Tampilkan postingan dengan label Angga Yunanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angga Yunanda. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENCURI RADEN SALEH

Mencuri Raden Saleh punya segudang alasan untuk diragukan. Genre yang kurang lazim di perfilman Indonesia, kapasitas Angga Dwimas Sasongko mengarahkan aksi yang tak sekuat drama, jajaran bintang idola anak muda yang sekilas dipilih cuma demi mengejar untung, hingga trailer yang tak spesial biarpun jauh dari buruk. Hasilnya? Surprise, this is one of our best blockbusters in years. 

Salah satu upaya terbaru film Indonesia merambah heist adalah lewat The Professionals (2016) yang luar biasa canggung, akibat memandang genre ini sebatas mementingkan karakter ganteng dan cantik bertingkah sok keren, sembari mengenakan setelan mahal. Mencuri Raden Saleh juga dipenuhi karakter ganteng dan keren, tapi mereka bukan sekadar pajangan. 

Ditulis oleh Angga bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perburuan), naskahnya tahu cara mengelola karakter. Buktinya, ia rela menghabiskan banyak porsi guna mengupas jati diri mereka, walau harus membuat filmnya berdurasi 154 menit (andai di bawah dua jam, hasilnya pasti hambar). 

Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda) bekerja sama dalam bisnis pemalsuan lukisan. Piko adalah pemalsu handal, sedangkan sebagai peretas, Ucup mampu memperoleh data yang diperlukan agar lukisan itu terlihat seasli mungkin. Piko mengumpulkan uang demi dua hal: membahagiakan kekasihnya, Sarah (Aghniny Haque), yang sedang berjuang menembus tim PON, dan membebaskan ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. 

Maka ketika datang tawaran besar dari mantan presiden, Permadi (Tio Pakusadewo), untuk mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disimpan di istana negara, Piko tak kuasa menolak. Tim pun dikumpulkan: Gofar (Umay Shahab) si mekanik, Tuktuk (Ari Irham) si driver, dan Fella (Rachel Amanda) si bandar judi yang jadi tambahan sumber daya sekaligus otak rencana. 

Kita tahu jati diri, motivasi, dan terpenting, kemampuan mereka. Naskahnya meluangkan waktu, memberi porsi merata, supaya penonton yakin mereka merupakan ahli di bidang masing-masing. Kecuali Tuktuk. Mencuri Raden Saleh tak punya sekuen kebut-kebutan memadai sebagai pembuktian kualitas Tuktuk. 

Deretan karakternya pun hidup berkat performa tiap pemain. Iqbaal mengeksplorasi sisinya yang lebih tertutup, Angga Yunanda berevolusi jadi lead matang yang tampil lepas (I didn't know he can be this cool), Umay menampilkan akting dramatik, juga komedik melalui celetukan naturalnya. Mudah mendukung perjuangan mereka. Perjuangan yang senada dengan esensi lukisannya selaku simbol perlawanan terhadap kelicikan para pemegang kekuatan. 

Mengenai lukisan, keberhasilan filmnya mereproduksi karya Raden Saleh (konon dibuat oleh seorang pelukis maestro yang tentu saja tak bisa diungkap identitasnya) juga suatu pencapaian, sekaligus bukti bahwa Angga memedulikan detail. Total lima kanvas dibuat dalam beragam fase (sketsa hingga hasil akhir). 

Menyebut naskahnya mulus total mungkin kurang tepat. Beberapa detail rencana terkadang diolah kurang matang, pun twist-nya agak bergantung pada kebetulan, pula membuat ceritanya lebih rumit dari yang dibutuhkan. Tapi secara keseluruhan, alurnya cukup "belokan" sehingga dua setengah jam durasi terisi padat, entah berupa konflik interpersonal atau terkait jalannya misi. Tentu misinya tak berjalan mudah. Terjadi kegagalan yang sekilas nampak bodoh, namun kebodohan berujung kesalahan itu masuk akal, sebab tokoh-tokohnya bukanlah pencuri profesional.  

Meski tersisa sedikit keluhan, pengarahan aksi Angga kentara mengalami peningkatan. Terlebih, kali ini lubangnya tak terlalu mengganggu berkat iringan musik gubahan Abel Huray yang menyokong intensitas adegan. Bintangnya tentu Aghniny. Kita tahu kemampuan bela dirinya mumpuni, tapi baru di Mencuri Raden Saleh potensinya benar-benar dimaksimalkan. Kamera menangkap seluruh karisma serta gestur Aghniny, seolah ia (kamera) sendiri dibuat kagum olehnya. Aksinya menghajar musuh dalam balutan gaun merah merupakan puncak. Kemunculan Reza Hilman (juga menjabat koreografer film ini) di momen tersebut mungkin terkesan tiba-tiba, pula tanpa substansi berarti selain sebuah easter eggs, namun menyaksikan kombinasi dua jagoan bela diri tetap mengandung daya pikat tersendiri. 

Mencuri Raden Saleh membuktikan betapa industri kita sejatinya telah sangat siap melangkah lebih jauh dalam hal penambahan variasi. Bukan lagi di tahap "mari apresiasi karya unik anak bangsa". Sineas kita sudah menjalankan tugasnya. Sekarang semua terletak di tangan publik, untuk menentukan seberapa jauh upaya menambah keberagaman bakal melangkah. 

REVIEW - CINTA PERTAMA, KEDUA & KETIGA

"Tu wa ga, tu wa ga", ucap karakternya kala menghitung langkah waltz yang kerap mereka tarikan. Ada romantisme tersendiri pada waltz, yang dibawakan berpasangan dalam posisi berdekatan (sempat dianggap tak bermoral di awal kelahirannya dulu), sembari keduanya melenggang, lalu berputar dengan anggun. Itulah mengapa ada istilah "waltz through" guna menggambarkan pergerakan yang carefree, baik secara literal maupun figuratif. 

Begitu pula manusia-manusia di Cinta Pertama, Kedua & Ketiga garapan Gina S. Noer ini. Didasari cinta, mereka bergerak bebas, seolah tidak memedulikan batasan apa pun. Raja (Angga Yunanda) dan Asia (Putri Marino) sama-sama memikul tanggung jawab besar merawat orang tua masing-masing. Dewa (Slamet Rahardjo Djarot), ayah Raja, kesehatannya telah menurun, sedangkan ibu Asia, Linda (Ira Wibowo) merupakan penyintas kanker payudara. 

Dewa jatuh cinta selepas mengikuti kelas tari milik Linda. Raja dan Asia sejatinya mendukung hubungan keduanya, karena merasa orang tua mereka pantas mendapat kebahagiaan pasca setumpuk penderitaan. Tapi kedekatan dua keluarga ini rupanya turut menautkan hati Raja dan Asia, yang tentu saja menciptakan kerumitan. 

Selepas romansa toxic di Posesif (2017) dan kehamilan remaja di Dua Garis Biru (2019), Gina kembali mengolah tema yang cenderung tabu melalui naskahnya. Apalagi saat dengan berani, ia membawa Dewa dan Linda ke jenjang pernikahan, yang berarti, tatkala hubungan Raja dan Asia makin intens, status mereka sudah menjadi saudara tiri. 

Tapi dibanding dua judul di atas, Cinta Pertama, Kedua & Ketiga punya kemasan lebih ringan, melalui bumbu humor (yang sayangnya tidak selalu tepat sasaran) serta penekanan pada kehangatan relasi keluarga. Pun Gina mengemasnya dengan sensitivitas. Premis seperti ini mudah sekali digiring ke ranah seksualitas berlebih bahkan perversi, namun Gina tetap mengutamakan hati.

Romantisme mampu dihadirkan melalui momen yang menyasar rasa daripada (cuma) hasrat. Misal malam pertama Dewa dan Linda. Terjadi kontak fisik, namun yang lebih dikedepankan adalah proses berbagi rasa, antara dua insan yang akhirnya saling menemukan, dan berjuang bangkit dari luka masing-masing. 

Walau demikian, bukan berarti Gina menanggalkan "kenakalan" kisahnya. Tetap dipertahankan, tetapi lewat presentasi elegan. Intensitas selalu menyeruak tiap Raja dan Asia berdekatan, menyampaikan cinta dengan cara bertukar tatapan dan hembusan napas. Terlebih, Putri dan Angga punya chemistry menyengat. Secara individual, seperti biasa Putri tanpa celah, sedangkan Angga pun tampil kuat, meskipun luapan emosinya di adegan "pengakuan dosa" agak berlebihan. 

Cinta Pertama, Kedua & Ketiga dipenuhi momen yang jika disimak satu per satu menghadirkan kehangatan bahkan keindahan berkat sensitivitas pembuatnya, namun lain cerita jika dipandang sebagai kesatuan. Kali ini tuturan Gina tak serapi biasanya. Sedari sekuen pembuka, muncul banyak lompatan-lompatan liar, yang mengakibatkan penceritaannya berantakan.

Ketiadaan transisi memadai, membuat kesan dadakan yang memancing kebingungan, juga inkonsistensi tone, jamak terjadi. Bahkan sesekali suatu adegan maupun elemen cerita dan penokohan jadi kehilangan substansi. Misalnya tarian imajiner Raja dan Asia, atau "kekuatan spesial" kepunyaan Linda. 

Mungkin ada pengaruh dari proses produksi yang berjalan di tengah pandemi. Menariknya, film ini termasuk berhasil mengimplementasikan unsur-unsur pandemi ke narasi secara mulus, natural, alih-alih tampil terkesan berkata, "Lihat, film ini pandemi banget loh" (Halo Paranoia). Cinta Pertama, Kedua & Ketiga tetap mengesankan, hanya saja Gina S. Noer telah menetapkan standar yang cukup tinggi dalam karya-karyanya.

(JAFF 2021)

MARIPOSA (2020)

Seperti sempat saya singgung di ulasan Teman tapi Menikah 2, penonton kita sedang jatuh hati pada adaptasi Wattpad bertema romansa remaja yang membawa ciri-ciri seperti judul “asing”, gombalan unik (baca: absurd), dan tipikal bad boy yang cenderung brengsek ketimbang keren. Mariposa, yang diangkat dari kisah buatan Luluk HF, sebenarnya turut mengusung formula serupa, tapi pendekatan ringan lewat sentuhan humor dan kemasan artistik yang diberi perhatian, membuatnya unggul dibanding banyak kompatriotnya.

Acha (Adhisty Zara) menyukai teman sekolahnya, Iqbal (Angga Yunanda). Tapi seperti sudah disinggung di atas, tentu saja Iqbal tidak membalas cinta Acha, bersikap dingin bahkan sedikit kasar padanya. Iqbal sangat kaku. Kekakuan yang dipicu tuntutan tinggi sang ayah (Ariyo Wahab), agar Iqbal selalu jadi nomor satu di bidang akademis, termasuk menjuarai olimpiade sains tingkat nasional. Tujuannya adalah memperoleh beasiswa untuk berkuliah di Inggris. Iqbal punya alasan kuat menghindari urusan percintaan. Kondisi tersebut berlawanan dengan keluarga Acha. Sang ibu (Ersa Mayori), yang seorang Army (penggemar BTS) sekaligus pengagum hal-hal berbau budaya populer Korea Selatan, ibarat sahabat bagi Acha, yang bisa ia ajak berbagi banyak hal termasuk tentang cinta.

Pun meski sesekali kelewatan, penolakan Iqbal sebenarnya bisa cukup dipahami. Obsesi Acha sebenarnya sering kelewatan. Dia selalu mengikuti Iqbal, terus menghubunginya, bersikap seolah keduanya berpacaran. Penanganan keliru dapat menjadikan Acha karakter creepy, namun Zara adalah figur likeable yang mampu memberi kepolosan, sehingga bentuk obsesinya bisa dijustifikasi sebagai kenaifan polah cinta monyet remaja.

Berlangsung selama hampir dua jam (117 menit), Mariposa mengalami stagnansi ketika kisahnya sebatas tersusun atas repetisi-repetisi situasi ketika Acha menggoda Iqbal hanya untuk menerima respon dingin. Jangan pula berharap ada eksplorasi mendalam mengenai metafora metamorfosis ulat jadi kupu-kupu (“mariposa” adalah Bahasa Spanyol yang berarti “kupu-kupu”) yang sejatinya cuma gimmick untuk membuai target pasar bocah/remaja awal. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Alim Sudio selaku penulis naskah adaptasinya.

“Perbaikan” yang dilakukan adalah memperlakukan romantikanya tidak terlalu serius, melalui selipan humor-humor segar. Tengok adegan di perpustakaan, atau sekuen menggelitik tentang “perjalanan kue keju Belanda”. Alhasil, walau ceritanya tidak banyak berprogres dan memiliki durasi cukup panjang, Mariposa takkan terasa melelahkan. Apalagi visualnya cukup memanjakan mata, melalui penggunaan warna-warna pastel (khususnya kombinasi biru-merah muda) pada seragam dan properti serta pencahayaan lembut.

Selain stagnansi kisah, muncul juga masalah perihal pembangunan intensitas di babak akhir yang menyoroti pelaksanaan olimpiade. Menyulap aktivitas mengerjakan soal tertulis jadi pemandangan menegangkan bukan perkara mudah, dan pengarahan Fajar Bustomi belum berhasil mencapai titik itu. Dan sewaktu lomba memasuki babak rebutan, pemakaian teknik quick cut guna meningkatkan dinamika justru kerap membuat pusing kepala.

Beruntung Mariposa menyimpan konklusi yang berhasil menjadi puncak emosi. Berpengalaman mengarahkan trilogi Dilan, Fajar tahu cara menciptakan momen menggemaskan berisi pengakuan cinta ala remaja, yang juga menyentuh hati berkat penampilan heartful Zara. Aktris muda ini memang tidak bisa dipandang remeh.

DUA GARIS BIRU (2019)

Petisi penolakan terhadap Dua Garis Biru beberapa waktu lalu justru menguatkan urgensi debut penyutradaraan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara) ini. Filmnya tidak mengajarkan seks bebas, tidak pula mengutuknya, sebab Dua Garis Biru tidak terjebak dalam ruang moralitas seperti para penggagas petisi itu. Ketimbang menyalahkan, kita diajak belajar tentang apa yang mesti dilakukan.

Kegemaran menghakimi adalah mentalitas yang ingin film ini runtuhkan. Bahkan sejak momen awal, kita langsung diperlihatkan contoh mentalitas itu, saat seorang guru berkata bahwa masa depan Dara (Zara JKT 48) cerah karena mendapat nilai 100, sebaliknya, Bima (Angga Yundanda) dengan nilai 40-nya tak punya masa depan. Kedua remaja ini berpacaran meski sekilas amat berlawanan. Bukan cuma soal akademik, juga status sosial. Dara yang berasal dari keluarga kaya bermimpi melanjutkan studi di Korea, sebaliknya, orang tua Bima belum tentu mampu membiayai kuliahnya.

Sampai suatu hari, pasangan ini berhubungan badan, dan seperti kita tahu, Dara akhirnya mengandung. Awalnya mereka berusaha menyembunyikan kehamilan Dara lewat beberapa rencana yang menunjukkan betapa remaja memang naif dan berpikiran pendek. Mereka pikir perut Dara yang makin besar bisa terus disembunyikan sampai kelulusan tiba. Mereka pikir si jabang bayi akan lahir begitu saja tanpa satu orang pun tahu. Mereka pikir proses kehamilan, kemudian persalinan, berjalan semudah itu.

Secepat kilat rahasia itu terbongkar. Cara Dua Garis Biru mengungkap kehamilan Dara sebenarnya terasa dipaksakan, tapi paling tidak, momen itu membuka jalan masuknya deretan situasi emosional, termasuk “adegan UKS” selaku adegan terbaik film ini, baik secara rasa maupun teknis.

Di situlah amarah, keterkejutan, dan keputusasaan menyambar bak petir. Di situlah jajaran cast bertalenta film ini untuk kali pertama berkumpul di satu ruangan. Di situlah kekecewaan Lulu Tobing (ibu Dara) menggelayuti layaknya awan mendung, amukan Dwi Sasono (ayah Dara) membuat orang-orang tersentak, kesabaran Arswendy Bening Swara (ayah Bima) muncul selaku penengah, sementara Cut Mini (ibu Bima), biarpun hanya berenjatakan dua kata, memasuki panggung dengan letupan yang membuat saya terpaku seketika.

Walau terdapat begitu banyak karakter saling melempar kalimat berintensitas tinggi, Gina justru menerapkan single take. Nekat, tapi terbayar. Melalui penataan kamera Padri Nadeak (Belok Kanan Barcelona, Hit & Run) yang bergerak penuh ketepatan timing ditambah kejelian Gina mengatur mise-en-scène, atmosfer “berat” yang membebani karakternya bisa turut kita rasakan.

Gina turut menumpahkan beragam hal yang ingin ia sentil dalam satu adegan itu, dari keputusan sekolah yang sebatas mementingkan citra, sampai kecenderungan orang tua mengedepankan ego dan emosi selepas mendengar kabar buah hati mereka hamil/dihamili. Tentu respon itu manusiawi. Alamiah. Sayangnya, tak sedikit orang tua berhenti di fase tersebut. Karena itu, Dua Garis Biru coba menuntun kita guna menemukan solusi.

Daripada menuding sambil berkoar, “Zina! Haram!! PENDOSA!!!”, Gina dengan cermat menjabarkan satu per satu dampaknya. Dampak di lingkup sosial, keluarga, masa depan, psikis, dan tentunya kesehatan fisik. Dua Garis Biru memandang penontonnya sebagai individu pintar lewat keengganannya menggiring opini. Seolah kita dipersilahkan memilih, sementara filmnya berkata lembut, “Demikian akibat-akibat yang dihasilkan. Apa kalian siap?”, alih-alih berteriak “Jangan lakukan!”. Beginilah sebenar-benarnya “film edukasi”.

Di tengah berbagai pesan usungannya, Dua Garis Biru tetap membawa kita kembali ke akar, apalagi kalau bukan keluarga, yang seharusnya jadi tempat berlindung. Dan dari situ filmnya memperoleh setumpuk momen emosional. Agak terlalu banyak malah, sehingga menjelang akhir, daya bunuhnya sempat berkurang. Makanan selezat apa pun bakal berkurang kenikmatannya jika dikonsumsi berlebihan.

Beruntung, Gina tak menaburkan terlampau banyak bumbu. Dia memilih untuk memanfaatkan akting pemain dan hanya menyelipkan kata-kata sederhana namun bermakna, yang sudah cukup merangkum semua rasa yang perlu penontonnya pahami. Contohnya permintaan maaf Dara kepada sang ibu. Air mata mengalir secukupnya, pula tanpa bait-bait puisi.

Mari membicarakan Dara, atau tepatnya sang pemeran, Zara JKT 48. Walau dikelilingi nama-nama besar, Zara tak pernah tampak kerdil. Bersama Angga, ia membangun chemistry manis, sehingga walau Bima dan Dara melakukan tindakan bodoh, saya masih memedulikan keduanya. Begitu pula yang semestinya terjadi apabila orang di sekitar kita mengalami kejadian serupa. Mereka mungkin bodoh, kita pun boleh marah, namun cinta, kepedulian, serta akal sehat tak boleh menguap.

SUNYI (2019)

Sunyi merupakan remake dari Whispering Corridors (1998), yang mana ambil bagian dalam era baru perfilman Korea Selatan pasca pembebasan dari penyensoran selepas kediktatoran militer berakhir. Alhasil, film tersebut dimanfaatkan selaku media menyuarakan kritik terhadap banyak isu, khususnya perundungan dan kerasnya sistem pendidikan. Itulah alasan mengapa karya Park Ki-hyung tersebut jadi fenomena populer, meski kualitasnya sendiri agak mengenaskan. Berbeda dibanding pendahulunya, Sunyi tak kebingungan menentukan jati diri, mencampur horor dan drama dengan cukup apik, menjadikannya remake yang superior.

Tema perundungan bukan saja dipertahankan oleh Sunyi, bahkan diberi eksplorasi lebih dalam. Kisahnya berlatar tahun 2000 di SMA Abdi Bangsa yang prestisius namun digelayuti isu perundungan yang konon telah berlangsung turun-temurun. Pun tersebar rumor bahwa pada dekade lalu, hal tersebut merenggut nyawa tiga siswi, yang hingga kini arwahnya senantiasa bergentayangan di sekolah.

Protagonis kita bernama Alex (Angga Yunanda), putera mediang paranormal terkenal, yang jelang hari pertamanya bersekolah di Abdi Bangsa, makin mengkhawatirkan senioritas di sana. Ketika ia nyatakan kekhawatiran tersebut, sang ibu (Unique Priscilla) merespon, “Senioritas kan bagus buat character building”. Dari situ kita bisa melihat pola yang menyebabkan perundungan terus lestari.

Pada malam pertama, siswa-siswi tahun pertama dikumpulkan oleh ketiga senior mereka: Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki), guna menghadiri malam orientasi. Saat itulah hukum senioritas mulai diberlakukan. Murid tahun pertama adalah budak (tahun kedua disebut “manusia”, tahun ketiga disebut “raja”, alumni disebut “dewa”) yang wajib menuruti perintah senior yang berhak mengambil barang apa pun milik mereka, bahkan dilarang memasuki area-area seperti perpustakaan, kafetaria, juga toilet.

Bu Ningsih (Dayu Wijanto) selaku kepala sekolah merasa khawatir, tapi atas nama tradisi, memilih membiarkan. Sedangkan para junior tetap diam, karena melawan bukan saja menjadikan mereka musuh publik, pula menghilangkan kesempatan mendapat jaringan luas milik alumni. Sampai titik ini, naskah buatan sutradara Awi Suryadi (Danur, Badoet) bersama duet Agasyah Karim dan Khalid Kashogi (Badoet, Mau Jadi Apa?, Reuni Z), terbukti mampu menyediakan pijakan solid dalam penggambaran lingkaran setan budaya perundungan. Tidak berhenti di situ, naskahnya melangkah lebih jauh menelusuri soal kontribusi pola asuh orang tua lewat tro Andre-Erika-Fahri. Orang tua mereka sama-sama bermasalah, entah menerapkan hukuman fisik, menuntut terlalu tinggi, atau tidak hadir di rumah.

Ketiganya membuat hari-hari Alex bak neraka. Beruntung, ia bertemu Maggie (Amanda Rawles). Keduanya semakin dekat, dan dunia SMA Alex tak lagi sesunyi itu. Sialnya, begitu identitas ayahnya diketahui Fahri, Alex dipaksa memanggil arwah para siswi yang konon bergentayangan di sekolah. Awalnya usaha itu nampak gagal, namun tak lama berselang, kematian mulai menyebar dan darah mulai tumpah di SMA Abdi Bangsa.

Sewaktu Whispering Corridors seolah melupakan hakikatnya sebagai horor, Sunyi menerapkan pendekatan familiar sembari tetap memberi jalan bagi elemen-elemen di atas agar mengalir sebagai pondasi cerita, alih-alih sekedar jump scare layaknya banyak horor medioker lokal belakangan. Di luar adegan “listening class” dan “kolam renang” (yang sudah muncul di trailer), terornya tak banyak memperlihatkan kreativitas. Mayoritas formulaik, ditambah riasan hantu seadanya. Tapi saya mengapresiasi penolakannya untuk melempar jump scare membabi-buta atau memakai efek suara berisik. Serupa judulnya, film ini tidak takut menerapkan kesunyian, tahu kapan mesti berdiam diri, kapan mesti tampil menggelegar (yang juga tak pernah terlampau berisik). Tata musik garapan Ricky Lionardi (Danur, Sakral, Lukisan Ratu Kidul) juga sesekali terdengar atmosferik.

Sunyi pun menempatkan hati di tempat yang tepat. Kembali ke adegan “kolam renang”, secara mengejutkan momen tersebut menyimpan bobot emosi. Ada kesedihan di sana, tatkala senior pelaku perundungan ditampakkan kerapuhannya, digambarkan sebagai salah satu korban kegagalan sistem pendidikan, tentunya tanpa berusaha menjustifikasi perbuatan mereka kepada junior. Momen itu meyakinkan saya bahwa mereka tidak pantas mati. Sehingga saya mengamini ketika Alex mengonfrontasi sang hantu di klimaks sambil menyampaikan pernyataan serupa. Semakin memuaskan kala Sunyi ditutup oleh konklusi hangat, sesuatu yang dikorbankan film aslinya demi tambahan twist tak perlu.

Ya, jika sudah menonton Whispering Corridors, anda tahu akan ada twist. Sepanjang durasi, filmnya menyiratkan itu melalui beberapa petunjuk subtil. Apa yang membuatnya spesial adalah, sekalinya kejutan tersebut diungkap (sayangnya lewat eksekusi antiklimaks), penonton tidak dijejali rekap, selaku penjabaran atas sebaran petunjuk-petunjuk tadi. Seolah semua itu adalah “bonus” bagi penonton yang bersedia menaruh perhatian lebih.

TABU (2019)

Horor lokal berkualitas bobrok memang mengesalkan, namun lebih menyesakkan menonton sajian seperti Tabu, yang menyimpan intensi baik untuk tak sekadar membuat produk asal jadi, tetapi berakhir sebagai kegagalan akibat nyaris tiada satu pun elemen yang bekerja. Ditulis naskahnya oleh Haqi Achmad (Sajen, Rompis, Ada Cinta di SMA), pondasi Tabu mengikuti jalur formulaik soal siswa-siswi SMA yang ingin menyambangi tempat angker demi menangkap penampakan hantu. Momen-momen “wajib” seperti menyusun rencana perjalanan di sekolah lengkap dengan rangkaian pembicaraan yang telah kita dengar ratusan kali di film-film setipe lain, hingga diperlihatkannya kliping beberapa lokasi berhantu di kamar salah satu karakternya, bisa anda temukan di sini.

Pembeda film karya Angling Sagaran (From London to Bali, Total Chaos) dari banyak kompatriotnya sesama horor semenjana adalah keberanian untuk tak bergantung pada hantu yang menyergap tiap lima menit. Haqi berusaha meluangkan waktu pada eksplorasi karakter sembari menyelipkan konflik keluarga disfungsional di antaranya. Supaya berhasil, penonton perlu dibuat menyukai karakter-karakter beserta interaksi mereka.

Tapi sewaktu yang muncul adalah dialog hambar, penokohan membosankan, plus akting seadanya, interaksi enam remaja yang nekat mendatangi Leuweung Hejo ini pun kekurangan rasa dan warna agar bisa dinikmati. Keliru jika mengira kegemaran Mahir (Bastian Steel) mengumbar rayuan gombal kepada Muti (Agatha Chelsea) dapat memancing senyum. Hasilnya ironis. Keberanian menekan kuantitas jump scare berujung menjadi pisau bermata dua, sebab Tabu bergerak tak bertenaga bagai orang kekurangan gizi. Membosankan.

Bahkan setelah mereka memutuskan pulang lebih cepat dari Leuweung Hejo, ketika Diaz (Angga Yunanda) kesurupan—yang dikarenakan inkonsistensi akting, kadang tampak seperti mayat hidup, kadang seperti demam, kadang seperti anak kurang makan—sedangkan Keyla (Isel Fricella), karena alasan yang diungkap jelang akhir, memaksa kawan-kawannya membawa pulang bocah bisu misterius yang mereka temui di tengah hutan.

Andai pengembangan karakternya berhasil, begitu teror yang membuntuti keenam remaja ini mulai membawa maut, Tabu berpotensi jadi horor yang menusuk perasaan. Sebab secara struktur penceritaan, pendekatan Haqi sudah tepat dengan mengajak penonton menghabiskan waktu bersama karakternya sebelum melepaskan teror ke permukaan. Pun sebuah subplot mengenai rahasia Leuweung Hejo serta kaitannya dengan beberapa karakter disajikan terburu-buru sehingga hanya melahirkan eksplorasi mitologi setengah matang.

Tabu menyimpan segelinter ide potensial perihal cara menakut-nakuti, namun penyutradaraan Angling Sagaran terlampau lemah guna memaksimalkannya, termasuk dalam klimaks tak bertaring miliknya. Ditambah tata rias medioker, kita patut bersyukur Tabu enggan melempar banyak jump scare, sebab dengan begitu, kelemahan-kelemahan di atas tak berkesempatan menyeruak lebih sering. Filmnya ditutup lewat cliffhanger, yang lagi-lagi terdengar menjanjikan di atas kertas tapi berakhir tanpa dampak karena kegagalan Tabu memancing kepedulian terhadap karakternya.