Tampilkan postingan dengan label Dheeraj Kalwani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dheeraj Kalwani. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GHIBAH

Saya punya kenalan yang....."unik". Bercandaannya selalu garing. Begitu garing, sampai sering terasa menyebalkan. Tapi saat serius malah bisa membuat teman-teman tertawa, karena dia sangat buruk dan canggung dalam tiap hal yang dilakukan secara sungguh-sungguh. 

Orang itu sekarang sehat. Tapi saya tidak, gara-gara menonton Ghibah, yang ciri-cirinya hampir sama, bahkan lebih parah, dibanding teman saya tadi. Sewaktu melempar humor (yang mana kerap dilakukan), saya malah kesal, karena selain sering tidak lucu, pula berkali-kali salah tempat. Sebaliknya, ketika meneror, hasilnya buruk, cenderung konyol, hingga memancing tawa. 

Jadi, bagaimana ghibah bisa berujung maut? Pertama, mari berkenalan dulu dengan Firly (Anggika Bolsterli), seorang mahasiswi yang aktif terlibat di kegiatan jurnalistik kampus. Firly adalah vegetarian, sehingga kala diminta menggantikan tugas Yola (Josephine Firmstone) yang sakit untuk meliput acara penyembelihan kurban, Firly sebenarnya keberatan. 

Terkejutlah Firly, saat mendapati unggahan foto di Instagram Yola, yang memperlihatkannya sedang berada di hotel. Esoknya, Firly marah-marah di depan umum, menuduh Yola "check-in" di hotel dan meninggalkan tanggung jawab. Artinya, FIRLY SUDAH MELAKUKAN GHIBAH!! (cue musik dramatis).

Apa dampaknya? Tentu saja didatangi jin Ifrit. Karena dosa serta ancaman siksa api neraka saja tidaklah cukup. Firly berhalusinasi, dari mengelupas kulit wajah (dalam balutan gore over-the-top yang harus diakui cukup efektif), sampai memakan daging yang dia kira tempe. Teman satu kosnya, Okta (Adila Firti), juga bernasib sama, akibat menulis berita palsu tentang perselingkuhan dosen dan mahasiswi. 

Kenapa tidak semua pelaku ghibah didatangi Ifrit? Naskah buatan Monty Tiwa (juga sebagai sutradara), Aviv Elham, Riza Pahlevi, dan Vidya Talisa Ariestya, luput menerapkan standar pasti terkait kehadiran Ifrit. Apakah saya yang terpancing melakukan ghibah di grup Whatsapp dan Twitter saat menonton film ini juga bakal dihantui? Kalaupun iya, setidaknya saya hafal ayat kursi, yang rupanya cukup untuk menumpas Ifrit, sebagaimana dilakukan Asri Welas.

Anda tidak salah baca. Asri Welas memerankan Umi Asri, ibu kos Firly sekaligus keturunan Mataram yang sakti. Pilihan tidak biasa, namun saya mengapresiasi. Tidak semua karakter orang sakti atau dukun atau indigo harus digambarkan serius, misterius, dan memakai baju serba hitam. Pun Asri, bersama Opie Kumis (memerankan Mang Opie, suami Umi Asri), tetap menangani momen komedik, yang seperti saya sebutkan, tidak lucu.

Bukan salah keduanya. Naskahnya memaksa menabur komedi setiap ada celah. Selain Asri dan Opie, dua penghuni kos lain, Ulfa (Arafah Rianti) dan Dina (Zsa Zsa Utari) juga dituntut melakukan hal serupa. Jika diibaratkan masakan, humor film ini bukan bumbu, melainkan tambahan lauk yang terus dijejalkan ke mulut kita, sampai terasa muak dan mual. 

Saat tidak melucu, Ghibah malah mengocok perut lewat kekonyolan, yang muncul karena eksekusi buruk. Misal, penampakan hantu di handphone Firly yang bak sedang selfie sambil memasang pose sok genit, ucapan "sosisnya enak ya" dari mulut Yola sewaktu berhalusinasi dan memakan jarinya sendiri, sampai desain hantu berlidah panjang yang mengingatkan ke boneka-boneka berwajah tumpahan bubur ayam khas era keemasan Dheeraj Kalwani alias Baginda Maha Besar KKD dahulu. Oh, benar juga. Saya lupa Ghibah diproduksi Sang Agung KKD. Mau berharap apa lagi? 

Masih banyak contoh lain, tapi kalau dilanjutkan, saya khawatir Ifrit benar-benar datang. Jadi, mari beralih ke pujian. Anggika Bolsterli tampil total. Ekspresi takut, jijik, semua dilakukan 100%. Tapi Anggika pantas mendapat film yang 12483749 kali lipat lebih bagus. Dia pantas mendapat tantangan lebih, di horor yang memberinya materi memadai. 

Teror apa yang paling sering menimpa Firly? Jawabannya, "kecipratan". Kecipratan darah kambing, darah teman sendiri, sampai cairan hijau kehitaman dari toilet. Rasanya itu cukup menjelaskan, seberapa kreatif orang-orang di balik Ghibah. Film ini lebih tepat disebut Kecipratan The Movie. 

Tersimpan beberapa niat baik di sini, seperti menyampaikan wejangan agar menghindari ghibah, dan mengutarakan tentangan atas kekerasan hewan. Bagus, meski bakal lebih bagus kalau diimbangi dengan kualitas yang juga bagus. 

Ada pula upaya menghembuskan diversity melalui karakter Dina, yang beragama Kristen, dan diajak ikut berdoa sesuai kepercayaannya ketika proses pengusiran jin. Tapi menjadi percuma, karena pada akhirnya, film ini tetap Islam-sentris. Dina malah seperti terkucilkan, layaknya minoritas di realita, yang terjebak dalam hegemoni para mayoritas, yang.....ah, sudahlah. Saya sudah melantur. Ghibah memang film tentang anti-ghibah yang memancing penontonnya untuk melakukan ghibah.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

RASUK 2 (2020)

Tahukah kalian bahwa Rasuk (2018) yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan Risa Saraswati berhasil mengumpulkan lebih dari 900 ribu penonton, membawanya bercokol di urutan 16 daftar film Indonesia terlaris di tahun perilisannya? Tidak butuh waktu lama sampai Baginda Dheeraj Kalwani memproduksi sekuelnya, yang kali ini ditangani sutradara Rizal Mantovani menggantikan Ubay Fox, sementara posisi Shandy Aulia sebagai pemeran utama diberikan kepada Nikita Willy. Apakah hasilnya lebih baik? Jawabannya “ya”. Masalahnya, mengingat hancur leburnya kualitas pendahulunya, nyaris mustahil menghasilkan tontonan yang lebih buruk.

Nikita Willy memerankan Isabella, adik Inggrid (diperankan Denira Wiraguna di film pertama, di sini digantikan oleh Raquel Katie Larkin), sahabat Langgir (Shandy Aulia). Itu saja kaitan Rasuk 2 dengan film pertamanya. Bersama dua teman kosnya, Alma (Sonia Alyssa) dan Nesya (Lania Fira), Bella tengah melaksanakan koas di bagian forensik rumah sakit. Dituntut sering mengikuti proses autopsi, Bella malah kerap melihat hal-hal aneh, termasuk mayat yang mendadak hidup kembali. Menolak percaya kepada hal mistis, Bella memilih berobat ke psikiater, dan di sinilah kengawuran naskah buatan Haqi Achmad dan Baskoro Adi mulai tercium.

Rasuk 2 membahas beberapa elemen psikologi, yang alih-alih menjadikannya cerdas, justru membuat naskahnya seolah tersusun atas hasil riset kilat lewat Wikipedia, yang bahkan sepertinya cuma dibaca sekilas. Nama ahli matematika John Nash, yang kisahnya diangkat dalam A Beautiful Mind (2001) disebut oleh sang psikiater. Menurutnya, halusinasi Nash disebabkan karena kecerdasan yang luar biasa, dan bahwa kesembuhan Bella bergantung pada dirinya sendiri. Bukan itu penyebab gangguan mental Nash, pun proses penyembuhan skizofrenia memerlukan dukungan lingkungan sosial. Efek Barnum tak ketinggalan disinggung dengan pengertian salah kaprah, sebab poin utama efek itu bukanlah soal fenomena paranormal.

Pada sebuah autopsi, Bella dipertemukan dengan mayat wanita tak dikenal yang disebut “Mrs. X”. Maaf, tapi tahu dari mana wanita itu sudah menikah? Atau penulisnya tidak paham perbedaan Mrs. dan Ms.? Penulis terjemahannya lebih pintar untuk urusan ini, dan menuliskan “Miss X”. Pada 18 Maret 1967, ditemukan mayat wanita tanpa identitas di Amerika Serikat yang kemudian dipanggil “Miss X”. Mungkin naskahnya mengambil referensi dari situ, tetapi akibat riset seadanya, lagi-lagi muncul kekeliruan.

Sejak autopsi itu, teror yang Bella alami makin intens, bahkan sempat membuatnya kesurupan, lalu menyerang Radja (Achmad Megantara), satu lagi teman kosnya yang menaruh hati kepada Bella. Nantinya terjalin percintaan di antara keduanya, mengajak kita mengikuti sejenak aktivitas kencan mereka, yang terkesan sebatas penambal durasi semata, pun sama sekali tak romantis, salah satunya akibat Achmad Megantara yang kembali menampilkan performa kaku nan menggelikan. Apa pula perlunya menyelipkan kecemburuan Nesya ketika aspek itu sekadar numpang lewat dan nihil dampak terhadap konflik utama?

Jadi dengan setumpuk kelemahan di atas, kenapa saya menganggap Rasuk 2 lebih superior ketimbang pendahulunya? Jawabannya ada di paruh awal film. Salah satu hal paling mengganggu di Rasuk adalah tata suaranya yang mengancam gendang telinga. Di sini volumenya diturunkan, walau agak terlalu rendah sehingga membuat jump scare kurang bertenaga. Rizal Mantovani pun lumayan jeli memilah, mana penampakan yang mesti diiring musik, mana yang tidak. Ditambah riasan yang tidak buruk, beberapa keheningan bahkan mampu memancing kengerian (titik terbaiknya saat Bella melihat sesosok hantu sepulang dari rumah sakit) melalui pengarahan Rizal.

Sayangnya keunggulan Rizal (dan film ini secara keseluruhan) berhenti di situ. Sang sutradara kewalahan menciptakan ketegangan dalam adegan di mana kekacauan terjadi. Hasilnya canggung, secanggung banyolan-banyolan dari mulut Asri Welas. Bukan perkara mudah membuat Asri Welas, yang biasanya berhasil menyegarkan suasana, jadi tidak lucu. Dan berkat ketidakmampuan Rizal mengolah momen komedik, khususnya terkait menentukan timing transisi, pencapaian langka itu sukses diraih film ini.

Sekitar 15 menit pertama, Rasuk 2 membuka tabir misteri dengan menarik, menyulut penasaran kala mempertanyakan asal muasal mayat Mrs. X, serta mengapa sang hantu meneror Bella. Sampai akhirnya investigasi asal jalan dilakukan, rasa bosan menyeruak, kemudian penyelidikan Bella jadi tidak penting sewaktu muncul karakter baru yang menjawab segala pertanyaan. Rasuk 2 tidak lupa menutup kisahnya melalui klimaks sarat kebodohan berintensitas lemah, menjadikan peningkatan kualitasnya semakin terasa semu. Paling tidak Nikita Willy menyajikan performa yang lebih “normal” dibandingkan Shandy Aulia.

MAKMUM (2019)

Bagaimana cara menjadikan horor pendek tentang gangguan hantu di tengah salat sebuah film panjang? Cukup meragukan, apalagi ditambah keterlibatan Baginda Dheeraj Kalwani. Tapi proyek adaptasi film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi ini rupanya lebih baik dari perkiraan jauh di atas produksi Baginda Dheeraj lain, meski pencapaian itu terbilang mudah selama film anda bukan sampah.

Kisahnya membawa kita ke suatu asrama yang dikepalai oleh Rosa (Reny Yuliana), menggantikan Ibu Kinanti (Jajang C Noer) yang terbaring sakit. Berbeda dengan sang pendahulu, Rosa bersikap keras cenderung kecam pada para penghuni, khususnya Nurul (Tissa Bianni), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri) yang dilarang pulang selama liburan akibat gagal mendapat rata-rata nilai 8.

Seolah belum cukup sial, bukan cuma teror pengurus asrama galak saja yang mesti diadapi, pula sesosok makhluk halus yang dijuluki “Hantu Makmum” karena kerap meneror kala mereka menjalankan salat. Adegan pembukanya langsung menunjukkan peristiwa gaib tersebut, tatkala sutradara Hadrah Daeng Ratu (Mars Met Venus, Jaga Pocong, Malam Jumat the Movie) sanggup mereka ulang nuansa atmosferik film pendeknya.

Sampai suatu ketika datang Rini (Titi Kamal), mantan penghuni asrama yang menawarkan diri menjadi mentor pasca pekerjaannya sebagai perias mayat gagal menghasilkan uang, membuatnya diusir dari kontrakan. Penokohan Rini menarik. Dia bisa melihat hantu dan tidak takut pada mereka. Bahkan Rini berani “menghardik” makhluk tak kasat mata yang berbuat iseng ketika ia sedang bekerja.

Jarang horor lokal mempunyai protagonis semacam itu. Saya pun menantikan bagaimana duet penulis naskah Alim Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Dimsum Martabak, Kuntilanak) dan Vidya Talisa Ariestya mengembangkan tokoh Rini begitu ia memutuskan membantu anak-anak asrama menyelidiki teror hantu Makmum. Tapi harapan tinggal harapan. Di sisa durasi, Rini tak ubahnya protagonis horor kebanyakan yang hanya mampu kaget, takut, lalu kabur, dan praktis menyia-nyiakan talenta Titi Kamal.

Potensi Rini pelan-pelan terkubur, berakhir sebagai satu lagi karakter yang mudah dilupakan. Satu poin yang terus saya ingat mengenainya adalah luka bakar di tangannya. Mengapa ia tidak mengenakan sarung tangan? Mungkin itu takkan banyak membantunya memperoleh pekerjaan di dunia tata rias (manusia hidup), namun setidaknya mengurangi kecanggungan saat berjabat tangan dengan orang asing.

Bagaimana usaha naskahnya melebarkan cerita delapan menit menjadi 95 menit? Awalnya semua berjalan baik, malah menarik kala mitologi soal Kanzan, alias hantu-hantu yang gemar mengusik ibadah salat, diperkenalkan oleh Ustaz Ganda (Ali Syakieb). Sampai Alim dan Vidya seolah melupakan pembangunan tersebut, kemudian memperkenalkan twist yang justru menciptakan kontradiksi mengenai asal-usul si hantu pengganggu.

Masih terkait penulisan, Makmum juga terjebak kebiasaan buruk film kita, khususnya horor, yakni pemakaian baris kalimat yang asal mencampurkan diksi santai dan baku, yang berakhir terdengar kaku. Paling mendapat kerugian dari gaya bahasanya adalah Arief Didu sebagai Slamet si penjaga asrama. Arief yang biasanya luwes, di sini bak terbebani. Masalah berbeda menimpa Tissa Biani. Seperti biasa, urusan olah emosi, aktris muda ini piawai, tapi pelafalan Bahasa Jawanya mengganggu akibat terkurung stereotip buatan sinetron dan FTV.

Makmum sejatinya bukan sajian murahan. Poin pembeda dari produksi Baginda Dheeraj lain yakni keberadaan beberapa teror yang efektif. Memasuki horor ketiganya, Hadrah semakin cerdik memainkan atmosfer sembari meminimalisir pemakaian musik. Urusan timing pun ia membaik, terlihat jelas dalam “jump scare lemari” yang didahului pembangunan mencekam sebelum ditutup gebrakan mengejutkan.

Sayang, begitu dihadapkan pada sekuen berintensitas tinggi yang menuntut kejelian mengolah dinamika, sebagaimana di Jaga Pocong dan Malam Jumat the Movie, Hadrah masih canggung. Baik dari pilihan shot maupun gerak kamera (yang artinya juga tanggung jawab Rendra Yusworo selaku sinematografer) seperti kekurangan daya. Alhasil, kualitas klimaks di mana kekacauan memuncak terjun bebas, bergerak layaknya orang kelaparan.

#MALAMJUMAT THE MOVIE (2019)

Ini yang saya sebut “kejutan berlapis”. #MalamJumat The Movie awalnya memberi impresi positif, berpotensi menjadi rilisan terbaik Baginda Dheeraj Kalwani. Memang bukan horor kelas atas, tapi tak pernah pula menyentuh jurang kehancuran sebagaimana saya perkirakan bakal dimiliki karya Baginda. Tentu hal tersebut mengejutkan. Hingga plot twist-nya terungkap, dan dalam waktu kurang dari 30 menit, #MalamJumat The Movie berakhir setingkat judul-judul lain buatan produser tercinta kita.

Diangkat dari kanal YouTube milik Ewing HD, tepatnya seri #MalamJumat EXPLORE, film ini mengikuti tuturan formulaik tentang penelusuran tempat angker, ketika Ewing beserta timnya menjelajahi taman bermain bernama Wonder Park, yang konon kerap jadi lokasi bunuh diri. Mereka bukan cuma menemukan penampakan, juga jaket dan topi yang ditengarai milik seseorang yang gantung diri di sana.

Begitu video tersebut diunggah, gadis bernama Dinda (Zoe Abbas Jackson) meninggalkan komentar, mengaku bahwa barang-barang itu adalah kepunyaan kakaknya, Ryan (Randy Pangalila), yang sudah lama hilang. Bersama sahabatnya, Ellen (Sonia Alyssa), yang merasa Ryan merupakan kekasihnya meski mereka hanya berpacaran semasa SD (sungguh selipan humor yang salah tempat), Dinda meminta Ewing kembali ke Wonder Park guna menyelidiki kebenaran di balik hilangnya sang kakak.

Turut serta dalam misi adalah Tio (Ade Firman Hakim), YouTuber yang dikenal akan kemampuannya berkomunikasi dengan arwah. Tiap melakukan ritual, Tio tampak lucu, dengan gestur dan rapalan mantera konyol. Setidaknya kekonyolan itu disengaja, di mana karakter lain sempat melontarkan olok-olok tentangnya, meski serupa penokohan Ellen, kehadirannya tidak diperlukan.

Apa yang membuat keklisean #MalamJumat The Movie awalnya terlihat lebih baik dibanding film Dee Company (dan K2K) pada umumnya? Pertama, naskah buatan Andhika Lazuardi (Tembang Lingsir) memang menyajikan alur setipis kertas nan membosankan, namun tak sampai mengesalkan. Kedua, kuantitas jump scare-nya sesuai porsi, alhasil efek suara berisik pengiring kemunculan hantu bertata rias buruk tidak begitu sering menyiksa telinga. Pun penyutradaraan Hadrah Daeng Ratu sesekali melahirkan keheningan atmosferik, talenta yang sebelumnya ia perlihatkan lewat Jaga Pocong.

Semua berjalan lancar sampai babak akhirnya tiba bersama twist yang terkesan mencurangi penonton akibat hadir tanpa dibangun secara layak alias mendadak. Titik baliknya datang secara dipaksakan, seolah penulis naskahnya berujar “Fuck it!”, lalu menyerah untuk mencari cara logis guna menghantarkannya. Silahkan direnungkan: Apa perlunya Dinda tiba-tiba membuka akun Instagram Ryan di tengah situasi berbahaya? Dan bukankah sebelumnya akun Ryan baru mengunggah video Ellen sedang mandi? Ke mana perginya video itu?

Keberhasilan #MalamJumat The Movie membuat otak jungkir balik tidak berhenti di situ. Setelahnya, masih banyak kejutan yang bisa memancing respon “Eh?”, lalu “Lho??”, kemudian “Apaaaa??!!”, lalu “What in the heellll?!!!!”, hingga akhirnya, “Screw it, I’m done!”. Belum cukup? Nantikan adegan penutup berupa kritik terhadap komunitas YouTube yang terdengar bagai khotbah salat Jumat. Tapi saya mengapresiasi bagaimana klimaksnya memperlihatkan bahwa Ewing tidak takut mempertaruhka citra kanal YouTube miliknya demi film. Sayang, ini film yang buruk. Seburuk akting kakunya.

LUKISAN RATU KIDUL (2019)

Oh ya, Lukisan Ratu Kidul adalah film terbaik produksi Paduka Dheeraj Kalwani alias Baginda KKD. Walau status “terbaik “ di sini tingkatannya sama dengan menyebut “susu basi rasa cokelat punya rasa terbaik di antara semua susu basi”. Akhirnya tetap sakit perut kan? Kali ini Paduka menunjuk Ginanti Rona (Midnight Show, Anak Hoki) sebagai nahkoda. Berikutnya giliran Hadrah Daeng Ratu menyutradarai Malam Jumat The Movie. Berapa banyak lagi talenta berbakat akan Paduka coreng reputasinya?

Kisahnya mengetengahkan kakak beradik, Dimas (Teuku Zaky) dan Satria (Wafda Saifan), yang menerima warisan rumah dari mendiang sang ayah. Saat kecil dahulu, mereka sempat tinggal di sana, namun tak ada memori yang tersisa. Mereka berdua, beserta istri Dimas, Astrid (Ussy Sulistyawaty) dan sang puteri, Sandra (Annisa Aurelia), pun menetap sementara di rumah tersebut sembari memikirkan langkah selanjutnya.

Di tengah kebingungan itu, entah mengetahui kedatangan mereka dari mana, datanglah Kevin—diperankan Fadika Royandi lewat akting over-the-top memuakkan—menawarkan diri untuk mencarikan pembeli. Dimas yang kebetulan tengah dilanda kesulitan finansial pun setuju menemui klien Kevin, seorang kolektor lukisan Nyi Roro Kidul (Wawan Wanisar) buatan kakek Dimas, Rusdi Soedibyo (Egi Fedly), yang konon menyimpan kekuatan mistis sehingga dapat memberi keberuntungan bagi pemiliknya.

Sang kolektor mengaku, bahwa dulu ia meminta dibuatkan 13 lukisan, namun baru 12 buah yang ia terima. Dia pun yakin bahwa lukisan ketigabelas masih tersimpan di rumah Dimas, dan berani menawar 8 milyar rupiah guna menebusnya. Rasanya ingin saya menanyakan hal berikut kepada Husein M Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perjanjian Dengan Iblis) selaku penulis naskah: Kalau si kolektor memesan 13 lukisan pada Rusdi karena unsur magis di dalamnya, mengapa baru di lukisan terakhir Rusdi menemukan cara meniupkan kekuatan mistis pada karyanya?

Mungkin saya yang salah mengharapkan Lukisan Ratu Kidul memedulikan kesolidan narasi. Terlebih setelah sepanjang durasi, filmnya bertutur secara kasar, yang merupakan kombinasi penulisan janggal, penceritaan kasar sang sutradara, serta penyuntingan asal pasang. Acap kali tidak ada jembatan antar-adegan, sehingga mengesankan ada shot yang hilang ditelan Bumi sebagaimana hilangnya ibunda Dimas dan Satria.

Jangan harapkan pula penampilan jajaran pemain datang menyelamatkan situasi. Selain Fadika Royandi, memang tak ada akting “menyakitkan” lain, namun tidak pula pantas disebut memikat. Terkecuali aktor senior Wawan Wanisar (pemeran Pierre Tendean di Pengkhianatan G 30 S/PKI) lewat penghantaran kalimat paling natural, serta Annisa Aurelia, yang setidaknya, sebagai aktris cilik, cukup meyakinkan melakoni situasi di mana karakternya dihimpit teror.

Walau keseluruhan filmnya nyaris remuk redam, potensi Ginanti Rona sebagai sineas horor masih bisa disaksikan di beberapa kesempatan. Mengandalkan trik kemunculan hantu medioker, jump scare garapan Ginanti punya ketepatan timing yang sesekali efektif mengejutkan penonton meski kerap diganggu musik buatan Ricky Lionardi (Rectoverso, Danur 2: Maddah, Tembang Lingsir) yang lebih berisik daripada sound system konser dangdut RT sebelah.

Sejak alih persona menjadi Dheeraj Kalwani, saya memang mendapati kemajuan di produk-produknya, termasuk soal tata artistik yang bukan lagi sekelas Bandung Lautan Asmara. Hal serupa masih bisa ditemui di sini, kala lokasi indoor-nya digarap cukup solid, khususnya dominasi warna hijau selaku warna Kanjeng Ratu Kidul. Ya, sampai sebuah close-up shot memperlihatkan properti pisau yang kentara dibuat menggunakan aluminium foil. Di situ saya merasa cukup.

SAKRAL (2018)

Sakral merupakan kolaborasi kelima (keempat sepanjang 2018) MD Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya “paling tidak menyiksa”, karena sejak Gasing Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding penyakit lain. Tetap saja menyiksa.

Setidaknya para pembuat film ini belajar dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya tersusun atas fragmen-fragmen jump scare yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu agar mampu lebih dulu memaparkan cerita, walau bukan cerita yang solid, menghasilkan penantian melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi, setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan, Dheeraj Kalwani akhirnya mengalami kemajuan.

Kisahnya dibuka saat sepasang suami istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???). Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui duka justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya, naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan cinta milik suami-istri mampu mengalahkan apa pun termasuk duka (dan iblis). Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.

Melina terus melihat hal-hal mengerikan seperti penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel meragukan kewarasan sang istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog sekaligus teman Daniel dengan mudah mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan mengucapkan dialog (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar, Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa saya membahas akting si pemeran setan dengan caranya memberi penekanan di tiap akhir kata yang luar biasa menggelikan.

Progresi alurnya cukup rapi karena bersedia menanti hingga momen yang tepat guna memunculkan penampakan hantu, menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, dibutuhkan cerita untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput memahami jika logika turut dibutuhkan dalam cerita, sebab setelah satu hari berlalu, saya masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.

Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan penonton bukan karena disusun begitu baik, melainkan gempuran tata suara luar biasa keras yang sampai membuat studio bergetar hebat. Padahal saya sempat menaruh sedikit (sangat sedikit) harapan saat mendapati penampakan perdana sang hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan klimaks seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun puncak kekacauan menegangkan. Ada niat menciptakan klimaks brutal, tapi tak peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bagian tubuh terpotong gergaji mesin, tanpa sudut kamera tepat (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong, kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina diam-diam pasangan ninja Konoha?

RASUK (2018)

Jamaknya, poster berguna selaku media promosi untuk menarik penonton, memberi sekilas gambaran mengenai konten suatu film. Tapi Rasuk, selaku produksi gabungan keempat Dee Company bersama MD Pictures mengangkat esensi poster ke tingkatan lebih jauh, yakni memprediksi apa yang penonton rasakan kala menyaksikan filmnya. Jika Shandy Aulia tampak ketakutan akibat ditarik sosok-sosok misterius, saya terjerat keburukan demi keburukan Rasuk yang tak butuh waktu lama untuk memancing frustrasi. Tapi film ini patut dirayakan sebagai pertanda kembalinya Dheeraj Kalwani menuju jati dirinya sebagai KKD yang kita kenal, puja, dan sayangi bersama.

Tentu Gasing Tengkorak (2017) dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati Bayi Hidup Lagi Bayi Prematur Bayi Setan (2018) buruk (saya melewatkan Kembang K*nt*l), namun film garapan Ubay Fox (Valentine) ini paling mendekati mahakarya Baginda Yang Termahsyur KK Dheeraj. Adegan yang dikemas sedemikian ajaib berpadu penyuntingan gambar tak kalah gaib? Ada. Hantu dengan riasan bagai bubur basi? Ada! Andai Rasuk dirilis satu dekade lalu, Alexis Texas, Lexi Belle, atau Sunny Leone mungkin bakal direkrut sebagai cameo, sementara judulnya berubah jadi Kerasukan Arwah Datang Bulan, atau semacamnya.

Rasuk yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, dibuka lewat presentasi sinematografi paling cantik sepanjang film, walau konteksnya layak dipertanyakan, dan baru dijawab menjelang akhir, itu pun tetap tak masuk akal. Tapi ini film KKD. Alangkah baiknya demi kesehatan penonton, logika serta akal sehat disimpan rapat-rapat. Kala situ Langgir (Shandy Aulia) berada di atas gunung, mengenakan gaun putih cantik tanpa alas kaki. Awal yang menjanjikan, sayangnya Rasuk merupakan film cerita, bukan video pre-wedding. Pasca kematian sang ayah, Langgir mulai membenci dunia, karena merasa sang ibu menyalahkannya atas peristiwa itu. Akibatnya, Langgir senantiasa murung, bersikap ketus pada semua orang.

Semua orang kecuali Abimanyu (Miller Khan), pria yang diam-diam ia sukai. Di depan Abimanyu, Langgir berubah ceria, atau lebih tepatnya, Shandy Aulia kembali menjadi Tita di Eiffel...I’m In Love. Selain Abimanyu, praktis Langgir bersikap tak menyenangkan di depan orang lain. Dia membentak adik tirinya yang masih balita, menyatakan ketidaksukaan pada keluarganya, yang menurutnya dipenuhi kebencian (meski sejatinya Langgir sendirilah yang penuh rasa benci), pun kesal setengah mati kepada sahabat-sahabatnya. Kenapa? Karena bagi Langgir kehidupan mereka terlampau sempurna. Oh, dan dia langsung mengamuk ketika tahu Abimanyu berpacaran dengan salah satu sahabatnya, padahal sedikitpun tidak pernah ia bercerita pada mereka.

Bagaimana bisa menaruh simpati untuk Langgir, yang bukannya tokoh tertindas, melainkan gadis menyebalkan, egois, enggan bersyukur, juga bersikap pahit terhadap seala hal? Bukan berarti karakter lainnya lebih baik. Sambutlah geng “Puteri Sejagat”, empat gadis termasuk Langgir, yang mesti menghadapi lawan luar biasa berat berupa dialog-dialog dalam naskah tulisan Alim Sudio (Dimsum Martabak, Kuntilanak), yang penuh kalimat tidak natual berisi perpaduan asal gaya kasual dan resmi, yang bak ditulis seseorang dengan pemahaman minim tentang interaksi manusia sehari-hari. Keempat protagonis kita begitu bangga dengan nama “Puteri Sejagat”, sewaktu bertemu wanita misterius di hutan, hal pertama yang dilakukan adalah berkenalan kemudian berkata, “kami berempat Puteri Sejagat”, saat seharusnya mereka membaca doa sapu jagat lalu kabur sejauh mungkin.

Alkisah, “Puteri Sejagat” ingin berlibur ke sebuah villa. Sayang seribu sayang, jembatan yang mesti dilalui putus, dan dengan begitu berani, keempatnya memasuki hutan. Bisa ditebak, mereka pun tersesat. Tapi tenang, setidaknya papan penunjuk jalan sudah menyebut villa tujuan mereka berada di Utara. Masalah timbul ketika jalan bercabang. Kompas sudah menunjukkan mana arah Utara, tapi feeling salah satu anggota “Puteri Sejagat” berkata kalau Selatan adalah arah yang tepat. Mana yang akhirnya dipilih? Tentu saja Selatan. Percayalah pada kata hatimu. Persetan dengan kompas dan papan kayu. Tahu apa benda-benda mati itu soal arah.

Luar biasa bodoh para tokoh utama kita, hingga elemen persahabatan ditambah pesan mengenai “semua punya masalah, jangan mengira dirimu paling menderita” terkubur bersama arwah penasaran, yang tiap kali muncul, disertai gebrakan efek suara memekakkan telinga. Bahkan tatkala hantu muka bubur basi tak muncul menyerang “Puteri Sejagat”, telinga kita terus saja diserang tata suara berisik tersebut. Mungkin pembuat filmnya mengira, jika volume ditingkatkan ke titik maksimal, penonton bakal tertipu, mengira di layar sedang terjadi sesuatu. Di sebuah kesempatan, Langgir memarahi teman-temannya karena berteriak meminta bantuan. “Berisik!”, begitu ucapnya. Wahai Langgir, itu pula yang ingin saya sampaikan pada film ini.

Sekitar 90% bangku penonton terisi dan nyaris semua terhibur, selalu berteriak ketakutan. Kondisi ini bisa memicu anggapan, “mengapa repot-repot membuat film bagus kalau suguhan berkualitas rendah macam ini pun laku keras dan disukai?”. Melalui Rasuk, KKD seolah mengacungkan jari tengah kepada penonton film Indonesia yang peduli dan mengharapkan tontonan berkualitas. Tapi kalau anda tetap penasaran, saya sarankan datang saja ke bioskop dengan tata suara terbaik yang menayangkan film ini. Begitu film dimulai, tidak perlu masuk, cukup duduk di samping studio. Pasang telinga baik-baik, dan anda tetap bisa mendengar gempuran-gempuran tata suaranya. Tidak perlu menyaksikan gambarnya, toh pembuatnya merasa, teror dalam horor bisa dicapai lewat gelaran musik berisik saja. 

BAYI GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI (2018)


Seorang polisi (Dorman Borisman) tiba di TKP pembantaian sebuah keluarga. Seluruh tulang sang suami remuk, sang istri terguncang dan meracau, sementara bayi mereka tewas kehabisan darah. Adegan pembuka ini tidak punya maksud kecuali menyiratkan fenomena mistis yang akan jadi pusat konflik filmnya, memperkenalkan tokoh sampingan yang cuma berperan menjelaskan fenomena itu pada protagonis, dan menyebutkan sub-judul “Bayi Tumbal, Bayi Mati”. Bukan awal meyakinkan bagi usaha seorang KK Dheeraj alias KKD alias Dheeraj Kalwani naik kelas.    

Dheeraj memang bagai sedang berusaha mengubah persepsi publik. Tidak hanya menanggalkan identitas legendaris KKD, sejak Gasing Tengkorak (2017) rumah produksinya pun mengusung nama  Dee Company, bukan lagi K2K Production. Tidak pula ia menggaet bintang porno luar negeri atau Dewi Perssik sebagai pemain. Lupakan sangkalannya terhadap pernyataan bahwa film ini merupakan remake Bayi Ajaib (1982). Sebab, menilik trailer-nya, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati tampak well-made. Meski kegagalan production value apik menutupi kelemahan naskah dan penyutradaraan yang berujung merusak film bukan lagi hal baru di industri kita.
Setelah dua tahun, Farah (Rianti Cartwright) dan Rafa (Ashraf Sinclair) akhirnya memiliki momongan. Namun begitu putera perdana yang diberi nama Rangga itu lahir, kejadian aneh mulai menimpa mereka. Rafa dihantui mimpi-mimpi buruk, sementara Farah kerap melihat bayinya dalam wujud mengerikan. Rafa yang skeptis terhadap hal gaib meyakini sang istri menderita baby blues. Pondasi menarik untuk membangun horor psikologis yang sayangnya terlalu malas digali dalam naskah buatan Baskoro Adi Wuryanto.

Satu penyakit akut film horor negeri ini adalah, apa pun sumber terornya, mau ajian maut berbentuk gasing, iblis, santet, atau bahkan imajinasi karakternya, cara yang dipakai untuk menakut-nakuti nihil perbedaan. Hantu akan berlari cepat di balik sofa, muncul di kamar mandi, hingga kasur. Mungkin memang kenyataannya itu tempat favorit makhluk halus. Setidaknya beberapa jump scare punya penempatan waktu yang tepat sehingga tersaji mengejutkan. Poin plus bagi Rizal Mantovani, tatkala penataan kamera Rudy Novan acap kali menyulitkan penonton untuk mengidentifikasi hal menakutkan apa yang tengah muncul.
Menjalani debut di film horor, Rianti tampak kesulitan menjual kengerian yang meyakinkan. Teriakannya, ekspresi ketakutannya, urung menyalurkan perasaan serupa kepada penonton. Tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Melihat desain si bayi gaib (atau bayi tumbal? atau bayi mati? Saya tak peduli), tawa memang akan lebih mudah hadir ketimbang rasa takut. Penampilan Ashraf Sinclair cukup bisa dinikmati, namun lebih dikarenakan tuntutan yang belum sebesar Rianti. Karakter Rafa tidak sesering Farah mendapat gangguan mistis.

Ending-nya memperlihatkan sang pelaku sesungguhnya mendatangi kediaman Farah dan Rafa. Untuk apa repot-repot saat santet yang dikirim terbukti manjur? Lima menit terakhir bak cerminan kebingungan Baskoro Adi Wuryanto mengenai harus bagaimana kisahnya ditutup. Serupa Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism, Jailangkung, hingga Ghost Diary, film ini dipenuhi detail-detail khas Baskoro yang amat menggelitik dan niscaya memberi anda dan teman-teman pengalaman mengasyikkan kala menertawakannya bersama-sama.