Tampilkan postingan dengan label Elizabeth Debicki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elizabeth Debicki. Tampilkan semua postingan

REVIEW - TENET

Kita semua tahu kecintaan Christopher Nolan terhadap seri James Bond, baik dari pernyataan sang sutradara langsung, maupun lewat karya-karyanya. Tiap ada proyek 007 baru diumumkan, namanya selalu digadang-gadang menjadi nakhoda. Tapi ia mengakui bahwa pembuatan Tenet merupakan masa paling lama di mana ia tidak menonton film si agen rahasia. Menariknya, Tenet justru merupakan film Nolan yang “paling James Bond” sejauh ini, bahkan lebih dari Inception.

Protagonis seorang agen rahasia? Ada. Aksi curi-mencuri dengan berbagai negara sebagai latar? Ada. Sekuen bombastis? Ada. Karakter pendukung wanita cantik? Ada. Antagonis yang berambisi menguasai dunia? Ada, walau kata “menguasai” di sini tidak seliteral itu. Bedanya, Bond tidak harus berurusan dengan waktu yang terbalik.

Ya, Nolan kembali bermain-main dengan konsep waktu kegemarannya, dan jika anda menganggap Inception, Interstellar, apalagi Memento membingungkan, bersiaplah, sebab Tenet bakal membuat judul-judul itu bak soal ujian SD. Bahkan sebelum gagasan utamanya diperkenalkan, adegan pembuka yang memperlihatkan protagonis tanpa nama kita (John David Washington) menjalankan misi di Kyiv sebagai anggota CIA, sudah akan memancing pertanyaan. Siapa dia? Siapa mereka? Apa yang sedang dilakukan? Kenapa?

Singkat cerita, pasca misi tersebut, si protagonis direkrut ke dalam organisasi misterius bernama Tenet, yang bertujuan menghentikan akhir dunia. Bukan karena nuklir sebagaimana si protagonis kira, namun akibat senjata dari masa depan yang dapat memutarbalikkan waktu. Bersama seorang kontak bernama Neil (Robert Pattinson), penyelidikan si protagonis terhadap sang pemilik senjata membawanya berurusan dengan oligark Rusia, Andrei Sator (Kenneth Branagh). Istri Sator, Kat (Elizabeth Debicki), yang sudah tidak tahan lagi terhadap kekangan sang suami pun turut mengulurkan bantuan.

Tidak terdengar rumit, karena seperti telah disinggung, kerangka alurnya memang mencerminkan formula Bond. Menjadi kompleks ketika elemen time inversion mulai ambil bagian, terlebih pasca suatu mesin berbentuk pintu putar (disebut “turnstile”) diperkenalkan. Mesin itu bisa membuat seseorang menjalani waktu secara terbalik, dan saat itu terjadi, kita akan melihat dua linimasa berjalan beriringan.

Sebenarnya konsep waktu Tenet tidak serumit itu. Cukup pahami konsep turnstile, dan semuanya terjelaskan. Menjadi terksan rumit, karena naskah buatan Nolan sebatas menyediakan penjelasan melalui kalimat-kalimat singkat yang berlalu dengan cepat, sambil terus menggerakkan alurnya. Salah satu alasan mengapa Nolan spesial adalah keengganannya “menyuapi” penonton, tapi kali ini, dampaknya adalah kompleksitas yang acap kali tidak diperlukan.

Mengapa tidak diperlukan? Karena sejatinya, Tenet menyimpan potensi untuk melahirkan kisah emosional, andai drama berbasis karakter dikedepankan, dengan time inversion sebagai pendukung, alih-alih sebaliknya. Misalnya perjuangan Kat mendapatkan kebebasan (tanpa disadari Kat telah menyaksikan kebebasannya sendiri). Pula persahabatan unik protagonis kita dengan Neil, yang begitu hidup berkat banter Washington dan Pattinson. Atau yang lebih filosofis, tentang sang protagonis sebagai “penjinak bom yang tidak pernah meledak”. Bayangkan dari balik kegelapan, anda menyelamatkan seseorang, tanpa orang itu tahu sudah anda selamatkan. Bahkan ia tidak sadar kalau butuh diselamatkan. Isn’t that heartful?

Setidaknya bagi para pecinta teka-teki khususnya yang berkaitan dengan konsep perjalanan waktu, melihat dua linimasa bertemu, lalu mendapati bagaimana tanpa disadari keduanya saling terikat dan mempengaruhi, merupakan aktivitas yang menyenangkan. Di sinilah ketidaksukaan Nolan kepada dramatisasi justru memperkuat filmnya. Jika banyak sineas lain bakal memperlakukan tiap keterikatan sebagai “big reveal’, Nolan tidak demikian. Seolah baginya semua itu merupakan kewajaran, dan bagi saya, proses mengungkap sendiri kaitan peristiwa A dan B, menjadi hiburan tersendiri.

Tentu hiburan terbesar Tenet berasal dari aksinya. Saya cukup yakin, ketertarikan utama Nolan atas konsep ini bukan didasari keinginan bercerita, melainkan mengeksekusi ide-ide sekuen aksi yang (seperti biasa) mendobrak batas. Masih tanpa bantuan green screen, selain beberapa “rutinitas” masif khas Nolan seperti meledakkan Boeing 747, momen-momen paling memukau tentu saja selalu melibatkan time inversion. Gedung tidak sekadar luluh lantah, namun seolah dihancurkan dan “didirikan” secara simultan. Time inversion juga berguna menyembunyikan fakta, bahwa lebih dari satu dekade setelah The Dark Knight, kemampuan Nolan membungkus aksi baku hantam belum mengalami peningkatan berarti.

Anda harus menontonnya sendiri untuk memahami maksud deskripsi di atas, dan merasakan betapa imajinatif sang sineas mengemas aksi. Saya terpukau walau cuma menyaksikannya di Blu-ray. Entah bagaimana di layar lebar, apalagi IMAX. Bersabarlah sedikit lagi, sebab kalau tidak ada rintangan, menurut sumber terpercaya, rencananya Tenet akan tayang di bioskop Indonesia mulai Januari 2021.


Available on DVD, BLU-RAY & DIGITAL SERVICES

WIDOWS (2018)

Steve McQueen (Shame, 12 Years a Slave) melakukan apa yang kebanyakan sutradara takkan berani lakukan. Dia memasang Liam Neeson dan Jon Bernthal—dua aktor yang identik dengan machismo—dalam jajaran pemain, memberi keduanya peran singkat untuk mengakomodasi terciptanya suguhan bertema women’s empowerment. Di balik konsep heist-nya, Widows yang diadaptasi dari serial televisi Inggris berjudul sama (1983-1985) pun bertaburan ragam topik kompleks seperti seksisme, politik korup, hingga rasisme.

Empat wanita—Veronica (Viola Davis), Linda (Michelle Rodriguez), Alice (Elizabeth Debicki), Amanda (Carrie Coon)—tengah berduka akibat kematian suami masing-masing pasca kegagalan sebuah aksi perampokan yang dipimpin Harry (Liam Neeson). Seolah belum cukup, masalah lain silih berganti hadir, salah satunya tuntutan Jamal (Brian Tyree Henry), bos mafia korban perampokan Harry dan kawan-kawan, kepada Veronica agar mengembalikan uang curian itu, yang akan dipakai berkampanye guna menumbangkan pesaingnya, Jack (Colin Farrell).

Menulis naskahnya bersama Gillian Flynn (Gone Girl), McQueen memaparkan realita pahit para janda yang acap kali dipandang lemah tak berdaya setelah ditinggal sosok lelaki pendamping. Stigma negatif itulah yang coba diruntuhkan Widows, di mana para janda dipaksa menanggung dosa mendiang suami mereka. “Sudah mati saja masih merepotkan”. Mungkin demikian kalimat kasarnya. Tapi dari situlah wanita-wanita film ini menemukan jalan pembuktian diri.

Widows merupakan proses membuktikan kemandirian dan lepas dari bayang-bayang pria.Veronica diancam Jamal, Linda kehilangan toko akibat hutang judi suaminya, tapi kisah paling mengikat datang dari Alice. Merupakan korban KDRT, ketergantungan akan suami menyulitkannya menemukan pijakan sendiri. Bahkan sang ibu (Jacki Weaver) memaksanya mengeruk uang para pria kaya demi kelangsungan hidup, karena menurutnya, wanita tak semestinya independen dan mesti mengandalkan sokongan pria.

Sebagai pemilik reputasi tertinggi, wajar bila Viola Davis menonjol. Kepiawaiannya mengolah rasa akan mengisi banyak perbincangan soal musim ajang penghargaan. Tapi tak semestinya kita melupakan Elizabeth Debicki. Performa Debicki kuat namun subtil, di mana tanpa banyak letupan, ia memperlihatkan transformasi mengagumkan seorang wanita gamang yang pelan-pelan lelah diperlakukan bagai sampah. Prosesnya dipaparkan detail (penderitaan, pemicu perubahan, rintangan), sehingga saat tiba di garis akhir, yang saya rasakan adalah kepuasan.

Walau bertabur kritik sosial (termasuk mengenai kekerasan beraroma rasisme oleh aparat yang meski singkat namun memberi dampak hebat), McQueen tetap sadar bahwa ia sedang membuat film heist. Elemen heist sendiri mulai dikedepankan setelah Veronica mengajak para janda lain meneruskan pekerjaan suami mereka yang belum tuntas, yakni merampok uang senilai $5 juta. Di tengah memanasnya iklim politik kala dua nama berebut kuasa, siapa sangka para wanita yang dikira tak punya daya setelah menjanda berencana merampas harta?

Total terdapat dua perampokan: Opening dan klimaks. Sejak adegan pembuka, McQueen, yang dikenal sebagai sutrdara drama, langsung membuktikan kapasitas mengemas heist selaku hiburan popcorn. Ketegangan berhasil dibawa ke puncak, terlebih tiap kali rencana karakternya menemui rintangan kemudian terjadi hal mengejutkan. McQueen paham timing yang tepat untuk menyentak penontonnya.

Dibantu sang sinematografer langganan, Sean Bobbitt, McQueen menerapkan pergerakan kamera yang akan menyerap kita ke dalam situasi di layar, termasuk sebuah momen kala kamera itu bergerak melingkari Daniel Kaluuya, yang tampil amat intimidatif memerankan Jatemme, adik sekaligus kaki tangan Jamal, yang juga berperan sebagai eksekutor berdarah dingin.

Satu-satunya ganjalan hanya, walau tersaji intens, aksi perampokannya bergulir terlalu mudah. Ya, McQueen memang tidak bertujuan menyajikan perampokan bergaya nan over-the-top serupa seri Ocean’s, namun setelah penantian dan perencanaan panjang, penonton (serta jajaran tokohnya) pantas mendapatkan lebih banyak porsi heist. Tapi anda akan melupakan kelemahannya setiap Widows memamerkan kekuatannya, termasuk last shot emosional yang menggambarkan bagaimana para janda itu memiliki satu sama lain.

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017)

James Gunn dan Guardians of the Galaxy adalah contoh sempurna bagaimana menjalankan waralaba lewat proses menanam dan menuai. Tiga tahun lalu, langkah berani memperkenalkan lima a-holes tak dikenal sukses melahirkan idola baru berkat penokohan solid pula interaksi menarik. Hasilnya, begitu penonton bertemu mereka lagi di sekuelnya, timbul kelekatan secara emosional guna memaksimalkan penceritaan yang lebih personal. Selain mempertahankan kejeniusan Gunn merangkai komedi, Vol. 2 menegaskan posisi franchise ini sebagai drama keluarga, tepatnya tentang sekelompok individu yang kehilangan keluarga, menemukan satu sama lain, tumbuh bersama membentuk keluarga baru.

Kisahnya didasari pertanyaan film sebelumnya mengenai identitas ayah Peter Quill / Star-Lord (Chris Pratt), yang rupanya adalah sosok celestial bernama Ego (Kurt Russell). Demi menebus hangatnya hubungan ayah-anak yang tak pernah mereka punya, Ego mengundang Peter, Drax (Dave Bautista) dan Gamora (Zoe Saldana) ke planet miliknya, sedangkan Rocket (Bradley Cooper) dan Baby Groot (Vin Diesel) tinggal guna memperbaiki Milano pasca pertempuran melawan pasukan Sovereign sambil menjaga Nebula (Karen Gillan). Sementara Ayesha (Elizabeth Debicki), sang Pendeta Sovereign menyewa Yondu (Michael Rooker) dan Ravagers untuk menangkap Guardians yang mencuri barang kepunyaannya. 
Guardians of the Galaxy dipersenjatai winning formula yang saking ampuhnya, memberi template bukan hanya bagi film MCU (warna vibrant), pula rilisan studio lain dalam pemakaian lagu era 70 hingga 80-an. Ada rasa khawatir Gunn dan tim berlebihan menggunakan formula tersebut. Kekhawatiran itu sempat menguat di 15-20 menit awal kala lagu-lagu bertumpuk silih berganti terdengar, setiap kalimat karakternya berintensi melucu, sampai eksploitasi Baby Groot pada opening credit. Terasa melelahkan ketimbang menyenangkan akibat kesan memaksakan diri menyamai bahkan menggandakan keasyikan pendahulunya. Tanpa pemanasan, penonton langsung diajak mengarungi parade sok asyik yang Gunn jejalkan.

Kondisi berubah setelah Ego datang membawa Mantis (Pom Klementieff), alien berkemampuan emphatic yang ia besarkan. Tidak pernah mengalami interaksi sosial membuatnya polos (cenderung bodoh), sisi utama pemancing gelak tawa. Bicara kebodohan, tentu Guardians memiliki Drax yang selalu bicara terus terang. "Mulut busuk" Drax plus keluguaan Mantis menciptakan interaksi komedi kelas satu, di mana kepiawaian Bautista melontarkan ejekan (baca: kejujuran pedas) menggelitik direspon sempurna ekspresi kosong Klementieff. Tiap kali keduanya bersama adalah jaminan tawa tak berujung, "memanaskan" penonton supaya siap terhibur oleh deretan humor berikutnya.
Selanjutnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 bagai mesin penghasil tawa yang enggan berhenti beroperasi. Gunn jeli melihat sisi lucu bermacam hal, dan berbeda dengan paruh awal durasi, makin pintar memilih timing menyelipkan beragam lelucon, entah olok-olok nama Taserface (Chris Sullivan) atau humor seksual. Ketika Drax dan Mantis berjasa di comic timing, Baby Groot merupakan salah satu tokoh paling menggemaskan yang pernah hadir di layar lebar. Lebih naif dari Groot dewasa, tingkahnya mengundang kecintaan, menyesakkan sewaktu melihatnya terancam bahaya di puncak pertempuran.

Dibanding film pertama dengan politik luar angkasa ditambah pencarian infinity stone, Vol. 2 berjalan sederhana dibalut cerita yang layak disebut tipis. Namun fokus filmnya memang bukan kompleksitas alur, melainkan hubungan karakter yang ditautkan benang merah berupa kekeluargaan antara anggota Guardians, Gamora dan Nebula, sampai Peter dan ayahnya. Salah satu credit scene pun memperlihatkan Guardians of the Galaxy tak ubahnya perjalanan tumbuh kembang dalam keluarga. Poin itu berhasil sebab kita sudah terikat dan terpikat dengan karakternya sedari film pertama, dan sekuel ini berfungsi menegaskan bahwa di samping tingkah seenaknya pun saling ejek yang rutin terjadi, para penjaga galaksi ini menyimpan kebaikan hati, peduli satu sama lain.
Niat Gunn menjadikan filmnya bukan saja spectacle megah terlaksana kala klimaks. Bukan epic macam The Avengers, pertarungan menyakitkan ala Captain America: Civil War, maupun keunikan kreatif seperti Ant-Man (tiga third act terbaik MCU sejauh ini), Guardians of the Galaxy Vol. 2 mengutamakan dampak emosional hasil dramatic arc-nya. Melihat Peter meluapkan kesedihan seorang anak, Yondu si father figure coba menebus dosa, saling tolong Nebula dan Gamora selaku dua saudari yang selalu berseteru, hingga usaha Drax menolong Mantis memancing gejolak perasaan. Gunn sanggup menekankan ikatan erat para protagonis beserta aksi heroik mereka ketimbang pertunjukan bombastis belaka. 

Proses menanam dan menuai tak berakhir di tataran karakter, juga soal masa depan Marvel Cinematic Universe khususnya seputar dunia kosmik. Pengenalan sosok celestial, peran singkat Sylvester Stallone, dua dari lima credit scene, bahkan cameo Stan Lee menanam benih yang berpotensi mengembangkan dunia kosmik ke jangkauan lebih luas yang bukan tidak mungkin bakal berperan besar pada MCU pasca invasi Thanos berakhir di kemudian hari. Tapi untuk sekarang, nikmati dahulu kembalinya tim pahlawan super Marvel yang lebih mampu mengocok perut pula mencuri hati ketimbang Avengers di Bumi lengkap dengan kemeriahan visual berhiaskan warna-warna mencolok.