REVIEW - A PERFECT FIT
Pertemuan tak sengaja yang diawali oleh ramalan, percintaan yang terhalang takdir dan kehendak keluarga, sosok orang ketiga yang jauh lebih baik dari sang kekasih, semua adalah formula pokok, bahkan bisa disebut klise, dalam kisah romansa. Tokoh utama A Perfect Fit pun menyadari, nasibnya serupa dengan keklisean film.
Kata "klise" memang jarang disebut bersamaan dengan nama Garin Nugroho, yang menulis naskah A Perfect Fit, sementara Hadrah Daeng Ratu menjadi sutradara. Tapi patut diingat, belum lama ini Garin juga menulis naskah untuk 99 Nama Cinta (2019) buatan Danial Rifki. Sebuah film religi pop, yang menghadirkan sudut pandang berbeda, pula jauh lebih baik bila dibanding rekan-rekan sejawatnya. Mungkinkah A Perfect Fit bernasib sama?
Mengambil latar Bali yang identik dengan spiritualitas, Garin berupaya menautkan romansanya ke elemen tersebut. Bagaimana pertemuan dua insan merupakan wujud restu semesta, lalu sebaliknya, perpisahan (disebabkan ketidakcocokan weton misalnya) terjadi karena alam tidak mendukung. Sehingga saat Saski (Nadya Arina) diramal bakal menemukan "jalan baru" oleh Bu Hadrah (Christine Hakim), ramalan itu dimaknai sebagai perwakilan suara semesta.
Alhasil, sewaktu Saski berhenti di sebuah toko sepatu, sementara kamera menyorot sajen yang terletak di depannya, itu nampak bak kehendak alam, bukan kebetulan biasa. Kebetulan, Saski memerlukan sepatu baru guna menghadiri perayaan ulang tahun pacarnya, Deni (Giorgino Abraham). Rio (Refal Hady) selaku pemilik toko memilihkan sepasang sepatu, beralasan bahwa sepatu itu "sesuai dengan karakter Saski". Kenapa? Sayangnya tidak dijelaskan. Padahal penjabaran terkaitnya, akan memperkuat pemaknaan soal "a perfect fit".
Bisa ditebak, Saski dan Rio saling jatuh cinta, di saat sebenarnya, mereka telah "ditakdirkan" untuk bersama orang lain. Saski dan Deni telah bertunangan, pun Rio hendak dijodohkan dengan teman lamanya, seorang pebisnis sukses bernama Tiara (Anggika Bolsterli). Kita pun diajak menghabiskan paruh pertama, menyaksikan berkembangnya hubungan "terlarang" Saski dan Rio yang mulai diam-diam bertemu.
Apa yang menyenangkan dari A Perfect Fit (yang membuatnya bisa disebut "A Perfect Flirt) adalah aktivitas saling goda dua tokoh utama. Dua manusia yang sudah mengetahui perasaan satu sama lain, namun karena menyadari bahwa rasa itu tidak semestinya tumbuh, alih-alih mengutarakannya secara gamblang, mereka cuma saling melempar "tanda". Tidak hanya percintaan manis, sexual tension (salah satu ciri khas Garin) pun tersirat di antara mereka. That's what a fun affair feels like in real life.
Refal Hady makin berkarisma, memudahkan kita mendukung kemenangannya, pula mampu mengatasi beberapa rayuan gombal "puitis" yang tak jarang terdengar menggelikan (satu lagi ciri khas Garin, namun kali ini terasa tidak cocok diterapkan di sini). Sedangkan penampilan loveable Nadya Arina membuat saya berharap suatu hari ia mendapat peran di film komedi romantis. Sebelumnya ia pernah bermain di Love Reborn (2018), namun karakternya di situ cenderung serius. Begitu kuat dan menyenangkan chemistry Refal-Nadya, filmnya mengalami penurunan kualitas kala keduanya lebih sering berpisah di paruh kedua.
Proses pertunangan mereka terus berjalan, yang semestinya menambah dilema, tapi sayangnya A Perfect Fit terjebak dalam keklisean, di mana lawan asmara tokoh utama digambarkan sebagai antagonis. Beni adalah anak orang kaya sombong nan manja, pun Tiara merupakan bos yang semena-mena. Sebuah simplifikasi, yang membuat second act-nya melelahkan, sebab selain sudah mengetahui hasilnya, penonton tidak perlu terjebak dalam dilema dua protagonis. Kita tidak perlu ikut repot menentukan pilihan.
Mungkin Garin ingin menyelipkan kritik terhadap kekejaman kapitalisme yang diusung pengusaha rakus, yang mana sah saja, tapi mengapa mesti keduanya diberi penokohan tersebut? Khususnya Tiara, apalagi saat akhirnya kita diajak bersimpati padanya. Tanpa menjadikannya pengusaha keji, itu akan sepenuhnya berhasil, sebab Anggika Bolsterli, setelah absen hampir dua tahun (terakhir muncul di Eggnoid yang rilis Desember 2019), membuktikan bahwa ia masih pantas berada di jajaran aktris muda papan atas lewat kapasitasnya bermain emosi.
Kekurangan-kekurangan A Perfect Fit memang terkumpul di babak keduanya. Di penulisan, ada inkonsistensi terkait pesan, ketika di satu sisi Garin seolah ingin mengkritik seksisme dalam praktik pengecekan keperawanan di malam pertama, namun di sisi lain, malah memunculkan kalimat mengenai "perempuan harus menerima kodratnya". Di penyutradaraan, Hadrah yang karirnya mengkhawatirkan pasca membesut horor-horor produksi Baginda KKD, membuktikan masih punya sensitivitas menangani romantisme. Meski pada sebuah momen, gayanya terasa kurang cocok menerjemahkan naskah khas Garin.
Adegan yang dimaksud adalah sewaktu ibu Saski (Ayu Laksmi) yang mengalami sakit parah, melakukan gerakan pernapasan, sementara suaminya (I Made Sidia) membaca mantra/doa. Jika ditangani sendiri oleh Garin, kemungkinan besar musik tradisional bakal digunakan. Hadrah memakai orkestra mendayu, yang justru melucuti spiritualitas adegannya. Beruntung, setelah deretan kelemahan-kelemahan di atas, A Perfect Fit mampu menutup penceritaan secara romantis, lagi-lagi berkat kombinasi manis Refal Hady dan Nadya Arina.
Available on NETFLIX
REVIEW - NONA
“Perjalanan adalah sebuah proses
untuk mengerti”, ucap Nona (Nadya Arina) saat mengakhiri kisahnya. Nyatanya,
sulit mengerti apa yang coba disampaikan filmnya, maupun proses apa yang
dilalui karakternya. Saya kerap mendengar sebuah prinsip dari para pendaki,
bahwa “perjalanan lebih penting daripada destinasi”. Nona bak miskonsepsi atas prinsip tersebut, di mana destinasi
seolah dikesampingkan, sampai titik di mana tidak ada kejelasan.
Alkisah, terjalin persahabatan
antara Nona dengan Ogy (Augie Fantinus). Ogy selalu ada bagi Nona. Sejak kecil,
saat pertengkaran orang tua mengisi hari-harinya, hingga dewasa, ketika Nona
mulai menjalin romansa bersama pria lain, tanpa tahu kalau sang sahabat
diam-diam mencintainya. Lalu terjadilah tragedi. Ogy meninggal setelah terjatuh
dari gunung. Anggi Frisca (Negeri Dongeng)
selaku sutradara mengeksekusi momen tersebut dengan begitu meyakinkan,
melahirkan intensitas tinggi walau kemunculannya bisa ditebak, berkat minimnya “trik”
kamera serta penyuntingan.
Kehilangan itu menarik Nona, yang
sudah dihantam banyak masalah termasuk kekasihnya yang abusive, lebih jauh ke jurang depresi. Kemudian keajaiban terjadi.
Ogy kembali, namun dalam wujud boneka orang utan yang ia berikan kepada Nona
sebagai kado ulang tahun. Apakah itu memang keajaiban? Atau sebatas sistem
pertahanan diri Nona yang makin terguncang mentalnya? Filmnya tak memberi
jawaban gamblang, tapi naskah buatan Monty Tiwa menanam beberapa petunjuk yang
jelas mengarah ke satu sisi, yang juga menggambarkan dinamika psikis
protagonisnya.
Nona memutuskan membawa Ogy ke Azerbaijan,
guna mengunjungi pegunungan yang diduga sebagai lokasi terdamparnya kapal Nabi
Nuh. Muncul pertanyaan. Bagaimana Nona bisa semudah dan secepat itu memutuskan
pergi ke Azerbaijan? Kita tidak pernah tahu pekerjaannya, pun ia tak nampak
berasal dari keluarga kaya. Filmnya memilih menutup mata atas detail penokohan
tersebut.
Kembali soal kapal Nabi Nuh. Konon,
kapal itu membawa semua hewan di dunia, masing-masing sepasang. Nabi Nuh
menyelamatkan hewan-hewan itu dari akhir dunia. Nona pun ingin jadi penyelamat,
meski sejatinya, dialah yang perlu diselamatkan. Jadi perjalanan ke Azerbaijan
membahas tentang itu? Saya tidak yakin, sebab sepanjang durasi, kita lebih
sering melihat Nona terjebak dalam masalah-masalah yang dipicu penyimbulan terburu-buru,
sehingga ia tak sempat mengetahui realitanya (kabur setelah mengira sudah
menusuk penjaga toko, mencuri ayam akibat tidak memahami bahasa setempat).
Sebagai suatu road trip, film ini tak punya destinasi dan proses jelas. Alhasil
perjalanannya tak memunculkan dampak emosional. Dibantu sinematografi garapan
Yudi Datau, sekali lagi Anggi membuktikan kelihaian menangkap keindahan alam
melalui lanskap-lanskap memukau. Tapi keindahan itu terasa semu. Hampa. Semakin
jauh filmnya melangkah dan karakternya tersesat, penonton pun dibuat sama
tersesatnya.
Emosi kurang berhasil disalurkan,
salah satunya juga akibat humor yang tidak pada tempatnya. Benar bahwa Ogy
versi orang utan hadir guna menghibur Nona, tapi voice over Augie acap kali berlebihan melontarkan humor konyol,
termasuk pada saat tidak dibutuhkan sekalipun. Beruntung Nona punya Nadya Arina, yang di titik ini, sanggup mengangkat film
seorang diri. Tangisannya bakal menyesakkan dadamu, sedangkan senyumnya
membuatmu ingin Nona tiba di tempat yang lebih baik.
Available on DISNEY+ HOTSTAR
POCONG THE ORIGIN (2019)
KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)
LOVE REBORN: KOMIK, MUSIK & KISAH MASA LALU (2018)
Dari elemen estetika, sayangnya komik tak dipakai mempercantik tata visual sebagaimana musik kurang dimanfaatkan guna membangun emosi. Akad milik Payung Teduh membuat konklusinya manis, tapi itu lebih karena kekuatannya sebagai lagu yang berdiri sendiri ketimbang kejelian sutradara Jay Sukmo (Catatan Akhir Kuliah, The Chocolate Chance) mengawinkan bahasa visual dengan audio. Tambahan kreativitas—yang lebih dari sekedar mengumpulkan para cosplayer dalam pengadeganan canggung—bakal amat berguna bagi Love Reborn. Komik, musik, dan kisah masa lalu. Ada usaha menjadikan ketiganya terikat, walau akhirnya ikatan itu cuma berakhir di permukaan, alih-alih satu kesatuan yang saling mengisi tanpa bisa dipisahkan.











