Tampilkan postingan dengan label Husein M. Atmodjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Husein M. Atmodjo. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENCURI RADEN SALEH

Mencuri Raden Saleh punya segudang alasan untuk diragukan. Genre yang kurang lazim di perfilman Indonesia, kapasitas Angga Dwimas Sasongko mengarahkan aksi yang tak sekuat drama, jajaran bintang idola anak muda yang sekilas dipilih cuma demi mengejar untung, hingga trailer yang tak spesial biarpun jauh dari buruk. Hasilnya? Surprise, this is one of our best blockbusters in years. 

Salah satu upaya terbaru film Indonesia merambah heist adalah lewat The Professionals (2016) yang luar biasa canggung, akibat memandang genre ini sebatas mementingkan karakter ganteng dan cantik bertingkah sok keren, sembari mengenakan setelan mahal. Mencuri Raden Saleh juga dipenuhi karakter ganteng dan keren, tapi mereka bukan sekadar pajangan. 

Ditulis oleh Angga bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perburuan), naskahnya tahu cara mengelola karakter. Buktinya, ia rela menghabiskan banyak porsi guna mengupas jati diri mereka, walau harus membuat filmnya berdurasi 154 menit (andai di bawah dua jam, hasilnya pasti hambar). 

Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda) bekerja sama dalam bisnis pemalsuan lukisan. Piko adalah pemalsu handal, sedangkan sebagai peretas, Ucup mampu memperoleh data yang diperlukan agar lukisan itu terlihat seasli mungkin. Piko mengumpulkan uang demi dua hal: membahagiakan kekasihnya, Sarah (Aghniny Haque), yang sedang berjuang menembus tim PON, dan membebaskan ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. 

Maka ketika datang tawaran besar dari mantan presiden, Permadi (Tio Pakusadewo), untuk mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disimpan di istana negara, Piko tak kuasa menolak. Tim pun dikumpulkan: Gofar (Umay Shahab) si mekanik, Tuktuk (Ari Irham) si driver, dan Fella (Rachel Amanda) si bandar judi yang jadi tambahan sumber daya sekaligus otak rencana. 

Kita tahu jati diri, motivasi, dan terpenting, kemampuan mereka. Naskahnya meluangkan waktu, memberi porsi merata, supaya penonton yakin mereka merupakan ahli di bidang masing-masing. Kecuali Tuktuk. Mencuri Raden Saleh tak punya sekuen kebut-kebutan memadai sebagai pembuktian kualitas Tuktuk. 

Deretan karakternya pun hidup berkat performa tiap pemain. Iqbaal mengeksplorasi sisinya yang lebih tertutup, Angga Yunanda berevolusi jadi lead matang yang tampil lepas (I didn't know he can be this cool), Umay menampilkan akting dramatik, juga komedik melalui celetukan naturalnya. Mudah mendukung perjuangan mereka. Perjuangan yang senada dengan esensi lukisannya selaku simbol perlawanan terhadap kelicikan para pemegang kekuatan. 

Mengenai lukisan, keberhasilan filmnya mereproduksi karya Raden Saleh (konon dibuat oleh seorang pelukis maestro yang tentu saja tak bisa diungkap identitasnya) juga suatu pencapaian, sekaligus bukti bahwa Angga memedulikan detail. Total lima kanvas dibuat dalam beragam fase (sketsa hingga hasil akhir). 

Menyebut naskahnya mulus total mungkin kurang tepat. Beberapa detail rencana terkadang diolah kurang matang, pun twist-nya agak bergantung pada kebetulan, pula membuat ceritanya lebih rumit dari yang dibutuhkan. Tapi secara keseluruhan, alurnya cukup "belokan" sehingga dua setengah jam durasi terisi padat, entah berupa konflik interpersonal atau terkait jalannya misi. Tentu misinya tak berjalan mudah. Terjadi kegagalan yang sekilas nampak bodoh, namun kebodohan berujung kesalahan itu masuk akal, sebab tokoh-tokohnya bukanlah pencuri profesional.  

Meski tersisa sedikit keluhan, pengarahan aksi Angga kentara mengalami peningkatan. Terlebih, kali ini lubangnya tak terlalu mengganggu berkat iringan musik gubahan Abel Huray yang menyokong intensitas adegan. Bintangnya tentu Aghniny. Kita tahu kemampuan bela dirinya mumpuni, tapi baru di Mencuri Raden Saleh potensinya benar-benar dimaksimalkan. Kamera menangkap seluruh karisma serta gestur Aghniny, seolah ia (kamera) sendiri dibuat kagum olehnya. Aksinya menghajar musuh dalam balutan gaun merah merupakan puncak. Kemunculan Reza Hilman (juga menjabat koreografer film ini) di momen tersebut mungkin terkesan tiba-tiba, pula tanpa substansi berarti selain sebuah easter eggs, namun menyaksikan kombinasi dua jagoan bela diri tetap mengandung daya pikat tersendiri. 

Mencuri Raden Saleh membuktikan betapa industri kita sejatinya telah sangat siap melangkah lebih jauh dalam hal penambahan variasi. Bukan lagi di tahap "mari apresiasi karya unik anak bangsa". Sineas kita sudah menjalankan tugasnya. Sekarang semua terletak di tangan publik, untuk menentukan seberapa jauh upaya menambah keberagaman bakal melangkah. 

PERBURUAN (2019)

Menyutradarai sekaligus menulis naskahnya bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Sekte), Richard Oh (Melancholy is a Movement, Terpana, Love is a Bird) mendesain Perburuan, selaku adaptasi novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer, sebagai sebuah perenungan. Perenungan atas ideologi, perenungan atas secercah cahaya harapan di tengah kegelapan. Perenungan yang sayangnya belum mampu menyeret penonton agar ikut merenungi, apalagi merasakan gejolak karakternya.

Hardo (Adipati Dolken) adalah prajurit PETA yang terlibat pemberontakan 14 Februari 1945 di bawah pimpinan Soeprijadi (Kevin Andrean). Bersama rekan-rekannya, perlawanan Hardo dimentahkan prajurit Nippon, memaksa mereka kabur, mengasingkan diri, hidup layaknya pengemis menghindari perburuan para penjajah. Semasa pengasingan, Hardo meninggalkan orang-orang terdekatnya, dari sang ayah (Otig Pakis) yang dipocot dari jabatan sebagai Wedana hingga tunangannya, Ningsih (Ayushita Nugraha).

Hardo hanya bersedia pulang jika “Nippon sudah kalah”, suatu kondisi yang dianggap mustahil oleh banyak orang, termasuk Lurah Kaliwangan (Egy Fedli) yang juga ayah Ningsih. Hardo kukuh bertahan menanti kemerdekaan, meski tak terburu-buru pula mengejarnya, sebagaimana nasihat Ningsih—yang mengajar di suatu sekolah—kepada muridnya untuk “Tidak usah lari-lari, perlahan juga sampai di tujuan”.

Dan Perburuan memang enggan terburu-buru bergerak, ketika Richard Oh mengemas filmnya dalam tempo cenderung lambat, mengisinya dengan kontemplasi Hardo soal impian kemerdekaan, kerinduan, juga rasa bersalah pada orang-orang tercinta yang ditinggalkan, meski perjalanannya sendiri tak pernah sunyi, ketika musik buatan Purwacaraka (Joshua Oh Joshua, Si Doel the Movie) setia memperdengarkan orkestrasi yang acap kali terlampau “besar” guna menemani tuturan Richard yang mengejar keintiman.

Sengaja atau tidak, melalui Perburuan, Pramoedya jelas sedang mengobservasi psikis manusia—yang besar kemungkinan mencerminkan isi hatinya mengingat novelnya ditulis semasa menjalani masa penjara—di mana terjadi benturan antara ideologi berbangsa dengan kebutuhan personal. Itulah penyebab Hardo tampak linglung, bertingkah bak orang kehilangan kewarasan. Batinnya berkecamuk luar biasa.

Konflik ini yang filmnya gagal sampaikan. Saya tidak menemukan proses mental. Hanya potongan-potongan situasi, yang menyuapi penonton dengan pemahaman kognisi ketimbang rasa. Kita bisa mengerti otak Hardo, namun tidak merasakan isi hatinya. Dalam perjalanannya, Perburuan urung membekali Hardo dengan pondasi dan gradasi emosi. Hanya berbekal prolog seadanya, kita langsung dibawa menyambangi Hardo di persembunyian, dalam kondisi yang sepanjang cerita, tanpa dibarengi naik-turun kondisi.

Alhasil, beberapa momen gagal memberi penebusan emosi sesuai harapan. Misalnya sewaktu Hardo dan ayahnya terlibat obrolan di sebuah gubuk. Semestinya, seperti Hardo, perasaan kita ikut tertusuk. Masalahnya, fakta yang diungkapkan sang ayah terkesan “datang entah dari mana”. Padahal satu momen ini memperlihatkan pencapaian tertinggi sepanjang karir Richard sebagai sutradara ketika atmosfer ia bangun dengan penuh sensitivitas, dibantu suasana temaram garapan sinematografi Yoyok Budi Santoso (Haji Backpacker, Negeri Van Oranje, Guru Ngaji) yang mekin menguatkan keintiman serta duka.

Paling fatal tentu bab konklusi. Saya takkan membocorkan peristiwanya, namun kealpaan membangun hubungan Hardo-Ningsih berujung melucuti emosi. Jarak bukan alasan ketiadaan ikatan di antara mereka (yang turut berkontribusi menyia-nyiakan talenta Ayushita). Konklusinya, yang berlatar momen proklamasi, semakin kehilangan dampak akibat deretan sekuen pengejaran canggung tatkala banyak pasukan tampak menahan tawa, juga perayaan kemerdekaan masyarakat yang dibungkus dalam euforia setingkat parade karnaval 17-an.

Adipati tidak kalah canggung. Usahanya menangkap degradasi mental Hardo, khususnya pada adegan “menyalakan korek” yang telah muncul di trailer, hanya berhenti pada perwujudan permukaan (contoh: mata melotot saat marah, mata sayu saat sedih, dan sebagainya), ketimbang sebuah pendalaman menyeluruh. Hampa. Sayangnya, keseluruhan Perburuan terjangkit kehampaan serupa meski digarap sungguh-sungguh sembari menghormati materi adaptasinya.

SEKTE (2019)

Serupa perkumpulan okultisme yang diangkat kisahnya, Sekte pun melakukan pengorbanan guna mencapai tujuan. Bukan manusia yang dikorbankan, melainkan pentingnya penceritaan demi sebuah twist ending. Masalahnya tidak berhenti di situ. Sekte adalah film menjanjikan berisi beberapa momen memikat, namun sayangnya memiliki setumpuk problematika. Sederhananya, ada banyak kata “TAPI” dalam debut penyutradaraan solo William Chandra (3Sum) ini.

Seorang wanita (Asmara Abigail) ditemukan dengan tubuh penuh luka di tengah hutan oleh komunitas misterius yang terdiri dari penderita ganngguan mental, mantan narapidana, mantan pecandu, dan lain-lain, dengan Dewi (Gesata Stella) sebagai pemimpin. Jangankan penyebab luka-luka di tubuhnya, wanita itu bahkan tak ingat namanya sendiri. Dewi membujuknya untuk tinggal sebagai bagian keluarga,  sebab seperti para penghuni lain, ia tidak punya tujuan.

Seiring usaha protagonis kita—yang nantinya terungkap bernama Lia—membaur, ia justru menemukan ketidakberesan di rumah tersebut, sebagaimana saya menemukan kejanggalan pada guliran ceritanya. Lia terbangun di tempat asing, tubuh anda terluka, mengalami amnesia, dikelilingi orang-orang misterius cenderung aneh. Tapi alih-alih memendam curiga, kebingungan atau setidaknya waspada, Lia begitu mudah menemukan kenyamanan, tersenyum, bahkan berbaring sambil memeluk pria asing walau baru sekali terlibat pembicaraan intens. Ada yang keliru dengan pemahaman William Chandra dan Husein M. Atmojo (Midnight Show, 22 Menit, Lukisan Ratu Kidul) selaku penulis naskah dalam mengolah psikis karakternya.

Departemen akting pun urung memuluskan paparan perjalanan Lia, tatkala Asmara Abigail menampilkan kekakuan luar biasa perihal menangani tuturan verbal. Bahasa tubuh maupun ekspresinya bisa diterima, tapi penyampaian kalimatnya mengganggu, seolah Asmara berakting sambil membaca naskah........untuk pertama kali. Hal ini juga pantas dialamatkan kepada jajaran pemeran pendukung.

Sukar bersimpati pada Lia akibat performa mencengangkan (in a negative way of course) sang aktris, dan kegagalan mengundang simpati terbukti fatal, sebab Sekte kehilangan daya tarik, khususnya sebelum mencapai titik tengah, di mana kebenaran di balik “keluarga” Dewi terungkap. Sekte jelas amat terinspirasi oleh Suspiria, hanya saja minim teror mencekam dan misteri menarik. Alurnya melaju terburu-buru. Berbagai aspek dilemparkan tanpa dikembangkan secara layak, karena seluruh pengembangan itu sengaja disimpan hingga twist-nya muncul.

Saya mengakui kecerdikan twist film ini. Mengejutkan tanpa harus menipu, sekaligus berjasa melahirkan konklusi yang seketika melambungkan tensi. Sayangnya, untuk mencapai itu, penonton dipaksa melalui lebih dari satu jam penceritaan bergelombang. Padahal itu bukan satu-satunya cara, mengingat Sekte menyimpan sederet elemen potensial, khususnya dalam usahanya menyentil isu sosial, dari konflik berasaskan prasangka sampai agama. Semua itu berujung aksesoris semata, nihil kedalaman.

Penyutradaraan William Chandra tidak seberapa berbeda, dengan setaranya bobot kelebihan dan kekurangan. William punya insting kuat dalam urusan merangkai teror yang memanjakan mata. Sang sutradara pun dibantu tim artistik mumpuni, termasuk para penata rias yang berjasa menciptakan beragam hal hebat, dari salah satu riasan monster/hantu/makhluk buas terbaik perfilman negeri ini, hingga sentuhan efektif terhadap penampilan Lia guna menguatkan dampak konklusinya.

Cukup berani pula William bermain-main dengan kesunyian, yang hasilnya bisa kita lihat di sebuah sekuen panjang menegangkan yang melibatkan perjuangan Lia kabur dari kejaran Dewi sekeluarga. Tapi tiap kali kita mencapai titik di mana dosis bahaya bertambah, sense of urgency gagal saya rasakan pada penyutradaraannya. Entah karakternya terlalu lama merespon situasi genting, atau seperti banyak sutradara kita, Will belum piawai menangani adegan aksi agar tak nampak canggung. Biar demikian, jika anda mengharapkan pendekatan berbeda di tengah keseragaman elemen supernatural horor negeri ini, Sekte masih pantas diberi kesempatan.

LUKISAN RATU KIDUL (2019)

Oh ya, Lukisan Ratu Kidul adalah film terbaik produksi Paduka Dheeraj Kalwani alias Baginda KKD. Walau status “terbaik “ di sini tingkatannya sama dengan menyebut “susu basi rasa cokelat punya rasa terbaik di antara semua susu basi”. Akhirnya tetap sakit perut kan? Kali ini Paduka menunjuk Ginanti Rona (Midnight Show, Anak Hoki) sebagai nahkoda. Berikutnya giliran Hadrah Daeng Ratu menyutradarai Malam Jumat The Movie. Berapa banyak lagi talenta berbakat akan Paduka coreng reputasinya?

Kisahnya mengetengahkan kakak beradik, Dimas (Teuku Zaky) dan Satria (Wafda Saifan), yang menerima warisan rumah dari mendiang sang ayah. Saat kecil dahulu, mereka sempat tinggal di sana, namun tak ada memori yang tersisa. Mereka berdua, beserta istri Dimas, Astrid (Ussy Sulistyawaty) dan sang puteri, Sandra (Annisa Aurelia), pun menetap sementara di rumah tersebut sembari memikirkan langkah selanjutnya.

Di tengah kebingungan itu, entah mengetahui kedatangan mereka dari mana, datanglah Kevin—diperankan Fadika Royandi lewat akting over-the-top memuakkan—menawarkan diri untuk mencarikan pembeli. Dimas yang kebetulan tengah dilanda kesulitan finansial pun setuju menemui klien Kevin, seorang kolektor lukisan Nyi Roro Kidul (Wawan Wanisar) buatan kakek Dimas, Rusdi Soedibyo (Egi Fedly), yang konon menyimpan kekuatan mistis sehingga dapat memberi keberuntungan bagi pemiliknya.

Sang kolektor mengaku, bahwa dulu ia meminta dibuatkan 13 lukisan, namun baru 12 buah yang ia terima. Dia pun yakin bahwa lukisan ketigabelas masih tersimpan di rumah Dimas, dan berani menawar 8 milyar rupiah guna menebusnya. Rasanya ingin saya menanyakan hal berikut kepada Husein M Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perjanjian Dengan Iblis) selaku penulis naskah: Kalau si kolektor memesan 13 lukisan pada Rusdi karena unsur magis di dalamnya, mengapa baru di lukisan terakhir Rusdi menemukan cara meniupkan kekuatan mistis pada karyanya?

Mungkin saya yang salah mengharapkan Lukisan Ratu Kidul memedulikan kesolidan narasi. Terlebih setelah sepanjang durasi, filmnya bertutur secara kasar, yang merupakan kombinasi penulisan janggal, penceritaan kasar sang sutradara, serta penyuntingan asal pasang. Acap kali tidak ada jembatan antar-adegan, sehingga mengesankan ada shot yang hilang ditelan Bumi sebagaimana hilangnya ibunda Dimas dan Satria.

Jangan harapkan pula penampilan jajaran pemain datang menyelamatkan situasi. Selain Fadika Royandi, memang tak ada akting “menyakitkan” lain, namun tidak pula pantas disebut memikat. Terkecuali aktor senior Wawan Wanisar (pemeran Pierre Tendean di Pengkhianatan G 30 S/PKI) lewat penghantaran kalimat paling natural, serta Annisa Aurelia, yang setidaknya, sebagai aktris cilik, cukup meyakinkan melakoni situasi di mana karakternya dihimpit teror.

Walau keseluruhan filmnya nyaris remuk redam, potensi Ginanti Rona sebagai sineas horor masih bisa disaksikan di beberapa kesempatan. Mengandalkan trik kemunculan hantu medioker, jump scare garapan Ginanti punya ketepatan timing yang sesekali efektif mengejutkan penonton meski kerap diganggu musik buatan Ricky Lionardi (Rectoverso, Danur 2: Maddah, Tembang Lingsir) yang lebih berisik daripada sound system konser dangdut RT sebelah.

Sejak alih persona menjadi Dheeraj Kalwani, saya memang mendapati kemajuan di produk-produknya, termasuk soal tata artistik yang bukan lagi sekelas Bandung Lautan Asmara. Hal serupa masih bisa ditemui di sini, kala lokasi indoor-nya digarap cukup solid, khususnya dominasi warna hijau selaku warna Kanjeng Ratu Kidul. Ya, sampai sebuah close-up shot memperlihatkan properti pisau yang kentara dibuat menggunakan aluminium foil. Di situ saya merasa cukup.

PERJANJIAN DENGAN IBLIS (2019)

Posternya seolah bicara, “Perjanjian dengan Iblis adalah b-movie menghibur yang enggan tampil terlalu serius”. That’s why I’m sold. Trailer-nya menampilkan materi dengan nuansa jauh berbeda, tapi beberapa momen menjanjikan bisa ditemui. Secara khusus, cuplikan kemunculan hantu berbentuk bayangan tampak cukup mengerikan. Mungkinkah memasuki 2019, MD Pictures bersama Pichouse Films selaku anak perusahaannya, memutuskan untuk mulai menyeimbangkan kualitas dan kuantitas (sekitar 11 judul horor siap tayang tahun ini)?

Tapi begitu film dimulai, tidak butuh waktu lama bagi saya menyadari, bahwa Perjanjian dengan Iblis adalah satu lagi sajian berkualitas jongkok. Setelah sekian banyak dicekoki horor lokal buruk, saya sudah hafal polanya. Kisahnya akan diawali perkenalan dengan sebuah keluarga kecil yang dirundung permasalahan klise. Entah sang ayah lalai memberi kasih sayang akibat disibukkan urusan pekerjaan, momongan yang tak kunjung hadir, meninggalnya salah satu anggota keluarga, ketidakharmonisan antara mereka, atau gabungan beberapa elemen di atas.

Di sini, karakternya tengah berlibur ke Pulau Bengalor. Bara (Aghi Narottama) merasa liburan ini diperlukan demi merekatkan hubungan sang puteri, Lara (Basmalah Gralind) dan istri barunya, Anisa (Shandy Aulia). Walau Anisa telah berjuang keras, Lara yang amat merindukan mendiang ibunya, terus membencinya meski enam bulan telah berlalu sejak pernikahan dilangsungkan.

Bermodalkan naskah buatan Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit) bersama Ardy Octaviand (Coklat Stroberi, 3 Dara, Stip & Pensil) yang juga menduduki kursi sutradara, elemen dramanya—sesuai dugaan—tampil tak meyakinkan sekaligus membosankan, diisi presentasi konflik dangkal plus baris dialog miskin kreativitas. Beginilah rutinitas horor buruk negeri ini (khususnya produksi MD/Pichouse). Kita akan dibuat bosan selama kurang lebih setengah jam, menanti teror dimulai, namun begitu teror tersebut datang, eksekusinya gagal memberi penebusan setimpal.

Drama keluarga melelahkan ini turut dibarengi akting kaku bagai kayu dari Aghi Narottama yang selama ini lebih kita kenal sebagai komposer (Pengabdi Setan, Sweet 20, Kafir: Bersekutu dengan Setan), juga Shandy Aulia yang sebatas mengulangi penampilan-penampilan di film sebelumnya. Semua tampil dalam suasana serius, bukan keburukan yang disengaja selaku bentuk senang-senang. Sehingga ketika satu demi satu momen “lucu” terjadi, saya yakin itu adalah hasil filmmaking buruk alih-alih usaha merangkai b-movie.

Terornya dimulai saat sekelompok setan mengganggu malam hari Anisa dan lara. Bara, yang tak mengalaminya, bersikap skeptis, bahkan meninggalkan mereka ke Jakarta karena urusan pekerjaan mendadak. Keduanya dijaga oleh wanita pengurus villa bernama Rengganis, yang diperankan Artika Sari Devi, yang dengan kharismanya, jadi satu-satunya penampil yang menarik disaksikan.

Deretan jump scare-nya tidak cukup baik, namun saya mengapresiasi usaha yang diluangkan, di mana para hantu tidak sekadar “setor muka”. Bahkan, beberapa kali sang sutradara mampu memunculkan mereka dari lokasi tak terduga guna mengirim sedikit efek kejut. Setidaknya Ardy Octaviand masih bersedia mencari timing yang tepat, juga memperhatikan pembangunan tensi. Pun tata rias garapan Chaery Eka Wirawan (Petak Umpet Minako, Night Bus) jelas lebih unggul dibanding jajaran “hantu muka bubur basi” di luar sana. Hanya saja, seluruh usaha di atas belum berhasil menghasilkan produk yang layak disebut “baik”.

Saya tidak terkejut begitu mencapai babak akhir, sewaktu naskahnya coba merangkum konklusi berbagai poin plot, Perjanjian dengan Iblis terjangkit penyakit kronis horor medioker dalam negeri. Keburukannya tak tertahankan akibat dipaksa hadirnya suatu twist tanpa pondasi memadahi ditambah upaya menyatukan berbagai rahasia dan misteri Pulau Bengalor yang berujung berantakan. Hanya menyelipkan penjelasan sekilas yang urung tersusun rapi, para penulisnya seolah tak lagi peduli. Jadi mengapa kita harus peduli?

22 MENIT (2018)

22 Menit membuka cerita melalui paparan rutinitas pagi hari karakternya. AKBP Ardi (Ario Bayu) beserta kehangatan keluarganya, Firman (Ade Firman Hakim) si polisi lalu lintas yang mengatur jalanan Thamrin di tengah kegamangan akibat pernikahannya dengan Sinta (Taskya Namya) terancam batal, office boy bernama Anas (Ence Bagus) yang berusaha membantu kakaknya, Hasan (Fanny Fadillah) mencari kerja, juga Mitha (Hana Malasan) yang di sebuah cafe menantikan kedatangan Dessy (Ardina Rasti). Semua berjalan damai, hingga pukul 10:40, terjadi ledakan bom di persimpangan Sarinah.

Lalu layar menampilkan jam digital yang bergerak mundur beberapa menit sebelum tragedi, memindahkan fokus menuju perspektif karakter lain. Rupanya 22 Menit merupakan hyperlink cinema, atau setidaknya, berusaha menjadi itu. Meminjam deksripsi Roger Ebert, hyperlink cinema yaitu tatkala tokoh-tokoh maupun rangkaian peristiwa terjadi dalam kisah berlainan, namun koneksi atau pengaruh di antara kisah-kisah itu perlahan diungkap, menyatukan segalanya. Sederhananya, struktur satu ini adalah penyatuan kisah yang (awalnya) terpisah memakai satu benang merah.

Terinspirasi tragedi bom Sarinah pada 14 Januari 2016, hyperlink  sejatinya merupakan bentuk yang tepat, mungkin malah paling efektif untuk menggambarkan bahwa korban yang berasal dari beragam kalangan, terhubung dalam satu pengalaman kolektif. Bahwa di tengah kekacauan tersebut, ada individu-individu yang menyimpan cerita, atau dalam konteks naskah buatan Husein M. Atmodjo (Parts of the Heart, Midnight Show) dan Gunawan Raharjo (Jingga), sosok tercinta masing-masing. Perspektif itu berpotensi memberi dampak emosional kuat, sebab terdapat hal spesial, misterius, bahkan “ajaib” seputar pengalaman kolektif yang terwujud melalui kebetulan yang diprakarsai takdir.

Sayang, naskahnya gagal mempresentasikan pengalaman kolektif itu, atau menilik kegunaan hyperlink cinema, tautan yang mestinya ada justru tiada. Ketimbang merekatkan, eksekusi 22 Menit justru kacau nan membuyarkan. Fokus lemah menjadi sebab. Daripada menyoroti tokoh atau lingkup waktu tertentu di tiap “segmen”—yang dipisahkan hitung mundur jam digital—alurnya bak produk campur aduk asal terhadap sederet plot sampingan. Sulit menyebut secara pasti, karakter atau situasi mana yang di satu titik tengah dijadikan fokus (kalau fokus itu sendiri dipunyai filmnya). Dalam hyperlink, tentu fatal andai “link”-nya sendiri hilang, yang di film ini turut menyebabkan raibnya jembatan antara cerita dengan perasaan penonton.

Hanya subplot Hasan-Anas yang cukup berkesan, itu pun bukan berkat skrip, tetapi karena seperti dalam Guru Ngaji, Ence Bagus menampilkan sensitivitas. Matanya menyuarakan keresahan. Sisanya hampa, terlebih Mitha dan Dessy. Kita tak tau siapa mereka, tidak pula berbagi momen personal dengan keduanya. Kesannya, para penulis naskah yang sudah terjebak di jeratan benang kusut buatan sendiri, alih-alih coba merapikan justru menambah jalinan benang lain.

Didukung penuh pihak kepolisian, film panjang kedua produksi Buttonijo Films setelah Another Trip to the Moon (2015) ini memiliki production value plus penanganan aksi yang tidak main-main. Prosedur anti-terorisme ditampilkan, beberapa helikopter diterjunkan, detail properti-properti lain pun solid. Apalagi 22 Menit diambil di lokasi asli, di mana pengambilan gambar dilakukan tiap akhir minggu selama sebulan. Namun itu berakhir sebatas kemewahan kulit luar ketika duo sutradara, Eugene Panji (Naura & Genk Juara the Movie) dan Myrna Paramita kurang cakap memaksimalkan modal di atas untuk menghasilkan gelaran aksi intens. Tidak buruk, tapi melihat sumber daya miliknya, wajar jika saya berharap lebih, meski Ario Bayu tentu saja tidak mengecewakan, tampak meyakinkan memerankan polisi tangguh nan pemberani yang mengangkat senjata.

Pada departemen musik, Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven) telah berusaha menyerbu telinga penonton melalui dentuman mendebarkan plus horn megah ala Hans Zimmer, tapi aksinya tidak pernah mencapai klimask. Pun tak berlebihan bila menyebut 22 Menit sebagai film nihil klimaks. Pertempuran polisi melawan teroris berakhir saat mayoritas penonton rasanya mengira filmnya masih menyimpan amunisi lebih, dan memang seharusnya demikian. Tapi tidak. Baku tembaknya tampil pendek dalam durasi keseluruhan yang juga pendek (71 menit), kemudian memberi ruang bagi epilog yang melompat dari fokus utama (peristiwa terorisme 14 Januari), yang dibuat hanya untuk menggambarkan gerak cepat dan kesigapan polisi memberantas antek terorisme sampai ke akarnya. Singkatnya, pembangunan citra. Terdengar voice over Vincent Rompies (tampil singkat selaku cameo) di siaran radio yang terasa melankolis, syahdu, manis tapi pahit. Momen itu seharusnya dijadikan penutup.