Tampilkan postingan dengan label Teuku Ryzki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teuku Ryzki. Tampilkan semua postingan

DIGNITATE (2020)

Dignitate jelas bukan persembahan terbaik seorang Fajar Nugros, tapi film ini membuktikan bahwa sang sutradara/penulis naskah telah memantapkan cirinya, terutama perihal mengocok perut penonton lewat “gojek kere”. Bahkan dalam karya terbarunya yang dipenuhi keklisean dramatisasi khas adaptasi cerita Wattpad remaja ini, gaya tersebut tetap Fajar pertahankan dan berujung mengangkat kualitas Dignitate, walau akhirnya tidak banyak yang dapat dilakukan, sebab ia mendapat materi sumber yang terlanjur sukar diperbaiki.

Dikisahkan, Alana (Caitlin Halderman) terpaksa pindah ke sekolah baru akibat suatu alasan yang baru diungkap belakangan. Karena alasan itu pula mamanya (Izabel Jahja) bersikap (terlalu) protektif. Di kelas, Alana duduk sebangku dengan Alfi (Al Ghazali), siswa idola para siswi yang bukan cuma ganteng, juga berotak encer. Walau demikian, sososk Alfi jauh dari kata ramah. Dia hanya fokus pada pelajaran, juga kerap berlaku kasar kepada wanita, biarpun sahabatnya, Keenan (Teuku Ryzki), berulang kali memintanya berubah.

Tidak perlu menonton ribuan film atau membaca setumpuk novel remaja untuk tahu, walau awalnya selalu bertengkar, Alana dan Alfi nantinya akan saling cinta. Masalahnya adalah, mereka berdua sama-sama menyimpan masa lalu kelam. Dan bukan cerita Wattpad populer namanya, kalau tidak ada twist berupa keterkaitan-keterkaitan yang didasari kebetulan-kebetulan menggelikan. Ditambah jajaran pemain berparas cantik dan tampan, bagi sebagian besar target pasarnya, Dignitate punya amunisi lengkap untuk membuat mereka berteriak histeris bahkan menangis.

Penonton di luar golongan tersebut mungkin juga bakal menangis. Menangis meratapi mengapa remaja sekarang menggilai kisah semacam ini, yang seolah tidak lengkap jika ceritanya belum berlarut-larut guna memfasilitasi semua jenis penderitaan dan kesialan, yang memancing respon “Ya ampun kasihan banget!” atau “Ya Tuhan, bisa-bisanya....”. Apabila filmnya ditutup sekitar 10 menit lebih cepat, niscaya hasilnya jauh lebih baik.

“Berlebihan” adalah kata yang paling pas menggambarkan alur Dignitate. Sangat berlebihan, niat baik menyampaikan pesan tentang “harga diri wanita” tenggelam dan berhenti sebagai kalimat-kalimat kosong yang keluar dari mulut karakternya saja. Tapi selaku penulis naskah, Fajar Nugros memang tidak bisa berbuat banyak. Tuntutan setia terhadap materi adaptasi karya Hana Margaretha demi memuaskan penggemar tak bisa dikesampingkan, meski beberapa kebodohan semestinya bisa diperbaiki.

Hasil pencarian gambar di Google untuk kata "Alana" yang seluruhnya memperlihatkan wajah si karakter; mama Alana yang dengan mudah melunak walau baru sekali bertemu Alfi; bagaimana Alana bisa mendadak muncul di parkiran pada sebuah peristiwa dramatis jelang akhir. Berbagai kejanggalan di atas bukanlah keabsolutan yang mustahil dibenahi.

Tapi seperti telah disampaikan, untungnya Fajar melakukan satu “pertolongan darurat” dengan cara menginjeksi humor-humor ringan andalannya, yang setia menyegarkan suasana di tengah tuturan dramanya. Tahun lalu Fajar juga sempat menggarap adaptasi cerita Wattpad lewat MeloDylan, tapi keliarannya bagai tertahan. Sedangkan dalam Dignitate, tiap ada kesempatan, komedi selalu ditampilkan. Dan uniknya, ini termasuk salah satu presentasi komedi terbaik yang pernah Fajar lakukan. Materinya segar, timing penghantarannya tepat, dan jajaran pemainnya, termasuk Teuku Ryzki, Dinda Kanya Dewi, hingga dua langganan sang sutradara, yakni Arief Didu dan Erick Estrada, mampu memanfaatkan kesempatan sesingkat apa pun.

Sedangkan pada dua pemeran utama, terjadi ketimpangan. Sewaktu penampilan Caitlin Halderman dapat dijabarkan memakai kata-kata yang mendeskripsikan “protagonis lovable” (lucu, bertenaga, menggemaskan, dan lain-lain), Al Ghazali belum berubah sejak debutnya di Runaway enam tahun lalu. Gestur, mimik wajah, maupun luapan emosinya masih kaku. Mungkin ada unsur kesengajaan mengingat penokohan Alfi yang juga “kaku”, tapi itu bukan berarti sang aktor harus bertingkah layaknya robot sepanjang durasi.

REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU (2019)

Rembulan Tenggelam di Wajahmu, selaku adaptasi novel berjudul sama karya Tere Liye, adalah film yang terluka akibat kurang berhasilnya (tidak pantas disebut gagal) naskah dalam merangkum cerita dengan cakupan bentuk dan waktu yang luas. Sepanjang 90 menit durasi, berkali-kali penonton disuguhi konflik-konflik dengan potensi tinggi melahirkan perenungan-perenungan sarat makna tentang hidup, yang pengolahannya kurang matang, sebelum ditutup oleh cliffhanger dadakan, yang memberitahu bila proses yang kita lalui berakhir separuh jalan, alias ada Rembulan Tenggelam di Wajahmu Part 2.

Saya bukan termasuk kaum penentang metode tersebut. Potensi finansialnya memang menggiurkan, pun bisa dipakai mengakali kisah yang dirasa terlalu panjang untuk dijadikan satu film, sementara memangkasnya berisiko melemahkan kualitas. Masalahnya, Rembulan Tenggelam di Wajahmu tidak memanfaatkan itu, dengan tetap terkesan memencet tombol fast forward. Ini kisah tentang Ray (Arifin Putra) yang terbaring sekarat di rumah sakit, kemudian dikunjungi sosok misterius, atau dipanggil “pria berwajah teduh” (Cornelio Sunny), yang mengajaknya mengunjungi babak-babak penting di masa lalunya, dengan tujuan menjawab lima pertanyaan Ray terkait kehidupan.

Sinopsis resminya mendeskripsikan Ray sebagai pria berusia 60 tahun. Walau mengenakan riasan guna menambah kerut wajah serta uban, Arifin, dengan postur tegapnya, masih tampak jauh lebih muda. Setidaknya pemilihan Bio One sebagai Ray muda patut dipuji. Mereka punya kemiripan, dan Bio tidak mengecewakan sebagai remaja bermasalah. Ya, sebelum Ray menjadi pemilik perusahaan sukses, masa mudanya tidak berlangsung mulus. Dia dikenal sebagai biang onar dan mesti berpindah dari satu rumah ke rumah lain, bahkan terlibat kriminalitas.

Dari lima pertanyaan Ray, film ini menelusuri dua di antaranya, yang berarti, kita diajak mengunjungi dua babak dalam hidup sang protagonist. Pertama di panti asuhan tempat ia kerap jadi korban kekerasan oleh bapak pengurus panti (Egi Fedly), kedua di rumah penampungan bernama “Rumah Kita” yang dikelola Bang Ape (Ariyo Wahab), di mana Ray menjalin persahabatan dengan anak-anak lain.

Kedua pertanyaan Ray bersifat filosofis, menyentuh perenungan mengenai eksistensi manusia, yang berarti, tidak bisa dijawab ala kadarnya. Sayangnya, demikianlah naskah buatan Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park, Aruna & Lidahnya, Ambu) bergulir. “Rumah Kita” misalnya, yang disebut jadi tempat Ray belajar banyak hal tak ternilai, namun kesan “tak ternilai” itu urung terasa akibat paparan yang sebatas menyentuh permukaan. Persahabatan dengan Natan (Teuku Rizky) si remaja bersuara emas dan Ilham (Ari Irham) si pelukis yang konon begitu kuat hingga mendorong Ray melakukan tindakan nekat, tidak pernah meyakinkan. Film ini juga urung lepas dari sederet hal yang membuat kita mengernyitkan dahi (Mana mungkin polisi tak mendengar suara tembakan? Dan sebagainya).

Padahal alurnya, dengan beberapa kejutan yang meski dipenuhi kebetulan masih bisa diterima mengingat kisahnya sendiri membahas misteri takdir, mampu membangun rasa penasaran terhadap apa yang terjadi berikutnya, termasuk jawaban apa yang akan diperlihatkan si Pria berwajah teduh pada Ray. Bahkan, walau keseluruhan filmnya agak mengecewakan, saya tetap tertarik menantikan babak berikutnya yang menyoroti romansa Ray (Arifin Putra dengan berewok aneh) dan Fitri (Anya Geraldine).

Selain naskah kurang mendalam, pengadeganan Danial Rifki (Haji Backpacker, 99 Nama Cinta) turut berkontribusi terhadap lemahnya dampak emosi yang dimunculkan, tatkala sang sutradara masih belum mumpuni menerjemahkan momen-momen saat Ray menyadari nilai-nilai hidup jadi suatu peristiwa menggetarkan. Pun penggarapan adegan aksinya kerap canggung, meski dalam hal ini, penempatan dan pergerakan kamera tak dinamis dari sinematografer Gunung Nusa Pelita (Bukan Cinta Biasa, Preman Pensiun) ikut bertanggung jawab. Padahal Bio One, dan tentunya Donny Alamsyah sebagai Bang Plee yang sempat menampung Ray, memiliki kapasitas menghidupkan baku hantam.

Membahas gagasan-gagasan “tinggi”, wajar ketika Rembulan Tenggelam di Wajahmu ingin tampil megah. Tata artistik tidak murahan, walau beberapa CGI tampak kasar, ditambah musik orkestra gubahan Ricky Lionardi (trilogi Danur) cukup berhasil memenuhi target tersebut. Semestinya Rembulan Tenggelam di Wajahmu bisa lebih dari itu dan menyentuh kemegahan dalam wujud lain, yaitu “rasa”.

SUNYI (2019)

Sunyi merupakan remake dari Whispering Corridors (1998), yang mana ambil bagian dalam era baru perfilman Korea Selatan pasca pembebasan dari penyensoran selepas kediktatoran militer berakhir. Alhasil, film tersebut dimanfaatkan selaku media menyuarakan kritik terhadap banyak isu, khususnya perundungan dan kerasnya sistem pendidikan. Itulah alasan mengapa karya Park Ki-hyung tersebut jadi fenomena populer, meski kualitasnya sendiri agak mengenaskan. Berbeda dibanding pendahulunya, Sunyi tak kebingungan menentukan jati diri, mencampur horor dan drama dengan cukup apik, menjadikannya remake yang superior.

Tema perundungan bukan saja dipertahankan oleh Sunyi, bahkan diberi eksplorasi lebih dalam. Kisahnya berlatar tahun 2000 di SMA Abdi Bangsa yang prestisius namun digelayuti isu perundungan yang konon telah berlangsung turun-temurun. Pun tersebar rumor bahwa pada dekade lalu, hal tersebut merenggut nyawa tiga siswi, yang hingga kini arwahnya senantiasa bergentayangan di sekolah.

Protagonis kita bernama Alex (Angga Yunanda), putera mediang paranormal terkenal, yang jelang hari pertamanya bersekolah di Abdi Bangsa, makin mengkhawatirkan senioritas di sana. Ketika ia nyatakan kekhawatiran tersebut, sang ibu (Unique Priscilla) merespon, “Senioritas kan bagus buat character building”. Dari situ kita bisa melihat pola yang menyebabkan perundungan terus lestari.

Pada malam pertama, siswa-siswi tahun pertama dikumpulkan oleh ketiga senior mereka: Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki), guna menghadiri malam orientasi. Saat itulah hukum senioritas mulai diberlakukan. Murid tahun pertama adalah budak (tahun kedua disebut “manusia”, tahun ketiga disebut “raja”, alumni disebut “dewa”) yang wajib menuruti perintah senior yang berhak mengambil barang apa pun milik mereka, bahkan dilarang memasuki area-area seperti perpustakaan, kafetaria, juga toilet.

Bu Ningsih (Dayu Wijanto) selaku kepala sekolah merasa khawatir, tapi atas nama tradisi, memilih membiarkan. Sedangkan para junior tetap diam, karena melawan bukan saja menjadikan mereka musuh publik, pula menghilangkan kesempatan mendapat jaringan luas milik alumni. Sampai titik ini, naskah buatan sutradara Awi Suryadi (Danur, Badoet) bersama duet Agasyah Karim dan Khalid Kashogi (Badoet, Mau Jadi Apa?, Reuni Z), terbukti mampu menyediakan pijakan solid dalam penggambaran lingkaran setan budaya perundungan. Tidak berhenti di situ, naskahnya melangkah lebih jauh menelusuri soal kontribusi pola asuh orang tua lewat tro Andre-Erika-Fahri. Orang tua mereka sama-sama bermasalah, entah menerapkan hukuman fisik, menuntut terlalu tinggi, atau tidak hadir di rumah.

Ketiganya membuat hari-hari Alex bak neraka. Beruntung, ia bertemu Maggie (Amanda Rawles). Keduanya semakin dekat, dan dunia SMA Alex tak lagi sesunyi itu. Sialnya, begitu identitas ayahnya diketahui Fahri, Alex dipaksa memanggil arwah para siswi yang konon bergentayangan di sekolah. Awalnya usaha itu nampak gagal, namun tak lama berselang, kematian mulai menyebar dan darah mulai tumpah di SMA Abdi Bangsa.

Sewaktu Whispering Corridors seolah melupakan hakikatnya sebagai horor, Sunyi menerapkan pendekatan familiar sembari tetap memberi jalan bagi elemen-elemen di atas agar mengalir sebagai pondasi cerita, alih-alih sekedar jump scare layaknya banyak horor medioker lokal belakangan. Di luar adegan “listening class” dan “kolam renang” (yang sudah muncul di trailer), terornya tak banyak memperlihatkan kreativitas. Mayoritas formulaik, ditambah riasan hantu seadanya. Tapi saya mengapresiasi penolakannya untuk melempar jump scare membabi-buta atau memakai efek suara berisik. Serupa judulnya, film ini tidak takut menerapkan kesunyian, tahu kapan mesti berdiam diri, kapan mesti tampil menggelegar (yang juga tak pernah terlampau berisik). Tata musik garapan Ricky Lionardi (Danur, Sakral, Lukisan Ratu Kidul) juga sesekali terdengar atmosferik.

Sunyi pun menempatkan hati di tempat yang tepat. Kembali ke adegan “kolam renang”, secara mengejutkan momen tersebut menyimpan bobot emosi. Ada kesedihan di sana, tatkala senior pelaku perundungan ditampakkan kerapuhannya, digambarkan sebagai salah satu korban kegagalan sistem pendidikan, tentunya tanpa berusaha menjustifikasi perbuatan mereka kepada junior. Momen itu meyakinkan saya bahwa mereka tidak pantas mati. Sehingga saya mengamini ketika Alex mengonfrontasi sang hantu di klimaks sambil menyampaikan pernyataan serupa. Semakin memuaskan kala Sunyi ditutup oleh konklusi hangat, sesuatu yang dikorbankan film aslinya demi tambahan twist tak perlu.

Ya, jika sudah menonton Whispering Corridors, anda tahu akan ada twist. Sepanjang durasi, filmnya menyiratkan itu melalui beberapa petunjuk subtil. Apa yang membuatnya spesial adalah, sekalinya kejutan tersebut diungkap (sayangnya lewat eksekusi antiklimaks), penonton tidak dijejali rekap, selaku penjabaran atas sebaran petunjuk-petunjuk tadi. Seolah semua itu adalah “bonus” bagi penonton yang bersedia menaruh perhatian lebih.

GENERASI MICIN (2018)

Generasi Micin adalah tontonan menghibur, tapi menilik dari usahanya mengangkat jarak antargenerasi sekaligus observasi terhadap remaja kekinian, film ini kosong. Ibarat hidangan penuh micin, terasa sedap namun kurang bergizi. Bukan masalah andai tujuannya memang sebatas hiburan ringan, tapi bahkan sejak sekuen pembukanya bergulir, karya penyutradaraan teranyar Fajar Nugros (Yowis Ben, Terbang: Menembus Langit) ini mengincar lebih.

Sekuen yang dimaksud menampilkan Anggara muda (Brandon Salim), sebagai keturunan Cina masa lalu, menghabiskan hidupnya bekerja keras belajar berdagang. Bahkan setelah dewasa (diperankan Ferry Salim) dan menikah, ia menjanjikan sang istri (Melissa Karim) ruko mewah di Pantai Indah Kapuk. Fakta-fakta tersebut berlaku sebagai perbandingan begitu kita bertemu putera sulung Anggara, Kevin (Kevin Anggara), si generasi micin yang (katanya) ingin semua berjalan instan, enggan bersosialisasi, memilih berkutat dengan gadget dan video game di kamarnya.

Komparasi lain datang dari Trisno (Morgan Oey), generasi pasca reformasi, yang merujuk pada salah satu dialog, punya ciri berkebalikan dengan generasi micin: lambat. Trisno sempat bermimpi jadi penyanyi, sebelum membuangnya, dan kini hanya menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah. Generasi Trisno tak digali cukup dalam, tapi tak jadi soal. Pertama, ini bukan film tentang mereka. Kedua, Morgan menampilkan salah satu performa terbaik, paling natural, paling asyik disimak sepanjang karirnya. Begitu asyik, saya lupa bahwa sosok Trisno tak seberapa berarti. Dia hanya memberi petuah singkat bagi Kevin, sebuah peran yang sejatinya turut diemban Anggara.

Naskah tulisan Faza Meonk (Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir) kebingugnan hendak menyampaikan apa serta bagaimana. Kadang, Generasi Micin bagai ingin menunjukkan perbedaan remaja-remaja micin dengan generasi sebelumnya. Salah satu elemen komedik dari aspek itu adalah cara bicara Kevin saat menjelaskan sesuatu yang secepat berondongan senapan mesin. Karena, well, sebagai generasi micin, ia identik dengan hal-hal instan dan cepat. Pun film ini menampilkan bagaimana remaja sekarang punya keunggulan yang tak dimiliki pendahulunya, semisal memanfaatkan internet demi kebaikan.

Sedangkan di kesempatan lain, filmnya justru menakankan bila semua generasi sama saja. Mereka yang tua selalu merasa generasi di bawah mereka adalah penurunan. Kondisi itu terjadi sejak dulu dan akan terus berulang. Sebab apa pun generasinya, di usia muda, mereka hanya ingin bersenang-senang, termasuk berbuat kenakalan seperti saat Kevin bersama tiga temannya, Dimas (Joshua Suherman) si penggila K-Pop, Bonbon (Teuku Ryzki) si pelupa, dan Johanna (Kamasean Matthews) melakukan kejahilan-kejahilan di sekolah sebagai pemenuhan tantangan dari sebuah situs misterius. Poin di atas (semua generasi sama) bahkan diucapkan secara gamblang oleh Chelsea (Clairine Clay), si pujaan hati Kevin, di ending, yang (biasanya) berperan selaku perangkum pesan.

Dua tuturan kontradiktif di atas saling bertabrakan. Layaknya banyak tokoh remaja di dalamnya, Generasi Micin mengalami krisis identitas, penuh kebingungan, termasuk ketika mengakhiri kisahnya lewat epilog berkepanjangan yang kelabakan menutup berbagai cabang cerita pada sisa durasinya, dari soal kehidupan sekolah Kevin dan kawan-kawan, kehidupan Trisno, romansa Kevin dan Chelsea, hingga perihal situs misterius tadi.

Namun sekali lagi, bila anda sebatas mengharapkan kelezatan seperti masakan bertabur micin, film ini mungkin memuaskan. Naskah ditambah penyutradaraan Fajar Nugros mengisinya dengan semangat bersenang-senang di tiap momen, menertawakan siapa pun, apa pun, di mana pun. Hampir semua tokoh maupun situasi didesain konyol. Terkadang tawa hadir kala humornya terasa dekat, seperti Ibu Dimas (Cici Tegal) yang tergila-gila menonton drama Korea hingga lupa solat meski berjilbab, hingga kisah “telur dipotong sepuluh”, yang saya percaya, kerap anda dengar. Sayangnya tak jarang juga humornya berlangsung datar, tenggelam dalam absurditasnya sendiri, misalnya tiap hansip bermata juling (Erick Estrada) muncul.

Seperti Kevin dengan penjabaran super cepat yang tak memperhatikan apakah lawan bicaranya paham atau tidak, Generasi Micin terus menerjang, membabat habis hampir semua kesempatan dengan humor tanpa peduli apakah tepat sasaran. Seperti kandungan micin dalam masakan pula, itu bisa menghasilkan kelezatan, tapi alangkah baiknya bila kadarnya dikontrol.

SURAT CINTA UNTUK STARLA THE MOVIE (2017)

Memerankan empat tokoh serupa dalam empat romansa sepanjang 2017, Jefri Nichol mesti berpindah haluan sejenak tahun depan. Sebelumnya, bolehlah kita sekali lagi menikmati Nichol sebagai bad boy yang (diam-diam) berhati emas. Dia memang terlahir untuk karakter demikian. Dan adaptasi layar lebar lagu buatan Virgoun yang sempat pula diangkat menjadi web series berjudul sama ini jelas memfasilitasi bakat sang aktor. 

Jefri menjadi Herma Chandra, remaja yang sulit diatur, seniman graffiti jalanan yang kerap diburu polisi, enggan berkuliah, ke mana-mana mengendarai mobil tua sambil menenteng mesin tik peninggalan mendiang kakeknya. Singkatnya, Herma adalah hipster. Gemar menghabiskan waktu di cafe hipster pula. Tapi dia juga pecinta alam, mengutuk mereka yang membuang sampah sembarangan. Karena tokoh dalam film remaja arus utama kita wajib memiliki kompas moral supaya penonton ABG bisa mengambil contoh, bukan?
Pasangannya tak lain Starla (Caitlin Halderman), gadis kaya pemilik coffee shop yang pertunangannya baru saja kandas. Jika Jefri masih sering lemah soal pengucapan dialog, Caitlin lebih dinamis. Meski berparas cantik dan berasal dari kalangan atas, ia bukan puteri glamor macam aktris Screenplay lain, sebutlah Michelle Ziudith. Caitlin sebagai Starla merupakan gadis idola manis yang dapat kita jumpai di kehidupan nyata. Itulah mengapa sosoknya mudah disukai. Diawali kesalahpahaman, Starla justru jatuh cinta pada Herma, pun sebaliknya.

Dipandang lewat segi filmis, Surat Cinta Untuk Starla jelas penuh cacat. Dialog berupa kalimat puitis yang dipaksa bersatu ketimbang pembicaraan natural manusia, flashback yang tak terjahit rapi dengan setting masa kini, sampai twist tak substansial selaku pemenuhan obligasi terhadap ciri Screenplay. Tapi beda ceritanya bila memandang film ini drama romantika "kental sakarin" dengan tujuan tunggal memancing jeritan penonton muda, tepatnya golongan SMA ke bawah. Di sela-sela romansa, Ramzy dan Ricky Cuaca memberi bumbu komedi tak lucu, sedangkan Teuku Ryzki alias Kiki menegaskan bahwa personil CJR yang mampu berakting hanya Iqbaal.
Walau dangkal, saya urung menentang hiburan seperti itu. Surat Cinta Untuk Starla sanggup membuat para gadis berteriak tiap Jefri Nichol bicara atau membelai wajah Caitlin Halderman (sebelum akhirnya bicara juga). Suatu hari mereka bakal beranjak dewasa, tak lagi menggemari gaya percintaan demikian, lalu geleng-geleng kepala melihat generasi lebih muda yang tergila-gila. Bukan masalah. Ini yang disebut proses perkembangan. 

Sama halnya proses berkarya Screenplay yang perlahan berkembang. Biarpun duet penulis naskah, Tisa TS dan Sukhdev Singh jalan di tempat, kehadiran Rudi Aryanto (dulu membuat judul "legendaris", Psikopat) menggantikan Asep Kusdinar sebagai sutradara sedikit menghasilkan rasa baru. Mementingkan fokus pada kedua tokoh alih-alih pemandangan (yang tak lagi memakai setting luar negeri mewah) kala terjadi interaksi, hubungan Herma-Starla terjalin melalui obrolan yang memaksimalkan pesona dua pemain utama. It's more about relationship than luxury. Andai naskahnya tak coba tampil rumit secara berlebihan dalam merangkai twist yang berakhir bak benang kusut.