Tampilkan postingan dengan label Ade Firman Hakim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ade Firman Hakim. Tampilkan semua postingan
SABYAN MENJEMPUT MIMPI (2019)
Rasyidharry
Saya tidak tahu siapa Sabyan Gambus
sebelum mendengar kabar perilisan film ini. Penasaran, saya pun membuka halaman
YouTube mereka dan terkejut melihat jumlah subscribers
sebesar 5,6 juta. Semakin terkejut saat mendapati video Ya Habibal Qolbi telah ditonton 305 juta
kali. Sebagai perbandingan, video klip Gee
milik Girls’ Generation yang legendaris itu “cuma” punya 232 juta penonton.
A-Pop (Arab Pop) is more popular
than K-Pop I guess?
Statistik di atas mendorong saya
untuk menonton Sabyan Menjemput Mimpi,
yang rupanya menampilkan para personel Sabyan memerankan diri mereka sendiri.
Kisah dibuka kala mereka tengah gugup sebelum menjalani proses pengambilan
gambar video klip bersama musisi luar negeri. Tiba-tiba, tanpa diduga tanpa
dinyana, obrolan soal kegugupan berbelok ke arah mengenang masa lalu, dan
filmnya pun mendadak memasuki fase flashback.
Apabila hendak menonton film ini,
anda mesti mempersiapkan diri dengan gaya penulisan Novia Faizal (Something in Between, Calon Bini) yang
menerapkan penuturan maju-mundur tanpa esensi pasti. Tanpa harus kembali ke
masa kini tiap beberapa waktu sekali pun, alurnya bisa berjalan. Bahkan lebih
mulus, karena peristiwa masa kini seringkali miskin korelasi dengan adegan masa
lalu, atau hanya bertindak selaku rekap.
Melalui flashback, kita melihat perjalanan Sabyan, khususnya Nissa, yang
hidup sederhana di rumah susun bersama kedua orang tua (Diky Chandra dan Cici
Tegal) dan kakaknya, Iin (Aquino Umar). Ada kesemarakan di sana. Ketimbang
menggambarkan kemiskinan, Sabyan
Menjemput Mimpi menjadikan komplek rumah susun sebagai ruang penuh
interaksi hangat antara penghuni.
Tapi serupa kondisi rumah susun,
film ini terasa penuh sesak akibat subplot dengan dosis berlebih. Selain
perjuangan Sabyan, ada cinta monyet antara Nissa dengan Dimas (Shandy William),
kesulitan ekonomi keluarga Nissa, kerinduan anak kecil dari rumah sebelah
bernama Nurul (Kanaya Gleadys) terhadap sang ibu, hingga perjalanan Bilal
(Chandra Wahyu Aji) si penggemar Sabyan yang memiliki cacat fisik untuk
menonton konser idolanya.
Begitu banyak cabang, tidak ada
satu pun memperoleh penebusan emosi setimpal. Romansanya diakhiri kesan bahwa
Dimas adalah pria manja sekaligus brengsek yang mengeluh saat wanita pujaannya
sibuk meniti karir, lalu dengan mudah memalingkan hati tak lama setelah
cintanya kandas. Seolah ia berprinsip, “Ah, wanita mana pun boleh, daripada
jomblo”.
Konklusi kisah Bilal tidak kalah mengecewakan.
Filmnya membangun momentum terkait pertemuannya—yang datang ke Garut bersama
Ndut Kece (Meni Agus Nori) si penggemar Sabyan nomor satu—dengan Sabyan, hanya
untuk menutupnya lewat adegan konser medioker. Kenapa pula Alim Ishaq, yang
menjalani debut penyutradaraannya di sini, menutup momen tersebut dengan gerak
lambat dramatis sambil menyoroti wajah Ndut Kece, seolah ia akan meninggal
dunia?
Cara Alim Ishaq menangani adegan
musikal pun sangat lemah. Sabyan
Menjemput Mimpi dikemas mengikuti pakem Bohemian
Rhapsody, alias bagai kompilasi video klip. Tapi, walau bermodalkan biaya
jauh lebih besar, versi layar lebarnya memiliki kualitas tata artistik serta camerawork setara—bahkan di beberapa
bagian lebih buruk—ketimbang video klip yang diunggah di kanal YouTube Sabyan
Gambus. Murahan dan miskin kreativitas.
Beruntung film ini punya dua
elemen, yaitu jajaran pemain mumpuni
dan suara indah Nissa, yang di saat bersamaan mampu mengejutkan lewat
penampilan natural yang acap kali menggelitik. Nissa jelas punya potensi. Saya
bisa membayangkannya mencuri perhatian di film-film komedi. Sedangkan Diky
Chandra tidak kalah luwes menyeimbangkan humor dengan tuturan dramatik.
Kolaborasi kedua elemen di atas
bahkan sempat memproduksi satu adegan emosional. Diceritakan, di seberang rumah
Nissa sekeluarga tinggal pria bernama Saman (Ade Firman Hakim) bersama
puterinya, Nurul, juga Marno, sang ayah (Fuad Idris), yang tidak lagi bisa
melihat. Suatu malam, Marno mendengar lagu Allahumma
Labbaik milik Sabyan diputar di radio. Didorong keinginan besar mengunjungi
tanah suci, tangis Marno pun pecah. Biasanya saya membenci adegan demikian,
tapi karena akting heartbreaking dari
Fuad Idris dan Ade Firman Hakim, ditambah lantunan suara indah Nissa, hati saya
tersentuh.
Benar bahwa Sabyan Menjemput Mimpi mampu menghibur di beberapa titik serta
memiliki hati. Saya sempat menimbang-nimbang untuk memberikan penilaian positif
terhadap film ini, hingga adegan penutupnya tiba. Sebuah adegan yang tidak
sepantasnya disertakan, dan lebih pantas muncul di halaman media sosial sebagai
materi promosi atau sambutan sebelum gala premiere. That’s “the final nail in the coffin” for this movie.
Juni 29, 2019
Ade Firman Hakim
,
Alim Ishaq
,
Aquino Umar
,
Biography
,
Cici Tegal
,
Diky Chandra
,
Fuad Idris
,
Indonesian Film
,
Kanaya Gleadys
,
Kurang
,
Meni Agus Nori
,
Nissa Sabyan
,
Novia Faizal
,
REVIEW
,
Shandy William
#MALAMJUMAT THE MOVIE (2019)
Rasyidharry
Ini yang saya sebut “kejutan berlapis”. #MalamJumat The Movie awalnya memberi
impresi positif, berpotensi menjadi rilisan terbaik Baginda Dheeraj Kalwani.
Memang bukan horor kelas atas, tapi tak pernah pula menyentuh jurang kehancuran
sebagaimana saya perkirakan bakal dimiliki karya Baginda. Tentu hal tersebut
mengejutkan. Hingga plot twist-nya
terungkap, dan dalam waktu kurang dari 30 menit, #MalamJumat The Movie berakhir setingkat judul-judul lain buatan produser
tercinta kita.
Diangkat dari kanal YouTube milik
Ewing HD, tepatnya seri #MalamJumat
EXPLORE, film ini mengikuti tuturan formulaik tentang penelusuran tempat
angker, ketika Ewing beserta timnya menjelajahi taman bermain bernama Wonder
Park, yang konon kerap jadi lokasi bunuh diri. Mereka bukan cuma menemukan
penampakan, juga jaket dan topi yang ditengarai milik seseorang yang gantung
diri di sana.
Begitu video tersebut diunggah,
gadis bernama Dinda (Zoe Abbas Jackson) meninggalkan komentar, mengaku bahwa
barang-barang itu adalah kepunyaan kakaknya, Ryan (Randy Pangalila), yang sudah
lama hilang. Bersama sahabatnya, Ellen (Sonia Alyssa), yang merasa Ryan
merupakan kekasihnya meski mereka hanya berpacaran semasa SD (sungguh selipan
humor yang salah tempat), Dinda meminta Ewing kembali ke Wonder Park guna
menyelidiki kebenaran di balik hilangnya sang kakak.
Turut serta dalam misi adalah Tio
(Ade Firman Hakim), YouTuber yang
dikenal akan kemampuannya berkomunikasi dengan arwah. Tiap melakukan ritual, Tio
tampak lucu, dengan gestur dan rapalan mantera konyol. Setidaknya kekonyolan
itu disengaja, di mana karakter lain sempat melontarkan olok-olok tentangnya,
meski serupa penokohan Ellen, kehadirannya tidak diperlukan.
Apa yang membuat keklisean #MalamJumat The Movie awalnya terlihat
lebih baik dibanding film Dee Company (dan K2K) pada umumnya? Pertama, naskah
buatan Andhika Lazuardi (Tembang Lingsir)
memang menyajikan alur setipis kertas nan membosankan, namun tak sampai mengesalkan.
Kedua, kuantitas jump scare-nya sesuai
porsi, alhasil efek suara berisik pengiring kemunculan hantu bertata rias buruk
tidak begitu sering menyiksa telinga. Pun penyutradaraan Hadrah Daeng Ratu
sesekali melahirkan keheningan atmosferik, talenta yang sebelumnya ia
perlihatkan lewat Jaga Pocong.
Semua berjalan lancar sampai babak
akhirnya tiba bersama twist yang terkesan
mencurangi penonton akibat hadir tanpa dibangun secara layak alias mendadak. Titik
baliknya datang secara dipaksakan, seolah penulis naskahnya berujar “Fuck it!”, lalu menyerah untuk mencari
cara logis guna menghantarkannya. Silahkan direnungkan: Apa perlunya Dinda
tiba-tiba membuka akun Instagram Ryan di tengah situasi berbahaya? Dan bukankah
sebelumnya akun Ryan baru mengunggah video Ellen sedang mandi? Ke mana perginya
video itu?
Keberhasilan #MalamJumat The Movie membuat otak jungkir balik tidak berhenti di
situ. Setelahnya, masih banyak kejutan yang bisa memancing respon “Eh?”, lalu “Lho??”,
kemudian “Apaaaa??!!”, lalu “What in the
heellll?!!!!”, hingga akhirnya, “Screw
it, I’m done!”. Belum cukup? Nantikan adegan penutup berupa kritik terhadap
komunitas YouTube yang terdengar bagai khotbah salat Jumat. Tapi saya
mengapresiasi bagaimana klimaksnya memperlihatkan bahwa Ewing tidak takut
mempertaruhka citra kanal YouTube miliknya demi film. Sayang, ini film yang
buruk. Seburuk akting kakunya.
Mei 17, 2019
Ade Firman Hakim
,
Andhika Lazuardi
,
Dheeraj Kalwani
,
Ewing HD
,
Hadrah Daeng Ratu
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
KK Dheeraj
,
Randy Pangalila
,
REVIEW
,
Sonia Alyssa
,
Zoe Abbas Jackson
DI BALIK LAYAR - DONGENG MISTIS (2018)
Rasyidharry
Bukan, ini bukan review seperti biasa, karena sebagaimana
beberapa dari kalian tahu, saya adalah salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan
sekelumit proses di balik layar film ini.
Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, saat
Gandhi Fernando datang ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017)
karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser eksekutif
sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai
pemutaran spesial Midnight Show
(2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.
Karena datang terlalu pagi, saya
(disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah dia menunjukkan
beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017),
klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana
rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee
Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada usaha tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di
naskah dan chemistry, namun berani
menghadirkan romansa bergaya Before
Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak
menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet
gaya giallo yang jarang disentuh
sineas kita.
Selang beberapa bulan, sewaktu saya
disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, menawarkan posisi
produser untuk Dongeng Mistis, yang
saat itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan
ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Jadi Produser?
Apakah etis jika saya terjun ke
industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa
reviewer kita sudah melakukan itu.
Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah
bersama Charles Gozali untuk Malam
Jahanam yang hendak diproduksi,
Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo
Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra
Asliga yang beberapa waktu lalu merilis film panjang perdananya, The Returning.
Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?
Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?
Intinya, saya merasa bodoh dan
ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai
pasca-produksi. Peran saya adalah mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh aktivitas Mister Indonesia lalu Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama
dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke
mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots.
If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”.
Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan
bunyi-bunyian asal berisik.
Proses berikutnya sekaligus yang
paling menantang (Baca: ruwet) adalah urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun
LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan
birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck
them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) kini tahu
tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya akhirnya mengalami langsung betapa
ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian
jatah layar, juga aktivitas pasca-produksi lain.
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis adalah omnibus berisi enam cerita buatan enam
sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan
yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi
talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar
termasul salah satu syarat penting jika sutradara ingin dilirik).
Sementara keenam hantunya adalah
Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama
yang disebut terakhir, itu adalah makhluk baru ciptaan sutradara/penulis naskah
Andra Fembriarto (Sinema Purnama)
yang dibuat berdasarkan gabungan budaya-budaya milik beragam daerah Indonesia.
Saya tidak bisa memberi penilaian
pada film ini, tapi saya bisa memberi sedikit gambaran mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling
atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari,
seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh
akal bulus guna menjebak korbannya. Pocong
garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji,
kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok
pocong. Saya suka bagaimana ahli agama tidak digambarkan sebagai jagoan
sempurna di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang karya Vicky Ray adalah hantu
yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda
Begu Ganjang melalui investigasi wartawan bernama Daniel (Gandhi Fernando).
Terakhir adalah Lehak yang rasanya
cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni
serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan
Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta)
melakukan tarian terkutuk pemanggil Lehak.
Silahkan sambangi bioskop mulai 22
NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai
filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya
akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan mustahil ini merupakan
yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya
di layar lebar, hehehe....
Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini
November 21, 2018
Achmad Romie
,
Ade Firman Hakim
,
Andra Fembriarto
,
Btari Chinta
,
Dea Ananda
,
Gandhi Fernando
,
horror
,
Indonesian Film
,
Khiva Iskak
,
Kiky Armando
,
Maryam Supraba
,
Orizon Astonia
,
Putri Ayudya
,
Vicky Ray
22 MENIT (2018)
Rasyidharry
22 Menit membuka cerita melalui paparan
rutinitas pagi hari karakternya. AKBP Ardi (Ario Bayu) beserta kehangatan
keluarganya, Firman (Ade Firman Hakim) si polisi lalu lintas yang mengatur
jalanan Thamrin di tengah kegamangan akibat pernikahannya dengan Sinta (Taskya
Namya) terancam batal, office boy bernama
Anas (Ence Bagus) yang berusaha membantu kakaknya, Hasan (Fanny Fadillah) mencari
kerja, juga Mitha (Hana Malasan) yang di sebuah cafe menantikan kedatangan
Dessy (Ardina Rasti). Semua berjalan damai, hingga pukul 10:40, terjadi ledakan
bom di persimpangan Sarinah.
Lalu layar menampilkan jam digital yang bergerak mundur beberapa
menit sebelum tragedi, memindahkan fokus menuju perspektif karakter lain.
Rupanya 22 Menit merupakan hyperlink cinema, atau setidaknya,
berusaha menjadi itu. Meminjam deksripsi Roger Ebert, hyperlink cinema yaitu tatkala tokoh-tokoh maupun rangkaian
peristiwa terjadi dalam kisah berlainan, namun koneksi atau pengaruh di antara
kisah-kisah itu perlahan diungkap, menyatukan segalanya. Sederhananya, struktur
satu ini adalah penyatuan kisah yang (awalnya) terpisah memakai satu benang
merah.
Terinspirasi tragedi bom Sarinah pada 14 Januari 2016, hyperlink sejatinya merupakan bentuk yang tepat, mungkin
malah paling efektif untuk menggambarkan bahwa korban yang berasal dari beragam
kalangan, terhubung dalam satu pengalaman kolektif. Bahwa di tengah kekacauan
tersebut, ada individu-individu yang menyimpan cerita, atau dalam konteks
naskah buatan Husein M. Atmodjo (Parts of
the Heart, Midnight Show) dan Gunawan Raharjo (Jingga), sosok tercinta masing-masing. Perspektif itu berpotensi
memberi dampak emosional kuat, sebab terdapat hal spesial, misterius, bahkan “ajaib”
seputar pengalaman kolektif yang terwujud melalui kebetulan yang diprakarsai
takdir.
Sayang, naskahnya gagal mempresentasikan pengalaman kolektif
itu, atau menilik kegunaan hyperlink
cinema, tautan yang mestinya ada justru tiada. Ketimbang merekatkan,
eksekusi 22 Menit justru kacau nan membuyarkan.
Fokus lemah menjadi sebab. Daripada menyoroti tokoh atau lingkup waktu tertentu
di tiap “segmen”—yang dipisahkan hitung mundur jam digital—alurnya bak produk
campur aduk asal terhadap sederet plot sampingan. Sulit menyebut secara pasti,
karakter atau situasi mana yang di satu titik tengah dijadikan fokus (kalau
fokus itu sendiri dipunyai filmnya). Dalam hyperlink,
tentu fatal andai “link”-nya sendiri
hilang, yang di film ini turut menyebabkan raibnya jembatan antara cerita
dengan perasaan penonton.
Hanya subplot Hasan-Anas yang cukup berkesan, itu pun bukan
berkat skrip, tetapi karena seperti dalam Guru
Ngaji, Ence Bagus menampilkan sensitivitas. Matanya menyuarakan keresahan.
Sisanya hampa, terlebih Mitha dan Dessy. Kita tak tau siapa mereka, tidak pula berbagi
momen personal dengan keduanya. Kesannya, para penulis naskah yang sudah
terjebak di jeratan benang kusut buatan sendiri, alih-alih coba merapikan
justru menambah jalinan benang lain.
Didukung penuh pihak kepolisian, film panjang kedua produksi
Buttonijo Films setelah Another Trip to
the Moon (2015) ini memiliki production
value plus penanganan aksi yang tidak main-main. Prosedur anti-terorisme
ditampilkan, beberapa helikopter diterjunkan, detail properti-properti lain pun
solid. Apalagi 22 Menit diambil di
lokasi asli, di mana pengambilan gambar dilakukan tiap akhir minggu selama
sebulan. Namun itu berakhir sebatas kemewahan kulit luar ketika duo sutradara,
Eugene Panji (Naura & Genk Juara the
Movie) dan Myrna Paramita kurang cakap memaksimalkan modal di atas untuk
menghasilkan gelaran aksi intens. Tidak buruk, tapi melihat sumber daya miliknya,
wajar jika saya berharap lebih, meski Ario Bayu tentu saja tidak mengecewakan,
tampak meyakinkan memerankan polisi tangguh nan pemberani yang mengangkat
senjata.
Pada departemen musik, Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven) telah berusaha menyerbu telinga
penonton melalui dentuman mendebarkan plus horn
megah ala Hans Zimmer, tapi aksinya tidak pernah mencapai klimask. Pun tak
berlebihan bila menyebut 22 Menit
sebagai film nihil klimaks. Pertempuran polisi melawan teroris berakhir saat mayoritas
penonton rasanya mengira filmnya masih menyimpan amunisi lebih, dan memang
seharusnya demikian. Tapi tidak. Baku tembaknya tampil pendek dalam durasi
keseluruhan yang juga pendek (71 menit), kemudian memberi ruang bagi epilog
yang melompat dari fokus utama (peristiwa terorisme 14 Januari), yang dibuat
hanya untuk menggambarkan gerak cepat dan kesigapan polisi memberantas antek
terorisme sampai ke akarnya. Singkatnya, pembangunan citra. Terdengar voice over Vincent Rompies (tampil
singkat selaku cameo) di siaran radio
yang terasa melankolis, syahdu, manis tapi pahit. Momen itu seharusnya
dijadikan penutup.
Juli 18, 2018
Action
,
Ade Firman Hakim
,
Andi Rianto
,
Ardina Rasti
,
Ario Bayu
,
Ence Bagus
,
Eugene Panji
,
Fanny Fadillah
,
Gunawan Raharjo
,
Husein M. Atmodjo
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Myrna Paramita
,
REVIEW
,
Taskya Namya
Langganan:
Postingan
(
Atom
)












