Tampilkan postingan dengan label Garin Nugroho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garin Nugroho. Tampilkan semua postingan

REVIEW - A PERFECT FIT

Pertemuan tak sengaja yang diawali oleh ramalan, percintaan yang terhalang takdir dan kehendak keluarga, sosok orang ketiga yang jauh lebih baik dari sang kekasih, semua adalah formula pokok, bahkan bisa disebut klise, dalam kisah romansa. Tokoh utama A Perfect Fit pun menyadari, nasibnya serupa dengan keklisean film. 

Kata "klise" memang jarang disebut bersamaan dengan nama Garin Nugroho, yang menulis naskah A Perfect Fit, sementara Hadrah Daeng Ratu menjadi sutradara. Tapi patut diingat, belum lama ini Garin juga menulis naskah untuk 99 Nama Cinta (2019) buatan Danial Rifki. Sebuah film religi pop, yang menghadirkan sudut pandang berbeda, pula jauh lebih baik bila dibanding rekan-rekan sejawatnya. Mungkinkah A Perfect Fit bernasib sama?

Mengambil latar Bali yang identik dengan spiritualitas, Garin berupaya menautkan romansanya ke elemen tersebut. Bagaimana pertemuan dua insan merupakan wujud restu semesta, lalu sebaliknya, perpisahan (disebabkan ketidakcocokan weton misalnya) terjadi karena alam tidak mendukung. Sehingga saat Saski (Nadya Arina) diramal bakal menemukan "jalan baru" oleh Bu Hadrah (Christine Hakim), ramalan itu dimaknai sebagai perwakilan suara semesta.

Alhasil, sewaktu Saski berhenti di sebuah toko sepatu, sementara kamera menyorot sajen yang terletak di depannya, itu nampak bak kehendak alam, bukan kebetulan biasa. Kebetulan, Saski memerlukan sepatu baru guna menghadiri perayaan ulang tahun pacarnya, Deni (Giorgino Abraham). Rio (Refal Hady) selaku pemilik toko memilihkan sepasang sepatu, beralasan bahwa sepatu itu "sesuai dengan karakter Saski". Kenapa? Sayangnya tidak dijelaskan. Padahal penjabaran terkaitnya, akan memperkuat pemaknaan soal "a perfect fit".

Bisa ditebak, Saski dan Rio saling jatuh cinta, di saat sebenarnya, mereka telah "ditakdirkan" untuk bersama orang lain. Saski dan Deni telah bertunangan, pun Rio hendak dijodohkan dengan teman lamanya, seorang pebisnis sukses bernama Tiara (Anggika Bolsterli). Kita pun diajak menghabiskan paruh pertama, menyaksikan berkembangnya hubungan "terlarang" Saski dan Rio yang mulai diam-diam bertemu.

Apa yang menyenangkan dari A Perfect Fit (yang membuatnya bisa disebut "A Perfect Flirt) adalah aktivitas saling goda dua tokoh utama. Dua manusia yang sudah mengetahui perasaan satu sama lain, namun karena menyadari bahwa rasa itu tidak semestinya tumbuh, alih-alih mengutarakannya secara gamblang, mereka cuma saling melempar "tanda". Tidak hanya percintaan manis, sexual tension (salah satu ciri khas Garin) pun tersirat di antara mereka. That's what a fun affair feels like in real life. 

Refal Hady makin berkarisma, memudahkan kita mendukung kemenangannya, pula mampu mengatasi beberapa rayuan gombal "puitis" yang tak jarang terdengar menggelikan (satu lagi ciri khas Garin, namun kali ini terasa tidak cocok diterapkan di sini). Sedangkan penampilan loveable Nadya Arina membuat saya berharap suatu hari ia mendapat peran di film komedi romantis. Sebelumnya ia pernah bermain di Love Reborn (2018), namun karakternya di situ cenderung serius. Begitu kuat dan menyenangkan chemistry Refal-Nadya, filmnya mengalami penurunan kualitas kala keduanya lebih sering berpisah di paruh kedua.

Proses pertunangan mereka terus berjalan, yang semestinya menambah dilema, tapi sayangnya A Perfect Fit terjebak dalam keklisean, di mana lawan asmara tokoh utama digambarkan sebagai antagonis. Beni adalah anak orang kaya sombong nan manja, pun Tiara merupakan bos yang semena-mena. Sebuah simplifikasi, yang membuat second act-nya melelahkan, sebab selain sudah mengetahui hasilnya, penonton tidak perlu terjebak dalam dilema dua protagonis. Kita tidak perlu ikut repot menentukan pilihan. 

Mungkin Garin ingin menyelipkan kritik terhadap kekejaman kapitalisme yang diusung pengusaha rakus, yang mana sah saja, tapi mengapa mesti keduanya diberi penokohan tersebut? Khususnya Tiara, apalagi saat akhirnya kita diajak bersimpati padanya. Tanpa menjadikannya pengusaha keji, itu akan sepenuhnya berhasil, sebab Anggika Bolsterli, setelah absen hampir dua tahun (terakhir muncul di Eggnoid yang rilis Desember 2019), membuktikan bahwa ia masih pantas berada di jajaran aktris muda papan atas lewat kapasitasnya bermain emosi.

Kekurangan-kekurangan A Perfect Fit memang terkumpul di babak keduanya. Di penulisan, ada inkonsistensi terkait pesan, ketika di satu sisi Garin seolah ingin mengkritik seksisme dalam praktik pengecekan keperawanan di malam pertama, namun di sisi lain, malah memunculkan kalimat mengenai "perempuan harus menerima kodratnya". Di penyutradaraan, Hadrah yang karirnya mengkhawatirkan pasca membesut horor-horor produksi Baginda KKD, membuktikan masih punya sensitivitas menangani romantisme. Meski pada sebuah momen, gayanya terasa kurang cocok menerjemahkan naskah khas Garin. 

Adegan yang dimaksud adalah sewaktu ibu Saski (Ayu Laksmi) yang mengalami sakit parah, melakukan gerakan pernapasan, sementara suaminya (I Made Sidia) membaca mantra/doa. Jika ditangani sendiri oleh Garin, kemungkinan besar musik tradisional bakal digunakan. Hadrah memakai orkestra mendayu, yang justru melucuti spiritualitas adegannya. Beruntung, setelah deretan kelemahan-kelemahan di atas, A Perfect Fit mampu menutup penceritaan secara romantis, lagi-lagi berkat kombinasi manis Refal Hady dan Nadya Arina. 


Available on NETFLIX

99 NAMA CINTA (2019)

99 Nama Cinta membuktikan jika film bernapas religi cenderung tampil lebih baik bila digarap oleh figur yang tidak “mabuk agama”. Mungkin anda tidak menyangka, tapi Garin Nugroho merupakan penulis naskah dalam karya teranyar sutradara Danial Rifki (Haji Backpacker, Meet Me After Sunset) ini. Walau jauh dari sempurna, damai rasanya mendapati di sini tidak ada kesan memaksa, menghakimi, menyudutkan, apalagi mengafirkan. Bahkan di akhir cerita, protagonisnya tak perlu terdorong mengenakan jilbab selaku bentuk “menemukan iman”.

Protagonis yang dimaksud bernama Talia (Acha Septriassa), pembaca acara gosip televisi dengan rating tinggi berjudul Bibir Talia. Prinsip “semua cuma bisnis, jangan bawa perasaan” diusung Talia. Baginya, kesuksesan program merupakan hal utama, sedangkan sisi kemanusiaan dan moralitas jadi nomor kesekian. Talia tidak ragu menjebak narasumber, mengadakan wawancara tanpa persetujuan demi rating. Talia tidak melangkah di jalan Allah, itu pasti.

Sampai datang ustaz muda misterius, mengaku diperintah oleh ibunda Talia (Ira Wibowo) agar mengajarinya mengaji. Kiblat (Deva Mahenra) nama sang ustaz. Rupanya ia putera Kiai Umar (Donny Damara), kawan lama orang tua Talia, yang dahulu menerima bantuan kala mendirikan pondok pesantren. Kedatangan Kiblat didasari atas janji Kiai Umar membalas budi dalam bentuk pembagian ilmu.

Sekilas 99 Nama Cinta tak ada bedanya dengan film religi kebanyakan. Dua sejoli berlawanan sikap saling jatuh cinta, lalu akhirnya si alim mampu menggiring si biang maksiat menemukan hidayah. Naskah buatan Garin tetap bermuara ke sana, namun proses beserta segala pernak-perniknya jadi pembeda. Melihat penggambaran Kiblat sebagai ulama muda berparas rupawan berpenampilan modis, Garin ingin menjauhkan dakwah Islam dari kekakuan.

Berpijak pada niatan tersebut, dihadirkanlah karakter Husna (Chicki Fawzi), ustazah muda lulusan universitas Korea Selatan yang mengajar di pondok pesantren Kiblat lewat media musik. Membawa ukulele, Husna bernyanyi di kelas sembari menuturkan bahwa dulu Wali Sanga menyebarkan Islam melalui musik. Bagi yang familiar dengan karya Garin, tentu tahu hal ini selaras dengan kegemarannya menyelipkan elemen kesenian sebagai penguat narasi.

Hubungan Talia dan Kiblat tidak langsung berjalan mulus mengingat keduanya amat berlawanan. Si wanita membawakan acara gosip, sedangkan si pria mengajarkan buruknya aktivitas bergosip kepada para murid. Di film lain, saya yakin Kiblat bakal mengonfrontasi Talia, terang-terangan menghakimi profesinya.Tapi tidak di sini. Kiblat adalah sosok toleran. Menyuarakan itu di kelas merupakan bentuk pelaksanaan kewajiban selaku guru agama, namun di depan Talia, ia enggan melarang, meski tak membenarkan juga. Dan baik Kiblat maupun Kiai Umar tak sekalipun menyuruh Talia beribadah.

Semua perubahan murni terjadi atas kesadaran Talia sendiri, yang bermula saat ia dipindahtugaskan mengurus kuliah subuh yang punya rating buruk dan dipandang sebagai acara buangan akibat sebuah kasus. Talia dipusingkan kala mendapati betapa membosankan program tersebut. Para penonton di studio tertidur, dan ketika dievaluasi, sang ustaz pengisi acara (Dedi “Miing” Gumelar) justru berkata “Acara keagamaan memang berat”. Bagaimana bisa muncul ketertarikan memperdalam agama bila ulama berpikiran demikian? Kita pun dapat menebak apa strategi yang dipilih Talia.

Terkait unsur religi, 99 Nama Cinta tampil memuaskan, bahkan termasuk salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Masalah justru timbul di luar itu. Beberapa detail membuat saya mengernyitkan dahi. Kenapa Talia, si pembawa acara ternama, harus repot-repot naik bus ekonomi kala mengunjungi pondok pesantren? Apa susahnya menyewa sopir? Bukankah ia juga datang diantar sopir? Demi rating sekalipun, bukankah mustahil sebuah stasiun televisi bersedia “mengumpankan” anggota timnya sendiri sebagai bahan gosip?  Demi kesan dramatis, logika dikesampingkan.

Terkait dramatisasi, terdapat momen yang mengganggu, menggelikan alih-alih menggugah akibat pengadeganan berlebihan dari Danial Rifki, walau untuk hal ini, naskahnya ikut bertanggung jawab karena terburu-buru ingin menjabarkan bahwa Talia adalah individu berperasaan. Sementara romansanya justru hambar, sewaktu kecanggungan serta perbedaan Talia dan Kiblat mengurangi quality time keduanya. Sulit memedulikan keberlangsungan percintaan mereka. Setidaknya, seperti biasa, Acha Septriassa masih aktris dengan penampilan dinamis yang mampu diandalkan guna menghembuskan nyawa di tiap adegan, entah di ranah serius (drama) atau komedik.

JAFF 2018 - KUCUMBU TUBUH INDAHKU (2018)

Alasan saya menyukai banyak karya Garin Nugroho (Opera Jawa, Under the Tree, Aach...Aku Jatuh Cinta) adalah karena keahliannya mengambil satu gagasan, lalu mengembangkannya menjadi cerita berskala luas tanpa harus kehilangan fokus, dengan ragam simbolisme kecil tersebar guna memperkaya kisah juga karakter. Demikian pula Kucumbu Tubuh Indahku, sebuah perayaan akan “tubuh”—manusia dan alam—yang tak lain merupakan sumber keindahan sekaligus kehidupan.

Film berjudul internasional Memories of My Body yang telah lalu lalang di banyak festival luar negeri ini berangkat dari satu konsep: Tari lengger. Seperti diucapkan seorang guru tari (Sujiwo Tejo), “lengger”—setidaknya menurut pemaknaan Garin—berasal dari perpaduan kata leng (goa, lubang) dengan ngger (anak laki-laki, atau di sini juga bermaksud kelelakian). Kombinasi keduanya menghasilkan kehidupan, tapi apabila urung disikapi secara bijak, dapat memunculkan peperangan serta kehancuran, baik antara manusia atau dalam tatanan batin seseorang.

Perang pun meletus dalam hati protagonis kita, Wahyu Juno (Muhammad Khan), yang harus belajar mencintai tubuhnya walau pahitnya realita senantiasa menghalangi. Sejak kecil (Juno kecil diperankan Raditya Evandra), ia terus menyaksikan kehancuran: penis salah satu penari yang dihantam hingga hancur, wanita yang diusir dari kampung karena memperbolehkan Juno menyentuh dadanya (Oedipus Complex bagai pola wajib karya Garin, baik esensial atau tidak,  dan entah bentuk exploration atau sebatas pervertion), bahkan romansa Juno dengan seorang petinju—yang diperankan Randy Pangalila dalam penampilan yang berpotensi menghembuskan napas baru untuk karirnya—pun berujung kehancuran tubuh.

Darah terus mengikutinya, sehingga Juno enggan “mencumbu” tubuhnya, bahkan melukai diri dengan tusukan jarum, bentuk hukuman yang telah ia terima sedari kecil. Dan sepanjang durasi, entah melalui dialog subtil, gambar-gambar, sampai aspek etnografi, kita bakal selalu mempelajari hal baru tentang apa saja yang Garin ingin sampaikan. Setiap momen punya makna, tujuan, dan tak sedikitpun terbuang sia-sia. Di antaranya, turut tampil Rianto, penari yang kehidupannya menginspirasi penulisan naskah Garin. Ibarat seorang narator orang pertama, ia bermonolog, mendeskripsikan perjalanan Juno lewat bahasa verbal maupun tarian.

Kemunculan Rianto adalah pilihan artistik menarik, meski sebagaimana di mayoritas film (realis) miliknya, ketimbang berfokus merias pernak-pernik, Garin butuh memberi perhatian lebih terhadap aliran penceritaan. Di sini, progresi alur liar (kalau tak mau dibilang kacau) yang seringkali membingungkan akibat ketiadaan pembentukan sebelum konflik dipaparkan, yang mana kerap terjadi sejak Cinta dalam Sepotong Roti (1990), masih sesekali mengganggu walau tidak dalam kuantitas berlebih.

Tapi jika anda mencari penyatuan kesenian, Kucumbu Tubuh Indahku merupakan karya Garin paling memuaskan sejak Opera Jawa (2006). Tari-tarian (lengger, reog), iringan musik Mondo Gascaro (Berbagi Suami, Pintu Terlarang, Modus Anomali), plus sinematografi garapan Teoh Gay Hian (Opera Jawa, Soegija, Setan Jawa) yang mampu menjabarkan keindahan mistis, melebur apik, entah selaku alat tutur atau ekspresi seni yang cantik.

Seperti biasa, Garin menyuntikkan kritik politik, di mana para politikus film ini membentang dari sosok penguasa kejam haus kekuatan hingga badut-badut yang berulang kali menyebut “Ini zaman bebas’ sembari melakukan perbuatan konyol guna membantu mereka (atau pejabat di atas mereka) bertahta. Namun ketimbang distraksi, elemen tersebut justru memperkaya aspek sosial-masyarakat filmnya, menjadi salah satu bagian tubuh negara, bahkan semesta.

Pada skala lebih kecil, Kucumbu Tubuh Indahku tetap kisah soal Wahyu Juno, pria lembut (fisik dan hati) bermasalah yang namanya berasal dari Arjuna si pahlawan dari dunia pewayangan, yang berbeda dibanding penggambaran pahlawan negeri Barat, Arjuna adalah sosok bertubuh indah nan lembut. Ketika maskulinitas dan feminitas melebur seperti kala sang penari lengger dan petinju berdiri bersama di arena, maka terciptalah kesempurnaan harmoni.

NYAI (2016)

Teater, ketoprak, wayang orang, komedi stamboel. Jenis-jenis pertunjukan panggung tersebut merupakan asal sinema tanah air. Gaya bertutur, para pelakon, sampai aspek teknis seperti tata rias serta pencahayaan, yang pernah disinggung kritikus JB Kristanto mengusung semangat "asal terang dan jelas", bermula dari tradisi kesenian di atas. Melalui Nyai, Garin Nugroho mengunjungi babak historis itu, mengawinkan film dengan kesenian panggung yang telah konsisten ia lakukan sejak awal karir. Bedanya, Nyai membawanya ke tingkat lebih tinggi, merangkum 90 menit narasi dalam satu take. 

Mengambil masa 1927 tatkala Loetoeng Kasaroeng, film produksi Indonesia pertama, dilahirkan. Alkisah, hiduplah Nyai (Annisa Hertami), istri pria Belanda bernama Willem van Erk (Rudi Corens). Menjadi seorang "Nyai" berarti siap menerima tanggapan buruk masyarakat. Sebutan "sundal" dan "kafir", bahkan lemparan batu sampai kotoran terpaksa dihadapi. Tapi Nyai membuktikan ia bukan sekedar "wanita pribumi miskin yang dipersunting tuan kaya". Beraneka tamu, dari musisi, akuntan, jurnalis, juga pemuka agama, dia ladeni secara tegas, berwibawa, intelek. 
Nyai bagai titik puncak ekspresi kecintaan Garin Nugroho terhadap napak tilas kesenian nusantara. Mendasari cerita dari lima novel mengenai "Nyai" dengan setting 1920-an termasuk  Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal, Garin cerdik melukiskan kondisi dunia seni masa itu. Penonton diajak memahami bagaimana film (dahulu disebut "gambar sorot") hingga komedi stamboel mengisi kehidupan para tokoh melalui selipan referensi pada pembicaraan maupun kedatangan bermacam orang dalam rangka ulang tahun Willem. Kemunculannya natural berkat keberadaan konteks, tidak dipaksa masuk secara acak.

Metode one take-nya mungkin belum serumit Russian Ark atau Victoria, di mana kamera Nur Hidayat hanya bergerak di beberapa kesempatan saja. Tapi itulah mengapa pilihan estetika ini bukan sebatas gaya-gayaan. Kamera berfungsi menggantikan tata pencahayaan selaku alat penentu fokus pertunjukan. Bentuk default-nya adalah shot diam di tengah seperti lampu netral yang menyoroti panggung utama. Begitu titik fokus pindah, kamera pun bergerak. Sementara pergantian antara siang dan malam tersaji mulus berkat perubahan halus intensitas lampu dibarengi bunyi-bunyian suasana misalnya suara jangkrik.
Nyai jadi contoh kala film menguatkan presentasi teater, memfasilitasi apa yang sulit dicapai di atas panggung. Close-up memungkinkan penonton mengamati detail ekspresi Annisa Hertami yang bermain dalam konsistensi luar biasa, memamerkan sosok Nyai yang tak gentar berkonfrontasi, menaklukkan tiap lawan bicara melalui ketegasan tutur serta laku. Eksplorasi ruang pun terbantu, misalnya saat sekali waktu kamera masuk menelusuri interior rumah. Tidak lupa, Garin menambahkan kesegaran khas teater berupa secuil guyonan lewat interaksi dua pembantu yang diperankan Gunawan Maryanto dan Cahwati Sugiarto.

Berasal dari perspektif pria menjadikan tuturan soal ketangguhan wanita film ini kurang nyaring bersuara, sebatas mengandalkan performa solid Annisa Hertami terkait pemaparannya. Selebihnya, Nyai berhasil mengembalikan dua poin: Akar film tanah air yang bersinggungan erat dengan cabang kesenian tradisional lain, serta Garin Nugroho dalam karya juga ciri terbaiknya setelah Mooncake Story gagal total. Bersama eksperimen lain berupa Setan Jawa, film bisu diiringu live orchestra, sang sutradara senior menemukan sentuhannya lagi. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK (2017)

Satay western. Demikian karya teranyar Mouly Surya yang telah lalu lalang di festival-festival internasional ini disebut. Istilah tersebut mengingatkan pada spaghetti western, salah satu sub-genre yang mencapai masa keemasan di era 1960-an sejak Sergio Leone merengkuh puncak kesuksesan. Sebagaimana spaghetti western dengan ambiguitas moral serta kekerasan, satay western punya elemen-elemen khas, selain tentunya buatan sineas Indonesia. Faktor kultural Sumba jadi partikel penyusun pondasi, tetapi lebih spesial tatkala Mouly mampu menerapkan unsur western ke realita modern berisi isu-isu relevan, khususnya feminisme. 

Berdasarkan ide cerita dari pengalaman nyata Garin Nugroho saat menyaksikan pemenggalan di pasar Sumba, naskah garapan Mouly bersama Rama Adi menempatkan seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) di tengah ancaman perampok. Sang pemimpin, Markus (Egi Fedly), mendatangi Marlina, mengutarakan maksud merampok harta benda sekaligus memperkosanya. Begitu perampok tiba, praktik patriarki turut mendera. Marlina dirampas haknya, diminta diam, patuh, memasak makan malam, melayani nafsu seksual para pria. Hilangkan setting perampokan, kita bakal melihat cerminan dunia nyata terkait anggapan "wanita adalah pelayan pria".
Ucapan Markus bahwa Marlina beruntung berkesempatan ditiduri delapan pria walau berstatus janda terdengar menusuk, sebab kalimat bernada serupa, yaitu kesuksesan wanita diukur lewat keberhasilan mendapatkan (atau didapatkan) pria, kerap berseliweran di sekitar kita. Sementara siksaan berlangsung, Mouly merangkai nuansa menghantui tatkala mayat suami Marlina terduduk di sudut ruangan. Dari kacamata patriarki, protagonis kita tak berdaya. Sendiri, tanpa pelindung bernama pria. Namun selaku respon bagi maskulinitas spaghetti western, Marlina enggan tinggal diam, mengeksekusi penindasnya, bahkan memenggal salah satu kepala perampok. Inilah akhir babak pertama, "The Robbery".

Sesuai judulnya, film ini memiliki empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession, The Birth. Marlina memutuskan membawa kepala itu ke polisi, menembus lanskap padang gersang Sumba yang dibungkus sinematografi Yunus Pasolang, diiringi gitar plus bunyi siul musik buatan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani yang bagai berkiblat pada karya Ennio Morricone. Bermodalkan segala rasa western itu, Marlina tampil segar, mendobrak monotonitas gaya sinema Indonesia seperti ketika Joko Anwar menyuguhkan noir melalui Kala. Bahkan lebih unik, karena Marlina merupakan western berlatar masa kini, memungkinkan bandit versinya mengendarai motor trail dan truk alih-alih kuda dan keretanya (walau Marlina sendiri sempat menaiki kuda). 
Penuturan isu sosial Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak berlanjut di babak-babak berikutnya, termasuk mengkritik kinerja aparat serta respon publik yang justru kerap mencibir korban pelecehan. Malah dalam sebuah kesempatan, sempat salah satu perampok, Frans (Yoga Pratama), dengan nada kebencian memanggil Marlina "Si Pembunuh", seolah lupa siapa penjahat sesungguhnya. Menariknya, di antara isu pelik juga aura suram, tawa penonton masih sempat dipancing oleh beberapa selentingan menggelitik juga sederet komedi hitam yang melibatkan khayalan liar dan petikan alat musik sebagai cue jika komedi akan segera muncul.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak merupakan kendaraan bagi Marsha Timothy menyentuh dimensi lain aktingnya. Marsha piawai memerankan tokoh yang memendam campur aduk emosi tetapi jarang meluapkannya. Suatu bentuk olah rasa yang lantang walaupun subtil. Ekspresi wajahnya nampak terbebani tapi tindakannya tanpa keraguan. Langkahnya pasti, pelan tapi tak gontai. Seperti filmnya sendiri, yang berkat visi kuat Mouly Surya, bergerak perlahan namun punya tujuan, kemudian bermuara pada konklusi sempurna yang memaparkan filosofi "kelahiran kembali" sembari menunjukkan kekuatan terbesar seorang wanita.