Tampilkan postingan dengan label Padri Nadeak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padri Nadeak. Tampilkan semua postingan
DUA GARIS BIRU (2019)
Rasyidharry
Petisi penolakan terhadap Dua Garis Biru beberapa waktu lalu
justru menguatkan urgensi debut penyutradaraan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara) ini. Filmnya
tidak mengajarkan seks bebas, tidak pula mengutuknya, sebab Dua Garis Biru tidak terjebak dalam
ruang moralitas seperti para penggagas petisi itu. Ketimbang menyalahkan, kita
diajak belajar tentang apa yang mesti dilakukan.
Kegemaran menghakimi adalah
mentalitas yang ingin film ini runtuhkan. Bahkan sejak momen awal, kita
langsung diperlihatkan contoh mentalitas itu, saat seorang guru berkata bahwa masa
depan Dara (Zara JKT 48) cerah karena mendapat nilai 100, sebaliknya, Bima (Angga
Yundanda) dengan nilai 40-nya tak punya masa depan. Kedua remaja ini berpacaran
meski sekilas amat berlawanan. Bukan cuma soal akademik, juga status sosial.
Dara yang berasal dari keluarga kaya bermimpi melanjutkan studi di Korea, sebaliknya,
orang tua Bima belum tentu mampu membiayai kuliahnya.
Sampai suatu hari, pasangan ini
berhubungan badan, dan seperti kita tahu, Dara akhirnya mengandung. Awalnya
mereka berusaha menyembunyikan kehamilan Dara lewat beberapa rencana yang
menunjukkan betapa remaja memang naif dan berpikiran pendek. Mereka pikir perut
Dara yang makin besar bisa terus disembunyikan sampai kelulusan tiba. Mereka
pikir si jabang bayi akan lahir begitu saja tanpa satu orang pun tahu. Mereka
pikir proses kehamilan, kemudian persalinan, berjalan semudah itu.
Secepat kilat rahasia itu
terbongkar. Cara Dua Garis Biru mengungkap
kehamilan Dara sebenarnya terasa dipaksakan, tapi paling tidak, momen itu
membuka jalan masuknya deretan situasi emosional, termasuk “adegan UKS” selaku
adegan terbaik film ini, baik secara rasa maupun teknis.
Di situlah amarah, keterkejutan,
dan keputusasaan menyambar bak petir. Di situlah jajaran cast bertalenta film ini untuk kali pertama berkumpul di satu
ruangan. Di situlah kekecewaan Lulu Tobing (ibu Dara) menggelayuti layaknya
awan mendung, amukan Dwi Sasono (ayah Dara) membuat orang-orang tersentak, kesabaran
Arswendy Bening Swara (ayah Bima) muncul selaku penengah, sementara Cut Mini (ibu
Bima), biarpun hanya berenjatakan dua kata, memasuki panggung dengan letupan
yang membuat saya terpaku seketika.
Walau terdapat begitu banyak
karakter saling melempar kalimat berintensitas tinggi, Gina justru menerapkan single take. Nekat, tapi terbayar. Melalui
penataan kamera Padri Nadeak (Belok Kanan
Barcelona, Hit & Run) yang bergerak penuh ketepatan timing ditambah kejelian Gina mengatur mise-en-scène, atmosfer “berat” yang
membebani karakternya bisa turut kita rasakan.
Gina turut menumpahkan beragam hal
yang ingin ia sentil dalam satu adegan itu, dari keputusan sekolah yang sebatas
mementingkan citra, sampai kecenderungan orang tua mengedepankan ego dan emosi
selepas mendengar kabar buah hati mereka hamil/dihamili. Tentu respon itu
manusiawi. Alamiah. Sayangnya, tak sedikit orang tua berhenti di fase tersebut.
Karena itu, Dua Garis Biru coba
menuntun kita guna menemukan solusi.
Daripada menuding sambil berkoar, “Zina!
Haram!! PENDOSA!!!”, Gina dengan cermat menjabarkan satu per satu dampaknya.
Dampak di lingkup sosial, keluarga, masa depan, psikis, dan tentunya kesehatan
fisik. Dua Garis Biru memandang
penontonnya sebagai individu pintar lewat keengganannya menggiring opini.
Seolah kita dipersilahkan memilih, sementara filmnya berkata lembut, “Demikian akibat-akibat
yang dihasilkan. Apa kalian siap?”, alih-alih berteriak “Jangan lakukan!”.
Beginilah sebenar-benarnya “film edukasi”.
Di tengah berbagai pesan
usungannya, Dua Garis Biru tetap
membawa kita kembali ke akar, apalagi kalau bukan keluarga, yang seharusnya
jadi tempat berlindung. Dan dari situ filmnya memperoleh setumpuk momen
emosional. Agak terlalu banyak malah, sehingga menjelang akhir, daya bunuhnya
sempat berkurang. Makanan selezat apa pun bakal berkurang kenikmatannya jika
dikonsumsi berlebihan.
Beruntung, Gina tak menaburkan
terlampau banyak bumbu. Dia memilih untuk memanfaatkan akting pemain dan hanya
menyelipkan kata-kata sederhana namun bermakna, yang sudah cukup merangkum
semua rasa yang perlu penontonnya pahami. Contohnya permintaan maaf Dara kepada
sang ibu. Air mata mengalir secukupnya, pula tanpa bait-bait puisi.
Mari membicarakan Dara, atau
tepatnya sang pemeran, Zara JKT 48. Walau dikelilingi nama-nama besar, Zara tak
pernah tampak kerdil. Bersama Angga, ia membangun chemistry manis, sehingga walau Bima dan Dara melakukan tindakan
bodoh, saya masih memedulikan keduanya. Begitu pula yang semestinya terjadi
apabila orang di sekitar kita mengalami kejadian serupa. Mereka mungkin bodoh,
kita pun boleh marah, namun cinta, kepedulian, serta akal sehat tak boleh
menguap.
Juli 12, 2019
Angga Yunanda
,
Arswendy Bening Swara
,
Bagus
,
Cut Mini
,
Drama
,
Dwi Sasono
,
Gina S. Noer
,
Indonesian Film
,
Lulu Tobing
,
Padri Nadeak
,
REVIEW
,
Zara JKT48
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

