Tampilkan postingan dengan label Derby Romero. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Derby Romero. Tampilkan semua postingan

MATIANAK (2019)

Sesungguhnya MatiAnak memiliki karakteristik serupa horor lokal kelas menengah ke bawah yang rutin dirilis tiap minggu, seperti pondasi cerita lemah yang memaksakan diri menutup kisahnya lewat twist dan sepenuhnya mengandalkan jump scare untuk menakut-nakuti. Tapi saat mayoritas film tersebut hanya berujung menghasilkan sakit kepala, setidaknya MatiAnak cukup menyenangkan berkat keberhasilan satu aspek: timing.

Berlatar tahun 90-an di panti asuhan yang dikelola oleh tangan besi Pak Rosman (Yayu Unru), yang tak segan menerapkan hukuman fisik bagi anak-anak. Beruntung, mereka memiliki Ina (Cinta Laura Kiehl), si pengurus berhati lembut. Hinngga suatu hari, datang anak baru bernama Andi (Jovarel Callum) yang pendiam, aneh, dan tanpa mereka ketahui, telah secara brutal membantai keluarganya sebagaimana kita saksikan pada adegan pembuka.

Sejak kedatangan Andi, hal-hal misterius mulai menimpa para penghuni panti asuhan, dan tentu saja semua itu cuma terjadi pada malam hari. Naskah garapan William Chandra (3Sum) dan Wendy Chandra memang mengikuti pendekatan formulaik, di mana malam merupakan fase teror, sementara di siang hari, tiba saatnya melambatkan laju guna memberi kesempatan pengembangan cerita dan karakter untuk bergulir. Hampir seluruh horor arus utama menerapkan metode tersebut, namun di MatiAnak, pembagian waktu itu begitu kentara, dan setelah beberapa saat, semakin terasa melelahkan akibat repetisi.

Setidaknya, berbeda dengan kompatriotnya sesama horor lokal dengan formula setipe, tiap matahari terbit, MatiAnak bukanlah snoozefest. Ikatan kebersamaan antara penghuni panti mampu dibangun, sebagai sekumpulan individu yang tak lagi memiliki siapa pun kecuali satu sama lain. Terpenting, karakternya tampil layaknya manusia semestinya. Cinta bermain solid, sementara Yayu Unru kembali membuktikan jangkauan akting luasnya lewat variasi gestur dan penghantaran kalimat, tapi narasi soal kebersamaan itu takkan berhasil andai jajaran penampil cilik yang digawangi Fatih Unru gagal menciptakan dinamika.

Bicara soal hubungan Ina dan para bocah, interaksi mereka menyimpan cukup nyawa guna membangun intensitas, seperti saat banjir darah mulai menggenangi panti asuhan. Saya menyukai momen saat Ina mengikuti jejak darah di lantai, sedangkan beberapa anak berteriak, tapi bukan teriakan omong kosong, melainkan teriakan kekhawatiran supaya kakak asuh mereka berhati-hati. Sebuah sentuhan kecil yang sekilas terkesan remeh, namun menciptakan sense of urgency, aroma ketakutan, dan menggambarkan betapa karakternya saling peduli.

Eksekusi terornya sendiri sebenarnya memakai metode konservatif, yakni jump scare tanpa inovasi berisi kemunculan tiba-tiba hantu ditambah musik menggelegar. Pun tak jarang, penyuntingan adegannya terlalu cepat sehingga sulit memastikan apa yang nampak di layar. Dentuman musiknya yang memberitahu bahwa tengah terjadi peristiwa mengerikan. Tapi sekali lagi, poin terpenting terletak di timing.

Melalui debut penyutradaraannya, Derby Romero (rumor has it that’s not the case, but for now let’s stick with the official credit) membungkus penampakan pasukan makhluk halusnya dengan ketepatan timing. Seolah ia tahu kapan penonton berekspektasi hantu bakal menyerang, lalu secara cerdik mempermainkan ekspektasi itu. Sehinngga tanpa hal baru atau kreativitas luar biasa pun, MatiAnak cukup sukses memancing teriakan penonton. Selain jump scare, film ini juga memfasilitasi para pecinta gore lewat kekerasan, banjir darah, atau kondisi kematian yang mengerikan.

Sayang, klimaksnya terlalu jinak. Padahal lewat eksekusi lebih eksplisit, efek dari konklusinya yang suram nan tragis bisa lebih menusuk. Kalau alasannya demi menghindari gunting sensor, kenapa repot-repot mempertahankan konsep itu? Bukankah lebih bijak mencari alternatif yang tak membutuhkan sadisme untuk menciptakan dampak? Ditambah paparan twist dengan pondasi lemah yang tampil kacau dan malah menghasilkan kerumitan tak perlu, paruh akhir MatiAnak memang nyaris mematikan keunggulan filmnya.

ORANG KAYA BARU (2019)

Orang Kaya Baru disutradarai oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, Sweet 20, Me vs Mami) yang sekali lagi membuktikan kapasitasnya menggarap tontonan berdaya hibur tinggi. Tapi sebenarnya film ini lebih terasa sebagai pengingat tentang betapa bagusnya penulisan komedi seorang Joko Anwar. Saya tertawa lepas sepanjang durasi, karena selain kreatif, humornya begitu nyata. Joko merangkai absurditas berdasarkan realita yang teramat dekat.

Kisahnya menampilkan sebuah keluarga yang (harus) makan bersama tiap malam demi penghematan. Penghasilan Bapak (Lukman Sardi) di bengkel tak seberapa, demikian pula hasil dagangan kue Ibu (Cut Mini). Ketiga anak mereka pun mesti pontang-panting. Tika (Raline Shah) dituntut mengerjakan tugas kuliah arsitekturnya memakai barang bekas, Duta (Derby Romero) hanya bisa bermimpi membuat pementasan teater megah, sedangkan si bungsu Dodi (Fatih Unru) sering jadi bahan olok-olok di sekolah akibat sepatu bututnya.

Di tengah kondisi ekonomi serba kekurangan tersebut, mereka justru memperoleh hal yang lebih bernilai ketimbang uang: kebersamaan dan kehangatan keluarga. Selepas Bapak meninggal, kondisi berbalik. Rupanya ia berasal dari keluarga kaya yang menyembunyikan hartanya karena ingin keluarganya menghargai hasil kerja keras. Kini seluruh tabungan tersebut diwariskan kepada istri serta anak-anaknya.

Seperti jamaknya stereotip orang kaya baru yang kita kenal, mereka “kaget” dan menghambur-hamburkan uang tersebut. Secepat kilat mereka mendapatkan apa yang selama ini tak dimiliki, walau tanpa sadar, di saat bersamaan mereka pun kehilangan hal penting yang dimiliki. Sekarang mereka sibuk berbelanja sendiri-sendiri, mampu makan di luar rumah, dan jalan-jalan sesuka hati. Tidak perlu lagi ada penghematan dengan cara makan bersama.

Joko memposisikan meja makan selaku hati film ini. Hampir seluruh momen emosional Orang Kaya Baru bertempat di sana, sebutlah “pertemuan keluarga mendadak” pasca penguburan Bapak, lamunan Dodi kala duduk sendirian merindukan kehangatan keluarga, hingga saat si bungsu itu menumpahkan segala keluh kesahnya. Fatih Unru melanjutkan pencapaian gemilangnya di Petualangan Menangkap Petir tahun lalu sebagai salah satu aktor cilik paling menjanjikan di negeri ini.

Babak kedua film ini sejatinya sebatas kompilasi momen komedik yang menyoroti kekonyolan perilaku para orang kaya baru. Pilihan ini berisiko membuat alurnya jalan di tempat dan monoton, tapi beruntung, humor tulisan Joko selalu segar, timing pengadeganan Ody sempurna, dan performa jajaran pemain senantiasa menyuntikkan energi, khususnya kedua pelakon wanita utama. Di luar glamoritas yang membuatnya layak memperoleh peran di sekuel Crazy Rich Asians, Raline Shah memamerkan sisi lain sekaligus penampilan terbaik sepanjang karir, kala mulus melakoni tingkah norak Tika. Begitu pula Cut Mini dengan gaya histerikal yang tak pernah gagal mengocok perut. Hampir setiap baris kalimat maupun kelakuan sang aktris berujung momen komedi emas.

Naskahnya memperhatikan pengembangan cerita serta karakter. Gesekan konfliknya jelas: Walau para orang kaya baru tahu cara berfoya-foya, mereka belum siap menghadapi hal-hal yang datang seiring bertambahnya isi tabungan. Tika dan kehidupan sosial ditambah romansanya dengan Banyu (Refal Hady), Duta dengan tanggung jawab menangani pertunjukan berskala besar, Ibu dengan hal-hal berbau hukum dan legalitas. Semuanya asing bagi mereka. Alhasil, alasan di balik kesulitan tokoh-tokohnya bisa dipahami, termasuk saat mereka jatuh ke titik terendah masing-masing. Orang Kaya Baru punya presentasi elemen sebab-akibat mumpuni yang mana kerap dilupakan penulis naskah kita.

Sayang, naskahnya sedikit tersandung di paruh konklusi yang berpotensi membingungkan bagi sebagian penonton, akibat dituturkan secara terburu-buru, datang dan pergi begitu saja sehingga melemahkan dampak dramatik yang semestinya muncul guna mengakhiri cerita. Tapi toh berbekal segala kekuatannya, Orang Kaya Baru bakal berdiri tegak sebagai salah satu hiburan terkuat  tahun ini.

LONDON LOVE STORY 3 (2018)


London Love Story 3 jelas ditujukan bagi para penggemar saja. Penonton di luar lingkup tersebut, seperti saya, meski setia mengikuti dari film pertama, akan kesulitan mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu. Bahkan sedikit flashback tak begitu membantu. Kenapa dulu Caramel (Michelle Ziudith) meninggalkan Dave (Dimas Anggara)? Apa Dave sebelumnya pernah mengalami kecelakaan? Semua samar-samar di ingatan. Satu yang film ini terus coba ingatkan, bahwa Caramel pernah berdoa supaya Tuhan mengambil nyawanya satu hari sebelum Dave. Doa ini mengerikan bagi Dave, sebab jika kelak Caramel meninggal, ia tahu keesokan harinya akan menyusul.

Doa tersebut hampir jadi kenyataan, saat keduanya mengalami kecelakaan beberapa minggu sebelum melangsungkan pernikahan di Bali. Kecelakaan yang membuat Caramel tidak mampu menggerakkan kakinya, dan menurut Dokter Rio (Derby Romero), ada kemungkinan ia lumpuh total. Identitas Dokter Rio sendiri adalah twist. Kejutan yang eksekusinya penuh lubang logika sekaligus tanpa signifikansi kecuali sebagai pemenuhan obligasi. Karena ini termasuk salah satu ciri khas Screenplay.
Saya membayangkan duo penulis naskahnya, Tisa TS dan Sukhdev Singh menyimpan template berisi checklist mengenai apa saja yang wajib muncul dalam film Screenplay. Twist? Cek. Kecelakaan atau penyakit? Cek. Jalan-jalan dengan mobil mewah? Cek. Dialog puitis? Cek. Khusus soal dialog, kuantitasnya sedikit dikurangi, meski obrolan berkepanjangan tetap setia mengisi. Begitu panjang dan berulang, satu pokok permasalahan bisa dibahas dua kali, di mana sekali pembicaraan bisa berlangsung 5 menit.

Memasuki film ketiga (plus penampilan di produksi Screenplay lain), Michelle Ziudith makin cakap menjual momen bertabur kalimat “puitis”. Dia tersipu, menangis, tertawa dengan alamiah, seolah kata-kata gombal yang Dave lontarkan merupakan hal yang normal keluar dari mulut manusia pada umumnya. Untuk Dimas Anggara, nyatanya ia cukup menarik disimak ketika tak dituntut bermanis ria lewat puisi. Saat Dave berpura-pura hendak menghajar Rio misalnya. Momen ringan namun hidup seperti itu yang sejatinya Screenplay butuhkan agar film-filmnya bernyawa.
Poin plus layak diberikan terhadap kemauan Tisa TS dan Sukhdev Singh bergerak ke ranah lebih kelam. Konflik London Love Story 3 bukan lagi tentang cinta segitiga. Gejolak psikis Caramel kala bergulat dengan ketakutan serta shock tentu lebih rumit daripada kebingungan mengenai memilih kekasih. Kondisi itu membuatnya menolak percaya pada keajaiban. Sudah pasti itu sementara. Kita tahu bahwa setelah proses penuh simplifikasi, Caramel bakal mempercayai keajaiban lagi sebagaimana para penulisnya mempercayakan penyelesaian masalah pada keajaiban. Paling tidak ada usaha merangkai adegan romantis terkait keajaiban tersebut.

Seperti trailer-nya telah paparkan, Caramel akan meminta Dave mengakhiri hubungan mereka. Alasannya dua: Pertama, Caramel tidak tahan melihat sang cinta sejati harus mengurusnya bagai perawat. Kedua, Caramel merasa Dave memberinya harapan palsu dengan meyakinkan jika ia akan segera sembuh. Andai penekanan diberikan kepada alasan kedua, tujuan menyusun konflik yang lebih dewasa bakal terpenuhi. Tapi London Love Story 3 memang khusus untuk para penggemar yang mayoritas belum memasuki usia dewasa.