Tampilkan postingan dengan label Lorne Balfe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lorne Balfe. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE TOMORROW WAR

(Tulisan ini mengandung SPOILER)

Invasi alien merupakan salah satu formula favorit di blockbuster. Alien menyerbu, dunia terancam kiamat, manusia di ambang kepunahan. Tapi berapa banyak yang mampu benar-benar menerjemahkan situasi tersebut? Sense of urgency kerap dikesampingkan demi aksi sebesar mungkin. The Tomorrow War, selaku debut penyutradaraan live action dari Chris McKay (The Lego Batman Movie) termasuk satu dari segelintir judul yang sanggup melakukannya.

Desember 2022, dunia dikejutkan oleh kedatangan pasukan dari tahun 2051. Mereka memperingatkan soal invasi alien bernama Whitespikes, yang dalam waktu singkat telah menghancurkan peradaban manusia. Bala bantuan tentara dikirim ke masa depan, namun hanya 20% berhasil selamat, meski setiap penugasan hanya berlangsung seminggu. Alhasil, sekitar setahun berselang, warga sipil mulai dikirim, menimbulkan pertanyaan, "Apakah perlu mempertaruhkan nyawa demi perang yang bukan milik kita?". 

Berita di televisi, cerita-cerita dari mereka yang berhasil selamat, semua sarat sense of urgency. Ketegangan. Perasaan bahwa kondisi dunia memang sedang di ujung tanduk. Lalu tibalah giliran protagonis kita, Dan Forester (Chris Pratt), mantan militer yang coba beralih jadi peneliti, dikirim ke medan perang. Dia terpaksa meninggalkan istrinya, Emmy (Betty Gilpin), serta sang puteri, Muri (Ryan Kiera Armstrong). 

Tentu berat bagi Dan. Bahkan ia sempat mencoba mangkir, dengan meminta bantuan ayahnya, James (J. K. Simmons dalam sisi paling badass-nya), veteran Perang Vietnam yang kini beralih jadi ekstrimis anti-pemerintah. Tapi renggangnya hubungan mereka, membatalkan niatan tersebut. Dan akhirnya berangkat, sambil mengusung motivasi paling murni yang bisa dimiliki jagoan film aksi: keluarga. Dan berperang di masa depan dan demi masa depan. Masa depan puterinya. Tidak ada tendensi heroisme, yang mana dimanfaatkan oleh naskah buatan Zach Dean, guna melahirkan momen-momen emosional.

Sesampainya di masa depan, pasukan Dan tidak punya waktu berleha-leha. Misi sudah menanti, juga para Whitespikes yang siap merenggut nyawa kapan saja. Saat itu, jelas pula bahwa Chris Pratt memang sempurna melakoni perannya. Pratt tampak meyakinkan, bukan saja sebagai action hero, juga figur pemimpin. Turut bersama Dan adalah dua karakter pendukung, Charlie (Sam Richardson) dan Dorian (Edwin Hodge).

Charlie murni berstatus comic relief, dan walau Richardson berusaha maksimal, humor di naskahnya terlalu kering untuk dapat memancing tawa. Sebaliknya, Dorian cukup menarik. Sosoknya tidak ramah dan intimidatif. Sudah tiga kali ia terjun berperang, sementara di lehernya, tergantung kalung berbahan gigi Whitespikes. Sekilas Dorian sama seperti karakter haus darah yang biasa kita temui di film-film serupa. Nyatanya ia berbeda. Meski dengan caranya sendiri, Dorian bersedia bekerja sebagai tim. Obsesinya pada pertempuran belum mengubur sisi kemanusiaannya. 

Kembali soal sense of urgency, kesan itu McKay munculkan di deretan aksinya, yang tersaji masif, intens, penuh kekacauan yang dikemas rapi, ditemani musik menggelegar gubahan Lorne Balfe, yang senantiasa mengingatkan penonton soal betapa berbahayanya tiap pertarungan. Bentuknya pun beragam, dari misi SAR (search and rescue) hingga memburu alien untuk ditangkap. Pun masing-masing mengandung beberapa variasi aksi, seperti saat McKay menjadikan baling-baling helikopter sebagai senjata ampuh selain senapan. 

Kita bisa menaruh fokus pada aksi tanpa harus memusingkan tetek bengek perjalanan waktu. Naskah buatan Dean berhasil meramu elemen tricky ini secara sederhana, melalui penjelasan terkait banyak fenomena (salah satunya tentu saja paradoks), yang bisa diterima kalangan awam. The Tomorrow War tidak berambisi melakukan sesuatu yang ada di luar jangkauannya. 

(SPOILER STARTS)

Perjalanan Dan ke masa depan jadi lebih personal setelah bertemu Muri dewasa (Yvonne Strahovski), yang menjabat sebagai kolonel. Di sini bobot emosi filmnya meningkat. Ada sedikit kesan puitis dalam pengalaman Muri, bertemu sosok ayah dari masa kecilnya, kala ia masih layak jadi panutan, serta penuh kasih sayang. Kita semua pasti pernah merindukan kenangan indah masa lampau. Tapi sekuat apa pun kita mencoba, kenangan mustahil terulang. Muri menjalani kemustahilan tersebut. Dia merasakan lagi kenangan indah yang ingin diulanginya. 

(SPOILER ENDS)

Sayang, intensitas menurun di babak ketiga, setelah memindahkan latar waktu. Aksinya bukan lagi soal upaya putus asa untuk bertahan hidup, melainkan baku tembak medioker. Tatkala berubah jadi baku hantam, koreografi maupun tata kameranya kurang mumpuni. Tidak cukup dinamis. Tapi setelah apa yang disajikan sebelumnya, The Tomorrow War masih salah satu blockbuster paling memuaskan tahun ini. Andai filmnya berkesempatan tayang di layar lebar.....


Available on PRIME VIDEO

6 UNDERGROUND (2019)

6 Underground merupakan film non-Transformers karya Michael Bay dengan biaya terbesar, yakni $150 juta. Apakah itu memberi pembeda? Bukankah dalam skema Bayhem, penambahan biaya hanya berarti peningkatan jumlah ledakan? Sinisme semacam itu yang bakal membutakan penonton, menghalangi anda memperhatikan detail di tiap set piece, yang menjadikan film ini salah satu karya terbaik sekaligus paling inovatif sepanjang karir sang sutradara.

Alurnya tidak jauh-jauh dari pola film tentang grup ragtag, di mana sang pemimpin mengumpulkan deretan orang dengan kemampuan berlainan (biasanya kepribadian mereka tidak bisa disebut “baik”) guna menjalankan suatu misi. Pemimpin itu adalah seorang milyuner (Ryan Reynolds) yang membentuk grup rahasia untuk menghabisi kriminal yang tak tersentuh aparat dan pemerintah. Kita tak mengetahui namanya. Faktanya, tak satu pun anggota diperbolehkan menyebut nama asli.

Mereka memakai kode angka. Si milyuner adalah One, Two (Mélanie Laurent) merupakan mantan mata-mata, Three (Manuel Garcia-Lufo) adalah pembunuh, Four (Ben Hardy) ahlinya urusan parkour, Five (Adria Arjona) menjadi dokter tim, dan Six (Dave Franco) punya kemampuan menyetir tingkat tinggi. Nantinya turut bergabung Seven (Corey Hawkins) selaku penembak jitu. Target mereka adalah melangsungkan kudeta terhadap tirani Presiden negara fiktif Turgistan (dulu ini nama provinsi di Kekaisaran Sasaniyah), Rovach Alimov (Lior Raz), lalu menjadikan adiknya, Murat Alimov (Peyman Maadi) yang pro-demokrasi sebagai pemimpin baru.

Menghancurkan kekuasaan diktator negara fiktif yang terletak di Asia (terkadang Amerika Selatan) jadi pola formulaik yang entah sudah berapa kali dipakai film aksi. Sesederhana itu memang kisah 6 Underground. Tapi naskah buatan duo Rhett Reese dan Paul Wernick (Zombieland, Deadpool, Life) malah memperumit sendiri penuturannya lewat pemakaian struktur non-linier kacau, yang melempar rangkaian flashback dengan inkonsistensi fungsi. Kadang menjelaskan latar belakang karakter, mengapa dan/atau bagaimana mereka memalsukan kematian lalu bergabung bersama One, tapi tak jarang sebatas selipan tanpa memberi tambahan informasi signifikan, pun kerap pula tercipta ambiguitas mengenai latar waktu suatu peristiwa.

Tapi perlu diingat, plot kuat dalam film Michael Bay merupakan bonus. Menu utamanya selalu aksi, dan tanpa puluhan robot raksasa berbentuk serupa saling serang, Bay mendorong batasan kreativitasnya. Bukan sebatas ledakan-ledakan masif, dibantu sinematografer Bojan Bazelli (The Lone Ranger, Pete’s Dragon), Bay selalu memperhatikan betul peletakan kamera demi memaksimalkan dampak sekuen aksi. Penataan set piece-nya memukau, bahkan di tengah peristiwa besar penuh kekacauan, kita bisa menikmati peristiwa-peristiwa kecil yang merupakan hasil aksi-reaksi dari peristiwa besar tersebut.

Dipersenjatai rating R, Bay tidak segan menumpahkan darah, menghancurkan tubuh manusia, juga menunjukkan detail serangan dan luka yang diterima korban. Kapan lagi anda melihat seseorang (literally) ditampar oleh sebuah peluru yang melesat? Semua itu langsung terangum dalam 20 menit pertama yang menampilkan kejar-kejaran menegangkan di antara keramaian perkotaan Florence, Italia.

Musik turut berperan penting membangun keseruan aksi 6 Underground. Pemilihan soundtrack Bay, diitambah hentakan scoring buatan Lorne Balfe (The Lego Batman Movie, Mission: Impossible – Fallout), melengkapi pacuan adrenalin yang dihasilkan visualnya. Daftar putar film ini membentang dari O Fortuna versi elektronik garapan Spiritual Project hingga Run milik Awolnation yang tentunya sering anda dengar di berbagai meme. Saya bisa membayangkan Michael Bay bersenang-senang, tersenyum lebar sembari terus menyalakan peledak demi peledak.

Tentu 128 menit durasinya tidak melulu menyajikan aksi, dan saat jeda, memang tiada plot kuat sebagai penyokong, tapi untungnya ada sentuhan komedi menggelitik serta jajaran pemain yang serupa sang sutradara, juga nampak bersenang-senang. Berkaca pada dua film Deadpool, humor buatan Reese dan Wernick terbukti mewadahi talenta Reynolds, demikian pula di sini. Sarkasme dan komedi hitam jadi santapan mudah baginya. Sementara para pemain pendukung mampu melahirkan banter dinamis, termasuk Arjona yang terlibat sebuah pembicaraan jarak jauh lucu dengan Reynolds. Dan mungkin cuma Reese-Wernick yang terpikir menjadikan efek suara THX sebagai senjata yang tak luput memancing tawa.

Walau intensitasnya rutin menurun tiap adegan aksi sedang absen mengisi, secara keseluruhan dinamika 6 Underground terjaga dengan baik, sampai klimaksnya, yang biarpun sarat simplifikasi dalam menciptakan konklusi pun terkesan corny, tetap menjadi puncak seru nan uplifting dengan lagu White Flag milik Bishop Briggs selaku pengiring. Hanya satu harapan saya, yaitu supaya Michael Bay meningkatkan kualitas pengemasan adegan baku hantamnya (ada potensi terbuang kala Two membantai pasukan musuh di kapal), namun melihat apa yang film ini tawarkan, keluhan itu bisa disimpan untuk lain waktu. 


Available on NETFLIX