Tampilkan postingan dengan label Ibnu Jamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Jamil. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BEFORE, NOW & THEN

Bersama kakaknya, Ningsih (Rieke Diah Pitaloka), Nana (Happy Salma) membawa bayinya kabur untuk lari dari kejaran para "gerombolan". Tidak dijabarkan secara pasti identitasnya, tapi mengingat latar 40-an yang dipakai, kemungkinan mereka adalah gerilyawan. Pemimpin "gerombolan" ingin menikahi Nana, kemudian membunuh ayah Nana saat mendapat penolakan. Sang suami (Ibnu Jamil) menghilang dan diyakini telah tiada. 

Mengadaptasi bab pertama dari novel Jais Darga Namaku karya Ahda Imran, Before, Now & Then menjabarkan bahwa sekalipun penjajah bangsa sudah tumbang, penjajahan terhadap perempuan belum juga hilang. Kamila Andini kembali menyuarakan kegelisahan serta perlawanan. Bukan melalui teriakan, melainkan perenungan.

Peristiwa di paragraf pertama merupakan bagian "before", sedangkan "now" mengajak kita melompat ke 15 tahun pasca pelarian protagonisnya. Nana menikahi Lurah Darga (Arswendy Bening Swara) yang jauh lebih tua, dikaruniai beberapa anak, hidup makmur secara finansial. Walau demikian, kebahagiaan tak nampak di wajahnya. Ada gejolak yang ia pilih untuk pendam. Sewaktu puterinya, Dais (Chempa Puteri), bertanya mengapa perempuan yang sudah menikah menyanggul rambut panjang mereka, Nana menjawab, karena istri harus menyimpan rahasia di balik konde. Sampai kapan rahasia bisa disembunyikan? Haruskah menunggu hingga jadi borok? 

Begitu kukuh Nana memegang prinsip itu, satu-satunya tempat di mana ia bisa jujur adalah mimpinya. Nana bermimpi soal kematian sang ayah, penculikan suami pertama, masuknya seekor sapi ke dalam rumah, juga kedatangan sosok gadis muda misterius (Arawinda Kirana), yang jati dirinya baru diungkap di babak "then". Masa lalu yang belum tuntas terus menghantui Nana, sedangkan masa depan masih sulit ia raba. 

Nana menghadapi beragam hal, termasuk komentar pedas dari ibu-ibu sekitar mengenai latar belakangnya. Inilah keunggulan Kamila dalam menyampaikan isu empowerment. Dia melawan sembari berpijak pada realita. Di Yuni ia membuka mata atas realita hidup perempuan desa (satu hal yang kerap dikritik aktivis kota yang melupakan privilege mereka), sementara di sini, Kamila tak menutup mata soal fakta kalau perempuan juga bisa menghalangi jalan kemerdekaan perempuan lain.

Tapi masalah yang paling menusuk hati Nana adalah ketika mengetahui suaminya berselingkuh dengan Ino (Laura Basuki), seorang penjual daging di pasar. Di sinilah Kamila menampilkan kejeliannya mengolah kisah empowerment. Ketimbang langsung mengonfrontasi Ino, Nana sekali lagi memilih memendam sakit hati. Seiring keduanya saling mengenal, justru tumbuh pertemanan di antara mereka.

Before, Now & Then bukan cerita dua perempuan berebut pasangan, sebab Nana dan Ino lebih membutuhkan kehadiran sesama perempuan dibanding laki-laki. Nana yang tadinya memproses kegelisahan seorang diri dengan hanya ditemani sebatang rokok, sekarang membagi rokok itu, sebagaimana ia membagi kegelisahannya. 

Dua momen secara bergantian menangkap hubungan Nana-Ino. Pertama kala Ino turut serta saat Nana sekeluarga bertamasya. Ino membuka mata Nana akan kebebasan dalam sebuah momen uplifting yang melibatkan sungai. Menyusul kemudian adalah momen dengan suasana berbeda. Lebih kontemplatif. Nana dan Ino merokok berdua, saling berbagi rasa di malam yang sunyi. 

Pengarahan Kamila kali ini, khususnya di fase konklusi, mungkin tak sesukses Yuni dalam hal "mempercantik emosi", namun bisa dilupakan berkat keberadaan dua momen di atas. Ditambah lagi kombinasi mumpuni Happy Salma dan Laura Basuki. Happy Salma dengan "kekuatan dalam diam" yang penuh kehormatan, sementara Laura Basuki (menyabet penghargaan Silver Bear untuk penampil pendukung terbaik di Festival Film Internasional Berlin) mendefinisikan arti kata "supporting". Dia bersinar tanpa mencuri sorotan penampil utama. Karakternya benar-benar jadi pendukung proses yang protagonisnya lalui. 

Before, Now & Then juga jadi presentasi artistik memukau. Pemakaian lagu Sabda Alam memang terlalu gamblang, tapi scoring buatan Ricky Lionardi tak hanya cantik, pula sempurna mewakili sisi elegan karakter utamanya. Bukan cuma pemakaian musik, Kamila juga menyelipkan beberapa bentuk kesenian lain, yang berfungsi menciptakan potret sebuah era. 

Peleburan scoring dan visualnya (gerak lambat, desain properti cantik, mise-en-scène estetis) bakal memunculkan komparasi dengan karya-karya Wong Kar-wai, dan biarpun tidak keliru, saya lebih suka menyebutnya "Bahasa Kamila Andini". Sebuah bahasa cantik yang menegaskan bahwa diam bukan berarti menyerah, bahwa bisikan dapat terdengar lebih lantang ketimbang teriakan.

(Prime Video)

REVIEW - SRIMULAT: HIL YANG MUSTAHAL - BABAK PERTAMA

Status sebagai "babak pertama" memang melukai narasi milik Srimulat: Hil yang Mustahal. Naskah buatan Fajar Nugros tampil bak prolog yang diulur-ulur, kemudian usai sebelum memberi payoff sepadan (masalah khas film yang kisahnya dipecah). Secara penceritaan, filmnya lemah. 

Tapi di menit awal, ketika dalam gerak lambat, satu demi satu anggota Srimulat turun dari mobil yang dikerumuni para penggemar, sementara Whiskey and Soda kepunyaan Roberto Delgado yang lebih dikenal publik Indonesia sebagai "lagu tema Srimulat" terdengar, saya bisa merasakan kekaguman Fajar pada kelompok komedi legendaris itu. Srimulat: Hil yang Mustahal mungkin kurang lihai bercerita, namun ia jelas dibuat memakai cinta. 

Alurnya sederhana. Popularitas Srimulat sebagai grup lawak di Jawa telah tersebar, dan mereka pun diundang ke Jakarta guna tampil di televisi nasional. Teguh (Rukman Rosadi), selaku pemimpin Srimulat, mengutus Asmuni (Teuku Rifnu Wikana) untuk mengepalai rombongan yang terdiri dari Timbul (Dimas Anggara), Tarsan (Ibnu Jamil), Tessy (Erick Estrada), Basuki (Elang El Gibran), Nunung (Zulfa Maharani), Paul (Morgan Oey), Anna (Naima Al Jufri), serta istri Teguh, Djudjuk (Erika Carlina).

Muncul satu nama baru, yaitu Gepeng (Bio One), pemain kendang yang justru lebih lucu dari mereka semua. Teguh mengizinkannya bergabung, meski beberapa pihak keberatan, khususnya Tarsan. Penggambaran Tarsan di sini cukup menarik. Penggambarannya tak dipaksakan "sempurna", walau "Tarsan asli" tampil sebagai cameo. Bahkan di salah satu bagian, meski tersirat, filmnya menyebut Tarsan "tidak lucu", karena tugasnya adalah membuat anggota lain terlihat lucu. 

Ada juga bumbu romansa antara Gepeng dan Royani (Indah Permatasari), puteri Babe Makmur (Rano Karno) si pemilik kontrakan tempat Srimulat tinggal selama di Jakarta. Tapi fokus utama tetap tentang para anggota Srimulat, terutama proses mereka mencari kekhasan masing-masing, seperti Tarsan dengan seragam tentara, atau Tessy yang mendapat ide memakai batu akik serta pakaian wanita. 

Penuturannya memang kurang rapi. Kadang tampak ingin bercerita, tetapi bentuknya tidak jarang seperti kumpulan sketsa. Untungnya, kumpulan sketsa yang lucu. Selain humor toilet yang cenderung menjijikkan alih-alih menggelitik, sisanya efektif memancing tawa. Seperti sudah saya sebut, kekaguman Fajar terhadap Srimulat amat kentara. Dia tahu letak "daya bunuh" tiap lawakan, lalu mempresentasikannya berbekal timing serta semangat yang tepat. Ini karya terbaik seorang Fajar Nugros.

Ensemble cast-nya juga berjasa besar. Salah satu ensemble cast terbaik di film kita. Saking bagusnya, sulit memilih sosok favorit. Merujuk pada kemiripan tampang dan gerak-gerik, Ibnu Jamil cukup menonjol. Apalagi ia berhasil "lulus ujian" tatkala muncul di satu frame bersama Tarsan. Tapi bukan berarti nama lain kalah bagus. Bio One di performa terbaik, Teuku Rifnu mengolah citra intimidatifnya selaku penguat komedi, Zulfa Maharani sempurna memotret ke-lebay-an Nunung, sedangkan Elang El Gibran sempat memamerkan kekuatan dramatik di sebuah momen non-verbal.

Momen favorit saya adalah sewaktu anggota Srimulat berkumpul di teras bersama Ki Sapari (Whani Darmawan), kemudian melempar satu per satu lawakan klasik yang sudah kita kenal betul. Saya tertawa, tapi anehnya, juga terharu. Aneh, karena sebagai anak 90an, kenangan saya akan Srimulat yang bubar pada 1989 jelas sedikit. Hanya lewat acara Aneka Ria Srimulat (1995-2003), itu pun sebatas tahu, bukan menggemari. 

Sampai saya sadar, rasa haru tersebut bukan dipicu nostalgia tentang Srimulat, melainkan memori-memori indah yang dibawa lawakannya. Kaki terinjak, melorot dari kursi, dan lain-lain, adalah lawakan yang senantiasa muncul di tongkrongan. Lakukan itu, maka orang-orang yang tumbuh pasca era kejayaan Srimulat pun tetap bakal berkata, "Waah Srimulat". Srimulat telah meresap begitu kuat dalam keseharian kita. Srimulat lebih dari salah satu bagian kultur, melainkan kultur itu sendiri. 

Lawakan Srimulat memang "lawakan tongkrongan". "Gayeng" kalau kata kami orang Jawa. Itulah mengapa pemakaian teras sebagai latar menjadi penting. Tempat yang identik dengan kesantaian, tawa, kehangatan, kebersamaan. Sama seperti nilai-nilai usungan Srimulat.

REVIEW - KADET 1947

Para kadet tanpa pengalaman terbang, melaksanakan misi pemboman udara pertama Indonesia. Sebuah premis yang "seksi". Menggoda, karena bisa ditarik menuju banyak aspek. Tontonan perang epik? Bisa. Cerita from-zero-to-hero? Bisa. Kisah pemantik nasionalisme? Jelas bisa. Bahkan mungkin inilah yang paling utama. Bagaimana kecintaan terhadap tanah air mampu menyulut semangat pemuda untuk menantang kemustahilan. 

Rahabi Mandra dan Winaldo Swastia menyutradarai sekaligus menulis naskah film ini, yang ide pembuatannya muncul kala sang produser, Celerina Judisari, membaca artikel Pemboman Udara Pertama Indonesia yang dipublikasikan Historia. Jika artikel tersebut merangkum jalannya misi secara detail, maka Kadet 1947 berusaha mengelaborasi kisah yang melatari peristiwa itu. 

Ada tujuh kadet yang terlibat: Sutardjo Sigit (Bisma Karisma), Mulyono (Kevin Julio), Suharnoko Harbani (Omara Esteghlal), Bambang Saptoadji (Marthino Lio), Sutardjo (Wafda Saifan), Dulrachman (Chicco Kurniawan) dan Kapoet (Fajar Nugra). Tapi nantinya, cuma Sigit, Mulyono, Harbani, Saptoadji, dan Sutardjo yang benar-benar diberi porsi memadai. Sisanya sebatas pelengkap, atau comic relief. 

Mereka bertugas di markas TNI AU Maguwo, dibawah pimpinan Adisucipto (Andri Mashadi), yang nantinya sempat digantikan oleh Halim Perdana Kusuma (Ibnu Jamil) kala ia menjalankan misi ke luar negeri. Di antara ketujuh kadet, Saptoadji paling berhasrat untuk terbang, terlibat langsung di medan pertempuran yang dipicu Agresi Militer I Belanda. Keinginan itu membuatnya kerap terlibat masalah, hingga berkonflik dengan Harbani dan Mulyono. Sedangkan Sigit konsentrasinya terpecah, antara memenuhi impian menjadi pilot, dan kerinduan terhadap sang kekasih, Asih (Givina Lukita), yang kebetulan tinggal di zona berbahaya.

Jika film perang sarat aksi yang anda harapkan, maka bersiaplah kecewa. Berdurasi sekitar 111 menit, baru setelah satu jam filmnya menyuguhkan itu, sewaktu pesawat Belanda membombardir Maguwo. Hanya ada satu baku tembak singkat di antaranya, yang juga jadi sarana menampilkan Jenderal Soedirman (Indra Pacique), melengkapi cameo figur bersejarah selain Soekarno (Ario Bayu). Sisanya lebih menyoroti konflik internal antar kadet, serta sempilan misi yang rasanya merupakan sisi fiktif dari "kisah nyata" ini. 

Bukan masalah, mengingat para protagonisnya memang bukan figur-figur yang (semestinya) berada di garis depan. Masalahnya adalah, tatkala pemboman yang dinanti tiba, eksekusinya justru antiklimaks. Saya paham alasan pembuatnya lebih sering menyorot isi kokpit. Apalagi kalau bukan CGI. Biarpun kualitasnya cukup solid, menambah kuantitas tentu berisiko melahirkan momen-momen CGI yang tampak kasar. 

Tapi silahkan baca artikel Historia. Di situ ada banyak gambaran soal kesulitan para kadet di tengah misi, yang seluruhnya terjadi dalam kokpit. Kesulitan yang terjadi akibat keterbatasan sumber daya, pula minimnya jam terbang. Kadet 1947 mengesampingkan hal-hal yang berpotensi membangun intensitas klaustrofobik itu, lalu menyajikan pemboman yang harusnya jadi jualan utama secara ala kadarnya. Terlalu singkat, terlalu datar.

Padahal saya mengapresiasi bagaimana tim artistik mampu membangun tampilan filmnya dengan meyakinkan. Sebutlah bangkai-bangkai pesawat, hingga kampung tempat tinggal Asih yang terletak di tebing pinggir laut. Begitu juga keputusan Rahabi dan Winaldo, untuk menekan pesan-pesan nasionalisme agar tak berlebihan. Misal saat para kadet menyanyikan lagu Padamu Negeri. Di situ, kedua sutradara memilih menekankan keintiman alih-alih semangat menggebu. Keintiman tujuh pemuda, yang meski hati mereka terbakar api perjuangan, rasa takut akan kematian dan berpisah dengan orang-orang tercinta pastilah menggelayuti.

Paparan dramanya mungkin cenderung setengah matang. Selain Sigit, penokohan kadet-kadet lain kurang kedalaman. Begitu pula beberapa gagasan, termasuk "Apakah memiliki orang tercinta saat perang bakal membebani atau menambah motivasi?", yang sekadar dilontarkan namun tak pernah benar-benar dieksplorasi. Untunglah kedua sutradara sanggup menggulirkan penceritaan dengan baik, nyaman diikuti, lewat permainan tempo yang tepat guna. 

Departemen akting turut berjasa membuat Kadet 1947 layak diberi kesempatan. Marthino dan Bisma memang sempat tersandung pemakaian bahasa yang terlampau modern (sama-sama melontarkan "gitu dong"), namun itu bisa saja kealpaan naskah. Pun mengherankan ketika dua sutradara memilih membiarkannya (terutama adegan Bisma, di mana kamera menyorot langsung wajahnya). Di luar itu, solid. Bisma masih likeable, sementara Marthino membuktikan kepantasan sebagai salah satu "properti terpanas" industri film lokal belakangan ini. Berlawanan dengan Marthino, Kevin Julio adalah sosok underrated. Sejak Sweet 20 (2017) penampilannya selalu memuaskan, tetapi belum juga memperoleh pengakuan semestinya.

REVIEW - ALI & RATU RATU QUEENS

Berbeda dengan mayoritas film Indonesia berlatar luar negeri, Ali & Ratu Ratu Queens tidak dibuat memakai kacamata turis. Berlatar New York, karakternya kerap berkeliling kota (yang tampak cantik berkat tangkapan kamera Batara Goempar selaku sinematografer), bukan sebatas jalan-jalan, namun merekam memori. Di tengah dunia yang asing, rekaman itu dipakai si protagonis untuk mengenal orang-orang di sekitarnya, guna menghapus keterasingan dan kesendiriannya. 

Protagonis kita bernama Ali (Iqbaal Ramadhan), yang menyambangi New York seorang diri, demi mencari sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang pergi ke sana sewaktu Ali kecil, guna menggapai mimpi sebagai penyanyi. Ali nekat, biarpun mendapat tentangan dari keluarga besar, termasuk budenya (Cut Mini). Dia ingin tahu, mengapa Mia tidak pernah pulang ke Indonesia. 

Satu hal yang langsung mencur perhatian saya adalah tata suara. Ambience, semisal suara burung, terasa nyata, seolah kita berada langsung di lokasi. Pun baik musik (berisi deretan lagu catchy seperti Khayalan hingga Location Unknown) maupun dialog tampil jernih, walau saat keduanya muncul bersamaan, kerap terdengar tumpang tindih. 

Sesampainya di New York, Ali mendapati sang ibu tidak lagi menetap di alamat lamanya yang terletak di Queens. Tapi ia beruntung, sekarang di sana tinggal para ratu. Empat imigran wanita asal Indonesia dengan kepribadian penuh warna, yang siap membantu pencariannya, termasuk mengizinkan Ali tinggal sementara waktu bersama mereka. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Ajeng (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma). Ali turut bertemu Eva (Aurora Ribero), puteri Ajeng, yang bisa ditebak, bakal menjadi love interest-nya.

Ali, yang membawa Iqbaal menampilkan akting natural, memang tokoh utama. Sedangkan Marissa Anita kembali membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik negeri ini, yang piawai menangai kompleksitas emosi. Tapi keempat ratulah jiwa Ali & Ratu Ratu Queens sesungguhnya. Melalui mereka, sudut pandang imigran dari kelas menengah ke bawah yang jarang diambil film kita, dipresentasikan. Mereka tidak datang untuk liburan. Bukan pula kalangan beruntung yang pergi dari Indonesia karena tawaran pekerjaan menggiurkan atau kesempatan menempuh pendidikan. 

Dari mereka, mimpi-mimpi memperbaiki hidup milik para imigran ditampilkan. Pula bagaimana berkat semangat kebersamaan mereka, penderitaan di tengah upaya menggapai mimpi tersebut dapat terobati, atau setidaknya diringankan. Padahal mereka adalah orang asing. Bukan kawan lama, apalagi keluarga. Gagasan mengenai "chosen family" pun diusung. Bahwa individu bisa, dan berhak, memilih siapa keluarganya. Bahwa keluarga tidak harus terikat hubungan darah. Tempat di mana kita bisa menemukan kehangatan sebagai diri sendiri, itulah keluarga. 

Di Queens, Ali belajar soal itu. Dia menemukan kenyamanan bersama para ratu, sebagaimana saya menemukan kenyamanan selama menonton filmnya. This is a comforting movie. The Queen themselves radiate comfort and warmth. Naskah buatan Ginantri S. Noer (Posesif, Dua Garis Biru, Keluarga Cemara) penuh akan celetukan menggelitik keempat ratu, yang selain berfungsi memancing tawa (berhasil), pula menggambarkan betapa hangatnya berada di sekitar mereka (juga berhasil).

Berstatus "comforting movie", naskahnya tidak membiarkan penonton berlarut-larut menyaksikan permasalahan. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap kekurangan, karena filmnya tak membiarkan konflik lebih berkembang dan berakhir secara instan. Tapi bagi saya, justru di situlah letak pesonanya. Ali & Ratu Ratu Queens ingin selama mungkin membuat penonton dikelilingi emosi positif berupa kedamaian, kehangatan, dan kebahagiaan. Takkan menghapus masalah di dunia nyata, tapi minimal, selama sekitar 100 menit, kita dibawa melupakan realita itu, dalam dunia fiksi yang dipenuhi senyuman.

Tapi bukan berarti terjadi simplifikasi, khususnya perihal konflik keluarga Ali. Mudah saja menggambarkan ayah Ali, Hasan (Ibnu Jamil), sebagai pria pengekang mimpi istri. Mungkin ada sedikit unsur itu, namun filmnya enggan seketika menyalahkan. New York adalah tempat yang jauh. Tentu sulit baginya menjalani perpisahan itu. Dinamika batinnya masih menyisakan ruang untuk ditelusuri, namun dilemanya bisa dipahami. 

Apabila anda menyalahkan Mia, patut dicatat, sebagai wanita apalgi yang tinggal di Indonesia, peluang sekecil apa pun mahal harganya. Pria bisa membuang satu-dua kesempatan meraih mimpi dan punya berpeluang lebih besar dari wanita untuk  mendapatkannya lagi suatu hari kelak. Lewat akting Marissa Anita, dilema antara cita-cita dan keluarga mampu dirasakan. Mia membayar harga yang mahal, dan bagaimana itu berdampak besar terhadapnya, nampak betul dari penampilan sang aktris.

Pengarahan Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna) membawa semangat serupa naskahnya, dengan sensitivitas yang sanggup memancing rasa haru tidak harus melalui tangisan, melainkan kehangatan. Departemen lain turut membantu Lucky mewujudkan visinya, termasuk montase jelang akhir, yang menampilkan animasi karya Pinot W. Ichwandardi. Beberapa kecanggungan masih sesekali terasa, baik di gagasan naskah atau pengadeganan, tetapi tidak sampai menghambat laju Ali & Ratu Ratu Queens, yang dengan mulus menjadi film Indonesia terbaik 2021 sejauh ini. 


Available on NETFLIX

REVIEW - MUDIK

Cukup disayangkan, akibat pandemi karya terbaru sutradara Adriyanto Dewo (Tabula Rasa, Lima) yang sebelumnya sempat diputar di Macau International Film Festival dan CinemAsia Film Festival ini batal tayang di layar lebar. Walau akhirnya tetap bisa ditonton di Mola TV, kesempatan diputar saat libur lebaran pun sirna. Tidak ada jaminan filmnya bakal sukses secara komersial mengingat gaya bertuturnya jauh dari kemeriahan "film hari raya" ditambah ketiadaan nama bankable di jajaran pemain, namun saya bisa membayangkan, menontonnya bertepatan (atau minimal berdekatan) dengan Idul Fitri bakal menghasilkan pengalaman begitu berkesan berkat kisahnya yang amat dekat. 

Alurnya mengisahkan pasangan suami-istri, Firman (Ibnu Jamil) dan Aida (Putri Ayudya), yang hendak mudik berdua mengendarai mobil. Tujuannya adalah rumah orang tua Firman. Tapi sejak awal sudah nampak ada masalah. Secara tersirat kita mempelajari bahwa beberapa waktu terakhir, pasutri ini hidup terpisah atas permintaan sang istri. Aida baru mengetahui dirinya mandul, sehingga memerlukan waktu menyendiri. Saat itulah ia menaruh curiga pada kesetiaan Firman. 

Tentu saja sang suami menyangkal sudah berselingkuh. Tak butuh waktu lama bagi penonton dan Aida untuk meragukan sangkalan tersebut. Firman menjadikan "nggak denger, kan di-silence" sebagai alasan tidak mengangkat telepon, sampai beberapa saat kemudian, ternyata handphone-nya berada dalam mode getar kala ada panggilan masuk. Panggilan itu berasal dari sang ibu. Firman mengaku sedang terjebak macet di jalan tol, padahal keluar ke jalan raya pun belum. Ada tendensi berbohong yang besar dari pria ini.

Sepanjang perjalanan kita diajak menyaksikan kemacetan khas mudik. Sebuah pemandangan yang bisa didapat karena proses pengambilan gambar bertepatan dengan Idul Adha, dan berkatnya realisme Mudik pun bisa dibangun. Lalu malam hari tiba, dan terjadilah peristiwa itu. Saat itu giliran Aida menyetir. Dia menabrak pria pengendara motor. Pria itu tewas. Meski sempat kabur, perasaan bersalah mendorong Aida dan Firman menyusul ke rumah sakit. Sewaktu mereka bertanya soal kondisi pria itu, seorang suster tak mampu memberi jawaban pasti karena banyaknya kecelakaan. "Lebaran ya begini", katanya

Pernyataan di atas menegaskan betapa kecelakaan lalu lintas saat mudik merupakan hal biasa. Bahkan, Adriyanto Dewo sendiri mengalami musibah serupa, yang membuatnya harus menyutradarai film ini di atas kursi roda selama dua minggu. Miris sebenarnya. Nyawa ratusan manusia yang melayang tiap tahun berubah jadi angka-angka statistik, lalu dianggap suatu kewajaran selaku bentuk rutinitas. 

Dengan mengangkat hal itu, naskah yang juga ditulis oleh Adriyanto mengembalikan sisi kemanusiaan, khususnya bagi mereka yang ditinggalkan. Agar sengketa bisa diselesaikan secara damai, Firman dan Aida memilih mendatangi rumah korban, di mana Santi (Asmara Abigail) tengah luar biasa terpukul. Kebahagiaan karena sang suami akhirnya pulang setelah lima tahun seketika sirna. Tapi realita yang ditangkap Mudik tidak berhenti di persoalan kecelakaan.

Melalui pergolakan hati Aida, diselipkan pula perihal pertemuan dengan keluarga selama lebaran, yang alih-alih kebahagiaan, justru mengundang kecemasan akan penghakiman-penghakiman yang menanti di rumah. Pun anda akan mendapati, tokoh-tokohnya beberapa kali mengungkapkan prasangka. Ada yang terbukti kebenarannya, ada yang terbantahkan (Sesuatu yang menyulut deretan perdebatan terkait film pendek Tilik belum lama ini).  

Diskriminasi gender tidak lupa dikupas. Dari sisi Aida, ia satu dari sekian banyak wanita korban seksisme, yang kehilangan harganya di mata masyarakat akibat tak mampu memiliki momongan. Sedangkan Santi dihadapkan pada seksisme (plus keserakahan) berkedok kepedulian. Pria-pria kampung menggelar pertemuan dengan Firman dan Aida demi mencari jalan keluar (baca: meminta ganti rugi sebesar 30 juta rupiah). 

Apakah angka itu didapat dari hasil diskusi dengan Santi? Rupanya tidak. Bahkan ketika mendadak Santi mendatangi pertemuan itu, para warga mengusirnya, dengan bersenjatakan pernyataan bahwa ia tak semestinya keluar rumah karena sang suami baru meninggal. Para pria, baik warga kampung maupun Firman, berlomba-lomba menjadi "penyelesai masalah", menggunakan cara kotor. Kalimat-kalimat bernada tinggi tak henti mereka lontarkan, sementara kedua wanita memilih bertukar isi hati. Putri Ayudya dan Asmara Abigail memamerkan performa kuat sebagai dua figur yang sama-sama dihantui kehilangan serta perasaan bersalah. 

Adriyanto mengarahkan filmnya dengan senstivitas, ditemani musik gubahan komposer langganannya, Indra Perkasa, yang paling mencuri perhatian saya melalui orkestrasi megah di penghujung durasi. Indah, cukup mendayu, namun tanpa kesan cengeng. Sayangnya, konflik Mudik memuncak dalam pertengkaran penuh teriakan verbal berisi kalimat-kalimat klise, ketimbang kesubtilan di mana ekspresi rasa dipercantik sebagaimana ditampilkan momen penutupnya. Pun pengembangan konfliknya, dari masalah relatable yang jarang disentuh seputar kecelakaan di tengah mudik, lagi-lagi menyentuh persoalan yang sudah (terlalu) sering diusung film drama negeri ini, sebutlah urusan poligami hingga kehamilan. Memang dekat dengan realita, tapi ada banyak varian untuk menyajikan tema empowerment (Sinema India ada di garis terdepan perihal ini).

Pada akhirnya, di balik segala problematika tadi, Mudik tetaplah mengenai perjalanan pulang, memaafkan, dan berdamai. Termasuk memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, juga "pulang" menuju kemerdekaan sebagai individu yang bebas. 


Available on MOLA TV