REVIEW - THE BEACH HOUSE

1 komentar
Lovecraftian nampaknya sedang mencapai popularitas baru. Baik yang memang merupakan adaptasi karya H. P. Lovecraft seperti Underwater dan Color Out of Space, atau yang terinspirasi secara gaya seperti Sea Fever . The Beach House masuk kategori kedua. Melalui debut penyutradaraan sekaligus penulisan naskahnya, Jeffrey A. Brown menegaskan bahwa keterbatasan biaya bukan alasan meredam ambisi, selama kreativitas tak dikekang.

Latarnya sederhana. Cuma sebuah rumah pantai milik keluarga Randall (Noah Le Gros), tempat ia menghabiskan liburan bersama kekasihnya, Emily (Liana Liberato). Tapi harapan bisa berduaan kandas. Rupanya ada yang lebih dulu menempati rumah tersebut, yakni pasangan suami-istri, Mitch (Jake Weber) dan Jane (Maryann Nagel). Mitch adalah teman ayah Randall yang pernah mengajar bersama sebagai dosen. Alih-alih pergi, Randall menerima ajakan Mitch menginap. Keempatnya pun bercengkerama, makan malam, bahkan menyantap ganja bersama.

The Beach House bergerak lambat, sembari Brown menyelipkan deretan red herring, yang sebelum mencuatkan teka-teki tentang “Apa yang terjadi?”, terlebih dulu memancing penonton bertanya-tanya, “Apa yang AKAN terjadi?”. Apakah kegilaan akibat ganja? Ataukah teror pasangan tua yang ternyata berbahaya? Apa pula arti adegan pembukanya ketika muncul gas dari dasar laut? Serbuan monster? Bencana alam? Atau malah invasi alien? Mungkinkah justru siratan mengenai pecahnya hubungan Randall dan Emily bakal jadi penyebab?

Banyak posibilitas yang menjaga pikiran kita tetap fokus, sehingga lupa kalau teror sesungguhnya baru muncul sewaktu durasi mendekati satu jam, tepatnya sebelum shot yang dipakai di poster film, dalam sekuen yang menghadirkan perasaan jijik serta ngilu, yang bisa jadi membuatmu enggan menapakkan kaki di lantai selama beberapa saat.

Brown bukan ingin menyulut rasa takut (kalau itu tujuannya, berarti ia gagal), melainkan ketidaknyamanan. Musik gubahan Roly Porter adalah komposisi synth atmosferik yang biasa kita temui di judul-judul fiksi-ilmiah atau horor klaustrofobik. Sedangkan kesan out-of-this-world khas Lovecraftian dibangun melalui gaya visual psikedelik, yang terdiri atas distorted vision kental nuansa dreamy. Kesan serupa turut dimunculkan oleh penampakan makhluk-makhluk misterius— yang tak pernah kita tahu pasti, apakah alien dari luar angkasa, hewan asing dari dasar laut, atau hal lain —yang jadi panggung bagi tim artistik memamerkan kepiawaian efek praktikal kelas wahid.

Satu hal yang masih perlu Brown asah, baik selaku sutradara maupun penulis naskah, adalah terkait intensitas. Hasrat tampil misterius membuat naskahnya lalai memberi payoff setimpal, yang sesungguhnya, berkaca dari deretan Lovecraftian terbaik, tidak bersinonim dengan “menjawab”. Sedangkan The Beach House ibarat pertandingan sepak bola bertabur bintang, di mana para bintang itu terlebih dahulu duduk di bangku cadangan, tapi pertandingan sudah keburu usai sebelum mereka memasuki lapangan. Kita cuma bisa berandai-andai, apa jadinya kalau mereka beraksi. Pun sebagai sutradara, kapasitas Brown memainkan intensitas serta atmosfer baru sampai tahap “meraba” ketimbang “mencengkeram” penontonnya.

Daya tarik terbesar The Beach House justru terletak pada proses merangkai petunjuk, yang mayoritas tersebar di kalimat karakternya. Penonton bebas menebak, apakah ini soal invasi rahasia ekstraterestrial dari luar Bumi, ataukah mengenai lingkungan di Bumi. Sebuah fiksi-ilmiah tentang kolonisasi, atau  eco-horror seputar siklus alam yang berusaha kembali ke awal guna mengembalikan keseimbangannya.


Available on SHUDDER

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - THE ASSISTANT

1 komentar
Saat sedang mencari-cari informasi terkait The Assistant, saya menemukan salah satu ulasan negatif dari penonton yang menarik perhatian saya. Dia menulis, “In this movie you always think something will happen. But nothing happens”. Pernyataan itu kurang tepat, karena sesungguhnya terjadi banyak hal dalam film ini, hanya saja tak langsung di depan mata. Kejadian tersebut bisa diketahui dari obrolan karakter atau petunjuk subtil. The Assistant tak bertutur secara gamblang, tapi kita dapat dengan mudah menarik kesimpulan. Artinya, isu yang diangkat, termasuk tanda-tandanya, sudah sedemikian familiar.

Protagonis kita bernama Jane (Julia Garner), seorang asisten junior yang baru bekerja selama lima minggu di sebuah rumah produksi film yang terletak di New York. Begitu sibuk aktvitiasnya, Jane datang pertama sebelum matahari terbit. Apa saja tugas Jane? Antara lain membuat kopi, mencetak dokumen, membersihkan ruangan meski kantornya memiliki petugas kebersihan, melakukan beberapa panggilan, hingga menyusun jadwal sang bos.

Apakah itu bentuk diskriminasi gender? Bukankah mungkin saja memang seperti itu jobdesc-nya? Lalu dua rekannya, sesama asisten, tiba. Keduanya pria. Mereka tampak segar karena baru menikmati libur akhir minggu, yang mana tidak Jane dapatkan. Apakah itu bentuk diskriminasi gender? Mungkin saja itu dikarenakan Jane masih baru, bukan?

Di tengah kesibukan, mendadak istri bos menelepon, meluapkan amarah kepada Jane akibat suaminya memblokir kartu kredit. Beberapa waktu berselang, giliran si bos menghubungi Jane, menuduhnya mempengaruhi sang istri, sebelum berkata bahwa sebaiknya Jane melakukan bakatnya saja: memesan salad. Masih merasa tidak ada seksisme?

Secara khusus, sekuen tersebut jadi salah satu yang paling membuktikan kapasitas penyutradaraan Kitty Green— yang sebelumnya melahirkan dokumenter bergaya unik, Casting JonBenet (2017) —dalam  memvisualisasikan tekanan mental Jane. Suara berat nan intimidatif si bos terdengar, semenntara kita melihat reaksi kecemasannya, juga perilaku rekan kerja prianya yang seolah menikmati kesialan Jane. Semua terjalin dalam nuansa kacau yang tetap rapi berkat kehandalan departemen penyuntingan, yang juga dipegang Green bersama Blair McClendon.

Oh, saya lupa menyebut kalau wajah si bos tak pernah terlihat. Cuma perut ke bawah yang nampak sekilas, sambil beberapa kali suaranya terdengar. Green mendesain ini guna menggambarkan dua poin: 1) Betapa misterius dan tak terjamahnya sosok movie mogul; dan 2) Membuat karakternya universal, mewakili seluruh movie mogul, sebab memunculkan wajah berisiko memancing asosiasi terhadap satu sosok tertentu.

Kita sudah diyakinkan terkait bagaimana Jane menerima diskriminasi. Atau anda merasa belum cukup? Kalau begitu coba simak situasi, kala si bos menelepon dua asisten prianya sambil bercanda tawa. Tentu saja baik oleh bos maupun rekan kerjanya, Jane tak diajak ikut serta di pembicaraan santai itu. Kemudian datanglah permasalahan berikutnya, yakni pelecehan seksual.

Jane mencurigai bosnya memanfaatkan seorang gadis muda bernama Sienna (Kristine Froseth) dengan iming-iming pekerjaan sebagai asisten, meski ia tanpa pengalaman, mengingat pekerjaan sebelumnya adalah waitress. Jane tertegun, tapi tidak teman-teman prianya. Pun saat karyawan lain mengetahui si bos membawa Sienna ke hotel, mereka hanya bergumam, “Aaaah”, sebelum secara kasual membicarakan kejadian-kejadian serupa di masa lalu, di tengah kunjungan ke berbagai festival film di beragam negara.

Di sini Green menuturkan perihal para enabler. Mereka yang membiarkan, atau lebih parah lagi, memaklumi. The Assistant turut menjawab pertanyaan yang kerap dicuatkan publik, soal, “Kalau si karyawan wanita tahu, kenapa cuma diam saja?”. Alasannya adalah ancaman ditambah manipulasi. Pikiran Jane (dan korban-korban lain di dunia nyata) dimanipulasi, digiring menuju pemikiran bahwa ia beruntung bisa mendapatkan pekerjaan yang diincar ratusan pelamar, dan jangan sampai kesempatan tersebut dibuang. Dan nantinya anda akan melihat metode lain diterapkan oleh si bos. Metode yang lebih licik untuk memanipulasi psikis karyawan wanita.

Julia Garner menghadirkan akting subtil mumpuni. Jane cenderung diam, tapi menatap wajah dan gerak-gerik Garner, kita bisa merasakan betapa batinnya bergejolak, dikuasai pikiran-pikiran kompleks, ketakutan, kegelisahan, dilema, bahkan rasa bersalah (yang seharusnya dirasakan si pelaku), sebelum kemudian pelan-pelan remuk.

Sekitar 90% film ini mengambil latar di dalam kantor yang cukup sempit, hanya beberapa menit sempat berpindah ke kursi penumpang di sebuah mobil, dan area di luar kantor yang dihiasi langit mendung juga salju yang mulai turun. Baik iringan musik dan gerak kamera nyaris absen sepenuhnya, menyokong tujuan Green menciptakan tontonan raw. The Assistant minim (dan bukan) dramatisasi, bukan pula harapan mengenai dunia ideal, melainkan jendela realita. Dan seperti ditampilkan di konklusi, realitanya, kasus semacam ini bakal tenggelam, meninggalkan korbannya di ketidakberdayaan. 


Available on HULU

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - DOUBLE WORLD

1 komentar
Belum sempat mengecek materi-materi promosi maupun ulasannya, saya pikir, Double World— selaku adaptasi permainan MMORPG berjudul sama —merupakan film perang berlatarkan kerajaan Cina masa lampau biasa. Sampai sekuen aksi pembukanya menampilkan gore, monster, juga desain set yang nampak sedikit lebih modern. Menarik! Daya tarik yang sayangnya perlahan memudar seiring eksekusi yang gagal memenuhi potensi.

Kisahnya mengambil latar negeri fiktif bernama Zhao Selatan, yang sejak lama bersitegang dengan Yu Utara. Selepas upaya pembunuhan terhadap Raja Zhao Selatan oleh mata-mata Yu Utara, Grand Tutor Guan (Hu Ming) berencana menyelenggarakan turnamen beladiri guna mengumpulkan para petarung-petarung terhebat dari seantero negeri. Tujuannya? Mempersiapkan Zhao Selatan menghadapi perang. Tapi Guan diam-diam punya niatan lain.

Tiap klan di Zhao Selatan diperintahkan mengirim tiga wakil. Protagonis kita, Dong Yilong (Henry Lau), yang terkenal sering bikin onar dan dipanggil “Berandal” oleh warga, secara mengejutkan menyatakan keinginan ikut serta. Yilong berharap dapat mengetahui asal-usulnya (sang ibu meninggal setelah melahirkannya, sang ayah tak diketahui identitasnya). Walau kerap memancing keributan, sejatinya Yilong anak baik. Lebih tepatnya naif. Kelak di turnamen, dia menolak membunuh lawan, bahkan bersedia menolong The Beast King, sesosok ular raksasa buas yang kepalanya terus mengalirkan darah akibat helm perang yang ditancapkan paksa oleh prajurit Zhao Selatan, guna membuatnya terlihat makin mengerikan di tengah medan perang.  

Bergabung bersama Yilong adalah Chu Hun (Peter Ho), desertir yang menyimpan hasrat balas dendam pada Guan, juga gadis bernama Jingang (Lin Chenhan), yang punya kemampuan beladiri tinggi meski masih remaja. Double World menjanjikan turnamen mematikan yang diikuti puluhan jagoan. Turnamen itu sendiri, yang dibagi menjadi tiga babak, baru dimulai setelah 40 menit. Pada babak pertama, tiap anggota tim diikat satu sama lain, kemudian adu kecepatan meniti di atas rantai, sembari menghindari batu-batu besar. Jatuh berarti mati, karena di bawah, paku-paku besi telah menanti.

Set piece menarik, namun bukan penebusan yang setara untuk penantian 40 menit karena bergulir terlalu singkat, pula dibungkus koreografi medioker. Keluhan serupa layak disematkan bagi babak-babak berikutnya. Sementara begitu terjun ke pertempuran, para jagoan yang tampak memiliki kemampuan beragam itu hanya hadir untuk mati. Jeda antara aksi yang lumayan lama, dijembatani oleh cerita setengah matang dari naskah garapan Fendou Liu dan Ning Wen. Subplot balas dendamnya miskin emosi akibat penokohan tipis, sementara pembangunan mitologi dunianya, yang menyertakan elemen fantasi, konsep “double world”, serta rahasia terkait jati diri Dong Yilong, rupanya sebatas tempelan belaka? Disimpan untuk sekuel mungkin?

Ada pula subplot balas dendam lain, kali ini melibatkan budak asal Yu Utara (Luxia Jiang) yang berhasrat membunuh Chu Hun. Apa esensi cabang cerita ini? Alat menyadarkan Chu Hun agar tak hidup dipenuhi dendam? Tidak juga, sebab akhirnya sang desertir tetap menuntaskan misi tersebut. Si budak (saya lupa namanya) sempat menghilang, sebelum mendadak muncul di klimaks, sebelum kemudian tewas. Coba jawab pertanyaan saya: Bisakah kalian menemukan karakter wanita yang tak berujung meregang nyawa atau bernasib tragis di film ini?

Setidaknya departemen akting cukup membantu. Henry makin matang sebagai aktor lewat penampilan solid sebagai pemuda naif yang dipaksa menatap kekejaman dunia. Lin Chenhan tak kalah apik. Berkatnya, Double World terasa lebih playful. Sedangkan cast lain sekadar menjalankan pekerjaan mereka, sama halnya dengan sang sutradara, Teddy Chan.

Teddy begitu menggantungkan nasib pada CGI, yang mayoritas berfungsi menghidupkan unsur fantasi, yang walau (sedikit) menambah warna melalui monster-monster seperti kalajengking raksasa, ular raksasa, dan lain-lain, tampil kurang maksimal akibat inkonsistensi kualitas CGI. Tatkala sesaat beralih dari efek komputer, aksi baku hantamnya juga jauh dari kesan impresif. Beberapa gore yang menambah tingkat kebrutalan pertarungan nyatanya tak sanggup menolong, sebab sekali lagi, Teddy cuma menjalankan pekerjaan. Sulit dipercaya kalau film ini ditangani oleh sineas di balik Bodyguards and Assassins (2009) dan Kung Fu Jungle (2014).


Available on NETFLIX

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - ROMANCE DOLL

Tidak ada komentar
Romance Doll adalah contoh ketika budaya seksisme, khususnya perihal objektifikasi tubuh wanita terlanjur mengakar terlalu kuat. Sangat berbahaya, sampai karya seniman wanita yang ditujukan untuk melawan hal itu malah berujung melestarikannya. Berniat memerdekakan seksualitas wanita dari ketabuan-ketabuan, sutradara-penulis naskah Yuki Tanada, yang mengadaptasi novel berjudul sama buatannya sendiri, malah seperti menjustifikasi fantasi nakal para pria.

Padahal filmnya diawali secara menarik. Tetsuo (Issey Takahashi) adalah lulusan sekolah seni, yang akibat tuntutan finansial, terpaksa bekerja di parik boneka seks. Di bawah bimbingan seniornya, Kinji (Kitaro), ia dituntut membuat boneka yang terlihat dan terasa layaknya manusia asli. Menarik, sebab tak ada perversion, di mana boneka-boneka itu diposisikan sebagai karya seni, atau setidaknya, produk industri. Mengambil perspektif pembuatnya, bukan hasrat seksual yang muncul, melainkan hasrat menciptakan karya sesempurna mungkin.

Keterampilan sang artis dikedepankan, pun pada paruh awal, Tanada membangun nuansa witty lewat pemakaian iringan musik ceria, tempo penceritaan cepat, serta sentuhan komedi. Kejenakaan itu pula yang membawa karakternya pada keputusan nyeleneh. Demi menciptakan payudara yang realistis, Tetsuo dan Kinji merasa perlu memakai model manusia. Mereka pun memasang iklan palsu, berpura-pura menjadi dokter yang membuat payudara prostetik untuk kepentingan medis.

Lalu datanglah si “korban”. Sonoko (Yu Aoi) namanya. Entah bagaimana, Sonoko sama sekali tidak curiga. Padahal ia tiba di lokasi mencurigakan (pabrik kumuh alih-alih klinik atau laboratorium), bertemu dua dokter gadungan yang bersikap mencurigakan, termasuk saat Kinji meminta Sonoko agar memperbolehkan Tetsuo memegang payudaranya, dengan alasan, “Tidak mungkin membuat tiruan berkualitas tinggi tanpa memegang yang asli”.

Baiklah. Mungkin Sonoko bukan bodoh atau terlalu polos, melainkan berpikiran positif. Tapi selepas proses selesai, Tetsuo, yang baru beberapa menit lalu memegang dada Sonoko, langsung menyatakan cinta pada Sonoko, dan mengajaknya berkencan. Sonoko bersedia, karena sesungguhnya, ia pun sudah mencintai Tetsuo, sejak si pria creepy nan mesum itu menyentuh dadanya sambil malu-malu. Bahkan mereka akhirnya menikah.

Romance Doll mulai berubah lebih serius, khususnya pasca nasib sebuah kematian, juga seiring konflik di rumah tangga protagonisnya. Tetsuo masih berbohong soal pekerjaannya, selalu pulang larut, bahkan tertidur di tengah seks. Tapi Sonoko tetap bersabar, selalu berusaha terjaga menunggu sang suami pulang, dan setia membuatkan makan malam. Kondisi ini berlangsung selama empat tahun!

Saya bertanya-tanya, “Bagaimana bisa seorang sineas wanita menghasilkan karakter istri submisif macam ini?”. Sampai Sonoko melakukan sesuatu yang mengubah persepsi saya atas Romance Doll, di mana alih-alih sebuah enabler terhadap toxic masculinity, filmnya mengkritisi praktek itu secara halus (tapi tetap menusuk), dengan menempatkan si pria pada posisi si wanita. Poinnya adalah, ketika pasangan sama-sama “berdosa”, kecenderungannya, tekanan lebih besar bakal diterima wanita, bahkan bukan mustahil, pihak pria akan menyalahkan wanita, meski dia melakukan dosa yang sama, atau malah lebih buruk.

Walau berhasil mengubah persepsi, tetap saja, sebagai film mengenai pasangan romantis, Romance Doll lalai membuat penonton memedulikan pasangannya. Sukar memahami alasan Sonoko begitu jatuh hati, mengingat tiada kapasitas positif yang dipunyai Tetsuo. Hubungan mereka sama dangkalnya dengan karakter masing-masing. Selalu ada sekat di antara kedua karakter. Mereka bak orang asing, baik bagi satu sama lain, maupun penonton.

Mungkin keterasingan itu merupakan kesengajaan selaku wujud sentilan Tanada kepada romansa impulsif, namun tak mengubah fakta jika pendekatan tersebut menyulitkan terjalinnya ikatan emosional penonton dengan karakter. Akibatnya, dampak kemunculan twist selepas paruh kedua jadi tak maksimal. Twist tersebut berfungsi (sekali lagi) mengubah jalur film, kali ini menuju ranah tearjerker klise; memperdalam tuturan tentang neglectance serta kurangnya komunikasi dalam rumah tangga; menambahkan ironi terkait kebohongan Tetsuo seputar pekerjaannya sebagai pembuat payudara prostetik untuk keperluan medis.

Lalu muncul masalah baru. Well, tidak sepenuhnya baru. Lebih tepatnya, masalah lama mengenai dinamika gender mencuat lagi. Babak akhirnya ingin mempresentasikan soal proses merekam memori melalui sentuhan fisik yang mengabadikan cinta, pula membebaskan wanita dari kekangan-kekangan norma terkait seksualitasnya. Tapi yang timbul justru objektifikasi tubuh wanita, yang bak sebatas alat bagi ambisi seniman pria menyempurnakan karya sekaligus melampiaskan hasrat seksual tak tersalurkan miliknya. Terlebih saat Tetsuo mendeskripsikan Sonoko sebagai “horny” di penutup filmnya. It’s not a liberation for female. It’s merely a male fantasy.


Available on NETFLIX

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - SHIRLEY

Tidak ada komentar

SPOILER ALERT!!!
Datang dari sutradara Josephine Decker yang melahirkan drama bernarasi unik lewat Madeline’s Madeline (2018), Shirley merupakan film biografi yang menghindari keklisean film biografi. Karena meski karakternya adalah figur dunia nyata, serta diisi beberapa fakta, film ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Susan Scarf Merrell, yang meski dilandasi kisah hidup novelis Shirley Jackson, tuturannya digiring ke ranah fiksi.

Filmnya dibuka melalui perkenalan kepada pasangan suami-istri baru, Fred (Logan Lerman) dan Rose (Odessa Young), yang hendak tinggal sementara di rumah Shirley Jackson (Elisabeth Moss) dan sang suami, Stanley Edgar Hyman (Michael Stuhlbarg). Fred sedang berusaha menggapai mimpinya menjadi dosen di bawah bimbingan Stanley. Awalnya semua nampak baik-baik saja, tatkala Fred dan Rose mendapat sambutan hangat. Hingga mereka bertemu Shirley.

Shirley bukan sosok ramah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dalam kondisi mabuk, belum memiliki ide untuk karya terbaru, dan saat ada seseorang bertanya, “Apa buku terbarumu?”, ia menjawab, “A little novella called NONE OF YOUR GODDAMN BUSINESS”. Setelahnya, kita pu tahu jika Stanley, di balik status cendekiawan serta senyumnya, adalah pria tukang selingkuh yang selalu berusaha menancapkan kuasanya atas sang istri.

Ketika Shirley berkata ingin menulis novel alih-alih novella, Stanley merespon, “Kamu belum siap”. Pun setiap karya Shirley wajib melewati review-nya. Sosok Stanley mewakili superioritas “suami intelektual” terhadap istri yang jamak terjadi pada era 1950-an (bahkan sampai sekarang) selaku latar filmnya. Superioritas tersebut ditanamkan lewat manipulasi pikiran, di mana para pria, melalui kontrol-kontrolnya berusaha menegaskan kalau wanita tak lebih pintar, sehingga harus melewati persetujuan mereka jika ingin melakukan apa saja.

Rose akhirnya ikut jadi korban ketidakadilan. Stanley memintanya berhenti berkuliah guna melakukan pekerjaan rumah, yang mana tak sanggup dilakukan Shirley. Walau sempat keberatan, sebagai bentuk dukungan atas ambisi Fred, ia akhirnya menurut. Dari situlah Rose mulai banyak berinteraksi dengan Shirley di rumah, khususnya setelah si novelis menciptakan karakter berdasarkan dirinya.

Selain sosok Rose selaku pondasi karakter, novel terbaru Shirley (berjudul Hangsaman, terbit tahun 1951) juga terinspirasi kasus hilangnya mahasiswi bernama Paula. Shirley adalah antisosial, sehingga dia butuh bantuan Rose mengumpulkan data-data mengenai kasus Paula, entah dari arsip di kampus, maupun kesaksian warga. Aktivitas itu membawa Rose mendengar pergunjingan erkait Shirley. Ada yang menyebutnya gila. Ada yang percaya ia menulis cerita tentang kanibal. Masalahnya, semua informasi itu selalu dibumbui “Katanya”. Naskah buatan Sarah Gubbins menyelipkan ironi, bagaimana publik menjauhi Shirley berdasarkan kabar burung yang dipercaya sebagai realita, sementara sang novelis, yang dipandang amat buruk, justru mau repot-repot mencari fakta “hanya” untuk melahirkan fiksi.

Decker dan Gubbins menggarap Shirley layaknya penghormatan, mengemasnya sesuai gaya sang novelis. Meski berupa drama beraroma quasi-biografi, Shirley kental nuansa horor berkat musik eerie buatan Tamar-kali (Mudbound, The Assistant), pula visual-visual atmosferik termasuk beberapa sekuen nightmarish, yang sesekali menyertakan darah dan sedikit jump scare. Nuansa yang bukan cuma mencerminkan kekhasan karya Shirley, pula psikisnya. Moss menghidupkan sosok Shirley yang penuh kecemasan, seolah dapat meledak kapan saja. Di sisi lain, Young membawa Rose terombang-ambing di garis batas keluguan dan kesadaran terhadap kenyataan.

Penyutradaraan Decker turut bersinar sewaktu menangani romantisme, yang secara alamiah bergerak ke sensualitas. Satu adegan paling berkesan adalah saat Rose menghampiri Shirley yang sedang duduk di kursi ayun. Kamera berfokus pada bagian bawah tubuh keduanya yang pelan-pelan mendekat. Decker membangun sensualitas intens tanpa mengeksploitasi seksualitas murahan, membuktikan bahwa female gaze cenderung lebih elegan dalam membungkus situasi semacam ini.  

Punya karakter penulis novel, menjadi wajar ketika Shirley tak luput membahas perihal penciptaan karya. Paparan seputar kreativitas dalam proses menulis yang melelahkan otak dan hati, jadi puncak dinamika. Sehingga saat cerita sejenak berhenti mengeksplorasi persoalan tersebut, ditambah time jump dadakan sekitar satu tahun, Shirley sempat kehilangan daya cengkeram sekaligus elemen pembeda dari kebanyakan drama.

Sampai kita tiba di babak akhir. Diawali oleh kesadaran Rose atas rahasia yang sudah Shirley ketahui (dan penonton curigai), kita digiring menuju adegan menegangkan berlatar sebuah tebing. Kemudian konklusi yang bakal menyulut diskusi dan kebingungan pun menyusul.

(SPOILER STARTS) Ada beberapa poin yang mungkin filmnya ingin sampaikan melalui ambiguitas konklusinya: 1) Bagaimana penulis memproyeksikan imajinasi ke dalam realita; 2) Proses seorang penulis memikirkan opsi ending, yang mengharuskannya memilih antara gambaran ideal penuh harap atau realita kelam; 3) Metafora proses individu “membunuh” dirinya yang lama sebelum bertransformasi menjadi sosok yang baru.

Tapi yang bagi saya lebih ambigu justru adegan penutupnya. Setelah menghabiskan sepanjang durasi mempresentasikan cerita empowering, kenapa Shirley bahagia mendengar pengakuan sang suami yang menyebutnya jenius? Apakah suatu inkonsistensi? Atau justru paparan pahitnya realita? Bahwa akhirnya, tidak peduli seberapa ingin wanita merdeka, dunia masih memaksa mereka menerima ketidakadilan. Berbeda dengan twist tentang Rose, ambiguitas poin ini justru mengurangi ketegasan pesannya. (SPOILER ENDS).



Available on HULU

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - THE WHISTLERS

Tidak ada komentar
Melalui The Whistlers, yang awal tahun ini mewakili Rumania di ajang Academy Awards, sutradara-penulis naskah Corneliu Porumboiu membenturkan hal tradisional dengan modern, klasik dengan kekinian, dalam tuturan thriller-komedi hitam, yang juga bertindak selaku surat cintanya terhadap elemen-elemen dari masa lalu, termasuk media film itu sendiri.

Maka bukan pernak-pernik belaka ketika klimaks baku tembaknya berlatar di sebuah set film yang sudah terbengkalai, muncul referensi terhadap judul-judul klasik macam The Searchers (1956) dan Pyscho (1960), maupun saat Catrinel Marlon memerankan tokoh femme fatale bernama Gilda layaknya karakter legendaris yang diperankan Rita Hayworth dalam film noir Gilda (1946).

Tapi “produk masa lalu” yang porsinya paling substansial di film ini adalah Silbo Gomero, bahasa berbentuk siulan yang awalnya dipakai oleh para Guanche, penduduk asli Kepulauan Canaria, Spanyol. Dikisahkan, polisi Rumania bernama Cristi (Vlad Ivanov) datang ke La Gomera (salah satu pulau di Canaria) guna mempelajari bahasa tersebut, untuk membebaskan Zsolt (Sabin Tambrea), seorang pebisnis yang ditangkap di Bucharest atas tuduhan pencucian uang.

Siulan dipakai agar proses komunikasi tak mampu dideteksi pihak kepolisian. Sekarang adalah masa di mana tiap gerak-gerik bisa diawasi menggunakan kamera dan semua pembicaraan dapat disadap. Ketimbang menyiapkan teknologi yang kecanggihannya mengalahkan kepunyaan polisi sebagaimana kerap muncul di deretan blockbuster Hollywood, The Whistlers memilih metode yang lebih “oldskul”. Sebuah perspektif unik dari naskah buatan Porumboiu, yang tak jarang disajikan secara menggelitik lewat kemasan komedi deadpan (contoh terbaik ketika Cristi berlatih).

Sesampainya di La Gomera, Cristi disambut oleh Gilda. “Forget what happened in Bucharest. That was just for the surveillance cameras”, kata si wanita. Apa maksudnya? Kenapa pula seorang polisi justru harus repot-repot belajar bersiul untuk membebaskan kriminal? Bersiaplah dibuat sering bertanya-tanya, sebab The Whistlers dituturkan melalui alur non-linear, yang lebih dulu menyuguhkan dampak suatu peristiwa, baru kemudian menjelaskan latar belakangnya lewat flashback.

Ada praktek suap, double-crossing, penipuan, dan sebagainya, yang mana cukup kompleks. Tambahkan gaya alur non-linear, maka semuanya jadi lebih sukar dicerna. Tapi tidak mustahil, karena semua keping jawaban diperlihatkan, baik berupa tuturan verbal maupun bahasa visual yang lebih subtil. Hanya saja, persebarannya acak, dan penonton dituntut menyusunnya secara mandiri.

Apakah gaya bertutur rumit itu perlu? Sebenarnya tidak, mengingat tanpa itu pun, poin utama kisah, yakni tentang korupsi di kalangan pihak berwajib, masih bisa dipresentasikan. Harus diakui ini perwujudan “style over substance”, namun bagi penonton yang gemar menyusun puzzle, walau butuh proses penyesuaian di awal, The Whistlers memberi kepuasan dalam tiap keberhasilan memecahkan teka-teki dan memahami poin-poin cerita.

Penyutradaraan Corneliu Porumboiu beranjak dari long take dan tempo lambat yang mendefinisikan realisme Romanian New Wave, digantikan oleh pendekatan playful yang lebih bertenaga, pula lebih lucu berkat balutan komedi hitam bergaya deadpan. Porumboiu menutup filmnya dengan sekuen cantik berlatar malam hari berhiaskan kelap-kelip lampu Gardens by the Bay di Singapura. Apakah itu benar-benar akhir bahagia, ataukah mimpi yang memberi karakternya alasan untuk meneruskan hidup? Mana saja bukan masalah, bahkan andai tidak nyata sekalipun. Karena esensi sinema sendiri tidak jauh beda, yaitu media mengabadikan mimpi dan imajinasi.


Available on HULU

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - MURDER DEATH KOREATOWN

Tidak ada komentar
Murder Death Koreatown adalah found footage tanpa kredit. Tidak ada nama sutradara, penulis, pemain, atau kru lain. Konon, filmnya disusun berdasarkan kumpulan video yang direkam oleh seorang pria. Pria itu menghilang. Dan di penghujung durasi, siapa pun yang “menemukan” footage tersebut, telah mengeditnya menjadi film ini, dan menolak diungkap identitasnya. Baiklah.

Saya mengerti sineasnya ingin memperkuat kesan realisme. Tapi kita berada di tahun 2020. Sudah 21 tahun berlalu sejak The Blair Witch Project mengguncang lewat gimmick serupa. Horor fenomenal tersebut mempunyai dua sekuel yang tak satu pun menerapkan pendekatan serupa, sebab orang-orang di belakangnya menyadari kalau taktik itu takkan berhasil untuk kedua kali.

Murder Death Koreatown berusaha terlalu keras tampak nyata. Usahanya gagal, apalagi saat filmnya memiliki aktor dengan kemampuan akting tiarap yang jauh dari realistis. Saat dia menangis, saya ingin memberinya pukulan di wajah ketimbang tepukan di pundak sebagai ungkapan belas kasih. Saya ingin dia gagal dalam investigasinya.

Investigasi terhadap apa? Jadi, protagonis kita (sebut saja “Maman”), yang tinggal bersama kekasihnya (sebut saja “Sri”), mengetahui adanya kasus pembunuhan di dekat apartemen mereka. Kasus itu melibatkan pasutri Korea, di mana sang istri membunuh suaminya. Maman merasakan kejanggalan di kasus tersebut. Bermodalkan kamera handphone, ditambah kemampuan mewawancarai (plus bersosialisasi) yang buruk, ia pun melakukan investigasi, berkeliling komplek guna mencari bukti serta saksi.

Maman ngotot, padahal Sri telah berusaha meyakinkan bahwa tak ada keanehan. Pembunuhan itu mengerikan, mengejutkan, tapi apa yang Maman anggap janggal, sejatinya bisa dijelaskan nalar. Saya setuju. Maman gagal meyakinkan saya agar turut serta menyelidiki, karena sejak awal memang tidak ada yang menarik. Dan perjalanan Maman si detektif kesiangan amat membosankan (setidaknya di paruh pertama). Dia hanya berkeliling, mewawancarai orang-orang yang tak memberi informasi berarti. Repetitif.

Pun entah dalam rangka apa, beberapa kali terselip rekaman-rekaman acak, mulai dari amukan seorang wanita rasis di minimarket, beberapa detik saat Sri berlarian di kamar memakai pakaian dalam, dan lain-lain. Apakah itu usaha untuk menguatkan kesan realistis? Atau sebatas usaha mengulur waktu?

Sepanjang durasi yang cuma sekitar 80 menit, Murder Death Koreatown gemar betul menyelipkan peristiwa-peristiwa tak esensial. Misalnya saat Maman meminta bantuan rekan kerja Sri untuk menerjemahkan tulisan Korea yang ia temukan di dinding dan kursi bekas, yang ia percaya sebagai pesan, yang ditujukan khusus untuknya sebagai petunjuk memecahkan kasus. Maman repot-repot membawa si penerjemah ke lokasi, padahal ia sudah memiliki stok rekamannya di apartemen. Hal itu filmnya lakukan hanya demi memperlihatkan jika tulisan-tulisan tersebut menghilang secara misterius.

Apakah hilangnya tulisan tersebut serta kejanggalan-kejanggalan lain memang benar adanya, atau hanya ada di kepala Maman? Pertanyaan yang makin sering mencuat begitu alurnya menyentuh ranah supernatural, sewaktu Maman yakin jika arwah si korban pembunuhan berusaha berkomunikasi dengannya. Melalui perkenalan dirinya, Maman mengaku baru kehilangan pekerjaan, pun usaha melamar pekerjaan baru belum membuahkan hasil. Maman merasa gagal. Baginya, keberhasilan investigasi bakal mengembalikan signifikansi dalam eksistensinya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Semakin jauh penelusuran Maman, semakin ia tenggelam dalam obsesi tak sehat yang makin mengganggu jiwanya.

Andai saja Murder Death Koreatown menggali dinamika psikis itu secara lebih layak. Andai saja Maman diperankan oleh aktor yang lebih mumpuni. Andai saja, daripada berputar-putar di repetisi investigasi kala siang hari bolong, filmnya lebih sering berkutat di teror malam hari. Karena di situlah keunggulannya. Bahkan shot yang menangkap ruang kosong pun menimbulkan ketidaknyamanan, seolah ada sesuatu yang bisa menerjang kita kapan saja dari balik kegelapan. Resolusi rendah video juga turut andil membangun atmosfer.

Puncak pencapaian sutradaranya (siapa pun dia), adalah sebuah momen di sekitar 20 menit terakhir. Masih dipersenjatai pencahayaan minim plus footage “murahan”, datang kengerian yang memaksa saya menjauhkan jarak dari layar hingga film usai karena merasa “terancam”. Kengerian yang dicapai tanpa pertolongan musik berisik yang biasa menemani jump scare. Artinya tersimpan potensi. Ada teror kelas satu, yang sayangnya terkubur terlalu dalam. Atau mungkin alasan Murder Death Koreatown dibuat memang cuma untuk memfasilitasi terciptanya adegan tersebut? Entahlah. Mungkin Maman bersedia menyelidiki misteri satu ini.


Available on PRIME VIDEO (US)

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - MONOS

Tidak ada komentar
Dalam Monos, yang merupakan perwakilan Kolombia di ajang Oscar awal tahun ini, semuanya misterius. Di mana pastinya cerita berlatar? Siapa para remaja kemarin sore yang menjadi anggota kelompok militer Monos? Apa tujuan pembentukan mereka? Sedang terlibat di perang apakah Monos? Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibiarkan tanpa jawaban oleh sutradara Alejandro Landes, yang turut menulis naskahnya bersama Alexis Dos Santos, guna menciptakan surealisme. Sebuah tontonan dreamy yang mengedepankan experience ketimbang penceritaan sesuai pola, meski pilihan tersebut tak selalu memperkuat.

Monos bermarkas di area pegunungan dengan dataran yang membentang bak tanpa ujung. Sebuah “negeri di atas awan” yang seperti kampung halaman kisah-kisah mitologi Nordik. Di sanalah para remaja itu mendapat pelatihan militer ketat dari atasan mereka yang dipanggil “The Messenger” (diperankan Wilson Salazar, yang juga mantan gerilyawan), ditugasi menjaga tahanan perang asal Amerika Serikat, yang lagi-lagi tak bernama dan hanya dipanggil “Doctora” (Julianne Nicholson). Kelak tugas tambahan menyusul, yakni merawat sapi sumbangan simpatisan. Sapi itu diberi nama Shakira.

Pun semua anggota Monos cuma kita kenal dengan noms de guerre, alias nama perang masing-masing. Ada Wolf, Bigfoot, Rambo, Lady, Swede, Smurf, sampai Dog. Seolah mereka bukan individu. Hanya bidak yang diglorifikasi lewat status “prajurit”. Bahkan, saat Wolf (Julián Giraldo) dan Lady (Karen Quintero) hendak menjalin romansa, keduanya perlu meminta izin The Messenger. Mereka tidak keberatan, membuktikan betapa patuh bocah-bocah ini.

Kata “keras” mungkin paling tepat menggambarkan kehidupan Monos. Tapi toh mereka menikmatinya. Mereka menikmati memukuli tiap anggota yang berulang tahun sesuai dengan usianya, juga deretan “ritual” gila lain yang bakal membuat pesta terliar sekalipun nampak jinak. Sebagai prajurit, tentu tiap anggota Monos dibekali senapan. Bisa dibayangkan bukan, apa yang akan dilakukan remaja-remaja awal tersebut? Ya, mereka gemar membuang-buang peluru. Hanya tinggal menunggu waktu sampai terjadi bencana.

Benar saja. Dog (Paul Cubides) tidak sengaja menembak mati Shakira, dan itulah awal dari segala rintangan yang semakin lama semakin ekstrim. Rintangan yang memicu terguncangnya psikis. Dan begitu psikis runtuh, ikatan antar personal pun menyusul tak lama kemudian. Teriakan-teriakan penuh nada frustrasi, tatapan yang makin lama makin hampa, pengkhianatan, pemberontakan, aksi saling serang, bahkan saling bunuh, mendominasi paruh kedua Monos.

Disokong sinematografi Jasper Wolf yang melalui perspektif kameranya membuat alam layaknya purgatory, serta musik synth-based garapan Mica Levi (Under the Skin, Jackie), Landes menciptakan suasana atmosferik, yang tak jarang menyentuh ranah psikedelik, termasuk di suatu sekuen sureal kala beberapa karakter memakan jamur yang tumbuh di kotoran sapi. Sementara visual malam harinya, dengan pencahayaan temaram dari api unggun ditambah tubuh manusia-manusia berbalut lumpur, kentara mengambil referensi dari Apocalypse Now (1979), selaku kiblat banyak sineas dalam membuat tuturan mengenai keruntuhan mental manusia berlatar peperangan.

Seperti telah disebut, Landes mengedepankan experience. Saat secara bertahap anggota Manos mulai tenggelam dalam “kegilaan”, fokus Landes adalah membuat penonton turut merasakan, tanpa memberi pemahaman menyeluruh terkait bagaimana karakternya bisa sampai ke titik itu. Sebuah pilihan yang sah, tapi meninggalkan tanda tanya yang mengganggu proses menikmati jalannya film. Alasannya bisa dipahami, namun tidak menutup fakta bahwa Landes melakukan simplifikasi terhadap kompleksitas dinamika psikis, semata demi shock value. Kesan mendadak demi shock value pula yang rasanya melatari pilihan konklusi yang diambil.

Biarpun memiliki lubang, pencapaian Landes, khususnya terkait keberhasilan merangkai barisan momen nightmarish sebagai sutradara, tetap patut diacungi jempol. Secara keseluruhan, Monos adalah pengalaman yang— walaupun jauh dari kesan nyaman dan ringan— takkan mudah dilupakan.


Available on HULU

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - HUMBA DREAMS

Tidak ada komentar
Dedikasi duet Riri Riza-Mira Lesmana, baik sebagai sutradara dan produser maupun sama-sama menduduki kursi produser, dalam mengeksplorasi daerah-daerah di Indonesia yang kurang terjamah sinema arus utama jelas patut diapresiasi, meski hasilnya tak selalu maksimal. Di setiap Laskar Pelangi (2008) selalu ada Pendekar Tongkat Emas (2014). Humba Dreams yang tak diputar di bioskop reguler sayangnya masuk kategori kedua.

Filmnya mengisahkan tentang Martin (JS Khairen), mahasiswa sekolah film Jakarta yang bercita-cita menjadi sutradara, yang baru saja kembali ke kampung halamannya di Sumba setelah sekian lama. Sejatinya Martin pulang dengan setengah hati, sebab ia sedang berada di tengah proses produksi film selaku tugas akhir bersama teman-teman kelompoknya. Tapi apa daya, sang ibu memaksa. Alasannya, dukun setempat menyampaikan kabar bahwa mendiang ayah Martin (yang walau sudah meninggal tiga tahun lalu belum juga dikuburkan akibat ketiadaan biaya) baru mendatanginya, berwasiat untuk memberikan suatu warisan pada sang putera.

Warisan tersebut berupa sebuah kotak berisi rol film 16 mm. Tapi guna memutar film itu, Martin perlu belajar cara memproses, juga mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Masalahnya, bahkan untuk mendapatkan akses internet saja, Martin harus menempuh jarak berkilo-kilo meter mengendarai motor butut yang juga peninggalan sang ayah. Sedangkan bahan yang diperlukan sukar ditemukan, sebab ada yang diberi cap ilegal oleh pemerintah, karena dianggap berpotensi jadi alat melancarkan aksi terorisme.

Humba Dreams menjadi sebuah road trip yang membawa Martin pada proses belajar sejarah. Sejarah yang bersifat kultural (mempelajari cara memutar film 16 mm), maupun kenangan personal alias memori (hubungannya dengan sang ayah). Riri Riza, yang bertindak selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memakai pendekatan yang cenderung kontemplatif, melalui tempo lambat, kesunyian, serta still shot.

Tapi yang muncul justru setumpuk kekosongan di tengah durasi yang sejatinya cukup singkat (75 menit). Metode serupa kerap diterapkan film-film alternatif, di mana dari tuturan lambat dan peristiwa yang sekilas tak esensial, penonton berkesempatan mengobservasi, kemudian menemukan informasi-informasi baru dan rasa yang ditanamkan secara subtil. Hal itu tak dimiliki Humba Dreams. Kekosongan hanyalah kekosongan. Sewaktu Martin berkendara, kita sebatas melihat “Martin sedang berkendara”. Tidak lebih.

Patut disayangkan, mengingat filmnya menyimpan sederet hal menarik dan/atau penting yang bisa dipetik penonton. Dari tentang sinema itu sendiri, persoalan kesenjangan, isu buruh migran yang dipaparkan lewat subplot tentang banyaknya kasus orang hilang, dan tentu saja budaya Sumba. Musik daerah, kerajinan setempat, lanskap-lanskap indah pemandangan dari balik lensa kamera Bayu Prihantoro (Istirahatlah Kata-Kata), hingga aspek kultural lain. Semua itu hanya hiasan, dan perjalanan ini sekadar wisata ketimbang studi.

Keluhan serupa juga terasa di subplot romansanya. Martin bertemu Ana (Ully Triani), salah satu karyawan di homestay tempatnya menemukan internet. Ana tengah mencari suaminya yang telah bertahun-tahun tidak pulang selepas pergi ke Malaysia sebagai tenaga kerja. Saya gagal memahami dinamika psikis antara Martin dan Ana. Di satu titik, jangankan menyapa atau tersenyum, Ana bersikap dingin dan enggan menatap Martin, namun beberapa waktu berselang, ia mendadak bersemangat begitu mendengar Martin merupakan mahasiswa film.

Paling tidak, Ully Triani berhasil menjalankan pernah yang selama ini selalu dibebankan padanya: Menyelamatkan sebuah film. Baik di Stay with Me (2016) atau Labuan Hati (2017), Ully selalu jadi elemen terbaik, dan kondisi itu terulang di Humba Dreams. Kediamannya menyiratkan luka. Ada pergolakan besar di hati Ana, dan gerak-gerik Ully jelas memancarkan itu. Tapi pergolakan macam apa? Tidak pernah jelas. Bukan kesalahan sang aktris. Menjabarkannya adalah tanggung jawab Riri.

Konklusinya tak kalah bermasalah. Riri ingin menyampaikan soal individu yang lama merantau, dan secara tidak sadar sudah terlalu jauh “pergi meninggalkan rumah”, sebelum akhirnya kembali “pulang” berkat memori dan cinta. Ada pula perihal film yang punya kemampuan untuk memberi sumbangsih kepada masyarakat. Sayang, konklusinya malah mengesankan kalau Martin adalah individu yang meninggalkan kewajiban, menelantarkan teman-temannya setelah cukup lama mengombang-ambingkan mereka dalam ketidakpastian. Saya percaya, sesungguhnya bukan itu intensi Riri Riza, namun minimnya eksplorasi menghasilkan kejelasan yang juga minim. Humba Dreams merupakan film kaya gagasan pula sarat isu, tapi terasa hamba. Penuh tapi kosong.


Available on NETFLIX

Tidak ada komentar :

Comment Page:

HONEYLAND (2019)

4 komentar
Merupakan dokumenter pertama sepanjang sejarah yang meraih nominasi Oscar di kategori Best International Feature Film (perwakilan Makedonia) sekaligus Best Documentary Feature, duo sutradara Tamara Kotevska dan Ljubomir Stefanov awalnya hendak menjadikan Honeyland sebuah dokumenter pendek mengenai lingkungan di sekitar sungai Bregalnica yang didanai oleh pemerintah. Sampai mereka bertemu Hatidže Muratova di lokasi.

Hatidže adalah peternak lebah liar (salah satu yang terakhir di Eropa) yang tinggal di Bekirlija, sebuah desa terpencil tanpa listrik dan sumber air, bersama sang ibu yang berumur 85 tahun dan sudah amat lemah sehingga selama empat tahun terakhir hanya berada di tempat tidur. Fokus Honeyland pun dialihkan ke arah hubungan ibu-anak tersebut, sembari menyoroti keseharian Hatidže beternak lebah. Prinsip Hatidže adalah, “Cukup ambil separuh madu dan tinggalkan separuhnya untuk para lebah”. Tujuannya jelas: keseimbangan ekosistem.

Kotevska dan Stefanov sejatinya tak berniat menambahkan konflik. Jendela bagi penonton mengintip kehidupan yang jarang diekspos jadi tujuan. Lalu datang peternak nomaden bernama Hussein Sam beserta istri dan tujuh anaknya, yang menetap di sana. Awalnya tak banyak perubahan berarti. Kita masih disajikan keseharian normal, diajak mengintip rutinitas keluarga nomaden tersebut, termasuk bagaimana mereka menjalin hubungan harmonis dengan Hatidže. Desa yang sunyi berubah jadi ramai, dan mungkin bagi Hatidže, itu menyemarakkan hidupnya, memberikan warna baru.

Hatidže sendiri merupakan sosok ramah, ceria, juga bertenaga. Kepribadian yang bukan cuma membuatnya disukai anak-anak Hussein, pula menjadikan tangkapan realita di paruh pertama Honeyland tetap menarik disimak, walau ketidakpastian fokus maupun permasalahan cukup menguji kesabaran, meski memang gaya bertutur demikian yang diincar oleh kedua sutradara. Tapi lagi-lagi rencana berubah.

Melihat potensi bisnis jual-beli madu milik Hatidže, Hussein terdorong melakukan hal serupa. Awalnya Hatidže dengan senang hati mengulurkan bantuan. Bisnis pun berjalan mulus. Hingga permintaan pasar meroket, memaksa Hussein mensuplai madu lebih banyak dari yang ia mampu. Prinsip “take half, leave half” perlahan Hussein lupakan tatkala keuntungan— selaku bagian budaya konsumerisme— mulai membutakan. Akibat tiada lagi madu tersisa di sarang, lebah-lebah Hussein menyerang lebah Hatidže. Kerusakan terjadi, dengan harmoni alam, pula sesama manusia (keluarga dan tetangga) menjadi korban.

Beberapa kali perubahan fokus cerita itu, alih-alih mengganggu, justru mampu menangkap esensi realita, di mana seringkali hidup berjalan tak sesuai rencana akibat terjadinya hal-hal di luar perkiraan. Para pembuat filmnya, sebagaimana subjek mereka, dituntut beradaptasi, menciptakan koneksi antara si pembuat karya dengan karyanya.

Kotevska dan Stefanov menerapkan gaya fly on the wall dan cinéma vérité, yang sama-sama bertujuan menelanjangi kebenaran melalui visual. Pertemuan antara kedua gaya di atas dengan perubahan arah narasinya justru saling menguatkan. Tanpa narasi voice over, penonton diposisikan sebagai observer tak kasat mata yang masuk ke ruang intim karakter. Kita bukan dibawa pada studi kasus masa lampau, tapi mengalami langsung lika-liku peristiwanya, termasuk deretan change of event tanpa rekayasa. Baik penonton, kamera, maupun objek, (seolah) menjalaninya secara bersamaan. Andai konflik serupa dituturkan melalui media drama fiktif, dampaknya takkan sebanding karena ketiadaan kesan “right here right now” yang organik.

Pembuatan Honeyland memakan waktu tiga tahun. Stok rekaman sekitar 400 jam berhasil dikumpulkan. Waktu yang cukup untuk membuat jajaran individunya, yang konon awalnya malu-malu di depan kamera, menjadi terbiasa. Mereka tak menahan diri dalam meluapkan isi hati. Mereka melupakan keberadaan kamera, begitu pula kita. Honeyland benar-benar menangkap realita. Sebuah realita yang heartbreaking tatkala (seperti biasa) manusia menginvasi harmoni.


Available on HULU

4 komentar :

Comment Page: