA (2018)

8 komentar

Tidak butuh mata dewa atau mata batin agar bisa melihat keburukan film ini. Digarap oleh Andibachtiar Yusuf yang baru beberapa hari lalu memukau saya lewat Love for Sale (yang dibuat tanpa tekanan kanan-kiri), Mata Dewa mengikuti formula film olahraga: perjuangan underdog, mentor misterius yang sempat punya nama besar, hubungan renggang anak-orang tua, rivalitas, romansa, dan penutup berupa pertandingan akbar. Tapi tak ada satu pun tampil maksimal. Bahkan, semua digarap di bawah standar.

Dibuka lewat pertandingan yang mengecewakan bagi tim Jayhawk dan SMA Wijaya, kita berkenalan dengan Bumi (Brandon Salim), pemain berkemampuan seadanya yang dijadikan kambing hitam atas kekalahan tim oleh Dewa (Kenny Austin), si pemain andalan. Bila tidak ada kata “Dewa” di judulnya, mungkin banyak yang akan mengira Bumi lah protagonisnya. Rupanya, beberapa waktu berselang porsi Bumi terkikis. Tanpa signifikansi terhadap alur, ia mendadak berperan sebagai penggerak suporter alih-alih bermain. Apakah ia dikeluarkan? Atau merasa kemampuannya dangkal lalu memilih mundur? What a message.
Naskah hasil tulisan Andibachtiar bersama Oka Aurora adalah setumpuk konsep yang dimasukkan dalam satu rangkaian alur tanpa saling bertautan. Beberapa subplot langsung menginjak resolusi tanpa proses, sisanya berkebalikan, dilontarkan tanpa penyelesaian. Mengapa Dewa enggan berkomunikasi dengan sang ibu? Untuk apa si pelatih (Nino Fernandez) diberi pergulatan batin terkait pengunduran diri di awal cerita? Sedangkan Ariyo Wahab sebagai mentor Dewa seperti hendak diberi arc tentang kebangkitannya—yang menghadirkan paralel dengan perjuangan Dewa—hanya untuk kemudian dilupakan.

Saya paham bahwa Mata Dewa adalah media promosi DBL (Developmental Basketball League). Maka ketika alur dinomorduakan demi fokus lebih pada momen pertandingan, saya sedikit maklum. Masalahnya, aksi di atas lapangan dikemas demikian malas. Zoom in, zoom out, shaky cam. Tiga teknik itu terus direpetisi, walau dilihat sekilas pun jelas betapa intensitas gagal diciptakan. Belum lagi bumper videoBasketball Live Streaming”, yang entah apa gunanya, selalu diulang. Saya tidak pernah menonton DBL di televisi (kalau ada). Mungkin memang gayanya begitu, entahlah. Satu hal pasti, film ini mestinya bukan highlights, bukan pula reka ulang siaran televisi, melainkan atmosfer asli di lapangan pertandingan.
Tapi saya masih bersabar, mengira babak final selaku klimaks bakal lebih seru. Sampai filmnya memperkenalkan satu per satu pemain dari kedua tim. Total 10 tokoh yang takkan kita pedulikan eksistensinya muncul. Sulit menghilangkan kecurigaan kalau intorduksi tersebut semata bertujuan mengulur waktu. Ketika film berdurasi 80 menit coba mengulur waktu, bisa dipastikan tersimpan ketidakberesan. Sama tidak beresnya dengan bibir komat-kamit Kenny Austin kala Indonesia Raya berkumandang. Apakah protagonis kita tidak hafal lagu kebangsaan?

Wijaya the Giant Killer”. Julukan yang diberikan oleh dua komentator (Augie Fantinus dan Udjo Project Pop) sulit diamini, karena kita tak diajak merasakan perjuangan mencapai puncak. Setiap pertandingan numpang lewat, dan tiba-tiba sampai titik akhir. Mestinya final jadi ajang pembuktian Dewa yang penglihatannya terganggu akibat kecelakaan. Tapi sepanjang laga, cuma dua kali ia berperan: Saat dijatuhkan lawan, dan memberi assist pada rekannya dalam angka penentu kemenangan. Ya, bahkan angka itu bukan dicetak oleh Dewa. Sulit mencari hal positif. Dodit Mulyanto yang diharapkan menyegarkan suasana pun tak dimaksimalkan akibat timing pengadeganan acap kali meleset. Selaku alat promosi DBL, Mata Dewa gagal tersaji inspiratif (seperti beberapa kisah nyata keberhasilan mantan atlet yang tertuang di akhir), atau sekedar keren.

8 komentar :

Comment Page:
Panca Soundnar mengatakan...

Wow seburuk itukah?? Love for Sale dan Mata Dewa jadi list saya bulan ini karena Andibachtiar Yusuf alasannya.
Mungkin dia lebih piawai di film tentang sepakbola :)

Chan Hadinata mengatakan...

Mungkin andi bachtiar yusuf ibarat bikin 2 masakan dlm 1 meja makan.. satu yg agak "fancy" satunya lagi "selera" org kebanyakan :)

Rasyidharry mengatakan...

@Panca oh jelas, hatinya di sana. Love For Sale aja bola semua isinya.

@Chan Mata Dewa ini film pesenan. Filmnya produser. Jadi udah ogah-ogahan dia ngerjainnya.

Chan Hadinata mengatakan...

Hahaha.. for a while idealisme disimpan dlu
Bru ngeh.. ni andi bachtiar dlu sering jd komentator bola toh

Rasyidharry mengatakan...

Oh wajib. Kalau nggak mau mengesampingkan idealisme mana bisa makan :D

Budi Nurdin mengatakan...

Jd inget pitch perfect.... LOL.... I don't know why.....

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

Lol gak nyangka bakal di review sama bang rasyid,bulan lalu cast-nya lagi tur dan promosi kebetulan di SMA saya,saya yakin lah filmnya bakal cheesy atau jelek tapi toh apa masalahnya jika ada Brandon Salim sama Kenny plus vibe DBL yang digilai sama temen-temen saya(surprisingly,tidak hanya cewek-cewek) wkwkw,se-sekolahan pada chaos waktu itu ampe guru-gurnya juga(maklumin jarang didatengi artis wkwk).Gak nyangka aja Bang Rasyid bakal review ini film,rupanya tak perlu di review juga.

Rasyidharry mengatakan...

Hahaha sebenernya mutusin nonton karena nggak nyangka bakal sejelek ini sih