FALL IN LOVE AT FIRST KISS (2019)
Rasyidharry
Februari 28, 2019
Chi-Jou Huang
,
Chinese Movie
,
Christy Chung
,
Comedy
,
Cukup
,
Kenji Chen
,
REVIEW
,
Romance
,
Talu Wang
,
Yu Shan Chen
,
Yun Lin
,
Yung-Ting Tseng
6 komentar
Lupakan “Jatuh cinta pada pandangan
pertama”. Seperti sudah kita tahu dari judulnya, tokoh utama kita, Yuan Xiang Qin
(Yun Lin alias Jelly Lin), jatuh cinta pada ciuman pertama, yang sebenarnya
terjadi tidak sengaja. Di hari pertama sekolah, ia dan Jiang Zhi Shu (Talu
Wang) bertabrakan. Zhi Shu menangkap Xiang Qin, menariknya agar tak terjatuh,
lalu bibir mereka bertemu. Secepat dan semudah itu. Tapi tidak demikian dengan
jalan yang Xiang Qin tempuh agar hati keduanya bisa bertemu.
Sebab mereka amat berseberangan.
Xiang Qin tergabung dalam kelas F yang berisi murid-murid biang onar bernilai
jeblok di mana membersihkan sarang lebah jadi rutinitas sehari-hari, sedangkan
Zhi Shu adalah jenius dengan IQ 200 yang bahkan tampak menonjol di antara
siswa-siswi kelas A. Ketika Zhi Shu berasal dari keluarga kaya pemilik
perusahaan ternama, wajah Xiang Qin menghiasi berita televisi setelah rumah
reyotnya roboh.
Begitu tergila-gila, Xiang Qin
mengoleksi semua benda yang memajang wajah Zhi Shu. Kegilaan itu bukan
menjangkit ia seorang. Seluruh siswi di sekolah bersikap serupa, semakin
mengecilkan peluangnya merebut hati si pria idaman. Hingga suatu hari, kawan
lama sang ayah mengajak mereka tinggal di rumahnya sampai semua masalah
selesai. Bisa ditebak, kawan lama tersebut adalah ayah Zhi Shu. Ya, keduanya
kini tinggal satu atap.
Fall in Love at First Kiss bukan romansa di mana karakter
utamanya terpikat pada lawan jenis populer, hanya untuk akhirnya menyadari,
sosok yang tulus mencintainya (dan juga ia cintai) adalah seorang biasa yang
selalu ada di dekatnya. Seorang murid dari kelas F (Kenji Chen) selalu mengejar
Xiang Qin, tapi elemen itu hanya berperan menambah kadar humor. Fall in Love at First Kiss adalah
sepenuhnya cerita mengenai kepercayaan diri, berusaha keras mendapatkan cinta
meski ditentang seluruh dunia.
Mungkin beberapa pihak bakal
berpendapat kandungan kisah film ini merupakan kemunduran representasi terhadap
wanita di layar lebar. Tapi anggapan itu
terasa seperti sebuah penggambangan. Sebab apa yang Xiang Qin lakukan adalah
mengejar impian, dan tidak masalah bila mimpi itu berbentuk cinta kepada lawan
jenis. Lagipula dia tak sampai menyia-nyiakan hidup lalu berakhir sebagai budak
cinta tanpa nyawa. Xiang Qin bahkan termotivasi memperbaiki diri, belajar keras
demi meningkatkan nilai ujian, hingga akhirnya meraih pekerjaan yang
diinginkan.
Masalah sebenarnya dari film ini
justru dipicu perilaku Zhi Shu. Dia merupakan pria dingin yang enggan
menunjukkan perasaan sesungguhnya, sehingga tak jarang ia tampak seolah begitu
membenci Xiang Qin. Tapi perbuatannya seringkali terlalu kejam, sampai
mengancam peluang tercurahnya dukungan penonton bagi cinta mereka. Untunglah
ada Yun Lin lewat kepiawaian menampilkan keluguan dan kekonyolan (wajar,
mengingat ia mengawali karir lewat The
Mermaid-nya Stephen Chow), menjadikan Xiang Qin karakter likeable. Cuma penonton tanpa hati yang
berharap Xiang Qin gagal, apalagi setelah melihat tangisan sang gadis.
Karena hanya melihat poster tanpa
menyaksikan trailer, saya terkejut
mendapati fakta bahwa Fall in Love at
First Kiss rupanya sebuah komedi absurd. Penggambaran situasi sekolah serta
penokohan mayoritas karakternya dikemas amat komikal. Pemilihan gaya itu dapat
dipahami, sebab filmnya sendiri merupakan adaptasi manga Itazura na Kiss karya mendiang Kaoru Tada, yang sebelumnya sudah
menjadi materi adaptasi bagi 8 judul serial televisi dari 4 negara (Jepang,
Taiwan, Korea Selatan, Thailand), 25 episode anime, dan 3 film layar lebar. Wajar saat sutradara Yu Shan Chen (Our Times) ingin mempertahankan gaya
tersebut, termasuk visual penuh warna cerah yang memanjakan mata.
Tidak semua humornya bekerja
efektif, karena duo penulis naskahnya, Chi-Jou Huang dan Yung-Ting Tseng (Our Times), memilih mengedepankan
kuantitas ketimbang kualitas, mendorong saya berharap filmnya mau beristirahat
sejenak dalam upayanya memancing tawa dan menambah fokus di paparan drama untuk
membangun rasa. Menekan kadar humor bukan saja berguna memberi penonton waktu
mengambil napas, pula memberi alurnya ruang mempresentasikan kebersamaan dua tokoh utama.
Akhirnya tersisa setumpuk aspek
yang berpeluang menyetir emosi namun urung terjadi akibat minimnya eksplorasi.
Contohnya saat ibu Zhi Shu (Christy Chung) berkata bahwa setelah kehadiran
Xiang Qin di rumah, puteranya mulai berubah. Perubahan yang tak pernah
benar-benar penonton saksikan (ingat, konteks pernyataan sang ibu adalah Zhi
Shu di rumah, bukan di luar). Pun Fall in
Love at First Kiss tak mampu total memaksimalkan ide menempatkan dua tokoh
utama di satu rumah tatkala interaksi keduanya di sana terhitung minim.
Tapi seiring waktu bergulir,
filmnya mulai membayar lunas hal-hal yang terbuang percuma. Akhirnya kita
disuguhi beberapa interaksi Xiang Qin dan Zhi Shu. Hadir sedikit terlambat,
namun efeknya tidak main-main. Berkebalikan dengan humornya, momen romantis dua
protagonis memang rendah soal kuantitas, tapi berkualitas tinggi berkat
sensibilitas sang sutradara memainkan suasana sarat asmara. Puncaknya adalah 5-10
menit terakhir yang membuat kelemahan filmnya (juga kesalahan Zhi Shu)
termaafkan sekaligus mampu melelehkan hati.
THE NIGHT EATS THE WORLD (2018)
Rasyidharry
Februari 25, 2019
Anders Danielsen Lie
,
Denis Lavant
,
Dominique Rocher
,
Drama
,
Guillaume Lemans
,
horror
,
Jérémie Guez
,
Kurang
,
REVIEW
,
Sigrid Bouaziz
1 komentar
The Night Eats the World dibuka oleh sebuah pesta, di mana
protagonis kita, Sam (Anders Danielsen Lie), datang untuk mengambil koleksi
kaset-kasetnya, yang terselip di antara tumpukan barang si mantan kekasih,
Fanny (Sigrid Bouaziz). Fanny yang kini telah menjalin hubungan bersama pria
lain, merupakan tuan rumah pesta tersebut. Dari raut wajahnya, tak sulit
menerka bahwa hati Sam belum sepenuhnya berpaling.
Pun beberapa menit adegan pembuka
itu turut menggambarkan Sam sebagai pria yang menolak keluar dari zona nyaman. “Have fun, meet new people”, demikian
ucap Fanny. Sam tak bergeming. Dia hanya menginginkan kaset-kasetnya. Sam
mengunci diri di ruang kerja Fanny, tertidur, dan setelah bangun di pagi hari
untuk menyadari wabah zombie telah menyebar (di area tersebut hanya tersisa ia
seorang), kalimat “Keluarlah dari zona nyamanmu” memiliki makna baru dalam
hidup Sam.
Walau mengusung premis dasar serupa
serta memiliki zombie yang berlari kencang, jangan mengharapkan horor oktan
tinggi macam 28 Days Later. The Night Eats the World, yang diadaptasi
dari novel berjudul sama karya Pit Agarman, cenderung bergerak ke arah drama
kontemplatif soal kenyamanan yang mengurung, pula proses seorang manusia
menyadari betapa dalam hidup, kita perlu melakukan mendobrak keluar untuk
menemukan kemungkinan tanpa batas.
Sutradara Dominique Rocher, yang
juga berkolaborasi menulis naskah bersama Jérémie Guez (The Bouncer, Yves Saint Laurent) dan Guillaume Lemans (Point Blank, The Next Three Days),
menuntun filmnya dalam tempo lambat. Semakin sunyi karena minimnya dialog, yang
mana masuk akal mengingat Sam jadi satu-satunya manusia. Serupa kisah-kisah survival lain, salah satu menu utamanya
adalah usaha tokoh utama menyesuaikan diri demi bertahan hidup. Sam meregulasi
stok makanan, memanfaatkan barang-barang di sekitarnya, sambil sesekali
menghibur diri dengan bermain musik memakai perkakas rumah tangga (satu dari
sedikit momen indah dan mempunyai rasa di film ini).
Bisa ditebak, film ini pun
menyinggung perihal kesendirian dan kesepian, yang semakin menguasai sentral
penceritaan begitu psikis Sam mulai terguncang. Biar bagaimanapun, manusia
memang makhluk sosial. Guna memuaskan hasrat sosialnya, Sam sempat berusaha
menangkap kucing liar, sebelum akhirnya memilih berteman dengan zombie bernama
Alfred (Denis Lavant) yang ia kurung di lift.
Masalah The Night Eats the World muncul kala naskahnya tak menyimpan cukup
trik untuk menjaga atensi penonton selama 94 menit yang terasa familiar
sekaligus bergulir pelan. Filmnya membungkus cerita mengenai perjuangan
bertahan hidup menggunakan gaya seperti halnya film-film pengusung tema serupa
lainnya. Elemen-elemen pengisinya pun tidak jauh beda, bahkan deretan subteks
yang dijabarkan di atas pun jauh dari kata “baru”.
Sejatinya banyak insiden berpeluang
menghembuskan nyawa lebih, khususnya beberapa situasi yang berpotensi tampi
menggelitik, namun Rocher tetap kukuh mempertahankan pendekatan “dingin”.
Alhasil, banyak poin tersia-siakan, termasuk talenta Denis Lavant, yang jelas
punya kapasitas lebih dari cukup untuk menghadirkan daya tarik sebagai zombie
yang lebih “manusiawi” melalui pendekatan akting ala monster Frankenstein.
Bahkan serangan-serangan zombie
milik The Night Eats the World pun
nyaris sama tak bernyawanya seperti zombie-zombie itu sendiri. Jadi saya
ingatkan, jangan mengharapkan film “zombie popcorn” selaku media hiburan. Dan
sebagai penuturan tentang proses individu menyadari keberadaan peluang tanpa
batas di balik bentangan horizon kota Paris, prentasinya tak begitu memuaskan.
Sebab, dilema batin Sam baru dipresentasikan jelang akhir. Andai muncul lebih
dini, mungkin dinamika emosi intens bakal terasa.
11:11: APA YANG KAU LIHAT? (2019)
Rasyidharry
Februari 23, 2019
Andi Manoppo
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Bayu Anggara
,
Fauzan Smith
,
horror
,
Indonesian Film
,
Lady Nayoan
,
Nicholas Raven
,
Rendy Kjaernett
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Twindy Rarasati
8 komentar
Begitu buruk dan membosankan 11:11: Apa yang Kau Lihat?, hampir
sepanjang durasi saya bermain “memirip-miripkan”. Twindy Rarasati mirip Prisia
Nasution, Rendy Kjaernett seperti versi lebih ganteng dari Dian Sidik, Bayu
Anggara dan Ge Pamungkas bagai pinang dibelah dua, sementara Fauzan Smith
mengingatkan saya kepada Fauzi Baadilla. Well,
yang terakhir mungkin agak dipaksakan.
Keisengan itu jauh lebih menghibur
ketimbang berusaha mencerna horor bodoh nan melelahkan, yang bahkan tak mau
repot-repot menjelaskan signifikansi “11:11” di judulnya. Debut penyutradaraan
Andi Manoppo (sebelumnya dikenal sebagai pimpinan pasca produksi dalam lebih
dari 70 film) ini dua kali memperlihatkan peristiwa mistis tepat pada pukul
11:11 yang memang identik dengan banyak mitos, tapi kenapa itu lebih dari
sekadar trivia sehingga pantas
dijadikan judul?
Sementara sub judulnya malah
mengajukan pertanyaan. “Apa yang kau lihat?”. Karena karakternya tak pernah
bermasalah dengan apa yang mereka lihat, saya yakin pertanyaan itu diajukan
bagi penonton. Apa yang saya lihat? Jawabannya: tidak ada. Karena film ini
terlampau keruh, baik gambar maupun kualitasnya secara menyeluruh.
Adegan pembukanya agak menjanjikan,
sebab bertempat di lokasi yang berbeda dibanding deretan kompatriotnya sesama
horor lokal buruk. Alkisah dua pria menyelam, memasuki sebuah kapal karam,
mengambil suatu artefak, sebelum salah satu dari mereka ditarik oleh sosok
misterius, sedangkan satunya lagi tergulung ombak raksasa. Tapi selepas
memperkenalkan keempat tokoh utamanya, 11:11:
Apa yang Kau Lihat? Mulai memasuki pakem klise soal perjalanan muda-mudi
merambah lokasi angker.
Tiga instruktur selam, Galih (Rendy
Kjaernett), Martin (Bayu Anggara), dan Ozan (Fauzan Smith), plus seorang murid
baru, Vania (Twindy Rarasati) si vlogger ternama, berlibur ke pulau terpencil
bernama Tanjung Biru. Pulau tersebut sepi. Selain keempatnya, hanya ada seorang
penjaga, yang melarang mereka menginjakkan kaki ke titik bernama Karang Hiu.
Tentu sebagai darah muda penuh rasa penasaran (baca: bodoh), mereka menolak
patuh. Tapi itu tidak langsung terjadi.
Jadi amunisi apa yang disiapkan
oleh duo penulis naskahnya, Nicholas Raven (Berangkat!)
dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing
Tengkorak, Jailangkung, Sakral) sebelum teror utamanya berlangsung?
Tunggu sebentar.........
DEMI SILUMAN LAUT! FILM INI DITULIS
NASKAHNYA OLEH MAHAGURU BASKORO ADI WURYANTO???!!! Sekarang semuanya masuk
akal!
Pantas saja alurnya begitu kosong, hanya diisi adegan Martin dan Ozan
merayu Vania ditambah selipan mimpi buruk aneh Galih mengenai sang ibu
(diperankan Lady Nayoan, istri Rendy Kjaernett) yang telah lama hilang. Saya merasa
bodoh sebagai pecinta film karena gagal mengenali karya Mahaguru, padahal
ciri-cirinya sudah disebar sepanjang film.
11:11: Apa yang Kau Lihat? dijual sebagai “horor lokal langka
berlatar bawah laut”, tapi kualitas gambar bawah lautnya bahkan kalah jernih
dibanding bumper legendaris “RCTI Oke”
dari era 90-an itu. Di sini, laut begitu keruh, sedangkan ikan-ikan kehilangan warnanya.
Hal paling menggelikan dari adegan menyelamnya adalah pemakaian audio dub yang dikemas agar terdengar seolah
karakternya saling bicara melalui HT. Mungkin pembuat filmnya khawatir penonton
sukar memahami bahasa non-verbal sederhana, tapi kualitas voice acting menggelikan jajaran pemainnya jelas tak membantu.
Soal teror bawah laut, mungkin Andi
Manoppo merasa bahwa menyuruh karakternya berenang tak tentu arah sambil
meneriakkan nama satu sama lain sudah cukup menyeramkan. Bukankah mereka
memakai HT? Kenapa tidak memberitahukan posisi dari situ? Tentu saja karena dub tersebut bukan merupakan rencana
awal.
Begitu karakternya kembali ke
permukaan, siluman laut telah siap menebar teror, bersenjatakan desain serta
metode kemunculan yang dicomot hanya dengan sekelumit modifikasi dari Lights Out. Selanjutnya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? memasuki
babak “tes daya tahan” bagi penonton. Kita diuji, seberapa jauh bisa
menoleransi kebodohan filmnya, yang terbentang dari keputusan-keputusan
karakternya—yang memilih lari ke dalam hutan dan memanjat puncak tebing yang
justru menambah risiko—hingga berbagai poin alur yang patut dipertanyakan.
Mari kembali ke pertanyaan yang
filmnya ajukan. Apa yang kau lihat? Saya melihat betapa perjuangan industri
perfilman Indonesia guna menumpas habis horor-horor inkompeten, yang membodohi
penonton sekaligus digarap asal-asalan seperti ini, masih cukup panjang.
ANAK HOKI (2019)
Rasyidharry
Februari 23, 2019
Ally Alexandra
,
Chris Laurent
,
Comedy
,
Drama
,
Ginanti Rona
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Kenny Austin
,
Lolox
,
Maia Estianty
,
Nadine Waworuntu
,
REVIEW
,
Tamara Geraldine
14 komentar
Kalimat penutup di review saya untuk A Man Called Ahok berbunyi, “.....tokoh seperti Basuki Tjahaja
Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas tidak buruk”. Mungkin suatu
hari film tersebut akan datang, tapi pastinya bukan berjudul Anak Hoki, yang kualitasnya tak
berlebihan bila disebut memalukan. Patut dicatat, bahwa naskah buatan Ally
Alexandra, yang sebelum ini malang melintang menulis skenario sinetron,
menuturkan cerita fiksi.
Meski fiksi, penggunaan sosok nyata
sebagai basis karakter mewajibkan penulis memahami dan menghargai semangat
serta jiwa sosok tersebut. Saya berani bertaruh jika anda menyebut Basuki
Tjahaja Purnama sebagai manusia sempurna, salah satu
pihak yang paling keras menyanggah adalah BTP sendiri. Tapi di sini, Ahok
(Kenny Austin) seolah tak punya kekurangan, rajin mengumbar petuah yang selalu
jadi pemecah masalah. Kalau film ini berjudul Mario Teguh Golden Ways, saya akan maklum.
Anak Hoki dibuka lewat perkenalan pada Ahok kecil dan tiga
sahabatnya, menyiratkan bahwa kisahnya bakal menyoroti masa kecil Ahok. Tapi
tidak. Alurnya melompat ke beberapa tahun berselang, saat Ahok merantau ke
Jakarta guna menempuh pendidikan SMA, kemudian kuliah. Lalu apa esensi
mengenalkan persahabatan empat bocah tadi? Di pertengahan durasi, Ahok mendapati
salah satu sahabatnya meninggal akibat sakit. Filmnya lalu menyuguhkan narasi
berbunyi, “Selamat jalan sahabat...”, berusaha mengaduk emosi memakai kisah
persahabatan yang bahkan tak pernah kita saksikan.
Naskahnya juga coba menciptakan
paralel tak berguna antara sahabat masa kecil dan masa kini Ahok. Karena
ternyata, di Jakarta, ia pun mempunyai dua kawan laki-laki serta satu perempuan
(SUNGGUH KEBETULAN YANG LUAR BINASA!). Ada Bayu (Chris Laurent) si playboy, Daniel (Lolox) yang diam-diam
mengambil jurusan memasak meski sang ibu (Tamara Geraldine) ingin dia menjadi pastor, dan Eva (Nadine Waworuntu) si gadis broken home yang merupakan pujaan hati Bayu.
Harus diakui, paruh pertama Anak Hoki berjalan cukup lancar sebagai komedi-drama
remaja yang melibatkan berbagai elemen familiar, sebutlah romansa dan gesekan
anak dengan orang tua seputar pilihan hidup. Tidak dipaparkan mendalam pun
tanpa inovasi, namun setidaknya menghibur berkat bumbu komedi. Setelah sekian
lama, Lolox akhirnya mampu memancing tawa saya, sebab kali ini ia bisa
membedakan mana “lucu”, mana “menyebalkan”. Sedangkan Tamara Geraldine, walau
memperoleh porsi minim, terbukti masih piawai berperilaku eksentrik.
Hingga tiba waktunya melangkah
menuju ranah lebih serius, dan kecanggungan penceritaannya menguat, memancing
kesan cringey tak tertahankan. Bahkan
tersimpan twist menggelikan mengenai
karakter Amora Rey (Maia Estianty), musisi idola Eva. Nama Amora pertama
terdengar ketika Eva menyanyikan lagunya, lalu terkejut mengetahui Bayu pun mengenal
sang penyanyi. Berdasarkan keterkejutan Eva, berarti Amora bukan bintang besar,
setidaknya bukan dari industri arus utama, benar begitu? Keliru! Karena
berikutnya, kita melihat para penggemar dan wartawan berebut masuk ke ruang press conference sembari mengelu-elukan
namanya, dalam sebuah adegan yang luar biasa cringey hingga membuat saya di kursi penonton ikut malu.
Anak Hoki memang dipenuhi pemandangan canggung akibat
pengadeganan minim kompetensi. Mengejutkan, mengingat film ini dibuat oleh Ginanti
Rona, yang mengawali karir di posisi asisten sutradara dalam judul-judul macam Rumah Dara dan dwilogi The Raid, sebelum menjalani debut
penyutradaraan lewat Midnight Show,
sebuah slasher sarat unsur giallo. Kini saya makin khawatir
terhadap nasib Lukisan Ratu Kidul (Well, it was produced by Lord KKD, so....).
Mendekati akhir, konflik yang tak
pernah menjauhi tema kesalahpahaman cheesy
makin dipaksa masuk. Bisa ditebak, segala problematika itu tuntas sekalinya
Ahok melontarkan kalimat bijak. Ahok dengan semangat membara yang dicintai
banyak orang tak nampak, digantikan remaja asing pemalu, kaku, pula tertutup,
yang dibawakan dengan membosankan oleh Kenny Austin. Mungkin bagi Kenny,
satu-satunya ciri penting Ahok hanya postur bungkuknya. Hal itu turut
menggambarkan keseluruhan Anak Hoki,
yang hanya menggambarkan fisik Ahok, namun tidak jiwanya.
“Tapi film ini kan fiksi dan tak
sekalipun menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama, jadi wajar kalau punya
karakterisasi berbeda.” Andai ada yang mengajukan pernyataan serupa, yakinlah
bahwa kasta orang itu setinggi Tuan Besar Dheeraj Kalwani.
FOXTROT SIX (2019)
Rasyidharry
Februari 22, 2019
Action
,
Arifin Putra
,
Chicco Jerikho
,
Denny Rihardie
,
Edward Akbar
,
Indonesian Film
,
Julie Estelle
,
Mario Kassar
,
Mike Lewis
,
Oka Antara
,
Randy Korompis
,
REVIEW
,
Rio Dewanto
,
Verdi Solaiman
,
Very Tri Yulisman
24 komentar
Bermodalkan 70,5 miliar rupiah,
atau sekitar 5 juta dollar, yang mana sedikit di atas The Raid 2: Berandal (4,5 juta dollar), ditambah keterlibatan Mario
Kassar (First Blood, Total Recall,
Terminator 2: Judgment Day) selaku produser eksekutif, ekspektasi terhadap Foxtrot Six untuk menjadi “blockbuster Indonesia rasa Hollywood”
melambung tinggi. Dan bila salah satu pemakaian CGI tersolid di film lokal dan
aksi baku hantam brutal terdengar menggiurkan, maka debut penyutradaraan Randy
Korompis ini cocok untuk anda.
Berlatar tahun 2031 saat dunia
dilanda krisis pangan, dipimpin Presiden termudanya sepanjang sejarah,
Indonesia siap memimpin uluran bantuan. Belum sempat terlaksana sepenuhnya,
kudeta dilakukan oleh partai politik Piranas, yang akhirnya berkuasa dengan
semena-mena. Protagonis kita adalah Angga (Oka Antara), yang menariknya, bukan
sosok jagoan lurus, setidaknya di paruh awal. Sebagai anggota parlemen, sang
mantan marinir hidup bergelimang kemewahan sementara rakyat tenggelam dalam
kemiskinan.
Angga bahkan mengusulkan rencana
menumpas habis kelompok pemberontak bernama “Reformasi” kepada para pejabat
negara. Saya menyukai fakta bahwa jajaran pejabat tinggi itu terdiri atas empat
“rubah tua” yang haus harta dan kekuasaan. Kondisi tersebut mencerminkan
realita dunia masa kini, tatkala jajaran pemuda berambisi membawa perubahan dengan
melengserkan pemerintahan korup yang diisi generasi masa lalu.
Tapi akibat akal bulus Wisnu
(Edward Akbar), Angga justru dianggap berkhianat, membelot untuk memihak
Reformasi, dan masuk daftar atas buronan negara. Angga pun terpaksa benar-benar
bergabung bersama Reformasi, yang rupanya hasil bentukan Sari (Julie Estelle), sang
mantan kekasih yang ia pikir telah tiada. Tujuannya satu, merobohkan kekuasaan
Piranas.
Naskah buatan Randy Korompis sayangnya
lemah membangun pondasi, menghasilkan produk setengah matang yang enggan
repot-repot memupuk pemahaman dan kepedulian penonton. Contohnya saat Foxtrot Six buru-buru masuk ke tahap di
mana Angga mengumpulkan regu—yang terdiri atas rekan-rekan lamanya di militer,
yakni Tino (Arifin Putra), Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), dan Ethan
(Mike Lewis), ditambah Spec (Chicco Jerikho) si rekan misterius Sari—hanya
sesaat setelah ia sadar sudah dikhianati pemerintahan tempatnya setia mengabdi.
Kita tidak diberi kesempatan melihat bagaimana Angga memproses peristiwa itu.
Pembangunan dunianya pun sama
lemahnya. Foxtrot Six mendefinisikan
dunianya sebagai tempat penuh kekacauan, sarat kemiskinan, juga minim harapan.
Namun di beberapa titik, semuanya terlihat normal, seolah kita hanya tengah
diajak berjalan-jalan mengelilingi Jakarta di hari-hari biasa. Pun sukar
menelan bulat-bulat pernyataan jika Reformasi merupakan ancaman besar seperti
yang Piranas khawatirkan, sebab tak sekalipun dijabarkan kekacauan macam apa
yang mereka picu.
Tapi bukankah kita datang untuk
melihat aksi? Di tatanan itu, Foxtrot Six
sebenarnya cukup memuaskan. Koreografi arahan Very Tri Yulisman (pemeran
Baseball Bat Boy di Berandal) hanya
setingkat di bawah para lulusan The Raid lain,
unsur gore yang kebanyakan melibatkan
aksi saling tebas dan tusuk terbukti ampuh memberi dampak, musik bombastis
gubahan Rob E Powers mampu menciptakan intensitas (bak berteriak “Ini blockbuster, Bung!”), pun jajaran
pemainnya bisa diandalkan melakoni aksi saling serang.
Oka Antara lincah menghajar
musuh-musuhnya lewat beragam gerakan kompleks, sementara Rio Dewanto sempurna
memerankan sosok jagoan laga macho yang baru sekarang ia perlihatkan. Bahkan perkenalan
karakter Bara merupakan salah satu momen favorit saya sepanjang film, ketika
naskahnya secara kreatif menyulap panjat pinang jadi aktivitas barbar nan
brutal. Satu kekecewaan hadir karena setelah penampilan badass di Berandal, Headshot,
dan The Night Comes for Us, Julie
Estelle tak diberi kesempatan unjuk gigi, hanya berakhir sebagai damsel in distress.
Kualitas CGI-nya mungkin masih
perlu perbaikan di sana-sini, namun pemakaian seperlunya membuat sumber daya
dapat dialokasikan secara tepat. Adegan “terjun bebas” dan sebuah penghormatan dari
Randy Korompis untuk momen ikonik Terminator
2: Judgment Day (andai tidak ada nama Mario Kassar mungkin saya bakal
menyebut Alien 3) merupakan beberapa highlight pemaksimalan teknologi efek visualnya.
Sayang, Foxtrot Six gagal mencapai potensi tertinggi kala sering
mempertontonkan kecanggungan akibat penyuntingan Denny Rihardie yang bagai
kurang daya, pula penyutradaraan Randy, yang meski mumpuni di banyak
kesempatan, tak jarang melewatkan ketepatan timing,
sudut kamera, atau mise en scène. Sedetik
saja melewatkan timing, maupun meleset
memposisikan kamera walau cuma beberapa derajat, apalagi jika terjadi dalam
momen vital (Bara menghabisi lawan memakai sikat gigi atau apa pun yang Angga
perbuat guna meledakkan atap), maka akibatnya fatal. Alhasil, biarpun
menghibur, Foxtrot Six urung menjadi “The Next The Raid” seperti harapan
banyak pihak.
EXTREME JOB (2019)
Rasyidharry
Februari 20, 2019
Action
,
Bae Se-young
,
Comedy
,
Gong Myung
,
Jin Seon-kyu
,
Kim Tae-seong
,
Korean Movie
,
Lee Byeong-heon
,
Lee Dong-hwi
,
Lee Hanee
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Ryu Seung-ryong
,
Shin Ha-kyun
16 komentar
Extreme Job menjadi fenomena berkat berbagai keberhasilan
memecahkan rekor yang menuntunnya sebagai film Korea Selatan terlaris kedua
sepanjang masa dengan lebih dari 14 juta penonton (masih terus bertambah),
tepat di bawah The Admiral: Roaring
Currents. Karya terbaru Lee Byeong-heon (Twenty, What a Man Wants) ini sebenarnya diisi elemen-elemen
familiar di tatanan aksi-komedi, serta wajah familiar, yakni Ryu Seung-ryong selaku
aktor pertama yang muncul dalam empat film di atas 10 juta penonton.
Familiaritas itulah alasan
kesuksesan Extreme Job. Ini adalah
tontonan formulaik yang digarap apik. Bahkan sebelum membuktikan langsung
kualitasnya, premisnya sudah demikian mengundang: Apa jadinya jika para polisi
justru meraup keuntungan melimpah dari pekerjaan samaran mereka?
Selepas aksi penangkapan berujung
kekacauan, karir lima polisi bagian narkotika: Kapten Go (Ryu Seung-ryong), Jang
(Lee Hanee), Young-ho (Lee Dong-hwi), Ma (Jin Seon-kyu), dan Jae-hoon (Gong
Myung), berada di ujung tanduk. Tim tersebut terancam dibubarkan, yang makin
memperkeruh kondisi sang kapten, yang pangkatnya mulai dilewati para junior.
Harapan terakhir terletak pada misi penyergapan kartel narkoba milik Lee
Moo-bae (Shin Ha-kyun), yang bermarkas tepat di depan restoran ayam goreng.
Demi memudahkan pengintaian, restoran itu pun mereka ambil alih.
Keputusan gila tersebut diambil
berdasarkan fakta bahwa pemilik sebelumnya gulung tikar akibat ketiadaan
pengunjung. Tapi begitu bisnis samaran dijalankan, konsumen justru bermunculan,
bahkan membeludak setelah Ma menyuguhkan resep saos ciptaan orang tuanya.
Restoran mereka mendadak viral, bahkan stasiun televisi menyatakan ketertarikan
mengadakan liputan.
Jangankan menangkap bandar narkoba,
sekadar pengintaian sederhana pun kini tak sempat dilakukan. Tatkala karir
makin menukik, bisnis ayam goreng justru melejit, memberi kelimanya uang dengan
jumlah yang tak pernah terbayangkan. Bagi Kapten Go, kondisi ini dilematis.
Sekarang ia bisa membelikan sang istri tas Gucci, berpeluang menghabiskan lebih
banyak waktu bersama puterinya (yang pernah bercita-cita jadi penjahat agar
bisa sering bertemu Go), juga tak lagi harus bertaruh nyawa, sebuah risiko
profesi polisi yang diam-diam dikhawatirkan sang istri.
Ryu, sebagaimana kita saksikan di
film-film macam Miracle in Cell No. 7
(2013), jago menghembuskan rasa dalam peran. Tapi jangan mengharapkan drama
keluarga mengharu biru, sebab sepanjang 111 menit perjalanannya, naskah buatan penulis
debutan Bae Se-young tak seberapa jauh menjamah ranah dramatik, dan sebatas
menjadikannya faktor tambahan agar penonton tahu (tidak sampai merasakan) bahwa
godaan kesuksesan bisnis ayam goreng begitu besar untuk protagonisnya.
Exteme Job sesungguhnya cuma mengandalkan running gag seputar premis absurdnya, yang tak pernah melelahkan,
repetitif, apalagi membosankan, sebab humor dan jajaran pemain mampu saling
mendukung.
Kalau sering menonton komedi Korea
Selatan, khususnya yang bersifat high
profile blockbuster, anda semestinya bisa menduga lelucon seperti apa yang
menanti. Berbeda dengan Hollywood yang cenderung mengandalkan kegamblangan
komikal, urusan komedi fisik (sebut saja aksi saling tendang antar tokoh),
sineas Korea Selatan memilih menampilkan pukulan maupun tendangannya senyata
mungkin. Semakin terasa menyakitkan, semakin lucu.
Dikemas lewat tempo cepat oleh
Byeong-heon, Extreme Job enggan
berlama-lama menetap di satu momen komedi. Alhasil, andai sebuah usaha melucu
berujung kegagalan, dinamika senantiasa terjaga, sebab filmnya segera beralih
ke titik berikutnya. Jajaran pemain pun melontarkan kekonyolan—yang seringkali bertambah
lucu karena hadir di kesempatan maupun cara tak terduga—dalam antusiasme
tinggi, agar tatkala humornya meleset pun, kita setidaknya dapat tersenyum. Lee
Hanee mencuri perhatian di sini. Pemegang gelar 3rd Runner-up Miss Universe 2007 ini tanpa cela memerankan polisi
slebor yang jago melontarkan kata-kata pedas, dengan ekspresi yang bisa membuat
anda merasa seperti sampah tidak berguna.
Sekuen puncaknya akhirnya memberikan
deretan laga, yang setelah menanti beberapa lama, rupanya sama sekali tak mengecewakan.
Ditemani geberan musik rock bertenaga garapan Kim Tae-seong (War of the Arrows, The Admiral: Roaring
Currents, My Annoying Brother), lima polisi payah itu berubah jadi
petarung-petarung keren. Perubahan itu tak sepenuhnya dipaksakan, sebab meski
tak sering, kemampuan tersembunyi mereka sudah disiratkan sepanjang durasi. Dan
saat akhirnya kelima jagoan kita unjuk kebolehan, lengkap sudah hiburan
menyenangkan yang ditawarkan Extreme Job.
PREDIKSI PEMENANG OSCARS 2019
Jelang penyelenggaraan ke-91, Oscar
berusaha sekuat tenaga menyelamatkan rating
siaran televisi yang tahun lalu menyentuh titik nadir. Berbagai hal dilakukan, termasuk
beberapa langkah menggelikan seperti usulan kategori “Best Popular Film”, hingga usaha memangkas durasi yang mendekati
empat jam dengan hanya memberi tempat pada dua dari lima nominasi Best Original Song untuk dimainkan (Shallow dan All the Stars), serta mengumumkan pemenang empat kategori (Best Cinematography, Best Live Action Short,
Best Film Editing, Best Makeup and Hairstyling) di tengah jeda iklan.
Beruntung, deretan kontroversi di atas akhirnya batal terjadi.
Berkat penambahan juri-juri dari
luar Amerika, Oscar 2019 menjadi saksi
kejayaan film-film asing. Di luar
kategori Best Foreign Language Film, Roma (Meksiko) selaku kandidat kuat peraih
film terbaik memperoleh sembilan nominasi, Cold
War (Polandia) mendapatkan dua nominasi, sementara Never Look Away (Jerman)
dan Border (Swedia) masing-masing
satu. Secara total, Roma bersama The Favourite jadi pemilik nominasi
terbanyak, yakni sepuluh. Disusul A Star
is Born dan Vice yang sama-sama
mengumpulkan delapan nominasi.
Seperti biasa, saya akan memberi
prediksi (Will Win) mengenai pemenang
di tiap kategori kecuali tiga kategori film pendek, juga siapa yang akan saya
pilih jika saya adalah juri Oscar (Should
Win). Berikut selengkapnya.
BEST VISUAL EFFECTS
Apakah Oscar bakal melewatkan
kesempatan memberi penghargaan bagi film ketiga sepanjang masa yang berhasil
mengumpulkan $2 milyar? Tentu tidak. Ditambah kualitas mo-cap kelas satu, Marvel Studios akhirnya bakal membawa pulang
piala.
Will Win: Avengers: Infinity War
Should Win: Avengers: Infinity War
BEST FILM EDITING
Hank Corwin (Vice) yang sekali lagi berhasil menghidupkan penceritaan liar Adam
McKay setelah The Big Short dan Yorgos
Mavropsaridis (The Favourite) paling pantas
memenangkan piala. Tapi kemenangan John Ottman (Bohemian Rhapsody) pada American Cinema Editors Award bakal membuat
persaingan memanas. Pun lima nominasi yang didapat membuktikan betapa cintanya
juri Oscar berkaraoke menyanyikan lagu Queen di bioskop.
Will Win: Bohemian Rhapsody
Should Win: Vice
BEST COSTUME DESIGN
Sandy Powell (The Favourite) jelas paling berpeluang mengingat kecintaan Oscar
pada kostum period drama. Tapi karya
Ruth E. Carter di Black Panther yang
menyatukan ragam kultur Afrika dengan begitu indah, pantas dirayakan.
Will Win: The Favourite
Should Win: Black Panther
BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING
Di antara tiga nominasi, baru Vice yang saya tonton, sehingga tidak
ada jagoan khusus di kategori ini. Pun riasan yang dikenakan Christian Bale
memang pantas menyabet piala.
Will Win: Vice
Should Win: -
BEST CINEMATOGRAPHY
Oscar 2019 bakal jadi tahunnya sinematografi hitam-putih. Alfonso Cuaron (Roma) dan Lukasz Zal (Cold War) memang menghadirkan dua film terindah sepanjang tahun.
Will Win: Roma
Should Win: Roma
Oscar 2019 bakal jadi tahunnya sinematografi hitam-putih. Alfonso Cuaron (Roma) dan Lukasz Zal (Cold War) memang menghadirkan dua film terindah sepanjang tahun.
Will Win: Roma
Should Win: Roma
BEST PRODUCTION DESIGN
Kategori ini jadi pertarungan
antara kemewahan berkilau abad pertengahan (The
Favourite) melawan kekayaan budaya Afrika (Black Panther). Tapi melihat bagaimana komposisi dekorasi di tiap
sudut kerajaan, rasanya pemenang sudah bisa ditentukan.
Will Win: The Favourite
Should Win: The Favourite
BEST SOUND MIXING
Tidak ada yang menandingi bagaimana
First Man bermain-main dengan gemuruh
dan kesunyian secara simultan, namun kemenangan di Cinema Audio Society Awards
akan melapangkan jalan Bohemian Rhapsody.
Ditambah seringnya juri Oscar kebingungan mendefinisikan dua kategori tata
suara, bakal mendorong mereka memenangkan film yang tak terlalu subtil dalam
penataannya.
Will Win: Bohemian Rhapsody
Should Win: First Man
BEST SOUND EDITING
First Man yang tadinya dijagokan makin kehilangan popularitas,
terlebih pasca kemenangan A Quiet Place dan
Bohemian Rhapsody pada Motion Picture
Sound Editors Awards. Sekali lagi, mari berpatokan pada kurang mampunya juri
Oscar mendefinisikan tata suara. A Quiet
Place selaku film yang mengedepankan suara jelas punya peluang terbesar.
Will Win: A Quiet Place
Should Win: First Man
BEST ORIGINAL SONG
Tidak ada kompetisi di sini. Shallow bakal berjaya, meski rasanya akan
menyenangkan juga bila When a Cowboy
Trades His Spurs for Wings yang indah itu memberi kejutan.
Will Win: Shallow
Should Win: Shallow
BEST ORIGINAL SCORE
Keberhasilan Ludwig Göransson
mengangkat musik tradisional Afrika semestinya cukup untuk menjadikannya
pemenang, namun belakangan dukungan bagi Nicholas Britell (If Beale Street Could Talk) makin tinggi. Pertanyaannya, “Berapa
banyak juri Oscar sudah menonton film terbaru Berry Jenkins itu?”. Kemenangan
di Grammy Awards bakal makin mendongkrak pamor musik Ludwig Göransson.
Will Win: Black Panther
Should Win: Black Panther
BEST DOCUMENTARY – FEATURE
Saya baru menonton Free Solo, dan rasanya film karya
Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin memang bakal pulang dengan kemenangan,
meski RBG siap mengejutkan.
Will Win: Free Solo
Should Win: -
BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
Tidak ada kontes di sini. Mustahil Roma yang meraih nominasi Best Picture bakal kalah di kategori
(yang semestinya menyertakan Burning
di daftar nominasi) ini.
Will Win: Roma
Should Win: Roma
BEST ANIMATED FEATURE FILM
Secara personal, Mirai jadi film yang paling saya cintai
di sini. Tapi pencapaian visual serta penceritaan Spider-Man: Into the Spider-Verse yang berani mendobrak batasan
memang perlu dianugerahi piala.
Will Win: Spider-Man: Into the Spider-Verse
Should Win: Spider-Man: Into the Spider-Verse
BEST ADAPTED SCREENPLAY
Can You Ever Forgive Me? berhasil pulang dengan kemenangan
di Writers Guild Awards, dan seketika
melambungkan peluangnya, menyusul BlackKklansman.
Tapi saya amat menyukai naskah A Star is
Born yang sanggup memperbaiki kelemahan film-film sebelumnya dan tetap
mempertahankan berbagai elemen positif yang ada.
Will Win: BlackKklansman
Should Win: A Star is Born
BEST ORIGINAL SCREENPLAY
Mengingat Eighth Grade yang memenangkan Writers
Guild Awards tak memperoleh nominasi, The
Favourite yang sebelumnya berjaya di BAFTA rasanya bakal keluar sebagai
jawara. Saya setuju. Bukan perkara gampang menyematkan dialog menggelitik di
latar period seperti yang dilakukan Deborah
Davis dan Tony McNamara.
Will Win: The Favourite
Should Win: The Favourite
BEST SUPPORTING ACTRESS
Ketiadaan Emily Blunt (A Quiet Place) selaku pemenang SAG
Awards di daftar nominasi cukup mengejutkan. Hype cenderung mengarah pada Regina King (If Beale Street Could Talk), walau Emma Stone di The Favourite benar-benar mencuri hati
saya.
Will Win: Regina King
Should Win: Emma Stone
BEST SUPPORTING ACTOR
Menang di SAG Awards ditambah
statusnya sebagai aktor yang dihormati oleh kalangan industri membuat
kemenangan kedua Mahershala Ali di kategori ini rasanya bakal terjadi.
Will Win: Mahershala Ali
Should Win: Mahershala Ali
BEST ACTRESS
Satu lagi kategori tanpa kompetisi.
Selain kemenangan di berbagai ajang penghargaa lain, Oscar takkan mengambil
risiko membiarkan aktris senior macam Glenn Close menutup karir tanpa piala.
Olivia Colman siap memberi kejutan.
Will Win: Glenn Close
Should Win: Glenn Close
BEST ACTOR
Rami Malek pantas dan pasti
memenangkan kategori ini. Tapi saya sungguh jatuh hati pada Willem Dafoe yang
mampu mencurahkan segala permasalahan psikis Vincent van Gogh melalui tatapan
matanya.
Will Win: Rami Malek
Should Win: Willem Dafoe
BEST DIRECTOR
Biarpun Spike Lee bisa saja secara
mengejutkan menyabet kemenangan, status sebagai pemenang Director Guid Awards makin mengukuhkan status Alfonso Cuarón sebagai
unggulan terdepan.
Will Win: Alfonso Cuarón
Should Win: Alfonso Cuarón
BEST PICTURE
Kategori puncak ini menghadirkan
balapan tiga “kuda”. Roma selaku
peraih nominasi terbanyak sekaligus unggulan, Green Book sang pemenang Producer
Guild Awards yang sering jadi tolak ukur pemenang Best Picture,dan Black
Panther yang meraih kejayaan di Screen
Actor Guild Awards (mayoritas juri Oscar berasal dari cabang akting).
Green Book tampak seperti pilihan paling aman, tapi terlalu
banyak kontroversi mengelilingi film ini. Fakta bahwa Oscar diselenggarakan
bertepatan dengan Black History Month
memberi keuntungan bagi Black Panther.
Kemenangannya akan menjadi momen bersejarah, suatu hal yang digandrungi Oscar.
Pun memenangkan Black Panther, yang
notabene termasuk “film populer”, niscaya akan mengatrol rating siaran televisi.
Tapi ingat, kategori Best Picture menerapkan preferential ballot. Artinya, paling
banyak dipilih sebagai film terbaik oleh juri saja tidak cukup. Sesedikit
mungkin menghindari posisi terbawah juga penting. Saya rasa masih cukup banyak
juri antipati terhadap film superhero,
dan itu melemahkan peluang Black Panther.
Menyisakan Roma, yang kemenangannya
bakal mengubah persepsi industri terhadap film dari layanan streaming.
Will Win: Roma
Should Win: Roma
DRAGON BALL SUPER: BROLY (2018)
Rasyidharry
Februari 18, 2019
Akira Toriyama
,
Animated
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
Norihito Sumitomo
,
REVIEW
,
Tatsuya Nagamine
14 komentar
Dragon Ball Super: Broly merupakan installment monumental dalam seri film Dragon Ball. Film ini jadi yang pertama mengusung merek dagang Dragon Ball Super, memberi Broly status canon setelah memperoleh popularitas
tinggi lewat kemunculannya di tiga judul, juga merupakan film Dragon Ball terbaik hingga kini. Dragon Ball Super: Broly sukses
memaksimalkan potensi Dragon Ball perihal
pertarungan over-the-top yang
mengguncang dunia, bahkan banyak blockbuster
Hollywood pun akan tampak kerdil di hadapan karya sutradara Tatsuya
Nagamine (One Piece Film Z) ini.
Filmnya bisa dibilang terbagi ke
dalam dua babak. Babak pertama membawa kita kembali menuju 41 tahun lalu,
menuturkan latar belakang Broly, yang dibuang oleh King Vegeta ke planet tandus
bernama Vampa sewaktu kecil, sebab sang Raja tak ingin ada anak yang lebih
superior daripada keturunannya, Vegeta. Ketika Frieza menghancurkan planet
Vegeta bersama sebagian besar ras Saiyan, Broly cilik tengah sibuk melawan
monster-monster Vampa bersama ayahnya, Paragus, yang datang untuk menyelamatkan
sang anak namun justru ikut terdampar di sana.
Cerita latar ini membangun beberapa
poin: Pemahaman bagaimana Saiyan dan Frieza memandang satu sama lain; menambah dimensi
penokohan serta bobot emosi bagi Bardock dan Gine yang mengambil keputusan
berat untuk mengirim putera mereka, Kakarot alias Son Goku ke Bumi demi
keselamatannya; hingga elemen sepele seperti wujud scouter (pendeteksi level kekuatan juga posisi seseorang sekaligus
perangkat komunikasi) versi lama yang bakal jadi trivia menarik bagi penggemar.
Terpenting, Broly digambarkan
sebagai sosok simpatik. Di Broly- The
Legendary Super Saiyan (1993), masalah psikisnya dipicu karena selalu
mendengar tangisan kencang Goku sewaktu bayi ditambah kontrol pikiran oleh
Paragus. Sekarang, lewat naskah yang ditulis sendiri oleh Akira Toriyama, meski
unsur alat pengendali milik Paragus tetap dipertahankan, tangisan Goku
ditiadakan, digantikan alasan yang lebih kelam, realistis, dan relatable.
Meski luar biasa kuat, Broly
sejatinya berhati lembut bahkan membenci perkelahhian. Dia hanya korban
tindakan kasar sang ayah yang secara paksa mengubahnya jadi mesin petarung.
Malah filmnya sempat menyelipkan momen menyedihkan yang melibatkan persahabatan
singkat Broly dengan monster terbesar planet Vampa. Jalan Broly bersinggungan
dengan para jagoan kita saat Frieza mengutus dua anak buahnya, Cheelai dan
Lemo, mencari petarung kuat guna membantu rencananya mengumpulkan dragon ball
di Bumi. Ya, salah kalau berpikir setelah Universe
Survival Saga (klimaks cerita anime dan
manga Dragon Ball Super) Frieza bakal
berubah.
Memanfaatkan dendam Paragus
terhadap garis keturunan King Vegeta, Frieza menjadikan Broly ujung tombak
invasinya, dan begitu mereka tiba di Bumi, Dragon
Ball Super: Broly memasuki babak keduanya: mahakarya aksi epic yang membawa pertarungannya hingga
ke inti Bumi yang membara. Di samping skala kehancuran, poin terbaik dari threesome Goku-Vegeta-Broly (sempat
melibatkan Frieza di satu titik) adalah kreativitas tak terbatas presentasi
visualnya, biarpun di luar adegan aksi kualitas animasinya kerap menurun yang
mana suatu kewajaran.
Bukan saja kaya warna, visualnya
pun senantiasa berganti gaya, enggan menetap terlalu lama di satu tipe sehingga
kesegaran mampu dipertahankan meski aksinya terus melaju kencang selama sekitar
satu jam, dan hanya sekilas diperlambat kala Goku dan Vegeta mundur sejenak
dari medan perang. Begitu bombastis pertarungan antar bangsa Saiyan ini, mereka
sempat seolah-olah menembus ruang dan waktu, memasuki lokasi yang nampak bak quantum realm dalam sekuen terbaik
sepanjang film. Musik gubahan Norihito Sumitomo (Color Me True) juga membantu
mempertahankan tensi.
Sejak diperkenalkan 26 tahun lalu,
saya selalu menganggap Broly sebagai sosok paling intimidatif dibanding
antagonis lain di seri Dragon Ball.
Dia brutal, besar, tak terkontrol. Broly versi baru tidak jauh berbeda, di mana
wujud normalnya saja mampu mengalahkan Vegeta dalam mode Super Saiyan Rosé (the one
with the red hair). Sekalinya ia berhasil menguasai transformasi Super Saiyan, bahkan kombinasi Super Saiyan Blue Goku dan Vegeta dibuat
tak berdaya.
Bukan Broly seorang karakter populer
yang memperoleh status canon. Seperti
telah diketahui melalui materi promosinya, Gogeta (fushion Goku dan Vegeta) pun turut ambil bagian. Kemunculannya tak
mengecewakan, walau memunculkan sedikit masalah kontinuitas. Saya ingat betul
Goku pernah mengajukan ide fushion di
tengah pertarungan melawan Kid Buu, tapi di sini, Vegeta seolah baru pertama
kali mendengar gagasan tersebut. Pun agak aneh mendapati film ini tak
menyinggung Ultra Instinct, mengingat
mode itu sanggup mengatasi Jiren. Tapi jika anda bukan penggemar berat, hal-hal
di atas takkan mengganggu.
Jangan khawatir 100 menitnya bakal
monoton, karena Dragon Ball Super: Broly
masih sempat menyelipkan beberapa momen komikal, dengan guyonan terbaik
membahas soal kemiripan permintaan yang ingin diajukan Frieza dan Bulma kepada
Shenron. Konklusinya menawarkan posibilitas menarik untuk kelanjutan film
maupun serinya. Menilik tradisi Dragon
Ball yang gemar mengubah lawan jadi kawan, sulit menahan antusiasme
membayangkan bersatunya trio Goku-Vegeta-Broly di masa depan. Kemungkinan tak
berujung macam ini adalah alasan saya begitu menggemari Dragon Ball.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)















6 komentar :
Comment Page:Posting Komentar