Tampilkan postingan dengan label Ezra Miller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ezra Miller. Tampilkan semua postingan

REVIEW - FANTASTIC BEASTS: THE SECRETS OF DUMBLEDORE

Belum lama ini diberitakan bahwa nasib film keempat dan kelima Fantastic Beasts belum resmi mendapat lampu hijau. Nasibnya bergantung pada pendapatan The Secrets of Dumbledore, alias ada kemungkinan seri ini berakhir sebagai trilogi saja. Digarap oleh J. K. Rowling dan Steve Kloves (penulis naskah hampir seluruh film Harry Potter), naskahnya pun menyesuaikan sebagai bentuk rencana cadangan.

Rencana cadangan yang dimaksud berupa "konklusi malu-malu". Cerita tokoh-tokohnya diberi closure sebagaimana akhir suatu saga. Tapi disebut "akhir" pun kurang tebat, karena konflik utama belum sepenuhnya usai. Terasa betul ada kebimbangan. Tidak mengejutkan, mengingat sejak awal, Fantastic Beasts selalu digerogoti kebingungan menentukan arah. 

The Secrets of Dumbledore masih sama. Konflik memang tak penuh sesak seperti The Crimes of Grindelwald (2018), namun krisis identitas nyata terlihat sepanjang 142 menit durasinya. Kecuali sosok separuh burung separuh naga (Snallygaster?) yang menolong Newt Scamander (Eddie Redmayne) di awal cerita, para fantastic beasts tidak lagi fantastis. Porsi menipis, signifikansi pun berkurang, dengan kemunculan yang makin jauh dari memorable. 

Memang ada Qilin, makhluk ajaib yang mampu melihat ke dalam jiwa manusia sehingga jadi rebutan protagonis dan antagonis, tapi perannya sekadar MacGuffin, yang sekali lagi, tidak memorable. Kalau bukan film tentang fantastic beasts, apakah cerita soal Newt? Walau screen time-nya paling banyak mengingat dialah jagoan utama seri ini, Newt tidak punya proses atau story arc apa pun. He's just.....there. 

Bagaimana dengan Albus Dumbledore (Jude Law) yang namanya dijadikan subjudul? Adegan pembuka The Secrets of Dumbledore menampilkan pertemuan Dumbledore dan Gellert Grindelwald (Mads Mikkelsen). Mereka berbincang, dan kedua aktor mampu menciptakan dinamika intens antara mantan kekasih yang mendapati diri mereka  berada di kubu berlawanan. Terutama Mikkelsen. Senyumnya getir, menyiratkan kompleksitas emosi Grindelwald. Sesuatu yang sulit dibayangkan dapat diberikan oleh Johnny Depp (yang sekarang).

Tersimpan potensi besar terkait konflik personal Dumbledore-Grindelwald, tapi naskahnya tidak cukup kompeten menangani itu. Eksplorasi kedua karakter dilupakan, sementara alur beralih ke petualangan membosankan yang tampil bak benang kusut (I'll talk about it later), pula sama sekali tidak "ajaib", apalagi untuk ukuran film yang jadi bagian brand bernama "Wizarding World". 

Di kursi penyutradaraan, David Yates masih piawai memvisualkan dunia sarat keajaiban. Bhutan selaku latar third act-nya misal, yang memadukan elemen magis dengan nuansa futuristik. Tapi Yates bukan penyihir. Dia tak mampu menyulap naskah buruk jadi hiburan kelas satu. Sebuah naskah yang tersesat, baik soal menentukan jati diri maupun menjalin penceritaan utuh. 

Ada banyak titik di mana penonton bakal kesulitan memahami apa yang karakternya lakukan beserta golnya. Dumbledore mencetuskan taktik untuk membuat membuat musuh kebingungan. Begitu sukses taktik itu, tidak cuma Grindelwald saja yang bingung, penonton pun demikian. Ya, seperti benang kusut, akibat Rowling sendiri tidak tahu ingin membuat film apa. Melihat bagaimana penokohan Credence (Ezra Miller) dikembangkan, saya pun ragu Rowling tahu arti kata "kontinuitas". Dan seperti biasa, ia tidak tahu cara membuat klimaks, lalu cuma muncul dengan sekuen aksi pendek yang mendadak berakhir.

Satu-satunya hal positif dari Fantastic Beasts adalah lahirnya karakter Jacob Kowalski (Dan Fogler). Hanya dia karakter yang sejak film pertama konsisten mencuri perhatian, karena hanya dia yang punya tujuan jelas. Tujuan yang memiliki bobot emosi, yaitu berharap bisa bersatu kembali dengan Queenie (Alison Sudol). Bahkan berkat romansa Kowalski-Queenie, "konklusi malu-malu" tadi jadi memancarkan sedikit kehangatan. 

REVIEW - ZACK SNYDER'S JUSTICE LEAGUE

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai bagaimana pergerakan #ReleaseTheSnyderCut berhasil merealisasikan apa yang sebelumnya nampak mustahil. Tapi saya perlu menegaskan, bahwa Zack Snyder's Justice League jauh lebih baik, sekaligus film yang "berbeda" dibanding versi Joss Whedon (saya termasuk sebagian kecil penonton yang cukup menikmatinya).

Kata "berbeda" di sini punya definisi yang tak sederhana. Garis besar alurnya masih sama. Bruce Wayne / Batman (Ben Affleck) membentuk tim metahuman yang terdiri dari Diana Prince / Wonder Woman (Gal Gadot), Arthur Curry / Aquaman (Jason Momoa), Barry Allen / The Flash (Ezra Miller), dan Victor Stone / Cyborg (Ray Fisher), guna menghadapi Steppenwolf (Ciarán Hinds), yang bersama pasukan Parademons miliknya, berusaha mengumpulkan tiga Mother Boxes. Merasa tak cukup kuat, para superhero memutuskan untuk menghidupkan kembali Clark Kent / Superman (Henry Cavill). 

Gagasan dasarnya serupa, namun pengembangannya berbeda. Konon cuma 20% dari versi bioskopnya yang merupakan hasil karya Snyder. Sedangkan 80% sisanya adalah footage baru ditambah modifikasi konsep lama. Sebelum menontonnya, saya termasuk kalangan yang menganggap pernyataan di atas hanya strategi marketing belaka. Sungguh saya keliru. Begitu menyaksikan Snyder Cut, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin jajaran eksekutif Warner Bros. menonton ini, kemudian berujar, "Film ini buruk dan terlalu gelap. Mari buat versi lebih ringan dengan kisah lebih sederhana"?

Tanpa campur tangan Whedon pun, film ini jauh lebih ringan dari Batman v Superman: Dawn of Justice berkat beberapa sentuhan humor, meski masih seperti biasa, Snyder bukan sutradara yang piawai soal comic timing. Soal durasi yang mencapai empat jam (tepatnya 242 menit, dibagi dalam enam babak plus epilog), saya yakin, bila dahulu berkesempatan menyelesaikan visi aslinya, Snyder takkan merilis film sepanjang itu, walau tentunya bakal lebih dari dua jam sebagaimana mandat Warner Bros. (durasi tiga jam seperti Avengers: Endgame rasanya masuk akal). 

Versi ini mencapai empat jam karena Snyder tidak harus menerapkan asas kill your darlings (menghapus bagian-bagian yang dirasa kurang penting, seberapa pun sang pembuat karya mencintainya). Biarpun tidak lebih dari lima menit, turut terdapat adegan baru. Menurut Snyder, "adegan Knightmare" di mana Joker (Jared Leto) dan Batman bertemu, merupakan satu-satunya tambahan, namun saya cukup meyakini, momen penutupnya, tatkala Bruce disambangi oleh cameo salah satu karakter, baru diambil belakangan, mengacu pada konsep cerita dua sekuel Justice League yang tak menyertakan karakter itu, ditambah massa otot Ben Affleck yang berkurang. Harus diakui, beberapa update tersebut adalah wujud fan service menyenangkan, yang memancing rasa penasaran terhadap kelanjutan kisahnya (kini pergerakan RestoreTheSnyderVerse mulai bergema). 

Di luar itu, perbedaan mendasar sudah nampak sejak menit pertama. Momen saat Batman memancing Parademon menggunakan ketakutan seorang pencuri hilang. Bahkan di sini, modus operandi Parademons bukanlah mencium aroma rasa takut, yang otomatis mengubah cara membunuh Steppenwolf. Sebagai gantinya, kita menyaksikan lagi kematian Superman, di mana teriakannya menciptakan gelombang suara begitu kuat, hingga mencapai Atlantis dan Themyscira, yang makin menegaskan bagaimana tragedi itu berdampak luar biasa.

Kemudian Steppenwolf memulai invasinya, dan semakin kentara superioritas Snyder Cut. Tengok pertempuran di Themyscira. Versi Whedon berlangsung cuma lima menit, sedangkan versi Snyder hingga sekitar 10-11 menit. Whedon yang menyebut dirinya feminis, rupanya tidak sehebat Snyder perihal menunjukkan kehebatan prajurit wanita Amazon, yang dengan lantang berteriak, "We have no fear!" kepada Steppenwolf. Dan sungguh Snyder memperlihatkan ketiadaan rasa takut mereka, melalui pertempuran dahsyat yang juga mengandung bobot emosional lebih. Ketimbang sekadar membuat Steppenwolf menerobos keluar dari kuil penyimpanan Mother Box, di sini kuil itu ditenggelamkan bersama puluhan prajurit Amazon. Bukan sebatas tragedi, melainkan pengorbanan berbasis kepahlawanan. 

Kesan di atas makin kentara, lewat bertambahnya unsur kekerasan. Zack Snyder's Justice memang mendapat rating R karena beberapa cipratan darah, yang meski tak sampai membuat filmnya layak dicap "gory", terbukti meningkatkan dampak adegan aksi, bahkan di saat kelemahan CGI masih terasa di sana-sini. Musik gubahan Tom Holkenborg a.k.a. Junkie XL terdengar menggelegar, menambah nuansa epik, yang tak dimiliki buatan Danny Elfman. Bukan berarti hasil karya Elfman buruk, hanya saja, bukan iringan yang pas guna membungkus aksi masif para dewa. Begitu pula rasio aspek 4:3 khas IMAX, sehingga jajaran superhero-nya tampak bak dewa-dewa agung yang berdiri di tengah umat manusia.

Naskah Chris Terrio juga terkatrol kualitasnya, baik soal penokohan maupun penceritaan. Saya mengeluhkan bagaimana Batman v Superman: Dawn of Justice dan Justice League membuat salah satu superhero paling badass sepanjang masa terlihat bak pecundang di hadapan lawan (serta kawan) berkekuatan super. Kali ini, Snyder dan Terrio sanggup menjadikan Batman jauh lebih berguna, tanpa mengsampingkan fakta bahwa ia manusia biasa. Berkat teknologi serta kepintarannya, jangankan melawan Parademons, Batman bisa menahan mata laser Superman, walau cuma sementara. 

Saya bukan penggemar Affleck kala ia mengenakan mantel Batman, namun sebagai Bruce Wayne, ia salah satu yang terbaik (bagi saya, cuma kalah dari Michael Keaton). Penokohan Bruce lebih konsisten, betul-betul memperlihatkan proses perubahannya, dari figur paranoid di Batman v Superman: Dawn of Justice, menjadi, well, paranoid yang lebih memiliki harapan, serta mulai bersedia menaruh kepercayaan terhadap orang lain. 

Cyborg jauh lebih berkembang lagi. Penonton diajak mempelajari betapa luar biasa potensi kekuatannya (penutup trilogi Justice League berencana menjadikannya semacam "dewa teknologi"), pula lebih terikat secara emosional, terkait konflik batin Victor. Kita tahu mengapa ia begitu membenci sang ayah (Joe Morton), mengapa proses tranformasinya begitu memilukan, pun konklusi hubungan ayah-anak tersebut berbeda. Lebih emosional, yang memungkinkan Fisher memberi performa dramatik solid. 

Meski tak sampai meningkatkan kelasnya di jajaran villain film superhero secara signifikan, Steppenwolf tak luput diberi bobot lebih, sebagai pelayan Darkseid (Ray Porter) yang pernah berkhianat, dan tengah berusaha mengembalikan kepercayaan tuannya. Semua terjadi, sebab Snyder benar-benar peduli dan mengenal karakter-karakternya. Alhasil pengarahannya juga sarat sensitivitas, walau dalam bentuk dramatisasi penuh gerak lambat plus musik folk/rock, yang bagi sebagian penonton mungkin dianggap berlebihan. Aksi Barry menyelamatkan Iris (Kiersey Clemons) diiringi lagu Song to the Siren adalah peristiwa "cinta pada pandangan pertama" yang cheesy tetapi manis, sedangkan Distant Sky milik Nick Cave menemani rutinitas Lois Lane (Amy Adams) membeli kopi di pagi hari. Perlukah? Mungkin tidak, tapi bukankah sewaktu patah hati, dirundung duka akibat kehilangan, merindukan seseorang, atau malah gabungan ketiganya, hidup kita memang bagai berada dalam gerak lambat, yang makin terasa "nikmat" jika ditemani rintik hujan dan lagu-lagu sendu? 

Kalau anda seperti saya, yang mempertanyakan cara kerja Mother Boxes di versi bioskop, maka film ini muncul dengan jawaban. Daripada perdebatan mengenai etika yang tak lebih dari versi medioker dari pertengkaran Avengers di The Avengers, "rapat perdana" Justice League berisikan eksposisi tentang itu, sekaligus penjelasan mengapa Superman menjadi individu berbeda ketika dibangkitkan lagi. Lalu saat ingatannya kembali, terdapat penjelasan lebih nyata sekaligus heartful, yang makin emosional berkat What Are You Going to Do When You Are Not Saving the World buatan Hans Zimmer. 

Superioritas Zack Snyder's Justice League makin tidak bisa disangkal begitu mencapai klimaks. Salah satu alasan saya menyukai Justice League adalah kembalinya Superman sebagai beacon of hope, dan nyatanya, Snyder melakukan hal serupa secara lebih baik. Mengenakan kostum hitamnya, Superman muncul, mengucapkan kalimat paling badass sepanjang film, kemudian melancarkan serangan brutal. Masih deus-ex-machina yang overpoweres, tapi kali ini dia tidak bekerja sendirian. Kedatangannya membuat Justice League bekerja lebih efektif sebagai tim. 

Tapi sebagaimana keseluruhan film, poin terbaik klimaksnya terletak pada gagasan besar di universe Snyder, sekaligus bagaimana ia memperlakukan para jagoan layaknya dewa. Misalnya di momen paling jaw-dropping berbalut visual fantastis, tatkala The Flash memamerkan salah satu kekuatan terhebatnya (that somehow mirroring one moment in the third act of 'Avengers: Infinity War', but this time for the heroes' sake). Justice League adalah tim berisi gabungan dewa, yang juga bertarung melawan para dewa, dan Zack Snyder's Justice League memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. 


Available on HBO MAX / HBO GO / MOLA TV

FANTASTIC BEASTS: THE CRIMES OF GRINDELWALD (2018)

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald adalah film yang harus disaksikan dalam format 4DX3D. Format ini memaksimalkan pendekatan David Yates—yang termasuk film ini, telah menyutradarai enam installment terakhir Wizarding World—terhadap sekuen aksi, di mana ia menghancurkan berbagai lokasi, entah lewat ilmu sihir atau amukan monster, menggerakkan kamera secara cepat, menampilkan kekacauan yang akan membuat penonton memegang erat kursi agar tak terjatuh. Sementara 3D-nya, walau tak memiliki kedalaman seberapa, dihiasi beberapa efek pop-up.

Apa jadinya jika film ini ditonton di format biasa? Anda akan tenggelam dalam usaha J. K. Rowling memuaskan penggemar seri Harry Potter memakai deretan fan service penuh referensi atau tokoh lama yang muncul acak tanpa urgensi, hanya agar para penggemar berujar “Whoaa ini kan si itu....”. Rowling tahu jika banyak dari mereka terobsesi akan keterkaitan tak terduga, memutuskan mengabulkan harapan tersebut hampir di tiap kesempatan, hingga membuat naskah tulisannya terasa bak fan fiction.

Berjudul The Crimes of Grindelwald, dan benar, sang “penyihir hitam” memang melakukan kejahatan-kejahatan, tapi sulit menampik kesan bahwa judulnya dipilih karena terdengar keren dan supaya Grindelwald (baca: Johnny Depp) jadi jualan utama. Tapi bukan masalah. Kelemahan fatal Rowling dalam bertutur bukan disebabkan tidak menjadikan kejahatan Grindelwald sebagai fokus, melainkan ketiadaan fokus.

The Crimes of Grindelwald dibuka oleh keberhasilan upaya Grindelwald kabur dari penjara berkat pengkhianatan seorang anggota kementrian sihir. Tentu saja pengkhianatan, identitas rahasia, sampai mata-mata ganda merupakan kejutan andalan Rowling, yang di titik ini tak lagi mengejutkan. Tapi jangan khawatir. Sang penulis menemukan cara baru, yang jauh lebih konyol (we’ll get there later).

Bagi si titular character, film ini mengisahkan prosesnya mengumpulkan pengikut sebanyak mungkin, namun target utamanya adalah Credence (Ezra Miller), antagonis film pertama yang rupanya mampu bertahan hidup, dan kini berada di sebuah kelompok sirkus bersama Nagini (Claudia Kim). Keduanya mengarungi perjalanann dengan tujuan menemukan siapa Credence sebenarnya, siapa orang tuanya, dan dari mana ia berasal.  Di paragraf ini saja saya sudah membahas dua subplot, dan belum menyentuh kisah si protagonis, Newt Scamander (Eddie Redmayne).

Newt ditugasi Dumbledore (Jude Law) meringkus Grindelwald, dan sekali lagi bertemu Jacob Kowalski (Dan Fogler), yang mengikuti Newt demi memenangkan lagi hati Queenie (Alison Sudol), yang kecewa akibat keengganan Jacob segera mengucap janji suci, lalu memilih mengunjungi kakaknya, Tina (Katherine Waterston), yang mana hatinya pun coba dimenangkan kembali oleh Newt. Tina sendiri tengah patah hati setelah melihat berita palsu soal pertunangan Newt dengan Leta Lestrange (Zoë Kravitz). Oh Tuhan, begitu banyak cerita. Kalau alasan kemarahan Tina terdengar bak sinetron, tunggu dulu. Anda belum melihat apa-apa.

Jajaran cast tampil baik. Sekali lagi Fogler bukan saja pengundang tawa, pula sumber hati. Konklusi film pertama mengharukan berkatnya, dan Rowling ingin memunculkan dampak serupa namun gagal. Fogler berbuat sebisanya, tapi emosi senantiasa hampa, sebab naskahnya urung menyuguhkan motivasi meyakinkan bagi keputusan salah satu karakternya (Anda akan tahu karakter yang mana). Sedangkan Jude Law sempurna memerankan Dumbledore, selain berkat kemiripan wajah dengan Michael Gambon (tanpa uban, rambut panjang, dan jenggot lebat), ia membuat saya percaya sedang melihat sosok penyihir terkuat di masa jayanya.

Lain halnya Depp. Dipandang dari segi karakterisasi, Voldemort bukan villain luar biasa, tapi pendekatan over-the-top Ralph Fiennnes menjadikannya antagonis menghibur. Sementara Depp mencoba interpretasi lebih serius, kejam, tenang, yang justru membuat Grindelwald membosankan, tak jauh beda dibanding mayoritas antagonis generik film-film blockbuster Hollywood. Eddie Redmayne sebagai Newt dengan mata lembut yang jarang menatap lawan bicaranya adalah protagonis likeable, namun ketidakfokusan naskah menghalangi penonton mencintanya lebih jauh. Newt hanya satu bidak di sebuah papan catur besar nan ramai yang di atasnya cuma terdiri atas bidak-bidak.

Rowling punya setumpuk ide yang cocok dituangkan dalam novel 700 halaman, namun bagi film berdurasi 134 menit, kisahnya bergerak liar tanpa kesan kesatuan. Pada beberapa poin, The Crimes of Grindelwald bagai midseason serial televisi yang meletakkan cabang-cabang narasi dan belum sempat menautkannya satu sama lain, sebelum ditutup oleh konklusi berbumbu kejutan khas opera sabun murahan. Saya takkan terkejut bila kelak terungkap jika rumah produksi di balik film ini adalah Sinemart dan Ezra Miller merupakan Glenn Alinskie yang menyamar.

Cara Rowling bertutur menunjukkan ketidaksiapan menulis naskah film. Rowling bergantung pada tuturan verbal, menyuruh karakternya bicara terlalu banyak, yang malah membuat alurnya bak benang kusut. The Crimes of Grindelwald adalah bentuk penceritaan amburadul. Jadi, sebagaimana Nolan menyarankan IMAX 70mm untuk Dunkirk, saya merekomendasikan 4DX3D, atau setidaknya 4DX guna menyamarkan kelemahan narasi. Aksi-aksi serunya bakal membuai, khususnya amukan Zouwu si kucing berukuran gajah dari Cina. Walau lagi-lagi, Rowling perlu memperbaiki penulisan klimaks, yang sejak era Harry Potter, selalu lebih kuat di pembangunan ketimbang payoff. Klimaks ciptaan Rowling acap kali bukan “puncak”, melainkan sekedar satu lagi aksi yang bahkan bukan spectacle terbesar di sepanjang cerita.

Dan bukankah serupa tajuknya, seri ini mestinya mengeksplorasi mitologi Fantastic Beasts? Mengapa makhluk-makhluk ajaib tersebut hanya berguna mengeskalasi aksi atau senjata komedi namun punya pengaruh minim pada plot? Entahlah. Alurnya datang dari penulis yang menyebut mitologi “Naga” berasal dari Indonesia. So, yeah.....

JUSTICE LEAGUE (2017)

Sejak adegan pembuka ketika beberapa bocah merekam wawancara mereka dengan Superman (Henry Cavill), Justice League kentara berpindah dari jalur yang dipasang Man of Steel kemudian dipatenkan Batman v Superman: Dawn of Justice. Si Manusia Baja tersenyum ramah bahkan mau bercanda tentang lambang di dadanya yang mirip huruf "S". Momen singkat itu seketika memperbaiki gambaran Superman sebagai sosok pemanggul harapan pujaan publik. Filmnya pun serupa, mengedepankan harapan, mencerahkan suasana melalui balutan humor, dan mengeliminasi alur rumit tak perlu. Justice League menggiring DCEU (atau apapun namanya) ke jalan yang benar.

Penulisan naskah Chris Terrio sejatinya masih bermasalah. Mengemban obligasi mengenalkan Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher), serta memaparkan usaha Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) menyatukan mereka, mengakibatkan lompatan alur kasar (juga kekurangan Batman v Superman) kembali menghantui. Sementara kurang mampunya Zack Snyder menggarap adegan non-aksi menghasilkan pace melelahkan, khususnya sebelum kelima pahlawan bersatu. Satu-satunya fase dramatis kuat adalah reuni Clark dengan sang ibu (Diane Lane), itu pun berkat kepiawaian Lane bermain emosi ketimbang sensitivitas Snyder. Setidaknya, pemberian porsi mengenai duka/masalah personal tiap tokoh sedikit menambah bobot penokohan.
Untungnya ambisi menyusun alur berlapis berbalut filosofi kini ditiadakan. Ini penting, karena kelemahan penceritaan, bobot emosi, atau ancaman medioker dari Steppenwolf (Ciaran Hinds) dan rencananya mengumpulkan Mother Boxes terjadi dalam lingkup kemurnian blockbuster selaku media senang-senang, sehingga pantas ditoleransi. Berlawanan dengan niat Batman v Superman membangun dunia (sok) serius. Dari sini pula, Terrio, dengan sedikit bantuan Joss Whedon diberi jalan menghembuskan nyawa lewat bumbu humor. Belum sepenuhnya mulus, lagi-lagi akibat kecanggungan Snyder mengemas adegan tanpa baku hantam, namun cukup sebagai penghasil dinamika.

Keenam pahlawan kita tidak ragu bersenda gurau selama atau di sela-sela pertempuran. Flash tentu paling mencuri perhatian. Layaknya bocah di antara lima orang dewasa, ia berulang kali melempar celetukan menggelitik sampai sederet tingkah konyol yang sempurna dijalankan oleh Ezra Miller, termasuk "momen intim" dengan Gal Gadot yang rasanya berasal dari otak Joss Whedon. Pahlawan super mana lagi yang memutar video musik K-Pop di markasnya? Momoa lancar memamerkan machismo pewaris tahta Atlantis arogan yang menikmati berada di medan perang, sedangkan Gal Gadot selalu menonjol bersenjatakan pesona dan ketangguhan meyakinkan. Dua nama terbesar, Batman dan Superman justru mengalami nasib saling berlawanan.
Batman bak bahan olok-olok. Tidak memiliki kekuatan super, perannya selaku otak dan ahli teknologi turut tertutup keberadaan Cyborg. Affleck yang makin sering mengutarakan keinginan "gantung jubah" pun tampak malas. Gaya komedi deadpan-nya jelas dihempaskan antusiasme penuh energi Miller, sedangkan karisma sebagai Bruce Wayne yang menonjol di Batman v Superman juga lenyap. Sebaliknya, Superman kini layak menjadi simbol harapan sekaligus ujung tombak tim. Selain ikut bercanda tawa, setelah sekian lama akhirnya kita bisa melihat sisi badass Superman yang menghindari pukulan Steppenwolf sambil tersenyum. Walau sebelumnya, saat ia mengungguli kekuatan Wonder Woman, Aquaman, dan Cyborg, juga kecepatan Flash, sudah cukup memberi penegasan.

Merupakan film DCEU tersingkat sejauh ini (120 menit), ditambah klimaks singkat nan generik, Justice League mungkin bukan epic seperti dugaan banyak pihak. Toh gelaran laga Snyder masih solid, apalagi terkait penggambaran para meta-human kelas berat setingkat dewa yang aksinya sanggup mengobrak-abrik seisi dunia. Film superhero tidak wajib tenggelam di penderitaan atau kisah kompleks guna memikat, dan blockbuster tidak melulu mesti berbentuk epic cinema. Di samping sederet kekurangan penghasil jalan terjal, Justice League memenuhi hakikatnya selaku hiburan ringan menyenangkan sembari membawa franchise-nya ke masa depan yang menarik melalui pengembangan mitologi sebagaimana diperlihatkan lewat sebuah cameo superhero DC lain dan post-credits scene