Tampilkan postingan dengan label Samuel Rizal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Samuel Rizal. Tampilkan semua postingan
TEMEN KONDANGAN (2020)
Rasyidharry
Kerapian. Saya sering menyinggung
aspek tersebut, menjadikannya salah satu landasan menilai keberhasilan film.
Tapi sebagai cabang seni, film bukan ilmu pasti. Ada kalanya, kekacauan (selama
disengaja) justru memperkuat suatu film. Temen
Kondangan selaku debut penyutradaraan Iip S. Hanan termasuk golongan
tersebut, sebab pada dasarnya, film ini memang mempresentasikan secara jenaka
kekacauan yang tercipta kala seseorang menghadiri pernikahan mantan kekasih.
Selebgram bernama Putri (Prisia
Nasution) tengah kebingungan kala menerima undangan pernikahan sang mantan, Dheni
(Samuel Rizal). Sebagai cara membuktikan keberhasilannya move on, Putri memutuskan datang. Masalahnya, Putri terlanjur
berprinsip bahwa haram hukumnya mendatangi pernikahan mantan tanpa membawa
gandengan. Padahal saat ini ia sedang melajang. Putri pun mulai mencari teman
kondangan. Beberapa nama masuk daftar incaran: Juna (Kevin Julio) si wedding crasher tersohor yang juga
sepupu si asisten, Sari (Chika Waode); Sang bos, Galih (Gading Marten); dan
Yusuf (Reza Nangin) si teman SMA yang diam-diam sudah lama menyukai Putri.
Berharap satu dari ketiga pria itu
bisa menemaninya, alangkah terkejutnya Putri sewaktu mereka semua sama-sama
datang. Menghadiri pesta pernikahan mantan saja sudah berpotensi menimbulkan
kekacauan, jadi bisa dibayangkan betapa runyam situasi film ini. Apalagi naskah
buatan Fauzan Adisuko (Bidadari Terakhir)
dan Rino Sarjono (Negeri 5 Menara,
Kuambil Lagi Hatiku) turut memberi ketiga pria itu masalah personal
masing-masing. Yusuf terlibat konflik dengan bandnya, Juna harus kejar-kejaran
dengan Angel (Imelda Therinne) dari pihak wedding
organizer, sementara Galih menyimpan sebuah rahasia.
Walau sekitar 80% filmnya cuma
mengambil latar gedung resepsi, itu tidak menghalangi terjadinya rentetan
masalah absurd yang muncul silih berganti. Penuhnya konflik memaksa Iip S.
Hanan memacu tempo filmnya. Penonton tak diajak berhenti sejenak guna meresapi
kisahnya, tapi justru di sini letak pesona Temen
Kondangan, walau sayangnya sistem kebut ini sepertinya juga diterapkan di
proses produksi dan pasca-produksi, mengacu pada beberapa bloopers yang terlihat jelas, seperti jumlah pengikut Instagram
seorang karakter berbeda dari yang disebutkan, hingga tombol “rekam” yang belum
dipencet pada adegan merekam video melalui handphone.
Cepat, tanpa basa-basi, kacau,
tetapi menyenangkan. Apalagi naskahnya dipersenjatai ide-ide komedi segar yang
enggan menahan diri untuk sesekali menghembuskan absurditas. Saya tak heran
kalau di satu titik, anda mengira film ini merupakan adaptasi webtoon. Ditambah lagi, jajaran
karakternya pun berwarna, sekaligus diperankan nama-nama yang mumpuni menangani
komedi. Prisia menampilkan salah satu performa paling menghibur sepanjang
karirnya sebagai selebgram yang mengobrankan keotentikan demi menyuapi ratusan
ribu pengikutnya di Instagram. Putri terjebak dalam berbagai situasi
memusingkan, di mana semakin gila situasi itu, semakin total pula usaha Prisia
mengocok perut penonton.
Kevin Julio punya kharisma sesosok playboy; Reza Nangin kembali membuktikan
jika ia sepantasnya menerima atensi lebih tinggi perihal sepak terjangnya di
industri film; dan Gading Marten? Tidak usah dipertanyakan. Menjadi bos aneh
yang kecanduan lagu Ular Berbisa milik
Hello, hampir semua polah maupun tutur katanya bisa memancing tawa. Sedangkan
dalam porsi kemunculan lebih kecil, Imelda Therinne sempat memperlihatkan satu
hal yang tak saya duga bakal dipunyai komedi semacam Temen Kondangan, yakni akting dramatik. Kevin, Reza, dan Imelda
merupakan tiga dari sekian banyak pelakon di industri film Indonesia yang
kualitasnya perlu lebih banyak diapresiasi.
Tapi seiring waktu, usaha mempresentasikan
kekacauan perlahan jadi bumerang. Filmnya bagai kehilangan kontrol diri, dan mulai
melahirkan kekacauan yang tak diniatkan terjadi, khususnya mencapai babak
ketiga. Keinginan menggila malah berujung menghilangkan fokus. Ketika
seharusnya proses Putri untuk move on sekaligus
menyadari bahwa selama ini ia terlalu menuruti pendapat orang (baca: netizen) sehingga terjebak dalam kepalsuan
dan keterpaksaan dirangkum, Temen
Kondangan malah mengalihkan fokus dengan memberi konklusi kepada karakter
lain.
Dampak emosi yang memang sudah
melemah saat studi karakter dan eksplorasi konflik dikorbankan demi komedi pun
akhirya makin tak tersisa. Tapi sesuai dengan tulisan di poster yang berbunyi “Rusuh
di bioskop....”, Temen Kondangan memang
hanya bertujuan memancing rusuh. Kerusuhan yang akan sangat memuaskan, selama
hiburan jadi satu-satunya yang anda cari.
Februari 02, 2020
Chika Waode
,
Comedy
,
Fauzan Adisuko
,
Gading Marten
,
Iip S Hanan
,
Imelda Therinne
,
Indonesian Film
,
Kevin Julio
,
Lumayan
,
Prisia Nasution
,
REVIEW
,
Reza Nangin
,
Rino Sarjono
,
Samuel Rizal
POCONG THE ORIGIN (2019)
Rasyidharry
Pocong the Origin, selaku (meminjam istilah Monty Tiwa) “reinkarnasi” Pocong (2006) yang dilarang tayang oleh
LSF karena dianggap membangkitkan luka lama
terkait tragedi 1998 (konon film ini dibuat berdasarkan naskah sama), berusaha
mencampur elemen horor dengan komedi, mengingatkan akan judul-judul legendaris
Suzzanna. Tapi ada satu masalah besar: filmnya gagal tampil menyeramkan.
Adegan pembukanya menjanjikan, kala
pembunuh berantai bernama Ananta (Surya Saputra) sedang menanti waktu eksekusi
sambil mendengarkan lagu Di Bawah Sinar
Bulan Purnama milik Sundari Soekotjo. Saya menyukai keputusan film ini
memakai nomor-nomor keroncong, yang di balik keindahannya sebagai karya seni,
menyimpan mistisisme yang dapat menciptakan kengerian bila digunakan secara
tepat.
Selepas dieksekusi, jenazah Ananta
mesti dimakamkan di kampung halamannya sebelum lewat 24 jam. Jika tidak, ilmu
banaspati yang ia miliki akan terus bangkit. Karenanya, Sasthi (Nadya Arina), puteri
tunggal Ananta yang hidup menyendiri di bawah tekanan sosial akibat status sang
ayah, ditemani Yama (Samuel Rizal) si sipir penjara, mesti mengantar jenazah
itu, dalam sebuah perjalanan penuh gangguan gaib.
Jalur menarik ditempuh Pocong the Origin, sebagai horor lokal
langka (kalau bukan satu-satunya) yang meminjam unsur film road trip. Sayang, naskah besutan Monty bersama Eric Tiwa (Laskar Pemimpi, Barakati) tak cukup
kreatif dalam menangani elemen tersebut, dan berujung melahirkan repetisi.
Gangguan terjadi tiap Yama dan Sasthi menghentikan perjalanan, yang tidak
pernah jauh dari dua hal, yakni antara Yama ingin kencing atau mobil yang
rusak. Pun respon keduanya hampir selalu sama: membuka telepon genggam, lalu
mengeluhkan hilangnya sinyal.
Seperti telah saya sebut, Pocong the Origin berniat menciptakan
lagi sensasi horor-horor Suzzanna. Filmnya ingin memancing keriuhan penonton,
di mana kita diharapkan berteriak histeris sembari tertawa lepas. Tawa bisa
ditemukan berkat humor efektif berupa situasi jenaka saat tokoh-tokohnya dibuat
tunggang langgang oleh penampakan hantu, namun teriakan ketakutan urung hadir.
Menolak mengeksploitasi jump scare pantas diapresiasi, tapi
pilihan itu tak otomatis membuat terornya lebih berdampak. Padahal Monty adalah
orang di balik adegan penampakan pocong paling mengerikan sepanjang masa di Keramat (2009). Bukan cuma itu, kali ini
Monty sempat coba melakukan “reka ulang” terhadap adegan “keranda mayat” dari
film tersebut, tapi gagal memproduksi intensitas serupa. Terlebih, bagi
sebagian penonton, riasan bagi para hantu di momen tersebut mungkin bakal
tampak menggelikan.
Sedangkan perihal membangun
atmosfer melalui penerangan minimalis justru kerap menjadi bumerang. Tidak
jarang adegan tampil terlampau gelap, meski harus diakui, gambar-gambar memikat
masih bisa sesekali ditemukan, berkat kelihaian Anggi Frisca (Sekala Niskala, Negeri Dongeng, Night Bus)
selaku penata kamera bermain cahaya.
Jajaran pemain berusaha maksimal,
khususnya Samuel dan Nadya. Semenjak Target
tahun lalu, Samuel mengambil jalur tepat bagi babak baru karir layar
lebarnya, dengan menjauh dari peran “cowok keren”, dan berani memainkan sosok
konyol. Di sini ia tampil menghibur, meski saya bingung, bagaimana bisa momen
saat ia salah mengucap “mas” menjadi “mbak”, lolos dari penyuntingan. Sementara
Nadya cukup solid memerankan gadis yang terjebak di konflik batin. Biarpun amat
menyayangi sang ayah, ia tak bisa menyangkal
jika Ananta adalah pembunuh berantai. Sebuah dilema menarik yang tidak
sanggup dipresentasikan secara memuaskan oleh naskahnya.
“Lawan” Nadya adalah Jayanthi
(Della Dartyan), jurnalis yang diam-diam mengikuti Yama dan Sasthi demi
memperoleh berita, sambil mengusung alasan personal karena sahabatnya merupakan
salah satu korban Ananta. Ketimbang drama thought-provoking
berupa gesekan argumen dua pihak berlawanan, kita hanya disuguhi debat kusir
tanpa akhir maupun jiwa, tatkala hanya volume suara yang meninggi, bukan kadar
emosi.
Sebagaimana nasib banyak horor
belakangan baik dalam atau luar negeri, Pocong
the Origin kesulitan menciptakan babak ketiga yang mumpuni. Setelah lama
menanti, konfrontasi final ketika banaspati mencapai puncak kekuatan berkat
keberadaan blood moon, malah berujung
pertarungan canggung nan antiklimaks, yang gagal menangkap reputasi pocong
sebagai salah satu hantu Indonesia paling mengerikan.
April 19, 2019
Anggy Frica
,
Della Dartyan
,
Eric Tiwa
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Monty Tiwa
,
Nadya Arina
,
REVIEW
,
Samuel Rizal
,
Surya Saputra
TARGET (2018)
Rasyidharry
Target lebih bagus daripada Hangout (2016). Sesama komedi meta di mana para aktor memerankan diri
sendiri bercampur misteri whodunit, proses
Raditya Dika mempermainkan image
jajaran pemainnya di Target jauh
lebih berhasil. Dia memberi Cinta Laura kesempatan jadi sosok paling tangguh. Dia memberi penokohan tak terduga kepada Willy
Dozan dan Samuel Rizal yang tak pernah
kita kira ingin kita lihat. Tapi kita ingin melihat Ria Ricis kena batunya
akibat lawakan-lawakan tak lucu ciri khasnya, dan Radit pun memberikan itu. Walau
Hangout juga bermain-main dengan image dunia nyata itu, dalam Target peran mereka signifikan dan punya
momen puncak masing-masing. Radit menepi, membiarkan sorotan terbagi rata,
membuka kesempatan bagi humor yang lebih variatif. Alhasil, jadilah film soal ensemble cast, bukan “Radit dan
kawan-kawan”.
Kredit pembukanya langsung menggigit lewat desain grafis yang
mengingatkan akan karya-karya Saul Bass yang jadi langganan Alfred Hitchcock.
Pun ditambah musik suspense garapan
Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990,
Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) aroma Hitichcockian
seketika merebak, mengawali pertemuan sembilan selebritis yang bermain bersama
dalam film berjudul Target: Raditya
Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir,
Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli. Mengharapkan proses cepat nan mudah
selama sehari, para pesohor ini justru mendapati diri mereka tengah dikurung sosok
misterius bertopeng bernama Game Master di sebuah gedung kosong. Bukan itu
saja, mereka dipaksa melakukan berbagai permainan maut sembari direkam
gerak-geriknya melalui kamera yang tersebar di tiap sudut gedung. Game Master
ingin menciptakan film yang nyata, dengan konflik nyata, serta kematian nyata.
Penjahat bertopeng, perangkap dengan perintah dilematis yang
memaksa para korban mengorbankan diri sendiri atau orang lain, praktis Target adalah modifikasi dari Saw. Hanya saja tiada peralatan canggih
dengan cara kerja rumit, karena perangkapnya monoton, cuma “lubang lantai” dan
pistol. Hanya ada hidup atau mati, tanpa ada kehilangan bersifat parsial. Dampaknya,
saat seseorang meregang nyawa, momen itu cuma numpang lewat. Apalagi
karakternya menganggap kematian-kematian itu bak angin lalu. Terdapat beberapa
adegan perkelahian dengan eksekusi kurang meyakinkan, canggung, meski salah
satunya membuat Cinta Laura terlihat badass
sementara satu momen lain bakal membuat penonton bersorak, khususnya bagi yang
menghabiskan masa kecil bermain peran sebagai tokoh-tokoh dalam sinetron laga Deru Debu (1994-1996) seperti saya.
Perangkapnya memang bersifat sekunder. Bagaimana para korban
menyikapi perangkap itulah yang diutamakan. Karena bukan slasher yang bergerak secara “kill-and-run”,
Target mampu menjalin dinamika
tersebut. Willy Dozan si legenda laga diubah jadi pria genit yang membenci
kekerasan dan berjualan obat anti-wasir. Samuel Rizal yang rasanya seumur hidup
terjebak oleh typecast Adit si pria
keren dalam dua film Eiffel...I’m In Love
tampil memparodikan image itu,
sebagai pria yang bangga atas status selebritisnya dan acap kali bertingkah
bodoh karenanya. Dari situ komedinya bisa bekerja. Kita suka melihat seseorang
memerankan sosok yang berlawanan dengan tipenya. Ada satu potensi lain, yakni Anggika
Bolsterli sebagai aktris yang mengkhawatirkan tampang selaku asetnya,
sayang opsi itu urung dimanfaatkan. Menyenangkan melihat nama-nama di atas
memperoleh fokus besar, sebab “dick jokes”
murahan jelas terdengar lebih lucu saat dilontarkan Samuel Rizal ketimbang
Raditya Dika dengan gaya yang kita sudah hafal betul.
Apakah Target film
pintar? Tentu tidak. Beberapa permainan mautnya tidak diberi aturan pasti, yang
mengakibatkan intensitas minimalis, dan saat permainan itu dikaitkan dengan
motif pelaku yang diungkap di paruh akhir, modus operandinya menyisakan setumpuk
pertanyaan di ranah logika pula menghadirkan kesan penggampangan. Radit enggan
repot-repot memikirkan segenap detail tadi, terpenting ada permainan misterius
plus twist soal pelaku. Mungkin kesederhanaan
pikir itu yang ada di kepalanya. Tapi berkat kesederhanaan itu, Radit lebih
mudah menjalin konstruksi yang rapi. Dia menyempatkan diri menebar petunjuk, sehingga
walau ditempatkan bukan dengan cara yang memancing keterlibatan penonton memecahkan
teka-teki, tatkala jawaban diungkap, poin-poinnya saling terhubung,
meninggalkan saya dengan rasa puas ketimbang kesan tiba-tiba nan dipaksakan.
Mengapa lagi-lagi Raditya Dika membuat meta whodunit? Entahlah.
Mungkin ia tidak puas dengan eksperimen perdananya dua tahun lalu, mungkin dia
memang mencintai konsep itu, atau mungkin sekedar “cari gampang” karena dia
tidak perlu menciptakan karakter (plus lelucon) yang sepenuhnya baru, melainkan
cukup sedikit menggali lalu memparodikan image
jajaran nama-nama tenar. Namun berapa banyak sineas kita berani menjamah ranah
itu? Tidak banyak. Berapa banyak film liburan secara umum, atau lebaran secara
khusus, yang bersedia melangkah ke sana alih-alih mengangkat konsep familiar
macam horor dan sajian religius? Jauh lebih sedikit. Saya akan menyambut
gembira jika Raditya Dika terus kembali lewat eksperimennya.
Juni 11, 2018
Abdur Arsyad
,
Andhika Triyadi
,
Anggika Bolsterli
,
Cinta Laura Kiehl
,
Comedy
,
Hifdzi Khoir
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
Raditya Dika
,
REVIEW
,
Ria Ricis
,
Romy Rafael
,
Samuel Rizal
,
Thriller
,
Willy Dozan
EIFFEL...I'M IN LOVE 2 (2018)
Rasyidharry
Eiffel...I’m In Love 2 adalah produk budaya Indonesia
terkait pernikahan. Pernyataan “Menikah jangan ditunda-tunda” atau pertanyaan “Kapan
nikah?” pun jamak mampir di telinga kita, termasuk telinga Tita (Shandy Aulia).
Bayangkan, sudah 12 tahun ia berpacaran dengan Adit (Samuel Rizal) tapi bahtera
rumah tangga tak kunjung ditempuh. Bagi kebanyakan masyarakat kita, itu
permasalahan besar. Bagi Tita, menanti kalimat “will you marry me?” dari Adit makin lama makin meresahkan. Apakah Adit
benar-benar serius menjalani hubungan? Tita kerap mempertanyakan itu.
Sedangkan saya mempertanyakan “Apakah filmnya mampu mengolah
isu kekinian yang kompleks tersebut?”. Alkisah 12 tahun pasca film pertama,
Adit dan Tita masih menjalani LDR dengan bentuk interaksi serupa: bertengkar,
bertengkar, dan bertengkar. Tita yang manja dan selalu merengek, Adit yang
ketus dan galak. Sekilas mereka tidak berubah. Tapi sejatinya ada perubahan
besar yang menggiring Eiffel...I’m
In Love 2 berpindah jalur dibandingkan pendahulunya, yakni status pacaran dua tokoh utama.
Konon setelah berpacaran, romantisme berkurang, hubungan lebih
hambar serta gampang ditebak. Eiffel...I’m
In Love 2 terjangkit hal serupa. Elemen kejutan dalam dinamika Adit-Tita memudar,
sedangkan konfliknya terjerumus keklisean seputar kesalahpahaman yang mestinya
dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Pertengahan durasi praktis sekedar
diisi jalan-jalan berkeliling Paris sembari diselingi rutinitas obrolan
berujung pertengkaran. Obrolan dangkal sekaligus repetitif yang urung dipakai
menggali isu pernikahan yang diangkat.
Beruntung chemistry
Shandy Aulia dan Samuel Rizal kian rekat, hingga efektif menyunggingkan senyum
di bibir penonton. Samuel yang semakin matang tidak lagi datar saat
menyampaikan dialog, sementara Shandy adalah sumber tenaga filmnya. Keduanya
menyatu bersama warna-warna lembut dari kamera Yunus Pasolang serta lagu-lagu catchy Melly Goeslaw, menciptakan rasa manis
guna menebus usaha pendewasaan cerita yang belum dibarengi naskah mendalam
maupun kecanggungan Rizal Mantovani membungkus sederet adegan komedi.
Kekurangan naskah buatan Donna Rosamayna tampak dalam
penokohan yang inkonsisten bila disandingkan dengan usungan tema. Eiffel...I’m In Love 2 coba merobohkan
anggapan “lebih cepat menikah lebih baik”. Pola pikirnya kekinian, tetapi diisi
tokoh-tokoh macam Adit dan Bunda (Hilda Arifin) yang kolot pula mengekang. Khususnya
Bunda. Di film pertama, sikapnya masuk akal mengingat Tita merupakan gadis 15
tahun sekaligus anak bungsu. Bermaksud membangun kontinuitas, hasilnya justru karakter
yang seolah tak berkembang seiring waktu.
Pesan agar tak menggampangkan pernikahan memang relevan pada
era saat banyak orang buru-buru menikah karena dipandang selaku solusi
permasalahan (yang justru memancing masalah lebih besar kala minim persiapan). Andaikan pesan itu disampaikan bertahap sembari menyertakan gambaran nyata ketimbang diringkas di penghujung dan cuma berbentuk
petuah. Kekurangan Eiffel...I’m In Love 2
jelas menumpuk. Saya akan mengingatnya sebagai film buruk kalau bukan
karena beberapa menit terakhir yang berisi ciuman romantis dan perbincangan
intim nan menyentuh. Konklusi itu bersifat krusial. Bisa menghancurkan atau
melambungkan kualitas film. Eiffel...I’m
In Love 2 termasuk golongan kedua.
Februari 16, 2018
Cukup
,
Donna Rosamayna
,
Hilda Arifin
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Romance
,
Samuel Rizal
,
Shandy Aulia
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









