Tampilkan postingan dengan label Tissa Biani Azzahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tissa Biani Azzahra. Tampilkan semua postingan
MAKMUM (2019)
Rasyidharry
Bagaimana cara menjadikan horor
pendek tentang gangguan hantu di tengah salat sebuah film panjang? Cukup
meragukan, apalagi ditambah keterlibatan Baginda Dheeraj Kalwani. Tapi proyek
adaptasi film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi ini rupanya lebih baik
dari perkiraan jauh di atas produksi Baginda Dheeraj lain, meski pencapaian itu
terbilang mudah selama film anda bukan sampah.
Kisahnya membawa kita ke suatu
asrama yang dikepalai oleh Rosa (Reny Yuliana), menggantikan Ibu Kinanti
(Jajang C Noer) yang terbaring sakit. Berbeda dengan sang pendahulu, Rosa
bersikap keras cenderung kecam pada para penghuni, khususnya Nurul (Tissa
Bianni), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri) yang dilarang pulang
selama liburan akibat gagal mendapat rata-rata nilai 8.
Seolah belum cukup sial, bukan cuma
teror pengurus asrama galak saja yang mesti diadapi, pula sesosok makhluk halus
yang dijuluki “Hantu Makmum” karena kerap meneror kala mereka menjalankan
salat. Adegan pembukanya langsung menunjukkan peristiwa gaib tersebut, tatkala
sutradara Hadrah Daeng Ratu (Mars Met
Venus, Jaga Pocong, Malam Jumat the Movie) sanggup mereka ulang nuansa
atmosferik film pendeknya.
Sampai suatu ketika datang Rini
(Titi Kamal), mantan penghuni asrama yang menawarkan diri menjadi mentor pasca
pekerjaannya sebagai perias mayat gagal menghasilkan uang, membuatnya diusir
dari kontrakan. Penokohan Rini menarik. Dia bisa melihat hantu dan tidak takut
pada mereka. Bahkan Rini berani “menghardik” makhluk tak kasat mata yang
berbuat iseng ketika ia sedang bekerja.
Jarang horor lokal mempunyai
protagonis semacam itu. Saya pun menantikan bagaimana duet penulis naskah Alim
Sudio (Ayat-Ayat Cinta 2, Dimsum
Martabak, Kuntilanak) dan Vidya Talisa Ariestya mengembangkan tokoh Rini
begitu ia memutuskan membantu anak-anak asrama menyelidiki teror hantu Makmum. Tapi
harapan tinggal harapan. Di sisa durasi, Rini tak ubahnya protagonis horor
kebanyakan yang hanya mampu kaget, takut, lalu kabur, dan praktis
menyia-nyiakan talenta Titi Kamal.
Potensi Rini pelan-pelan terkubur,
berakhir sebagai satu lagi karakter yang mudah dilupakan. Satu poin yang terus
saya ingat mengenainya adalah luka bakar di tangannya. Mengapa ia tidak
mengenakan sarung tangan? Mungkin itu takkan banyak membantunya memperoleh
pekerjaan di dunia tata rias (manusia hidup), namun setidaknya mengurangi
kecanggungan saat berjabat tangan dengan orang asing.
Bagaimana usaha naskahnya
melebarkan cerita delapan menit menjadi 95 menit? Awalnya semua berjalan baik,
malah menarik kala mitologi soal Kanzan, alias hantu-hantu yang gemar mengusik
ibadah salat, diperkenalkan oleh Ustaz Ganda (Ali Syakieb). Sampai Alim dan Vidya seolah melupakan pembangunan
tersebut, kemudian memperkenalkan twist yang
justru menciptakan kontradiksi mengenai asal-usul si hantu pengganggu.
Masih terkait penulisan, Makmum juga terjebak kebiasaan buruk
film kita, khususnya horor, yakni pemakaian baris kalimat yang asal
mencampurkan diksi santai dan baku, yang berakhir terdengar kaku. Paling mendapat
kerugian dari gaya bahasanya adalah Arief Didu sebagai Slamet si penjaga
asrama. Arief yang biasanya luwes, di sini bak terbebani. Masalah berbeda
menimpa Tissa Biani. Seperti biasa, urusan olah emosi, aktris muda ini piawai,
tapi pelafalan Bahasa Jawanya mengganggu akibat terkurung stereotip buatan
sinetron dan FTV.
Makmum sejatinya bukan sajian murahan. Poin pembeda dari produksi
Baginda Dheeraj lain yakni keberadaan beberapa teror yang efektif. Memasuki
horor ketiganya, Hadrah semakin cerdik memainkan atmosfer sembari meminimalisir
pemakaian musik. Urusan timing pun ia
membaik, terlihat jelas dalam “jump scare
lemari” yang didahului pembangunan mencekam sebelum ditutup gebrakan
mengejutkan.
Sayang, begitu dihadapkan pada
sekuen berintensitas tinggi yang menuntut kejelian mengolah dinamika,
sebagaimana di Jaga Pocong dan Malam Jumat the Movie, Hadrah masih
canggung. Baik dari pilihan shot maupun
gerak kamera (yang artinya juga tanggung jawab Rendra Yusworo selaku sinematografer)
seperti kekurangan daya. Alhasil, kualitas klimaks di mana kekacauan memuncak
terjun bebas, bergerak layaknya orang kelaparan.
Agustus 16, 2019
Adila Fitri
,
Ali Syakieb
,
Alim Sudio
,
Arief Didu
,
Bianca Hello
,
Dheeraj Kalwani
,
Hadrah Daeng Ratu
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jajang C. Noer
,
Kurang
,
Reny Yuliana
,
REVIEW
,
Tissa Biani Azzahra
,
Titi Kamal
BUMI ITU BULAT (2019)
Rasyidharry
Pada masa di mana radikalisme tambah
mengkhawatirkan, film seperti Bumi itu
Bulat bisa menjadi tontonan penting. Dibuat dengan keterlibatan GP Ansor,
tidak mengejutkan bila karya penyutradaraan layar lebar perdana Ron Widodo ini
menjadi kampanye anti-radikalisme. Tapi ada satu masalah akibat kalimat “Kalau kita
tidak bisa bersama, seenggaknya kita bisa saling menghargai”, yang merupakan
salah satu jualan utama filmnya.
Mengapa kalimat di atas bermasalah?
Bukankah itu pesan damai yang menyejukkan? Karena mengacu pada bagaimana
kalimat itu disampaikan, filmya pun
mestinya mampu mengajak penonton menghargai eksistensi jajaran Islam garis
keras, selama tak menimbulkan bahaya secara nyata. Tapi kenapa? Apa perlunya
menghargai radikalisme? Bumi itu Bulat gagal
menjawab itu.
Karakter utamanya adalah Rahabi
(Rayn Wijaya), anggota grup Rujak Acapella yang membangun kesuksesan via
YouTube, dengan jumlah penonton dan subscribers
mencapai ratusan ribu. Ciri khas mereka adalah menyanyikan lagu kebangsaan.
Inilah cara filmnya mempromosikan nasionalisme pada penonton muda, dengan
menyulap lagu yang mungkin dianggap kurang trendi menjadi nomor akapela keren.
Walau dibekali aransemen apik, saya cukup terganggu oleh buruknya lip sync jajaran pemain, ditambah tata
suara kurang natural, khususnya saat karakternya bernyanyi tanpa mikrofon. Film
kita butuh belajar menciptakan adegan live
performance supaya terdengar organik.
Nama “Rujak Acapella” sendiri
datang dari variasi identitas anggota, yang terdiri atas beragam suku, agama,
dan gender. Kini mereka mengincar kontrak rekaman, tapi sayangnya, sang
produser, Aldi (Arie Kriting), merasa tampang personel Rujak Acapella kuranng
menjual, meski mengakui musikalitasnya. Aldi pun mengajukan syarat: Demi
mendapat kontrak, Rujak Acapella harus memasukkan penyanyi muda bernama Aisha
(Febby Rastanty) sebagai anggota. Masalahnya, Aisha—walau kebetulan berkuliah
di kampus yang sama—telah berhenti bernyanyi pasca berhijrah.
Di tengah penolakan rekan-rekannya,
khususnya Tiara (Rania Putrisari), Rahabi bersikeras menerima syarat tersebut.
Alasannya, ia membutuhkan uang untuk membiayai sekolah kedokteran adiknya, Rara
(Tissa Biani). Rahabi sendiri telah beberapa lama pergi dari rumah akibat
pertengkaran dengan ayahnya, Syaiful (Mathias Muchus), yang merupakan anggota
Banser. Rahabi merasa sang ayah hanya mementingkan pekerjaan, menelantarkan
keluarga, sehingga menyebabkan meninggalnya sang ibu.
Tapi jalan Rahabi membujuk Aisha
jauh dari mulus. Selain kukuh meninggalkan dunia tarik usara, Aisha pun
terganggu oleh keberadaan non-Islam di Rujak Acapella. Abi terus memaksakan
diri, dan dampaknya, perpecahan mulai terjadi, apalagi setelah ia menyetujui
persyaratan Aisyah, untuk mewawancarai Bu Farah (Ria Irawan), dosen garis keras
yang dipecat karena menyuarakan ujaran kebencian. Melalui elemen inilah Bumi itu Bulat membawa kita menyusuri
kenyataan mengerikan soal betapa mudahnya prosedur cuci otak radikalisme
berlangsung di dunia kampus.
Bumi itu Bulat memposisikan para radikal sepenuhnya sebagai pihak
buruk, yang mana saya setujui. Perspektif satu arah dalam film sah-sah saja
dilakukan. Namun ketika filmnya membuat Abi berkata, “Kalau kita tidak bisa
bersama, seenggaknya kita bisa saling menghargai” kepada Aisha, secara tidak
langsung Bumi itu Bulat mengajak kita
menghargai para radikal. Sekali lagi itu sah, selama naskah buatan Andre
Supangat berhasil menyuguhkan alasan logis, yang mana gagal dilakukan. Sampai akhir, saya urung menemukan alasan
untuk menghargai tokoh-tokoh seperti Aisha atau Bu Farah.
Di luar itu, Bumi itu Bulat dituturkan dengan cukup baik. Kekhawatiran saya
bahwa unsur cinta segitiga cheesy antara
Rahabi-Tiara-Aisha bakal mendistraksi nyatanya tidak terbukti. Unsur itu
disampaikan secara subtil, di mana Tiara terus bertahan sebagai individu tegas,
yang mengajukan keberatan atas bergabungnya Aisha, murni karena alasan kelompok
ketimbang perasaan pribadi. Walau di lubuk hati terdalam hal itu pastinya tetap
berkontribusi, Tiara sanggup melontarkan opini objektif nan beralasan.
Dramanya turut ditunjang performa
solid jajaran pemain. Di antara tim Rujak Acapella, Rania Putrisari paling
menonjol berkat ekspresi serta bahasa tugas yang mendukung ketegasan
karakternya. Mathias Muchus sekali lagi mampu menghembuskan hati biarpun
memerankan sosok pria keras, Tissa Biani masih seorang pencuri perhatian yang
jago memancing seyum penonton, sedangkan Christine Hakim tetaplah Christine
Hakim yang bakal meninggalkan kesan meski hanya muncul sejenak.
Babak ketiganya dibuat berdasarkan
insiden dunia nyata kental intoleransi antara umat beragama. Relevan, tapi
sayang diakhiri lewat simplifikasi. Di realita, takkan semudah itu meredakan
amukan warga yang mudah terprovokasi akibat mabuk agama. Beruntung, menyusul
beriutnya adalah konklusi cheesy tapi
menyentuh bagi konflik ayah-anak. Menyentuh, sebab biar bagaimanapun, mayoritas
ayah memang pahlawan super untuk anaknya.
Saya turut mengagumi saat Bumi itu Bulat menyelipkan penampilan
Rujak Acapella di tengah upacara pembukaan Asian Games 2018 secara cukup
meyakinkan. Belum sempurna, tapi setidaknya tampak alamiah. Dan kali ini,
karena konteksnya bernyanyi menggunakan mikrofon dan sound system, nyanyian mereka lebih bisa diterima pula terdengar
nyaman di telinga.
April 12, 2019
Andre Supangat
,
Arie Kriting
,
Christine Hakim
,
Cukup
,
Drama
,
Febby Rastanty
,
Indonesian Film
,
Mathias Muchus
,
Rania Putrisari
,
Rayn Wijaya
,
REVIEW
,
Ria Irawan
,
Ron Widodo
,
Tissa Biani Azzahra
THE WAY I LOVE YOU (2019)
Rasyidharry
The Way I Love You punya kans menjadi suguhan bernilai tentang proses saling
menemukan belahan jiwa yang sanggup menambal lubang dalam hati, andai pilihan
fokus utama bukan dijatuhkan kepada unsur lain yang lebih dangkal. Tidak
sepenuhnya keliru memang, namun menghilangkan peluang filmnya memiliki pembeda
dibanding setumpuk cerita cinta remaja pada umumnya.
Faktanya, naskah buatan Johanna
Wattimena (#Teman tapi Menikah) dan
Gendis Hapsari menyimpan banyak elemen menarik, seperti duka keluarga,
persahabatan yang mengobati kesedihan, atau perihal jatuh cinta lewat perkenalan
di dunia maya. Semua itu pernah diangkat ke layar lebar tentu saja, tapi
eksplorasi lebih jauh dapat menghasilkan kisah kaya rasa yang tak berkutat di
drama romantika remaja yang itu-itu saja.
Setelah kehilangan sang ibu, Senja
(Syifa Hadju) tinggal bersama sepupunya, Anya (Tissa Biani), beserta kedua
orang tuanya (Adi Nugroho dan Windy Wulandari). Usia sepantaran memudahkan
keduanya menjalin persahabatan erat, di mana mereka menganggap satu sama lain
sebagai hal terpenting dalam hidup. Bahkan saat menghilangkan buku harian yang
selalu jadi tempat Senja menuliskan kegundahan termasuk kerinduan akan mendiang
ibunya, Anya membelikan laptop untuk menebus kesalahannya. Melihat itu, Senja
memeluk sang sahabat, berurai air mata, sambil berkata, “Keterlaluan lo”. Ucapan
sederhana itu merupakan satu-satunya kalimat di film ini yang tak terdengar
membosankan sekaligus memiliki rasa.
Tanpa mereka tahu, buku Senja ada
di tangan Bara (Rizky Nazar), murid baru yang enam bulan lalu juga baru saja
ditinggal pergi ibu. Ayahnya (Surya Saputra), memaksa Bara ikut pindah dari
Bandung ke Jakarta guna memulai lembaran kehidupan baru, dan itu memancing
amarahnya. Hingga pada satu adegan yang sekali lagi menunjukkan kapasitas Surya
Saputra memerankan sosok ayah sentimentil nan gundah gulana, keduanya saling
memaafkan. Momen itu muncul di paruh awal, mengakhiri konflik ayah-anak yang
ada sebelum sempat berkembang.
Buku itu tidak sengaja ditinggalkan
Anya—yang jatuh cinta kepada Bara—ketika duduk di sebelah Bara. Anehnya, tidak
sekalipun Bara berasumsi buku tersebut kepunyaan Anya. Jika saya adalah Bara,
Anya bakal jadi orang pertama yang saya datangi. Setidaknya langkah itu logis,
serta punya probabilitas keberhasilan lebih besar ketimbang secara acak meminta
satu per satu siswi di sekolah memperlihatkan tulisan tangan mereka.
Berkat laptop pemberian Anya, Senja
pun memulai menulis kisah pribadinya di blog menggunakan nama pena Caramel
Latte. Di sana, Senja bertemu seseorang dengan nama pengguna BadBoy, yang
mengaku menyukai tulisannya. Senja pun terpikat oleh kata-kata manis si pria
misterius. Setelah rutin mengobrol di dunia maya, keduanya memutuskan bertemu.
Bertatap mukalah akhirnya Senja dengan Rasya (Baskara Mahendra), dan hubungan
mereka makin dekat. Tapi pelan-pelan, Senja merasa ada keanehan. Berbeda dengan
BadBoy, Rasya lebih “nakal”, gemar merayu, juga “agresif”.
Tentu kita tahu ke mana alurnya bergerak.
Kita tahu bahwa Bara, yang selalu terlibat pertengkaran dengan Senja di
sekolah, sejatinya adalah BadBoy. Kita tahu hubungan Senja dan Anya akan diuji
begitu rahasia identitas BadBoy terungkap. Kita pun tahu, jika kisah semacam
ini punya akhir bahagia, ketika kekuatan persahabatan mendorong salah satu untuk
mengalah. Dikarenakan Rasya adalah pria brengsek, kita tahu kalau Senja takkan
berakhir di pelukannya, sehingga bisa ditebak, Anya yang bakal berbesar hati
merelakan cintanya.
Teramat klise, namun sekali lagi, bukan
hal haram. Kekeliruan terletak pada ketiadaan elemen dalam plot yang membuat
proses tetap layak kita lewati walau tujuannya mudah ditebak. Aspek-aspek
penceritaan yang saya sebut di paragraf awal urung dikembangkan agar tak
berakhir sebagai pajangan belaka. Naskahnya kekurangan daya guna menciptakan
interaksi dinamis di antara karakter, sedangkan Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, Dancing
in the Rain) bagai memasang mode autopilot di penyutradaraannya. Terdapat
usaha memproduksi kejenakaan, tapi satu-satunya momen di mana tawa saya meledak
yakni ketika Adi Nugroho melontarkan “lelucon Gaara”.
Beruntung, The Way I Love You punya dua talenta muda berbakat. Syifa Hadju
mampu menghadirkan protagonis likeable
yang piawai memancing senyum tiap kali ia bertingkah canggung menanggapi
pesan-pesan BadBoy di layar laptop. Sementara Tissa Biani melahirkan tokoh
paling memorable di sini, serupa keberhasilannya
di Laundry Show yang juga rilis
minggu ini. Lain cerita bagi Rizky Nazar. Bukan kharismanya yang perlu
dipertanyakan, melainkan seberapa alamiah ia dalam berlakon. Tengok tawa
dipaksakan selaku respon Bara tatkala sang ayah salah mengartikan “kecelakaan”
sebagai “menghamili”, yang menambah kecanggungan adegan komedik gagal tersebut.
Februari 11, 2019
Adi Nugroho
,
Baskara Mahendra
,
Gendis Hapsari
,
Indonesian Film
,
Johanna Wattimena
,
Kurang
,
REVIEW
,
Rizky Nazar
,
Romance
,
Rudi Aryanto
,
Surya Saputra
,
Syifa Hadju
,
Tissa Biani Azzahra
,
Windy Wulandari
LAUNDRY SHOW (2019)
Rasyidharry
Laundry Show mungkin bukan tontonan yang sangat ampuh menyetir emosi,
tapi naskah buatan Upi (My Stupid Boss,
Sweet 20, Asal Kau Bahagia) bersama Uki Lukas yang juga bertindak selaku
penulis novel berjudul sama yang dijadikan sumber adaptasi, terbukti cukup baik
dalam upaya membuat penonton memahami seluruh problematika karakternya, sambil
secara rapi mengeksplorasi sekaligus menyatukan sejumlah elemen cerita yang tak
bisa dibilang sedikit.
Pada dasarnya, Laundry Show adalah cerita tentang Uki (Boy William), seorang pemuda
yang lelah menjadi bawahan, kemudian memilih keluar dari pekerjaannya demi membuka
usaha laundry. Tapi ini pun sebuah drama keluarga. Uki memilih laundry sebagai
bisnis karena kenangan masa kecil ketika ia hidup miskin bersama sang ibu yang
setiap hari mencuci seragam sekolahnya. Sosok ibu memang bisa menghilangkan
semua jenis noda, baik yang mengotori baju maupun batin.
Berkat memori itu pula, Uki begitu
ahli mencuci segala jenis kotoran. Tapi rupanya membersihkan hidup supaya
tampak cemerlang tidak segampang pakaian. Itu terjadi meski Uki telah menyiapkan
rencana detail bagi bisnisnya, yang dirangkum lewat satu sekuen berisi
penjabaran mekanisme cara kerja laundry Halilintar miliknya. Sekuen tersebut membuktikan kesungguhan
naskahnya untuk bertutur secara sistematis ketimbang menempuh jalur instan. Dan
bukankah kesuksesan wirausaha pun urung didapat secara instan?
Pernah dibuat kesal oleh bos
sewaktu bekerja kantoran, Uki mulai menyadari bahwa bos bukanlah posisi ringan.
Mengontrol dan memerintah karyawan dengan semua tingkah polah mereka, lebih
sulit ketimbang dikontrol dan diperintah. Laundry
Show tak ubahnya proses Uki mempelajari kalau apa pun pekerjaan dan
posisinya, masalah akan setia mengikuti. Tidak ada rute semudah kata-kata
mutiara dari motivator Aryo Keukueh (Hifdzi Khoir) yang selama ini Uki jadikan
panutan.
Jalan terjal Uki digambarkan melalui
pendekatan komedik tanpa perlu melemahkan inti pesan, bahwa seringkali, pangkal
permasalahan memang terletak di bawahan. Laundry
Show juga sempat menyindir pencari kerja “bermental tempe”, yang
mengingatkan kita, jika salah satu penyebab utama mengapa pengangguran masih
banyak bertebaran adalah diri mereka sendiri, bukan perusahaan maupun
pemerintah.
Humornya mungkin belum mencapai
titik yang sanggup membuat sakit perut karena tawa lepas bertubi-tubi, tapi
jajaran pemainnya piawai menciptakan atmosfer menyenangkan melalui barisan
tokoh multikultural. Khususnya Tissa Biani sebagai resepsionis judes dengan
cara bicara jenaka, yang keunikannya mengingatkan pada perannya di sinetron Tukang Ojek Pengkolan. Semoga Tissa mendapat
banyak peran komedik lagi di proyek layar lebarnya. This girl has talent. Sementara itu, persepsi saya kepada Boy
William akhirnya berubah, tatkala sang aktor berkenan menjauh dari tipikal
karakter peranannya, yakni sosok pria tampan kharismatik yang seringkali (sok)
asyik. Uki merupakan orang biasa dengan masalah serta perasaan yang terasa begitu
dekat, dan penampilan Boy membuat kedekatan itu semakin nyata.
Masalah paling kompleks bagi Uki
tiba ketika Agustina (Gisella Anastasia) membuka laundry tepat di seberang,
yang bersenjatakan mesin cuci canggih dari luar negeri, karyawan yang jauh
lebih cantik dan tampan, pula atmosfer ceria yang membuat pengunjung bahagia. Bahkan
sempat muncul adegan musikal sebagai penggambaran pelayanan kelas satu yang
diberikan laundry milik Agustina. Sewaktu banyak momen musikal film Indonesia
berujung canggung, tidak demikian di sini berkat pengarahan tepat sutradara Rizki
Balki (Ananta, A: Aku, Benci, dan Cinta).
Konflik Uki-Agustina (ingat, bukan
Okie Agustina) menghasilkan battle of
sexes, yang sekali lagi menunjukkan kapasitas naskahnya membangun pondasi
solid. Kedua belah pihak menyimpan alasan kuat untuk memenangkan “perlombaan”.
Uki sudah mengorbankan semua hartanya, sedangkan Agustina berusaha membuktikan
diri pada sang ayah (Willy Dozan) yang menentang keputusannya berbisnis
laundry. Alhasil, walau isu gendernya tak terlalu menyengat dan elemen
romansanya kurang piawai mencuri hati, tensi di antara mereka mudah dipahami
sehingga konfliknya berjalan mulus.
Keluhan terbesar saya bagi Laundry Show adalah presentasi yang
kurang seimbang, di mana profesi bawahan seolah digambarkan sebagai suatu
pilihan hidup yang amat rendah. Tapi selain itu, Laundry Show merupakan sajian menyenangkan bersenjatakan penulisan
solid yang memperbesar keyakinan saya terhadap para penulis naskah baru negeri
ini.
Februari 09, 2019
Boy William
,
Comedy
,
Drama
,
Gisella Anastasia
,
Hifdzi Khoir
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Rizki Balki
,
Tissa Biani Azzahra
,
Uki Lukas
,
Upi
,
Willy Dozan
THE RETURNING (2018)
Rasyidharry
Saya pertama menyaksikan The Returning sekitar 2 bulan lalu dalam
suatu test screening pagi hari.
Mengira bakal disuguhi creature feature
(seperti Jeepers Creepers misal),
saya terkejut mendapati debut penyutradaraan penuh Witra Asliga—pasca 5 tahun
lalu menggarap segmen Insomnights
dalam omnibus 3Sum—ini adalah horor
psikologis slow burning. Ekspektasi
yang meleset ditambah fakta kalau pemutaran dilakukan pukul 9:00 ketika nyawa
ini belum sepenuhnya terkumpul, saya pun memutuskan bakal menonton ulang.
Pada pengalaman kedua, walau
berbagai kelemahan tetap terpampang nyata, saya dibuat terkesan oleh kesubtilan
penulisan naskah Witra. Begitu cerdik ia menyembunyikan intensi asli karakter
melalui beberapa perilaku tak mencurigakan, yang rupanya punya maksud lain
setelah kebenaran diungkap jelang akhir. The
Returning diawali kecelakaan yang menimpa Colin (Ario Bayu). Dia terjatuh
ketika sedang memanjat tebing. Pencarian dilakukan, tapi tubuhnya tak jua
ditemukan.
Tiga bulan berlalu tanpa progres.
Colin meninggalkan 2 anak, Maggie (Tissa Biani Azzahra) dan Dom (Muzakki
Ramdhan), juga seorang istri, Natalie (Laura Basuki), yang menolak menerima
kenyataan bahwa sang suami telah tiada. Berbagai usaha dilakukan, dari menemui
psikolog, sampai menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai pengrajin tanah
liat, namun tidak banyak membantu. Akibatnya, hubungan Natalie dengan Maggie
memburuk, di mana pertengkaran jadi rutinitas. Belum lagi tekanan dari sang
mertua (Dayu Wijanto), yang meski murah senyum serta menyayangi kedua cucunya, gemar
melontarkan komentar sinis pada Natalie. Dayu Wijanyo cocok melakoni peran ini,
menjadikan Oma karakter yang dengan senang hati kita benci.
The Returning dengan penuh kesabaran memakai mayoritas durasinya
mengeksplorasi duka yang Natalie alami, pelan-pelan mengungkap beban demi beban
karakternya, disokong oleh penampilan cukup solid dari Laura Basuki yang mampu
meletupkan emosi kala dibutuhkan. Tapi kadangkala, eksplorasi film ini terasa
melelahkan, bukan dipicut tempo lambatnya, melainkan keberadaan momen maupun
karakter minim signifikansi. Sebutlah Yasmin (DJ Yasmin) yang andai dihilangkan
pun, takkan seberapa mempengaruhi kondisi psikis Natalie.
Sementara itu, musik dreamy garapan Lie Indra Perkasa (Tabula Rasa, Banda the Dark Forgotten Trail)
dan lagu haunting berjudul Kecuali Cahaya yang dibawakan Danilla
Riyadi sanggup menghanyutkan dalam isi pikiran Natalie yang memang tengah melayang-layang
dihantui angan-angan serta luka. Tata kostum bersama departemen artistik yang menampilkan
nuansa 90an tanpa terkesan pamer secara berlebihan, juga sinematografi Abdul
Dermawan Hadir (Sinema Purnama) yang
mengutamakan pemakaian warna hijau, senantiasa memanjakan mata.
Kemudian, di suatu malam Jumat,
secara tiba-tiba Colin pulang ke rumah. Tanpa luka, hanya sikap yang lebih
dingin dan sedikit aneh di awal. Tapi seiring waktu, Colin semakin normal.
Setidaknya di depan, sebab di belakang, keanehan-keanehan justru makin sering
terjadi. Cuma terdapat satu jump scare
di sini, yang sayangnya sudah dibocorkan oleh trailer-nya. Dipandang dari cara monsternya muncul, adegan itu
tidak spesial, tapi dibangun dengan sempurna, demikian pula pilihan timing Witra, yang efektif membuat
penonton tersentak. Sisanya, Witra menolak mengandalkan “trik murahan”. Sang
sutradara ingin membuat kita takut, bukan terkejut.
Hasilnya tidak selalu baik. Witra
jelas memiliki kreativitas tinggi, yang dibuktikan lewat beberapa momen,
semisal kemunculan pertama monster atau teror menggunakan papan scrabble.
Masalahnya ada di hook. Seringkali,
pilihan sudut kameranya gagal memancing bulu kuduk berdiri. Pembangunannya
justru kerap lebih mencekam, di mana saya menyukai beberapa penggunaan voice over guna menyiratkan bahwa
sesuatu tidak seperti kelihatannya. Desain monsternya pun menarik, walau mata
merah dan aura hijau di sekujur tubuh yang dimaksudkan menguatkan kesan out-of-this-world justru mengganggu
karena tampak artificial.
Klimaks yang mestinya jadi puncak
justru bergulir lemah. Setelah melewati sepanjang durasi bergerak dengan penuh
kesabaran, The Returning justru
tampil buru-buru kala third act,
luput menekankan berbagai poin yang bisa menambah intensitas pula balutan emosi
(elemen “tanda mahar” berpotensi menghadirkan konflik rasa yang lebih rumit
bagi karakternya). Untungnya ada satu penyelamat, yang memberikan hati sebagaimana
filmnya butuhkan. Penyelamat itu berupa penampilan Muzakki Ramdhan yang sukses
memannfaatkan sebuah momen singkat. Pasca The
Returning juga A Mother’s Love-nya
Joko Anwar, tidak sabar rasanya menantikan masa depan aktor cilik ini, termasuk
Gundala tahun depan. Way to go, Kiddo!
Oktober 30, 2018
Abdul Dermawan Hadir
,
Ario Bayu
,
Cukup
,
Dayu Wijanto
,
DJ Yasmin
,
horror
,
Indonesian Film
,
Laura Basuki
,
Lie Indra Perkasa
,
Muzakki Ramdhan
,
REVIEW
,
Tissa Biani Azzahra
,
Witra Asliga
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









