Tampilkan postingan dengan label Andhika Lazuardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andhika Lazuardi. Tampilkan semua postingan
#MALAMJUMAT THE MOVIE (2019)
Rasyidharry
Ini yang saya sebut “kejutan berlapis”. #MalamJumat The Movie awalnya memberi
impresi positif, berpotensi menjadi rilisan terbaik Baginda Dheeraj Kalwani.
Memang bukan horor kelas atas, tapi tak pernah pula menyentuh jurang kehancuran
sebagaimana saya perkirakan bakal dimiliki karya Baginda. Tentu hal tersebut
mengejutkan. Hingga plot twist-nya
terungkap, dan dalam waktu kurang dari 30 menit, #MalamJumat The Movie berakhir setingkat judul-judul lain buatan produser
tercinta kita.
Diangkat dari kanal YouTube milik
Ewing HD, tepatnya seri #MalamJumat
EXPLORE, film ini mengikuti tuturan formulaik tentang penelusuran tempat
angker, ketika Ewing beserta timnya menjelajahi taman bermain bernama Wonder
Park, yang konon kerap jadi lokasi bunuh diri. Mereka bukan cuma menemukan
penampakan, juga jaket dan topi yang ditengarai milik seseorang yang gantung
diri di sana.
Begitu video tersebut diunggah,
gadis bernama Dinda (Zoe Abbas Jackson) meninggalkan komentar, mengaku bahwa
barang-barang itu adalah kepunyaan kakaknya, Ryan (Randy Pangalila), yang sudah
lama hilang. Bersama sahabatnya, Ellen (Sonia Alyssa), yang merasa Ryan
merupakan kekasihnya meski mereka hanya berpacaran semasa SD (sungguh selipan
humor yang salah tempat), Dinda meminta Ewing kembali ke Wonder Park guna
menyelidiki kebenaran di balik hilangnya sang kakak.
Turut serta dalam misi adalah Tio
(Ade Firman Hakim), YouTuber yang
dikenal akan kemampuannya berkomunikasi dengan arwah. Tiap melakukan ritual, Tio
tampak lucu, dengan gestur dan rapalan mantera konyol. Setidaknya kekonyolan
itu disengaja, di mana karakter lain sempat melontarkan olok-olok tentangnya,
meski serupa penokohan Ellen, kehadirannya tidak diperlukan.
Apa yang membuat keklisean #MalamJumat The Movie awalnya terlihat
lebih baik dibanding film Dee Company (dan K2K) pada umumnya? Pertama, naskah
buatan Andhika Lazuardi (Tembang Lingsir)
memang menyajikan alur setipis kertas nan membosankan, namun tak sampai mengesalkan.
Kedua, kuantitas jump scare-nya sesuai
porsi, alhasil efek suara berisik pengiring kemunculan hantu bertata rias buruk
tidak begitu sering menyiksa telinga. Pun penyutradaraan Hadrah Daeng Ratu
sesekali melahirkan keheningan atmosferik, talenta yang sebelumnya ia
perlihatkan lewat Jaga Pocong.
Semua berjalan lancar sampai babak
akhirnya tiba bersama twist yang terkesan
mencurangi penonton akibat hadir tanpa dibangun secara layak alias mendadak. Titik
baliknya datang secara dipaksakan, seolah penulis naskahnya berujar “Fuck it!”, lalu menyerah untuk mencari
cara logis guna menghantarkannya. Silahkan direnungkan: Apa perlunya Dinda
tiba-tiba membuka akun Instagram Ryan di tengah situasi berbahaya? Dan bukankah
sebelumnya akun Ryan baru mengunggah video Ellen sedang mandi? Ke mana perginya
video itu?
Keberhasilan #MalamJumat The Movie membuat otak jungkir balik tidak berhenti di
situ. Setelahnya, masih banyak kejutan yang bisa memancing respon “Eh?”, lalu “Lho??”,
kemudian “Apaaaa??!!”, lalu “What in the
heellll?!!!!”, hingga akhirnya, “Screw
it, I’m done!”. Belum cukup? Nantikan adegan penutup berupa kritik terhadap
komunitas YouTube yang terdengar bagai khotbah salat Jumat. Tapi saya
mengapresiasi bagaimana klimaksnya memperlihatkan bahwa Ewing tidak takut
mempertaruhka citra kanal YouTube miliknya demi film. Sayang, ini film yang
buruk. Seburuk akting kakunya.
Mei 17, 2019
Ade Firman Hakim
,
Andhika Lazuardi
,
Dheeraj Kalwani
,
Ewing HD
,
Hadrah Daeng Ratu
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
KK Dheeraj
,
Randy Pangalila
,
REVIEW
,
Sonia Alyssa
,
Zoe Abbas Jackson
TEMBANG LINGSIR (2019)
Rasyidharry
Setidaknya karya teranyar Rizal
Mantovani ini sedikit lebih “tepat” perihal penggambaran latar lagu Lingsir Wengi, yang kerap salah dipahami
sebagai “mantera pemanggil hantu”. Sebuah interpretasi yang dipopulerkan
belasan tahun lalu oleh film Rizal lainnya. Tapi jangan salah sangka mengira
bahwa dengan itu, Tembang Lingsir
otomatis menjadi sajian berkualitas. Lihat saja rumah produksi di belakang film
ini. Dan mustahil sebuah film berlatar modern, di mana karakter yang tidak
mampu bicara memilih papan tulis sebagai alat bantu komunikasi ketimbang
telepon genggam, berakhir memuaskan.
Filmnya berkisah tentang Mala (Marsha
Aruan) yang kehilangan suaranya untuk sementara dan harus tinggal bersama
kerabatnya, Om Gatot (Teuku Rifnu Wikana) dan Tante Gladys (Meisya Siregar),
pasca insiden mistis yang merenggut nyawa sang ibu. “Dia aneh!”, demikian
protes Desi (Aisyah Aqilah), puteri Gladys, merujuk pada kebiasaan Mala yang
kerap tiba-tiba diam sebelum menyanyikan Lingir
Wengi. Tapi selain perilaku Mala, ada misteri lain terkait keluarga tersebut.
Seperti biasa, eksplorasi plot atau
misteri bukan hal yang menarik (atau sanggup?) dilakukan oleh penulis naskah
horor negeri ini. Alhasil, guna mengisi durasi, Andhika Lazuardi memakai
kumpulan gangguan mistis, yang menimpa satu per satu anggota keluarga. Jika
teror terhadap Mala usai, kita akan dilempar menuju teror terhadap Tante
Gladys, Om Gatot, dan seterusnya.
Semakin terasa bagai filler akibat pendekatan Rizal, yang
menyeret pembangunan tensi—yang tak pernah sekalipun menyimpan atmosfer
mencekam atau ketegangan—sebelum menutupnya lewat jump scare semurah kerupuk di warteg. Rizal bukan sutradara horor
hebat. Tapi bahkan dibandingkan Jelangkung
atau Kuntilanak, performanya di
sini terlihat malas. Tidak kalah malas adalah tata riasnya. Walau sosok Kanjeng
Ratu dengan semua aksesoris akar pohon jauh dari buruk, namun hantu yang secara
reguler meneror Mala sekeluarga, punya bekas luka di wajah yang tampak seperti
ditempeli pizza bekas makan malam.
Ketika teror absen mengisi, Tembang Lingsir semakin membosankan
sebagai dampak pemakaian kalimat-kalimat dangkal, yang bahkan seorang Teuku
Rifnu pun tak kuasa menyelamatkannya walau telah berusaha sekeras mungkin. Sementara
itu barisan kebodohan pun tak ingin kalah eksis. Salah satunya saat dua teman
Desi ketakutan lalu memilih meninggalkan rumahnya. Terdengar pintar, sampai
kita melihat mereka memutuskan berjalan kaki masuk hutan di tengah malam.
Bukankah sebelumnya mereka mengendarai mobil?
Kebodohan itu penulisnya pilih agar
Tembang Lingsir berkesempatan
menginjeksi alurnya dengan sentuhan slasher,
yang sejatinya berpotensi menghibur andai penempatan unsur gore-nya—yang memaksa filmnya diberi rating “17 tahun ke atas”—tepat.
Paling tidak, melihat karakternya memotong kaki manusia seolah-olah itu daging
sapi bisa membuat saya terjaga lebih lama. Klimaks Tembang Lingsir ditutup tanpa taring pula begitu mendadak setelah
Mala melantunkan Lingsir Wengi. Ya,
horor produksi Baginda KKD alias Maharaja Dheeraj Kalwani ini selesai setelah
satu nyanyian pendek. Mungkin suara Mala begitu jelek sampai Kanjeng Ratu tak
mampu bertahan kemudian musnah. Sayangnya film ini tidak ikut musnah.
Februari 01, 2019
Aisyah Aqilah
,
Andhika Lazuardi
,
horror
,
Indonesian Film
,
Marsha Aruan
,
Meisya Siregar
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Sangat Jelek
,
Teuku Rifnu Wikana
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



