Tampilkan postingan dengan label Susan Bachtiar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Susan Bachtiar. Tampilkan semua postingan
NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (2020)
Rasyidharry
Sebuah pesawat kertas melayang di
atas awan, diiringi lagu Rehat milik
Kunto Aji yang mengeset keseluruhan mood Nanti
Kita Cerita Tentang Hari Ini (damai, agak puitis, sesekali sendu, terkadang
hangat), membuka film panjang kesebelas sutradara Angga Dwimas Sasongko ini,
yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan Marchella FP. Menurut Angga,
inilah karyanya yang paling membanggakan. Pernyataan itu beralasan. Mengingatkan
akan gaya Hirokazu Koreeda, Angga menangani materi yang oleh sutradara lain
mungkin bakal digiring ke arah tearjerker
menjadi sajian slice of life bernuansa
kontemplatif bertema keluarga yang tetap mudah dinikmati kalangan luas.
Pasangan suami-istri, Narendra (Oka
Antara) dan Ajeng (Niken Anjani) sedang menyambut kelahiran puteri bungsu
mereka, Awan. Tapi ketimbang kebahagiaan, kesedihan justru terpancar. Kemudian
kisahnya melompat menuju beberapa tahun kemudian, kala ketiga buah hati
Narendra dan Ajeng (kini diperankan Donny Damara dan Susan Bachtiar) telah
beranjak dewasa. Walau keluarga ini sekilas bahagia, tampak betul Narendra
menganakemaskan Awan (Rachel Amanda). Disuruhnya Angkasa (Rio Dewanto) si anak
sulung menjemput adiknya tiap pulang kerja, sedangkan Aurora (Sheila Dara) si
anak kedua lebih gemar mengurung diri di studio, membuat benda-benda seni
kontemporer.
Dampaknya, Angkasa kerap
terdistraksi dan tak berkesempatan mengejar kebahagiaannya sendiri; Aurora
merasa dikesampingkan; pun Awan mulai jengah dikekang. Bahkan Awan sampai harus
berulang kali terlibat pertengkaran dengan ayahnya kala mulai menjalin
kedekatan dengan Kale (Ardhito Pramono), rekan Angkasa sekaligus manajer band
idolanya. Apa alasan Narendra begitu mengatur anak-anaknya? Mengapa sebegitunya
ia “menjaga” Awan? Apakah semata karena Awan puteri bungsu? Beberapa flashback yang sesekali muncul, akan
pelan-pelan mengupas alasannya, meski jika memperhatikan, jawaban itu bisa anda
dapat sedari momen pembuka.
Ditulis oleh Angga bersama Jenny
Jusuf (Filosofi Kopi, Critical Eleven,
Mantan Manten) dan Melarissa Sjarief, naskahnya sanggup menjadikan deretan
kilas balik tersebut media mengokohkan pondasi penokohan. Dorongan suatu
perbuatan maupun sikap hingga perasaan yang dirahasiakan, terpapar secara subtil
namun jelas. Subtil. Nanti Kita Cerita
Tentang Hari Ini tidak menganggap penontonnya bodoh. Kita diseret oleh
dinamika kisah yang oleh Angga dialirkan dengan penuh kesabaran, dibiarkan
merasakan ketimbang disuapi, sehingga kisahnya makin kaya dan bisa dimaknai
berbeda oleh masing-masing penonton.
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah tentang dinamika
kompleks antara anak sulung, tengah, dan bungsu. Pun ini juga soal kebebasan
dalam hubungan, baik itu bersifat romansa atau di lingkup keluarga. Ini juga
mengenai impian, kebahagiaan, bahkan menyentil perihal patriarki, dan
maskulinitas di mana ayah sebagai kepala keluarga senantiasa mengatur,
sedangkan anak laki-laki (apalagi kalau berstatus putera sulung) harus jadi
yang paling kuat. Sampai akhirnya film ini memperlihatkan bahwa kedua laki-laki
yang awalnya tampak lebih meledak-ledak itu malah jauh lebih rapuh dibanding
para perempuan yang sebelumnya dituntut atau memilih diam.
Naskahnya pun jeli mengolah dialog,
melahrikan sederet kalimat quotable yang
puitis, tapi tetap terdengar kasual. Poin tersebut senada dengan nuansa yang
dibangun Angga melalui pengarahannya. Ditemani kombinasi pilihan lagu-lagu sang
sutradara yang seperti biasa meneduhkan pula enak didengar (Rehat, Lagu Pejalan, Awal & Akhir, Fine
Today), juga sinematografi garapan Yadi Sugandi (Petualangan Sherina, Athirah, Ada Apa Dengan Cinta 2) yang mampu menggali
ruang personal dalam interaksi manusia, Angga memamerkan kepekaannya, melalui
pengadeganan yang mengutamakan keintiman tanpa banyak menerapkan “rekayasa”
teknis seperti scoring mendayu
misalnya.
Bahkan setelah memasuki third act, yang sejatinya merupakan
parade peristiwa-peristiwa penguras air mata selaku payoff yang memang pantas penonton dapatkan selepas menyaksikan
fragmen-fragmen keseharian sederhana selama lebih dari 90 menit. Di tangan
Angga, jajaran pemain mendapat panggung unjuk gigi. Duet Oka Antara-Niken
Anjani mengobrak-abrik perasaan di latar masa lalu; Donny Damara dan Rio
Dewanto sebagai ayah-anak menyiratkan kerapuhan di balik kerasnya karakter
masing-masing; Sheila Dara melanjutkan rentetan kegemilangannya dalam
judul-judul produksi Visinema melalui keheningan menusuk; Rachel Amanda akan
menarik simpatimu; dan saat Susan Bachtiar memecahkan kediamannya, di situlah
film ini meledakkan pesan empowerment-nya.
Berkat mereka semua, Nanti Kita Cerita
Tentang Hari Ini membuka 2020 secara hangat.
Januari 03, 2020
Angga Dwimas Sasongko
,
Ardhito Pramono
,
Bagus
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Jenny Jusuf
,
Melarissa Sjarief
,
Niken Anjani
,
Oka Antara
,
Rachel Amanda
,
REVIEW
,
Rio Dewanto
,
Sheila Dara
,
Susan Bachtiar
,
Yadi Sugandi
BEBAS (2019)
Rasyidharry
Selama pembuatnya tidak mengacau, remake dari Sunny (2011) takkan berakhir buruk, karena basis materinya luar
biasa solid, meski sederhana. Bebas, selaku
remake ketiga setelah versi Vietnam, Go Go Sisters, dan versi Jepang, Sunny: Our Hearts Beat Together yang
sama-sama rilis tahun lalu, membuktikan itu. Kelemahan tercipta saat naskahnya
melakukan modifikasi berupa pengurangan elemen cerita, sementara titik-titik
terbaik hadir dalam momen reka ulang yang setia terhadap materi aslinya.
Pemakaian judul Bebas merujuk pada lagu legendaris
berjudul sama karya Iwa K, sekaligus nama geng di mana protagonisnya, Vina
Panduwinata (Maizura) si murid baru, tergabung. Geng Bebas dipimpin oleh
Krisdayanti (Sheryl Sheinafia), siswi jago bela diri yang disegani di sekolah.
Ya, jika Sunny mengambil nama girl group seperti So Nyeo Shi Dae alias
Girls’ Generation (kalau tak salah Fin.K.L. juga sempat disebut) untuk gengnya,
maka Bebas menjadikan nama diva tanah
air sebagai nama karakter.
Selain keduanya, geng Bebas juga
beranggotakan tiga perempuan; Jessica (Agatha Pricilla) yang gemar mempercantik
diri, Gina (Zulfa Maharani) si gadis kaya, Suci (Lutesha) si model ternama, dan
seorang laki-laki, yaitu Jojo (Baskara Mahendra). Tentu perpisahan tak
terelakkan, tapi keenam remaja ini bersumpah akan terus bersama meski kelak
tumbuh dewasa. 25 tahun pun berlalu.
Vina dewasa (Marsha Timothy) telah
hidup mapan tapi ia merasa hampa. Tanpa sadar, dia hanyalah karakter pendukung
di kehidupannya. Istri seseorang, ibu seseorang, dan melupakann identitas diri
sendiri. Sampai Vina bertemu Kris (Susan Bachtiar) yang terbaring di rumah
sakit dan divonis umurnya tinggal tersisa dua bulan. Permintaan terakhir Kris
adalah agar Vina mengumpulkan geng Bebas sekali lagi sebelum ajal menjemputnya.
Naskah buatan Mira Lesmana (Ada Apa dengan Cinta?, Laskar Pelangi,
Kulari ke Pantai) dan Gina S. Noer (Posesif,
Keluarga Cemara, Dua Garis Biru) secara keseluruha masih mengikuti pola
yang diterapkan naskah aslinya yang ditulis oleh Kang Hyeong-cheol. Tetap
menerapkan narasi non-linear yang terus melompat antar era sekarang dan SMA,
pun masih mengusung tema besar mengenai kesemuan masa dewasa kala individu
melupakan jati dirinya akibat tuntutan realita.
Tapi seperti sudah saya singgung,
ada perubahan. Beberapa memberi kekhasan, beberapa justru melemahkan. Perubahan
yang berhasil, terkait penggantian gender karakter. Keberadaan Jojo membawa Bebas menyinggung perihal identitas
gender, preferensi seksual, serta pandangan sosial akan machismo. Sosok
penindas di sekolah pun diubah jadi laki-laki, yakni Andra (Giorgino Abraham).
Suatu keputusan yang menguatkan tuturan soal “kekuatan wanita”. Berkat
kesubtilan naskahnya menuturkan bahasan-bahasan di atas, Bebas berhasil tampil kritis tanpa perlu terkesan politis.
Perubahan yang kurang berhasil
terletak pada penghilangan beberapa unsur, yang menurut Mira dan Gina,
dipandang tak seberapa substansif. Mungkin betul, namun naskah Sunny ibarat puzzle yang
keping-kepingnya menciptakan kesatuan sempurna. Ketika beberapa keping hilang,
gambaran besarnya tetap bisa dipahami, tapi meninggalkan lubang mengganggu.
Begitulah jalannya film ini. Pergerakan alur di beberapa titik terasa kasar dan
buru-buru, lalu berujung merusak dinamika.
Beruntung dampak emosi tidak ikut
terlemahkan, sewaktu penyutradaraan Riri Riza berhasil mengkreasi ulang rasa di
momen-momen ikonik milik Sunny dengan
sensitivitas serupa. Departemen musik juga berkontribusi besar pada
keberhasilan tersebut. Scoring garapan
Lie Indra Perkasa (Banda the Dark
Forgotten Trail, 6,9 Detik) paling memikat kala memperdengarkan suara synth
bernuansa dreamy yang membuai hati.
Sementara pilihan soundtrack-nya, senada dengan tujuan Bebas selaku kapsul waktu, menampilkan
deretan lagu populer era 90-an yang efektif membangun mood, sebutlah Cukup Siti
Nurbaya, Bidadari, Aku Makin Cinta, dan pastinya Bebas. Tapi satu lagu yang penggunaannya paling saya suka adalah Sendiri milik mediang Chrisye, yang
mengiringi salah satu sekuen terbaik film ini (sekuen serupa di Sunny memakai Reality milik Richard Sanderson). Magis, indah, intim, dan amat
mengharukan.
Tapi apa jadinya semua itu bila
tidak dibarengi kehebatan jajaran cast dua
generasinya. Dua kutub berlawanan, Sheryl Sheinafia yang tangguh dan Maizura
beserta kepolosannya memotori era 90an, didukung Baskara Mahendra melalui
intrepretasi akan sosok laki-laki feminin yang menolak terjebak pada stereotip. Menyenangkan pula menyaksikan Amanda Rawles memainkan peran berbeda, sebagai Lila si ketua geng lawan yang bermulut besar tapi sebenarnya penakut.
Di latar modern, prestasi Baskara Mahendra dilanjutkan oleh Baim Wong sebagai Jojo dewasa, sedangkan
Marsha Timothy dan Indy Barends (Jessica dewasa), masing-masing sukses
mengemban tugas sebagai ujung tombak elemen dramatik dan komedik. Geng Bebas di
dua generasi sama-sama punya chemistry solid,
yang mewakili kehangatan serta keseruan kala hidup diisi kebebasan memilih jati
diri.
Oktober 04, 2019
Agatha Pricilla
,
Amanda Rawles
,
Bagus
,
Baim Wong
,
Comedy
,
Drama
,
Gina S. Noer
,
Indonesian Film
,
Indy Barends
,
Lutesha
,
Maizura
,
Mira Lesmana
,
REVIEW
,
Riri Riza
,
Sheryl Sheinafia
,
Susan Bachtiar
,
Zulfa Maharani
Langganan:
Komentar
(
Atom
)



