REVIEW - ZOOTOPIA 2
Serupa film pertama, Zootopia 2 punya bangunan dunia kokoh, di mana seluruh elemennya terasa hidup dan berjalan dengan aturan-aturan jelas. Keserakahan antagonisnya bukan sebatas kejahatan tanpa arti, tapi sebagai hewan teritorial, ia memang punya tendensi memperluas wilayah kekuasaan. Kulit luar filmnya memang dibuat over-the-top atas nama hiburan semua umur, namun jiwanya bergerak sebagaimana realita.
Jeda antar kedua film hampir satu dekade (sebuah anomali mengingat Zootopia mengeruk untung besar), tapi alur sekuelnya hanya berjarak seminggu dari konklusi pendahulunya. Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dan Nick Wilde (Jason Bateman) yang dielu-elukan bak pahlawan kini secara resmi berpartner di ZPD (Zootopia Police Department). Seekor kelinci dan rubah merah pun bersatu.
Nyatanya bukan perkara mudah menjalin relasi lintas spesies. Judy yang terlalu positif dan Nick yang cenderung negatif terus mengalami gesekan, berujung setumpuk kekacauan yang membuat posisi keduanya di kepolisian terancam. Ketimbang menyiasati konflik lewat obrolan hati ke hati, dua jagoan kita memilih menampik adanya masalah, memupuk disfungsi yang patut jadi bahan observasi setiap pasangan.
Naskah buatan Jared Bush (turut menyutradarai bersama Byron Howard) menjaga hubungan dua protagonisnya tetap di ranah platonik. Penonton anak bakal memandangnya sebagai persahabatan biasa, tapi di mata penonton dewasa lah keintiman yang urung berkembang ke arah percintaan ini akan terlihat unik. Isian suara Ginnifer Goodwin dan Jason Bateman yang sarat chemistry makin menguatkan pesona dua karakter utama. Mereka adalah individu yang benar-benar hidup, di tengah dunia yang tak kalah hidup.
Di balik peliknya friksi interpersonal tersebut, Judy dan Nick mesti mengusut kemunculan ular viper bernama Gary (Ke Huy Quan) yang ditengarai mengancam stabilitas kota. Sudah bertahun-tahun sejak ular (atau reptil secara general) yang ditakuti dan dipandang selaku ancaman, menginjak tanah Zootopia, yang seiring waktu akan kita telusuri sejarah kelamnya.
Komponen misteri berlandaskan subgenre komedi buddy cop yang cukup efektif menggamit atensi pun digelar, digerakkan oleh duo sutradaranya dengan tempo tinggi yang terbukti menjaga sisi hiburan filmnya. Humor yang enggan asal konyol, tapi secara cerdik terus merujuk pada mekanisme ekosistem yang telah dibangun pun tampil segar, sementara para pecinta sinema bakal kembali dipuaskan oleh sederet referensi, termasuk penghormatan terhadap salah satu karya Stanley Kubrick di babak ketiganya.
Progresi ceritanya tak pernah keluar dari pakem familiar khas animasi semua umur dalam lingkup arus utama Hollywood, pula tanpa dampak emosi yang manjur mengobrak-abrik perasaan penonton, namun Zootopia 2 adalah spektakel dengan daya pikat yang sukar ditolak. Shakira kembali memerankan Gazelle si diva, lalu membawakan lagu berjudul Zoo yang mudah menempel di kepala sekaligus memancing hentakan kaki. Keseluruhan film ini pun kurang lebih berlangsung demikian.
Sebuah twist telah menanti jelang babak akhir, yang bukan cuma mengejutkan, juga mendukung subteks kisahnya. Zootopia 2 memberi ruang bagi mereka yang merasa tidak pernah diterima, serta dikucilkan baik karena perbedaan fisik maupun perangai. Relevan, biarpun tidak seberapa menyentuh perasaan.
REVIEW - AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!
Di tengah industri yang kerap memperlakukan genrenya bagai entitas kelas dua, Agak Laen: Menyala Pantiku! memberi definisi sejati terhadap istilah "blockbuster comedy". Bukan asal mencanangkan ambisi sampai membuatnya kehilangan identitas, tapi penegas bahwa komedi, di luar tugasnya sebagai spektakel pengocok perut, juga patut digarap secara sungguh-sungguh di segala lini, dari penceritaan hingga artistik.
Tahun lalu film pertamanya mengumpulkan lebih dari 9 juta penonton, dan sejak adegan pembuka berbentuk aksi bombastis, Muhadkly Acho selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memastikan profit menggunung itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perhatikan berbagai pilihan shot di sepanjang durasinya yang mencuatkan kesan "lebih mahal".
Sebagaimana semesta sinema Warkop DKI dahulu bekerja, Menyala Pantiku! tak punya kaitan dengan pendahulunya. Oki Rengga, Boris Bokir, Bene Dion Rajagukguk, dan Indra Jegel masih memerankan versi fiktif diri mereka, namun bukan sebagai pemilik rumah hantu, melainkan detektif kepolisian. Bukan pula detektif kepolisian biasa. Mereka berempat di ambang pemecatan akibat berkali-kali salah menangkap buronan.
Walau berbeda, pondasinya masih serupa film pertama. Kuartet jagoan kita tetap bergelut dengan masalah finansial keluarga, di mana kali ini Boris yang tengah menjalani proses perceraian, menerima tongkat estafet dari Oki untuk dijadikan figur sentral. Komparasi lain dapat ditemukan, yang bisa menciptakan identitas menarik bagi waralaba layar lebar ini, selama tak terjatuh menjadi repetisi di kemudian hari.
Setup-nya memerlukan waktu, tapi daya bunuh komedinya mulai menyala begitu para tokoh utama ditugaskan dalam misi penyamaran ke sebuah panti jompo, yang ditengarai jadi lokasi persembunyian seorang pelaku pembunuhan. Para lansia penghuni hingga jajaran karyawan, tidak ada yang lolos dari kecurigaan.
Ceritanya tidak mendobrak pakem police procedural, namun dipaparkan begitu rapi, menolak terlampau bersikap semau sendiri atas nama komedi, sembari disisipi misteri ringan berbasis aksi tebak-tebakan tentang identitas si pelaku pembunuhan, yang cukup untuk membawa alurnya terus menarik perhatian. Acho terlebih dahulu memastikan hal-hal filmis mendasarnya sudah terpenuhi, barulah kemudian melempar banyolan.
"Ketidakterdugaan" dijadikan prinsip. Apa pun bentuk komedinya, entah permainan kata melalui celotehan jenaka karakternya, maupun humor fisik termasuk sebuah perkelahian gila yang membuat panti milik Linda Rajagukguk (Ghita Bhebhita) semakin "menyala". Agak Laen: Menyala Pantiku! begitu jago mengecoh ekspektasi.
Hebatnya, biarpun film pertamanya sempat mengundang beberapa kontroversi di media sosial (sebuah kepastian tak tertulis yang menandakan suatu film Indonesia telah mengumpulkan banyak penonton), Menyala Pantiku! tetap tidak takut berjalan di "pinggir jurang" kala melontarkan leluconnya. Sebutlah saat lagu balada Terlalu Cinta kepunyaan Lyodra "dirusak" kesenduannya.
Tapi filmnya bukan semata ingin tampil sok liar. Beberapa keberaniannya turut didasari keprihatinan atas berbagai fenomena sosial negeri ini. Ide sinting berlatar musala yang mengkritisi sebegitu mudahnya seseorang mendapat status "ulama besar" hanya karena gaya berpakaian, atau pesan tajam mengenai "ada banyak cara untuk mengabdi" yang dipakai selaku konklusi, menandakan bahwa geng Agak Laen lebih dari sekumpulan orang konyol yang doyan berperilaku tolol.
Klimaks yang nyaris tidak eksis dan membuat saya terkejut filmnya tiba-tiba sudah sampai garis akhir memang mendatangkan sedikit ganjalan, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang bakal diambil pusing oleh penonton. Tawa mereka berkali-kali meledak hebat, tepuk tangan pun terdengar bergemuruh mengiri kredit penutup. Agak Laen: Menyala Pantiku! mengingatkan betapa penting peranan film komedi lewat kemampuannya mendatangkan kebahagiaan bagi manusia.
REVIEW - LEGENDA KELAM MALIN KUNDANG
Terkadang dalam misteri, enigma dan ketidaktahuan justru lebih mengikat ketimbang saat kebenaran telah nampak benderang. Itulah mengapa paruh pertama Legenda Kelam Malin Kundang bergulir begitu adiktif, sedangkan paruh keduanya bak sebatas obligasi yang mesti penonton ikuti. Mungkin serupa dengan perasaan waktu kita tetap bertahan di atas kereta hanya karena belum tiba di tujuan, alih-alih sungguhan menikmati perjalanannya.
Kisahnya efektif mengundang keingintahuan, ketika sebagaimana Alif (Rio Dewanto), si pelukis mikro yang menderita amnesia pasca kecelakaan mobil, penonton dibiarkan berkutat dalam ketidakpastian. Alif melupakan banyak hal, dari alasan sang istri, Nadine (Faradina Mufti), terasa menjaga jarak, hingga fakta lebih mendasar seperti wajah sang ibu di kampung.
Komposisi musik gubahan Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli dibiarkan terus menggumamkan bunyi-bunyian eksentrik, menciptakan rasa atmosferik ala mimpi buruk, yang sedikit mengingatkan pada bagaimana David Lynch menyusun nuansa karyanya. Adegan pembuka dan beberapa arah pengembangan kisahnya pun menciptakan komparasi dengan Lost Highway, salah satu judul favorit Joko Anwar selaku penulis naskah (bersama Aline Djayasukmana dan Rafki Hidayat), editor, sekaligus produser film ini.
Anomali membesar sejak kedatangan perempuan (Vonny Anggraini lewat salah satu pameran versatilitas terbaik sepanjang karirnya) yang mengaku sebagai Amak dari Alif. Identitasnya tak mampu dikonfirmasi, namun si perempuan tahu segala detail masa lalu Alif, termasuk asal dari luka di dahinya. Naskahnya membentangkan proses penyelidikan yang manjur menjerat atensi, berkat ketepatan mengatur timing antara melempar tanda tanya dan menebar remah-remah petunjuk secara bertahap.
Pengarahan Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo dalam debut mereka pun cukup rapi menangani jalinan misteri yang digulirkan dengan sabar, meski metode keduanya dalam mengeksekusi jumpscare (yang jadi taktik generik naskahnya untuk berkompromi dengan penonton kasual) belum seberapa efektif menggenjot intensitas.
Selain problematika maternal, gesekan rumah tangga Alif dan Nadine turut jadi sorotan. Di sinilah Legenda Malin Kundang mengambil jalan yang enggan ditempuh film Indonesia lain, yakni memposisikan seks sebagai media bagi pasangan meruntuhkan pertengkaran mereka. Seksualitas yang cenderung ditabukan oleh karya lokal arus utama, bukan semata dipandang selaku luapan nafsu, melainkan alat komunikasi cinta.
Di bilik kamar mandi, Alif dan Nadine menelanjangi tubuh serta perasaan masing-masing, sebelum dipungkasi oleh elemen favorit saya dalam tiap naskah buatan Joko: Obrolan. Joko selalu bisa memberi sentuhan menggelitik pada aktivitas karakternya bertukar kata, membuatnya hidup sebagai salah satu menu lezat, daripada sebatas pengisi durasi yang hambar.
Sayang, begitu memasuki fase "menjawab misteri", filmnya beralih bentuk menjadi kompilasi eksposisi. Penonton hanya dibiarkan duduk menanti, sementara pembuat filmnya sibuk sendiri mengungkap satu per satu fakta menggunakan strategi monoton berupa penglihatan yang silih berganti protagonisnya alami.
Faktor kejut (yang rasanya sudah semua penonton nantikan hingga eksistensi twist itu sendiri kehilangan daya kecohnya) di paruh akhir pun tak mendatangkan dampak maksimal, sebab Joko seolah cuma berfokus pada ambisinya menggiring legenda Malin Kundang ke arah sekelam mungkin.
Tapi jika ditilik lebih lanjut, Legenda Malin Kundang tetaplah upaya kreatif mendekonstruksi cerita rakyat menuju bentuk yang lebih relevan. Dia bukan lagi hikayat sarat pesan moral konservatif tentang anak durhaka, tapi pergumulan batin individu yang kesulitan beranjak dari luka lama.
Merantau bukan lagi sekadar perjalanan meninggalkan kampung halaman, juga masa lalu yang terkadang ingin kita habisi akibat rasa sakit dan malu, namun ada kalanya memunculkan rindu sehingga menyulut dilema penuh pilu. Bukan tubuh dari si Malin Kundang modern ini yang membatu, melainkan hatinya yang dipadati rahasia. Mungkin bagi orang-orang seperti Alif, hal tersulit bukanlah menghadapi masa kini, tapi gema yang diperdengarkan masa lalu.
REVIEW - THE VOICE OF HIND RAJAB
Apa yang memisahkan The Voice of Hind Rajab dari aji mumpung beraroma eksploitasi tragedi adalah perihal urgensi. Ketika genosida acap kali disangkal, tepukan di pundak selaku pengingat tidak lagi cukup, sehingga diperlukan tamparan bahkan pukulan keras. Di sinilah sinema berbasis kisah nyata menampakkan fungsi esensialnya.
Pada 29 Januari 2024, kantor sukarelawan Bulan Sabit Merah menerima panggilan darurat dari Gaza. Sebuah rutinitas bagi mereka. Omar A. Alqam (Motaz Malhees) yang menerima panggilan itu pun meresponnya sesuai prosedur, lalu mendengar ratapan gadis cilik yang meminta tolong. Namanya Hind Rami Iyad Rajab. Usianya belum genap enam tahun, dan ia terjebak dalam mobil yang diberondong peluru pasukan Israel.
Rana Hassan Faqih (Saja Kilani), atasan Omar, turut terlibat dalam upaya menenangkan si bocah, sementara Mahdi M. Aljamal (Amer Hlehel) mengoordinasi pengiriman ambulans yang mengharuskannya melewati rangkaian prosedur ruwet nan panjang. Kamera menyorot para pelakon secara close-up untuk menangkap ekspresi mikro mereka, kemudian beralih ke shot yang lebih luas saat tiba waktunya membesarkan ledakan emosi.
Di dalam mobil, Hind dikelilingi enam jenazah keluarganya yang tewas tertembak. "Mereka hanya butuh tidur", ucap Rana, yang di luar dugaan langsung disangkal oleh Hind. "Mereka sudah meninggal!", balasnya sembari menangis. Anak kecil ini mengerti konsep kematian. Bayangkan betapa ketakutan dia.
Sebagaimana ia lakukan di Four Daughters (2023), Kaouther Ben Hania selaku sutradara sekaligus penulis naskah mengaburkan batasan antara realita dan dramatisasi sinema. Rekaman suara asli Hind diperdengarkan alih-alih memakai pengisi suara guna. Setiap rekaman diputar, judul fail berformat WAV muncul di layar. Tidak sedetik pun penonton dibiarkan terbuai dalam ruang aman yang memungkinkan kita berpikir, "Semua ini hanya film."
Satu pilihan estetika unik sempat Ben Hania terapkan, kala menyatukan reka ulang peristiwa yang diperankan para aktor, dan rekaman video asli yang diputar di layar ponsel. Sang sineas membawa peleburan format drama konvensional dan dokumenter menuju tingkat lanjut.
Pendekatan tersebut menambah efektivitas The Voice of Hind Rajab sebagai pemantik amarah terhadap realita bernama "kebiadaban Israel". Bahwa ada mobil berisi bocah lima tahun diberondong 335 peluru adalah murni kekejaman. Bukan lagi gesekan ideologi maupun kepercayaan.
Satu yang patut diingat, Hind Rajab bisa selamat andai prosedur pengiriman ambulans tidak dibuat sedemikian rumit. Menjadi rumit karena jika tim penyelamat asal dikirim tanpa memperhatikan keamanan jalur, mereka berisiko jadi korban pembantaian tentara Israel (yang akhirnya tetap terjadi biarpun prosedur telah dijalankan). Iblis mana yang menembaki ambulans?!
Penceritaan The Voice of Hind Rajab bukannya nihil cela. Rekaman panggilan sepanjang 70 menit memang kurang memadai sebagai materi film panjang (itulah kenapa Close Your Eyes Hind dan Hind Under Siege yang juga mengangkat tragedi ini memakai format film pendek), hingga beberapa titiknya terasa draggy. Dramatisasi soal keputusasaan penyulut konflik internal antar sukarelawan yang naskahnya tambahkan guna menebalkan alur pun terkadang tampil artifisial, yang berkontradiksi dengan gaya narasi filmnya.
Bila memandangnya sebagai karya semata, The Voice of Hind Rajab memang bukan pendobrak pakem yang luar biasa. Tapi ia adalah contoh di mana sinema melampaui bentuknya sebagai "hanya tontonan". Bukan sebuah medium eskapisme, melainkan wajah realisme.
REVIEW - KOESROYO: THE LAST MAN STANDING
Ketika The Beatles di masa jaya mereka dirayakan di seluruh dunia, Koes Plus justru dicela oleh Presiden Soekarno dengan sebutan "musik-musikan ngak-ngik-ngok" hingga sempat dipenjara. Ketika puluhan album The Beatles cukup untuk membuat para personelnya hidup mewah hingga akhir hayat dan dianugerahi gelar kebangsawanan, Yok Koeswoyo selaku satu-satunya anggota yang tersisa, hidup sederhana biarpun pernah menelurkan ratusan album (termasuk 23 buah di tahun 1974), pun cuma piagam ala kadarnya yang pernah pemerintah hadiahkan.
Koesroyo: The Last Man Standing karya Linda Ochy mengajak penonton mengunjungi ruang personal Koesroyo alias Yok Koeswoyo, selaku satu-satunya personel Koes Bersaudara yang masih hidup. Tahun ini usianya menginjak 82 tahun. Sekilas tak nampak jejak-jejak bintang populer dari parasnya. Hanya laki-laki lanjut usia berpeci biasa, yang bersama tiap isapan rokoknya bercerita tentang era yang telah lalu.
Filmnya mengumpulkan beberapa narasumber untuk ikut bertutur. Sari, putri sulungnya, kerap menemani "Yok Koeswoyo sang manusia" merekonstruksi memori di balik setumpuk mahakarya buatannya. Sementara David Tarigan dengan kemampuan berkisah di atas rata-rata yang asyik untuk disimak, membagikan sudut pandang eksternal selaku pengamat musik sekaligus penggemar, mengenai perjalanan karir "Yok Koeswoyo sang megabintang".
Linda Ochy mengisi filmnya dengan narasumber yang bukan hanya kaya akan informasi, pula piawai bernarasi, sehingga membantu penonton yang berasal dari generasi baru memahami kebesaran subjeknya. Mengutip ucapan H.B. Jassin, sejarawan Hilmar Farid menyamakan dampak Koes Plus dengan Chairil Anwar, yang mampu "bersuara" hanya lewat dua kalimat tatkala pujangga baru memerlukan 200 halaman.
Kelengkapan arsip, dari koleksi foto, kliping koran, rekaman suara konser, hingga koleksi video lawas makin menguatkan pondasi cerita. Koesroyo: The Last Man Standing memang dokumenter konvensional yang tak melangsungkan eksperimen dalam caranya bernarasi, tapi ia berhasil mengeksekusi hal-hal pokok dengan baik.
Sayang, ada kalanya alur Koesroyo: The Last Man Standing terasa membingungkan, terutama bagi penonton awam yang belum seberapa mengerti tentang perjalanan karir Koes Bersaudara/Koes Plus, akibat ketiadaan jembatan antar linimasa di beberapa titik. Demikian pula subplot berdaya tarik tinggi (misal perihal Koes Plus yang dijadikan mata-mata pemerintah) yang hanya disinggung secara "malu-malu" sehingga memunculkan rasa penasaran tak terjawab, di saat dokumenter ini mestinya memuaskan dahaga atas tanda tanya semacam itu.
Kekurangan di atas untungnya berhasil ditambal oleh beberapa situasi menyentuh yang filmnya tangkap. Di awal, Yok Koeswoyo berkata bahwa ia tidak ambil pusing pada status "the last man standing". Baginya, kesendirian ini hanyalah bentuk biasa dari mortalitas manusia yang tak perlu diratapi. Tapi begitu lagu Why Do You Love Me diputar, yang mengembalikan ingatan akan kematian istri pertamanya, Maria Sonya Tulaar, tangis Yok Koeswoyo seketika pecah.
Koesroyo: The Last Man Standing bukan hanya seputar Yok Koeswoyo sebagai pesohor dunia musik tanah air. Tapi Yok Koeswoyo sebagai manusia biasa, sebagai laki-laki yang kehilangan cinta sejatinya, sebagai ayah yang mensyukuri pendampingan dari putrinya, sebagai rakyat Indonesia, yang biarpun begitu menyerapi serta vokal menyuarakan nasionalisme, justru dibiarkan menua begitu saja oleh negara.
(FFD 2025)
REVIEW - KEEPER
Keeper ibarat adonan berisi ragam bahan baku berupa deretan subgenre horor: kabin di tengah hutan, folk, pembunuh berantai, psikedelik, supernatural, hingga elevated. Memang resep macam itulah yang mengangkat nama Osgood Perkins di skena horor modern. Tapi kali ini olahan sang sineas terasa bak kue cokelat setengah matang. Ada bagian lezat, ada yang hambar bahkan busuk, tapi pastinya, ia punya wujud yang berantakan.
Kue cokelat memegang peranan penting dalam naskah buatan Nick Lepard, yang menyoroti liburan sepasang kekasih, Liz (Tatiana Maslany) dan Malcolm (Rossif Sutherland), dalam rangka perayaan setahun hubungan mereka. Destinasinya adalah kabin tengah hutan milik keluarga Malcolm. Ketidakberesan mulai tercium kala Liz menemukan kue cokelat, yang menurut Malcolm merupakan hadiah dari si penjaga kabin.
Bibit ketidaknyamanan terkait hubungannya (Malcolm membeli lukisan karya Liz tanpa persetujuannya), hutan bernuansa mencekam, sampai kehadiran sepupu menyebalkan (Birkett Turton), jadi berbagai alasan mengapa Liz kurang menikmati liburan kali ini. Apalagi ketika hendak bercinta, Malcolm malah memaksa Liz memakan kue cokelat yang tidak ia sukai. "It tastes like shit", ungkap Liz sambil terus menjejalkan sendok ke mulutnya di hadapan Malcolm yang berdiri bak mengawasi.
Bagaimana Liz tetap menyantap kue yang baginya tidak lezat, mewakili romansanya dengan Malcolm. Liz sadar ada ketidakcocokan rasa yang membuat kenikmatannya berkurang, bahkan mendatangkan mual, namun tetap ia teruskan akibat manipulasi terselubung si pasangan. Lambat laun, Liz (dan banyak perempuan di luar sana) dibuat meyakini ia benar-benar menyukai hubungan mereka, seperti saat ia terbangun di tengah malam untuk melahap sisa kue cokelat tadi.
Sejak itulah Liz mulai sering melihat makhluk-makhluk berbentuk monster perempuan aneh dengan berbagai desain unik nan kreatif di sekelilingnya. Kemunculan mereka cukup mencekam. Seperti biasa, Osgood Perkins punya talenta untuk menyusun atmosfer mencekik berbasis gambar-gambar mengerikan, tanpa perlu bergantung pada bunyi-bunyian mengejutkan.
Gaya bercerita "dreamy" jadi bentuk yang Perkins dan Lepard terapkan. Liz memimpikan pemandangan aneh yang entah sepenuhnya bunga tidur atau sebuah penglihatan akan peristiwa nyata, sesekali menyaksikan figur misterius menginvasi ruang personalnya, kemudian terbangun seolah tak terjadi apa-apa. Ada kalanya teknik superimpose dipakai guna meleburkan sosok Liz dan lanskap aliran sungai secara aneh, seolah memposisikan si protagonis sebagai perlambang ibu pertiwi sang personifikasi alam.
Tatiana Maslany hadir bak dinamo penggerak di tengah guliran lambat filmnya. Serupa Perkins yang mencampurkan banyak cabang horor, akting Maslany pun tidak kalah kaya, menyatukan gaya drama psikologis, horor, bahkan semburat komedi romantis.
Bukan tempo pelan yang jadi sumber persoalan, melainkan susunan narasi yang lebih terkesan bak kompilasi segmen ketimbang cerita utuh, yang bahkan tidak saling merekat secara kuat untuk bisa menjaga atensi penonton. Melelahkan. Saya pun berandai-andai, apakah strukturnya bakal lebih solid bila sepenuhnya menggamit surealisme, ketimbang menerapkannya dengan malu-malu atas nama "nuansa dreamy".
Dibicarakannya perihal hubungan toxic, di mana para laki-laki gemar memanipulasi perempuan, mengurung mereka dalam sangkar madu setelah melempar janji palsu mengenai kesediaan mensejahterakan biarpun realitanya berkebalikan (baca: laki-laki jadi parasit bagi perempuan), yang oleh para pembuat filmnya pun disamakan sebagai tindakan merusak mother nature. Memang bukan subteks dan bahan baku yang kurang dimiliki Keeper, melainkan teknik memasak yang digunakan.
REVIEW - DREAMS (SEX LOVE)
Dreams (Sex Love) yang melengkapi trilogi Sex, Dreams, Love karya Dag Johan Haugerud adalah satu dari sedikit film yang dengan sempurna merangkum rasanya jatuh cinta. Dipaparkannya bagaimana otak mempermainkan emosi kita, untuk menstimulasi fantasi bahagia sekaligus kecemasan berbasis asumsi liar. Lebih dari sekadar romansa, ia membicarakan koneksi antara pikiran dan jiwa.
Johanne (Ella Øverbye), remaja 17 tahun, diam-diam memendam rasa terhadap Johanna (Selome Emnetu) si guru Bahasa Prancis. Haugerud mengajak kita mengobservasi gerak-gerik serta dinamika pikir Johanne yang tengah dimabuk cinta, dengan sesekali membawa alurnya melompat-lompat, menampilkan kilas balik atau visualisasi dari kegundahan batin si remaja.
Seperti judulnya, film ini terkadang bergerak bak mimpi, atau potongan-potongan memori yang kabur. Kegalauan hati Johanne direpresentasikan. Dia berimajinasi, pula ada kalanya diperdaya ilusi kala memersepsikan keindahan sebagai kepahitan, atau sebaliknya. Senyum malu-malu menampakkan diri kala dibayangkannya kulit halus sang guru, sedangkan, tetesan air mata hadir saat menerjemahkan pemandangan sepele sebagai wujud cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Begitulah jatuh cinta. Kemayaan acap kali mengangkangi kenyataan akibat carut-marut rasa yang terpendam. Masalahnya, mencintai guru sendiri bukan perihal yang mudah disebarluaskan. Ketika tak satu pun orang dapat diajak bicara, siapakah yang mampu membebaskan Johanne dari beban perasaan? Di situlah dunia fantasi mengambil peran. Johanne mulai menuangkan kegulanaan lewat tulisan.
Segala hal ia ceritakan, dari imajinasi yang terkesan cabul, ketakutan-ketakutan, hingga romantisasi atas perjalanan menuju kediaman sang tercinta, di mana blok-blok apartemen dan taman sederhana berubah jadi wadah bagi kenangan. Ya, Johanne akhirnya berhasil memasuki ruang personal Johanna dengan modus belajar merajut.
Dibantu sinematografi arahan Cecilie Semec, Haugerud memotret dinginnya Oslo, yang tidak jarang nampak bak dunia mimpi: Daun-daun di pepohonan yang terlihat dari balik jendela sewaktu dibuat bergoyang oleh sapuan angin, hingga jalanan pegunungan yang diselimuti kabut. Tapi pemandangan berbeda terpampang saat kita memasuki apartemen Johanna. Lampu kuning temaram, juga setumpuk rajutan miliknya, terasa menghangatkan. Benarkah demikian, atau kita tengah menyaksikan persepsi bias dari kebahagiaan Johanne?
Di satu titik, Johanne mengambil keputusan berat untuk memperlihatkan tulisannya ke Karin (Anne Marit Jacobsen), neneknya yang seorang penulis, dan sang ibu, Kristin (Ane Dahl Torp). Karin mengapresiasi tulisan cucunya sebagai karya sastra berkualitas, sedangkan Kristin awalnya ragu, apakah putrinya menuliskan realita sebagaimana adanya, atau tersimpan penafsiran berbeda terkait relasi Johanne dan Johanna.
Perempuan tiga generasi yang sama-sama mengakrabkan diri dengan kesendirian itu pun mulai kerap terlibat obrolan. Dreams (Sex Love) menggambarkan pergeseran bentuk sebuah karya selepas menjadi konsumsi publik. Karya tersebut berevolusi. Bukan lagi sebatas catatan personal, melainkan materi diskursus yang dapat mencuatkan segudang interpretasi.
Seluruh pelakonnya bersinar dalam proses saling memahami tersebut. Ella Øverbye memperlihatkan manis dan pahitnya cinta masa muda yang polos namun serius sehingga tak membuat penonton merendahkannya sembari berujar "Anak kecil tahu apa?", Anne Marit Jacobsen memamerkan ketenangan sambil menyertakan ambiguitas, sementara Ane Dahl Torp membuat saya tersentuh lewat mata berbinarnya ketika mendengar keluh kesah si buah hati tanpa tendensi menghakimi.
Dreams (Sex Love) menunjukkan bahwa realita terkait cinta, maupun hubungan interpersonal apa saja, mungkin tidak seindah yang dibayangkan secara maya, namun kita sebagai manusia tetap akan mendambakannya. Mungkin karena sepahit apa pun kepahitan dari ekspektasi romantika yang terkhianati, tetap lebih membahagiakan ketimbang dihantui rasa sepi.
REVIEW - KEADILAN
Menyaksikan Keadilan membuat darah saya mendidih. Bukan semata karena presentasinya, tapi ingatan yang timbul perihal situasi dunia nyata, di mana ketidakadilan terjadi tiap waktu, jauh sebelum, juga sesudah eksistensi film ini. Tapi di situlah salah satu kekuatan sinema berperan. Mungkin dia tak kuasa mengubah dunia, tapi memberi medium penciptanya mengkreasi semesta fiktif di mana kemustahilan realita tidaklah berlaku.
Sebagai satpam persidangan, Raka (Rio Dewanto) sudah terbiasa melihat tumbulnya taring hukum terhadap pemilik modal. Ketidakadilan adalah bagian dari keseharian. Raka pun memilih bersikap apatis, berkebalikan dengan istrinya, Nina (Niken Anjani), yang baru saja lulus ujian advokat. Selepas makan malam sebagai perayaan kelulusan, Raka menemukan Nina yang sedang hamil tua, terbaring di toilet restoran dalam kondisi bersimbah darah akibat ditusuk pesahan kaca.
Keadilan menandai kolaborasi sutradara beda negara: Yusron Fuadi (Indonesia) dan Lee Chang-hee (Korea Selatan). Adegan single take kala kamera arahan Guntur Arief Saputra diletakkan dalam mobil untuk menangkap proses Raka mengejar si pelaku penyerangan, punya nuansa yang "sangat sinema aksi Korea Selatan".
Raka berhasil meringkus si pelaku, tapi malang, nyawa Nina tak lagi tertolong. Bayinya pun meninggal beberapa hari berselang. Nama si pembunuh adalah Dika (Elang El Gibran), putra salah satu orang terkaya. Timo (Reza Rahadian), pengacara yang telah sering membebaskan klien dari kalangan konglomerat pun direkrut untuk membela Dika.
Reza memamerkan karsima tingkat tinggi kala memerankan pengacara yang 1000% yakin akan kemampuannya mengakali sistem. Kepercayaan dirinya setinggi langit. Dia bekerja bagi orang kaya, namun enggan menjilat kaki mereka. Lontaran sarkasme pun acap kali ia lemparkan bagi kliennya, yakni para anak manja yang hanya bisa lolos dari permasalahan berkat harta orang tua.
Naskah buatan Yoon Hyun-Ho kemudian mengalihkan bentuk penceritaan ke arah triler ruang sidang, yang efektif memuncakkan amarah penonton saat mendapati ucapan kejam Dika pelan-pelan jadi kenyataan: Di depan buruknya pelaksanaan hukum, pembunuh dapat disulap menjadi bukan pembunuh. Raka yang enggan menerima ketidakadilan pun nekat membajak jalannya persidangan.
Cara Keadilan mengeksekusi jalannya persidangan sejatinya tidak bisa disebut "cerdas". Banyak argumentasi, baik dari pihak korban maupun pelaku (yang konon digawangi oleh figur pengacara kelas satu), begitu gampang dibantah menggunakan fakta serta logika sederhana milik awam. Mengganggu pula sewaktu beberapa kalimat terdengar bak hasil terjemahan kasar, yang untungnya, sedikit tersamarkan karena diucapkan oleh jajaran pelakon handal seperti Reza dan Rio.
Tapi jika triller intens yang memaparkan segalanya secara lantang tanpa kesubtilan merupakan jenis tontonan yang dicari, niscaya Keadilan mendatangkan kepuasan. Yusron dan Lee Chang-hee memastikan alurnya bergerak tanpa basa-basi, sembari sesekali melontarkan amunisi pemantik emosi. Semua dilakukan atas nama menjaga intensitas, dan tujuan itu berhasil dipenuhi.
Satu hal yang patut direnungkan. Persidangan film ini dipimpin oleh Hanum (Dian Nitami), seorang hakim bersih yang prinsipnya mustahil digoyahkan, sehingga aksi gila Raka mampu terlaksana. Pada kenyataannya, besar kemungkinan seluruh perangkat persidangan sudah diubah menjadi mesin korup yang dijalankan penguasa kaya. Di hadapan realita yang sebegitu remuk, dunia dalam Keadilan yang belum layak disebut ideal pun bagaikan utopia.
REVIEW - WICKED: FOR GOOD
Bagaimana cara melebihi presentasi musikal epik yang membawa Wicked (2024) melambung tinggi mengangkangi gravitasi? Selepas menonton sekuelnya saya belum menemukan jawaban, sebab Jon M. Cu dan tim pun sepertinya tidak tahu. Sebagai entitas tersendiri, Wicked: For Good adalah musikal yang solid, namun ia terbang jauh di bawah tingkatan pendahulunya.
Kisahnya mengadaptasi babak kedua dari pertunjukan musikal Wicked (2003). Ada perbedaan mendasar. Jeda antar babak dalam musikal broadway hanya berlangsung sekitar 15 menit, bukan setahun layaknya versi film. Kita tetap akan mengingat poin-poin utama kisahnya, bisa pula menonton ulang, tapi tiada kontinuasi emosi. Mau tidak mau, koneksi dengan tokoh-tokohnya pasti merenggang meski sedikit.
Di ceritanya sendiri lima tahun telah berlalu. Elphaba (Cynthia Erivo) kini dipanggil "Wicked Witch of the West" dan ditakuti masyarakat Oz gara-gara propaganda dari Madame Morrible (Michelle Yeoh) dan Sang Penyihir Oz (Jeff Goldblum). Sebaliknya, Glinda (Ariana Grande) dipuja selaku suar harapan biarpun tak memiliki kemampuan sihir.
Terkait cerita, sejatinya naskah buatan Dana Fox dan Winnie Holzman mengandung subteks lebih kaya dibanding film pertama, pun dengan karakterisasi yang diperdalam. Gesekan utamanya membicarakan perihal "kepalsuan". Glinda yang sejak kecil terjebak kepalsuan guna memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya, termasuk soal hal kecil seperti senyuman, jadi cerminan negeri Oz, sedangkan Elphaba merupakan katalis yang menghapus kepalsuan tersebut.
Segalanya lebih politis, khususnya sentilan bagi manipulasi para pemegang kuasa. Di nomor musikal Wonderful, kita dipertontonkan cerminan menyesakkan dunia nyata, tatkala sang penguasa lalim menjual kebahagiaan-kebahagiaan palsu sebagai iming-iming supaya si pejuang mau mematikan perlawanan. Lalu jika sejenak mengalihkan atensi ke perjalanan Nessarose (Marissa Bode), terasa pula kepahitan seorang individu yang merindukan masa muda, di tengah kehidupan dewasa yang melenyapkan nurani serta kebahagiaan.
Wicked: For Good turut menebalkan modifikasi radikalnya atas cerita buatan L. Frank Baum. Semakin anda mengenal dunia The Wizard of Oz (minimal adaptasi layar lebar klasik arahan Victor Fleming), akan semakin mengagumkan modifikasi tersebut. Entah gambaran peristiwa pasca keberangkatan Dorothy menyusuri yellow brick road yang jadi ajang Ariana Grande memamerkan talenta komikal jeniusnya, atau kemampuan mengubah nuansa upbeat dari konklusi klimaks versi aslinya jadi situasi getir sarat ironi.
Masalah terbesar Wicked: For Good memang terletak di eksekusi musikalnya, baik mengenai lagu-lagu yang tak seberapa menempel di ingatan, maupun berkurangnya daya imaji dalam hal visualisasi. Nomor The Girl in the Bubble menawarkan eksplorasi teknis unik lewat beberapa peralihan sudut pandang, namun sisanya cenderung diisi oleh repetisi medioker dari barisan mahakarya film pertama.
A Wicked Good Finale terkesan bak penutup seadanya bila dibandingkan Defying Gravity di babak pertama, walau setidaknya, momen itu diselamatkan oleh kombinasi Cynthia Erivo dan Ariana Grande. Keduanya bertukar emosi, menari-nari di antara obrolan hati ke hati, lalu menyulap kata-kata jadi bukan hanya suara, tapi lantunan nada pembawa rasa.
Musikalnya memang menyisakan jejak-jejak kekecewaan, tapi sekali lagi, Wicked: For Good adalah cerita yang kaya. Terpenting, pada akhirnya ia enggan membebani protagonisnya dengan keharusan mengubah dunia. Bukan elu-elu selaku pahlawanan yang Elphaba dambakan, melainkan hak untuk berbahagia serta menerima cinta.
REVIEW - PESUGIHAN SATE GAGAK
Di hadapan layar sinema, terlindung dalam ruang bioskop serta pemahaman bahwa mereka tengah menyaksikan kepalsuan, penonton cenderung merasa aman kala disuguhi horor. Apalagi jika konteksnya digeser ke produk lokal dengan tendensi mengumbar muka demit tanpa memahami akar kengeriannya. Jangankan seram, kesan konyol justru kerap muncul. Pesugihan Sate Gagak, selaku debut penyutradaraan Etienne Caesar dan Dono Pradana, merangkul kekonyolan tersebut.
Naskah buatan Nuugro Agung tetap mengangkat mistisisme Jawa, yakni pesugihan sate gagak sebagaimana terpampang di judul. Tatkala banyak "horor serius" gagal menyulap mitologi klenik jadi presentasi menarik akibat sekadar asal melempar informasi, film ini benar-benar menjadikannya atraksi utama.
Anto (Ardit Erwandha) yang hanya berprofesi sebagai pegawai warteg, sedang kelabakan menyiapkan pernikahannya dengan Andini (Yoriko Angeline), sebab ibu sang kekasih (Nunung) cuma memberinya waktu sebulan guna mengumpulkan mahar 150 juta. Terpikirlah sebuah jalan pintas, yakni melangsungkan ritual pesugihan sate gagak bersama dua sahabatnya yang juga terlilit masalah finansial, Dimas (Yono Bakrie) dan Indra (Benidictus Siregar).
Pengembangan kisahnya memang penuh kebodohan yang mengkhianati logika, bahkan untuk ukuran cerita mistis yang serba mustahil. Semua dilakukan atas nama tawa. Persoalan usia karakter penjual gagak yang diperankan Arif Alfiansyah misalnya. Tapi bukan berarti departemen penulisannya bekerja asal-asalan.
Begitu melangkah keluar dari studio, seawam apa pun anda perihal dunia klenik, pemahaman mengenai pesugihan sate gagak bakal didapat. Serba-serbi ritualnya, syarat yang mesti dipenuhi, sampai dampak fatal dari pesugihan yang sekilas aman karena tak melibatkan tumbal manusia ini. Bukti bahwa naskahnya memperhatikan detail, dan sekali lagi, mampu memposisikannya sebagai menu utama alih-alih sekadar jualan muka demit.
Demikian pula tentang karakterisasi. Sekilas tak ada karakter serius, baik trio tokoh utama, hingga jajaran pendukung seperti Abah Budi (Firza Valaza) si dukun, maupun para hantu selaku konsumen sate gagak. Semua berlaku senada dengan keabsurdan humornya. Tapi sewaktu dibutuhkan, mereka dapat berfungsi secara normal sebagai karakter yang utuh.
Si dukun nyatanya jago menangani permasalahan mistis, para pelaku pesugihan tetap memiliki hati layaknya manusia biasa, sedangkan para demit yang sempat keracunan makanan, memperoleh kembali harga diri mereka kala diharuskan meneror bersenjatakan tata rias yang cukup mengerikan, juga kemunculan yang tak sebatas mengageti penonton.
Jasa para pemainnya tak bisa dielakkan. Materi komedi yang tidak seluruhnya segar pun mendapatkan kekuatan ekstra. Contoh: Mengolok-olok perawakan Beni adalah "amunisi mudah" untuk mengundang tawa yang sudah amat sering dipakai oleh film lain. Tapi kelihaian sang komedian mengolah raut wajah kala merespon olok-olok bagi fisiknya itu membuat keefektifan humornya tak luntur. Begitu juga seputar celotehan ngawur Arief Didu yang memerankan ayah Andini, hingga "nyanyian merdu" Arif Alfiansyah.
Pesugihan Sate Gagak bahkan cukup solid ketika melangkahkan kakinya ke ranah yang lebih dramatis. Melihat trio Anto-Dimas-Indra saling baku kata, melempar sumpah serapah dalam Bahasa Jawa setelah sebelumnya selalu bertingkah konyol, terasa jauh lebih "raw" ketimbang bumbu drama di jajaran horor lokal yang (katanya) serius. Mungkin pisuhan Jawa adalah ungkapan kemarahan menusuk yang menguatkan kesan manusiawi.
REVIEW - NOW YOU SEE ME: NOW YOU DON'T
Pada babak puncak Now You See Me: Now You Don't, protagonisnya terjebak dalam kotak kaca berisi air. Mereka lolos pasca memecahkannya dengan cincin berlian. Kemampuan CGI meniadakan kemustahilan justru membuat sulap dalam film kehilangan pesona, yang kerap jadi batu sandungan seri Now You See Me. Tapi di sini, penulis naskah yang terdiri atas empat kepala bahkan enggan repot-repot memeras otak perihal trik sulap.
Setidaknya ada satu pujian patut disematkan: Deretan trik sulapnya tak lagi terasa bak ilmu sihir alih-alih keterampilan sang seniman ilusi. Semua memungkinkan dicapai, meski beberapa memerlukan bantuan teknologi mutakhir. Sayang, sebagai gantinya kreativitas justru direnggut.
Selang 12 tahun pasca film pertama, aksi tiga pesulap muda — Charlie (Justice Smith), Bosco Leroy (Dominic Sessa), dan June McClure (Ariana Greenblatt) — jadi pemantik reuni para Horsemen setelah sekian lama. J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilde (Dave Franco), dan Henley Reeves (Isla Fisher) mesti melupakan konflik yang dahulu membuat mereka terpecah belah, untuk kembali memberi pelajaran bagi orang kaya korup.
Kali ini targetnya adalah Veronika Vanderberg (Rosamund Pike), pemilik perusahaan berlian yang terlibat pencucian uang berskala internasional. Pike habis-habisan menyuplai bobot emosi lewat totalitas aktingnya, berupaya menyulap Veronika sebagai antagonis dengan kerapuhan, tapi apa daya, penokohan dalam naskahnya kekurangan magnet. Veronika tak pernah terkesan memberi cukup ancaman bagi para jagoan.
Masih soal naskah. Kali ini perihal alur yang begitu tipis, cincin berlian pun tak diperlukan untuk menghancurkannya. Selama kurang lebih 112 menit, penonton hanya dilempar dari satu destinasi ke destinasi berikutnya, berkelana mengunjungi negara demi negara, sambil sesekali diselingi set-piece selaku medium memamerkan trik sulap ala kadarnya.
Ketimbang bercerita, Now You See Me: Now You Don't lebih tertarik mengecoh ekspektasi penonton lewat twist. Bukankah pertunjukan sulap sendiri tak menganaktirikan penceritaan sebagai pendukung triknya? Kendati beberapa kelokan harus diakui ampuh memberi efek kejut, film ini tak ubahnya aksi pesulap yang langsung naik panggung lalu tanpa basa-basi melempar ilusi. Hambar.
Penggambaran para Horsemen, yang nampak seperti tamu di film mereka sendiri akibat substansi peran yang pantas dipertanyakan, juga tidak kalah hambar. Dinamika antar karakter yang dulu amat berwarna kini terasa dingin, layaknya reuni canggung empat kawan lama. Barulah ketika Lula May (Lizzy Caplan) si ahli menyamar muncul dengan sarkasmenya, warna itu perlahan menampakkan semburatnya lagi.
Prancis jadi salah satu tujuan, di mana Horsemen (plus tiga pesulap muda), bertemu Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) di tempat persembunyian. Sebagai cara mengisi waktu luang, mereka bergantian menunjukkan trik, yang oleh Ruben Fleischer selaku sutradara, dipresentasikan lewat satu take panjang yang tampak menggelikan.
Pengarahan Fleischer memang jadi masalah kedua setelah naskah. Di tangan sutradara yang piawai mengolah gaya dan lebih punya tenaga menyusun aksi, "maraton trik" di atas, atau bahkan momen "kabur menggunakan cincin berlian", bisa saja melahirkan spektakel keren.
REVIEW - SAMPAI TITIK TERAKHIRMU
Melalui jendela mes sempit salah satu tokoh utamanya di malam hari, kita bisa mengintip barisan gedung bertingkat memancarkan benderang kemewahan mereka yang dapat membutakan. Itulah mengapa Sampai Titik Terakhirmu lepas dari kategori eksploitasi murahan. Sebagaimana normalnya tearjerker, menguras air mata penonton tetap jadi tujuan, tapi pokok bahasan utamanya adalah perihal cahaya harapan di tengah ruang gelap yang sekilas tanpa harap.
Naskah buatan Evelyn Afnilia mengadaptasi perjalanan romansa nyata antara Albi Dwizky (Arbani Yasiz) dan Shella Selpi Lizah (Mawar Eva de Jongh). Penghuni mes tadi adalah Albi, yang merantau dari Medan lalu bekerja sebagai pekerja kasar di perusahaan penyelenggara acara. Meski seorang diri, Albi rutin melakukan panggilan video dengan mamaknya (Tika Panggabean) di kampung.
Shella tinggal bersama keluarga besar. Didin (Kiki Narendra), ayahnya, bekerja sebagai tukang ojek, sementara Erna (Unique Priscilla), ibunya, merupakan karyawan sebuah usaha penatu. Ada juga dua adiknya, Lydia (Yasamin Jasem) dan Dide (Shakeel Fauzi). Semua sibuk dengan rutinitas masing-masing, termasuk Shella yang aktif bermain sepak bola. Tapi tiap sore, meja makan di bawah tangga jadi ruang sempit yang selalu diisi tawa.
Paruh pertamanya hangat, bahkan tak jarang menggelitik. Entah karena kegemaran Lydia (Yasamin Jasem piawai menyeimbangkan sisi jahil dan penyayang karakternya) mengusili Dide, atau ocehan-ocehan trio tetangga tukang gosip: Nurul (Tj Ruth), Yeti (Siti Fauziah), dan Mamang Racing (Onadio Leonardo). Semua pemeran pendukung berjasa menjaga tingkat keefektifan humornya.
Kehangatan itu lalu berkembang jadi romantisme selepas Albi dan Shella bertemu, kemudian jatuh cinta. Kecanggungan Albi yang dibawakan secara meyakinkan oleh Arbani, keceriaan Shella yang dihidupkan oleh Mawar, memudahkan penonton menikmati kebersamaan keduanya. Tidak ada romantika yang dilebih-lebihkan. Hanya dua manusia dari pinggiran kota yang kebetulan menemukan cinta sederhana.
Sampai kesenduan mulai menghampiri kisahnya, sewaktu ditemukan kista di ovarium Shella. Kista itu membesar, begitu pula perutnya, memberi ilusi seolah ia tengah hamil, yang menyulut pergunjingan di kalangan tetangga. Poin ini penting, sebab jangankan di layar perak, di tatanan keseharian pun, kondisi medis tersebut masih jarang dibicarakan oleh masyarakat awam hingga berpotensi menyulut kesalahpahaman sebagaimana film ini perlihatkan.
Pengobatan demi pengobatan, rangkaian operasi yang tak kunjung usai, semuanya dilakukan namun kanker Shella malah terus memburuk. Dia tersiksa. Begitu pula batin orang-orang di sekelilingnya. Sampai Titik Terakhirmu tentu masih mengikuti beberapa pakem tearjerker bertema penyakit kronis yang menyoroti penderitaan tokoh-tokohnya. Tapi yang jadi pembeda, dia menolak berkutat di sana terlalu lama.
Beberapa tetes air mata justru berasal dari pemandangan bernuansa positif seperti potret kebersamaan antar anggota keluarga, kunjungan Shella ke sebuah acara bagi para penyintas kanker, hingga kesediaan menertawakan kepiluan. Secara khusus saya menyukai keterlibatan singkat karakter Mamak. Kehadirannya menyimbolkan penyatuan ikatan dua keluarga.
Di kursi sutradara, Dinna Jasanti tahu batas dalam hal dramatisasi. Bukan asal menumpahkan air mata atau memperdengarkan musik mengharu-biru, ada kalanya Dinna mengutamakan keintiman yang dimotori oleh performa jajaran pemainnya. Tengok saja saat Kiki Narendra dan Unique Priscilla beradu akting di adegan berlatar rumah sakit. Bukan sekadar menangisi penyakit, tapi lubang yang bakal diciptakannya dalam sebuah keluarga penuh kasih.
REVIEW - IF I HAD LEGS I'D KICK YOU
If I Had Legs I'd Kick You adalah film hebat, tapi pengalaman menontonnya sungguh berat. Sutradara sekaligus penulisnya, Mary Bronstein, seperti mengajak penonton menatap tepat ke pusat lubang hitam di hati manusia, tempat bersemayamnya kebenaran yang menyesakkan. Sebuah proses substansial guna memahami kemanusiaan melalui kefanaan.
Kisahnya dibuka saat Linda (Rose Byrne) menemani putrinya menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit. Tidak diketahui pasti penyakit yang mengharuskannya dipasangi selang untuk makan, pun wajah sang anak tak sekalipun nampak sebelum momen penutup. Bronstein menghindari ranah melodrama yang mengemis belas kasih, dan sepenuhnya menggiring penonton untuk berfokus pada Linda.
Itulah fungsi close-up ekstrim yang membuka filmnya. Bukan hanya memberi penekanan pada detail ekspresi dari performa luar biasa Rose Byrne (memenangkan Silver Bear for Best Leading Performance di Festival Film Berlin, pun nominasi Academy Awards rasanya tinggal menunggu kepastian) sebagai perempuan yang terus dihantam luka, tapi benar-benar menyedot penonton masuk ke dalam jiwanya.
Jelas bahwa batin Linda telah berada di kondisi kritis. Dia seorang diri merawat putrinya yang progresnya mengalami stagnasi, sementara sang suami yang mesti pergi bekerja selama berbulan-bulan, secara egois terus menuntut kesempurnaan. Masalah bertambah kala langit-langit apartemennya jebol, menyisakan lubang besar sebagaimana hati Linda sendiri.
Luka demi luka demi luka demi luka. Itulah yang mengisi 114 menit film ini. Tapi pengarahan Bronstein tak pernah menyulut aroma eksploitatif. Sensitivitas sang sineas mendorong penonton memahami, bahkan turut merasakan luka protagonisnya, alih-alih sekadar meratapinya.
Cara naskahnya mengupas lapisan-lapisan ceritanya dengan penuh kesabaran pun begitu rapi. Ada kalanya fakta baru yang kita terima bakal terasa mengejutkan, tanpa filmnya harus mengesankan kalau ia baru melempar twist. Kita hanya belum cukup mengenal karakternya saat itu. Misal sewaktu diungkap bahwa Linda, dengan setumpuk masalahnya, berprofesi sebagai terapis yang sehari-hari dituntut mendengarkan setumpuk masalah klien.
Biarpun tidak dalam kondisi ideal untuk menangani pasien, Linda tetap berupaya mendengarkan cerita mereka, bahkan sesekali memberi saran mengenai langkah apa yang mesti diambil. Saran-saran yang sejatinya dapat menguraikan beban hidupnya sendiri. Linda tahu mesti berbuat apa. Otaknya brilian. Problematikanya bukan bersifat kognitif, melainkan ketiadaan figur selaku sistem pendukung bagi mentalnya.
Dia memakai jasa rekan sekantornya (Conan O'Brien) guna berkeluh kesah, tapi si terapis hanya menambah panjang daftar karakter laki-laki dengan ketidakpekaan dan ketidakpedulian mereka. James (ASAP Rocky), karyawan di motel tempat Linda dan putrinya menginap selama apartemen mereka diperbaiki, sempat mengulurkan bantuan, namun itu saja belum cukup.
James sempat mengajari Linda sebuah metode meditasi. Selama bermeditasi (melalui rentetan adegan bernuansa dreamy), Linda terbawa untuk menatap ke arah lubang hitam berisi rasa sakit terbesarnya. Mungkin manusia memang perlu sesekali mengunjungi lubang hitam tersebut. Seperti luka pasca operasi pula, mungkin lubang itu bakal sembuh lalu menutup dengan sendirinya. Tapi perjalanan yang harus diarungi sebelum tiba di destinasi tersebut sungguh menyakitkan.
REVIEW - DOPAMIN
Protagonis menemukan mayat bersama sejumlah uang, tiba-tiba gaya hidupnya terjerumus ke hedonisme, dihantui halusinasi sosok si mendiang, lalu dikuntit sosok misterius yang mengincar uang itu. Dopamin memang berjalan di area familiar terkait pengembangan premisnya, namun bila mempertimbangkan kelangkaan eksplorasi genre di sinema arus utama Indonesia, karya terbaru Teddy Soeriaatmadja ini layak dipandang sebagai embusan angin segar.
Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) adalah pasutri yang terjebak dalam benang kusut tersebut. Sudah setahun Malik gagal memperoleh pekerjaan hingga terlilit utang pinjol, sementara Alya baru mendapati dirinya hamil. Di banyak film Indonesia, mereka bakal menggantungkan harapan pada pesugihan, yang justru berujung mengundang maut.
Tapi tiada sedikitpun tercium aroma klenik, biarpun sang maut tetap mengunjungi Malik dan Alya. Demi menjaga kelambu misteri alurnya, kalian cukup mengetahui deskripsi di paragraf pembuka. Ditemani komposisi musik kreatif nan mendebarkan gubahan Ricky Lionardi, kita dibawa menyaksikan betapa kelabakannya kedua tokoh utama menangani "uang kaget" senilai miliaran yang terhampar di hadapan.
Hormon dopamin seketika menyeruak dalam diri Malik dan Alya. Bukan semata karena materi, tapi juga lenyapnya kehampaan rutinitas mereka. Keduanya mesti mengunjungi daerah terpencil di tengah malam demi menyembunyikan mayat, mengganti ban bocor di bawah guyuran hujan, hingga mengakali razia polisi. Rentetan situasi menegangkan itu mendatangkan keseruan yang mengembalikan tawa Malik dan Alya.
Kombinasi pasutri dunia nyata, Angga Yunanda sebagai suami yang acapkali tak kuasa mengambil keputusan, dan Shenina Cinnamon selaku istri yang nyaris mati rasa akibat lelah dihantam kemiskinan, melahirkan dinamika yang memotori gerak filmnya, tatkala naskah buatan Teddy luput menawarkan faktor-faktor yang dapat mengecoh ekspektasi kalangan penonton yang sudah familiar dengan genrenya.
Entah berapa kali kita disuguhi shot berisi Malik atau Alya dibuat terkejut oleh sesuatu/seseorang di luar frame. Kadang penyebab keterkejutan itu memang bersifat mengancam, tapi tidak jarang juga sekadar false alarm. Di satu sisi, pengulangan peristiwa tersebut sejalan dengan kondisi psikis protagonisnya yang dicengkeram kecemasan, namun di sisi lain turut menandakan tendensi filmnya tampil repetitif.
Sejatinya tidak ada lubang yang terlampau menganga dalam penuturan Dopamin. Di kursi sutradara pun, kematangan Teddy nampak betul pada kerapian bercerita, pula perihal mengolah tempo yang berdampak pada terjaganya intensitas. Film ini hanya kekurangan variasi "warna", yang oleh rekan-rekan sejawatnya, kerap diakali menggunakan kelokan-kelokan tak terduga, atau modifikasi tone memakai bumbu komedi gelap.
Untungnya Dopamin berhasil mendarat dengan mulus di konklusinya, yang enggan menceramahi penonton lewat pesan-pesan berorientasi moral, dan memilih setia pada semangat "eat (atau bahkan "kill") the rich" yang coba ia kumandangkan sejak kali pertama dua karakternya menemukan sekoper penuh uang tunai.
REVIEW - THE RUNNING MAN
Banyak bermunculan kekecewaan terhadap The Running Man, selaku adaptasi kedua dari novel berjudul sama karya Stephen King, setelah versi 1987 yang dibintangi Arnold Schwarzenegger. Alasannya: Edgar Wright, salah satu sutradara paling stylish, membuat film arus utama yang terkesan generik untuk standarnya. Tapi Wright menunjukkan hal lain, yakni keterampilan mendasar untuk menyusun blockbuster ratusan juta dollar tanpa harus bergantung secara berlebihan pada teknologi digital.
Serupa versi Paul Michael Glaser, Wright yang turut menulis naskahnya bersama Michael Bacall, memilih untuk tak berbasa-basi dalam bertutur. Kita pun segera berkenalan dengan Ben Richards (Glen Powell), yang tidak butuh waktu lama untuk nekat ikut serta dalam acara televisi mematikan bernama The Running Man, demi membeli obat bagi bayinya yang sakit.
Tampil lebih setia dengan novel buatan King, The Running Man membuat protagonisnya tak memiliki latar belakang militer. Dia salah satu dari kita, rakyat jelata yang tidak diberkahi privilege untuk berpikir jernih, dan percaya bahwa akan ada hari esok. Richards acap kali bertindak buru-buru akibat membiarkan dirinya dikuasai ledakan-ledakan emosi. Glen Powell tampil apik, bukan semata sebagai jagoan laga sarat maskulinitas, melainkan pria putus asa yang bersusah-payah menekan amarah di tiap tarikan napasnya.
Kepribadian meledak-ledak itulah yang membuat Richards dipilih oleh Dan Killian (Josh Brolin) selaku produser acara guna ambil bagian di The Running Man. Para pemilik modal suka melihat letupan amarah rakyat kecil dari menara gading mereka.
Tidak seperti versi 1987 yang seolah terhipnotis oleh otot-otot masif milik Arnold Schwarzenegger, The Running Man milik Wright bersedia menaruh perhatian ekstra terhadap pondasi permainannya. Aturan-aturannya jelas, sehingga memungkinkan penonton merasa dilibatkan dalam upaya Richards (plus dua peserta lain) untuk bertahan hidup selama 30 hari dari kejaran para pemburu. Berkat detail aturan itu pula, 133 menit durasinya tak hanya menampilkan adu otot, tapi menuntut si protagonis memeras otak guna mengecoh pengejarnya.
Peran Richards sebagai inisiator perlawanan akar rumput lebih dipertebal (sekali lagi, bukan cuma jagoan kekar yang gemar menebar ledakan), seiring alurnya membahas perihal post-truth melalui propaganda buatan stasiun televisi. Pemelintiran fakta lewat alterasi video makin relevan di tengah maraknya penggunaan AI, begitu pula keterlibatan masyarakat sipil memburu Richards yang mengkritisi budaya "asal rekam" masa kini. Tapi bukankah propaganda televisi terdengar ketinggalan zaman?
Siapa yang masih menonton serta memercayai layar kaca? Momen perkenalan karakter Amelia (Emilia Jones) di paruh kedua memberi secuil jawaban. Bersama temannya, Amelia si perempuan kaya dengan syal yang tak kuasa dibeli rakyat kecil seperti Richards, menyuarakan ketidakpercayaan terhadap The Running Man. Realitanya, cuci otak televisi memang cenderung menyasar kalangan bawah. Kita yang bisa menampiknya berarti memiliki privilege untuk mencari hiburan dari medium lain.
Di sela-sela sentilan itu, Wright piawai memupuk ketegangan. Kali ini tanpa tata kamera eksentrik atau penyuntingan unik yang jadi sentuhan khasnya, tapi mengedepankan aspek-aspek mendasar seperti ketepatan mengolah tempo. CGI dipakai seperlunya demi menjaga keautentikan dari upaya tokoh utamanya bertahan hidup, membuat The Running Man bak sebuah sekuen kejar-kejaran besar yang berlangsung padat selama lebih dari dua jam. Satu keluhan: Pengurangan sisi konyol dari konsep para pemburu membuat film ini kekurangan antagonis yang dapat melekat lama di ingatan.
Wright agak kepayahan menyusun paruh akhir, seolah ia tiba-tiba menyadari filmnya sudah bergulir cukup lama, kemudian memaksakan diri untuk mengakhiri cerita. Setidaknya, konklusi yang (sebagaimana adaptasi tahun 1987) mengubah rasa pahit novelnya itu, mendatangkan kepuasan kala disaksikan pada era di mana memercayai kebenaran makin menjadi kemustahilan.
REVIEW - FRANKENSTEIN (2025)
Frankenstein versi Guillermo del Toro bukan sebatas penolakan atas penilaian dangkal mengenai sebutan "monster" bagi para makhluk berparas mengerikan. Jauh sebelum kisahnya berakhir, sang monster telah menyadari kemanusiaannya, pun sebaliknya, si manusia memahami bahwa dialah keburukan yang sesungguhnya. Satu hal yang keduanya belum mampu capai: Menerima rasa sakit pembawa ketidaksempurnaan yang mendefinisikan kemanusiaan itu sendiri.
Rasa sakit adalah bukti kecerdasan. Setidaknya itu yang dipercaya oleh beberapa karakternya. Atas nama kecerdasan pula, Leopold Frankenstein (Charles Dance) mendidik putra sulungnya, Victor Frankenstein (Oscar Isaac), secara keras, yang mendatangkan sakit fisik serta batin berkepanjangan bagi sang anak. "Tidak ada emosi dalam jaringan otot manusia", ucap Leopold. Sejak kecil, Victor telah dikondisikan untuk menampik kemanusiaan.
Dinamika ayah-anak tersebut kita saksikan dalam bentuk kilas balik pasca adegan pembukanya yang cantik. Lanskap kutub utara yang membaurkan warna-warna khas del Toro (hijau, oranye, merah), ditangkap oleh sinematografi arahan Dan Laustsen guna mencuatkan keindahan di sela-sela kegelapan. Sesosok monster yang disebut "The Creature" (Jacob Elordi) menginvasi kapal angkatan laut Denmark yang terperangkap di danau es untuk mencari keberadaan penciptanya, Victor.
Dari situlah alurnya mengungkap dua sisi cerita, mengajak penonton memahami perspektif sang pencipta dan ciptaannya. Salah satunya mengenai motivasi Victor "bermain Tuhan" dengan membuat monster dari gabungan mayat-mayat dengan sokongan dana dari Henrich Harlander (Christoph Waltz) si pedagang senjata. Semua bermula dari kehilangan pahit tatkala sang ibu, Claire Frankenstein (Mia Goth), meninggal setelah melahirkan anak keduanya, William (Felix Kammerer). Victor berhasrat mencurangi kematian.
Kali pertama kita bertemu Claire, ia mengenakan gaun merah dengan kain yang melambai-lambai tertiup angin. Anggun sekaligus agung. Mia Goth juga memerankan karakter lain, yakni tunangan William, Elizabeth Harlander, dan kostum-kostum buatan Kate Hawley lainnya turut memancarkan kemewahan elegan kala ia kenakan. Desain produksi yang menghidupkan dunia para bangsawan dari abad-19 dengan segala benda seni klasiknya, pula musik beraroma dongeng kelam gubahan Alexandre Desplat, menyempurnakan Frankenstein sebagai pengalaman audiovisual kelas satu.
Di permukaan, Frankenstein sejatinya terasa familiar, mengingat kisah seputar makhluk hidup yang eksistensinya disalahartikan sudah berkali-kali diangkat oleh del Toro. Keunikannya baru muncul begitu kita mengupas kulit luarnya. Novel karya Mary Shelley dikembangkan, tidak lagi (hanya) soal menampik prasangka, pula membicarakan dinamika ayah dan anak.
Karakter Victor Frankenstein si "ilmuwan gila" ditelaah lebih lanjut. Psikisnya dibedah, untuk memperlihatkan dampak dari absennya cinta ayah bagi seorang anak. Victor membenci ayahnya, namun tanpa sadar mewarisi pola asuh kejamnya, kemudian menularkan luka, serupa dengan yang ia alami semasa kecil kepada The Creature selaku "putranya". Trauma lintas generasi pun terjadi, yang membuat si anak acap kali mengutuk kelahirannya di dunia.
Guillermo del Toro menggerakkan alur dalam tempo yang mengutamakan sensitivitas, membiarkan penonton mengamati luka tiap karakter, terutama The Creature yang membawa Jacob Elordi bertransformasi, baik dari segi fisik maupun psikis.
Melalui naskahnya, del Toro mengemas film ini bak kesusastraan klasik yang jadi sumber adaptasinya, membuat jajaran karakternya bertutur serupa pujangga yang menumpahkan kata-kata puitis semudah bernapas. "I will be the eagle that feast on your liver" (referensi ke hikayat Prometheus) atau "In seeking life I created death" jadi beberapa contoh. Diiringi untaian kalimat indah tersebut, dua protagonisnya melakoni perjalanan eksistensial untuk berdamai dengan dosa orang terkasih, juga dengan ketidaksempurnaan diri sendiri.
(Netflix)
REVIEW - DIE MY LOVE
"When routine bites hard, and ambitions are low, and resentment rides high, but emotions won't grow." Sepenggal lirik dari Love Will Tear Us Apart kepunyaan Joy Division tersebut, yang dipakai mengiringi kredit penutup, begitu tepat mewakili Die My Love arahan Lynne Ramsay. Tapi ia bukan cerita rumah tangga di mana si tokoh utama bersikap pasif dengan hanya meratapi patah hatinya, melainkan ledakan punk rok berisi perlawanan terhadap penjara bernama peran gender.
Mengadaptasi novel berjudul sama karya Ariana Harwicz, Die My Love mengajak kita berkenalan dengan sepasang kekasih, Grace (Jennifer Lawrence) dan Jackson (Robert Pattinson), yang baru meninggalkan ingar bingar New York untuk tinggal bersama di area pedesaan. Tiada kata istirahat bagi letupan asmara keduanya, bahkan saat Grace tengah hamil tua.
Di sela-sela potret keseharian mereka, terselip pemandangan yang terkesan acak berupa sebuah hutan yang terbakar. Kelak kita akan menyadari bahwa situasi itu tidak merepresentasikan cinta membara Grace dan Jack. Benih api yang perlahan menyala bukanlah sumber kehidupan, tapi bara yang siap meluluhlantakkan.
Segalanya berubah pasca Grace melahirkan. Jackson selalu sibuk bekerja di luar rumah, bahkan terkesan tak lagi berhasrat terhadap sang istri. Penggunaan rasio aspek 1.33 : 1 mewakili betapa menyesakkannya hari-hari Grace yang dipaksa mengakrabkan diri dengan kesepian. Tapi Grace bukan perempuan pasif yang bersedia menerima begitu saja "kewajiban" mengurus rumah tanpa asupan kasih sayang.
Alih-alih ratapan sendu, naskah yang ditulis sang sutradara bersama Enda Walsh dan Alice Birch menghantarkan pergulatan Grace dalam ledakan-ledakan yang menunjukkan resistansinya. Dia menari, bertingkah eksentrik, begitu enteng menumpahkan sumpah serapah, menutup kulkas dengan tendangan, dsb. Berapi-api, liar, destruktif. Bukan karena Grace gemar menghancurkan, sebab cinta (atau lebih tepatnya iming-iming tentang konsep cinta) sudah terlebih dahulu menghancurkan dirinya.
Di tengah penderitaan tersebut, bukan pangeran berkuda putih yang Grace dambakan, tapi laki-laki berjaket merah marun (LaKeith Stanfield) yang rutin berlalu-lalang di depan rumah menaiki motor. Si sosok misterius yang senantiasa mengisi fantasi Grace adalah personifikasi semua hal yang berlawanan dengan figur Jackson: laki-laki kulit hitam maskulin yang penuh perhatian serta membuat pasangannya merasa diinginkan.
Jennifer Lawrence, dalam performa yang amat layak diganjar nominasi Oscar kelima sepanjang karirnya (meski peluang ini amat kecil), tak menyisakan cela sebagai perempuan yang tatapannya memancarkan kehampaan biarpun tindak-tanduknya meletup-letup. Robert Pattinson tidak kalah hebat sebagai laki-laki kekanak-kanakkan dengan segala kelabilan emosinya.
Bukan Grace seorang yang dihunjam kesepian. Pam (Sissy Spacek), ibu Jackson, pun dihantui perasaan serupa pasca suaminya (Nick Nolte) meninggal. Setiap malam, Pam berjalan dalam tidurnya sambil menenteng senapan. Seiring alurnya yang melaju liar saat secara konstan melompati garis batas tipis antara realita dan imajinasi, Die My Love membawa tokoh-tokoh perempuannya berproses, menolak dibunuh oleh sepi cuma karena absennya pasangan (laki-laki) dari hidup mereka.

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)



%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)



%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)

.png)

.png)
2 komentar :
Comment Page:Posting Komentar