Tampilkan postingan dengan label Teuku Zacky. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teuku Zacky. Tampilkan semua postingan
LUKISAN RATU KIDUL (2019)
Rasyidharry
Oh ya, Lukisan Ratu Kidul adalah film terbaik produksi Paduka Dheeraj
Kalwani alias Baginda KKD. Walau status “terbaik “ di sini tingkatannya sama
dengan menyebut “susu basi rasa cokelat punya rasa terbaik di antara semua susu
basi”. Akhirnya tetap sakit perut kan? Kali ini Paduka menunjuk Ginanti Rona (Midnight Show, Anak Hoki) sebagai
nahkoda. Berikutnya giliran Hadrah Daeng Ratu menyutradarai Malam Jumat The Movie. Berapa banyak lagi
talenta berbakat akan Paduka coreng reputasinya?
Kisahnya mengetengahkan kakak
beradik, Dimas (Teuku Zaky) dan Satria (Wafda Saifan), yang menerima warisan
rumah dari mendiang sang ayah. Saat kecil dahulu, mereka sempat tinggal di
sana, namun tak ada memori yang tersisa. Mereka berdua, beserta istri Dimas,
Astrid (Ussy Sulistyawaty) dan sang puteri, Sandra (Annisa Aurelia), pun
menetap sementara di rumah tersebut sembari memikirkan langkah selanjutnya.
Di tengah kebingungan itu, entah
mengetahui kedatangan mereka dari mana, datanglah Kevin—diperankan Fadika
Royandi lewat akting over-the-top
memuakkan—menawarkan diri untuk mencarikan pembeli. Dimas yang kebetulan tengah
dilanda kesulitan finansial pun setuju menemui klien Kevin, seorang kolektor
lukisan Nyi Roro Kidul (Wawan Wanisar) buatan kakek Dimas, Rusdi Soedibyo (Egi
Fedly), yang konon menyimpan kekuatan mistis sehingga dapat memberi
keberuntungan bagi pemiliknya.
Sang kolektor mengaku, bahwa dulu
ia meminta dibuatkan 13 lukisan, namun baru 12 buah yang ia terima. Dia pun
yakin bahwa lukisan ketigabelas masih tersimpan di rumah Dimas, dan berani
menawar 8 milyar rupiah guna menebusnya. Rasanya ingin saya menanyakan hal
berikut kepada Husein M Atmodjo (Midnight
Show, 22 Menit, Perjanjian Dengan Iblis) selaku penulis naskah: Kalau si
kolektor memesan 13 lukisan pada Rusdi karena unsur magis di dalamnya, mengapa baru
di lukisan terakhir Rusdi menemukan cara meniupkan kekuatan mistis pada
karyanya?
Mungkin saya yang salah
mengharapkan Lukisan Ratu Kidul memedulikan
kesolidan narasi. Terlebih setelah sepanjang durasi, filmnya bertutur secara
kasar, yang merupakan kombinasi penulisan janggal, penceritaan kasar sang
sutradara, serta penyuntingan asal pasang. Acap kali tidak ada jembatan antar-adegan,
sehingga mengesankan ada shot yang
hilang ditelan Bumi sebagaimana hilangnya ibunda Dimas dan Satria.
Jangan harapkan pula penampilan
jajaran pemain datang menyelamatkan situasi. Selain Fadika Royandi, memang tak
ada akting “menyakitkan” lain, namun tidak pula pantas disebut memikat.
Terkecuali aktor senior Wawan Wanisar (pemeran Pierre Tendean di Pengkhianatan G 30 S/PKI) lewat
penghantaran kalimat paling natural, serta Annisa Aurelia, yang setidaknya,
sebagai aktris cilik, cukup meyakinkan melakoni situasi di mana karakternya
dihimpit teror.
Walau keseluruhan filmnya nyaris
remuk redam, potensi Ginanti Rona sebagai sineas horor masih bisa disaksikan di
beberapa kesempatan. Mengandalkan trik kemunculan hantu medioker, jump scare garapan Ginanti punya
ketepatan timing yang sesekali efektif
mengejutkan penonton meski kerap diganggu musik buatan Ricky Lionardi (Rectoverso, Danur 2: Maddah, Tembang Lingsir)
yang lebih berisik daripada sound system konser
dangdut RT sebelah.
Sejak alih persona menjadi Dheeraj
Kalwani, saya memang mendapati kemajuan di produk-produknya, termasuk soal tata
artistik yang bukan lagi sekelas Bandung
Lautan Asmara. Hal serupa masih bisa ditemui di sini, kala lokasi indoor-nya digarap cukup solid,
khususnya dominasi warna hijau selaku warna Kanjeng Ratu Kidul. Ya, sampai
sebuah close-up shot memperlihatkan
properti pisau yang kentara dibuat menggunakan aluminium foil. Di situ saya
merasa cukup.
April 05, 2019
Annisa Aurelia
,
Dheeraj Kalwani
,
Egi Fedly
,
Fadika Royandi
,
Ginanti Rona
,
horror
,
Husein M. Atmodjo
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
REVIEW
,
Ricky Lionardi
,
Teuku Zacky
,
Ussy Sulistyawaty
,
Wafda Saifan Lubis
,
Wawan Wanisar
SAKRAL (2018)
Rasyidharry
Sakral merupakan kolaborasi kelima (keempat sepanjang 2018) MD
Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya
“paling tidak menyiksa”, karena sejak Gasing
Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan
judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap
perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih
baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi
Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding
penyakit lain. Tetap saja menyiksa.
Setidaknya para pembuat film ini
belajar dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya
tersusun atas fragmen-fragmen jump scare
yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk
memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu agar mampu lebih dulu
memaparkan cerita, walau bukan cerita yang solid, menghasilkan penantian
melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi,
setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan,
Dheeraj Kalwani akhirnya mengalami kemajuan.
Kisahnya dibuka saat sepasang suami
istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri
kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???).
Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik
pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi
kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui duka
justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya,
naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung,
Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan
cinta milik suami-istri mampu mengalahkan apa pun termasuk duka (dan iblis).
Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.
Melina terus melihat hal-hal
mengerikan seperti penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang
hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel meragukan kewarasan sang
istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog
sekaligus teman Daniel dengan mudah mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting
jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan
mengucapkan dialog (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar,
Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa saya
membahas akting si pemeran setan dengan caranya memberi penekanan di tiap akhir
kata yang luar biasa menggelikan.
Progresi alurnya cukup rapi karena
bersedia menanti hingga momen yang tepat guna memunculkan penampakan hantu,
menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit
akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal
melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi
ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, dibutuhkan
cerita untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput
memahami jika logika turut dibutuhkan dalam cerita, sebab setelah satu hari
berlalu, saya masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.
Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan
penonton bukan karena disusun begitu baik, melainkan gempuran tata suara luar
biasa keras yang sampai membuat studio bergetar hebat. Padahal saya sempat
menaruh sedikit (sangat sedikit) harapan saat mendapati penampakan perdana sang
hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan klimaks
seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun
puncak kekacauan menegangkan. Ada niat menciptakan klimaks brutal, tapi tak
peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bagian tubuh terpotong
gergaji mesin, tanpa sudut kamera tepat (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting
sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong,
kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina diam-diam
pasangan ninja Konoha?
September 21, 2018
Baskoro Adi Wuryanto
,
Dheeraj Kalwani
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Olla Ramlan
,
REVIEW
,
Tema Patrosza
,
Teuku Zacky
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



