Tampilkan postingan dengan label Rendy Kjaernett. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rendy Kjaernett. Tampilkan semua postingan

IKUT AKU KE NERAKA (2019)

Ikut Aku ke Neraka adalah film di mana Sara Wijayanto muncul dalam kapasitas glorified cameo sebagai psikiater yang menyampaikan kepada bawahannya bahwa salah satu pasien yang mereka tangani mungkin bukan mengalami gangguan jiwa melainkan diganggu makhluk halus, sementara Ence Bagus memerankan dokter kandungan yang melontarkan lelucon di tengah proses persalinan. Tidak mengejutkan bila masih tersimpan banyak kengawuran lain.

Merupakan kali kedua Azhar Kinoi Lubis menyutradarai horor pasca Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menyiratkan potensi meski eksekusinya jauh dari maksimal, Ikut Aku ke Neraka memang tontonan ngawur dan acak. Termasuk judulnya, yang mengingatkan pada Drag Me to Hell. Ketika film garapan Sam Raimi tersebut memang secara literal menampilkan usaha hantu menarik korbannya ke neraka, judul film ini tak ubahnya clickbait.

Film dibuka dengan memperlihatkan Sari (Cut Mini) di rumah sakit jiwa, kemudian melompat untuk mengajak kita bertemu gadis cilik yang bisa berinteraksi dengan hantu. Gadis itu tak lain adalah protagonis kita, Lita (Clara Bernadeth) yang kini sedang hamil tua. Hanya lewat beberapa menit awal saja, penuturan berantakan dari naskah buatan Fajar Umbara (Comic 8, Mata Batin, Sabrina) seketika dapat dideteksi.

Kebahagiaan Lita dan sang suami, Rama (Rendy Kjaernett) harus sirna akibat teror sesosok hantu, yang terjadi setelah Lita mengoperasi tanda lahir di punggungnya. Malang bagi Lita, Rama tak mempercayai ceritanya. Kemudian kisah bergerak menuju.....well,  sebenarnya untuk berpuluh-puluh menit ke depan, kisahnnya jalan di tempat. Lita diteror, melapor pada Rama yang tak menggubris ceritanya. Begitu seterusnya.

Narasi semacam itu bisa menarik jika berhasil mempermainkan perspektif penonton terkait kondisi psikis Lita. Tanpanya, hanya ada repetisi menyebalkan, sebab respon skeptis Rama praktis menghalangi alurnya bergerak maju. Keadaan membaik setelah Rama mengakui kebenaran cerita sang istri, lalu memanggil dukun bernama Adam (Teuku Rifnu Wikana), yang menjabarkan beberapa teori seputar alasan di balik teror si hantu. Teori yang alih-alih menjawab, justru menyulut pertanyaan lain, yang menunjukkan kebingungan Fajar membangun aturan mistisismenya sendiri.

Naskahnya bertambah remuk jika kita membahas soal diksi. Banyak kalimat, sebutlah, “Mari akhiri malapetaka ini”, “Dia adalah entitas independen”, dan lain sebagainya, takkan kita temukan dalam obrolan kasual di realita. Semakin terdengar aneh ketika penghantaran lemah para pemain turut berkontribusi.

Sekali waktu, kita diajak mengunjungi Sari yang tiap malam juga mendapatkan teror di bangsalnya. Tidak perlu merekrut nama sekaliber Cut Mini untuk peran sekecil Sari, tapi Ikut Aku Ke Neraka adalah film yang memasang Sara Wijayanto sebagai psikiater dan Ence Bagus sebagai dokter kandungan. Keputusan memakai Cut Mini jelas lebih bisa dipahami. Setidaknya sang aktris mampu jadi penampil terbaik, ketika jajaran cast lain tidak terlalu berkesan (Teuku Rifnu Wikana, Clara Bernadeth), atau justru bermain kaku (Rendy Kjaernett).

Beruntung, departemen penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup membuat segelintir jump scare yang cukup efektif meningkatkan intensitas, biarpun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas, dan masih terjebak dalam pemakaian tata suara berisik. Elemen soild lain adalah tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi spesial akibat terlalu sering dieksploitasi pasca kesuksesan Pengabdi Setan (oleh horor produksi Rapi Films).

Ikut Aku ke Neraka ditutup oleh konklusi kelam yang gagal menusuk perasaan akibat ketidakmampuan memancing kepedulian terhadap jajaran karakternya. Seolah belum cukup, pemandangan konyol yang menggabungkan penulisan bodoh dan akting buruk, menyusul beberapa detik kemudian selaku mid-credits scene.

11:11: APA YANG KAU LIHAT? (2019)

Begitu buruk dan membosankan 11:11: Apa yang Kau Lihat?, hampir sepanjang durasi saya bermain “memirip-miripkan”. Twindy Rarasati mirip Prisia Nasution, Rendy Kjaernett seperti versi lebih ganteng dari Dian Sidik, Bayu Anggara dan Ge Pamungkas bagai pinang dibelah dua, sementara Fauzan Smith mengingatkan saya kepada Fauzi Baadilla. Well, yang terakhir mungkin agak dipaksakan.

Keisengan itu jauh lebih menghibur ketimbang berusaha mencerna horor bodoh nan melelahkan, yang bahkan tak mau repot-repot menjelaskan signifikansi “11:11” di judulnya. Debut penyutradaraan Andi Manoppo (sebelumnya dikenal sebagai pimpinan pasca produksi dalam lebih dari 70 film) ini dua kali memperlihatkan peristiwa mistis tepat pada pukul 11:11 yang memang identik dengan banyak mitos, tapi kenapa itu lebih dari sekadar trivia sehingga pantas dijadikan judul?

Sementara sub judulnya malah mengajukan pertanyaan. “Apa yang kau lihat?”. Karena karakternya tak pernah bermasalah dengan apa yang mereka lihat, saya yakin pertanyaan itu diajukan bagi penonton. Apa yang saya lihat? Jawabannya: tidak ada. Karena film ini terlampau keruh, baik gambar maupun kualitasnya secara menyeluruh.

Adegan pembukanya agak menjanjikan, sebab bertempat di lokasi yang berbeda dibanding deretan kompatriotnya sesama horor lokal buruk. Alkisah dua pria menyelam, memasuki sebuah kapal karam, mengambil suatu artefak, sebelum salah satu dari mereka ditarik oleh sosok misterius, sedangkan satunya lagi tergulung ombak raksasa. Tapi selepas memperkenalkan keempat tokoh utamanya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? Mulai memasuki pakem klise soal perjalanan muda-mudi merambah lokasi angker.

Tiga instruktur selam, Galih (Rendy Kjaernett), Martin (Bayu Anggara), dan Ozan (Fauzan Smith), plus seorang murid baru, Vania (Twindy Rarasati) si vlogger ternama, berlibur ke pulau terpencil bernama Tanjung Biru. Pulau tersebut sepi. Selain keempatnya, hanya ada seorang penjaga, yang melarang mereka menginjakkan kaki ke titik bernama Karang Hiu. Tentu sebagai darah muda penuh rasa penasaran (baca: bodoh), mereka menolak patuh. Tapi itu tidak langsung terjadi.

Jadi amunisi apa yang disiapkan oleh duo penulis naskahnya, Nicholas Raven (Berangkat!) dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Jailangkung, Sakral) sebelum teror utamanya berlangsung?

Tunggu sebentar.........

DEMI SILUMAN LAUT! FILM INI DITULIS NASKAHNYA OLEH MAHAGURU BASKORO ADI WURYANTO???!!! Sekarang semuanya masuk akal! 

Pantas saja alurnya begitu kosong, hanya diisi adegan Martin dan Ozan merayu Vania ditambah selipan mimpi buruk aneh Galih mengenai sang ibu (diperankan Lady Nayoan, istri Rendy Kjaernett) yang telah lama hilang. Saya merasa bodoh sebagai pecinta film karena gagal mengenali karya Mahaguru, padahal ciri-cirinya sudah disebar sepanjang film.

11:11: Apa yang Kau Lihat? dijual sebagai “horor lokal langka berlatar bawah laut”, tapi kualitas gambar bawah lautnya bahkan kalah jernih dibanding bumper legendaris “RCTI Oke” dari era 90-an itu. Di sini, laut begitu keruh, sedangkan ikan-ikan kehilangan warnanya. Hal paling menggelikan dari adegan menyelamnya adalah pemakaian audio dub yang dikemas agar terdengar seolah karakternya saling bicara melalui HT. Mungkin pembuat filmnya khawatir penonton sukar memahami bahasa non-verbal sederhana, tapi kualitas voice acting menggelikan jajaran pemainnya jelas tak membantu.

Soal teror bawah laut, mungkin Andi Manoppo merasa bahwa menyuruh karakternya berenang tak tentu arah sambil meneriakkan nama satu sama lain sudah cukup menyeramkan. Bukankah mereka memakai HT? Kenapa tidak memberitahukan posisi dari situ? Tentu saja karena dub tersebut bukan merupakan rencana awal.

Begitu karakternya kembali ke permukaan, siluman laut telah siap menebar teror, bersenjatakan desain serta metode kemunculan yang dicomot hanya dengan sekelumit modifikasi dari Lights Out. Selanjutnya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? memasuki babak “tes daya tahan” bagi penonton. Kita diuji, seberapa jauh bisa menoleransi kebodohan filmnya, yang terbentang dari keputusan-keputusan karakternya—yang memilih lari ke dalam hutan dan memanjat puncak tebing yang justru menambah risiko—hingga berbagai poin alur yang patut dipertanyakan.

Mari kembali ke pertanyaan yang filmnya ajukan. Apa yang kau lihat? Saya melihat betapa perjuangan industri perfilman Indonesia guna menumpas habis horor-horor inkompeten, yang membodohi penonton sekaligus digarap asal-asalan seperti ini, masih cukup panjang.