EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA (2020)

1 komentar
Mungkin penggemar berat kompetisi Eurovision Song Contest bakal menyukai film arahan sutradara David Dobkin (Shanghai Knights, Wedding Crashers, The Judge) ini, khususnya saat cameo beberapa kontestan bersatu di sebuah medley, yang menyertakan Waterloo dan Ne partez pas sans moi milik ABBA dan Celine Dion, dua pemenang Eurovision paling populer. Mungkin. Karena sebagai non-penggemar, saya tak bisa bicara mewakili mereka.

Sebagai non-penggemar, Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga tidak menawarkan alasan yang menggoda saya untuk mulai mengikuti kompetisinya. Ada berapa kontestan? Ada berapa babak? Apa saja aturannya? Terpenting, kenapa Eurovision yang telah berjalan lebih dari enam dekade begitu prestisius? Semua gagal dijawab, sehingga saat sang protagonis—yang lagi-lagi mengandalkan gaya kekanak-kanakkan Will Ferrell yang kelucuannya makin pupus—digambarkan amat terobsesi, penonton awam takkan mengerti.

Tentu naskah yang ditulis oleh Ferrell bersama Andrew Steele (Casa de mi padre) menambahkan alasan lain di balik obsesi tersebut. Lars Erickssong (Will Ferrell) ingin membuktikan diri pada ayahnya, Erick Erickssong (Pierce Brosnan), yang memandangnya remeh. Pun kepada seluruh warga kampung (sebuah desa kecil di Islandia) yang senantiasa menertawakannya. Caranya tak lain dengan bermimpi memenangkan Eurovision sebagai The Fire Saga, duo musisi yang ia bentuk bersama sahabatnya sejak kecil, Sigrit Ericksdóttir (Rachel McAdams).

Sigrit menyukai Lars. Orang-orang tidak paham, bagaimana bisa gadis secantik dan sepintar dia menyukai pria aneh seperti Lars. Saya pun tidak paham. Lars menolak kemungkinan adanya cinta di antara mereka, sebab menurutnya, romansa internal dapat mengganggu stabilitas grup musik, sekaligus memberi distraksi dalam usaha memenangkan Eurovision. Lars dikuasai ego. Dia memaksakan aransemen lagu, konsep penampilan, tata kostum, dan lain-lain. Cuma kemenangan yang dipikirkan. Kemenangan bagi diri sendiri, bukan berdua.

Nyaris tidak ada alasan mendukung Lars. Benar bahwa ia ingin membuktikan diri, lelah jadi bahan olok-olok. Tapi pembangunan latar belakangnya terlampau instan. Tidak peduli seberapa baik Pierce Brosnan memerankan “pria tua terluka yang lelah melihat puteranya menyia-nyiakan hidup”, hasilnya nihil tatkala koneksi ayah-anaknya tak tersampaikan secara memadai. Nantinya, begitu kompetisi Eurovision digelar dan kontestan unggulan asal Rusia, Alexander Lemtov (Dan Stevens), berusaha merebut hati Sigrit, sulit berpihak pada Lars. Karena tak sekalipun kita menyaksikan sisi positif si tokoh utama.

Sementara humornya terlalu ragu untuk sepenuhnya melangkah ke ranah komedi gelap, walau filmnya sudah mengandung beberapa kematian (baca: pembunuhan) brutal, juga elemen incest yang beberapa kali disiratkan, baik melalui dialog maupun pilihan nama karakter, yang harus diakui cukup kreatif dan menggelitik. Ketimbang sepenuhnya melangkah ke sana, Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga memilih main aman, bergantung pada keeksentrikan Ferrel yang mayoritas gagal mengenai sasaran, sedangkan McAdams berusaha sekuat tenaga memaksimalkan materi yang sayangnya, sudah terlanjur sukar diperbaiki. Apa humor terlucunya? Tentu saja “Jaja Ding Dong”.

Setidaknya film ini punya barisan lagu pop catchy, pula mampu meyakinkan kita, bahwa performa The Fire Saga memang layak menjadikan mereka unggulan, khususnya ketika membawakan lagu Husavik di babak final yang terasa emosional. Ya, deretan lagu dan Rachel McAdams merupakan nilai positif Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga. Kalau anda penggemar Eurovision Song Contest, mungkin film ini masih bisa memberikan hiburan. Kalau anda ingin menyaksikan Rachel McAdams memaning tawa, lebih baik menonton ulang Game Night.


Available on NETFLIX

1 komentar :

Comment Page:

CIRCUS OF BOOKS (2019)

Tidak ada komentar
Terkait tema LGBT miliknya, Circus of Books mampu menyatukan elemen-elemen seperti persekusi aparat, ketidakberpihakan hukum, agama, AIDS, keluarga khususnya parenthood, hingga dampak internet terhadap industri pornografi. Semuanya saling terkait, menyatu mulus tanpa menghilangkan fokus. Tapi yang membuat dokumenter ini spesial adalah protagonisnya, pasangan suami-istri, Barry Mason dan Karen Mason. Khususnya Karen, yang sepanjang 92 menit durasi filmnya, mengalami setumpuk pertentangan batin sampai akhirnya bertransformasi.

Rachel Mason selaku sutradara, merupakan puteri mereka. Filmnya pun dibuka oleh rekaman home video yang Rachel buat saat kecil. Kemudian, selama mewawancarai narasumber termasuk Micah (sang kakak) dan Josh (sang adik), ketimbang menjadi sosok tak terlihat di belakang kamera, wajah Rachel juga disorot, memperlihatkan reaksi-reaksinya. Tujuannya tak lain melahirkan keintiman dan kesan personal.

Sekilas, Keluarga Mason tampak biasa. Barry dikenal lewat senyum yang tak pernah luntur, sementara Karen merupakan sosok yang tegas, figur pemimpin, sekaligus Yahudi yang taat. Baru ketika remaja, tiga bersaudara itu tahu, bahwa orang tua mereka adalah pemilik Circus of Books, toko buku dan pornografi gay (majalah, DVD, alat seks) yang legendaris. Terletak di West Hollywood, California, toko ini ibarat suaka layaknya bar, di mana para gay bisa berinteraksi secara bebas. Bahkan, gang belakang toko kerap jadi lokasi orang-orang kehilangan keperjakaan. Gang itu disebut “Vaseline Alley”.

Semua berawal dari kesulitan finansial pada era 70an, yang membuat Karen dan Barry nekat menawarkan diri menjadi distributor majalah dewasa ternama Hustler buatan Larry Flint. Bisnis itu berkembang. Toko pun didirikan, bahkan di satu titik, pasutri Mason turut memproduseri film-film porno gay yang dibintangi Jeff Stryker. Tapi apa signifikansi sebuah toko barang-barang hiburan dewasa?

Bagi kaum hetero, pornografi sebatas alat melampiaskan nafsu. Tapi untuk gay, setidaknya mereka yang muncul sebagai narasumber, pada awal kemunculannya, ada kebanggaan menonton para gay bercumbu dengan bebas tanpa takut dihakimi. Berkat Circus of Books, beberapa orang tahu ia tidak sendiri di dunia ini. Pun mengetahui apa yang dilakukan Karen dan Barry membuat sahabat Rachel semasa SMA menyadari satu hal, bahwa saat tumbuh dewasa, individu tidak harus menjalani hidup sesuai jalur yang dianggap “wajar” oleh masyarakat.

Karen dan Barry menginspirasi tanpa disadari dan diniati. Keduanya tidak membenci LGBT, tidak berniat mengeksploitasi, tapi juga tak terlibat dalam pergerakan kemanusiaan apa pun. Semua murni bisnis yang dirahasiakan dari anak-anak mereka, yang wajib menundukkan kepala bila terpaksa harus diajak memasuki toko. Rachel sendiri baru tahu kalau Circus of Books merupakan toko porno semasa SMA. Fakta yang ia ketahui dari teman-teman, bukan orang tuanya.

Lalu tibalah kita pada penelusuran paling engaging, yakni seputar Karen. Dia berasal dari keluarga religius, adalah seorang religius, dan mendidik anak-anaknya agar menjadi religius. Karen bukan anti-LGBT, tapi menganggap itu sebagai konsep yang berada di luar lingkup kehidupan pribadi. Alhasi, meski dianggap sosok berpengaruh di komunitas gay, awalnya tak ada kebanggaan sedikit pun dalam dirinya terkait apa yang ia dan sang suami lakukan. Hal itu nampak saat beberapa kali Karen mengeluh  pada Rachel. “Kenapa kamu merasa ini pantas dijadikan dokumenter? Bagian mana yang menarik? Seharusnya kamu membahas hal lain saja”.

Sampai suatu hari, ia terpukul kala menyadari bahwa LGBT tidaklah “sejauh” itu, yang memancing dilema, mengingat agamanya mengharamkan hubungan sesama jenis. “Apabila terkait orang lain, mungkin kamu tidak bermasalah, tapi bagaimana jika itu menyangkut orang terdekatmu?”, jadi pertanyaan dilematis yang berusaha Karen (dan mungkin juga penonton) jawab. Paruh akhir Circus of Books fokus menyoroti proses Karen. Bagaiamana ia mempelajari kitab suci demi memahami konteks mengapa gay disebut sebagai “abomination”. Proses ini termasuk salah satu pemberi dampak emosional terbesar filmnya. Kamu bisa menjadi religius tanpa harus berpikiran sempit, dan sebaliknya, menjadi liberal bukan berarti mewajibkanmu membenci religiuisitas.

Mengangkat tema kompleks, bahkan sempat beberapa kali menyentuh ranah lebih kelam khususnya saat AIDS mewabah dan merenggut nyawa orang-orang di sekitar karakternya dalam waktu berdekatan, tak membuat Circus of Books terkesan berat apalagi depresif. Ingat, film ini melibatkan Ryan Murphy selaku produser eksekutif. Kelakar-kelakar menggelitik, juga estetika cheesy pornografi vintage, jadi alasan filmnya tetap tampil menghibur. Circus of Books adalah tontonan positif sekaligus penuh harap. Penutupnya memperlihatkan akhir sebuah era, namun bukan akhir perjuangan. Perjuangan untuk mencintai dan dicintai.


Available on NETFLIX

Tidak ada komentar :

Comment Page:

BULBBUL (2020)

1 komentar
Apa yang Bulbbul gagal lakukan adalah menyuguhkan horor mencekam. Sinopsis di halaman Netflix hingga materi-materi promosinya ibarat clickbait guna menggaet atensi penonton secara luas, membuat mereka berharap diteror, lalu mendapati filmnya lebih tertarik menyajikan drama, meski memang betul, mengandung elemen supernatural. Pun Anvita Dutt, yang melakoni debut penyutradaraan selepas karir panjang sebagai penulis lirik soundtrack, belum piawai memaksimalkan intensitas dalam membungkus adegan bernuansa horor.

TAPI, sebagai kritik terhadap isu gender, Bulbbul tampil tegas sekaigus berani mendobrak batas. Bukan kejutan, mengingat film ini diproduseri oleh Anushka Sharma—yang selalu vokal menyuarakan perihal kesetaraan gender—di bawah naungan rumah produksi miliknya, Clean Slate Films.

Mengambil latar tahun 1881, kita diperkenalkan pada sepasang bocah berusia 5 tahun, Bulbbul dan Satya. Tidak butuh waktu lama sampai kita sadar, Bulbbul hendak dibawa pergi dari rumah orang tuanya untuk dinikahkan. Tapi bukan dengan Satya (which is disturbing enough), melainkan dengan Indranil (Rahul Bose), kakak sulung Satya yang puluhan tahun lebih tua. Bulbbul memang gagal menampilkan horor supernatural memikat, namun kisahnya memaparkan realita yang jauh lebih mengerikan.

Selain Indranil dan Satya, di rumah tersebut juga tinggal saudara kembar Indranil yang mengalami gangguan mental, Mahendra (juga diperankan Rahul Bose) beserta sang istri, Binodini (Paoli Dam). Mahendra pun diperlihatkan menyimpan ketertarikan pada si kecil Bulbbul. Patriarki mengakar begitu kuat di keluarga ini, bahkan saat Bulbbul menjadi korban pelecehan, alih-alih mengulurkan tangan sebagai sesama wanita, Binodini malah menyuruhnya bungkam.

Itulah salah satu bentuk realita pahit yang tak dikesampingkan oleh naskah buatan Anvita Dutt. Sebagaimana gay bisa menjadi homophobic, orang kulit hitam bisa bertindak rasis terhadap komunitasnya, seksisme pun dapat terjadi antara wanita yang sama-sama jadi korban ketidakadilan. Sebabnya tak lain konsep patriarki yang telah mengakar sedemikian kuat dan dilestarikan sedemikian lama. “Satu-satunya hal pribadi dalam hidup istri adalah suaminya”, kata Indranil. Kalimat tersebut cukup menggambarkan keseluruhan dinamika yang terjadi.

Kemudian kisahnya melompat 20 tahun, ketika Satya (Avinash Tiwary) pulang dari London setelah menumpuh pendidikan hukum. Dia mendapati banyak perubahan. Indranil telah pergi, Mahendra tewas dibunuh oleh pelaku yang belum diketahui, sedangkan Bulbbul (Tripti Dimri) menjadi matriarch di keluarga. Satya merasa Bulbbul kini berbeda, dan penampilan Tripti Dimri, yang sebelumnya pernah berpasangan dengan Avinash Tiwary dalam Laila Majnu (2018), membuat kita ikut mengamini itu. Alurnya bergerak maju-mundur. Pada bagian flashback, Bulbbul masih sesosok wanita rapuh. Seorang korban yang hanya bisa pasrah dan beserah. Sementara di “era sekarang”, figurnya kokoh matanya bersinar, senyumnya lebar, menampakkan kesan cerah yang agak aneh (in a positive way), intimidatif, bahkan cukup creepy.

Tapi bukan cuma perubahan Bulbbul yang mengganggu pikiran Satya, pula kasus pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah pria, tepatnya pria yang melakukan tindak kekerasan serta pelecehan kepada wanita. Dia pun mulai melakukan penyelidikan. Beberapa warga, termasuk Binodini, percaya bahwa pelakunya adalah penyihir dari legenda, walau Satya menaruh kecurigaan pada dokter bernama Sudip (Parambrata Chattopadhyay). Kecurigaan yang sejatinya bercampur rasa cemburu akibat kedekatan sang dokter dengan Bulbbul.

Beberapa adegan pembunuhan ditampilkan, mayat-mayat dipertontonkan, tapi seperti telah disinggung, Anvita Dutt belum memiliki kapasitas memadai guna memunculkan kengerian dan ketegangan dari rentetan peristiwa di atas. Sang sutradara cenderung mementingkan visual bergaya, salah satunya lewat penggunaan warna merah darah di adegan malam hari. Filmnya ditutup oleh efek suara tawa (atau tangisan?) wanita yang amat menyeramkan, memunculkan pertanyaan mengapa elemen itu tidak diterapkan sejak awal.

Adegan-adegan yang memperlihatkan pernikahan anak, domestic abuse, pedofilia, sampai pemerkosaan justru jauh lebih mengerikan serta menjijikkan, seolah Anvita jauh lebih tertarik mempresentasikan itu ketimbang horor supernaturalnya. Dan memang, paparan isunya kuat sekaligus berani. Romantisme ditiadakan demi menyuarakan “para pria ini semuanya sama”. Para pria yang dibutakan kecemburuan berdasarkan pemikiran bahwa si wanita merupakan miliknya, dan miliknya seorang. Pun gangguan mental tak bisa dijadikan pembenaran atas ketidakmampuan pria menyimpan kelaminnya tetap di dalam celana.


Available on NETFLIX

1 komentar :

Comment Page:

GOLKERI (2020)

6 komentar
.
Golkeri bukan cuma tentang usaha karakter utama merebut kembali cinta kekasihnya, walau momen tersebut tetap bisa ditemukan. Merupakan remake versi Gujarat dari film Marathi berjudul Muramba (2017), Golkeri membicarakan soal hubungan romansa, namun bukan cuma mengenai romantisme pasangannya, pula terkait orang tua, bahkan urusan gender, di mana (pada akhirnya), si tokoh utama pria berani berujar, “My male ego has ruined everything”. Dengarkan itu wahai para pria.

Sahil (Malhar Thakar) dan Harshita (Manasi Parekh Gohil) sudah berpacaran selama dua tahun. Pernikahan mereka pun telah direncanakan. Harshita adalah seorang komika stand-up yang baru merintis. Pertemuan perdana keduanya, yang juga awal tumbuhnya benih cinta, terjadi di sebuah pertunjukan Harshita yang gagal. Ironisnya, dua tahun berselang, hubungan mereka berakhir di pertunjukan Harshita yang sukses besar. Semua penonton tertawa kecuali Sahil, yang tersinggung mendengar lelucon sang kekasih tentang sosok pacar.

Mengapa ia tersinggung? Sebelum sampai ke sana, biarkan saya membahas soal pilihan musik, yang membuat beberapa visi penyutradaraan Viral Shah patut dipertanyakan. Momen putusnya Sahil dan Harshita memadukan unsur pertengkaran dramatis dengan taburan bumbu-bumbu humor witty. Tapi sebagai latar, musik buatan Salil Amrute memperdengarkan dramatisasi luar biasa, bak tengah mengiringi suatu tragedi. Ketidakcocokan musik terjadi beberapa kali lagi, dan Viral gagal menegaskan, apakah itu kesengajaan—mengingat melebih-lebihkan dramatisasi juga bisa menjadi bentuk lelucon—atau memang keputusan artistik yang buruk.

Kembali soal momen putus. Sahil mengakhiri hubungan akibat lelucon Harshita, yang menyentil para pria (boyfriends) yang egois, tidak menghasilkan uang, dan lain-lain. Sahil tersinggung. Pertanyaannya, apakah ia persis seperti deskripsi tersebut? Kurang lebih. Walau berprestasi semasa kuliah, Sahil tidak pernah menetap lama di satu pekerjaan. Bahkan sudah berbulan-bulan ia menganggur. Saat Harshita bercerita tentang pertambahan pesat subscribers di kanal Youtube miliknya, Sahil membahas bagaimana dalam sehari, ada ratusan permintaan berteman di akun Facebook-nya, seolah itu kompetisi. Itulah ego lelaki yang menghancurkan hubungan.

Mendengar kabar itu, ayah dan ibu Sahil (diperankan Sachin Khedekar dan Vandana Pathak) terkejut. Sudah begitu jatuh hati mereka kepada si calon menantu. Di sinilah naskah buatan Viral Shah dan Amatya Goradia menambahkan elemen drama keluarga, tatkala orang tua Sahil diam-diam menyusun rencana untuk mempersatukan keduanya lagi. Hubungan percintaan, apalagi ketika mendekati jenjang pernikahan, memang bukan cuma melibatkan dua sejoli, pula keluarga, dan penyertaan ikatan familial ini turut berjasa menambah bobot emosi film.

Highlight-nya adalah saat orang tua Sahil, memaksanya dan Harshita ikut makan bersama di sebuah cafe. Keempatnya lalu bermain jenga. Naskahnya mampu menyulap keseruan jenga jadi media menyatukan romantisme manis dengan kehangatan parental love di satu meja. Tentu akting pemain juga berperan memperkuat jalinan rasa, khususnya Vandana Pathak dan Sachin Khedekar (sang aktor mengulangi perannya di Muramba sebagai ayah protagonis), yang berhasil membuat saya berharap Sahil mampu membahagiakan orang tuanya, dengan cara menyadari lalu menebus kesalahannya, sehingga bisa merebut hati sang mantan lagi.

Sayangnya, di sisi lain, drama keluarganya juga menyibak kelemahan terbesar naskah. Fokusnya sempat melebar, menampilkan pertengkaran Sahil dengan ibunya, yang menyentuh benturan budaya antar-generasi . Bukan sebatas selipan singkat, melainkan permasalahan yang cukup memakan waktu, dengan satu-satunya tujuan hanyalah menambah konflik. Pun ragam tema yang coba disatukan gagal dijembatani secara mulus. Garis pemisah antara tema tersebut nampak terlalu jelas.

Babak pertama murni tentang romansa dengan sedikit bumbu dinamika gender, babak kedua adalah drama keluarga, sebelum memasuki babak ketiga yang kembali menitikberatkan pada romansa, walau kali ini perihal gender lebih lantang diutarakan, ditambah proses Sahil belajar mengakui kesalahan sekaligus keburukan-keburukannya. Dampaknya, begitu film usai, mungkin anda bakal kebingungan menentukan, apa sebenarnya capaian utama yang ingin Golkeri raih.

Tapi tak bisa dipungkiri, ini adalah drama-komedi yang solid, dalam arti dramanya berhasil mengaduk-aduk perasaan, sementara komedinya efektif memancing tawa—termasuk saat Sahil menemui orang tua Harshita dan dipaksa melihat konsep-konsep pesta pernikahan unik bertema film dan serial televisi. Terkait romansa, setidaknya Golkeri menjadi pengingat kesekian, betapa hubungan semestinya berjalan seimbang terkait pengorbanan yang diambil, dan bahwa ego berbasis maskulinitas adalah racun bagi sebuah hubungan.


Available on PRIME VIDEO

6 komentar :

Comment Page:

A WHISKER AWAY (2020)

1 komentar
Lelah menjalani hidup? Membenci diri sendiri? Pernah berkelakar ingin berubah menjadi kucing agar sepanjang hari bisa terus-terusan makan dan tidur, dimanja tanpa mengkhawatirkan apa pun? A Whisker Away mewujudkan kelakar tersebut melalui perjalanan protagonisnya, Miyo (Mirai Shida), yang menyadari bahwa menjadi orang lain (atau dalam konteks ini makhluk lain), tidaklah semenyenangkan itu. Bahwa selalu ada yang menaruh kepedulian selama kita bersedia membuka hati.

Selain sahabatnya sejak kecil, Yoriko (Minako Kotobuki), mungkin tak ada yang menyangka hidup Miyo tidaklah bahagia. Di sekolah (ia duduk di bangku SMP), tingkahnya selalu ceria, bahkan gemar melakukan keanehan-keanehan yang membuatnya dipanggil Muge (dalam versi terjemahan Bahasa Inggris diartikan sebagai Miss Ultra Gaga and Enigmatic). Sikap serupa diperlihatkan Miyo kepada siswa pujaannya, Hinode (Natsuki Hanae), yang tanpa henti dikejarnya, meski senantiasa memberi respon dingin.

Tapi sebenarnya dia memakai topeng. Miyo memandang rendah dirinya, pun merasa tak punya tempat di rumah, di mana ia mesti tinggal bersama ibu tirinya, Kaoru (Ayako Kawasumi). Mari Okada (The Anthem of the Heart, Her Blue Sky) mengangkat tema teen angst lewat naskahnya yang memahami kompleksitas proses coming-of-age, khususnya pada remaja yang kehidupannya jauh dari “baik-baik saja". Dinamika batin si remaja pasti diwarnai banyak kebingungan. Contoh terbaik adalah soal masakan hambar Kaoru. Miyo tidak menyukai makanan hambar. Tapi dia menikmati ketidaksukaan itu, sebab baginya, tidak suka terhadap seorang wanita asing yang “memaksa” masuk ke hidupnya merupakan kewajaran. Kemudian Kaoru mulai menambahkan bumbu lebih dimasakannya. Miyo makan dengan lahap, namun ia membenci situasi tersebut. “Tidak seharusnya aku menikmati ini”, pikirnya.

Di adegan pembuka, Miyo bertemu dengan seekor kucing berukuran manusia yang menjual topeng di festival kembang api. Beberapa waktu berselang, Miyo bercerita pada Yoriko tentang bagaimana dia dan Hinode berpelukan mesra selama festival. Tentu Yoriko tidak percaya. Toh Miyo memang sering berimajinasi—penokohan yang oleh dua sutradaranya, Junichi Sato (dikenal lewat deretan anime bertema magical girl seperti Sailor Moon dan Magical DoReMi) dan Tomotaka Shibayama, guna menyelipkan beberapa visual bernuansa fantasi di antara realisme slice of life.

Rupanya itu benar-benar terjadi, hanya saja, Miyo berada dalam wujud kucing. Mengenakan topeng kucing yang dibelinya, Miyo dapat bertransformasi. Sebagai kucing yang diberi nama Taro oleh Hinode, setiap hari Miyo menyambangi rumah pujaannya itu. Tapi tenang. Kisahnya takkan terasa seperti romantisasi seorang penguntit. Miyo bukan sebatas ingin curi-curi kesempatan, pula mencari suaka atas kebenciannya terhadap diri sendiri. Hingga garis pemisah antara sisi kemanusiaan dan kucing Miyo makin memudar, lalu membawanya mempelajari banyak hal.

Dan naskahnya memang merangkum banyak hal seputar nilai-nilai kehidupan, yang walau dipenuhi lika-liku rumit (perceraian, penerimaan diri, bullying, keterasingan, dan lain-lain), tak pernah tampil terlalu kelam. Perspektif positif yang akan membuat penontonnya tersenyum begitu film usai, diusung tanpa harus jadi tontonan inspiraitf yang kerap memandang sebelah mata dinamika psikis manusia. Deretan humor, ditambah polah eksentrik Miyo turut serta menyegarkan suasana.

Menjelang babak akhir, elemen fantasi mulai mengental, menggantikan slice of life dengan perjalanan magis, yang sayangnya sedikit berantakan perihal rules. Suguhan fantasi, meski memperluas cakupan eksplorasi, bukan berarti memperbolehkan naskahnya bertindak sesuka hati. A Whisker Away sempat jatuh ke lubang itu. Seolah penulisnya mengarang hal-hal baru di tengah perjalanan hanya demi menambah rintangan yang mesti protagonisnya tempuh.

Sejauh apa pun filmnya menyambangi keajaiban-keajaiban, pada akhirnya, kekuatan terbesarnya tetap terletak di drama. Sato dan Shibayama piawai memainkan emosi. Misalnya sewaktu Miyo mendengar ungkapan kebencian Hinode. “Kamera” mengambil gambar close up, meletakkan fokus ke ekspresi Miyo yang biarpun tersenyum lebar, pipinya dibasahi air mata yang mengalir deras. Sebuah pengadeganan yang membuat momen itu semakin heartbreaking. Dan seringkali, dampak momen-momen emosionalnya bertambah berkat visual cantik, juga musik melankolis gubahan Yorushika.


Available on NETFLIX

1 komentar :

Comment Page:

THE ODD FAMILY: ZOMBIE ON SALE (2019)

1 komentar
Sejak Train to Busan, tema zombie menemukan popularitas baru di Korea Selatan. Di layar lebar, bermunculan judul-judul seperti Rampant (2018), Alive (2020), dan tentunya sekuel dari film garapan Yeon Sang-ho itu sendiri, Peninsula (2020). Sedangkan di layar kaca, Kingdom tengah menantikan musim ketiganya. Maka tidak mengherankan jika gelombang besar tersebut turut melahirkan film zombie dengan sentuhan komedi. Sambutlah The Odd Family: Zombie On Sale.

Latarnya di sebuah pedesaan, di mana protagonis kita, Joon-gul (Jung Jae-young), mempunyai pom bensin yang didirikan bersama sang ayah, Man-deok (Park In-hwan). Dia memiliki dua adik, Min-gul (Kim Nam-gil) yang baru pulang setelah dipecat dari pekerjannya, dan Hae-gul (Lee Soo-kyung), si gadis pendiam yang gemar membunuh kelinci. Kehamilan istrinya, Nam-joo (Uhm Ji-won), ditambah bisnis pom bensin yang gagal, “memaksa” Joon-gul menjalankan jasa derek dan bengkel, sembari menebar paku di jalan agar memperoleh konsumen.

Suatu hari datanglah sesosok zombie (Jung Ga-ram). Anda keliru kalau berpikir ia bakal menebar teror. Dari dikejar anjing, ditendang selangkangannya, hingga ditabrak truk derek, mungkin inilah zombie paling tidak mengancam sekaligus paling malang. Dia sempat menggigit Man-deok, sebelum akhirnya singgah di rumahnya. Berkat browsing plus menonton klip Train to Busan, Man-deok sekeluarga menyadari bahwa pemuda aneh ini adalah zombie.

Tapi ada yang beda dari si zombie. Alih-alih daging atau otak manusia, dia lebih menyukai kubis yang diolesi saus. Pun bukannya berubah jadi zombie, setelah digigit Man-deok malah bertambah muda. Kerutnya lenyap, rambutnya menghitam, dan penisnya bisa ereksi, sehingga menciptakan kehebohan bagi kalangan lansia di penjuru desa. Semua ingin bernasib sama. Ketika mayoritas manusia di film zombie berusaha kabur, orang-orang di film ini malah berbondong-bondong meminta digigit zombie (setidaknya sebelum memasuki third act).

Lalu tercetus ide “brilian” untuk membisniskan gigitan zombie, yang oleh Hae-gul diberi nama Jjong-bi. Lee Min-jae selaku sutradara sekaligus penulis naskah memang gemar bermain pelesetan soal nama karakter. Min-gul memanggil Hae-gul dengan “Hey Girl”, sedangkan kelinci-kelinci si gadis remaja punya nama-nama seperti Ho-dong dan Soo-geun (dua komedian ternama Korea Selatan).

Tidak semua humornya mendarat tepat sasaran, namun saat berhasil, kita akan menyaksikan kreatvitias Min-jae perihal mengocok perut penonton. Misalnya saat sang sutradara mengubah serbuan pasukan zombie jadi bak pesta di kelab malam, lengkap dengan seorang DJ. Kreativitas dalam bersenang-senang itulah yang berfungsi sebagai penyegar, tatkala premis soal zombie sebagai peliharaan (kemudian keluarga) bukan lagi suatu modifikasi baru. Kita sudah pernah mendapatkan Fido (2006). Begitu pula unsur romansa antar-spesies yang mulai dibangun sewaktu Hae-gul dan Jjong-bi berkejar-kejaran di ladang kubis diiringi lagu Rebirth milik Yoon Jong-shin, sebuah pilihan yang juga merupakan humor tersendiri.

Sedikit disayangkan, babak ketiganya, yang menyelipkan referensi-referensi untuk seri film The Dead kepunyaan George A. Romero, tak mencapai puncak keseruan, salah satunya akibat rendahnya kuantitas gore, yang mana substansial dalam film zombie. Setidaknya, The Odd Family: Zombie On Sale mampu memanfaatkan keklisean konsep “memanusiakan zombie” sebagai senjata guna menambahkan hati pada kisahnya, pula menghibur lewat jajaran humornya.


Available on VIU

1 komentar :

Comment Page:

DA 5 BLOODS (2020)

Tidak ada komentar
That’s one small step for man, one giant leap for mankind”, ucap Neil Armstrong saat menapakkan kaki di bulan. Sang astronot sempat menyatakan ada kesalahan pengutipan terhadap pernyataannya. Bukan “for man”, melainkan “for A man”. Tentu saja koreksi itu tak dipedulikan, sebab kalimat yang keliru itu terkesan lebih megah, lebih menjual sebagai branding terhadap pendaratan di bulan: Sebuah lompatan besar bagi umat manusia. Tapi sebagaimana Spike Lee (Do the Right Thing, BlacKkKlansman) siratkan melalui rangkaian footage selaku sekuen pembuka, lompatan besar macam apa di saat banyak anak-anak masih didera kelaparan?

Lompatan besar macam apa di saat rasisme terus merajalela? Perang Sipil menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Perang Dunia II menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Perang Vietnam menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Sementara Hollywood sendiri dituding melakukan whitewashing dalam mengemas film perang mereka. Itu pula yang beberapa tahun lalu sempat membuat Spike Lee bersitegang dengan Clint Eastwood setelah perilisan Flags of Our Father dan Letters from Iwo Jima pada 2006. Lee menuding Eastwood menutup mata atas peran prajurit kulit hitam.

Selang 14 tahun, Lee merilis Da 5 Bloods, yang sejatinya merupakan naskah berjudul The Last Tour buatan Danny Bilson dan Paul De Meo, yang rencananya bakal disutradarai Oliver Stone. Bisa ditebak, karakternya berkulit putih. Lee menulis ulang naskahnya bersama Kevin Willmott yang telah menjadi partnernya sejak Chi-Raq (2015), mengubah ras protagonis, menjadikannya film pertama soal Perang Vietnam yang dituturkan lewat kaca mata prajurit kulit hitam.

Bisa ditebak, hasilnya adalah tontonan menghibur sekaligus kritis nan tajam. Siapa lagi yang berani mengolok-olok kepalsuan Rambo selain Spike Lee? Kisahnya sendiri mengetengahkan empat veteran, Paul (Delroy Lindo), Otis (Clarke Peters), Eddie (Norm Lewis), dan Melvin (Isiah Whitlock Jr.), yang kembali ke Vietnam, bukan sebatas untuk reuni, melainkan membawa pulang jenazah pemimpin tim mereka dahulu, Norman (Chadwick Boseman). Nantinya, turut menyusul pula David (Jonathan Majors), putera Paul, yang punya hubungan kurang baik dengan sang ayah.

Tapi ada satu lagi misi rahasia yakni mencari peti berisi emas, yang kelimanya kubur di tengah peperangan. Emas itu sejatinya dipakai oleh pemerintah Amerika Serikat guna membayar jasa penduduk lokal agar mau bertempur di pihak mereka. Tapi pesawat yang membawanya jatuh. Norman meyakinkan rekan-rekannya untuk membawa emas tersebut, sebagai bentuk pelunasan hutang pemerintah Amerika atas tindakan sewenang-wenang mereka terhadap kaum kulit hitam.

Tentu banyak rintangan membentang, tapi yang paling menghantui adalah pergulatan karakternya dengan diri sendiri akibat trauma, dan Da 5 Bloods menyiratkan bahwa trauma itu bermuara pada rasisme. Rasisme oleh siapa? Kulit putih tentunya, yang bertanggung jawab menyebarkan, bahkan mempopulerkan rasisme. Di sebuah kesempatan, warga Vietnam sempat melontarkan kata-kata bernada rasial, yang menurut pengakuan mereka, diajarkan oleh kulit putih.

Keempat protagonisnya menyimpan luka lama, tapi jelas Paul yang paling terdampak. Digerogoti PTSD, ia mengaku selalu ditemui Norman setiap malam. Satu elemen menarik adalah ketika Paul dengan bangga menyatakan memilih Trump, memakai topi MAGA (Make America Great Again), bahkan mendukung pembangunan tembok demi menghalangi masuknya imigran. Ini adalah penokohan kompeks, thought-provoking, mungkin juga membingungkan.

Agar memahaminya, kita perlu memperhatikan konteks, serta ucapan-ucapan dari mulut Paul. Dia merasa selalu dikhianati, baik sebagai kulit hitam yang dijanjikan kebebasan, maupun prajurit, yang disebut “pembunuh anak-anak” sepulangnya ia ke tanah air selepas (dipaksa) bertaruh nyawa. Dia merasa selalu jadi pihak yang kalah. Paul lelah akan semua itu. Sudah terlalu hancur hatinya. Begitu muncul figur yang lantang menyatakan “Aku akan menjadikan kita pemenang”, Paul tergoda oleh bayangan superioritas tersebut. Pilihan yang tentu saja cuma menambah kekalutan hatinya.

Delroy Lindo memerankan Paul dalam tingkat kompleksitas serupa, dengan mata yang senantiasa diwarnai teror, sesekali menjadi pria penyayang, sesekali menjadi pria sedih, lalu di waktu lain menjadi pria penuh ketakutan. Puncaknya ketika Paul mencapai “batas” dan melakukan monolog sembari menatap ke arah kamera, seolah ingin meluapkan segalanya kepada penonton.

Secara berulang, alurnya mengajak kita mundur ke masa lalu mengunjungi medan perang, melalui flashback yang kembali membuktikan bahwa Spike Lee adalah sutradara yang menaruh bobot seimbang kepada gaya dan substansi. Flashback-nya memakai rasio aspek 1.33:1, sementara sinematografer Newton Thomas Sigel (Drive, Bohemian Rhapsody) merekamnya menggunakan format film 16 mm, melahirkan kesan bak newsreel di zaman perang.

Menariknya lagi, flashback-nya tidak memakai riasan, CGI, atau aktor lain untuk memerankan versi muda karakternya. Selain alasan biaya plus ketidaksukaan Lee akan penggunaan lebih dari satu aktor, pilihan ini juga menguatkan kesan bahwa flashback yang kita saksikan adalah memori di kepala karakternya. Bukankah kala kita bermimpi atau membayangkan mengenai masa lalu, secara tidak sadar kita cenderung memvisualisasikan diri kita dari masa kini?

Satu contoh lain perihal keseimbangan Lee bergaya dan bertutur dapat disimak ketika seorang prajurit Vietnam membicarakan soal pembantaian My Lai. Beberapa kali Lee menyelipkan cuplikan foto pembantaian tersebut. Hanya sekilas, hingga agak sulit mencerna gambar apa yang ada di layar. Otomatis, penonton terpancing untuk menajamkan pandangan agar tak melewatkan gambar berikutnya. Dan tepat saat itu dilakukan, Lee memasang foto jenazah seorang bocah yang kepalanya tertembak. Tapi alih-alih berlalu secepat kilat seperti sebelumnya, foto itu bertahan lebih lama, dan berujung efektif menanamkan gambaran memilukan di benak penonton.

Sejak Girl 6 (1996), semua film Spike Lee selalu menembus durasi dua jam, kecuali karya terburuknya, Oldboy (2013). Tidak jarang itu menimbulkan masalah dinamika. Begitu pula Da 5 Bloods, yang andai tak berlangsung selama 154 menit pun, takkan mengurangi kekuatan tuturannya (bahkan menambah) mengenai para veteran yang gemar berucap, “5 bloods don’t die. We multiply”. Familiar dengan kalimat tersebut? Tentu saja. Sebab di negara mana pun, tentang isu apa pun, itulah roh suatu perjuangan.


Available on NETFLIX

Tidak ada komentar :

Comment Page:

CLASSIC AGAIN (2020)

6 komentar
Sebagai remake, Classic Again tak memberi warna baru, apalagi mengobrak-abrik pondasi yang disusun oleh The Classic (2003), yang menampilkan Son Ye-jin, Jo In-sung, dan Cho Seung-woo di jajaran pemeran utamanya. Hal itu menciptakan dua sisi. Pertama, value film ini jelas tak setinggi pendahulunya. The Classic (kemudian diteruskan oleh A Moment to Remember) merupakan pionir gelombang melodrama Korea Selatan, sedangkan Classic Again muncul 17 tahun kemudian tatkala formula serupa entah sudah berapa kali kita saksikan.

Sisi kedua (sisi yang lebih positif), adalah, lewat kesetiaannya mengadaptasi, debut penyutradaraan Thatchaphong Suphasri ini mampu menghadirkan nostalgia bagi penggemar. Classic Again memahami momen-momen ikonik film aslinya, guna melakukan reka ulang dengan baik. Ketika dua tokoh utamanya berlari di bawah hujan dengan hanya sebuah jaket melindungi kepala mereka, sambil diiringi lagu One Memory (versi Thailand dari Me to You, You to Me), anda akan tersenyum merenungi masa-masa indah cinta pertama dahulu.

Ranchrawee Uakoolwarawat melanjutkan jejak Son Ye-jin memerankan dua karakter, Bota dan ibunya, Dala, di mana kisah cinta keduanya saling bersinggungan meski terpisah puluhan tahun, seolah menegaskan ungkapan “love will find a way”. Tinggal sendirian di Thailand sementara sang ibu berada di Korea (salah satu reference terhadap The Classic selain kemunculan posternya), Bota kerap menenggelamkan diri membaca surat-surat cinta ibunya. Lalu kisahnya bergerak maju-mundur, sesekali melempar kita ke masa sekitar lima dekade lalu, ketika romansa Dalah dan Kajorn (Thitipoom Techaapaikhun) berlangsung.

Bota menuangkan surat-surat tersebut ke dalam naskah pertunjukan teater, di mana Non (Sutthirak Subvijitra) menjadi pemeran utama pria. Bota diam-diam menyukai Non, tapi sebagaimana Dalah yang telah dijodohkan dengan sahabat Kajorn, Tanil (Samitpong Sakulponghcai), Bota pun mengalami dilema, sebab sahabatnya juga menyukai Non, bahkan menjadi pemeran utama wanita di pertunjukan tersebut. Menyusul selanjutnya adalah perjalanan yang menunjukkan betapa takdir bergerak secara misterius dalam campur tangannya pada pertemuan dua hati, yang penuh kejutan.

Classic Again begitu setia kepada film aslinya sampai anda bisa membuat checklist berisi adegan-adegan penting mana saja yang disertakan lagi. Dan checklist itu bakal terisi penuh. Sayangnya, sesekali proses memenuhi checklist itu menjadikan filmnya seolah hanya menjalankan kewajiban ketimbang menyajikan rangkaian cerita organik. Alhasil pergerakannya kerap buru-buru (walau seperti The Classic, permainan temponya cenderung lambat bila dibandingkan banyak romansa modern), dan beberapa momen signifikan berlalu begitu saja tanpa kesan berarti. Contohnya sebuah keputusan mencengangkan dari salah satu karakter, yang semestinya berperan penting dalam pengambilan keputusan protagonis, lalu menciptakan titik balik dalam kisahnya.

Tapi kelemahan di atas tak serta-merta menjadikan Classic Again sebuah remake inferior, khususnya saat ada poin-poin yang dipresentasikan lebih baik daripada pendahulunya. Sebutlah penokohan Tanil. Tidak seperti Tae-soo di The Classic yang begitu konyol sehingga kurang seimbang sebagai pesaing cinta Joon-ha, Tanil lebih dekat ke sosok remaja bengal, tanpa menanggalkan unsur tindak kekerasan yang ia terima dari sang ayah.

Memasuki babak akhir, Classic Again pun unggul perihal melahirkan paralel, dengan menampilkan potongan-potongan peristiwa serupa antara dua kisah cinta beda zamannya, yang membuat dampak emosinya semakin kuat, walau soal melukiskan romantisme menyentuh dalam seuatu momen, Thatchaphong Suphasri belum selihai Kwak Jae-yong (sutradara The Classic). Terkait latar waktu, tidak ada masalah dalam pemindahan lokasi dari Korea Selatan ke Thailand. Selain terlibat aktif di Perang Vietnam, tahun 70an pun sama-sama merupakan masa penuh kemelut bagi kedua negara, ketika deretan pergerakan serta demonstrasi kerap terjadi.

Di jajaran pemain, Ranchrawee Uakoolwarawat melakoni debut layar lebar yang takkan mengejutkan bila berujung melambungkan status kebintangannya. Sang aktris memerankan dua figur ibu-anak yang serupa tapi tak sama. Dalah maupun Bota tidak banyak bicara, tapi tutur kata dan perilaku sang ibu lebih tertata, sedangkan puterinya cenderung akrab dengan kecanggungan.


Available on NETFLIX

6 komentar :

Comment Page:

CRAZY WORLD (2020)

5 komentar
Apa hal terpenting dalam proses moviemaking? Pemahaman ilmu filmis? Penguasaan teknis? Bukan semua itu. Ada yang lebih mendasar, yakni kecintaan terhadap film itu sendiri. Kecintaan itulah yang dimiliki Nabwana I.G.G., selaku sutradara, penulis naskah, produser, sinematografer, editor, dan penata efek spesial dari judul-judul produksi Wakaliwood (Wakaliga + Hollywood).

Setelah menciptakan kehebohan melalui Who Killed Captain Alex?, kini giliran Crazy World yang menyambangi penonton internasional, setelah pada pertengahan 2019 diputar dalam segmen Midnight Madness di Toronto International Film Festival, lalu pada 29 Mei 2020, diputar di YouTube sebagai bagian We Are One Film Festival.

Secara kualitas, ditinjau dari textbook mana pun, Crazy World jelas tak memenuhi standar. Tapi sekali lagi, ini perihal cinta, yang mengalahkan segala tetek bengek teknis. Bagi Nabwana, film adalah passion. Sebuah jalan hidup. Dia mencintai film jauh sebelum pernah menontonnya (Nabwana rutin mendengar cerita sang kakak tentang film). Dia mengidolakan Chuck Norris hanya dari menatap poster di dinding bioskop, yang sebagai anak kecil, tak bisa ia kunjungi. Apa itu kalau bukan bukti “the magic of cinema”?

Dan kecintaan itu menular. Tengok saja jajaran pemain yang mengerahkan seluruh daya upaya, baik saat menghantarkan baris demi baris kalimat yang tak jarang absurd, maupun ketika saling baku hantam bak hidup mereka jadi taruhannya meski tanpa koreografi yang ditata sedemikian rupa. “Tak bertenaga” bukan masalah yang perlu dikhawatirkan.

So what’s the story of this SUPA ACTION MOVIE? Alkisah sekelompok gangster di bawah pimpinan Mr. Big tengah gencar melakukan penculikan anak (diperankan aktor-aktor cilik Uganda yang disebut “Waka Starz”) untuk dijadikan tumbal. Salah satunya puteri Commando, tentara elit yang baru saja menerima misi dari Presiden Uganda. Tentu saja jagoan kita sanggup menggagalkan penculikan tersebut bukan? Salah. Ingat, ini Wakaliwood bung! Istri Commando terbunuh, puterinya diculik, dan enam bulan berselang kita bertemu lagi dengan si jagoan yang kini menjadi gelandangan sakit jiwa, yang memakai botol plastik sebagai teropong.

Penculikan terus berlanjut. Tidak ada yang lolos dari incaran, termasuk si bocah jago kung fu putera “SUPA KUNG FU MASTER” Bruce U, bahkan keponakan Mr. Big sendiri. Ketika aktor yang memerankan Bruce U diperkenalkan, mendadak filmnya menampilkan klip-klik dari Who Killed Captain Alex? hingga The Return of Uncle Benon, sebagai informasi bahwa sang aktor ambil bagian dalam judul-judul itu.

Bukan sekali itu saja filmnya tiba-tiba menampilkan klip di luar adegan. Iklan anti pembajakan pun sempat muncul, di mana kesatuan Piracy Patrol memburu mereka yang menonton film-film Wakaliwood secara ilegal. Saat saya menyebut kata “memburu”, artinya adalah menerbangkan helikopter sampai ke Paris (dan negara-negara lain) untuk meledakkan kepala si pembajak. Pada titik ini saya sudah menerima kalau segala interupsi di atas merupakan bagian filmnya.

Crazy World mempunyai subjudul Ani Mulalu?, yang berarti “Siapa yang gila?”. Jadi siapa yang gila? Commando? Para gangster? Atau polisi yang menolak mengusut kasus penculikan? Ya, Nabwana tidak ketinggalan menyelipkan kritik perihal ketidakbecusan aparat. Tapi apabila kritik sosial di film-film Hollywood kerap jatuh sebagai penambah nilai jual dengan mengambil sikap “politically right”, Crazy World berbeda. Ini bentuk keresahan yang jujur. Begitu pun terkait penculikan anak sebagai tumbal. Menilik gaya filmnya, mungkin anda berasumsi itu hanya rekaan demi injeksi kegilaan semata, tapi tidak. Pengorbanan anak demi kekayaan (baca: pesugihan) merupakan isu yang nyata di Uganda.

Gelaran aksinya terkesan raw, sesekali menyertakan CGI untuk darah dan ledakan, yang meski berkualitas rendah, terasa punya semangat serta passion tinggi. Baku tembaknya turut diiringi selorohan seorang VJ (Video Joker), yang mengomentari tindakan karakter, melontarkan pelesetan, menciptakan nama-nama aneh seperti Babymando bagi puteri sang Commando, dan tak ketinggalan mengiklankan Ramon Film Productions selaku rumah produksinya. Mengutip kalimat Nabwana I.G.G., ”Life without comedy is not life”. Di tengah keterbatasan, para penggiat industri Wakaliwood ini tahu betul caranya hidup. Bravo Wakaliwood! Y’all have my biggest respect!


Parts of WE ARE ONE FILM FESTIVAL on YouTube

5 komentar :

Comment Page: