Tampilkan postingan dengan label Jason Statham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jason Statham. Tampilkan semua postingan

REVIEW - F9

Kita sudah terlatih untuk berharap bahwa di tiap sekuelnya, seri Fast & Furious akan tampil lebih bombastis, lebih gila, lebih tidak masuk akal. Di The Fate of the Furious (2017), F. Gary Gray melawan kemustahilan, dengan membawa Dominic Toretto (Vin Diesel) dan tim menghadapi pasukan "zombie mobil", kemudian kapal selam. Penggemar pun berandai-andai, kapan bakal diajak pergi ke luar angkasa. Karena di titik ini, rasanya cuma itu cara meningkatkan skala. Memasuki film kesembilan, harapan tersebut dipenuhi. 

Gagasan membawa Fast & Furious ke luar angkasa sudah didengungkan selepas Furious 7 enam tahun lalu. Dan tanpanya, baik film kedelapan maupun Hobbs & Shaw selaku spin-off, masih sanggup membelalakkan mata. Artinya, terpenting bukan cuma "seberapa mustahil", namun bagaimana kemustahilan itu dikemas. 

Apa yang muncul di F9 sejatinya cukup gila. Film mana lagi berani menampilkan Pontiac Fiero melayang di angkasa? Tapi sekali lagi, kita sudah terlatih untuk mengharapkan kegilaan di titik tertinggi. Sewaktu adegan luar angkasa tadi tampil bak selipan humor belaka, yang lebih mirip parodi dalam sebuah iklan atau sketsa (walau tetap ada ledakan dan semacam aksi kebut-kebutan), yang muncul adalah kekecewaan. Fast & Furious seperti telah kehabisan ide, lalu membuat film terbaru berdasarkan tebakan mengenai apa saja yang penggemar harapkan. 

Apa lagi yang penggemar harapkan selain luar angkasa? Tentu saja kebangkitan Han (Sung Kang) dari kubur. Kampanye "Justice for Han" dijadikan salah satu energi penggerak marketing filmnya. Han memang kembali, dan Sung Kang masih sekeren dulu, tapi bila menginginkan keadilan baginya, bersiaplah kecewa. Penjelasan bagaimana ia bertahan hidup menunjukkan kemalasan naskah buatan Daniel Casey dan Justin Lin (Chris Morgan absen sebagai penulis untuk pertama kali sejak 2 Fast 2 Furious, demi mengerjakan Hobbs & Shaw), untuk memberi alasan layak tanpa perlu terdengar masuk akal. Han pun tak diberi waktu bersinar dalam deretan aksi, dan jika menanti keadilan terkait kematiannya di tangan Deckard Shaw (Jason Statham), silahkan bersabar sampai film kesepuluh (credits scene-nya menjanjikan itu).

Tapi bukan Han saja yang kembali. Sekali lagi, pembuatnya menduga penonton menyukai reuni, saat wajah-wajah lama muncul lagi, meski cuma sebatas glorified cameo. Alhasil F9 tampil bak sekumpulan reuni, yang diperpanjang jadi bermenit-menit adegan, kemudian disatukan sebagai film berdurasi 145 menit. Bagaimana bisa demikian? Mari bahas dulu alurnya. 

Adegan pembuka menampilkan flashback kala Dom muda (Vinnie Bennett) melihat kematian sang ayah di lintasan balap. Justin Lin, yang duduk di kursi sutradara seri ini untuk kali kelima (terakhir di Fast & Furious 6), mampu membuat sekuen intens nan bombastis, namun lebih "membumi" guna menguatkan nuansa tragis momen itu. Memori kala Fast & Furious masih murni soal balapan muncul lagi. Begitu pun di flashback lain, sewaktu Dom muda menantang sang adik, Jakob (Finn Cole), beradu dalam balapan liar. 

Ya, Dom ternyata memiliki adik. Setelah terpisah bertahun-tahun, Jakob (versi dewasa diperankan John Cena) muncul lagi di hadapan Dom, kali ini sebagai lawan. Seperti biasa, rencana si antagonis masih melibatkan peralatan canggih sebagai MacGuffin, yang mampu meretas apa pun. Ares namanya. Jakob berusaha mengumpulkan dua keping Ares, dan somehow Cipher (Charlize Theron) turut terlibat. Meski awalnya ragu karena telah memilih kehidupan damai, Dom akhirnya bersedia mengumpulkan timnya lagi, mengunjungi berbagai negara di dunia, untuk.....untuk apa?

London, Edinburgh, Köln, hingga Tokyo disambangi, sebab guna menghentikan Jakob, beberapa hal diperlukan, dan hal-hal tersebut cuma bisa didapat dengan mendatangi beberapa kenalan Dom yang tersebar di kota-kota tadi. Mayoritas adalah wajah lama yang muncul sebagai cameo atas nama nostalgia, termasuk Queenie, yang memberi Helen Mirren kesempatan unjuk gigi di tengah kebut-kebutan. Tapi secara keseluruhan, di luar dugaan, perjalanan keliling dunia ini minim aksi.

Setiap kota memiliki pertemuan, setiap pertemuan diperpanjang lewat obrolan-obrolan membosankan, sebelum penonton dibawa beralih ke kota berikutnya, guna menyaksikan obrolan lain, yang terkadang diselipi humor tidak lucu. Duet Roman (Tyrese Gibson) dan Tej (Ludacris) masih menggelitik, namun praktis cuma mereka berdua saja yang mampu mengubah humor kering naskahnya jadi tontonan renyah. 

Setiap aksi yang ditunggu akhirnya datang, Lin dan tim kentara sudah sekuat tenaga memeras otak, memikirkan kegilaan baru apa yang mesti ditampilkan. Tapi tanpa Chris Morgan, eksplorasinya terkesan stagnan. Beberapa masih memukau, sebutlah saat mobil Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) berayun bak Spider-Man, ketika akhirnya Ramsey (Nathalie Emmanuel) akhirnya duduk di balik kemudi, mengendarai truk baja berisi alat elektromagnet yang sanggup menarik paksa sebuah mobil, atau momen singkat sewaktu Dom menggunakan cara ekstrim guna menangkap Jakob yang melayang di udara. 

Sisanya? Medioker. Merupakan pencapaian luar bisa bila dimunculkan di film lain, namun kembali lagi, kita sudah terlatih mengharapkan kegilaan di titik tertinggi dalam seri Fast & Furious. Meski rasanya mayoritas akan sepakat, bahwa potensi John Cena gagal dimanfaatkan. Jika dibandingkan Dwayne Johnson, debut Cena di franchise ini bak kekurangan suntikan testosteron. Bahkan sosoknya kalah badass dibanding debutan lain, yakni Elle (Anna Sawai), yang mencuri perhatian baik dalam hand-to-hand combat, maupun kala berdiri di belakang senapan mesin.

F9 merupakan film terlemah sejak.....entahlah, mungkin Fast & Furious (2009). Sulit mengingatnya, karena sejak Fast Five membawa seri ini ke arah baru satu dekade lalu, tiap installment selalu sukses menyajikan hiburan mengesankan. Setidaknya kali ini Dom tidak berkata "one last ride", dan menyadari bahwa sampai kapan pun ia takkan bisa meninggalkan kehidupan berbahaya ini. Well, minimal sampai film kesebelas selaku penutupnya dirilis (film kesepuluh masih dijadwalkan rilis tahun depan, namun jangan kecewa kalau akhirnya mundur).

REVIEW - WRATH OF MAN

Wrath of Man takkan meraup keuntungan besar di Box Office, bahkan di era normal sekalipun. Tapi di Indonesia, cukup dengan memasang wajah Jason Statham di poster, rasanya pandemi pun tak kuasa menahan terisinya kursi-kursi bioskop. Penonton kita memang memuja Statham (lebih tepatnya aksi yang menjanjikan baku tembak tanpa henti, sehingga film kelas B milik Bruce Willis dan Nicolas Cage masih sangat menjual). 

Sehingga saat remake film Prancis berjudul Cash Truck (2004) ini membombardir studio dengan desingan peluru pada klimaksnya, harga tiket sudah terbayar lunas. Sebaliknya, sebagian kecil penonton yang datang karena nama Guy Ritchie, mungkin bertanya-tanya, mengapa third act-nya cuma diisi "endless shots of people shooting guns", seolah sang sutradara kehabisan gaya.

Padahal "gaya" merupakan identitas Guy Ritchie, dan baru dua tahun lalu ia kembali ke akar melalui The Gentlemen yang keren itu. Jangan salah, bukan berarti Wrath of Man buruk. Kekhasan Ritchie tetap dapat ditemukan di sana-sini, dan seringkali jadi keunggulan. Tapi sulit menampik kesan, kalau filmnya dibuat oleh "Guy Ritchie yang berusaha keras menjadi Guy Ritchie yang disukai publik". Bisa dilihat dari bagaimana naskah yang ditulisnya bersama Ivan Atkinson dan Marn Davies, menghantarkan "foul-mouthed witty banter" kegemaran Ritchie, yang ingin sekali terdengar unik, menggelitik, dan edgy, namun lupa bahwa agar mendapat dampak tersebut, percakapannya harus menarik diikuti, atau lebih baik lagi, berguna memperkuat penokohan (tentu saya tidak mengharapkan poin kedua datang dari seorang Guy Ritchie).

Selepas sekuen pembuka berupa aksi perampokan berujung maut, kita berkenalan dengan Harry Hill alias H (Jason Statham), karyawan baru perusahaan truk penjual jasa pengantaran uang tunai. Tiap minggu uang yang dibawa berada di kisaran ratusan juta dollar, sehingga mereka pun kerap diincar perampok (termasuk yang kita lihat di awal film). Saat bertugas dengan Bullet (Holt McCallany) dan Boy Sweat (Josh Hartnett), giliran truk H jadi sasaran. Mengejutkan semua pihak, H yang lulus tes dengan nilai mepet, sanggup menghabisi seluruh perampok seorang diri. 

Bisa ditebak bahwa H menyimpan rahasia, dan untuk mengurai kebenaran tentang dirinya, Wrath of Man mengajak kita mengarungi alur non-linier. Sekali lagi, "sangat Guy Ritchie". Alurnya melompat maju tiga bulan, mundur lima bulan, maju tiga minggu, dan seterusnya. Memusingkan bila berusaha mengikuti angka yang muncul di layar, tapi percayalah, itu tidak perlu. Jangka waktu hanya pernak-pernik. Terpenting, kita cukup tahu peristiwa mana yang terjadi lebih dulu, dan itu tidak sulit. 

Harus diakui teknik bercerita itu mampu menjaga daya tarik alur, mengubah kisah klise seputar balas dendam (yang tentu saja tak memiliki bobot emosi signifikan mengingat ini karya Ritchie), menjadi tontonan dinamis berbekal beberapa twist. Tidak ketinggalan, adegan pembukanya dimunculkan berulang kali dalam sudut pandang berbeda-beda. Perspektif yang fokus pada H, berfungsi menjelaskan motivasi sang protagonis sekaligus memberi efek kejut, tetapi penuturan ulang secara detail melalui sudut pandang para perampok termasuk Jan (Scott Eastwood), tidak mempunyai tujuan signifikan, kecuali untuk menambal alur yang amat tipis dan bisa diselesaikan hanya dalam 60 menit. 

Tapi seperti telah disebutkan, meski beberapa kekhasan Ritchie di sini bak upaya mengulangi masa kejayaan yang telah lalu, di saat bersamaan, pendekatan stylish-nya turut jadi nilai lebih. Termasuk judulnya, Wrath of Man memiliki beberapa title card berisi kalimat-kalimat seperti "Scorched Earth" dan "Bad Animals, Bad", yang seluruhnya terdengar bagai versi edgy dari kisah-kisah Shakesperean. Musik gubahan Christopher Benstead yang hampir tidak pernah berhenti sepanjang durasi, memunculkan kesan serupa. Kesan bahwa ini merupakan tragedi, di mana amarah, balas dendam, dan kekerasan, tak ubahnya aksi puitis. 

Karena itu pula, sewaktu akhirnya pembalasan terlaksana, Ritchie mengambil risiko dengan tak mengemasnya di nada tinggi (walau terjadi pasca baku tembak berkepanjangan), melainkan menekankan pada emosi personal (baca: duka dan amarah) karakternya. Serupa sang sutradara, Statham jelas bukan figur yang identik dengan sensitivitas, namun kombinasi keduanya memberi jaminan soal presentasi aksi badass nan bergaya.

FAST & FURIOUS PRESENT: HOBBS & SHAW (2019)

Kita tahu, sejak Fast Five, The Fast and the Furious nyaris sepenuhnya meninggalkan akar balap mobilnya untuk mengambil rute blockbuster berskala besar seputar usaha menyelamatkan dunia. Tapi apa yang mesti dilkukan agar Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (atau disingkat “Hobbs & Shaw”) selaku spin-off agar tampil beda dibanding seri utama? Jawabannya sederhana: tukar porsi antara stunt mobil gila dengan adu jotos. Bukan masalah, sebab publik mengasosiasikan merk “The Fast and the Furious” dengan dua hal, yakni tema keluarga dan setidaknya ada satu-dua set piece aksi over-the-top yang menyertakan mobil. Film ini punya keduanya.

Ditulis oleh Chris Morgan sang penulis langganan bersama Drew Pearce (Iron Man 3, Hotel Artemis), plotnya serupa dengan judul-judul sebelumnya. Ada virus berbahaya, teroris yang ingin menguasainya, dan para jagoan harus mencegahnya. Pemerintah meminta bantuan Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham), tapi meski keduanya disebut sebagai “pelacak terbaik” misi kali ini takkan semudah itu.

Pertama, karena mereka tidak akur, selalu bertengkar, melontarkan hinaan, dan saling mengkhianati (khususnya Shaw). Kedua, virus tersebut ada dalam tubuh Hattie (Vanessa Kirby), agen MI6 sekaligus adik Deckard (Ya Tuhan, ada berapa bersaudara sebenarnya di keluarga Shaw?!), yang dituduh berkhianat. Ketiga, lawan mereka adalah “Black Superman”.

Begitulah Brixton (Idris Elba) menyebut dirinya. Dia memang bak Superman. Berkat teknologi cyber-genetic yang ditanam dalam tubuhnya, Brixton memiliki kekuatan fisik di atas manusia normal. Bahkan matanya dipersenjatai teknologi untuk mengkalkulasi serangan musuh. Terdengar gila? Tunggu sampai anda melihat motornya. Motor otomatis yang dapat bergerak sendiri serta bisa berubah bentuk layaknya robot dari Transformers. Itulah yang saya ingin selalu temukan di seri The Fast and the Furious. Semakin menjauhi realita, semakin baik.

Kelemahan justru hadir dari humornya. Sebagai buddy movie, Hobbs & Shaw memang butuh banyak celetukan menggelitik. Johnson dan Statham (plus beberapa cameo mengejutkan) berusaha keras tampil lucu, namun apa daya, materinya memang kurang kuat. Kelakar komedik bukan saja soal membuat karakter melemparkan ejekan absurd sesering mungkin (yang mana film ini lakukan). Dibutuhkan pembangunan, kecermatan memilih kata, pula harus memperhatikan timing juga berapa lama momen itu berlangsung (yang mana tidak film ini lakukan). Setidaknya beberapa tawa tetap bisa diproduksi, salah satunya lewat sebuah humor referensial mengenai salah satu film Jason Statham (tebak film apa).

Beruntung, humor bagi film ini sifatnya sebatas pernak-pernik. Suguhan utamanya tetaplah aksi, dan elemen tersebut tidak mengecewakan. Selain punya Dwayne Johnson dan Jason Statham sebagai duet maut pemeran utama, David Leitch (John Wick, Atomic Blonde, Deadpool 2) pun duduk di kursi sutradara, sehingga tidak mengejutkan saat Hobbs & Shaw jadi yang terbaik dalam seri The Fast and the Furious perihal koreografi laga.

Sekitar 75% aksinya berupa perkelahian tangan kosong, termasuk epic tag team penuh gerak lambat di bawah guyuran hujan selaku klimaks. Leitch memastikan, penonton bisa melihat jelas peristiwa di layar. Siapa melawan siapa, gerakan apa yang karakternya lakukan, hingga di mana pukulan dan tendangan (atau senjata darurat apa pun) mendarat.

Perbedaan gaya bertarung Johnson dan Statham juga berhasil Leitch tekankan. Jika Johnson cenderung kasar dan berisik (kadang mengingatkan akan masa kejayaannya di atas ring sebagai The Rock), maka Statham lebih taktis. Dan di antara kedua alpha male itu, ternyata Vanessa Kirby tak kalah bersinar. Selain menjalin chemistry kuat nan berwarna dengan Johnson-Statham, sang aktris menjadikan Hattie sosok femme fatale berbahaya yang bukan sebatas pemanis di tengah parade testosteron.

Kaya akan adu jotos, bukan berarti Hobbs & Shaw tanpa stunt mobil gila. Seperti sudah trailer-nya ungkap, salah satu bagian film ini bakal mengambil tempat di Samoa, yang merupakan kampung halaman Hobbs (satu lagi benang merah ke tema keluarga). Di situlah kita bisa menyaksikan aksi seru yang melanggar semua hukum fisika sekaligus pembuktian jika Leitch pun mampu menangani spectacle over-the-top. Walau sayang, kemunculannya di trailer mengurangi daya kejut adegan itu.

THE MEG (2018)

Bujet $150 juta, premis tentang serangan Megalodon yang diangkat dari novel Meg: A Novel of Deep Terror buatan Steve Alten, serta kehadiran Jason Statham si “Raja b-movie modern” selaku bintang utama. Modal-modal tersebut tentu memfasilitasi pembuat filmnya untuk berbuat apa saja, tampil segila dan sekonyol mungkin, dengan dasar laut terdalam sebagai batas. Oh, dan juga kreativitas.  Sebab ketika para ilmuwan film ini mampu menembus apa yang selama ini dianggap lautan paling dalam, orang-orang di balik The Meg gagal memaksimalkan potensi filmnya akibat terjebak kreativitas terbatas.

The Meg jelas tidak cukup bagus, tapi juga tidak cukup jelek dan bodoh untuk tampil menghibur.  Seperti Deep Blue Sea (1999) yang juga mengemas serbuan hiu lewat sampul film kelas b, fasilitas riset kelautan pun memegang peranan penting pada kisah film ini. Dipimpin Dr. Minway Zhang (Winston Chao) dan puterinya, Suyin (Li Bingbing), serta dibiayai Jack Morris (Rainn Wilson), diadakanlah penelitian guna menyingkap kehidupan makhluk dasar laut yang belum ditemukan. Menjadi bencana tatkala salah satu makhluk itu adalah Megalodon, hiu prasejarah yang diyakini telah punah.

Sampai di sini, sinopsis di atas mungkin menggiring imajinasi liar anda. Saya pun demikian, apalagi saat satu per satu materi promosi diluncurkan, yang menjanjikan tontonan yang enggan menganggap dirinya terlampau serius. Tapi sutradara Jon Turteltaub (National Treasure, The Sorcerer’s Apprentice) bak malu-malu untuk menghadirkan hiburan yang tidak tahu malu. Hingga 45 menit berlalu, setelah melalui segelintir serangan, The Meg belum juga menampakkan wujud utuhnya. Kita sekedar diperlihatkan kapal yang bergoncang, terlempar, mengalami kerusakan. Turteltaub menyuntikkan terlalu banyak DNA Jaws (1975) ke filmnya.

Tapi The Meg bukan Jaws. Tidak seharusnya dikemas demikian. Tidak ada yang mengharapkan kengerian atau ketegangan berupa teror tak terlihat dalam film soal “Jason Statham vs Megalodon”. Statham sendiri mengerahkan segenap kemampuannya memerankan penyelam gila tanpa rasa takut yang berenang ke arah Megalodon sambil menyenandungkan “Just Keep Swimming”. Statham meyakinkan, dan tiap kali ia beradu satu lawan satu melawan Megalodon, termasuk pada klimaks, The Meg mencapai tingkat hiburan tertingginya.

Andai saja film ini hanya berisi pertarungan keduanya. Namun tidak. The Meg merupakan film 113 menit yang berisi setumpuk peristiwa dan karakter lain yang dibungkus teramat serius sewaktu konsep dasarnya meneriakkan kebodohan yang tak juga dilepaskan. Konon ukuran terbesar Megalodon adalah 18 meter. Menghidupkan lagi Megalodon di era modern sudah melawan sains, lalu apa perlunya menuruti fakta keilmuwan soal ukuran? Turteltaub dan tim urung memanfaatkan kebebasan yang didapat, saat mereka bisa saja berkata, “Ternyata 18 meter hanya ukuran bayi Megalodon”, misal. Tapi saya takkan lebih jauh membahas apa yang tidak ada di filmnya.

Apa yang ada dalam The Meg dan ingin dicapai pembuatnya adalah, “teror serangan hiu raksasa yang bodoh nan menyenangkan”. Pengadeganan Turteltaub tak mampu membuat Meg menonjol dibanding para kompatriotnya yang lebih dulu memangsa di layar lebar ketika sang sutradara gagal menangkap kesan “masif” setiap sang monster tampak. Belum lagi perihal deretan adegan kematian medioker minim imajinasi yang turut tampil malu-malu. Saya tidak tertarik melihat seseorang tewas karena kapalnya tenggelam atau meledak. Seseorang ditelan bulat-bulat, bahkan tanpa harus dikunyah dikarenakan ukuran hiu satu ini begitu besar. Itulah yang mestinya dipamerkan. Setumpuk posternya yang kaya kreativitas jauh lebih menyenangkan ketimbang menonton filmnya sendiri. "The Meh" is a more suitable title for this.

THE FATE OF THE FURIOUS (2017)

At this point, anything is possible in "The Fast and the Furious" franchise. Menghidupkan lagi yang telah mati, tokoh yang semula lawan menjadi kawan, gelaran aksi over-the-top. This is the "Dragon Ball" of Hollywood moviemaking. Tapi suka atau tidak, metode tersebut nyatanya ampuh menjaga laju hingga ke installment kedelapan, di mana seperti telah diungkap trailer-nya, tersusun atas pengkhianatan Dominic Toretto (Vin Diesel) terhadap keluarganya serta Deckard Shaw (Jason Statham) berpindah ke kubu protagonis. Walau belum bergerak ke luar angkasa sebagaimana guyonan (dan harapan) penggemar, The Fate of the Furious tetap memiliki kegilaan aksi tak terbayangkan pula salah satu yang terbaik di serinya. 

Istilah "pensiun dan hidup tenang" terasa semu bagi karakter franchise ini, sebab begitu kehidupan normal dijalani, rintangan baru selalu menghadang lagi. Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) tengah berbulan madu di Kuba sebelum cyber-terrorist bernama Cipher (Charlize Theron) memaksa Dom bekerja sama dan mengkhianati keluarganya. Frank alias Mr. Nobody (Kurt Russell) pun mengumpulkan para kru kembali kali ini dengan tambahan Deckard. Mereka harus menghadapi lawan terberat berupa kombinasi kecanggihan teknologi Cipher dan Dom, sang Alpha Male yang dahulu menyatukan mereka sebagai keluarga. 
Pasca banting setir dari film balapan ke arah heist di Fast Five, perkenalan God's Eye di Furious 7 ibarat membuka jalan The Fate of the Furious melangkah ke jalur lain yakni espionage penuh teknologi canggih. Dari modus operandi Cipher yang mengutamakan peretasan sistem dan kontrol jarak jauh sampai cara Dom mengakali si lawan di akhir (sedikit) menambah warna baru setelah adu otot film-film pendahulunya. Namun selaku obligasi, filmnya tetap menyelipkan balap mobil di adegan pembuka yang turut berperan memberi tribute subtil bagi Brian O'Conner (Paul Walker). 

Alasan banyak pihak berpikir suatu saat franchise ini bakal membawa latar ke luar angkasa didorong asumsi sulitnya melebihi kegilaan film sebelumnya. Tapi fakta berkata lain. Pencurian brankas (Fast Five), pendaratan Dom di atas mobil (Fast & Furious 6), penerjunan mobil dari pesawat hingga menyeberangi Burj Khalifa (Furious 7) membuktikan kreativitas pembuatnya tidak pernah luntur. Menengok materi promosinya, kemunculan kapal selam adalah sajian terbesar. Walau momen itu daya cengkeramnya tak diragukan, gelaran di New York lebih luar biasa. Jika klimaks saat kapal selam mengintai dari bawah es bagai versi bombastis Jaws (lengkap dengan quote "we're gonna need a bigger truck), set piece aksi di New York bak diambil dari film berisi zombie yang berlari cepat.
Sutradara F. Gary Gray (The Italian Job, Law Abiding Citizen, Straight Outta Compton) sukses mengkreasi bukan hanya car chase terbaik dalam seri ini, pula salah satu yang paling memukau di antara adegan serupa sepanjang masa. Ratusan mobil tumpah ruah di jalanan padat New York, menghasilkan kekacauan massal dengan sinkronisasi rumit. Di sini, aksinya naik tingkat dari stunt berlebihan melanggar aturan gravitasi menjadi pameran kreativitas yang juga berlebihan dan gila. 

Keunggulan lain terletak pada perkelahian tangan kosong, apalagi kala Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard terlibat. Keduanya mengandalkan gaya berbeda. Perawakan besar Johnson membuatnya meyakinkan sebagai monster brutal yang sanggup menghempaskan tiga orang sekali pukul. Sementara Statham mengembalikan ingatan penonton pada kejayaan The Transpoter lewat koreografi aksi teknikal di mana ia bergerak lincah melancarkan pukulan mematikan atau memainkan pistol. Sayangnya camerawork Stephen F. Windon kurang cakap menangkap deretan perkelahian karena penempatannya terlalu dekat dari objek, menyulitkan penonton melihat secara jelas. 
Statham dan Johnson sendiri merupakan penampil paling menarik berkat love/hate bromance relationship renyah berbentuk saling ejek dan ancam pengundang tawa. Performa Statham menyegarkan, salah satu hasil terbaiknya, mengingatkan pada peran-peran komedik di awal karir (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch) meski alasan perubahan sikap dari sosok keji di Furious 7 sejatinya kurang masuk akal. Adegan di atas pesawat memperlihatkan kepiawaian sang aktor menyeimbangkan kegarangan serta kelucuan. Roman (Tyrese Gibson) seperti biasa masih badut dalam kelompok, sedangkan Charlize Theron berbekal karisma miliknya mudah saja melakoni peran antagonis yang sekedar mengharuskannya melafalkan kalimat bak penjahat berdarah dingin.

Kelemahan terbesar The Fate of the Furious adalah naskah karya Chris Morgan yang urung meninggalkan daya tarik sewaktu ledakan atau kebut-kebutan absen menghiasi layar. Dialog cheesy, ketiadaan emosi juga intrik memikat jadi penyebab. Plot dibangun berdasarkan kebetulan dan pengaitan paksa antar poin-poin demi memudahkan pergerakan cerita. The Fate of the Furious tak ubahnya b-movie berbiaya raksasa. Namun mengkritisi semua itu dari bagaikan datang ke restoran cepat saji lalu mengeluh bahwa makanan di sana tidak sehat. Bersantai dan nikmatilah rentetan presentasi over-the-top yang sesuai dengan fungsi serta tujuan. Bukan saja seputar aksi, pula kisah kebersamaan keluarga seperti ditampilkan demikian dramatis oleh momen di penghujung film kala Dom terjebak di antara ledakan dahsyat. Pastinya formula tersebut sanggup menjaga bahkan menambah nafas franchise-nya untuk tahun-tahun mendatang.