Tampilkan postingan dengan label Aghniny Haque. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aghniny Haque. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENCURI RADEN SALEH

Mencuri Raden Saleh punya segudang alasan untuk diragukan. Genre yang kurang lazim di perfilman Indonesia, kapasitas Angga Dwimas Sasongko mengarahkan aksi yang tak sekuat drama, jajaran bintang idola anak muda yang sekilas dipilih cuma demi mengejar untung, hingga trailer yang tak spesial biarpun jauh dari buruk. Hasilnya? Surprise, this is one of our best blockbusters in years. 

Salah satu upaya terbaru film Indonesia merambah heist adalah lewat The Professionals (2016) yang luar biasa canggung, akibat memandang genre ini sebatas mementingkan karakter ganteng dan cantik bertingkah sok keren, sembari mengenakan setelan mahal. Mencuri Raden Saleh juga dipenuhi karakter ganteng dan keren, tapi mereka bukan sekadar pajangan. 

Ditulis oleh Angga bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perburuan), naskahnya tahu cara mengelola karakter. Buktinya, ia rela menghabiskan banyak porsi guna mengupas jati diri mereka, walau harus membuat filmnya berdurasi 154 menit (andai di bawah dua jam, hasilnya pasti hambar). 

Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda) bekerja sama dalam bisnis pemalsuan lukisan. Piko adalah pemalsu handal, sedangkan sebagai peretas, Ucup mampu memperoleh data yang diperlukan agar lukisan itu terlihat seasli mungkin. Piko mengumpulkan uang demi dua hal: membahagiakan kekasihnya, Sarah (Aghniny Haque), yang sedang berjuang menembus tim PON, dan membebaskan ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. 

Maka ketika datang tawaran besar dari mantan presiden, Permadi (Tio Pakusadewo), untuk mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disimpan di istana negara, Piko tak kuasa menolak. Tim pun dikumpulkan: Gofar (Umay Shahab) si mekanik, Tuktuk (Ari Irham) si driver, dan Fella (Rachel Amanda) si bandar judi yang jadi tambahan sumber daya sekaligus otak rencana. 

Kita tahu jati diri, motivasi, dan terpenting, kemampuan mereka. Naskahnya meluangkan waktu, memberi porsi merata, supaya penonton yakin mereka merupakan ahli di bidang masing-masing. Kecuali Tuktuk. Mencuri Raden Saleh tak punya sekuen kebut-kebutan memadai sebagai pembuktian kualitas Tuktuk. 

Deretan karakternya pun hidup berkat performa tiap pemain. Iqbaal mengeksplorasi sisinya yang lebih tertutup, Angga Yunanda berevolusi jadi lead matang yang tampil lepas (I didn't know he can be this cool), Umay menampilkan akting dramatik, juga komedik melalui celetukan naturalnya. Mudah mendukung perjuangan mereka. Perjuangan yang senada dengan esensi lukisannya selaku simbol perlawanan terhadap kelicikan para pemegang kekuatan. 

Mengenai lukisan, keberhasilan filmnya mereproduksi karya Raden Saleh (konon dibuat oleh seorang pelukis maestro yang tentu saja tak bisa diungkap identitasnya) juga suatu pencapaian, sekaligus bukti bahwa Angga memedulikan detail. Total lima kanvas dibuat dalam beragam fase (sketsa hingga hasil akhir). 

Menyebut naskahnya mulus total mungkin kurang tepat. Beberapa detail rencana terkadang diolah kurang matang, pun twist-nya agak bergantung pada kebetulan, pula membuat ceritanya lebih rumit dari yang dibutuhkan. Tapi secara keseluruhan, alurnya cukup "belokan" sehingga dua setengah jam durasi terisi padat, entah berupa konflik interpersonal atau terkait jalannya misi. Tentu misinya tak berjalan mudah. Terjadi kegagalan yang sekilas nampak bodoh, namun kebodohan berujung kesalahan itu masuk akal, sebab tokoh-tokohnya bukanlah pencuri profesional.  

Meski tersisa sedikit keluhan, pengarahan aksi Angga kentara mengalami peningkatan. Terlebih, kali ini lubangnya tak terlalu mengganggu berkat iringan musik gubahan Abel Huray yang menyokong intensitas adegan. Bintangnya tentu Aghniny. Kita tahu kemampuan bela dirinya mumpuni, tapi baru di Mencuri Raden Saleh potensinya benar-benar dimaksimalkan. Kamera menangkap seluruh karisma serta gestur Aghniny, seolah ia (kamera) sendiri dibuat kagum olehnya. Aksinya menghajar musuh dalam balutan gaun merah merupakan puncak. Kemunculan Reza Hilman (juga menjabat koreografer film ini) di momen tersebut mungkin terkesan tiba-tiba, pula tanpa substansi berarti selain sebuah easter eggs, namun menyaksikan kombinasi dua jagoan bela diri tetap mengandung daya pikat tersendiri. 

Mencuri Raden Saleh membuktikan betapa industri kita sejatinya telah sangat siap melangkah lebih jauh dalam hal penambahan variasi. Bukan lagi di tahap "mari apresiasi karya unik anak bangsa". Sineas kita sudah menjalankan tugasnya. Sekarang semua terletak di tangan publik, untuk menentukan seberapa jauh upaya menambah keberagaman bakal melangkah. 

REVIEW - KKN DI DESA PENARI

Sudah mundur berkali-kali sejak rencana awal penayangan 19 Maret 2020, nyatanya KKN Di Desa Penari tetap dibanjiri penonton (angka sejuta bakal dicapai sebelum seminggu). Apa yang membuatnya fenomenal? Utas viral di Twitter yang disampaikan SimpleMan efektif karena ada "kedekatan". Sebab sebelum ini pun, peristiwa mistis di tengah KKN, termasuk yang melibatkan kemesuman mahasiswa, sudah kerap mengisi obrolan. 

Kedekatan itu memudahkan pembaca mengasosiasikan diri dengan nasib tokoh-tokohnya, baik yang jadi "korban langsung", maupun mereka yang terkena dampak perbuatan kawan-kawannya. Kedekatan itu lenyap dari adaptasi layar lebar buatan Awi Suryadi, yang cuma tertarik memvisualkan petikan-petikan tweet SimpleMan layaknya sketsa, ketimbang membangun keutuhan dunianya.

Setelah mendapat persetujuan Pak Prabu (Kiki Narendra) selaku kades, entam mahasiswa menjalankan KKN di sebuah desa terpencil. Nur (Tissa Biani), Bima (Achmad Megantara), Ayu (Aghniny Haque), Widya (Adinda Thomas), Anton (Calvin Jeremy), dan Wahyu (M. Fajar Nugraha), mulai melaksanakan proker, meski sejak kedatangan sudah mencium aroma ketidakberesan. 

Saya jarang mengharapkan penokohan solid di film horor, tapi tanpanya, kekuatan KKN Di Desa Penari berkurang drastis. Sedikit melompat, film ini mempunyai third act kuat (belongs in a better movie) berisi tarian intens (performa Aghniny Haque yang di sepanjang film biasa saja, tiba-tiba melonjak di titik ini) dan konklusi yang mengincar rasa tragis. Masalahnya, tidak satu pun individu diberi penokohan jelas, interaksi kurang digali, apa yang dikerjakan selama KKN juga entah apa. Sulit terkoneksi dengan karakternya, dan tanpa koneksi, tiada sense of tragedy.

Naskahnya ditulis oleh Lele Laila, yang jadi langganan Awi Suryadi dalam semua keterlibatannya di seri Danur sebagai sutradara. Berkaca dari masa lalu, mudah menebak pendekatan kolaborasi keduanya: kompilasi teror. Naskahnya mengadaptasi utas SimpleMan secara apa adanya, tanpa usaha menjalin penceritaan secara utuh. 

Gaya pengarahan Awi untuk KKN Di Desa Penari cenderung lebih dekat ke Asih ketimbang trilogi Danur. Tempo lambat di awal guna menciptakan atmosfer, sembari menghindari kebisingan jump scare. Harus diakui, gaya di atas, ditambah biaya tinggi yang memfasilitasi "hobi" sang sutradara tampil stylish (camerawork, efek transisi), menjauhkan film ini dari kesan murahan. Tapi menjadi percuma tatkala masih menyamakan "alur" dengan "kompilasi teror". 

Sebuah sekuen cocok dijadikan gambaran mengapa KKN Di Desa Penari cocok disebut "kompilasi teror" atau "sketsa horor". Nur dan Widya hendak bergantian mandi. Nur masuk lebih dulu, namun akhirnya mengurungkan niat mandi gara-gara melihat genderuwo. Widya lebih beruntung. Dia sempat mandi (kalau "berkali-kali mengguyurkan air ke satu tempat" bisa disebut "mandi"), sebelum dikunjungi oleh Badarawuhi (Aulia Sarah) si hantu penari. 

Repetisi ala sketsanya makin terasa akibat presentasi setiap penampakan tak seberapa berkesan, walau sekali lagi, biaya tinggi menguatkan kualitas elemen artistik, termasuk tata rias meyakinkan saat Badarawuhi muncul dengan wujud aslinya. 

Hasilnya akan lain apabila di sela-sela waktu tersebut penonton berhasil dibuat terkoneksi dengan tokoh-tokohnya, sekaligus diajak ikut tenggelam dalam pertanyaan serta ketidakberdayaan mereka. Kisahnya selalu lebih menarik tatkala Pak Prabu menyinggung sedikit demi sedikit masa lalu kelam desanya, atau ketika Mbah Buyut (Diding Boneng) berbagi sekilas ilmu mengenai mistisisme. Alias, tersimpan setumpuk potensi berbentuk cerita perihal kepercayaan mistis khas daerah Indonesia, yang dibiarkan terkubur tanpa sering dijamah oleh filmnya. 

REVIEW - BEN & JODY

Opini soal kualitas karya-karyanya mungkin beragam, tapi Visinema jelas rumah produksi terbaik Indonesia, terkait cara menangani IP (Intellectual Property). Tidak perlu secara detail membahas model bisnis. Simak saja bagaimana perkembangan terkini dua franchise mereka. Arini by Love.inc bakal menggiring Love for Sale ke ranah fiksi ilmiah (rilis 4 Februari di Bioskop Online), tapi terlebih dahulu, Ben & Jody membawa drama dua sahabat pecinta kopi ke lingkup aksi.

Pertanyaan terbesarnya tentu saja, "Bisakah perubahan dilakukan secara natural?". Ditulis oleh sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, bersama Muhamad Nurman Wardi (Nussa), naskahnya memahami bahwa hal paling penting bukanlah mempertahankan genre, melainkan jiwa. 

Fast & Furious menjadi film heist di Fast Five, namun masih membicarakan tentang keluarga, serta dipenuhi mobil-mobil keren. Begitu pula Ben & Jody, yang tetap mengetengahkan kisah persahabatan ditemani cangkir demi cangkir kopi. Oh, dan satu lagi: environmentalisme. 

Dua film pertama Filosofi Kopi tidak hanya menyoroti kopi dari perspektif bisnis, juga lingkungan dan budaya. Maka tidaklah aneh ketika di sini, Ben (Chicco Jerikho) banting setir jadi aktivis di kampung halamannya, selepas keluar dari kedai. Bersama warga setempat, Ben membela hak petani yang lahannya hendak dikuasai korporasi. Ketika timbul perlawanan akar rumput, apa yang terjadi berikutnya? Tentu saja premanisme.

Apabila korporat memandang rakyat terlalu bebal untuk diajak negosiasi, maka tiba waktunya melempar ancaman fisik. Di sinilah gerbang menuju genre aksi terbuka, saat para pembalak liar di bawah pimpinan Tubir (Yayan Ruhian), mulai menculik warga satu per satu. Salah satunya Ben. Hilangnya Ben mendorong Jody (Rio Dewanto) nekat melakukan pencarian seorang diri. 

Lingkungan, aktivisme, premanisme. Semua saling berkaitan. Efek domino yang hadir amat logis, sehingga pergeseran genrenya pun demikian. Mungkin yang agak mengganggu adalah penyertaan kopi di alur. Kebetulan Tubir sering mengeluhkan ketidakbecusan anak buahnya membuat kopi, dan Ben melihat itu sebagai jalan memuluskan rencana kaburnya. Sebagai pembuat kopi bagi Tubir, ia berharap bisa memperoleh informasi penting. Masalahnya, tatkala rencana dijalankan, anda akan sadar bahwa segala kerepotan itu sejatinya tak perlu, dan semata-mata eksis agar filmnya dapat menyelipkan kopi dalam penceritaan. 

Selain itu, penceritaannya berlangsung mulus. Transisi menuju aksi juga memberi progresi natural terhadap persahabatan dua tokoh utama, yang banter-nya masih efektif membangun dinamika. Pasca bertaruh materi, kemudian saling bergesekan idealisme dan rasa, sudah sepantasnya pertaruhan nyawa jadi pembuktian pamungkas mengenai persahabatan sejati keduanya.

Apalagi, bukankah figur Ben dan Jody memancarkan machismo khas jagoan aksi? Teurtama Ben, dengan tubuh kekar Chicco yang lebih pantas menjadi superhero ketimbang penjual kopi (perannya sebagai Godam turut dipakai sebagai bahan guyonan). 

Pun patut ditekankan, Ben & Jody tak serta merta menyulap protagonisnya jadi jagoan tangguh. Mereka bukan Rambo atau Chuck Norris. Wajar Ben dengan perangainya bisa berkelahi, tapi ia tetap tak kuasa menghabisi sepasukan musuh seorang diri. Sedangkan Jody harus menghadapi sulitnya mencabut nyawa manusia, sekalipun seorang penjahat yang juga berusaha membunuhnya. Bahkan bukan keduanya yang mendominasi klimaks baku hantam film ini. 

Peran tersebut diberikan pada beberapa warga lokal yang menyelamatkan Ben dan Jody. Rinjani (Hana Malasan) dengan panah miliknya, Tambora (Aghniny Haque) si jago beladiri, hingga Musang (Muzakki Ramdhan) si cilik bersenjatakan ketapel. Hana akhirnya berkesempatan memamerkan karismanya, sementara kemampuan fisik Aghniny jelas tidak perlu diragukan. 

Pertarungan Rinjani-Tambora melawan Tubir selaku klimaks punya semua bekal untuk tampil mumpuni, mulai dari kapasitas jajaran cast, sampai beberapa ide koreografi menarik. Sayangnya, pengarahan aksi Angga dan camerawork Arnand Pratikto selaku penata kamera, kurang mendukung terciptanya aksi intens, akibat pilihan-pilihan shot yang meleset. 

Itulah ganjalan terbesar Ben & Jody dalam upayanya membawa Filosofi Kopi bertransformasi. Angga belum mampu memperbaiki kelemahannya mengarahkan adegan dinamis bertempo tinggi (termasuk situasi berupa pertengkaran hebat, seperti nampak di Story of Kale: When Someone in Love). Kelemahan yang untungnya selalu berhasil ditutupi oleh kualitas penceritaan. Sebab Angga memang salah satu pencerita terbaik kita. 

REVIEW - GENERASI 90AN: MELANKOLIA

Generasi 90an: Melankolia merupakan adaptasi lepas dari novel Generasi 90an karya Marchella FP. Sangat lepas, sampai selain judul, koneksi hanya ada lewat kemunculan barang-barang dari masa itu. Pun esensinya tidak besar, karena selain sebuah View-Master, praktis tak ada benda lain yang berkontribusi pada alur. Jangan pula mengira kisahnya berlatar tahun 90an, sebab sebagaimana pernah disebutkan Angga Dwimas Sasongko selaku produser, filmnya takkan menyebut latar waktunya secara pasti.

Well, tidak sepenuhnya keliru, tapi Generasi 90an: Melankolia bukannya tak memiliki latar waktu pasti. Protagonisnya, Abby (Ari Irham), lahir pada tahun 2000, dan tengah menanti ulang tahunnya yang ke-18. Sementara kakaknya, Indah (Aghniny Haque) lahir pada 1994, yang menurut narasi voice over, bertepatan dengan tahun kematian Kurt Cobain dan Nike Ardilla. Tapi bukankah Nike meninggal pada 1995? Entahlah, bisa jadi saya salah dengar, karena suara Ari Irham susah didengar. Artikulasi belepotan ditambah tata suara yang kurang mumpuni jadi penyebab.

Berarti film ini berlatar tahun 2018? Tapi kenapa karakternya masih memakai banyak barang dari era 90an? Alasan yang dipakai adalah, karena ibu Abby dan Indah (diperankan Marcella Zalianty) orangnya sentimentil, sehingga gemar menyimpan barang bekas. Mungkin kesukaan atas benda antik menurun pada anaknya. Biarlah. Mari lupakan. You got the point: Meski mengusung judul demikian, signifikansi elemen 90an amat rendah, dan sekadar diselipkan agar statusnya menjadi “adaptasi”.

Alkisah, Abby begitu terpukul setelah kakaknya hilang dalam kecelakaan pesawat. Dia merasa bersalah karena sudah meminta Indah memundurkan tanggal penerbangan, demi menghadiri acara kelulusannya. Abby pun berusaha mencari pengganti sosok kakak dalam diri Sephia (Taskya Namya), sahabat Indah. Walau berpacaran dengan Kirana (Jennifer Coppen), memang sudah sejak lama Abby memperhatikan Sephia. Seiring bertambahnya kedekatan mereka, rahasia-rahasia kelam, yang makin membuat filmnya terasa depresif pun terungkap.

Sedepresif apa? Sebelum membahas itu, sebenarnya selain benda bernuansa nostalgia, ada satu lagi elemen 90an di sini, yaitu nama tiga wanita di sekitar Abby. Semuanya mengacu pada judul lagu hits masa itu, yang liriknya merepresentasikan karakter masing-masing. Sephia berasal dari Sephia milik Sheila On7 yang mengisahkan seorang kekasih gelap; Kirana berasal dari Kirana milik Dewa 19 yang mengungkapkan keinginan dicintai; sedangkan Indah berasal dari Begitu Indah milik Padi yang menuangkan kerinduan pada sosok terkasih. Easter eggs yang menarik.

Kembali soal nuansa kelam filmnya. Pendekatan yang dipilih M. Irfan Ramli (Surat dari Praha, Love for Sale) selaku sutradara sekaligus penulis naskah ini sangat bisa dipahami, kalau tidak bisa disebut masuk akal. Karena bukan cuma kehilangan, Abby juga merasa bersalah atas hilangnya Indah. Masalah terletak pada keputusan menebar setumpuk twist, yang tiap salah satunya terungkap, menggiring Generasi 90an: Melankolia ke dalam jurang yang lebih gelap.

Substansinya perlu dipertanyakan. Membuat kisahnya sekelam mungkin, tidak otomatis menambah kedalaman penelusuran terkait proses menghadapi duka. Justru masalah berikutnya timbul ketika memasuki babak konklusi. Saya paham bagaimana sang ibu akhirnya bisa pulih, tapi tidak dengan Abby. Setelah penderitaan-penderitaan terus berdatangan, termasuk saat mengetahui rahasia Sephia dan Indah, kebangkitan Abby begitu mendadak. Daripada hasil alamiah dari proses berkelanjutan, Abby memasuki fase itu semata karena durasi film sudah berakhir.

Setidaknya lubang tersebut sedikit terlupakan, tatkala momen di atas jadi panggung M. Irfan Ramli membuktikan kapasitas penyutradaraan dalam debutnya ini. Diiringi lagu Cinta Kan Membawamu Kembali, setelah puluhan menit dinaungi kegelapan, Irfan merangkai pemandangan menyentuh, yang mewakili sifat bittersweet dari memori.

Lemahnya eksplorasi naskah untungnya ditutupi oleh penampilan jajaran cast. Ari Irham perlu menemukan cara alternatif mengekspreksikan batin karakternya yang tersiksa selain berteriak, namun setelah deretan film remaja, sosok Abby jelas membawanya naik kelas. Apalagi Ari baru berusia 22 tahun. Prosesnya masih panjang. Sementara, pasca hancur lebur di Wedding Agreement (2019), Aghniny Haque menampilkan penampilan paling “hidup” di karirnya sejauh ini, menjadi “keceriaan” yang dirindukan, tak hanya oleh karakternya, juga penonton. Terakhir adalah Taskya, yang sebagaimana lagu Sephia, memberi kesan misterius yang akan membuatmu ingin lebih jauh mengenal sosoknya. Walau filmnya kurang berhasil, orang-orang yang terlibat, baik di depan maupun di belakang kamera, jelas punya potensi karir yang cerah.


Tayang di bioskop 24 Desember 2020

HABIBIE & AINUN 3 (2019)

Di realita, romantika Habibie dan Ainun akan terus abadi dan menyentuh hati, tapi setelah tujuh tahun lalu Habibie & Ainun jadi fenomena saat mencatatkan sekitar 4,6 juta penonton, lalu disusul empat tahun kemudian oleh pengultusan dengan pendekatan blockbuster bernama Rudy Habibie, harus diakui bahwa di layar lebar, kesakralan kisah cinta ini mulai terkikis. Habibie & Ainun 3 menegaskan itu lewat paparan drama yang kembali digarap mewah, diisi akting-akting kuat, namun dilemahkan oleh ketiadaan jiwa.

Jika Rudy Habibie berfokus pada, well, Rudy Habibie (Reza Rahadian), maka film ketiga ini, yang awalnya berjudul Ainun, menceritakan lebih jauh soal kehidupan Hasri Ainun Besari (Maudy Ayunda) sebelum bersatu dengan pasangan sehidup sematinya. Alurnya dibuka saat suatu malam, di acara kumpul keluarga, Habibie menceritakan sosok mendiang sang istri kepada cucu-cucunya. Teguh Widodo, Orlando Bassi, dan Aktris Handradjasa selaku tim tata rias berhasil memperbaiki kekurangan fatal film pertama terkait menuakan para aktor kala secara meyakinkan menyulap Reza menjadi Habibie di usia senja. Sebagai bentuk kepercayaan diri, Reza sempat dibuat membuka pecinya, sekilas menunjukkan uban serta rambut yang telah menipis.

Tentu performa sang aktor turut membantu, di mana melalui detail gestur tangan juga mimik wajah, kerentaan karakternya mampu ditampakkan oleh Reza. Tapi sebaik apa pun aktingnya, Reza tetap tak kuasa menolong CGI buruk, kala latarnya mundur ke era 1950an. Habibie remaja dihidupkan memakai teknologi de-aging menggelikan, yang gagal menciptakan sinkronisasi antara wajah dengan gerak leher Reza. Bukan cuma terlalu mulus (in a weird way), wajahnya seperti melayang. Beruntung ini film tentang Ainun, sehingga kita takkan sering melihat hasil menyedihkan tersebut.

Ainun bercita-cita menjadi dokter meski sebagai wanita, impian itu kerap dianggap remeh. Bahkan begitu diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diskriminasi gender terus dirasakan, baik dari olok-olok mahasiswa pria, maupun pandangan sebelah mata sang dosen, Pak Husodo (Arswendi Bening Swara). Jadi apakah naskah buatan Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta) mengusung pesan female empowerment? Benar bahwa filmnya menyimpan sederet momen perlawanan gambling terhadap seksisme, namun sejatinya, ini hanyalah quasi-empowerment.

Contohnya sewaktu Arlis (Aghniny Haque), sahabat Ainun yang terkenal berani melawan penindasan bahkan memukul senior, mengucapkan kalimat “Ini urusan laki-laki”, saat teman dekatnya, Soelarto (Kevin Ardilova), hendak terlibat baku hantam dengan Ahmad (Jefri Nichol), mahasiswa Fakultas Hukum yang berusaha merebut hati Ainun. Sejak kapan cerita empowerment mengasosiasikan perkelahian sebagai “urusan laki-laki”?

Setelahnya, Habibie & Ainun 3 mengambil sudut pandang menarik terkait tujuannya menguatkan percintaan pasangan legendarisnya. Filmnya mengetengahkan bagaimana mereka bisa langgeng, karena masing-masing mampu belajar dari pengalaman dan kesalahan masa lalu, khususnya hubungan Ainun dengan Ahmad. Bahkan karakter Habibie di sini hanya sebatas pendukung. Setidaknya penonton bisa dibuat memahami itu, meski dilakukan memakai cara gampang, yakni memberi Ahmad karakterisasi yang benar-benar berlawanan dengan Habibie.

Dia lebih agresif, jago merayu wanita, gemar berkelahi, selalu mengalihkan pembicaraan sewaktu Ainun menanyakan soal rencana masa depannya, dan ingin keluar dari Indonesia. Tidak diragukan lagi, Jefri adalah jagonya perihal memerankan tokoh berkepribadian seperti itu, dengan tenaga yang menjadi salah satu dinamo utama penggerak filmnya. Setelah Bebas, ini merupakan kali kedua Jefri dan Reza bermain di satu judul tapi tidak berbagi adegan bersama. Saya berharap suatu hari bisa menyaksikan keduanya bertatap muka di layar.

Seperti Rudy Habibie, Hanung Bramantyo kembali menjadi sutradara. Bermodal pengalaman hampir dua dekade, Hanung adalah sutradara yang hafal betul formula tontonan arus utama agar bisa dinikmati penonton sebanyak mungkin. Bagaimana kamera harus diposisikan supaya gambar nyaman dilihat, bagaimana cerita mengalir supaya mudah diikuti, atau kapan musik mesti muncul dan tenggelam demi mendramatisasi peristiwa. Mungkin Hanung sudah melakukan itu secara otomatis. Tapi otomatisasi itu pula yang membuat film ini bak tanpa jiwa. Habibie & Ainun 3 seperti dibuat berdasarkan rumus-rumus pasti ketimbang suatu permainan rasa.

Bakal semakin kosong andai filmnya tak memiliki Maudy Ayunda dengan segala sensibilitasnya yang sanggup membedakan mana “kelembutan” dan mana “kelemahan”, juga Arswendi Bening Swara yang di balik sikap galak serta kata-kata pedasnya, juga menyimpan keteduhan dalam bertutur kata. Habibie & Ainun 3 merupakan film yang digarap secara kompeten, layak tonton, tetapi urung mengulangi pencapaian film pertama, apalagi menangkap elemen terpenting dari kisah yang diangkat, yaitu “rasa”.

WEDDING AGREEMENT (2019)

Apakah dunia lebih baik tanpa agama? Saya ragu, tapi untuk film ini, dengan mantap saya menjawab, “YA!”. Wedding Agreement  adalah romansa bernyawa yang jadi bermasalah akibat perspektif agama—yang kebenaran interpretasinya pun layak diperdebatkan—yang tampak kolot pada era sekarang, di mana kesadaran akan isu gender serta kesejahteraan dalam pernikahan.

Premisnya sendiri memancing setumpuk pertanyaan. Alkisah, Bian (Refal Hady) dan Tari (Indah Permatasari) terpaksa menjalani proses perjodohan. Ketika Tari ikhlas menerima dan berusaha menjadi istri sebaik mungkin, Bian justru menawarkan perjanjian berisi persetujuan bahwa keduanya akan bercerai setelah setahun. Alasan utamanya, ia masih mencintai mantan tunangannya, Sarah (Aghniny Haque).

Apakah Tari coba menyelamatkan pernikahan ini karena sungguh mencintai Bian atau sekadar obligasi? Mengapa Bian tak menikahi Sarah? Apakah Sarah bukan wanita baik? Jawaban bagi deretan pertanyaan itu sifatnya signifikan guna menentukan apakah sudut pandang film ini meresahkan atau tidak. Bukan hanya soal setuju atau tidak setuju, tapi perihal tanggung jawab sebuah film terhadap target pasarnya.

Apabila Tari memang mencintai sang suami, maka perjuangannya patut didukung, sebab bukan bentuk pemenuhan kewajiban istri sebagai “pelayan suami”. Apalagi jika ternyata Sarah punya keburukan yang sukar ditoleransi, yang gagal Bian lihat akibat dibutakan cinta. Kalau memang demikian, perjodohan dua karakterya masih pantas dijustifikasi. Saya tak bisa membocorkan semua jawabannya secara detail, kecuali bahwa saya gagal dibuat memihak Wedding Agreement sepenuhnya.

Ada dua pernyataan berbahaya terkait religiusitas di sini. Pertama, bahwa perceraian dipicu oleh bisikan setan. Saya tidak sedang mendukung perceraian, namun di beberapa kasus, itu memang diperlukan, khususnya dalam lingkup target pasar Wedding Agreement, di mana kuku patriarki masih kuat menancapkan kekuasaan dan kerap menghasilkan pernikahan abusive. Berbahaya jika seorang istri dalam kondisi pernikahan tersebut menonton film ini, dan nekat bertahan demi menghindari tudingan “teman setan”.

Kedua, tatkala Bian bebas pergi sesuka hati tanpa pamit dan segalanya baik-baik saja, tetapi tatkala Tari melakukan itu, perjalanannya berantakan, seolah Tuhan turun tangan melempar azab. Mau sampai kapan istri-istri Indonesia beranjak dari status “bawahan suami” kalau persepsi seperti ini masih diagungkan? Bukan sepenuhnya kekeliruan Archie Hekagery (Lo Gue End) selaku sutradara sekaligus penulis naskah, mengingat ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Mia Chuz yang turut terjun menulis naskah bersamanya.

Biar begitu, berbeda dibanding mayoritas film religi lain, fakta-fakta di atas tak memancing amarah. Saya justru sedih, karena di luar persoalan itu, Wedding Agreement adalah sajian romansa memikat. Buktinya, meski dihadapkan pada banyak elemen problematik, saya tetap mendukung bersatunya Tari dan Bian.

Interaksi keduanya hidup, utamanya berkat chemistry solid Indah dan Refal. Begitu mereka mulai menjalani masa-masa bahagia, lalu sama-sama tersenyum, saya bisa merasakan cinta. Sebuah cinta yang hangat. Terlebih Indah, lewat aksi olah rasa mumpuni yang seketika merenggut perasaan, otomatis membuat saya berharap Tari memperoleh keinginannya. Indah bagai perwujudan kebaikan hati, yang menjadikan perubahan sikap Bian bisa dipercaya.

Penampilan Aghniny Haque juga jadi faktor penentu agar penonton semakin mendukung Tari. Bukan karena ia berakting luar biasa, sebaliknya, begitu buruk performa Aghniny, berat rasanya merelakan Bian berakhir menikahi Sarah. Seolah sang aktris melakukan pengambilan gambar sambil membaca naskah dengan pikiran kosong. Bahkan Ria Ricis sebagai Ami, sahabat Tari, yang tampil mengolok-olok personanya selaku YouTuber, jauh lebih nyaman disaksikan.

Rasa milik Wedding Agreement menguat, berkat pemahaman Archie perihal memunculkan rasa manis bahkan kesan magis kala jatuh cinta, dalam pengadeganannya. Berbekal ketepatan bermain tempo plus musik gubahan Andhika Triyadi (Warkop DKI Reborn, Dilan 1990, My Stupid Boss 2), momen kala kedua protagonis akhirnya sungguh-sungguh “berbagi kamar” terasa indah nan sakral. Begitu pula klimaksnya, yang secara cerdik mengiklankan MRT sebagai pilihan transformasi penangkal macet. Saya tidak merasa Wedding Agreement harus melucuti seluruh elemen agamanya, tapi menambahkan humanisme niscaya bakal membuat kualitasnya melambung.