Tampilkan postingan dengan label Eric Tiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eric Tiwa. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SAYAP-SAYAP PATAH

Saya ingat betul suasana kala kerusuhan pecah selama 36 jam di rutan Mako Brimob Kelapa Dua, pada 8-11 Mei 2018. Walau cuma mengikuti perkembangan lewat berita di media sosial dan televisi, ada perasaan mencekam yang teramat kuat. Bagaimana tidak? Para napi terorisme menguasai tempat mereka ditahan, yang juga markas penegak hukum. That sounds like hell on earth. 

Sebuah peristiwa yang sangat "film material", namun alih-alih melahirkan suguhan intens sekaligus emosional, Sayap-Sayap Patah lebih seperti usaha seadanya (kalau tak mau disebut "malas"), yang asal memakai kerusuhan tersebut, semata sebagai alat jualan. 

Jangan salah, saya tahu maksud pembuatannya apa. Saya tidak naif dan mengharapkan penelusuran mendalam nan kompleks atas peristiwanya. Sayap-Sayap Patah adalah presentasi kepahlawanan polisi sekaligus kampanye anti-terorisme, yang bahkan kurang berhasil menjalankan tugasnya. 

Bereuni dengan sutradara Rudi Soedjarwo sejak Ada Apa Dengan Cinta? 21 tahun lalu, Nicholas Saputra memerankan Aji, anggota Densus 88 yang bertugas memberantas pelaku terorisme di Surabaya. Salah satu rekan Aji diperankan oleh Revaldo. Tahukah kalian bahwa ini kali pertama dua pemeran Rangga (versi film dan sinetron) tampil bersama? Andai reuni serta pertemuan perdana itu terjadi dalam film yang lebih baik.

Target operasi Aji adalah Leong (Iwa K), yang telah banyak merekrut teroris. Perburuan itu menyita banyak waktu Aji, sehingga ia jarang menemani sang istri, Nani (Ariel Tatum), yang tengah hamil tua. Di satu titik Nani memilih pulang ke Jakarta untuk tinggal bersama ibunya (Dewi Irawan) akibat rasa cemas yang mengancam kesehatan kandungannya. Selepas sukses meringkus Leong, barulah Aji menyusul Nani ke Jakarta. Naas, tepat sebelum Nani melahirkan, sekaligus hari pertama Aji bekerja di Mako Brimob, terjadi kerusuhan. Di bawah arahan Leong, para napi mengamuk, menyandera, bahkan membunuh polisi. 

Paragraf di atas menjabarkan alur filmnya sampai sekitar 30 menit terakhir, sebab baru di situlah Sayap-Sayap Patah mulai memaparkan kerusuhan yang jadi sumber inspirasinya. Saya menyebut "30 menit", tapi itu termasuk pembangunan awal dan konklusi. Jika cuma menghitung momen kerusuhan pecah, maka hanya sekitar 20 menit, dari total durasi 110 menit. 

Menjadikan kerusuhan sebagai third act semata sejatinya bukan masalah. Saya bisa berargumen kalau perisitwa itu punya cukup bahan untuk melahirkan satu film utuh, tapi itu berarti saya mengharapkan hal yang bukan jadi tujuan filmnya. Pun bukankah prinsip "quality over quantity" dapat diterapkan? Tapi bahkan eksekusinya terkesan ala kadarnya. Seolah para pembuatnya berpikir, "Ah yang penting ada sekuen kerusuhan". 

Di fase itu Iwa K sebagai teroris intimidatif, dan Nugie sebagai komandan Mako Brimob yang selalu tenang kala menginterogasi penjahat, sama-sama tampil mengesankan. Lebih mengesankan dibanding Nicholas Saputra yang.....well, memerankan Nicholas Saputra. Tapi semuanya terlalu buru-buru. Mendadak dimulai, mendadak usai. Mengubah teror 36 jam menjadi tak sampai semalam sama sekali tidak membantu. 

Kelemahan naskah buatan Monty Tiwa, Eric Tiwa, dan Alim Sudio itu sebenarnya dapat tertolong andai Rudi Soedjarwo menambalnya lewat pengadeganan intens. Sayangnya tidak. Rudy tak mampu menghadirkan gambar-gambar mencekam, sebagaimana ia gagal mengemas aksi dalam sekuen penggerebekan Leong, yang penuh kamera shaky dan koreografi baku tembak clumsy. Tidak mengejutkan. Kapan terakhir kali Rudi merilis film bagus? 

Presentasi dramanya bernasib sedikit lebih baik. Biarpun kerap diganggu oleh sulitnya mendengar ucapan karakter (kadang akibat tata suara buruk, kadang artikulasi pemain yang buruk, kadang keduanya), ada gagasan menarik soal "tiada satu pun yang siap kehilangan". Rudi juga lebih nyaman mengarahkan drama, yang nampak dari timbulnya beberapa guratan emosi. Musik gubahan Andi Rianto turut berkontribusi menambah rasa, walau ada kalanya, lagi-lagi akibat kurang apiknya penataan suara, volumenya terdengar berlebihan. 

Sebagai kampanye anti-terorisme, Sayap-Sayap Patah diawali dengan menjanjikan. Terjadi ledakan bom di kantor lama Aji, dan menyaksikan mayat bergelimpangan bersimbah darah, diiringi tangisan anak kecil, ampuh untuk membuat penonton mengutuk para teroris, yang melakukan aksi biadab dengan kedok "perjuangan menuju surga". 

Tapi apa motivasi Leong menguasai Mako Brimob?. Di kisah aslinya, baik versi polisi maupun napi, sama-sama menyebut bahwa kerusuhan dipicu amarah narapidana. Sedangkan di film, aksi itu telah direncanakan jauh-jauh hari. Bukan tindak impulsif selaku luapan emosi. Saya paham, mungkin pembuat filmnya ingin menghindari potensi penggambaran negatif polisi sekaligus menegaskan kebengisan teroris, namun melihatnya dari kacamata penceritaan, itu merupakan lubang mengaaga. 

POCONG THE ORIGIN (2019)

Pocong the Origin, selaku (meminjam istilah Monty Tiwa) “reinkarnasi” Pocong (2006) yang dilarang tayang oleh LSF karena dianggap membangkitkan luka lama  terkait tragedi 1998 (konon film ini dibuat berdasarkan naskah sama), berusaha mencampur elemen horor dengan komedi, mengingatkan akan judul-judul legendaris Suzzanna. Tapi ada satu masalah besar: filmnya gagal tampil menyeramkan.

Adegan pembukanya menjanjikan, kala pembunuh berantai bernama Ananta (Surya Saputra) sedang menanti waktu eksekusi sambil mendengarkan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama milik Sundari Soekotjo. Saya menyukai keputusan film ini memakai nomor-nomor keroncong, yang di balik keindahannya sebagai karya seni, menyimpan mistisisme yang dapat menciptakan kengerian bila digunakan secara tepat.

Selepas dieksekusi, jenazah Ananta mesti dimakamkan di kampung halamannya sebelum lewat 24 jam. Jika tidak, ilmu banaspati yang ia miliki akan terus bangkit. Karenanya, Sasthi (Nadya Arina), puteri tunggal Ananta yang hidup menyendiri di bawah tekanan sosial akibat status sang ayah, ditemani Yama (Samuel Rizal) si sipir penjara, mesti mengantar jenazah itu, dalam sebuah perjalanan penuh gangguan gaib.

Jalur menarik ditempuh Pocong the Origin, sebagai horor lokal langka (kalau bukan satu-satunya) yang meminjam unsur film road trip. Sayang, naskah besutan Monty bersama Eric Tiwa (Laskar Pemimpi, Barakati) tak cukup kreatif dalam menangani elemen tersebut, dan berujung melahirkan repetisi. Gangguan terjadi tiap Yama dan Sasthi menghentikan perjalanan, yang tidak pernah jauh dari dua hal, yakni antara Yama ingin kencing atau mobil yang rusak. Pun respon keduanya hampir selalu sama: membuka telepon genggam, lalu mengeluhkan hilangnya sinyal.

Seperti telah saya sebut, Pocong the Origin berniat menciptakan lagi sensasi horor-horor Suzzanna. Filmnya ingin memancing keriuhan penonton, di mana kita diharapkan berteriak histeris sembari tertawa lepas. Tawa bisa ditemukan berkat humor efektif berupa situasi jenaka saat tokoh-tokohnya dibuat tunggang langgang oleh penampakan hantu, namun teriakan ketakutan urung hadir.

Menolak mengeksploitasi jump scare pantas diapresiasi, tapi pilihan itu tak otomatis membuat terornya lebih berdampak. Padahal Monty adalah orang di balik adegan penampakan pocong paling mengerikan sepanjang masa di Keramat (2009). Bukan cuma itu, kali ini Monty sempat coba melakukan “reka ulang” terhadap adegan “keranda mayat” dari film tersebut, tapi gagal memproduksi intensitas serupa. Terlebih, bagi sebagian penonton, riasan bagi para hantu di momen tersebut mungkin bakal tampak menggelikan.

Sedangkan perihal membangun atmosfer melalui penerangan minimalis justru kerap menjadi bumerang. Tidak jarang adegan tampil terlampau gelap, meski harus diakui, gambar-gambar memikat masih bisa sesekali ditemukan, berkat kelihaian Anggi Frisca (Sekala Niskala, Negeri Dongeng, Night Bus) selaku penata kamera bermain cahaya.

Jajaran pemain berusaha maksimal, khususnya Samuel dan Nadya. Semenjak Target tahun lalu, Samuel mengambil jalur tepat bagi babak baru karir layar lebarnya, dengan menjauh dari peran “cowok keren”, dan berani memainkan sosok konyol. Di sini ia tampil menghibur, meski saya bingung, bagaimana bisa momen saat ia salah mengucap “mas” menjadi “mbak”, lolos dari penyuntingan. Sementara Nadya cukup solid memerankan gadis yang terjebak di konflik batin. Biarpun amat menyayangi sang ayah, ia tak bisa menyangkal  jika Ananta adalah pembunuh berantai. Sebuah dilema menarik yang tidak sanggup dipresentasikan secara memuaskan oleh naskahnya.

“Lawan” Nadya adalah Jayanthi (Della Dartyan), jurnalis yang diam-diam mengikuti Yama dan Sasthi demi memperoleh berita, sambil mengusung alasan personal karena sahabatnya merupakan salah satu korban Ananta. Ketimbang drama thought-provoking berupa gesekan argumen dua pihak berlawanan, kita hanya disuguhi debat kusir tanpa akhir maupun jiwa, tatkala hanya volume suara yang meninggi, bukan kadar emosi.

Sebagaimana nasib banyak horor belakangan baik dalam atau luar negeri, Pocong the Origin kesulitan menciptakan babak ketiga yang mumpuni. Setelah lama menanti, konfrontasi final ketika banaspati mencapai puncak kekuatan berkat keberadaan blood moon, malah berujung pertarungan canggung nan antiklimaks, yang gagal menangkap reputasi pocong sebagai salah satu hantu Indonesia paling mengerikan.