Tampilkan postingan dengan label Rocky Soraya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rocky Soraya. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE DOLL 3

Ada masa di mana tiap tahun kita disuguhi horor garapan Rocky Soraya, entah seri The Doll maupun Mata Batin. Belum lagi judul-judul seperti Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) dan Jeritan Malam (2019). Masa itu berakhir kala pandemi tiba (mungkin ditambah perolehan penonton Mata Batin 2 yang tak sampai separuh film pertama). 

Selepas absen tiga tahun, Rocky kembali lewat installment yang konon bakal menutup kisah The Doll, dan sang sutradara masih sama. Masih mengandalkan gore, gemar memecahkan kaca, menomorsatukan gaya. Perbedaan terletak pada sosok bonekanya.

Jika Ghawiah dan Sabrina memerlukan medium manusia guna menebar teror, maka Bobby lebih mandiri. Sebab kini Rocky dan tim memakai boneka animatronik, yang kabarnya memakan biaya dua miliar. Apakah sepadan? Bagi saya, iya. 

Tapi mari membahas alurnya terlebih dahulu. Pasca sebuah kecelakaan yang menewaskan orang tua mereka, Tara (Jessica Mila) dan Gian (Zizie Zidane) hanya memiliki satu sama lain. Hidup Tara bahagia. Kisah cintanya dan Aryan (Winky Wiryawan) berjalan mulus, pun Tara menjalin hubungan baik dengan puteri kekasihnya, Mikha (Montserrat Gizelle). Sebaliknya, Gian yang terlibat langsung dalam kecelakaan amat menderita. Luka di wajahnya belum hilang, sebagaimana luka batin akibat trauma. 

Singkat cerita, Gian bunuh diri. Teringat akan cerita sahabatnya, Rere (Masayu Anastasia), tentang ritual memasukkan arwah ke dalam boneka, membuat Tara nekat melakukan hal serupa. Arwah Gian dipanggil agar bersemayam dalam tubuh boneka canggih bernama Bobby. Berharap bisa mengucap kata perpisahan secara layak, Tara malah mendapati sang adik telah berubah. 

Hal-hal itulah yang harus anda lewati sebelum The Doll 3 menampakkan taringnya. Naskahnya kembali ditulis oleh Riheam Junianti, sehingga masih menyimpan masalah seperti judul-judul sebelumnya, yaitu berupa prolog melelahkan. Eksplorasi elemen psikologisnya terlalu dangkal untuk dapat menjustifikasi keputusan Gian bunuh diri, sedangkan kalimat-kalimat corny yang mendominasi interaksi antar karakter, makin kentara karena naskah bak mewajibkan seluruh perasaan diutarakan secara verbal. 

Bagi yang mengenal betul karya-karya Rocky, tentu sudah mengantisipasi semua itu, lalu bersabar menantikan banjir darah begitu film memasuki second act. Sekali lagi, Rocky masih sama. Masih mengedepankan teknik pengambilan gambar stylish (kamera berputar, menembus lubang intip pintu, dll.), pula masih total perihal gore. 

Bersenjatakan pisau, tiada bagian tubuh yang luput disambangi oleh Bobby. Perut, dada, punggung, leher, kepala, tenggorokan, semua ditebas. Rocky enggan menahan diri, bahkan saat dihadapkan dengan karakter anak. Apalagi, seperti kita tahu, tokoh-tokoh dalam film Rocky bak kecoak. Susah mati. Lihatlah Mikha. Selepas jatuh dari tangga, rumah pohon, lift, nyawanya belum juga melayang. Adegan bunuh diri Gian pun jauh lebih brutal dari perkiraan. 

Rocky menunjukkan pengalaman sebagai sineas slasher, yang disokong jajaran tim tata efek khusus mumpuni. Kepala terpenggal, atau saat seorang karakter jatuh menimpa mobil, semua tampak meyakinkan. Tentu boneka animatronik Bobby turut berperan. Geraknya mulus dengan cakupan yang cukup luas, pun ekspresi wajahnya kaya. Shot favorit saya adalah ketika Bobby "bepose" di tangga sembari mengacungkan pisau. That's cool. Sayang, aksinya dinodai oleh kebutusan absurd membuat si boneka pembunuh melontarkan sumpah serapah dalam Bahasa Inggris. Seisi studio tertawa, mendapati momen konyol yang bertolak belakang dengan tone serius filmnya. 

Bukan film Rocky Soraya namanya kalau tidak ditutup menggunakan epilog terlampau panjang guna mengungkap twist yang sama sekali tak diperlukan (meski kali ini bukan soal perselingkuhan). Ya, tiga tahun berselang, Rocky Soraya masih sama. For better or worse. 

JERITAN MALAM (2019)

Megah dan dramatis. Sepertinya Soraya Intercine Films ingin kesan tersebut lekat dengan mereka, sekalipun di film horror, yang biasanya identik dengan kesederhanaan (baca: murah). Contohnya adalah Suzzanna: Bernapas dalam Kubur tahun lalu. Mengadaptasi cerita karya meta.morfosis yang sempat ramai dibicarakan warganet dan konon berasal dari kisah nyata, Jeritan Malam mengambil jalur serupa. Berambisi tampil dramatis, menit-menit awalnya bahkan bak tersusun atas cuplikan opera sabun yang berlangsung terlalu panjang.

Ketimbang langsung menghadapi teror, kita lebih dulu disuguhi perjuangan karakter utamanya, Reza (Herjunot Ali), yang setia menarasikan kisahnya bahkan di titik-titik yang tak perlu lagi dijelaskan (naskahnya terlalu literal dalam menerapkan cara bertutur materi aslinya), dalam perjuangannya mencari kerja. Setelah ditolak belasan kali, akhirnya ia diterima bekerja di Jawa Timur. Masalahnya, itu berarti Reza mesti meninggalkan Bogor beserta kedua orang tua, juga kekasihnya, Wulan (Cinta Laura Kiehl). Jelang keberangkatan Reza, filmnya didominasi perpisahan mengharu biru, yang entah berapa kali memperdengarkan kalimat cringey, “Aku bakal kangen luar biasa”.

Kalau anda penasaran mengapa durasi Jeritan Malam bisa mendekati dua jam (119 menit), di situlah jawabannya. Naskah buatan Ferry Lesmana (Danur, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur) dan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Antologi Rasa) gemar menyelipkan drama berlarut-larut yang hanya membengkakkan film ketimbang mencuri hati, akibat paparan dangkal yang hanya bersenjatakan kalimat (sok) romantic, yang di realita, mungkin cuma bakal jadi status Facebook remaja pengidap cinta monyet.

Sebelum berangkat, oleh sang ayah (Roy Marten), Reza dibawakan sebuah kujang sebagai alat pelindung. Berkebalikan dengan ayahnya, Reza bersikap skeptis terhadap hal gaib. Ditambah peristiwa tragis masa kecilnya, ketidakpercayaan Reza berkembang jadi kebencian. Bahkan ketika dua teman kantornya, Indra (Winky Wiryawan) dan Minto (Indra Brasco) menceritakan fakta horor terkait mess yang ketiganya tempati, Reza menolak percaya. Bukan saja enggan percaya, Reza cenderung meremehkan, menendang sesajen, lalu menantang para “penghuni mess”.

Jeritan Malam memang didesain supaya penonton berharap si protagonis tertimpa hukuman atas kesombongannya. Alhasil, bila mengandalkan Reza semata, alurnya takkan menyenangkan diikuti. Karena itulah filmnya mengambil bentuk crowd pleasure, di mana serupa Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, humor turut diterapkan lewat kekonyolan dua teman Reza, khususnya Minto, dalam menghadapi kengerian di mess. Jelas bukan komedi cerdas, namun memadai sebagai penambah daya hibur.

Begitu teror dimulai, gerak alur Jeritan Malam sebenarnya sempat repetitif, kala berkali-kali kita disajikan adegan Reza terbangun di tengah malam, minum, sebelum akhirnya diganggu sosok tak kasat mata. Beruntung pengulangan itu tak berlangsung seterusnya, sebab semakin kisahnya bergulir, varian peristiwanya cukup kaya, dari “perjalanan sukma” Reza hingga ritual misterius yang jadi penyebab rentetan tragedi pada babak ketiga.

Jump scare tidak dikesploitasi, biarpun efektivitas kemunculan hantunya tergolong inkonsisten. Misalnya, setelah penampakan sesosok nenek di atas pohon yang punya tata rias lumayan baik, intensitas langsung dirusak oleh serbuan pasukan tuyul dengan kualitas CGI menyedihkan. Tapi satu hal yang cukup menarik adalah bagaimana Rocky, dibantu sinematografi garapan Muhammad Firdaus (My Stupid Boss, Ikut Aku ke Neraka), di beberapa kesempatan, sukses membangun atmosfer bersenjatakan sudut pandang orang pertama. Saya pernah terlibat menggarap acara penelusuran mistis, dan menonton Jeritan Malam rasanya seperti dibawa kembali ke suasana itu, kala menyusuri lokasi-lokasi gelap nan menyesakkan, yang memancing kecemasan karena dari balik kegelapan itu, seolah ada figur menyeramkan tengah mengintai.

Seperti telah disebut sebelumnya, horor satu ini ingin betul terlihat (lebih) mahal, dan itu nampak dari penataan set dan properti, color grading khas Soraya yang memakai kontras rendah, juga musik garapan Andhika Triyadi (Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, Dua Garis Biru) yang mengandalkan suara biola menyayat ala horor/thriller klasik. Di antara semua itu, justru akting Herjunot Ali yang nampak paling murah, sebab lagi-lagi ia masih bermasalah dalam mengekspresikan emosi melalui mimik wajah “besar” yang selalu berlawanan dengan definisi “natural”.

Kecintaan Rocky terhadap gore, yang secara mengejutkan kuantitasnya tidak seberapa, menguatkan kesan tragis dari salah satu kematian karakternya. Andai filmnya ditutup tak lama setelah itu. Sayangnya tidak. Jeritan Malam justru menambahkan epilog dramatik cenderung menggurui yang merusak bangunan intensitasnya. Sesungguhnya epilog ini bisa menambah kengerian (menegaskan bahwa iblis yang karakternya hadapi teramat licik dan kejam) sekaligus memantapkan status filmnya sebagai tragedi (sejalan dengan image dramatis Soraya yang saya singgung), jika narasi terkait sebuah ritualnya dikemas lebih rapi dan jelas.

RUMAH KENTANG: THE BEGINNING (2019)

Be careful what you wish for. Karena terlalu sering diulang dalam empat tahun belakangan, setelah Mata Batin 2 awal tahun ini, saya berharap Hitmaker Studios mau beralih dari pola khas Rocky Soraya. Dibuat oleh Rizal Mantovani (film pertama Hitmaker yang bukan disutradarai Rocky Soraya sejak Tarot empat tahun lalu), Rumah Kentang: The Beginning menerapkan gaya berbeda, dan berujung melahirkan horor terburuk milik rumah produksi tersebut.

Kisahnya tak memiliki kaitan dengan Rumah Kentang (2012, juga produksi Hitmaker), dan sesuai dugaan, embel-embel “The Beginning” di judulnya sebatas omong kosong. Anda bisa mengganti kentang dengan jagung, lobak, terong, atau petai, dan takkan berdampak.  Kenapa dalam meneror korbannya, si hantu memakai kentang sebagai medium? Pertanyaan itu pun tak terjawab. Padahal bila mengacu pada legenda lokal, baik di Jakarta, Bandung, maupun Yogyakarta, bukan itu alasan pemberian julukan “rumah kentang”.

Berlatar tahun 1983 yang berakhir sebatas angka karena detail tata kostum, set, sampai propertinya kurang mendukung, Rumah Kentang: The Beginning tak ada bedanya dibanding film bertema rumah angker lain. Sepasang suami istri, Adrian (Christian Sugiono) dan Sofie (Luna Maya), kembali ke rumah masa kecil Sofie yang telah lama kosong sejak kedua orang tuanya menghilang secara misterius. Alasan mereka adalah membantu Adrian mendapat inspirasi untuk menulis novel terbaru.

Bisa ditebak, ada rahasia kelam di masa lalu keluarga Sofie, yang mendorong munculnya teror. Kata “teror” di sini seringkali berupa banjir kentang. Beberapa kali karakternya tewas karena terkubur kentang. Benar-benar cara mati yang “kentang”.  Ini bukan suguhan campy, sebutlah seperti Attack of the Killer Tomatoes (1978). Baik naskah buatan Agam Suharto maupun penyutradaraan Rizal Mantovani memposisikan serbuan kentang sebagai hal serius, kelam, mengerikan. Masalahnya, semakin dianggap serius pemandangan tersebut semakin konyol. Apakah karena orang tua Sofie petani kentang ototmatis membuat kentang jadi senjata sang hantu? Kasihan sekali hantu kita ini.

Soal menakut-nakuti, sebenarnya saya mencium niat baik dari naskah buatan Agam Suharto, yang menolak terlampau sering mengeksploitasi jump scare. Tapi di saat bersamaan, tidak ada “ganti rugi” yang ditawarkan, entah misteri, atmosfer, atau creepy imageries. Hasilnya adalah perjalanan membosankan yang berulang kali membuat saya terlelap selama sepersekian detik. Padahal ada modal menjanjikan berupa tata rias mumpuni bagi para makhluk halus, pula senyum menyeramkan Luna Maya.

Satu-satunya usaha merangkai alur yang Agam lakukan hanya menghilangkan satu demi satu anak Adrian dan Sofie, yang disajikan repetitif. Salah satu anak hilang, orang tuanya mencari di sekeliling rumah, sampai di gudang tempat belanga raksasa disimpan, menyadari anak mereka hilang di situ, lalu ditutup oleh jeritan pilu Luna Maya sedangkan Christian Sugiono sibuk menendang kentang-kentang di lantai. Terus ulangi saja pola ini sampai lebaran kentang.

Ketika Nina (Davina Karamoy) si puteri sulung hilang, pihak kepolisian berjanji bakal melakukan pencarian intensif di hutan. Kita tidak pernah melihat pencarian itu terjadi. Faktanya, naskah film ini sering melupakan poin-poin yang diperkenalkan beberapa saat sebelumnya. Semisal karakter Dadang (Epy Kusnandar). Awalnya, ia tampak misterius, seram, pelit bicara. Sampai di kemunculan kedua, saat ia bicara dengan Uwak (Jajang C. Noer), sosoknya berubah. Lebih ramah, lebih manusiawi, lebih banyak menyimpan rasa takut. Inkonsisten. Sama inkonsistennya dengan penokohan Adrian, seorang penulis novel horor berpengalaman yang sangat bodoh sampai bisa begitu mudah termakan tipu daya setan.

Saya bosan dengan formula Rocky Soraya, itu betul. Tapi setidaknya tak ada dorongan untuk terlelap, dan hanya butuh beberapa modifikasi sebagai penyegar. Di Rumah Kentang: The Beginning, sentuhan gore khas Rocky di klimaks berhasil meningkatkan intensitas. Peningkatan yang datang sangat terlambat. Saya sudah terlanjur tidak sabar ingin melangkah keluar dari studio. Lebih baik saya makan kentang rebus atau mashed potato.

MATA BATIN 2 (2019)

Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist, hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.

Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus. Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan baku twist khas opera sabun.

Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci jawaban misteri kematian Abel.

Di sana pula Alia bertemu Nadia (Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali. Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.

Tata suara garapan Khikmawan Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.

Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera cepat,  lalu ditutup banjir darah”, mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2 begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di ingatan begitu durasi berakhir.

Metode menumpahkan darahnya pun serupa, di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.

Sialnya, keberhasilan parade kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan sebagai scream queen tak kuasa menolong konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan harapan tersebut jadi kenyataan.

SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR (2018)

Judul film ini terdengar seperti gabungan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil inspirasi dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jika muncul pernyataan bahwa easter egg di atas adalah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala membuat “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar usaha tak tahu malu guna mengeruk uang. Ini adalah ode yang menunjukkan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan sempurna sebagai sang ratu horor. Dalam wujud manusia (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya bak kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat bak noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna adalah pemandangan adiktif yang membuat saya lupa, jika butuh beberapa lama sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya saat setelah tujuh tahun, momongan yang dinanti akhirnya tiba. Tapi jika mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada tragedi bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka memutuskan merampok rumah Satria setelah permintaan naik gaji ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, lalu menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah baru bermimpi buruk seperti biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibuat berdasarkan cerita buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melakukan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur berdasarkan aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu adalah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan absurd yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang komedian berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul seperti Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana dapat kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna memeriksa seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk memperlihatkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara mewah menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak akibat lemahnya performa aktor utama.

Bentuk modernisasi lainnya adalah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, lalu sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai mobil atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala memperlihatkan setan yang punya peran cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia nyata kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap wanita dari hukuman, menyaksikan mereka menerima penghakiman di sini jelas menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin karena sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, karena Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat telinga dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya dapat menyebabkan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu peristiwa (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, berbagi kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya memutuskan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menyebabkan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak langsung muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu lama di satu momen sampai intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....

SABRINA (2018)

Ada tiga jenis template. Pertama, yang diulang karena digandrungi publik. Kedua, yang diulang karena disukai pembuatnya kemudian menjadi gaya. Ketiga, yang diawali jenis kedua, tapi begitu laris manis, pengulangannya dilakukan atas dasar poin pertama. Rocky Soraya rasanya masuk jenis ketiga. The Doll (2016) memberinya tempat menumpahkan segala elemen favoritnya (trik ala James Wan bertemu banjir darah), tapi begitu lebih dari 550 ribu penonton sukses didapat, tiada alasan meninggalkan usungan formula itu. Apalagi setahun berselang, Mata Batin dan The Doll 2 masing-masing menembus angka 1,2 juta penonton.

Saat banyak pihak memuji Mata Batin, saya justru sampai pada titik jenuh, sebab Rocky mulai repetitif. Karyanya selalu dibuka oleh first act lambat minim penampakan—yang mana langkah berani dan patut diapresiasi—berlanjut ke second act berupa deretan jump scare medioker, hingga ditutup klimaks berdarah-darah. Sabrina, selaku spin-off seri The Doll yang makin memperlihatkan ambisi Rocky mengikuti jejak James Wan dengan seri The Conjuring, memakai pola sama. Tapi kentara terdapat perbaikan di sana-sini. Belum menyeuruh, namun satu langkah kecil jauh lebih berarti daripada keengganan melangkah.

Maira (Luna Maya) pun melangkah maju ketika menikahi Aiden (Christian Sugiono), meninggalkan tragedi dalam The Doll 2 di masa lalu. Keduanya belum dikaruniai momongan, tapi ada Vanya (Richelle Georgette Skornicki), keponakan Aiden yang mereka rawat pasca kedua orang tuanya meninggal. Mencuri hati Vanya yang masih selalu merindukan mendiang ibunya tidaklah mudah. Karena itu, Maira memberikan boneka Sabrina edisi kedua yang khusus dibuat Aiden (dia pemilik pabrik mainan) untuk mengenang Kayla, puteri Maira yang sudah tiada. Harapannya, sebagaimana Sabrina edisi pertama dahulu bagi Kayla, boneka baru ini bisa menemani sekaligus menguatkan Vanya.

Memasuki kemunculan keduanya, desain Sabrina makin mengerikan, yang berarti, semakin tak logis bila disukai bocah. Sepertinya sekarang adalah waktunya kita menyimpan rapat-rapat ekspektasi melihat boneka Sabrina yang lebih “masuk akal”. Bedanya, kali ini boneka itu tidak langsung menjadi sumber masalah, melainkan permainan memanggil arwah bernama Pensil Charlie, yang Vanya pakai guna bertemu arwah sang ibu. Bisa ditebak, justru sosok gaib jahat yang hadir. Baghiah namanya. Salah satu anak iblis. Apakah ia mempunyai hubungan darah dengan Ghawiah dari The Doll pertama? Entahlah.

Paruh awalnya dibungkus tempo cukup lambat pula minim teror, yang sayangnya urung ditunjang naskah solid di tatanan drama, sehingga pondasi kisah kekeuargaan serta gejolak batin si paranormal, Laras (Sara Wijayanto), yang kini telah menikahi sesama paranormal bernama Raynard (Jeremy Thomas), berakhir lemah. Gagal pula usahan menyentuh hati lewat porsi drama tersebut, walau untuk subplot mengenai Laras, akting kurang meyakinkan Sara Wijayanto turut jadi penyebab.

Singkat cerita, bermain Pensil Charlie membuat Vanya mampu berkomunikasi dengan sang ibu, atau tepatnya, sosok yang ia percaya merupakan sang ibu. Khawatir akan kondisi bocah itu, Maira dan Aiden sepakat berlibur bertiga. Liburan itu juga titik balik filmnya, di mana tempo dipercepat, sementara teror mulai menyergap. Kali ini, Rocky dibantu tim efek spesialnya berkenan memutar otak demi variasi. Beberapa trik memikat, dari adegan “Edward Mordrake-esque” sampai “kesurupan pertama” menyita atensi saya. Beberapa kali bulu kuduk berdiri, bukan karena seram, melainkan dipicu kekaguman atas aspek teknisnya. Those weren’t scary, yet fun and highly admirable. Dipadu kemampuan sutradara memancing intensitas melalui nuansa chaotic, jadilah Sabrina suatu perjalanan seru. Bila diibaratkan musik, Rocky bak tengah menggeber musik rock beroktan tinggi.

Selain faktor teknis, repetisi turut diminalisir oleh naskah karya Fajar Umbara (Comic 8, The Doll 2) dan Riheam Junianti (The Doll 2, Mata Batin) lewat disertakannya beragam lokasi, yang berujung menyediakan beragam metode berbeda pula untuk meneror. Pantai, penginapan, pabrik, dan pastinya rumah. Setidaknya terjadi pergantian suasana sehingga mata kita takkan lelah, walau dari alur, naskahnya sendiri seperti carbon copy dari seri-seri sebelumnya, termasuk twist-nya.

Mencapai klimaks, Sabrina seolah kehabisan amunisi trik, ditambah kerap terlampau panjang di banyak titik. Kita diajak berdiam terlalu lama mendengar Laras dan Raynard merapal mantra berupa puja-puji terhadap Yang Maha Kuasa, sama seperti first act-nya yang terus-terusan menyeret kita melihat Vanya menjalankan aplikasi pendeteksi han...maaf, maksud saya entitas. Rocky dan tim bukannya menyerah begitu saja. Tampak usaha menambah varian peristiwa melalui bumbu aksi yang sayangnya, tanpa koreografi mumpuni, plus lagi-lagi performa kurang meyakinkan Sara Wijayanto mengayunkan senjata. Sebaliknya, Luna Maya terlihat bersenang-senang melakoni akting kesurupan gila nan over-the-top sebagaimana dalam The Doll 2.

Beberapa kelemahan sudah teratasi, kini pekerjaan rumah Rocky Soraya tinggal terus mengeksplorasi variasi trik jump scare dan tusuk-menusuk supaya tidak stagnan, mencari naskah dengan pondasi solid, dan bersedia memadatkan momen-momennya agar tak kehilangan momentum. Sebab konklusinya, yang berusaha menutup kisah di nada melodrama, pun tidak kalah berlarut-larut bagai akan berjalan selamanya. Namun seperti saya ungkapkan, Sabrina memang bukan lompatan, melainkan langkah, yang meski kecil, asalkan konsisten berjalan ke depan, bukanlah suatu persoalan. 

MATA BATIN (2017)

Sinema horor tanah air sedang marak oleh karakter dengan kemampuan melihat makhluk halus. Diawali Mereka Yang Tak Terlihat yang mengedepankan drama keluarga, diikuti Keluarga Tak Kasat Mata yang entah maunya apa, kini Mata Batin memilih meletakkan fokus pada penelusuran sisi supranatural yang didukung keterlibatan parapsikolog Citra Prima sebagai pemeran pendukung. Jarangnya perjalanan menyelami dunia lain demi memahami seluk-beluk mistik dalam film kita memberi potensi pembeda, yang sayangnya, kembali dikalahkan obligasi menyajikan repetisi trik-trik teror murahan, meruntuhkan perbedaan tersebut. 

Bersama Davin (Denny Sumargo) sang kekasih, Alia (Jessica Mila) memilih pulang dari merantau di Thailand pasca kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, demi menjaga adiknya, Abel (Bianca Hello). Gagasan kembali ke rumah masa kecil tidak Abel sambut positif, sebab di situlah pernah terjadi peristiwa traumatis, tatkala sesosok makhluk halus menyerangnya. Abel sendiri mampu melihat yang tak terlihat karena mata batinnya terbuka sejak lahir. Menolak percaya, Alia meminta Windu (Citra Prima), seorang paranormal, membuka mata batinnya. Tidak butuh waktu lama sampai Alia mengalami teror serupa Abel, yang makin lama makin berbahaya.
Dwilogi The Doll membawa Rocky Soraya menuju kemantapan gaya, yang dia terapkan pula di Mata Batin. Kekerasan berdarah di mana sekali tusukan pisau takkan cukup merenggut nyawa manusia tetap menjadi titik tertinggi, meski kali ini porsinya tak mendominasi babak akhir. Begitu juga pengadeganan berbasis kekacauan suasana yang mengandalkan gerak kamera dinamis garapan Asep Kalila, kolaborator langganannya sedari The Doll. Setidaknya Mata Batin tampil berenergi berkat kedua aspek itu, sekaligus memunculkan harapan, suatu hari kelak Rocky berminat membuat film slasher.

Bersenjatakan energi sedemikian tinggi, Mata Batin ibarat manusia dengan raga solid. Namun tidak jiwanya, ketika cara menakut-nakuti Rocky masih berkutat di metode penampakan gamblang bersuara berisik, ditambah desain hantu yang menganggap bahwa kengerian berbanding lurus dengan kerusakan wajah. Bisa efektif untuk beberapa penonton, tapi saat pengulangan-pengulangan ngotot dipertahankan, timbul kelelahan juga kebosanan. Pun klimaks "dunia lain" miliknya hadir tumpul bagai rumah hantu pasar malam murahan. Sial bagi Rocky, jump scare terbaik yang melibatkan kain putih belum lama ini sudah kita temui dalam Pengabdi Setan, sehingga dampaknya tidak sekuat harapan. 
Citra Prima menuturkan rangkaian pemahaman terkait aturan serta ragam sisi alam gaib dan mata batin. Menarik disimak, tapi kesan "sekilas info" gagal ditampik karena kurang piawaianya duo penulis skenario, Fajar Umbara dan Riheam Junianti, menyusun informasi-informasi berharga tersebut menjadi struktur alur yang bisa membedakan Mata Batin dengan judul-judul bertema serupa di atas. Mengenai beberapa twist, naskahnya pun kedodoran. Ada yang meninggalkan setumpuk lubang logika menganga, ada pula yang bagai kurang akal dalam caranya mengungkap fakta (identitas perampok bertopeng). 

Mata Batin sama sekali tidak buruk. Jessica Mila mulus merespon ragam situasi menyeramkan yang Alia alami, bukti dirinya pantas diberi proyek berkelas pasca rentetan film buruk sejak Pacarku Anak Koruptor. Seperti umumnya produksi Hitmaker Studios, tata artistik Mata Batin cukup memuaskan mata, termasuk segelintir efek visual yang walau jauh dari kata sempurna, sama sekali tidak memalukan. Mata Batin is not an embarassing effort, just repetitive, uncreative, and frustratingly boring. 

THE DOLL 2 (2017)

Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling ditunggu karena potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali animo publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan adalah The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan karakter paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah sejak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan lalu lintas yang secara logika mustahil terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri memakai boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk akal jadi mainan anak dan membuat Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya cerita sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter spesialis kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain cerita saat kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa perjuangan seorang ibu menghadapi duka kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau akhirnya kesan draggy tetap menyeruak akibat tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil tusukan berantai atau benturan ke beragam benda, di tangan Rocky tubuh manusia dijadikan target kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup lama (sekitar 30 menit), third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 


Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE