REVIEW - MORBIUS
Di awal peluncurannya, baik MCU maupun DCEU sama-sama tersendat (proyek DC bahkan terancam berhenti). Tapi seburuk apa pun hasilnya, tujuan Marvel Studios dan Warner Bros selalu jelas. MCU ingin menghibur lewat tuturan ringan ditambah shared universe, sementara DCEU mulai bersinar lewat eksplorasi genre. Eksistensi dua pihak ini saling melengkapi. Lalu Sony menghadirkan SSU (Sony's Spider-Man Universe).
Benar bahwa Warner Bros sempat latah ingin meniru pola bisnis Marvel, namun tidak dengan pendekatan estetikanya. Counterprogramming jadi misi mereka. Tapi Sony bak cuma bergerak berdasarkan gagasan, "Mari manfaatkan kesuksesan Marvel Studios mengembangkan properti kita".
Sony enggan tampil seceria MCU, sambil menampik pendekatan (lebih) dewasa DCEU. Sajian "hidup segan mati tak mau" macam Venom (2018) pun lahir. Venom: Let There Be Carnage (2021) membaik, namun kesan tersebut muncul karena buruknya film pertama. Lalu datang Morbius, yang menegaskan bahwa franchise ini belum benar-benar berkembang.
Dibantu Dr. Martine (Adria Arjona), Dr. Michael Morbius (Jared Leto) bereksperimen memadukan DNA manusia dan kelelawar, dengan harapan bisa menyembuhkan penyakit darah langka yang ia derita. Eksperimen yang sejatinya tak sesuai kode etik itu didanai oleh Milo (Matt Smith), sahabat Morbius yang mengidap penyakit serupa. Kita tahu akhirnya eksperimen itu berujung mengubah Morbius menjadi vampir haus darah.
Penokohan Morbius sejatinya agak menjauhi stereotip "ilmuwan gila pemakai segala cara". Dia menyadari ketidaketisan risetnya, tapi tetap nekat demi orang lain. Motivasinya adalah sahabat dan para pasien, alih-alih mengatasnamakan kejayaan sains. Desain Morbius si vampir pun didukung kombinasi solid antara efek prostetik dan CGI. Di beberapa kesempatan, wajah Morbius berubah selama beberapa detik akibat kurang mampu mengontrol diri, dan hasilnya cukup meyakinkan.
Walau demikian, Morbius bukan protagonis yang perjalanannya menarik diikuti selama 104 menit (apalagi jika dikembangkan ke sekuel-sekuel serta lintas franchise). Leto tidak bermain buruk, hanya saja karakter Figur Morbius ada di area serba tanggung. He was not fun nor engaging. Elemen terbaik film ini justru Matt Smith yang bersenang-senang dengan gaya over-the-top.
Sewaktu Milo turut bertransformasi, muncul potensi menampilkan drama persahabatan tragis, sayang, naskahnya lemah. Mendapati nama Matt Sazama dan Burk Sharpless, yang sebelumnya menulis naskah untuk film-film seperti Dracula Untold (2014), The Last Witch Hunter (2015), dan Gods of Egypt (2016), kelemahan itu tidak mengejutkan.
Aroma "bad storytelling" sejatinya telah tercium sejak kekacauan sekuen pembuka, yang bahkan gagal menyusun timeline secara jelas. Semakin jauh kisah bergulir, semakin kentara kalau kedua penulis tidak tahu cara menciptakan tontonan menghibur bertema superhero. Naskahnya terlalu hambar untuk sebuah popcorn flick, tapi terlalu dangkal untuk mengikat lewat penceritaan. Cuma asal berjalan didasari pemikiran "pokoknya selesai".
Daniel Espinosa selaku sutradara berusaha menyuntikkan sedikit gaya melalui pemakaian gerak lambat, tapi ketika pondasi adegan aksinya sendiri sudah nihil kreativitas, tidak banyak yang bisa dilakukan. Cerita dan aksinya sama saja. Tanpa dinamika, tanpa hati, tanpa intensitas, tanpa kreativitas. Tidak heran babak puncaknya tampil antiklimaks.
Di titik ini mungkin mayoritas penonton sudah tahu credits-scene milik Morbius (ada dua adegan di tengah kredit). Espinosa sudah memberi konfirmasi, beberapa materi promosi (termasuk trailer rilisan 2020) pun ikut "membocorkannya". Pertanyaannya, "Kenapa?". Jika diposisikan sebagai kejutan dalam credits-scene, kenapa diungkap jauh-jauh hari? Sony memang tidak tahu cara menjual film ini selain mendompleng kesuksesan trilogi Spider-Man MCU, seperti halnya ketidaktahuan mereka tentang pendekatan yang pas bagi Morbius (dan keseluruhan franchise-nya).



