Tampilkan postingan dengan label Jamie Foxx. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jamie Foxx. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SPIDER-MAN: NO WAY HOME

Selepas Avengers: Endgame, saya berujar, "I've never seen anything like this". Wajar saja, mengingat statusnya sebagai kulminasi perjalanan satu dekade lebih. Tapi bahkan setelah itu, Spider-Man: No Way Home mampu memancing respon serupa. Sekali lagi Marvel Studios mendobrak batas kemustahilan. 

Di berbagai lokasi (termasuk studio tempat saya berada), para penonton bersorak, tertawa, menangis, bertepuk tangan. Pemandangan yang makin asing akibat pandemi. No Way Home melakukannya sebagai fan service bagi penonton multigenerasi. No Way Home ibarat rumah, bukan saja untuk penggemar Spider-Man, pula mereka yang merindukan theatrical experience.  

Ditulis oleh Chris McKenna dan Erik Sommers, kisahnya meneruskan akhir Far from Home (2019), kala identitas Peter Parker (Tom Holland) selaku Spider-Man terungkap, seketika menjadikannya musuh publik. Satu-satunya jalan keluar yang ia temukan adalah, meminta Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) merapal mantra penghapus ingatan orang-orang akan identitasnya. 

Kita tahu akhirnya mantra tersebut kacau akibat interupsi Peter. Kita tahu, karena itu gerbang multiverse terbuka. Kita tahu banyak musuh lama dari versi Raimi dan Webb kembali. Semua telah diungkap di materi promosi, dan lebih baik jika anda tetap tidak "buta" akan hal-hal lain. 

No Way Home merupakan fan service, di mana kata "service" tak berhenti di ranah trivial. Semakin anda mengenal Spider-Man, baik versi komik maupun layar lebar, semakin anda bakal menyadari, bahwa film ini sukses menangkap esensi tokohnya. 

Menyenangkan melihat Otto Octavius / Doctor Octopus (Alfred Molina) dan Norman Osborn / Green Goblin (Willem Dafoe) terlibat banter, Flint Marko / Sandman (Thomas Haden Church) masih mementingkan keluarga, atau bagaimana Max Dillon / Electro (Jamie Foxx) dan Curt Connors / Lizard (Rhys Ifans) memperkenalkan identitas satu sama lain. Tapi tak kalah menyenangkan saat mendapati No Way Home memahami betul siapa Spider-Man. 

Serupa julukan "friendly neighborhood" miliknya, juga kalimat "with great power comes great responsibility", si manusia laba-laba bukan cuma menumpas kejahatan, namun menebar kebaikan. Terdengar serupa, tetapi tak sama. Poin tersebut turut ditekankan filmnya, terutama terkait cara Peter menyikapi kedatangan tamu-tamu tak diundang dari dunia lain. 

Bertugas memperluas cakupan MCU tak membuat film ini lalai mengurus semestanya sendiri. Di antara gejolak multidimensi, No Way Home tetap kisah remaja. Tetap berpusat di Peter dan orang-orang terdekatnya. Apa masalah utama Peter selain menghadapi setumpuk villain? Dia, bersama MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), dipersulit ketika mendaftar kuliah, selaku dampak terungkapnya identitas Spider-Man. Sementara May (Marissa Tomei) mengesahkan posisi sebagai pemberi motivasi personal Peter dalam aksi heroiknya. 

Spider-Man memang sejatinya cerita coming-of-age. Peter mengalami pendewasaan pasca melewati fase-fase seperti kita, termasuk percintaan. No Way Home mematenkan Peter-MJ sebagai salah satu pasangan terkuat MCU. Lalu di akhir cerita, tampak jelas Peter jauh lebih dewasa dibanding saat muncul pertama kali dalam Captain America: Civil War lima tahun lalu. Jadilah trilogi Homecoming sebuah kisah yang utuh. 

Kebaikan hati dan kepintaran. Begitu filmnya mendefinisikan Peter Parker. Dua aspek tersebut membentuk paruh keduanya, yang mengetengahkan sisi ilmiah Peter ketimbang kemampuan baku hantam (walau di sebuah kesempatan, sisi ini pun dimanfaatkan secara cerdik guna menerapkan kejeniusan Peter di bidang sains ke dalam aksi). Pacing-nya tersendat, namun bisa dimaafkan karena kesesuaiannya menggambarkan esensi penokohan seorang Peter Parker. 

Melewati babak kedua, No Way Home enggan melepas cengkeramannya. Keseruan, kejutan, fan service, campur aduk. Lupakan kekurangan perihal penyuntingan yang ada kalanya tampak tergesa-gesa, sebab di titik itu No Way Home memenuhi hakikatnya sebagai blockbuster: membuat penonton berdecak kagum. 

Aksinya kelas satu. Bukan cuma mengandalkan fan service, Jon Watts terbukti makin matang mengarahkan kemeriahan spektakel, termasuk dengan tidak menjadikan Doctor Strange glorified cameo belaka, juga dipakai menciptakan aksi unik selaku ciri "sang penyihir". Beginilah semestinya crossover. Tidak asal menumpuk karakter, pula menerapkan kekhasan masing-masing. 

Tentu third act-nya tak tertandingi. Di situ segala macam rasa memuncak. Entah dari aksi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dapat tersaji, atau hadirnya konklusi emosional, tidak hanya untuk trilogi Homecoming, pun semua cabang cerita yang membentang selama hampir dua dekade. Ya. Semua. Baik persoalan yang urung dituntaskan, penebusan dosa, proses mengatasi duka serta rasa bersalah, dan lain-lain. 

Sempurna? Mungkin belum. Seperti saya singgung di atas, ada beberapa celah seputar pacing dan penyuntingan. Tapi sepanjang 2021, atau bahkan dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada blockbuster dengan pencapaian setara Spider-Man: No Way Home, yang benar-benar menunjukkan alasan mengapa theatrical experience mustahil tergantikan. Suatu pengalaman komunal, di mana puluhan, bahkan ratusan orang, berbagi rasa tanpa perlu saling mengenal atau berinteraksi langsung, disatukan oleh layar raksasa yang menampilkan keajaiban bernama "sinema". 

REVIEW - SOUL

Beberapa film berkata, “live your life” atau “life is for living”. Beberapa lainnya mengajarkan agar kita mengikuti passion, sebagai api yang membakar semangat hidup. Tanpanya, hidup tiada berarti. Semuanya benar, tapi Soul, yang lahir dari sentuhan emas Pete Docter (Monsters, Inc., Up, Inside Out), mengajak penonton kembali ke awal, membicarakan esensi dasar namun lewat tuturan ambisius. Pertanyaan eksistensial dilontarkan, “Percikan macam apa yang dibutuhkan dalam kehidupan?”.

Bagi Joe Gardner (Jamie Foxx), percikan itu adalah musik. Tepatnya musik jazz. Sejak dibawa sang ayah ke sebuah pertunjukan saat masih kecil, Joe meyakini bahwa ia terlahir untuk bermusik. Tapi kenyataan berkata lain. Karirnya jalan di tempat, dan kini Joe mengajar musik di SMP. Sebuah pekerjaan yang tak ia nikmati, meski sang ibu (Phylicia Rashad), menuntutnya agar melupakan mimpi bermusik dan mencari pekerjaan tetap.

Kesempatan datang sewaktu musisi jazz ternama, Dorothea William (Angela Bassett), menawari Joe menjadi pianis di pertunjukkannya. Joe berhasil meraih kesempatan tersebut, tapi akibat terlalu gembira, di perjalanan pulang ia jatuh ke lubang got. Begitu terbangun, Joe mendapati dirinya sudah berbentuk jiwa, dan berada di tengah antrean menuju Great Beyond alias akhirat. Di titik ini saya mulai menyayangkan tidak adanya theatrical release bagi Soul. Bagaimana tim animator menerjemahkan “pintu akhirat” sebagai sesuatu yang megah nan magis tanpa harus tampak rumit, jelas pantas disaksikan di layar lebar.

Menolak “pergi” di saat kesempatan mulai menghampiri, Joe mencoba kabur, tapi malah berakhir di Great Before. Tempat di mana jiwa-jiwa berkumpul guna diberi kepribadian sebelum menjalani hidup di bumi. Terjadi kesalahpahaman, dan Joe malah diminta menjadi mentor untuk 22 (Tina Fey). Walau sudah ribuan tahun berlalu, 22 belum juga menemukan “percikan” yang membuatnya ingin hidup. Padahal nama-nama seperti Bunda Teresa, Carl Jung, Abraham Lincoln, Muhammad Ali, dan lain-lain, pernah menjadi mentornya (salah satu humor terlucu sekaligus paling berani di film ini).

Demi membantu 22 menemukan “percikan” itu, sekaligus mengembalikan Joe ke bumi, keduanya pun melakoni petualangan “lintas alam” yang selalu berhasil membawa alurnya ke arah tak terduga, berkat eksplorasi luas dari ketiga penulis naskahnya: Pete Docter, Mike Jones (turut menulis naskah Luca yang rilis 2021), Kemp Powers. Jika Inside Out (2015) adalah penjelajahan ke dalam (otak manusia), maka Soul menjelajah ke luar, memperkenalkan penonton pada dunia-dunia imajinatif yang “menjelaskan” dinamika jiwa manusia. Salah satunya zona di mana orang-orang mengalami trance saat tenggelam dalam passion mereka, sekaligus tempat terperangkapnya jiwa-jiwa yang hilang akibat terobsesi akan hal tertentu.

Di zona itulah Soul melempar salah satu gagasannya, bahwa “passion yang menghidupkan” dan “obsesi yang mematikan” hanya memiliki perbedaan tipis. Bahkan dibanding Inside Out sekalipun, film ini lebih diperuntukkan bagi penonton dewasa. Khususnya mereka yang mempertanyakan tujuan hidup. “Those really aren’t purpose. That’s regular old living”, ucap Joe pada 22, yang menyebut hal-hal remeh seperti berjalan-jalan, menikmati permen, atau menangkap benih maple sebagai tujuannya menjalani hidup. Joe, sebagaimana banyak dari kita, sudah tenggelam dalam ambisi-ambisi serta tuntutan kehidupan. Sebaliknya, kemurnian 22 membantunya melihat “the beauty of life”.

Soul adalah soal keindahan. Keindahan yang efektif mengaduk-aduk emosi penonton, melalui perpaduan artistik dan penceritaan. Diiringi lantunan musik jazz bernyawa gubahan Trent Reznor dan Atticus Ross, filmnya kembali membuktikan menegaskan kehebatan Pixar membangun realisme melalui animasi. Contoh mudahnya adalah ketika Terry (Rachel House) yang bertugas menghitung jumlah jiwa di Great Beyond datang ke bumi untuk mencari Joe dan 22. Semua “petugas” di alam jiwa punya desain sederhana. Hanya berupa sambungan garis-garis. Dan ketika Terry membaur ke bumi, ia seperti figur animasi yang masuk ke dunia live action.

Emosi bakal mencapai puncak ketika pencapaian artistik di atas bertemu kisahnya, yang mengajak penonton merenungkan cara memaknai hidup. Menjawab pertanyaan di paragraf pembuka, “Percikan macam apa yang dibutuhkan dalam kehidupan?”. Rasanya kesadaran bahwa hidup itu sendiri sudah merupakan anugerah adalah percikan yang kita butuhkan.


Available on DISNEY HOTSTAR+

REVIEW - PROJECT POWER

Kalau berharap Project Power menyegarkan genre film pahlawan super, sebaiknya turunkan ekspektasi anda. Konsep tentang obat pemberi kekuatan super sebelumnya pernah diusung oleh film Tamil berjudul Iru Mugan (2016). Pun dalam pengembangannya, naskah buatan Mattson Tomlin (The Batman) dipenuhi keklisean, dari isu soal eksperimen sains yang mengesampingkan humanisme, kartel narkoba selaku antagonis, sosok ayah yang terluka, polisi korup, dan lain-lain.

Begitu pula soal penerapan premis "superhero di dunia nyata" yang gagal memenuhi potensinya. Pembangunan dunia hingga dampak fenomena kekuatan super terhadap kehidupan manusia sehari-hari tak dipresentasikan secara memadai (Chronicle masih yang terbaik perihal itu). Tapi kalau blockbuster ringan sebagai hiburan penawar rindu akan cinematic experience sebelum bioskop kembali dibuka adalah yang anda cari, maka Project Power merupakan pilihan tepat.

Berlatar New Orleans di masa depan, beredar Power, sebuah obat misterius yang dapat memberi kekuatan super selama lima menit, yang berasal dari kemampuan unik hewan-hewan. Jadi anda bakal menemukan kekuatan-kekuatan seperti termoregulasi, kulit sekeras baja, kamuflase, fleksibiltas, dan masih banyak lagi. Layaknya narkoba biasa, Power bisa didapat dari para pengedar. Salah satunya remaja bernama Robin (Dominique Fishback), yang terpaksa menjualnya demi mengumpulkan uang untuk pengobatan sang ibu.

Frank (Joseph Gordon-Levitt), seorang anggota NOPD, termasuk pelanggan Robin. Frank menggunakan Power untuk meringkus para penjahat (yang juga berkekuatan super) meski kerap menerima teguran dari atasan. Di sisi lain ada Art (Jamie Foxx) yang berusaha menemukan Biggie (Rodrigo Santoro) selaku sumber dari Power. Pencarian Art membuatnya bersinggungan jalan dengan Frank dan Robin, dan bisa ditebak, meski awalnya saling berlawanan, mereka akhirnya bakal menyatukan kekuatan. Kombinasi penampilan groovy Gordon-Levitt, karisma Foxx yang sempat menunjukkan akting dramatiknya meski cuma sejenak, dan Fishback yang memiliki bakat besar andai diberi materi lebih mumpuni, melahirkan trio yang interaksinya selalu menarik disimak.

Melakoni debut menggarap film berbiaya besar (85 juta), duo sutradara Henry Joost dan Ariel Schulman melakukan tugas mereka dengan baik dalam menjaga pacing. Ketat, cepat, namun tak terburu-buru. Sementara musik elektronik menggelegar buatan Joseph Trapanese (The Raid, The Greatest Showman), walaupun terdengar formulaik, nyatanya memang efektif menjaga intensitas. 

Berpengalaman menangani judul-judul seperti Paranormal Activity 3 (2011), Paranormal Activity 4 (2012), dan Viral (2016), kentara bahwa Joost dan Schulman menaruh ketertarikan lebih tinggi pada horor ketimbang aksi. Sekuen aksi Project Power selalu lebih menarik kala menyelipkan elemen horor. Bukan cuma gore, bahkan di suatu momen baku tembak, ketimbang lesatan peluru atau ledakan, Joost dan Schulman memilih berfokus ke pemandangan bernuansa body horror ketika kemampuan termoregulasi seorang wanita malah berbalik membunuhnya secara mengenaskan. 

Hasilnya jauh lebih memuaskan dibanding sewaktu keduanya mengedepankan aksi sarat CGI khas film superhero. Misalnya saat Art bertarung melawan Newt (Colson Baker) si "manusia api". Kita cuma bisa melihat kobaran api memenuhi layar, tanpa mampu memahami "apa", "siapa", dan "bagaimana". Third act-nya jadi puncak kekecewaan. Sejak awal penonton dibuat menanti kekuatan macam apa (dan berasal dari hewan apa) yang dimiliki Art. Tatkala payoff itu tiba, seperti biasa kualitas CGI-nya mumpuni, tapi kedua sutradara terlalu bergantung pada keriuhan efek yang tampak kacau, dihiasi gerak lambat yang hanya bentuk pamer gaya belaka ketimbang penguat intensitas. Ditambah durasi adegan yang terlampau singkat setelah penantian yang cukup lama, rasa kecewa pun semakin lengkap.

Bandingkan dengan deretan perkelahian lebih "membumi" di mana kemewahan CGI tak mendominasi, seperti saat Yoshi Sudarso sebagai Knifebones menjadikan tulangnya senjata bak Wolverine, atau pameran kelenturan tubuh tanpa bantuan efek khusus dari contortionist dunia nyata, Xavier Days, dalam sebuah baku hantam dengan koreografi terbaik sepanjang film. 

Available on NETFLIX

JUST MERCY (2019)

Seorang terpidana mati kulit hitam mendengar pernyataan jaksa penuntut yang berbunyi, “Aku tahu kamu adalah pembunuh hanya dengan melihat wajahmu”. Sementara dalam sidang terhadap veteran Perang Vietnam pengidap PTSD yang akhirnya dijatuhi hukuman mati (juga berkulit hitam), seorang hakim menyebut bahwa rehabilitasi adalah sebuah lelucon. Menurut sang veteran, setidaknya di Vietnam dia berkesempatan mempertahankan hidup. Apakah hukuman hati lebih buruk daripada perang? Atau lebih menyakitkan lagi, apakah berkulit hitam lebih mematikan ketimbang terjun ke medan perang?

Just Mercy merupakan adaptasi memoar Just Mercy: A Story of Justice and Redemption buatan Bryan Stevenson (versi filmnya diperankan Michael B. Jordan), pengacara yang mengkhususkan diri membela para terpidana mati yang tak memperoleh pembelaan secara layak. Bersama Eva Ansley (Brie Laron), ia mendirikan badan non-profit Equal Justice Initiative (EJI) di Alabama. Mengapa Alabama? Sebab di sanalah tindak rasisme pada penerapan hukum, yang berujung pada individu tak bersalah mendapat hukman mati, banyak terjadi. Salah satunya menimpa Walter “Johnny D.” McMillian (Jamie Foxx).

Johnny D. adalah tukang kayu yang dituduh membunuh seorang gadis kulit putih 18 tahun. Hanya berdasarkan pengakuan rancu narapidana bernama Ralph Myers (Tim Blake Nelson), pun tanpa bukti memadai, Johnny D. dijatuhi hukuman mati. Terdapat ironi. Johnny D. berasal dari Monroeville, Alabama, yang dikenal sebagai rumah untuk To Kill a Mockingbird. Beberapa karakternya bahkan membanggakan keberadaan museum selaku tribute untuk novel klasik karya Harper Lee, yang jadi simbol keadilan hukum dan antirasisme itu. Mereka membanggakan itu, seolah ingin menegaskan, “Kami tidak rasis. Mana mungkin masyarakat Monroeville, rumah To Kill a Mockingbird, rasis.”. Ya, sama seperti orang yang mengaku tidak rasis hanya karena memiliki teman berkulit hitam.

Mengamati perjuangan Stevenson, timbul beberapa pertanyaan. Bila seorang terpidana mati ternyata memang seorang kriminal keji, apakah secara moral ia layak dibela? Bagaimana pertentangan batin Stevenson kala membela seseorang yang sungguh bersalah? Just Mercy sayangnya tidak menyentuh pertanyaan-pertanyaan kompleks tersebut. Para terpidana mati di film ini seluruhnya adalah korban ketidakadilan berbasis rasisme. Tapi tak apa. Itu pembicaraan untuk lain waktu. Mengacu pada title card di akhir film yang menyatakan kalau satu dari sembilan terpidana mati di Amerika Serikat sejatinya tidak bersalah, apa yang diangkat Just Mercy lebih mendasar, dengan urgensi lebih besar.

Walau berbentuk legal drama, filmnya lebih banyak memperlihatkan insiden-insiden rasisme ketimbang membicarkan seluk beluk legalitas yang bisa memusingkan penonton awam. Mengapa sutradara Destin Daniel Cretton (Short Term 12, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings) yang turut menulis naskahnya bersama Andrew Lanham memakai pendekatan demikian? Sebab dalam konteks filmnya, ketidakadilan hukum terjadi akibat rasisme.

Just Mercy berusaha memprovokasi (bukan dalam artian negatif), guna menggiring penonton agar mengecam ketidakadilan tersebut, melalui adegan-adegan emosional, misalnya saat tanpa alasan jelas, Stevenson dihadang oleh dua polisi patroli. Penyutradaraan Cretton mampu menghadirkan efek dramatis yang ampuh menyulut amarah. Mungkin bagi sebagian kalangan, Cretton menempuh jalan yang terlalu mudah. Terlalu blatant. Tapi adakah cara subtil untuk mempresentasikan isu ini? Kalau pun ada, apakah diperlukan? Rasanya tak perlu kesan elegan atau lembut untuk mengemas masalah brutal semacam ini, selama sudut pandangnya bijak. Keberadaan Eva dan sesosok sipir muda kulit putih baik hati sudah cukup menunjukkan kebijaksanaan itu.

Di jajaran penampil, Tim Blake Nelson bermain solid sebagai narapidana yang mengalami konflik hati, sedangkan Jamie Foxx—yang berhasil meraih nominasi Outstanding Performance by a Male Actor in a Supporting Role dalam SAG Awards tahun ini—mampu mengolah emosi dengan kuat. Pun Michael B. Jordan punya kepercayaan diri seorang pengacara muda yang kompeten namun naif. Kepercayaan dirinya berasal dari ketidaktahuan tentang seberapa keji realita. Dan Just Mercy merupakan proses belajarnya menempa ketangguhan tanpa harus kehilangan hati.


Available on CATCHPLAY

ROBIN HOOD (2018)

Para purist akan menyebut Robin Hood—sebagaimana King Arthur: Legend of the Sword (2017)—produk hina penuh dosa akibat keengganannya setia pada gaya tradisional. Padahal filmnya sendiri sudah meminta, “Lupakan sejarah dan kisah pengantar tidur yang kalian kenal”. Jadi apa perlunya kita meminta sesuatu yang jelas-jelas tidak coba filmnya raih? Robin Hood merupakan modernisasi yang meski tidak luar biasa maupun cerdas, namun menyenangkan pula efektif. Terima saja kenyataan itu.

Sang bangsawan muda, Robin of Loxley (Taron Egerton), menerima perintah wajib militer dari Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn), di mana ia mesti terjun ke Perang Salib, memaksanya meninggalkan kehidupan mewah serta cintanya, Marian (Eve Hewson). Otto Bathurst, dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, mengemas Perang Salib layaknya Perang Irak dengan parade “boom bang”. Para prajurit mengangkat busur panah seperti senapan, dan pihak lawan menghujani mereka dengan crossbow seolah benda itu adalah senapan mesin. Dan saya mengaguminya.

Robin, yang sejatinya pemuda berhati mulia, terganggu menyaksikan rekan-rekannya membantai tawanan perang secara keji. Dia pun memberontak hingga dikirim kembali ke Nottingham. Salah satu tawanan, Yahya alias John (Jamie Foxx), setelah melihat sang putera dipenggal di depan matanya, merencanakan kudeta. John memutuskan diam-diam mengikuti Robin kembali ke Nottingham. Bagaimana John bisa bersembunyi selama tiga bulan di bawah geladak? Bagaimana ia makan dan minum?

Tidak perlu mempertanyakan itu, sebab ketika otak anda sibuk memikirkan setumpuk lubang alurnya, film ini, yang bergerak dalam tempo cepat, telah mencapai destinasi: Nottingham, yang sekarang telah jauh berubah. Di bawah perintah Sheriff, semua penduduk dipindahkan ke tambang untuk bekerja paksa, termasuk Marian yang kini menjalin kasih dengan Will (Jamie Dornan), sebab nama Robin tertera dalam daftar buatan Sheriff of Nottingham perihal prajurit yang gugur dua tahun lalu (Robin pergi selama empat tahun).

Bukan saja urusan kerja, pemaksaan Sheriff of Nottingham juga terjadi perihal pembayaran pajak yang terlampau tinggi. Konon pajak itu dipakai mendanai Perang Salib.  Didorong hasrat balas dendam dan patah hati, Robin, dengan bantuan John yang mengajarinya teknik memanah tingkat lanjut, berubah menjadi “The Hood” yang terkenal lewat aksinya mencuri dari para bangsawan guna dibagikan kepada rakyat miskin. Sedangkan sebagai bangsawan Robin of Loxley, dia coba memenangkan hati Sheriff, untuk mengungkap siapa dalang di balik kediktatoran kejam ini.

Tentu alur dalam naskah buatan Ben Chandler dan David James Kelly tipis sekaligus penuh lubang. Salah satunya lagi-lagi melibatkan perjalanan jalur air menuju Nottingham. Bagaimana bisa para Crusaders (termasuk “kawan lama” Robin di medan perang) tiba sedemikian cepat guna menjadi kaki tangan Sheriff meski jarak tempuhnya memakan waktu tiga bulan? Tapi lagi-lagi, sungguh buang-buang waktu menyibukkan pikiran dengan pertanyaan tersebut ketika Bathurst sibuk mempersembahkan banyak aksi menghibur.

Gerak lambat, musik bombastis buatan Joseph Trapanese (dwilogi The Raid, The Greatest Showman), ledakan-ledakan, set piece raksasa, sampai aksi tembak-menembak panah super cepat dengan koreografi yang mengingatkan saya akan gun fu milik John Woo, semua merupakan usaha modernisasi untuk tuturan medieval yang bagi penonton sekarang rasanya sudah ketinggalan zaman. Aksi-aksinya takkan membuat jantung berdegup keras, namun setidaknnya, mampu menyunggingkan senyum puas.

Robin Hood merupakan film di mana protagonisnya bertarung demi merebut cintanya lagi sembari meruntuhkan pemerintahan korup. Bagaimana saya tidak mendukungnya? Apalagi saat Taron Egerton enggan berusaha terlalu keras tampak keren (yang acap kali menyulut penampilan kaku seorang aktor), membiarkan gaya asyiknya terhampar lepas. Ketika Ben Mendelsohn melakoni pekerjaan langganannya (baca: memerankan pejabat biadab), Eve Hewson yang juga puteri Bono U2, akan mencuri hati penonton sebagaimana yang ia perbuat pada Robin.

Film ini bukan pelajaran sejarah, bukan adaptasi legenda yang setia terhadap sumbernya, bukan blockbuster yang berkesempatan unjuk gigi di ajang penghargaan, bukan pula interpretasi bergaya gritty realism layaknya versi Ridley Scott 8 tahun lalu, yang sejatinya jauh lebih ngawur (Robin Hodd tanpa tudung dan panah???). Film ini adalah hiburan sekali waktu. Cukup terima kenyataan tersebut.