Tampilkan postingan dengan label Putri Ayudya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putri Ayudya. Tampilkan semua postingan

REVIEW - TUHAN MINTA DUIT

Ada kata "Tuhan" di judul, kisah sarat kebajikan (sedikit) beraroma religi, karakter dalam jerat kemiskinan, melibatkan Asrul Dahlan di jajaran cast. Sebuah film tidak bisa terasa "lebih Ramadan" dari ini.....well, kecuali jika menambahkan nama Deddy Mizwar. 

Kisahnya seputar Maya (Anantya Kirana), yang menyamar jadi anak laki-laki bernama Adi, agar bisa menyemir sepatu di jalan. Anak perempuan dilarang menyemir karena dianggap lebih memancing simpati pelanggan. Penceritaannya tanpa basa-basi. Sejak detik pertama kita sudah melihat Maya menjadi Adi, dan bagi saya ini poin plus naskahnya.

Mungkin karena keterbatasan, ada tuntutan bercerita seringkas mungkin (durasinya cuma 77 menit), yang mengharuskan Puguh PS Admadja dan Harris Fabillah memadatkan penulisan mereka. Keduanya terbukti mampu. Prolog ditiadakan, informasi-informasi diselipkan lewat obrolan sepanjang durasi. 

Maya terpaksa bekerja karena kedua orang tuanya sudah meninggal akibat kecelakaan. Sedangkan sang nenek, Mbah Kedah (Putri Ayudya), yang selamat dalam kecelakaan, mengalami cedera kaki permanen. Keduanya hidup berkesusahan. Jangankan memuaskan hasrat makan nasi padang, menambal genteng bocor dan membayar token listrik saja tak mampu. Kondisi serupa dialami tetangga mereka, Bama (Asrul Dahlan), yang pusing memikirkan biaya persalinan istrinya. 

Setiap hari, di sela-sela menyemir sepatu, Maya rajin salat di masjid, lalu berdoa meminta duit pada Tuhan. Nantinya permintaan itu terkabul, hanya saja melalui cara tidak terduga. "Tuhan bergerak secara misterius" jadi pesan utama filmnya, yang dijadikan pondasi membentuk drama klise, yang untungnya tak terasa cerewet berceramah. Ringan, berisikan ajaran kebaikan. Cocok sebagai tontonan menanti buka puasa selama Ramadan. 

Kuncinya ada di kepolosan bocah. Sulit untuk menampik kehangatan kala melihat bocah seusia Maya, khusyuk berdoa tiap hari demi kepentingan orang lain. Pun saat "rezeki" datang, ia pakai itu untuk orang lain pula, baik nenek maupun Bama. Sang pemeran, Anantya Kirana, melakoni debut yang cukup gemilang melakoni interaksi-interaksi natural. Bahkan lebih natural dibanding beberapa pemeran pendukung dewasa. 

Putri Ayudya lagi-lagi kebagian peran yang jauh lebih tua dari usia aslinya. Walau tata riasnya tak seburuk yang dipakainya di Menunggu Bunda (rest in peace Richard Oh, no disrespect here), tetap saja menjadikannya nenek renta dengan seorang cucu adalah wujud casting yang dipaksakan. Apalagi mengingat ada banyak aktris senior pemilik nama besar (jika Putri dipilih karena faktor popularitas) yang pantas memerankan Mbah Kedah. Paling tidak Putri memberi penampilan meyakinkan, baik dalam hal rasa atau performa fisik. 

Masalahnya penokohan Mbah Kedah agak inkonsisten. Di satu kesempatan ia mengutarakan penyesalan, berharap nyawanya saja yang diambil dalam kecelakaan alih-alih orang tua Maya. Bahkan Mbah Kedah nekat mencoba berjualan gado-gado meski fisiknya kurang mendukung. Tetapi di sisi lain, berulang kali disampaikannya keinginan makan nasi padang, yang jelas membebani Maya. Sempat pula ia meminta Maya mengisi token listrik agar bisa menonton sinetron. Soal "nonton sinetron" mungkin wujud candaan, namun menyuruh si bocah tanpa bertanya berapa uang yang dihasilkan hari itu (atau eskpresi kepedulian lain), terasa out-of-character. 

Jika diperhatikan, kelemahan Tuhan Minta Duit menumpuk selepas Maya "menerima uang dari Tuhan". Padahal sebelumnya, alur bergulir mulus, dipandu pacing solid dalam penyutradaraan Azhar Kinoi Lubis. Karena saat itu semuanya tampil sederhana. Sebatas perjuangan bocah yang menolak kehilangan harapan meski ditekan kemiskinan. 

Sementara paruh akhirnya lebih kompleks, melibatkan kasus perampokan, proses investigasi ngawur, sebelum ditutup oleh rencana penggerebekan bodoh pihak kepolisian. "Jangan berdoa yang muluk-muluk", ucap seorang ustaz. Andai para penulis naskahnya turut mengaplikasikan kalimat buatan mereka itu. 

(Klik Film)

REVIEW - YOWIS BEN FINALE

"Andai saja" adalah reaksi yang berulang kali muncul di kepala selama menonton ini. Andai saja babak akhirnya dipadatkan, pula dipersingkat sehingga tak perlu dipecah ke dalam dua film. Andai saja demikian, bisa saja Yowis Ben Finale jadi installment terkuat, alih-alih yang terlemah seperti sekarang. Sayang sekali.

Ketika babak konklusi merasa perlu membuka lima menit pertamanya dengan kompilasi trailer tiga judul sebelumnya (plus dua menit rekap ending Yowis Ben 3), entah selaku tapak tilas atau sebatas penambal durasi, jelas ada yang salah. Terbukti, begitu mulai memasuki narasi sesungguhnya, kejanggalan amat terasa.

Yowis Ben Finale dibuka kala Bayu (Bayu Skak), Cak Jon (Arife Didu), dan Ibu Bayu (Tri Yudiman) berada di situasi emosional, menangis, saling minta maaf dan memaafkan. Latar tempat, akting, ditambah konteks mengenai "janji kepada mendiang anggota keluarga", mampu melahirkan pemandangan haru. Tapi ada yang janggal. Adegan ini mestinya mengisi akhir second act, atau bahkan resolusi di third act. Bukan mengawali first act.

Wajar, sebab Yowis Ben 3 dan Yowis Ben Finale sejatinya memang sebuah kesatuan, yang dipotong secara tidak seimbang. Alhasil, struktur narasinya aneh. Film memiliki extended version merupakan hal biasa, tapi Yowis Ben Finale adalah extended third act. Durasi 95 menitnya berisi konklusi-konklusi dari rangkaian konflik film ketiga. 

Konflik Bayu dengan Cak Jon, usaha Cak Jon merebut kembali hati Mbak Rini (Putri Ayudya) dari Arjuna (Denny Sumargo), masalah finansial Doni (Joshua Suherman) dan Yayan (Tutus Thomson), romansa segitiga antara Bayu dengan Asih (Anya Geraldine) dan Susan (Cut Meyriska), hingga cita-cita Nando (Brandon Salim) kuliah di Amerika yang mengancam nasib Yowis Ben, semua penyelesaiannya ditumpuk di sini. 

Kekurangan tersebut jamak menjangkiti finale sebuah seri yang dipaksa untuk dipecah menjadi dua bagian, tapi baru sekarang saya menemukan yang pembagiannya begitu kasar, begitu asal, sepenuhnya menutup mata terhadap kepatutan bercerita. 

Dampak lainnya, kekhasan franchise ini pun lenyap. Gojek kere miliknya masih sekuat biasanya, pun kali ini Devina Aureel diberi kesempatan unjuk gigi memamerkan bakat mengocok perut penonton. Tapi kuantitasnya jauh terpangkas, akibat terpaksa memberi ruang pada drama-drama yang menunggu diselesaikan. Begitu pula terkait band. Yowis Ben adalah kisah sekelompok remaja mengalami proses pendewasaan melalui band, namun kecuali satu sekuen penutup, praktis perihal kegiatan bermusik nyaris tak terjamah. 

Pertikaian internal Yowis Ben kala Nando mengutarakan niat berkuliah di luar negeri juga terkesan dipaksakan. Saya paham bahwa Fajar Nugros dan Bayu Skak selaku penulis ingin menekankan bagaimana keempatnya tak cuma sekadar band, melainkan keluarga yang selalu bersama, dan menolak saling meninggalkan. Tapi sebagaimana diucapkan karakternya, Yowis Ben juga mata pencaharian mereka. Sumber penghidupan bagi keluarga. Ketimbang memutuskan bubar, bukankah lebih masuk akal mencari pengganti, atau terus berjalan sebagai trio? 

Sekali lagi, sangat disayangkan. Padahal beberapa adegan dramatis digarap cukup kuat. Misal pernyataan "Aku ora dianggap maneh?" dari Cak Jon kepada Bayu dan ibunya yang merupakan ekspresi kehangatan nilai keluarga khas Jawa, atau sebuah konklusi masalah berlatar gereja dengan iringan choir yang membawa pesan persatuan. Semua kuat apabila berdiri sendiri. Tapi film adalah kumpulan adegan yang berpadu menciptakan keutuhan narasi. 

REVIEW - PREMAN

Menengok posternya, saya mengira Preman adalah drama kriminal kelam nan serius. Memang betul, naskah yang ditulis sendiri oleh sang sutradara, Randolph Zaini, menyinggung isu-isu "berat" seperti premanisme, trauma, bullying, toxic masculinity, hingga homofobia, tetapi dengan pendekatan luar biasa menyenangkan. Tidak ada film Indonesia tahun ini yang seasyik dan seliar Preman perihal eksplorasi genre.

Ketimbang drama kriminal biasa, ini lebih dekat ke b-movie, ke film-film eksploitasi grindhouse, berisi tokoh-tokoh bigger-than-life, kekerasan, dan kebodohan disengaja, yang akan dengan senang hati diterima penonton, karena ada kecerdasan yang jauh lebih besar di sini. 

Diiringi lagu yang mengingatkan kepada Far From Any Road milik The Handsome Family, kita melihat seorang pria tuli bernama Sandi (Khiva Iskak), mengawali hari. Dia adalah anggota Perkasa, organisasi preman dengan warna kebesaran oranye, yang tengah menggusur paksa warga kampung, guna merealisasikan proyek pemilik modal. Tidak perlu saya sebut, pasti anda tahu Perkasa merupakan sentilan terhadap salah satu ormas negeri ini. 

Perkasa dikepalai oleh Guru (Kiki Narendra) yang...well, adalah seorang guru di SD tempat Pandu (Muzakki Ramdhan), putera Sandi, bersekolah. Suatu malam, ketika Pandu menyaksikan aksi premanisme Perkasa yang kali ini merenggut nyawa, Sandi harus membelot, melawan organisasinya sendiri. 

Pengkhianatan Sandi membuka gerbang menuju dunia sarat mitologi menarik, pula tokoh-tokoh penuh warna, dari seorang pejabat bernama Hanung (David Saragih) yang alih-alih bicara malah menggeram bak macan,  Paul (Paul Agusta) si anggota Perkasa yang hobi menari dan bercita-cita membuat musikal, hingga Ramon (Revaldo) alias "Tukang Cukur", pembunuh bayaran yang seperti julukannya, menghabisi korban menggunakan gunting cukur. 

Menarik. Sangat menarik. Randolph bak profesor gila yang menemukan laboratorium tempatnya bisa bereksperimen sesuka hati, menciptakan formula yang mampu membuat penontonnya tersenyum lebar selama 81 menit durasi film. 

Merumuskan aksi bersama sinematografernya, Xing-Mai Deng, pilihan angle Randolph mungkin tidak selalu tepat guna menangkap baku hantam yang terjadi, namun itu dapat dengan mudah dimaafkan berkat kreativitas di segala lini. Misal senjata. Jika Ramon memakai gunting cukur, maka protagonis kita membekali diri dengan meteor hammer buatan tangan (senjata Gogo di Kill Bill). 

Senjata unik berarti metode bertarung pun tak kalah unik, yang tampak betul dalam konfrontasi dua tokoh tersebut, yang terjadi di rumah Mayang (Putri Ayudya), mantan istri Sandi. Rumah Mayang pun membawa sang sutradara menyambangi genre lain. Sebuah gubuk kayu kecil di tengah hamparan padang tandus, membuatnya tampak berasal dari film western. 

Sebagai grindhouse, tentu kekerasan dimiliki Preman. Tapi Randolph tahu kalau sedang membuat film bagi pasar Indonesia. Bila menyasar bioskop, kekerasan berlebih yang susah-susah diciptakan bakal percuma. Kembali, kreativitas mengambil alih. Randolph cerdik "mengakali" sensor, entah dengan membuat impact serangan terjadi secara off-screen tanpa melucuti kebrutalan, atau menggunakan barang pengganti untuk tubuh serta darah, sebagaimana diperlihatkan klimaksnya. Klimaks berbalut lagu Cublak Cublak Suweng yang sukses memancing kekaguman, bahkan tepuk tangan penonton festival tempatnya diputar. 

Deretan karakter unik milik Preman turut dihidupkan oleh ensemble cast yang seluruhnya tampil gemilang, tetapi porosnya tetap terletak pada dua nama, yakni Khiva dan Muzakki. Lihat adegan di sawah, dan anda akan dibuat terpukau oleh kehebatan Muzakki bermain emosi lewat ekspresi serta bahasa isyarat. 

Sedangkan Khiva Iskak akhirnya memperoleh peran yang memfasilitasi talenta besarnya. Tanpa tuturan verbal, dihidupkannya Sandi, selaku perwujudan luka-luka yang ditimbun oleh pola pikir terbelakang negeri ini. Sandi mencari kekerasan, karena hanya itu cara yang ia tahu, sebagai individu hasil bentukan budaya pemuja maskulinitas, di mana kejantanan dipuja. Budaya di mana kekuatan kepalan tangan lebih diunggulkan daripada kemanusiaan berperasaan, sehingga melestarikan persekusi para preman. 

(JAFF 2021)

REVIEW - MENUNGGU BUNDA

Seusai pemutaran, Richard Oh selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menyampaikan bahwa Menunggu Bunda terinspirasi dari pengalamannya merawat sang ibunda di rumah sakit. Richard mempertanyakan, "Apakah ibu sedang menderita?". Saya mendengar kejujuran (dan pilu) di balik kata-katanya. Saya begitu ingin menyukai Menunggu Bunda, tapi tak bisa.

Walau jujur sekaligus personal, sayangnya ini karya terlemah Richard. Di bawah eksperimentasi gerak yang kurang berhasil di Love is a Bird (2018), pula di bawah Perburuan (2019) yang juga kurang berhasil selaku adaptasi novel. 

Sejak melihat Putri Ayudya dibalut tata rias seadanya guna memerankan wanita 53 tahun bernama Yenny, saya sudah mencium ketidakberesan di sini, walau akting Putri tetap elemen terbaik Menunggu Bunda. Alkisah, Yenny tengah koma. Ketiga anaknya, Alya (Adinda Thomas), Alma (Steffi Zamora), dan Andra (Rey Mbayang), juga sang suami yang menderita alzheimer, Marsio (Donny Damara), bersama-sama menjaga Yenny. Jika selama ini Yenny bersabar menunggu ketiga anaknya beranjak dewasa, sekarang giliran mereka menunggu sang bunda membuka mata.

Selain Yenny sekeluarga, kita juga melihat diskusi antara Dr. Myra (Gisele Calista) dan Dr. Miyagi (Nobuyuki Suzuki), terkait penanganan terbaik bagi si pasien. Konon, Dr. Miyagi adalah figur terkemuka. Seorang profesor dari Universitas Tokyo. Tapi jangankan urusan menjelaskan perihal medis, cara berdirinya kala "mengecek" kondisi Yenny saja lebih tampak seperti orang kebingungan ketimbang dokter ahli. Canggung.

Menunggu Bunda adalah sajian canggung, termasuk soal penuturan. Entah satu lagi eksperimentasi atau murni inkonsistensi (baca: kebingungan), Richard memadukan warna arthouse dan melodrama, yang alih-alih saling melengkapi dan membentuk hibrida menarik, justru bertentangan bagai air dan minyak. 

Nuansa melodrama mayoritas diciptakan musik mendayu-dayu yang penggunaannya berlebihan. Sedikit saja ada perubahan emosi, musik seketika menggelegar, seolah ada karakter meregang nyawa, atau hendak terjadi perkelahian. 

Di seberang Yenny, dirawatlah pria tanpa nama, dengan perban di sekujur tubuh layaknya mumi. Pada suatu kesempatan, si pria membaca buku harian, tampak tersentuh sembari mengucapkan nama "Santi", kemudian scoring mengharu-biru terdengar, bak memerintah penonton, "Waktunya kalian bersedih". Tapi siapa Santi? Siapa si pria mumi? Kenapa kita mesti menangisi karakter yang tidak kita kenal?

Si pria mumi dan penjaga toilet yang selalu kesulitan mengisi TTS (Paul Agusta), mewakili sisi artsy filmnya. Sosok-sosok misterius yang berguna merepresentasikan gagasan, ketimbang perwujudan manusia sepenuhnya sesuai realita. Keduanya seperti berasal dari film yang berbeda dengan Yenny sekeluarga. 

Naskah buatan Richard berniat menggugat perspektif tradisional tentang keluarga.  Bagaimana keluarga tidak melulu harus punya hubungan darah. Siapa pun bisa menjadi keluarga yang kita sayangi. Sayangnya, daripada mengeksplorasi secara mendalam, poin tersebut hanya tampil sekelebat, sebelum diposisikan sebagai twist jelang akhir. 

Mungkin Richard ingin menekankan bahwa tidak ada perbedaan antara keluarga sedarah dan tidak, sehingga kisahnya dipresentasikan serupa drama keluarga biasa, sambil merahasiakan fakta mengenai tokohnya. Tapi, seperti permasalahan musik si pria mumi, bagaimana penonton bisa terhubung secara emosional dengan sesuatu yang kita tidak tahu?

Richard menyimpan gagasan-gagasan. Mengenai konsep keluarga, hidup-mati, dan lain-lain. Gagasan, setelah dipoles di sana-sini, berkembang jadi penceritaan. Menunggu Bunda belum tuntas melewati fase tersebut, dan berhenti sebagai gagasan belaka. Kebetulan seusai film ini, saya langsung menonton Just Mom milik Jeihan Angga, yang mengangkat tema sama, namun dengan hasil yang berbanding terbalik. 


(JAFF 2021)

REVIEW - YOWIS BEN 3

Seri Yowis Ben, dari judul pertama hingga ketiga, tidak pernah mengalami peningkatan berarti. Baik kekurangan maupun kelebihannya selalu sama. Tapi kelebihannya terkait identitas. Ada identitas kuat yang dipahami betul oleh para penggemarnya, sehingga wajar bila jumlah penontonnya stabil di kisaran yang tinggi (film pertama 935 ribu, film kedua satu jutaan). Itu juga alasan saya terus kembali, termasuk untuk Yowis Ben Finale di akhir tahun nanti, biarpun tak pernah menyebut diri sebagai "penggemar". 

Identitas tersebut berupa candaan. Gojek kere. Menontonnya bak sedang duduk santai di warung kopi sederhana sembari ngobrol ngalor ngidul bersama teman-teman hingga tengah malam. Adakah obrolan berbobot? Mungkin tidak. Bisa jadi esok pagi detail obrolannya sudah terlupakan, tapi kita ingat, bahwa saat itu kita bersenang-senang.

Alkisah, Yowis Ben kini semakin tenar. Tur keliling Jawa tengah dilakoni Bayu (Bayu Skak), Doni (Joshua Suherman), Nando (Brandon Salim), dan Yayan (Tutus Thomson). Apalagi selain Doni, masing-masing mempunyai pasangan suportif. Bayu dengan Asih (Anya Geraldine), Nando dengan Stevia (Devina Aureel), sedangkan Yayan dan Mia (Anggika Bolsterli) bahagia berkat keberadaan putera mereka, Singo (tentu nama unik si bayi dijadikan running joke menggelitik sepanjang durasi). 

Sayangnya, rentetan masalah segera menghampiri. Nando terjebak dilema karena ingin berkuliah di luar negeri, sementara keluarga Bayu dan Doni sama-sama terlilit kesulitan finansial. Masalah terpelik dihasilkan Cak Jon (Arief Didu), yang belakangan sulit fokus pada pekerjaannya. Terlebih saat mantannya, Rini (Putri Ayudya), mendadak muncul, dalam posisi telah bertunangan dengan Arjuna (Denny Sumargo), seorang tentara.

Seperti saya sebutkan di atas, Yowis Ben terasa seperti obrolan ngalur ngidul, sebab memang demikian alurnya dikemas. Tidak tertata. Misalnya first act yang tampil layaknya road movie, namun tanpa destinasi pasti. Sebatas kedok agar naskah buatan Fajar Nugros dan Bayu Skak bisa melempar lelucon-lelucon secara acak. 

Pun memasuki menit-menit berikutnya, penceritaan semakin sulit fokus akibat jumlah konflik yang turut bertambah. Apalagi Yowis Ben 3 adalah bagian pertama dari dua bagian babak final, sehingga jangankan resolusi, beberapa konflik bahkan belum terurai secara memadai. Alurnya tampak seperti keping-keping puzzle yang berserakan di lantai. 

Tapi bukankah Yowis Ben memang senantiasa begitu? Poin-poin di atas dituliskan karena tetap merupakan kelemahan, tetapi sejak sebelum film dimulai, saya sudah mengantisipasinya, memilih untuk menerimanya, dan tidak lagi ambil pusing. Saya datang untuk menertawakan gojek kere para anggota Yowis Ben, Cak Jon, dan Kamidi (Erick Estrada). 

Biarpun cenderung hit-and-miss (juga masalah lama), secara keseluruhan, saya menikmatinya. Saya yakin target pasarnya bakal berpikiran serupa. Saya tertawa setiap ada yang terkejut mendengar nama "Singo". Saya tertawa ketika lelucon "batuk dan batik" dilontarkan, walau telah berkali-kali menyaksikannya di trailer. Saya tertawa membaca papan bertuliskan "Band Liyo". Imajinasi liar cenderung ngawur, pelesetan receh, hingga pisuhan-pisuhan, semua itu adalah wujud hiburan yang dekat.

Ada satu keunggulan di luar komedinya. Di babak akhir, Arief Didu dan Bayu Skak memamerkan kemampuan akting drama mereka. Saya cukup terkejut melihat Bayu. Ini penampilan terbaiknya. Penonton Jawa mungkin juga merasakan, bagaimana menusuknya kata-kata yang Bayu ucapkan. Kata bernada penyesalan akibat bersikap "durhaka" terhadap keluarga, yang rasanya takkan sekuat itu dampaknya bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Itulah yang disebut identitas.

REVIEW - MUDIK

Cukup disayangkan, akibat pandemi karya terbaru sutradara Adriyanto Dewo (Tabula Rasa, Lima) yang sebelumnya sempat diputar di Macau International Film Festival dan CinemAsia Film Festival ini batal tayang di layar lebar. Walau akhirnya tetap bisa ditonton di Mola TV, kesempatan diputar saat libur lebaran pun sirna. Tidak ada jaminan filmnya bakal sukses secara komersial mengingat gaya bertuturnya jauh dari kemeriahan "film hari raya" ditambah ketiadaan nama bankable di jajaran pemain, namun saya bisa membayangkan, menontonnya bertepatan (atau minimal berdekatan) dengan Idul Fitri bakal menghasilkan pengalaman begitu berkesan berkat kisahnya yang amat dekat. 

Alurnya mengisahkan pasangan suami-istri, Firman (Ibnu Jamil) dan Aida (Putri Ayudya), yang hendak mudik berdua mengendarai mobil. Tujuannya adalah rumah orang tua Firman. Tapi sejak awal sudah nampak ada masalah. Secara tersirat kita mempelajari bahwa beberapa waktu terakhir, pasutri ini hidup terpisah atas permintaan sang istri. Aida baru mengetahui dirinya mandul, sehingga memerlukan waktu menyendiri. Saat itulah ia menaruh curiga pada kesetiaan Firman. 

Tentu saja sang suami menyangkal sudah berselingkuh. Tak butuh waktu lama bagi penonton dan Aida untuk meragukan sangkalan tersebut. Firman menjadikan "nggak denger, kan di-silence" sebagai alasan tidak mengangkat telepon, sampai beberapa saat kemudian, ternyata handphone-nya berada dalam mode getar kala ada panggilan masuk. Panggilan itu berasal dari sang ibu. Firman mengaku sedang terjebak macet di jalan tol, padahal keluar ke jalan raya pun belum. Ada tendensi berbohong yang besar dari pria ini.

Sepanjang perjalanan kita diajak menyaksikan kemacetan khas mudik. Sebuah pemandangan yang bisa didapat karena proses pengambilan gambar bertepatan dengan Idul Adha, dan berkatnya realisme Mudik pun bisa dibangun. Lalu malam hari tiba, dan terjadilah peristiwa itu. Saat itu giliran Aida menyetir. Dia menabrak pria pengendara motor. Pria itu tewas. Meski sempat kabur, perasaan bersalah mendorong Aida dan Firman menyusul ke rumah sakit. Sewaktu mereka bertanya soal kondisi pria itu, seorang suster tak mampu memberi jawaban pasti karena banyaknya kecelakaan. "Lebaran ya begini", katanya

Pernyataan di atas menegaskan betapa kecelakaan lalu lintas saat mudik merupakan hal biasa. Bahkan, Adriyanto Dewo sendiri mengalami musibah serupa, yang membuatnya harus menyutradarai film ini di atas kursi roda selama dua minggu. Miris sebenarnya. Nyawa ratusan manusia yang melayang tiap tahun berubah jadi angka-angka statistik, lalu dianggap suatu kewajaran selaku bentuk rutinitas. 

Dengan mengangkat hal itu, naskah yang juga ditulis oleh Adriyanto mengembalikan sisi kemanusiaan, khususnya bagi mereka yang ditinggalkan. Agar sengketa bisa diselesaikan secara damai, Firman dan Aida memilih mendatangi rumah korban, di mana Santi (Asmara Abigail) tengah luar biasa terpukul. Kebahagiaan karena sang suami akhirnya pulang setelah lima tahun seketika sirna. Tapi realita yang ditangkap Mudik tidak berhenti di persoalan kecelakaan.

Melalui pergolakan hati Aida, diselipkan pula perihal pertemuan dengan keluarga selama lebaran, yang alih-alih kebahagiaan, justru mengundang kecemasan akan penghakiman-penghakiman yang menanti di rumah. Pun anda akan mendapati, tokoh-tokohnya beberapa kali mengungkapkan prasangka. Ada yang terbukti kebenarannya, ada yang terbantahkan (Sesuatu yang menyulut deretan perdebatan terkait film pendek Tilik belum lama ini).  

Diskriminasi gender tidak lupa dikupas. Dari sisi Aida, ia satu dari sekian banyak wanita korban seksisme, yang kehilangan harganya di mata masyarakat akibat tak mampu memiliki momongan. Sedangkan Santi dihadapkan pada seksisme (plus keserakahan) berkedok kepedulian. Pria-pria kampung menggelar pertemuan dengan Firman dan Aida demi mencari jalan keluar (baca: meminta ganti rugi sebesar 30 juta rupiah). 

Apakah angka itu didapat dari hasil diskusi dengan Santi? Rupanya tidak. Bahkan ketika mendadak Santi mendatangi pertemuan itu, para warga mengusirnya, dengan bersenjatakan pernyataan bahwa ia tak semestinya keluar rumah karena sang suami baru meninggal. Para pria, baik warga kampung maupun Firman, berlomba-lomba menjadi "penyelesai masalah", menggunakan cara kotor. Kalimat-kalimat bernada tinggi tak henti mereka lontarkan, sementara kedua wanita memilih bertukar isi hati. Putri Ayudya dan Asmara Abigail memamerkan performa kuat sebagai dua figur yang sama-sama dihantui kehilangan serta perasaan bersalah. 

Adriyanto mengarahkan filmnya dengan senstivitas, ditemani musik gubahan komposer langganannya, Indra Perkasa, yang paling mencuri perhatian saya melalui orkestrasi megah di penghujung durasi. Indah, cukup mendayu, namun tanpa kesan cengeng. Sayangnya, konflik Mudik memuncak dalam pertengkaran penuh teriakan verbal berisi kalimat-kalimat klise, ketimbang kesubtilan di mana ekspresi rasa dipercantik sebagaimana ditampilkan momen penutupnya. Pun pengembangan konfliknya, dari masalah relatable yang jarang disentuh seputar kecelakaan di tengah mudik, lagi-lagi menyentuh persoalan yang sudah (terlalu) sering diusung film drama negeri ini, sebutlah urusan poligami hingga kehamilan. Memang dekat dengan realita, tapi ada banyak varian untuk menyajikan tema empowerment (Sinema India ada di garis terdepan perihal ini).

Pada akhirnya, di balik segala problematika tadi, Mudik tetaplah mengenai perjalanan pulang, memaafkan, dan berdamai. Termasuk memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, juga "pulang" menuju kemerdekaan sebagai individu yang bebas. 


Available on MOLA TV

LOVE FOR SALE 2 (2019)

Berlandaskan premis unik, akting ciamik, dan departemen artistik menarik, tahun lalu Love For Sale mampu mencuri perhatian, walau berbeda dengan pandangan umum, saya beranggapan naskah buatan sutradara Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Bridezilla) dan M. Irfan Ramly (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha) kurang matang dalam menangani konsep, khususnya di fase konklusi. Love For Sale 2 berhasil memperbaiki itu.

Idenya masih serupa, yakni mengenai “kunjungan” Arini (Della Dartyan) dari aplikasi kontak jodoh Love Inc., ke kehidupan protagonis. Bedanya, tidak ada usaha setengah-setengah menjelaskan soal Love Inc. sebagaimana film pertama. Lubang alur diminimalisir, dan sewaktu konflik menemukan resolusi, tidak ada distraksi. Konsentrasi sepenuhnya tercurah pada permainan rasa dalam drama keluarga yang kini jadi fokus utama.

Dibuka oleh pesta pernikahan beradat Minang yang dibungkus menggunakan satu take panjang, kita segera tahu masalah macam apa yang segera menjelang. Ican (Adipati Dolken) terus didorong oleh sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), agar segera menikah. Berulang kali Rosmaida berusaha menjodohkan Ican, tapi berulang kali pula puteranya itu menolak. Berbanding terbalik dengan Richard (Gading Marten) di film pertama, Ican doyan berganti-ganti pasangan, namun enggan melakoni hubungan serius.

Tekanan dari orang tua agar segera menuntaskan masa lajang tentu terdengar familiar sebab banyak terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin menimpa kita sendiri. Love For Sale 2 merupakan satir menggelitik atas problematika tersebut. Tentang urgensi menikah. Kunci sindirannya terletak pada kontradiksi dalam kata-kata maupun perilaku karakter. Rosmaida terus meminta Ican menikah, tapi saat melihat puteranya itu berbicara dengan wanita, ia buru-buru berujar “Jangan deket-deket. Nanti fitnah”. Timbul pertanyaan, “Apakah Rosmaida (dan para orang tua lain) ingin anaknya menikah, atau MENIKAHI PILIHAN MEREKA?”.

Cara pandang masyarakat soal pernikahan juga tidak ketinggalan disentil. Misalnya saat Ndoy (Ariyo Wahab), kakak Ican, menyindir seorang karakter yang memasang wajah kucel seorang karakter akibat ditinggal pergi istrinya, lalu sejurus kemudian menyarankan Ican segera menikah supaya hidupnya tentram. Lagi-lagi komedi satir berbasis kontradiksi.

Meski melempar sindiran, Love For Sale 2 menolak tampil berat sebelah. Rosmaida sekilas menyebalkan, layaknya banyak sosok ibu, menyuruh Ican segera menikah, selalu cerewet menasihati agar anak-anaknya rajin salat dan berbagai petuah lain. Rosmaida juga bukan mertua yang menyenangkan bagi istri Ndoy, Maya (Putri Ayudya), yang walau tengah hamil tua, tetap mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Tapi layaknya seorang ibu pula, selalu ada cinta, dan film ini tidak lupa menekankan cinta itu. Karena mungkin, Rosmaida hanya butuh ditemani dan dimengerti. Di situlah Arini berperan.

Demi membahagiakan ibunya, Ican menggunakan layanan Love Inc., memesan calon istri palsu sesuai preferensi sang ibu. Jika film pertama mengetengahkan peran Arini menumbuhkan semangat hidup Richard, di sekuelnya, giliran harmoni keluarga Ican yang ia pupuk. Tertinggal kekecewaan di fase ini, karena proses “perbaikan” yang Arini lakukan cuma nampak di permukaan, biarpun gagasan “Arini membawa kebahagiaan sebagai alat menyembuhkan” telah tersampaikan.

Satu lagi keunggulan sekuel ini dibanding pendahulunya adalah penokohan Arini. Menampilkan Della Dartyan dengan senyum yang bisa membuat siapa saja seketika jatuh hati, Arini masih gadis dengan sensitivitas tinggi, sehingga tahu bagaimana memberi respon yang diinginkan lawan interaksinya. Kali ini ruang personal Arini mulai dikunjungi. Sosoknya makin dimanusiakan. Sebuah obrolan Arini dengan Rosmaida di suatu subuh—yang juga jadi ajang pembuktian kepiawaian Della mengontrol luapan emosi—menyiratkan bahwa kunjungan kali ini terasa lebih personal bagi Arini. Dugaan jika Love Inc. bukan sekadar tempat Arini bekerja turut menguat.

Andibachtiar Yusuf mengulangi pencapaiannya di departemen penyutradaraan lewat kepekaan menangkap emosi suatu momen, dan menjadikan filmnya tidak semata pameran gambar cantik. Tidak kalah mengagumkan adalah perhatian Andibachtiar terhadap detail peristiwa yang bertempat di belakang fokus kamera. Contohnya di adegan pembuka. Daripada hanya memakai figuran, ia menempatkan Buncun (Bastian Steel) si putera bungsu bersama istrinya, Endah (Taskya Namya). Keduanya cuma duduk menikmati makanan , tapi itu saja sudah cukup menghidupkan sebuah peristiwa. Atau sewaktu Ican mengobrol dengan Ibrahim (Yayu Unru) sementara di belakang, orang-orang asyik bermain domino, dengan gestur serta suara yang tidak terlalu besar sampai mengganggu fokus, namun tidak terlalu kecil agar penonton bisa menyadari eksistensi mereka.

DI BALIK LAYAR - DONGENG MISTIS (2018)

Bukan, ini bukan review seperti biasa, karena sebagaimana beberapa dari kalian tahu, saya adalah salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan sekelumit proses di balik layar film ini.

Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, saat Gandhi Fernando datang ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017) karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser eksekutif sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai pemutaran spesial Midnight Show (2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.

Karena datang terlalu pagi, saya (disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah dia menunjukkan beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017), klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada usaha tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di naskah dan chemistry, namun berani menghadirkan romansa bergaya Before Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet gaya giallo yang jarang disentuh sineas kita.

Selang beberapa bulan, sewaktu saya disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, menawarkan posisi produser untuk Dongeng Mistis, yang saat itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Jadi Produser?
Apakah etis jika saya terjun ke industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa reviewer kita sudah melakukan itu. Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah bersama Charles Gozali untuk Malam Jahanam yang hendak  diproduksi, Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra Asliga yang beberapa waktu lalu merilis film panjang perdananya, The Returning.

Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?

Intinya, saya merasa bodoh dan ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai pasca-produksi. Peran saya adalah mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh aktivitas Mister Indonesia lalu Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots. If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”. Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan bunyi-bunyian asal berisik.

Proses berikutnya sekaligus yang paling menantang (Baca: ruwet) adalah urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) kini tahu tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya akhirnya mengalami langsung betapa ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian jatah layar, juga aktivitas pasca-produksi lain. 
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis adalah omnibus berisi enam cerita buatan enam sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar termasul salah satu syarat penting jika sutradara ingin dilirik).

Sementara keenam hantunya adalah Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama yang disebut terakhir, itu adalah makhluk baru ciptaan sutradara/penulis naskah Andra Fembriarto (Sinema Purnama) yang dibuat berdasarkan gabungan budaya-budaya milik beragam daerah Indonesia.

Saya tidak bisa memberi penilaian pada film ini, tapi saya bisa memberi sedikit gambaran mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari, seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh akal bulus guna menjebak korbannya. Pocong garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji, kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok pocong. Saya suka bagaimana ahli agama tidak digambarkan sebagai jagoan sempurna di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang  karya Vicky Ray adalah hantu yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda Begu Ganjang melalui investigasi wartawan bernama Daniel (Gandhi Fernando). Terakhir adalah Lehak yang rasanya cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta) melakukan tarian terkutuk pemanggil Lehak.

Silahkan sambangi bioskop mulai 22 NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan mustahil ini merupakan yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya di layar lebar, hehehe....

Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini

PETUALANGAN MENANGKAP PETIR (2018)

Petualangan Menangkap Petir adalah film menyenangkan dengan tokoh sentral anak-anak, meski bukan film anak yang sepenuhnya berhasil. Sebab bila terlontar pertanyaan mengenai pesan apa yang dapat diserap, saya hanya bisa menjawab, “Jadi orang tua jangan protektif secara berlebihan”, dan “Cobalah memahami keinginan anak”. Sebagai film anak, karya penyutradaraan ketiga Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) ini malah lebih lantang mengkritisi kalangan dewasa walau meluangkan sepanjang durasi menyoroti aktivitas karakter bocahnya. Mungkin ini hasil proses bawah sadar ketika para pembuatnya, serupa salah satu dialog yang mereka tulis, kerap “lupa cara menjadi anak kecil”.

Tujuan dasar Petualangan Menangkap Petir sebenarnya sederhana, yakni melecut supaya anak-anak tak ragu mengejar mimpi, juga berpetualang ke luar rumah, bertemu teman-teman nyata ketimbang melulu berkutat di balik gadget dan dunia maya. Tapi dalam konteks film ini, bila pokok-pokok bahasan di atas dirunut kembali, semua masalah justru berpangkal di orang tua ketimbang anak. Bukan sang anak, Sterling (Bima Azriel) yang meragu, melainkan sang ibu, Beth (Putri Ayudya) yang mengekang. Semua tergantung pada Beth. Masalah hanya akan tuntas saat Beth yang tersadar, bukan Sterling.

Meninjau situs personalnya, dapat disimpulkan Beth adalah seorang penggiat soal pendidikan terhadap anak, yang kerap membahas bagaimana agar anak bisa bermain sesuka hati, bersenang-senang tanpa perlu membahayakan diri dengan keluar rumah. Berbanding terbalik dengan sang suami, Mahesa (Darius Sinathrya), yang sejatinya ingin Sterling mengeksplorasi dunia luar, namun enggan menyulut masalah dengan Beth. Sterling, yang selama ini tinggal di Hong Kong, menjadi YouTuber tenar berkat beragam konten kreatif, berinteraksi dengan ribuan “teman” meski tak ada satu pun pernah ia temui langsung.

Kesuksesan itu membuat Sterling berat hati kala orang tuanya memutuskan pindah ke Jakarta. Sementara persiapan kepindahan dilakukan, Sterling dititipkan di  rumah kakeknya (Slamet Rahardjo) di Selo, Boyolali. Kekhawatiran bakal merasa jengah karena tinggal di kampung seketika sirna pasca bertemu Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru) dengan segala gairahnya soal film khususnya akting. Mengetahui aktivitas Sterling di YouTube, Jaiyen pun langsung mengajaknya membuat film mengenai legenda Ki Ageng Sela yang konon, sanggup menangkap petir ketika tengah bertani.

Aktivitas Sterling di Selo mengasyikkan, apalagi bagi penonton seperti saya yang berasal dari daerah pedesaan di Jawa. Semua terasa familiar, dari lokasi sampai cara interaksi penuh selorohan menggelitik warga berlogat setempat, termasuk kemunculan singkat duo Pangsit-Benjo sebagai penjual jamu tradisional. Para aktor ciliknya pun tampak menikmati, yangjadi elemen terkait anak terbaik di film ini. Bima Azriel apik memerankan seorang bocah yang jengah atas tekanan bertubi-tubi ibunya. Bima memperlihatkan seperti apa kekesalan terpendam yang pelan-pelan dipupuk, menunggu meledak di kemudian hari. Keberhasilan Putri Ayudya memerankan ibu super protektif yang memudahkan kita mendukung “pemberontakan” Sterling. Jangan kaget kalau Beth mengingatkan pada sosok-sosok di sekitar anda.

Tapi pencuri perhatian terbesar tetap Fatih Unru yang bukan cuma jago mengocok perut, juga melakoni momen dramatik. Ada adegan ketika ia dituntut melakukan akting dalam akting, dan itu tampak meyakinkan, mematenkan Jaiyen sebagai pondasi motivasi pengejaran mimpi filmnya. Agak aneh sebenarnya saat motivasi motivasi itu datang dari sosok pendukung ketimbang Sterling yang seringkali sekedar mengikuti kemauan sobatnya. Jaiyen sendiri bicara bak orang dewasa penggemar film alih-alih anak kecil dengan kemurnian mimpinya. Eddie Cahyono (Siti) dan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta? Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) selaku penulis naskah berusaha memposisikan diri sebagai anak kecil, kemudian gagal, bak aktor yang berakting buruk.

Guna menolong proses pembuatan film, Sterling dan Jaiyen meminta bantuan dua videografer pernikahan, Arifin (Abimana Aryasatya) dan Kriwil (Arie Kriting), yang konon pernah membuat film fenomenal, namun secara tersirat disampaikan bahwa mereka tak pernah merampungkan karya itu, sehingga berbagi mimpi serupa kedua bocah tersebut. Menurut Ifa Isfansyah selaku produser eksekutif, Petualangan Menangkap Petir didasari mimpinya bersama Kuntz Agus membuat film anak dan film tentang film. Sayang, mereka sulit menahan diri untuk tidak menyelipkan filosofi mengenai film, seperti kalimat “film itu magis” atau penyebutan istilah macam “Mise-en-scène”, yang terdengar kurang pas di film anak. Semoga beruntung menjelaskan artinya pada anak-anak anda. Hal-hal “ke-sinema-an” tadi dicuapkan Abimana, yang akhirnya memerankan karakter “serius tapi santai” seperti saat mencuri perhatian tujuh tahun lalu di Catatan Harian Si Boy walau penokohan Arifin sendiri dangkal.

Seperti saya sebutkan di awal, di luar setumpuk kelemahannya, Petualangan Menangkap Petir masih sebuah tontonan menyenangkan. Kuntz Agus mampu membungkus kegiatan karakternya membuat film dengan seru. Bocah-bocah ini tidak peduli meski cuma berbekal properti buatan tangan seadanya juga akting sebisanya, sebab mereka hanya berniat bersenang-senang. Setidaknya Petualangan Menangkap Petir berpotensi menyediakan alternatif kegiatan aktif bagi anak: Membuat film. Walau lagi-lagi, menurut film ini, semuanya tergantung pada orang tua. 

KAFIR: BERSEKUTU DENGAN SETAN (2018)

Kalau anda mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scare berisik dan mengandung kisah untuk dituturkan, maka Kafir: Bersekutu dengan Setan menawarkan alternatif tersebut. Tanpa kaitan dengan Kafir (2002) kecuali pada kemiripan judul dan penampilan Sujiwo Tejo sebagai dukun santet, film yang naskahnya digarap oleh Upi (#TemanTapiMenikah, Sweet 20, My Stupid Boss) dan Rafki Hidayat ini akan diingat selaku film yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah badai horor yang minim variasi, baik perihal gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski menyimpan setumpuk kelemahan sehingga memperpanjang penantian atas “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.

Kafir: Bersekutu dengan Setan dibuka oleh atmosfer menjanjikan. Terasa tidak nyaman, berbekal nuansa lawas hasil pewarnaan, tata artistik, serta musik, yang  tak pelak memunculkan komparasi dengan Pengabdi Setan. Sri (Putri Ayudya), bersama sang suami, Herman (Teddy Syach) dan puterinya, Dina (Nadya Arina) sedang makan malam bersama, sembari menanti kepulangan si anak laki-laki, Andi (Rangga Azof). Mendadak Herman muntah darah. Dia tewas dengan beling keluar dari mulutnya. Tidak salah lagi, Herman merupakan korban santet. Siapa pun pelakunya ia benar-benar ingin menghancurkan keluarga ini sampai ke akarnya. Itulah mengapa meja makan dipilih jadi panggung pembunuhan.

Mengapa meja makan? Karena di situ, beserta aktivitas makan bersama, seringkali jadi ajang bertukar rasa antar anggota keluarga. Mematikannya, berarti mematikan suatu keluarga. Benar saja, sepeninggal Herman, kehangatan memudar. Kafir: Bersekutu dengan Setan memakai bentuk horor psikologis guna membungkus paruh awalnya. Trauma yang dialami Sri jadi sorotan. Lagu kesukaan Herman dilarang diputar, pun enggan ia memasak opor ayam kesukaan mendiang suaminya itu. Sewaktu Andi—yang membawa pacar barunya, Hanum (Indah Permatasari)—tersedak kala makan, wajah Sri langsung dipenuhi teror. Memori kematian tragis Herman muncul, dan Putri Ayudya tampil meyakinkan memerankan wanita yang terluka luar-dalam.

Sri melihat panci yang terjatuh sendiri, “kembaran” Andi, sampai noda hitam yang tak kunjung hilang di langit-langit. Apakah itu semua nyata atau sebatas produk trauma mendalam? Naskahnya tak pernah menyelami pertanyaan itu lebih jauh, meninggalkan banyak kekosongan berwujud observasi tanpa eksplorasi dalam alur bertempo lambat. Jangan harapkan jump scare bombastis. Beberapa usaha mengageti penonton tetap dilakukan, tapi tak dieksploitasi. “Atmosferik” adalah kesan yang ingin diciptakan, walau ketidakmampuan sutradara Azhar Kinoy Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini) mengkreasi tensi, khususnya kala tiada peristiwa besar terjadi, menghalangi tercapainya tujuan tersebut.

Penonton hampir tidak pernah ditempatkan di posisi karakterya. Sri ketakutan, saya tidak. Sebabnya sederhana: keanehan-keanehan di sekitar Sri tak nampak mengerikan di layar. Benda-benda bergerak, alat musik berbunyi sendiri, semua itu menyeramkan apabila terjadi di realita. Namun di film, anda tidak bisa sekedar menangkap peristiwa itu di kamera lalu berharap ketakutan otomatis timbul di hati penonton. Butuh ketrampilan juga sensitivitas guna melukis gambar-gambar menyeramkan, supaya ketakutan karakternya tersalurkan ke penonton. Azhar tidak (atau belum) mempunyai itu.

Dinamika meningkat saat Jarwo (Sujiwo Tejo) masuk, menampilkan gaya creepy nan eksentrik miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekedar peristiwa poltergeist, sehingga Azhar memperoleh amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan api di kediaman Jarwo tersaji mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya mulai memasuki babak penelusuran misteri. Berkutat pada pertanyaan “Siapa pelaku santet?”, pengenalan misterinya menarik. Jika berhenti di perihal “siapa”, jawabannya mudah ditebak bahkan sejak setengah jam pertama, tapi dalam jenis cerita whodunit, proes pun penting.

Penelusuran fakta yang tersibak satu demi satu merupakan pondasi yang wajib dibangun lebih dulu. Namun Kafir: Bersekutu dengan Setan lalai melibatkan penonton dalam penyelidikan. Terlihat saat beberapa kali karakternya menemukan petunjuk yang urung diungkap kepada penonton. Dengan demikian, durasi bergulir dan alur terus bergerak maju, tapi bak tanpa progres. Seluruhnya ditimbun, disimpan bagi third act yang terasa tidak sinkron dengan keseluruhan film, khususnya terkait pembawaan over the top Indah Permatasari dan Nova Eliza. Penampilan keduanya di klimaks bak berasal dari horor yang mengedepankan unsur “fun” atau bahkan b-movie. Tidak buruk, hanya bukan di sini tempatnya. Their performance don’t belong here.

Paling tidak klimaksnya menyimpan momen lumayan menegangkan yang melibatkan darah dan kekerasan. Sayang, kelebihan itu lagi-lagi tidak berlangsung lama, tepatnya sampai film ini melakukan simplifikasi terkait cara mengakhiri konflik. Perkelahian yang ditangani begitu canggung oleh Azhar adalah cara yang dimaksud. “Beat ‘em upis the easiest (read: the laziest) way to ends a conflict in any movie. Ingin sekali rasanya berkata “Saya mengagumi film ini”, dan jelas saya mengapresiasi usahanya ampil beda. Tapi setelah horor buruk gentayangan silih berganti di bioskop, saya, dan rasanya mayoritas penonton, ingin segera menyaksikan hasil lebih tinggi.

KENAPA HARUS BULE? (2018)


Perkenalkan Pipin Kartika (Putri Ayudya), gadis 29 tahun dengan make up “mencolok”. Perona mata biru, lipstik merah menyala, juga bedak luar biasa tebal namun tidak rata yang membuat wajah dan lehernya berbeda warna, seolah berusaha menutupi kulit sawo matang miliknya. Pipin ingin dicintai, tapi keinginan itu terbentur standar kecantikan. Pipin tidak cantik, setidaknya begitu menurutnya, yang merasa rendah diri akibat sejak kecil kerap disamakan dengan monyet oleh teman-temannya. Itulah mengapa ia berhasrat menikahi bule. Selain demi memperbaiki keturunan, Pipin percaya paras eksotisnya lebih disukai bule ketimbang pria lokal. Di samping perihal standar kecantikan, Kenapa Harus Bule? turut menyinggung inferioritas masyarakat kita terhadap bangsa asing, khususnya dari negara Barat.

Karya penyutradaraan kedua Andri Cung setelah The Sun, The Moon & The Hurricane (2014)—atau ketiga jika menghitung segmen Insomnights (bersama Witra Asliga) dan Rawa Kucing di omnibus 3Sum (2013)—ini mengetengahkan bagaimana keputusasaan Pipin mencari bule, kemudian memilih pindah ke Bali atas saran sahabatnya, Arik (Michael Kho). Saya tak keberatan apabila keseluruhan film ini diisi perbincangan Arik dan Pipin. Pertama kali keduanya mengisi layar bersama, kita disuguhi perbincangan renyah dalam mobil yang dikemas lewat satu take tanpa putus. Di The Sun, The Moon & The Hurricane, Andri kerap memakai teknik serupa, namun tanpa dinamika seperti ini. Sebab kali ini ia punya duo Putri Ayudya-Michael Kho.
Sungguh seperti sahabat karib, mereka lancar bertukar kata, canda, sambil disisipi sedikit sindiran yang takkan mengejutkan jika ternyata bagian improvisasi.  Putri Ayudya menunjukkan akurasi performa sebagai pengejar bule yang bukan berasal dari kalangan ekonomi ke atas, khususnya terkait pelafalan Bahasa Inggris medok yang kerap dicampur ungkapan Bahasa Indonesia, misalnya “Make a new friend is okay anyway KAAN?”. Energi di balik totalitasnya sanggup pula memancing tawa tatkala sang sutradara terbukti kurang piawai membangun momen komedik.

Di Bali, Pipin terpapar dua pilihan: Buyung (Natalius Chendana), pria dari masa lalunya yang tampan, mapan, perhatian, pula mencintainya, tetapi bukan bule, atau Gianfranco Battaglia (Cornelio Sunny), bule Italia yang telah lama ia idam-idamkan. Film ini mengetengahkan proses mencari bule yang justru berujung menemukan makna cinta, sehingga mudah menebak dengan siapa Pipin menjatuhkan pilihan. Namun karena filmnya lebih jarang memperlihatkan kebersamaan Pipin dengan pria pilihannya daripada si pesaing, hubungan mereka kurang berkembang, kurang merekah, sehingga konklusi pun terasa kurang bermakna di hati.
Walau demikian saya menyukai perspektif bijak dalam pesan yang diutarakan Andri Cung. Ketimbang menyerang pola pikir mayoritas masyarakat tentang pernikahan dengan amarah, Andri mengambil jalan tengah. “Jangan memaksakan diri menikah, tapi jangan juga tidak menikah cuma karena menyerah”. Ditambah hal lain yang Pipin temukan yaitu “pemberdayaan”, Kenapa Harus Bule? jelas mengandung pesan penting, meski mengenai eksekusi, baik di tataran romantis maupun komedi, setumpuk kelamahan masih perlu diperbaiki. Apalagi kalau  ke depannya, Andri masih berniat menjadikan komedi satir macam ini sebagai lahan ekspresi.

Jangan mencari pencapaian teknis, sebab sinematografi, pilihan shot, tata artistik, suara, dan elemen-elemen pendukung lain tampil seadanya. Biarpun tidak sampai selevel posternya yang jauh lebih norak daripada make up Pipin, aspek teknis Kenapa Harus Bule? jelas ada di taraf medioker. Sebagaimana The Sun, The Moon & The Hurricane, Andri Cung mengesampingkan teknis sambil mengedepankan konten. Di sini, naskah tulisannya cukup efektif menjabarkan latar serta motivasi karakter melalui cara yang subtil sehingga tidak perlu memakan banyak waktu untuk eksposisi berkepanjangan.