Tampilkan postingan dengan label Nino Fernandez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nino Fernandez. Tampilkan semua postingan

REVIEW - PERSEPSI

Menonton Persepsi sama halnya anda mencoba menjawab pertanyaan, "Klub basket apa yang jadi favorit saya?". Lalu setelah melakukan pencarian lewat proses yang rumit, saya berkata, "Jawabannya adalah, TIDAK ADA. Karena saya tidak suka basket. BAM! Mindblowing kan?". 

Pasti anda kesal karena merasa dibohongi. Begitulah Persepsi, yang jadi debut Renaldo Samsara selaku sutradara (sebelumnya menulis naskah I Am Hope dan Cinta itu Buta). Naskah turut ditulis olehnya, bersama Matthew Hart yang merangkap co-director. Naskah yang ambisius, pretensius, kacau, dangkal, pula ditutup dengan twist curang, yang membuat segala hal yang muncul sebelumnya terasa percuma. 

Pertama kita diperkenalkan kepada Rufus Black (Arifin Putra) si ilusionis ternama, yang berniat membuat reality show berhadiah satu juta dollar, di mana empat peserta ditantang tinggal selama lima hari, di rumah sang ilusionis yang berada di pulau terpencil. Bukan rumah biasa, melainkan bekas terjadinya pembunuhan sadis. Konon beberapa penyewa cuma kuat bertahan beberapa hari. 

Paragraf di atas merupakan deskripsi alur sederhana, bahkan klise, yang dapat dengan mudah disampaikan oleh film horor buruk sekalipun. Tapi hal sederhana itu bahkan gagal dilakukan oleh Persepsi, yang akibat narasi berlubang-lubang, menyulitkan penonton memperoleh pemahaman, bahkan soal poin-poin mendasar. Padahal durasinya cuma 52 menit. Sedikit tambahan eksposisi takkan melukai filmnya (bahkan bisa memperbaiki). 

Alur bergerak cepat. Terlalu cepat malah, seperti motor peserta balapan liar yang akhirnya kehilangan kendali. Mendadak kita diperkenalkan pada keempat peserta: Laila (Hannah Al Rashid), Michael (Nino Fernandez), Lingga (Irwansyah), dan Andrea (Nadine Alexandra). Empat individu dengan penokohan nyaris kosong. 

Michael adalah ayah tunggal yang butuh uang untuk biaya pengobatan anaknya, Lingga memiliki restoran, Laila seorang pengacara, sementara Andrea ikut serta bukan karena uang, tetapi.....entahlah, cuma itu karakteristik yang naskahnya berikan. Sifat mereka kurang lebih sama, kecuali Lingga yang kerap bersikap brengsek. Apakah inkonsistensi Michael yang kadang menyebut dirinya "aku", kadang "saya", bahkan dalam satu kalimat, juga terhitung karakteristik? 

Apakah mereka asing terhadap satu sama lain? Sepertinya begitu. Tapi bagaimana Lingga tahu anak Michael tengah dirawat di rumah sakit, kalau penjelasan tentang itu tidak ada sebelumnya? Entah ada banyak bagian yang dipangkas, atau memang para pembuatnya tidak memedulikan kelayakan bercerita. Renaldo Samsara dan Matthew Hart bak hanya mengincar gaya, sebab begitu tiba di lokasi, anda akan langsung menyadari bahwa hampir 100% filmnya dikemas memakai sudut pandang orang pertama, kecuali di beberapa bagian flashback (we'll get into this flashback later).

Bukan seperti mockumentary standar, karena perspektif bukan berasal dari kamera yang dibawa karakter, melainkan mata karakter itu sendiri, pun rutin berpindah dari satu orang ke orang lain. Sebenarnya pilihan teknis ini bisa berdampak signifikan (baca: bukan gaya-gayaan semata). Sudut pandang orang pertama dapat memberi kesan immersive, dan adanya empat sudut pandang, memungkinkan tercapainya kesadaran akan dimensi ruang secara menyeluruh. 

Sayang, semuanya berhenti di ranah potensi. Ada beragam bentuk teror, dari jump scare khas horor mistis, hingga gore. Kengerian gagal ditemukan akibat kekacauan. Kekacauan dalam hal apa? Nyaris segalanya. Pilihan shot yang kurang mendukung, timing perpindahan perspektif yang tidak tepat, penyuntingan membingungkan, sampai penceritaan. Bagaimana mungkin merasakan kengerian bila penonton kesulitan memahami apa yang sedang mengancam karakternya? Bukan, ini bukan penerapan prinsip "the scariest thing is the unknown", melainkan sebatas penuturan kacau. 

Alurnya nonlinear, terus berpindah dari masa kini ke masa lalu kala tragedi menimpa keluarga Lewis Ford (Cornelio Sunny). Seperti terdapat niat membangun koneksi antar kedua linimasa, namun lagi-lagi, penceritaannya terlalu berantakan untuk bisa dinikmati. Pun sekali lagi, amat buru-buru. Di penghujung hari kedua, salah satu peserta memilih berhenti. Tibalah adegan perpisahan, yang didesain guna memancing kesedihan penonton, tapi rasa tersebut tak pernah muncul, sebab mengenal karakternya saja tidak, apalagi peduli. Hari ketiga dan keempat berlalu begitu saja. 

Kemudian sampailah kita di konklusi yang dilengkapi twist sebagaimana sudah saya sebutkan. Twist yang jadi puncak dari segala kecurangan twist mana pun. Twist yang membuat keseluruhan filmnya tidak berguna, termasuk upaya eksplorasi kisahnya perihal persepsi. Twist yang mematikan segala potensi filmnya. Karena apabila kelemahan-kelemahannya diperbaiki pun, menjadi percuma gara-gara twist ini. Twist yang memantapkan status Persepsi sebagai salah satu film terburuk tahun ini. Oh, dan jika anda membaca tentang banyaknya bintang mengisi film ini (Nirina Zubir, Samuel Rizal, Acha Septriassa, dll.), entah di artikel, media sosial, IMDb, atau di halaman Bioskop Online, ketahuilah bahwa mayoritas cuma muncul beberapa detik di akhir sebagai cameo. 


Available on BIOSKOP ONLINE

SATU SURO (2019)

Satu Suro—yang tidak berkaitan dengan Malam Satu Suro (1988) yang dibintangi Suzzanna—dibuat bak hanya berdasarkan satu-dua gagasan adegan menarik. Jika diibaratkan, layaknya arsitek yang memiliki beberapa perabotan berharga, kemudian ingin membangun rumah untuk menyimpannya, namun tak mampu mendesain pondasi memadahi. Rumah tersebut pun runtuh, mengubur perabotan berharga sang arsitek yang akhirnya terbuang sia-sia.

Saya cukup mengagumi sekelumit ide yang sesekali mengisi. Salah satunya saat Adinda (Citra Kirana) muntah beberapa kali, dan benda-benda yang keluar dari mulutnya semakin berbahaya dan aneh, sebelum memuncak pada sebuah pemandangan over-the-top sekaligus disturbing , tapi memuaskan. Begitu pula selipan gore, yang sayangnya hanya bertahan di paruh awal. Saya yakin ada lebih banyak lagi, tapi terpaksa dihapus atas nama sensor (tulisan “REV” terpampang di bumper sensor filmnya).

Selain segelintir daya tarik di atas, Satu Suro tak menawarkan hal apa pun, termasuk plot yang seolah lenyap di alam gaib. Alkisah, sepasang suami istri, Bayu (Nino Fernandez) dan Adinda baru saja pindah ke desa terpencil di daerah pegunungan demi mencari ketenangan. Bayu membutuhkannya untuk menulis buku terbaru, sementara Adinda mesti menjaga kondisi jelang kelahiran bayi pertama mereka. Betapa sial, hari kelahiran yang dinanti justru tiba tepat di malam satu suro yang banyak dipercaya sebagai “lebarannya para setan”.

Begitu proses persalinan mendekat, Bayu membawa Adinda ke rumah sakit, yang lewat adegan pembukanya, kita ketahui telah terbakar habis. Mereka tidak tahu bahwa dokter serta suster yang menyambut sejatinya adalah arwah-arwah yang bangkit pada malam satu suro guna mengincar si jabang bayi. That’s it. Sepanjang bergulir selama 94 menit, praktis Satu Suro cuma menampilkan dua orang mondar-mandir dalam ruangan (rumah atau rumah sakit). Tapi daripada jalan keluar, malah deretan hantu yang muncul.

Padahal sungguh keras usaha Bayu dan Adinda untuk saling menemukan. Begitu keras, keduanya menghabiskan nyaris sepanjang film meneriakkan nama satu sama lain. Kalau anda memainkan drinking game, dan minum setiap mereka saling memanggil, anda akan mabuk bahkan sebelum filmnya usai. Paling tidak, serupa di Asih, Citra Kirana melakukan usaha terbaiknya sebagai wanita yang mengalami teror bertubi-tubi, tatala Nino Fernandez tampak kebingungan harus memasang ekspresi seperti apa.

Naskah buatan Anggy Umbara (3, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!) dan Syamsul Hadi (Pencarian Terakhir, Demi Cinta) gemar menerapkan repetisi sebagai trik pengisi durasi. Hal sama terjadi berulang-ulang dalam tempo yang pergerakannya bagai diseret selama mungkin. Ketimbang memperlambat demi membangun ketegangan, penanganan Anggy bagai hanya bertujuan mengulur waktu. Dampaknya, kengerian pun sukar ditemukan. Saat Lastri (Alexandra Gottardo) si hantu antagonis utama kemunculannya meninggalkan kesan mengesalkan alih-alih mengerikan akibat efek teriakan yang cukup mengancam kewarasan telinga penonton, pujian patut diberikan kepada beberapa hasil kerja tim tata rias, khususnya untuk sebuah hantu (atau monster?) yang mengingatkan saya pada makhluk dari Resident Evil atau Left 4 Dead.

Dibuka oleh narasi perihal satu suro, eksplorasi mitologi film ini tidak pernah lebih dalam dari deskripsi “hari rayanya makhluk halus”, karena kembali, Satu Suro nyaris tanpa plot. Hal terdekat dengan plot yang filmnya miliki adalah kehadiran twist, yang menggiring Satu Suro menuju ranah yang sudah terlalu banyak dijelajahi suguhan horor lokal selepas Pengabdi Setan dua tahun lalu. Elemen familiar nan sederhana, yang penuturannya sangat berbelit karena seperti biasa, Anggy terobsesi mengejutkan penonton. Upaya tersebut gagal akibat: (1) Klise dan mudah ditebak, (2) Tidak dibarengi plot layak agar penonton mempedulikan karakternya.

Satu Suro turut memaksakan diri menyelipkan sentuhan religi berupa proses seorang skeptis menemukan lagi keimanan, namun tidak terdapat cukup stimulus guna memancing respon perubahan tersebut. Mengalami peristiwa mistis bukan berarti serta merta membuat seseorang menjadi religius. Kecuali, ia melihat bagaimana kekuatan Tuhan berjasa memberi jalan keluar. Sedangkan di sini, hantu-hantu ditumpas menggunakan “metode dukun”.

ANANTA (2018)

Mengadaptasi Ananta Prahadi buatan Risa Saraswati yang merupakan satu-satunya novel roman sang penulis, Ananta berpotensi memaparkan kisah indah tentang kebaikan dalam hidup, mengenai laki-laki yang menaruh hati pada seorang wanita, bukan (cuma) karena parasnya, pun melalui karyanya, di mana sisi terdalam sekaligus ungkapan rasa paling jujur wanita itu tertuang. Kisah yang murni nan indah, andai konklusinya tidak terjerembab ke kubangan dramatisasi klise dan tak perlu menjelang akhir, yang juga upaya penggampangan guna menutup cerita. Ganti Fero Walandouw dengan Dimas Anggara, pindahkan lokasi ke luar negeri, maka anda akan mendapatkan produksi MD Pictures rasa Screenplay.

Adegan pembukanya membawa kita ke dalam kelas tempat Tania (Michelle Ziudith) berada. Kelas itu terasa asing. Siswa dan seorang guru seni yang diperankan Astrid Tiar memenuhi ruangan, tapi saya tidak merasa dikelilingi manusia. Mereka adalah karikatur. Ibu guru yang mencela murid panjang lebar di tengah jam pelajaran, Tania si jago lukis yang dipandang aneh,  menutup diri, tapi bisa tiba-tiba melontarkan ungkapan bernada sinis kala guru tengah menjelaskan. Sama halnya dengan sang titular character, Ananta Prahadi (Fero Walandouw), bocah kampung polos yang berusaha keras berteman akrab dengan Tania meski selalu menerima perlakuan sinis.
Fero membawakan perannya dengan mengikuti formula akting remaja kampung yang senantiasa bersikap sopan dengan postur tubuh sedikit membungkuk dan senyum yang bak takkan sirna. Sementara Michelle Ziudith, berpegang teguh pada buku pedoman “How to Act Like Michelle Ziudith”, lancar menjalani tangisan demi tangisan, juga bentakan demi bentakan. Tania memang lebih identik dengan tangisan serta bentakan ketimbang bakat melukisnya, sebab filmnya sendiri, meski punya tokoh utama seorang seniman “pemain warna”, urung memanfaatkannya demi menciptakan bangunan visual menarik. Belum lagi, menengok lukisan Tania, walau menarik, rasanya bukan hasil karya yang bakal membuat kurator asal Yogyakarta terbuai, kemudian menawarkan pameran tunggal.

Ananta memang problematik, hingga masuk fase pertengahan tatkala naskah Alim Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Surga Yang Tak Dirindukan 2) mulai menaburkan bumbu komedi. Selain efektif memancing tawa, komedinya membuat rentetan kekurangan di atas bisa diterima, karena kesan karikatur untuk sebuah karakter lebih tepat mengisi suguhan komedik daripada dramatik. Pun berkatnya, Asri Welas sebagai Bik Eha, pembantu Tania, berkesempatan unjuk gigi mencuri perhatian di tiap adegan yang melibatkannya. Kemudian hadirlah sang kurator asal Yogyakarta, Pierre (Nino Fernandez), yang memancing saya berprasangka buruk kalau Anata bakal melangkah menuju konflik standar cinta segitiga. Untung saya keliru.
Kebersamaan Ananta-Tania-Pierre justru memunculkan titik non-komedik terbaik filmnya, sewaktu Ananta menampilkan sebuah bentuk kebahagiaan sederhana: duduk di bawah cahaya matahari yang bersinar seterang senyum penuh kedamaian ketiga karakternya. Keputusan sutradara Rizki Balki (A: Aku, Benci, dan Cinta) menekankan pada kehangatan suasana terbukti tepat. Saat itu Tania membawa Pierre dan Ananta mengunjungi ruang fantasinya, sambil ditemani musik gubahan Joseph S. Djafar (London Love Story, The Perfect Husband) yang memancarkan imaji serupa. Musiknya membuat saya seolah diajak mengunjungi dunia dongeng walau sekilas. Bermodalkan karismanya, Nino Fernandez tampil meyakinkan sebagai pria yang menyikapi dengan tenang khayalan liar Tania, seolah segalanya bagian dari rutinitas yang selalu Pierre hadapi.

Sampai datanglah twist ganda yang seketika merobohkan pondasi kisah, secepat kilat menyeret Ananta ke titik nadir. Melodrama kita punya dua senjata andalan pencipta nuansa dramatis mengharu biru, yaitu relasi rahasia antar karakter yang dipenuhi kebetulan serta eksploitasi kondisi medis. Tidak tanggung-tanggung, Ananta meleburkan kedua senjata tersebut. Pasca konklusi terungkap, motivasi Ananta bergeser, dari kebaikan hati yang tulus karena kasih sayang, menjadi kebaikan yang terjadi karena faktor eksternal ditambah ketiadaan pilihan bagi karakternya. Ananta ditutup secara mengecewakan, dan saya masih menantikan momen Anjasmara mendapat film bagus setelah memutuskan kembali ke layar lebar.

MATA DEWA (2018)


Tidak butuh mata dewa atau mata batin agar bisa melihat keburukan film ini. Digarap oleh Andibachtiar Yusuf yang baru beberapa hari lalu memukau saya lewat Love for Sale (yang dibuat tanpa tekanan kanan-kiri), Mata Dewa mengikuti formula film olahraga: perjuangan underdog, mentor misterius yang sempat punya nama besar, hubungan renggang anak-orang tua, rivalitas, romansa, dan penutup berupa pertandingan akbar. Tapi tak ada satu pun tampil maksimal. Bahkan, semua digarap di bawah standar.

Dibuka lewat pertandingan yang mengecewakan bagi tim Jayhawk dan SMA Wijaya, kita berkenalan dengan Bumi (Brandon Salim), pemain berkemampuan seadanya yang dijadikan kambing hitam atas kekalahan tim oleh Dewa (Kenny Austin), si pemain andalan. Bila tidak ada kata “Dewa” di judulnya, mungkin banyak yang akan mengira Bumi lah protagonisnya. Rupanya, beberapa waktu berselang porsi Bumi terkikis. Tanpa signifikansi terhadap alur, ia mendadak berperan sebagai penggerak suporter alih-alih bermain. Apakah ia dikeluarkan? Atau merasa kemampuannya dangkal lalu memilih mundur? What a message.
Naskah hasil tulisan Andibachtiar bersama Oka Aurora adalah setumpuk konsep yang dimasukkan dalam satu rangkaian alur tanpa saling bertautan. Beberapa subplot langsung menginjak resolusi tanpa proses, sisanya berkebalikan, dilontarkan tanpa penyelesaian. Mengapa Dewa enggan berkomunikasi dengan sang ibu? Untuk apa si pelatih (Nino Fernandez) diberi pergulatan batin terkait pengunduran diri di awal cerita? Sedangkan Ariyo Wahab sebagai mentor Dewa seperti hendak diberi arc tentang kebangkitannya—yang menghadirkan paralel dengan perjuangan Dewa—hanya untuk kemudian dilupakan.

Saya paham bahwa Mata Dewa adalah media promosi DBL (Developmental Basketball League). Maka ketika alur dinomorduakan demi fokus lebih pada momen pertandingan, saya sedikit maklum. Masalahnya, aksi di atas lapangan dikemas demikian malas. Zoom in, zoom out, shaky cam. Tiga teknik itu terus direpetisi, walau dilihat sekilas pun jelas betapa intensitas gagal diciptakan. Belum lagi bumper video “Basketball Live Streaming”, yang entah apa gunanya, selalu diulang. Saya tidak pernah menonton DBL di televisi (kalau ada). Mungkin memang gayanya begitu, entahlah. Satu hal pasti, film ini mestinya bukan highlights, bukan pula reka ulang siaran televisi, melainkan atmosfer asli di lapangan pertandingan.
Tapi saya masih bersabar, mengira babak final selaku klimaks bakal lebih seru. Sampai filmnya memperkenalkan satu per satu pemain dari kedua tim. Total 10 tokoh yang takkan kita pedulikan eksistensinya muncul. Sulit menghilangkan kecurigaan kalau intorduksi tersebut semata bertujuan mengulur waktu. Ketika film berdurasi 80 menit coba mengulur waktu, bisa dipastikan tersimpan ketidakberesan. Sama tidak beresnya dengan bibir komat-kamit Kenny Austin kala Indonesia Raya berkumandang. Apakah protagonis kita tidak hafal lagu kebangsaan?

“Wijaya the Giant Killer”. Julukan yang diberikan oleh dua komentator (Augie Fantinus dan Udjo Project Pop) sulit diamini, karena kita tak diajak merasakan perjuangan mencapai puncak. Setiap pertandingan numpang lewat, dan tiba-tiba sampai titik akhir. Mestinya final jadi ajang pembuktian Dewa yang penglihatannya terganggu akibat kecelakaan. Tapi sepanjang laga, cuma dua kali ia berperan: Saat dijatuhkan lawan, dan memberi assist pada rekannya dalam angka penentu kemenangan. Ya, bahkan angka itu bukan dicetak oleh Dewa. Sulit mencari hal positif. Dodit Mulyanto yang diharapkan menyegarkan suasana pun tak dimaksimalkan akibat timing pengadeganan acap kali meleset. Selaku alat promosi DBL, Mata Dewa gagal tersaji inspiratif (seperti beberapa kisah nyata keberhasilan mantan atlet yang tertuang di akhir), atau sekedar keren.