Tampilkan postingan dengan label Ha Jung-woo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ha Jung-woo. Tampilkan semua postingan
THE CLOSET (2020)
Rasyidharry
Apa kaitan keluarga disfungsional
dengan lemari? Ada anak yang menjadikan lemari sebagai tempat sembunyi saat
semua tekanan terlampau berat, ada pula mereka yang dikurung di lemari sebagai
bentuk hukuman dari orang tua. Lemari jamak jadi sarana menakut-nakuti dalam horor,
tapi jarang yang memberinya substansi seperti The Closet, sebuah kisah saat penderitaan bocah-bocah memanggil sesosok
arwah.
Sang-won (Ha Jung-woo), seorang
arsitek, dan puterinya, Yi-na (Heo Yool), baru pindah ke rumah baru yang
berdekatan dengan alam. Kepindahan tersebut bertujuan untuk memperbaiki hubungan
mereka yang canggung, pasca kecelakaan maut yang menelan nyawa istri Sang-won. Akibat
kecelakaan itu pula Sang-won kerap terkena serangan kepanikan. Masalahnya, Yi-na
selalu diam. Boneka-boneka impor mahal yang menurut Sang-won diinginkan
puterinya, sama sekali tak disentuh.
Di situlah masalahnya. Komunikasi
nyata tidak pernah terjadi, dan Sang-won tak pernah menanyakan, apa yang
sebenarnya Yi-na mau. “Orang tua menentukan hal terbaik bagi anak tanpa mencari
tahu apa keinginan si anak”. Kim Kwang-bin selaku sutradara sekaligus penulis
naskah menyelipkan konflik—yang entah sudah diangkat berapa ratus ribu kali oleh
film dari beraneka genre—ke dalam pola horor formulaik yang punya elemen-elemen
alur familiar: Yi-na mulai berubah setelah bertemu “teman” yang berasal dari
lemari kamarnya, hingga kemudian ia menghilang. Bahkan third act-nya kembali menghadirkan perjalanan memasuki alam lain.
The Closet memang punya kisah klise. Pembedanya terletak di
subteks perihal pola asuh dan penelantaran anak, yang selepas terkuaknya
jawaban misteri, terasa semakin kelam nan menyakitkan. Terlebih, pengadeganan Kwang-bin
(yang menyertakan senyum menyeramkan Park Sung-woong) mampu menguatkan nuansa disturbing pada momen tersebut.
Seringkali, horor di kehidupan sehari-hari memang tidak kalah mengerikan dibanding
teror makhluk halus. Ada pula sentilan mengenai media framing, yang sayangnya sekadar numpang lewat.
Sebagaimana menu kegemaran
Guillermo del Toro, The Closet menampilkan
tragedi, ditambah hantu-hantu sedih yang sejatinya (juga) merupakan korban. Hantu-hantu
yang dihidupkan oleh tata rias yang tampak cukup realistis. Desainnya mungkin
tak seberapa kreatif (bola mata putih, luka-luka di sekitar mata), tapi
setidaknya menyimpan arti, bukan cuma “agar wajah mereka kelihatan rusak”, mengingat
hantu di sini dipanggil “The Blinded”.
Tapi elemen tragedi itu memberi
dampak negatif di klimaks, tatkala Kwang-bin lebih fokus menampilkan
melodrama daripada membangun ketegangan. Padahal, sepanjang durasi, sang
sutradara telah menunjukkan kapasitas mengemas teror melalui beberapa jump scare yang berhasil mengejutkan
berkat ketepatan timing, meski
terkadang volume musiknya berlebihan.
Di luar genre horor yang selalu
diminati, daya tarik terbesar The Closet jelas
keterlibatan Ha Jung-woo. Bersama Kim Nam-gil yang memerankan Kyung-hoon si
pengusir setan, dia melahirkan dynamic
duo, yang bermodalkan kepribadian berlawanan keduanya (Sang-won serius,
sementara Kyung-hoon gemar bercanda dan sering bersikap semaunya), kerap
memproduksi interaksi menarik, bahkan tak jarang menggelitik, termasuk sebuah
humor meta tentang film terbesar Ha
Jung-woo.
Maret 05, 2020
Cukup
,
Ha Jung-woo
,
Heo Yool
,
horror
,
Kim Kwang-bin
,
Kim Nam-gil
,
Korean Movie
,
Park Sung-woong
,
REVIEW
ASHFALL (2019)
Rasyidharry
Ashfall adalah tontonan yang berbagai kekurangannya bisa dimaafkan,
khususnya oleh penggemar sinema atau budaya populer Korea Selatan lain, berkat
keberadaan ensemble cast. Fakta bahwa
nama-nama seperti Lee Byung-hun, Ha Jung-woo, Ma Dong-seok, Bae Suzy, sampai
Jeon Hye-jin tampil di satu film—meski tak sekalipun kelimanya mengisi layar
secara bersamaan—sudah merupakan event tersendiri.
Hanya ada satu harapan tak terpenuhi: Andai saja Lee Hae-jun (Like a Virgin, My Dictator) dan Kim
Byung-seo (Cold Eyes) yang berduet
menulis naskah sekaligus menyutradarai tidak terlena oleh ambisi.
Alurnya dibuka layaknya film
bertema bencana alam kebanyakan. Bencana yang membelah jalanan kota dan
meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit? Ada. Protagonis yang dinaungi
keberuntungan luar biasa hingga bisa melewati rintangan berbahaya berkat
deretan kebetulan? Ada. Sosok tercinta protagonis (bisa orang tua, pasangan,
anak, atau semuanya) yang di tempat berbeda turut berusaha menyelamatkan diri?
Ada. Ilmuwan jenius yang disebut gila karena berteori soal potensi bencana
dahsyat? Ada. Semua elemen formulaik itu bertebaran, namun memasuki pertengahan
film, mungkin anda bakal berharap Ashfall
tetap bermain aman saja.
Ketika gunung berapi Baekdu meletus
lalu menyebabkan gempa berkekuatan 7,8 skala richter, pihak pemerintah Korea
Selatan melalui Jeon Yoo-kyung (Jeon Hye-jin), meminta bantuan Profesor Kang
Bong-rae (Ma Dong-seok) guna mencari jalan keluar. Berdasarkan data, tiga gempa
susulan tinggal menunggu waktu, di mana yang terakhir diprediksi menyentuh
angka 8 skala richter. Misi penyelamatan berisiko tinggi pun dijalankan di
Korea Utara di bawah komando Kapten Jo In-chang (Ha Jung-woo), memaksanya
meninggalkan sang istri, Choi Ji-young (Bae Suzy) yang sedang mengandung.
Dari situlah Ashfall mulai berkembang ke arah berbeda di babak kedua menjadi
suguhan aksi militer berbumbu politik. Jelang tercapainya kesepakatan
denuklirisasi dengan Korea Utara, Bong-rae justru menyarankan agar Korea
Selatan menciptakan ledakan nuklir guna membatalkan erupsi Gunung Baekdu.
Alhasil pihak Amerika Serikat pun menginterupsi, menggiring filmnya untuk
menyinggung konflik terkait benturan usaha menyelamatkan nyawa manusia dengan
kepentingan-kepentingan bersifat politis dalam hubungan internasional.
Jangan harapkan eksplorasi cerita
kompleks, sebab masalah ekstra itu hanya bertujuan memperbanyak pecahnya baku
tembak, dalam misi Jo In-chang menghubungi Lee Joon-pyeong (Lee Byung-hun),
anggota tentara rakyat Korea Utara yang mengetahui tempat penyimpanan hulu
ledak. Inilah perwujudan ambisi Lee Hae-jun dan Kim Byung-seo menjauhkan Ashfall dari keklisean film bencana,
yakni dengan mengandalkan keklisean aksi bertabur desing-desing peluru, yang
sejatinya berpotensi besar memproduksi keseruan film popcorn, andai
kemunculannya tidak terlampau “dihemat”, khususnya di pertengahan.
Karakternya berlari, berkendara,
berdebat, sambil sesekali saling melempar timah panas dalam sekuen yang
dieksekusi secara tidak spesial oleh Hae-jun dan Byung-seo. Ironis memang, saat
niatan menambah warna justru jadi alasan ketidakmaksimalan. Beruntung film ini
punya ansambel luar biasa. Suzy membuktikan perlahan tapi pasti aktingnya mulai
berkembang, dan cukup menyenangkan pula
melihat Ma Dong-seok memerankan sesosok ilmuwan canggung biarpun berbeda dari
biasanya ia tidak diminta melempar bogem mentah (It’ll be too easy since he could destroys Baekdu Mountain with his bare
hands). Tapi pesona utamanya jelas kombinasi Lee Byung-hun dan Ha Jung-woo.
Sebagaimana Leonardo DiCaprio-Brad
Pitt di Once Upon a Time in Hollywood, menyaksikan
dua megabintang berbagi layar sudah melahirkan kepuasan tersendiri. Apalagi
kala Byung-hun dan Jung-woo sama-sama piawai di tiap lini. Di tangan mereka,
adegan aksi jadi bertabur kharisma, komedi semakin ampuh memancing tawa, dan peristiwa
dramatik—yang selalu memperkuat judul-judul asal Korea Selatan apa saja genrenya—dapat
mengaduk-aduk rasa, meski sesungguhnya, paparan soal “pengorbanan demi
orang-orang tercinta” cuma diolah seadanya oleh departemen naskah.
Daya hibur Ashfall selalu memuncak sewaktu bencana terjadi, tidak peduli walau
berbagai kebetulan bodoh kerap menyelamatkan protagonisnya di momen-momen
genting. Perihal elemen ini kedua sutradaranya berhasil. Dibantu CGI mumpuni,
tiap gempa dan luapan air berdaya hancur tinggi mampu menciptakan pemandangan
mencekam. Bujetnya cuma sekitar $17 juta, yang mana menjelaskan pilihan menghemat
aksi, namun di sisi lain menegaskan kepiawaian sineas Korea Selatan menangani film
bencana di tengah keterbatasan.
Januari 01, 2020
Action
,
Bae Suzy
,
Cukup
,
Don Lee
,
Ha Jung-woo
,
Jeon Hye-jin
,
Kim Byung-seo
,
Korean Movie
,
Lee Byeong-heon
,
Lee Hae-jun
,
Ma Dong-seok
,
REVIEW
TAKE POINT (2018)
Rasyidharry
Ketika ada film aksi Asia memakai
jajaran pemain negeri Barat, mengadopsi gaya serta kultur Barat agar terasa “lebih
Barat” guna mencuri perhatian penonton Barat, penonton perlu menyalakan tanda
bahaya. Bahkan di film seperti Take Point
sekalipun, yang digarap sutradara berbakat Kim Byung-woo (The Terror Live) sekaligus dibintangi Ha
Jung-woo selaku salah satu aktor terbesar Korea Selatan saat ini.
Hampir seluruh kalimat dalam naskah
yang ditulis sendiri oleh Byung-woo memakai Bahasa Inggris, termasuk setumpuk
variasi kata “fuck” yang disebar
secara acak supaya karakternya nampak lebih tangguh (in Western kind of way), namun akhirnya justru terdengar dipaksakan
dan canggung. Demikian pula alurnya yang dituturkan dengan berantakan,
khususnya pada 30 menit pertama.
Berlatar tahun 2024, Ha Jung-woo
memerankan Ahab, seorang kapten prajurit bayaran elit, yang mendapat tugas
rahasia dari pemerintah Amerika untuk menangkap salah satu pejabat tinggi Korea
Utara, dalam rangka meningkatkan elektabilitas sang Presiden yang terus menurun
jelang pemilu. Tapi begitu tiba di lokasi yang terletak di bawah Zona
Demiliterisasi Korea, yang mereka jumpai justru King (Wook-Hyun Sun) sang Supreme Leader.
Berikutnya, seiring perubahan misi
dengan tingkat bahaya yang turut meninggi, Byung-woo coba menjabarkan plot yang
terdiri atas konspirasi internasional dan pengkhianatan di luar berbagai twist lain, melalui baris-baris kalimat
eksposisi berbelit yang dituturkan dalam tempo manik layaknya presentasi gugup
seorang mahasiswa di depan kelas.
Lupakan penonton yang duduk nyaman
di kursi bioskop. Saya terkejut tokoh-tokohnya, yang ditempatkan di tengah
situasi hidup dan mati, sanggup mencerna seluruh peristiwa di sekitar mereka.
Begitu ramai, begitu rumit, begitu berbelit, tensi setengah jam pertamanya pun menjadi
lemah, juga menghadirkan rasa lelah. Kapasitas bercerita Byung-woo amat buruk.
Kalau anda merasa penceritaan Mile 22
kacau, silahkan coba Take Point.
Beruntung, pasca pembangunan (atau
lebih cocok disebut “penghancuran”) plot itu berlalu, Take Point sepenuhnya meluangkan waktu dan sumber daya untuk
menyusun aksi beroktan tinggi, yang intensitas serta kegilaannya perlahan
meningkat seiring waktu. Byung-woo bak mengambil ilmu dari buku panduan “How to Direct An Action Movie” milik
Paul Greengrass, di mana ia mengkombinasikan shaky cam berkadar normal dengan gerak kamera yang lincah
menjelajahi ruang-ruang sempit bunker, yang turut mengingatkan saya akan gim bergaya
First-person shooter.
Di samping kritik terhadap
kepentingan politik (Amerika) yang tak seberapa memberi dampak, Take Point tak ketinggalan menyelipkan
pesan anti-peperangan, khususnya terkait Korea Selatan dan Korea Utara. Pesan
tersebut disimbolkan oleh dua tokoh utama, Ahab si prajurit Korea Selatan dan Yoon
Ji-eui (Lee Sun-kyun) selaku kepala tim medis King, yang dituntut bekerja sama
untuk dapat keluar dari bunker. Subteks itu pun sejatinya lemah, tapi saya menyukai sebuah adegan tatkala Ahab, di bawah
instruksi Ji-eui, berusaha menyelamatkan nyawa King. Di suatu film aksi yang begitu
ringan mencabut nyawa karakter melalui baku tembak, menarik rasanya melihat
bagaimana ketegangan tinggi mampu disajikan lewat adegan menyelamatkan nyawa
ketimbang merenggutnya.
Anda hanya harus melupakan betapa
alurnya kerap meninggalkan lubang, tidak masuk akal, serta dituturkan dengan
berantakan, agar bisa menikmati gelaran aksi milik Take Point, yang secara konsisten bertambah besar, hingga akhirnya berpuncak
di klimaks gila nan mengejutkan, ditemani iringan musik bombastis gubahan Lee
Ju-noh (Armor Hero Atlas) dan Jaeil
Jung (Doraemon: Nobita and the Space
Heroes, Okja).
Januari 16, 2019
Action
,
Cukup
,
Ha Jung-woo
,
Jaeil Jung
,
Kim Byung-woo
,
Korean Movie
,
Lee Ju-noh
,
Lee Sun-kyun
,
REVIEW
,
Thriller
ALONG WITH THE GODS: THE LAST 49 DAYS (2018)
Rasyidharry
Dwilogi Along with the Gods, yang mengadaptasi webtoon berjudul sama karya Joo Ho-min, adalah sajian yang
mengandung nyaris segala elemen kegemaran penonton arus utama, sehingga tidak
heran, The Two Worlds menjadi film
Korea Selatan terlaris kedua sepanjang masa dengan lebih dari 14 juta penonton,
sedangkan sekuelnya sudah ditonton 10,5 juta orang dalam 2 minggu. Selain diisi
aksi berhiaskan CGI, keduanya menyimpan senjata andalan masing-masing. Apabila
film pertama sarat drama mengharu biru, The
Last 49 Days penuh sesak oleh twist.
Begitu banyak, jika anda tipe penonton dengan prinsip “makin ceritanya nggak
ketebak makin bagus”, bisa saja ini menjadi salah satu film terbaik sepanjang
tahun. Karena di sini, nyaris setiap jalan dan jawaban seolah harus
menghasilkan kejutan tanpa mempedulikan substansi.
Kim Yong-hwa (Mr. Go, Along with the Gods: The Two Worlds) selaku sutradara
sekaligus penulis naskah bagai berhasrat menumpahkan ide besar sebanyak mungkin
namun baru memikirkan penjabarannya di belakang. Hal ini berlaku juga bagi plot device-nya, di mana satu lagi
Paragon muncul, yaitu Kim Soo-hong (Kim Dong-wook), adik protagonis film
pertama, Kim Ja-hong (Cha Tae-hyun). Tapi peran Soo-hong tak sepenting
kakaknya, sesuatu yang bahkan karakternya sendiri sadari dan ungkapkan.
Keberadaan Soo-hong semata guna memfasilitasi eksplorasi menuju masa lalu tiga
malaikat kematian: Gang-rim (Ha Jung-woo), Haewonmaek (Ju Ji-hoon), dan Lee
Deok-choon (Kim Hyang-gi). Pertanyaannya, pantaskah Soo-hong disebut Paragon
setelah sempat mengacau sebagai arwah penasaran?
Untuk itu, Kim Yong-hwa menawarkan retcon terkait definisi Paragon yang bukan
lagi sekedar “sosok mulia”, melainkan “An
entity who led a just life or suffered and untimely death for an unknown reason
before his allotted span of life”. Definisi tersebut berujung mengubah
jalannya persidangan di tujuh neraka, yang bukan lagi perihal membuktikan
kebersihan hati, tapi perdebatan tentang alasan kematian. Apakah Soo-hong tewas
akibat kecelakaan atau dibunuh? Jadi apa fungsi sidang demi sidang di neraka
yang mewakili tujuh dosa manusia? Entahlah. Yong-hwa seperti tersesat, apalagi
saya.
Satu-satunya alasan yang terpikirkan
hanya agar beberapa neraka yang belum muncul di film pertama memperoleh porsi.
Tapi detail latar menarik serta para dewa penjaga berkepribadian variatif
takkan lagi ditemukan, kala serupa Soo-hong, persidangannya sebatas elemen
sampingan yang berjalan luar biasa berantakan tanpa aturan pasti. Beruntung ada
subplot mengenai usaha Haewonmaek dan Deok-choon mencabut nyawa pria tua
bernama Heo Choon-sam (Nam Il-woo) yang dilindungi Seongju (Ma Dong-seok) si Dewa
Penjaga Rumah. Melalui Seongju pula, rahasia kehidupan mereka 1000 tahun lalu
terungkap. Saat petualangan di akhirat acap kali datar akibat Soo-hong tak
sesimpatik sang kakak, konflik di Bumi lebih kaya rasa, dibantu selipan humor
plus eksplorasi menarik soal kisah terpendam para malaikat maut. Subplot ini dapat
menjadi film sendiri yang lebih singkat, padat, berperasaan, dan terpenting,
lebih bagus dari keseluruhan The Last 49
Days.
Bicara tentang twist, berbagai
kejutan yang tertuang dalam kisah Seongju masih bisa diterima, bahkan menambah
dinamika hubungan antar-karaker. Haewonmaek tidak lagi hanya malaikat maut
brandal bermulut besar, sebagaimana Deok-choon berkembang lebih dari seorang
gadis polos. Persepsi kita terhadap beberapa tokoh pun diputarbalikkan, memancing
masalah dilematis kompleks yang sayangnya diselesaikan lewat resolusi penuh
penggampangan. Pun kita bisa selalu mengandalkan Ma Dong-seok untuk melakoni
peran pria tangguh tapi berperasaan. Dialah jangkar elemen drama film ini
sehingga pesan “Be kind” yang diusung
tetap tersampaikan ketika filmnya bak tersesat di rimba lebat buatannya sendiri.
Seiring waktu, The Last 49 Days makin serakah, memasukkan lebih banyak rahasia dan
twist dengan substansi yang semakin
menyusut, walau harus diakui dinamika berhasil dijaga karenanya. Sebuah twist sempat berputar di kepala saya. Twist yang saya harap takkan muncul karena
bakal terlalu bodoh dan dipaksakan. Kemudian film berakhir tanpanya. Saya pun
lega. Sampai tepat sebelum kredit, muncul adegan tambahan berisi twist tersebut. Saya cuma bisa duduk
menertawakan kebodohannya. Along with the
Gods: The Last 49 Days meruntuhkan pencapaian film pertama. Parade aksi
kreatif yang memanfaatkan absurditas tanpa batas akhirat, termasuk satu
referensi terhadap franchise milik Spielberg
memang masih menghibur. Hell, the whole
movie is still entertaining. Bertempo cepat tanpa perlu terburu-buru,
durasi 141 menit cepat berlalu. Namun pasca prestasi The Two Worlds, sekuel ini jelas proses terjun bebas.
Agustus 16, 2018
Action
,
Cukup
,
Don Lee
,
Fantasy
,
Ha Jung-woo
,
Ju Ji-hoon
,
Kim Hyang-gi
,
Kim Soo-hung
,
Kim Yong-hwa
,
Korean Movie
,
Ma Dong-seok
,
Nam Il-woo
,
REVIEW
1987: WHEN THE DAY COMES (2017)
Rasyidharry
Represi pemerintah terhadap media, persekusi pemegang kekuasaan terhadap rakyat sipil oposisi, hingga dalih pemberantasan antek komunis selaku kambing hitam dalam upaya membungkam pihak yang kritis. Kita di Indonesia telah familiar akan semua itu, sehingga saat banyak kisah menyeruak dan sederet karakter keluar-masuk dalam 1987: When the Day Comes, rasanya tidak sulit mencerna garis besar peristiwanya. Bahkan sekalipun naskah buatan Kim Kyung-chan kerepotan menangani skala ambisius filmnya, kita takkan tersesat jauh. Karena kita sudah hafal, sampai dibuat muak oleh modus operandi di atas.
Filmnya dibuka lewat tragedi yang acap kali terjadi dalam sebuah upaya revolusi, khususnya yang menyertakan pemuda sebagai tulang punggung. Mahasiswa sekaligus aktivis bernama Park Jong-chul (Yeo Jin-goo) tewas akibat penyiksaan keji kala diinterogasi pasca terlibat dalam demonstrasi menentang rezim diktator Presiden Chun Doo-hwan. Komisaris Park (Kim Yoon-seok) bertugas menutupi fakta tersebut, menyatakan bahwa Jong-chul, yang ditangkap karena pro-komunis, tewas akibat serangan jantung ketika interogasi. Demi menghindari autopsi, jenazah Jong-chul akan dikremasi tanpa persetujuan keluarga.
Di sinilah perlawanan mulai terjadi. Jaksa Choi (Ha Jung-woo) menolak memberi izin kremasi. Choi adalah tipikal protagonis populer sinema Korea. Bermoral, menjunjung tinggi aturan, walau kerap bersikap semaunya. 1987: When the Day Comes semestinya bertahan memberi sorotan utama pada Choi yang dimainkan dengan penuh energi oleh Ha Jung-woo. Alih-alih demikian, ambisi tinggi membawa kisahnya melebar, melompat ke tokoh-tokoh lain, dari reporter Yoon Sang-sam (Lee Hee-joon), sipir Han Byung-yong (Yoo Hae-jin) dan keponakannya, Yeon-hee (Kim Tae-ri), hingga nama-nama yang tidak bisa saya sebutkan karena gagal terekam di memori. Bahkan halaman Wikipedia tak membantu mengingat.
Jaksa Choi menarik karena tingkah serampangannya. Byung-yong relatable berkat kebolehan Hae-jin mewakili sisi rakyat sipil yang tidak berdaya di hadapan penguasa layaknya kita. Sang keponakan mudah mencuri hati sebab Tae-ri menyuntikkan keceriaan di antara situasi mencekam filmnya. Di pihak berlawanan, Kim Yoon-seok tampil begitu intimidatif. Karakter lainnya urung bernasib sama. Kurang berkesan, dan sejatinya tanpa sumbangan signifikan untuk alur. Berniat mengambil cakupan perspektif seluas mungkin (rakyat, mahasiswa, aktivis, jurnalis, aparat, politikus), 1987: When the Day Comes melangkah menuju kerumitan tak perlu.
Berbagai dialog penjelas cukup membantu mengatasi kerumitan benang kusut kisahnya tetapi tak membantu mengikat perasaan dengan jajaran tokohnya. Padahal dalam beberapa kesempatan, sutradara Jang Joon-hwan berhasil memunculkan komponen khas sinema Korea Selatan, yakni luapan emosional yang otentik. Seperti kita tahu bersama, film Korea jago menumpahkan air mata menyayat, seolah sutradara dan aktor Negeri Ginseng paham betul tangis seperti apa yang efektif menusuk hati penonton.
1987: When the Day Comes mampu menjungkalkan Along with the Gods: The Two Worlds dari singgasana puncak Box Office Korea Selata setelah tiga minggu bertahta. Prestasi ini menandakan betapa penonton di sana merasa terikat akan perjuangan merubuhkan kediktatoran para penjahat kemanusiaan. Perjuangan itu ditutup melalui shot yang menghadirkan paralel dengan adegan pamungkas Les Misérables-nya Tom Hooper, selaku sesama film tentang revolusi. Sebuah pilihan visual tepat, berbeda dengan momen cringey tatkala imagery Kristus dipakai untuk menggambarkan Kim Jeong-nam laksana mesias. Api yang disulut film ini tidak membara sebesar keinginan pembuatnya.
Januari 18, 2018
Cukup
,
Drama
,
Ha Jung-woo
,
History
,
Jang Joon-hwan
,
Kim Tae-ri
,
Kim Yoon-seok
,
Korean Movie
,
Lee Hee-joon
,
REVIEW
,
Yeo Jin-goo
,
Yoo Hae-jin
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











