REVIEW - A COMPLETE UNKNOWN
A Complete Unknown adalah film biografi yang dikemas terlalu biasa untuk figur se-luar biasa Bob Dylan. Penuturan James Mangold selaku sutradara tak kuasa memecahkan enigma mengenai Dylan (mungkin tidak ada yang akan bisa), walau setidaknya kita bisa merasakan kekaguman sang sineas terhadap karya-karya milik musisi yang telah menjual lebih dari 125 juta keping album tersebut.
Dipresentasikan dengan visual grainy yang bak menghidupkan kembali dunia 60-an, alurnya mengadaptasi buku Dylan Goes Electric! karya Elijah Wald, yang sebagaimana judulnya siratkan, bakal memotret proses Bob Dylan bertransformasi dari figur terdepan dalam pergerakan musik folk, menjadi sosok kontroversial, bahkan dicap "pengkhianat", selepas memutuskan menerapkan musik elektronik dalam lagu-lagunya.
Semua berawal dari kenekatan Dylan muda (Timothée Chalamet) mencari rumah sakit tempat idolanya, Woody Guthrie (Scoot McNairy), dirawat akibat penyakit huntington. Di situlah ia berkenalan dengan Pete Seeger (Edward Norton), yang membantu membuka jalan kesuksesan bagi Dylan di industri musik. Norton adalah penampil pendukung terbaik di film ini. Di tengah kontroversi Newport Folk Festival 1965, Seeger datang membawa persepsi yang terdengar valid nan meyakinkan mengenai penolakan atas pilihan Dylan membawakan musik elektronik berkat kehebatan Norton mengolah monolog.
Di sisi lain, Chalamet mampu menghidupkan nuansa misterius dari seorang Bob Dylan, pula bernyanyi dengan suara yang begitu mirip dengan sang legenda, tanpa harus terjatuh dalam impersonasi layaknya karikatur. Naskah yang Mangold tulis bersama Jay Cocks enggan memperlihatkan Dylan sebagai sosok sempurna. Penggambaran apa adanya itu pula yang Chalamet olah lewat aktingnya.
Penggambaran apa adanya tersebut sama artinya film ini bersedia menampilkan Dylan sebagai individu yang tidak begitu likeable. Di tengah hubungannya dengan Sylvie Russo (Elle Fanning) yang melihat kemunculannya di sampul album The Freewheelin' Bob Dylan, kemungkinan dibuat berdasarkan Suze Rotolo yang menemaninya sedari awal karir, Dylan sempat berselingkuh dengan Joan Baez (Monica Barbaro), hingga melakukan tur berdua.
Newport Folk Festival 1964 dengan apik menangkap isi hati semua karakter, yang tersirat entah dari cara mereka membawakan lagu selaku penampil di atas panggung, atau sebagai penonton yang merespon lagu tersebut. Mangold memang cukup cerdik perihal bercerita melalui musik. Para karakter tidak perlu terang-terangan menyuarakan perasaan mereka, sebab Mangold membiarkan alunan nada mewakili semuanya.
Tengok saja momen magis ketika Dylan dan Baez menyanyikan Blowin' in the Wind di atas ranjang. Ada cinta di sana, setidaknya di mata Baez, yang tidak se-enigmatik si protagonis. Barbaro senantiasa menghipnotis lewat tatapannya yang coba memecahkan misteri di balik kepala Dylan, lewat petikan gitar juga nyanyiannya yang menyuarakan puisi tentang misteri tersebut.
Sayangnya A Complete Unknown masih terjebak dalam penyakit film biografi konvensional, dengan gaya penceritaan yang terpecah menjadi fragmen-fragmen penuh lompatan. Kecintaan Mangold terhadap karya Dylan pun tak jarang menjadi bumerang. Ada kalanya itu membantu sang sutradara bercerita melalui lagu, namun tak jarang juga melahirkan "adegan musik" berkepanjangan dengan substansi minimum. Itulah mengapa durasi filmnya mendekati dua setengah jam.
Mengapa Dylan beralih ke musik elektronik? A Complete Unknown coba menggiring penonton untuk meyakini bahwa semua itu didasari ketidaksukaan si penyanyi terhadap ekspektasi yang publik sematkan padanya. Dylan membenci kekangan. Tapi seperti apa proses berpikirnya? Mengapa pemuda yang nekat berkelana tanpa uang demi menemui Woody Guthrie dapat berbalik arah seekstrim itu?
Mangold sendiri seperti kurang yakin dengan interpretasinya, namun terjebak di antara ketidakmampuan memecahkan enigma seorang Bob Dylan, dengan keharusan menjabarkan sosoknya sejelas mungkin guna melahirkan biopic konvensional. A Complete Unknown gagal memotret transformasi karakternya secara meyakinkan. Mungkin seperti yang Dylan sampaikan melalui lagunya: The answer my friend, is blowin' in the wind.
REVIEW - CONCLAVE
Seperti judulnya, Conclave menampilkan proses konklaf di mana para kardinal mengadakan pengambilan suara secara tertutup untuk menentukan paus yang baru. Terdengar seperti aktivitas membosankan, tapi dengan melucuti karakternya dari kesucian dan menelanjangi sisi gelap mereka, adaptasi dari novel berjudul sama karya Robert Harris ini mampu mengubah ritual keagamaan formal menjadi tontonan seru layaknya acara realitas dan opera sabun televisi.
Alkisah pada suatu malam paus ditemukan meninggal dunia akibat serangan jantung. Situasi pun serentak berubah kacau, dan Edward Berger selaku sutradara, memastikan bahwa penonton non-Katolik pun memahami betapa besar urgensi peristiwa tersebut, lewat pilihan shot serta musik serba dramatis yang dipakai saat jenazah sang pemimpin umat Katolik dibawa keluar dari apartemennya.
Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) bertugas memimpin jalannya konklaf, di mana empat kardinal dianggap berpeluang besar memenangkan pemilihan: Aldo Bellini (Stanley Tucci) dari pihak liberal yang juga memperoleh dukungan Lawrence, Joseph Tremblay (John Lithgow) yang cenderung moderat, Joshua Adeyemi (Lucian Msamati) si penganut paham sosial konservatif, dan Goffredo Tedesco (Sergio Castellitto) yang kolot dan tak ragu menyerukan perang terhadap agama lain.
Ketika musik gubahan Volker Bertelmann rutin membangun intensitas lewat gemuruhnya, sinematografi garapan Stéphane Fontaine memunculkan keindahan elegan. Peleburan komposisi apik dan kombinasi warna cantik membuat shot tumpukan puntung rokok di lantai pun nampak sedap dipandang.
Berger dan tim artistiknya tahu betul citra apa yang coba diciptakan oleh para pemimpin agama ini terkait diri mereka. Mereka ingin terlihat bermartabat pula rupawan di mata manusia awam, sehingga itulah yang Conclave perlihatkan dari luar. Bahkan sewaktu voting dilangsungkan, cara mereka memasukkan surat suara pun sangat elegan. Sampai wajah asli masing-masing mulai terungkap.
Conclave mengajukan pertanyaan terkait pemilihan sosok pemimpin yang terasa relevan, termasuk jika diterapkan di luar konteks Katolik (misal pemilu di suatu negara): Apakah keputusan memilih "lesser evil" tepat untuk dilakukan? Lawrence terjebak dilema terkait situasi tersebut. Ketika peluang menang Bellini yang berbagi ideologi dengannya makin menipis, haruskah ia berkompromi pada prinsipnya?
Ralph Fiennes membawakan dilema karakternya dengan sempurna, yang dipaksa terpendam atas nama profesionalitas sebagai ketua konklaf, meski sekali waktu, frustrasi yang terlampau tinggi memunculkan ledakan yang tak mampu ia redam. Apalagi di saat sedikit demi sedikit, Lawrence mulai mengetahui berbagai rahasia tiap calon, yang membuatnya meragukan kelayakan mereka menyandang gelar paus.
Di situlah Conclave menampakkan jati dirinya. Kesan elegan di permukaan diambil alih oleh drama pemilihan yang kaya hiperbola. Rahasia kelam terungkap, kabar burung beredar, orang-orang mulai bergosip, dan proses eliminasi terjadi pasca kebenaran akhirnya ditumpahkan di hadapan publik. Sekali lagi, tak ubahnya acara realitas televisi dengan segudang dramatisasi serta kejutan besar seputar aib para peserta.
Hasilnya menyenangkan. Terkesan terlalu menyederhanakan atas nama hiburan, konyol, seiring waktu terasa repetitif karena terus mengikuti pola "investigasi-rahasia terbuka-eliminasi", tapi sangat menyenangkan. Dampak negatifnya, kesan konyol tersebut berpotensi membuat presentasi terkait isu penting yang kisahnya angkat terasa sulit untuk dianggap serius.
Conclave seperti perwujudan cita-cita pembuatnya mengenai gereja, yang diharapkan tak lagi bersikap kolot memandang berbagai fenomena, dari persoalan gender sampai seksualitas. Di satu kesempatan, kardinal asal Afganistan yang selama ini paus rahasiakan eksistensinya, Vincent Benitez (Carlos Diehz), diminta untuk memimpin doa. Alih-alih sebatas mendoakan kemakmuran para kardinal, ia tak melupakan orang-orang yang hidup kekurangan, maupun kelompok minoritas termasuk para suster yang cenderung "tidak terlihat" meski berperan besar dalam pelaksanaan konklaf.
Pemandangan sederhana itu justru menjadi salah satu momen paling menggugah di antara dua jam filmnya yang serba dramatis. Begitu pun saat Suster Agnes, yang diperankan dengan penuh martabat dan kekokohan oleh Isabella Rossellini, mulai mengambil peran.
Setelah berhari-hari terisolasi (semua akses komunikasi ditiadakan, ruangan pun tertutup rapat), hati Lawrence akhirnya tercerahkan kala sebuah lubang di dinding mampu membuatnya melihat semburat cahaya matahari diiringi kicauan burung. Mungkin memang sudah waktunya pemuka agama membuka diri terhadap dunia luar.
REVIEW - THE GORGE
Twist terbesar di The Gorge adalah, walaupun dibuat oleh Scott Derrickson yang membidani lahirnya The Exorcism of Emily Rose (2005), Sinister (2012), hingga The Black Phone (2021), elemen yang paling menonjol dalam campur aduk genrenya bukan horor, sci-fi, thriller, maupun aksi, melainkan romansa.
Alkisah dua penembak jitu dikirim untuk mengemban tugas serupa, yakni menjaga dua menara yang dipisahkan jurang lebar. Di menara barat ada Levi (Miles Teller) si mantan marinir Amerika Serikat, sedangkan menara timur ditempati oleh Drasa (Anya Taylor-Joy) yang merupakan agen rahasia yang kerap ditugaskan oleh Rusia. Tidak sulit menebak subteks yang ditanam oleh naskah buatan Zach Dean seputar kaitan antara jurang dan hubungan dua protagonisnya.
Levi dan Drasa mesti tinggal di sana selama setahun, dengan tujuan menjaga supaya para monster yang bersemayam di dasar jurang tidak memanjat keluar. Monster-monster itu dikenal dengan sebutan "The Hollow Men", yang nampak bak campuran zombie, hewan, dan tumbuhan. Desain ala lovecraftian berhasil menghidupkan makhluk misterius itu secara kreatif.
Tapi lupakan dulu perihal pasukan zombie itu, sebab romansa Levi dan Drasa akan lebih banyak mendominasi satu jam pertama. Diawali oleh saling pandang melalui teropong, keduanya memutuskan melanggar larangan untuk mengadakan kontak, lalu berkomunikasi melalui tulisan, lesatan peluru, lagu yang diputar lewat pengeras suara, bahkan bermain catur tanpa memedulikan adanya jurang pemisah (literally).
Kisah cintanya tampil manis. Miles Teller dan Anya Taylor-Joy menjalin chemistry kuat tanpa harus berada dalam satu frame, membangun pemandangan romantis tentang dua manusia yang kehilangan arah sebelum menemukan cinta di tempat antah berantah. Inilah representasi nyata dari kalimat "dunia serasa milik berdua". Hanya ada mereka....dan sekelompok monster yang sesekali harus keduanya basmi.
Sewaktu tiba waktunya pembasmian dilakukan, Miles Teller dan Anya Taylor-Joy mampu secara meyakinkan menanggalkan wajah romansa mereka. Levi si lelaki hangat, serta Drasa si perempuan manis, mendadak beralih rupa menjadi dua prajurit tangguh, yang mengemban tugas sebagai tembok pertama umat manusia.
Sekuen pertempuran pertamanya diarahkan dengan intens oleh Derrickson. Menariknya, baku tembak itu disusun sebagaimana presentasi romansanya yang menjauhi kesan cerewet, di mana aksi lebih mendominasi ketimbang kata-kata verbal. Tidak ada celetukan atau one-liner ala blockbuster yang memaksakan diri untuk meringankan suasana. Levi dan Drasa sepenuhnya fokus pada tugas mereka.
Sayangnya, apa yang susah payah dibangun pelan-pelan runtuh selepas Levi dan Drasa akhirnya mengatasi jurang di antara mereka. Keduanya pun bertatap muka. Tapi daripada alat untuk mengeksplorasi hubungan mereka, naskahnya sebatas menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan supaya The Gorge bisa memperbesar skalanya.
Filmnya bergerak ke arah survival horror berbumbu aksi yang jauh lebih berisik, dan tentunya, lebih generik, termasuk penjelasan yang ditawarkan tentang asal-usul The Hollow Men. Aksinya minim intensitas, jumpscare yang Derrickson lemparkan pun seperti kekurangan tenaga. Semua dibiarkan bergulir begitu saja tanpa dampak signifikan, sampai ke babak ketiganya yang tersaji antiklimaks sekaligus menyia-nyiakan kemunculan Sigourney Weaver dengan memberinya porsi sebagai antagonis bodoh. Memang tidak semua hal harus tampil sebesar dan sekeras mungkin.
(Apple TV+)
REVIEW - YOU ARE THE APPLE OF MY EYE
Sebagaimana film Taiwan legendaris rilisan tahun 2011 berjudul sama yang dibuat ulang olehnya (yang juga merupakan adaptasi novel semi-autobiografi dengan judul sama karya Giddens Ko), You Are the Apple of My Eye tidak membebani dirinya dengan isu-isu berat. Apa yang debut penyutradaraan Cho Young-myoung yang turut menulis naskahnya ini lakukan "hanya" menangani formula klasik dalam kisah-kisah romansa dengan sebaik mungkin.
Kehidupan remaja berbalut asmara masa SMA, hingga gerak lambat yang dipakai tatkala si tokoh utama perempuan menampakkan kecantikannya, tentu kita sudah familiar dengan pakem-pakem tersebut. Klise, tapi di saat bersamaan juga terasa menyegarkan melihat kisah cinta polos semacam ini hadir di tengah keruwetan dunia modern.
You Are the Apple of My Eye tidak ingin memusingkan diri dengan tetek bengek kehidupan. Begitu pula protagonisnya, Jin-woo (Jung Jin-young), yang alih-alih belajar giat, lebih memilih bersenang-senang bersama para sahabatnya. Korea Selatan di awal 2000-an memang telah memasuki babak baru. Krisis finansial berlalu, sementara kejayaan di Piala Dunia baru direngkuh. Nuansa positif itulah yang mungkin membentuk tindak-tanduk Jin-woo.
Sebaliknya, Seon-ah (Dahyun) si murid teladan sekaligus ketua kelas selalu menyibukkan diri dengan buku. Ketika guru memindahkan tempat duduk Jin-woo tepat di depan Seon-ah, di situlah romantisme mereka bermula. Tusukan lembut pulpen bertinta biru Seon-ah ke punggungnya jadi rutinitas yang Jin-woo nantikan tiap hari. Keduanya tersenyum malu-malu, demikian pula penonton.
Kemampuan You Are the Apple of My Eye memancing senyum berasal dari kedekatan terhadap realita yang ia bangun. Kita pernah melakukan kenakalan bersama teman-teman SMA, bahkan mungkin juga melawan guru, atau menantikan momen duduk berdekatan di kelas dengan orang yang kita sukai.
Di satu kesempatan, Jin-woo dan Seon-ah bertaruh soal siapa yang mendapat nilai lebih tinggi di ujian. Jin-woo akan memotong rambutnya bila kalah, sebaliknya Seon-ah akan menggerai rambut yang selama ini selalu ia ikat. Ketika mereka memenuhi "hukuman" masing-masing, murid lain cuma bisa kebingungan tanpa tahu alasan di balik perbuatan keduanya. Jin-woo dan Seon-ah pun hanya tersenyum, memeluk erat rahasia berdua yang terasa begitu manis.
Humornya, yang disusun berdasarkan deretan perilaku bodoh sekelompok remaja pun efektif memancing tawa, melengkapi katalog rasa yang mesti dimiliki kisah cinta masa muda. Mungkin satu hal yang cukup disayangkan perihal rasa adalah ketiadaan "momen besar" selaku puncak emosi. Adegan "what if" yang digunakan untuk menutup narasi seharusnya mengemban tugas tersebut, sayangnya penyuntingan yang kurang maksimal, bahkan cenderung kacau, melucuti daya bunuhnya.
Setidaknya chemistry kedua pemeran utamanya tak pernah memudar. Jin-young yang natural memerankan pemuda kekanak-kanakan yang bertingkah semaunya dalam menjalani hidup, maupun Dahyun yang bersikap lebih dewasa dan terbukti mampu melakoni momen emosional, sama-sama membantu penonton merasakan manisnya cinta pertama dua karakter utamanya.
REVIEW - RAHASIA RASA
Pada tahun 1967, didasari gagasan Presiden Soekarno, terbitlah buku Mustikarasa yang merangkum lebih dari 1600 resep masakan dari seluruh penjuru Indonesia. Terinspirasi dari warisan sejarah tersebut, Rahasia Rasa garapan Hanung Bramantyo ibarat masakan yang memaksakan diri memadukan beraneka resep, sehingga tersajilah fusion cuisine yang tidak pernah berhasil menyatukan semua rasanya secara sempurna meski terdengar unik di ranah konsep.
Ada dua cerita besar yang hendak dicampur oleh naskah hasil tulisan Hanung bersama Haqi Achmad dan Adi Nugroho. Pertama terkait pergulatan personal Ressa (Jerome Kurnia), chef hidangan Italia ternama yang selalu mual jika mencium aroma bumbu masakan Indonesia. Kedua, ada proses Ressa mempelajari eksistensi Mustikarasa bersama sahabatnya sejak kecil, Tika (Nadya Arina).
Ketimbang mengawinkan kedua kisah di atas supaya saling melengkapi, Rahasia Rasa justru menyajikannya secara bergantian. Alhasil narasinya bergerak tak terkendali, membesar, meliar, hingga akhirnya keluar jalur seiring berjalannya waktu.
Padahal penceritaannya diawali dengan baik. Kecintaan Hanung terhadap kehidupan "masyarakat biasa" menemukan fungsinya di sini. Sewaktu kisahnya mengambil latar Jakarta, Hanung memberi penggambaran yang amat dingin. Para manusianya bersikap tak manusiawi sembari membalut diri dengan gelimang harta mereka, makanannya pun nampak kurang menggugah selera walau penyajiannya luar biasa cantik.
Sampai suatu ketika, pasca mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan kemampuan merasa, Ressa memutuskan pulang ke kampung halamannya, yakni sebuah desa kecil di sekitar Magelang. Di sana semuanya terasa lebih hangat, dari orang-orangnya, termasuk Mbah Wongso (Yatti Surachman) yang merawat Ressa semasa ia kecil, maupun makanannya yang terlihat lebih lezat berkat tangkapan kamera Saudi Utama selaku pengarah sinematografi.
Rahasia Rasa sejatinya adalah proses si tokoh tuama menemukan rumahnya lagi. Sesederhana itu. Ketika tekanan rutinitas zaman modern memaksa banyak individu mematikan rasa mereka, rumah selalu bisa jadi pengobat luka yang mengembalikan sisi kemanusiaan seseorang. Bagi sebagian penonton, kesembuhan trauma masa lalu Ressa yang membuatnya mual tiap mencium bumbu lokal mungkin akan dirasa terlampau instan, tapi pada kenyataannya, psikis manusia memang sesuatu yang tidak selalu bisa dipahami logika.
Dilatari oleh tata kamera yang jeli memanfaatkan format wide screen guna menghadirkan gambar-gambar cantik, jajaran pemainnya memamerkan penampilan terbaik mereka. Jerome Kurnia sebagai sosok yang kehilangan jati diri selepas "membuang" masa lalu serta kampung halamannya, Nadya Arina yang memamerkan ketangguhannya, Yatti Surachman selaku penyangga semua tiang emosi kisahnya, bahkan Aksara Dena sebagai Tarjo si preman kampung yang kembali membuktikan kapasitas sebagai aktor pendukung yang bisa diandalkan.
Slamet Rahardjo memerankan Broto, mantan jenderal yang kini menjabat sebagai staf khusus Presiden. Melihatnya melahap masakan Ressa dengan sedemikian rakus, tidak sulit membaca apa yang coba Rahasia Rasa sampaikan melalui karakternya. Menariknya, Broto sempat mengucapkan sebaris kalimat yang secara tepat merangkum kekurangan terbesar film ini: "Terlalu banyak drama!"
Semakin ke belakang, Rahasia Rasa semakin terjebak dalam kerumitan yang ia ciptakan sendiri. Bahkan menjelaskan latar belakang Ressa yang sejatinya amat sederhana pun naskahnya kerepotan. Ide unik untuk menyelipkan dramatisasi fiktif ke dalam catatan sejarah yang menuntun karakternya ke dalam investigasi misteri ala The Da Vinci Code pun gagal tampil maksimal akibat metode pembagian narasi yang kurang tepat sebagaimana telah disinggung di awal tulisan. Tapi apakah keputusannya membawa tema berbeda di tengah cengkeraman horor klenik di perfilman Indonesia layak diapresiasi? Tentu.
REVIEW - BIRD
"How we like to sing along, though the words are wrong". Begitu bunyi sepenggal lirik dari lagu The Universal milik Blur yang beberapa kali terdengar di film ini. Banyak orang, termasuk barisan karakter di Bird, memang tidak bisa menjalani hidup sesuai norma. Perilaku mereka, atau cara yang ditempuh untuk mengarungi keseharian, tidak mencerminkan "kenormalan". Tapi seperti orang-orang pada umumnya, mereka juga ingin bisa mencintai dan dicintai.
Hidup normal bukanlah kemewahan yang bisa dinikmati Bailey (Nykiya Adams). Dia tinggal di sebuah apartemen terbengkalai bersama ayahnya yang masih sangat muda, Bug (Barry Keoghan), dan kakak tirinya, Hunter (Jason Buda). Bug jauh dari figur ayah ideal. Suatu ketika, ia mengumumkan bakal menikahi Kayleigh (Frankie Box) meski baru mengenal si perempuan beranak satu selama tiga bulan. Membuat narkoba dari ekstrak racun katak jadi caranya membiayai pernikahan tersebut.
Mudah memberi cap buruk kepada Bug, apalagi kala Keoghan muncul dengan akting yang membuatnya gampang dibenci. Tapi melalui Bird, Andrea Arnold yang bertindak selaku sutradara sekaligus penulis naskah, coba mengajak penonton mengobservasi lebih jauh, mengamati keluarga (bahkan secara lebih luas, sosial masyarakat) disfungsional yang berjuang memakai cara mereka sendiri. Arnold paham betul bahwa kaum marginal ini tidak sempurna, jauh dari standar moralitas, namun bukan berarti dapat dengan mudah dihakimi.
Bailey yang menolak pernikahan sang ayah memutuskan memberontak. Rambut panjangnya ia pangkas, pernah pula ia tak kembali pulang dan tertidur di tengah tanah lapang. Tiba-tiba angin berembus kencang. Suara desirnya seketika terdengar lantang. sementara pohon dan rerumputan tinggi turut bergoyang. Di situlah nuansa mistis dari elemen magical realism milik Bird mulai menampakkan wujudnya.
Begitu pagi menjemput, sesosok pria misterius yang memperkenalkan dirinya sebagai Bird (Franz Rogowski) menghampiri Bailey, dan dari situlah persahabatan tak biasa keduanya bermula. Bersenjatakan permainan gestur eksentrik yang sarat misteri, Rogowski dengan mulus menjadikan Bird poros magical realism filmnya.
Bird mewakili apa yang Bailey harapkan hadir dalam hidupnya: kebebasan. Seperti burung yang terbang semaunya di angkasa, Bird tidak terikat oleh aturan apa pun. Tengok saja penampilannya. Fisik Bird sama seperti laki-laki pada umumnya, namun ia memakai rok, seolah menolak dikekang oleh sekat-sekat gender.
Metode yang Andrea Arnold pakai untuk menggarap filmnya pun menjunjung tinggi asas kebebasan. Bird seringkali mendobrak pakem pembuatan film konvensional, termasuk saat di satu titik Bailey menatap tajam ke arah kamera. Dinding pemisah antara karakter dengan penonton seketika runtuh, begitu pula batasan realisme dan fantasi, juga kenyataan dan mimpi.
Kesan di atas diteruskan oleh teknik penyuntingan yang bergerak layaknya keping-keping kenangan, sewaktu acap kali filmnya, meski hanya dalam sekejap, menampilkan isi hati Bailey yang dipenuhi rekaman memori mengenai orang-orang di sekitarnya. Dari situ kita bisa memahami kompleksitas perasaan sang protagonis secara lebih jauh.
Bailey tak menginginkan kedatangan Kayleigh. Tapi tatkala si ibu kandung, Peyton (Jasmine Jobson), menyebut Bailey "buruk rupa", Kayleigh malah memuji penampilannya. Rupanya Kayleigh adalah perempuan baik. Realita memang tidak sesederhana itu, apalagi bagi individu yang tengah mengarungi fase pendewasaan seperti Bailey.
(Klik Film)
REVIEW - THE MOST BEAUTIFUL GIRL IN THE WORLD
Tidak diragukan lagi, Reza Rahadian dan Sheila Dara Aisha masuk dalam jajaran pelakon sinema Indonesia terbaik saat ini. Ketika ditandemkan, keduanya menciptakan daya yang luar biasa kuat, hingga membuat saya betah mengarungi 122 menit dari The Most Beautiful Girl in the World, membuatnya tetap layak ditonton meski memiliki naskah lemah, bahkan untuk standar komedi romantis generik.
Reza memerankan Reuben, pewaris tahta sebuah stasiun televisi bernama WinTV, yang berambisi melahirkan acara berkualitas tanpa memedulikan rating. Sangat berlawanan dengan sang ayah, Gunadi (Bucek Depp), yang tak segan merumuskan program murahan demi mendulang keuntungan, termasuk acara kencan berjudul The Most Beautiful Girl in the World. Gunadi punya seorang penasihat spiritual bernama Agung (Indra Birowo), yang anehnya tak pernah terlihat memberinya nasihat spiritual.
Sementara Sheila Dara menjadi Kiara, asisten produser di WinTV yang hidup dalam kondisi finansial pas-pasan. Hanya sahabatnya, Dita (seperti biasa dihidupkan dengan energi tinggi oleh Dea Panendra), yang bisa jadi tempat Kiara berkeluh kesah. Sampai datanglah kesempatan ketika Gunadi mendadak meninggal, di mana Reuben menunjuk Kiara sebagai produser di acara baru yang ia buat demi memenuhi permintaan terakhir sang ayah.
Sedari obrolan pertama mereka yang lebih tepat disebut "perdebatan", Reza dan Sheila sudah menampakkan percik-percik romantisme yang membuat penonton tak sabar menunggu momen kala kebencian mereka bertransformasi jadi cinta. Keklisean arah penceritaan filmnya bukan lagi sesuatu yang perlu dipermasalahkan, melainkan dinantikan.
Reza yang dingin dan cenderung angkuh, Sheila yang tegas dan enggan memperlihatkan kelemahan, menciptakan kombinasi menyenangkan yang mendorong penonton untuk tidak memusingkan lubang-lubang dalam naskah buatan sang sutradara, Robert Ronny, bersama Ifan Ismail dan Titien Wattimena. Banyak kejanggalan bertebaran. Contohnya tatkala Kiara nampak risih melihat Reuben bermesraan dengan Helen (Jihane Almira), walau ia dan si bos belum sekalipun berbagi momen intim yang membuat kecemburuannya bisa dimengerti.
Misal soal sisi playboy yang Reuben miliki. Sifat tersebut sudah mengakar begitu parah, hingga ia tak ragu memacari salah satu peserta acara kencan WinTV yang berujung pada skandal. Tapi saat romansanya dengan Kiara mulai mekar, persoalan "Reuben adalah playboy" tidak pernah menjadi faktor yang memegang pengaruh. Alhasil sewaktu sifat itu coba dijabarkan, lalu kita diajak mengenali trauma dari masa lalu Reuben, tiada dampak emosi yang muncul.
Narasi yang klise sempat mendapat penyegaran begitu kisahnya berubah bentuk di pertengahan durasi, bertransformasi menjadi komedi romantis ala Swept Away, ketika Reuben dan Kiara terdampar berdua di pulau kosong. Masalahnya semua bergerak terlampau cepat di pulau tersebut. Bayangkan dua manusia ibukota, di mana salah satunya adalah anak orang kaya yang bahkan belum pernah makan di warteg, sudah bisa beradaptasi di alam liar, termasuk dengan mudah menangkap ikan bermodalkan tombak buatan sendiri, hanya dalam waktu dua hari.
Setidaknya The Most Beautiful Girl in the World berhasil menutup kisahnya dengan manis, lewat sebuah pemandangan yang berkat sensitivitas pengarahan Robert Ronny dan chemistry dua pemeran utamanya, mampu menebar romantisme tanpa memerlukan ledakan emosi yang berlebihan. Andai keseluruhan filmnya disusun dengan tingkat kepekaan serupa.
(Netflix)
REVIEW - BRIDGET JONES: MAD ABOUT THE BOY
Ketika banyak franchise yang telah mencapai film keempat mulai terkesan memaksakan keberlanjutannya, Bridget Jones justru sebaliknya. Mad About the Boy bukan cuma sekuel terbaik yang serinya miliki, juga tampil sebagai progresi natural dari ceritanya, yang akan terasa mewakili kehidupan mereka yang menua bersama sosok Bridget Jones di layar perak.
Naskahnya mengadaptasi novel ketiga Bridget Jones karya Helen Fielding yang memiliki judul sama, yang sewaktu diterbitkan pada 2013 lalu, memancing kontroversi akibat keputusannya membunuh karakter Mark Darcy. Versi filmnya melakukan hal serupa. Mark (Colin Firth) dikisahkan terbunuh kala menjalankan misi kemanusiaan di Sudan, meninggalkan Bridget (Renée Zellweger) bersama dua anak mereka.
Ketimbang sebatas alasan bagi Bridget terlibat dalam pencarian romansa lagi, naskah buatan Helen Fielding, Dan Mazer, dan Abi Morgan menjadikan kematian Mark sebagai cara mengeksplorasi realita individu paruh baya, yang mendapati hal-hal indah dalam hidup mereka perlahan berubah atau bahkan lenyap.
Demikianlah realita seiring pertambahan usia. Sehingga sesuatu yang masih tetap sama, seperti kehadiran Daniel (Hugh Grant) dalam hidup Bridget, akan terasa begitu berharga. Ada kehangatan melihat Daniel, yang masih seorang pemain cinta, kini menjadi salah satu sahabat terbaik Bridget 25 tahun pasca berupaya merebut hatinya.
Menyaksikan Mad About the Boy bak perjalanan menaiki mesin waktu untuk kembali ke era keemasan komedi romantis. Sebuah tontonan ringan yang menyelipkan pesan kehidupan tanpa harus terbebani melahirkan karya sarat isu. Mengamati proses Bridget menyadari bahwa ia pantas melanjutkan hidup, entah dengan kembali bekerja atau mencari cinta baru, memang terasa empowering, namun fokus utamanya tetaplah menciptakan hiburan romantis nan menggelitik.
Pengarahan Michael Morris mampu mengawinkan humor yang kelucuannya berbanding lurus dengan tingkat keabsurdan, dan momen-momen percintaan manis. Begitulah semestinya komedi romantis dirumuskan. Tengok saat filmnya mengganti peristiwa "meet-cute" dengan "meet-silly" lewat "adegan pohon" yang jadi pertemuan perdana Bridget dan Roxster (Leo Woodall).
Bridget mulai tertarik pada Roxster yang jauh lebih muda. Di lain pihak ada Scott Wallaker (Chiwetel Ejiofor), guru di sekolah anak-anaknya yang dikenal kaku dan galak. Sayang, elemen cinta segitiganya belum mampu menandingi dinamika Bridget-Mark-Daniel yang legendaris. Presentasinya bak sebatas obligasi memenuhi formula cinta segitiga yang wajib ada di film Bridget Jones. Penonton tak diberi alasan untuk meragukan bahwa akhirnya Bridget akan lebih memilih Scott.
Tapi Mad About the Boy tetap berhasil mempersembahkan penutup yang layak bagi perjalanan Bridget Jones. Hangat, emosional, menyenangkan. Renée Zellweger masih luar biasa memikat sebagai Bridget Jones si perempuan canggung, yang kadang nampak bodoh, namun tak jarang menampakkan kecerdasannya. Melihat Bridget yang menolak kehilangan senyum di tengah hantaman badai realita membuat saya turut memunculkan senyuman yang sama.
REVIEW - CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Puthut E.A., Cinta Tak Pernah Tepat Waktu buatan Hanung Bramantyo terasa begitu familiar. Bukan karena klise, tapi perihal kedekatan yang ceritanya bawa. Rasanya mayoritas dari kita pernah memakai "tunggu waktu yang tepat" sebagai jawaban atas beragam pertanyaan, namun tak pernah bisa mendefinisikan kapan sesungguhnya "waktu yang tepat" itu.
Protagonisnya bernama Daku (Refal Hady), yang seolah dipakai untuk menegaskan betapa personal karya ini bagi si pembuat, dan mungkin juga demikian di mata para penikmat. Meski pernah memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta, kini Daku malah cuma menulis novel pesanan, terjaga tiap dinihari merangkai kalimat yang bukan berasal dari hatinya.
Daku hanya terlalu betah berkutat dalam ketakutan. Dia takut bukunya takkan laku bila dibuat berdasarkan idealisme. Dia pun selalu enggan menemui ayah pacarnya, Nadya (Nadya Arina), karena takut didorong untuk segera menikah. Sewaktu akhirnya hubungan itu kandas, dan perempuan-perempuan lain seperti Anya (Carissa Perusset) yang mandiri hingga Sarah (Mira Filzah) si dokter asal Malaysia turut singgah di hidupnya, Daku pun terus terganjal ketakutan serupa.
Mungkin tidak ada sineas yang lebih memahami Yogyakarta dibanding Hanung. Tengok saat Daku menghabiskan waktu bersama rekan-rekannya, yang terdiri atas jajaran cameo figur dunia seni dan literatur seperti Agus Noor, Agus Magelangan, dan Butet Kartaredjasa. Bukan cafe modern nan mewah yang jadi latar, melainkan tempat lebih sederhana yang dapat menangkap "kegayengan" khas kotanya.
Tentu Hanung, yang turut menulis naskahnya bersama Haqi Achmad, juga paham betapa kenyamanan Yogyakarta kerap menjadi pisau bermata dua bagi masyarakatnya. Dia bisa mendamaikan, tapi juga bisa terlalu jauh membuai hingga membuat individu terlena. Jangankan tanggung jawab besar pernikahan, sebatas untuk bangun pagi saja Daku tak mau. Pertanyaan "Bagaimana kamu melihat hidupmu lima tahun ke depan?" pun kesulitan Daku jawab, karena ia enggan memusingkan masa depan. "Menunggu waktu yang tepat" pun bisa jadi sekadar alasannya untuk lari.
Salah satu destinasi Daku ketika lari adalah rumah orang tuanya (Slamet Rahardjo dan Dewi Irawan) di Rembang. Setiap si tokoh utama kembali ke kampung halaman, Hanung mengubah rasio filmnya menjadi 4:3 yang lebih sempit, guna menggambarkan bagaimana Daku mengurung diri dalam sangkar yang ia ciptakan sendiri.
Perjalanan Daku memahami takdir yang dibawa sang waktu akan terasa begitu menyakitkan (apalagi pasca hadirnya suatu tragedi), tapi tidak jarang pula ia tampil menggelitik lewat sentuhan humor yang terselip secara natural. Satu-satunya penghalang bagi narasinya untuk terbang lebih tinggi adalah, saat beberapa pesan yang diutarakan secara verbal oleh naskahnya, terdengar terlampau konservatif bila dikonsumsi oleh penonton masa kini (caranya memandang figur "perempuan idaman", perspektif terkait pernikahan, dll.). Wajar saja, mengingat novelnya telah berumur dua dekade.
Untunglah penampilan para pelakonnya tak pernah menyisakan kekecewaan. Terutama duo Dewi Irawan dan Slamet Rahardjo sebagai orang tua penyayang yang mampu membangun kedekatan dengan sang putra, dan tentunya Refal Hady yang membawa karakternya pelan-pelan merasakan betapa hidupnya banyak mendatangkan luka. Daku pun akhirnya menyadari, bahwa daripada menjadikannya sebagai alasan dalam kegagalan melangkah yang berujung mengombang-ambingkan kehidupan, lebih baik ia mengendarai aliran waktu, yang memberinya kendali atas hidup itu sendiri.
REVIEW - CAPTAIN AMERICA: BRAVE NEW WORLD
Sam Wilson (Anthony Mackie), seorang pria kulit hitam, kini jadi simbol bangsa setelah mengenakan seragam dan tameng Captain America, namun memilih bekerja di bawah Thaddeus "Thunderbolt" Ross (Harrison Ford), presiden kulit putih sekaligus mantan jenderal yang sama sekali jauh dari citra "pengayom keberagaman". Captain America: Brave New World punya potensi besar untuk menampilkan potret terkait kompleksitas wajah politik masa kini.
Sayangnya, naskah yang ditangani oleh lima penulis (Rob Edwards, Malcolm Spellman, Dalan Musson, Julius Onah, Peter Glanz) tampil mengecewakan akibat tak tahu pasti fokus mana yang hendak dikedepankan. Isu ras? Negara yang terpecah belah akibat politik? Tensi antar bangsa dengan kepentingan masing-masing? Atau proses personal sang protagonis meneruskan nama besar pendahulunya?
Langkah filmnya mengekspansi dua judul yang seolah jadi anak tiri MCU, yakni The Incredible Hulk (2008) dan Eternals (2021), sesungguhnya patut diapresiasi. Alkisah, pasca naik tahta sebagai Presiden Amerika Serikat, Ross berupaya membuktikan diri pada publik serta putrinya, Betty (Liv Tyler), bahwa ia sudah sepenuhnya berubah. Dipimpinnya proses menyatukan berbagai negara terkait pemanfaatan sumber daya (sebuah logam yang namanya sudah sangat familiar di budaya populer) di Pulau Celestial yang terbentuk dari jasad Tiamut.
Konflik pecah tatkala di sebuah pertemuan di Gedung Putih, Isaiah Bradley (Carl Lumbly) alias si "Captain America yang terlupakan" tiba-tiba melakukan penembakan terhadap sang presiden. Sam yang ingin membuktikan bahwa Isaiah tidak bersalah mesti melakukan investigasi, yang mempertemukannya dengan Samuel Sterns (Tim Blake Nelson), ilmuwan yang bermutasi setelah terkontaminasi darah Bruce Banner.
Kentara bahwa selaku sutradara, Julius Onah ingin meneruskan pendekatan Captain America: The Winter Soldier (2014) dengan memposisikan Brave New World lebih dekat ke ranah thriller politik ketimbang kisah superhero generik. Musik garapan Laura Karpman pun hadir sebagai pendukung visi sang sutradara, kala memperdengarkan alunan khas spionase di tengah obrolan antar karakternya.
Tapi naskahnya gagal mendukung niat baik tersebut. Tatkala jajaran pemainnya tampil baik Carl Lumbly memberi gambaran menyakitkan tentang individu yang menyimpan trauma pada penjara (baca: pria kulit hitam yang telah berulang kali dihancurkan oleh ketidakadilan penegakkan hukum negara), Anthony Mackie semakin memupuk karisma sebagai Captain America, dan Harrison Ford menguatkan bobot emosi filmnya terutama di paruh akhir kisahnya justru bergulir tanpa energi.
Sederhananya, Captain America: Brave New World punya alur yang membosankan. Selain kompleksitas yang luput diperdalam, sebagai thriller politik ia gagal tampil mencekam akibat ketiadaan urgensi. Penonton tidak diberi impresi bahwa protagonisnya harus berpacu dengan waktu, dan dampak mematikan telah menunggu apabila ia gagal. Sam dan Joaquin Torres (Danny Ramirez) hanya mondar-mandir mengumpulkan petunjuk tanpa ancaman berarti, dan ketika ada ancaman mencuat di tempat lain, keduanya bisa dengan cepat mendatangi sumber bahaya.
Padahal tersimpan potensi sedemikian besar di sini. Tidak perlu membahas masalah politik berskala internasional. Karakter Sam Wilson yang meneruskan identitas Captain America tanpa serum prajurit super, sehingga membuatnya kerap kepayahan meski cuma menghadapi segerombolan prajurit manusia, sudah menjadi modal menarik. Tapi sekali lagi, naskahnya bak kebingungan melakukan proses penggalian.
Setidaknya pertarungan Captain America melawan Red Hulk yang dijadikan materi jualan utama, walau tidak berlangsung lama dan telah mengungkap money shot-nya di trailer, mampu menjadi highlight di babak ketiga. Sebuah pertarungan brutal bak konfrontasi David dan Goliath, yang memaksa Sam terdesak ke batas kemampuannya.
Tidak ada yang benar-benar berantakan dalam cara Julius Onah mengarahkan aksi, namun ia belum mampu menerjemahkan gaya bertarung Captain America dengan lemparan tamengnya yang lincah. Kesan dinamis yang harusnya hadir, dilenyapkan oleh penyuntingan yang terlampau ekstrim dan artificial. Tidak buruk, tapi (sama seperti keseluruhan filmnya) generik.
REVIEW - SING SING
Banyak cara digunakan untuk merendahkan seni dan para pelakunya. Seniman secara umum kerap dianggap sebagai pemberontak tanpa masa depan, laki-laki yang menekuni balet bakal diragukan maskulinitasnya, hingga bagaimana aktor dicap "ahli berbohong". Mengadaptasi buku non-fiksi The Sing Sing Follies karya John H. Richardson, Sing Sing mengajak penonton membuka mata soal kekuatan seni sebagai ekspresi diri, yang acap kali jadi obat paling mujarab bagi penyakit hati.
"Sing Sing" adalah nama lembaga pemasyarakatan yang jadi panggung bagi cerita filmnya. John "Divine G" Whitfield (Colman Domingo) merupakan salah satu tahanan paling dihormati di sana berkat kontribusinya menginisiasi Rehabilitation Through the Arts (RTA), sebuah program yang menggunakan teater selaku medium rehabilitasi untuk para tahanan.
Divine G adalah figur nyata. Sosok aslinya muncul sebagai cameo, memerankan seorang napi yang meminta Divine G menandatangani bukunya. Tapi bukan dia seorang mantan narapidana yang tampil di sini. Mayoritas pemeran pendukungnya adalah alumni RTA, termasuk Clarence "Divine Eye" Maclin yang menjadi dirinya sendiri.
Sekilas, Divine G dan Divine Eye adalah dua kutub berseberangan. Jika Divine G senantiasa bersikap ramah serta berpikiran positif, Divine Eye cenderung agresif. Ketika Divine G meyakini kekuatan seni sebagai media terapi, Divine Eye menganggap semuanya tanpa arti. Tapi Divine G tetap mengajaknya bergabung ke dalam RTA, karena ia sadar bahwa sesungguhnya Divine Eye menyimpan ketertarikan terhadap seni dan literatur, namun memilih menyembunyikannya karena enggan terkesan "tidak gangsta".
Sampai lambat laun, dinamika cinta-benci mulai tumbuh di antara keduanya. Meski secara tulus ingin membantu Divine Eye memperbaiki diri, kecemburuan sedikit demi sedikit hadir di hati Divine G, yang notabene termasuk salah satu pendiri RTA. Sosoknya amat dihormati, sampai sang sutradara pementasan, Brent (Paul Raci), tidak mempermasalahkan kala Divine G berulang kali menginterupsinya.
Tapi ketika dilakukan diskusi untuk memilih naskah apa yang hendak dipentaskan, forum justru menyetujui gagasan Divine Eye memainkan komedi alih-alih memakai naskah drama Divine G. Bahkan Divine Eye berujung mendapatkan peran incaran Divine G. Kondisi serupa terjadi di luar konteks teater, kala keduanya sama-sama mengajukan permohonan pembebasan bersyarat.
Divine G yang tadinya bak dewa di langit ketujuh mendadak jatuh ke tanah dan mempertanyakan arti dirinya. Colman Domingo begitu baik menampilkan dua sisi Divine G: sebagai figur karismatik dengan suara berat yang mendorong orang untuk mematuhinya, juga individu rapuh yang perlahan meragukan makna dari segalanya. Di sisi lain, Clarence Maclin menghadirkan keotentikan sebagai pria yang kesulitan mengendalikan letupan emosi di tengah prosesnya mencari penebusan dosa.
Kesan otentik memang sesuatu yang diutamakan oleh Greg Kwedar selaku sutradara. Ketimbang memanipulasi, dia lebih berupaya memotret situasi, yang berujung melahirkan realisme emosional di tengah penceritaan dengan pacing rapi miliknya. Satu-satunya keluhan mungkin ditimbulkan oleh begitu gampang sekaligus instan cara yang filmnya pakai guna menyelesaikan sebuah konflik besar di paruh akhir, tatkala sang protagonis terjatuh ke dalam titik terendahnya.
Sing Sing berhasil tampil menyentuh bukan karena pemandangan memilukan yang dibuat-buat atau momen emosional dengan luapan emosi besar-besaran, melainkan dari caranya mengingatkan penonton bahwa selalu ada cara untuk mengeluarkan diri dari jurang kegelapan. Para karakternya menolong diri mereka lewat akting. Latihan seni peran memberikan kebebasan menjadi siapa pun, pula berada di mana pun, berkat kekuatan imajinasi yang dapat menembus tembok penjara setebal apa pun.
REVIEW - I'M STILL HERE
Mereka berbaris di sepanjang jalan, mengenakan seragam dengan penuh kebanggaan. Masing-masing menenteng senapan yang menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya tak terkalahkan. Satu per satu mobil mereka hentikan, lalu tiap penumpang diseret paksa ke bahu jalan untuk dipersekusi dengan kedok "interogasi". Mereka adalah angkatan bersenjata Brazil, yang alih-alih memberi rasa aman justru menebar ketakutan, dan bukannya menjaga malah menghilangkan nyawa.
I'm Still Here dibuat berdasarkan memoar berjudul sama buatan Marcelo Rubens Paiva, yang merekam kehidupan keluarganya di era 70-an, tatkala Brazil berada di bawah cengkeraman kediktatoran militer. Ketika itu Marcelo (Guilherme Silveira) masih bocah, dan belum mengerti betapa mencekam kondisi negerinya. Dia memiliki empat saudara perempuan: Vera (Valentina Herszage), Eliana (Luiza Kosovski), Nalu (Barbara Luz), dan si bungsu, Maria (Cora Mora).
Ayah Marcelo, Ruben Paiva (Selton Mello), adalah mantan anggota kongres yang sempat hidup terasing pasca kudeta militer tahun 1964. Dia kerap menerima telepon entah dari siapa dan membicarakan apa. Sang istri, Eunice (Fernanda Torres), menyadari itu namun memilih untuk tak ambil pusing, dan menikmati kehidupan damai yang keluarganya jalani.
Dibantu tata kamera arahan Adrian Teijido, Walter Salles selaku sutradara membungkus banyak titik filmnya bak rekaman home video. Visual grainy jadi pilihan, pun ada kalanya shaky cam ala mockumentary dipakai. Bahkan di sebuah momen, salah satu karakternya menari sambil menatap ke arah kamera walau tidak ada karakter lain yang sedang merekam video.
Mungkin kitalah yang memegang kamera. Mungkin Salles ingin membuat penonton merasa terlibat langsung agar filmnya terkesan lebih intim. Menonton I'm Still Here memang seperti berada di tengah interaksi karakternya, yang banyak mengadakan pesta, entah di rumah, pantai, hingga jalanan komplek. Banyak tawa bahagia, sampai semuanya berubah 180 derajat sewaktu sekelompok orang tak dikenal membawa Rubens pergi untuk diinterogasi terkait perihal yang dirahasiakan.
Itulah kali terakhir Eunice melihat wajah suaminya. Tanpa pelukan hangat, tanpa salam perpisahan penuh cinta. Hari itu, Rubens Paiva dihilangkan oleh negara. Sesekali Salles mengajak kita menyimak televisi untuk tahu bahwa hilangnya Rubens telah menjadi berita internasional. Tapi filmnya dijaga supaya tetap tampil intim. Salles enggan mengeskalasi skala filmnya, dan terus dipresentasikan sebagai cerita personal dalam lingkup keluarga.
Fokus utama terletak pada proses Eunice memproses hilangnya sang suami. Eunice mampu memperbaiki boneka putrinya, tapi bisakah ia menambal lubang yang muncul di keluarganya selepas ketiadaan Rubens? Pelan tapi pasti, Eunice dihantam oleh pemahaman bahwa kemungkinan ia takkan bertemu sang suami lagi, dan Fernanda Torres begitu piawai mengupas emosinya sedikit demi sedikit. Sang aktris bukan berakting layaknya ledakan, melainkan sengatan-sengatan kecil yang perlahan meninggalkan luka.
Ketika di penghujung durasi filmnya melakukan dua kali perpindahan linimasa (1996 dan 2014), kita pun diajak menyadari kepiluan dalam hati individu yang ditinggalkan. Para pemegang kuasa mampu melenyapkan sosok tercinta dalam hidup Eunice, tapi tidak dengan memori tentangnya. Eunice menolak untuk lupa.
REVIEW - A BUSINESS PROPOSAL
Sungguh disayangkan saat adaptasi dari webtoon The Office Blind Date karya HaeHwa ini, yang juga sempat diangkat menjadi drakor populer berjudul Business Proposal pada 2022 lalu, akan lebih diingat karena kontroversi di balik layarnya. Padahal A Business Proposal termasuk salah satu adaptasi yang bisa mengulangi pengalaman menyenangkan saat menikmati materi asalnya. Singkatnya, sebuah komedi romantis yang manis.
Garis besar ceritanya masih sama. Sari (Ariel Tatum), seorang karyawan perusahaan makanan, mendatangi kencan buta dengan berpura-pura menjadi sahabatnya, Yasmin (Caitlin Halderman), yang malah membawanya bertemu dengan bos barunya, Utama (Abidzar Al Ghifari). Yasmin sendiri justru terpikat pada Satrio (Ardhito Pramono), adik Utama.
Naskah buatan Adhitya Mulya memang terlihat ingin sebisa mungkin mempertahankan seluruh aspek penceritaan drakornya. Tentu ada harga yang mesti dibayar dari upaya memadatkan drama 12 jam menjadi film 117 menit. Di beberapa titik termasuk konklusinya, A Business Proposal bergerak buru-buru, dan sebatas "menampilkan" tanpa mampu "mendalami" barisan masalah yang ada.
Setidaknya para penggemar takkan merasa tontonan favorit mereka dipermak habis-habisan. Mungkin perlu waktu bagi filmnya untuk menemukan pijakan, tapi selepas melewati babak pertama, romansa yang sempat serba kaku mulai terasa manis, pun humor yang tadinya hambar akibat lemahnya timing pengadeganan perlahan menemukan efektivitas dalam memancing tawa. Seperti dua sejoli yang awalnya canggung tatkala baru berkenalan, sebelum akhirnya menemukan keserasian selepas beberapa waktu memadu kasih.
Membicarakan humor tak bisa lepas dari penampilan Caitlin Halderman yang menggila, di mana sang aktris sanggup mengubah materi sesederhana apa pun menjadi kekonyolan luar biasa. Caitlin mendefinisikan istilah "scene stealer" berkat kemampuannya mengolah segala jenis amunisi (verbal, gestur, ekspresi), yang bahkan membuat meet cute antara Yasmin dan Satrio terasa lebih memikat dibanding pertemuan dua tokoh utamanya.
Bukan berarti Ariel Tatum dan Abidzar tampil buruk. Chemistry keduanya terjalin apik, pun sebagai individu, mereka membawa kekuatan yang serupa. Baik Ariel maupun Abidzar sama-sama mengedepankan pendekatan natural. Ariel tidak dibuat-buat dalam menghidupkan sosok gadis canggung, Abidzar pun enggan bertingkah sok ganteng (sesuatu yang kerap menjebak banyak aktor medioker kala memerankan figur eksekutif muda).
Menarik pula melihat karakter Utama digambarkan tidak sekejam Kang Tae-moo di versi drakor. Sebuah pilihan bijak dari naskahnya, mengingat berbeda dengan 12 episode drakor, keterbatasan durasi film bakal menyulitkan tersajinya transformasi natural dari si karakter. Meski di lain pihak, naskahnya juga lalai menjustifikasi hal-hal "menyeramkan" yang sempat Utama lakukan terhadap para karyawan kantor (yang ternyata begitu ia pedulikan) di awal kemunculannya.
Eksekusi dramanya, biarpun diganggu oleh penuturan yang tergesa-gesa, masih memunculkan kehangatan di beberapa kesempatan (Sari yang berusaha menguatkan Utama di tengah guyuran hujan yang mendatangkan trauma, flashback masa lalu Utama dan Satrio, kedekatan Sari dengan keluarganya). A Business Proposal memang menyisakan beberapa kelemahan, tapi ia jelas layak mendapat reputasi yang lebih baik.
REVIEW - SECRET: UNTOLD MELODY
Secret: Untold Melody adalah remake dari Secret (2007), film Taiwan karya Jay Chou, yang hadir pada masa di mana romansa yang membalut dirinya dengan fantasi untuk menegaskan betapa cinta bisa meruntuhkan kemustahilan, sedang ada di puncak popularitas. Sekarang, hampir dua dekade berselang, tatkala penonton sudah jauh lebih kritis dalam menanggapi keabsurdan kisah yang tak jarang menyisakan lubang, apakah formula tersebut masih efektif?
Kim Yu-jun (Do Kyung-soo) si jenius dalam permainan piano memilih pulang ke Korea Selatan selepas meniti karir di Jerman untuk meneruskan studi di sekolah musik. Di sanalah ia bertemu Yoo Jung-a (Won Jin-ah), gadis misterius yang berbagi kecintaan serupa terhadap musik klasik dan alunan piano. Di sisi lain, Park In-hee (Shin Ye-eun), teman sekelas Yu-jun, juga diam-diam menaruh hati padanya.
Yu-jun dan Jung-a kerap bertemu dalam salah satu ruangan di sekolah yang tak lagi digunakan, tempat disimpannya sebuah piano tua. Seo Yoo-min selaku sutradara membungkus interaksi dua tokoh utamanya dengan suasana khidmat. Minim musik, pun tata kamera arahan Yang Hyun-suk lebih banyak diam. Hanya departemen visual yang rutin unjuk gigi melalui rangkaian gambar manis, dari warna-warni balon yang melayang di angkasa, hingga dedaunan di pohon yang mulai memerah sebagai latar dua karakter utamanya memadu kasih.
Lain cerita ketika Yu-jun dan Jung-a berduet memainkan piano untuk kali pertama. Kamera yang tadinya berdiam diri mendadak bergerak liar, seolah mewakili degup jantung keduanya yang mengencang, seiring hadirnya cinta yang mulai menyerang. Pendekatan serupa dipakai saat Yu-jun berpartisipasi dalam sebuah adu permainan piano, yang dilakoni secara meyakinkan pula oleh Kyung-soo. Muda bagi penonton untuk percaya bahwa karakternya memang seniman muda berbakat.
Sedangkan dari Won Jin-ah, kita dibuat percaya kalau Jung-a menyimpan rasa cinta yang luar biasa besar. Pertemuan dengan Yu-jun membahagiakannya, sementara tiap perpisahan bak menghancurkan hidupnya. Sosoknya menyimpan misteri yang bakal jadi daya tarik utama bagi penonton yang masih asing dengan film aslinya. Misteri yang secara cerdik beberapa kali menggiring asumsi penonton menuju tebakan yang keliru, mengecoh kita terkait kebenaran di balik identitas Jung-a.
Momen hangat juga acap kali dimunculkan oleh obrolan Yu-jun dan sang ayah, Kim Seung-ho (Bae Seong-woo), yang tak jarang tampil menggelitik. Seung-ho adalah tipikal orang tua yang paham betul cara mendekatkan diri dengan dunia sang anak, di mana canda tawa lebih banyak ia lontarkan ketimbang nasihat menggurui, yang disampaikan hanya ketika benar-benar diperlukan.
Sayang, paruh akhir yang menyimpan eksposisi mengenai misteri serta elemen fantasinya berjalan kurang mulus. Pertama karena upaya mencurangi penonton dalam twist-nya, yang muncul akibat terjadinya "interaksi" antara Jung-a dan In-hee di adegan pertandingan piano. Kedua, konklusinya meninggalkan kesan yang menghalangi niatan naskahnya untuk mengakhiri kisah di nada bahagia (sulit menampik pemikiran bahwa hanya ada kesulitan dan kepedihan menanti protagonisnya, terutama Yu-jun, selepas keputusannya di akhir).
Mungkin selepas hampir dua dekade berlalu, bumbu fantasi setengah matang ala Secret tidak lagi seefektif dulu. Tapi jika melihatnya sebagai romansa sederhana yang ditujukan untuk memunculkan senyum di bibir penonton, film ini mampu mencapai destinasinya. Secret: Untold Melody mengingatkan pada kebahagiaan kala membuka mata di pagi hari dan pasangan tercinta menjadi sosok pertama yang kita lihat parasnya.
REVIEW - NOSFERATU
Beberapa waktu lalu publik baru dirundung duka akibat kepergian David Lynch, yang meninggalkan setumpuk ilmu tak ternilai bagi dunia sinema. Melalui Nosferatu, Robert Eggers menunjukkan bahwa mungkin saja dialah penerus sahih dari prinsip-prinsip Lynchian. Bukan perihal surealisme, tapi bagaimana sang sineas mendesain karyanya bagaikan mimpi buruk.
Semasa muda, Ellen (Lily-Rose Depp) yang dihantui kesepian memimpikan kedatangan "malaikat pelindung". Dia pun memanggil ke arah kelam malam, dan segera menerima jawaban, namun bukan dari malaikat, melainkan iblis pengisap darah bernama Count Orlok alias Nosferatu (Bill Skarsgård). Beberapa tahun berselang, Ellen menikahi Thomas (Nicholas Hoult) dan berusaha hidup sebagai pasutri yang bahagia.
Masa lalu Ellen dan Count Orlok memberi pembeda dengan film aslinya, Nosferatu A Symphony of Horror (1922) yang merupakan adaptasi tak resmi dari novel Dracula karya Bram Stoker. Ketika Thomas bertugas mendatangi kastil Count Orlok dengan tujuan menyerahkan surat kontrak pembelian tanah, itu bukanlah kebetulan sial melainkan perwujudan akal bulus iblis guna menarik manusia menuju lembah kegelapan.
Kisahnya bukan lagi tentang vampir yang terobsesi pada pandangan pertama pada perempuan yang hanya ia kenal lewat foto. Lebih dari itu, Eggers yang turut menulis naskahnya, menjadikan Nosferatu sebagai representasi upaya individu beranjak dari hubungan destruktif yang pernah mengurungnya di masa lalu.
Apakah Ellen bakal berserah pada hasrat gelap yang bersemayam dalam dirinya, atau beranjak bangun lalu melangkah ke arah cahaya? Eggers memandang kebiasaan para vampir seperti Count Orlok untuk beraksi di tengah kegelapan sembari menghindari matahari layaknya mimpi buruk yang menghantui orang-orang di malam hari. Alhasil, Nosferatu juga dikemas demikian.
Berbagai departemennya, dari pengadeganan Eggers serta sinematografi garapan Jarin Blaschke yang atmosferik, hingga penyuntingan dari Louise Ford yang tak jarang mempermainkan persepsi penonton akan realita, menciptakan pengalaman dreamlike. Nosferatu ibarat romantisasi bunga tidur, yang kerap dideskripsikan oleh karakternya memakai barisan kalimat puitis indah bernuansa Shaekespearean, bahkan di saat ia mendatangkan ketakutan bahkan kematian.
Dibanding karya-karya sang sineas sebelumnya, Nosferatu adalah film Eggers yang paling "bersahabat", karena eksistensi berbagai formula khas horor arus utama seperti jumpscare, teror dalam mimpi, hingga momen saat sang protagonis mengalami kesurupan sembari kayang. Terdengar familiar, tapi tidak pernah menjadi generik berkat pendekatan yang sang sutradara pakai.
Jajaran pemainnya tidak kalah luar biasa. Bill Skarsgård memodernisasi figur Count Orlok, hingga alih-alih monster tanpa akal, ia lebih nampak seperti sesosok tiran keji nan menyeramkan. Memerankan Albin Eberhart von Franz yang berstatus karakter orisinal, Willem Dafoe kembali memamerkan kesintingan magnetis yang senantiasa mencirikan gaya aktingnya. Tapi Lily-Rose Depp, berbekal kemampuan menangani emosi serta kehebatan mengolah gerak tubuh, membuatnya jadi penampil terbaik.
Perhatikan saat Ellen perlahan hendak memasuki fase trance yang kerap ia alami sejak kepergian sang suami. Tubuhnya bergetar hebat, dan Lily-Rose membuat kita meyakini bahwa gerakan itu merupakan sesuatu yang berada di luar kendalinya. Ellen terkekang dalam kontrol sang iblis, sebelum klimaksnya menampilkan power play yang menggambarkan proses seorang perempuan merebut kendali atas dirinya (termasuk seksualitasnya), sedangkan si laki-laki hancur akibat tak kuasa mengendalikan hasratnya. Saat itulah protagonisnya terbangun dari mimpi buruk.
REVIEW - COMPANION
Companion bukan film yang akan menjadi primadona di antara horor rilisan 2025. Dia takkan memantik pembicaraan mengenai bagaimana "film genre" dipandang sebelah mata di musim penghargaan, tidak pula berpeluang hadir dalam "daftar terlaris". Tapi presentasi 97 menitnya mengingatkan soal kapasitas genrenya perihal menciptakan tontonan menyenangkan yang digarap singkat dan ringan, tanpa membebani diri untuk menjadi lebih bisa dari apa yang dibutuhkan.
Bukan berarti karya orisinal milik Drew Hancock (melakoni debut sebagai sutradara dan penulis naskah untuk layar lebar) ini hanya produk kosong. Jauh dari itu. Bagaimana laki-laki misoginis cuma memandang pasangan (baca: perempuan) bak alat pemuas nafsu yang bisa diatur sesuai keinginan jadi persoalan yang menambah bobot penceritaan. Tapi Companion mengingatkan bahwa film dengan isu berat tidak melulu harus tampil berat pula.
Semua dibuka sebagaimana liburan normal sepasang kekasih biasa, saat Josh (Jack Quaid) mengajak Iris (Sophie Thatcher) menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sebuah kabin terpencil. Di sana ada Eli (Harvey Guillén) dan pacarnya, Patrick (Lukas Gage); Kat (Megan Suri) yang kerap bersikap kurang ramah pada Iris; juga Sergey (Rupert Friend) si pria Rusia eksentrik, yang juga pemilik kabin sekaligus pacar Kat.
Sejak awal, lewat barisan voice over, Iris sudah memberitahukan pada penonton bahwa kelak Josh, sang kekasih yang amat ia cintai, bakal tewas di tangannya. Bagaimana bisa? Pagi hari indah di pinggir danau tatkala Iris duduk berdua bersama Sergey jadi penyulut efek domino sarat pertumpahan darah yang turut mengungkap setumpuk rahasia kelam.
Rahasia pertama: Iris adalah robot seks yang tak menyadari identitas aslinya. Dia diprogram hanya untuk melayani apa pun keinginan si pemilik. Tapi ketimbang "diprogram", kata "dimanipulasi" mungkin lebih pas untuk menggambarkan perlakuan yang Iris terima. Manusia begitu kejam hingga robot pun dimanipulasi sedemikian rupa guna memenuhi nafsu mereka.
Rahasia kedua: Josh bukan kekasih baik seperti perkiraan Iris. Dia diberi kebebasan mengatur tingkat kecerdasan Iris melalui aplikasi, dan memberinya kecerdasan rendah. Josh merepresentasikan golongan laki-laki misoginis yang tidak mau memiliki pasangan dengan inteligensi tinggi. Dia hanya menginginkan barang yang dapat dimanfaatkan.
Selepas rahasia pertama terungkap, seiring Josh dan teman-teman memandang Iris sebagai monster mengerikan, si gadis yang masih terguncang pasca mendapati hidupnya hanya kepalsuan, memilih kabur sebelum nantinya memutuskan membalas dendam. Aksi kucing-kucingan pun terjadi, dan Drew Hancock membungkusnya dengan ringan.
Sangat ringan, singkat, pula bergerak cepat tanpa basa-basi. Companion bukan tontonan menegangkan yang bakal menggedor jantung penonton. Sebaliknya, kita cenderung diajak bersantai menikmati eksplorasi isu gender berbalut teknologi miliknya yang tetap tajam tanpa harus tampil terlampau rumit, sembari dihibur oleh selipan humor yang punya efektivitas tinggi meski muncul lebih sering dari dugaan. Penghormatan terhadap Terminator 2: Judgment Day (1991) yang dapat ditemukan lewat bagaimana salah satu karakternya digambarkan (nama, pakaian, penokohan) pun menambah bumbu penyedap.
Sophie Thatcher bermain luar biasa. Ada kalanya dari senyuman maupun gerak-geriknya, sang aktris memperlihatkan kecanggungan menggelitik sebagai "sosok yang mempertanyakan kemanusiaannya". Tapi tidak jarang kecanggungan itu memancarkan pilu, terutama saat Iris menyadari bahwa ia merupakan korban hubungan toxic, yang kesulitan menghapus rasa cinta terhadap sang kekasih walau logika sudah berkata sebaliknya. Tapi terpenting Thatcher juga membawa ketangguhan kala akhirnya Iris telah memantapkan hati untuk melangkah sebagai individu yang merdeka dari ketergantungan destruktif.

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)





%20(1).png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar