REVIEW - THE NAKED GUN
Banyak yang mengerdilkan film parodi, menyebutnya malas dan bodoh, terutama sejak kemerosotan kualitasnya di era 2000-an. Anggap itu kurang adil. Genre parodi memang cenderung bodoh, namun tak seluruhnya malas. Justru di situlah terletak cara memisahkan, mana parodi yang baik, mana yang buruk. The Naked Gun versi baru, sebagaimana trilogi orisinalnya dulu, masuk ke kategori pertama.
Kali pertama kita bertemu protagonisnya, si detektif laki-laki senior bertubuh jangkung, ia menggagalkan perampokan bank dengan menyamar sebagai gadis cilik. Kebodohan yang mengkhianati logika? Ya, tapi itu jenis kebodohan kreatif, yang digagas oleh orang-orang yang berpikir keras untuk mengecoh ekspektasi penonton. Jelas bukan wujud kemalasan.
Film semacam ini sulit untuk dibuat reviunya. Pertama, nyaris mustahil menggambarkan kelucuan humornya. Penonton harus mengalaminya secara langsung. Kedua, ia sama sekali tak terikat pada pakem filmis mana pun, termasuk dalam hal penceritaan. Tapi berkat semangat "semau gue" yang filmnya usung, alur generik bertema police procedural mampu diubah ke arah yang lebih menarik.
Protagonisnya adalah Frank Drebin Jr. (Liam Neeson), putra dari Frank Drebin (Leslie Nielsen) selaku jagoan dari film orisinalnya. Drebin Jr. ingin mengikuti jejak sang ayah, namun tak ingin dianggap sebatas meniru. Kita tahu itu pun merupakan teriakan hati para pembuat filmnya. Drebin Jr. berharap sang ayah memberi pertanda lewat penampakan burung hantu. Tunggu bagaimana semesta merespon doa si tokoh utama nanti.
Ada dua kasus tengah Drebin Jr. usut, yakni perampokan bank dan kecelakaan mobil elektrik yang menewaskan pengemudinya. Penyelidikan membawa Drebin Jr. berkenalan dengan Richard Cane (Danny Huston), figur terkemuka dalam bidang teknologi sekaligus pembuat mobil elektrik yang bukan diberi nama Tesla tersebut. Saudara si korban yang kurang memercayai kredibilitas polisi, Beth Davenport (Pamela Anderson), turut melakukan penyelidikan sendiri.
Garis besar kisahnya memang klise, tapi banyolan khas film parodi yang dapat muncul kapan pun dalam bentuk apa pun, jadi penyegar presentasinya. Humornya tersebar hampir di tiap titik, entah berupa slapstick, permainan kata (yang akan kehilangan daya bunuhnya bila penonton sepenuhnya bergantung pada takarir), hingga deretan pemandangan absurd yang kerap ditempatkan di latar belakang sebuah shot. Semua dikemas secara padat dalam durasi 85 menit. Ingat kapan terakhir kali ada "film besar" bergulir sesingkat itu?
Kalau ada sesuatu yang bisa dikomplain terkait The Naked Gun, itu hanyalah bagaimana bagi penonton yang sudah familiar dengan genre parodi, beberapa kejutan di humornya tak lagi terasa mengejutkan. Tapi itu pun tak selalu berujung melucuti kelucuannya, apalagi saat duo pemeran utamanya senantiasa memamerkan totalitas mereka.
Liam Neeson adalah penerus sejati dari Leslie Nielsen. Sebagaimana mendiang Nielsen yang lebih dikenal sebagai "aktor serius" sebelum tercebur ke dunia parodi, Neeson memanfaatkan citra tangguhnya untuk menggandakan kelucuan bergaya deadpan, di mana si karakter memasang muka datar kala berlaku absurd, seolah semua itu normal. Ketika Frank Drebin Jr. berpose, memamerkan figur intimidatifnya sembari mengenakan baju gadis cilik, itulah puncak komedi. Pamela Anderson pun sukses memancing tawa lewat "nyanyian merdu" yang ia pamerkan di atas panggung jazz.
Pamela Anderson, dengan statusnya sebagai simbol seks 90-an, tidak dijadikan objek eksploitasi dalam sebuah komedi parodi, merupakan kejutan menyenangkan. Banyak pihak berkeluh kesah perihal serba sensitifnya zaman sekarang, yang dianggap menyulitkan pembuatan komedi. The Naked Gun membantah anggapan tersebut. Beberapa kali ia berjalan di pinggir jurang, bagai hendak melempar lelucon seksis, sebelum melompat di saat-saat terakhir dan menghindari kejatuhan.
Bukan berarti filmnya tak menyediakan ruang bagi komedi nakal. Sebuah adegan yang melibatkan Liam Neeson, Pamela Anderson, dan aktivitas mencurigakan yang ditangkap oleh kamera inframerah, menjadi salah satu kebodohan paling liar sekaligus paling lucu di film ini. The Naked Gun memang bodoh, tapi jelas tidak malas.
REVIEW - A NORMAL WOMAN
A Normal Woman menempatkan karakter utamanya di tengah keluarga borjuis yang dari luar nampak sempurna berkat segala kerupawanan mereka, namun sejatinya akrab dengan kekacauan serta hati yang hampa. Sayangnya kondisi serupa turut menimpa karya terbaru Lucky Kuswandi ini. Film yang kulit luarnya begitu cantik, tetapi begitu ditelusuri lebih dalam, ada kesemrawutan yang tak lagi bisa diuraikan.
Milla (Marissa Anita) dianggap mempunyai hidup idaman semua perempuan setelah menikahi Jonathan (Dion Wiyoko) si pebisnis kaya. Suatu ketika keduanya diwawancarai sebuah majalah ternama, dan si jurnalis berkata kepada Jonathan, "You have the most beautiful family...and wife." Seolah Milla bukan dianggap sebagai bagian keluarga terpandang itu.
Mungkin kenyataannya memang demikian. Si ibu mertua, Liliana (Widyawati), memperlakukannya bak asisten rumah tangga yang selalu berbuat dosa. Milla memang bukan berasal dari keluarga kaya. Ibunya (Maya Hasan) pun masih sering meminta uang untuk berjudi. Angel (Mima Shafa), sang putri yang kerap menerima ejekan terkait fisiknya, baik oleh warganet maupun neneknya sendiri, jadi alasan Milla terus bertahan di rumah yang terkesan dingin tersebut.
Kemewahan rumah si tokoh utama diterjemahkan dengan baik oleh Teddy Setiawan selaku desainer produksi. Sinematografi arahan Batara Goempar menguatkan keindahan visualnya, mengajak penonton mengamati sudut-sudut penuh estetika mahal yang nampak asing bagi rakyat jelata seperti saya. Misal salib di kamar Jonathan dan Milla yang dibentuk oleh tata lampu, yang turut menandakan tingginya religiositas keluarga ini. Sederhananya, rumah ini berkarakter.
Tapi sebagaimana ia tidak lahir dari keluarga kaya, Milla tak menjadikan agama sebagai tuntunan utama hidupnya. Jurang perbedaan dengan keluarga Jonathan pun makin lebar. Sampai tiba-tiba Milla mengidap penyakit aneh yang membuat lehernya merasakan gatal-gatal parah. Bukan cuma itu, ia mulai sering mendapat penglihatan tentang gadis cilik bernama Grace.
Naskah buatan Lucky Kuswandi dan Andri Cung memakai anomali yang Milla alami sebagai representasi dari "penyakit" yang banyak menjangkiti manusia: kepura-puraan. Bagaimana individu acapkali memakai topeng yang amat berlawanan dengan wajah aslinya, sembari berlakon di atas panggung sandiwara bernama "norma sosial". Tapi toh seberapa pun si individu jago berakting, lambat laun kepalsuan tersebut bakal menyulut ketidaknyamanan.
Lain cerita dengan akting Marissa Anita. Ada kepuasan melihatnya tiba-tiba bertransisi, dari melafalkan Bahasa Inggris secara fasih menjadi berbicara memakai logat Surabaya. Pergulatan emosi Milla pun disuarakannya secara luar biasa. Marissa ibarat jangkar yang menjaga filmnya tidak tenggelam, tatkala naskahnya bak kehabisan akal mesti bagaimana mengembangkan gagasan dasar yang dibawa.
A Normal Woman masih menerapkan trik generik, di mana 110 menit durasinya dipenuhi oleh halusinasi yang protagonisnya alami. Semakin lama semakin melelahkan, apalagi kala tiap adegan dibawakan dengan tempo berlarut-larut. Ide besar pun bakal terasa kecil, bila alih-alih dieksplorasi secara menyeluruh, ia sebatas dipaksa memanjang.
Filmnya bergantung pada hadirnya titik balik, saat karakter Erika (Gisella Anastasia), tukang rias yang amat disukai Liliana, masuk dalam kehidupan Milla. Tapi bukannya memperkaya cerita, penambahan tokoh baru tersebut, lengkap dengan twist yang dibawanya, sekadar memperkeruh. Kacau.
Secara tersirat, Liliana berharap Erika bisa menggantikan peran Milla sebagai pendamping Jonathan. Mengapa Liliana yang sedemikian angkuh, juga membenci Milla karena berasal dari keluarga miskin, malah ingin menjadikan tukang rias biasa sebagai menantu baru? Kenapa pula para ART di rumah semegah itu dibiarkan memakai pakaian kumal alih-alih diberikan seragam? Tidakkah para borjuis selalu ingin segala hal di sekitar mereka nampak memukau? Entah apa maunya film ini.
(Netflix)
REVIEW - OMNISCIENT READER: THE PROPHECY
Di satu kesempatan, protagonis Omniscient Reader: The Prophecy memakai tabungan koin untuk meningkatkan kemampuannya. Film ini seperti merealisasikan mimpi anak-anak dalam diri kita, yang kerap mengidamkan kehidupan bak video game, di mana seseorang dapat dengan mudah melakukan power-up, lalu menjadi jagoan serbabisa yang tak terikat hukum-hukum sains. Sebuah eskapisme dari kemonotonan realita.
Tapi apa yang dihadapi Kim Dok-ja (Ahn Hyo-seop) bukanlah eskapisme. Dunianya dihantam kekacauan saat novel web favoritnya mendadak jadi kenyataan. Umat manusia mesti bertahan hidup layaknya karakter dalam gim: menyelesaikan beragam misi (ada misi utama, sampingan, dan tersembunyi) yang disebut "skenario" untuk bisa melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya, pula mengumpulkan koin serta membeli barang guna memperkuat diri.
Pemahaman Dok-ja akan novelnya membuat dia bisa memprediksi apa saja yang mesti dilakukan, layaknya nabi yang memperoleh nubuat. Dia pun tahu bahwa kunci keselamatan dunia terletak di pundak Yoo Joong-hyuk (Lee Min-ho), si protagonis dari novel tersebut. Menarik, sebab Dok-ja bukan "sang terpilih" sebagaimana barisan karakter utama dalam film-film serupa, meski seiring waktu Dok-ja bakal belajar untuk menulis ceritanya sendiri alih-alih pasrah pada "ramalan" yang ia ketahui.
Naskah hasil tulisan sang sutradara, Kim Byung-woo, bersama Lee Jeong-min, mengadaptasi novel web Omniscient Reader's Viewpoint karya Sing Shong untuk melahirkan dunia sarat keunikan yang tiap sudutnya selalu memancing rasa penasaran. "Apa yang terjadi selanjutnya? Misi apa yang berikutnya harus karakternya jalani? Makhluk aneh apa lagi yang akan muncul?", adalah beberapa tanda tanya yang bakal rutin berputar di kepala penonton.
Kim Byung-woo menggerakkan alurnya dengan begitu cepat sehingga melahirkan pisau bermata dua. Di satu sisi, cara itu efektif menjaga keseruan dan intensitas, namun di sisi lain, eksplorasi dunianya luput diolah secara matang, menciptakan beberapa pertanyaan seputar detailnya, yang mungkin baru akan disentuh bila sekuelnya dibuat. Pendekatan semacam ini memang acap kali melemahkan film sebagai sebuah karya yang berdiri sendiri.
Dok-ja tidak melakukan perjalanan seorang diri. Yoo Sang-ah (Chae Soo-bin) yang merupakan rekan Dok-ja, Lee Hyun-sung (Shin Seung-ho) si mantan tentara, Jung Hee-won (Nana) si petarung tangguh, dan Lee Gil-young (Kwon Eun-seong) si bocah penyuka serangga, juga turut serta. Nantinya, "murid" dari Yoo Joong-hyuk, yakni Lee Ji-hye (Jisoo) si penembak jitu, akan ikut mengulurkan bantuan. Masing-masing karakternya diberi ruang untuk unjuk gigi. Tidak ada yang terlupakan. Semua bekerja sama, bukan cuma perihal menumpas monster, juga saat dihadapkan pada ego manusia, yang sempat pula menggerogoti mereka.
Filmnya bergerak ke arah yang lebih familiar tiap adegan aksi mengambil alih. Pengarahan Kim Byung-woo cukup bertenaga, tapi baku hantamnya tidak lebih dari gaya khas blockbuster modern yang berorientasi pada gaya Hollywood, di mana beragam efek CGI saling bertubrukan, sampai terkadang sukar mencerna peristiwa apa yang tengah memenuhi layar bioskop.
Efek visualnya terlihat solid tatkala sebatas dipakai memvisualkan makhluk yang melakukan gerakan-gerakan sederhana, semisal saat Ichthyosaurus si monster laut pertama kali menampakkan wujudnya. Lain cerita kala harus menghidupkan gerak-gerak kompleks, atau latar yang sepenuhnya dikemas menggunakan CGI. Omniscient Reader: The Prophecy memaksakan diri melakukan sesuatu yang berada di luar jangkauannya.
Tapi pemandangan sewaktu Dok-ja menghabiskan puluhan ribu koin untuk melipatgandakan kekuatannya sembari mengumpulkan benda langka yang bisa ditukar dengan senjata, Jung Hee-won yang dengan kerennya menghabisi puluhan musuh bermodalkan dua buah belati, atau Lee Gil-young yang sanggup memanggil barisan serangga raksasa, tidak pernah kehilangan pesonanya. Omniscient Reader: The Prophecy tak ubahnya video game yang digarap apik. Eskapisme ajaib yang sejenak membawa penikmatnya melupakan dunia nyata yang serba biasa.
REVIEW - GAK NYANGKA..!!
Seperti barisan komedi buatan Jeihan Angga sebelumnya, Gak Nyangka..!! mengedepankan kebodohan. Film tentang karakter yang bertingkah bodoh, berusaha menyelesaikan setumpuk masalah bodoh lewat solusi bodoh pula. Bagi penyuka gayanya (termasuk saya), kebodohan itu bersinonim dengan kata "menghibur". Tapi tidak dengan kekacauan ceritanya, yang terlalu jauh melampaui batas-batas kebodohan.
Meski terkesan bodoh, komedi khas Jeihan, yang kali ini berpartner dengan Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan dalam menulis naskah, tak pernah mengerdilkan inteligensi penonton. Semua soal mewakili selera penyuka keabsurdan yang tak mempermasalahkan absennya logika. Sehingga tidak jadi masalah ketika empat aktor utamanya, yang jika usianya dirata-rata menyentuh angka 36,25 tahun, diharuskan memerankan mahasiswa tingkat akhir.
Alkisah, setelah 17 kali mengalami penolakan dari Bu Pris (Sarah Sechan) si dosen galak, akhirnya proposal skripsi milik Agoy (Ge Pamungkas), Darlina (Prisia Nasution), Cherry (Indah Permatasari), dan Bruno (Arie Kriting), yang berkuliah di Yogyakarta, diterima. Tapi muncul masalah baru, di mana penelitian yang mereka ajukan memerlukan dana 100 juta rupiah.
Cara apa yang keempatnya tempuh guna mengumpulkan dana? Agoy berinvestasi saham, Darlina mencari saweran lewat TikTok, Cherry meminta uang dari ibunya (Cut Mini Theo), sedangkan Bruno memakai citra intimidatif orang Timur guna memeras bosnya. Semuanya bodoh. Bahkan Cherry yang konon merupakan sosok paling kalkulatif di antara mereka. Semakin bodoh saat Agoy memakai uang yang belum terkumpul setengahnya untuk membeli tanah bodong, dengan harapan bisa menjualnya dengan harga puluhan kali lipat.
Tapi sekali lagi, rangkaian kebodohan di atas bukan bermaksud mengkhianati kepintaran penonton. Jeihan sebatas memindahkan lawakan aneh dalam obrolan jam tiga pagi di tongkrongan ke layar lebar. Saya tertawa lepas menyaksikan siasat-siasat tak berakal yang empat protagonisnya cetuskan.
Apalagi jajaran pemainnya sungguh memahami kebodohan macam apa yang sang sutradara harapkan. Terutama Ge dengan gaya serba berlebih baik dalam berkomedi maupun menangani momen dramatis, yang membuat kegagalannya menyempurnakan logat medok sedikit bisa dimaafkan, juga Prisia Nasution yang mengingatkan bahwa ia masih salah satu pelakon paling versatile yang negeri ini punya.
Di satu titik, Agoy yang sudah tak kuat menghadapi tumpukan masalah memilih pulang kampung menemui. Whani Dharmawan yang memerankan ayah Agoy menyuntikkan kehangatan yang tak diduga bisa dipunyai tontonan macam Gak Nyangka..!!, sebelum kemudian kita diajak menyatroni sebuah warung kopi kepunyaan Siti Fauziah, untuk mendengarkan "obrolan ngalor-ngidul" yang meski sarat tawa tetap mengandung kebersahajaan khas sinema berorientasi Jawa.
Alurnya memang bergerak tanpa sense of direction, tak ubahnya Bruno yang sering tersasar meski berprofesi sebagai pemandu. Tapi kelucuannya efektif memancing tawa, setidaknya bagi para penyuka gaya humor Jeihan Angga. Pesan mengenai bagaimana civitas academica seharusnya mendukung talenta mahasiswa serta menomorsatukan kebergunaan bagi masyarakat, alih-alih sebatas mementingkan IPK pun memiliki relevansi.
Masalah terletak pada konklusi. Gak Nyangka..!! menumpuk begitu banyak konflik, dari hal sederhana seperti problematika perkuliahan maupun persoalan keluarga tiap karakter, hingga gesekan besar yang melibatkan Pak Kahar (Ebel Cobra) si pebisnis korup, hanya untuk menyelesaikan semuanya dengan cara super instan yang hadir secara mendadak.
Metode yang naskahnya ambil lebih dari sekadar kebodohan. Entah para pembuatnya ingin segera menyelesaikan filmnya, atau bagian akhir naskahnya terbang tertiup angin sehingga pengambilan gambar tak mampu dilakukan. Jika kebodohan komedinya tidak terasa seperti bentuk merendahkan inteligensi penonton, maka konklusinya bagaikan sikap tidak peduli terhadap mereka yang telah menyisihkan waktu dan uang untuk menonton film ini.
REVIEW - KAMPUNG JABANG MAYIT
Sebagaimana di Turah yang ia lahirkan hampir satu dekade lalu, Wicaksono Wisnu Legowo yang bertindak selaku salah satu penulis naskah Kampung Jabang Mayit, kembali mengisahkan tentang sebuah desa kecil dengan jumlah penduduk bisa dihitung jari, yang eksis di bawah bayang-bayang kemiskinan. Bedanya, kali ini kekuatan gaib turut ambil bagian dalam kehancuran desa tersebut. Mistikisme yang menariknya, enggan bersembunyi dari balik kegelapan malam.
Sebutan "Midsommar dengan kearifan lokal" mungkin layak disematkan bagi Kampung Jabang Mayit, sebagai folk horror berlatar desa misterius di mana matahari seolah enggan mengistirahatkan cahayanya. Desa Rangkaspuna namanya, yang selama tragedi pembantaian 1965, kerap jadi lokasi pembuangan mayat. Malam hari tak pernah kita saksikan, namun kegelapan terpancar kuat dari sana.
Weda (Ersya Aurelia) adalah foto model yang karirnya tengah melambung. Dia bahkan baru menerima tawaran film perdananya. Cuma ada satu masalah: Weda sedang hamil dari hasil hubungan diam-diamnya dengan fotografer bernama Bagas (Bukie B. Mansyur). Supaya tak merusak karir sang kekasih, Bagas pun mengajak menggugurkan kandungan itu di kampung halamannya, apalagi kalau bukan Desa Rangkaspuna.
Kenapa harus di sana? Rupanya Desa Rangkaspuna memang dikenal sebagai pusat aborsi. Lewat kesaktian Ni Itoh (Atiqah Hasiholan), konon desa itu mulai beranjak dari kehancuran karena rutin menumbalkan jabang bayi. Warganya mengharapkan berkah dari mengorbankan nyawa manusia. Apa bedanya dengan para penguasa yang membuang jenazah di desa mereka puluhan tahun lalu?
Ceritanya mengambil latar tahun 1989, namun tak satu pun karakternya bicara seperti orang-orang dari masanya? Termasuk saat Weda terlibat pertengkaran dengan Bagas terkait kandungannya, yang dipenuhi barisan kalimat cheesy bak sinetron masa kini. Weda ragu apakah aborsi merupakan pilihan terbaik, namun Bagas terus melempar rayuan, yang semakin diperhatikan, semakin terdengar seperti manipulasi.
Serupa Dani di Midsommar, Weda pun mesti melalui perjalanan mengerikan berlatar desa terpencil sebelum menyadari betapa toxic romansa yang ia jalani. Sayangnya Kampung Jabang Mayit masih belum beranjak dari trik jumpscare generik, yang sebatas berupaya mengageti penonton lewat penampakan ala kadarnya, meski dengan kuantitas yang untungnya cenderung minim.
Satu momen yang cukup menonjol adalah, sewaktu Weda diganggu oleh sesosok hantu yang meniru wujud Guna (Rasya Yoga), putra Rini (Rachquel Nesia Gusti Gaza), salah satu warga Rangkaspuna yang bertugas membantu Ni Itoh. Tidak ada penampakan wajah seram, efek suara berisik, atau penyuntingan murahan. Hanya sebuah trik sederhana berbalut kesunyian, yang makin mencekam begitu penonton dan si protagonis menyadari anomali yang sedang terjadi. Di situlah pengarahan Wisnu Suryapratama memperlihatkan sensitivitasnya.
Berlatar patung aneh berukuran besar yang melambangkan siklus kelahiran dan kematian, ritual aborsi Weda pun dilaksanakan. Atiqah Hasiholan berjasa membangun teror melalui penampilannya yang menarik atensi bak magnet. Begitu pula Yudi Ahmad Tajudin sebagai Ki Jaka, asisten Ni Itoh yang bertugas menabuh perkusi selama ritual sembari mengenakan topeng "babi dari neraka".
Film yang mengadaptasi utas hasil tulisan Qwertyping alias Teguh Faluvie ini bergulir selama 92 menit. Singkat. Alurnya memang menolak tampil basa-basi, enggan pula bergerak melebar menyambangi deretan subplot yang tidak diperlukan. Skalanya kecil, yang menunjang terjaganya fokus penceritaan, serta membangun kesan atmosferik milik Rangkaspuna. Bukti bahwa tidak semua horor lokal adaptasi produk viral harus digarap dengan pendekatan serba bombastis.
REVIEW - THE FANTASTIC FOUR: FIRST STEPS
Alih-alih pertarungan melawan penjahat super atau petunjuk soal invasi alien yang segera datang, The Fantastic Four: First Steps dibuka oleh pemandangan intim saat Sue Storm (Vanessa Kirby) mengabarkan kehamilannya ke sang suami, Reed Richards (Pedro Pascal). Tone dan tema film ini pun dipatenkan. Ketakutan terbesar karakternya bukan semata kehancuran dunia, melainkan kegagalan melindungi anggota keluarga mereka yang eksis di dunia tersebut.
Di awal pertemuan kita, sudah empat tahun Fantastic Four jadi pelindung dunia. Masyarakat mencintai mereka, dan mereka pun mencintai masyarakat. Sebaris montase (yang diisi beberapa easter eggs) merangkum origin story kelompok berjuluk "Marvel's First Family" itu. Penokohan masing-masing anggota pun sekilas dijabarkan. Reed si ilmuwan jenius, Sue yang terlahir sebagai pemimpin, Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach) si manusia batu berhati lembut, dan Johnny Storm (Joseph Quinn) yang semangatnya selalu membara seperti tubuhnya.
Singkat, tepat guna, menyenangkan. Walau ada kalanya gaya tutur montase di atas menular ke narasi normalnya, yang bergerak terlampau cepat terutama di paruh awal. Terkadang saya berharap filmnya sejenak menginjak pedal rem, supaya memberi penonton waktu menikmati nuansa retrofuturistik yang filmnya kedepankan. Teknologinya (mata H.E.R.B.I.E. si robot nampak bak pemutar kaset pita), efek suara, hingga sinematografi arahan Jess Hall, semua nampak "sangat 60-an". Andai beberapa kelemahan CGI-nya mampu diatasi, sebagaimana saat miniatur dipakai untuk menghidupkan New York di babak ketiga.
The Fantastic Four: First Steps turut meneruskan rute baru yang MCU tempuh sejak Thunderbolts*, dengan mengesampingkan humor konyol guna memberi ruang bagi pengembangan karakter. Peran melempar candaan lebih banyak diserahkan pada Johnny dan Benn, namun mereka tak disulap jadi "mesin lelucon".
Tapi kompleksitas paling besar terletak pada figur Sue dan Reed, yang diperankan secara luar biasa oleh Vanessa Kirby dan Pedro Pascal. Saya suka bagaimana Sue, si perempuan tangguh yang bahkan sanggup bertarung di sela-sela kontraksi, senantiasa bisa mengatur emosinya, paling berkepala dingin, kecuali jika keselamatan buah hatinya terancam. Di situlah amarahnya dapat meledak hebat. Di sisi lain, Reed tidak digambarkan sebagai figur kepala keluarga sempurna. Sebagai individu yang terombang-ambing di antara sensitivitas hati dan kejeniusan otak, beberapa gagasannya terkesan problematik.
Dinamika tersebut mendapat ujian saat Shalla-Bal / Silver Surfer (Julia Garner) mengabarkan kedatangan tuannya, Galactus (Ralph Ineson), yang akan segera menyantap Bumi. Fantastic Four pun menyambangi Galactus di luar angkasa untuk berunding, kemudian mendapati sang "Devourer of Worlds" sedang asyik melahap sebuah planet yang hancur seketika, sementara musik gubahan Michael Giacchino, yang sebelumnya memperdengarkan nada-nada klasik, seketika berubah menjadi lantunan teror mencekam.
Galactus nampak intimidatif, bak personifikasi kiamat yang kehadirannya mampu mencuatkan ketidakberdayaan di babak ketiga. Shalla-Bal tidak luput mencuri perhatian. Adegan kejar-kejaran berlatar lubang hitam yang kembali jadi panggung bagi Giacchino memamerkan keunikan aransemennya sekaligus menunjukkan kelihaian Matt Shakman mengolah intensitas di kursi sutradara menegaskan bahwa ia bukan sosok pembawa kabar belaka.
Banyak misinterpretasi terkait Fantastic Four. Berbeda dengan Avengers, mereka lebih dekat ke arah penjelajah dan ilmuwan ketimbang pahlawan super. Sewaktu Galactus menebar ancaman, insting pertama Fantastic Four bukanlah melawan balik layaknya sekelompok jagoan, tapi mencari solusi sebagaimana ilmuwan semestinya berlaku. Ketika Reed mencuatkan strategi absurd mengenai cara menyelamatkan Bumi dari Galactus, di situlah saya yakin The Fantastic Four: First Steps benar-benar memahami materi aslinya.
REVIEW - ON BECOMING A GUINEA FOWL
On Becoming a Guinea Fowl dibuka saat seorang perempuan yang mengendarai mobilnya kala malam hari, tiba-tiba menemukan mayat di tengah jalan. Responnya cenderung dingin, tak ubahnya seorang karakter dari film komedi kelam berbalut surealisme sedang menghadapi satu dari sekian banyak peristiwa absurd. Tapi seiring kisahnya bergulir, lalu makin banyak rahasia terkuak, rupanya ada alasan yang memang kelam namun sangat berpijak pada realisme di balik respon si perempuan.
Shula (Susan Chardy) nama perempuan itu, sedangkan mayat yang tergeletak di jalanan Zambia itu adalah milik pamannya, Fred (Roy Chisha). Nsansa (Elizabeth Chisela), sepupu Shula yang seorang pemabuk, tiba di TKP beberapa saat berselang. Di sela-sela sibuknya prosesi pemakaman, Nsansa dengan gayanya yang ceria, berkisah tentang bagaimana Fred pernah melecehkannya semasa ia kecil.
Rupanya kebejatan Fred sudah diketahui keluarga besarnya. Selain doyan mabuk-mabukan, dia kerap melecehkan anak di bawah umur. Lokasi penemuan mayatnya yang berada tidak jauh dari rumah bordil pun memancing kecurigaan. Bahkan ia menikah sewaktu istrinya (Norah Mwansa) baru berumur 11 tahun. Haruskah kematiannya diratapi?
On Becoming a Guinea Fowl jadi cara Rungano Nyoni (I Am Not a Witch) selaku sutradara sekaligus penulis naskah untuk menggugat norma, bahwasanya, beberapa keburukan yang dilanggengkan atas nama "adat" sudah sepantasnya dihapuskan. Shula dipusingkan oleh para bibinya, yang mengatur bagaimana ia mesti berperilaku di tengah situasi berduka, terutama keharusan untuk meraung-raung meratapi kematian Fred.
Di mata Nyoni, beberapa hal berkedok "kultural" hanyalah bentuk pengekangan yang menciptakan kepalsuan. Pemakaman penuh puja-puji atas nama kekeluargaan walau si mendiang telah diketahui bersama kerap melakukan tindakan keji, para istri yang diwajibkan menuruti arahan suami biarpun diperlakukan layaknya budak, hingga para perempuan yang terpaksa bungkam mengenai perilaku laki-laki yang mengedepankan kelaminnya.
Alurnya bergulir lembut, mulus, hingga eksposisi tak terasa seperti eksposisi, melainkan peristiwa yang terjadi secara natural. Pada suatu kesempatan, Shula berusaha mengajak bicara ibunya (Doris Naulapwa) mengenai kegundahan yang ia rasakan. Masalahnya sang ibu terlalu sibuk mengurusi keperluan pemakaman, menyiapkan makanan, sampai membersihkan kandang hewan peliharaan, sehingga tak sempat meluangkan sedikit waktu bicara hati ke hati.
Keharusan menuntaskan segala pekerjaan domestik membuat perempuan Zambia kehilangan ruang bersuara. Di sisi lain kita menyaksikan para laki-laki, yang juga memegang peran selaku pemimpin adat, bebas bercengkerama, pula dengan santai mengeluhkan santapan yang belum tiba.
Salah satu adegan paling magis di On Becoming a Guinea Fowl adalah saat Shula dan Nsansa dikelilingi para bibinya di dapur. Gerombolan perempuan dewasa yang sedari awal seperti hanya memedulikan sebanyak apa air mata yang ditumpahkan bagi Fred, mendadak mengakui luka yang dipendam oleh dua keponakan mereka, sebelum melantunkan nada-nada tradisional indah bersama-sama. Di tengah dunia yang tunduk pada kuasa laki-laki, hanya itulah bentuk "bersuara" yang bisa dilakukan perempuan.
Arti judulnya yang unik terungkap di sebuah kilas balik soal masa kecil Shula, ketika ia menonton program anak-anak di televisi. Di situlah Shula belajar tentang bagaimana guinea fowl (ayam mutiara) adalah hewan yang cenderung cerewet, dan menggunakan suara mungil mereka untuk memperingatkan satu sama lain bila ada predator mendekat.
Penjelasan tersebut berkulminasi di momen penutup filmnya yang hadir begitu kuat, tatkala di antara keributan keluarganya, Shula bersuara layaknya ayam mutiara. Kicauannya begitu lirih, namun lambat laun mengeras seiring kamera yang pelan-pelan mendekat. Kamera itu mewakili perspektif Nyoni mengenai bagaimana semestinya masyarakat bersikap saat ada perempuan bersuara. Satu suara kecil bakal terdengar keras, pula berdampak besar, bila kita bersedia mengindahkannya.
(Klik Film)
REVIEW - I KNOW WHAT YOU DID LAST SUMMER (2025)
I Know What You Did Last Summer mengikuti tren dunia horor (termasuk slasher tentunya) belakangan, dengan melahirkan legacy sequel untuk menyatukan karakter lama dan baru. Tapi terkait cara eksekusi, ia masih membawa nuansa lama. Semuanya familiar, sebagaimana musim panas 1997 kala si "nelayan pembunuh" kali pertama melancarkan aksinya. Setidaknya film ini mampu memperbaiki beberapa elemen yang digarap setengah matang oleh versi orisinalnya.
Gerombolan muda-mudi Southport generasi barunya masih berbagi ciri serupa Julie (Jennifer Love Hewitt) dan kawan-kawan dahulu. Ava (Chase Sui Wonders) adalah protagonis pemilik kompas moral, Danica (Madelyn Cline) merupakan pemegang gelar "Croaker Queen" yang berpacaran dengan Teddy (Tyriq Withers) si putra keluarga kaya, sedangkan Milo (Jonah Hauer-King) menjadi love interest dari Ava. Hanya saja di sini ada tambahan orang kelima dalam diri Stevie (Sarah Pidgeon) yang sempat menjauh dari teman-temannya akibat masalah personal.
Kelimanya berkumpul guna merayakan pertunangan Danica dan Teddy, mabuk-mabukan di tengah jalanan pinggir jurang pada malam hari, hingga lewatlah sebuah mobil yang terjatuh ke jurang karena oleng setelah berusaha menghindari mereka. Filmnya menukar peran "penabrak dan tertabrak", namun setelahnya, semua berjalan sesuai skenario lama. Pesan "I know what you did last summer" diterima, lalu satu per satu dari mereka jadi incaran pembunuh bersenjatakan kait es.
Bedanya, naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Jennifer Kaytin Robinson, bersama Leah McKendrick, menaruh lebih banyak perhatian pada elemen misteri whodunit yang di film aslinya bak pernak-pernik tak bermakna. Jumlah tersangka ditambah, tanda tanya mengenai identitas pelaku pun dipertebal. Nantinya Julie dan Ray (Freddie Prinze Jr.) hadir melengkapi status film ini sebagai legacy sequel dengan mengemban peran selaku penasihat, sementara Helen Shivers (Sarah Michelle Gellar) "dihidupkan lagi" memakai metode yang cukup cerdik untuk ukuran slasher remaja.
Terkait metode eksekusi yang si pembunuh pakai, I Know What You Did Last Summer mungkin masih tertinggal dari rekan-rekan sejawatnya sesama slasher, baik terkait kreativitas maupun tingkat kebrutalan. Seolah sang sineas terlampau khawatir membawa aksi pembunuhnya ke ranah over-the-top, dengan lebih jauh mengeksplorasi hal apa saja yang bisa kait es dan senapan ikan lakukan terhadap tubuh manusia.
Minimal di tangan Jennifer Kaytin Robinson, sosok "The Fisherman" lebih banyak bersenang-senang kala menangani mangsa ketimbang pendahulunya dari 28 tahun lalu. Entah sekadar membiarkan para korban tenggelam dalam ketakutan sebelum benar-benar tewas, atau memajang tubuh mereka bak karya seni sadis yang ia banggakan.
Sederhananya, I Know What You Did Last Summer versi 2025 terasa lebih menyenangkan dari seniornya. Apalagi jumlah mayat yang jatuh turut berlipat ganda, meski poin ini seolah juga dipakai sebagai cara untuk menunda kematian jajaran karakter utamanya. Orang-orang yang tak terlibat dalam kecelakaan di musim panas kembali jadi incaran, namun kali ini naskahnya memberi alasan yang lebih masuk akal.
Sebuah twist di babak ketiga, yang berpotensi menyulut kontroversi di kalangan pecinta franchise-nya, hadir selaku penegas bahwa serangkaian pembunuhannya bukan semata perihal balas dendam, melainkan dampak trauma berkepanjangan yang berujung melahirkan sosok psikopat mematikan. Dari situlah Robinson dan McKendrick menyelipkan perihal gender ke dalam naskah.
Bagaimana keengganan laki-laki menangani luka secara layak atas nama maskulinitas justru membuat mereka jauh lebih rapuh dibanding perempuan yang cenderung lebih terbuka, juga terkait cara filmnya enggan memposisikan perempuan sebagai korban dalam film slasher melalui cara yang cukup "ekstrim". Di musim panas tahun 2025, perempuan adalah figur penyintas.
REVIEW - KITAB SIJJIN & ILLIYYIN
Judul film ini merujuk pada dua kitab berisi catatan amal buruk dan (sijjin) amal baik (illiyyin) manusia, yang merepresentasikan gesekan antara kebaikan dengan keburukan selaku konflik utama Kitab Sijjin & Illiyyin. Entah sudah berapa ratus horor Indonesia mengedepankan perihal tersebut. Tapi ada sebuah twist: si protagonis mewakili sisi jahat dalam pertarungan itu.
Selepas kematian aneh kedua orang tuanya semasa ia kecil, Yuli (Yunita Siregar) senantiasa hidup dalam penderitaan akibat siksaan Ambar (Djenar Maesa Ayu). Yuli adalah anak hasil perselingkuhan sang ibu dengan suami Ambar. Layaknya kehidupan Cinderella di bawah siksaan si ibu tiri, Yuli pun mesti menjalani hari bak pembantu. Laras (Dinda Kanyadewi), putri tunggal Ambar, juga tak ketinggalan menyiksanya.
Naskah buatan Lele Laila bergerak seperti sinetron yang mampu menyulut kebencian penonton pada deretan karakter yang bersikap kejam terhadap protagonisnya. Elegan? Mungkin tidak, tapi jelas efektif. Suami Laras, Rudi (Tarra Budiman), serta dua anak mereka, Tika (Kawai Labiba) dan Dean (Sultan Hamonangan), mungkin tak melukai secara langsung, namun mereka diam saja menyaksikan nasib buruk Yuli, seolah semuanya pemandangan lumrah.
Jika Cinderella tetap bersikap positif sembari bernyanyi bersama kicauan burung, maka Yuli memilih berpaling pada bisikan setan. Dibantu oleh dukun bernama Pana (Septian Dwi Cahyo), ilmu santet jadi jalan keluarnya. Yuli ingin Ambar beserta seluruh anggota keluarganya mati mengenaskan, tidak terkecuali dua anak Laras yang masih belia.
Ritual santetnya mengharuskan Yuli memakai mayat segar sebagai pengganti boneka teluh. Mayat itu Yuli bedah, ia masukkan nama-nama target ke dalamnya, kemudian dijahitnya kembali lubang itu dengan cara yang tak sempurna. Tim artistik Kitab Sijjin & Illiyyin memperlihatkan hasil kerja mumpuni dengan memanfaatkan efek praktikal untuk memoles proses menjijikkan tersebut.
Beberapa efek praktikal turut dimanfaatkan kala ilmu santet mulai menyerang tubuh korbannya. Elemen kekerasannya tidak seberapa ekstrim, namun pengarahan Hadrah Daeng Ratu memastikan bahwa setiap kaca yang menusuk telapak kaki, atau kecoa yang berusaha dicabut dari bola mata (ini sungguhan), memunculkan rasa ngilu bagi penontonnya.
Mengikuti protagonis yang sedari awal telah terjerumus ke jurang kegelapan tanpa ada niat untuk kembali ke arah cahaya cukup memberi modifikasi bagi formula horor klenik usang yang filmnya pakai. Minusnya, tak ada lagi misteri untuk ditelusuri guna menambah variasi dalam narasi. Sampai di satu titik alurnya semakin repetitif, sebatas berkutat pada pola "Yuli menyantet-korban tersantet-pengajian/pemakaman diadakan."
Lemahnya varian dalam alur terkadang membuat saya berharap Kitab Sijjin & Illiyyin benar-benar menelusuri mitologi dua kitab itu, alih-alih sekadar memposisikan mereka selaku simbolisme ala kadarnya. Setidaknya dari konfrontasi "baik vs jahat" itu, akting kuat dari Yunita Siregar, yang mampu mencuatkan kompleksitas sehingga penonton pun merasakan dilema dalam menyikapi tindakan Yuli, serta Kawai Labiba yang total perihal mengolah emosi, memperoleh sorotan memadai.
Santet yang Yuli kirim demikian kuat, tapi ia punya syarat: target haruslah seorang pendosa. Semakin besar dosa seseorang, semakin gampang santet menyerang. Tika datang selaku antitesis bagi Yuli, sebagaimana kitab sijjin dan illiyyin eksis secara bersamaan meski berseberangan. Sebesar apa pun cobaan yang mendera, Tika tetap berpegang teguh pada ajaran agama.
Semua berkat ajaran Abuya (David Chalik), ustaz yang di dua babak awal tak ubahnya pemuka agama biasa yang lebih banyak berceramah ketimbang bertindak, sebelum kemudian bertransformasi menjadi jagoan tangguh di klimaks. Sewaktu santet kiriman Yuli berujung membuat salah satu karakter kerasukan, dengan tenaga dalam miliknya, Abuya membanting si setan hingga lantai di sekelilingnya remuk. Epik! Horor religi kita perlu lebih banyak karakter ustaz seperti Abuya (dan tentunya Qodrat), yang bukan cuma piawai merangkai kata atau merapal doa. Mungkin di dunia nyata pun demikian.
REVIEW - SORRY, BABY
Sorry, Baby selaku debut penyutradaraan Eva Victor, mengangkat isu soal kekerasan seksual terhadap perempuan, dan ia menanganinya dengan sensitivitas tinggi. Tidak ada bagian yang terasa eksploitatif, tiada pula adegan problematik atau kealpaan merangkai kata yang eksistensinya layak dipertanyakan. Sederhananya, semua terasa benar dalam film ini.
Narasinya dibagi jadi beberapa segmen yang merangkum tahun-tahun dalam hidup protagonisnya dan berjalan secara non-linear. Agnes (Eva Victor) tinggal sendiri di sebuah kota kecil, sembari bekerja sebagai dosen di universitas tempatnya dahulu berkuliah. Dia memilih menetap, meski kota dan kampus itu pernah mendatangkan peristiwa traumatis baginya. Agnes jadi korban perkosaan oleh Decker (Louis Cancelmi), pembimbingnya selama menulis tesis, di kediaman si dosen.
Sekilas dilihat, Agnes bak tak menyimpan luka. Sewaktu sahabat lamanya, Lydie (Naomi Ackie), datang berkunjung, mereka terus berbagi canda tawa. Kita pun turut dibuat tergelak, karena baik sebagai aktor, sutradara, maupun penulis naskah, Eva Victor, piawai menyelipkan kejenakaan, yang ada kalanya datang dalam wujud komedi kelam.
Sorry, Baby menolak stigma, bahwa perempuan korban kekerasan seksual harus selalu menampakkan penderitaan dan dilarang beranjak dari kesedihan. Agnes adalah individu yang tidak hanya didefinisikan dari kejadian tersebut. Bahkan bersama Lydie, ia bisa membicarakan sisi lucu dari aktivitas seksual. Film ini bukan soal kasus yang merenggut hidup individu, namun sebaliknya, tentang bagaimana si individu merebut kembali hidupnya untuk terus dijalani.
Berlawanan dengan gejolak yang masih acap kali mengusik batin karakternya, Victor mengetengahkan suasana damai kala bercerita. Penderitaan enggan ia sulap jadi komoditas narasi. Penonton tidak coba dimanipulasi, tapi diajak melewati proses observasi. Agnes yang sekilas nampak baik-baik saja, sejatinya memperlihatkan beberapa "pertanda", yang bakal dijelaskan pasca alur filmnya mundur ke tahun-tahun yang telah lalu. Mengapa Agnes merasa khawatir belum mengunci pintu? Apa pula alasan Lydie segera mematikan televisi yang menayangkan 12 Angry Men?
Kilas baliknya turut berfungsi melempar kritik terhadap cara masyarakat, entah dari institusi pendidikan, tenaga medis, hingga aparat hukum, perihal ketidaktepatan mereka memperlakukan korban kekerasan seksual. Perenungan menarik dihadirkan kala suatu ketika Agnes ditunjuk sebagai juri sebuah persidangan, dan definisi bagi "praduga tak bersalah" serta "saksi langsung" dibacakan. Terdengar masuk akal, sampai kita membahas kasus perkosaan di tempat privat sebagaimana dialami Agnes.
Sorry, Baby menegaskan bahwa pemahaman akan kondisi individu seperti Agnes bukanlah persoalan gender, menilik bagaimana beberapa perempuan pun gagal memberi respon sensitif di hadapan Agnes. Semua soal empati. Penuturan Victor dipenuhi empati. Pengadeganannya sarat empati, demikian pula kalimat-kalimat dalam naskahnya, yang penuh gambaran mengenai kompleksitas perasaan para penyintas kekerasan seksual.
Selepas peristiwa pemerkosaan (yang membuktikan bahwa adegan semacam itu tetap dapat terasa mencekam tanpa harus dipaparkan secara eksplisit), kita diajak mengamati perjalanan Agnes pergi dari rumah si pelaku. Kamera bergerak begitu hati-hati mengikuti Agnes, dan selama beberapa saat tetap bertahan di belakang si protagonis, enggan mengeksploitasi emosinya, seolah hanya ingin menjaga sembari memberi ruang bagi korban. Itulah yang semestinya kita lakukan.
REVIEW - BLACK BOX DIARIES
Black Box Diaries mendokumentasikan investigasi sang sutradara, Shiori Itō, terhadap kasus pemerkosaan yang menimpanya. Kita melihatnya melangsungkan konferensi pers, di mana untuk kali pertama, Itō mengungkap peristiwa yang menimpanya ke publik. Mayoritas media menyudutkannya, sedangkan publik (banyak di antaranya perempuan) menuduhnya melakukan panjat sosial, bahkan menyebutnya "murahan" hanya gara-gara tak menutup semua kancing di kemeja yang ia kenakan.
Deretan reaksi di atas sudah cukup untuk menjustifikasi eksistensi dokumenter ini, selaku medium bersuara bagi para perempuan yang dibisukan oleh paham seksisme. Apalagi si pelaku, Noriyuki Yamaguchi, adalah jurnalis terpandang sekaligus penulis biografi bagi Shinzo Abe yang kala itu menjabat sebagai perdana menteri, sebelum dibunuh pada tahun 2022.
Laporan pertama Itō ditolak polisi, dengan alasan minimnya bukti kecuali pernyataannya yang berbasis memori. Polisi baru bertindak pasca Itō menyerahkan rekaman CCTV hotel yang memperlihatkan Yamaguchi membawanya masuk secara paksa, namun pada akhirnya dakwaan tetap dibatalkan. Terdapat indikasi campur tangan petinggi pemerintahan. Jepang memang maju secara infrastruktur, namun caranya menangani kasus perkosaan ternyata masih terbelakang.
Memakai kamera smartphone, Itō, yang juga seorang jurnalis, merekam kesehariannya. Kita melihatnya menangis, hancur oleh ingatan traumatis yang bisa kapan saja tiba-tiba menerjang, bahkan sempat menimbang-nimbang untuk bunuh diri. Black Box Diaries tidak unggul dalam hal teknis, tidak pula mendobrak pola narasi dokumenter investigatif, namun "kementahan" yang tersaji merupakan sumber kehebatannya. Sebuah perjalanan intim mengarungi realita personal yang coba disangkal oleh suatu negeri.
Ada kalanya Black Box Diaries terasa sangat menghancurkan. Itō sempat mengajak kita mengintip fotonya semasa kecil sembari bertutur tentang kenangan bersama keluarganya. Sungguh menyakitkan melihat gadis cilik polos di foto tersebut kelak jadi korban kebiadaban laki-laki. Di sisi lain, momen menyentuh tak luput filmnya tangkap. Misal sewaktu beberapa perempuan tua berorasi melontarkan dukungan bagi Itō. Salah satu di antara mereka tidak benar-benar mengingat wajah Itō, namun ia paham betul kalau ada sesama perempuan yang memerlukan dukungan.
Pemerkosaannya terjadi bersamaan dengan mekarnya sakura. Sejak itu Itō tak lagi mampu menikmati cantiknya warna bunga tersebut. Black Box Diaries menunjukkan bagaimana pemerkosaan, atau kasus pelecehan seksual berbentuk apa pun, bisa berdampak menghapuskan keindahan dalam hidup korbannya.
Tapi Itō menolak selalu menampakkan penderitaan di sini. Dia tetap bercengkerama dengan teman-teman, tertawa bersama, pula bersemangat kala berhasil menentukan judul buku (Black Box) yang ia tulis berdasarkan pengalamannya. Black Box Diaries enggan mendefinisikan si protagonis hanya sebagai "korban pemerkosaan". Shiori Itō tetaplah individu dengan segala kompleksitas warna-warninya yang berhak merasakan kebahagiaan.
(Klik Film)
REVIEW - SELEPAS TAHLIL
Tidak ada yang benar-benar memalukan dari adaptasi untuk salah satu cerita horor dari siniar Lentera Malam ini. Selepas Tahlil, yang bicara tentang harga yang mesti dibayar oleh manusia pendosa, cuma mempunyai satu dosa: meneruskan kemonotonan dan minimnya keberagaman dalam horor Indonesia. Masih cerita yang sama dengan cara menakut-nakuti yang juga serupa.
Alurnya masih membahas soal kematian yang tidak berlangsung mulus akibat semasa hidupnya, almarhum melakukan perjanjian dengan setan untuk mendapatkan ilmu, masih soal duka yang dirasakan keluarganya, masih berpusat pada acara tahlilan sebagaimana terpampang jelas di judul, masih pula sangat Jawasentris dan Islam-sentris.
Saras (Aghniny Haque) dan Yudhis (Bastian Steel) hanya ingin mengubur ayah mereka, Hadi (Epy Kusnandar), namun rintangan selalu datang menghadang. Di satu kesempatan kala tahlilan tengah berlangsung, jenazah Hadi pelan-pelan bangkit, terduduk, sebelum mengucapkan kalimat yang menyiratkan bahwa maut bakal menjemput keluarganya. Entah sudah berapa kali pemandangan serupa dipakai oleh horor kita.
Konflik lain berasal dari wasiat Hadi, yang meminta dimakamkan di kampung halamannya. Ketika adik Hadi, Setyo (Adjie N.A.), tiba guna menjemput jenazah kakaknya, Saras menolak. Dia enggan terpisah jauh dari sang ayah. Naskah buatan Husein M. Atmodjo sejatinya membawa niat baik, dengan memperlihatkan fase denial yang mengiringi proses berduka manusia. Aghniny pun (seperti biasa) tampil total menyuarakan carut-marut perasaan karakternya.
Sayang, naskahnya sendiri tidak sebegitu dalam menyelami dinamika psikis tersebut. Durasi 96 menitnya pun tersusun atas alur yang tipis, minim misteri yang bisa mengikat atensi, pula terkesan repetitif akibat ketidakmampuan pembuatnya mengatasi agar acara tahlilan yang beberapa kali dilangsungkan tidak cuma berakhir sebagai pengulangan monoton.
Upaya positif untuk menggarap horor secara sungguh-sungguh sebenarnya terasa betul dimiliki oleh Selepas Tahlil. Departemen teknis digarap cukup solid, Adriano Rudiman selaku sutradara mampu mengambil titik tengah dalam hal mengolah pacing supaya filmnya bergerak penuh kesabaran tanpa harus terkesan berlarut-larut, alurnya pun menolak sekadar mengumbar penampakan. Tapi apa yang tersisa dari sebuah film yang ingin bercerita namun tak dibarengi penceritaan mumpuni?
Apalagi terornya tampil tak seberapa mencekam. Masalah sudah terasa sedari opening-nya, yang luput membangun intensitas atau sekadar menyiratkan kengerian. Padahal adegan pembuka berperan besar memengaruhi antisipasi serta kesediaan penonton menaruh atensi bagi sebuah film. Sewaktu babak puncaknya sebatas diisi rukiah ala kadarnya yang berlangsung tanpa ketegangan maupun kebaruan, saya pun tidak lagi terkejut.
REVIEW - SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN
Sore: Istri dari Masa Depan, yang berangkat dari serial web berjudul sama, menangani elemen perjalanan waktunya lewat pendekatan magical realism, alih-alih fiksi ilmiah yang berupaya memberi penjelasan logis. Keajaibannya, yang menelusuri gagasan bahwa cinta mampu menembus ruang dan waktu, memang bukan untuk dijabarkan, tapi dirasakan. Sungguh kisah yang indah.
Pertama kali kita menemui Jonathan (Dion Wiyoko), ia sedang mengambil foto di tengah hamparan es Finlandia. Lanskap megah dengan aurora yang terlukis cantik di langit mampu ditangkap oleh Dimas Bagus Triatma Yoga selaku sinematografer. "Gambar indah" adalah sesuatu yang bakal secara rutin penonton temui sepanjang dua jam durasi filmnya.
Sayangnya kondisi batin si protagonis tidak seindah itu. Alam Finlandia (juga nantinya Kroasia) bukan sebatas pajangan indah untuk kartu pos, tetapi tanah asing yang jadi panggung bagi perjalanan sesosok individu, yang sedang berkutat dengan kesendirian dan keterasingannya.
Naskah garapan sang sutradara, Yandy Laurens, membagi alurnya ke dalam tiga babak, yang masing-masing dipisahkan oleh tulisan sub-judul besar di layar. Di dalam teks bertuliskan "Jonathan" yang jadi tajuk babak pertamanya, kita melihat lapisan es yang pecah oleh terjangan kapal pemecah es. Begitulah Jonathan. Hatinya dingin, dan tanpa sadar tengah mengalami keretakan sedikit demi sedikit.
Jonathan tinggal seorang diri di Kroasia, berharap dapat menggelar pameran tunggal dengan bantuan Karlo (Goran Bogdan melahirkan karakter pendukung yang mencuri perhatian), agen sekaligus satu-satunya kawan dia di sana. Tapi sahabat terdekatnya adalah botol-botol alkohol serta puntung rokok menggunung yang menemaninya bekerja hingga larut malam. Jonathan menaruh kekhawatiran terhadap perubahan iklim yang menghancurkan Bumi, bahkan mengabadikannya lewat karya foto, namun membiarkan dirinya, baik secara fisik maupun psikis, pelan-pelan hancur.
Sampai suatu pagi, Jonathan terbangun dan mendapati seorang perempuan sudah duduk di sampingnya. Sore (Sheila Dara Aisha) nama si perempuan, yang sembari tersenyum simpul, memperkenalkan diri sebagai "istri Jonathan dari masa depan". Di awal kemunculan Sore, Sheila Dara membawa kesan ethereal yang misterius nan menghipnotis, sebelum nantinya, seiring kita mengenal karakternya lebih lanjut, mata sang aktris mulai mendefinisikan kekuatan cinta yang luar biasa. Sedangkan Dion Wiyoko tampil solid selaku perpanjangan hati penonton dalam menyikapi peristiwa misterius yang menimpa Jonathan.
Sore datang untuk memperbaiki hidup Jonathan, yang menurut pengakuannya, akan meninggal beberapa tahun ke depan akibat serangan jantung. Minuman keras dan rokok Jonathan dibuang, pola tidurnya diperbaiki, menu makannya dimodifikasi, sedangkan lari pagi kini jadi rutinitas tiap hari. Berlawanan dengan fenomena alam yang menandai peralihan terang menuju gelap, Sore membawa hidup Jonathan bertransisi ke arah lebih baik. Setidaknya itu yang coba ia lakukan.
Yandy tidak sedang berceramah mengenai hidup sehat. Sore: Istri dari Masa Depan bukan arahan mengenai dampak buruk nikotin atau seberapa berbahaya konsumsi alkohol secara berlebih. Di matanya, luka hati yang luput ditangani bisa jauh lebih mematikan ketimbang segala bahan kimia di atas, dan cinta merupakan obat paling mujarab, dengan pasangan yang sungguh-sungguh mengasihi sebagai dokternya.
Di atas kertas terdengar cheesy, tapi Yandy dengan sensitivitas bertutur yang senantiasa menguatkan karya-karyanya mampu menghindari kesan murahan, untuk memotret cinta layaknya fenomena agung yang melengkapi keindahan semesta. Tengok caranya menggarap konklusi (yang rasanya tepat disebut "anti-La La Land ending"), di mana Yandy memadukan pemakaian lagu tepat guna dengan penyuntingan taktis Hendra Adhi Susanto, guna memvisualkan "gelombang perasaan yang menerjang hebat." Emosinya memuncak. Kita bukan sedang melihat akhir, tapi justru awal sebuah cerita, sebagaimana sore bukan bertugas mengakhiri hari, melainkan mengawali malam panjang dengan segala romantismenya.
REVIEW - SUPERMAN
Perkenalan saya dengan komik pahlawan super Amerika terjadi lewat terbitan Misurind yang waktu itu menguasai pasar. Karena masih duduk di bangku SD, saya pun cuma asal mengambil beberapa judul tanpa memperhatikan urutan nomornya. Akibat tidak mengikuti cerita dari awal, banyak poin cerita luput saya pahami, sejumlah tokoh sampingan pun tidak saya kenali. Tapi pengalaman membaca yang dihasilkan sungguh luar biasa. Rasanya seperti bergabung di tengah jalan, dalam petualangan besar yang sudah berlangsung beberapa waktu.
Superman karya James Gunn memantik perasaan serupa. Ketika film dimulai, sudah tiga dekade berlalu sejak kedatangan Kal-El (David Corenswet) ke Bumi, di mana selama tiga tahun terakhir, sang putra terakhir Krypton memulai karirnya sebagai Superman si pahlawan umat manusia. Permusuhannya dengan Lex Luthor (Nicholas Hoult) telah memanas, romansanya dengan Lois Lane (Rachel Brosnahan) pun telah terjalin.
Perihal menumpas ancaman, Superman tidak sendiri. Anggota Justice Gang yang terdiri atas Guy Gardner/Green Lantern (Nathan Fillion), Mister Terrific (Edi Gathegi), dan Hawkgirl (Isabela Merced) turut ambil bagian. Dunianya sudah berjalan jauh sebelum penonton tiba, dan bakal terus bergulir selepas kita meninggalkan bioskop.
Perayaan terhadap komik pahlawan super. Itulah yang ingin Gunn sajikan. Dia pun enggan membatasi Superman versinya dalam satu era. Fase Silver Age yang dikenal lewat kekonyolannya tidak luput dirayakan, misal saat Lex Luthor coba merusak reputasi Superman, dengan mengutus pasukan monyetnya untuk menciptakan ujaran kebencian di internet. Gunn memang jagonya menangani keanehan khas komik. Karakter macam Mister Terrific yang di permukaan terkesan konyol pun bisa dibuatnya beraksi secara keren.
Era modern yang lebih kompleks pun direpresentasikan dengan cara memanusiakan Superman. Sebagaimana film-film superhero lain buatannya, di sini Gunn kembali menunjukkan kalau karakterisasi solid yang tak menutup mata perihal ketidaksempurnaan si protagonis, tidak bersinonim dengan kegelapan atau keseriusan berlebih (walau ada kalanya pendekatan tersebut diperlukan).
Kisahnya bermula kala Superman berada di titik paling rendah. Si metahuman terkuat untuk pertama kalinya mengalami kekalahan, hingga memerlukan pertolongan anjingnya, Krypto. Dari situlah narasi yang menjauhi pakem klise film pahlawan super digulirkan. Beberapa kali kita mendapati Superman kewalahan mengatasi ancaman Lex Luthor. Bukan berarti ia lemah. Kemenangan tak mendefinisikan kepahlawanan. Superman adalah perwujudan sisi terbaik manusia, yang senantiasa melihat sisi baik dari manusia. Sewaktu ia mengudara, kemudian lagu tema ikoniknya terdengar, harapan akan dunia yang lebih baik seketika menyeruak. Itulah kepahlawanan.
Karenanya, di hadapan kompleksitas dunia modern, pola pikir Superman nampak terlalu naif. Dia hanya ingin menyelamatkan semua makhluk, dari seekor tupai kecil, maupun manusia yang terkekang oleh represi. Di antara tetek bengek geopolitik, tendensi kolonisasi oleh negara-negara adidaya, juga prasangka-prasangka terhadap mereka yang dianggap berbeda, Superman tetap menomorsatukan cinta, bahkan tatkala cinta terkadang menyakitinya, entah dalam bentuk pertengkaran dengan Lois, maupun saat publik mencapnya "alien jahat".
David Corenswet memberi humanisme dalam diri karakternya, baik sebagai Clark Kent atau Superman. Dia masih hijau, belum stabil secara emosi, bukan pula "dewa di antara manusia" layaknya interpretasi Christopher Reeve. Corenswet melahirkan figur pahlawan yang lebih relevan untuk masa sekarang. Di kutub yang berlawanan, Hoult membuat penonton mudah mengutuk aksi Lex Luthor, yang sebagaimana banyak "penjahat" zaman modern, begitu gemar menyebarkan sudut pandang negatif.
Klimaks Superman memang cenderung mengecewakan. Puncak pertarungan sosok metahuman terkuat mestinya lebih bombastis daripada baku hantam generik sebagaimana yang Gunn sajikan di sini. Tapi bahkan di tengah penurunan kualitas tersebut, filmnya menolak kehilangan relevansi. Babak ketiganya tak melibatkan invasi alien atau monster interdimensional. Sebatas dampak dari keserakahan dan kebencian umat manusia yang tidak lagi bisa dikendalikan. Tapi setidaknya, semesta film ini mempunyai pahlawannya yang selalu bisa mendatangkan harapan.
REVIEW - JAGAD'E RAMINTEN
Jika membicarakan kapasitas bercerita, dokumenter arahan Nia Dinata ini memang belum sampai taraf luar biasa. Meski demikian, ia berfungsi sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar "sinema berkualitas". Jagad'e Raminten memberi ruang aman bagi kaum marginal untuk berkisah secara bebas, sembari membanggakan identitas mereka sebagaimana adanya.
Sesosok perempuan queer berusia paruh baya dengan dandanan khas Jawa. Mustahil melewatkan figur Raminten yang eksentrik nan ikonik kala menginjakkan kaki di Yogyakarta walau cuma sejenak. Entah sudah berapa banyak pula kenangan manusia pernah terekam di The House of Raminten, rumah makan 24 jam yang mengabadikan namanya. Melalui film ini, giliran kita yang mendengarkan kenangan tentangnya.
Raminten sejatinya adalah nama karakter dari siaran ketoprak Pengkolan yang diperankan Hamzah Sulaeman, atau yang juga dikenal dengan nama Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamijinindyo, selepas gelar tersebut dianugerahkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X. Seorang seniman, pengusaha, hingga abdi dalem keraton. Apa lagi yang belum kita tahu mengenai individu hebat yang baru saja meninggal dunia pada 23 April lalu tersebut?
Sebagaimana judul filmnya, Nia Dinata mengajak penonton bertualang mengarungi semesta ciptaan Hamzah/Raminten. Sebuah semesta inklusif yang memanusiakan manusia, pula memanusiakan seniman. Salah satu narasumbernya adalah Ratri, anak angkat Hamzah yang paling muda. Tanpa ada keraguan ia sampaikan penerimaan sang ayah (dipanggil "Kanjeng" olehnya dan orang-orang terdekat lain) mengenai orientasi seksualnya sebagai lesbian.
Inklusivitas itu paling diwakili oleh Raminten Cabaret Show yang diadakan di lantai atas Hamzah Batik, Malioboro. Pertunjukan tersebut banyak melibatkan individu LGBTQ, yang setiap hari Jumat dan Sabtu diberi kesempatan menjadi bintang di atas panggung, biarpun dalam rutinitas sehari-hari, stigma negatif masyarakat terhadap mereka belum juga lenyap.
Nia Dinata menyusun narasi Jagad'e Raminten melalui wawancara dengan seluruh anggota kabaret. Semua diberi peluang bertutur. Di satu sisi, itu merupakan upaya bersikap adil yang patut dipuji, namun di sisi lain, prinsip "kuantitas di atas kualitas" membuat kisah para narasumber luput digali secara mendalam. Perkenalan kita dengan karakternya pun tak lebih dari sebatas nama (nama panggung mereka ditulis dengan teks besar sebagai penanda pergantian segmen) serta kulit luar, padahal masing-masing membawa cerita yang cukup kaya untuk dijadikan film tersendiri.
Pergerakan narasinya acap kali begitu kasar, terutama karena tiap segmen bergulir teramat singkat. Akibat keterbatasan waktu pula, jawaban dari pertanyaan "Bagaimana sosok Hamzah di mata kalian?" yang diajukan ke narasumbernya gagal berkembang lebih luas dari sebatas rangkaian puja-puji mengenai kedermawanan yang kerap mendiang lakukan.
Tapi cerita mengenai kemanusiaan seorang Hamzah Sulaeman beserta semangat inklusivitas miliknya memang tak pernah gagal memancarkan pelukan kehangatan. Terpenting, sebagaimana sosok legendaris yang ia angkat kehidupannya, Jagad'e Raminten, di luar kelemahannya bernarasi, mampu menjalankan peran selaku penyedia ruang aman bagi kaum marginal.
Lesbian, gay, transpuan, cross-dresser hetero beristri, perempuan berjilbab, para laki-laki cis, semua dibiarkan berkisah tanpa larangan. Karena begitulah semesta yang dicita-citakan Hamzah Sulaeman. Sebuah semesta tanpa stigma, tanpa prasangka, pula dipenuhi cinta antar sesama manusia yang diperlakukan sebagaimana mestinya manusia.
(Artjog 2025)
REVIEW - SISTER MIDNIGHT
Belakangan semakin banyak sinema India yang membicarakan isu pemberdayaan perempuan. Melalui karya terbarunya, bukan kebaruan seputar topik tersebut yang Karan Kandhari coba sentuh, melainkan soal bentuk pendekatan. Sister Midnight tampil seperti kehidupan itu sendiri. Kadang ia tidak beranjak ke mana-mana, tapi sejurus kemudian melaju begitu liar hingga mustahil untuk diperkirakan destinasinya.
Perjodohan telah mengguncang hidup Uma (Radhika Apte). Bukan cuma karena ia mesti menikahi Gopal (Ashok Pathak), yang hanya ia kenal lewat pertemuan singkat kala keduanya masih berumur 8 tahun, juga seputar realita sebagai istri di lingkungan konservatif India. Baik dalam hal domestik maupun seksual, perempuan acap kali diperlakukan bak manusia kelas dua.
Pada malam pertama pernikahan, Gopal bahkan terlalu canggung untuk berganti baju di hadapan istrinya. Uma pun terusir, lalu hanya bisa duduk di teras rumah, merokok, sembari memamerkan ekspresi terkejut yang akan berulang kali ia pasang di sepanjang film. Jangankan membagi isi hati, bibir keduanya bahkan tertutup rapat untuk sekadar saling bertukar kata-kata sederhana.
Setiap kecanggungan terjadi, Gopal akan segera mengenakan seragam kerja lalu buru-buru berangkat ke kantornya. Tapi naskah buatan Karan Kandhari enggan mengambil jalur mudah dengan sebatas menumpahkan kesalahan pada Gopal. Dia pun korban dari adat kolot yang memaksanya menjalani hidup baru tanpa kesiapan memadai. Gopal bukan suami pendosa layaknya iblis dari neraka, namun ia bersalah akibat tidak berusaha mengusahakan surga bagi sang istri.
Awalnya Sister Midnight terkesan stagnan, bahkan seperti tanpa plot, kala mengetengahkan rutinitas Uma di rumah. Apabila si tetangga, Sheetal (Chhaya Kadam), sedang tidak tersedia untuk diajak berkeluh kesah, Uma bisa menghabiskan seharian penuh duduk di depan rumah. Di sinilah pendekatan unik Karan Kandhari mengambil peran.
Ditolaknya gaya bertutur konvensional, seolah memberi pernyataan bahwa ketajaman bercerita tidak bersinonim dengan keseriusan. Kita diajak menertawakan kondisi Uma, bukan karena penderitaannya lucu, tapi di realita pun, terkadang nasib tragis terus datang silih berganti, dengan cara luar biasa absurd pula, sehingga yang bisa kita lakukan hanya tertawa.
Didukung tata kamera arahan Sverre Sørdal yang kerap memotret penderitaan Uma dalam simetri cantik sehingga memunculkan ironi, juga setumpuk situasi canggung arahan Karan Kandhari yang ada kalanya makin diperkuat oleh cara Napoleon Stratogiannakis menyunting narasinya, Sister Midnight pun tampil bagaikan karya-karya Wes Anderson, minus kemeriahan warna yang digantikan oleh ruang-ruang gelap di sekitar protagonisnya.
Di antara kegelapan tersebut, Radhika Apte memancarkan sinarnya, menunjukkan bagaimana seni berlakon yang memanfaatkan seluruh aset dalam diri seorang aktor. Wajah penuh kekagetan dan kebingungannya, olah tubuh kikuknya, semua memudahkan penonton bersimpati sekaligus tertawa menyaksikan keabsurdan jalur hidup yang takdir pilihkan baginya.
Kelak sebuah peristiwa misterius menimpa Uma, mengubah dirinya menjadi sesuatu yang identik dengan malam kelam, pula membawa film ini bertransformasi menjadi wujud yang mengingatkan ke A Girl Walks Home Alone at Night (2014) karya Ana Lily Amirpour. Kisahnya bergerak liar menjamah ragam area yang tak terbayangkan, sementara lagu-lagu rock dari The Stooges, T. Rex, hingga Motorhead, yang sekilas terdengar tidak pada tempatnya, berfungsi menginjeksi kesan sureal, sekaligus menegaskan posisi Uma yang juga "tidak pada tempatnya", sebagai perempuan yang berani menggugat di tengah lingkungan konservatif yang mengelilinginya.
Sayang, seiring waktu Sister Midnight mulai dirugikan oleh keanehannya sendiri. Ketajaman pesannya tenggelam di balik surealisme, yang makin lama terkesan datang bukan untuk menguatkan penuturan, tapi sebagai penambah daya kejut semata. Keunikannya mulai menampakkan sisi pretensius, ketimbang teriakan kritis terhadap ketidakadilan yang disuarakan secara ambisius.
Tapi Sister Midnight tetap salah satu judul terbaik yang saya tonton tahun ini. Serupa Taxi Driver (1976) buatan Martin Scorsese yang ia beri penghormatan melalui desain posternya, film ini mengingatkan akan kegelapan sebuah kota, yang apabila dipertemukan dengan rasa sepi yang sedikit demi sedikit menelan habis jati diri seseorang, bakal pelan-pelan menyabotase kewarasan si manusia.
(Klik Film)

%20(1).png)



%20(1).png)



%20(1).png)

.png)



%20(1).png)

%20(1).png)



.png)





.png)

%20(1).png)

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar