Tampilkan postingan dengan label Rako Prijanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rako Prijanto. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KAMBODJA

Saya sangat ingin menyukai Kambodja. Karya terbaru sutradara Rako Prijanto ini cukup menyegarkan, mengingat romansa dewasa tergolong jarang mengisi perfilman kita. Pun keputusannya "meminjam" beberapa gaya Wong Kar-wai jadi pernak-pernik yang menarik. Sayang, setumpuk potensi miliknya lebih banyak berguguran ketimbang bermekaran. 

Anda tidak salah baca. Kambodja merupakan upaya Rako dan Anggoro Saronto (penulis naskah) untuk memindahkan karya Wong Kar-wai ke latar Indonesia. Khususnya In the Mood for Love (2000). Karakter dengan profesi jurnalis, perselingkuhan, pertukaran pasangan, pemakaian gerak lambat, rantang makanan, mahjong, semua ada. Bahkan ending-nya juga berlatar "kamboja", walau punya pemaknaan berbeda (konon terinspirasi dari lagu Menanti Di Bawah Pohon Kemboja milik Nien Lesmana). 

Jakarta 1955, Danti (Della Dartyan), seorang pustakawan, baru pindah ke kos baru bersama sang suami, Sena (Revaldo), yang jadi petinggi sebuah partai politik. Menilik latar waktunya, walau tak pernah disebut secara gamblang, mudah ditebak partai apa yang dimaksud. Pasutri lain, Bayu (Adipati Dolken) si penulis dan Lastri (Carmela van der Kruk) si biduan adalah tetangga mereka. 

Kesampingkan iklim politiknya, pengembangan alur Kamodja kurang lebih serupa dengan In the Mood for Love. Hubungan para pasutri memburuk, sampai kesepian mendekatkan Danti dan Bayu. Seperti Wong Kar-wai pula, naskah buatan Anggoro Saronto bertutur bak keping-keping memori, yang lebih disatukan oleh aliran rasa.

Masalahnya, dalam usaha untuk tetap terasa "pop", Kambodja masih mengutamakan gaya bercerita konvensional (bukan berbasis vibe), yang mana membutuhkan keteraturan narasi. Tatkala jembatan-jembatan penghubung antar momen kerap ditiadakan, hasilnya adalah drama bertempo lambat, namun dengan progresi alur buru-buru yang sering terkesan "patah". 

Naskah juga kerepotan menyeimbangkan romansa dan politik. Apakah politik sebatas latar pembangun suasana? Tidak juga, sebab elemen itu berpengaruh besar di pengembangan cerita. Tapi eksplorasinya cenderung dangkal. Di paruh akhir, Bayu berkata pada Danti bahwa ia mengalami perubahan idealisme, tak lagi fanatik memuja satu paham dan figur. Tapi seperti apa pastinya idealisme Bayu, luput dipaparkan. Penokohannya pun jadi lemah.

Danti sendiri bukan karakter yang "matang", tapi Della membuatnya bagai magnet. Kambodja ingin tampil elegan, dan Della mendefinisikan "elegan". Kala mendapati Bayu diam-diam menulis cerita berdasarkan hubungan mereka, ia marah. Tidak secara meletup-letup. Della menahannya, dan kita bisa melihat gradasi emosinya, dari susah payah menekan amarah, lalu perlahan semakin tenang. Semua tampak dari emosi dan permainan napas. 

Mengambil latar 50an, departemen artistik Kambodja cukup menarik disimak. Memang ada kalanya para pemain kelepasan, berbicara layaknya manusia modern, tapi jumlahnya masih bisa dimaafkan. Sedangkan di departemen musik, sangat kentara keinginan Rako untuk mereplikasi gaya Michael Galasso di In the Mood for Love melalui orkestra mendayu dan beberapa sampling musik klasik (Air on the G String milik Bach, Clair de lune milik Debussy). Indah di telinga, meski pemakaiannya agak berlebih, sampai terkadang menenggelamkan dialog.

Kekurangan dalam pengarahan Rako adalah, ia tak mampu mengimbangi keindahan audio dengan visual sebanding. Misal sebuah momen romantis nan intim beriringkan Clair de lune. Datar, kurang impactful. Kambodja berambisi tampil estetis, namun tanpa sense yang memadai dari para pembuatnya. 

(Klik Film)

REVIEW - WARKOP DKI REBORN 4

"Nongkrong di warung kopi, Nyentil sana dan sini

Sekedar suara rakyat kecil, Bukannya mau usil"

Begitu bunyi lirik lagu Obrolan Warung Kopi milik Warkop DKI, yang menyiratkan peran mereka, yang bukan sebatas pelawak biasa, melainkan tukang sentil sana-sini yang mewakili keresahan rakyat melalui banyolan. Atas nama modernisasi, esensi tersebut memudar, bahkan nyaris sepenuhnya lenyap, sejak proyek reborn pertama diluncurkan empat tahun lalu. Modernisasi salah kaprah, yang cuma meng-upgrade gaya, biaya, serta teknologi, tapi tidak humor, apalagi sentilannya.

Bahkan setelah Warkop DKI Reborn 3 (2019) mengganti sosok-sosok yang terlibat, baik di depan maupun belakang layar, hasilnya masih sama, kalau tidak lebih buruk. Perolehan jumlah penonton yang menurun drastis (sekitar 843 ribu) seolah membuktikan bahwa publik sudah lelah dengan proyek reborn, yang alih-alih “melahirkan kembali”, justru terasa asing ini.

Melanjutkan kisah film sebelumnya, trio Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), dan Indro (Randy Nidji) terlibat petualangan di Maroko, guna menyelamatkan Inka (Salshabilla Adriani). Dibantu gadis setempat, Aisyah (Aurora Ribero), ketiganya mesti menghadapi barisan penjahat, termasuk bos mafia bernama Aminta Bacem, yang diperankan oleh “kembaran” Amitabh Bachhan, Rajkumar Bakhtiani. Memang Rajkumar sangat mirip dengan sang aktor legendaris, tapi di luar itu, tidak ada kualitas apa pun yang ia tawarkan.

Apakah kalian ingat alasan Dono-Kasino-Indro sampai di Maroko? Apakah kalian ingat kalau semua kekacauan ini bermula saat Komandan Cok (Indro Warkop) merekrut mereka untuk membongkar praktek pencucian uang di industri film yang dilakukan oleh Amir Muka (Ganindra Bimo)? Wajar jika tidak. Sebab naskah buatan sutradara Rako Prijanto dan Anggoro Saronto membuang persoalan di atas.

Selama sekitar 103 menit, Warkop DKI Reborn 4 hanya meninggalkan satu poin: Trio protagonisnya harus menyelamatkan Inka. Perjalanan 103 menit yang dibungkus penceritaan berantakan, di mana satu adegan dengan adegan berikutnya, dipaksakan saling berkaitan, atau malah tanpa kaitan sama sekali. Penyuntingan buruk yang menciptakan transisi-transisi kasar pun semakin menambah sakit kepala kala menonton.

Kelemahan itu sejatinya bisa disangkal dengan opini, “film Warkop DKI bukan soal kerapian bercerita”. Tidak salah. Tapi bagaimana terkait kemampuannya menghibur lewat perpaduan aksi dan komedi? Rako bukan sutradara yang piawai mengolah aksi. Tentu saja saya mengatakan itu bukan didasari keinginan melihat laga sekelas The Raid, melainkan ketiadaan antusiasme. Eksekusinya tak bertenaga.

Sedangkan humornya, meski masih dibarengi efek suara konyol ala sinetron murahan, dan lebih sederhana (baca: kurang kreatif) dibanding film-film sebelumnya (Dua seri Jangkrik Boss dengan keanehan khas Anggy Umbara, Warkop DKI Reborn 3 dengan visualisasi lawakan dari kaset Warkop DKI), masih bisa memancing beberapa tawa berkat penampilan trio aktor utama. Adipati bukanlah Kasino. Setidaknya, akan sulit baginya meniru cara bicara Kasino. Sesuatu yang ia sadari, sehingga memilih fokus pada gestur dan ekspresi jenaka. Aliando, biarpun diganggu riasan buruk, mampu meneruskan pencapaian Abimana dalam menghidupkan kembali sosok Dono di layar lebar. Sedangkan Randy lebih subtil, namun jika ditanya, “Siapa yang paling mirip luar-dalam dengan Warkop DKI asli?”, saya bakal menyebut namanya.

Sayang, performa mereka jadi tak maksimal akibat materi yang hit-and-miss, pula kental seksime. Benar bahwa film-film Warkop DKI rilisan Soraya tampil serupa, tapi bukan berarti harus diikuti. Bukankah ini modernisasi? Hal-hal seperti inilah yang mestinya mendapatkan upgrade. Bukan skala, teknologi, apalagi penambahan twist tak perlu yang seolah jadi suatu keharusan agar sebuah film dipandang “keren”.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

TEMAN TAPI MENIKAH 2 (2020)

Ketika film romansa kita sedang jatuh hati pada adaptasi Wattpad dengan judul-judul absurd, gombalan puitis, serta tipikal bad boy yang semakin lama justru makin bergeser ke arah brengsek ketimbang keren, Teman tapi Menikah, yang merupakan film Indonesia favorit saya tahun 2018 lalu, menelurkan sekuelnya, lalu memperlihatkan definisi romantisme yang sebenarnya. Berbagi tawa dan rasa, bukan cuma kata-kata tanpa nyawa atau drama sarat hiperbola.

Walau peran Ayu berpindah ke tangan Mawar de Jongh yang menggantikan Vanesha Prescilla, kedua tokoh utamanya masih sama. Mereka masih Ditto (Adipati Dolken) dan Ayu yang akan merinding jijik saat mendengar gombalan, walau dorongan untuk saling bersikap manja selalu ada. Begitulah bentuk hubungan “teman rasa pacar, pacar rasa teman”. Tapi kini sepasang teman itu sudah menikah. Teman tapi Menikah 2 bukan lagi tentang susahnya mencintai teman, walau kesan tersebut tetap bisa dirasakan kala mendengar keduanya berinteraksi secara kasual, yang justru memberi romantisme tersendiri.

Ditto dan Ayu ingin menikmati masa bulan madu terlebih dulu, namun belum sempat itu terlaksana, Ayu terlanjur hamil. Pengaruh hormon ditambah ketakutan akan kehamilan membuat Ayu sering marah-marah, dan respon Ditto tidak mempermudah keadaan. “Gua nggak tahu salah gua apa”, ungkap Ditto kepada rekan-rekan bandnya. Mungkin laki-laki memang sebodoh itu, kesulitan memahami kondisi fisik dan mental (yang saling berkaitan) dari ibu hamil.

Naskah buatan Johanna Wattimena (Teman tapi Menikah, Sin, The Way I Love You) sayangnya tidak memperdalam urusan itu. Ketimbang membawa Ditto sepenuhnya melewati proses pemahaman, ia berulang kali terlalu gampang “lolos” dari permasalahan. Setidaknya ketiadaan elemen itu bukan diakibatkan kelalaian, melainkan kesengajaan demi memberi ruang pada tuturan lain, yakni tentang hubungan suportif pasangan suami-istri kala menghadapi kehamilan.

Meski pemaparannya ringan dan tidak semuanya dieksplorasi secara memadai, naskahnya mampu mencakup berbagai permasalahan dalam pernikahan secara umum, maupun fase kehamilan secara khusus. Kekhawatiran seorang ibu mendapati perubahan fisik, suami yang terpaksa merelakan waktu bersama teman-teman, campur tangan orang tua, pilihan metode persalinan, dan lain-lain.

Kalau mencari penelusuran kompleks, mungkin anda bakal kecewa, tapi jika romansa ringan kaya rasa yang diinginkan, sebagaimana pendahulunya, Teman tapi Menikah 2 adalah juaranya. Interaksi “suami-istri-rasa-teman” Ditto dan Ayu tidak pernah gagal menghadirkan senyum. Entah senyum karena tergelitik, senyum karena gemas, atau senyum karena membayangkan hubungan semanis itu (akan atau sedang) kita jalani. Naskahnya jago memproduksi kata, sedangkan kedua pemeran utama lihai melontarkannya.

Bagi Ditto, pernikahan ini adalah mimpi yang jadi nyata setelah menunggu 13 tahun (walau nantinya kita tahu bahwa Ayu pun sama saja), dan sepanjang film, Adipati berhasil memperlihatkan tatapan berbinar dan senyum lebar dari kebahagiaan seseorang yang impiannya terwujud. Sementara Mawar—yang secara fisik pun lebih punya kemiripan dengan Ayudia dibanding Vanesha—mampu memberi pendewasaan terhadap karakternya, walau tetap menampilkan kemanjaan-kemanjaan yang tak mungkin gagal meluluhkan, bukan cuma hati Ditto, juga penonton.

Adipati dan Mawar punya dinamika luar biasa, sehingga inkonsistensi terkait pacing, di mana beberapa momen bergulir terlalu lama, tidak menjadi persoalan fatal. Penceritaan Rako Prijanto selaku sutradara memang tidak semulus di film pertama, tapi sensitivitasnya tidak berkurang. Terbukti dari kesuksesannya merangkai klimaks emosional, yang menyertakan suasana sakral lewat alunan mantra Tvameva Mata. Teman tapi Menikah 2 mengajak penonton tertawa, berbahagia bersama mereka, dalam sebuah tuturan cinta yang membuat kita ikut jatuh cinta.

PEMBURU DI MANCHESTER BIRU (2020)

Berdasarkan buku non-fiksi berjudul sama buatan Hanif Thamrin, Pemburu di Manchester Biru berusaha menuturkan kisah inspiratif. Mengapa inspiratif? Sebab Hanif merupakan orang Indonesia pertama yang bekerja di kelab sepak bola Inggris, Manchester City. Sebagai apa? Indonesian Content Producer. Apa detail pekerjaannya? Kurang jelas. Apa kemampuan terbaik Hanif? Juga kurang jelas. Jangankan inspiratif, akibat ketidakjelasan tersebut, memedulikan perjuangan tokoh utamanya saja sulit.

Sejak awal kita diperlihatkan bagaimana Hanif (Adipati Dolken) kesulitan mencari pekerjaan setelah pendidikannya di London usai. Walau tanpa pekerjaan, kesulitan uang, dan harus terus menumpang di apartemen milik sahabatnya yang kaya, Pringga (Ganindra Bimo), Hanif menolak pulang ke Indonesia sebelum menepati janji kepada mendiang ayahnya (Donny Alamsyah). Lau kesempatan datang saat ia diterima bekerja di Manchester City, dan gerbang terwujudnya mimpi Hanif menjadi jurnalis pun terbuka, meski jalan terjal masih harus ditempuh.

Di sebuah flashback, Hanif kecil mengerjakan tugas sekolah tentang cita-cita, lalu sang ayah mengatakan bahwa menjadi orang baik juga sebuah cita-cita. Kisahnya, yang diadaptasi ke dalam naskah oleh Titien Wattimena (Dilan 1990, Aruna & Lidahnya), memaparkan perjalanan Hanif menjadi orang baik. Walau sempat jatuh kala diperlakukan keras oleh atasan, Hanif akhirnya merespon positif, termasuk bersikap ramah dengan membuatkan makanan untuk si atasan. Bukan pesan yang buruk, tapi itu saja tidak cukup. Hanif harus terbukti kompeten agar perjuangannya patut didukung.

Tapi, selain keputusan membuat akun YouTube, tidak banyak keunggulan dipamerkan protagonisnya. Justru ia banyak mendapat kemudahan berkat orang-orang di sekitarnya, yang tetap setia mengulurkan bantuan, bahkan ketika Hanif kerap bersikap egois di tengah keputusasaannya. Begitu memperoleh kesempatan, ia justru membuangnya akibat tindakan ceroboh. Jangan pula berharap mendapat gambaran lebih jauh mengenai profesi Hanif, karena Pemburu di Manchester Biru merupakan film mengenai tokoh yang bekerja di kelab sepak bola namun jarang membicarakan sepak bola maupun detail pekerjannya.

Setidaknya Pemburu di Manchester Biru masih cukup tertolong berkat departemen teknis juga penyutradaraan Rako Prijanto (Teman tapi Menikah, Warkop DKI Reborn) yang memadai. Selain penanganan pacing yang baik—sehingga biarpun naskahnya dangkal film ini tetap nyaman diikuti layaknya catatan harian yang menghibur—Rako pun bisa mengemas filmnya supaya terlihat lebih mahal dari seharusnya. Salah satu “manipulasi” tersebut diterapkan dalam beberapa adegan berlatar Stadion Etihad. Jika teliti, anda akan tahu kalau itu bukan Etihad, melainkan Loftus Road milik Queens Park Rangers, tapi “kepalsuan” itu takkan mudah dideteksi.

Akting para pemainnya juga ikut membantu. Adipati Dolken punya kenaturalan dalam menangani kalimat dan emosi, sementara Ganindra Bimo menghibur dengan penampilan berenerginya. Sedikit kejutan hadir dari pemeran sosok legendaris Les “Chappy” Chapman (maaf, saya melupakan namanya). Biasanya, aktor pendukung bule di film kita, hadir dengan performa kaku, tapi tidak dengannya, yang menghembuskan kehangatan di tengah dinginnya rekan-rekan kerja Hanif. Sayangnya, sebagai biografi seorang figur yang karirnya sempat ramai diperbincangkan, Pemburu di Manchester Biru juga terasa dingin.

WARKOP DKI REBORN (2019)

Selucu-lucunya film klasik Warkop DKI, rasanya semua setuju kalau media audio, yang dulu banyak beredar dalam rekaman kaset, lebih mewadahi kelucuan mereka (silahkan cari di YouTube dan siap-siap sakit perut). Dalam proyek Reborn ketiga—yang tidak mengusung embel-embel “Part 3”—ini, terdapat usaha memvisualisasikan humor verbal Warkop, yang malah menegaskan ketidakcocokan alih media tersebut. Bahkan secara keseluruhan, Warkop DKI Reborn mungkin pertanda bahwa regenerasi Warkop DKI bukan ide yang baik.

Saya selalu tergelak mendengar banyolan “Marga Batak”, tapi kala filmnya menerjemahkan itu ke layar, biarpun intensinya selaku penghormatan patut diapresiasi, tawa tak juga hadir. Selipan humor-humor Warkop lain pun bernasib sama. Apalagi sewaktu secara beruntun, naskah buatan  Anggoro Santoro (Sang Kiai, Bangkit!, Cahaya Cinta Pesantren) bersama sutradara Rako Prijanto (Sang Kiai, Teman Tapi Menikah, Asal Kau Bahagia) bergantung pada lawakan pervert ala film Warkop produksi Soraya era 90-an.

Ide ceritanya sendiri menarik, yaitu perekrutan trio penyiar radio, Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), Indro (Randy Danistha) oleh Komandan Cok (Indro Warkop) untuk menjadi agen rahasia guna menyibak praktek pencucian uang di industri perfilman tanah air. Jadilah mereka terlibat proyek film buatan rumah produksi milik Amir Muka (Ganindra Bimo), menyulut kekacauan di set, lalu bersinggungan dengan aktris cantik bernama Inka (Salshabilla Adriani).

Sampai di sini, semuanya berjalan lancar, hingga Warkop DKI Reborn memutuskan melebarkan sayap dengan memperbesar skala. Tidak main-main, filmnya membawa Dono-Kasino-Indro berpetualang ke Maroko, bahkan membantu melindungi desa asal gadis setempat (Aurora Ribero) yang dihantui ancaman bandit. Sejak dulu plot film Warkop memang selalu bercabang pula dikemas bak sketsa, tapi fokusnya terjaga, alih-alih terkesan melupakan tema besarnya seperti ini.

Pergantian latar ekstrimnya memang memfasiliasi humor klasik menggelitik soal “Bahasa Arab” hingga nomor musikal absurd Ummi, namun di saat bersamaan, melucuti potensi presentasi kritik tentang industri film. Apalagi sewaktu kisahnya dipaksa berakhir di tengah-tengah, karena (lagi-lagi) Falcon Pictures memilih memecah filmnya menjadi dua bagian.

Padahal pergantian pemeran trio Dono-Kasino-Indro di luar dugaan memberi hasil positif. Adipati tampak lebih natural dan santai ketimbang Vino dalam memerankan Kasino si playboy mulut besar, Randy punya tampilan lebih mirip Indro dibanding Tora, sedangkan Aliando—sebagaimana Abimana—muncul sebagai MVP. Riasan giginya memang mengganggu, tapi baik suara maupun gestur, Aliando berhasil mereplikasi anggota Warkop DKI favorit saya itu.

Penyutradaraan Rako Prijanto juga mengungguli Anggy Umbara berkat gaya yang lebih “sederhana”, biarpun banyaknya penggunaan efek suara konyol layaknya sketsa televisi murahan justru melemahkan daya bunuh komedi, selain menurunkan kelas filmnya. Beberapa kreativitas humornya, sebutlah parodi film-film populer Indonesia, memang mampu memancing senyum. Tapi saya butuh lebih dari sekadar senyum. Saya membutuhkan tawa, yang sayangnya jarang diproduksi oleh Warkop DKI Reborn.

ASAL KAU BAHAGIA (2018)

Asal Kau Bahagia dibuat berdasarkan lagu berjudul sama milik Armada, nomor pop catchy bernuansa mellow yang mengajak pendengarnya meratapi cinta. Filmnya pun dikemas dalam bentuk serupa. Melodrama ringan yang mengajak penontonnya meratapi cinta, meski sayangnya, tak punya cukup daya untuk menyetir rasa biarpun tetap jadi suguhan nikmat di ranah kisah cinta remaja.

Alurnya langsung merangsek menuju persoalan utama, ketika Aliando alias Ali (Aliando Syarief) terlibat kecelakaan lalu lintas di tengah perjalanannya menemui sang kekasih, Aurora (Aurora Ribero). Ali koma, namun jiwanya masih berkeliaran layaknya manusia biasa, walau tak ada yang mampu melihatnya. Dia pun tak mampu menyentuh orang lain. Tanpa disangka, menjadi sosok tak terlihat justru membuka jalan baginya memahami isi hati Aurora, yang diam-diam telah enam bulan berselingkuh dengan Rassya (Teuku Rassya).

Ali hanya bisa memandang tak berdaya. Hatinya remuk, sementara saya bertanya-tanya, “Kalau ia bisa menyentuh barang, kenapa ia tidak menulis pesan guna memberitahukan kondisinya kepada Aurora?” Hal itu bakal menghemat waktu, tapi kita film ini takkan eksis. Beruntung, sahabatnya, Dewa (Dewa Dayana), bisa melihat Ali, lalu bersedia membantunya menguntit Aurora guna menyelidiki kebenaran hubungannya dengan Rassya.

Mengacu pada trailer, kita tahu bahwa nantinya, Dewa menjadi perantara komunikasi dua tokoh utama. Momen itu urung terjadi hingga jelang paruh akhir. Kembali, hal tersebut niscaya menghemat waktu, namun meniadakan kesempatan kita menikmati interaksi menghibur Ali-Dewa. Dewa adalah sosok “kawan-konyol-tapi-setia” yang kerap kita temui di film-film serupa. Ketepatan timing komedik Dewa Dayana, pula chemistry solid bersama Aliando, menghasilkan buddy comedy yang efektif memancing tawa.

Aurora adalah gadis populer, dan itu kerap memancing Ali mempertanyakan alasannya bersedia memacari pria introvert sepertinya. Tapi tak sekalipun terlihat introversi Ali maupun bagaimana ketertutupan itu mengganggu Aurora. Mungkin, naskah karya Aline Djayasukmana (Gila Lu Ndro) bersama sang mentor, Upi (Teman Tapi Menikah, Sweet 20), hendak menempatkan penonton di posisi Ali, yang tak menyadari ketidakbahagiaan sang kekasih. Namun ada perbedaan antara “menyamakan perspektif” dengan keluputan eksplorasi. Asal Kau Bahagia termasuk jenis kedua.

Alhasil, saat Rassya menyulut api asmara di hati Aurora, sulit memahami alasannya. Anda bisa berargumen bahwa cinta tidak butuh alasan. Cinta terjadi begitu saja, datang dan pergi seperti mendung. Masalahnya, film ini sendiri coba menjabarkan alasan itu, yang gagal dipresentasikan secara meyakinkan. Aurora menyebut Rassya lebih liar, seru, sosok pria ceria yang menghembuskan angin segar di hidupnya. Tapi, serupa Ali dengan introversinya, sisi tersebut tak tampak dari Rassya yang justru terkesan halus, bahkan kalah “membara” dibanding Ali.

Bukan berarti segala sisi naskah menemui kegagalan. Keengganan menabur “pemanis” berlebih patut diapresiasi. Bahasa (sok) puitis dihindari, berhati-hati pula dramatisasi, termasuk di momen paling menyedihkan, diolah. Selaras dengan itu adalah penyutradaraan Rako Prijanto (Teman Tapi Menikah, Bangkit!, 3 Nafas Likas) yang mengedepankan tuturan manis ketimbang drama bergelora. Didukung sinematografi Hani Pradigya (Teman Tapi Menikah, Terjebak Nostalgia, Wage) Rako menangkap beberapa gambar indah, menerapkan gerak lambat, juga memilih sudut kamera yang membuat kedua pemainnya (yang aslinya sudah rupawan) terlihat makin cantik di layar.

Bukan berarti dua pemain utama kita sekadar bermodalkan tampang. Sebaliknya, bisa jadi Asal Kau Bahagia telah memberi “It couple” berikutnya bagi perfilman Indonesia, yang kelak berpotensi melengserkan kedigdayaan Jefri Nichol-Amanda Rawles. Dibarengi deretan lagu yang mengalun syahdu di telinga, kebersamaan merekamemberi sokongan tambahan bagi film ini, di luar pondasi rapuh yang naskahnya sediakan.

Pasca debut meyakinkan di Susah Sinyal (2017), Aurora menunjukkan kemampuan memanggul beban sebagai pemeran utama. Kapasitasnya bermain drama menghadirkan kompleksitas bagi tokoh peranannya, yang mana gagal diberikan oleh naskahnya. Sedangkan untuk Aliando, semestinya inilah pembuka gerbang kesuksesan berkarir di layar lebar. Aliando menunjukkan jangkauan akting cukup luas, dari kebolehan menangani humor, pesona dalam interaksi kasual, sampai momen emosional.

Sayang, rute aman dipilih sebagai konklusi romantsime keduanya, yang turut melucuti peluang film ini menyuguhkan resolusi lebih dewasa—tanpa harus kehilangan sisi bittersweet—mengenai “the art of letting go” demi kebahagiaan sosok tercinta. Tapi sulit dipungkiri, banyak penonton akan terwakili oleh konfliknya, dan itu sudah menjadi cukup alasan guna memberi kesempatan pada Asal Kau Bahagia. Mungkin saja film ini merefleksikan seluk beluk kehidupan cinta anda.