Tampilkan postingan dengan label Ginanti Rona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ginanti Rona. Tampilkan semua postingan

REVIEW - STORY OF DINDA: SECOND CHANCE OF HAPPINESS

Saya menikmati Story of Kale: When Someone's in Love (2020) Mungkin lebih dari mayoritas penonton lain. Perlu dibuat? Tidak, namun tetap sebuah pelengkap solid bagi semesta Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, sekaligus bukti bukti kejelian Visinema mengembangkan waralaba. Story of Dinda: Second Chance of Happiness adalah kasus berbeda. 

Ibarat susu, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) diperah dengan teknik mumpuni, pula berasal dari sapi berkualitas, sementara Story of Kale menjadi upaya mengumpulkan sisa-sisa susu yang masih layak dikonsumsi. Tapi dalam Story of Dinda, susu itu benar-benar sudah kering, dan si pemerah tetap memaksa sampai si sapi mengerang kesaktikan, sembari ia mengais susu-susu yang berceceran di tanah. 

Menurut Angga Dwimas Sasongko, sejak awal Visinema memang berniat menuturkan cerita melalui dua perspektif. Menyaksikan hubungan tidak sehat antara Kale (Ardhito Pramono) dan Dinda (Aurelie Moeremans) dalam film sebelumnya, apa perlu ada penjabaran lain terkait alasan Dinda mengakhiri romansa mereka? Kalau iya, seberapa signifikan perspektif baru itu?

Rupanya di tengah konfliknya dengan Kale, Dinda bertemu dengan Pram (Abimana Aryasatya), teman Nina (Cantika Abigail), yang merupakan adik Argo (Arya Saloka), kekasih abusive Dinda di Story of Kale. Pram telah memiliki istri, tetapi pernikahannya bermasalah. Pram menyimpan rasa, begitu pun Dinda, yang belajar soal pentingnya kebahagiaan diri sendiri dari si pria karismatik. 

Ya, itu saja isi skenario buatan M. Irfan Ramli (Love for Sale, Generasi 90an: Melankolia, Story of Kale). Bisakah melahirkan eksplorasi mendalam mengenai hubungan maupun self-love? Tentu bisa, namun presentasinya amat dangkal. Tidak heran filmnya hanya berjalan selama 59 menit.

Dituturkan menggunakan alur non-linear, yang terus berpindah antara masa lalu kala Dinda dan Pram baru berkenalan, dan masa kini ketika Pram mengajak Dinda menjalani hidup baru bersamanya di Jerman. Mereka bicara, bicara, bicara, guna saling bertukar kegundahan.

Ada banyak obrolan, tapi minim dialektika. Pram mengajari Dinda agar mengejar kebahagian miliknya, Dinda membandingkan Kale yang posesif dengan Pram yang memberinya ruang kebebasan. Perbincangan stagnan di konteks-konteks tersebut, dikemas secara repetitif, bak sebuah sekuen 5-10 menit yang terus diulang dan dipaksa bergulir berkali-kali lipat lebih lama. 

Kenapa Dinda akhirnya mengakhiri hubungannya dengan Kale? Karena ia sadar, kebahagiaan miliknya juga penting, yang mana sudah Dinda pahami sejak paruh pertama film. Tidak ada tahapan-tahapan mengenai proses Dinda belajar memahami, kemudian menerima hal tersebut. Andai Story of Dinda dijadikan film pendek berdurasi 20 menit pun rasanya tidak ada perubahan berarti.

Saya sepenuhnya mendukung niat meraup keuntungan lewat waralaba. Lewat sekuel, spin-off, dan sebagainya. Saya pun beranggapan, bahwa suguhan OTT memang sebaiknya sederhana, singkat, sehingga dapat dinikmati sambil bersantai di rumah. Tapi Story of Dinda sudah melewati batas. Tidak berlebihan kalau disebut "keterlaluan".

Naskahnya dangkal, sedangkan di kursi sutradara, Ginanti Rona (Midnight Show, Anak Hoki) juga tak menambah kekuatan penceritaan (biarpun dengan materi yang didapatkan, rasanya bakal sulit untuk berbuat lebih). Satu-satunya penyelamat adalah duet Abimana-Aurelie. Interaksi mereka nyaman diikuti, kadang membuat saya lupa kalau obrolannya repetitif. Terutama Abimana, yang meski dua tahun absen berakting sejak Gundala, masih memikat lewat cara tutur "meneduhkan" khasnya. Abimana masih aktor Indonesia favorit saya, pun merupakan elemen terbaik film ini, tapi tolong, jangan buat Story of Pram jika pembuatannya mengais paksa sisa-sisa susu seperti ini. 


(Bioskop Online)

LUKISAN RATU KIDUL (2019)

Oh ya, Lukisan Ratu Kidul adalah film terbaik produksi Paduka Dheeraj Kalwani alias Baginda KKD. Walau status “terbaik “ di sini tingkatannya sama dengan menyebut “susu basi rasa cokelat punya rasa terbaik di antara semua susu basi”. Akhirnya tetap sakit perut kan? Kali ini Paduka menunjuk Ginanti Rona (Midnight Show, Anak Hoki) sebagai nahkoda. Berikutnya giliran Hadrah Daeng Ratu menyutradarai Malam Jumat The Movie. Berapa banyak lagi talenta berbakat akan Paduka coreng reputasinya?

Kisahnya mengetengahkan kakak beradik, Dimas (Teuku Zaky) dan Satria (Wafda Saifan), yang menerima warisan rumah dari mendiang sang ayah. Saat kecil dahulu, mereka sempat tinggal di sana, namun tak ada memori yang tersisa. Mereka berdua, beserta istri Dimas, Astrid (Ussy Sulistyawaty) dan sang puteri, Sandra (Annisa Aurelia), pun menetap sementara di rumah tersebut sembari memikirkan langkah selanjutnya.

Di tengah kebingungan itu, entah mengetahui kedatangan mereka dari mana, datanglah Kevin—diperankan Fadika Royandi lewat akting over-the-top memuakkan—menawarkan diri untuk mencarikan pembeli. Dimas yang kebetulan tengah dilanda kesulitan finansial pun setuju menemui klien Kevin, seorang kolektor lukisan Nyi Roro Kidul (Wawan Wanisar) buatan kakek Dimas, Rusdi Soedibyo (Egi Fedly), yang konon menyimpan kekuatan mistis sehingga dapat memberi keberuntungan bagi pemiliknya.

Sang kolektor mengaku, bahwa dulu ia meminta dibuatkan 13 lukisan, namun baru 12 buah yang ia terima. Dia pun yakin bahwa lukisan ketigabelas masih tersimpan di rumah Dimas, dan berani menawar 8 milyar rupiah guna menebusnya. Rasanya ingin saya menanyakan hal berikut kepada Husein M Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perjanjian Dengan Iblis) selaku penulis naskah: Kalau si kolektor memesan 13 lukisan pada Rusdi karena unsur magis di dalamnya, mengapa baru di lukisan terakhir Rusdi menemukan cara meniupkan kekuatan mistis pada karyanya?

Mungkin saya yang salah mengharapkan Lukisan Ratu Kidul memedulikan kesolidan narasi. Terlebih setelah sepanjang durasi, filmnya bertutur secara kasar, yang merupakan kombinasi penulisan janggal, penceritaan kasar sang sutradara, serta penyuntingan asal pasang. Acap kali tidak ada jembatan antar-adegan, sehingga mengesankan ada shot yang hilang ditelan Bumi sebagaimana hilangnya ibunda Dimas dan Satria.

Jangan harapkan pula penampilan jajaran pemain datang menyelamatkan situasi. Selain Fadika Royandi, memang tak ada akting “menyakitkan” lain, namun tidak pula pantas disebut memikat. Terkecuali aktor senior Wawan Wanisar (pemeran Pierre Tendean di Pengkhianatan G 30 S/PKI) lewat penghantaran kalimat paling natural, serta Annisa Aurelia, yang setidaknya, sebagai aktris cilik, cukup meyakinkan melakoni situasi di mana karakternya dihimpit teror.

Walau keseluruhan filmnya nyaris remuk redam, potensi Ginanti Rona sebagai sineas horor masih bisa disaksikan di beberapa kesempatan. Mengandalkan trik kemunculan hantu medioker, jump scare garapan Ginanti punya ketepatan timing yang sesekali efektif mengejutkan penonton meski kerap diganggu musik buatan Ricky Lionardi (Rectoverso, Danur 2: Maddah, Tembang Lingsir) yang lebih berisik daripada sound system konser dangdut RT sebelah.

Sejak alih persona menjadi Dheeraj Kalwani, saya memang mendapati kemajuan di produk-produknya, termasuk soal tata artistik yang bukan lagi sekelas Bandung Lautan Asmara. Hal serupa masih bisa ditemui di sini, kala lokasi indoor-nya digarap cukup solid, khususnya dominasi warna hijau selaku warna Kanjeng Ratu Kidul. Ya, sampai sebuah close-up shot memperlihatkan properti pisau yang kentara dibuat menggunakan aluminium foil. Di situ saya merasa cukup.

ANAK HOKI (2019)

Kalimat penutup di review saya untuk A Man Called Ahok berbunyi, “.....tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas tidak buruk”. Mungkin suatu hari film tersebut akan datang, tapi pastinya bukan berjudul Anak Hoki, yang kualitasnya tak berlebihan bila disebut memalukan. Patut dicatat, bahwa naskah buatan Ally Alexandra, yang sebelum ini malang melintang menulis skenario sinetron, menuturkan cerita fiksi.

Meski fiksi, penggunaan sosok nyata sebagai basis karakter mewajibkan penulis memahami dan menghargai semangat serta jiwa sosok tersebut. Saya berani bertaruh jika anda menyebut Basuki Tjahaja Purnama sebagai manusia sempurna, salah satu pihak yang paling keras menyanggah adalah BTP sendiri. Tapi di sini, Ahok (Kenny Austin) seolah tak punya kekurangan, rajin mengumbar petuah yang selalu jadi pemecah masalah. Kalau film ini berjudul Mario Teguh Golden Ways, saya akan maklum.

Anak Hoki dibuka lewat perkenalan pada Ahok kecil dan tiga sahabatnya, menyiratkan bahwa kisahnya bakal menyoroti masa kecil Ahok. Tapi tidak. Alurnya melompat ke beberapa tahun berselang, saat Ahok merantau ke Jakarta guna menempuh pendidikan SMA, kemudian kuliah. Lalu apa esensi mengenalkan persahabatan empat bocah tadi? Di pertengahan durasi, Ahok mendapati salah satu sahabatnya meninggal akibat sakit. Filmnya lalu menyuguhkan narasi berbunyi, “Selamat jalan sahabat...”, berusaha mengaduk emosi memakai kisah persahabatan yang bahkan tak pernah kita saksikan.

Naskahnya juga coba menciptakan paralel tak berguna antara sahabat masa kecil dan masa kini Ahok. Karena ternyata, di Jakarta, ia pun mempunyai dua kawan laki-laki serta satu perempuan (SUNGGUH KEBETULAN YANG LUAR BINASA!). Ada Bayu (Chris Laurent) si playboy, Daniel (Lolox) yang diam-diam mengambil jurusan memasak meski sang ibu (Tamara Geraldine) ingin dia menjadi pastor, dan Eva (Nadine Waworuntu) si gadis broken home yang merupakan pujaan hati Bayu.

Harus diakui, paruh pertama Anak Hoki berjalan cukup lancar sebagai komedi-drama remaja yang melibatkan berbagai elemen familiar, sebutlah romansa dan gesekan anak dengan orang tua seputar pilihan hidup. Tidak dipaparkan mendalam pun tanpa inovasi, namun setidaknya menghibur berkat bumbu komedi. Setelah sekian lama, Lolox akhirnya mampu memancing tawa saya, sebab kali ini ia bisa membedakan mana “lucu”, mana “menyebalkan”. Sedangkan Tamara Geraldine, walau memperoleh porsi minim, terbukti masih piawai berperilaku eksentrik.

Hingga tiba waktunya melangkah menuju ranah lebih serius, dan kecanggungan penceritaannya menguat, memancing kesan cringey tak tertahankan. Bahkan tersimpan twist menggelikan mengenai karakter Amora Rey (Maia Estianty), musisi idola Eva. Nama Amora pertama terdengar ketika Eva menyanyikan lagunya, lalu terkejut mengetahui Bayu pun mengenal sang penyanyi. Berdasarkan keterkejutan Eva, berarti Amora bukan bintang besar, setidaknya bukan dari industri arus utama, benar begitu? Keliru! Karena berikutnya, kita melihat para penggemar dan wartawan berebut masuk ke ruang press conference sembari mengelu-elukan namanya, dalam sebuah adegan yang luar biasa cringey hingga membuat saya di kursi penonton ikut malu.

Anak Hoki memang dipenuhi pemandangan canggung akibat pengadeganan minim kompetensi. Mengejutkan, mengingat film ini dibuat oleh Ginanti Rona, yang mengawali karir di posisi asisten sutradara dalam judul-judul macam Rumah Dara dan dwilogi The Raid, sebelum menjalani debut penyutradaraan lewat Midnight Show, sebuah slasher sarat unsur giallo. Kini saya makin khawatir terhadap nasib Lukisan Ratu Kidul (Well, it was produced by Lord KKD, so....).

Mendekati akhir, konflik yang tak pernah menjauhi tema kesalahpahaman cheesy makin dipaksa masuk. Bisa ditebak, segala problematika itu tuntas sekalinya Ahok melontarkan kalimat bijak. Ahok dengan semangat membara yang dicintai banyak orang tak nampak, digantikan remaja asing pemalu, kaku, pula tertutup, yang dibawakan dengan membosankan oleh Kenny Austin. Mungkin bagi Kenny, satu-satunya ciri penting Ahok hanya postur bungkuknya. Hal itu turut menggambarkan keseluruhan Anak Hoki, yang hanya menggambarkan fisik Ahok, namun tidak jiwanya.

“Tapi film ini kan fiksi dan tak sekalipun menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama, jadi wajar kalau punya karakterisasi berbeda.” Andai ada yang mengajukan pernyataan serupa, yakinlah bahwa kasta orang itu setinggi Tuan Besar Dheeraj Kalwani.