Tampilkan postingan dengan label Zendaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zendaya. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SPIDER-MAN: NO WAY HOME

Selepas Avengers: Endgame, saya berujar, "I've never seen anything like this". Wajar saja, mengingat statusnya sebagai kulminasi perjalanan satu dekade lebih. Tapi bahkan setelah itu, Spider-Man: No Way Home mampu memancing respon serupa. Sekali lagi Marvel Studios mendobrak batas kemustahilan. 

Di berbagai lokasi (termasuk studio tempat saya berada), para penonton bersorak, tertawa, menangis, bertepuk tangan. Pemandangan yang makin asing akibat pandemi. No Way Home melakukannya sebagai fan service bagi penonton multigenerasi. No Way Home ibarat rumah, bukan saja untuk penggemar Spider-Man, pula mereka yang merindukan theatrical experience.  

Ditulis oleh Chris McKenna dan Erik Sommers, kisahnya meneruskan akhir Far from Home (2019), kala identitas Peter Parker (Tom Holland) selaku Spider-Man terungkap, seketika menjadikannya musuh publik. Satu-satunya jalan keluar yang ia temukan adalah, meminta Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) merapal mantra penghapus ingatan orang-orang akan identitasnya. 

Kita tahu akhirnya mantra tersebut kacau akibat interupsi Peter. Kita tahu, karena itu gerbang multiverse terbuka. Kita tahu banyak musuh lama dari versi Raimi dan Webb kembali. Semua telah diungkap di materi promosi, dan lebih baik jika anda tetap tidak "buta" akan hal-hal lain. 

No Way Home merupakan fan service, di mana kata "service" tak berhenti di ranah trivial. Semakin anda mengenal Spider-Man, baik versi komik maupun layar lebar, semakin anda bakal menyadari, bahwa film ini sukses menangkap esensi tokohnya. 

Menyenangkan melihat Otto Octavius / Doctor Octopus (Alfred Molina) dan Norman Osborn / Green Goblin (Willem Dafoe) terlibat banter, Flint Marko / Sandman (Thomas Haden Church) masih mementingkan keluarga, atau bagaimana Max Dillon / Electro (Jamie Foxx) dan Curt Connors / Lizard (Rhys Ifans) memperkenalkan identitas satu sama lain. Tapi tak kalah menyenangkan saat mendapati No Way Home memahami betul siapa Spider-Man. 

Serupa julukan "friendly neighborhood" miliknya, juga kalimat "with great power comes great responsibility", si manusia laba-laba bukan cuma menumpas kejahatan, namun menebar kebaikan. Terdengar serupa, tetapi tak sama. Poin tersebut turut ditekankan filmnya, terutama terkait cara Peter menyikapi kedatangan tamu-tamu tak diundang dari dunia lain. 

Bertugas memperluas cakupan MCU tak membuat film ini lalai mengurus semestanya sendiri. Di antara gejolak multidimensi, No Way Home tetap kisah remaja. Tetap berpusat di Peter dan orang-orang terdekatnya. Apa masalah utama Peter selain menghadapi setumpuk villain? Dia, bersama MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), dipersulit ketika mendaftar kuliah, selaku dampak terungkapnya identitas Spider-Man. Sementara May (Marissa Tomei) mengesahkan posisi sebagai pemberi motivasi personal Peter dalam aksi heroiknya. 

Spider-Man memang sejatinya cerita coming-of-age. Peter mengalami pendewasaan pasca melewati fase-fase seperti kita, termasuk percintaan. No Way Home mematenkan Peter-MJ sebagai salah satu pasangan terkuat MCU. Lalu di akhir cerita, tampak jelas Peter jauh lebih dewasa dibanding saat muncul pertama kali dalam Captain America: Civil War lima tahun lalu. Jadilah trilogi Homecoming sebuah kisah yang utuh. 

Kebaikan hati dan kepintaran. Begitu filmnya mendefinisikan Peter Parker. Dua aspek tersebut membentuk paruh keduanya, yang mengetengahkan sisi ilmiah Peter ketimbang kemampuan baku hantam (walau di sebuah kesempatan, sisi ini pun dimanfaatkan secara cerdik guna menerapkan kejeniusan Peter di bidang sains ke dalam aksi). Pacing-nya tersendat, namun bisa dimaafkan karena kesesuaiannya menggambarkan esensi penokohan seorang Peter Parker. 

Melewati babak kedua, No Way Home enggan melepas cengkeramannya. Keseruan, kejutan, fan service, campur aduk. Lupakan kekurangan perihal penyuntingan yang ada kalanya tampak tergesa-gesa, sebab di titik itu No Way Home memenuhi hakikatnya sebagai blockbuster: membuat penonton berdecak kagum. 

Aksinya kelas satu. Bukan cuma mengandalkan fan service, Jon Watts terbukti makin matang mengarahkan kemeriahan spektakel, termasuk dengan tidak menjadikan Doctor Strange glorified cameo belaka, juga dipakai menciptakan aksi unik selaku ciri "sang penyihir". Beginilah semestinya crossover. Tidak asal menumpuk karakter, pula menerapkan kekhasan masing-masing. 

Tentu third act-nya tak tertandingi. Di situ segala macam rasa memuncak. Entah dari aksi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dapat tersaji, atau hadirnya konklusi emosional, tidak hanya untuk trilogi Homecoming, pun semua cabang cerita yang membentang selama hampir dua dekade. Ya. Semua. Baik persoalan yang urung dituntaskan, penebusan dosa, proses mengatasi duka serta rasa bersalah, dan lain-lain. 

Sempurna? Mungkin belum. Seperti saya singgung di atas, ada beberapa celah seputar pacing dan penyuntingan. Tapi sepanjang 2021, atau bahkan dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada blockbuster dengan pencapaian setara Spider-Man: No Way Home, yang benar-benar menunjukkan alasan mengapa theatrical experience mustahil tergantikan. Suatu pengalaman komunal, di mana puluhan, bahkan ratusan orang, berbagi rasa tanpa perlu saling mengenal atau berinteraksi langsung, disatukan oleh layar raksasa yang menampilkan keajaiban bernama "sinema". 

REVIEW - DUNE

Suguhan sci-fi Hollywood terbagi dua, yakni blockbuster berbujet raksasa dan proyek indie/arthouse minimalis. Sesekali muncul varian lain, namun jumlahnya tak cukup banyak untuk menghasilkan kubu ketiga. Monoton. Lalu datanglah adaptasi layar lebar kedua bagi novel Dune karya Frank Herbert ini. 

Versi Denis Villeneuve ini sama sekali berbeda dibanding buatan David Lynch (1984), yang lebih dikenal karena konflik di balik layar. Disokong kucuran dana yang cukup untuk memproduksi film MCU (165 juta dollar), Dune memiliki tubuh blockbuster, namun berjiwa arthouse. Mungkin cuma 2001: A Space Odyssey (1968) yang mendekati bentuk Dune, sebagai sci-fi artsy berbiaya tinggi (92 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang). 

Tapi ini bukan sikap pretensius. Menulis naskahnya bersama Eric Roth (A Star Is Born, Mank) dan Jon Spaihts (Prometheus, Doctor Strange), Denis Villeneuve mengedepankan unsur spiritual pada tuturannya. Seperti para sineas arthouse terbaik, ia punya ketajaman rasa, guna menautkan proses batin manusia dengan semesta. Bahwa keduanya, meski berukuran amat berbeda, saling terhubung. Karenanya, berbagai shot berisi lanskap luas, maupun pesawat luar angkasa raksasa yang membuat manusia tampak kerdil, bukan sebatas pameran keindahan. Efek visualnya luar biasa. Megah sekaligus tampak nyata, namun bakal jadi percuma bila tanpa visi, yang mana dimiliki sang sutradara.

Kaitan terbesar antara alam dan manusia hadir lewat rempah bernama melange. Terdapat di planet gersang bernama Arrakis, melange punya beraneka fungsi, mulai dari memperpanjang umur, memaksimalkan kekuatan pikiran, hingga memungkinkan terjadinya perjalanan dengan kecepatan cahaya. Menguasai melange sama artinya menguasai semesta.

Terlalu panjang dan rumit bila harus menjelaskan detail mitologi Dune, tapi intinya, atas perintah penguasa semesta yang dipanggil "Emperor", kaum Atreides di bawah kepemimpinan Leto Atreides (Oscar Isaac), diberi tugas mengelola melange menggantikan Harkonnen yang dipimpin Baron Vladimir Harkonnen (Stellan Skarsgård). Apabila Harkonnen bertindak semena-mena pada para Fremen (suku asli Arrakis) Leto ingin menjalin kerja sama secara damai. Tentu tidak berjalan mulus, sebab tanpa ia tahu, ada konspirasi di balik penunjukkan Atreides untuk mengurusi melange.

Timothée Chalamet memerankan Paul Atreides, putera hasil hubungan Leto dengan selirnya, Lady Jessica (Rebecca Ferguson). Belakangan, pikiran Paul tengah diganggu oleh kemunculan mimpi mengenai Arrakis dan gadis Fremen misterius (Zendaya). Mimpi yang lebih terasa seperti gambaran masa depan ketimbang bunga tidur biasa. 

Selain aura sendu yang tepat mewakili atmosfer film, rasanya perawakan Chalamet juga jadi alasan ia dipilih. Tubuhnya kecil. Kurus. Bukan sosok yang bakal dipandang sebagai jagoan oleh orang-orang. Melihatnya berdiri di antara bentangan alam masif, menggambarkan betapa tak berdayanya manusia di hadapan semesta. 

Paul sendiri memang tak berdaya. Setidaknya di awal, sebelum ia mampu memaksimalkan potensinya. Bukan hanya potensi fisik hasil latihan bersama Gurney Halleck (Josh Brolin), sebab sang ibu, selaku anggota Bene Gesserit (perkumpulan wanita yang melatih tubuh dan mental agar dapat mendobrak batas-batas manusia), turut mengajari cara memakai "voice". Sebuah kekuatan mengontrol bawah sadar seseorang melalui warna suara. 

Ketika kita pertama melihat Paul menggunakan kekuatannya, Villenueve menyelipkan beberapa shot yang menampilkan hal-hal di dekat Paul. Walau kekuatan itu tidak mempengaruhi kondisi di sekitar, shot-shot itu bukannya tanpa fungsi. Seolah Villeneuve menegaskan bahwa alam memegang peran dalam kemampuan super tersebut. 

Semakin jauh alur bergerak, semakin kita mendapati dampak eksploitasi terhadap alam. Alih-alih mencari harmoni, keserakahan para penguasa yang berhasrat memonopoli melange menghadirkan kehancuran juga pertumpahan darah. Baik alam maupun manusia sama-sama musnah. 

Di situlah muncul kisah mengenai juru selamat. Seorang messiah/mahdi. Orang-orang Fremen menyebutnya "Lisan al Gaib". Bisa ditebak, ada unsur religi di sini (banyak Islamic undertones), di luar perihal politik, tirani, dan lingkungan. Mitologinya memang amat kompleks, sehingga durasi 155 menit dan pemecahan menjadi dua film dapat dijustifikasi. Terkesan rumit di awal, namun berkat penceritaan rapi yang tahu kapan harus mulai menyuplai informasi baru, seiring waktu, labirin mitologinya bakal mudah ditelusuri.

Kelemahan Villeneuve hanya soal mengarahkan perkelahian jarak dekat. Biarpun mempunyai nama-nama seperti Jason Momoa sebagai Duncan Idaho si jago pedang dari Atreides dan Dave Bautista sebagai Giossu Rabban yang merupakan keponakan Baron Harkonnen, deretan aksi adu pedang maupun tangan kosong milik Dune tampil tak bertenaga. Pilihan angle Villeneuve pun cenderung canggung, juga kerap menyulitkan kita untuk mencerna apa yang sedang terjadi. 

Untunglah Dune bukan sci-fi sarat aksi, sehingga kelemahan di atas tidak begitu mengganggu. Bagi sebagian penonton, mungkin minimnya aksi (pun membagi cerita menjadi dua bagian membuat Dune usai sebelum mencapai klimaks), durasi panjang, juga tempo lambatnya, membuat film ini kurang bersahabat. Tapi jika bisa menerima itu, bersama keindahan visual dan iringan musik atmosferik gubahan Hans Zimmer (karya terbaik sang komposer dalam beberapa tahun terakhir), anda akan mendapati suguhan sci-fi, yang mendefinisikan "epik" bukan cuma lewat skala cerita yang kasat mata, pula di ranah perenungan spiritual serta rasa.  

REVIEW - MALCOLM & MARIE

Malcolm & Marie merupakan film Hollywood pertama yang menjalani semua tahap, dari pra-produksi hingga pasca-produksi, di tengah pandemi COVID-19. Melaluinya, Sam Levinson (Assassination Nation) selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menunjukkan kemampuan mengubah batasan jadi ruang eksplorasi, meski pada akhirnya, kelemahan justru berasal dari hal-hal yang tak berhubungan dengan keterbatasan akibat pandemi. 

Hanya diisi dua aktor plus satu lokasi (maksimal cuma 12 orang boleh berada di set), alih-alih monoton, filmnya malah terasa intim. Pemakaian warna hitam putih pun membantu, kala pencahayaan juga tata rias tak semaksimal biasanya (kedua pemeran utama bertanggung jawab atas kostum serta riasan mereka sendiri). Dan di tangan sinematografer Marcell Rév, keindahan visual dimunculkan dari gaya hitam putih berkontras tinggi. 

Alkisah, Malcolm (John David Washington) sedang berbunga-bunga. Premiere film terbarunya (dia adalah sutradara dan penulis) sukses besar. Sesampainya di rumah mewah di Malibu yang disewakan oleh pihak studio, ia langsung menuangkan minuman, menyalakan musik sekeras mungkin, lalu menari penuh semangat sambil meluapkan euforia. Tapi kita tahu, sang kekasih, Marie (Zendaya), tidak merasa demikian. Dia berdiri di luar, merokok, memasang wajah dingin. Ada yang mengganggu pikirannya. Well, lebih tepatnya "banyak". 

Malcolm terus berseloroh, termasuk soal bagaimana seusai premiere, ia menemui beberapa kritikus, yang menyebutnya sebagai "The Next Spike Lee" dan "The Next Barry Jenkins". Malcolm tidak puas. "Kenapa bukan The Next William Wyler?", tanyanya, sebelum membahas secara panjang lebar mengenai tendensi kritikus mengasosiasikan film buatan sineas kulit hitam dengan isu ras. Malcolm jengah, karena cuma ingin membuat drama yang bisa dinikmati semua orang, alih-alih tontonan politis. "But your next movie is Angela Davis' biopic", balas Marie. 

Perdebatan perihal muatan politis dalam film merupakan salah satu titik terbaik sekaligus paling jujur milik Malcolm & Marie. Tentunya ini kejengahan Levinson sendiri, yang ia salurkan melalui karakternya. Terkait bagaimana banyak kritikus dewasa ini terlalu memaksakan diri agar tampak "woke", hingga soal representasi. Salah satu usalan mengkritisi "male gaze" dalam film Malcolm, yang membicarakan tentang perjuangan wanita pecandu narkoba. Bagi Malcolm, sah-sah saja jika seorang pencerita memandang sesuatu melalui perspektifnya. Terasa meta, sebab di sini, Levinson adalah seorang kulit putih yang membuat film mengenai pasangan kulit hitam.

Di luar persoalan di atas, konflik utamanya tetap mengenai sepasang kekasih, yang sama-sama bermasalah secara personal, sehingga begitu pertengkaran pecah, keduanya berulang kali menghancurkan satu sama lain, namun tetap saling mencintai. Terdengar serius? Tentu. Apalagi Malcolm & Marie dipenuhi teriakan. Tapi sebagai variasi, sesekali Levinson memasukkan kalimat witty, yang juga berfungsi menjaga romantisme Malcolm dan Marie, di sela-sela keributan destruktif mereka. 

Sayangnya kualitas penulisan Levinson tergolong inkonsisten. Di satu sisi, ia jeli menyelipkan informasi guna memperkaya penokohan, plus sedikit kejutan di antara bentakan-bentakan. Semakin banyak informasi masuk, semakin sulit menentukan mesti berpihak pada siapa, karena sejatinya, Malcolm & Marie bukan seputar "siapa-benar-siapa-salah", bukan seputar individu, melainkan sepasang manusia. Masalah naskahnya terletak pada kerapian struktur.

Ada kalanya pertengkaran satu dengan berikutnya tidak diberikan transisi memadai. Seolah Levinson sekedar membuat checklist berisi hal apa saja yang harus diperbincangkan. Tidak jarang pula, filmnya tersesat di tengah tumpang tindihnya kalimat yang terlontar tanpa henti. Benar bahwa kalau membicarakan keotentikan, tidak ada keteraturan dalam pertengkaran. Ketika dikuasai emosi, seseorang cenderung bersikap impulsif, meluapkan segalanya tanpa kontrol. Tapi bukankah di situ seni penulisan naskah? Di mana kekacauan semestinya dapat dipresentasikan secara rapi, tanpa kehilangan kesan otentik.

Hasilnya, Malcolm & Marie sering terasa melelahkan. Untungnya Levinson bukan sutradara medioker. Dia punya sensitivitas yang efektif membangun romantisme, keintiman, hingga sensualitas elegan. Terpenting, filmnya memiliki hati. Puncaknya pasca segala keluh kesah sudah dilemparkan, ketika Malcolm & Marie menekankan substansinya. Poin sederhana, namun salah satu pondasi utama suatu hubungan: Hargai pasanganmu. 

Tentu filmnya takkan berhasil tanpa Washington dan Zendaya. Mereka ibarat dua kutub berseberangan. Washington sebagai Malcolm lebih agresif, tampak begitu digdaya dengan ekspresi serta gestur besar. Tapi terpancar jelas, bahwa setiap amarah, keangkuhan, dan semangatnya, berasal dari kelemahan. Sebaliknya, Zendaya sebagai Marie bak sosok rapuh, namun tak pernah goyah. Sewaktu diam dengan tatapan dinginnya, Marie nampak lebih besar dibanding Malcolm yang terus melontarkan serangan. Kontradiksi inilah yang malah memperlihatkan betapa kuat perasaan keduanya. Serupa tagline-nya, they're madly in Love. 


Available on NETFLIX

SPIDER-MAN: FAR FROM HOME (2019)

Di Far From Home, Spider-Man (Tom Holland) terbebani untuk membuktikan kepantasannya menyandang status keanggotaan Avengers sekaligus penerus Tony Stark (Robert Downey Jr.). Tapi ini juga film soal fase remaja Peter Parker, khususnya perihal kehidupan cintanya. Dua hal di atas terdengar berlawanan. Poin pertama berskala besar juga menuntut tanggung jawab lebih tinggi, sedangkan yang kedua lebih ringan. Hebatnya, Far From Home sanggup mencampurkannya secara seimbang.

Delapan bulan pasca peristiwa di Avengers: Endgame, dunia masih belum sepenuhnya beranjak dari duka akibat kehilangan beberapa pahlawan, temasuk Tony Stark. Bahkan adegan pembukanya lagsung menawarkan penghormatan, yang meski menggelitik, nyatanya tetap menyentuh. Peter sendiri merasa selalu melihat wajah Tony ke mana saja ia pergi. Merasa perlu rehat, Peter mengesampingkan sejenak kehidupan sebagai pahlawan super selama mengikuti karyawisata ke Eropa, memilih fokus mengejar pujaan hatinya, MJ (Zendaya).

Tentu saja masalah terus mengikuti, kali dalam bentuk monster-monster Elemental yang menebar kehancuran di berbagai belahan dunia. Tapi Elemental bukan satu-satunya figur misterius yang muncul. Berusaha melawan mereka adalah Quentin Beck alis Mysterio (Jake Gyllenhaal), pahlawan super yang mengaku berasal dari semesta lain. Mysterio datang ke semesta ini (seperti komiknya, disebut Earth-616), bersatu dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson guna membinasakan para Elemental.

Gyllenhaal menangani perannya secara menghibur, sesekali menampilkan kesan “larger than life” tanpa perlu berlagak berlebihan. Dan kita berkesempatan menyaksikan sisi lembut nan hangat milik Jake, khususnya kala Mysterio mengambil alih peran selaku guru sekaligus mentor bagi Peter.

Tapi Mysterio seorang tak cukup, sehingga Fury merekrut Peter, yang awalnya mengelak karena: (A) Dia belum merasa mampu menangani masalah sebesar itu, ditambah keberadaan Mysterio yang menurutnya lebih dapat diandalkan; (B) Rencana mengungkapkan cinta kepada MJ juga terancam. Spider-Man: Far From Home adalah film pahlawan super di mana sang jagoan bukan cuma meragukan diri, pula kukuh menolak panggilan menyelamatkan dunia karena ia ingin mendapatkan hati seorang gadis.

Apabila terdengar kurang heroik, wajar saja, sebab itulah yang remaja akan lakukan. Naskah buatan duet Erik Sommers dan Chris McKenna (Ant-Man and the Wasp, Jumanji: Welcome to the Jungle, The Lego Batman Movie) bertindak selaku pondasi yang solid, tapi keberhasilan Zendaya dan Tom Holland menghidupkan kecanggungan manis di antara Peter dan MJ adalah alasan terbesar yang menjadikan romansanya bekerja dengan baik.

Terdapat twist sebagai titik balik arah penceritaan. Keberadaannya tak mengejutkan jika anda mengenal lore Spider-Man, tapi tugas utamanya adalah membuka jalan untuk kejutan-kejutan lain. Bahkan dua credits scene-nya menyimpan daya kejut tinggi. Urusan menghibur, Far From Home memang peningkatan pesat dibanding Homecoming. Humornya masih cukup jenaka, sedangkan adegan aksinya (salah satu kelemahan Homecoming) tampil bertenaga, kreatif, dibarengi ragam variasi musik buatan Michael Giacchino (Up, Jurassic World, Spider-Man: Homecoming).

Salah satu sekuen aksinya menandingi suasana trippy milik Ant-Man dan Doctor Strange, yang membuktikan sempurnanya pemilihan antagonis film ini. Dia mempunyai kemampuan mengerikan (anggota Avengers siapa pun bakal kewalahan), pun memfasilitasi sang sutradara, Jon Watts (Cop Car, Spider-Man: Homecoming), membangun pertunjukan penuh kekayaan visual sekaligus jadi musuh yang cocok untuk Spidey hadapi di fase kehidupannya saat ini.

Seperti tertulis di paragraf pembuka, Far From Home menghadapi sukarnya menyeimbangkan dua sisi heroisme Peter Parker. Dituntut membuktikan kepantasan disebut “The Next Tony Stark”, Spider-Man harus melawan sesuatu yang benar-enar mengancam. Tapi di sisi koin lain, Peter masih remaja. Mustahil filmnya menempatkan si manusia laba-laba di pertarungan menghentikan invasi alien seorang diri. Dan kekuatan yang dimiliki sang antagonis memiliki kapasitas merangkum kedua sisi.

Bicara mengenai Peter sebagai penerus Tony, Far From Home menjalankan tugasnya mengoper tongkat estafet sambil mempersembahkan penghormatan bagi si “genius, billionaire, playboy, philanthropist”. Jangan khawatir, sebab film ini tetap milik Peter Parker, dan berkat Tom Holland, elemen di atas terasa lengkap. Baik Tony maupun Peter menghadapi pergulatan serupa, yakni ketakutan akan ketidakmampuan melindungi sosok-sosok tercinta. Setiap pergulatan itu menghampiri, kita bisa merasakannya dari mata Holland, bahwa Peter sungguh memedulikan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan di salah satu adegan—yang jadi momen estafet plus penghormatan paling cerdik juga emosional sepanjang film—Holland menampilkan gestur menyerupai sang mentor. Sang aktor melakukan itu tanpa merendahkan aktingnya ke arah impersonasi murahan. Dia masih Peter Parker. Peter Parker yang amat terinspirasi oleh Tony Stark. Demikian pula Spider-Man: Far From Home. Film ini membuat ketiadaan Iron Man 4 tak perlu disesali, sembari tetap menjadi film Spider-Man yang mumpuni.

SMALLFOOT (2018)

Saya tidak mengira bahwa Smallfoot, animasi semua umur yang diadaptasi dari buku Yeti Tracks karya Sergio Pablos yang mengimajinasikan kondisi di mana yeti melihat manusia sebagaimana kita melihat mereka, merupakan tontonan tegas dan berani dalam menyindir orang-orang yang mengikuti kepercayaan—atau sebut saja agama—mereka secara buta. Bukan satir mendalam, sebab akhirnya elemen tersebut sebatas diletakkan sebagai latar awal, tapi tetap saja, sungguh langkah berani yang mengejutkan.

Para yeti percaya bahwa mereka: a) tinggal di gunung mengapung yang disangga di atas punggung mamut raaksasa, b) lahir dari pantat yak raksasa nan agung, c) perlu membunyikan gong tiap pagi agar siput bercahaya (yang kita sebut “matahari”) dapat terbit. Semua fakta-fakta itu tertulis di batu-batu, yang berfungsi layaknya Alkitab bagi yeti. Mereka percaya batu tak pernah salah tanpa mengecek kebenarannya sendiri. Sebab seperti di dunia kita, meragukan batu atau menginginkan penjelasan lebih akan membuat seseorang dikutuk dan diasingkan oleh masyarakat.

Migo (Channing Tatum) merupakan putera penabuh gong yang setia menuruti aturan batu dan bercita-cita melanjutkan profesi sang ayah. Pun serupa kebanyakan penduduk desa, Migo yakin kalau smallfoot alias manusia tidak eksis. Mengapa? Pastinya karena itulah yang dikatakan batu. Sampai suatu hari sebuah pesawat terjatuh dan Migo melihat seorang manusia. Tentu warga desa tak mempercayainya, seperti halnya takkan ada yang percaya apabila kalian mengaku telah melihat yeti.

Migo akhirnya diasingkan karena menantang kebenaran yang mayoritas publik yakini. Sampai organisasi rahasia—yang nampak bak perkumpulan penggila teori konspirasi—bernama S.E.S. (Smallfoot Evidentiary Society) yang diketuai oleh Meechee (Zendaya), puteri Thorp (Common) sang penjaga batu, mengajak Migo bergabung guna membuktikan eksistensi smallfoot. Migo bersedia, lalu nekat menuruni gunung terapung untuk menemukan fakta bahwa di bawah, terdapat peradaban lain yang dihuni manusia.

Dari sini, filmnya bergerak melintasi babak kedua dengan mengikuti formula petualangan ramah keluarga, meninggalkan kritik sosialnya di belakang, sebelum menyentuhnya lagi jelang akhir. Humornya pun beralih dari satir tajam menuju slapstick, yang berkat pengarahan solid sutradara Karey Kirkpatrick (Over the Hedge, Imagine That), berhasil memproduksi tawa. Satu peristiwa tampil paling menonjol, yakni sewaktu Migo bersusah payah menyeberangi jembatan gantung, yang elemen-elemennya seolah diambil dari textbook The Road Runner Show yang terkenal lucu, berlebihan, juga kreatif. Bahkan sebelumnya Migo sempat melayang menggunakan mesin jet pesawat Wile E. Coyote dengan roketnya.

Tapi hiburan paling lezat dihadirkan sekuen musikalnya. Wonderful Life yang dibawakan Zendaya mengajak penonton mengarungi perjalanan indah nan magis melintasi semesta, sedangkan nomor rap Let it Lie dari Common menyuntikkan nuansa segar dan unik sembari membawa pesan kuat yang turut berfungsi selaku eksposisi cerita.

Para yeti belajar lebih mengenai manusia ketika Migo membawa Percy (James Corden), mantan presenter televisi tenar yang berharap salah satu videonya viral agar kondisi keuangannya membaik. Ahasil, pertemuan dengan yeti ibarat tambang emas baginya, meski di saat bersamaan juga sebuah ujian terhadap sisi kemanusiaan (dan integritas) milik Percy. Seiring interaksi kedua spesies, kita pun mempelajari  bahwa mereka sejatinya serupa, menganggap satu sama lain sebagai monster. Satu lagi pesan penting dan relevan mengenai tendensi kebencian terhadap sesuatu atau seseorang yang (terlihat) berbeda.

Ikatan antara manusia dan yeti sayangnya tidak pernah terasa cukup kuat. Berbeda degan karakternya, Smallfoot gagal mendobrak batasan bahasa guna menjalin hubungan pertemanan yang kuat. Konflik personal kedua pihak juga terasa berdiri sendiri tanpa benar-benar saling melengkapi. Migo dan Percy, selaku protagonis yang mewakili sisi yeti dan manusia, tak pernah berbagi interaksi emosional, sehingga dampak rasa yang dimunculkan konklusinya tidak setinggi yang diharapkan.

THE GREATEST SHOWMAN (2017)

Silahkan buka Google, lalu ketik "Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus" di kolom pencarian gambar. Anda akan melihat penari dan badut memakai kostum aneka warna, hewan-hewan melakukan atraksi, panggung dengan tata artistik meriah. Sirkus itu berhenti beroperasi sejak 21 Mei 2017. Film debut sutradara Michael Gracey ini coba menghidupkan kemegahan serupa di layar lebar, melempar penonton ke 146 tahun lalu saat P. T. Barnum mendirikan Ringling Bros. and Barnum & Bailey Circus yang juga disebut "The Greatest Show on Earth". 

Daripada otentitas, pertunjukan Barnum (diperankan Hugh Jackman lewat karisma tanpa tanding) mengedepankan keajaiban supaya publik terperangah, terpukau, tertawa. "Penontonmu tampak lebih bahagia begitu keluar daripada saat masuk", demikian ungkap Phillip Carlyle (Zac Efron), penulis naskah teater yang kelak jadi partner Barnum. Festive and fun entertainment. Itu tujuannya, tak peduli meski sedikit trik perlu diterapkan: menyumpal perut pria tergemuk dengan bantal, memakaikan egrang di kaki pria tertinggi. Bukan sepenuhnya penipuan, hanya melebih-lebihkan atas nama hiburan.
The Greatest Showman mengusung tujuan yang sama, sehingga musikal adalah pilihan tepat, sebab biopic formulaik takkan sanggup mewakili pesta pora di panggung Barnum. Untuk mencapai tujuannya, Pasek & Paul menulis lagu-lagu bertempo menghentak, riuh oleh instrumen serta gemuruh vokal para cast. Film ini menyadari potensi menjadi hiburan meriah, membuatnya berusaha keras (selalu) mengejar kemeriahan itu sejak The Greatest Show selaku nomor pembuka berkumandang, ketimbang memilah berdasarkan ketepatan emosi. Deretan lagu yang bagai versi overproduced dari Fall Out Boy yang sukar dibedakan satu sama lain pun dipoles terlalu mulus di studio, berujung melucuti emosi asli aktor. 

Tidak bisa dipungkiri tata dekorasi yang melukiskan semarak sirkus di puncak popularitasnya mengundang decak kagum. Sinematografi arahan Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers) punya imaji lebih dari cukup guna merealisasikan pertunjukan visioner P. T. Barnum. Jajaran pemain juga penuh totalitas menangani kompleksitas tiap koreografi. Zendaya sebagai Anne, seniman trapeze, mudah membuat jatuh hati, sementara Lettie Lutz si Wanita Berjenggot mengajak kita bersorak mendukung seruannya. Namun bayangkan menonton La La Land yang seluruhnya terdiri atas momen epilog. Fenomenal, namun sihirnya tak bekerja maksimal bila disajikan terus menerus. 
This Is Me dan Rewrite the Stars merupakan nomor musikal paling berhasil, karena mengandung lebih dari sekedar kemegahan: melawan segregasi dan ungkapan cinta. Adegan Barnum dan sang istri, Charity (Michelle Williams) turut bicara soal cinta, tetapi purnama di langit serta tarian Williams menembus lembar-lembar seprai putih tidak seintim maupun seromantis pertukaran rasa Anne dan Phillip. Anne melayang lincah di langit-langit, seolah ingin terbang meninggalkan Phillip, namun tatapannya sulit lepas dari sang pria kulit putih terpandang. Sedangkan Phillip terus berjuang menggapai cintanya. 

Naskah karya Jenny Bicks dan Bill Condon mungkin tidak memberi ruang guna meresapi jatuh-bangun kehidupan Barnum yang penuh gejolak pula kontroversi, tapi cukup untuk membuat penonton sebatas memahami. Dia mengumpulkan orang-orang terpinggirkan, menyediakan mereka kesempatan disorot layaknya bintang, karena dia sendiri dipandang sebelah mata. Dia berjuang karena enggan melihat puteri-puteri kesayangannya sengsara seperti dirinya dahulu, meski hal ini menyeret Barnum pada sisi gelap kesuksesannya. Barnum menyuguhkan hiburan, mengajak penonton tertawa, karena lelah mendapati keseharian yang terkekang oleh kesuraman.

SPIDER-MAN: HOMECOMING (2017)

Melahirkan inkarnasi layar lebar ketiga sang manusia laba-laba, Spider-Man: Homecoming mengemban satu tugas: menjadi berbeda. Jika versi Sam Raimi mengusung kisah kepahlawanan berasaskan petuah "with great power comes great responsibility", sementara The Amazing Spider-Man tentang percintaan remaja, maka Homecoming membawa penonton mundur lebih jauh kala Peter Parker (Tom Holland) masih pelajar 15 tahun dengan responsibility berupa mewakili sekolahnya dalam lomba decathlon dan hobi merangkai lego Death Star bersama sahabatnya, Ned (Jacob Batalon). Di sisi lain Bibi May (Marisa Tomei) adalah wanita paruh baya menawan idola para pria di Queens.

Sebagai pembeda lain yakni statusnya yang bukan origin movie. Asal kekuatan Peter dituturkan melalui percakapan singkat tanpa deskripsi detail. Civil War telah memberi informasi dasar yang kita perlu tahu, sehingga film pun dibuka oleh perkenalan bagi Adrian Toomes (Michael Keaton). Rasa dendam kepada Tony Stark (Robert Downey Jr.) mendorong pria pekerja biasa ini berubah menjadi penjahat super bernama Vulture. Bersama anak buahnya, ia mencuri beragam teknologi sisa pertempuran Avengers, memodifikasi, lalu menjualnya. Adegan pembuka ini meletakkan batu pijakan, menjelaskan bahwa dia bukan megalomania dengan hasrat menguasai dunia. Murni seseorang yang ingin menyambung hidup. Disokong akting lunatic Michael Keaton yang dapat mengintimidasi lewat seringai belaka, kita mendapat salah satu villain terbaik MCU yang dilengkapi penokohan dalam plus screen presence kuat.
Homecoming memang berusaha sekuat tenaga mengemas karakter beserta konfliknya serupa dunia nyata. Contoh lainnya Peter. Pasca menerima kostum canggih dari Tony, dia terjebak problema remaja yang berhasrat membuktikan diri pula mencuri hati gadis pujaannya, Liz (Laura Harrier). Baginya, mengejar penjahat adalah kegiatan menyenangkan, hingga aksinya justru kerap memancing kekacauan, mulai halaman rusak sampai mengancam nyawa ratusan orang di laut. Memperkenalkan Peter di tengah proses belajar menuju kematangan, membawa Homecoming menyentuh ranah dra-medi bernuansa coming-of-age. 

Marvel dikenal akan kebolehan memadukan kisah superhero dengan genre lain, alhasil tak mengejutkan kala DNA film remaja ala John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller's Day Off) mengalir deras di sini. Bahkan suatu adegan merupakan homage bagi salah satu karyanya. Dan layaknya remaja, semua tentang bersenang-senang. Baik sewaktu menangkap pencuri sepeda atau meringkus perampok ATM, Spidey yang ramah nan gemar bicara selalu hadir, melahirkan versi layar lebar Spider-Man terbaik yang mewakili image "friendly neighborhood". Pun itu didukung performa Tom Holland. Sisi nerd Peter ditampilkan tepat melalui penuturan kecanggungan yang bisa diterima pula mudah dipercaya tak ubahnya orang kebanyakan. He's a likeable guy that looks ecstatic at almost everything and stuttered in a stressful situation. Bertatapan dengan si pujaan hati misalnya.
Naskah yang digarap oleh enam penulis turut memanfaatkan tiap sisi kehidupan remaja untuk menyuntikkan bobot dalam spectacle aksi di mana selalu ada motivasi atau latar mengarah ke sana. Ketika momen di Washington jadi usaha Peter berjuang demi pujaan hati, set-piece di atas kapal ferry menggambarkan puncak gejolak teen angst soal pergulatan pembuktian kapasitas. Barulah pada klimaks, pembuktian Peter menemui hasilnya. Di luar aspek remaja, naskahnya tidak ketinggalan menampilkan beberapa kejutan penambah keseruan, entah yang substansial membangun alur atau bumbu penyedap seputar keberlanjutan franchise dan tie-in terkait MCU secara lebih luas. 

Sayang komedinya tak semulus itu. Berusaha menyesuaikan dengan nuansa film remaja, baris leluconnya urung punya "daya bunuh" maksimal. Keinginan memberi tekstur lain dibanding installment MCU biasanya membawa keenam penulis terjebak keklisean humor teen movie. Hilang keunikan humor Marvel, digantikan usaha melucu yang dipaksakan hadir sesering mungkin hingga mendistraksi narasi utama. Begitu film usai, bentuk lelucon macam kegagalan Spidey menemukan tempat mengaitkan jaring  which is Marvel kind of comedy  justru lebih memorable. Tapi Zendaya jadi penyelamat, bersenjatakan gaya deadpan membawakan celetukan-celetukan pedas menggelitik.

Fokus pada eksplorasi kehidupan remaja mau tidak mau mengurangi kuantitas aksi. Meski menyimpan motivasi, bicara tensi, deretan aksi Homecoming adalah yang terlemah sejak Thor: The Dark World (worst movie in MCU by far). Penyebabnya terkait visi Jon Watts yang terjangkit penyakit banyak mantan sutradara indie yang beralih menggarap blockbuster. Adegan aksinya adalah medioker minim kreativitas juga intensitas yang diperparah klimaks malas (juga kesalahan naskah) yang bergulir terlampau cepat. Sebagai kulminasi proses Peter, third act-nya tak menawarkan puncak heroisme yang semestinya merupakan resolusi. Walau kekurangan terkait action dan komedi menjauhkan Spider-Man: Homecoming dari kegembiraan luar biasa khas MCU, setidaknya tujuan menghidupkan lagi karakternya lewat versi berbeda telah terpenuhi.