Tampilkan postingan dengan label Jon Bernthal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jon Bernthal. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KING RICHARD

Biopic inspiratif bertema from-zero-to-hero, kalimat bernada harapan yang kita tahu bakal terwujud ("They're gonna be great", "You're gonna be the greatest ever", dll.) karena alurnya diangkat dari kisah nyata, performa Oscar bait dari bintang ternama. King Richard adalah suguhan formulaik. 

Apakah itu kekurangan? Tentu bukan. Pertama, jika dieksekusi dengan baik, film formulaik punya kekuatannya sendiri (disebut "formula" karena racikan itu terbukti paten). Kedua, karya sutradara Reinaldo Marcus Green ini sejatinya tak seklise itu. Ada hal tricky yang berhasil diatasi tuturannya, terutama berkat kejelian Zach Baylin selaku penulis naskah.

Sesuai judulnya, King Richard menyoroti kehidupan Richard Williams (Will Smith), ayah sekaligus pelatih dua petenis tersohor, Venus Williams dan Serena Williams (masing-masing diperankan Saniyya Sidney dan Demi Singleton). Di sinilah bagian tricky-nya. Film ini mesti menyoroti peran Richard dalam kesuksesan karir Venus dan Serena, tanpa mengglorifikasi, sehingga terkesan mengerdilkan kehebatan dua puterinya tersebut. Dan King Richard berhasil.

Apa sebenarnya peran Richard? Dia menggembleng lewat latihan-latihan berat, mengajari dasar-dasar tenis, sembari aktif mempromosikan bakat Venus dan Serena kepada para pelatih. "Rencana". Itu yang selalu Richard tekankan. Dia punya rencana jangka panjang mendetail, dengan tujuan menjadikan kedua puterinya petenis nomor satu dunia di masa depan. 

Richard mengontrol segala jalur yang ditempuh, mulai dari teknik bermain sampai turnamen yang mesti diikuti. Dia tak gentar, bahkan di hadapan Rick Macci (Jon Bernthal), sosok kawakan yang selain melatih Venus dan Serena, juga berjasa memoles nama-nama besar seperti Jennifer Capriati dan Maria Sharapova. 

Terdengar seperti diktator? Ya, dan biarpun menekankan bahwa Richard adalah pemandu, bukan pemaksa layaknya banyak orang tua lain yang berambisi menjadikan anak mereka jawara tanpa memperhatikan kondisi mentalnya, King Richard tidak sepenuhnya menjusitifikasi perilaku sang protagonis. 

Fokus filmnya justru soal bagaimana Richard menemukan keseimbangan antara "pelatih hebat" dengan "ayah yang baik", kemudian menyadari kesalahan-kesalahannya. Dia dikenal kontroversial, seorang pemecah persepsi publik, dan demikianlah figurnya dipresentasikan. King Richard mengakui betapa protagonisnya dikuasai oleh male ego, lalu membawanya menuju proses mengatasi itu. 

Oracene Price (Aunjanue Ellis) selaku istri Richard, juga tak berlaku pasif. Pengaruhnya besar bagi keluarga. Ditegaskan pula bahwa alasan Oracene bertahan, meski harus menghadapi ketidaksempurnaan serta dosa-dosa Richard, bukanlah karena si suami, melainkan anak-anaknya. King Richard memang cerita seorang raja dunia tenis, namun sang raja bukan siapa-siapa, pula tak berdaya bila tanpa keluarga. 

Smith mereplikasi sosok Richard Williams dengan apik lewat performa yang kemungkinan besar bakal mengunci nominasi Oscar ketiganya. Tapi di antara penampilan showy Smith dan akting solid jajaran cast lain, sebagaimana peran Oracene di keluarga, Ellis ibarat tiang penyangga. Figur yang menopang serta menyatukan semuanya.

Narasi King Richard memang sempat berlubang kala melakukan lompatan waktu dari tahun 1991 ke 1994, di mana timbul transformasi ekstrim, saat Richard berubah dari "nobody", jadi figur yang ramai dibicarakan publik akibat perangainya. Transformasi ini terasa mendadak, sebab sebelumnya tak sedikitpun penonton dibawa mengamati "dunia luar", agar mendapat gambaran atas situasinya. 

Di luar kelemahan tersebut, King Richard bergulir solid. Durasi 145 menit miliknya bisa dimaklumi, karena memang ada cerita berisi proses panjang untuk disampaikan. Naskahnya mengandung kelokan-kelokan dengan beberapa kejutan, sedangkan pengarahan Green konsisten menjaga tempo penceritaan. Sekuen-sekuen pertandingan tenis pun dieksekusi secara memadai. Tidak menggunakan gaya atau estetika yang spesial, tidak sampai benar-benar membuat penonton menahan napas, namun tampak meyakinkan, tanpa penyuntingan berlebih guna memalsukan aksi bertukar pukulan. Solid, sama seperti keseluruhan filmnya, yakni film biografi yang (cenderung) formulaik, tetapi tepat sasaran.

(HBO Max)

REVIEW - THOSE WHO WISH ME DEAD

Berbeda dengan dwilogi Sicario, Hell or High Water, maupun Wind River selaku debut penyutradaraannya (Vile adalah "anak yang tak dianggap"), film ini bukan studi karakter mumpuni bersampul aksi/thriller yang jadi ciri khas Tyalor Sheridan. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Michael Koryta (juga menulis naskahnya bersama Charles Leavitt dan Sheridan), Those Who Wish Me Dead ibarat throwback bagi judul-judul rilisan 90-an, yang mengetengahkan kejar-kejaran sederhana, dengan latar tak kalah berbahaya yang sesekali turut memberi ancaman.

Tapi ada hal menarik di balik struktur kisahnya. Protagonisnya bernama Hannah (Angelina Jolie), seorang smokejumper yang sulit melepaskan rasa bersalah, menunjukkan tanda-tanda suicidal, akibat kematian tiga anak muda dalam sebuah kebakaran hutan. Tapi kata "me" di judulnya merujuk pada Connor (Finn Little), yang nyawanya terancam, diburu oleh dua pembunuh yang mengincar rahasia milik ayahnya. Kedua pembunuh tersebut adalah Jack (Aidan Gillen) dan Patrick (Nicholas Hoult), yang memperoleh screen time terbanyak, khususnya di paruh pertama.

Jika mayoritas action thriller 90an berstatus star vehicle bagi si bintang utama, maka Sheridan ingin membuat ensemble, yang membagi rata sorotannya. Kisah bocah yang dipaksa bertahan hidup meski baru kehilangan ayahnya, kisah penebusan dosa sesosok wanita, serta kisah dua pembunuh menjalankan misi. Meski Jack dan Patrick jelas penjahat kejam, terdapat dinamika yang menjauhkan penokohannya dari kesan one-dimensional. Mereka bukan robot patuh berdarah dingin. Bagi Jack, semuanya bisnis. Sedangkan Patrick sesekali menyiratkan bahwa menghabisi nyawa bukanlah pekerjaan ringan.

Tapi tidak bisa dipungkiri, kelas Those Who Wish Me Dead berada di bawah karya-karya Sheridan sebelumnya. Bukan kali pertama ia menampilkan protagonis dengan psikis terguncang, namun baru di sini presentasinya generik. Latar belakang Hannah berakhir sebatas tempelan, pun prosesnya menangani trauma melalui penebusan dosa dipenuhi keklisean, yang juga serba menggampangkan dinamika psikis manusia. 

Setidaknya Jolie tampil believable sebagai pemadam kebakaran yang menolak ketidakberdayaan, meski sudah jatuh dari menara pengamatan, terserempet sambaran petir, dipukuli habis-habisan, hingga terjebak kobaran api ganas. Tapi wanita pencuri perhatian bukan Jolie saja. Walau memiliki Jon Bernthal alias Punisher sebagai Ethan si polisi, filmnya mengesampingkan machismo dan memberi ruang bagi sang istri, Allison (Medina Senghore) yang tengah hamil untuk angkat senjata.

Perihal eksekusi aksi, dibantu CGI yang lumayan meyakinkan menghidupkan kebakaran hutan selaku panggung klimaks (Jack dan Patrick menyalakan api guna menciptakan distraksi), Sheridan nyatanya tetap piawai membangun intensitas, meski skalanya meningkat dibanding debutnya. Tapi poin terbaik dalam aksi Those Who Whis Me Dead adalah saat di beberapa titik, karakternya yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran hingga pengajar survival school, memamerkan beberapa metode bertahan hidup untuk beragam situasi (pemakaian distress word, sampai menghindari sambaran petir dan kobaran api).


Available on HBO MAX & CINEMAS

FORD V FERRARI (2019)

Pernah menggarap western (3:10 to Yuma) dan film superhero bergaya western (Logan), wajar saat Ford v Ferrari garapan sutradara James Mangold memancarkan nuansa serupa. Mengedepankan dua protagonis dengan cowboy attitude (bahkan salah satunya mengenakan topi koboi), ini bak kisah koboi yang lebih modern, di mana alih-alih seekor kuda, mobil balap Ford GT40 jadi tunggangannya.

Ketika Henry Ford II (Tracy Letts) kebakaran jenggot akibat penjualan mobilnya menurun, Wakil Presiden Ford, Lee Iacocca (Jon Bernthal), mengusulkan pada sang CEO agar perusahaan mereka mengikuti jejak Ferrari berlomba di ajang “24 Hours of Le Mans”. Menurut Iacocca, keberhasilan pabrikan mobil milik Enzo Ferrari (Remo Girone) itu menyabet gelar juara secara beruntun membuatnya tampak superior hingga digandrungi publik.

Awalnya Ford berniat membeli Ferrari yang nyaris bangkrut, namun di “tikungan akhir”, Fiat menyalip mereka. Tersinggung oleh penolakan serta hinaan Enzo, Henry mengubah rencana. Ditunjuklah Carroll Shelby (Matt Damon) guna membuatkan Ford sebuah mobil balap yang lebih cepat dari Ferrari. Shelby, yang pernah menjuarai Le Mans 1959 sebelum pensiun akibat gangguan jantung, turut mengajak rekannya, Ken Miles (Christian Bale), pembalap bertalenta luar biasa yang kerap dicap buruk akibat perangai urakannya.

Shelby boleh membuka cerita, dan Matt Damon sendiri tampil solid tanpa perlu terkesan “showy” layaknya setir yang mengontrol laju filmnya, tapi mesin penggerak Ford v Ferrari adalah Miles. Di hadapan banyak orang, gestur, ekspresi, sampai cara bicara Bale menggambarkan betul bagaimana Miles memposisikan dirinya di atas lawan bicara. Apalagi kala mesti beradu melawan Leo Beebe (Josh Lucas), salah satu eksekutif Ford yang akan membuat penonton ingin melayangkan bogem mentah ke arah senyum kesombongan pihak korporat yang senantiasa ia pasang di wajahnya.

Sebaliknya, di ruang intim, baik di tengah kesendirian, di balik kemudi mobil, maupun di samping keluarganya, Miles adalah manusia biasa, yang berperasaan dan kerap menunjukkan kerapuhan. Dinamika keluarga Miles justru merupakan roh filmnya. Caitriona Balfe memerankan Mollie, istri Miles yang suportif namun tak pasif, dan berani bersuara kala sang suami melakukan kesalahan. Sedangkan Noah Jupe adalah Peter, putera Miles yang amat mengagumi sang ayah.

Naskah buatan kakak beradik Jez Butterworth dan John-Henry Butterworth (Edge of Tomorrow, Get on Up) bersama Jason Keller (Mirror Mirror, Escape Plan) paham betul bahwa drama olahraga terbaik selalu soal sisi personal pelakunya. Alhasil, momen emosional Ford v Ferrari selalu soal keluarga Miles. Ketika mobil Miles meledak di sesi latihan, kita diajak merasakan teror mencekam seorang anak yang menyaksikan ayahnya mendekati maut. Pun bukan diskusi teknis yang dipakai untuk menjabarkan luar biasa panjang, lama, nan menantangnya “24 Hours of Le Mans”, melainkan obrolan hati ke hati Miles dan Peter.

Di lintasan balap, giliran James Mangold unjuk gigi. Semua balapan digarap maksimal, tidak ada yang sekadar numpang lewat. Dari perlombaan Daytona sampai Le Mans punya ketegangan sekaligus euforia masing-masing. Dibantu sinematografer langganannya, Phedon Papamichael, ditambah penyuntingan cekatan, Mangold membangun intensitas melalui penempatan kamera yang mencakup seluruh sisi. Kita tahu kondisi di dalam mobil termasuk ekspresi Miles, sudut-sudut lintasan, pula bagaimana mobil melaju di sana. Selaku latar, musik gubahan Marco Beltrami (The Hurt Locker, A Quiet Place) memadukan beragam bentuk, dari sentuhan jazz (Ferrari Factory, Photos to Fiat) hingga rock pemacu adrenalin (Le Mans 66, Willow Sprints).

Seru, menegangkan, dan emosional, Ford v Ferrari bukan tentang kedigdayaan dua pabrikan mobil tersebut. Bahkan hingga akhir, filmnya tetap konsisten melontarkan kritik terhadap pihak korporat yang melakukan segala cara demi keuntungan sendiri. Sekali lagi, drama olahraga terbaik selalu bicara seputar sisi personal pelakunya, dan Ford v Ferrari berhasil melakukan itu, menyoroti perjuangan dua koboi lintasan balap, menjadikannya salah satu yang terbaik dalam beberapa waktu terakhir.

THE PEANUT BUTTER FALCON (2019)

Dua individu saling mengisi guna menyembuhkan luka batin masing-masing. Terdengar familiar? Faktanya tema serupa memang telah dipakai berulang kali, jumlahnya tak terhitung lagi. Tapi The Peanut Butter Falcon, selaku debut film panjang duet sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz, membuktikan kisah lama tersebut belum, atau bahkan takkan usang, dalam sebuah perjalanan intim yang mendekap hangat hati penontonnya.

Zak (Zack Gottsagen) adalah pengidap down syndrome berusia 22 tahun yang terpaksa tinggal di panti jompo akibat ditinggalkan oleh keluarganya. Di sana, Zak selalu melakukan dua hal: menonton rekaman aksi pegulat idolanya, Salt Water Redneck (Thomas Haden Church), dan berusaha melarikan diri. Sang penjaga, Eleanor (Dakota Johnson) pun dibuat pusing karenanya. Sampai suatu malam, dibantu teman sekamarnya, Carl (Bruce Dern), Zak kabur. Tujuannya satu: menemui Salt Water Redneck untuk meminta diajari bergulat.

Zak bertemu Tyler (Shia LaBeouf), nelayan yang selepas kematian kakaknya, Mark (Jon Bernthnal), kerap menyulut masalah. Tidak terima disalahkan setelah mencuri kepiting di umpan milik Duncan (John Hawkes), Tyler diburu pasca membakar peralatan menangkap ikan seharga $12 ribu. Sama-sama berstatus buron, Zak dan Tyler berjalan bersama demi mencari Salt Water Redneck. Perlahan, ikatan persaudaraan di antara mereka pun tumbuh.

Mengambil beberapa elemen cerita dari karakter Huckleberry Finn ditambah pengalaman personal Zack Gottsagen yang bermimpi tampil sebagai aktor di layar lebar, Nilson dan Schwartz mengisi naskahnya dengan hati, juga kreativitas. Hanya bermodal $6 juta, keduanya mesti memutar otak bagaimana merangkai petualangan unik nan menarik. Hasilnya, timbul ide-ide kreatif berupa rangkaian peristiwa quirky khas drama-komedi indie yang menyeimbangkan bobot hiburan dengan drama.

Tidak nihil tujuan, sebab tiap peristiwa berkontribusi menguatkan hubungan Zak dan Tyler sedikit demi sedikit. Mungkin kehangatan urung terjalin bila dua pemeran utama tampil tak sebaik ini. Natural dan spontan dalam berinteraksi, begitulah Gottsagen dan Shia LaBeouf di sini. Memerankan versi alternatif dirinya, Gottsagen memperlihatkan jika memilih aktor dengan down syndrome untuk memerankan karakter down syndrome bisa menguatkan realisme. Kesan serupa dimunculkan LaBeouf lewat performa raw, baik kala menghidupkan sisi Tyler yang terluka, maupun Tyler yang sarat perhatian melalui caranya sendiri.

Serupa karakter peranan masing-masing, kedua aktor saling mengisi, menjalin hubungan hangat supaya penonton merasa terundang turut serta dalam petualangan mereka. Dibarengi alunan scoring bernuansa country—yang efektif menggambarkan kejujuran ungkapan rasa lewat alunan nada penuh jiwa—The Peanut Butter Falcon bak membawa saya menuju perjalanan damai nan hangat. Rasanya seperti berada di rumah bersama orang-orang terkasih.

Pun filmnya cermat menentukan timing kapan mesti melibatkan Eleanor secara signifikan. Tatkala alur mulai melangkah jauh dan risiko amunisi menipis mulai tercium, kehadiran Dakota Johnson kembali memperkaya dinamika. Demikian pula saat nama-nama macam Bruce Dern, John Hawkes, sampai Thomas Haden Church melakukan kemunculan kecil berdampak besar. Nilson dan Schwartz tahu, kapan filmnya butuh suntikkan nyawa baru.

The Peanut Butter Falcon juga punya pencapaian spesial, yang sekilas mudah, padahal merupakan perkara rumit, yakni melahirkan tawa melalui karakter pengidap down syndrome. Tanpa kepekaan, humornya berpotensi mengandung stereotip ofensif. Beruntung, The Peanut Butter Falcon adalah tontonan yang suportif.

WIDOWS (2018)

Steve McQueen (Shame, 12 Years a Slave) melakukan apa yang kebanyakan sutradara takkan berani lakukan. Dia memasang Liam Neeson dan Jon Bernthal—dua aktor yang identik dengan machismo—dalam jajaran pemain, memberi keduanya peran singkat untuk mengakomodasi terciptanya suguhan bertema women’s empowerment. Di balik konsep heist-nya, Widows yang diadaptasi dari serial televisi Inggris berjudul sama (1983-1985) pun bertaburan ragam topik kompleks seperti seksisme, politik korup, hingga rasisme.

Empat wanita—Veronica (Viola Davis), Linda (Michelle Rodriguez), Alice (Elizabeth Debicki), Amanda (Carrie Coon)—tengah berduka akibat kematian suami masing-masing pasca kegagalan sebuah aksi perampokan yang dipimpin Harry (Liam Neeson). Seolah belum cukup, masalah lain silih berganti hadir, salah satunya tuntutan Jamal (Brian Tyree Henry), bos mafia korban perampokan Harry dan kawan-kawan, kepada Veronica agar mengembalikan uang curian itu, yang akan dipakai berkampanye guna menumbangkan pesaingnya, Jack (Colin Farrell).

Menulis naskahnya bersama Gillian Flynn (Gone Girl), McQueen memaparkan realita pahit para janda yang acap kali dipandang lemah tak berdaya setelah ditinggal sosok lelaki pendamping. Stigma negatif itulah yang coba diruntuhkan Widows, di mana para janda dipaksa menanggung dosa mendiang suami mereka. “Sudah mati saja masih merepotkan”. Mungkin demikian kalimat kasarnya. Tapi dari situlah wanita-wanita film ini menemukan jalan pembuktian diri.

Widows merupakan proses membuktikan kemandirian dan lepas dari bayang-bayang pria.Veronica diancam Jamal, Linda kehilangan toko akibat hutang judi suaminya, tapi kisah paling mengikat datang dari Alice. Merupakan korban KDRT, ketergantungan akan suami menyulitkannya menemukan pijakan sendiri. Bahkan sang ibu (Jacki Weaver) memaksanya mengeruk uang para pria kaya demi kelangsungan hidup, karena menurutnya, wanita tak semestinya independen dan mesti mengandalkan sokongan pria.

Sebagai pemilik reputasi tertinggi, wajar bila Viola Davis menonjol. Kepiawaiannya mengolah rasa akan mengisi banyak perbincangan soal musim ajang penghargaan. Tapi tak semestinya kita melupakan Elizabeth Debicki. Performa Debicki kuat namun subtil, di mana tanpa banyak letupan, ia memperlihatkan transformasi mengagumkan seorang wanita gamang yang pelan-pelan lelah diperlakukan bagai sampah. Prosesnya dipaparkan detail (penderitaan, pemicu perubahan, rintangan), sehingga saat tiba di garis akhir, yang saya rasakan adalah kepuasan.

Walau bertabur kritik sosial (termasuk mengenai kekerasan beraroma rasisme oleh aparat yang meski singkat namun memberi dampak hebat), McQueen tetap sadar bahwa ia sedang membuat film heist. Elemen heist sendiri mulai dikedepankan setelah Veronica mengajak para janda lain meneruskan pekerjaan suami mereka yang belum tuntas, yakni merampok uang senilai $5 juta. Di tengah memanasnya iklim politik kala dua nama berebut kuasa, siapa sangka para wanita yang dikira tak punya daya setelah menjanda berencana merampas harta?

Total terdapat dua perampokan: Opening dan klimaks. Sejak adegan pembuka, McQueen, yang dikenal sebagai sutrdara drama, langsung membuktikan kapasitas mengemas heist selaku hiburan popcorn. Ketegangan berhasil dibawa ke puncak, terlebih tiap kali rencana karakternya menemui rintangan kemudian terjadi hal mengejutkan. McQueen paham timing yang tepat untuk menyentak penontonnya.

Dibantu sang sinematografer langganan, Sean Bobbitt, McQueen menerapkan pergerakan kamera yang akan menyerap kita ke dalam situasi di layar, termasuk sebuah momen kala kamera itu bergerak melingkari Daniel Kaluuya, yang tampil amat intimidatif memerankan Jatemme, adik sekaligus kaki tangan Jamal, yang juga berperan sebagai eksekutor berdarah dingin.

Satu-satunya ganjalan hanya, walau tersaji intens, aksi perampokannya bergulir terlalu mudah. Ya, McQueen memang tidak bertujuan menyajikan perampokan bergaya nan over-the-top serupa seri Ocean’s, namun setelah penantian dan perencanaan panjang, penonton (serta jajaran tokohnya) pantas mendapatkan lebih banyak porsi heist. Tapi anda akan melupakan kelemahannya setiap Widows memamerkan kekuatannya, termasuk last shot emosional yang menggambarkan bagaimana para janda itu memiliki satu sama lain.

BABY DRIVER (2017)

Talenta, selera, usaha. Edgar Wright punya ketiganya, dan nampak jelas dalam Baby Driver, satu lagi kemenangan sutradara pemilik karir nyaris sempurna. Didasari premis tentang seorang getaway driver yang harus mendengarkan musik kala melancarkan aksi, suguhan ini takkan tercipta tanpa kepiawaian Wright berbicara melalui visual, luasnya referensi musik guna menyusun playlist solid pendukung adegan, serta kesediaan mengkreasi ketepatan timing antara tata suara dan gambar yang tentunya butuh usaha ekstra. Baby Driver adalah kesenangan sejati ketika senyum lebar hadir didorong kekaguman terhadap pencapaian sinematik suatu film. 

Di balik kehebatannya mengendarai mobil, melakoni stunt yang membuat para polisi tunggang langgang mengejarnya, Baby (Ansel Elgort) tidak pernah lepas dari earphone dan iPods. Walau tampak bergaya, itu bukan sekedar gaya. Mengidap tinitus akibat kecelakaan masa kecil, musik yang nyaris selalu dia dengar berfungsi meminimalisir gangguan pendengaran, memfokuskan diri tiap menjalankan perampokan yang terpaksa Baby lakukan akibat hutang besar pada Doc (Kevin Spacey). Sampai kehadiran pelayan cafe bernama Debora (Lily James) memotivasinya untuk segera meninggalkan dunia kriminal. Namun misi terakhir telah menunggu. Misi yang (unsurprisingly) berjalan kacau.
Sejak perampokan pertama, saat Griff (Jon Bernthal), Buddy (Jon Hamm), dan Darling (Eiza Gonzales) membobol bank sementara Baby menanti di mobil menikmati Bellbotoms kepunyaan Jon Spencer Blues Explosion, sinkronisasi pengadeganan telah mencuri perhatian. Semakin mengesankan begitu tiba long take memperlihatkan Baby menyusuri jalanan, bertingkah mengikuti irama dan lirik lagu. Gerakan aktor yang dikoreografikan oleh Ryan Heffington selaras dengan ritme soundtrack, efek suara (sirine polisi, letusan pistol, gesekan uang kertas) terdengar bagai ornamen alami dalam lagu, sedangkan penyuntingan gambar dinamis turut disesuaikan tempo musiknya. Baby Driver pun jadi mahakarya kolaborasi audio-visual. 

Di awal karirnya, Edgar Wright pernah menggarap beberapa video klip, alhasil wajar kala kesesuaian musik dengan gambar mampu ia capai. Bahkan Blue Song dari Mint Royale yang serupa opening film ini bisa disebut prototipe Baby Driver. Namun merangkai film panjang berdurasi 113 menit dengan mayoritas bagian tersinkronisasi apik ada di level berbeda, termasuk sewaktu ia menyertakan penggalan-penggalan lirik Harlem Shuffle di tiap sudut jalan. Di sini, gesekan roda mobil dengan aspal jalan sampai berondongan peluru senapan ada bukan semata-mata untuk kesan bombastis adegan aksi, pula keindahan estetika penghasil kepuasan indera pendengaran penonton, selain tentunya melengkapi kegilaan car chase stunt yang digawangi Jeremy Fry (John Wick, Jason Bourne, The Dark Knight Rises).
Tapi Baby Driver tak hanya video klip panjang nan kompleks, sebab seperti biasa, Wright jago mengolah naskah renyah. Beragam humor jenius setia mengocok perut, sebutlah lelucon "topeng Michael Myers". Pun di ranah lebih mendasar, penamaan tokoh tak kalah cerdas. Baby, Buddy, Darling. Sekilas terdengar seadanya, tetapi Wright memanfaatkan nama-nama itu guna menyusun kelakar memikat macam "Hi, Baby", "Fuck you, Buddy", "What's your name, Darling", dan sebagainya. Baris kalimat humornya pun selalu segar, di tengah komposisi komedi visual nihil ungkapan verbal yang sejak lama jadi ciri khas sang sutradara. 

Sulit menemukan aktor seperti Ansel Elgort yang piawai menggabungkan sikap quirky dan aura coolness yang terkadang membaurkan batas keyakinan dan kesombongan. Chemistry kuat pun bisa dibangun bersama Lily James. Disokong penulisan dialog cermat Wright, tersaji interaksi manis layaknya kali pertama kita menemukan cinta lewat kesamaan kegemaran tatkala keduanya bertukar pengetahuan soal musik. Bersama pasangan lain dalam diri Eiza Gonzales yang sensual dan Jon Hamm yang menyimpan kebrutalan, Elgort-James melancarkan upaya Wright menambahkan unsur romansa-kriminal ala Bonnie and Clyde atau True Romance yang terhampar manis meski brutal dan penuh bahaya.