Tampilkan postingan dengan label Mira Lesmana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mira Lesmana. Tampilkan semua postingan

REVIEW - PARANOIA

Saya menghabiskan 20 menit menatap layar kosong, bingung harus mulai menulis dari mana. Ada perasaan tidak percaya, bahwa kolaborasi trio Riri Riza, Mira Lesmana, dan Jujur Prananto, yang pernah melahirkan Petualangan Sherina (1999) serta Ada Apa dengan Cinta? (2001), pula keberadaan Nirina Zubir, Lukman Sardi, dan Nicholas Saputra di depan kamera, berujung film seburuk Paranoia. Seburuk-buruknya thriller adalah saat ketegangan digantikan oleh tawa akibat kekonyolan. 

Alurnya mengisahkan tentang Dina (Nirina Zubir), yang setelah berkali-kali pindah guna menghindari kejaran sang suami, Gion (Lukman Sardi), kini akhirnya menetap di Bali bersama puterinya, Laura (Caitlin North-Lewis). Dina kabur akibat tidak tahan lagi dengan perilaku abusive Gion. Biarpun sudah berpisah, pun Gion sekarang tengah mendekam di penjara, Dina tak pernah bisa lepas dari kecemasan. Apalagi ia membawa barang yang amat berharga bagi Gion. 

Pasca Gion dibebaskan karena pandemi, kecemasan itu datang lagi. Dina percaya, di mana pun ia bersembunyi, Gion dapat menemukannya. Alhasil, saat muncul pria tak dikenal bernama Raka (Nicholas Saputra), kepalanya dipenuhi pertanyaan. Apakah Raka cuma kebetulan berada di dekatnya, ataukah ia orang suruhan Gion? 

Ada begitu banyak potensi penceritaan, sebutlah perihal kecurigaan Dina kepada Raka, trauma KDRT yang tak pernah benar-benar lenyap, hingga paralel antara ketakutan protagonis dan ketakutan massa semasa wabah COVID-19 (poin terakhir mungkin memang bukan tujuan filmnya). Semua cocok sebagai pondasi thriller psikologis. Tinggal mana yang mau dijadikan sorotan utama oleh Riri, Mira, dan Jujur selaku penulis naskahnya.

Tapi di antara semua potensi itu, tak satu pun mampu diolah dengan baik. Presentasi sikap paranoid Dina bak pemenuhan kewajiban semata. Bukan bentuk pendalaman cerita, bukan pula elemen penambah ketegangan. Tidak berlebihan menyebut Paranoia sebagai "thriller nihil ketegangan".

Rangkaian peristiwanya cuma numpang lewat. Misal ketika Dina menaruh kecurigaan pada Raka. Diungkapkannya itu ke Laura (karena sang puteri terus mengunjungi Raka), kemudian ia lakukan pencarian via Google, lalu selesai. Penonton tidak dibuat ikut menduga-duga, misalnya lewat tindak-tanduk misterius Raka. Filmnya ingin membuat penonton memedulikan Dina dan Laura, tetapi saya malah berharap ada hal buruk menimpa keduanya, agar minimal terjadi sesuatu yang signifikan. 

Daripada invenstigasi, Paranoia lebih tertarik mengeksploitasi obsesi publik terhadap Nicholas Saputra. Betapa menawan dia, sampai bisa memikat hati ibu dan anak (Laura "mengklarifikasi" bahwa ia melihat figur ayah dalam sosok Raka, tapi saya yakin bukan kesan itu yang penonton dapat). Jumlah adegan flirting lebih banyak dari ketegangannya, hingga di titik terasa bagai fan fiction murahan. 

Implementasi era pandemi, khususnya terkait penggambaran karakternya memakai masker juga menggelikan (kerap tampak seperti iklan layanan masyarakat), namun bagian terkonyol tentu klimaksnya. Aksi perkelahian yang harusnya jadi puncak intensitas malah tersaji luar biasa canggung. Pengarahan, pilihan shot, penyuntingan, semua canggung. 

Kemudian konklusinya.....astaga. Baik naskah maupun penyutradaraan sama-sama bertanggung jawab di sini. Bagaimana mungkin konklusi seburuk ini, sekonyol ini, sebodoh ini, dicetuskan oleh sosok-sosok sehebat Riri Riza, Mira Lesmana, dan Jujur Prananto? Bagaimana mungkin setelah gambar diambil, mereka melihatnya, lalu berkata, "Ya, ini bagus"? Andai Paranoia dibuat oleh Nayato atau Baginda KKD, saya bakal maklum. 

Akibat keterbatasan? Rasanya tidak, dan itu bukan alasan masuk akal, mengingat para pembuatnya pernah membidani Kuldesak (1997), yang dibuat diam-diam dengan segala keterbatasan di bawah represi rezim. Entahlah. Sungguh menyedihkan.

Setidaknya departemen akting memberi hasil positif. Nirina amat kuat, berkat totalitas melakoni momen-momen penguras emosi, sementara Lukman Sardi meyakinkan sebagai suami menjijikkan sekaligus kriminal intimidatif. Caitlin North-Lewis pun menampakkan potensi menjanjikan, selama di masa depan nanti, pilihan film dan perannya tepat. Nicholas Saputra? Tidak buruk, hanya saja, sang aktor tak diberi materi memadai, dan seolah cuma ada untuk memancing teriakan histeris penggemarnya. Saya juga berteriak. Teriakan saat meratapi kualitas Paranoia. 

REVIEW - HUMBA DREAMS

Dedikasi duet Riri Riza-Mira Lesmana, baik sebagai sutradara dan produser maupun sama-sama menduduki kursi produser, dalam mengeksplorasi daerah-daerah di Indonesia yang kurang terjamah sinema arus utama jelas patut diapresiasi, meski hasilnya tak selalu maksimal. Di setiap Laskar Pelangi (2008) selalu ada Pendekar Tongkat Emas (2014). Humba Dreams yang tak diputar di bioskop reguler sayangnya masuk kategori kedua.

Filmnya mengisahkan tentang Martin (JS Khairen), mahasiswa sekolah film Jakarta yang bercita-cita menjadi sutradara, yang baru saja kembali ke kampung halamannya di Sumba setelah sekian lama. Sejatinya Martin pulang dengan setengah hati, sebab ia sedang berada di tengah proses produksi film selaku tugas akhir bersama teman-teman kelompoknya. Tapi apa daya, sang ibu memaksa. Alasannya, dukun setempat menyampaikan kabar bahwa mendiang ayah Martin (yang walau sudah meninggal tiga tahun lalu belum juga dikuburkan akibat ketiadaan biaya) baru mendatanginya, berwasiat untuk memberikan suatu warisan pada sang putera.

Warisan tersebut berupa sebuah kotak berisi rol film 16 mm. Tapi guna memutar film itu, Martin perlu belajar cara memproses, juga mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Masalahnya, bahkan untuk mendapatkan akses internet saja, Martin harus menempuh jarak berkilo-kilo meter mengendarai motor butut yang juga peninggalan sang ayah. Sedangkan bahan yang diperlukan sukar ditemukan, sebab ada yang diberi cap ilegal oleh pemerintah, karena dianggap berpotensi jadi alat melancarkan aksi terorisme.

Humba Dreams menjadi sebuah road trip yang membawa Martin pada proses belajar sejarah. Sejarah yang bersifat kultural (mempelajari cara memutar film 16 mm), maupun kenangan personal alias memori (hubungannya dengan sang ayah). Riri Riza, yang bertindak selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memakai pendekatan yang cenderung kontemplatif, melalui tempo lambat, kesunyian, serta still shot.

Tapi yang muncul justru setumpuk kekosongan di tengah durasi yang sejatinya cukup singkat (75 menit). Metode serupa kerap diterapkan film-film alternatif, di mana dari tuturan lambat dan peristiwa yang sekilas tak esensial, penonton berkesempatan mengobservasi, kemudian menemukan informasi-informasi baru dan rasa yang ditanamkan secara subtil. Hal itu tak dimiliki Humba Dreams. Kekosongan hanyalah kekosongan. Sewaktu Martin berkendara, kita sebatas melihat “Martin sedang berkendara”. Tidak lebih.

Patut disayangkan, mengingat filmnya menyimpan sederet hal menarik dan/atau penting yang bisa dipetik penonton. Dari tentang sinema itu sendiri, persoalan kesenjangan, isu buruh migran yang dipaparkan lewat subplot tentang banyaknya kasus orang hilang, dan tentu saja budaya Sumba. Musik daerah, kerajinan setempat, lanskap-lanskap indah pemandangan dari balik lensa kamera Bayu Prihantoro (Istirahatlah Kata-Kata), hingga aspek kultural lain. Semua itu hanya hiasan, dan perjalanan ini sekadar wisata ketimbang studi.

Keluhan serupa juga terasa di subplot romansanya. Martin bertemu Ana (Ully Triani), salah satu karyawan di homestay tempatnya menemukan internet. Ana tengah mencari suaminya yang telah bertahun-tahun tidak pulang selepas pergi ke Malaysia sebagai tenaga kerja. Saya gagal memahami dinamika psikis antara Martin dan Ana. Di satu titik, jangankan menyapa atau tersenyum, Ana bersikap dingin dan enggan menatap Martin, namun beberapa waktu berselang, ia mendadak bersemangat begitu mendengar Martin merupakan mahasiswa film.

Paling tidak, Ully Triani berhasil menjalankan pernah yang selama ini selalu dibebankan padanya: Menyelamatkan sebuah film. Baik di Stay with Me (2016) atau Labuan Hati (2017), Ully selalu jadi elemen terbaik, dan kondisi itu terulang di Humba Dreams. Kediamannya menyiratkan luka. Ada pergolakan besar di hati Ana, dan gerak-gerik Ully jelas memancarkan itu. Tapi pergolakan macam apa? Tidak pernah jelas. Bukan kesalahan sang aktris. Menjabarkannya adalah tanggung jawab Riri.

Konklusinya tak kalah bermasalah. Riri ingin menyampaikan soal individu yang lama merantau, dan secara tidak sadar sudah terlalu jauh “pergi meninggalkan rumah”, sebelum akhirnya kembali “pulang” berkat memori dan cinta. Ada pula perihal film yang punya kemampuan untuk memberi sumbangsih kepada masyarakat. Sayang, konklusinya malah mengesankan kalau Martin adalah individu yang meninggalkan kewajiban, menelantarkan teman-temannya setelah cukup lama mengombang-ambingkan mereka dalam ketidakpastian. Saya percaya, sesungguhnya bukan itu intensi Riri Riza, namun minimnya eksplorasi menghasilkan kejelasan yang juga minim. Humba Dreams merupakan film kaya gagasan pula sarat isu, tapi terasa hamba. Penuh tapi kosong.


Available on NETFLIX

BEBAS (2019)

Selama pembuatnya tidak mengacau, remake dari Sunny (2011) takkan berakhir buruk, karena basis materinya luar biasa solid, meski sederhana. Bebas, selaku remake ketiga setelah versi Vietnam, Go Go Sisters, dan versi Jepang, Sunny: Our Hearts Beat Together yang sama-sama rilis tahun lalu, membuktikan itu. Kelemahan tercipta saat naskahnya melakukan modifikasi berupa pengurangan elemen cerita, sementara titik-titik terbaik hadir dalam momen reka ulang yang setia terhadap materi aslinya.

Pemakaian judul Bebas merujuk pada lagu legendaris berjudul sama karya Iwa K, sekaligus nama geng di mana protagonisnya, Vina Panduwinata (Maizura) si murid baru, tergabung. Geng Bebas dipimpin oleh Krisdayanti (Sheryl Sheinafia), siswi jago bela diri yang disegani di sekolah. Ya, jika Sunny mengambil nama girl group seperti So Nyeo Shi Dae alias Girls’ Generation (kalau tak salah Fin.K.L. juga sempat disebut) untuk gengnya, maka Bebas menjadikan nama diva tanah air sebagai nama karakter.

Selain keduanya, geng Bebas juga beranggotakan tiga perempuan; Jessica (Agatha Pricilla) yang gemar mempercantik diri, Gina (Zulfa Maharani) si gadis kaya, Suci (Lutesha) si model ternama, dan seorang laki-laki, yaitu Jojo (Baskara Mahendra). Tentu perpisahan tak terelakkan, tapi keenam remaja ini bersumpah akan terus bersama meski kelak tumbuh dewasa. 25 tahun pun berlalu.

Vina dewasa (Marsha Timothy) telah hidup mapan tapi ia merasa hampa. Tanpa sadar, dia hanyalah karakter pendukung di kehidupannya. Istri seseorang, ibu seseorang, dan melupakann identitas diri sendiri. Sampai Vina bertemu Kris (Susan Bachtiar) yang terbaring di rumah sakit dan divonis umurnya tinggal tersisa dua bulan. Permintaan terakhir Kris adalah agar Vina mengumpulkan geng Bebas sekali lagi sebelum ajal menjemputnya.

Naskah buatan Mira Lesmana (Ada Apa dengan Cinta?, Laskar Pelangi, Kulari ke Pantai) dan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara, Dua Garis Biru) secara keseluruha masih mengikuti pola yang diterapkan naskah aslinya yang ditulis oleh Kang Hyeong-cheol. Tetap menerapkan narasi non-linear yang terus melompat antar era sekarang dan SMA, pun masih mengusung tema besar mengenai kesemuan masa dewasa kala individu melupakan jati dirinya akibat tuntutan realita.

Tapi seperti sudah saya singgung, ada perubahan. Beberapa memberi kekhasan, beberapa justru melemahkan. Perubahan yang berhasil, terkait penggantian gender karakter. Keberadaan Jojo membawa Bebas menyinggung perihal identitas gender, preferensi seksual, serta pandangan sosial akan machismo. Sosok penindas di sekolah pun diubah jadi laki-laki, yakni Andra (Giorgino Abraham). Suatu keputusan yang menguatkan tuturan soal “kekuatan wanita”. Berkat kesubtilan naskahnya menuturkan bahasan-bahasan di atas, Bebas berhasil tampil kritis tanpa perlu terkesan politis.

Perubahan yang kurang berhasil terletak pada penghilangan beberapa unsur, yang menurut Mira dan Gina, dipandang tak seberapa substansif. Mungkin betul, namun naskah Sunny ibarat puzzle yang keping-kepingnya menciptakan kesatuan sempurna. Ketika beberapa keping hilang, gambaran besarnya tetap bisa dipahami, tapi meninggalkan lubang mengganggu. Begitulah jalannya film ini. Pergerakan alur di beberapa titik terasa kasar dan buru-buru, lalu berujung merusak dinamika.

Beruntung dampak emosi tidak ikut terlemahkan, sewaktu penyutradaraan Riri Riza berhasil mengkreasi ulang rasa di momen-momen ikonik milik Sunny dengan sensitivitas serupa. Departemen musik juga berkontribusi besar pada keberhasilan tersebut. Scoring garapan Lie Indra Perkasa (Banda the Dark Forgotten Trail, 6,9 Detik) paling memikat kala memperdengarkan suara synth bernuansa dreamy yang membuai hati.

Sementara pilihan soundtrack-nya, senada dengan tujuan Bebas selaku kapsul waktu, menampilkan deretan lagu populer era 90-an yang efektif membangun mood, sebutlah Cukup Siti Nurbaya, Bidadari, Aku Makin Cinta, dan pastinya Bebas. Tapi satu lagu yang penggunaannya paling saya suka adalah Sendiri milik mediang Chrisye, yang mengiringi salah satu sekuen terbaik film ini (sekuen serupa di Sunny memakai Reality milik Richard Sanderson). Magis, indah, intim, dan amat mengharukan.

Tapi apa jadinya semua itu bila tidak dibarengi kehebatan jajaran cast dua generasinya. Dua kutub berlawanan, Sheryl Sheinafia yang tangguh dan Maizura beserta kepolosannya memotori era 90an, didukung Baskara Mahendra melalui intrepretasi akan sosok laki-laki feminin yang menolak terjebak pada stereotip. Menyenangkan pula menyaksikan Amanda Rawles memainkan peran berbeda, sebagai Lila si ketua geng lawan yang bermulut besar tapi sebenarnya penakut. 

Di latar modern, prestasi Baskara Mahendra dilanjutkan oleh Baim Wong sebagai Jojo dewasa, sedangkan Marsha Timothy dan Indy Barends (Jessica dewasa), masing-masing sukses mengemban tugas sebagai ujung tombak elemen dramatik dan komedik. Geng Bebas di dua generasi sama-sama punya chemistry solid, yang mewakili kehangatan serta keseruan kala hidup diisi kebebasan memilih jati diri.

KULARI KE PANTAI (2018)

Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan spesial. Tidak ada isu beraroma politis, konflik provokatif, maupun permasalahan sosial kompleks dengan potensi kontroversi. Memang terdapat relevansi soal pesan mencintai bahasa dan alam Indonesia serta orang-orang tercinta kita yang hidup di dalamnya, tapi kemasan ringan bernuansa ceria menghasilkan tontonan yang terasa tulus. Film yang mampu memunculkan senyum, tawa, kebahagiaan, kehangatan, bahkan kedamaian hati, yang kini makin mahal harganya, jelas spesial. Saya pun ingin segera ikut berlari ke pantai bersama tokoh-tokohnya.

Di tangan yang salah, Kulari ke Pantai bisa berujung iklan layanan masyarakat dan pariwisata semata. Tapi Riri Riza selaku sutradara beserta pengalamannya membesut Petualangan Sherina (1999) hingga Laskar Pelangi (2008) piawai mengemas rasa. Ketimbang terang-terangan menjejalkan deretan pesan di atas, terlebih dulu dia coba menghanyutkan penonton dalam aliran emosi positif, sehingga pesan dapat terserap, diamini dengan sendirinya. Suasana langsung dibangun sejak momen pembuka penuh semangat beriringkan lagu Selamat Pagi. Musik memang berjasa membangun suasana positif film ini, tak terkecuali lewat lagu tema Kulari ke Pantai (juga dibawakan RAN) yang begitu nyaman di telinga, pun takkan segera lenyap dari ingatan.

Dua sepupu, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil’li Latisha), kembali bertemu, untuk mendapati keduanya sudah tak saling cocok. Sam, si anak pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur yang hobi berselancar, merasa Happy, si anak kota yang manja juga selalu bicara menggunakan Bahasa Inggris, telah berubah jadi bocah sombong. Sebaliknya, Happy memandang rendah Sam dengan segala “kekampungannya”. Cara pandang Happy mewakili standar “racun” yang kerap dianut masyarakat modern, mulai terkait kesan keren dalam kegiatan berbahasa Inggris, sampai anggapan bahwa kulit gelap dan rambut merah hasil terbakar sinar matahari berlawanan dengan definisi “cantik”.

Bersama sang ibu, Uci (Marsha Timothy), Sam menyusun rencana melakukan perjalanan berdua dari Jakarta menuju Banyuwangi guna bertemu peselancar idolanya di pantai G-Land. Rencana itu “terganggu” oleh permintaan Kirana (Karina Suwandi), ibu Happy, agar puterinya turut serta. Hal itu bertujuan untuk mendekatkan lagi ia dengan Sam, sekaligus mengajarkan Happy satu-dua pelajaran berharga supaya kemanjaannya berkurang. Melepas gadis berusia 10 tahun secara mendadak dalam perjalanan jauh meski bersama saudara sendiri rasanya sulit dipercaya. Untungnya, babak proses, selaku titik esensial road movie, tak memiliki kejanggalan serupa.  Bagaimana para karakter berubah, lalu saling menerima dan memaafkan, semua beralaan kuat. Setidaknya, hasil yang didapat terjadi pasca beberapa pengalaman berharga, bukan karena ketiba-tibaan layaknya sihir.

Kedua bintang cilik bermain apik, sanggup melontarkan baris demi baris kalimat secara natural, pandai pula bermain emosi, tatkala masalah mayoritas aktor cilik terkait emosi tak pernah jauh dari luapan yang datar atau justru berlebihan. Kulari ke Pantai merupakan debut bagi Maisha dan Lil’li, dan saya bisa melihat masa depan cerah untuk karir film keduanya, yang bisa menjalin interaksi menyenangkan antara dua sosok berlawanan. Walau sekilas begitu berlainan, sejatinya mereka setipe, sama-sama mesti berurusan dengan ego masing-masing. Di antara bocah-bocah ini ada Marsha Timothy yang tak pernah tampak bagai “alien” dalam dunia para bocah. Pasca Marlina yang kelam, keras, nan brutal, memerankan Uci adalah bukti luasnya jangkauan akting sang aktris.

Jalur yang diambil naskah buatan Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Posesif), Mira Lesmana (AADC?, Laskar Pelangi), Riri Riza, dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies), sebenarnya bukan jalur terbaik. Alurnya diisi setumpuk rintangan yang berdesak-desakan dalam durasi 112 menit, namun mayoritas tak mempunyai konflik mendalam. Gempuran permaalahannya tipis, mudah terselesaikan, tapi menumpuk sampai terasa penuh sesak. Sisanya lebih banyak menampilkan kegiatan jalan-jalan plus eksplorasi suasana destinasi alam. Untung, guliran kisahnya berhasil menangkap esensi indah sebuah perjalanan. Menemukan tempat baru, orang-orang baru, lalu menjalin persaudaraan baru pula dengan mereka.

Terpenting, sebagai film anak, Kulari ke Pantai tampil menyenangkan. Komedi yang ditangani Arie Kriting tampil efektif, sewaktu tiap lokasi konsisten menyimpan “ranjau” yang siap meledakkan gelak tawa. Saya bakal selalu mengingat Kulari ke Pantai sebagai salah satu film yang paling sukses memanfaatkan talenta jajaran komika yang tampil dalam porsi secukupnya. Kuantitas bukan prioritas utama, melainkan kualitas, berkat penokohan unik dilengkapi hook yang disesuaikan dengan kelebihan tiap komika. Kemungkinan besar Mukhidi (Dodit Mulyanto) si pemilik homestay yang berisik akan jadi favorit penonton. Saya tidak masalah menginap di tempat Mukhidi selama bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian sebagaimana dirasakan tokoh-tokoh film ini.