Tampilkan postingan dengan label Rino Sarjono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rino Sarjono. Tampilkan semua postingan
TEMEN KONDANGAN (2020)
Rasyidharry
Kerapian. Saya sering menyinggung
aspek tersebut, menjadikannya salah satu landasan menilai keberhasilan film.
Tapi sebagai cabang seni, film bukan ilmu pasti. Ada kalanya, kekacauan (selama
disengaja) justru memperkuat suatu film. Temen
Kondangan selaku debut penyutradaraan Iip S. Hanan termasuk golongan
tersebut, sebab pada dasarnya, film ini memang mempresentasikan secara jenaka
kekacauan yang tercipta kala seseorang menghadiri pernikahan mantan kekasih.
Selebgram bernama Putri (Prisia
Nasution) tengah kebingungan kala menerima undangan pernikahan sang mantan, Dheni
(Samuel Rizal). Sebagai cara membuktikan keberhasilannya move on, Putri memutuskan datang. Masalahnya, Putri terlanjur
berprinsip bahwa haram hukumnya mendatangi pernikahan mantan tanpa membawa
gandengan. Padahal saat ini ia sedang melajang. Putri pun mulai mencari teman
kondangan. Beberapa nama masuk daftar incaran: Juna (Kevin Julio) si wedding crasher tersohor yang juga
sepupu si asisten, Sari (Chika Waode); Sang bos, Galih (Gading Marten); dan
Yusuf (Reza Nangin) si teman SMA yang diam-diam sudah lama menyukai Putri.
Berharap satu dari ketiga pria itu
bisa menemaninya, alangkah terkejutnya Putri sewaktu mereka semua sama-sama
datang. Menghadiri pesta pernikahan mantan saja sudah berpotensi menimbulkan
kekacauan, jadi bisa dibayangkan betapa runyam situasi film ini. Apalagi naskah
buatan Fauzan Adisuko (Bidadari Terakhir)
dan Rino Sarjono (Negeri 5 Menara,
Kuambil Lagi Hatiku) turut memberi ketiga pria itu masalah personal
masing-masing. Yusuf terlibat konflik dengan bandnya, Juna harus kejar-kejaran
dengan Angel (Imelda Therinne) dari pihak wedding
organizer, sementara Galih menyimpan sebuah rahasia.
Walau sekitar 80% filmnya cuma
mengambil latar gedung resepsi, itu tidak menghalangi terjadinya rentetan
masalah absurd yang muncul silih berganti. Penuhnya konflik memaksa Iip S.
Hanan memacu tempo filmnya. Penonton tak diajak berhenti sejenak guna meresapi
kisahnya, tapi justru di sini letak pesona Temen
Kondangan, walau sayangnya sistem kebut ini sepertinya juga diterapkan di
proses produksi dan pasca-produksi, mengacu pada beberapa bloopers yang terlihat jelas, seperti jumlah pengikut Instagram
seorang karakter berbeda dari yang disebutkan, hingga tombol “rekam” yang belum
dipencet pada adegan merekam video melalui handphone.
Cepat, tanpa basa-basi, kacau,
tetapi menyenangkan. Apalagi naskahnya dipersenjatai ide-ide komedi segar yang
enggan menahan diri untuk sesekali menghembuskan absurditas. Saya tak heran
kalau di satu titik, anda mengira film ini merupakan adaptasi webtoon. Ditambah lagi, jajaran
karakternya pun berwarna, sekaligus diperankan nama-nama yang mumpuni menangani
komedi. Prisia menampilkan salah satu performa paling menghibur sepanjang
karirnya sebagai selebgram yang mengobrankan keotentikan demi menyuapi ratusan
ribu pengikutnya di Instagram. Putri terjebak dalam berbagai situasi
memusingkan, di mana semakin gila situasi itu, semakin total pula usaha Prisia
mengocok perut penonton.
Kevin Julio punya kharisma sesosok playboy; Reza Nangin kembali membuktikan
jika ia sepantasnya menerima atensi lebih tinggi perihal sepak terjangnya di
industri film; dan Gading Marten? Tidak usah dipertanyakan. Menjadi bos aneh
yang kecanduan lagu Ular Berbisa milik
Hello, hampir semua polah maupun tutur katanya bisa memancing tawa. Sedangkan
dalam porsi kemunculan lebih kecil, Imelda Therinne sempat memperlihatkan satu
hal yang tak saya duga bakal dipunyai komedi semacam Temen Kondangan, yakni akting dramatik. Kevin, Reza, dan Imelda
merupakan tiga dari sekian banyak pelakon di industri film Indonesia yang
kualitasnya perlu lebih banyak diapresiasi.
Tapi seiring waktu, usaha mempresentasikan
kekacauan perlahan jadi bumerang. Filmnya bagai kehilangan kontrol diri, dan mulai
melahirkan kekacauan yang tak diniatkan terjadi, khususnya mencapai babak
ketiga. Keinginan menggila malah berujung menghilangkan fokus. Ketika
seharusnya proses Putri untuk move on sekaligus
menyadari bahwa selama ini ia terlalu menuruti pendapat orang (baca: netizen) sehingga terjebak dalam kepalsuan
dan keterpaksaan dirangkum, Temen
Kondangan malah mengalihkan fokus dengan memberi konklusi kepada karakter
lain.
Dampak emosi yang memang sudah
melemah saat studi karakter dan eksplorasi konflik dikorbankan demi komedi pun
akhirya makin tak tersisa. Tapi sesuai dengan tulisan di poster yang berbunyi “Rusuh
di bioskop....”, Temen Kondangan memang
hanya bertujuan memancing rusuh. Kerusuhan yang akan sangat memuaskan, selama
hiburan jadi satu-satunya yang anda cari.
Februari 02, 2020
Chika Waode
,
Comedy
,
Fauzan Adisuko
,
Gading Marten
,
Iip S Hanan
,
Imelda Therinne
,
Indonesian Film
,
Kevin Julio
,
Lumayan
,
Prisia Nasution
,
REVIEW
,
Reza Nangin
,
Rino Sarjono
,
Samuel Rizal
KUAMBIL LAGI HATIKU (2019)
Rasyidharry
Produksi pertama PFN (Produksi Film
Negara) selama 27 tahun setelah kali terakhir menelurkan Pelangi di Nusa Laut karya MT Risyaf pada 1992 ini sebenarnya
berpeluang menghembuskan angin segar bagi film lokal bertema keluarga,
khususnya berkat suntikkan unsur asimilasi budaya antara India dengan Jawa.
Apalagi melihat jajaran pemain papan atas miliknya. Sayang, kekacauan naskahnya
dalam menyatukan berbagai cabang cerita berujung melahirkan sebuah film yang
kebingungan menentukan arah.
Sinta (Lala Karmela), puteri
pasangan pria India dan wanita Indonesia, menjalani hidup bahagia di Agra
bersama sang ibu, Widhi (Cut Mini). Karirnya melesat, dan ia pun sedang
mempersiapkan pernikahan dengan Vikash (Sahil Shah) yang tinggal menghitung
hari. Tapi mendekati Hari-H, Widhi mendadak pulang ke kampung halamannya di
Desa Borobudur, Magelang, setelah mendengar kabar bahwa ayahnya telah wafat
sejak tiga bulan lalu.
Masalahnya, Widhi selama ini
mengaku sudah tak lagi memiliki kerabat di Indonesia. Sinta yang kebingungan
akhirnya nekat menyusul ibunya ke Magelang, hanya untuk menyaksikan ketidakharmonisan
sebuah keluarga. Widhi bersetigang dengan kakaknya, Dewi (Ria Irawan),
sementara Dimas (Dian Sidik) terlilit hutang yang mengancam keberlangsungan
penginapan yang ia kelola.
Kuambil Lagi Hatiku diawali secara menjanjikan. Meski terkadang usaha Lala
berbicara Bahasa Indonesia memakai logat India terdengar mengganggu, cukup
jarang kita melihat karakter dalam film lokal yang bukan sekadar tinggal
sementara atau jalan-jalan di luar negeri, namun menetap, bahkan
mengimplementasikan kultur setempat dalam keseharian. Setibanya Sinta di
Borobudur, ia sempat membantu peneliti muda (atau mahasiswa?) bernama Panji
(Dimas Aditya), menjelaskan makna relief Candi Borobudur kepada wisatawan asal
India, sebagai simbol penyatuan dua budaya. Tapi asimilasinya berhenti di situ.
Setelahnya, tak ada lagi eksplorasi lanjutan yang dapat memperkaya filmnya.
Akhirnya Sinta bertemu Widhi. Dia
menuntut jawaban, tetapi sang ibu malah bersikap tak acuh. Dari sinilah naskah
karya Arief Ash Shiddiq dan Rino Sarjono (Negeri
5 Menara, Pintu Harmonika) mulai menumpuk kelemahan, yang kebanyakan
melibatkan turnover dadakan dan
ketidakjelasan motivasi karakter. Cut Mini kembali menghantarkan performa sarat
emosi yang dengan gampangnya menjadi aspek terbaik film ini, tapi itu pun tak
kuasa menjustifikasi respon dingin Widhi kepada puterinya. Bahkan pasca
kebenaran terungkap saya tetap bertanya, “Kenapa?”.
Kata “Kenapa” memang terus mencuat
sepanjang durasi, karena tiap karakternya membuat keputusan besar, termasuk
titik balik di mana terjadi perubahan sikap, sulit memahami alasan di balik
tindakan mereka. Selalu timbul kesan dadakan dan dipaksakan. Serupa Cut Mini,
Ria Irawan pun tampil baik, memberi dimensi lebih pada sosok Dewi yang dari
luar tampak kejam namun sejatinya berhati lapang. Perselisihan Dewi dengan
Widhi menghasilkan problematika keluarga kompleks, sampai filmnya menyelesaikan
konflik tersebut melalui sebuah simplifikasi yang akan sulit diterima nalar
maupun hati.
Salah satu benda yang memegang peranan
penting dalam cerita adalah foto masa kecil yang disimpan Widhi. Di foto itu,
ia, Dewi, dan Dimas duduk di Candi Borobudur. Kelak terungkap, itu merupakan
foto favorit mendiang ayah mereka, karena di sanalah ketiganya berkumpul sambil
tersenyum bersama sebagai satu keluarga bahagia. Andai Kuambil Lagi Hatiku mau berfokus pada unsur satu ini, potensi
menjadi drama keluarga yang menyentuh hati sangatlah tinggi. Tapi tidak.
Naskahnya selalu hadir dengan konflik baru yang mayoritas tak perlu, yang
ironisnya, muncul untuk menyelesaikan konflik lain.
Etos kerja “gali lubang tutup
lubang” ini melahirkan problematika yang tidak logis (masalah Sinta di kantor),
kekurangan pondasi (kisah cinta Sinta), out-of-place
(subplot kasus pencurian dan penculikan), maupun yang cuma numpang lewat tanpa
dampak (Widhi melarang Sinta menari). Bicara soal menari, melihat nomor tarian
yang kasar dan canggung, rasanya sutradara Azhar ‘Kinoi’ Lubis (Surat Cinta Untuk Kartini, Kafir: Bersekutu
Dengan Setan) kekurangan referensi film Bollywood atau belum memahami inti
kekuatan estetikanya.
Maret 22, 2019
Arief Ash Shiddiq
,
Azhar Kinoy Lubis
,
Cut Mini
,
Dian Sidik
,
Dimas Aditya
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Lala Karmela
,
REVIEW
,
Ria Irawan
,
Rino Sarjono
,
Sahil Shah
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



