Tampilkan postingan dengan label Liam Neeson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liam Neeson. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ORDINARY LOVE

Tom (Liam Neeson) dan Joan (Lesley Manville) telah menikah selama bertahun-tahun. Keseharian mereka? Berdebat (in a playful way) seputar hal-hal trivial. Contohnya tentang alat pembuat jus yang belum mereka punya. Hal itu justru lebih romantis ketimbang ekspresi cinta lain yang sekilas lebih menggebu, misalnya puisi cinta. Keduanya telah berada dalam fase di mana cinta tak perlu lagi diutarakan tiap hari, sebagai hasil kebersamaan jangka panjang. Tapi bukan berarti cinta itu sudah hilang. Malah sebaliknya.

Tom selalu punya stok humor untuk menjawab perkataan Joan, seolah ia tak pernah serius. “Bisakah kamu bersikap normal sekali saja?”, tanya Joan. Tapi kita tahu, “ketidaknormalan” Tom merupakan alasan sang istri betah bertahan sedemikian lama, bahkan pasca suatu tragedi yang menguji kekuatan mereka. Sampai datanglah ujian berikutnya. Joan didiagnosa menderita kanker payudara. Bakal seberat apa tantangan ke depannya? Bagaimana bila skenario terburuk menghampiri? Kekhawatiran pun menguasai pikiran keduanya.

Benar bahwa cerita berpusat pada kanker yang diderita protagonisnya, namun penonton yang mengharapkan tearjerker seperti biasa, kemungkinan bakal kecewa karena mendapati filmnya terlalu “dingin”. Tentu semakin ke belakang intensitas konflik meninggi, tapi secara keseluruhan, ini bukan disease porn yang mengandalkan emosi hiperbola. Ditulis oleh Owen McCafferty yang selama ini berpengalaman melahirkan naskah teater, tak mengejutkan saat Ordinary Love menjadi film yang “chatty”. Mungkin ini hasilnya kalau ada karakter Before Midnight yang terkena kanker.

Tom dan Joan berbicara lirih, bahkan sesekali berbisik. Kamera pun tak pernah mengambil jarak terlalu jauh dari keduanya, hanya bergerak bila diperlukan, itu pun dalam tempo lambat, seolah duo sutradara Lisa Barros D'Sa dan Glenn Leyburn ingin menempatkan penonton di ruang intim kedua protagonis. Sedangkan musik garapan David Holmes (Ocean’s Eleven, Hunger, Logan Lucky) memperdengarkan nada-nada familiar lewat iringan piano melankolis, sesekali ditambah synth bernuansa dreamy.

Seperti telah disebutkan, Tom dan Joan cenderung membicarakan hal-hal trivial dengan banyak canda. Bahkan setelah proses kemo berjalan, celetukan-celetukan Tom masih setia membuat Joan (dan penonton) tertawa. Semuanya nampak.....ordinary. Sekilas tak ada yang luar biasa, namun bukan berarti tak spesial. Because love, even in its most ordinary form, is already extraordinary.

Biarpun pendekatannya menjauhi keklisean disease porn, Ordinary Love rupanya masih sempat terjebak template. Di tengah perawatan, Joan bertemu Peter (David Wilmot), mantan guru puterinya, yang menderita kanker stadium akhir. Sementara Tom (hanya di satu sekuen), sempat berbagi rasa dengan pasangan Peter, Steve (Amit Shah). Pertemuan dua individu bernasib sama yang berujung saling menguatkan adalah elemen familiar dalam film bertema penyakit. Ordinary Love tak memberi pembeda, pun seolah cuma memasukkannya demi memenuhi kewajiban semata, tanpa menghasilkan dampak signifikan, entah berupa emosi maupun pemahaman lebih terkait menghadapi kanker.

Neeson tampil baik, mengingatkan bahwa meski belakangan lebih dikenal sebagai jagoan laga, ia lebih dulu angkat nama sebagai aktor penuh sensitivitas. Kali ini suara beratnya tak dipakai untuk mengintimidasi kriminal, melainkan meneduhkan hati sang istri lewat ungkapan kasih sayang. Sementara dari Manville, kita mampu merasakan bahwa setumpuk hal berkecamuk di hati Joan, walau dari luar tidak terlihat. Dan ketika— seperti adegan pembukanya —Ordinary Love menutup kisah saat Natal untuk menciptakan satu lingkaran penuh, kita pun tahu bahwa bukan cuma latar waktunya yang “tak berubah”, cinta mereka pun demikian.


Available on HULU

MEN IN BLACK: INTERNATIONAL (2019)

Men in Black pertama sanggup menyihir lewat keberhasilannya menghidupkan dunia unik milik komik The Men in Black karya Lowell Cunningham, di mana manusia dan alien secara diam-diam hidup berdampingan. Tapi tak ubahnya pertunjukan sulap, daya magis makin menipis seiring terjadinya pengulangan minim (atau malah nihil) modifikasi. Mungkin masih menyenangkan, tapi dampaknya melemah karena penonton sudah memahami segala triknya.

Kurang lebih begitulah Men in Black: International, yang jadi usaha mengenalkan seri ini ke khalayak modern. Pun filmnya mencoba tampil relevan dengan menghadirkan protagonis wanita dalam diri Molly alias Agen M (Tessa Thompson), membuatnya mempertanyakan pemakaian kata “Men” pada nama organisasi meski ada banyak anggota wanita (dilakukan pula oleh rilisan minggu lalu, Dark Phoenix), termasuk sang pimpinan, Agent O (Emma Thompson).

Tapi naskah buatan duo Art Marcum dan Matt Holloway (Iron Man, Transformers: The Last Knight) justru melupakan satu poin penting: plot solid. Urgensi Men in Black: International akan kualitas plot melebihi pendahulunya, sebab seperti saya singgung di atas, penonton sudah memahami segala triknya. Satu-satunya bagian menarik milik plotnya adalah ketika suatu kejutan klise nan predictable di babak ketiga, menggiring kita menuju kejutan lain yang lebih menarik.

Alkisah, Molly mengabdikan seluruh hidupnya mencari keberadaan MIB setelah mengintip aksi para pria berstelan hitam tersebut sewaktu kecil. Molly terobsesi, ingin bergabung demi memenuhi hasratnya mempelajari rahasia-rahasia semesta. Singkat cerita (tentu saja)  ia sukses menemukan MIB, diterima sebagai agen, mendapat kode nama “Agen M”, dan mesti menjalani masa percobaan di London di bawah pimpinan Agen High T (Liam Neeson).

Berharap bisa segera membuktikan diri, M nekat menawarkan bantuan kepada H (Chris Hemsworth), agen ternama yang dikenal lewat aksi heroiknya menyelamatkan dunia bersama High T, sebelum reputasinya tercoreng sebagai pembuat onar. Misi keduanya sederhana, yakni menemani Vungus the Ugly (Kayvan Novak), si alien keluarga kerajaan, selama kunjungannya ke Bumi. Misi tersebut berubah rumit kala Vungus tewas di tangan dua alien berdesain keren (tubuh mereka bagai jendela luar angkasa, mengingatkan saya pada karakter Eternity dari komik Marvel) dengan kemampuan mematikan sekaligus jago menari (keduanya diperankan Les Twins, duo penari/koreografer asal Prancis).

Sepanjang investigasi M dan H, kita diajak melihat elemen-elemen khas Men in Black, dari alien-alien yang membaur bersama manusia, hingga beberapa teknologi keren seperti kereta yang bisa melesat ribuan kilometer hanya dalam hitungan detik, atau mobil penuh amunisi canggih. Apakah semua itu mencengangkan? Tidak lagi. Apakah menyenangkan? Lumayan.

Apalagi sutradara F. Gary Gray masih cakap mengkreasi adegan aksi bertenaga sebagaimana ia pamerkan lewat judul-judul seperti The Italian Job, Law Abiding Citizen, Straight Outta Compton, dan pastinya The Fate of the Furious. Pengadeganan sang sutradara cukup menghibur, selama aksinya melibatkan ragam teknologi tinggi kepunyaan para agen. Tanpa itu, MIB: International sekadar tontonan medioker yang memperlihatkan karakternya berlarian di berbagai negara, karena, well, film ini mengandung kata “International” dalam judulnya.

Terkait hiburan, naskahnya berusaha keras menjadi jenaka melalui lemparan celetukan-celetukan, yang sayangnya tak pernah hadir sesegar harapan kedua penulis. Beruntung, ikatan kuat di antara Tessa Thompson dan Chris Hemsworth cukup sering memperkaya warna humornya. Saya pun lega ketika hubungan M dan H urung terjerumus ke dalam romantika dangkal.

Terdapat adegan saat para protagonis kita memakai Neuralyzer untuk menghapus memori puluhan warga yang menyaksikan aksi heboh mereka (anehnya, mereka langsung lanjut beraksi di depan lebih banyak warga tanpa “menetralisir” ingatan orang-orang itu, yang mana cukup merusak esensi bangunan dunia Men in Black). Sungguh malang, padahal pemandangan tersebut akan jadi kenangan yang seru bagi warga. Tapi Men in Black: International tidak perlu menggunakan Neuralyzer bagi penonton, sebab keseruan yang ditawarkan amat mudah dilupakan. Anda mungkin (sedikit) bersenang-senang di dalam bioskop, namun segalanya bakal lenyap dari ingatan begitu melangkahkan kaki keluar.

COLD PURSUIT (2019)

Liam Neeson membantai puluhan penjahat seorang diri demi membalas kematian sosok tercintanya. Baik premis, trailer, maupun posternya mengesankan bahwa Cold Pursuit merupakan satu lagi installment dalam seri tak resmi “Liam Neeson’s One Man Army Revenge Action Flick”. Dan bagaimana filmnya bermula makin menguatkan kesan tersebut.

Nelson Coxman (Liam Neeson) adalah pembersih salju di sebuah kota resor ski fiktif, Kehoe, yang menjalani hidup bahagia bersama sang istri, Grace (Laura Dern), dan anaknya, Kyle (Micheál Richardson). Kebahagiaan itu makin lengkap kala Nelson dianugerahi gelar “Citizen of the Year”. Hingga suatu malam, beberapa orang menculik Kyle lalu menyuntikkan heroin ke tubuhnya. Pagi harinya Kyle ditemukan tewas overdosis.

Peristiwa itu terdengar seperti “tragedi sempurna” selaku pemicu bangkitnya insting membunuh karakter peranan Liam Neeson, yang biasa kita saksikan di fase karirnya pasca Taken (2008). Sampai adegan di ruang jenazah terjadi, saat tim forensik kesulitan menunjukkan tubuh Kyle kepada orang tuanya. Di situlah saya, yang menonton tanpa membaca ulasan atau menonton film aslinya (Cold Pursuit merupakan remake film Norwegia In Order of Disappearance yang juga disutradarai Hans Petter Moland) sadar, Cold Pursuit berbeda dengan ekspektasi saya dan banyak penonton lainnya.

Ini adalah komedi hitam yang lebih dekat ke arah karya-karya Coen Brothers ketimbang thriller-aksi khas Liam Neeson. Bahkan salah satu adegan menampilkan obrolan dalam mobil antara dua mafia tentang trik menyetubuhi pelayan motel di sela-sela misi penculikan yang mereka emban. Situasi tersebut mengingatkan pada adegan legendaris dari Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino.

Jumlah korban yang berjatuhan masih tinggi, pun berkat metode brutal Nelson banyak dari mereka tewas mengenaskan, yang sayangnya kerap meninggalkan transisi jumpy sebagai dampak penyensoran (Walau saya mencurigai penyuntingan film ini memang buruk di beberapa titik). Selepas masing-masing kematian, kita akan diperlihatkan layar hitam berisi nama korban, yang kebanyakan memiliki panggilan unik sepeti Speedo, Wingman, dan lain-lain. Gaya tersebut kerap menghasilkan tawa, khususnya memasuki klimaks sewaktu banyak nyawa melayang di satu waktu.

Alurnya pun tidak sesederhana kelihatannya. Karena Viking (Tom Bateman), bos mafia yang Nelson bantai, mengira anak buahnya tewas di tangan sang rival, gembong narkoba Indian yang dipimpin White Bull (Tom Jackson). Kedua pihak sempat terlibat perjanjian pembagian wilayah kekuasaan, sehingga mereka (juga para polisi) mengira seluruh kematian ini berkaitan dengan perang memperebutkan teritori. Terciptalah pertikaian sarat kekacauan selaku pondasi memadahi bagi terciptanya suguhan komedi hitam.

Beberapa karakter, khsusunya anak buah Viking, meski mayoritas diberi screentime minim, cukup meninggalkan kesan berkat ciri beragam yang disematkan naskah buatan Frank Baldwin, entah berbentuk sikap tidak biasa, cerita yang mereka sampaikan, atau rahasia yang mereka pendam.

Tidak semua humornya efetktif, dan banyak di antaranya akan segera terlupakan, entah karena di berbagai kesempatan Hans Petter Moland belum begitu piawai melukiskan situasi komedi gelap memorable, atau murni disebabkan penulisan humor yang tak cukup tajam. Konflik seputar kesalahpahaman pun sejatinya bukan merupakan intrik inovatif yang mampu secara konsisten menjaga momentum, terlebih saat Moland gemar menggerakkan filmnya dalam tempo lambat.

Tapi sungguh saya berbohong bila menyatakan bahwa absurditas Cold Pursuit kurang menyenangkan, dan melihat Liam Neeson, yang masih tampil setangguh biasanya, ditempatkan di tengah situasi aneh semacam ini, tatkala alih-alih dentuman ritmis klise khas thriller-aksi justru musik bernuansa Eropa gubahan George Fenton (Gandhi, The Fisher King) yang terdengar, tidak terasa menyegarkan.

WIDOWS (2018)

Steve McQueen (Shame, 12 Years a Slave) melakukan apa yang kebanyakan sutradara takkan berani lakukan. Dia memasang Liam Neeson dan Jon Bernthal—dua aktor yang identik dengan machismo—dalam jajaran pemain, memberi keduanya peran singkat untuk mengakomodasi terciptanya suguhan bertema women’s empowerment. Di balik konsep heist-nya, Widows yang diadaptasi dari serial televisi Inggris berjudul sama (1983-1985) pun bertaburan ragam topik kompleks seperti seksisme, politik korup, hingga rasisme.

Empat wanita—Veronica (Viola Davis), Linda (Michelle Rodriguez), Alice (Elizabeth Debicki), Amanda (Carrie Coon)—tengah berduka akibat kematian suami masing-masing pasca kegagalan sebuah aksi perampokan yang dipimpin Harry (Liam Neeson). Seolah belum cukup, masalah lain silih berganti hadir, salah satunya tuntutan Jamal (Brian Tyree Henry), bos mafia korban perampokan Harry dan kawan-kawan, kepada Veronica agar mengembalikan uang curian itu, yang akan dipakai berkampanye guna menumbangkan pesaingnya, Jack (Colin Farrell).

Menulis naskahnya bersama Gillian Flynn (Gone Girl), McQueen memaparkan realita pahit para janda yang acap kali dipandang lemah tak berdaya setelah ditinggal sosok lelaki pendamping. Stigma negatif itulah yang coba diruntuhkan Widows, di mana para janda dipaksa menanggung dosa mendiang suami mereka. “Sudah mati saja masih merepotkan”. Mungkin demikian kalimat kasarnya. Tapi dari situlah wanita-wanita film ini menemukan jalan pembuktian diri.

Widows merupakan proses membuktikan kemandirian dan lepas dari bayang-bayang pria.Veronica diancam Jamal, Linda kehilangan toko akibat hutang judi suaminya, tapi kisah paling mengikat datang dari Alice. Merupakan korban KDRT, ketergantungan akan suami menyulitkannya menemukan pijakan sendiri. Bahkan sang ibu (Jacki Weaver) memaksanya mengeruk uang para pria kaya demi kelangsungan hidup, karena menurutnya, wanita tak semestinya independen dan mesti mengandalkan sokongan pria.

Sebagai pemilik reputasi tertinggi, wajar bila Viola Davis menonjol. Kepiawaiannya mengolah rasa akan mengisi banyak perbincangan soal musim ajang penghargaan. Tapi tak semestinya kita melupakan Elizabeth Debicki. Performa Debicki kuat namun subtil, di mana tanpa banyak letupan, ia memperlihatkan transformasi mengagumkan seorang wanita gamang yang pelan-pelan lelah diperlakukan bagai sampah. Prosesnya dipaparkan detail (penderitaan, pemicu perubahan, rintangan), sehingga saat tiba di garis akhir, yang saya rasakan adalah kepuasan.

Walau bertabur kritik sosial (termasuk mengenai kekerasan beraroma rasisme oleh aparat yang meski singkat namun memberi dampak hebat), McQueen tetap sadar bahwa ia sedang membuat film heist. Elemen heist sendiri mulai dikedepankan setelah Veronica mengajak para janda lain meneruskan pekerjaan suami mereka yang belum tuntas, yakni merampok uang senilai $5 juta. Di tengah memanasnya iklim politik kala dua nama berebut kuasa, siapa sangka para wanita yang dikira tak punya daya setelah menjanda berencana merampas harta?

Total terdapat dua perampokan: Opening dan klimaks. Sejak adegan pembuka, McQueen, yang dikenal sebagai sutrdara drama, langsung membuktikan kapasitas mengemas heist selaku hiburan popcorn. Ketegangan berhasil dibawa ke puncak, terlebih tiap kali rencana karakternya menemui rintangan kemudian terjadi hal mengejutkan. McQueen paham timing yang tepat untuk menyentak penontonnya.

Dibantu sang sinematografer langganan, Sean Bobbitt, McQueen menerapkan pergerakan kamera yang akan menyerap kita ke dalam situasi di layar, termasuk sebuah momen kala kamera itu bergerak melingkari Daniel Kaluuya, yang tampil amat intimidatif memerankan Jatemme, adik sekaligus kaki tangan Jamal, yang juga berperan sebagai eksekutor berdarah dingin.

Satu-satunya ganjalan hanya, walau tersaji intens, aksi perampokannya bergulir terlalu mudah. Ya, McQueen memang tidak bertujuan menyajikan perampokan bergaya nan over-the-top serupa seri Ocean’s, namun setelah penantian dan perencanaan panjang, penonton (serta jajaran tokohnya) pantas mendapatkan lebih banyak porsi heist. Tapi anda akan melupakan kelemahannya setiap Widows memamerkan kekuatannya, termasuk last shot emosional yang menggambarkan bagaimana para janda itu memiliki satu sama lain.

THE COMMUTER (2018)

Sebagai whodunit, The Commuter punya destinasi yang telah nampak bahkan sebelum karakter utamanya melangkahkan kaki memasuki kereta menuju perjalanan panjang yang memaksanya berpacu dengan waktu. Kita cuma perlu memberi sedikit perhatian terhadap detail remeh sambil memasang kecurigaan. Tapi whodunit bukan melulu soal twist mengejutkan. Proses yang mengandung unsur “5W 1H” merupakan komponen penting, kalau bukan yang terpenting. Sayangnya, itu pun gagal dipenuhi oleh film kolaborasi keempat Liam Neeson dan sutradara Jaume Collet-Serra ini.

Neeson memerankan Michael MacCauley, karyawan perusahaan asuransi jiwa yang rutin menaiki kereta saat berangkat dan pulang kerja. Alhasil, ia pun mengenal beberapa orang sesama komuter, begitu pula sebaliknya. Tentu ia bukan pria tua sembarangan. Michael adalah mantan polisi. Sang aktor masih bisa diandalkan menjadi action hero. Fisiknya mungkin tak lagi prima melakoni adegan perkelahian, namun wibawanya membuat penonton percaya Neeson bisa melakukan semuanya. Malang bagi Michael, ketangguhan yang dimiliki tak kuasa menghindarkannya dari pemecatan.
Di tengah perjalanan pulang, tatkala rasa gamang karena mesti menceritakan pemecatan itu pada istrinya ketika tanggungan membayar iuran kuliah putera mereka sedang menghantui, Michael didatangi oleh Joanna (Vera Farmiga). Joanna menawarkan $100 ribu untuk Michael, asalkan ia bersedia memakai pengetahuannya tentang para komuter guna mencari sosok misterius bernama Prynne yang tak semestinya berada di atas kereta. Kenapa harus Michael? The Commuter menawarkan jawaban yang sekilas masuk akal tapi jika ditilik lebih lanjut, meninggalkan kejanggalan.

Kalau saya memiliki cukup uang, akses, dan kekuasaan untuk mengendalikan aparat dan menyabotase kereta, takkan sulit melenyapkan apalagi menemukan seseorang. Tidak perlu repot-repot menempuh langkah kompleks yang peluang keberhasilannya tak seberapa. Collet-Serra jelas mengidolakan Alfred Hitchcock. Sejak Unknown, filmnya melibatkan unsur teror ruang sempit, identitas rahasia, atau karakter “wrong man in the wrong place”. Di berbagai film tersebut Collet-Serra bekerja sama dengan penulis berlainan, kecuali Ryan Engle yang menulis The Commuter dan Non-Stop. Lalu bagaimana bisa seluruhnya menyimpan permasalahan serupa? Rasanya kalimat “jodoh tidak ke mana” memang benar adanya.
Karya sang sutradara acap kali lemah di konklusi. Seperti The Shallow, The Commuter melompat menuju klimaks bombastis pasca menghabiskan durasi membangun misteri. Tidak keliru. Collet-Serra hendak membuat Hitchcockian modern yang menggabungkan misteri dan aksi dahsyat. Tapi klimaks The Commuter, yang menerapkan CGI berkualitas medioker, urung menyimpan ketegangan. Penonton urung diajak merasakan kecemasan layaknya sebuah momen sewaktu Michael nyaris terlindas kereta api. Adegan tersebut efektif, karena memberi penekanan akan bahaya yang dialami si tokoh, sedangkan klimaksnya lalai. 

Skenario milik Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle kurang mumpuni membagi fase, kapan mesti menebar pertanyaan, kapan mesti membagi jawaban sedikit demi sedikit. Naskahnya menggantungkan tanda tanya untuk penonton jawab tanpa memiliki teka-teki menarik untuk memancing antusiasme mencari jawaban.  Jaume Collet-Serra jelas diberkahi visi memadahi dalam hal meramu aksi. Dia hanya harus mencari pasangan penulis naskah yang tepat. 

GANGS OF NEW YORK (2002)

Nama Martin Scorsese dalam satu dekade terakhir terbilang fenomenal. Bayangkan, dia cuma menelurkan 4 film. Tapi dari keempat film itu semuanya dianggap punya kualitas luarbiasa dan layak bersaing di Oscar. Dari keempat film itu saya baru nonton 2. Yaitu The Departed & Shutter Island. The Departed berhasil menguasai Oscar tahun 2007. Shutter Island juga punya kualitas yang bagus. 2 Film lainnya adalah The Aviator dan Gangs of New York. Dari keempat film diatas semuanya memasang nama Leonardo DiCaprio sebagai bintang utama. Untuk Gangs of New York, pemilihan cast hampir seperti The Deaprted & The Aviator, yaitu memasukkan banyak nama pemain berkualitas yang udah gak diragukan lagi kemampuannya. Selain Leo masih ada Cameron Diaz, Daniel Day-Lewis, sampe Liam Neeson.

Pada tahun 1800an, New York belumlah jadi kota seperti sekarang. New York adalah kota yang lair dan ganas. Sering terjadi pertikaian disana. Pada tahun 1846 juga terjadi perang antar kelompok. Di wilayah Five Points terjadi perang antara penduduk asli Amerika yang menamakan dirinya "The Natives" dipimpin oleh William "Bill The Butcher" Cutting (Daniel Day-Lewis) melawan kelompok imigran asal Irlandia yang dipimpin Pendeta Vallon (Liam Neeson). Setelah melalui pertumpahan darah, Bill The Butcher berhasil menghabisi Vallon. Tragisnya, hal itu terjadi didepan putra Vallon, Amsterdam. Amsterdan kemudian diasuh di panti asuhan. Setelah 16 tahun, Amsterdam yang telah dewasa (Leonardo DiCaprio) kembali lagi ke New York. Tujuannya jelas membunuh Bill The Butcher. Tetapi ia mendapati beberapa anak buah ayahnya malah menjadi pelayan dan jadi anak buah Bill. Amsterdam lalu meminta bantuan kawan lamanya Johnny untuk bisa menyelinap dan menjadi anak buah Bill. Amsterdam lalu menjadi orang kepercayaan Bill The Butcher sambil menunggu kesempatan membunuh Bill. Disamping itu, Amsterdam juga mulai menjalin hubungan dengan seorang pencopet wanita bernama Jenny Everdeane (Cameron Diaz) yang ternyata juga mempunyai kedekatan dengan Bill. Bagaimanakah akhir usaha balas dendam Amsterdam Vallon?
Film ini memiliki durasi lumayan panjang, 166 menit. Film ini adalah film terpanjang yang pernah saya tonton dibawah Trilogi The Godfather (Part I: 175 menit, Part II: 200 menit, Part III: 170 menit). Cerita film ini sendiri sebenernya gak spesial. Udah banyak film tentang balas dendam, dan pembalasan dilakukan dengan cara mendektkan diri terlebih dulu ke targetnya. Untungnya kemasan film ini menarik sehingga kebosanan hampir tidak melanda saya. Dialog yang disajikan tidak terlalu panjang. Hampir tiap adegan selalu disajikan suguhan menarik. Tapi kekuatan utama film ini ada pada akting para pemainnya, khususnya duo DiCaprio & Day-Lewis. Melalui film ini Leo mulai dikenal sebagai aktor watak yang gak cuma modal tampang. Emang tahun 2002 merupakan tahun kebangkitannya. Setelah Titanic praktis namanya tenggelam. Karirnya nyaris mandek. Beruntung di film Steven Spielberg, "Catch Me If You Can" dia bisa bangkit, dan lewat Gangs of New York kemampuan aktingnya diakui. Walopun dia baru dilirik juri oscar pada tahun 2004 lewat The Aviator. Tapi bintang sesungguhnya film ini tetaplah Daniel Day-Lewis. Aktor satu ini emang ciamik. Perannya sebagai Bill The Butcher yang bengis dan berwibawa emang patut diapresiasi lebih. Dan jangan lupakan kumis ikoniknya. Dari 3 film Day-Lewis yang udah saya tonton (Gangs of New York, There Will Be Blood, Nine) semuanya dia selalu menunjukkanakting yang piawai. Dibalik durasinya yang rawan bikin bosan, pengemasan cerita dan akting para pemainnya membuat film ini menarik.