Tampilkan postingan dengan label Ma Dong-seok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ma Dong-seok. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE ROUNDUP

Selain The Neighbor (2012) yang memberinya piala penghargaan perdana, Train to Busan (2016) yang melambungkan popularitasnya, dan Eternals (2021) yang menandai debutnya di Hollywood, The Outlaws (2017) adalah judul esensial dalam filmografi Don Lee alias Ma Dong-seok. Itulah film tersuksesnya sebagai aktor utama, dengan perolehan lebih dari 6,8 juta penonton. 

Lima tahun berselang, sekuelnya yang berjudul The Roundup rilis, melibas seluruh rekor pendahulunya. Hingga tulisan ini dibuat, telah ditonton lebih dari 7 juta orang, menjadikannya film Korea Selatan terlaris di 2022, pula berada di urutan 45 daftar film Korea Selatan terlaris sepanjang masa. 

Masih dibesut Kang Yoon-sung selaku sutradara (proyek lainnya tahun ini adalah Casino yang menandai kembalinya Choi Min-sik ke Kdrama setelah 24 tahun), sementara naskah kini ditulis oleh Kim Min-sung, The Roundup masih mengikuti pola The Outlaws. Bahkan beberapa adegannya bak reka ulang. 

Menit-menit awalnya pun hampir sama. Kita diperkenalkan lebih dulu pada antagonis kejam, kali ini bernama Kang Hae-sang (Son Suk-ku) yang menjalankan aksinya di Vietnam, baru kemudian melihat Ma Suk-do (Don Lee) si detektif memamerkan tinju mautnya, yang bisa mengirim penjahat ke akhirat hanya dengan sekali pukul. 

Lalu Suk-do berangkat ke Vietnam, memburu Hae-sang yang menculik dan membunuh para turis Korea Selatan demi uang tebusan, sementara pihak ketiga turut serta memperkeruh suasana. Kali ini bukan gangster, tapi ayah salah satu korban Hae-sang yang berniat balas dendam. Ya, garis besarnya masih serupa film pertama. 

Bahkan lebih sederhana. Kucing-kucingan lebih berorientasi fisik daripada taktik. Salah satu momen favorit saya di The Outlaws terjadi saat Suk-do dan timnya hendak diam-diam menyergap target di restoran. The Roundup menghapus situasi semacam itu. Konfrontasi terjadi secara langsung, di mana Suk-do mendatangi lalu menghajar habis buruannya. 

Agak disayangkan, namun sebagai gantinya, tinju maut Don Lee lebih sering muncul. The Roundup paham betul aset terbesar bintang utamanya, kemudian mengeksploitasi itu (in a satisfying way). Sebagai penegas, tiap kali Suk-do melempar pukulan, kita disuguhi efek suara yang membuat letusan peluru terdengar ramah di telinga. 

Anda ingin melihat One Punch Man versi dunia nyata? The Roundup jadi jawabannya. Sekali pukul, Suk-do bisa membuat musuh terkapar. Bahkan hantaman tangannya di meja menggetarkan seluruh gedung (sungguh, ada adegan seperti ini). Begitulah cara The Roundup menghibur penonton, selain tentunya melalui humor yang dosisnya meningkat dibanding film pertama. 

Humornya efektif. Sekali lagi Don Lee membuktikan bahwa ia merupakan pria kuat yang lucu (tonton Start-Up untuk performa komedik terbaiknya), sedangkan Park Ji-hwan, yang kembali memerankan Chang Yi-soo si mantan gangster, menjadi scene stealer di tiap kemunculannya.

Satu yang agak disayangkan, naskah milik Kim Min-sung kurang berhasil menekankan citra "pelindung" dalam karakter Suk-do. Di film-filmnya, Don Lee bukan asal pukul. Apa pun perannya, mau itu gangster, polisi, atau pahlawan super, Don Lee selalu mengayunkan tinjunya untuk melindungi orang terkasih (dia perwujudan sempurna dari "tampang sekuriti hati Hello Kitty). Benar bahwa Suk-do memburu Hae-sang demi menjaga keamanan warga Korea Selatan di luar negeri, namun motivasi itu kurang personal, kurang intim, kurang mempunyai bobot emosi, pula dipaparkan sambil lalu belaka.

Tapi sekali lagi, kesederhanaan serta kekurangan alurnya mampu diatasi oleh daya hibur luar biasa, terutama dalam aksi. Apalagi di sini Don Lee mendapat lawan seimbang. Son Suk-ku sempurna sebagai penjahat gila bersenjatakan parang yang tak pikir panjang kala menebas tubuh korban. Fisik Hae-sang mungkin bukan tandingan Suk-do, namun kesadisannya menutupi kekurangan itu. Pertarungan klimaks dalam bus pun jadi momen mano a mano bombastis walau tanpa satu pun ledakan. 

START-UP (2019)

Ma Dong-seok alias Don Lee—si pria kekar maskulin pemilik tinju sapu jagat, tinju pemusnah massal, tinju pencabut nyawa—memakai rambut palsu panjang serta kaos berwarna merah muda lalu bernyanyi dan menarikan koreografi lagu Knock Knock dan TT milik Twice.  Apabila anda merupakan penggemar sang aktor, tidak perlu alasan lain untuk menonton adaptasi webtoon Shidong karya Jo Geum-san ini. Jika bukan, jangan khawatir, sebab Stat-Up masih menyimpan bentuk hiburan lain.

Taek-il (Park Jung-min) adalah remaja pemberontak yang gemar menyulut kekacauan sehingga merepotkan ibunya (Yum Jung-ah), mantan atlet bola voli yang terpaksa mengubur impiannya demi menghidupi sang putera. tapi Taek-il malah menolak bersekolah, hanya mengisi hari dengan ketidakjelasan bersama sahabatnya, Sang-pil (Jung Hae-in). Hingga suatu ketika, Taek-il memutuskan ingin membuktikan dirinya bisa hidup tanpa bergantung pada sang ibu, kabur dari rumah, dan berakhir mendapat pekerjaan sebagai tukang antar di restoran Cina milik Kong (Kim Jong-soo).

Di sanalah Taek-il bertemu orang-orang berkepribadian menarik, seperti Kyung-joo (Choi Sung-eun) si gadis jago tinju berambut merah, juga Geo-seok (Ma Dong-seok) si koki galak yang kerap memukuli Taek-il, tapi bisa mendadak jadi pengecut tiap dihadapkan dengan keributan di luar restoran. Sesekali kita juga melihat perjuangan ibu Taek-il yang menghabiskan simpanannya demi membangun sebuah kedai makanan sederhana, serta Sang-pil yang akibat kebutuhan finansial, terpaksa bekerja sebagai tukang pukul lintah darat.

Naskahnya, yang ditulis sendiri oleh sang sutradara, Choi Jeong-yeol (One Way Trip), berusaha memadatkan sebanyak mungkin kisah materi adaptasinya dalam durasi 102 menit, ketimbang mengolahnya berdasarkan satu atau dua cerita utama. Tapi dibanding film-film adaptasi lain yang menerapkan pendekatan serupa, Start-Up jauh lebih rapi. Memang kesan fast-forward yang mengurangi kedalaman tiap story arc cukup terasa, namun Jeong-yeol mampu merangkainya jadi satu kesatuan utuh yang tidak episodik. Alhasil, ketimbang berantakan, filmnya jadi bergerak dinamis berkat setumpuk konflik menarik dalam beragam wujud.

Efek negatifnya adalah, akibat kurangnya pendalaman bagi tiap permasalahan, berbagai dramanya kehilangan dampak emosi, biarpun terdapat banyak amunisi, dari hubungan Taek-il dan ibunya, Sang-pil dan neneknya, hingga masa lalu kelam yang sama-sama disimpan Kong dan Geo-seok. Bukan itu saja, secara keseluruhan Start-Up memang tersendat perihal presentasi dramatik. Soal penghantaran pesan misalnya. Kalimat “Do what suits you” beberapa kali terucap dari mulut karakternya. Tapi begitu film berakhir, apa yang hendak diutarakan tak pernah pasti. Apakah pernyataan bahwa seseorang sebaiknya melakukan sesuatu yang cocok dengannya? Atau sesuatu yang dia mau? Atau malah sesuatu yang benar tergantung kondisi?

Tidak ada cukup waktu eksplorasi akibat terlalu banyak cabang alur coba disatukan. Tapi paling tidak, Start-Up berhasil menjalankan perannya sebagai hiburan. Beberapa humor masih meleset, namun pengarahan bertenaga Choi Jeong-yeol yang bersedia menerapkan gaya komikal (meski belum secara total) ditambah performa jajaran pemainnya menjaga agar banyolan-banyolannya minimal sanggup memancing senyum.

Ma Dong-seok unjuk gigi memamerkan sisi komedik tanpa takut merusak maskulinitas yang begitu lekat pada sosoknya walau tinju sekali-pukul-mampus andalannya tetap diperlihatkan, Park Jung-min adalah protagonis yang likeable walau sering berulah, sementara Choi Sung-eun memancarkan kesan misterius yang menarik perhatian. Biarpun harus berbagi screentime, Choi Jeong-yeol berhasil memberi tiap-tiap karakter penuh warna dalam filmnya kesempatan bersinar.

ASHFALL (2019)

Ashfall adalah tontonan yang berbagai kekurangannya bisa dimaafkan, khususnya oleh penggemar sinema atau budaya populer Korea Selatan lain, berkat keberadaan ensemble cast. Fakta bahwa nama-nama seperti Lee Byung-hun, Ha Jung-woo, Ma Dong-seok, Bae Suzy, sampai Jeon Hye-jin tampil di satu film—meski tak sekalipun kelimanya mengisi layar secara bersamaan—sudah merupakan event tersendiri. Hanya ada satu harapan tak terpenuhi: Andai saja Lee Hae-jun (Like a Virgin, My Dictator) dan Kim Byung-seo (Cold Eyes) yang berduet menulis naskah sekaligus menyutradarai tidak terlena oleh ambisi.

Alurnya dibuka layaknya film bertema bencana alam kebanyakan. Bencana yang membelah jalanan kota dan meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit? Ada. Protagonis yang dinaungi keberuntungan luar biasa hingga bisa melewati rintangan berbahaya berkat deretan kebetulan? Ada. Sosok tercinta protagonis (bisa orang tua, pasangan, anak, atau semuanya) yang di tempat berbeda turut berusaha menyelamatkan diri? Ada. Ilmuwan jenius yang disebut gila karena berteori soal potensi bencana dahsyat? Ada. Semua elemen formulaik itu bertebaran, namun memasuki pertengahan film, mungkin anda bakal berharap Ashfall tetap bermain aman saja.

Ketika gunung berapi Baekdu meletus lalu menyebabkan gempa berkekuatan 7,8 skala richter, pihak pemerintah Korea Selatan melalui Jeon Yoo-kyung (Jeon Hye-jin), meminta bantuan Profesor Kang Bong-rae (Ma Dong-seok) guna mencari jalan keluar. Berdasarkan data, tiga gempa susulan tinggal menunggu waktu, di mana yang terakhir diprediksi menyentuh angka 8 skala richter. Misi penyelamatan berisiko tinggi pun dijalankan di Korea Utara di bawah komando Kapten Jo In-chang (Ha Jung-woo), memaksanya meninggalkan sang istri, Choi Ji-young (Bae Suzy) yang sedang mengandung.

Dari situlah Ashfall mulai berkembang ke arah berbeda di babak kedua menjadi suguhan aksi militer berbumbu politik. Jelang tercapainya kesepakatan denuklirisasi dengan Korea Utara, Bong-rae justru menyarankan agar Korea Selatan menciptakan ledakan nuklir guna membatalkan erupsi Gunung Baekdu. Alhasil pihak Amerika Serikat pun menginterupsi, menggiring filmnya untuk menyinggung konflik terkait benturan usaha menyelamatkan nyawa manusia dengan kepentingan-kepentingan bersifat politis dalam hubungan internasional.

Jangan harapkan eksplorasi cerita kompleks, sebab masalah ekstra itu hanya bertujuan memperbanyak pecahnya baku tembak, dalam misi Jo In-chang menghubungi Lee Joon-pyeong (Lee Byung-hun), anggota tentara rakyat Korea Utara yang mengetahui tempat penyimpanan hulu ledak. Inilah perwujudan ambisi Lee Hae-jun dan Kim Byung-seo menjauhkan Ashfall dari keklisean film bencana, yakni dengan mengandalkan keklisean aksi bertabur desing-desing peluru, yang sejatinya berpotensi besar memproduksi keseruan film popcorn, andai kemunculannya tidak terlampau “dihemat”, khususnya di pertengahan.

Karakternya berlari, berkendara, berdebat, sambil sesekali saling melempar timah panas dalam sekuen yang dieksekusi secara tidak spesial oleh Hae-jun dan Byung-seo. Ironis memang, saat niatan menambah warna justru jadi alasan ketidakmaksimalan. Beruntung film ini punya ansambel luar biasa. Suzy membuktikan perlahan tapi pasti aktingnya mulai berkembang, dan  cukup menyenangkan pula melihat Ma Dong-seok memerankan sesosok ilmuwan canggung biarpun berbeda dari biasanya ia tidak diminta melempar bogem mentah (It’ll be too easy since he could destroys Baekdu Mountain with his bare hands). Tapi pesona utamanya jelas kombinasi Lee Byung-hun dan Ha Jung-woo.

Sebagaimana Leonardo DiCaprio-Brad Pitt di Once Upon a Time in Hollywood, menyaksikan dua megabintang berbagi layar sudah melahirkan kepuasan tersendiri. Apalagi kala Byung-hun dan Jung-woo sama-sama piawai di tiap lini. Di tangan mereka, adegan aksi jadi bertabur kharisma, komedi semakin ampuh memancing tawa, dan peristiwa dramatik—yang selalu memperkuat judul-judul asal Korea Selatan apa saja genrenya—dapat mengaduk-aduk rasa, meski sesungguhnya, paparan soal “pengorbanan demi orang-orang tercinta” cuma diolah seadanya oleh departemen naskah.

Daya hibur Ashfall selalu memuncak sewaktu bencana terjadi, tidak peduli walau berbagai kebetulan bodoh kerap menyelamatkan protagonisnya di momen-momen genting. Perihal elemen ini kedua sutradaranya berhasil. Dibantu CGI mumpuni, tiap gempa dan luapan air berdaya hancur tinggi mampu menciptakan pemandangan mencekam. Bujetnya cuma sekitar $17 juta, yang mana menjelaskan pilihan menghemat aksi, namun di sisi lain menegaskan kepiawaian sineas Korea Selatan menangani film bencana di tengah keterbatasan.

THE BAD GUYS: REIGN OF CHAOS (2019)

Mencapai titik ini, nama Ma Dong-seok alias Don Lee sudah menjadi merk dagang yang cukup paten, istilah “Film Don Lee” pun bisa dipakai untuk mengategorikan suguhan aksi di mana si jagoan mampu merontokkan lawan-lawan atau meruntuhkan bangunan hanya dengan sekali pukul. Banyak tampil di film serupa berpotensi menimbulkan kejenuhan terhadap kemunculan sang aktor, tapi The Bad Guys: Reign of Chaos menunjukkan bahwa titik jemu itu belum tiba.

Melanjutkan cerita serial televisi Bad Guys (2014), penonton yang belum sempat mencicipinya tidak perlu khawatir, sebab naskah buatan Han Jung-hoon yang juga merupakan penulis serialnya, berbaik hati menawarkan eksposisi berupa flashback yang dikemas dengan gaya ala Sin City oleh sutradara Son Young-ho (The Deal), tanpa perlu menjadi rekap yang diselipkan paksa di tengah alur. Detektif Oh Gu-tak (Kim Sang-joong) membentuk tim khusus berisi para narapidana guna memburu kriminal tanpa terkekang hukum yang berlaku. Anda perlu tahu itu saja.

Salah satu anggota timnya adalah Park Woong-cheol (Don Lee), gangster ternama yang berusaha memulai hidup baru di penjara. Ketika sebuah bus pembawa narapidana diserang oleh oknum tak dikenal, membuat banyak kriminal berbahaya kabur, bahkan membuat Yoo Mi-yeong (Kang Ye-won)—polisi sekaligus mantan anggota tim Gu-tak—cedera parah, Woong-cheol dan Gu-tak kembali bersatu, kali ini dibantu dua tahanan: penipu ulung Kwak No-soon alias Jessica (Kim Ah-joong) dan Ko Yoo-sung (Jang Ki-yong) si mantan polisi.

Jangan berharap banyak pada alur yang pada dasarnya cuma membagi 114 menit durasi ke dalam beberapa fase berformula sama, yakni usaha para protagonis memburu satu per satu buronan. Tidak ada teka-teki maupun belokan signifikan (kecuali satu twist yang tak seberapa substansial dan mengejutkan), melewatkan beberapa menit kisahnya takkan banyak berpengaruh. Pun usaha menambah bobot emosi melalui hasrat balas dendam Woong-cheol juga hanya pernak-pernik medioker.

Tapi siapa mengharapkan kisah mendalam apalagi revolusioner dalam film yang menjadikan Don Lee jualan utama? The Bad Guys: Reign of Chaos menebus kelemahan pondasi cerita lewat gempuran laga beroktan tinggi dari aksi Don Lee membabat jajaran kriminal yang ditakuti, dari pembunuh berantai sampai bos yakuza, hanya bersenjatakan kepalan tangan bak godam kokoh. Sekali hantam, dua-tiga nyawa melayang. Don Lee tidak butuh gore agar penonton meringis kesakitan (atau bersorak gembira?) menyaksikan serangannya. Seolah menyesuaikan gaya si tokoh utama, adegan laga yang tak melibatkan Don Lee pun dikemas gahar oleh Young-ho. Saat mobil dan/atau truk bertabrakan, mereka bukan hanya beradu, tapi saling menghancurkan.

Melengkapi Don Lee, turut mencuri perhatian adalah Kim Ah-joong sebagai femme fatale yang memadukan sensualitas dengan kejenakaan, pula mulus membangun chemistry kaya dinamika bersama tiga rekan timnya. Kombinasi keempat pembasmi kejahatan gila ini memang berdaya tarik tinggi, sebab Jung-hoon cermat perihal menyelipkan bumbu humor dalam naskahnya. Bahkan Woong-cheol yang ditakuti banyak orang pun kerap memancing tawa lewat kegemarannya melempar “pepatah bijak”. Seluruh departemen milik The Bad Guys: Reign of Chaos memang kompak mengusung satu tujuan, yaitu bersenang-senang. Kalau tidak, mustahil tercetus ide usil menyelipkan lagu Rebirth kepunyaan Yoon Jong-shin (generasi sekarang mungkin mengenal lagu itu lewat versi yang dibawakan girl group Red Velvet) di sebuah momen komedik.

THE GANGSTER, THE COP, THE DEVIL (2019)

Premis soal dua sisi berlawanan yang bersatu untuk mengalahkan musuh bersama selalu jadi favorit saya. Entahlah. Situasi tersebut terdengar keren. Dan aksi-kriminal karya Lee Won-tae (Man of Will) yang bakal dibuat ulang oleh Sylvester Stallone ini berhasil memuaskan kegemaran saya akan konsep di atas.

Sebagaimana dinyatakan judulnya, ada tiga pihak besar di sini: gangster, polisi, dan pembunuh berantai alias “The Devil”. Jang Dong-soo (Ma Dong-seok) adalah gangster ternama yang menjalankan bisnis mesin arkade ilegal. Sosoknya kalem, beradab, namun tak segan bertindak brutal kepada lawan. Pada perkenalan kita terhadapnya, Jang sedang memukuli samsak yang di dalamya bukan berisi pasir, melainkan seorang pria.

Demi memuluskan bisnis, tentu Jang perlu menyuap aparat. Biar demikian, tidak seperti atasannya, polisi kita, Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol), menolak bermain kotor. Tapi ini adalah film Korea Selatan, sehingga karakter paling bersih pun bukan orang suci. Jung merupakan polisi temperamental yang gemar menentang atasan dan memukuli gangster tatkala dibuat kesal oleh kemacetan lalu lintas.

Jung ingin menangkap Jang, namun di samping intervensi atasannya, ia pun sibuk menangani beberapa kasus pembunuhan. Berkaca pada kemiripan modus operandi tiap peristiwa (pemakaian pisau, melibatkan tabrakan mobil, dan lain-lain), Jung percaya bahwa semuanya dilakukan satu orang, alias pembunuhan berantai. Sayang, tidak satu pun orang mempercayai intuisinya. Sampai di suatu malam, di bawah guyuran hujan, sang iblis (Kang Kyung-ho) menyerang target berikutnnya: Jang Dong-soo.

Jang selamat, namun berita soal bos gangster yang terluka parah akibat tusukan orang asing jelas melukai reputasinya di dunia hitam. Jang pun berhasrat menghabisi sang pembunuh. Dia memiliki banyak sumber daya, tapi tidak dengan petunjuk-petunjuk berharga seperti DNA atau sidik jari. Sebaliknya, kepolisian mempunyai petunjuk tersebut, tapi kekurangan sumber daya. Itulah pemicu bergabungnya dua kubu.

The Gangster, The Cop, The Devil awalnya bergerak cukup lambat, dan beberapa titik sejatinya bisa dipersingkat guna menguatkan dinamika tanpa harus menghilangkan substansi, tapi kecerdikan naskah yang juga dibuat oleh sang sutradara mampu meniadakan rasa bosan dengan mengeksplorasi bagaimana ketiga sisi memainkan permainan penuh tipu daya.

Jang memanfaatkan aliansi dengan polisi untuk keuntungan bisnis, sementara si pembunuh pun enggan berdiam diri, memainkan trik guna menghancurkan kedua pengejarnya. Intrik semacam itu memicu konflik-konflik yang tak pernah terasa dipaksakan, karena...well, film ini melibatkan psikopat, gangster licik, dan polisi yang pelan-pelan bersedia mengesampingkan idealisme, sehingga permainan pikiran penuh tipu daya kotor tentu tak terhindarkan.

Beberapa konflik menggiring investigasi ke arah baru, beberapa lainnya memicu baku hantam. Pastinya baku hantam khas Korea  yang mengedepankan nuansa “mentah” pertarungan jalanan ketimbang koreografi cantik. Itu asalan saya menyukai aksi buatan sineas Negeri Ginseng. Karakternya cenderung melemparkan pukulan dahulu baru berpikir kemudian (atau tidak sama sekali), menciptakan sense of urgency layaknya perkelahian di dunia nyata. Gaya tersebut memfasilitasi pesona Ma Dong-seok a.k.a. Don Lee dengan postur intimidatif, bogem mentah yang bisa meremukkan tulang sekali pukul, dan seringai yang akan membuat lawannya diselimuti ketakutan.

The Gangster, The Cop, The Devil mulai menambah kecepatan begitu durasi mendekati satu jam, tatkala investigasi menemukan titik terang, sementara kerja sama kepolisian dengan gangster mulai terjadi secara langsung. Menarik melihat bagaimana mereka mengawali penyelidikan sebagai dua sisi koin yang saling benci, sebelum perlahan terjalin kedekatan, saling berbagi minuman, bahkan menertawakan lelucon masing-masing sambil duduk bersama di satu meja.

Tapi titik balik sesungguhnya terjadi selepas satu momen (saya menyebutnya “adegan payung”) yang melambungkan intensitasnya secara gila-gilaan sekaligus menghantarkan substansi premisnya. Dibarengi sentuhan dramatik Don Lee yang kembali mampu menghembuskan hati meski memerakan penjahat brutal, kita melihat sekat pemisah antara gangster dan si pembunuh. Walau melakukan tindak kriminal, Jang masih memiliki hati. The Gangster, The Cop, The Devil bukan kisah mengenai usaha mengalahkan lawan yang lebih kuat, melainkan dua kelompok dengan keburukan masing-masing, yang bergabung untuk melawan pihak lain yang jauh lebih busuk.

Konklusinnya, yang terjadi pasca sebuah kejar-kejaran mobil menegangkan, membawa filmnya menginjak ranah drama ruang persidangan. Di situ The Gangster, The Cop, The Devil agak memaksakan diri menyatukan begitu banyak kelokan dan kejutan, namun setidaknya, kejutan-kejutan itu memberi kepuasan saat tiap tokoh menemui akhir yang pantas mereka dapatkan.

UNSTOPPABLE (2018)

Unstoppable membuktikan bahwa Ma Dong-seok alias Don LEE layak menjadi salah satu bintang film terbesar di Korea Selatan kalau bukan seluruh dunia. Banyak aktor dan aktris mampu memerankan mantan gangster/militer yang coba menjalani hidup damai, namun sedikit yang bisa memberi hati dan kelembutan meyakinkan sebaik Ma. Setelah melihat secercah talentanya sebagai jagoan penyayang dalam Train to Busan (2016) dan Along with the Gods: The Last 49 Days (2018), Unstoppable menyempurnakannya.

Ma memerankan Dong-chul, mantan gangster ternama yang dikenal lewat pukulan mautnya. Dia bahkan pernah membunuh kerbau dengan tangan kosong, sehingga memberinya julukan “Bull” (film ini awalnya berjudul Raging Bull). Tapi sekarang ia menjalani hidup biasa sebagai pemasok ikan yang tengah mengalami kesulitan finansial akibat jarang dibayar dan kerap tertipu dalam bisnis palsu karena kebaikan hatinya.

Sang istri, Ji-soo (Song Ji-hyo) total mendukung kehidupan baru Dong-chul. Bahkan ia kini nampak lebih galak serta dominan daripada suaminya. Di satu obrolan dalam mobil, Dong-chul hanya mengangguk patuh kala diomeli sang istri. Menyaksikan kesungguhannya di adegan itu saja cukup untuk mensahkan statusnya sebagai karakter likeable.

Tidak lama setelah pembicaraan tersebut, mereka tertabrak mobil Gi-tae (Kim Sung-oh), yang sebelumnya kita lihat menyiksa seorang pria yang berhutang padanya dengan tingkah bak psikopat. Dia tertawa riang sambil menawarkan beragam variasi cara bagi sang korban memalsukan kematiannya, tersenyum kala mengiris pergelangan tangan pria itu, lalu menculik puterinya sebagai jaminan.

Ketika Dong-chul meminta permintaan maaf dan kesediaan mengisi laporan ke polisi dengan sopan—yang tentu saja tidak berhasil—Ji-soo keluar dari mobil dan meluapkan amarahnya. Ini satu lagi situasi bermakna, karena saya yakin, Ji-soo melakukan itu demi menjaga agar sang suami tidak tersulut. Sialnya, sikap tersebut menarik perhatian Gi-tae, dan suatu malam, pasca kejutan ulang tahun yang gagal, ia menculik Ji-soo. Jika familiar akan film bertema serupa, mungkin anda bakal terkejut saat Dong-chul tidak serta merta “menyalakan mode vigilante”. Dia melapor pada polisi, memilih sabar menanti.

Keputusan itu memberi naskah tulisan Kim Min-ho—yang juga melakoni debut penyutradaraan di sini—bobot lebih, sebab artinya, momen-momen sebelumnya bukan sebatas jembatan tanpa arti menuju gelaran aksi, melainkan sebuah studi karakter yang nyata. Bahkan di kondisi genting pun Dong-chul tetap coba menahan diri, setia pada identitas barunya. Dia telah berjanji pada istri tercintanya.

Tentu akhirnya ia kehilangan kesabaran setelah minimnya progres investigasi polisi. Dong-chul pun sempat melihat foto-foto wanita korban penculikan di dinding yang belum ditemukan, mendukung asumsi jika kepolisian kurang becus menangani kasus. Apa mereka memang tak mampu atau tak sungguh-sungguh? Pun di satu titik, filmnya sempat menggoda kita untuk berprasangka, “Apakah mereka termasuk polisi korup?”.

Begitu Dong-chul memutuskan turun tangan, Unstoppable tancap gas menyajikan aksi keras di mana sang tokoh utama menghajar habis orang-orang yang menghalangi jalannya. Dibantu Choon-sik (Park Ji-hwan) si kawan lama dan President Bear (Kim Min-jae) yang ahli perihal mencari orang (keduanya dipakai mengisi unsur komikal yang cukup ampuh memancing tawa), Dong-chul memulai penyelidikan.

Elemen investigasi Unstoppable sebenarnya tidak spesial, sekadar mengikuti pakem standar yang melibatkan pencarian plat nomor, nama, hingga markas persembunyian Gi-tae. Kisahnya sedikit menyenggol sisi kelam Korean Wave, tapi serupa isu soal kinerja polisi, urung digali mendalam. Tapi Unstoppable tetap menyenangkan disaksikan. Berkat babak perkenalan yang sukses, dengan senang hati saya mendukung Dong-chul, yang mana cukup selaku pondasi intensitas.

Min-ho sanggup menjabarkan aksi hard-hitting yang solid. Sekalinya pancaran mata Ma Dong-seok berubah, ia bertransformasi menjadi mesin tak terhentikan yang bisa menghilangkan kesadaran seseorang hanya lewat satu pukulan, menggetarkan tembok bagai raksasa sedang melangkah, juga menghancurkan seisi bangunan semudah meremukkan tripleks.

Beberapa perkelahian Ma jelas memancing decak kagum, namun para wanita, khususnya Ji-soo, tak ketinggalan diberi kesempatan bersinar. Dia bukan sosok lemah yang cuma menangis, berdiam diri menanti diselamatkan. Diperlihatkannya kekuatan fisik pula kecerdasan dalam salah satu sekuen paling menegangkan di filmnya. Of course you’re not going to cast Song Ji-hyo as a helpless, passive, damsel in distress, right?  

ALONG WITH THE GODS: THE LAST 49 DAYS (2018)

Dwilogi Along with the Gods, yang mengadaptasi webtoon berjudul sama karya Joo Ho-min, adalah sajian yang mengandung nyaris segala elemen kegemaran penonton arus utama, sehingga tidak heran, The Two Worlds menjadi film Korea Selatan terlaris kedua sepanjang masa dengan lebih dari 14 juta penonton, sedangkan sekuelnya sudah ditonton 10,5 juta orang dalam 2 minggu. Selain diisi aksi berhiaskan CGI, keduanya menyimpan senjata andalan masing-masing. Apabila film pertama sarat drama mengharu biru, The Last 49 Days penuh sesak oleh twist. Begitu banyak, jika anda tipe penonton dengan prinsip “makin ceritanya nggak ketebak makin bagus”, bisa saja ini menjadi salah satu film terbaik sepanjang tahun. Karena di sini, nyaris setiap jalan dan jawaban seolah harus menghasilkan kejutan tanpa mempedulikan substansi.

Kim Yong-hwa (Mr. Go, Along with the Gods: The Two Worlds) selaku sutradara sekaligus penulis naskah bagai berhasrat menumpahkan ide besar sebanyak mungkin namun baru memikirkan penjabarannya di belakang. Hal ini berlaku juga bagi plot device-nya, di mana satu lagi Paragon muncul, yaitu Kim Soo-hong (Kim Dong-wook), adik protagonis film pertama, Kim Ja-hong (Cha Tae-hyun). Tapi peran Soo-hong tak sepenting kakaknya, sesuatu yang bahkan karakternya sendiri sadari dan ungkapkan. Keberadaan Soo-hong semata guna memfasilitasi eksplorasi menuju masa lalu tiga malaikat kematian: Gang-rim (Ha Jung-woo), Haewonmaek (Ju Ji-hoon), dan Lee Deok-choon (Kim Hyang-gi). Pertanyaannya, pantaskah Soo-hong disebut Paragon setelah sempat mengacau sebagai arwah penasaran?

Untuk itu, Kim Yong-hwa menawarkan retcon terkait definisi Paragon yang bukan lagi sekedar “sosok mulia”, melainkan “An entity who led a just life or suffered and untimely death for an unknown reason before his allotted span of life”. Definisi tersebut berujung mengubah jalannya persidangan di tujuh neraka, yang bukan lagi perihal membuktikan kebersihan hati, tapi perdebatan tentang alasan kematian. Apakah Soo-hong tewas akibat kecelakaan atau dibunuh? Jadi apa fungsi sidang demi sidang di neraka yang mewakili tujuh dosa manusia? Entahlah. Yong-hwa seperti tersesat, apalagi saya.

Satu-satunya alasan yang terpikirkan hanya agar beberapa neraka yang belum muncul di film pertama memperoleh porsi. Tapi detail latar menarik serta para dewa penjaga berkepribadian variatif takkan lagi ditemukan, kala serupa Soo-hong, persidangannya sebatas elemen sampingan yang berjalan luar biasa berantakan tanpa aturan pasti. Beruntung ada subplot mengenai usaha Haewonmaek dan Deok-choon mencabut nyawa pria tua bernama Heo Choon-sam (Nam Il-woo) yang dilindungi Seongju (Ma Dong-seok) si Dewa Penjaga Rumah. Melalui Seongju pula, rahasia kehidupan mereka 1000 tahun lalu terungkap. Saat petualangan di akhirat acap kali datar akibat Soo-hong tak sesimpatik sang kakak, konflik di Bumi lebih kaya rasa, dibantu selipan humor plus eksplorasi menarik soal kisah terpendam para malaikat maut. Subplot ini dapat menjadi film sendiri yang lebih singkat, padat, berperasaan, dan terpenting, lebih bagus dari keseluruhan The Last 49 Days.

Bicara tentang twist, berbagai kejutan yang tertuang dalam kisah Seongju masih bisa diterima, bahkan menambah dinamika hubungan antar-karaker. Haewonmaek tidak lagi hanya malaikat maut brandal bermulut besar, sebagaimana Deok-choon berkembang lebih dari seorang gadis polos. Persepsi kita terhadap beberapa tokoh pun diputarbalikkan, memancing masalah dilematis kompleks yang sayangnya diselesaikan lewat resolusi penuh penggampangan. Pun kita bisa selalu mengandalkan Ma Dong-seok untuk melakoni peran pria tangguh tapi berperasaan. Dialah jangkar elemen drama film ini sehingga pesan “Be kind” yang diusung tetap tersampaikan ketika filmnya bak tersesat di rimba lebat buatannya sendiri.

Seiring waktu, The Last 49 Days makin serakah, memasukkan lebih banyak rahasia dan twist dengan substansi yang semakin menyusut, walau harus diakui dinamika berhasil dijaga karenanya. Sebuah twist sempat berputar di kepala saya. Twist yang saya harap takkan muncul karena bakal terlalu bodoh dan dipaksakan. Kemudian film berakhir tanpanya. Saya pun lega. Sampai tepat sebelum kredit, muncul adegan tambahan berisi twist tersebut. Saya cuma bisa duduk menertawakan kebodohannya. Along with the Gods: The Last 49 Days meruntuhkan pencapaian film pertama. Parade aksi kreatif yang memanfaatkan absurditas tanpa batas akhirat, termasuk satu referensi terhadap franchise milik Spielberg memang masih menghibur. Hell, the whole movie is still entertaining. Bertempo cepat tanpa perlu terburu-buru, durasi 141 menit cepat berlalu. Namun pasca prestasi The Two Worlds, sekuel ini jelas proses terjun bebas.