REVIEW - SONIC THE HEDGEHOG 3

Tidak ada komentar

Mudah saja memandang sebelah mata adaptasi layar lebar bagi maskot Sega ini, dan melihatnya hanya sebagai produk hiburan hampa khas Hollywood. Padahal Sonic the Hedgehog adalah waralaba sinema langka yang mampu memperbaiki kualitas di tiap rilisan barunya. Sonic the Hedgehog 3 berhasil mempersembahkan installment terbaik di serinya sejauh ini, yang membuat eksistensi judul-judul berikutnya layak untuk dijustifikasi. 

Meneruskan apa yang sudah disiratkan oleh credits-scene milik Sonic the Hedgehog 2 (2022), kini trio Sonic (Ben Schwartz), Tails (Colleen O'Shaughnessey), dan Knuckles (Idris Elba) mesti menghadapi ancaman Shadow (Keanu Reeves), sesosok landak hitam yang jauh lebih kuat dari mereka bertiga. Setelah 50 tahun berada dalam kurungan G.U.N. (Guardian Units of Nations), Shadow akhirnya bangkit dan berniat menuntut balas terhadap umat manusia. 

Protagonis kita yang kewalahan memutuskan bersatu dengan musuh bebuyutannya, Dr. Ivo Robotnik (Jim Carrey), yang berujung mengkhianati Sonic, begitu mendapati bahwa sang kakek, Gerald Robotnik (juga diperankan Jim Carrey), merupakan dalang di balik aksi Shadow. 

Carrey dalam peran ganda merupakan salah satu elemen terbaik film ini. Mengandalkan keeksentrikan khasnya kala menangani komedi, Carrey nyatanya tetap bisa mengembuskan kompleksitas dalam dua tokoh yang ia mainkan. Jika Ivo bak orang dewasa kekanak-kanakan yang kesepian dan menyimpan trauma akibat penolakan orang-orang, maka Gerald adalah pria tua yang menyalurkan dukanya menjadi amarah terhadap dunia. 

Karakter manusia lainnya memang tidak semenarik duo Robotnik. Tom (James Marsden) dan Maddie (Tika Sumpter) makin tergerus porsinya, sedangkan Krysten Ritter sebagai Rockwell gagal dimanfaatkan potensinya. Setidaknya Sonic the Hedgehog 3 punya Stone (Lee Majdoub), anak buah Ivo Robotnik yang berharap dapat menjadi teman si atasan. Berbeda dibanding para kaki tangan antagonis di kebanyakan blockbuster, Stone memiliki kepribadian yang bahkan menambah bobot emosi filmnya. 

Kembali duduk di kursi sutradara, Jeff Fowler menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuannya. Fowler tidak ingin menggambarkan Sonic dan kawan-kawan sebagai figur kartun biasa, yang sekadar nampak lucu sebagai konsumsi anak-anak. Di mata sang sineas, para alien berkecepatan tinggi tersebut ibarat pahlawan super, dan seperti itu pula mereka dipresentasikan.

Sonic, Tails, dan Knuckles nampak begitu heroik di tiap kemunculannya. "Mereka harus terlihat keren!", mungkin begitu ujar Fowler di fase produksi, yang berhasil diwujudkan, bahkan ketika naskah buatan Pat Casey, Josh Miller, dan John Whittington terus mendistraksi dengan barisan celotehan tak lucu (bahkan cenderung cringeworthy) yang rutin Sonic lontarkan.

Didukung biaya lebih tinggi (122 juta dollar, berbanding 110 juta di film kedua dan 90 juta di film pertama), Sonic the Hedgehog 3 menghiasi dirinya dengan efek spesial yang memanjakan mata. Semua bermuara pada sebuah klimaks epik, yang lebih seru, lebih mewah, dan membuat tokoh-tokohnya jauh lebih heroik ketimbang mayoritas film pahlawan super yang mulai tergerus popularitasnya belakangan ini. Sonic dan kawan-kawan lebih superhero daripada para superhero. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

10 FILM INDONESIA TERBAIK 2024

1 komentar

Tanpa terasa kita sudah sampai kembali di titik ini. Fase akhir tahun di mana para penikmat film berlomba-lomba membagikan daftar terbaik masing-masing, dan sebagaimana rutinitas tiap tahun, saya akan membagikan terlebih dahulu daftar film lokal terbaik.Total ada 80-an film Indonesia yang saya tonton sepanjang 2024, baik di bioskop, layanan streaming, maupun festival. 

Aturannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Film seperti Tuhan Izinkan Aku Berdosa atau Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, yang meski tayang di bioskop tahun ini namun sudah saya saksikan di festival pada 2023, takkan disertakan. Sebaliknya, film yang baru melakukan penayangan reguler tahun depan tapi sudah saya tonton di festival tahun ini akan dimasukkan. 

Terdapat lima judul dalam kategori Honorable Mentions, yang meski tidak menembus daftar utama, tetap layak diberi apresiasi atas kualitas mumpuni yang mereka persembahkan. 

Kelima film itu adalah: Aku Jati Aku Asperger yang mampu membawakan tema sensitif tanpa kesan eksploitatif, All Access to Rossa 25 Shining Years selaku dokumenter penuh rasa yang merekam karir salah satu diva nomor satu tanah air, The Shadow Strays yang membuktikan kalau sebagai sutradara aksi Timo Tjahjanto memang layak disebut "kelas dunia", Agak Laen yang menghebohkan seisi negeri sembari membuktikan bahwa komedi juga bisa menghadirkan penceritaan solid, dan terakhir ada Siksa Kubur yang kembali memperlihatkan keliaran eksplorasi serta kreativitas seorang Joko Anwar.  

Berikut adalah daftar 10 FILM INDONESIA TERBAIK 2024 versi Movfreak:


Bukan perkara gampang melahirkan sekuel untuk Dua Garis Biru (2019), dan meski belum mampu menandingi pencapaian pendahulunya, Dinna Jasanti mampu menyuguhkan drama keluarga dengan relevansi tinggi yang digarap penuh sensitivitas.


Kaka Boss punya satu misi, yakni memotret sisi lain orang Papua, yang tidak melulu berkutat pada penderitaan dan kemiskinan, dan ia berhasil menjalankan misi tersebut. Sesederhana itu. Kapan terakhir kali ada karakter dalam film Indonesia memiliki lagu temanya sendiri? 


Drama yang berupaya membangkitkan kesadaran seputar kesehatan mental tanpa perlu secara berlebihan mengeksploitasi kesedihan, dengan konklusi yang berani membahas garis batas kompleks antara "memaafkan" dan "menerima kembali". 


New York yang nampak cantik jadi latar kisah cinta dua manusia berparas ayu dan rupawan, yang nyatanya tidak hanya menyimpan keindahan di hati mereka, tapi juga luka. Jarang romansa dalam negeri tampil seelegan ini. 


Sebuah pengingat akan kealpaan bangsa. Tentang dosa-dosa para penguasa yang memenjarakan, melukai, bahkan membuang rakyatnya, menjauhkan mereka dari tanah air yang semestinya jadi rumah untuk pulang dan berbahagia. Film yang penting. 


Film yang luar biasa relevan, hingga saat ditonton, sayup-sayup terdengar teriakan satu generasi yang tercekik oleh realita finansial era modern. Penampilan kuat Yunita Siregar menjadikannya bak maskot perjuangan kaum menengah ke bawah. 


Beberapa film dibuat asal-asalan, ada yang dibuat sebatas demi "menyelesaikan pekerjaan", tidak sedikit pula yang digarap sungguh-sungguh. Tapi cuma segelintir yang saking ambisiusnya, ia dibuat sembari membawa misi untuk menjadi "film terbaik". Begitulah Heartbreak Motel. 


Apakah ini film drama keluarga? Romansa? Coming-of-age? Atau justru sebuah thriller mencekam? Apakah kisahnya mengandung unsur supernatural, ataukah kita tengah menjadi saksi buruknya pemahaman bangsa terhadap kesehatan mental? Melalui debut penyutradaraannya, Tumpal Tampubolon enggan memberi jawaban pasti, pula menolak terjebak dalam kotak-kotak genre. 


Edwin kembali menelurkan sebuah karya yang membawa angin segar di industri perfilman kita. Bukan sebatas misteri pembunuhan dan investigasi prosedural biasa, melainkan sebuah cerminan soal betapa mengerikannya "hantu-hantu" mematikan di negeri ini. 


Garin Nugroho seperti kembali ke era 2000-an, tatkala melalui karya-karya seperti Opera Jawa (2006) dan Under the Tree (2008), ia mendobrak segala pakem ber-sinema, meleburkan bentuk-bentuk media rekam dengan kesenian panggung. Samsara adalah soal peleburan dua sisi yang saling berkontradiksi. Unik, indah, menghipnotis. Salah satu film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir. 

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - PANGGONAN WINGIT 2: MISS K

Tidak ada komentar

Seiring hampir berakhirnya 2024, saya pun menengok kembali perihal bagaimana horor begitu mendominasi perfilman Indonesia tahun ini. Ada rasa kesal tertinggal akibat lemahnya keseimbangan antara kuantitas dengan kualitas, namun di saat bersamaan muncul pula beberapa anomali positif. Duet Hadrah Daeng Ratu dan Lele Laila akhirnya melahirkan teror mencekam di Pemandi Jenazah, demikian pula Rizal Mantovani dalam Racun Sangga, lalu sebagai penutup, Panggonan Wingit 2: Miss K mampu memutus rantai "film jelek" milik Hitmaker Studios. 

Kembali menyandingkan Guntur Soeharjanto di kursi sutradara dengan Riheam Junianti selaku penulis naskah, Miss K sejatinya tampil seperti soft remake untuk film pertamanya yang rilis tahun lalu. Templat alurnya sama, hanya saja dengan beberapa modifikasi terkait detail. Latar Semarang digeser ke Surabaya, sementara hotel tempat terornya bersemayam diubah jadi apartemen. 

Protagonisnya bernama Alma (Cinta Laura Kiehl). Selepas kematian sang ibu, Alma bersama adiknya, Mia (Callista Arum), pindah ke apartemen yang juga jadi tempatnya bekerja. Seluk-beluk penokohan Alma serupa dengan Raina (Luna Maya) dari film pertama. Bedanya, jika Ardo (Christian Sugiono) selaku mantan pacar Raina bekerja sebagai jurnalis, maka kekasih Alma, Rayyan (Arifin Putra), adalah seorang polisi. 

Rayyan tengah mengusut kasus mutilasi, di mana si korban merupakan penghuni apartemen tersebut. Sampai suatu malam, demi memperbaiki kebocoran di salah satu kamar, Alma nekat memasuki lantai 6 walau sudah dilarang oleh pasutri pemilik apartemen, Aiman (Indra Brasco) bernama "Miss K" yang berkata, "Patang dino, magrib". Setidaknya Alma diberi waktu sedikit lebih lama ketimbang Raina yang mendengar kalimat "Telung dino, tengah wengi" dari si hantu. 

Miss K memang mengakrabi repetisi. Bukan cuma terkait templat film pertama, dia pun mengulangi poin-poin cerita miliknya sendiri. Durasi belum bergulir sampai satu jam dan kita sudah empat kali melihat Miss K menebar kutukan dengan modus operandi sama persis, Bu Rini (Yeyen Lydia) si guru tari yang selalu mengenalkan temannya guna membantu para protagonis menyelesaikan masalah, hingga dua perkelahian bawah air yang hadir secara beruntun. 

Walau demikian, Miss K punya penceritaan yang lebih mulus dibanding pendahulunya. Kuncinya terletak pada fokus yang terjaga. Kali ini Riheam Junianti sepenuhnya berkonsentrasi pada memaparkan investigasi mengenai pembunuhan keji yang terjadi. Tentu bukan investigasi cerdas. Banyak kekonyolan tersebar (alasan Miss K memberi korbannya waktu empat hari, petunjuk berupa gambar dari seorang dukun, sampai asal nama "Miss K"), tapi setidaknya, alurnya konsisten berada di trek yang jelas. 

Apalagi konyol bukan berarti buruk. Justru karena itulah Miss K mampu tampil menghibur. Andai takut menyambangi ranah kekonyolan, ia takkan memiliki klimaks dengan sentuhan aksi super menyenangkan yang menjauhi pola "asal tusuk" khas rumah produksinya, yang memberi peluang pada Cinta Laura memamerkan kapasitas melakoni adegan baku hantam. Kesediaan Cinta mengasah kemampuan melafalkan Bahasa Jawa pun patut dipuji meski belum betul-betul tanpa cela. Untunglah kengawuran Sumala terkait bahasa tidak terulang. 

Sebagai produksi Hitmakers, elemen gore tentu kembali jadi suguhan utama. Di titik ini, saya berharap mereka bersedia mengasah otak demi menambah kreativitas dalam hal presentasi sadisme, namun kebrutalan eksplisit yang Panggonan Wingit 2: Miss K hadirkan masih cukup menyenangkan. Ya, film Hitmakers akhirnya kembali tampil menghibur.

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - 2ND MIRACLE IN CELL NO. 7

Tidak ada komentar

2nd Miracle in Cell No. 7 memang terkesan sebagai sekuel yang tak perlu bagi Miracle in Cell No. 7 (2022), yang merupakan remake dari film Korea Selatan berjudul sama. Versi orisinalnya tak memiliki sekuel, begitu pun deretan remake dari berbagai negara lain. Tapi eksistensinya mampu dijustifikasi, karena alih-alih memaksa untuk melanjutkan cerita film pertama, ia cenderung bertindak selaku "pengisi lubang". 

Kita tahu bahwa Dodo Rozak (Vino G. Bastian) akhirnya dijatuhi hukuman mati. Kita pun sudah melihat bagaimana beberapa tahun setelahnya, sang putri, Kartika (Mawar Eva), berhasil membersihkan nama ayahnya sebagai pengacara di pengadilan. Tapi bagaimana Kartika kecil (Graciella Abigail) menjalani hidup di antara dua peristiwa tersebut? Fase itulah yang diberi sorotan oleh Alim Sudio melalui naskahnya. 

Kartika yang hidup di bawah asuhan Hendro (Denny Sumargo) dan Linda (Agla Artalidia) masih rutin mengunjungi para tahanan di sel nomor 7 (Indro Warkop, Tora Sudiro, Indra Jegel, Rigen Rakelna, Bryan Domani), tanpa tahu ayahnya telah tiada. Hendro berniat memberitahukan berita itu saat Kartika sudah cukup dewasa, tapi untuk sekarang, ia ingin terlebih dahulu mengadopsi gadis 10 tahun tersebut. 

Sayangnya ada berbagai batu sandungan. Ada Hengky (Muhadkly Acho) yang dikirim untuk mengawasi cara Hendro mengelola penjara, juga Kelana (Ayushita), kepala dinas sosial yang enggan menyetujui proses adopsi Kartika. Tapi setidaknya, para karakternya saling memiliki satu sama lain. 

Di situlah kehangatan filmnya berasal. 2nd Miracle in Cell No. 7 adalah tontonan yang memilih percaya pada kemanusiaan, dan yakin bahwa di tempat terburuk sekalipun cahaya harapan menolak untuk seutuhnya memudar. Seluruh penghuni penjara, baik tahanan maupun sipir, seolah berkonspirasi melakukan kebaikan. Mereka lebih memilih berbuat "baik" ketimbang "benar". 

Alurnya juga mengajak kita mundur ke masa lalu guna melihat perkenalan Dodo dan istrinya, Juwita (Marsha Timothy). Kedua latar waktu yang hadir sama-sama berfungsi mengisi catatan perjalanan hidup tokoh-tokohnya. Kita paham alasan Kartika beralih cita-cita dari dokter menjadi pengacara, kita pun tahu mengapa Dodo senang mengajak putrinya "terbang" di atas sepeda. Hebatnya, tidak ada kesan dipaksakan dari cara naskahnya mengisi "lubang-lubang" itu. Begitu 2nd Miracle in Cell No. 7 usai, kisah hidup Kartika, Dodo, dan Juwita pun terasa utuh. 

Ada kalanya film ini seperti terlampau sering memohon aliran air mata penonton. Bahkan ia begitu buru-buru dan sudah melakukannya di awal durasi. Untungnya 2nd Miracle in Cell No. 7 bukan semata soal tangis, sebab tawa pun masih diberi ruang untuk eksis. Humornya bekerja dengan baik, terutama kala mengedepankan pertengkaran Jegel dan Rigen. Acho sebagai Hengky yang gemar melontarkan dua kalimat kontradiktif pun mampu melahirkan antagonis yang mudah dibenci sekaligus menggelitik. 

Departemen akting memang bekerja dengan luar biasa. Vino mengulangi pencapaian di film pertama, namun yang paling mencuri perhatian adalah dua nama yang porsinya mendapat lonjakan signifikan, yakni Denny Sumargo dan Marsha Timothy. Ketika Denny menghadirkan akting terbaik sepanjang karirnya lewat jangkauan emosi yang jauh lebih luas dari biasanya, Marsha berjasa memuluskan jalan bagi klimaks filmnya melalui penghantaran kuat untuk kalimat sederhana berbunyi "Sampai nanti ya anakku sayang". 

Kalau film pertamanya berpusat pada hal-hal yang sedang dan/atau akan terjadi, maka sekuelnya ini membawa penonton menengok ke masa lalu. Kartika membaca buku harian berisi kenangan mendiang orang tuanya, Hendro dan Linda berupaya lepas dari tragedi yang merenggut anak kandung mereka, motivasi antagonisnya pun berkutat di ranah yang sama. Segala sumber emosinya berasal dari masa lalu, entah berupa memori yang layak dikenang, atau kerinduan yang enggan menghilang. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - GOOD ONE

Tidak ada komentar

Good One adalah film dengan presentasi yang begitu percaya diri serta berani, sampai sulit dipercaya bahwa ia merupakan sebuah karya debut. Melalui filmnya ini, India Donaldson menunjukkan soal ketiadaan ruang aman bagi perempuan, melalui kepiluan yang pelan-pelan merambat, kemudian mencengkeram dalam keheningan. 

Awalnya semua nampak normal. Dibarengi musik bernuansa dreamy garapan Celia Hollander, kita berkenalan dengan Sam (Lily Collias), gadis muda yang hendak pergi berkemah bersama ayahnya, Chris (James Le Gros). Matt (Danny McCarthy), teman Chris, juga turut serta bersama putranya, Dylan (Julian Grady). Tapi di hari keberangkatan, didasari kekesalan atas perceraian orang tuanya, Dylan tiba-tiba enggan pergi. 

Jadilah perkemahan ini diikuti oleh tiga orang saja. Sekali lagi, semua terlihat normal, tapi sesungguhnya Donaldson tengah mengajak penonton mengasah kepekaan mengobservasi. "Why do I have to go in the back?", ucap Sam mempertanyakan perintah sang ayah untuk pindah ke kursi belakang mobil kala mereka menjemput Matt. "Because I'm asking you so nicely", jawab Chris.  

Sekilas tidak ada kejanggalan pada interaksi di atas. Tapi lambat laun sinyal-sinyal ketidakberesan lain mulai Donaldson tebar secara subtil. Ketika pembagian tempat tidur di hotel dilakukan tanpa diskusi, ketika obrolan mengenai "identitas" Sam dilakukan kala makan siang, atau ketika si protagonis merasa tidak nyaman dengan kehadiran sekelompok pria asing di area perkemahan.

Good One tidak membungkus konfliknya lewat ledakan besar, melainkan riak kecil yang seringkali tak diindahkan dan dianggap sepele. Donaldson tidak mengarahkan ke mana penonton harus memperhatikan. Sang sineas sebatas memotret realita, dan serupa di kehidupan sehari-hari, kita bebas membuat interpretasi serta respon seperti apa pun terhadap tiap situasi. 

Riak-riak itulah yang nantinya membentuk miniatur dinamika gender. Bagaimana laki-laki punya tendensi menyepelekan isi pikiran perempuan dan enggan mendengarkan, atau sebaliknya, mau memberi perhatian hanya karena memiliki intensi buruk. Patut diingat, karena latarnya adalah alam liar, para laki-laki ini tak perlu terikat oleh norma dan peran-peran yang mereka jalankan sebagai bagian masyarakat, sehingga entah secara sadar atau tidak, menjadi diri sendiri, sejujur-jujurnya, seasli-aslinya, seburuk-buruknya. 

Lily Collias tampil memikat, menampilkan akting kompleks yang secara tersirat memberi tahu kita, bahwa ada jauh lebih banyak hal berkecamuk dalam batin karakternya dibanding apa yang ia sampaikan. Sam memendam setumpuk dilema, hingga semua tak lagi tertahankan. Ketika figur pemegang kendali menolak membantunya mendapatkan ruang aman, sebagai perempuan, Sam memilih menciptakan ruang amannya sendiri, sebagaimana ia perlihatkan sewaktu menutup pintu mobil selama beberapa saat di penghujung film. 

(Klik Film)

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - MUFASA: THE LION KING

1 komentar

Menilik ceritanya, Mufasa: The Lion King sesuai dengan apa yang bisa kita harapkan dari karya-karya Barry Jenkins (Moonlight, If Beale Street Could Talk). Didukung naskah buatan Jeff Nathanson, Jenkins dengan cerdik memakai konsep "Circle of Life' milik franchise-nya sebagai cara mengeksplorasi banyak isu sosial, dari gender, jurang kelas, hingga xenofobia dan rasisme. Tapi di saat bersamaan, belum matangnya sang sutradara dalam hal menggarap blockbuster juga begitu kentara. 

Filmnya bertindak selaku prekuel sekaligus sekuel begi The Lion King (2019), di mana kita dibawa mundur jauh ke masa lalu, ketika Rafiki (John Kani) menuturkan sebuah kisah pada Kiara (Blue Ivy Carter), yang sedang ditinggal pergi untuk sementara waktu oleh kedua orang tuanya, Simba (Donald Glover) dan Nala (Beyoncé). 

Cerita Rafiki berpusat pada Mufasa (Aaron Pierre), menyoroti bagaimana ia tumbuh menjadi raja yang begitu dihormati. Mufasa kecil terpisah dari orang tuanya akibat terseret air bah, tatkala hujan mengguyur tempat tinggalnya setelah kekeringan menahun. Ada satu detail kecil yang mengganggu kontinuitas naskahnya. Mufasa tidak tahu apa itu hujan, namun bisa menjelaskan bahwa ia terbawa arus banjir kepada seekor singa yang menolongnya. 

Singa penolong itu bernama Taka (Kelvin Harrison Jr.), yang kelak akan kita kenal dengan panggilan "Scar". Raja Obasi (Lennie James) yang juga ayah Taka menolak kehadiran Mufasa, karena baginya "hewan asing" hanya akan mendatangkan bencana. Tapi akhirnya, serupa para pemimpin negara manusia yang xenophobic di dunia nyata, Obasi membolehkan Mufasa tinggal namun dengan berbagai kondisi yang memberatkan. 

Mufasa hanya boleh berada bersama kawanan singa betina. Menariknya, justru itulah yang membuatnya berkembang, bahkan jauh di atas Taka dengan segala privilege-nya sebagai penerus tahta. Naskahnya memanfaatkan fakta bahwa singa betina bertindak selaku pemburu, sementara singa jantan "menjaga" teritori dengan cara tidur-tiduran, guna menyampaikan poin mengenai dinamika gender. 

Di bawah asuhan Ratu Eshe (Thandiwe Newton), Mufasa tumbuh jadi singa handal dengan beragam keahlian. Lingkaran kehidupan dengan segala pertemuan dan perpisahannya memang misterius. Termasuk saat Mufasa mesti menghadapi Kiros (Mads Mikkelsen) dan kelompok singa putihnya, yang sebagaimana manusia berkulit putih, melakukan penjajahan terhadap "kaum berwarna", membunuh serta mengusir mereka dari tempat tinggalnya. 

Mufasa dan Taka pun melakukan perjalanan mencari tanah impian yang disebut "Milele". Rafiki dan Sarabi (Tiffany Boone) si singa betina turut serta dalam perjalanan. Interaksi keempatnya tersaji menarik, tapi tiap narasinya rehat sejenak untuk kembali ke latar masa kini, intensitas yang telah dibangun segera menurun. Timon (Billy Eichner) dan Pumbaa (Seth Rogen) yang sejatinya tak memiliki kepentingan (melalui deretan dialog bernuansa meta, keduanya pun menyadari itu) diberi banyak porsi secara paksa, yang kebanyakan berkutat pada barisan lelucon tak lucu yang juga terkesan dipaksakan. 

Mufasa: The Lion King diberkahi lagu-lagu buatan Lin-Manuel Miranda, yang tak hanya catchy tapi juga dipenuhi lirik kreatif. Sayang, Jenkins belum mampu menerjemahkan kekuatan milik departemen audio itu untuk melahirkan nomor musikal yang menarik. Kemeriahan dan energi yang semestinya hadir cenderung sukar ditemukan. Masalah serupa timbul kala sang sutradara menangani adegan aksi. Minim energi. Potensi menciptakan klimaks epik saat seluruh hewan berkonfrontasi di Milele gagal dimanfaatkan, dan kita pun cuma disuguhi aksi ala kadarnya. 

Jenkins tahu cara menekankan problematika sosial di pengadeganannya, namun saat harus berurusan dengan teknologi, ia tampak kepayahan. Jenkins yang terbiasa mengutamakan ekspresi subtil dari perasaan manusia jelas tidak berjodoh dengan format animasi photorealistic yang membatasi guratan-guratan di raut wajah karakternya, sehingga dampak emosi kisahnya pun terlucuti. Setidaknya kelemahan tersebut adalah bagian dari proses belajar sang sineas yang belum tuntas, dan ia tetap diberi kesempatan menggarap karya sesuai kekhasannya. Di balik berbagai kekurangannya, Mufasa: The Lion King bukan blockbuster yang hampa. 

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - SUGARCANE

Tidak ada komentar

Sugarcane dibuka oleh situasi sunyi di lokasi berdirinya St. Joseph's Mission (1867-1981). Nampak sebuah patung Maria yang dipenuhi bercak berwarna merah darah berdiri di area tersebut, yang secara puitis tetapi tragis, bak menyimbolkan bagaimana di sana agama pernah jadi kedok serangkaian perbuatan kejam. Tempat itu sudah kosong, namun kepiluannya tetap membekas. 

Sebuah sekolah asrama khusus anak-anak Indian juga sempat eksis di situ, yang jadi bagian sistem pendidikan pemerintah Kanada. Sekolah itu bukan wujud kepedulian bagi pribumi, tapi tak ubahnya penjara penuh siksaan serta panggung genosida. Banyak laporan soal tindak kekerasan, pelecehan seksual, juga dugaan pembunuhan karena banyaknya murid tiba-tiba menghilang selama bertahun-tahun, namun pihak berwajib tidak pernah menindaklanjuti. 

Sampai pada tahun 2021, ditemukan ratusan kuburan tak bertanda di area bekas berdirinya sekolah tersebut, yang membangkitkan kembali upaya untuk menguak kebenaran, termasuk oleh duo sutradara Julian Brave NoiseCat dan Emily Kassie melalui film mereka ini. Ayah Julian, Ed Archie Noisecat, juga mantan siswa sekolah tersebut, sekaligus satu dari sekian banyak anak yang lahir dari hasil pemerkosaan oleh para pendeta. 

Pendeta memerkosa siswi, sang siswi hamil, kemudian beberapa bayinya dibakar hidup-hidup. Bayi yang selamat berujung dibuang, atau tumbuh sebagai anak perempuan yang juga menjadi siswi di sekolah tersebut, hanya untuk diperkosa oleh pendeta yang dahulu memerkosa ibu mereka. Kemanusiaan hanyalah dongeng di St. Joseph's Mission. 

Sugarcane turut mengikuti aktivitas beberapa narasumber lain. Salah satunya Charlene Belleau, yang telah sekian lama melakukan investigasi bersama Whitney Spearing, dengan cara mewawancarai para penyintas dan mencari bukti-bukti terkait kebengisan para iblis bertopeng pengikut Tuhan di sekolah tersebut. Setiap kata yang terucap dari mulut para penyintas membawa kengerian, pun tiap lokasi yang dikunjungi merekam luka dan kesedihan. 

Di satu titik, Charlene yang juga seorang penyintas mengunjungi bangunan yang dahulu dijadikan kurungan bagi murid. Nama anak-anak yang pernah dikurung terukir di dinding. Sembari menahan tangis, Charlene bercerita bahwa mereka diberikan nomor, dan alih-alih nama, para siswa dipanggil berdasarkan nomor itu. Menyakitkan. 

Sugarcane tak hanya bertindak selaku penguak kebenaran, pula pengingat betapa peristiwa traumatis bukan sebatas menghancurkan korban, pula orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi. Selepas menginjak usia dewasa pun, tendensi bunuh diri para penyintas tetap tinggi. Jikalau bertahan hidup, ada serangan depresi yang menolak pergi. Sebagaimana yang menimpa Ed, hingga ia memutuskan meninggalkan Julian kecil, yang akhirnya ikut terdampak secara emosional. 

Mungkin dokumenter ini berupaya mengisi narasinya dengan terlalu banyak cerita, namun tidak bisa dipungkiri tiap cerita memiliki urgensi dan bobot emosi. Penutupnya terasa inkonklusif, tapi mungkin memang itu yang para sineasnya ingin penonton rasakan. Ketidakpuasan atas belum adanya konklusi pasti juga sesuatu yang mengganggu hati orang-orang Indian di sana. 

Narasumber berikutnya adalah Rick Gilbert, mantan kepala Williams Lake First Nation yang mewakili orang-orang Secwépemc. Meski Rick juga penyintas, ia tetap tak kehilangan kepercayaan pada Katolik. Suatu ketika Paus Fransiskus mengundangnya dan perwakilan Indian lain dari berbagai tempat ke Vatikan. Di hadapan mereka Paus menyampaikan permintaan maaf, sebelum mengakhiri pidato "Bye bye!" yang terdengar (terlampau) ceria. Masalahnya mereka sudah lelah dengan permintaan maaf tanpa aksi nyata. 

(Disney+)

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - THE LORD OF THE RINGS: THE WAR OF THE ROHIRRIM

Tidak ada komentar

Di salah satu momen aksi paling kreatif dalam filmnya, sang protagonis, Héra (Gaia Wise), secara cerdik berhasil mengalahkan seekor oliphaunt seorang diri. Beberapa menit berselang, dua prajurit lawan yang notabene adalah manusia biasa berhasil menculiknya dengan gampang. Sang putri hanya berteriak layaknya damsel in distress. Inkonsisten memang penyakit yang menjangkiti The Lord of the Rings: The War of the Rohirrim.

Hadirnya inkonsistensi bukanlah suatu kejutan, sebab The War of the Rohirrim memang dibuat hanya agar New Line Cinema tetap memegang hak adaptasi terhadap karya-karya J. R. R. Tolkien, sehingga proses pembuatannya pun berlangsung buru-buru. Ada kalanya ia nampak berpeluang mendekati kehebatan trilogi buatan Peter Jackson, tapi tidak jarang pula filmnya terlihat seperti produk setengah matang.

Mengambil latar 183 tahun The Fellowship of the Ring (2001), satu hal yang paling menarik perhatian di sini jelas pemakaian format animasi. Bukan yang pertama, karena adaptasi layar lebar perdana untuk kisah The Lord of the Rings sendiri hadir dalam medium tersebut (1978). Tapi kita tidak sedang membicarakan animasi biasa, melainkan anime. Disutradarai oleh Kenji Kamiyama, The War of the Rohirrim lebih menyerupai karya-karya Hayao Miyazaki, khususnya Nausicaä of the Valley of the Wind (1984). 

Sama seperti Nausicaä, Héra juga seorang putri kerajaan berambut merah, yang alih-alih bersikap anggun sembari mengenakan gaun, justru lebih senang menunggangi kuda di alam liar. Helm Hammerhand (Brian Cox) adalah ayahnya, Raja Rohan yang dikenal meledak-ledak meskipun baik hati. Terbaru, amarah sang raja menyeretnya dalam perkelahian, di mana ia tanpa sengaja membunuh Freca (Shaun Dooley), pemimpin kaum Dunlendings hanya dengan satu pukulan. 

Helm Hammerhand memang raja yang badass. Rambut dan jenggot putihnya, tubuhnya yang tinggi kekar meski telah berusia lanjut, serta sebuah momen epik di pertengahan film, bakal mengingatkan penggemar One Piece terhadap sosok Edward Newgate (Whitebeard). Keputusannya berkelahi mendatangkan ancaman, saat Wulf (Luke Pasqualino), putra Freca, bersumpah menuntut balas dan mendatangkan peperangan bagi Rohan. 

Walau awalnya Héra dikesampingkan, bahkan berbeda dengan dua saudara laki-lakinya, ia tak diizinkan terjun ke medan perang, kelak justru sang putri yang memegang kunci keselamatan Rohan. Masalahnya, naskah buatan Jeffrey Addiss, Will Matthews, Phoebe Gittins, dan Arty Papageorgiou seolah kebingungan hendak bagaimana mengolah karakter Héra. 

Proses apa yang Héra lalui? Di akhir, ia mampu mengalahkan komandan pasukan musuh, amat tangguh bermain pedang, walau tak diperlihatkan menjalani latihan apa pun. Ataukah Héra memang sudah sekuat itu sejak awal? Kalau demikian mengapa ia semudah itu diculik dan beberapa kali kewalahan dalam pertarungan fisik? 

Sekali lagi, inkonsisten. Inkonsistensi yang juga dapat ditemukan di visualnya. Kadang The War of the Rohirrim nampak bak penghormatan bagi gaya anime era 80an sampai 90an (desain karakternya begitu cantik) dengan segala ketidaksempurnaan animasinya, hanya untuk beralih menggunakan CGI modern beberapa waktu kemudian. Apa yang sesungguhnya diinginkan oleh para pembuatnya?

Ada beberapa ide aksi kreatif, salah satunya yang sudah tertulis di paragraf pembuka, kala Héra mampu mengalahkan seekor oliphaunt sendirian dengan cara yang tak terduga. Muncul secercah harapan untuk menghasilkan suguhan epik tiap kali filmnya melangkah ke adegan aksi. Tapi begitu pertarungan absen dari layar, ia tampil tanpa tenaga, dan hanya diisi barisan perbincangan medieval membosankan, yang nihil dampak emosi maupun kekuatan estetika. 

Setidaknya film ini menolak bergantung pada fan service (kecuali sebuah cameo dan name-dropping di penghujung durasi yang sangat bisa diterima), sembari tetap memuaskan dahaga para penggemar yang ingin memahami mitologi Middle-earth secara lebih utuh. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - RACUN SANGGA: SANTET PEMISAH RUMAH TANGGA

2 komentar

Sekilas Racun Sangga: Santet Pemisah Rumah Tangga terlihat tak memiliki perbedaan dengan setumpuk horor lokal malas yang mengikuti tren dengan mengadaptasi kisah-kisah viral dari media sosial. Apalagi kursi sutradara diduduki oleh Rizal Mantovani, yang sebelumnya telah menelurkan enam judul (lima di antaranya horor) sepanjang tahun 2024. Siapa sangka film ini malah memberi contoh perihal apa saja yang semestinya dilakukan guna menghasilkan horor berkualitas.

Selepas kredit pembuka ala The Conjuring yang sukses mencuatkan suasana mencekam, kita diajak berkenalan dengan Maya (Frederika Cull) yang baru saja menikahi Andi (Fahad Haydra), meski keputusan itu menyakiti Duma (Wafda Saifan Lubis) yang sudah sejak lama menaruh hati padanya. Bukannya menikmati kebahagiaan sebagai pengantin baru, Maya dan Andi malah harus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan akibat serangan santet bernama "racun sangga".

Konon santet itu tidak bisa dihancurkan, dan bakal terus ada sampai tujuannya tercapai, yakni memisahkan pasangan yang jadi target, entah melalui kematian atau membuat keduanya bercerai. Tidak lama setelah mengucap ijab, Andi mulai merasakan gatal-gatal di sekujur tubuh. Badannya pun dipenuhi luka, sementara muntah darah jadi aktivitas rutin tiap malam. 

Disokong oleh naskah buatan Gusti Gina yang juga merupakan kreator dari utas viral di X yang dijadikan materi adaptasi, untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Rizal Mantovani tak mengedepankan jumpscare dalam horornya. "Bercerita" jadi fokus utama, sementara pembangunan atmosfer dipakai sebagai amunisi menebar teror. Rizal tidak lagi royal mengumbar muka hantu, dan memilih mengusung prinsip "we fear what we cannot see". 

Di satu titik, Andi nampak ketakutan sembari menunjuk ke salah satu sudut rumah. Maya tidak bisa melihat apa yang Andi lihat, begitu pula penonton. Suasana mencekam mampu dimunculkan meski tak menyertakan penampakan, karena pada dasarnya manusia memang cenderung takut akan hal-hal yang tak kita pahami. 

Sayang, ada kalanya penggunaan musik yang kurang bijak terasa mengkhianati pendekatan atmosferik filmnya. Seperti belum bisa sepenuhnya lepas dari penanganan serba berisik di karya-karya sebelumnya, Rizal kerap terlalu berlebihan dalam menempatkan musik garapan Aghi Narottama. Lucunya, masalah ini justru menjangkiti adegan non-horor. Dialog antar karakternya sering sulit didengar akibat iringan musik orkestra megah dengan volume maksimal. 

Untunglah terornya tetap terjaga. Bukan hanya melalui hal-hal subtil, Racun Sangga juga mempersenjatai diri dengan hal-hal yang lebih bombastis. Jumpscare memang tak mendominasi, namun bukan berarti sama sekali lenyap. Kuantitasnya benar-benar dikontrol, sehingga efektivitasnya perihal mengageti penonton tetap terjaga tiap kali dihadirkan. 

Tidak kalah impresif adalah caranya membungkus gore. Ketika banyak sineas horor kita hanya gemar mengumbar kesadisan tanpa menguasai "seni menumpahkan darah", Rizal di film ini, dibantu oleh tata kamera garapan Hani Pradigya, serta Sastha Sunu di departemen penyuntingan, memberi contoh bagaimana semestinya sadisme diperlihatkan. 

Contoh sempurna terletak saat akibat santet yang ia terima, Andi terdorong untuk memarut tangannya sendiri. Rizal terlebih dahulu membangun antisipasi penonton, meningkatkan kecemasan kita ke tingkat tertinggi lewat permainan kamera dan efek suara, sehingga saat akhirnya tiba ke "menu utama", ada kepuasan yang belakangan jarang terasa di horor Indonesia. 

Pencapaian lain Racun Sangga adalah terkait elemen budayanya. Biarpun banyak dari jajaran pemainnya bukan warga lokal, naskahnya tak tergoda untuk memakai narasi "orang daerah merantau ke Jakarta" dan tetap menggunakan Kalimantan sebagai latar. Pertemuan dengan Nini Bulan (Elly D. Luthan) jadi gerbang menuju salah satu momen terbaik filmnya, tatkala sebuah upacara diadakan guna membersihkan racun sangga dari tubuh Andi. Doa-doa religius dan jampi-jampi dengan kemenyan ala klenik Jawa yang sudah terlampau sering menghiasi horor tanah air dihantikan oleh ritual tari-tarian, yang tak hanya unik secara estetika, pula mampu menguatkan atmosfer. 

Setelah beragam peristiwa yang kita saksikan, babak puncaknya memang terasa terlalu generik dan antiklimaks (meski tidak digarap dengan buruk), tapi setidaknya, Racun Sangga: Santet Pemisah Rumah Tangga masih menawarkan konklusi memuaskan yang layak didapatkan oleh karakternya. Tidak bermain aman, tidak pula memaksakan hadirnya tragedi. Begitulah contoh penulisan yang baik. 

2 komentar :

Comment Page:

REVIEW - JUROR NO. 2

1 komentar

"They don't make movies like this anymore" sudah jadi ungkapan klise (kalau tak mau disebut "malas") untuk mengutarakan kekaguman akan sebuah karya sinema dengan rasa klasik. Tapi dalam kasus Juror No. 2 memang begitulah faktanya. Sebuah film yang layak berjaya di musim penghargaan tanpa kehilangan daya hibur bagi penonton luas. Tidak mengejutkan pula saat karya semacam itu dilahirkan oleh Clint Eastwood, yang kala film ini diproduksi telah menginjak usia 93 tahun.

Naskahnya ditulis oleh Jonathan Abrams, yang akan terasa familiar jika anda sudah menonton 12 Angry Men (1957). Premis dasarnya serupa, yakni tentang proses persidangan suatu kasus pembunuhan, di mana berdasarkan setumpuk barang bukti yang dipresentasikan, rasanya hanya memiliki satu kesimpulan: sang terdakwa bersalah. Hampir semua juri berpikiran demikian, hingga salah satu di antara mereka muncul dengan opini berbeda.

Juri dengan opini berbeda itu adalah Justin Kemp (Nicholas Hoult), jurnalis yang tengah menanti sang istri, Ally Crewson (Zoey Deutch), melahirkan anak pertama mereka, setelah sebelumnya pernah mengalami keguguran. Tapi tidak seperti karakter Henry Fonda di 12 Angry Men, Justin meminta 11 juri lain memikirkan ulang putusan mereka bukan semata didasari alasan kemanusiaan, namun karena ia tahu bahwa James Sythe (Gabriel Basso) yang dituduh telah membunuh kekasihnya, Kendall Carter (Francesca Eastwood) sesungguhnya tidak bersalah. 

Mengapa Justin beranggapan begitu, di saat para juri, masyarakat umum, serta Faith Killebrew (Toni Collette) selaku pihak penuntut yang berniat menjadikan kasus ini sebagai pemulus jalan kemenangannya di pemilihan jaksa daerah, meyakini hal yang berlawanan? Di sinilah poin yang membuat premis filmnya terdengar "seksi" diungkap. Melalui flashback, kita mendapati bahwa ada kemungkinan bahwa Justin adalah pelaku sesungguhnya yang menghilangkan nyawa Kendall. 

Di situlah letak perbedaan paling mendasar antara Juror No. 2 dengan 12 Angry Men. Kisahnya bukan lagi soal juri yang menentukan apakah sang terdakwa bersalah, melainkan tentang juri yang dihantui rasa bersalah. Protagonisnya datang bukan untuk menegakkan keadilan, tapi menimbang-nimbang untuk lari dari proses peradilan. Jika 12 Angry Men diakhiri dengan perasaan lega saat para juri keluar dari ruang sempit yang pengap setelah beberapa lama, maka Juror No. 2 sebaliknya, ditutup dengan perasaan sesak. 

Presentasi Eastwood mengingatkan ke film-film yang lalu-lalang di ajang penghargaan pada era 90-an. Walau intensitasnya tak pernah benar-benar memancing kecemasan, penceritaannya rapi sekaligus memiliki bobot emosi, dengan barisan karakter yang tidak sukar untuk dipahami motivasinya. Melalui perdebatan antara 12 orang tersebut, kita memperoleh gambaran mendasar seputar hal-hal yang melandasi sudut pandang masing-masing.

Tapi filmnya tidak selalu mengurung kita di ruang juri. Melalui pendekatan bercerita yang lebih konvensional, investigasi kasusnya acap kali bergerak ke luar ruangan. Justin ingin memastikan kebenaran ingatannya, juri lain bernama Harold Chicowski (J. K. Simmons) yang merupakan mantan polisi ingin menjalankan penyelidikan sendiri, dan seiring waktu, Faith (tak seperti namanya) mulai meragukan keyakinannya.  

Juror No. 2 boleh tampil konvensional, tapi ia tidak miskin kompleksitas. Dia bukan film yang memudahkan penonton memilih mesti menaruh simpati pada siapa. Apakah Justin yang sejatinya adalah orang baik dan begitu menyayangi keluarganya? Atau Faith yang awalnya dibutakan ambisi sebelum pelan-pelan menyadari kewajibannya menegakkan keadilan? Mungkin Eastwood tengah mengajak penonton berandai-andai soal terciptanya dunia sempurna yang tak mengharuskan terjadinya gesekan antara ideologi dengan nurani. 

(Catchplay)

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - KRAVEN THE HUNTER

Tidak ada komentar

Muncul kabar bahwa Kraven the Hunter bakal menjadi judul terakhir dari SSU (Sony's Spider-Man Universe), seiring mencuatnya estimasi bahwa film ini hanya akan memperoleh 13-15 juta dollar di akhir minggu pertamanya, yang mana merupakan rekor terendah bagi franchise-nya. Menilik kualitasnya, seperti rekan-rekannya, ia cuma produk setengah hati yang tak mampu menjustifikasi eksistensinya, selain demi mengeruk pundi-pundi uang secara asal, yang bahkan gagal dilakukan. Untungnya film ini memiliki Aaron Taylor-Johnson. 

Ketika naskah buatan Richard Wenk, Art Marcum, dan Matt Holloway gagal mengeksplorasi psikis sang protagonis, termasuk di konklusinya yang cenderung memunculkan ketidakjelasan ketimbang kompleksitas, penampilan Johnson membuat Kraven aka Sergei Kravinoff nampak keren. Sosok pemburu brutal dengan kecepatan melebihi citah dan mata setajam elang, yang tak kenal ampun namun memegang teguh code of honour. 

Code of honour seperti apa? Itulah yang naskahnya luput tekankan. Kita dibawa mundur ke masa muda Sergei, yang bersama adik tirinya, Dmitri (Fred Hechinger), hidup di bawah didikan otoriter ayah mereka, Nikolai (Russell Crowe), yang dengan paham maskulinitas berlebihnya, ingin kedua putranya tumbuh jadi pemburu handal. Di hari ibu mereka meninggal, Sergei dan Dmitri justru diajak berburu singa oleh sang ayah. 

Bahkan setelah melewati fase flashback sepanjang itu, Kraven the Hunter tetap luput mengeksplorasi dinamika psikis jajaran karakternya, dan sebatas menyuguhkan origin story klise nan membosankan ala film superhero medioker. Sebuah kecelakaan saat berburu membawa Sergei bertemu Calypso Ezili (Ariana DeBose) yang kelak akan dikenal sebagai dukun voodoo handal, namun di sini penokohannya begitu dangkal, sehingga sulit untuk mendeskripsikan individu seperti apakah dia. 

Nantinya Sergei bersinggungan jalan dengan Aleksei Sytsevich alias Rhino (Alessandro Nivola terlihat bersenang-senang dengan pendekatan akting over-the-top), yang akhirnya bisa membantu kita melupakan versi konyol karakternya yang diperankan Paul Giamatti di The Amazing Spider-Man 2 (2014). Di satu titik Rhino menculik Dmitri, dan melalui satu sekuen kejar-kejaran, penokohan Kraven sebagai pemburu gigih sekaligus kakak penyayang justru jauh lebih tergali (dan dengan cara yang jauh lebih menghibur) ketimbang di flashback-nya.

Penceritaannya tidak kalah buruk. Struktur alur yang makin kacau akibat lemahnya penyuntingan, diperparah oleh banyaknya lubang menganga di naskah. Setumpuk pertanyaan seperti "Kenapa dia bisa mengetahui ini?" atau "Bagaimana caranya melakukan itu?" bakal terus menghantui kepala penonton. Belum lagi baris demi baris kalimat, yang jika tidak sedang terjerumus dalam keklisean, maka akan terdengar konyol bak dibuat oleh bocah yang tengah berfantasi dengan mainannya. 

Minimal gelaran aksinya cukup menyenangkan. Didukung berbagai kekuatan menarik tokoh-tokohnya, termasuk Foreigner (Christopher Abbott) selaku anak buah Rhino dengan kemampuan hipnotisnya, J. C. Chandor memanfaatkan rating R yang ia peroleh untuk menyajikan baku hantam berdarah. Eksekusinya mungkin tidak spesial, tapi masih memiliki daya hibur. Apalagi aksi tersebut dilakoni oleh Aaron Taylor-Johnson, yang dengan kekuatan luar biasa bak menahan film ini di pundaknya, guna menjaganya supaya tidak runtuh.

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - PEREMPUAN PEMBAWA SIAL

Tidak ada komentar

Setelah mengobrak-abrik templat Ramayana di Sleep Call (2023), kali ini giliran kisah Bawang Merah Bawang Putih yang dipelintir oleh duo Fajar Nugros-Husein M. Atmodjo. Perempuan Pembawa Sial (sebelumnya berjudul Ratu Sihir) mengubah dongeng tersebut ke ranah horor yang lebih jahat pula ambigu secara moral, walau kali ini naskahnya tidak memiliki kompleksitas memadai guna menyajikan penceritaan mendalam.

Si perempuan pembawa sial yang dimaksud adalah Mirah (Raihaanun), yang entah kenapa senantiasa mendatangkan kematian bagi laki-laki yang menjalin hubungan dengannya. Adegan pembukanya menegaskan itu ketika menggempur Mirah dengan teror demi teror. Tidak sampai 10 menit pertama, filmnya sudah melempar begitu banyak jumpscare, yang beberapa di antaranya memiliki konsep cukup kreatif, pula diarahkan dengan ketepatan timing oleh Fajar selaku sutradara. 

Orang-orang di balik Perempuan Pembawa Sial paham betul pentingnya peran adegan pembuka untuk menggaet atensi penonton, dan dengan berani membuat filmnya langsung tampil menggebrak. Saya sebut "berani" karena jika tak membekali diri dengan segudang amunisi, ada risiko terornya kehabisan gagasan kreatif. Sayangnya itulah yang film ini alami. 

Deretan jumpscare yang nantinya menyusul gagal menyaingi kualitas opening-nya. Masih digarap dengan teknis yang solid, pula tidak asal muncul tanpa perhitungan, hanya saja konsep serta eksekusinya generik. Minimnya porsi bagi Didi Nini Thowok yang legendaris meski wajahnya terpampang besar di poster pun tidak membantu. Bukan suatu kelemahan, namun lebih ke arah strategi marketing yang misleading. Sewaktu sang seniman legendaris menari di kredit penutupnya yang creepy, saya hanya bisa berujar, "Ini yang filmnya butuhkan!". 

Seiring bergulirnya durasi, Perempuan Pembawa Sial semakin terasa melelahkan. Apalagi ketika plotnya   yang berusaha mengutak-atik formula Bawang Merah Bawang Putih dengan mencampurnya ke dalam mitos bahu laweyan mengenai perempuan pembawa kematian    cenderung tipis. 

Serupa persaudaraan bawang merah dan bawang putih, Mirah pun memiliki saudari tiri bernama Puti (Clara Bernadeth). Keputusan untuk baru memperkenalkan Puti di pertengahan cerita berdampak pada minimnya waktu mengeksplorasi dinamika psikis mereka berdua. Hasilnya dangkal. Padahal ada potensi kompleksitas mengenai sosok protagonis yang tak sepenuhnya suci, pula perspektif menarik tentang "Pantaskah individu menerima hukuman atas dosa masa lalu di saat ia sudah menjadi manusia yang sama sekali berbeda?". 

Kutukan yang Mirah terima membuatnya kesulitan menjalin romansa dengan laki-laki. Termasuk ketika perhatiannya tertuju pada Bana (Morgan Oey) si penjual makanan padang yang bersedia menolong Mirah. Tapi ada kalanya kondisi tersebut memihak Mirah, ketika datang laki-laki yang hanya ingin menjadikan tubuhnya sebagai alat pemuas nafsu. Segala hal di dunia memang punya dua wajah, baik kutukan maupun cinta dan seksualitas. 

Di luar berbagai kelemahannya, Perempuan Pembawa Sial memiliki satu poin yang jarang diperhatikan sineas lokal: identitas. Kombinasi Fajar Nugros dan Husein M. Atmodjo memiliki kekhasan dalam kolaborasi mereka. Entah itu cerita yang merekonstruksi kisah-kisah klasik yang telah dikenal secara turun-temurun, atau humor yang diselipkan tanpa mengkhawatirkan inkonsistensi tone (walau poin kedua seperti tampil agak ragu-ragu di film ini). 

(JAFF 2024)

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - GIRLS WILL BE GIRLS

Tidak ada komentar

Girls Will Be Girls selaku karya penyutradaraan perdana Shuchi Talati (juga menulis naskahnya) menunjukkan bahwa kisah mengenai seksualitas dapat disajikan secara cute, dan sebaliknya, film yang cute tetap bisa melempar kritik sosial setajam pisau. Bukti kalau sinema tidak semestinya mengurung diri dalam kekakuan pakem. 

Menariknya, Girls Will Be Girls punya protagonis yang terkesan kaku. Namanya Mira (Preeti Panigrahi), seorang siswi teladan di sebuah sekolah asrama yang terletak di kaki Himalaya. Dia menjadi perpanjangan tangan guru untuk mengingatkan murid yang melanggar aturan (rok yang terlalu pendek, mewarnai kuku, dll.), nilainya pun selalu jadi yang tertinggi. 

Demi mendukung prestasi akademik putrinya, Anila (Kani Kusruti) tinggal di dekat asrama sekolah supaya tiap mendekati jadwal ujian, Mira dapat pulang ke rumah untuk belajar di bawah pengawasannya. Ayah Mira, Harish (Jitin Gulati), lebih banyak absen dari hidupnya karena urusan pekerjaan. Suatu ketika Harish berkata pada Anila, "Kalau Mira gagal, itu salahmu", seolah berusaha memamerkan maskulinitasnya, menagih hak tanpa bersedia memenuhi kewajiban selaku ayah dan suami. 

Sekilas semuanya nampak seperti prolog familiar bagi sebuah drama coming-of-age. Masih terasa demikian di saat Mira berkenalan dengan Sri (Kesav Binoy Kiron), seorang siswa pindahan yang juga putra diplomat sehingga pernah menetap di banyak negara. Mira yang kaku mulai jatuh cinta, melanggar aturan rumah dan sekolah, hingga belajar mengenai seksualitas. Di satu titik, Mira mengajak Sri ke warnet untuk mempelajari organ reproduksi sebelum berhubungan seks. 

Shuchi Talati memotret cinta monyet tokoh utamanya, yang mulai mengenal romansa beserta segala pernak-perniknya, dengan amat menggemaskan. Seksualitasnya tidaklah jorok atau eksploitatif karena menekankan kepolosan protagonisnya. Misal saat Mira dan Sri diam-diam berciuman di kamar dengan kedok belajar bersama, sambil sesekali mengintip keberadaan Anila. Sekali lagi, menggemaskan. 

Sampai kemudian Sri justru mendekati Anila, termasuk memberinya perhatian yang tak pernah Harish berikan. Awalnya itu dilakukan supaya Anila memperbolehkannya menemui Mira, tapi lambat laun timbul kecemburuan dalam hati sang putri kepada ibunya. 

Tapi Girls Will Be Girls bukan cerita opera sabun mengenai ibu dan anak yang memperebutkan laki-laki. Sebaliknya, ia bagai cautionary tale. Peringatan akan bahaya manipulasi laki-laki terhadap perempuan, apa pun hubungan yang terjalin di antara mereka. Tentang para laki-laki yang seolah peduli (rajin melontarkan kata-kata manis, atau bersedia memenuhi kebutuhan finansial pasangan), namun sejatinya selalu absen kala ia dibutuhkan. 

Tiga pelakon utamanya sama-sama tampil mengesankan. Kesav Binoy Kiron akan membuat penonton ikut mempertanyakan intensi karakternya, Kani Kusruti membawa kompleksitas pada figur ibu tegas dan istri kesepian, sedangkan Preeti Panigrahi seolah sudah punya pengalaman akting segudang biarpun film ini merupakan debutnya. Sosok Mira dibuatnya begitu hidup dengan fleksibilitas dan jangkauan emosi luas. 

Pada akhirnya "perempuan akan tetap menjadi perempuan". Selalu jadi sasaran manipulasi dan beragam bentuk ancaman lainnya dari laki-laki. Tapi perempuan tetaplah perempuan, yang tatkala bersatu memberikan dukungan dan kepedulian bagi satu sama lain, bakal menciptakan ikatan yang takkan mampu diputus oleh laki-laki sebiadab apa pun.  

(JAFF 2024)

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - ALL WE IMAGINE AS LIGHT

Tidak ada komentar

Ketika berkendara pada malam hari, seringkali saya mengamati para individu yang meramaikan tiap sudut kota. "Kenapa orang di warung itu makan seorang diri? Benda apa yang dibeli dua gadis muda di minimarket seberang? Apa yang membuat sepasang kekasih di ujung jalan tertawa bahagia?", barisan tanda tanya semacam itu pun mencuat. Rasanya Payal Kapadia selaku sutradara sekaligus penulis naskah All We Imagine as Light juga punya pemikiran serupa, yaitu bahwa semua manusia menyimpan cerita. 

Padatnya Mumbai mengawali filmnya. Orang-orang lalu-lalang sepulang kerja. Jalanan penuh sesak, begitu pula transportasi umum seperti kereta. Salah satu penumpangnya adalah suster bernama Prabha (Kani Kusruti). Apa yang Prabha pikirkan ketika dari dalam kereta kala menatap kosong ke arah deretan gedung bertingkat di luar? Apakah ia mendambakan kemewahan? Atau terdapat kegamangan lain dalam batinnya?

Proses mempertanyakan ruang intim manusia memang menyimpan romantisme tersendiri. Seperti menyusun keping-keping puzzle yang tak dapat disentuh, namun bisa dirasakan. Ditemani nada-nada yang bak menari lincah melalui dentingan piano dalam lagu The Homeless Wanderer gubahan Emahoy Tsegué-Maryam Guèbrou, kita diajak pelan-pelan memecahkan teka-teki di hati karakternya. 

Prabha tinggal bersama Anu (Divya Prabha), sesama suster malayali yang memiliki kepribadian berlawanan dengannya. Jika Prabha lebih banyak diam, maka Anu menjalani hidup dengan semangat. Ketika Prabha bagai pasrah dikuasai rasa sepi karena sang suami pergi ke Jerman sesaat setelah keduanya menikah dan tak terdengar kabarnya hingga kini, Anu tidak segan menjalin cinta dengan pria muslim bernama Shiaz (Hridhu Haroon) meski itu membuatnya jadi bahan gosip di tempat kerja. 

Lalu ada Parvaty (Chhaya Kadam), tukang masak di rumah sakit sekaligus sahabat Prabha, yang sedang berjuang melawan penggusuran rumahnya. Timbul masalah akibat Parvaty tak dapat menunjukkan bukti kepemilikan tanah. Sang suami meninggal tanpa pernah memberi tahu apa pun padanya. 

Ketiga perempuan ini memiliki deritanya masing-masing, yang jadi contoh kasus bagaimana laki-laki, bahkan setelah mereka tiada (entah karena mati atau sebatas pergi), tetap mendatangkan masalah untuk perempuan. Anu memang mengejar cinta laki-laki, tapi karena itulah yang ia inginkan, dan bukan disebabkan oleh ketergantungan. 

Payal Kapadia bisa saja mengemas All We Imagine as Light sebagai drama mengharu biru penuh ledakan emosi. Tapi bukan itu tujuannya. Kapadia ingin penonton merasakan penderitaan karakternya, tanpa melakukan eksploitasi. Adegannya bergulir begitu lirih, pula terasa puitis berkat cara sang sineas mempercantik dramatisasi. 

Misal ketika Prabha mendekap erat penanak nasi yang secara misterius dikirim ke apartemennya. Tidak ada nama, tapi Jerman tertera sebagai alamat si pengirim, sehingga ia menduga barang itu dikirim oleh sang suami. Melalui dekapan dalam diam itulah Prabha menumpahkan segalanya. Kesepian, kerinduan, kesedihan, bahkan mungkin sumpah serapah. 

Akting para pemainnya, terutama Kani Kusruti (juga bermain di satu lagi film India berkelas tahun di tahun 2024, Girls Will Be Girls) yang mampu berbicara lewat tatapan matanya, mendukung pendekatan sang sineas. Perjalanan para karakternya berhasil ditutup dengan sederhana tetapi amat indah. Ditemani alunan musik dreamy dari Imagined Light karya Topshe, tiga perempuan hebat itu akhirnya bisa sejenak menghela napas dan membiarkan diri mereka dipeluk oleh kebahagiaan. 

(JAFF 2024)

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - CROCODILE TEARS

2 komentar

Beberapa waktu lalu media sosial Indonesia sempat diramaikan oleh diskursus mengenai fenomena mistis. Walau saya percaya pada dunia gaib di luar nalar, saya pun percaya bahwa hal tersebut kerap dijadikan senjata membodohi rakyat jelata, dijadikan jawaban atas segala kejanggalan, di saat kita semestinya lebih memberikan atensi terhadap isu kesehatan mental. Dari situlah Crocodile Tears yang menandai debut penyutradaraan film panjang Tumpal Tampubolon menemukan relevansinya. 

Di usianya yang sudah dewasa, Johan (Yusuf Mahardika) masih tidak bisa lepas dari sang mama (Marissa Anita). Di siang hari, Johan membantu mengurus peternakan buaya, sedangkan di malam hari ia tidur dalam pelukan mamanya yang tak pernah penonton ketahui namanya (kredit hanya menuliskan "Mama"). Mereka tak terpisahkan, atau lebih tepatnya, Mama menolak melepas putranya. 

Sampai suatu ketika Johan berkenalan dengan Arumi (Zulfa Maharani), warga baru yang bekerja di sebuah tempat karaoke. Johan yang cenderung pasif dan pendiam, seketika jatuh cinta pada Arumi yang berani mengonfrontasi para laki-laki kampung(an) yang menggodanya. Mereka dimabuk asmara. Tapi ada satu masalah: Mama enggan membiarkan Johan jatuh ke pelukan perempuan selain dirinya. 

Dirumuskan di beberapa lab film dari berbagai negara, Crocodile Tears pun tersaji rapi (mengingatkan ke Autobiography karya Makbul Mubarak yang juga berawal dari lab film). Sangat rapi, hingga tidak sedikitpun ada cara bertutur yang terasa mengganggu. Semua sisi, dari penyutradaraan dan penulisan naskah yang sama-sama ditangani oleh Tumpal, maupun rangkaian departemen teknisnya, menampilkan kerapian serupa.

Kerapian di atas tetap terasa, bahkan di saat Crocodile Tears menjamah pokok bahasan yang lebih absurd. Di antara sekian banyak buaya, ada seekor buaya putih spesial yang dipercaya dapat melanggengkan hubungan romansa. Bukan cuma itu, Johan percaya sang mama, yang menganggap si hewan sebagai suaminya, memiliki koneksi khusus dengan buaya tersebut. 

Tumpal menjadikan buaya sebagai manifestasi trauma. Perwujudan luka masa lalu yang menyimpan kaitan dengan persoalan parenting, seperti cinta maternal sampai kesiapan orang tua memiliki anak. Trauma tersebut berpotensi menarik individu ke dalam jurang kegelapan sebagaimana dialami Mama, yang luka batinnya dipertontonkan secara luar biasa oleh Marissa Anita. 

Marissa mewakili wajah lain Crocodile Tears yang bermain-main dengan aspek thriller psikologis. Tangisannya yang kerap pecah di tengah malam, ketidakstabilan emosinya yang sukar diprediksi, pula tatapan kosongnya yang menerawang entah ke mana, memudahkan kerja Tumpal membangun atmosfer mencekam sekaligus menguatkan presentasi drama seputar kesehatan mental miliknya.

Sebaliknya, kedua muda-mudinya, yang diperankan dengan realisme tinggi oleh Yusuf Mahardika dan Zulfa Maharani, mewakili harapan. Seperti telur buaya yang senantiasa membusuk namun tetap dirawat oleh Johan, manusia pun berhak memperjuangkan (dan diperjuangkan) kehidupannya. 

(JAFF 2024)

2 komentar :

Comment Page: