Tampilkan postingan dengan label Idris Elba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idris Elba. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SONIC THE HEDGEHOG 2

30 April 2019, trailer perdana Sonic the Hedgehog rilis, diiringi cercaan akibat desain buruk si landak biru. Jumlah dislike videonya jauh melebihi jumlah like. 12 November 2019, trailer kedua muncul memperlihatkan desain baru Sonic. Responnya positif, dengan rasio like-to-dislike tertinggi dalam tiga tahun terakhir (pada masa itu). 14 Februari 2020, filmnya resmi tayang, berujung meraup pendapatan 319 juta dollar di seluruh dunia. Salah satu proses paling dramatis sepanjang sejarah Hollywood. 

Dua tahun berselang, sekuelnya lahir. Sonic (Ben Schwartz) kini ditemani Tails (Colleen O'Shaughnessey) dan Knuckles (Idris Elba), sementara Dr. Robotnik (Jim Carrey) kembali, kali ini memamerkan kepala botak selaku ciri khasnya. Semua seperti keluar langsung dari gim. Calon penyandang gelar "adaptasi video game dengan desain terburuk" telah berevolusi jadi salah satu yang terbaik. 

Totalitas mereplikasi gimnya memang kunci sukses Sonic the Hedgehog 2, tatkala ceritanya tak menawarkan hal baru. Masih generik, masih ringan, masih klise sebagaimana film pertama. Di sini Sonic ingin jadi pahlawan super, tetapi selepas aksinya justru mengacaukan kota, Tom (James Marsden) menyebutnya belum siap. Sonic harus lebih banyak belajar soal tanggung jawab. Juga soal kesedian berkorban ketimbang cuma pamer kekuatan. 

Ancaman bagi Sonic tiba, pasca Dr. Robotnik kembali dari luar angkasa berkat bantuan Knuckles, prajurit terakhir suku Echidna, yang menyimpan dendam terhadapnya, sekaligus sedang mencari Master Emerald, batu legendaris pemeberi kekuatan luar biasa. Sonic tak sendirian. Pertolongan diberikan oleh Tiles si rubah berekor dua, yang selama ini mengagumi aksi-aksinya dari jauh. 

Berdasarkan dua paragraf sinopsis di atas saja, rasanya sudah bisa ditebak bakal berkembang ke mana alurnya. Bisa ditebak juga, guna menambah rintangan, filmnya bakal sesekali melupakan kemampuan Sonic bergerak cepat, yang semestinya dapat menyelesaikan beberapa konflik secara cepat pula. 

Tapi ingat, film ini diadaptasi dari permainan platformers. Kompleksitas cerita bukan jualan utama. Terpenting adalah spektakel, dan kehadiran Knuckles jelas memberi tambahan dalam elemen tersebut. Gelaran aksi ringan film pertama ditingkatkan ke ranah lebih dahsyat, menjadi pameran visual seru di bawah penanganan sang sutradara, Jeff Fowler. Sonic dan Knuckles hanya dua kali beradu, tapi keduanya (ditambah klimaks yang menyulap protagonisnya jadi karakter overpowered) adalah contoh bagaimana film adaptasi video game semestinya mempresentasikan aksi. 

Humor Sonic the Hedgehog 2 tak sekuat aksi, di mana wordplay serta komedi fisik sering berakhir hambar (walau bentuk yang disebut kedua bakal efektif menghibur penonton bocah), tapi film ini beruntung memiliki jajaran cast yang sanggup meningkatkan daya bunuh materi medioker. Bagaimana aksinya melibatkan Rachel (Natasha Rothwell), kakak Maddie (istri Tom, masih diperankan Tika Sumpter) yang tengah melangsungkan pernikahan, mungkin nihil signifikansi bagi cerita, namun Natasha Rothwell merupakan suntikan energi besar bagi departemen komedi. 

Oh, dan tentu saja Jim Carrey. Sonic the Hedgehog 2 mengurangi porsi karakter manusia, namun Carrey dengan gaya aktingnya memang lebih dekat dan senada bila bersanding bersama tokoh-tokoh animasinya ketimbang para manusia. Di tangan Carrey, Dr. Robotnik tampil konyol, over-the-top, tanpa kehilangan identitas sebagai ilmuwan brilian, yang kejeniusannya tak jarang terasa mengagumkan. 

REVIEW - THE HARDER THEY FALL

Di awal kelahirannya, genre western kerap dipakai untuk menggambarkan kedigdayaan kulit putih. Mereka adalah jagoan tak terkalahkan, sedangkan POC (Person of Color), terutama suku indian, identik dengan kebuasan, keterbelakangan, kejahatan. Seiring waktu, tren bergeser, kemudian lahir revisionist western. The Harder They Fall termasuk salah satu revisionist yang tidak tanggung-tanggung dalam mengutak-atik formula konvensional genrenya. 

Seluruh cast utamanya adalah kulit hitam, yang mana jarang dilakukan oleh revisionist western sekalipun. Sejauh yang saya tahu, hanya Buck and the Preacher (1972), Thomasine & Bushrod (1974), dan Rosewood (1997) yang mendekati, pun ketiganya tetap menampilkan bintang kulit putih. 

Kisahnya fiktif, namun tokoh-tokoh di naskah buatan Boaz Yakin (Now You See Me) dan sang sutradara, Jeymes Samuel, dibuat berdasarkan figur-figur dunia nyata. Nat Love (Jonathan Majors) jadi protagonisnya. Seorang bandit, yang bersama dua rekannya, Jim Beckwourth (RJ Cyler) dan Bill Pickett (Edi Gathegi), mengkhususkan diri mereka merampok dari para kriminal. Tapi Love menyimpan tujuan lain, yakni balas dendam.

Dendam itu ia alamatkan kepada Rufus Buck (Idris Elba), bandit keji yang 20 tahun lalu membunuh orang tua Love, sekaligus memberinya bekas luka berbentuk salib di jidat. Begitu mengetahui Buck sudah bebas dari tahanan, Love, dibantu mantan pacarnya, Stagecoach Mary (Zazie Beetz), Cuffee (Danielle Deadwyler) yang bekerja di saloon kepunyaan Mary, dan marshal bernama Bass Reeves (Delroy Lindo), berniat menuntaskan aksi balas dendam tersebut.

Hal paling menonjol di film ini jelas soal gaya. Black revisionist western tidak sepenuhnya baru bagi Samuel. Tahun 2013 ia pernah membuat film pendek They Die by Dawn. Ditambah pengalaman menggarap video klip Legacy milik Jay-Z, sekaligus statusnya selaku musisi (Samuel juga adik penyanyi legendaris, Seal, yang bersama Jay-Z turut mengisi soundtrack), The Harder They Fall membawa western ke ranah modern baik dari segi audio maupun visual.

Lagu-lagunya bukanlah yang jamak didengar di film western, melainkan membentang dari hip hop hingga reggae. Visualnya, terutama sebagai pembungkus aksi, diisi tata kamera dinamis, gerak lambat, dan pastinya kekerasan berdarah. "Keren" adalah kata yang diinginkan Samuel agar terucap dari mulut penonton kala menyaksikan filmnya, dan ia berhasil. 

Begitu pula pendekatan jajaran cast terhadap peran masing-masing. Saat berkata, bergestur, berjalan, bahkan berdiri diam pun, mereka berlaku bak "the coolest motherfuckers in the world". Beetz yang makin memesona sejak mencuri perhatian di Deadpool 2 (2018), Lakeith Sanfield sebagai Cherokee Bill, penembak cepat anak buah Buck yang misterius, sampai Regina King sebagai Trudy Smith, tangan kanan Buck yang brutal nan berkarisma. 

Tapi tidak ada yang sanggup menandingi aura Idris Elba. "The name Rufus Buck instills fear", kata Mary. Kita dibuat memercayai itu. Percaya kalau Rufus Buck benar-benar mengerikan, walau dalam memaparkan latar belakang karakternya, The Harder They Fall memakai pendekatan "konon katanya". Elba tetap kokoh, meski upaya naskah menambah kompleksitas bagi karakternya, dengan memberi motivasi soal "mencari promised land", yang mana salah satu ciri narasi western, hanya dikemas seadanya. 

The Harder They Fall memang tipikal tontonan style over substance. Kala adegan aksi absen dari layar, praktis cuma pesona aktor-aktornya saja yang tersisa. Cerita lebih sering absen, sebelum mendadak muncul jelang akhir, dalam bentuk twist, yang tujuannya sebatas untuk mengejutkan penonton. Tidak menambah bobot emosi sebagaimana diharapkan, tidak memberi pengaruh dan/atau konsekuensi terhadap peristiwa-peristiwa sebelumnya. Twist itu pun menghapus potensi epic showdown yang telah dinantikan sedari awal. 

Biarpun melewatkan peluang menghantarkan konklusi epik, The Harder They Fall tetaplah tontonan menghibur penuh gaya. Setidaknya sebelum twist tersebut, filmnya konsisten dengan pendekatan "senang-senang", menolak terlampau serius, bahkan tak jarang menggelitik. Misalnya saat membawa kita mengunjungi Marysville, yang selain berfungsi melempar satir, juga menunjukkan pencapaian tata artistiknya. Tengok komparasi visual Marysville alias "a white town" dengan Redwood. Ketika kota pertama tampak monoton, kota kedua sebaliknya, dihiasi beraneka warna. Memikat mata sekaligus menyentil rasa. 

(Netflix)

REVIEW - THE SUICIDE SQUAD

Saat mendapati buruknya Suicide Squad lima tahun lalu, saya mulai yakin proyek DCEU memang ditakdirkan untuk gagal. Justice League yang rilis setahun berselang adalah "gongnya". Tapi, somehow, kegagalan tersebut berujung berkah. Sejak Aquaman, film DC selalu memuaskan, memberi bentuk shared universe alternatif yang lain dari Marvel. Berkat arah baru itu pula, kita berkesempatan menyaksikan James Gunn "beralih" studio, melahirkan standalone sequel yang dibanding pendahulunya, lebih gritty, namun juga lebih lucu, dan tentu saja lebih baik. 

Semua pasti sudah menduga Gunn bakal menawarkan komedi. Di antara jajaran sutradara/penulis naskah MCU, dialah yang tersukses memakai humor selaku cara menguatkan penokohan dalam dua film Guardians of the Galaxy. Tapi gritty? Bagaimana "gritty" dan "lucu" eksis bersamaan? 

Jawabannya bisa disimak pada sekuen pembuka, saat Amanda Waller (Viola Davis) mengirim tim Task Force X guna menghancurkan Jötunheim, laboratorium tempat eksperimen bernama "Project Starfish" berlangsung. Wajah-wajah lama seperti Harley Quinn (Margot Robbie), Rick Flag (Joel Kinnaman), dan Captain Boomerang (Jai Courtney) tergabung di situ. Saya takkan membocorkan detail adegan. Intinya, Gunn berhasil mencapai apa yang gagal Ayer capai, yakni menekankan, mengapa Task Force X dijuluki "Suicide Squad".

Bukan karena mesti menjalani misi luar biasa berbahaya. Bukan cuma itu, karena semua pahlawan super mengalaminya. Melainkan soal esensi Task Force X, selaku tim yang hidupnya dianggap tidak berharga, sehingga bisa dikirim, tidak hanya untuk bertaruh nyawa, tapi (literally) untuk mati. 

Setelahnya, kita pun bertemu para anggota baru. Bloodsport (Idris Elba) sebagai pemimpin, Peacemaker (John Cena) yang bersedia membunuh siapa saja demi tercapainya perdamaian dunia, Ratcatcher 2 (Daniela Melchior) yang mampu mengontrol tikus, Polka-Dot Man (David Dastmalchian) dengan kekuatan super berupa...well, melempar objek polkadot, dan Nanaue alias King Shark (Sylvester Stallone) si manusia ikan pemakan manusia namun berkepribadian polos. 

The Suicide Squad tampil bagai remidi film sebelumnya. Seorang ahli senjata selaku pemimpin tim yang bersedia ambil bagian demi puterinya (Bloodsport dan Deadshot), wanita yang mencuri perhatian (Ratcatcher 2 dan Harley Quinn), karakter komedik berkekuatan aneh (Polka-Dot Man dan Captain Boomerang), serta sesosok monster (King Shark dan Killer Croc). Tapi sebagaimana harusnya remidi, kali ini hasilnya mengalami peningkatan. Gunn paham, apa saja yang keliru, juga kenapa. 

Karakter Gunn menarik, karena tak menganggap diri mereka terlalu serius. Bloodsport bukan Deadshot yang klise nan membosankan. Dibantu keahlian Elba menangani komedi tanpa kehilangan karisma, ia berperan aktif menghidupkan humor khas Gunn, termasuk saat diduetkan bersama Cena. Bloodsport dan Peacemaker menciptakan rivalitas menggelitik dua alpha male, yang selalu punya waktu saling melempar ejekan. 

Begitu pula King Shark, yang bukan monster tanpa kepribadian layaknya Killer Croc. Dia adalah maskot tim, yang disusun bak kombinasi Groot dan Hulk. Jika si raksasa hijau identik dengan kata "smash", maka "nom nom" jadi catchphrase King Shark. 

Gunn memastikan, The Suicide Squad menjadi film ensemble alih-alih "film Harley Quinn". Porsi Harley dikurangi. Bahkan sampai lewat paruh pertama, ia terpisah dari tim. Gunn sadar, sebaik apa pun penulisannya, pesona Robbie terlalu kuat, berpotensi menenggelamkan tokoh lain. Sebagai gantinya, ia diberi satu sekuen aksi sendiri, sedangkan rekan-rekannya menjalankan "Operation Harley Quinn", guna menyelamatkan Harley dari ancaman musuh. Tapi tentu saja, sebagai salah satu simbol empowerment terbesar di skena film superhero modern, Harley tidak butuh diselamatkan.

Terkait presentasi drama, sebenarnya penulisan Gunn belum layak disebut mulus, karena bergantung pada eksposisi-eksposisi yang dipaksa masuk. Terutama soal masa lalu Ratcatcher 2, yang membuat karakternya memegang peranan penting di keseluruhan alur. Bagaimana flashback diselipkan, terkesan canggung. Kelemahan yang untungnya ditebus oleh sensitivitas penyutradaraan, tatkala Gunn, sebagaimana di dua film Guardians of the Galaxy, menjadikan "keluarga" sebagai senjata terkuat.

Di ranah aksi, The Suicide Squad mengingatkan penonton bahwa James Gunn merupakan "lulusan" Troma, yang identik dengan splatter (debut Gunn adalah menulis naskah Tromeo & Juliet pada 1996). Diiringi pilihan lagu kelas wahid, Gunn membanjiri layar dengan darah dan potongan tubuh manusia. Ketika humor dan plot tipis mulai mencapai batas pasca melewati satu jam (bakal tak terlalu terasa andai durasi di bawah dua jam), aksinya selalu berhasil mengembalikan daya tarik. Apalagi tidak seperti versi Ayer, The Suicide Squad, dengan bujet "cuma" bertambah 10 juta, memiliki kualitas CGI jauh lebih mumpuni (Contohnya Starro dan King Shark).

Mengambil mayoritas latar di tengah hutan yang dihujani api dan ledakan, memberi tim jagoannya misi menyusup ala film caper ke markas militer negara musuh, The Suicide Squad tampil bak film perang. Tepatnya film perang era 1960an hingga 1970an. The Dirty Dozen (1967) muncul pertama di ingatan, sebab serupa The Suicide Squad, film karya Robert Aldrich itu pun mengisahkan tentang pembentukan tim berisi para kriminal paling berbahaya, guna melakoni misi bunuh diri. Bahkan poster kedua film pun mirip (sebuah kesengajaan selaku tribute). Gabungkan itu dengan sentuhan Troma khas Gunn, terciptalah sajian luar biasa menyenangkan. Begitu film usai, saya langsung menontonnya lagi. 


Available on HBO MAX

REVIEW - CONCRETE COWBOY

Ada kemiripan antara debut penyutradaraan Ricky Staub ini, dengan Nomadland. Sama-sama mengangkat komunitas yang terpinggirkan oleh zaman (serta ketidakadilan sosial), keduanya turut menampilkan figur nyata dari tiap komunitas, sebagai pemeran pendukung guna memperkuat kesan organik. Pertanyaan "Kenapa tidak sekalian membuat dokumenter saja?" pun muncul. Bedanya, di karya Chloé Zhao, keberadaan protagonis fiktif berfungsi menambah keintiman, sedangkan di Concrete Cowboy, justru memunculkan distraksi, pula menghalangi penelusuran lebih dalam.

Di awal, kita diperkenalkan pada Cole (Caleb McLaughlin), remaja 15 tahun yang amat sering bikin onar di sekolah, sampai sang ibu (Liz Priestley) menyerah, dan memaksanya tinggal bersama sang ayah, Harp (Idris Elba), yang telah bertahun-tahun tak dia temui. Harp yang tinggal di Philadelphia Utara, merupakan bagian Fletcher Street Urban Riding Club, sebuah komunitas yang mengemban misi melestarikan budaya koboi kulit hitam.

Ya, Concrete Cowboy yang dibuat berdasarkan novel Ghetto Cowboy karya Greg Neri, memotret kultur yang bukan cuma terlupakan, namun bak dihapus dari catatan sejarah akibat rasisme sistemik. Ditemani api unggun, kita mendengar penjelasan para anggota asli letcher Street Urban Riding Club. Tidak lupa tindak whitewashing Hollywood dibahas, yang berujung mengidentikkan "film koboi" dengan maskulinitas kulit putih, mengesampingkan person of color, baik Indian yang kerap digambarkan sebagai antagonis primitif nan brutal, maupun penghapusan eksistensi koboi kulit hitam. Padahal seperti disebutkan salah satu karakter film ini, realitanya, sebagai korban penindasan, koboi kulit hitam malah lebih tahu cara merawat kuda menggunakan kasih sayang.

Obrolan menarik sekaligus informatif tersebut sayangnya cuma berlangsung sejenak. Padahal ada segunung mater yang dapat memfasilitasi lahirnya tuturan panjang, baik berupa narasi fiksi maupun dokumenter. Naskah yang ditulis Staub bersama Dan Walser sebatas berhenti pada tataran permukaan, enggan mengajak penonton memahami lebih lanjut perihal sederet persoalan kompleks, termasuk soal gentrifikasi dan kelayakan habitat bagi hewan. 

Sebagai gantinya, kisah coming-of-age klise lebih dominan. Kita tahu bahwa kelak hubungan Cole dan Harp tak lagi renggang. Kita juga tahu bagaimana pertemanan Cole dengan Smush (Jharrel Jerome), mantan koboi yang banting setir jadi pengedar narkoba, berakhir. Masalah bukan terletak pada keklisean, melainkan betapa keklisean itu menghalangi ruang pengembangan bagi kisah yang jauh lebih menarik dan mengandung relevansi tinggi. 

Bahkan penuturan formulaik itu tidak tersaji maksimal. Proses Cole menemukan kedewasaan sama sekali tidak meyakinkan, terutama karena adanya unsur "child prodigy". Cole bak anak ajaib. Tidak pernah sekalipun menjalani hidup sebagai koboi, tiba-tiba ia jadi satu-satunya orang yang mampu menjinakkan kuda terliar di kota. Sementara hubungannya dengan sang ayah gagal menghadirkan dampak emosional sesuai harapan, tatkala Cole dan Harp amat jarang terlibat interaksi. Tidak peduli sehebat apa pun Idris Elba (yang seperti biasa tampil karismatik), memberinya satu-dua momen saja tidaklah cukup.

Straub membuktikan bahwa sebagai sutradara, ia menyimpan banyak potensi. Warna-warna senja dalam sinematografi Minka Farthing-Kohl yang menemani aktivitas menunggang kuda, pengadeganan serta pergerakan alur yang ditangani penuh kelembutan, adalah beberapa contoh sensitivitas Straub dalam membungkus filmnya. Sayang, ia mencurahkan sensitivitas bagi materi yang pada dasarnya memang sudah kehilangan arah.


Available on NETFLIX

CATS (2019)

Menjadi pertunjukan Broadway terlama keempat sepanjang sejarah, yaitu 18 tahun, dengan total 7.485 pertunjukan (belum termasuk 593 penampilan dalam revival-nya di tahun 2016), adaptasi layar lebar Cats di atas kertas punya prospek besar, apalagi pada masa di mana deretan musikal seperti La La Land dan The Greatest Showman menuai kesuksean. Lalu trailer-nya dirilis, menyebar kabar mulut ke mulu negatif perihal kualitas CGI. Filmnya dicela habis kritikus, pun hancur lebur di pasaran dengan raihan opening weekend $6,5 juta. Setidaknya film ini bisa membuat penonton umum dan kritikus satu suara.

Andrew Lloyd Webber menyusun musikalnya berdasarkan buku kumpulan puisi Old Possum's Book of Practical Cats karya T. S. Eliot, melahirkan kisah tentang sekelompok kucing Jellicle, yang bersiap menghadapi malam istimewa, tatkala beberapa dari mereka berkompetisi memperebutkan kesempatan “diangkat” ke Heaviside Layer guna terlahir kembali dalam kehidupan sesuai keinginan sang pemenang. Kompetisi macam apa? Satu per satu kucing harus menyanyikan lagu tentang diri mereka, menjelaskan alasan mengapa mereka pantas dipilih oleh Old Deuteronomy (Judi Dench) selaku tetua Jellicle.

Lalu apa lagi? Well, that’s it. Cats adalah 110 menit berisi perkenalan karakter. Apa kriteria pemenangnya? Jangankan itu, membedakan nyanyian mana yang bersifat “kampanye” dan mana yang sekadar bentuk perkenalan (baca: penambal durasi) saya susah. Cukup sekali bernyanyi, kemudian selesai. Tidak ada penggalian lebih jauh mengenai “kenapa si A pantas sedangkan si B tidak”, hingga Old Deuteronomy memilih pemenang karena tersentuh oleh balada mengharu biru soal penderitaan. Rupanya ini merupakan kontes berupa “siapa yang lebih menderita”.

Saya membenci kucing yang terpilih. Sebagaimana sinetron kita, yang dia lakukan sepanjang film hanya menangis, meratapi kesialan, lalu menangis lagi. Saya juga benci Victoria (Francesca Hayward), selaku protagonis dengan fungsi eksistensi mendekati nol. Lagu-lagu catchy cenderung cheesy yang mengisi nyaris sepanjang durasi pun tak kuasa meredam kebencian itu. Bahkan kebanyakan lagunya seperti sakarin. Manis bila dikonsumsi secukupnya, tapi bikin mual kalau berlebihan, yang mana dilakukan film ini.

Konon Cats menyimpan alegori bernada religi. Benarkah? Andrew Lloyd Webber meyakini itu, dan sepertinya, Lee Hall (Pride and Prejudice, Rocketman) dan sutradara Tom Hooper (The King’s Speech, Les Misérables) sebagai penulis naskah juga berpikiran sama. Masalahnya, kisah ini berasal dari light poetry, yang seperti namanya, memang bersifat kasual, lucu, ringan (walau beberapa penulis menjadikan medium ini untuk menuturkan pokok bahasan serius secara subtil). Dan Cats menanggapi keganjilan yang dituangkan T. S. Eliot dengan serius. Terlalu serius, filmnya menganggap polah kucing, yang sering terdiam sambil menatap kosong sebagai aktivitas spiritual.

Bagaimana dengan CGI yang ramai dibicarakan itu? Harus dipahami dulu kenapa Cats versi musikal tidak menderita masalah serupa. Poinnya adalah garis batas realita dan dunia rekaan, yang coba ditembus masing-masing versi. Pertunjukan panggungnya tak coba menjadi realis. Sedetail apa pun, pasti ada elemen estetis hiperbolis atau eksprsionisme dalam dekorasi panggung, tata kostum, dan rias. Alhasil, kejanggalan yang tak sesuai realita bersedia penonton terima. Sebaliknya, Cats versi film memakai pendekatan fotorealistik, lewat teknologi digital fur dan motion capture. Filmnya ingin penonton mendapat pengalaman senyata mungkin.

Dampaknya? Sedikit saja kejanggalan bakal mengganggu, dan kejanggalan pada Cats tidaklah sedikit. Kucing-kucingnya tampak bak produk eksperimen laboratorium gagal. Judi Dench dalam balutan bulu-bulu lebat duduk dengan empat kaki, pasukan kecoa serta tikus berwajah manusia yang penempatannya tak sinkron, Idris Elba sebagai Macavity si antagonis dengan kontur tubuh terlihat jelas—berbeda dengan kucing lain, bulunya tipis—hingga membuatnya seperti telanjang bulat, merupakan beberapa contoh pemandangan yang berpotensi membuat penonton bermimpi buruk. Pun tak seperti musikalnya, hampir seluruh wajah aktor dibiarkan layaknya manusia biasa, tanpa riasan, menjadikannya makin aneh. Makin hancur filmnya, ketika nama-nama seperti James Corden dan Rebel Wilson berusaha melucu, melakukan gestur-gestur konyol, yang justru tampak menyeramkan akibat rendahnya kualitas CGI. 

Tidak adakah poin positif di sini? Ada beberapa. Ian McKellen sebagai Gus the Theatre Cat menghantarkan satu-satunya nomor musikal berperasaan tanpa harus bercucuran air mata dan ingus seperti Jennifer Hudson; sekuen perkenalan Skimbleshanks (Steven McRae) si kucing penunggu rel kereta api dikemas cerita, cukup imajinatif, lengkap dengan lagu Skimbleshanks: The Railway Cat yang unik dan menyenangkan; sementara Taylor Swift sebagai Bombalurina si kucing betina penggoda yang jahat mungkin jadi satu-satunya penampil yang sadar sedang berada di film seperti apa, lalu memerankan karakternya bak antagonis film-film kelas B yang over-the-top. Tapi segelintir keunggulan di atas ibarat satu hari terang dalam seminggu yang dipenuhi hujan badai dan banjir bandang.  

FAST & FURIOUS PRESENT: HOBBS & SHAW (2019)

Kita tahu, sejak Fast Five, The Fast and the Furious nyaris sepenuhnya meninggalkan akar balap mobilnya untuk mengambil rute blockbuster berskala besar seputar usaha menyelamatkan dunia. Tapi apa yang mesti dilkukan agar Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (atau disingkat “Hobbs & Shaw”) selaku spin-off agar tampil beda dibanding seri utama? Jawabannya sederhana: tukar porsi antara stunt mobil gila dengan adu jotos. Bukan masalah, sebab publik mengasosiasikan merk “The Fast and the Furious” dengan dua hal, yakni tema keluarga dan setidaknya ada satu-dua set piece aksi over-the-top yang menyertakan mobil. Film ini punya keduanya.

Ditulis oleh Chris Morgan sang penulis langganan bersama Drew Pearce (Iron Man 3, Hotel Artemis), plotnya serupa dengan judul-judul sebelumnya. Ada virus berbahaya, teroris yang ingin menguasainya, dan para jagoan harus mencegahnya. Pemerintah meminta bantuan Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham), tapi meski keduanya disebut sebagai “pelacak terbaik” misi kali ini takkan semudah itu.

Pertama, karena mereka tidak akur, selalu bertengkar, melontarkan hinaan, dan saling mengkhianati (khususnya Shaw). Kedua, virus tersebut ada dalam tubuh Hattie (Vanessa Kirby), agen MI6 sekaligus adik Deckard (Ya Tuhan, ada berapa bersaudara sebenarnya di keluarga Shaw?!), yang dituduh berkhianat. Ketiga, lawan mereka adalah “Black Superman”.

Begitulah Brixton (Idris Elba) menyebut dirinya. Dia memang bak Superman. Berkat teknologi cyber-genetic yang ditanam dalam tubuhnya, Brixton memiliki kekuatan fisik di atas manusia normal. Bahkan matanya dipersenjatai teknologi untuk mengkalkulasi serangan musuh. Terdengar gila? Tunggu sampai anda melihat motornya. Motor otomatis yang dapat bergerak sendiri serta bisa berubah bentuk layaknya robot dari Transformers. Itulah yang saya ingin selalu temukan di seri The Fast and the Furious. Semakin menjauhi realita, semakin baik.

Kelemahan justru hadir dari humornya. Sebagai buddy movie, Hobbs & Shaw memang butuh banyak celetukan menggelitik. Johnson dan Statham (plus beberapa cameo mengejutkan) berusaha keras tampil lucu, namun apa daya, materinya memang kurang kuat. Kelakar komedik bukan saja soal membuat karakter melemparkan ejekan absurd sesering mungkin (yang mana film ini lakukan). Dibutuhkan pembangunan, kecermatan memilih kata, pula harus memperhatikan timing juga berapa lama momen itu berlangsung (yang mana tidak film ini lakukan). Setidaknya beberapa tawa tetap bisa diproduksi, salah satunya lewat sebuah humor referensial mengenai salah satu film Jason Statham (tebak film apa).

Beruntung, humor bagi film ini sifatnya sebatas pernak-pernik. Suguhan utamanya tetaplah aksi, dan elemen tersebut tidak mengecewakan. Selain punya Dwayne Johnson dan Jason Statham sebagai duet maut pemeran utama, David Leitch (John Wick, Atomic Blonde, Deadpool 2) pun duduk di kursi sutradara, sehingga tidak mengejutkan saat Hobbs & Shaw jadi yang terbaik dalam seri The Fast and the Furious perihal koreografi laga.

Sekitar 75% aksinya berupa perkelahian tangan kosong, termasuk epic tag team penuh gerak lambat di bawah guyuran hujan selaku klimaks. Leitch memastikan, penonton bisa melihat jelas peristiwa di layar. Siapa melawan siapa, gerakan apa yang karakternya lakukan, hingga di mana pukulan dan tendangan (atau senjata darurat apa pun) mendarat.

Perbedaan gaya bertarung Johnson dan Statham juga berhasil Leitch tekankan. Jika Johnson cenderung kasar dan berisik (kadang mengingatkan akan masa kejayaannya di atas ring sebagai The Rock), maka Statham lebih taktis. Dan di antara kedua alpha male itu, ternyata Vanessa Kirby tak kalah bersinar. Selain menjalin chemistry kuat nan berwarna dengan Johnson-Statham, sang aktris menjadikan Hattie sosok femme fatale berbahaya yang bukan sebatas pemanis di tengah parade testosteron.

Kaya akan adu jotos, bukan berarti Hobbs & Shaw tanpa stunt mobil gila. Seperti sudah trailer-nya ungkap, salah satu bagian film ini bakal mengambil tempat di Samoa, yang merupakan kampung halaman Hobbs (satu lagi benang merah ke tema keluarga). Di situlah kita bisa menyaksikan aksi seru yang melanggar semua hukum fisika sekaligus pembuktian jika Leitch pun mampu menangani spectacle over-the-top. Walau sayang, kemunculannya di trailer mengurangi daya kejut adegan itu.

PACIFIC RIM: UPRISING (2018)


We are cancelling the apocalypse!”, demikian pidato membahana Jenderal Stacker Pentecost (Idris Elba) yang menentukan nuansa Pacific Rim (2013). Sebuah akhir dunia, ketika di tengah malam gelap, di antara gedung-gedung pencakar langit, monster raksasa alias Kaiju melancarkan serangannya, dan nyaris tiada harapan bagi umat manusia. Dalam Uprising, sekuel yang tiga tahun lalu sepertinya mustahil direalisasikan akibat performa box office film pertamanya biasa saja, atmosfer itu dilucuti, sementara mayoritas aksi terjadi di siang hari bolong. Singkatnya, Pacific Rim: Uprising memilih berpindah ke aliran “Bayhem”.

Tapi sutradara debutan Steven S. DeKnight bukan Michael Bay, sebagaimana Jake Pentecost (John Boyega), putera Stacker Pentecost, bukanlah ayahnya. Putera seorang pahlawan perang yang mengorbankan nyawa demi menutup portal penghubung dunia kita dengan Kaiju, Jake justru menjadi pencuri rongsokan sisa-sisa Jaeger. Juga mengorek rongsokan adalah gadis remaja bernama Amara Namani (Cailee Spaeny) yang ingin (lalu berhasil) membangun Jaeger seorang diri. Keduanya bertemu, sedikit bersitegang dalam interaski love/hate menarik yang membuat saya berharap barter kalimat mereka terjalin lebih sering.
Alih-alih demikian, rivalitas setengah matang antara Jake dengan Nate Lambert (Scott Eastwood), salah satu pilot Jaeger justru sempat mengambil alih sentral. Pertmuan mereka terjadi setelah Jake dan Amara harus “menebus dosa” dengan bergabung di kesatuan militer setelah direferensikan oleh Mako (Rinko Kikuchi), protagonis film pertama sekaligus saudari tiri Jake. Amara dengan bakat mekaniknya, sementara Jake mewarisi kehebatan sang ayah mengendalikan Jaeger. Beberapa kali, Jake menegaskan bahwa ia dan ayahnya berbeda. Saya setuju. Boyega jelas bukan Elba. Dia lucu, likeable, tapi kekurangan karisma sebagai jagoan utama film aksi.

Kita tahu akan ada titik balik pada sikap Jake, dan kemunculan Mako menyiratkan apa pemicunya. Saya amat menantikan titik balik tersebut, poin di mana Jake, beserta filmnya, bakal total terjun ke medan perang. Karena, keputusan menghilangkan atmosfer “impending doom” ditambah kurangnya daya tarik dalam alur meminimalkan tensi tatkala layar tidak sedang diisi pertarungan Jaeger melawan Kaiju. Apalagi sepanjang paruh awal jarak tiap pertarungan terlampau jauh. Tapi titik balik yang saya nanti baru benar-benar terlihat begitu markas militer diserbu serangan mendadak. Tempo dipercepat dan pertaruhan nyawa meningkat, yang bermuara pada totalitas klimaks.
Sekali lagi, Steven S. DeKnight bukan Michael Bay yang piawai merangkai ledakan bombastis memikat mata dalam rentetan pertempuran para raksasa yang nyaris seluruhnya dikemas bak puncak segalanya. Bagusnya, DeKnight menyusun koreografi pertempuran ketimbang sekedar membenturkan besi-besi tanpa bentuk maupun orientasi gerakan pasti. Ada kesadaran terhadap ruang, waktu, juga wujud. Robot-robot DeKnight bisa berguling, menendang, berkelahi dengan lincah, memamerkan beraneka ragam senjata, dan penonton takkan kesulitan mengamati apa yang tengah terjadi dan melibatkan siapa saja.

Saya yakin akan sering mendengar pertanyaan “lebih bagus mana dibanding film pertama?”. Biar saya jabarkan. Kalau anda menyukai Pacific Rim dengan alasan seperti saya, yaitu atmosfer “hari akhir” yang mengiringi pertarungan seru, besar kemungkinan Uprising kurang memuaskan. Tapi jika anda menyukainya karena alasan berbeda, atau justru sebaliknya, bukan merupakan penggemar disebabkan pertempuran di film pertama kurang mengedepankan unsur “fun” boleh jadi sekuelnya menghadirkan kesenangan. Setidaknya, bagi penonton yang mencari aksi imajinatif seputar robot raksasa, Pacific Rim: Uprising masih memberikan tempat bernaung.