Tampilkan postingan dengan label Ryan Reynolds. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ryan Reynolds. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE ADAM PROJECT

Mungkin karir penyutradaraan Shawn Levy adalah salah satu yang paling underrated. Namanya jarang dielu-elukan. Padahal sebelum The Adam Project, total ia menyutradarai 13 judul, dan hampir semuanya meraup untung, dengan sembilan di antaranya menembus angka 100 juta dollar. Ada kata "hampir", karena data terkait debutnya, Just in Time (1997) sulit ditemukan, termasuk apakah film ini dirilis di bioskop atau langsung ke DVD. 

Dia bukan Spielberg, Nolan, atau Cameron, yang bisa mendatangkan penonton hanya bermodalkan nama. Sebuah pertanda kalau Levy paham keinginan penonton luas. Di luar trilogi Night at the Museum, beberapa waktu terakhir Levy mulai melebarkan sayap dari komedi berskala kecil ke blockbuster seperti Real Steel (2011) dan Free Guy (2021). Pemahaman Levy nampak betul di kedua film tersebut. Pemahaman bahwa penonton menggandrungi "paket lengkap", yang dapat menghadirkan keseruan, tawa, pula air mata. 

The Adam Project berjalan di trek serupa. Sebuah fiksi ilmiah dengan elemen perjalanan waktu sebagai media menuturkan drama keluarga. Adam (Walker Scobell) adalah bocah 12 tahun yang jadi korban bully di sekolah, sedangkan di rumah, hubungannya dengan sang ibu, Ellie (Jennifer Garner), kurang baik. Adam kesulitan beradaptasi selepas ayahnya, Louis (Mark Ruffalo), meninggal dunia.

Sampai terjadilah pertemuan antara Adam dengan dirinya dari tahun 2050 (Ryan Reynolds), yang mencari kebenaran terkait istrinya, Laura (Zoe Saldana), yang dikabarkan tewas saat menjalankan misi di tahun 2018. Naskah buatan Jonathan Tropper berdasarkan draft awal hasil tulisan T.S. Nowlin, Jennifer Flackett, dan Mark Levin, muncul dengan aturannya soal paradoks perjalanan waktu melalui gagasan bernama "fixed time", yang bertujuan menyederhanakan. Lebih tepatnya, naskahnya berkata, "Jangan terlalu dipikirkan, bukan itu poin utama filmnya".

Memang benar. Elemen perjalanan waktu hanya alat untuk memfasilitasi pemakaian teknologi canggih dalam adegan aksi walau berlatar masa kini, juga menyampaikan kisah mengenai penyesalan seorang anak. Kalimat "Boys always come back to their mamas" yang diucapkan Adam dewasa jadi kunci. 

Adam kecil kerap mengeluarkan kalimat-kalimat ketus yang menyakiti hati ibunya. Tapi karena Ellie berusaha tegar, rasa sakit itu tak pernah muncul ke permukaan. Adam kecil tentu belum menyadarinya, namun lain halnya dengan Adam dewasa. Lalu di suatu bar, dalam momen paling menyentuh filmnya, tercipta interaksi intim antara Ellie dengan puteranya dari masa depan, yang mungkin mewakili kegundahan, juga penyesalan banyak penonton. 

Momen di atas memberi makna lebih bagi perjalanan waktunya. Rasanya konsep perjalanan waktu begitu diharapkan bisa terjadi di dunia nyata, karena kita, manusia, dapat memperbaiki masa lalu. Tidak melulu soal hal-hal besar. Bisa juga tindakan sederhana seperti ungkapan cinta kasih yang dahulu amat sulit terucap hingga melahirkan penyesalan.

Interaksi ibu-anak itu berhasil, salah satunya berkat akting Reynolds. Dia dan Levy ibarat pasangan sempurna. Serupa sang sutradara, Reynolds pun merupakan "paket lengkap". Comic timing Reynolds memaksimalkan materi humor naskahnya, sosoknya meyakinkan sebagai action hero, dan paling penting, akting dramatiknya mampu menjembatani ikatan emosi penonton dengan film. Kapasitas terbesar Reynolds adalah, walau memiliki fisik ala megabintang Hollywood (wajah tampan, badan kekar), ia terasa dekat (setidaknya terkesan demikian). Karismanya mampu membuat penonton berujar, "I can see me in him". 

Hebatnya, Scobell si aktor cilik sukses mengimbangi seniornya. Celotehan-celotehan tajam sekaligus pintar, keseimbangannya menangani drama dan komedi, menjadikan Scobell tandem sepadan, sekaligus versi muda yang meyakinkan bagi Reynolds.

Aksinya pun memuaskan berkat pengarahan Levy yang sarat kreativitas, juga ketepatan dalam memilih shot. Sekuen aksi di tengah hutan, yang turut jadi perkenalan kita dengan Laura, adalah contoh terbaik. Bahkan sewaktu penceritaan The Adam Project cenderung generik dan klise pasca melewati babak kedua pun, gelaran aksi Levy sukses menjaga filmnya tetap menghibur. Sekali lagi, kombinasi "duo paket lengkap" Levy dan Reynolds terbukti ampuh menghantarkan winning formula. Tidak heran keduanya kembali berkolaborasi di film ketiga Deadpool. 

(Netflix)

REVIEW - RED NOTICE

Film seperti Red Notice tidak memerlukan reviu. Skor 39% (sampai saat ini) di Rotten Tomatoes tidaklah penting. Begitu pula tulisan ini, yang saya buat hanya untuk berkata, "Tonton saja, nikmati petualangan berskala global bersama tiga megabintang miliknya, lupakan tetek bengek terkait kualitas cerita dan semacamnya".

Industri film, terutama mereka yang dicap "ekspertis", belakangan terasa makin berjarak dengan publik. Kritikus cenderung memandang sebelah mata tontonan ringan, sedangkan ajang penghargaan menganugerahkan kemenangan pada judul-judul yang baru tayang (sangat) terbatas demi memenuhi persyaratan nominasi. Film semakin sulit dirayakan secara luas.

Red Notice tentu dikritisi akibat naskah buatan sang sutradara, Rawson Marshall Thurber (We're the Millers, Central Intelligence, Skyscraper), gagal menyampaikan penceritaan mumpuni. Tapi apakah kata "gagal" patut disematkan, bila memang bukan itu tujuannya? Aksi seru berbalut komedi dengan latar berbagai negara, ketangguhan Dwayne Johnson, kejenakaan Ryan Reynolds, dan pesona Gal Gadot. Itu tujuan utamanya.

Johnson berperan sebagai John Hartley, agen FBI yang terpaksa bekerja sama dengan buruannya, Nolan Booth (Ryan Reynolds) si pencuri benda seni, setelah ia dijebak oleh pencuri lain, Sarah Black (Gal Gadot), atau yang dikenal lewat julukan "The Bishop". Ketiganya menyambangi Italia, Indonesia, Spanyol, Argentina, hingga Mesir, guna mencari keberadaan telur berhiaskan permata milik Cleopatra, yang konon telah hilang selama dua ribu tahun.

Agak disayangkan Red Notice tidak tayang di bioskop. Gelaran aksinya bakal makin seru di layar lebar. Menontonnya di layar televisi atau laptop cukup mengurangi keasyikkan, sehingga membuat pikiran lebih terfokus pada cerita, yang memang tidak pernah diniati untuk tampil maksimal.

Apa yang dimaksimalkan? Keunggulan tiga pemeran utamanya tentu saja. Johnson masih bisa diandalkan sebagai action hero, bahkan ketika Hartley lebih "manusiawi" dibanding karakter-karakter sang aktor biasanya. Gal Gadot adalah Wonder Woman, sehingga ketangguhannya dalam laga tidak mengejutkan. Tapi ini perannya yang paling playful, walau kesan femme fatale misterius tetap kental. 

Reynolds? Menyaksikan tiga filmnya secara berdekatan, membuat saya semakin yakin bahwa ia adalah comic genius. Caranya menangani humor melalui sarkasme dan deadpan, termasuk ketepatan timing-nya, sungguh luar biasa. 

Muncul twist di babak akhir. Bukan twist cerdas, namun selaras dengan keseluruhan "warna" filmnya, selaku petualangan mengitari dunia guna mencari artefak, yang enggan memedulikan keseriusan, bagai Indiana Jones (lagu temanya sempat terdengar sekilas di sini) versi jauh lebih ringan. 


(Netflix)

REVIEW - HITMAN'S WIFE'S BODYGUARD

Premis mengenai pembunuh yang dikawal oleh seorang bodyguard milik The Hitman's Bodyguard (2017) memang unik, tapi selaras dengan aturan tak tertulis bahwa sekuel wajib tampil "lebih", Hitman's Wife's Bodyguard, sebagaimana bisa disimak dari judulnya, punya premis lebih unik. Lebih nyeleneh. Bagaimana jika kali ini si bodyguard giliran mengawal istri si pembunuh?

Pun filmnya sendiri serba lebih. Tepatnya, lebih bodoh dan absurd, yang mana jadi kekuatan utamanya. Fokusnya masih soal menyiksa fisik dan batin Michael Bryce (Ryan Reynolds), yang selepas peristiwa film pertama, terus dihantui mimpi buruk soal Darius Kincaid (Samuel L. Jackson). Gara-gara melindungi pembunuh, lisensi bodyguard-nya terancam dicabut. 

Kesialan terus menghampiri Bryce. Niatnya berlibur guna mendamaikan pikiran kacau balau, ketika Sonia (Salma Hayek), istri Kincaid, mendadak datang meminta bantuannya menyelamatkan sang suami yang diculik. Tentu prosesnya tak sesederhana itu, apalagi setelah Bobby O'Neill (Frank Grillo) dari Interpol dan mafia asal Yunani bernama Aristotle Papadopoulos (Antonio Banderas), turut terlibat.

Lupakan cerita. Lupakan bahwa di luar keunikan premisnya, naskah karya Tom O'Connor, Brandon Murphy, dan Phillip Murphy tak membawa alurnya keluar dari pakem klise komedi aksi. Hitman's Wife's Bodyguard bukan tentang hal-hal tersebut, melainkan suatu usaha menghibur penonton dengan cara tampil sengawur mungkin. 

Salah satunya tentu lewat humor. Kemunculan "orang ketiga" memang membuat Reynolds dan Jackson tidak berkesempatan saling melempar banter sesering film pertama, namun jadi bukan masalah, sebab Salma Hayek menghadirkan dinamika baru. Sebagai wanita "senggol bacok" bermulut kasar, dialah sumber energi filmnya. Banyak kritikus mengeluh karena duet Hayek-Jackson terlalu mengandalkan teriakan, tapi apa yang mereka harapkan dari pasangan pembunuh dan penipu? Tuturan penuh sopan santun bak aristokrat? 

"I certainly love watching Ryan suffer", demikian ungkap sang sutradara, Patrick Hughes, kala ditanya mengenai kemungkinan adanya film ketiga. Itulah fokus Hitman's Wife's Bodyguard: menyiksa Ryan Reynolds hingga ke titik maksimum, menggunakan humor slapstick. Wujud slapstick-nya cukup ekstrim, termasuk di sebuah rentetan peristiwa yang niscaya bakal membunuh manusia biasa. Tapi tidak dengan Bryce. 

Bryce lebih dekat ke arah karakter Looney Tunes daripada manusia biasa, bukti bahwa keseriusan sudah dibuang jauh-jauh oleh para pembuat film ini. Sehingga jadi selaras, saat trauma masa kecil Bryce, alih-alih ditangani sebagai hal serius, justru dipakai menyajikan humor tergelap (sekaligus terlucu) filmnya, yang masih melanjutkan running gag bertema "sabuk pengaman", yang mendominasi sepanjang durasi. Alhasil, inkonsistensi tone pun dapat dihindari.

Walau belum sekuat film pertama, namun Patrick Hughes tetap piawai melahirkan aksi hard-hitting bertempo tinggi yang tak ragu menumpahkan darah. Cepat, seru, ringan, bodoh. Begitulah Hitman's Wife's Bodyguard. Ditambah ending absurdnya, saya tidak keberatan bila film ketiga benar-benar dibuat.

REVIEW - FREE GUY

Berlatarkan dunia gim video, Free Guy bisa saja cuma berakhir sebagai parade easter eggs atau ajang berjualan IP. Tapi rupanya karya terbaru Shawn Levy (Night at the Museum, Real Steel, Date Night) ini justru jadi film paling menyenangkan, paling kreatif, juga paling menyentuh tahun ini. Di balik pernak-pernik permainannya, ada kisah sarat makna. Kisah tentang kemerdekaan individu. Tentang rasa cinta, baik kepada orang lain maupun diri sendiri.

Guy (Ryan Reynolds) adalah pegawai bank dengan rutinitas monoton, di kota bernama Free City,. Selalu memakai kemeja berwarna biru yang sama, membeli kopi yang sama, mengucapkan kalimat yang sama (Don't have a good day. Have a great day!). Bukan repetisi biasa, sebab ada keanehan. Seluruh warga Free City termasuk Guy, tidak terganggu oleh kekacauan yang tiap hari pecah. Baku tembak, ledakan, pertempuran, dan lain-lain, seolah pemandangan yang lumrah. Bahkan, walau dalam sehari bank tempat Guy bekerja bisa dirampok berkali-kali, ia dan Buddy (Lil Rel Howery), sahabatnya yang mengisi pos sekuriti, bersikap santai. 

Anomali itu terjadi karena Free City adalah kota dalam gim video berjudul Free City, yang diproduksi perusahaan milik Antwan (Taika Waititi). Guy dan warga lain merupakan NPC (Non-Player Character), sehingga tidak punya free will. Mereka hidup sesuai peran serta pola masing-masing. Hingga akhirnya Guy jatuh hati pada Molotovgirl, karakter milik Millie (Jodie Comer). Millie sendiri bermain Free City guna mencari source code buatannya dan Keys (Joe Keery), yang dicuri Antwan. 

Guy tidak seketika menyadari identitasnya, namun melalui arahan Millie, ia pelan-pelan belajar "naik kelas, mulai terlibat aktif dalam gim, alih-alih berdiam diri layaknya NPC biasa. Fase ini digunakan oleh naskah garapan Matt Lieberman (The Addams Family, Scoob!) dan Zak Penn (turut serta menulis Ready Player One yang mengusung konsep setipe), guna merealisasikan impian banyak gamers, yakni hidup dalam gim (terutama Grand Theft Auto). Bebas berbuat sesuka hati, tidak bisa mati, punya segudang item, pun bila butuh uang, kita tinggal menjalankan misi atau memukuli pejalan kaki. 

Gagasan di atas melahirkan aksi-aksi kreatif nan menggelitik. Beberapa humor meta diselipkan, termasuk sebuah ide brilian di klimaks (you'll know when you see it). Pengarahan Levy makin mematangkan konsepnya, karena ia paham betul apa daya tarik utama premisnya: aksi energetik sarat visual variatif kaya warna. 

Free Guy sangat menghibur, tetapi kekuatan utamanya terletak pada hati. Di samping elemen fantastisnya, kisah film ini amat membumi. Banyak dari kita pernah merasa hampa, kala menyadari dunia tidak cuma berputar mengitari kita. Jangankan karakter utama, pendukung pun bukan. Sebatas figuran dalam semesta luas yang eksistensinya tidak signifikan. 

Karena itu, mudah mendukung Guy. Free Guy menggugah emosi melalui proses sang protagonis mengatasi krisis eksistensi, selepas menyadari kalau dia berhak menentukan langkahnya sendiri. Pun tidak banyak bintang Hollywood kelas A seperti Reynolds, yang berkarisma, tapi juga memancarkan aura "pria sehari-hari". 

Pada era dominasi pahlawan super seperti sekarang, Guy si pria biasa berpakaian biru malah jadi jagoan favorit saya. Selain penokohan serta akting yang membuatnya relatable, motivasi perjuangannya juga murni. Apalagi kalau bukan cinta. Tapi bukan cinta yang membutakan, melainkan cinta yang membuka mata, menyadarkan soal berharganya diri kita. Sebuah cinta yang ketimbang mengekang, justru membebaskan. 

Klimaksnya jadi luar biasa menyentuh, meski penggambaran seluruh umat manusia di dunia menonton pertarungan Guy agak berlebihan (alasan saya mengurungkan niat memberi nilai sempurna). Jika hanya bisa memilih satu dari film-film yang tayang di bioskop minggu ini, pastikan pilihan itu jatuh pada Free Guy. Sudah waktunya kita mengingat lagi cara bersenang-senang, sambil kembali belajar menghargai diri sendiri, pula mencintai. 

6 UNDERGROUND (2019)

6 Underground merupakan film non-Transformers karya Michael Bay dengan biaya terbesar, yakni $150 juta. Apakah itu memberi pembeda? Bukankah dalam skema Bayhem, penambahan biaya hanya berarti peningkatan jumlah ledakan? Sinisme semacam itu yang bakal membutakan penonton, menghalangi anda memperhatikan detail di tiap set piece, yang menjadikan film ini salah satu karya terbaik sekaligus paling inovatif sepanjang karir sang sutradara.

Alurnya tidak jauh-jauh dari pola film tentang grup ragtag, di mana sang pemimpin mengumpulkan deretan orang dengan kemampuan berlainan (biasanya kepribadian mereka tidak bisa disebut “baik”) guna menjalankan suatu misi. Pemimpin itu adalah seorang milyuner (Ryan Reynolds) yang membentuk grup rahasia untuk menghabisi kriminal yang tak tersentuh aparat dan pemerintah. Kita tak mengetahui namanya. Faktanya, tak satu pun anggota diperbolehkan menyebut nama asli.

Mereka memakai kode angka. Si milyuner adalah One, Two (Mélanie Laurent) merupakan mantan mata-mata, Three (Manuel Garcia-Lufo) adalah pembunuh, Four (Ben Hardy) ahlinya urusan parkour, Five (Adria Arjona) menjadi dokter tim, dan Six (Dave Franco) punya kemampuan menyetir tingkat tinggi. Nantinya turut bergabung Seven (Corey Hawkins) selaku penembak jitu. Target mereka adalah melangsungkan kudeta terhadap tirani Presiden negara fiktif Turgistan (dulu ini nama provinsi di Kekaisaran Sasaniyah), Rovach Alimov (Lior Raz), lalu menjadikan adiknya, Murat Alimov (Peyman Maadi) yang pro-demokrasi sebagai pemimpin baru.

Menghancurkan kekuasaan diktator negara fiktif yang terletak di Asia (terkadang Amerika Selatan) jadi pola formulaik yang entah sudah berapa kali dipakai film aksi. Sesederhana itu memang kisah 6 Underground. Tapi naskah buatan duo Rhett Reese dan Paul Wernick (Zombieland, Deadpool, Life) malah memperumit sendiri penuturannya lewat pemakaian struktur non-linier kacau, yang melempar rangkaian flashback dengan inkonsistensi fungsi. Kadang menjelaskan latar belakang karakter, mengapa dan/atau bagaimana mereka memalsukan kematian lalu bergabung bersama One, tapi tak jarang sebatas selipan tanpa memberi tambahan informasi signifikan, pun kerap pula tercipta ambiguitas mengenai latar waktu suatu peristiwa.

Tapi perlu diingat, plot kuat dalam film Michael Bay merupakan bonus. Menu utamanya selalu aksi, dan tanpa puluhan robot raksasa berbentuk serupa saling serang, Bay mendorong batasan kreativitasnya. Bukan sebatas ledakan-ledakan masif, dibantu sinematografer Bojan Bazelli (The Lone Ranger, Pete’s Dragon), Bay selalu memperhatikan betul peletakan kamera demi memaksimalkan dampak sekuen aksi. Penataan set piece-nya memukau, bahkan di tengah peristiwa besar penuh kekacauan, kita bisa menikmati peristiwa-peristiwa kecil yang merupakan hasil aksi-reaksi dari peristiwa besar tersebut.

Dipersenjatai rating R, Bay tidak segan menumpahkan darah, menghancurkan tubuh manusia, juga menunjukkan detail serangan dan luka yang diterima korban. Kapan lagi anda melihat seseorang (literally) ditampar oleh sebuah peluru yang melesat? Semua itu langsung terangum dalam 20 menit pertama yang menampilkan kejar-kejaran menegangkan di antara keramaian perkotaan Florence, Italia.

Musik turut berperan penting membangun keseruan aksi 6 Underground. Pemilihan soundtrack Bay, diitambah hentakan scoring buatan Lorne Balfe (The Lego Batman Movie, Mission: Impossible – Fallout), melengkapi pacuan adrenalin yang dihasilkan visualnya. Daftar putar film ini membentang dari O Fortuna versi elektronik garapan Spiritual Project hingga Run milik Awolnation yang tentunya sering anda dengar di berbagai meme. Saya bisa membayangkan Michael Bay bersenang-senang, tersenyum lebar sembari terus menyalakan peledak demi peledak.

Tentu 128 menit durasinya tidak melulu menyajikan aksi, dan saat jeda, memang tiada plot kuat sebagai penyokong, tapi untungnya ada sentuhan komedi menggelitik serta jajaran pemain yang serupa sang sutradara, juga nampak bersenang-senang. Berkaca pada dua film Deadpool, humor buatan Reese dan Wernick terbukti mewadahi talenta Reynolds, demikian pula di sini. Sarkasme dan komedi hitam jadi santapan mudah baginya. Sementara para pemain pendukung mampu melahirkan banter dinamis, termasuk Arjona yang terlibat sebuah pembicaraan jarak jauh lucu dengan Reynolds. Dan mungkin cuma Reese-Wernick yang terpikir menjadikan efek suara THX sebagai senjata yang tak luput memancing tawa.

Walau intensitasnya rutin menurun tiap adegan aksi sedang absen mengisi, secara keseluruhan dinamika 6 Underground terjaga dengan baik, sampai klimaksnya, yang biarpun sarat simplifikasi dalam menciptakan konklusi pun terkesan corny, tetap menjadi puncak seru nan uplifting dengan lagu White Flag milik Bishop Briggs selaku pengiring. Hanya satu harapan saya, yaitu supaya Michael Bay meningkatkan kualitas pengemasan adegan baku hantamnya (ada potensi terbuang kala Two membantai pasukan musuh di kapal), namun melihat apa yang film ini tawarkan, keluhan itu bisa disimpan untuk lain waktu. 


Available on NETFLIX

POKÉMON: DETECTIVE PIKACHU (2019)

Pokémon: Detective Pikachu adalah sepenuhnya fan service. Artinya, jika bukan penggemar, mungkin karya penyutradaraan Rob Letterman (Shark Tale, Monsters vs. Aliens, Goosebumps) ini bakal terasa membosankan. Tapi jika seperti saya, yang menghabiskan masa kecil mengoleksi VCD asli seharga lima belas ribu rupiah, terkejut menyaksikan evolusi Magikarp menjadi Gyarados atau saat Psyduck pertama kali pamer kekuatan, setidaknya anda bakal terhibur, bernostalgia, sambil tetap menyadari setumpuk kekurangannnya.

Diadaptasi dari gim Nintendo 3DS berjudul sama, Pokémon: Detective Pikachu berkisah tentang pemuda bernama Tim Goodman (Justice Smith), mantan pelatih pokémon yang kini hidup sendirian menjalani pekerjaan membosankan. Sampai ia mendengar kabar kematian sang ayah, Harry Goodman, akibat kecelakaan kala bertugas (dia berprofesi sebagai polisi). Hubungan keduanya sendiri renggang setelah Tim menolak tinggal bersama Harry pasca sang ibu meninggal ketika usianya baru 11 tahun.

Begitu tiba di apartemen Harry, Tim justru bertemu Pikachu (Ryan Reynolds), yang anehnnya, bisa ia pahami perkataannya. Pikachu tersebut rupanya merupakan partner Harry. Dia percaya sang detektif masih hidup, dan meminta Tim membantu investigasinya, yang melibatkan berbagai misteri, termasuk serangan pokémon terkuat ciptaan manusia, Mewtwo.

Filmnya berlatar di Ryme City, sebuah metropolitan di mana manusia dan pokémon hidup harmonis dan setara, berkat Howard Clifford (Bill Nighy) sang pebisnis visioner, yang memenuhi segala deskripsi sebagai “korporat jenius yang menyimpan rencana jahat”. Penokohan Howard, juga kisah mengenai “ayah yang kurang akrab namun sejatinya mencintai sang anak”, menunjukkan bahwa Pokémon: Detective Pikachu dibangun atas pondasi klise. Tapi di antaranya, terselip banyak kelokan yang sanggup menggiring plotnya agar terus berjalan sekaligus membuat penonton meragukan tebakan mereka.

Sayang, elemen misterinya semakin kusut seiring waktu berjalan, dikarenakan para penulis naskahnya cuma kompeten melontarkan pertanyaan, namun tidak demikian kala harus mengeksplorasi kemudian menjawabnya secara rapi. Akhirnya, Pokémon: Detective Pikachu gagal menjadi noir yang mengesankan, tapi bukankah hal itu bisa diduga? Diniati sebagai pembuka franchise, intensi utama film ini tentu menggaet kepercayaan penggemar. Caranya? Apalagi kalau bukan fan service.

Keputusan untuk tak banyak mengubah desain pokémon, dengan hanya menambahkan detail realis secukupnya (bulu Pikachu, sisik Charizard, dll.), jadi kemenangan terbesar film ini, biarpun di beberapa kesempatan, inkonsistensi CGI cukup kentara. Saya terlempar menuju nostalgia begitu satu per satu wujud familiar memasuki layar, dari Lickitung si lidah panjang, kebuasan Gyarados dan Charizard, Bulbasaur yang menggemaskan, sampai Mr. Mime yang menghadirkan humor paling lucu dan kreatif sepanjang film. Bicara soal komedi, walau agak sulit membiasakan diri mendengar suara Reynolds dari tubuh Pikachu, sang aktor seperti biasa piawai menangani momen komedik, sedangkan Justice Smith sebagai Tim si remaja canggung sukses membangun chemistry solid dengan tokoh-tokoh CGI.

Para penggemar pun pasti sadar bahwa Lucy Stevens (Kathryn Newton) si reporter magang sekaligus pemilik Psyduck yang membantu investigasi Tim dan Pikachu, mengambil inspirasi dari karakter Misty. Referensi-referensi kecil semacam itu memberi hiburan tersendiri, walau kepuasan terbesar berasal saat lagu tema Pokémon terdengar, yang akan membuatmu tergoda ikut bernyanyi bahkan selepas film usai. Penyutradaraan Rob Letterman mungkin belum sepenuhnya memenuhi potensi dalam merangkum pertarungan gila nan imajinatif antara beragam jenis pokémon, tapi selaku pembuka franchise, Pokémon: Detective Pikachu telah bekerja cukup baik.

DEADPOOL 2 (2018)

Deadpool alias Wade Wilson (Ryan Reynolds) tidak bisa mati, bahkan ketika ledakan membuat seluruh bagian tubuhnya berhamburan seperti tampak pada adegan pembuka. Dia bisa tanpa ragu menerjang markas Yakuza maupun mafia berbahaya mana pun. Pasca film pertama, seolah segalanya menjadi mudah bagi Wade yang kini berprofesi sebagai pembunuh bayaran pengincar kepala para kriminal di seluruh dunia. Rupanya tidak semudah itu. Dia kebal dan “tak tersentuh”, tapi tidak demikian dengan orang-orang di sekitarnya. Berpijak pada gagasan itu, Deadpool 2 mengangkat cerita yang amat mewakili rasa buku komik. Saya tak bisa mengungkapnya, tapi jika anda familiar dengan komik pahlawan super, anda tahu aspek mana dalam hidup mereka yang tersulit, bahkan tidak jarang tragis.

Di balik segala guyonan semau sendiri serta olok-olok terhadap nuansa gelap film DC, Deadpool 2 sejatinya mengusung kisah kelam. Tidak hanya bagi Mr. Pool, juga Russell Collins (Julian Dennison), si mutan muda berkekuatan api, dan Cable (Josh Brolin), mantan prajurit yang datang dari masa depan guna membunuh Russell. Dua wajah berlawanan itu turut ditampakkan oleh performa Ryan Reynolds. Mengenakan topeng Deadpol, ia tampil jenaka, layaknya penampil yang mampu melakukan apa pun, membuat gestur apa saja. Tanpa topeng, sebagai Wade Wilson, meski tetap ada kekonyolan, Reynolds menyuntikkan sisi melankolis tragis dalam diri Wade.
Biasanya dari sini saya akan mengulik satu per satu elemen cerita filmnya, tapi Deadpool 2, dengan kadar kejutan tak kalah dibanding Avengers: Infinity War menyulitkan itu dilakukan. Satu hal yang perlu anda ketahui, bahwa ada banyak kejutan bertebaran, baik berbentuk poin plot, kemunculan dan kematian karakter (so many hilarious death scenes), serta beberapa cameo termasuk kemunculan sekejap mata seorang bintang ternama. Belum termasuk empat mid-credit scenes—dengan tiga adegan terakhir dirangkum jadi satu—yang membuktikan kreativitas gila Ryan Reynolds selaku penulis naskah bersama Rhett Reese dan Paul Wernick.

Karena sulit mengulas alur, mari membahas suguhan aksinya. Memiliki David Leitch di kursi penyutradaraan, meski koreografinya tak sekompleks karya-karya Leitch sebelumnya (John Wick, Atomic Blonde), beberapa porsi laga, khususnya saat mengeksploitasi kegarangan Josh Brolin sebagai Cable, acap kali mengundang decak kagum. Tidak kalah mencuri perhatian yakni Zazie Beetz sebagai Domino si mutan penuh keberuntungan. Beetz adalah talenta langka. Punya fisik atraktif, berkarisma dan tampak tangguh kala melakoni aksi, namun piawai melucu. Apabila suatu hari nanti ada usaha membangkitkan blaxploitation lewat remake judul-judul klasik macam Foxy Brown dan Coffy, Beetz mestinya jadi pilihan utama.
Untuk Deadpool sendiri, Leitch memanfaatkan ketidakmampuan si tokoh meregang nyawa guna memoles aksi kreatif. Dia bisa mencekik musuh dengan lengannya sendiri yang patah, terpotong tubuhnya menjadi dua, sampai hancur berkeping-keping tapi masih sempat mencela Wolverine.  Dia bisa melakukan semua hal kecuali tutup mulut. Dan satu hal yang filmnya tak bisa lakukan adalah berhenti menggila, berhenti melontarkan lelucon-lelucon meta. Deadpool 2 enggan membiarkan satu pun pihak lolos dari caci maki, termasuk Rob Liefeld, sang kreator tokoh Deadpool, Cable, dan  X-Force, yang konon tidak bisa menggambar kaki (silahkan googling Rob Liefeld’s feet). Kegilaan non-stop adalah keputusan tepat, kecuali pada first act, sekitar 10-15 menit awal ketika penonton—setidaknya saya—masih butuh waktu menyesuaikan diri.

Dari Only Time milik Enya yang syahdu, Bangarang-nya Skrillex yang menjadikan perkelahian Deadpool melawan Cable semakin keren, hingga Ashes milik Celine Dion selaku pengiring intro ala James Bond, jadi bukti betapa kegilaan dan daya kejut Deadpool 2 ikut menular ke soal pemilihan musik. Siapa sangka juga versi akustik mellow dari Take on Me dapat terdengar luar biasa manis? Atau lebih tepatnya, siapa sangka film seperti Deadpool 2 mampu tampil manis, romantis, menyentuh, setidaknya di bagian penutupnya? I can’t believe I’m saying this, but yes, I cried watching Deadpool 2!   

THE HITMAN'S BODYGUARD (2017)

Dalam The Bodyguard (1992), Kevin Costner memerankan bodyguard yang bertugas melindungi Whitney Houston, seorang diva. Sesosok jagoan tangguh menjaga bintang ternama yang tak berdaya. Normal. Namun dalam The Hitman's Bodyguard, Michael Bryce (Ryan Reynolds) harus mengawal Darius Kincaid (Samuel L. Jakcson), salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya. Absurditas premis itulah sumber daya tarik karya terbaru Patrick Hughes (The Expendables 3) yang rupanya sampai delapan minggu menjelang pengambilan gambar masih berstatus drama serius. Melihat kelakar Reynolds-Jackson, juga pembawaan over-the-top Hughes, transformasi menuju kekonyolan jelas tepat.

Michael Bryce adalah agen berstatus triple A yang menyediakan proteksi bagi kriminal kelas kakap. Hingga kematian salah satu klien menghancurkan karirnya dan Bryce kini hanya bodyguard untuk penjahat kelas teri atau korporat pecandu narkoba, dengan mobil butut dan botol plastik penyimpan air kencing. Di sisi lain, tengah berlangsung persidangan terhadap diktator keji Belarusia, Vladislav Dukhovich (Gary Oldman) di mana Darius Kincaid jadi saksi kunci. Namun perjalanan membawa Kincaid ke Mahkamah Internasional berlangsung kacau akibat pengkhianatan dalam Interpol, memaksa Agen Roussel (Elodie Yung) meminta bantuan Bryce yang notabene mantan kekasihnya. Masalahnya, Bryce dan Kincaid merupakan musuh bebuyutan yang sudah berulang kali coba saling bunuh.
Konon penulisan ulang naskah buatan Tom O'Connor terjadi pasca Reynolds dan Jackson resmi direkrut. Mudah memahami alasannya. Jackson seperti kita tahu jago bersumpah serapah (khususnya "motherfucker") sedangkan Reynolds piawai melontarkan celotehan bernada sinisme yang teruji lewat Deadpool. Naskah dirombak demi memfasilitasi kelebihan keduanya, alhasil meski beberapa adegan berbasis dialog berlangsung kepanjangan, chemistry Jackson-Reynolds ditambah keahlian plus ketepatan timing komedi mereka cukup solid menjaga dinamika. Terbentuk love/hate bromance relationship kacau (in a good way) yang mengekspresikan benci dengan saling pukul bahkan tembak, dan cinta dengan membunuh musuh masing-masing. 
Di jajaran pemeran pendukung, Salma Hayek sebagai Sonia, istri Kincaid, ikut menggila, dengan mulut tidak kalah busuk, mengeskalasi tingkat humor berkat sikap seenaknya. Baik memakai ucapan atau pukulan, semua pihak dibantai habis, dari teman satu sel di penjara sampai Interpol. Elodie Yung tampil dalam tipikal serupa Salma, hanya saja porsinya lebih minim. Agak disayangkan kala Gary Oldman melalui performa megalomania miliknya banyak menghabiskan waktu duduk di ruang sidang, padahal kegilaan menyenangkan yang paling kita kenal dalam karakter Norman Stansfield di Leon: The Professional kembali terpancar. Satu hal pasti, Hayek, Yung, dan Oldman, sebagaimana dua pemeran utamanya, terlihat bersenang-senang. 

Seolah didorot hasrat yang teredam di The Expendables 3, Hughes meluapkan segala amunisinya, terkait guyonan maupun sekuen aksi. Pondasinya sama, kemunculan di waktu tak terduga. Belum semua berhasil memang. Beberapa momen medioker berseliweran, tapi secara keseluruhan masih efektif menjaga minat menonton berkat keberhasilan menghindari rasa film aksi generik. The Hitman's Bodyguard pun berujung hiburan yang enggan terbatasi sekat-sekat akal sehat. Kejar-kejaran intens melibatkan mobil, motor, dan speedboat misalnya, memperlihatkan kapasitas Hughes membuat set-piece aksi dinamis tanpa perlu mengeksploitasi ledakan. You won't find this movie as a memorable piece of action cinema, but its madness definitely worth the ticket price