Tampilkan postingan dengan label Sujiwo Tejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sujiwo Tejo. Tampilkan semua postingan
MANGKUJIWO (2020)
Rasyidharry
Walau hasilnya belum begitu solid,
seri terbaru Kuntilanak yang dimulai dua
tahun lalu merupakan salah satu seri horor Indonesia paling berani. Ketimbang
mengulangi formula kesuksesan trilogi lama yang dibintangi Julie Estelle, film
pertama dan keduanya justru mengusung bentuk horor keluarga dengan menempatkan karakter
anak-anak sebagai sentral. Selaku prekuel, Mangkujiwo
menegaskan anggapan tersebut saat sekali lagi banting setir ke arah
berbeda, bukan cuma dibandingkan para pendahulunya, juga horor-horor lokal
kebanyakan.
Ketika budaya klenik kedaerahan biasanya
sekadar jadi pajangan, naskah garapan Dirmawan Hatta (The Mirror Never Lies, Bulan di Atas Kuburan, Another Trip to the Moon)
dan Erwanto Alphadullah (sebelumnya menjabat manajer produksi di Kuntilanak versi 2018) bersedia
mengeksplorasi, bahkan menjadikannya amunisi menakut-nakuti. Begitu menyaksikan
Brotoseno (Sujiwo Tejo) menjalankan ritual mencambuki dirinya atau membuat nasi
kepal dengan darah dan organ-organ hewan sebagai lauk serta bumbu penyedap,
anda akan menyadari Mangkujiwo bukan
untuk penonton berperut lemah.
Alkisah, Brotoseno menyimpan dendam
setelah disingkirkan dari keraton akibat fitnah Cokrokusumo (Roy Marten). Rencana
pembalasan tercetus saat ia menemukan Kanthi (Asmara Abigail), gadis yang
dipasung, juga akibat fitnah Cokrokusumo. Dibawanya Kanthi, dipasungnya si
gadis di depan pengilon kembar (cermin
kembar yang sama-sama dimiliki Brotoseno dan Cokrokusumo) untuk kemudian
disiksa tiap malam menggunakan berbagai ritual ilmu hitam, guna menciptakan
senjata membalas perbuatan Cokrokusumo.
Jadi, apakah asal muasal sosok
Kuntilanak terjelaskan? Kurang lebih. Tersimpan gagasan menarik tentang
bagaimana hantu mengerikan ini merupakan produk perebutan kekuasaan. Mangkujiwo adalah kisah mengenai
orang-orang biasa yang dijadikan bidak para penguasa. Sayangnya pengilon kembar masih sebatas alat pemberi
jalan pintas agar plotnya berjalan. Pokoknya cermin itu adalah cermin ajaib “pemberian”
Laut Selatan yang bisa mengabulkan segala permintaan, alias memfasilitasi
penulis melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan rules atau logika, tidak peduli seacak apa pun itu.
Perseteruan Brotoseno dan
Cokrokusumo berlangsung puluhan tahun, dan di sinilah Mangkujiwo menerapkan bentuk narasi non-linear yang cukup berisiko.
Di awal durasi, kita seolah disuguhi berbagai cabang alur tak berkaitan yang
silih berganti mengisi, termasuk soal Uma (Yasamin Jasem) si gadis remaja yang
bekerja di sebuah hotel, dan tidak sengaja melihat pembunuhan yang dilakukan
Karmila (Karina Suwandi) dan rekan-rekannya selaku penjual barang pusaka. Nantinya
semua cabang tersebut bakal bertemu.
Kelebihan penceritaan non-linear
ini adalah memperkuat bangunan misteri. Pertanyaan selalu muncul, menjaga kepadata
alur sepanjang 106 menit perjalanan Mangkujiwo.
Kelemahannya, tidak semua transisi antar lini waktu terjahit rapi.
Lompatan-lompatan kasar kerap tercipta, pun di paruh awal—sebelum dua warna
rambut Sujiwo Tejo bisa dipakai sebagai alat bantu membedakan latar waktu—potensi
membuat penonton kebingungan cukup besar. Hal ini penting terkait menjaga
atensi penonton. Apalagi Mangkujiwo bukan
horor yang gemar menebar jump scare, sehingga
kesolidan bercerita wajib hukumnya.
Minimnya penampakan mengagetkan
hantu digantikan oleh pemandangan lain yang jauh lebih mencekam (dan membuat mual).
Sutradara Azhar Kinoi Lubis (Kafir:
Bersekutu dengan Setan, Ikut Aku Ke Neraka) memperlihatkan keterampilan memainkan
atmosfer. Pacing-nya terjaga, sambil
memastikan kamera menangkap tiap detail tata artistik, khususnya dalam ruang
tempat Brotoseno melakoni ritual yang tampilannya menimbulkan perasaan tidak
nyaman.
Azhar membuktikan bahwa membangun
teror tidak melulu harus mengumbar penampakan murahan makhluk halus. Cukup
kumpulkan beragam hewan (ular, kodok, kalajengking, laba-laba, cicak), biarkan berkeliaran,
atau sekali waktu, bedah isi perut mereka. Mangkujiwo
memang tidak takut menumpahkan darah atau organ tubuh, yang dampaknya
begitu kuat berkat beberapa efek praktikal mumpuni. Kelemahan sang sutradara—yang
telah nampak sejak Kafir—sayangnya masih
bisa ditemukan. Azhar Kinoi Lubis jago membangun atmosfer atau mengeksploitasi gore, tapi tidak ketika dihadapkan pada
adegan bertempo cepat berbumbu aksi. Klimaks yang mestinya jadi babak
pembantaian puncak malah berakhir canggung. Efek slow motion diterapkan demi kesan dramatis, padahal pengadeganan
aslinya sudah terlampau lambat.
Selain itu, walau jauh lebih baik
dibanding mayoritas kompatriotnya sesama horor lokal, naskah Mangkujiwo juga belum sepenuhnya lepas
dari lubang-lubang, dari yang menimbulkan pertanyaan “Kok bisa?”, hingga
pengembangan karakter yang tak alamiah. Saya membicarakan karakter Uma di sini.
Biarpun sudah “dicuci otak”, keputusannya memasuki babak akhir film tetap
terlampau ekstrim, seolah ada jembatan proses yang dilompati.
Mangkujiwo juga memiliki jajaran pemain dengan akting memuaskan.
Seperti biasa, apa pun yang dilakukan Sujiwo Tejo di layar selalu memancarkan
kemistisan, meski adegan Brotoseno memainkan saksofon terlalu out-of-place (saya cukup yakin ini ide
sang aktor). Septian Dwi Cahyo, yang mungkin lebih banyak dikenal selaku
seniman pantomim, memerankan Sadi, asisten Brotoseno yang mempunyai badan
bungkuk dan tak bisa bicara, tanpa harus jatuh ke ranah karikatur. Dibantu tata
rias yang mendukung, Asmara Abigail menghidupkan sosok yang pastinya takkan mau
anda temui langsung di dunia nyata. Sedangkan di usia yang baru akan menginjak
16 tahun, Yasamin Jasem menambah satu lagi daftar aktris muda potensial tanah
air, selama ia terus mengasah penampilan sekaligus jeli memilih peran.
Di luar kekurangan yang masih
bertebaran, setidaknya, Mangkujiwo berhasil
membuat elemen kejawen bukan pernak-pernik
sambil lalu. Di tiap sudutnya, aroma misterius dari budaya mistisisme itu
selalu tercium. Ditambah intensi baik untuk tidak sekadar mengeksploitasi jump scare, juga pengembangan latar
cerita memadai supaya status prekuel bukanlah tempelan semata (baca: alasan
memperbanyak installment demi
menambah profit), Mangkujiwo mampu memperpanjang
napas seri Kuntilanak.
Januari 31, 2020
Asmara Abigail
,
Azhar Kinoy Lubis
,
Dirmawan Hatta
,
Erwanto Alphadullah
,
horror
,
Indonesian Film
,
Karina Suwandi
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Roy Marten
,
Septian Dwi Cahyo
,
Sujiwo Tejo
,
Yasamin Jasem
JAFF 2018 - KUCUMBU TUBUH INDAHKU (2018)
Rasyidharry
Alasan saya menyukai banyak karya
Garin Nugroho (Opera Jawa, Under the
Tree, Aach...Aku Jatuh Cinta) adalah karena keahliannya mengambil satu
gagasan, lalu mengembangkannya menjadi cerita berskala luas tanpa harus
kehilangan fokus, dengan ragam simbolisme kecil tersebar guna memperkaya kisah
juga karakter. Demikian pula Kucumbu
Tubuh Indahku, sebuah perayaan akan “tubuh”—manusia dan alam—yang tak lain
merupakan sumber keindahan sekaligus kehidupan.
Film berjudul internasional Memories of My Body yang telah lalu
lalang di banyak festival luar negeri ini berangkat dari satu konsep: Tari
lengger. Seperti diucapkan seorang guru tari (Sujiwo Tejo), “lengger”—setidaknya
menurut pemaknaan Garin—berasal dari perpaduan kata leng (goa, lubang) dengan ngger
(anak laki-laki, atau di sini juga bermaksud kelelakian). Kombinasi keduanya
menghasilkan kehidupan, tapi apabila urung disikapi secara bijak, dapat
memunculkan peperangan serta kehancuran, baik antara manusia atau dalam tatanan
batin seseorang.
Perang pun meletus dalam hati
protagonis kita, Wahyu Juno (Muhammad Khan), yang harus belajar mencintai
tubuhnya walau pahitnya realita senantiasa menghalangi. Sejak kecil (Juno kecil
diperankan Raditya Evandra), ia terus menyaksikan kehancuran: penis salah satu
penari yang dihantam hingga hancur, wanita yang diusir dari kampung karena
memperbolehkan Juno menyentuh dadanya (Oedipus
Complex bagai pola wajib karya Garin, baik esensial atau tidak, dan entah bentuk exploration atau sebatas pervertion),
bahkan romansa Juno dengan seorang petinju—yang diperankan Randy Pangalila
dalam penampilan yang berpotensi menghembuskan napas baru untuk karirnya—pun berujung
kehancuran tubuh.
Darah terus mengikutinya, sehingga
Juno enggan “mencumbu” tubuhnya, bahkan melukai diri dengan tusukan jarum,
bentuk hukuman yang telah ia terima sedari kecil. Dan sepanjang durasi, entah
melalui dialog subtil, gambar-gambar, sampai aspek etnografi, kita bakal selalu
mempelajari hal baru tentang apa saja yang Garin ingin sampaikan. Setiap momen
punya makna, tujuan, dan tak sedikitpun terbuang sia-sia. Di antaranya, turut
tampil Rianto, penari yang kehidupannya menginspirasi penulisan naskah Garin.
Ibarat seorang narator orang pertama, ia bermonolog, mendeskripsikan perjalanan
Juno lewat bahasa verbal maupun tarian.
Kemunculan Rianto adalah pilihan
artistik menarik, meski sebagaimana di mayoritas film (realis) miliknya, ketimbang
berfokus merias pernak-pernik, Garin butuh memberi perhatian lebih terhadap
aliran penceritaan. Di sini, progresi alur liar (kalau tak mau dibilang kacau)
yang seringkali membingungkan akibat ketiadaan pembentukan sebelum konflik
dipaparkan, yang mana kerap terjadi sejak Cinta
dalam Sepotong Roti (1990), masih sesekali mengganggu walau tidak dalam
kuantitas berlebih.
Tapi jika anda mencari penyatuan
kesenian, Kucumbu Tubuh Indahku
merupakan karya Garin paling memuaskan sejak Opera Jawa (2006). Tari-tarian (lengger, reog), iringan musik Mondo
Gascaro (Berbagi Suami, Pintu Terlarang,
Modus Anomali), plus sinematografi garapan Teoh Gay Hian (Opera Jawa, Soegija, Setan Jawa) yang
mampu menjabarkan keindahan mistis, melebur apik, entah selaku alat tutur atau
ekspresi seni yang cantik.
Seperti biasa, Garin menyuntikkan
kritik politik, di mana para politikus film ini membentang dari sosok penguasa
kejam haus kekuatan hingga badut-badut yang berulang kali menyebut “Ini zaman
bebas’ sembari melakukan perbuatan konyol guna membantu mereka (atau pejabat di
atas mereka) bertahta. Namun ketimbang distraksi, elemen tersebut justru
memperkaya aspek sosial-masyarakat filmnya, menjadi salah satu bagian tubuh
negara, bahkan semesta.
Pada skala lebih kecil, Kucumbu Tubuh Indahku tetap kisah soal
Wahyu Juno, pria lembut (fisik dan hati) bermasalah yang namanya berasal dari
Arjuna si pahlawan dari dunia pewayangan, yang berbeda dibanding penggambaran
pahlawan negeri Barat, Arjuna adalah sosok bertubuh indah nan lembut. Ketika
maskulinitas dan feminitas melebur seperti kala sang penari lengger dan petinju
berdiri bersama di arena, maka terciptalah kesempurnaan harmoni.
Desember 05, 2018
Bagus
,
Drama
,
Garin Nugroho
,
Indonesian Film
,
Mondo Gascaro
,
Muhammad Khan
,
Raditya Evandra
,
Randy Pangalila
,
REVIEW
,
Rianto
,
Sujiwo Tejo
,
Teoh Gay Hian
KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)
Rasyidharry
Kalau anda mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scare berisik dan mengandung kisah
untuk dituturkan, maka Kafir: Bersekutu
dengan Setan menawarkan alternatif tersebut. Tanpa kaitan dengan Kafir (2002) kecuali pada kemiripan
judul dan penampilan Sujiwo Tejo sebagai dukun santet, film yang naskahnya
digarap oleh Upi (#TemanTapiMenikah,
Sweet 20, My Stupid Boss) dan Rafki Hidayat ini akan diingat selaku film
yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah badai horor yang minim
variasi, baik perihal gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski menyimpan
setumpuk kelemahan sehingga memperpanjang penantian atas “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.
Kafir: Bersekutu dengan
Setan dibuka oleh
atmosfer menjanjikan. Terasa tidak nyaman, berbekal nuansa lawas hasil
pewarnaan, tata artistik, serta musik, yang
tak pelak memunculkan komparasi dengan Pengabdi Setan. Sri (Putri Ayudya), bersama sang suami, Herman
(Teddy Syach) dan puterinya, Dina (Nadya Arina) sedang makan malam bersama, sembari
menanti kepulangan si anak laki-laki, Andi (Rangga Azof). Mendadak Herman
muntah darah. Dia tewas dengan beling keluar dari mulutnya. Tidak salah lagi,
Herman merupakan korban santet. Siapa pun pelakunya ia benar-benar ingin
menghancurkan keluarga ini sampai ke akarnya. Itulah mengapa meja makan dipilih
jadi panggung pembunuhan.
Mengapa meja makan? Karena di situ, beserta aktivitas makan
bersama, seringkali jadi ajang bertukar rasa antar anggota keluarga. Mematikannya,
berarti mematikan suatu keluarga. Benar saja, sepeninggal Herman, kehangatan memudar.
Kafir: Bersekutu dengan Setan memakai
bentuk horor psikologis guna membungkus paruh awalnya. Trauma yang dialami Sri
jadi sorotan. Lagu kesukaan Herman dilarang diputar, pun enggan ia memasak opor
ayam kesukaan mendiang suaminya itu. Sewaktu Andi—yang membawa pacar barunya,
Hanum (Indah Permatasari)—tersedak kala makan, wajah Sri langsung dipenuhi
teror. Memori kematian tragis Herman muncul, dan Putri Ayudya tampil meyakinkan
memerankan wanita yang terluka luar-dalam.
Sri melihat panci yang terjatuh sendiri, “kembaran” Andi,
sampai noda hitam yang tak kunjung hilang di langit-langit. Apakah itu semua
nyata atau sebatas produk trauma mendalam? Naskahnya tak pernah menyelami
pertanyaan itu lebih jauh, meninggalkan banyak kekosongan berwujud observasi
tanpa eksplorasi dalam alur bertempo lambat. Jangan harapkan jump scare bombastis. Beberapa usaha
mengageti penonton tetap dilakukan, tapi tak dieksploitasi. “Atmosferik” adalah
kesan yang ingin diciptakan, walau ketidakmampuan sutradara Azhar Kinoy Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini)
mengkreasi tensi, khususnya kala tiada peristiwa besar terjadi, menghalangi
tercapainya tujuan tersebut.
Penonton hampir tidak pernah ditempatkan di posisi
karakterya. Sri ketakutan, saya tidak. Sebabnya sederhana: keanehan-keanehan di
sekitar Sri tak nampak mengerikan di layar. Benda-benda bergerak, alat musik
berbunyi sendiri, semua itu menyeramkan apabila terjadi di realita. Namun di
film, anda tidak bisa sekedar menangkap peristiwa itu di kamera lalu berharap
ketakutan otomatis timbul di hati penonton. Butuh ketrampilan juga sensitivitas
guna melukis gambar-gambar menyeramkan, supaya ketakutan karakternya
tersalurkan ke penonton. Azhar tidak (atau belum) mempunyai itu.
Dinamika meningkat saat Jarwo (Sujiwo Tejo) masuk,
menampilkan gaya creepy nan eksentrik
miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekedar peristiwa poltergeist, sehingga Azhar memperoleh
amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan api di kediaman Jarwo tersaji
mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya mulai memasuki babak
penelusuran misteri. Berkutat pada pertanyaan “Siapa pelaku santet?”, pengenalan
misterinya menarik. Jika berhenti di perihal “siapa”, jawabannya mudah ditebak
bahkan sejak setengah jam pertama, tapi dalam jenis cerita whodunit, proes pun penting.
Penelusuran fakta yang tersibak satu demi satu merupakan
pondasi yang wajib dibangun lebih dulu. Namun Kafir: Bersekutu dengan Setan lalai melibatkan penonton dalam
penyelidikan. Terlihat saat beberapa kali karakternya menemukan petunjuk yang
urung diungkap kepada penonton. Dengan demikian, durasi bergulir dan alur terus
bergerak maju, tapi bak tanpa progres. Seluruhnya ditimbun, disimpan bagi third act yang terasa tidak sinkron dengan
keseluruhan film, khususnya terkait pembawaan over the top Indah Permatasari dan Nova Eliza. Penampilan keduanya
di klimaks bak berasal dari horor yang mengedepankan unsur “fun” atau bahkan b-movie. Tidak buruk, hanya bukan di sini tempatnya. Their performance don’t belong here.
Paling tidak klimaksnya menyimpan momen lumayan menegangkan
yang melibatkan darah dan kekerasan. Sayang, kelebihan itu lagi-lagi tidak
berlangsung lama, tepatnya sampai film ini melakukan simplifikasi terkait cara
mengakhiri konflik. Perkelahian yang ditangani begitu canggung oleh Azhar
adalah cara yang dimaksud. “Beat ‘em up”
is the easiest (read: the laziest) way to ends a conflict in any movie. Ingin
sekali rasanya berkata “Saya mengagumi film ini”, dan jelas saya mengapresiasi
usahanya ampil beda. Tapi setelah horor buruk gentayangan silih berganti di
bioskop, saya, dan rasanya mayoritas penonton, ingin segera menyaksikan hasil lebih
tinggi.
Agustus 04, 2018
Azhar Kinoy Lubis
,
Cukup
,
horror
,
Indah Permatasari
,
Indonesian Film
,
Nadya Arina
,
Nova Eliza
,
Putri Ayudya
,
Rafki Hidayat
,
Rangga Azof
,
REVIEW
,
Sujiwo Tejo
,
Teddy Syach
,
Upi
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





