REVIEW - PENGABDI SETAN 2: COMMUNION
First, let me address the elephant in the room: 'Pengabdi Setan 2: Communion' is not as good as the first movie. Tapi rasanya Joko Anwar menyadari itu. Sadar bahwa ada harga yang mesti dibayar dalam upaya melahirkan crowd-pleaser horror, sekaligus sekuel yang (sebagaimana wajarnya sebuah sekuel) tampil lebih besar dibanding pendahulunya.
Joko membuka kisahnya dengan flashback ke tahun 1955, mengikuti penemuan mencengangkan Budiman (Egy Fedli), yang langsung menegaskan bahwa peristiwa film pertama hanya puncak gunung es dari intrik yang lebih besar. Jauh lebih besar, juga lebih jahat. Pengabdi Setan 2: Communion membawa aroma kejahatan yang teramat pekat, sampai dunianya terasa tak lagi mampu mendefinisikan "harapan".
Lalu kita dibawa kembali ke tahun 1984, melihat bagaimana Rini (Tara Basro), bersama kedua adiknya, Toni (Endy Arfian) dan Bondi (Nasar Anuz), serta si bapak, Bahri (Bront Palarae), berusaha lepas dari trauma akibat tragedi tiga tahun lalu. Mereka kini tinggal di rumah susun kumuh (bukan rumah susun di akhir film pertama) di area pinggir laut yang terpisah dari pemukiman penduduk. Rusun yang memutar Rayuan Pulau Kelapa tiap malam menjelang (semasa kecil, saya menganggap lagu ini adalah pertanda para hantu siap beraktivitas)
Kita turut diajak berkenalan dengan beberapa tetangga: Tari (Ratu Felisha sebagai penampil terbaik) yang kerap jadi korban gosip akibat selalu bekerja di malam hari; Dino (Jourdy Pranata) si pemuda begajulan yang sering menggoda Tari; Wisnu (Muzakki Ramdhan) yang tinggal berdua bersama ibunya yang bisu (Mian Tiara); serta Ari (Fatih Unru), teman Bondi yang punya ayah abusive.
Buruknya kondisi rusun bukan cuma kepentingan estetika atau amunisi membangun atmosfer, pula cara Joko menyentil isu seputar kesejahteraan rakyat. Rusun kumuh pinggir laut, dibangun di atas kondisi tanah jauh dari ideal, sehingga terendam banjir ketika diterjang badai. Ditambah kabar mengenai aksi para petrus, lengkap sudah kengerian dalam hidup orang-orang.
Hidup di Indonesia, apalagi bila terjerat kemiskinan, nyatanya tidak kalah mengerikan dan mematikan ketimbang menghadapi setan. Terdapat satu sekuen yang bakal terus dibicarakan di masa mendatang berkat kombinasi antara kebrutalan tanpa pandang bulu, dengan kepiawaian Joko terkait build-up menuju "menu utama". Bagi saya, momen yang juga bertindak selaku pemicu segala teror di rusun itulah titik paling menyeramkan di film ini. Karena tanpa campur tangan supernatural sekalipun, tragedi tersebut masih dapat terjadi akibat ketidakbecusan pemerintah menyediakan hunian layak. Sungguh momen yang "jahat".
Setelahnya, Pengabdi Setan 2: Communion menolak berhenti menginjak pedal gas. Bayangkan The Raid, tapi walau sama-sama berlatar gedung bertingkat, adegan aksi digantikan oleh jump scare. Joko memilih mengesampingkan eksplorasi semestanya, mengisi second act dengan barisan penampakan tanpa henti.
Memang agak disayangkan, pasca opening luar biasa kuat, ditambah beberapa kreativitas naskah mengaitkan mitologinya dengan elemen-elemen dunia nyata (petrus, Konferensi Asia-Afrika), ceritanya bak cuma jembatan menuju klimaks di film ketiga. Tapi seperti telah saya singgung di awal tulisan, rasanya ini adalah pilihan yang disadari, lalu diambil atas nama memperbesar sekuelnya, minimal dari sudut pandang spektakel.
Joko mengerahkan segala daya upaya, tata artistik mendukung terciptanya nuansa atmosferik, pun fakta bahwa filmnya tetap nyaman dilihat biarpun didominasi kegelapan wajib diberi pujian, namun kesan repetitif sukar dihindari tatkala kuantitas jump scare digandakan. Bukan berarti digarap asal-asalan, sebab beberapa teror cerdik masih dapat ditemui. Adegan Tari salat menerapkan trik sederhana tetapi efektif, daya kejut kreatif mampu dimunculkan dalam pemandangan yang melibatkan Dino dan sehelai kain, sementara Joko menampilkan pemandangan disturbing dalam momen "ibu hamil" yang jadi kekhasan sang sineas.
Bukan film Joko Anwar namanya kalau tak menemukan celah untuk melucu di tengah segala teror brutal. Serupa tugasnya di dua film Ghost Writer, Iqbal Sulaiman kembali sukses memancing tawa (karakternya bernama Darto, sama seperti karakter Endy Arfian di Ghost Writer). Joko juga membawa sentilannya terhadap figur pemuka agama secara lebih jauh. Ustaz Mahmud (Kiki Narendra) adalah sosok yang kerap memancing rasa geli melalui ketenangan berlebihnya (kalau tak mau disebut "naif"). Bagai orang yang selalu berkata, "Tenang, semua ada jalan keluarnya", tapi tidak sanggup menemukan jalan keluar saat benar-benar menemui masalah.
Ya, Pengabdi Setan 2: Communion merupakan penurunan. Rewatch value-nya pun berkurang karena pengesampingan cerita membuatnya takkan menyulut diskusi dan keliaran berteori sebanyak film pertama (walau petunjuk terkait identitas Batara (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) bisa memancing beberapa obrolan menarik). Tapi ini tetap crowd-pleaser yang ampuh, sekaligus horor Indonesia terbaik 2022 sejauh ini. Standar yang dipasang pendahulunya memang luar biasa tinggi.
REVIEW - KELUARGA CEMARA 2
Ada perbedaan antara "film anak" dan "film dengan protagonis anak". Jenis pertama berbentuk hiburan ringan, sedangkan yang kedua punya jangkauan lebih luas, dari crowd-pleaser untuk semua kalangan hingga arthouse. Di bawah pengarahan Ismail Basbeth, Keluarga Cemara 2 ingin menyeimbangkan sisi mainstream dan alternatif (hal yang nampak dalam filmografi sang sutradara), namun justru melahirkan inkonsistensi.
Akibat COVID, Abah (Ringgo Agus Rahman) mesti mencari pekerjaan baru, sedangkan Emak (Nirina Zubir) mendapati penjualan opaknya menurun drastis. Tabungan menipis, padahal kini sudah ada puteri ketiga, Agil (Nilouger Bahalwan). Tapi Keluarga Cemara 2 adalah "filmnya Ara (Widuri Puteri)". Ara yang merasa keluarganya selalu ingkar janji. Ara yang merasa ditinggalkan oleh kakaknya, Euis (Adhisty Zara), yang memasuki usia remaja dan mulai mengenal cinta.
Saat itulah Ara mulai akrab dengan Aril (Muzakki Ramdhan), lalu memulai petualangan bersama, yang melibatkan seekor ayam. Film ini memang penuh dengan ayam. Ara mendengar suara ayam memanggilnya, bahkan bisa mengajak bicara Neon, anak ayam yang ia temukan di jalan. Mungkin karena Ara sendiri seperti anak ayam yang terpisah dari keluarga. Hanya saja, Ara dan keluarganya terpisah bukan secara fisik.
Mereka tetap serumah, selalu bersama, namun sulit bersatu. Abah makin sibuk karena pekerjaan baru, Emak harus memikirkan bisnis sampingan sembari menjaga Agil, sementara Euis memasuki masa puber. Kondisi berubah, anggota keluarga berubah, hubungan pun berjarak. Sulitnya Abah memercayai kemampuan Ara berkomunikasi dengan ayam juga menunjukkan jurang pemisah, di mana orang tua kesulitan memahami dunia anak yang jauh dari "masuk akal". Alhasil, Ara lancar berkomunikasi dengan dengan Neon, tapi tidak dengan keluarganya.
Naskah buatan M. Irfan Ramly sudah punya gagasan dasar kuat nan kreatif, tentang bagaimana karakternya menghadapi perubahan, guna mempertahankan nilai "harta paling berharga adalah keluarga". Mudah bersimpati pada Ara yang merasa dipojokkan semua orang, tapi kita pun dibuat tak serta merta menyalahkan Abah maupun Euis, sebab perubahan mereka beralasan.
Satu kelemahan naskahnya adalah, tingginya kuantitas konflik berujung merendahkan kualitas dalam hal kematangan cerita. Tiada yang benar-benar maksimal. Jika film pertamanya terasa utuh, maka Keluarga Cemara 2 bak rangkuman berbagai episode serial.
Lalu ada perihal inkonsistensi yang telah saya singgung di atas. Di satu sisi, Keluarga Cemara 2 tampil bagai film anak berisi petualangan dua karakter bocah. Selipan humor yang masih digawangi Asri Welas dan Abdurrahman Arif pun menguatkan kesan "ini hiburan ringan". Tapi tidak jarang, filmnya muncul dengan kemasan yang sukar dinikmati penonton bocah, yang membuatnya terombang-ambing di antara dua sisi tanpa kepastian.
Mari simak perjalanan Ara dan Aril mencari keluarga Neon. Bagi penonton dewasa yang tumbuh di pedesaan seperti saya, menyaksikan mereka melewati hujan dan menembus kabut di tengah alam asri, yang ditangkap secara cukup cantik oleh kamera Yadi Sugandi selaku sinematografer, memancing rasa homey yang mendamaikan. Tapi penonton anak bakal sulit mempertahankan atensi akibat minimnya dinamika. Ketimbang "petualangan" mungkin lebih pas disebut "jalan santai".
Pacing-nya tak kalah memberatkan. Beberapa adegan bergulir beberapa detik lebih lama dari semestinya, pun sebuah shot bernuansa sunyi yang berlangsung tidak sebentar, kala Emak merenung di malam hari, terasa out-of-place bagi film anak. Walau harus diakui, beberapa shot yang Basbeth rangkai, mampu berbicara lebih kuat dibanding bahasa verbal. Misal sewaktu Ara duduk di meja makan, dan kursi sebelahnya, yang biasa diduduki Euis, nampak kosong. Momen tersebut efektif menggambarkan kehilangan yang menusuk hati Ara.
Setidaknya jajaran cast masih muncul dengan akting memuaskan. Ringgo dan Nirina kembali membawa sensitivitas yang hangat, Zara semakin nyaman di depan kamera, pun Widuri membuktikan diri pantas diberi porsi lebih. Muzakki tidak perlu ditanya. Memerankan Aril adalah tugas ringan baginya.
Tapi jangan harap dibuat mengharu biru seperti film pertama. Pendekatan alternatif yang Basbeth terapkan cenderung menekan luapan emosi. Ada kalanya ekspresi rasa berhasil dipercantik sebagaimana adegan Ara di meja makan tadi, namun acap kali, rasa itu sebatas ditahan. Dibiarkan mengendap. Setidaknya, babak konklusi Keluarga Cemara 2 menyimpan keindahan bermakna, saat semua orang diperlihatkan "menuju ke Ara". Ara menyatukan semuanya, karena sekali lagi, mereka adalah keluarga cemara.
REVIEW - BEN & JODY
Opini soal kualitas karya-karyanya mungkin beragam, tapi Visinema jelas rumah produksi terbaik Indonesia, terkait cara menangani IP (Intellectual Property). Tidak perlu secara detail membahas model bisnis. Simak saja bagaimana perkembangan terkini dua franchise mereka. Arini by Love.inc bakal menggiring Love for Sale ke ranah fiksi ilmiah (rilis 4 Februari di Bioskop Online), tapi terlebih dahulu, Ben & Jody membawa drama dua sahabat pecinta kopi ke lingkup aksi.
Pertanyaan terbesarnya tentu saja, "Bisakah perubahan dilakukan secara natural?". Ditulis oleh sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, bersama Muhamad Nurman Wardi (Nussa), naskahnya memahami bahwa hal paling penting bukanlah mempertahankan genre, melainkan jiwa.
Fast & Furious menjadi film heist di Fast Five, namun masih membicarakan tentang keluarga, serta dipenuhi mobil-mobil keren. Begitu pula Ben & Jody, yang tetap mengetengahkan kisah persahabatan ditemani cangkir demi cangkir kopi. Oh, dan satu lagi: environmentalisme.
Dua film pertama Filosofi Kopi tidak hanya menyoroti kopi dari perspektif bisnis, juga lingkungan dan budaya. Maka tidaklah aneh ketika di sini, Ben (Chicco Jerikho) banting setir jadi aktivis di kampung halamannya, selepas keluar dari kedai. Bersama warga setempat, Ben membela hak petani yang lahannya hendak dikuasai korporasi. Ketika timbul perlawanan akar rumput, apa yang terjadi berikutnya? Tentu saja premanisme.
Apabila korporat memandang rakyat terlalu bebal untuk diajak negosiasi, maka tiba waktunya melempar ancaman fisik. Di sinilah gerbang menuju genre aksi terbuka, saat para pembalak liar di bawah pimpinan Tubir (Yayan Ruhian), mulai menculik warga satu per satu. Salah satunya Ben. Hilangnya Ben mendorong Jody (Rio Dewanto) nekat melakukan pencarian seorang diri.
Lingkungan, aktivisme, premanisme. Semua saling berkaitan. Efek domino yang hadir amat logis, sehingga pergeseran genrenya pun demikian. Mungkin yang agak mengganggu adalah penyertaan kopi di alur. Kebetulan Tubir sering mengeluhkan ketidakbecusan anak buahnya membuat kopi, dan Ben melihat itu sebagai jalan memuluskan rencana kaburnya. Sebagai pembuat kopi bagi Tubir, ia berharap bisa memperoleh informasi penting. Masalahnya, tatkala rencana dijalankan, anda akan sadar bahwa segala kerepotan itu sejatinya tak perlu, dan semata-mata eksis agar filmnya dapat menyelipkan kopi dalam penceritaan.
Selain itu, penceritaannya berlangsung mulus. Transisi menuju aksi juga memberi progresi natural terhadap persahabatan dua tokoh utama, yang banter-nya masih efektif membangun dinamika. Pasca bertaruh materi, kemudian saling bergesekan idealisme dan rasa, sudah sepantasnya pertaruhan nyawa jadi pembuktian pamungkas mengenai persahabatan sejati keduanya.
Apalagi, bukankah figur Ben dan Jody memancarkan machismo khas jagoan aksi? Teurtama Ben, dengan tubuh kekar Chicco yang lebih pantas menjadi superhero ketimbang penjual kopi (perannya sebagai Godam turut dipakai sebagai bahan guyonan).
Pun patut ditekankan, Ben & Jody tak serta merta menyulap protagonisnya jadi jagoan tangguh. Mereka bukan Rambo atau Chuck Norris. Wajar Ben dengan perangainya bisa berkelahi, tapi ia tetap tak kuasa menghabisi sepasukan musuh seorang diri. Sedangkan Jody harus menghadapi sulitnya mencabut nyawa manusia, sekalipun seorang penjahat yang juga berusaha membunuhnya. Bahkan bukan keduanya yang mendominasi klimaks baku hantam film ini.
Peran tersebut diberikan pada beberapa warga lokal yang menyelamatkan Ben dan Jody. Rinjani (Hana Malasan) dengan panah miliknya, Tambora (Aghniny Haque) si jago beladiri, hingga Musang (Muzakki Ramdhan) si cilik bersenjatakan ketapel. Hana akhirnya berkesempatan memamerkan karismanya, sementara kemampuan fisik Aghniny jelas tidak perlu diragukan.
Pertarungan Rinjani-Tambora melawan Tubir selaku klimaks punya semua bekal untuk tampil mumpuni, mulai dari kapasitas jajaran cast, sampai beberapa ide koreografi menarik. Sayangnya, pengarahan aksi Angga dan camerawork Arnand Pratikto selaku penata kamera, kurang mendukung terciptanya aksi intens, akibat pilihan-pilihan shot yang meleset.
Itulah ganjalan terbesar Ben & Jody dalam upayanya membawa Filosofi Kopi bertransformasi. Angga belum mampu memperbaiki kelemahannya mengarahkan adegan dinamis bertempo tinggi (termasuk situasi berupa pertengkaran hebat, seperti nampak di Story of Kale: When Someone in Love). Kelemahan yang untungnya selalu berhasil ditutupi oleh kualitas penceritaan. Sebab Angga memang salah satu pencerita terbaik kita.
REVIEW - PERJALANAN PERTAMA
Di salah satu momen, karakter utama film ini mampir ke sebuah desa, di mana ritual kepercayaan yang melibatkan penyembelihan ayam tengah dilangsungkan. Di antara kerumumunan warga setempat, si karakter lalu berujar "Ini melanggar syariat!". Menontonnya di JAFF membuat momen itu makin terasa sureal.
Tapi saya takkan mempermasalahkan nilai-nilai itu lebih jauh. Begitu pula soal kaos bergambar Zakir Naik yang sepanjang film dipakai Yahya, tokoh bocah yang diperankan Muzakki Ramdhan. Biarlah. Apalagi Perjalanan Pertama tidak terang-terangan melempar pesan meresahkan. Saya lebih akan membahas, bagaimana karya terbaru Arief Malinmudo (Surau dan Silek, Liam dan Laila) ini, gagal menerapkan prinsip-prinsip road movie.
Pak Tan (Ahmad Tarmimi Siregar) adalah pembuat cincin di sebuah desa kecil. Hubungannya dengan sang cucu, Yahya, tidak terlalu baik. Yahya jengah karena terus dibohongi kakeknya, tiap bertanya tentang identitas serta keberadaan orang tuanya. Sampai suatu hari, keduanya melakukan perjalanan bersama guna mengantar lukisan karya Pak Tan.
Road movie yang bagus, mampu membawa tokoh-tokohnya belajar lewat perjalanan. Mereka belajar, berproses, berubah, dan berkembang. Baik masalah personal maupun interpersonal bakal menemukan jalan keluar. Perjalanan Pertama sudah meletakkan pondasi memadai, berupa konflik antara Pak Tan dan Yahya. Lucunya, bahkan sebelum vespa milik Pak Tan melaju, persoalan itu sudah terselesaikan. Yahya yang tadinya ketus, mendadak murah senyum, berbahagia, hanya karena bisa berjalan-jalan menunggangi vespa antik.
Kekakuan antara Yahya dan sang kakek seketika lenyap. Lalu apa fungsi road trip mereka? Jawaban misteri terkait orang tua Yahya pun tidak membutuhkan perjalanan agar dapat diungkap. Pak Tan bersedia bicara, sebab Yahya berkata, "Kita bisa mati kapan saja. Apa kakek mau Yahya mati tanpa tahu tentang orang tua Yahya?". Benar. Kita bisa mati kapan saja, bahkan tanpa menempuh perjalanan jauh sekalipun.
Harus diakui, naskah buatan Arief punya cukup rintangan guna membuat alur terus bergulir. Ditambah selipan humor serta iringan musik tradisional Minang yang turut memberi filmnya identitas, tuturan Perjalanan Pertama seputar "menjaga roda kehidupan agar terus berputar" masih nyaman diikuti, jika anda hanya ingin duduk santai menikmati hiburan ringan tanpa banyak berpikir.
Tapi sekali lagi, road movie adalah soal proses belajar. Tapi dalam tiap rintangan yang ditemui, karakternya malah lebih banyak (berusaha) mengajari orang lain ("patuhi syariat", "rawat anakmu dengan baik", dll.). Beberapa kali filmnya menekankan supaya kita "belajar dari alam", namun tak sekalipun kisahnya memperlihatkan proses tersebut.
Plot device-nya juga sangat mengganggu. Masalah terbesar yang dihadapi adalah tatkala sebuah pick up hitam membawa pergi lukisan Pak Tan, saat. Kala identitas si pemilik pick up terungkap, muncul setumpuk pertanyaan. Dari mana ia tahu benda yang terbungkus kardus itu merupakan lukisan? Kenapa pula mengambil lukisan yang tergeletak di suatu bengkel kecil, tanpa tahu kualitasnya seperti apa? Cara Pak Tan dan Yahya menemukan pick up hitam yang dicari juga dipenuhi kebetulan.
Departemen akting akhirnya jadi juru selamat. Ahmad Tarmimi Siregar tampil hangat, tetapi bintang paling terangnya adalah Muzakki. Emosinya kuat, pembawaannya natural, dinamikanya memikat. Beberapa hari lalu saya baru dibuat terkesima oleh penampilan si bocah 12 tahun dalam Preman, dan lewat Perjalanan Pertama, lagi-lagi ia berhasil mengaduk-aduk perasaan. Sungguh luar biasa anak ini.
(JAFF 2021)
REVIEW - PREMAN
Menengok posternya, saya mengira Preman adalah drama kriminal kelam nan serius. Memang betul, naskah yang ditulis sendiri oleh sang sutradara, Randolph Zaini, menyinggung isu-isu "berat" seperti premanisme, trauma, bullying, toxic masculinity, hingga homofobia, tetapi dengan pendekatan luar biasa menyenangkan. Tidak ada film Indonesia tahun ini yang seasyik dan seliar Preman perihal eksplorasi genre.
Ketimbang drama kriminal biasa, ini lebih dekat ke b-movie, ke film-film eksploitasi grindhouse, berisi tokoh-tokoh bigger-than-life, kekerasan, dan kebodohan disengaja, yang akan dengan senang hati diterima penonton, karena ada kecerdasan yang jauh lebih besar di sini.
Diiringi lagu yang mengingatkan kepada Far From Any Road milik The Handsome Family, kita melihat seorang pria tuli bernama Sandi (Khiva Iskak), mengawali hari. Dia adalah anggota Perkasa, organisasi preman dengan warna kebesaran oranye, yang tengah menggusur paksa warga kampung, guna merealisasikan proyek pemilik modal. Tidak perlu saya sebut, pasti anda tahu Perkasa merupakan sentilan terhadap salah satu ormas negeri ini.
Perkasa dikepalai oleh Guru (Kiki Narendra) yang...well, adalah seorang guru di SD tempat Pandu (Muzakki Ramdhan), putera Sandi, bersekolah. Suatu malam, ketika Pandu menyaksikan aksi premanisme Perkasa yang kali ini merenggut nyawa, Sandi harus membelot, melawan organisasinya sendiri.
Pengkhianatan Sandi membuka gerbang menuju dunia sarat mitologi menarik, pula tokoh-tokoh penuh warna, dari seorang pejabat bernama Hanung (David Saragih) yang alih-alih bicara malah menggeram bak macan, Paul (Paul Agusta) si anggota Perkasa yang hobi menari dan bercita-cita membuat musikal, hingga Ramon (Revaldo) alias "Tukang Cukur", pembunuh bayaran yang seperti julukannya, menghabisi korban menggunakan gunting cukur.
Menarik. Sangat menarik. Randolph bak profesor gila yang menemukan laboratorium tempatnya bisa bereksperimen sesuka hati, menciptakan formula yang mampu membuat penontonnya tersenyum lebar selama 81 menit durasi film.
Merumuskan aksi bersama sinematografernya, Xing-Mai Deng, pilihan angle Randolph mungkin tidak selalu tepat guna menangkap baku hantam yang terjadi, namun itu dapat dengan mudah dimaafkan berkat kreativitas di segala lini. Misal senjata. Jika Ramon memakai gunting cukur, maka protagonis kita membekali diri dengan meteor hammer buatan tangan (senjata Gogo di Kill Bill).
Senjata unik berarti metode bertarung pun tak kalah unik, yang tampak betul dalam konfrontasi dua tokoh tersebut, yang terjadi di rumah Mayang (Putri Ayudya), mantan istri Sandi. Rumah Mayang pun membawa sang sutradara menyambangi genre lain. Sebuah gubuk kayu kecil di tengah hamparan padang tandus, membuatnya tampak berasal dari film western.
Sebagai grindhouse, tentu kekerasan dimiliki Preman. Tapi Randolph tahu kalau sedang membuat film bagi pasar Indonesia. Bila menyasar bioskop, kekerasan berlebih yang susah-susah diciptakan bakal percuma. Kembali, kreativitas mengambil alih. Randolph cerdik "mengakali" sensor, entah dengan membuat impact serangan terjadi secara off-screen tanpa melucuti kebrutalan, atau menggunakan barang pengganti untuk tubuh serta darah, sebagaimana diperlihatkan klimaksnya. Klimaks berbalut lagu Cublak Cublak Suweng yang sukses memancing kekaguman, bahkan tepuk tangan penonton festival tempatnya diputar.
Deretan karakter unik milik Preman turut dihidupkan oleh ensemble cast yang seluruhnya tampil gemilang, tetapi porosnya tetap terletak pada dua nama, yakni Khiva dan Muzakki. Lihat adegan di sawah, dan anda akan dibuat terpukau oleh kehebatan Muzakki bermain emosi lewat ekspresi serta bahasa isyarat.
Sedangkan Khiva Iskak akhirnya memperoleh peran yang memfasilitasi talenta besarnya. Tanpa tuturan verbal, dihidupkannya Sandi, selaku perwujudan luka-luka yang ditimbun oleh pola pikir terbelakang negeri ini. Sandi mencari kekerasan, karena hanya itu cara yang ia tahu, sebagai individu hasil bentukan budaya pemuja maskulinitas, di mana kejantanan dipuja. Budaya di mana kekuatan kepalan tangan lebih diunggulkan daripada kemanusiaan berperasaan, sehingga melestarikan persekusi para preman.
(JAFF 2021)
REVIEW - NUSSA
Beberapa waktu lalu, ramai tudingan bahwa Nussa menyebarkan doktrin radikal. Saya tidak sepaham dengan ideologi agama beberapa pihak di balik serialnya, namun melempar tuduhan cuma berdasarkan atribut yang dipakai karakternya, bahkan sebelum menonton filmnya, sungguh suatu kebodohan. Terlebih, Nussa ternyata tampil hangat sekaligus manusiawi.
Manusiawi dalam arti, meski digambarkan cerdas, baik hati, pula taat agama, tokoh-tokohnya jauh dari kesempurnaan. Ada figur ayah yang (terpaksa) melanggar janji hingga mengecewakan anak-anaknya, pun Nussa sendiri (disuarakan Muzakki Ramdhan), hanya bocah biasa yang bisa merasa iri, juga malas beribadah ketika hatinya kesal. Sebagai tontonan yang memiliki identitas agama (khususnya produksi Indonesia), memanusiakan protagonis adalah pencapaian besar.
Naskah buatan Muhammad Nurman Wardi dan Widya Arifianti sebenarnya cenderung seperti versi extended dari satu episode serialnya ketimbang adaptasi khusus layar lebar. Diceritakan, Nussa tengah bersiap mengikuti lomba sains di sekolah, dengan membuat roket berbahan barang bekas, dibantu dua sahabatnya, Abdul (Malka Hayfa) dan Syifa (Widuri Sasono). Nussa selalu memenangkan lomba tersebut, tapi tahun ini muncul saingan. Dia adalah Jonni (Ali Fikry), anak pindahan dari keluarga kaya, yang mampu membuat roket mewah nan canggih.
Sangat sederhana. Terlalu sederhana malah, sehingga agak keteteran menjaga daya tarik selama 107 menit durasinya. Walau begitu, Nussa mampu membayar lunas kekurangan tersebut, lewat tuturan menyentuh hati. Di balik kesederhanaannya, tersimpan drama hangat soal keluarga, persahabatan, juga pesan bahwa uang bukanlah segalanya.
Karakter Jonni selaras dengan kesan "drama sederhana tapi bermakna" itu. Dia memang saingan Nussa, dan sekilas tampak kurang ramah, tapi bukan antagonis jahat. Bukan siswa kaya sombong yang memandang rendah orang lain. Dia hanya kesepian karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Sayang, konklusi bagi konflik keluarga Jonni terjadi begitu mudah dan serba mendadak, hingga menghilangkan dampak emosi di dalamnya.
Bila presentasi soal keluarga Jonni tampil kurang matang, tidak demikian dengan keluarga protagonis kita. Nussa menganggap, Abba (panggilan Nussa dan Rarra untuk ayah mereka) yang bekerja di Amerika, kurang memberi perhatian ketika batal pulang di awal Ramadhan. Saat lomba sains digelar, Bony Wirasmono selaku sutradara, yang juga menggarap serialnya, menampilkan sensitivitas lewat gestur-gestur penuh makna tanpa dramatisasi berlebih dalam momen tersebut.
Melihat puteranya tertatih-tatih menaiki panggung, Abba mendekat, tetapi tidak langsung membantu. Ditepuknya lembut pundak Nussa, yang lalu berkata bahwa ia bisa berjalan sendiri. Begitulah semestinya dinamika orang tua dan anak. Orang tua hadir guna memberi dukungan, mengawasi agar si anak tetap aman, namun tetap membiarkannya mencoba jalannya sendiri semaksimal mungkin.
Di awal tulisan, saya sempat menyinggung tentang bagaimana filmnya memanusiakan Nussa. Sewaktu Jonni dan roket canggihnya bisa lebih memukau teman-teman di sekolah, Nussa merasa iri, kesal, bahkan putus asa. Saking kesalnya, dia enggan makan sahur dan bolos mengaji. Tapi apakah Umma (Fenita Arie) memarahi puteranya sambil menyebut hal-hal seperti "Jangan bolos mengaji!" atau "Tidak beribadah itu dosa!"? Tidak. Umma mendahulukan perasaan buah hatinya. Dia mendidik lewat kasih sayang.
Ada satu lagi detail kecil yang sangat saya sukai, yakni ketika Abba pulang membawa oleh-oleh. Nussa mendapat peci, sedangkan Rarra dibelikan mobil-mobilan. Tatkala film-film lain yang tidak direcoki tudingan ini-itu kerap bersikap lebih konservatif dengan memberi boneka pada anak perempuan, Nussa justru tidak terjebak dalam kekolotan tersebut.
Pencapaian di ranah emosi turut ditunjang oleh karakternya yang begitu hidup berkat penampilan memikat jajaran pengisi suara. Muzakki yang membuat sosok Nussa begitu bernyawa dan terdengar "kaya" secara rasa, Ocean Fajar sebagai Rarra yang menggemaskan, Fenita Arie sebagai figur ibu yang lembut, bahkan Opie Kumis sebagai Babe Jaelani si penjaga sekolah, yang sekali lagi jadi comic relief menggelitik. Semua menyatu.
Visualnya, seperti yang sudah nampak di berbagai materi promosi, punya kualitas terbaik di antara semua animasi layar lebar Indonesia. Tengok saja detail-detail seperti serat baju, bulu kucing, sampai refleksi di mata karakternya. Melihat pencapaian Nussa, tidak sabar rasanya menunggu proyek-proyek animasi Visinema lain seperti Kancil (sci-fi action), Jumbo (looks like a Pixar-esque magical tale), dan Rarra selaku spin-off Nussa.
(Tayang Reguler 14 Oktober 2021)
REVIEW - ADIT SOPO JARWO: THE MOVIE
Mengingat serial televisinya semacam "jawaban" untuk Upin & Ipin, sebagaimana animasi negeri tetangga itu pula, sudah sepantasnya Adit Sopo Jarwo dibuatkan versi film panjang. Dibesut oleh Eki N. F selaku salah satu kreator serialnya bersama Hanung Bramantyo, Adit Sopo Jarwo: The Movie merupakan salah satu film animasi terbaik Indonesia, meski berkaca pada progres genrenya sejauh ini, sebutan "terbaik" sebenarnya tidak berarti banyak.
Jika Upin & Ipin memakai pendekatan ala Doraemon terkait adaptasi layar lebar (cerita dengan skala lebih besar dibanding versi televisi, ditambah sentuhan fantasi), maka Adit Sopo Jarwo: The Movie memilih tetap menuturkan kisah sehari-hari. Karena ditayangkan di Disney+, dampaknya tidak begitu besar. Lain cerita bila di bioskop. Biarpun bukan harga mati, petualangan imajinatif berskala besar dapat memaksimalkan pengalaman menonton di layar lebar, khsususnya bagi anak-anak.
Mengambil latar cerita sebelum serialnya, film ini mengisahkan perjalanan Adit (Muzakki Ramdhan), yang berlibur ke Yogyakarta bersama kedua orang tuanya. Sesungguhnya Adit ingin liburan ke luar negeri (tepatnya Jepang) seperti teman-temannya, namun karena sang ayah (Hanung Bramantyo) baru mengalami PHK, rencana itu batal. Substansi naskah buatan Anto Malaya dan Beni Susanto memasukkan masalah PHK ayah sebenarnya patut dipertanyakan.
Singkat cerita, berangkatlah Adit sekeluarga menaiki kereta. Sesampainya di stasiun Cirebon, Bunda (Musripah) yang tengah hamil tujuh bulan, mendadak sakit perut. Berniat membelikan biskuit untuk bundanya, Adit malah ketinggalan kereta, sebelum bertemu Sapo (Dharmawan Susanto) dan Jarwo (Ery Makmur), yang menolong Adit dengan harapan mendapat imbalan uang dari ayahnya.
Tentu semua takkan berlangsung mulus. Perjalanan Cirebon-Yogyakarta yang mestinya bisa ditempuh kurang lebih lima jam dengan kereta api pun molor. Mayoritas masalah terjadi akibat Jarwo yang sering sok tahu, tidak sabar, dan melakukan hal-hal buruk seperti mencuri sepeda. Keburukan Jarwo itulah yang dijadikan pembelajaran film ini bagi penonton anak. Jauhi keburukan, harus sabar, jangan enggan menolong orang lain. Nilai-nilai kehidupan mendasar yang memang penting untuk diajarkan.
Pun melihat dua pria dewasa berpenampilan bak preman menunjukkan kepedulian pada seorang bocah, jadi pemandangan menarik, sekaligus memberi pesan agar tidak menilai seseorang dari penampilan saja. Tapi ada masalah. Di serialnya, Sapo dan Jarwo adalah tetangga Adit. Biarpun bak preman, merupakan kewajaran saat bocah-bocah berinteraksi dengan mereka. Aman, apalagi karena kisahnya berlatar area perkampungan. Sedangkan di filmnya, menyaksikan anak sekecil Adit dengan nyaman, tanpa sedikitpun kecurigaan, menerima tawaran bantuan dari dua pria dewasa asing, meninggalkan kesan kurang baik. Bagaimana jika mereka ternyata penculik? Bagaimana jika ada anak mengalami nasib seperti Adit, kemudian datang orang asing menawarkan pertolongan, dan si anak berpikir, "Mungkin orang ini baik, kayak Bang Sapo dan Bang Jarwo"?
Di luar itu, dalam bercerita, naskahnya juga sering memaksakan hadirnya konflik. Tengok sebuah "insiden" di Dieng, yang mungkin bakal memusingkan penonton dewasa, tatkala anak/adik/keponakan mereka bertanya, "Kok Adit kabur?". Sewaktu alur memasuki babak akhir pun, naskahnya merasa harus memperpanjang permasalahan, yang sejatinya tidak diperlukan, karena tidak memberi dampak apa pun, baik terkait emosi, maupun pesan.
Penuturan film ini memang tak semulus visualnya. Ya, satu-satunya elemen yang sepenuhnya memuaskan adalah kualitas animasinya. Terdapat beberapa rendering kurang halus, terutama ketika menerapkan gerak lambat, namun saya sering dibuat terpukau oleh presentasi visualnya, terlebih saat menampilkan pemandangan alam, dengan detail-detail yang tergarap apik. Ditambah performa maksimal jajaran pengisi suara, walau sedikit unggul dibanding kompatriotnya, Adit Sopo Jarwo: The Movie masih memiliki plus minus khas film animasi kita: naskah lemah dengan visual memuaskan.
Available on DISNEY+ HOTSTAR

%20(1).png)

%20(1).png)









