REVIEW - THE BEACH HOUSE
Rasyidharry
Juli 28, 2020
horror
,
Jake Weber
,
Jeffrey A. Brown
,
Liana Liberato
,
Lumayan
,
Maryann Nagel
,
Noah Le Gros
,
REVIEW
,
Roly Porter
1 komentar
Lovecraftian nampaknya sedang mencapai popularitas baru. Baik yang
memang merupakan adaptasi karya H. P. Lovecraft seperti Underwater dan Color Out of
Space, atau yang terinspirasi secara gaya seperti Sea Fever . The Beach House masuk
kategori kedua. Melalui debut penyutradaraan sekaligus penulisan naskahnya, Jeffrey
A. Brown menegaskan bahwa keterbatasan biaya bukan alasan meredam ambisi,
selama kreativitas tak dikekang.
Latarnya sederhana. Cuma sebuah
rumah pantai milik keluarga Randall (Noah Le Gros), tempat ia menghabiskan
liburan bersama kekasihnya, Emily (Liana Liberato). Tapi harapan bisa berduaan
kandas. Rupanya ada yang lebih dulu menempati rumah tersebut, yakni pasangan suami-istri,
Mitch (Jake Weber) dan Jane (Maryann Nagel). Mitch adalah teman ayah Randall
yang pernah mengajar bersama sebagai dosen. Alih-alih pergi, Randall menerima
ajakan Mitch menginap. Keempatnya pun bercengkerama, makan malam, bahkan
menyantap ganja bersama.
The Beach House bergerak lambat, sembari Brown menyelipkan deretan red herring, yang sebelum mencuatkan
teka-teki tentang “Apa yang terjadi?”, terlebih dulu memancing penonton
bertanya-tanya, “Apa yang AKAN terjadi?”. Apakah kegilaan akibat ganja? Ataukah
teror pasangan tua yang ternyata berbahaya? Apa pula arti adegan pembukanya
ketika muncul gas dari dasar laut? Serbuan monster? Bencana alam? Atau malah
invasi alien? Mungkinkah justru siratan mengenai pecahnya hubungan Randall dan
Emily bakal jadi penyebab?
Banyak posibilitas yang menjaga
pikiran kita tetap fokus, sehingga lupa kalau teror sesungguhnya baru muncul
sewaktu durasi mendekati satu jam, tepatnya sebelum shot yang dipakai di poster film, dalam sekuen yang menghadirkan
perasaan jijik serta ngilu, yang bisa jadi membuatmu enggan menapakkan kaki di
lantai selama beberapa saat.
Brown bukan ingin menyulut rasa
takut (kalau itu tujuannya, berarti ia gagal), melainkan ketidaknyamanan. Musik
gubahan Roly Porter adalah komposisi synth
atmosferik yang biasa kita temui di judul-judul fiksi-ilmiah atau horor
klaustrofobik. Sedangkan kesan out-of-this-world
khas Lovecraftian dibangun
melalui gaya visual psikedelik, yang terdiri atas distorted vision kental nuansa dreamy.
Kesan serupa turut dimunculkan oleh penampakan makhluk-makhluk misterius— yang
tak pernah kita tahu pasti, apakah alien dari luar angkasa, hewan asing dari
dasar laut, atau hal lain —yang jadi panggung bagi tim artistik memamerkan
kepiawaian efek praktikal kelas wahid.
Satu hal yang masih perlu Brown
asah, baik selaku sutradara maupun penulis naskah, adalah terkait intensitas.
Hasrat tampil misterius membuat naskahnya lalai memberi payoff setimpal, yang sesungguhnya, berkaca dari deretan Lovecraftian terbaik, tidak bersinonim
dengan “menjawab”. Sedangkan The Beach
House ibarat pertandingan sepak bola bertabur bintang, di mana para bintang
itu terlebih dahulu duduk di bangku cadangan, tapi pertandingan sudah keburu
usai sebelum mereka memasuki lapangan. Kita cuma bisa berandai-andai, apa
jadinya kalau mereka beraksi. Pun sebagai sutradara, kapasitas Brown memainkan
intensitas serta atmosfer baru sampai tahap “meraba” ketimbang “mencengkeram”
penontonnya.
Daya tarik terbesar The Beach House justru terletak pada
proses merangkai petunjuk, yang mayoritas tersebar di kalimat karakternya. Penonton bebas menebak, apakah ini soal invasi rahasia
ekstraterestrial dari luar Bumi, ataukah mengenai lingkungan di Bumi. Sebuah
fiksi-ilmiah tentang kolonisasi, atau eco-horror seputar siklus alam
yang berusaha kembali ke awal guna mengembalikan keseimbangannya.
Available on SHUDDER
REVIEW - THE ASSISTANT
Rasyidharry
Juli 27, 2020
Blair McClendon
,
Drama
,
Julia Garner
,
Kitty Green
,
Kristine Froseth
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
1 komentar
Saat sedang mencari-cari informasi
terkait The Assistant, saya menemukan
salah satu ulasan negatif dari penonton yang menarik perhatian saya. Dia
menulis, “In this movie you always think
something will happen. But nothing happens”. Pernyataan itu kurang tepat,
karena sesungguhnya terjadi banyak hal dalam film ini, hanya saja tak langsung
di depan mata. Kejadian tersebut bisa diketahui dari obrolan karakter atau
petunjuk subtil. The Assistant tak bertutur
secara gamblang, tapi kita dapat dengan mudah menarik kesimpulan. Artinya, isu
yang diangkat, termasuk tanda-tandanya, sudah sedemikian familiar.
Protagonis kita bernama Jane (Julia
Garner), seorang asisten junior yang baru bekerja selama lima minggu di sebuah
rumah produksi film yang terletak di New York. Begitu sibuk aktvitiasnya, Jane
datang pertama sebelum matahari terbit. Apa saja tugas Jane? Antara lain
membuat kopi, mencetak dokumen, membersihkan ruangan meski kantornya memiliki
petugas kebersihan, melakukan beberapa panggilan, hingga menyusun jadwal sang
bos.
Apakah itu bentuk diskriminasi
gender? Bukankah mungkin saja memang seperti itu jobdesc-nya? Lalu dua rekannya, sesama asisten, tiba. Keduanya
pria. Mereka tampak segar karena baru menikmati libur akhir minggu, yang mana
tidak Jane dapatkan. Apakah itu bentuk diskriminasi gender? Mungkin saja itu
dikarenakan Jane masih baru, bukan?
Di tengah kesibukan, mendadak istri
bos menelepon, meluapkan amarah kepada Jane akibat suaminya memblokir kartu
kredit. Beberapa waktu berselang, giliran si bos menghubungi Jane, menuduhnya mempengaruhi sang istri, sebelum berkata bahwa sebaiknya Jane
melakukan bakatnya saja: memesan salad. Masih merasa tidak ada seksisme?
Secara khusus, sekuen tersebut jadi
salah satu yang paling membuktikan kapasitas penyutradaraan Kitty Green— yang sebelumnya
melahirkan dokumenter bergaya unik, Casting
JonBenet (2017) —dalam memvisualisasikan tekanan mental Jane. Suara
berat nan intimidatif si bos terdengar, semenntara kita melihat reaksi
kecemasannya, juga perilaku rekan kerja prianya yang seolah menikmati kesialan
Jane. Semua terjalin dalam nuansa kacau yang tetap rapi berkat kehandalan
departemen penyuntingan, yang juga dipegang Green bersama Blair McClendon.
Oh, saya lupa menyebut kalau wajah
si bos tak pernah terlihat. Cuma perut ke bawah yang nampak sekilas, sambil
beberapa kali suaranya terdengar. Green mendesain ini guna menggambarkan dua
poin: 1) Betapa misterius dan tak terjamahnya sosok movie mogul; dan 2) Membuat karakternya universal, mewakili seluruh movie
mogul, sebab memunculkan wajah berisiko memancing asosiasi terhadap satu sosok
tertentu.
Kita sudah diyakinkan terkait
bagaimana Jane menerima diskriminasi. Atau anda merasa belum cukup? Kalau
begitu coba simak situasi, kala si bos menelepon dua asisten prianya sambil
bercanda tawa. Tentu saja baik oleh bos maupun rekan kerjanya, Jane tak diajak
ikut serta di pembicaraan santai itu. Kemudian datanglah permasalahan
berikutnya, yakni pelecehan seksual.
Jane mencurigai bosnya memanfaatkan
seorang gadis muda bernama Sienna (Kristine Froseth) dengan iming-iming
pekerjaan sebagai asisten, meski ia tanpa pengalaman, mengingat pekerjaan
sebelumnya adalah waitress. Jane
tertegun, tapi tidak teman-teman prianya. Pun saat karyawan lain mengetahui si
bos membawa Sienna ke hotel, mereka hanya bergumam, “Aaaah”, sebelum secara
kasual membicarakan kejadian-kejadian serupa di masa lalu, di tengah kunjungan ke
berbagai festival film di beragam negara.
Di sini Green menuturkan perihal
para enabler. Mereka yang membiarkan,
atau lebih parah lagi, memaklumi. The
Assistant turut menjawab pertanyaan yang kerap dicuatkan publik, soal, “Kalau
si karyawan wanita tahu, kenapa cuma diam saja?”. Alasannya adalah ancaman
ditambah manipulasi. Pikiran Jane (dan korban-korban lain di dunia nyata)
dimanipulasi, digiring menuju pemikiran bahwa ia beruntung bisa mendapatkan
pekerjaan yang diincar ratusan pelamar, dan jangan sampai kesempatan tersebut
dibuang. Dan nantinya anda akan melihat metode lain diterapkan oleh si bos.
Metode yang lebih licik untuk memanipulasi psikis karyawan wanita.
Julia Garner menghadirkan akting subtil
mumpuni. Jane cenderung diam, tapi menatap wajah dan gerak-gerik Garner, kita
bisa merasakan betapa batinnya bergejolak, dikuasai pikiran-pikiran kompleks,
ketakutan, kegelisahan, dilema, bahkan rasa bersalah (yang seharusnya
dirasakan si pelaku), sebelum kemudian pelan-pelan remuk.
Sekitar 90% film ini mengambil
latar di dalam kantor yang cukup sempit, hanya beberapa menit sempat berpindah
ke kursi penumpang di sebuah mobil, dan area di luar kantor yang dihiasi langit
mendung juga salju yang mulai turun. Baik iringan musik dan gerak kamera nyaris
absen sepenuhnya, menyokong tujuan Green menciptakan tontonan raw. The Assistant minim (dan bukan)
dramatisasi, bukan pula harapan mengenai dunia ideal, melainkan jendela realita.
Dan seperti ditampilkan di konklusi, realitanya, kasus semacam ini bakal
tenggelam, meninggalkan korbannya di ketidakberdayaan.
Available on HULU
REVIEW - DOUBLE WORLD
Rasyidharry
Juli 26, 2020
Action
,
Chinese Movie
,
Fantasy
,
Fendou Liu
,
Hery Lau
,
Hu Ming
,
Kurang
,
Lin Chenhan
,
Luxia Jiang
,
Ning Wen
,
Peter Ho
,
REVIEW
,
Teddy Chan
1 komentar
Belum sempat mengecek materi-materi
promosi maupun ulasannya, saya pikir, Double
World— selaku adaptasi permainan MMORPG berjudul sama —merupakan film perang
berlatarkan kerajaan Cina masa lampau biasa. Sampai sekuen aksi pembukanya
menampilkan gore, monster, juga
desain set yang nampak sedikit lebih modern. Menarik! Daya tarik yang sayangnya
perlahan memudar seiring eksekusi yang gagal memenuhi potensi.
Kisahnya mengambil latar negeri
fiktif bernama Zhao Selatan, yang sejak lama bersitegang dengan Yu Utara. Selepas
upaya pembunuhan terhadap Raja Zhao Selatan oleh mata-mata Yu Utara, Grand
Tutor Guan (Hu Ming) berencana menyelenggarakan turnamen beladiri guna
mengumpulkan para petarung-petarung terhebat dari seantero negeri. Tujuannya?
Mempersiapkan Zhao Selatan menghadapi perang. Tapi Guan diam-diam punya niatan
lain.
Tiap klan di Zhao Selatan
diperintahkan mengirim tiga wakil. Protagonis kita, Dong Yilong (Henry Lau), yang
terkenal sering bikin onar dan dipanggil “Berandal” oleh warga, secara
mengejutkan menyatakan keinginan ikut serta. Yilong berharap dapat mengetahui
asal-usulnya (sang ibu meninggal setelah melahirkannya, sang ayah tak diketahui
identitasnya). Walau kerap memancing keributan, sejatinya Yilong anak baik.
Lebih tepatnya naif. Kelak di turnamen, dia menolak membunuh lawan, bahkan bersedia
menolong The Beast King, sesosok ular
raksasa buas yang kepalanya terus mengalirkan darah akibat helm perang yang
ditancapkan paksa oleh prajurit Zhao Selatan, guna membuatnya terlihat makin
mengerikan di tengah medan perang.
Bergabung bersama Yilong adalah Chu
Hun (Peter Ho), desertir yang menyimpan hasrat balas dendam pada Guan, juga
gadis bernama Jingang (Lin Chenhan), yang punya kemampuan beladiri tinggi meski
masih remaja. Double World menjanjikan
turnamen mematikan yang diikuti puluhan jagoan. Turnamen itu sendiri, yang
dibagi menjadi tiga babak, baru dimulai setelah 40 menit. Pada babak pertama,
tiap anggota tim diikat satu sama lain, kemudian adu kecepatan meniti di atas
rantai, sembari menghindari batu-batu besar. Jatuh berarti mati, karena di
bawah, paku-paku besi telah menanti.
Set piece menarik, namun bukan penebusan yang setara untuk
penantian 40 menit karena bergulir terlalu singkat, pula dibungkus koreografi
medioker. Keluhan serupa layak disematkan bagi babak-babak berikutnya.
Sementara begitu terjun ke pertempuran, para jagoan yang tampak memiliki
kemampuan beragam itu hanya hadir untuk mati. Jeda antara aksi yang lumayan
lama, dijembatani oleh cerita setengah matang dari naskah garapan Fendou Liu
dan Ning Wen. Subplot balas dendamnya miskin emosi akibat penokohan tipis,
sementara pembangunan mitologi dunianya, yang menyertakan elemen fantasi, konsep
“double world”, serta rahasia terkait
jati diri Dong Yilong, rupanya sebatas tempelan belaka? Disimpan untuk sekuel
mungkin?
Ada pula subplot balas dendam lain,
kali ini melibatkan budak asal Yu Utara (Luxia Jiang) yang berhasrat membunuh
Chu Hun. Apa esensi cabang cerita ini? Alat
menyadarkan Chu Hun agar tak hidup dipenuhi dendam? Tidak juga, sebab akhirnya
sang desertir tetap menuntaskan misi tersebut. Si budak (saya lupa namanya)
sempat menghilang, sebelum mendadak muncul di klimaks, sebelum kemudian tewas.
Coba jawab pertanyaan saya: Bisakah kalian menemukan karakter wanita yang tak
berujung meregang nyawa atau bernasib tragis di film ini?
Setidaknya departemen akting cukup
membantu. Henry makin matang sebagai aktor lewat
penampilan solid sebagai pemuda naif yang dipaksa menatap kekejaman dunia. Lin
Chenhan tak kalah apik. Berkatnya, Double
World terasa lebih playful. Sedangkan
cast lain sekadar menjalankan
pekerjaan mereka, sama halnya dengan sang sutradara, Teddy Chan.
Teddy begitu menggantungkan nasib
pada CGI, yang mayoritas berfungsi menghidupkan unsur fantasi, yang walau (sedikit)
menambah warna melalui monster-monster seperti kalajengking raksasa, ular
raksasa, dan lain-lain, tampil kurang maksimal akibat inkonsistensi kualitas
CGI. Tatkala sesaat beralih dari efek komputer, aksi baku hantamnya juga jauh
dari kesan impresif. Beberapa gore yang
menambah tingkat kebrutalan pertarungan nyatanya tak sanggup menolong, sebab
sekali lagi, Teddy cuma menjalankan pekerjaan. Sulit dipercaya kalau film ini
ditangani oleh sineas di balik Bodyguards
and Assassins (2009) dan Kung Fu
Jungle (2014).
Available on NETFLIX
REVIEW - ROMANCE DOLL
Rasyidharry
Juli 25, 2020
Drama
,
Issey Takahashi
,
Japanese Movie
,
Kitaro
,
Kurang
,
REVIEW
,
Romance
,
Yu Aoi
,
Yuki Tanada
Tidak ada komentar
Romance Doll adalah contoh ketika budaya seksisme, khususnya
perihal objektifikasi tubuh wanita terlanjur mengakar terlalu kuat. Sangat
berbahaya, sampai karya seniman wanita yang ditujukan untuk melawan hal itu
malah berujung melestarikannya. Berniat memerdekakan seksualitas wanita dari
ketabuan-ketabuan, sutradara-penulis naskah Yuki Tanada, yang mengadaptasi
novel berjudul sama buatannya sendiri, malah seperti menjustifikasi fantasi
nakal para pria.
Padahal filmnya diawali secara
menarik. Tetsuo (Issey Takahashi) adalah lulusan sekolah seni, yang akibat
tuntutan finansial, terpaksa bekerja di parik boneka seks. Di bawah bimbingan
seniornya, Kinji (Kitaro), ia dituntut membuat boneka yang terlihat dan terasa layaknya
manusia asli. Menarik, sebab tak ada perversion,
di mana boneka-boneka itu diposisikan sebagai karya seni, atau setidaknya,
produk industri. Mengambil perspektif pembuatnya, bukan hasrat seksual yang
muncul, melainkan hasrat menciptakan karya sesempurna mungkin.
Keterampilan sang artis
dikedepankan, pun pada paruh awal, Tanada membangun nuansa witty lewat pemakaian iringan musik ceria, tempo penceritaan cepat,
serta sentuhan komedi. Kejenakaan itu pula yang membawa karakternya pada
keputusan nyeleneh. Demi menciptakan payudara yang realistis, Tetsuo dan Kinji merasa
perlu memakai model manusia. Mereka pun memasang iklan palsu, berpura-pura
menjadi dokter yang membuat payudara prostetik untuk kepentingan medis.
Lalu datanglah si “korban”. Sonoko
(Yu Aoi) namanya. Entah bagaimana, Sonoko sama sekali tidak curiga. Padahal ia
tiba di lokasi mencurigakan (pabrik kumuh alih-alih klinik atau laboratorium), bertemu
dua dokter gadungan yang bersikap mencurigakan, termasuk saat Kinji meminta
Sonoko agar memperbolehkan Tetsuo memegang payudaranya, dengan alasan, “Tidak
mungkin membuat tiruan berkualitas tinggi tanpa memegang yang asli”.
Baiklah. Mungkin Sonoko bukan bodoh
atau terlalu polos, melainkan berpikiran positif. Tapi selepas proses selesai,
Tetsuo, yang baru beberapa menit lalu memegang dada Sonoko, langsung menyatakan
cinta pada Sonoko, dan mengajaknya berkencan. Sonoko bersedia, karena
sesungguhnya, ia pun sudah mencintai Tetsuo, sejak si pria creepy nan mesum itu menyentuh dadanya sambil malu-malu. Bahkan
mereka akhirnya menikah.
Romance Doll mulai berubah lebih serius, khususnya pasca nasib
sebuah kematian, juga seiring konflik di rumah tangga protagonisnya. Tetsuo
masih berbohong soal pekerjaannya, selalu pulang larut, bahkan tertidur di
tengah seks. Tapi Sonoko tetap bersabar, selalu berusaha terjaga menunggu sang
suami pulang, dan setia membuatkan makan malam. Kondisi ini berlangsung selama
empat tahun!
Saya bertanya-tanya, “Bagaimana
bisa seorang sineas wanita menghasilkan karakter istri submisif macam ini?”. Sampai
Sonoko melakukan sesuatu yang mengubah persepsi saya atas Romance Doll, di mana alih-alih sebuah enabler terhadap toxic
masculinity, filmnya mengkritisi praktek itu secara halus (tapi tetap
menusuk), dengan menempatkan si pria pada posisi si wanita. Poinnya adalah,
ketika pasangan sama-sama “berdosa”, kecenderungannya, tekanan lebih besar
bakal diterima wanita, bahkan bukan mustahil, pihak pria akan menyalahkan
wanita, meski dia melakukan dosa yang sama, atau malah lebih buruk.
Walau berhasil mengubah persepsi,
tetap saja, sebagai film mengenai pasangan romantis, Romance Doll lalai membuat penonton memedulikan pasangannya. Sukar
memahami alasan Sonoko begitu jatuh hati, mengingat tiada kapasitas positif
yang dipunyai Tetsuo. Hubungan mereka sama dangkalnya dengan karakter
masing-masing. Selalu ada sekat di antara kedua karakter. Mereka bak orang
asing, baik bagi satu sama lain, maupun penonton.
Mungkin keterasingan itu merupakan
kesengajaan selaku wujud sentilan Tanada kepada romansa impulsif, namun tak
mengubah fakta jika pendekatan tersebut menyulitkan terjalinnya ikatan
emosional penonton dengan karakter. Akibatnya, dampak kemunculan twist selepas paruh kedua jadi tak
maksimal. Twist tersebut berfungsi
(sekali lagi) mengubah jalur film, kali ini menuju ranah tearjerker klise; memperdalam
tuturan tentang neglectance serta
kurangnya komunikasi dalam rumah tangga; menambahkan ironi terkait kebohongan
Tetsuo seputar pekerjaannya sebagai pembuat payudara prostetik untuk keperluan
medis.
Lalu muncul masalah baru. Well, tidak sepenuhnya baru. Lebih
tepatnya, masalah lama mengenai dinamika gender mencuat lagi. Babak akhirnya
ingin mempresentasikan soal proses merekam memori melalui sentuhan fisik yang
mengabadikan cinta, pula membebaskan wanita dari kekangan-kekangan norma
terkait seksualitasnya. Tapi yang timbul justru objektifikasi tubuh wanita,
yang bak sebatas alat bagi ambisi seniman pria menyempurnakan karya sekaligus
melampiaskan hasrat seksual tak tersalurkan miliknya. Terlebih saat Tetsuo
mendeskripsikan Sonoko sebagai “horny”
di penutup filmnya. It’s not a liberation for female. It’s merely a
male fantasy.
Available on NETFLIX
REVIEW - SHIRLEY
Rasyidharry
Juli 24, 2020
Biography
,
Drama
,
Elisabeth Moss
,
Josephine Decker
,
Logan Lerman
,
Lumayan
,
Michael Stuhlbarg
,
Odessa Young
,
REVIEW
,
Sarah Gubbins
,
Tamar-kali
,
Thriller
Tidak ada komentar
SPOILER ALERT!!!
Datang dari sutradara Josephine
Decker yang melahirkan drama bernarasi unik lewat Madeline’s Madeline (2018), Shirley
merupakan film biografi yang menghindari keklisean film biografi. Karena
meski karakternya adalah figur dunia nyata, serta diisi beberapa fakta, film
ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Susan Scarf Merrell, yang
meski dilandasi kisah hidup novelis Shirley Jackson, tuturannya digiring ke
ranah fiksi.
Filmnya dibuka melalui perkenalan
kepada pasangan suami-istri baru, Fred (Logan Lerman) dan Rose (Odessa Young),
yang hendak tinggal sementara di rumah Shirley Jackson (Elisabeth Moss) dan sang
suami, Stanley Edgar Hyman (Michael Stuhlbarg). Fred sedang berusaha menggapai
mimpinya menjadi dosen di bawah bimbingan Stanley. Awalnya semua nampak
baik-baik saja, tatkala Fred dan Rose mendapat sambutan hangat. Hingga mereka bertemu
Shirley.
Shirley bukan sosok ramah. Dia
lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dalam kondisi mabuk, belum memiliki
ide untuk karya terbaru, dan saat ada seseorang bertanya, “Apa buku terbarumu?”,
ia menjawab, “A little novella called
NONE OF YOUR GODDAMN BUSINESS”. Setelahnya, kita pu tahu jika Stanley, di
balik status cendekiawan serta senyumnya, adalah pria tukang selingkuh yang
selalu berusaha menancapkan kuasanya atas sang istri.
Ketika Shirley berkata ingin
menulis novel alih-alih novella, Stanley merespon, “Kamu belum siap”. Pun setiap
karya Shirley wajib melewati review-nya.
Sosok Stanley mewakili superioritas “suami intelektual” terhadap istri yang jamak
terjadi pada era 1950-an (bahkan sampai sekarang) selaku latar filmnya.
Superioritas tersebut ditanamkan lewat manipulasi pikiran, di mana para pria, melalui
kontrol-kontrolnya berusaha menegaskan kalau wanita tak lebih pintar, sehingga
harus melewati persetujuan mereka jika ingin melakukan apa saja.
Rose akhirnya ikut jadi korban ketidakadilan.
Stanley memintanya berhenti berkuliah guna melakukan pekerjaan rumah, yang mana
tak sanggup dilakukan Shirley. Walau sempat keberatan, sebagai bentuk dukungan
atas ambisi Fred, ia akhirnya menurut. Dari situlah Rose mulai banyak
berinteraksi dengan Shirley di rumah, khususnya setelah si novelis menciptakan
karakter berdasarkan dirinya.
Selain sosok Rose selaku pondasi
karakter, novel terbaru Shirley (berjudul Hangsaman,
terbit tahun 1951) juga terinspirasi kasus hilangnya mahasiswi bernama
Paula. Shirley adalah antisosial, sehingga dia butuh bantuan Rose mengumpulkan
data-data mengenai kasus Paula, entah dari arsip di kampus, maupun kesaksian
warga. Aktivitas itu membawa Rose mendengar pergunjingan erkait Shirley. Ada
yang menyebutnya gila. Ada yang percaya ia menulis cerita tentang kanibal. Masalahnya,
semua informasi itu selalu dibumbui “Katanya”. Naskah buatan Sarah Gubbins
menyelipkan ironi, bagaimana publik menjauhi Shirley berdasarkan kabar burung
yang dipercaya sebagai realita, sementara sang novelis, yang dipandang amat
buruk, justru mau repot-repot mencari fakta “hanya” untuk melahirkan fiksi.
Decker dan Gubbins menggarap Shirley layaknya penghormatan,
mengemasnya sesuai gaya sang novelis. Meski berupa drama beraroma quasi-biografi,
Shirley kental nuansa horor berkat
musik eerie buatan Tamar-kali (Mudbound, The Assistant), pula visual-visual
atmosferik termasuk beberapa sekuen nightmarish,
yang sesekali menyertakan darah dan sedikit jump
scare. Nuansa yang bukan cuma mencerminkan kekhasan karya Shirley, pula psikisnya.
Moss menghidupkan sosok Shirley yang penuh kecemasan, seolah dapat meledak
kapan saja. Di sisi lain, Young membawa Rose terombang-ambing di garis batas keluguan
dan kesadaran terhadap kenyataan.
Penyutradaraan Decker turut
bersinar sewaktu menangani romantisme, yang secara alamiah bergerak ke
sensualitas. Satu adegan paling berkesan adalah saat Rose menghampiri Shirley yang
sedang duduk di kursi ayun. Kamera berfokus pada bagian bawah tubuh keduanya
yang pelan-pelan mendekat. Decker membangun sensualitas intens tanpa
mengeksploitasi seksualitas murahan, membuktikan bahwa female gaze cenderung lebih elegan dalam membungkus situasi semacam
ini.
Punya karakter penulis novel, menjadi
wajar ketika Shirley tak luput
membahas perihal penciptaan karya. Paparan seputar kreativitas dalam proses
menulis yang melelahkan otak dan hati, jadi puncak dinamika. Sehingga saat
cerita sejenak berhenti mengeksplorasi persoalan tersebut, ditambah time jump dadakan sekitar satu tahun, Shirley sempat kehilangan daya cengkeram
sekaligus elemen pembeda dari kebanyakan drama.
Sampai kita tiba di babak akhir. Diawali
oleh kesadaran Rose atas rahasia yang sudah Shirley ketahui (dan penonton
curigai), kita digiring menuju adegan menegangkan berlatar sebuah tebing.
Kemudian konklusi yang bakal menyulut diskusi dan kebingungan pun menyusul.
(SPOILER STARTS) Ada beberapa poin yang mungkin filmnya ingin sampaikan
melalui ambiguitas konklusinya: 1) Bagaimana penulis memproyeksikan imajinasi
ke dalam realita; 2) Proses seorang penulis memikirkan opsi ending, yang mengharuskannya memilih
antara gambaran ideal penuh harap atau realita kelam; 3) Metafora proses
individu “membunuh” dirinya yang lama sebelum bertransformasi menjadi sosok
yang baru.
Tapi yang bagi saya lebih ambigu
justru adegan penutupnya. Setelah menghabiskan sepanjang durasi
mempresentasikan cerita empowering,
kenapa Shirley bahagia mendengar pengakuan sang suami yang menyebutnya jenius? Apakah
suatu inkonsistensi? Atau justru paparan pahitnya realita? Bahwa akhirnya,
tidak peduli seberapa ingin wanita merdeka, dunia masih memaksa mereka menerima
ketidakadilan. Berbeda dengan twist tentang
Rose, ambiguitas poin ini justru mengurangi ketegasan pesannya. (SPOILER ENDS).
Available on HULU
REVIEW - THE WHISTLERS
Rasyidharry
Juli 22, 2020
Catrinel Marlon
,
Comedy
,
Corneliu Porumboiu
,
Crime
,
European Film
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Sabin Tambrea
,
Thriller
,
Vlad Ivanov
Tidak ada komentar
Melalui The Whistlers, yang
awal tahun ini mewakili Rumania di ajang Academy Awards, sutradara-penulis
naskah Corneliu Porumboiu membenturkan hal tradisional dengan modern, klasik
dengan kekinian, dalam tuturan thriller-komedi hitam, yang juga bertindak
selaku surat cintanya terhadap elemen-elemen dari masa lalu, termasuk media
film itu sendiri.
Maka bukan pernak-pernik belaka ketika klimaks baku
tembaknya berlatar di sebuah set film yang sudah terbengkalai, muncul referensi
terhadap judul-judul klasik macam The
Searchers (1956) dan Pyscho (1960),
maupun saat Catrinel Marlon memerankan tokoh femme fatale bernama Gilda layaknya karakter legendaris yang
diperankan Rita Hayworth dalam film noir Gilda
(1946).
Tapi “produk masa lalu” yang porsinya paling substansial di
film ini adalah Silbo Gomero, bahasa
berbentuk siulan yang awalnya dipakai oleh para Guanche, penduduk asli
Kepulauan Canaria, Spanyol. Dikisahkan, polisi Rumania bernama Cristi (Vlad
Ivanov) datang ke La Gomera (salah satu pulau di Canaria) guna mempelajari
bahasa tersebut, untuk membebaskan Zsolt (Sabin Tambrea), seorang pebisnis yang
ditangkap di Bucharest atas tuduhan pencucian uang.
Siulan dipakai agar proses komunikasi tak mampu dideteksi
pihak kepolisian. Sekarang adalah masa di mana tiap gerak-gerik bisa diawasi
menggunakan kamera dan semua pembicaraan dapat disadap. Ketimbang menyiapkan
teknologi yang kecanggihannya mengalahkan kepunyaan polisi sebagaimana kerap
muncul di deretan blockbuster Hollywood,
The Whistlers memilih metode yang
lebih “oldskul”. Sebuah perspektif
unik dari naskah buatan Porumboiu, yang tak jarang disajikan secara menggelitik
lewat kemasan komedi deadpan (contoh
terbaik ketika Cristi berlatih).
Sesampainya di La Gomera, Cristi disambut oleh Gilda. “Forget what happened in Bucharest. That was
just for the surveillance cameras”, kata si wanita. Apa maksudnya? Kenapa
pula seorang polisi justru harus repot-repot belajar bersiul untuk membebaskan
kriminal? Bersiaplah dibuat sering bertanya-tanya, sebab The Whistlers dituturkan melalui alur non-linear, yang lebih dulu
menyuguhkan dampak suatu peristiwa, baru kemudian menjelaskan latar
belakangnya lewat flashback.
Ada praktek suap, double-crossing,
penipuan, dan sebagainya, yang mana cukup kompleks. Tambahkan gaya alur
non-linear, maka semuanya jadi lebih sukar dicerna. Tapi tidak mustahil, karena semua keping jawaban diperlihatkan, baik berupa tuturan verbal
maupun bahasa visual yang lebih subtil. Hanya saja, persebarannya acak, dan
penonton dituntut menyusunnya secara mandiri.
Apakah gaya bertutur rumit itu perlu? Sebenarnya tidak,
mengingat tanpa itu pun, poin utama kisah, yakni tentang korupsi di kalangan
pihak berwajib, masih bisa dipresentasikan. Harus diakui ini perwujudan “style over substance”, namun bagi
penonton yang gemar menyusun puzzle, walau butuh proses penyesuaian di awal, The Whistlers memberi kepuasan dalam
tiap keberhasilan memecahkan teka-teki dan memahami poin-poin cerita.
Penyutradaraan Corneliu Porumboiu beranjak dari long take dan tempo lambat yang
mendefinisikan realisme Romanian New Wave,
digantikan oleh pendekatan playful yang
lebih bertenaga, pula lebih lucu berkat balutan komedi hitam bergaya deadpan. Porumboiu menutup filmnya
dengan sekuen cantik berlatar malam hari berhiaskan kelap-kelip lampu Gardens
by the Bay di Singapura. Apakah itu benar-benar akhir bahagia, ataukah mimpi
yang memberi karakternya alasan untuk meneruskan hidup? Mana saja bukan masalah,
bahkan andai tidak nyata sekalipun. Karena esensi sinema sendiri tidak jauh
beda, yaitu media mengabadikan mimpi dan imajinasi.
Available on HULU
REVIEW - MURDER DEATH KOREATOWN
Murder Death Koreatown adalah found footage tanpa kredit. Tidak ada nama sutradara, penulis, pemain,
atau kru lain. Konon, filmnya disusun berdasarkan kumpulan video yang direkam
oleh seorang pria. Pria itu menghilang. Dan di penghujung durasi, siapa pun
yang “menemukan” footage tersebut,
telah mengeditnya menjadi film ini, dan menolak diungkap identitasnya. Baiklah.
Saya mengerti sineasnya ingin memperkuat kesan realisme. Tapi
kita berada di tahun 2020. Sudah 21 tahun berlalu sejak The Blair Witch Project mengguncang lewat gimmick serupa. Horor fenomenal tersebut mempunyai dua sekuel yang
tak satu pun menerapkan pendekatan serupa, sebab orang-orang di belakangnya menyadari
kalau taktik itu takkan berhasil untuk kedua kali.
Murder Death Koreatown berusaha terlalu keras tampak nyata. Usahanya gagal, apalagi saat filmnya memiliki aktor dengan kemampuan akting
tiarap yang jauh dari realistis. Saat dia menangis, saya ingin memberinya
pukulan di wajah ketimbang tepukan di pundak sebagai ungkapan belas kasih. Saya
ingin dia gagal dalam investigasinya.
Investigasi terhadap apa? Jadi, protagonis kita (sebut saja “Maman”),
yang tinggal bersama kekasihnya (sebut saja “Sri”), mengetahui adanya kasus
pembunuhan di dekat apartemen mereka. Kasus itu melibatkan pasutri Korea, di
mana sang istri membunuh suaminya. Maman merasakan kejanggalan di kasus
tersebut. Bermodalkan kamera handphone,
ditambah kemampuan mewawancarai (plus bersosialisasi) yang buruk, ia pun
melakukan investigasi, berkeliling komplek guna mencari bukti serta saksi.
Maman ngotot, padahal Sri telah berusaha meyakinkan bahwa tak
ada keanehan. Pembunuhan itu mengerikan, mengejutkan, tapi apa yang Maman
anggap janggal, sejatinya bisa dijelaskan nalar. Saya setuju. Maman gagal meyakinkan
saya agar turut serta menyelidiki, karena sejak awal memang tidak ada yang
menarik. Dan perjalanan Maman si detektif kesiangan amat membosankan
(setidaknya di paruh pertama). Dia hanya berkeliling, mewawancarai orang-orang
yang tak memberi informasi berarti. Repetitif.
Pun entah dalam rangka apa, beberapa kali terselip rekaman-rekaman
acak, mulai dari amukan seorang wanita rasis di minimarket, beberapa detik saat
Sri berlarian di kamar memakai pakaian dalam, dan lain-lain. Apakah itu usaha
untuk menguatkan kesan realistis? Atau sebatas usaha mengulur waktu?
Sepanjang durasi yang cuma sekitar 80 menit, Murder Death Koreatown gemar betul
menyelipkan peristiwa-peristiwa tak esensial. Misalnya saat Maman meminta
bantuan rekan kerja Sri untuk menerjemahkan tulisan Korea yang ia temukan di
dinding dan kursi bekas, yang ia percaya sebagai pesan, yang ditujukan khusus
untuknya sebagai petunjuk memecahkan kasus. Maman repot-repot membawa si
penerjemah ke lokasi, padahal ia sudah memiliki stok rekamannya di apartemen. Hal
itu filmnya lakukan hanya demi memperlihatkan jika tulisan-tulisan tersebut
menghilang secara misterius.
Apakah hilangnya tulisan tersebut serta
kejanggalan-kejanggalan lain memang benar adanya, atau hanya ada di kepala
Maman? Pertanyaan yang makin sering mencuat begitu alurnya menyentuh ranah supernatural, sewaktu Maman yakin jika arwah si korban pembunuhan berusaha berkomunikasi dengannya. Melalui perkenalan dirinya, Maman mengaku baru kehilangan pekerjaan, pun
usaha melamar pekerjaan baru belum membuahkan hasil. Maman merasa gagal.
Baginya, keberhasilan investigasi bakal mengembalikan signifikansi dalam
eksistensinya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Semakin jauh penelusuran
Maman, semakin ia tenggelam dalam obsesi tak sehat yang makin mengganggu jiwanya.
Andai saja Murder Death
Koreatown menggali dinamika psikis itu secara lebih layak. Andai saja Maman
diperankan oleh aktor yang lebih mumpuni. Andai saja, daripada berputar-putar
di repetisi investigasi kala siang hari bolong, filmnya lebih sering berkutat di
teror malam hari. Karena di situlah keunggulannya. Bahkan shot yang menangkap ruang kosong pun menimbulkan ketidaknyamanan,
seolah ada sesuatu yang bisa menerjang kita kapan saja dari balik kegelapan.
Resolusi rendah video juga turut andil membangun atmosfer.
Puncak pencapaian sutradaranya (siapa pun dia), adalah sebuah
momen di sekitar 20 menit terakhir. Masih dipersenjatai pencahayaan minim plus footage “murahan”, datang kengerian yang
memaksa saya menjauhkan jarak dari layar hingga film usai karena merasa “terancam”.
Kengerian yang dicapai tanpa pertolongan musik berisik yang biasa menemani jump scare. Artinya tersimpan potensi.
Ada teror kelas satu, yang sayangnya terkubur terlalu dalam. Atau mungkin
alasan Murder Death Koreatown dibuat
memang cuma untuk memfasilitasi terciptanya adegan tersebut? Entahlah. Mungkin
Maman bersedia menyelidiki misteri satu ini.
Available on PRIME
VIDEO (US)
REVIEW - MONOS
Rasyidharry
Juli 20, 2020
Alejandro Landes
,
Alexis Dos Santos
,
Drama
,
Julián Giraldo
,
Julianne Nicholson
,
Karen Quintero
,
Lumayan
,
Paul Cubides
,
REVIEW
,
War
,
Wilson Salazar
Tidak ada komentar
Dalam Monos, yang
merupakan perwakilan Kolombia di ajang Oscar awal tahun ini, semuanya
misterius. Di mana pastinya cerita berlatar? Siapa para remaja kemarin sore
yang menjadi anggota kelompok militer Monos? Apa tujuan pembentukan mereka?
Sedang terlibat di perang apakah Monos? Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja
dibiarkan tanpa jawaban oleh sutradara Alejandro Landes, yang turut menulis
naskahnya bersama Alexis Dos Santos, guna menciptakan surealisme. Sebuah
tontonan dreamy yang mengedepankan experience ketimbang penceritaan sesuai
pola, meski pilihan tersebut tak selalu memperkuat.
Monos bermarkas di area pegunungan dengan dataran yang
membentang bak tanpa ujung. Sebuah “negeri di atas awan” yang seperti kampung
halaman kisah-kisah mitologi Nordik. Di sanalah para remaja itu mendapat
pelatihan militer ketat dari atasan mereka yang dipanggil “The Messenger”
(diperankan Wilson Salazar, yang juga mantan gerilyawan), ditugasi menjaga
tahanan perang asal Amerika Serikat, yang lagi-lagi tak bernama dan hanya dipanggil
“Doctora” (Julianne Nicholson). Kelak tugas tambahan menyusul, yakni merawat
sapi sumbangan simpatisan. Sapi itu diberi nama Shakira.
Pun semua anggota Monos cuma kita kenal dengan noms de guerre, alias nama perang
masing-masing. Ada Wolf, Bigfoot, Rambo, Lady, Swede, Smurf, sampai Dog. Seolah
mereka bukan individu. Hanya bidak yang diglorifikasi lewat status “prajurit”.
Bahkan, saat Wolf (Julián Giraldo) dan Lady (Karen Quintero) hendak menjalin
romansa, keduanya perlu meminta izin The Messenger. Mereka tidak keberatan,
membuktikan betapa patuh bocah-bocah ini.
Kata “keras” mungkin paling tepat menggambarkan kehidupan
Monos. Tapi toh mereka menikmatinya. Mereka menikmati memukuli tiap anggota
yang berulang tahun sesuai dengan usianya, juga deretan “ritual” gila lain yang
bakal membuat pesta terliar sekalipun nampak jinak. Sebagai prajurit, tentu
tiap anggota Monos dibekali senapan. Bisa dibayangkan bukan, apa yang akan
dilakukan remaja-remaja awal tersebut? Ya, mereka gemar membuang-buang peluru.
Hanya tinggal menunggu waktu sampai terjadi bencana.
Benar saja. Dog (Paul Cubides) tidak sengaja menembak mati
Shakira, dan itulah awal dari segala rintangan yang semakin lama semakin ekstrim.
Rintangan yang memicu terguncangnya psikis. Dan begitu psikis runtuh, ikatan
antar personal pun menyusul tak lama kemudian. Teriakan-teriakan penuh nada
frustrasi, tatapan yang makin lama makin hampa, pengkhianatan, pemberontakan, aksi
saling serang, bahkan saling bunuh, mendominasi paruh kedua Monos.
Disokong sinematografi Jasper Wolf yang melalui perspektif
kameranya membuat alam layaknya purgatory,
serta musik synth-based garapan Mica
Levi (Under the Skin, Jackie), Landes
menciptakan suasana atmosferik, yang tak jarang menyentuh ranah psikedelik,
termasuk di suatu sekuen sureal kala beberapa karakter memakan jamur yang
tumbuh di kotoran sapi. Sementara visual malam harinya, dengan pencahayaan
temaram dari api unggun ditambah tubuh manusia-manusia berbalut lumpur, kentara
mengambil referensi dari Apocalypse Now (1979),
selaku kiblat banyak sineas dalam membuat tuturan mengenai keruntuhan mental
manusia berlatar peperangan.
Seperti telah disebut, Landes mengedepankan experience. Saat secara bertahap anggota
Manos mulai tenggelam dalam “kegilaan”, fokus Landes adalah membuat penonton
turut merasakan, tanpa memberi pemahaman menyeluruh terkait bagaimana
karakternya bisa sampai ke titik itu. Sebuah pilihan yang sah, tapi meninggalkan
tanda tanya yang mengganggu proses menikmati jalannya film. Alasannya bisa
dipahami, namun tidak menutup fakta bahwa Landes melakukan simplifikasi terhadap
kompleksitas dinamika psikis, semata demi shock
value. Kesan mendadak demi shock
value pula yang rasanya melatari pilihan konklusi yang diambil.
Biarpun memiliki lubang, pencapaian Landes, khususnya terkait
keberhasilan merangkai barisan momen nightmarish
sebagai sutradara, tetap patut diacungi jempol. Secara keseluruhan, Monos adalah pengalaman yang— walaupun jauh
dari kesan nyaman dan ringan— takkan mudah dilupakan.
Available on HULU
REVIEW - HUMBA DREAMS
Rasyidharry
Juli 19, 2020
Drama
,
Indonesian Film
,
JS Khaire
,
Kurang
,
Mira Lesmana
,
REVIEW
,
Riri Riza
,
Ully Triani
Tidak ada komentar
Dedikasi duet Riri Riza-Mira Lesmana, baik sebagai sutradara
dan produser maupun sama-sama menduduki kursi produser, dalam mengeksplorasi
daerah-daerah di Indonesia yang kurang terjamah sinema arus utama jelas patut
diapresiasi, meski hasilnya tak selalu maksimal. Di setiap Laskar Pelangi (2008) selalu ada Pendekar Tongkat Emas (2014). Humba
Dreams yang tak diputar di bioskop reguler sayangnya masuk kategori kedua.
Filmnya mengisahkan tentang Martin (JS Khairen), mahasiswa
sekolah film Jakarta yang bercita-cita menjadi sutradara, yang baru saja kembali
ke kampung halamannya di Sumba setelah sekian lama. Sejatinya Martin pulang
dengan setengah hati, sebab ia sedang berada di tengah proses produksi film
selaku tugas akhir bersama teman-teman kelompoknya. Tapi apa daya, sang ibu
memaksa. Alasannya, dukun setempat menyampaikan kabar bahwa mendiang ayah
Martin (yang walau sudah meninggal tiga tahun lalu belum juga dikuburkan akibat
ketiadaan biaya) baru mendatanginya, berwasiat untuk memberikan suatu warisan pada
sang putera.
Warisan tersebut berupa sebuah kotak berisi rol film 16 mm. Tapi
guna memutar film itu, Martin perlu belajar cara memproses, juga mencari
bahan-bahan yang dibutuhkan. Masalahnya, bahkan untuk mendapatkan akses
internet saja, Martin harus menempuh jarak berkilo-kilo meter mengendarai motor
butut yang juga peninggalan sang ayah. Sedangkan bahan yang diperlukan sukar
ditemukan, sebab ada yang diberi cap ilegal oleh pemerintah, karena dianggap
berpotensi jadi alat melancarkan aksi terorisme.
Humba Dreams menjadi sebuah road trip yang membawa Martin pada proses belajar sejarah. Sejarah
yang bersifat kultural (mempelajari cara memutar film 16 mm), maupun kenangan
personal alias memori (hubungannya dengan sang ayah). Riri Riza, yang bertindak
selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memakai pendekatan yang cenderung
kontemplatif, melalui tempo lambat, kesunyian, serta still shot.
Tapi yang muncul justru setumpuk kekosongan di tengah durasi
yang sejatinya cukup singkat (75 menit). Metode serupa kerap diterapkan
film-film alternatif, di mana dari tuturan lambat dan peristiwa yang sekilas
tak esensial, penonton berkesempatan mengobservasi, kemudian menemukan
informasi-informasi baru dan rasa yang ditanamkan secara subtil. Hal itu tak dimiliki
Humba Dreams. Kekosongan hanyalah
kekosongan. Sewaktu Martin berkendara, kita sebatas melihat “Martin sedang
berkendara”. Tidak lebih.
Patut disayangkan, mengingat filmnya menyimpan sederet hal
menarik dan/atau penting yang bisa dipetik penonton. Dari tentang sinema itu
sendiri, persoalan kesenjangan, isu buruh migran yang dipaparkan lewat subplot
tentang banyaknya kasus orang hilang, dan tentu saja budaya Sumba. Musik
daerah, kerajinan setempat, lanskap-lanskap indah pemandangan dari balik lensa
kamera Bayu Prihantoro (Istirahatlah
Kata-Kata), hingga aspek kultural lain. Semua itu hanya hiasan, dan
perjalanan ini sekadar wisata ketimbang studi.
Keluhan serupa juga terasa di subplot romansanya. Martin
bertemu Ana (Ully Triani), salah satu karyawan di homestay tempatnya menemukan internet. Ana tengah mencari suaminya
yang telah bertahun-tahun tidak pulang selepas pergi ke Malaysia sebagai tenaga
kerja. Saya gagal memahami dinamika psikis antara Martin dan Ana. Di satu titik,
jangankan menyapa atau tersenyum, Ana bersikap dingin dan enggan menatap
Martin, namun beberapa waktu berselang, ia mendadak bersemangat begitu
mendengar Martin merupakan mahasiswa film.
Paling tidak, Ully Triani berhasil menjalankan pernah yang
selama ini selalu dibebankan padanya: Menyelamatkan sebuah film. Baik di Stay with Me (2016) atau Labuan Hati (2017), Ully selalu jadi
elemen terbaik, dan kondisi itu terulang di Humba
Dreams. Kediamannya menyiratkan luka. Ada pergolakan besar di hati Ana, dan
gerak-gerik Ully jelas memancarkan itu. Tapi pergolakan macam apa? Tidak pernah
jelas. Bukan kesalahan sang aktris. Menjabarkannya adalah tanggung jawab Riri.
Konklusinya tak kalah bermasalah. Riri ingin menyampaikan
soal individu yang lama merantau, dan secara tidak sadar sudah terlalu jauh “pergi
meninggalkan rumah”, sebelum akhirnya kembali “pulang” berkat memori dan cinta.
Ada pula perihal film yang punya kemampuan untuk memberi sumbangsih kepada
masyarakat. Sayang, konklusinya malah mengesankan kalau Martin adalah individu yang
meninggalkan kewajiban, menelantarkan teman-temannya setelah cukup lama mengombang-ambingkan
mereka dalam ketidakpastian. Saya percaya, sesungguhnya bukan itu intensi Riri
Riza, namun minimnya eksplorasi menghasilkan kejelasan yang juga minim. Humba Dreams merupakan film kaya gagasan
pula sarat isu, tapi terasa hamba. Penuh tapi kosong.
Available on NETFLIX
HONEYLAND (2019)
Rasyidharry
Juli 18, 2020
Bagus
,
Documentary
,
European Film
,
Ljubomir Stefanov
,
REVIEW
,
Tamara Kotevska
4 komentar
Merupakan dokumenter pertama sepanjang sejarah yang meraih
nominasi Oscar di kategori Best
International Feature Film (perwakilan Makedonia) sekaligus Best Documentary Feature, duo sutradara
Tamara Kotevska dan Ljubomir Stefanov awalnya hendak menjadikan Honeyland sebuah dokumenter pendek
mengenai lingkungan di sekitar sungai Bregalnica yang didanai oleh pemerintah.
Sampai mereka bertemu Hatidže Muratova di lokasi.
Hatidže adalah peternak lebah liar (salah satu yang terakhir
di Eropa) yang tinggal di Bekirlija, sebuah desa terpencil tanpa listrik dan
sumber air, bersama sang ibu yang berumur 85 tahun dan sudah amat lemah
sehingga selama empat tahun terakhir hanya berada di tempat tidur. Fokus Honeyland pun dialihkan ke arah hubungan
ibu-anak tersebut, sembari menyoroti keseharian Hatidže beternak lebah. Prinsip
Hatidže adalah, “Cukup ambil separuh madu dan tinggalkan separuhnya untuk para
lebah”. Tujuannya jelas: keseimbangan ekosistem.
Kotevska dan Stefanov sejatinya tak berniat menambahkan
konflik. Jendela bagi penonton mengintip kehidupan yang jarang diekspos jadi
tujuan. Lalu datang peternak nomaden bernama Hussein Sam beserta istri dan tujuh
anaknya, yang menetap di sana. Awalnya tak banyak perubahan berarti. Kita masih
disajikan keseharian normal, diajak mengintip rutinitas keluarga nomaden
tersebut, termasuk bagaimana mereka menjalin hubungan harmonis dengan Hatidže.
Desa yang sunyi berubah jadi ramai, dan mungkin bagi Hatidže, itu menyemarakkan
hidupnya, memberikan warna baru.
Hatidže sendiri merupakan sosok ramah, ceria, juga bertenaga.
Kepribadian yang bukan cuma membuatnya disukai anak-anak Hussein, pula
menjadikan tangkapan realita di paruh pertama Honeyland tetap menarik disimak, walau ketidakpastian fokus maupun
permasalahan cukup menguji kesabaran, meski memang gaya bertutur demikian yang
diincar oleh kedua sutradara. Tapi lagi-lagi rencana berubah.
Melihat potensi bisnis jual-beli madu milik Hatidže, Hussein
terdorong melakukan hal serupa. Awalnya Hatidže dengan senang hati mengulurkan
bantuan. Bisnis pun berjalan mulus. Hingga permintaan pasar meroket, memaksa
Hussein mensuplai madu lebih banyak dari yang ia mampu. Prinsip “take half, leave half” perlahan Hussein lupakan
tatkala keuntungan— selaku bagian budaya konsumerisme— mulai membutakan. Akibat
tiada lagi madu tersisa di sarang, lebah-lebah Hussein menyerang lebah Hatidže.
Kerusakan terjadi, dengan harmoni alam, pula sesama manusia (keluarga dan
tetangga) menjadi korban.
Beberapa kali perubahan fokus cerita itu, alih-alih
mengganggu, justru mampu menangkap esensi realita, di mana seringkali hidup
berjalan tak sesuai rencana akibat terjadinya hal-hal di luar perkiraan. Para
pembuat filmnya, sebagaimana subjek mereka, dituntut beradaptasi, menciptakan
koneksi antara si pembuat karya dengan karyanya.
Kotevska dan Stefanov menerapkan gaya fly on the wall dan cinéma
vérité, yang sama-sama bertujuan menelanjangi kebenaran melalui visual. Pertemuan
antara kedua gaya di atas dengan perubahan arah narasinya justru saling
menguatkan. Tanpa narasi voice over,
penonton diposisikan sebagai observer tak kasat mata yang masuk ke ruang intim
karakter. Kita bukan dibawa pada studi kasus masa lampau, tapi mengalami langsung
lika-liku peristiwanya, termasuk deretan change
of event tanpa rekayasa. Baik penonton, kamera, maupun objek, (seolah)
menjalaninya secara bersamaan. Andai konflik serupa dituturkan melalui media
drama fiktif, dampaknya takkan sebanding karena ketiadaan kesan “right here right now” yang organik.
Pembuatan Honeyland memakan
waktu tiga tahun. Stok rekaman sekitar 400 jam berhasil dikumpulkan. Waktu yang
cukup untuk membuat jajaran individunya, yang konon awalnya malu-malu di depan
kamera, menjadi terbiasa. Mereka tak menahan diri dalam meluapkan isi hati.
Mereka melupakan keberadaan kamera, begitu pula kita. Honeyland benar-benar menangkap realita. Sebuah realita yang heartbreaking tatkala (seperti biasa)
manusia menginvasi harmoni.
Available on HULU
Langganan:
Komentar
(
Atom
)




















1 komentar :
Comment Page:Posting Komentar