FALL IN LOVE AT FIRST KISS (2019)

6 komentar
Lupakan “Jatuh cinta pada pandangan pertama”. Seperti sudah kita tahu dari judulnya, tokoh utama kita, Yuan Xiang Qin (Yun Lin alias Jelly Lin), jatuh cinta pada ciuman pertama, yang sebenarnya terjadi tidak sengaja. Di hari pertama sekolah, ia dan Jiang Zhi Shu (Talu Wang) bertabrakan. Zhi Shu menangkap Xiang Qin, menariknya agar tak terjatuh, lalu bibir mereka bertemu. Secepat dan semudah itu. Tapi tidak demikian dengan jalan yang Xiang Qin tempuh agar hati keduanya bisa bertemu.

Sebab mereka amat berseberangan. Xiang Qin tergabung dalam kelas F yang berisi murid-murid biang onar bernilai jeblok di mana membersihkan sarang lebah jadi rutinitas sehari-hari, sedangkan Zhi Shu adalah jenius dengan IQ 200 yang bahkan tampak menonjol di antara siswa-siswi kelas A. Ketika Zhi Shu berasal dari keluarga kaya pemilik perusahaan ternama, wajah Xiang Qin menghiasi berita televisi setelah rumah reyotnya roboh.

Begitu tergila-gila, Xiang Qin mengoleksi semua benda yang memajang wajah Zhi Shu. Kegilaan itu bukan menjangkit ia seorang. Seluruh siswi di sekolah bersikap serupa, semakin mengecilkan peluangnya merebut hati si pria idaman. Hingga suatu hari, kawan lama sang ayah mengajak mereka tinggal di rumahnya sampai semua masalah selesai. Bisa ditebak, kawan lama tersebut adalah ayah Zhi Shu. Ya, keduanya kini tinggal satu atap.

Fall in Love at First Kiss bukan romansa di mana karakter utamanya terpikat pada lawan jenis populer, hanya untuk akhirnya menyadari, sosok yang tulus mencintainya (dan juga ia cintai) adalah seorang biasa yang selalu ada di dekatnya. Seorang murid dari kelas F (Kenji Chen) selalu mengejar Xiang Qin, tapi elemen itu hanya berperan menambah kadar humor. Fall in Love at First Kiss adalah sepenuhnya cerita mengenai kepercayaan diri, berusaha keras mendapatkan cinta meski ditentang seluruh dunia.

Mungkin beberapa pihak bakal berpendapat kandungan kisah film ini merupakan kemunduran representasi terhadap  wanita di layar lebar. Tapi anggapan itu terasa seperti sebuah penggambangan. Sebab apa yang Xiang Qin lakukan adalah mengejar impian, dan tidak masalah bila mimpi itu berbentuk cinta kepada lawan jenis. Lagipula dia tak sampai menyia-nyiakan hidup lalu berakhir sebagai budak cinta tanpa nyawa. Xiang Qin bahkan termotivasi memperbaiki diri, belajar keras demi meningkatkan nilai ujian, hingga akhirnya meraih pekerjaan yang diinginkan.

Masalah sebenarnya dari film ini justru dipicu perilaku Zhi Shu. Dia merupakan pria dingin yang enggan menunjukkan perasaan sesungguhnya, sehingga tak jarang ia tampak seolah begitu membenci Xiang Qin. Tapi perbuatannya seringkali terlalu kejam, sampai mengancam peluang tercurahnya dukungan penonton bagi cinta mereka. Untunglah ada Yun Lin lewat kepiawaian menampilkan keluguan dan kekonyolan (wajar, mengingat ia mengawali karir lewat The Mermaid-nya Stephen Chow), menjadikan Xiang Qin karakter likeable. Cuma penonton tanpa hati yang berharap Xiang Qin gagal, apalagi setelah melihat tangisan sang gadis.

Karena hanya melihat poster tanpa menyaksikan trailer, saya terkejut mendapati fakta bahwa Fall in Love at First Kiss rupanya sebuah komedi absurd. Penggambaran situasi sekolah serta penokohan mayoritas karakternya dikemas amat komikal. Pemilihan gaya itu dapat dipahami, sebab filmnya sendiri merupakan adaptasi manga Itazura na Kiss karya mendiang Kaoru Tada, yang sebelumnya sudah menjadi materi adaptasi bagi 8 judul serial televisi dari 4 negara (Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Thailand), 25 episode anime, dan 3 film layar lebar. Wajar saat sutradara Yu Shan Chen (Our Times) ingin mempertahankan gaya tersebut, termasuk visual penuh warna cerah yang memanjakan mata.

Tidak semua humornya bekerja efektif, karena duo penulis naskahnya, Chi-Jou Huang dan Yung-Ting Tseng (Our Times), memilih mengedepankan kuantitas ketimbang kualitas, mendorong saya berharap filmnya mau beristirahat sejenak dalam upayanya memancing tawa dan menambah fokus di paparan drama untuk membangun rasa. Menekan kadar humor bukan saja berguna memberi penonton waktu mengambil napas, pula memberi alurnya ruang  mempresentasikan kebersamaan dua tokoh utama.

Akhirnya tersisa setumpuk aspek yang berpeluang menyetir emosi namun urung terjadi akibat minimnya eksplorasi. Contohnya saat ibu Zhi Shu (Christy Chung) berkata bahwa setelah kehadiran Xiang Qin di rumah, puteranya mulai berubah. Perubahan yang tak pernah benar-benar penonton saksikan (ingat, konteks pernyataan sang ibu adalah Zhi Shu di rumah, bukan di luar). Pun Fall in Love at First Kiss tak mampu total memaksimalkan ide menempatkan dua tokoh utama di satu rumah tatkala interaksi keduanya di sana terhitung minim.

Tapi seiring waktu bergulir, filmnya mulai membayar lunas hal-hal yang terbuang percuma. Akhirnya kita disuguhi beberapa interaksi Xiang Qin dan Zhi Shu. Hadir sedikit terlambat, namun efeknya tidak main-main. Berkebalikan dengan humornya, momen romantis dua protagonis memang rendah soal kuantitas, tapi berkualitas tinggi berkat sensibilitas sang sutradara memainkan suasana sarat asmara. Puncaknya adalah 5-10 menit terakhir yang membuat kelemahan filmnya (juga kesalahan Zhi Shu) termaafkan sekaligus mampu melelehkan hati.

6 komentar :

Comment Page:

THE NIGHT EATS THE WORLD (2018)

1 komentar
The Night Eats the World dibuka oleh sebuah pesta, di mana protagonis kita, Sam (Anders Danielsen Lie), datang untuk mengambil koleksi kaset-kasetnya, yang terselip di antara tumpukan barang si mantan kekasih, Fanny (Sigrid Bouaziz). Fanny yang kini telah menjalin hubungan bersama pria lain, merupakan tuan rumah pesta tersebut. Dari raut wajahnya, tak sulit menerka bahwa hati Sam belum sepenuhnya berpaling.

Pun beberapa menit adegan pembuka itu turut menggambarkan Sam sebagai pria yang menolak keluar dari zona nyaman. “Have fun, meet new people”, demikian ucap Fanny. Sam tak bergeming. Dia hanya menginginkan kaset-kasetnya. Sam mengunci diri di ruang kerja Fanny, tertidur, dan setelah bangun di pagi hari untuk menyadari wabah zombie telah menyebar (di area tersebut hanya tersisa ia seorang), kalimat “Keluarlah dari zona nyamanmu” memiliki makna baru dalam hidup Sam.

Walau mengusung premis dasar serupa serta memiliki zombie yang berlari kencang, jangan mengharapkan horor oktan tinggi macam 28 Days Later. The Night Eats the World, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pit Agarman, cenderung bergerak ke arah drama kontemplatif soal kenyamanan yang mengurung, pula proses seorang manusia menyadari betapa dalam hidup, kita perlu melakukan mendobrak keluar untuk menemukan kemungkinan tanpa batas.

Sutradara Dominique Rocher, yang juga berkolaborasi menulis naskah bersama Jérémie Guez (The Bouncer, Yves Saint Laurent) dan Guillaume Lemans (Point Blank, The Next Three Days), menuntun filmnya dalam tempo lambat. Semakin sunyi karena minimnya dialog, yang mana masuk akal mengingat Sam jadi satu-satunya manusia. Serupa kisah-kisah survival lain, salah satu menu utamanya adalah usaha tokoh utama menyesuaikan diri demi bertahan hidup. Sam meregulasi stok makanan, memanfaatkan barang-barang di sekitarnya, sambil sesekali menghibur diri dengan bermain musik memakai perkakas rumah tangga (satu dari sedikit momen indah dan mempunyai rasa di film ini).

Bisa ditebak, film ini pun menyinggung perihal kesendirian dan kesepian, yang semakin menguasai sentral penceritaan begitu psikis Sam mulai terguncang. Biar bagaimanapun, manusia memang makhluk sosial. Guna memuaskan hasrat sosialnya, Sam sempat berusaha menangkap kucing liar, sebelum akhirnya memilih berteman dengan zombie bernama Alfred (Denis Lavant) yang ia kurung di lift.

Masalah The Night Eats the World muncul kala naskahnya tak menyimpan cukup trik untuk menjaga atensi penonton selama 94 menit yang terasa familiar sekaligus bergulir pelan. Filmnya membungkus cerita mengenai perjuangan bertahan hidup menggunakan gaya seperti halnya film-film pengusung tema serupa lainnya. Elemen-elemen pengisinya pun tidak jauh beda, bahkan deretan subteks yang dijabarkan di atas pun jauh dari kata “baru”.

Sejatinya banyak insiden berpeluang menghembuskan nyawa lebih, khususnya beberapa situasi yang berpotensi tampi menggelitik, namun Rocher tetap kukuh mempertahankan pendekatan “dingin”. Alhasil, banyak poin tersia-siakan, termasuk talenta Denis Lavant, yang jelas punya kapasitas lebih dari cukup untuk menghadirkan daya tarik sebagai zombie yang lebih “manusiawi” melalui pendekatan akting ala monster Frankenstein.

Bahkan serangan-serangan zombie milik The Night Eats the World pun nyaris sama tak bernyawanya seperti zombie-zombie itu sendiri. Jadi saya ingatkan, jangan mengharapkan film “zombie popcorn” selaku media hiburan. Dan sebagai penuturan tentang proses individu menyadari keberadaan peluang tanpa batas di balik bentangan horizon kota Paris, prentasinya tak begitu memuaskan. Sebab, dilema batin Sam baru dipresentasikan jelang akhir. Andai muncul lebih dini, mungkin dinamika emosi intens bakal terasa.

1 komentar :

Comment Page:

11:11: APA YANG KAU LIHAT? (2019)

8 komentar
Begitu buruk dan membosankan 11:11: Apa yang Kau Lihat?, hampir sepanjang durasi saya bermain “memirip-miripkan”. Twindy Rarasati mirip Prisia Nasution, Rendy Kjaernett seperti versi lebih ganteng dari Dian Sidik, Bayu Anggara dan Ge Pamungkas bagai pinang dibelah dua, sementara Fauzan Smith mengingatkan saya kepada Fauzi Baadilla. Well, yang terakhir mungkin agak dipaksakan.

Keisengan itu jauh lebih menghibur ketimbang berusaha mencerna horor bodoh nan melelahkan, yang bahkan tak mau repot-repot menjelaskan signifikansi “11:11” di judulnya. Debut penyutradaraan Andi Manoppo (sebelumnya dikenal sebagai pimpinan pasca produksi dalam lebih dari 70 film) ini dua kali memperlihatkan peristiwa mistis tepat pada pukul 11:11 yang memang identik dengan banyak mitos, tapi kenapa itu lebih dari sekadar trivia sehingga pantas dijadikan judul?

Sementara sub judulnya malah mengajukan pertanyaan. “Apa yang kau lihat?”. Karena karakternya tak pernah bermasalah dengan apa yang mereka lihat, saya yakin pertanyaan itu diajukan bagi penonton. Apa yang saya lihat? Jawabannya: tidak ada. Karena film ini terlampau keruh, baik gambar maupun kualitasnya secara menyeluruh.

Adegan pembukanya agak menjanjikan, sebab bertempat di lokasi yang berbeda dibanding deretan kompatriotnya sesama horor lokal buruk. Alkisah dua pria menyelam, memasuki sebuah kapal karam, mengambil suatu artefak, sebelum salah satu dari mereka ditarik oleh sosok misterius, sedangkan satunya lagi tergulung ombak raksasa. Tapi selepas memperkenalkan keempat tokoh utamanya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? Mulai memasuki pakem klise soal perjalanan muda-mudi merambah lokasi angker.

Tiga instruktur selam, Galih (Rendy Kjaernett), Martin (Bayu Anggara), dan Ozan (Fauzan Smith), plus seorang murid baru, Vania (Twindy Rarasati) si vlogger ternama, berlibur ke pulau terpencil bernama Tanjung Biru. Pulau tersebut sepi. Selain keempatnya, hanya ada seorang penjaga, yang melarang mereka menginjakkan kaki ke titik bernama Karang Hiu. Tentu sebagai darah muda penuh rasa penasaran (baca: bodoh), mereka menolak patuh. Tapi itu tidak langsung terjadi.

Jadi amunisi apa yang disiapkan oleh duo penulis naskahnya, Nicholas Raven (Berangkat!) dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Jailangkung, Sakral) sebelum teror utamanya berlangsung?

Tunggu sebentar.........

DEMI SILUMAN LAUT! FILM INI DITULIS NASKAHNYA OLEH MAHAGURU BASKORO ADI WURYANTO???!!! Sekarang semuanya masuk akal! 

Pantas saja alurnya begitu kosong, hanya diisi adegan Martin dan Ozan merayu Vania ditambah selipan mimpi buruk aneh Galih mengenai sang ibu (diperankan Lady Nayoan, istri Rendy Kjaernett) yang telah lama hilang. Saya merasa bodoh sebagai pecinta film karena gagal mengenali karya Mahaguru, padahal ciri-cirinya sudah disebar sepanjang film.

11:11: Apa yang Kau Lihat? dijual sebagai “horor lokal langka berlatar bawah laut”, tapi kualitas gambar bawah lautnya bahkan kalah jernih dibanding bumper legendaris “RCTI Oke” dari era 90-an itu. Di sini, laut begitu keruh, sedangkan ikan-ikan kehilangan warnanya. Hal paling menggelikan dari adegan menyelamnya adalah pemakaian audio dub yang dikemas agar terdengar seolah karakternya saling bicara melalui HT. Mungkin pembuat filmnya khawatir penonton sukar memahami bahasa non-verbal sederhana, tapi kualitas voice acting menggelikan jajaran pemainnya jelas tak membantu.

Soal teror bawah laut, mungkin Andi Manoppo merasa bahwa menyuruh karakternya berenang tak tentu arah sambil meneriakkan nama satu sama lain sudah cukup menyeramkan. Bukankah mereka memakai HT? Kenapa tidak memberitahukan posisi dari situ? Tentu saja karena dub tersebut bukan merupakan rencana awal.

Begitu karakternya kembali ke permukaan, siluman laut telah siap menebar teror, bersenjatakan desain serta metode kemunculan yang dicomot hanya dengan sekelumit modifikasi dari Lights Out. Selanjutnya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? memasuki babak “tes daya tahan” bagi penonton. Kita diuji, seberapa jauh bisa menoleransi kebodohan filmnya, yang terbentang dari keputusan-keputusan karakternya—yang memilih lari ke dalam hutan dan memanjat puncak tebing yang justru menambah risiko—hingga berbagai poin alur yang patut dipertanyakan.

Mari kembali ke pertanyaan yang filmnya ajukan. Apa yang kau lihat? Saya melihat betapa perjuangan industri perfilman Indonesia guna menumpas habis horor-horor inkompeten, yang membodohi penonton sekaligus digarap asal-asalan seperti ini, masih cukup panjang.

8 komentar :

Comment Page:

ANAK HOKI (2019)

14 komentar
Kalimat penutup di review saya untuk A Man Called Ahok berbunyi, “.....tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas tidak buruk”. Mungkin suatu hari film tersebut akan datang, tapi pastinya bukan berjudul Anak Hoki, yang kualitasnya tak berlebihan bila disebut memalukan. Patut dicatat, bahwa naskah buatan Ally Alexandra, yang sebelum ini malang melintang menulis skenario sinetron, menuturkan cerita fiksi.

Meski fiksi, penggunaan sosok nyata sebagai basis karakter mewajibkan penulis memahami dan menghargai semangat serta jiwa sosok tersebut. Saya berani bertaruh jika anda menyebut Basuki Tjahaja Purnama sebagai manusia sempurna, salah satu pihak yang paling keras menyanggah adalah BTP sendiri. Tapi di sini, Ahok (Kenny Austin) seolah tak punya kekurangan, rajin mengumbar petuah yang selalu jadi pemecah masalah. Kalau film ini berjudul Mario Teguh Golden Ways, saya akan maklum.

Anak Hoki dibuka lewat perkenalan pada Ahok kecil dan tiga sahabatnya, menyiratkan bahwa kisahnya bakal menyoroti masa kecil Ahok. Tapi tidak. Alurnya melompat ke beberapa tahun berselang, saat Ahok merantau ke Jakarta guna menempuh pendidikan SMA, kemudian kuliah. Lalu apa esensi mengenalkan persahabatan empat bocah tadi? Di pertengahan durasi, Ahok mendapati salah satu sahabatnya meninggal akibat sakit. Filmnya lalu menyuguhkan narasi berbunyi, “Selamat jalan sahabat...”, berusaha mengaduk emosi memakai kisah persahabatan yang bahkan tak pernah kita saksikan.

Naskahnya juga coba menciptakan paralel tak berguna antara sahabat masa kecil dan masa kini Ahok. Karena ternyata, di Jakarta, ia pun mempunyai dua kawan laki-laki serta satu perempuan (SUNGGUH KEBETULAN YANG LUAR BINASA!). Ada Bayu (Chris Laurent) si playboy, Daniel (Lolox) yang diam-diam mengambil jurusan memasak meski sang ibu (Tamara Geraldine) ingin dia menjadi pastor, dan Eva (Nadine Waworuntu) si gadis broken home yang merupakan pujaan hati Bayu.

Harus diakui, paruh pertama Anak Hoki berjalan cukup lancar sebagai komedi-drama remaja yang melibatkan berbagai elemen familiar, sebutlah romansa dan gesekan anak dengan orang tua seputar pilihan hidup. Tidak dipaparkan mendalam pun tanpa inovasi, namun setidaknya menghibur berkat bumbu komedi. Setelah sekian lama, Lolox akhirnya mampu memancing tawa saya, sebab kali ini ia bisa membedakan mana “lucu”, mana “menyebalkan”. Sedangkan Tamara Geraldine, walau memperoleh porsi minim, terbukti masih piawai berperilaku eksentrik.

Hingga tiba waktunya melangkah menuju ranah lebih serius, dan kecanggungan penceritaannya menguat, memancing kesan cringey tak tertahankan. Bahkan tersimpan twist menggelikan mengenai karakter Amora Rey (Maia Estianty), musisi idola Eva. Nama Amora pertama terdengar ketika Eva menyanyikan lagunya, lalu terkejut mengetahui Bayu pun mengenal sang penyanyi. Berdasarkan keterkejutan Eva, berarti Amora bukan bintang besar, setidaknya bukan dari industri arus utama, benar begitu? Keliru! Karena berikutnya, kita melihat para penggemar dan wartawan berebut masuk ke ruang press conference sembari mengelu-elukan namanya, dalam sebuah adegan yang luar biasa cringey hingga membuat saya di kursi penonton ikut malu.

Anak Hoki memang dipenuhi pemandangan canggung akibat pengadeganan minim kompetensi. Mengejutkan, mengingat film ini dibuat oleh Ginanti Rona, yang mengawali karir di posisi asisten sutradara dalam judul-judul macam Rumah Dara dan dwilogi The Raid, sebelum menjalani debut penyutradaraan lewat Midnight Show, sebuah slasher sarat unsur giallo. Kini saya makin khawatir terhadap nasib Lukisan Ratu Kidul (Well, it was produced by Lord KKD, so....).

Mendekati akhir, konflik yang tak pernah menjauhi tema kesalahpahaman cheesy makin dipaksa masuk. Bisa ditebak, segala problematika itu tuntas sekalinya Ahok melontarkan kalimat bijak. Ahok dengan semangat membara yang dicintai banyak orang tak nampak, digantikan remaja asing pemalu, kaku, pula tertutup, yang dibawakan dengan membosankan oleh Kenny Austin. Mungkin bagi Kenny, satu-satunya ciri penting Ahok hanya postur bungkuknya. Hal itu turut menggambarkan keseluruhan Anak Hoki, yang hanya menggambarkan fisik Ahok, namun tidak jiwanya.

“Tapi film ini kan fiksi dan tak sekalipun menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama, jadi wajar kalau punya karakterisasi berbeda.” Andai ada yang mengajukan pernyataan serupa, yakinlah bahwa kasta orang itu setinggi Tuan Besar Dheeraj Kalwani.

14 komentar :

Comment Page:

FOXTROT SIX (2019)

24 komentar
Bermodalkan 70,5 miliar rupiah, atau sekitar 5 juta dollar, yang mana sedikit di atas The Raid 2: Berandal (4,5 juta dollar), ditambah keterlibatan Mario Kassar (First Blood, Total Recall, Terminator 2: Judgment Day) selaku produser eksekutif, ekspektasi terhadap Foxtrot Six untuk menjadi “blockbuster Indonesia rasa Hollywood” melambung tinggi. Dan bila salah satu pemakaian CGI tersolid di film lokal dan aksi baku hantam brutal terdengar menggiurkan, maka debut penyutradaraan Randy Korompis ini cocok untuk anda.

Berlatar tahun 2031 saat dunia dilanda krisis pangan, dipimpin Presiden termudanya sepanjang sejarah, Indonesia siap memimpin uluran bantuan. Belum sempat terlaksana sepenuhnya, kudeta dilakukan oleh partai politik Piranas, yang akhirnya berkuasa dengan semena-mena. Protagonis kita adalah Angga (Oka Antara), yang menariknya, bukan sosok jagoan lurus, setidaknya di paruh awal. Sebagai anggota parlemen, sang mantan marinir hidup bergelimang kemewahan sementara rakyat tenggelam dalam kemiskinan.

Angga bahkan mengusulkan rencana menumpas habis kelompok pemberontak bernama “Reformasi” kepada para pejabat negara. Saya menyukai fakta bahwa jajaran pejabat tinggi itu terdiri atas empat “rubah tua” yang haus harta dan kekuasaan. Kondisi tersebut mencerminkan realita dunia masa kini, tatkala jajaran pemuda berambisi membawa perubahan dengan melengserkan pemerintahan korup yang diisi generasi masa lalu.

Tapi akibat akal bulus Wisnu (Edward Akbar), Angga justru dianggap berkhianat, membelot untuk memihak Reformasi, dan masuk daftar atas buronan negara. Angga pun terpaksa benar-benar bergabung bersama Reformasi, yang rupanya hasil bentukan Sari (Julie Estelle), sang mantan kekasih yang ia pikir telah tiada. Tujuannya satu, merobohkan kekuasaan Piranas.

Naskah buatan Randy Korompis sayangnya lemah membangun pondasi, menghasilkan produk setengah matang yang enggan repot-repot memupuk pemahaman dan kepedulian penonton. Contohnya saat Foxtrot Six buru-buru masuk ke tahap di mana Angga mengumpulkan regu—yang terdiri atas rekan-rekan lamanya di militer, yakni Tino (Arifin Putra), Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), dan Ethan (Mike Lewis), ditambah Spec (Chicco Jerikho) si rekan misterius Sari—hanya sesaat setelah ia sadar sudah dikhianati pemerintahan tempatnya setia mengabdi. Kita tidak diberi kesempatan melihat bagaimana Angga memproses peristiwa itu.

Pembangunan dunianya pun sama lemahnya. Foxtrot Six mendefinisikan dunianya sebagai tempat penuh kekacauan, sarat kemiskinan, juga minim harapan. Namun di beberapa titik, semuanya terlihat normal, seolah kita hanya tengah diajak berjalan-jalan mengelilingi Jakarta di hari-hari biasa. Pun sukar menelan bulat-bulat pernyataan jika Reformasi merupakan ancaman besar seperti yang Piranas khawatirkan, sebab tak sekalipun dijabarkan kekacauan macam apa yang mereka picu.

Tapi bukankah kita datang untuk melihat aksi? Di tatanan itu, Foxtrot Six sebenarnya cukup memuaskan. Koreografi arahan Very Tri Yulisman (pemeran Baseball Bat Boy di Berandal) hanya setingkat di bawah para lulusan The Raid lain, unsur gore yang kebanyakan melibatkan aksi saling tebas dan tusuk terbukti ampuh memberi dampak, musik bombastis gubahan Rob E Powers mampu menciptakan intensitas (bak berteriak “Ini blockbuster, Bung!”), pun jajaran pemainnya bisa diandalkan melakoni aksi saling serang.

Oka Antara lincah menghajar musuh-musuhnya lewat beragam gerakan kompleks, sementara Rio Dewanto sempurna memerankan sosok jagoan laga macho yang baru sekarang ia perlihatkan. Bahkan perkenalan karakter Bara merupakan salah satu momen favorit saya sepanjang film, ketika naskahnya secara kreatif menyulap panjat pinang jadi aktivitas barbar nan brutal. Satu kekecewaan hadir karena setelah penampilan badass di Berandal, Headshot, dan The Night Comes for Us, Julie Estelle tak diberi kesempatan unjuk gigi, hanya berakhir sebagai damsel in distress.

Kualitas CGI-nya mungkin masih perlu perbaikan di sana-sini, namun pemakaian seperlunya membuat sumber daya dapat dialokasikan secara tepat. Adegan “terjun bebas” dan sebuah penghormatan dari Randy Korompis untuk momen ikonik Terminator 2: Judgment Day (andai tidak ada nama Mario Kassar mungkin saya bakal menyebut Alien 3) merupakan beberapa highlight pemaksimalan teknologi efek visualnya.

Sayang, Foxtrot Six gagal mencapai potensi tertinggi kala sering mempertontonkan kecanggungan akibat penyuntingan Denny Rihardie yang bagai kurang daya, pula penyutradaraan Randy, yang meski mumpuni di banyak kesempatan, tak jarang melewatkan ketepatan timing, sudut kamera, atau mise en scène. Sedetik saja melewatkan timing, maupun meleset memposisikan kamera walau cuma beberapa derajat, apalagi jika terjadi dalam momen vital (Bara menghabisi lawan memakai sikat gigi atau apa pun yang Angga perbuat guna meledakkan atap), maka akibatnya fatal. Alhasil, biarpun menghibur, Foxtrot Six urung menjadi “The Next The Raid” seperti harapan banyak pihak.

24 komentar :

Comment Page:

EXTREME JOB (2019)

16 komentar
Extreme Job menjadi fenomena berkat berbagai keberhasilan memecahkan rekor yang menuntunnya sebagai film Korea Selatan terlaris kedua sepanjang masa dengan lebih dari 14 juta penonton (masih terus bertambah), tepat di bawah The Admiral: Roaring Currents. Karya terbaru Lee Byeong-heon (Twenty, What a Man Wants) ini sebenarnya diisi elemen-elemen familiar di tatanan aksi-komedi, serta wajah familiar, yakni Ryu Seung-ryong selaku aktor pertama yang muncul dalam empat film di atas 10 juta penonton.

Familiaritas itulah alasan kesuksesan Extreme Job. Ini adalah tontonan formulaik yang digarap apik. Bahkan sebelum membuktikan langsung kualitasnya, premisnya sudah demikian mengundang: Apa jadinya jika para polisi justru meraup keuntungan melimpah dari pekerjaan samaran mereka?

Selepas aksi penangkapan berujung kekacauan, karir lima polisi bagian narkotika: Kapten Go (Ryu Seung-ryong), Jang (Lee Hanee), Young-ho (Lee Dong-hwi), Ma (Jin Seon-kyu), dan Jae-hoon (Gong Myung), berada di ujung tanduk. Tim tersebut terancam dibubarkan, yang makin memperkeruh kondisi sang kapten, yang pangkatnya mulai dilewati para junior. Harapan terakhir terletak pada misi penyergapan kartel narkoba milik Lee Moo-bae (Shin Ha-kyun), yang bermarkas tepat di depan restoran ayam goreng. Demi memudahkan pengintaian, restoran itu pun mereka ambil alih.

Keputusan gila tersebut diambil berdasarkan fakta bahwa pemilik sebelumnya gulung tikar akibat ketiadaan pengunjung. Tapi begitu bisnis samaran dijalankan, konsumen justru bermunculan, bahkan membeludak setelah Ma menyuguhkan resep saos ciptaan orang tuanya. Restoran mereka mendadak viral, bahkan stasiun televisi menyatakan ketertarikan mengadakan liputan.

Jangankan menangkap bandar narkoba, sekadar pengintaian sederhana pun kini tak sempat dilakukan. Tatkala karir makin menukik, bisnis ayam goreng justru melejit, memberi kelimanya uang dengan jumlah yang tak pernah terbayangkan. Bagi Kapten Go, kondisi ini dilematis. Sekarang ia bisa membelikan sang istri tas Gucci, berpeluang menghabiskan lebih banyak waktu bersama puterinya (yang pernah bercita-cita jadi penjahat agar bisa sering bertemu Go), juga tak lagi harus bertaruh nyawa, sebuah risiko profesi polisi yang diam-diam dikhawatirkan sang istri.

Ryu, sebagaimana kita saksikan di film-film macam Miracle in Cell No. 7 (2013), jago menghembuskan rasa dalam peran. Tapi jangan mengharapkan drama keluarga mengharu biru, sebab sepanjang 111 menit perjalanannya, naskah buatan penulis debutan Bae Se-young tak seberapa jauh menjamah ranah dramatik, dan sebatas menjadikannya faktor tambahan agar penonton tahu (tidak sampai merasakan) bahwa godaan kesuksesan bisnis ayam goreng begitu besar untuk protagonisnya.

Exteme Job sesungguhnya cuma mengandalkan running gag seputar premis absurdnya, yang tak pernah melelahkan, repetitif, apalagi membosankan, sebab humor dan jajaran pemain mampu saling mendukung.

Kalau sering menonton komedi Korea Selatan, khususnya yang bersifat high profile blockbuster, anda semestinya bisa menduga lelucon seperti apa yang menanti. Berbeda dengan Hollywood yang cenderung mengandalkan kegamblangan komikal, urusan komedi fisik (sebut saja aksi saling tendang antar tokoh), sineas Korea Selatan memilih menampilkan pukulan maupun tendangannya senyata mungkin. Semakin terasa menyakitkan, semakin lucu.

Dikemas lewat tempo cepat oleh Byeong-heon, Extreme Job enggan berlama-lama menetap di satu momen komedi. Alhasil, andai sebuah usaha melucu berujung kegagalan, dinamika senantiasa terjaga, sebab filmnya segera beralih ke titik berikutnya. Jajaran pemain pun melontarkan kekonyolan—yang seringkali bertambah lucu karena hadir di kesempatan maupun cara tak terduga—dalam antusiasme tinggi, agar tatkala humornya meleset pun, kita setidaknya dapat tersenyum. Lee Hanee mencuri perhatian di sini. Pemegang gelar 3rd Runner-up Miss Universe 2007 ini tanpa cela memerankan polisi slebor yang jago melontarkan kata-kata pedas, dengan ekspresi yang bisa membuat anda merasa seperti sampah tidak berguna.

Sekuen puncaknya akhirnya memberikan deretan laga, yang setelah menanti beberapa lama, rupanya sama sekali tak mengecewakan. Ditemani geberan musik rock bertenaga garapan Kim Tae-seong (War of the Arrows, The Admiral: Roaring Currents, My Annoying Brother), lima polisi payah itu berubah jadi petarung-petarung keren. Perubahan itu tak sepenuhnya dipaksakan, sebab meski tak sering, kemampuan tersembunyi mereka sudah disiratkan sepanjang durasi. Dan saat akhirnya kelima jagoan kita unjuk kebolehan, lengkap sudah hiburan menyenangkan yang ditawarkan Extreme Job.

16 komentar :

Comment Page:

PREDIKSI PEMENANG OSCARS 2019

45 komentar
Jelang penyelenggaraan ke-91, Oscar berusaha sekuat tenaga menyelamatkan rating siaran televisi yang tahun lalu menyentuh titik nadir. Berbagai hal dilakukan, termasuk beberapa langkah menggelikan seperti usulan kategori “Best Popular Film”, hingga usaha memangkas durasi yang mendekati empat jam dengan hanya memberi tempat pada dua dari lima nominasi Best Original Song untuk dimainkan (Shallow dan All the Stars), serta mengumumkan pemenang empat kategori (Best Cinematography, Best Live Action Short, Best Film Editing, Best Makeup and Hairstyling) di tengah jeda iklan. Beruntung, deretan kontroversi di atas akhirnya batal terjadi.

Berkat penambahan juri-juri dari luar Amerika, Oscar 2019 menjadi  saksi kejayaan film-film asing. Di luar kategori Best Foreign Language Film, Roma (Meksiko) selaku kandidat kuat peraih film terbaik memperoleh sembilan nominasi, Cold War (Polandia) mendapatkan dua nominasi, sementara Never Look Away (Jerman) dan Border (Swedia) masing-masing satu. Secara total, Roma bersama The Favourite jadi pemilik nominasi terbanyak, yakni sepuluh. Disusul A Star is Born dan Vice yang sama-sama mengumpulkan delapan nominasi.

Seperti biasa, saya akan memberi prediksi (Will Win) mengenai pemenang di tiap kategori kecuali tiga kategori film pendek, juga siapa yang akan saya pilih jika saya adalah juri Oscar (Should Win). Berikut selengkapnya.

BEST VISUAL EFFECTS
Apakah Oscar bakal melewatkan kesempatan memberi penghargaan bagi film ketiga sepanjang masa yang berhasil mengumpulkan $2 milyar? Tentu tidak. Ditambah kualitas mo-cap kelas satu, Marvel Studios akhirnya bakal membawa pulang piala.
Will Win: Avengers: Infinity War
Should Win: Avengers: Infinity War

BEST FILM EDITING
Hank Corwin (Vice) yang sekali lagi berhasil menghidupkan penceritaan liar Adam McKay setelah The Big Short dan Yorgos Mavropsaridis (The Favourite) paling pantas memenangkan piala. Tapi kemenangan John Ottman (Bohemian Rhapsody) pada American Cinema Editors Award bakal membuat persaingan memanas. Pun lima nominasi yang didapat membuktikan betapa cintanya juri Oscar berkaraoke menyanyikan lagu Queen di bioskop.
Will Win: Bohemian Rhapsody
Should Win: Vice

BEST COSTUME DESIGN
Sandy Powell (The Favourite) jelas paling berpeluang mengingat kecintaan Oscar pada kostum period drama. Tapi karya Ruth E. Carter di Black Panther yang menyatukan ragam kultur Afrika dengan begitu indah, pantas dirayakan.
Will Win: The Favourite
Should Win: Black Panther

BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING
Di antara tiga nominasi, baru Vice yang saya tonton, sehingga tidak ada jagoan khusus di kategori ini. Pun riasan yang dikenakan Christian Bale memang pantas menyabet piala.
Will Win: Vice
Should Win: -

BEST CINEMATOGRAPHY
Oscar 2019 bakal jadi tahunnya sinematografi hitam-putih. Alfonso Cuaron (Roma) dan Lukasz Zal (Cold War) memang menghadirkan dua film terindah sepanjang tahun.
Will Win: Roma
Should Win: Roma
BEST PRODUCTION DESIGN
Kategori ini jadi pertarungan antara kemewahan berkilau abad pertengahan (The Favourite) melawan kekayaan budaya Afrika (Black Panther). Tapi melihat bagaimana komposisi dekorasi di tiap sudut kerajaan, rasanya pemenang sudah bisa ditentukan.
Will Win: The Favourite
Should Win: The Favourite

BEST SOUND MIXING
Tidak ada yang menandingi bagaimana First Man bermain-main dengan gemuruh dan kesunyian secara simultan, namun kemenangan di Cinema Audio Society Awards akan melapangkan jalan Bohemian Rhapsody. Ditambah seringnya juri Oscar kebingungan mendefinisikan dua kategori tata suara, bakal mendorong mereka memenangkan film yang tak terlalu subtil dalam penataannya.
Will Win: Bohemian Rhapsody
Should Win: First Man

BEST SOUND EDITING
First Man yang tadinya dijagokan makin kehilangan popularitas, terlebih pasca kemenangan A Quiet Place dan Bohemian Rhapsody pada Motion Picture Sound Editors Awards. Sekali lagi, mari berpatokan pada kurang mampunya juri Oscar mendefinisikan tata suara. A Quiet Place selaku film yang mengedepankan suara jelas punya peluang terbesar.
Will Win: A Quiet Place
Should Win: First Man

BEST ORIGINAL SONG
Tidak ada kompetisi di sini. Shallow bakal berjaya, meski rasanya akan menyenangkan juga bila When a Cowboy Trades His Spurs for Wings yang indah itu memberi kejutan.
Will Win: Shallow
Should Win: Shallow

BEST ORIGINAL SCORE
Keberhasilan Ludwig Göransson mengangkat musik tradisional Afrika semestinya cukup untuk menjadikannya pemenang, namun belakangan dukungan bagi Nicholas Britell (If Beale Street Could Talk) makin tinggi. Pertanyaannya, “Berapa banyak juri Oscar sudah menonton film terbaru Berry Jenkins itu?”. Kemenangan di Grammy Awards bakal makin mendongkrak pamor musik Ludwig Göransson.
Will Win: Black Panther
Should Win: Black Panther

BEST DOCUMENTARY – FEATURE
Saya baru menonton Free Solo, dan rasanya film karya Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin memang bakal pulang dengan kemenangan, meski RBG siap mengejutkan.
Will Win: Free Solo
Should Win: -

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
Tidak ada kontes di sini. Mustahil Roma yang meraih nominasi Best Picture bakal kalah di kategori (yang semestinya menyertakan Burning di daftar nominasi) ini.
Will Win: Roma
Should Win: Roma

BEST ANIMATED FEATURE FILM
Secara personal, Mirai jadi film yang paling saya cintai di sini. Tapi pencapaian visual serta penceritaan Spider-Man: Into the Spider-Verse yang berani mendobrak batasan memang perlu dianugerahi piala.
Will Win: Spider-Man: Into the Spider-Verse
Should Win: Spider-Man: Into the Spider-Verse

BEST ADAPTED SCREENPLAY
Can You Ever Forgive Me? berhasil pulang dengan kemenangan di Writers Guild Awards, dan seketika melambungkan peluangnya, menyusul BlackKklansman. Tapi saya amat menyukai naskah A Star is Born yang sanggup memperbaiki kelemahan film-film sebelumnya dan tetap mempertahankan berbagai elemen positif yang ada.
Will Win: BlackKklansman
Should Win: A Star is Born

BEST ORIGINAL SCREENPLAY
Mengingat Eighth Grade yang memenangkan Writers Guild Awards tak memperoleh nominasi, The Favourite yang sebelumnya berjaya di BAFTA rasanya bakal keluar sebagai jawara. Saya setuju. Bukan perkara gampang menyematkan dialog menggelitik di latar period seperti yang dilakukan Deborah Davis dan Tony McNamara.
Will Win: The Favourite
Should Win: The Favourite

BEST SUPPORTING ACTRESS
Ketiadaan Emily Blunt (A Quiet Place) selaku pemenang SAG Awards di daftar nominasi cukup mengejutkan. Hype cenderung mengarah pada Regina King (If Beale Street Could Talk), walau Emma Stone di The Favourite benar-benar mencuri hati saya.
Will Win: Regina King
Should Win: Emma Stone

BEST SUPPORTING ACTOR
Menang di SAG Awards ditambah statusnya sebagai aktor yang dihormati oleh kalangan industri membuat kemenangan kedua Mahershala Ali di kategori ini rasanya bakal terjadi.
Will Win: Mahershala Ali
Should Win: Mahershala Ali

BEST ACTRESS
Satu lagi kategori tanpa kompetisi. Selain kemenangan di berbagai ajang penghargaa lain, Oscar takkan mengambil risiko membiarkan aktris senior macam Glenn Close menutup karir tanpa piala. Olivia Colman siap memberi kejutan.
Will Win: Glenn Close
Should Win: Glenn Close

BEST ACTOR
Rami Malek pantas dan pasti memenangkan kategori ini. Tapi saya sungguh jatuh hati pada Willem Dafoe yang mampu mencurahkan segala permasalahan psikis Vincent van Gogh melalui tatapan matanya.
Will Win: Rami Malek
Should Win: Willem Dafoe

BEST DIRECTOR
Biarpun Spike Lee bisa saja secara mengejutkan menyabet kemenangan, status sebagai pemenang Director Guid Awards makin mengukuhkan status Alfonso Cuarón sebagai unggulan terdepan.
Will Win: Alfonso Cuarón
Should Win: Alfonso Cuarón

BEST PICTURE
Kategori puncak ini menghadirkan balapan tiga “kuda”. Roma selaku peraih nominasi terbanyak sekaligus unggulan, Green Book sang pemenang Producer Guild Awards yang sering jadi tolak ukur pemenang Best Picture,dan Black Panther yang meraih kejayaan di Screen Actor Guild Awards (mayoritas juri Oscar berasal dari cabang akting).

Green Book tampak seperti pilihan paling aman, tapi terlalu banyak kontroversi mengelilingi film ini. Fakta bahwa Oscar diselenggarakan bertepatan dengan Black History Month memberi keuntungan bagi Black Panther. Kemenangannya akan menjadi momen bersejarah, suatu hal yang digandrungi Oscar. Pun memenangkan Black Panther, yang notabene termasuk “film populer”, niscaya akan mengatrol rating siaran televisi.

Tapi ingat, kategori Best Picture menerapkan preferential ballot. Artinya, paling banyak dipilih sebagai film terbaik oleh juri saja tidak cukup. Sesedikit mungkin menghindari posisi terbawah juga penting. Saya rasa masih cukup banyak juri antipati terhadap film superhero, dan itu melemahkan peluang Black Panther. Menyisakan Roma, yang kemenangannya bakal mengubah persepsi industri terhadap film dari layanan streaming
Will Win: Roma
Should Win: Roma 

45 komentar :

Comment Page:

DRAGON BALL SUPER: BROLY (2018)

14 komentar
Dragon Ball Super: Broly merupakan installment monumental dalam seri film Dragon Ball. Film ini jadi yang pertama mengusung merek dagang Dragon Ball Super, memberi Broly status canon setelah memperoleh popularitas tinggi lewat kemunculannya di tiga judul, juga merupakan film Dragon Ball terbaik hingga kini. Dragon Ball Super: Broly sukses memaksimalkan potensi Dragon Ball perihal pertarungan over-the-top yang mengguncang dunia, bahkan banyak blockbuster Hollywood pun akan tampak kerdil di hadapan karya sutradara Tatsuya Nagamine (One Piece Film Z) ini.

Filmnya bisa dibilang terbagi ke dalam dua babak. Babak pertama membawa kita kembali menuju 41 tahun lalu, menuturkan latar belakang Broly, yang dibuang oleh King Vegeta ke planet tandus bernama Vampa sewaktu kecil, sebab sang Raja tak ingin ada anak yang lebih superior daripada keturunannya, Vegeta. Ketika Frieza menghancurkan planet Vegeta bersama sebagian besar ras Saiyan, Broly cilik tengah sibuk melawan monster-monster Vampa bersama ayahnya, Paragus, yang datang untuk menyelamatkan sang anak namun justru ikut terdampar di sana.

Cerita latar ini membangun beberapa poin: Pemahaman bagaimana Saiyan dan Frieza memandang satu sama lain; menambah dimensi penokohan serta bobot emosi bagi Bardock dan Gine yang mengambil keputusan berat untuk mengirim putera mereka, Kakarot alias Son Goku ke Bumi demi keselamatannya; hingga elemen sepele seperti wujud scouter (pendeteksi level kekuatan juga posisi seseorang sekaligus perangkat komunikasi) versi lama yang bakal jadi trivia menarik bagi penggemar.

Terpenting, Broly digambarkan sebagai sosok simpatik. Di Broly- The Legendary Super Saiyan (1993), masalah psikisnya dipicu karena selalu mendengar tangisan kencang Goku sewaktu bayi ditambah kontrol pikiran oleh Paragus. Sekarang, lewat naskah yang ditulis sendiri oleh Akira Toriyama, meski unsur alat pengendali milik Paragus tetap dipertahankan, tangisan Goku ditiadakan, digantikan alasan yang lebih kelam, realistis, dan relatable.

Meski luar biasa kuat, Broly sejatinya berhati lembut bahkan membenci perkelahhian. Dia hanya korban tindakan kasar sang ayah yang secara paksa mengubahnya jadi mesin petarung. Malah filmnya sempat menyelipkan momen menyedihkan yang melibatkan persahabatan singkat Broly dengan monster terbesar planet Vampa. Jalan Broly bersinggungan dengan para jagoan kita saat Frieza mengutus dua anak buahnya, Cheelai dan Lemo, mencari petarung kuat guna membantu rencananya mengumpulkan dragon ball di Bumi. Ya, salah kalau berpikir setelah Universe Survival Saga (klimaks cerita anime dan manga Dragon Ball Super) Frieza bakal berubah.

Memanfaatkan dendam Paragus terhadap garis keturunan King Vegeta, Frieza menjadikan Broly ujung tombak invasinya, dan begitu mereka tiba di Bumi, Dragon Ball Super: Broly memasuki babak keduanya: mahakarya aksi epic yang membawa pertarungannya hingga ke inti Bumi yang membara. Di samping skala kehancuran, poin terbaik dari threesome Goku-Vegeta-Broly (sempat melibatkan Frieza di satu titik) adalah kreativitas tak terbatas presentasi visualnya, biarpun di luar adegan aksi kualitas animasinya kerap menurun yang mana suatu kewajaran.

Bukan saja kaya warna, visualnya pun senantiasa berganti gaya, enggan menetap terlalu lama di satu tipe sehingga kesegaran mampu dipertahankan meski aksinya terus melaju kencang selama sekitar satu jam, dan hanya sekilas diperlambat kala Goku dan Vegeta mundur sejenak dari medan perang. Begitu bombastis pertarungan antar bangsa Saiyan ini, mereka sempat seolah-olah menembus ruang dan waktu, memasuki lokasi yang nampak bak quantum realm dalam sekuen terbaik sepanjang film. Musik gubahan Norihito Sumitomo (Color Me True) juga membantu mempertahankan tensi.

Sejak diperkenalkan 26 tahun lalu, saya selalu menganggap Broly sebagai sosok paling intimidatif dibanding antagonis lain di seri Dragon Ball. Dia brutal, besar, tak terkontrol. Broly versi baru tidak jauh berbeda, di mana wujud normalnya saja mampu mengalahkan Vegeta dalam mode Super Saiyan Rosé (the one with the red hair). Sekalinya ia berhasil menguasai transformasi Super Saiyan, bahkan kombinasi Super Saiyan Blue Goku dan Vegeta dibuat tak berdaya.

Bukan Broly seorang karakter populer yang memperoleh status canon. Seperti telah diketahui melalui materi promosinya, Gogeta (fushion Goku dan Vegeta) pun turut ambil bagian. Kemunculannya tak mengecewakan, walau memunculkan sedikit masalah kontinuitas. Saya ingat betul Goku pernah mengajukan ide fushion di tengah pertarungan melawan Kid Buu, tapi di sini, Vegeta seolah baru pertama kali mendengar gagasan tersebut. Pun agak aneh mendapati film ini tak menyinggung Ultra Instinct, mengingat mode itu sanggup mengatasi Jiren. Tapi jika anda bukan penggemar berat, hal-hal di atas takkan mengganggu.

Jangan khawatir 100 menitnya bakal monoton, karena Dragon Ball Super: Broly masih sempat menyelipkan beberapa momen komikal, dengan guyonan terbaik membahas soal kemiripan permintaan yang ingin diajukan Frieza dan Bulma kepada Shenron. Konklusinya menawarkan posibilitas menarik untuk kelanjutan film maupun serinya. Menilik tradisi Dragon Ball yang gemar mengubah lawan jadi kawan, sulit menahan antusiasme membayangkan bersatunya trio Goku-Vegeta-Broly di masa depan. Kemungkinan tak berujung macam ini adalah alasan saya begitu menggemari Dragon Ball.

14 komentar :

Comment Page: