EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA (2020)
Rasyidharry
Juni 27, 2020
Andrew Steele.Will Ferrell
,
Comedy
,
Dan Stevens
,
David Dobkin
,
Kurang
,
Pierce Brosnan
,
Rachel McAdams
,
REVIEW
,
Will Ferrell
1 komentar
Mungkin penggemar berat kompetisi Eurovision Song Contest bakal menyukai film arahan sutradara David
Dobkin (Shanghai Knights, Wedding
Crashers, The Judge) ini, khususnya saat cameo beberapa kontestan bersatu di sebuah medley, yang menyertakan Waterloo
dan Ne partez pas sans moi milik
ABBA dan Celine Dion, dua pemenang Eurovision
paling populer. Mungkin. Karena sebagai non-penggemar, saya tak bisa bicara
mewakili mereka.
Sebagai non-penggemar, Eurovision
Song Contest: The Story of Fire Saga tidak menawarkan alasan yang menggoda
saya untuk mulai mengikuti kompetisinya. Ada berapa kontestan? Ada berapa
babak? Apa saja aturannya? Terpenting, kenapa Eurovision yang telah berjalan
lebih dari enam dekade begitu prestisius? Semua gagal dijawab, sehingga saat sang
protagonis—yang lagi-lagi mengandalkan gaya kekanak-kanakkan Will Ferrell yang
kelucuannya makin pupus—digambarkan amat terobsesi, penonton awam takkan
mengerti.
Tentu naskah yang ditulis oleh Ferrell bersama Andrew Steele
(Casa de mi padre) menambahkan alasan
lain di balik obsesi tersebut. Lars Erickssong (Will Ferrell) ingin membuktikan
diri pada ayahnya, Erick Erickssong (Pierce Brosnan), yang memandangnya remeh. Pun
kepada seluruh warga kampung (sebuah desa kecil di Islandia) yang senantiasa
menertawakannya. Caranya tak lain dengan bermimpi memenangkan Eurovision
sebagai The Fire Saga, duo musisi yang ia bentuk bersama sahabatnya sejak
kecil, Sigrit Ericksdóttir (Rachel McAdams).
Sigrit menyukai Lars. Orang-orang tidak paham, bagaimana bisa
gadis secantik dan sepintar dia menyukai pria aneh seperti Lars. Saya pun tidak
paham. Lars menolak kemungkinan adanya cinta di antara mereka, sebab
menurutnya, romansa internal dapat mengganggu stabilitas grup musik, sekaligus
memberi distraksi dalam usaha memenangkan Eurovision. Lars dikuasai ego. Dia
memaksakan aransemen lagu, konsep penampilan, tata kostum, dan lain-lain. Cuma
kemenangan yang dipikirkan. Kemenangan bagi diri sendiri, bukan berdua.
Nyaris tidak ada alasan mendukung Lars. Benar bahwa ia ingin
membuktikan diri, lelah jadi bahan olok-olok. Tapi pembangunan latar
belakangnya terlampau instan. Tidak peduli seberapa baik Pierce Brosnan
memerankan “pria tua terluka yang lelah melihat puteranya menyia-nyiakan hidup”,
hasilnya nihil tatkala koneksi ayah-anaknya tak tersampaikan secara memadai. Nantinya,
begitu kompetisi Eurovision digelar dan kontestan unggulan asal Rusia,
Alexander Lemtov (Dan Stevens), berusaha merebut hati Sigrit, sulit berpihak
pada Lars. Karena tak sekalipun kita menyaksikan sisi positif si tokoh utama.
Sementara humornya terlalu ragu untuk sepenuhnya melangkah ke
ranah komedi gelap, walau filmnya sudah mengandung beberapa kematian (baca:
pembunuhan) brutal, juga elemen incest yang beberapa kali disiratkan, baik
melalui dialog maupun pilihan nama karakter, yang harus diakui cukup kreatif
dan menggelitik. Ketimbang sepenuhnya melangkah ke sana, Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga memilih main aman, bergantung
pada keeksentrikan Ferrel yang mayoritas gagal mengenai sasaran, sedangkan
McAdams berusaha sekuat tenaga memaksimalkan materi yang sayangnya, sudah
terlanjur sukar diperbaiki. Apa humor terlucunya? Tentu saja “Jaja Ding Dong”.
Setidaknya film ini punya barisan lagu pop catchy, pula mampu meyakinkan kita,
bahwa performa The Fire Saga memang layak menjadikan mereka unggulan, khususnya
ketika membawakan lagu Husavik di
babak final yang terasa emosional. Ya, deretan lagu dan Rachel McAdams
merupakan nilai positif Eurovision Song
Contest: The Story of Fire Saga. Kalau anda penggemar Eurovision Song Contest, mungkin film ini masih bisa memberikan
hiburan. Kalau anda ingin menyaksikan Rachel McAdams memaning tawa, lebih baik
menonton ulang Game Night.
Available on NETFLIX
CIRCUS OF BOOKS (2019)
Rasyidharry
Juni 26, 2020
Bagus
,
Barry Mason
,
Documentary
,
Jeff Stryker
,
Karen Mason
,
Larry Flint
,
Rachel Mason
,
REVIEW
Tidak ada komentar
Terkait tema LGBT miliknya, Circus of Books mampu menyatukan elemen-elemen seperti persekusi
aparat, ketidakberpihakan hukum, agama, AIDS, keluarga khususnya parenthood, hingga dampak internet
terhadap industri pornografi. Semuanya saling terkait, menyatu mulus tanpa menghilangkan
fokus. Tapi yang membuat dokumenter ini spesial adalah protagonisnya, pasangan
suami-istri, Barry Mason dan Karen Mason. Khususnya Karen, yang sepanjang 92
menit durasi filmnya, mengalami setumpuk pertentangan batin sampai akhirnya
bertransformasi.
Rachel Mason selaku sutradara, merupakan puteri mereka.
Filmnya pun dibuka oleh rekaman home
video yang Rachel buat saat kecil. Kemudian, selama mewawancarai narasumber
termasuk Micah (sang kakak) dan Josh (sang adik), ketimbang menjadi sosok tak
terlihat di belakang kamera, wajah Rachel juga disorot, memperlihatkan
reaksi-reaksinya. Tujuannya tak lain melahirkan keintiman dan kesan personal.
Sekilas, Keluarga Mason tampak biasa. Barry dikenal lewat
senyum yang tak pernah luntur, sementara Karen merupakan sosok yang tegas,
figur pemimpin, sekaligus Yahudi yang taat. Baru ketika remaja, tiga bersaudara
itu tahu, bahwa orang tua mereka adalah pemilik Circus of Books, toko buku dan
pornografi gay (majalah, DVD, alat seks) yang legendaris. Terletak di West
Hollywood, California, toko ini ibarat suaka layaknya bar, di mana para gay
bisa berinteraksi secara bebas. Bahkan, gang belakang toko kerap jadi lokasi
orang-orang kehilangan keperjakaan. Gang itu disebut “Vaseline Alley”.
Semua berawal dari kesulitan finansial pada era 70an, yang
membuat Karen dan Barry nekat menawarkan diri menjadi distributor majalah
dewasa ternama Hustler buatan Larry Flint. Bisnis itu berkembang. Toko pun
didirikan, bahkan di satu titik, pasutri Mason turut memproduseri film-film
porno gay yang dibintangi Jeff Stryker. Tapi apa signifikansi sebuah toko
barang-barang hiburan dewasa?
Bagi kaum hetero, pornografi sebatas alat melampiaskan nafsu.
Tapi untuk gay, setidaknya mereka yang muncul sebagai narasumber, pada awal
kemunculannya, ada kebanggaan menonton para gay bercumbu dengan bebas tanpa
takut dihakimi. Berkat Circus of Books, beberapa orang tahu ia tidak sendiri di
dunia ini. Pun mengetahui apa yang dilakukan Karen dan Barry membuat sahabat
Rachel semasa SMA menyadari satu hal, bahwa saat tumbuh dewasa, individu tidak
harus menjalani hidup sesuai jalur yang dianggap “wajar” oleh masyarakat.
Karen dan Barry menginspirasi tanpa disadari dan diniati.
Keduanya tidak membenci LGBT, tidak berniat mengeksploitasi, tapi juga tak
terlibat dalam pergerakan kemanusiaan apa pun. Semua murni bisnis yang dirahasiakan
dari anak-anak mereka, yang wajib menundukkan kepala bila terpaksa harus diajak
memasuki toko. Rachel sendiri baru tahu kalau Circus of Books merupakan toko
porno semasa SMA. Fakta yang ia ketahui dari teman-teman, bukan orang tuanya.
Lalu tibalah kita pada penelusuran paling engaging, yakni seputar Karen. Dia
berasal dari keluarga religius, adalah seorang religius, dan mendidik
anak-anaknya agar menjadi religius. Karen bukan anti-LGBT, tapi menganggap itu
sebagai konsep yang berada di luar lingkup kehidupan pribadi. Alhasi, meski
dianggap sosok berpengaruh di komunitas gay, awalnya tak ada kebanggaan sedikit
pun dalam dirinya terkait apa yang ia dan sang suami lakukan. Hal itu nampak
saat beberapa kali Karen mengeluh pada
Rachel. “Kenapa kamu merasa ini pantas dijadikan dokumenter? Bagian mana yang
menarik? Seharusnya kamu membahas hal lain saja”.
Sampai suatu hari, ia terpukul kala menyadari bahwa LGBT
tidaklah “sejauh” itu, yang memancing dilema, mengingat agamanya mengharamkan
hubungan sesama jenis. “Apabila terkait orang lain, mungkin kamu tidak
bermasalah, tapi bagaimana jika itu menyangkut orang terdekatmu?”, jadi
pertanyaan dilematis yang berusaha Karen (dan mungkin juga penonton) jawab. Paruh
akhir Circus of Books fokus menyoroti
proses Karen. Bagaiamana ia mempelajari kitab suci demi memahami konteks
mengapa gay disebut sebagai “abomination”.
Proses ini termasuk salah satu pemberi dampak emosional terbesar filmnya. Kamu
bisa menjadi religius tanpa harus berpikiran sempit, dan sebaliknya, menjadi
liberal bukan berarti mewajibkanmu membenci religiuisitas.
Mengangkat tema kompleks, bahkan sempat beberapa kali
menyentuh ranah lebih kelam khususnya saat AIDS mewabah dan merenggut nyawa
orang-orang di sekitar karakternya dalam waktu berdekatan, tak membuat Circus of Books terkesan berat apalagi
depresif. Ingat, film ini melibatkan Ryan Murphy selaku produser eksekutif.
Kelakar-kelakar menggelitik, juga estetika cheesy
pornografi vintage, jadi alasan
filmnya tetap tampil menghibur. Circus of
Books adalah tontonan positif sekaligus penuh harap. Penutupnya
memperlihatkan akhir sebuah era, namun bukan akhir perjuangan. Perjuangan untuk
mencintai dan dicintai.
Available on NETFLIX
BULBBUL (2020)
Rasyidharry
Juni 25, 2020
Anushka Sharma
,
Anvita Dutt
,
Avinash Tiwary
,
Cukup
,
Drama
,
Hindi Movie
,
horror
,
Paoli Dam
,
Rahul Bose
,
REVIEW
,
Tripti Dimri
1 komentar
Apa yang Bulbbul gagal
lakukan adalah menyuguhkan horor mencekam. Sinopsis di halaman Netflix hingga
materi-materi promosinya ibarat clickbait
guna menggaet atensi penonton secara luas, membuat mereka berharap diteror,
lalu mendapati filmnya lebih tertarik menyajikan drama, meski memang betul,
mengandung elemen supernatural. Pun Anvita Dutt, yang melakoni debut
penyutradaraan selepas karir panjang sebagai penulis lirik soundtrack, belum piawai memaksimalkan intensitas dalam membungkus
adegan bernuansa horor.
TAPI, sebagai kritik terhadap isu gender, Bulbbul tampil tegas sekaigus berani
mendobrak batas. Bukan kejutan, mengingat film ini diproduseri oleh Anushka
Sharma—yang selalu vokal menyuarakan perihal kesetaraan gender—di bawah naungan
rumah produksi miliknya, Clean Slate Films.
Mengambil latar tahun 1881, kita diperkenalkan pada sepasang
bocah berusia 5 tahun, Bulbbul dan Satya. Tidak butuh waktu lama sampai kita
sadar, Bulbbul hendak dibawa pergi dari rumah orang tuanya untuk dinikahkan.
Tapi bukan dengan Satya (which is
disturbing enough), melainkan dengan Indranil (Rahul Bose), kakak sulung
Satya yang puluhan tahun lebih tua. Bulbbul
memang gagal menampilkan horor supernatural memikat, namun kisahnya
memaparkan realita yang jauh lebih mengerikan.
Selain Indranil dan Satya, di rumah tersebut juga tinggal saudara
kembar Indranil yang mengalami gangguan mental, Mahendra (juga diperankan Rahul
Bose) beserta sang istri, Binodini (Paoli Dam). Mahendra pun diperlihatkan
menyimpan ketertarikan pada si kecil Bulbbul. Patriarki mengakar begitu kuat di
keluarga ini, bahkan saat Bulbbul menjadi korban pelecehan, alih-alih
mengulurkan tangan sebagai sesama wanita, Binodini malah menyuruhnya bungkam.
Itulah salah satu bentuk realita pahit yang tak
dikesampingkan oleh naskah buatan Anvita Dutt. Sebagaimana gay bisa menjadi homophobic, orang kulit hitam bisa
bertindak rasis terhadap komunitasnya, seksisme pun dapat terjadi antara wanita
yang sama-sama jadi korban ketidakadilan. Sebabnya tak lain konsep patriarki
yang telah mengakar sedemikian kuat dan dilestarikan sedemikian lama. “Satu-satunya
hal pribadi dalam hidup istri adalah suaminya”, kata Indranil. Kalimat tersebut
cukup menggambarkan keseluruhan dinamika yang terjadi.
Kemudian kisahnya melompat 20 tahun, ketika Satya (Avinash
Tiwary) pulang dari London setelah menumpuh pendidikan hukum. Dia mendapati
banyak perubahan. Indranil telah pergi, Mahendra tewas dibunuh oleh pelaku yang
belum diketahui, sedangkan Bulbbul (Tripti Dimri) menjadi matriarch di keluarga. Satya merasa Bulbbul kini berbeda, dan
penampilan Tripti Dimri, yang sebelumnya pernah berpasangan dengan Avinash
Tiwary dalam Laila Majnu (2018),
membuat kita ikut mengamini itu. Alurnya bergerak maju-mundur. Pada bagian flashback, Bulbbul masih sesosok wanita
rapuh. Seorang korban yang hanya bisa pasrah dan beserah. Sementara di “era
sekarang”, figurnya kokoh matanya bersinar, senyumnya lebar, menampakkan kesan
cerah yang agak aneh (in a positive way),
intimidatif, bahkan cukup creepy.
Tapi bukan cuma perubahan Bulbbul yang mengganggu pikiran
Satya, pula kasus pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah pria,
tepatnya pria yang melakukan tindak kekerasan serta pelecehan kepada wanita.
Dia pun mulai melakukan penyelidikan. Beberapa warga, termasuk Binodini,
percaya bahwa pelakunya adalah penyihir dari legenda, walau Satya menaruh
kecurigaan pada dokter bernama Sudip (Parambrata Chattopadhyay). Kecurigaan
yang sejatinya bercampur rasa cemburu akibat kedekatan sang dokter dengan
Bulbbul.
Beberapa adegan pembunuhan ditampilkan, mayat-mayat
dipertontonkan, tapi seperti telah disinggung, Anvita Dutt belum memiliki
kapasitas memadai guna memunculkan kengerian dan ketegangan dari rentetan
peristiwa di atas. Sang sutradara cenderung mementingkan visual bergaya, salah
satunya lewat penggunaan warna merah darah di adegan malam hari. Filmnya
ditutup oleh efek suara tawa (atau tangisan?) wanita yang amat menyeramkan,
memunculkan pertanyaan mengapa elemen itu tidak diterapkan sejak awal.
Adegan-adegan yang memperlihatkan pernikahan anak, domestic abuse, pedofilia, sampai
pemerkosaan justru jauh lebih mengerikan serta menjijikkan, seolah Anvita jauh
lebih tertarik mempresentasikan itu ketimbang horor supernaturalnya. Dan
memang, paparan isunya kuat sekaligus berani. Romantisme ditiadakan demi
menyuarakan “para pria ini semuanya sama”. Para pria yang dibutakan kecemburuan
berdasarkan pemikiran bahwa si wanita merupakan miliknya, dan miliknya seorang.
Pun gangguan mental tak bisa dijadikan pembenaran atas ketidakmampuan pria
menyimpan kelaminnya tetap di dalam celana.
Available on NETFLIX
GOLKERI (2020)
Rasyidharry
Juni 20, 2020
Amatya Goradia
,
Comedy
,
Drama
,
Hindi Movie
,
Lumayan
,
Malhar Thakar
,
Manasi Parekh Gohil
,
REVIEW
,
Romance
,
Sachin Khedekar.Vandana Pathak
,
Salil Amrute
,
Viral Shah
6 komentar
Golkeri bukan cuma tentang usaha karakter
utama merebut kembali cinta kekasihnya, walau momen tersebut tetap bisa
ditemukan. Merupakan remake versi
Gujarat dari film Marathi berjudul Muramba
(2017), Golkeri membicarakan soal
hubungan romansa, namun bukan cuma mengenai romantisme pasangannya, pula terkait
orang tua, bahkan urusan gender, di mana (pada akhirnya), si tokoh utama pria
berani berujar, “My male ego has ruined
everything”. Dengarkan itu wahai para pria.
Sahil (Malhar Thakar) dan Harshita (Manasi Parekh Gohil)
sudah berpacaran selama dua tahun. Pernikahan mereka pun telah direncanakan.
Harshita adalah seorang komika stand-up
yang baru merintis. Pertemuan perdana keduanya, yang juga awal tumbuhnya benih
cinta, terjadi di sebuah pertunjukan Harshita yang gagal. Ironisnya, dua tahun
berselang, hubungan mereka berakhir di pertunjukan Harshita yang sukses besar.
Semua penonton tertawa kecuali Sahil, yang tersinggung mendengar lelucon sang
kekasih tentang sosok pacar.
Mengapa ia tersinggung? Sebelum sampai ke sana, biarkan saya
membahas soal pilihan musik, yang membuat beberapa visi penyutradaraan Viral
Shah patut dipertanyakan. Momen putusnya Sahil dan Harshita memadukan unsur
pertengkaran dramatis dengan taburan bumbu-bumbu humor witty. Tapi sebagai latar, musik buatan Salil Amrute
memperdengarkan dramatisasi luar biasa, bak tengah mengiringi suatu tragedi.
Ketidakcocokan musik terjadi beberapa kali lagi, dan Viral gagal menegaskan,
apakah itu kesengajaan—mengingat melebih-lebihkan dramatisasi juga bisa menjadi
bentuk lelucon—atau memang keputusan artistik yang buruk.
Kembali soal momen putus. Sahil mengakhiri hubungan akibat lelucon
Harshita, yang menyentil para pria (boyfriends)
yang egois, tidak menghasilkan uang, dan lain-lain. Sahil tersinggung.
Pertanyaannya, apakah ia persis seperti deskripsi tersebut? Kurang lebih. Walau
berprestasi semasa kuliah, Sahil tidak pernah menetap lama di satu pekerjaan.
Bahkan sudah berbulan-bulan ia menganggur. Saat Harshita bercerita tentang
pertambahan pesat subscribers di
kanal Youtube miliknya, Sahil membahas bagaimana dalam sehari, ada ratusan
permintaan berteman di akun Facebook-nya, seolah itu kompetisi. Itulah ego
lelaki yang menghancurkan hubungan.
Mendengar kabar itu, ayah dan ibu Sahil (diperankan Sachin
Khedekar dan Vandana Pathak) terkejut. Sudah begitu jatuh hati mereka kepada si
calon menantu. Di sinilah naskah buatan Viral Shah dan Amatya Goradia menambahkan
elemen drama keluarga, tatkala orang tua Sahil diam-diam menyusun rencana untuk
mempersatukan keduanya lagi. Hubungan percintaan, apalagi ketika mendekati
jenjang pernikahan, memang bukan cuma melibatkan dua sejoli, pula keluarga, dan
penyertaan ikatan familial ini turut berjasa menambah bobot emosi film.
Highlight-nya adalah saat orang tua Sahil,
memaksanya dan Harshita ikut makan bersama di sebuah cafe. Keempatnya lalu
bermain jenga. Naskahnya mampu menyulap keseruan jenga jadi media menyatukan
romantisme manis dengan kehangatan parental
love di satu meja. Tentu akting pemain juga berperan memperkuat jalinan
rasa, khususnya Vandana Pathak dan Sachin Khedekar (sang aktor mengulangi
perannya di Muramba sebagai ayah
protagonis), yang berhasil membuat saya berharap Sahil mampu membahagiakan
orang tuanya, dengan cara menyadari lalu menebus kesalahannya, sehingga bisa
merebut hati sang mantan lagi.
Sayangnya, di sisi lain, drama keluarganya juga menyibak
kelemahan terbesar naskah. Fokusnya sempat melebar, menampilkan pertengkaran
Sahil dengan ibunya, yang menyentuh benturan budaya antar-generasi . Bukan sebatas
selipan singkat, melainkan permasalahan yang cukup memakan waktu, dengan
satu-satunya tujuan hanyalah menambah konflik. Pun ragam tema yang coba
disatukan gagal dijembatani secara mulus. Garis pemisah antara tema tersebut
nampak terlalu jelas.
Babak pertama murni tentang romansa dengan sedikit bumbu
dinamika gender, babak kedua adalah drama keluarga, sebelum memasuki babak
ketiga yang kembali menitikberatkan pada romansa, walau kali ini perihal gender
lebih lantang diutarakan, ditambah proses Sahil belajar mengakui kesalahan
sekaligus keburukan-keburukannya. Dampaknya, begitu film usai, mungkin anda
bakal kebingungan menentukan, apa sebenarnya capaian utama yang ingin Golkeri raih.
Tapi tak bisa dipungkiri, ini adalah drama-komedi yang solid,
dalam arti dramanya berhasil mengaduk-aduk perasaan, sementara komedinya
efektif memancing tawa—termasuk saat Sahil menemui orang tua Harshita dan
dipaksa melihat konsep-konsep pesta pernikahan unik bertema film dan serial
televisi. Terkait romansa, setidaknya Golkeri
menjadi pengingat kesekian, betapa hubungan semestinya berjalan seimbang
terkait pengorbanan yang diambil, dan bahwa ego berbasis maskulinitas adalah
racun bagi sebuah hubungan.
Available on PRIME VIDEO
A WHISKER AWAY (2020)
Rasyidharry
Juni 19, 2020
Animated
,
Ayako Kawasumi
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
Junichi Sato
,
Mari Okada
,
Minako Kotobuki
,
Mirai Shida
,
Natsuki Hanae
,
REVIEW
,
Tomotaka Shibayama
,
Yorushika
1 komentar
Lelah menjalani hidup? Membenci diri sendiri? Pernah berkelakar
ingin berubah menjadi kucing agar sepanjang hari bisa terus-terusan makan dan
tidur, dimanja tanpa mengkhawatirkan apa pun? A Whisker Away mewujudkan kelakar tersebut melalui perjalanan protagonisnya,
Miyo (Mirai Shida), yang menyadari bahwa menjadi orang lain (atau dalam konteks
ini makhluk lain), tidaklah semenyenangkan itu. Bahwa selalu ada yang menaruh
kepedulian selama kita bersedia membuka hati.
Selain sahabatnya sejak kecil, Yoriko (Minako Kotobuki), mungkin
tak ada yang menyangka hidup Miyo tidaklah bahagia. Di sekolah (ia duduk di
bangku SMP), tingkahnya selalu ceria, bahkan gemar melakukan keanehan-keanehan
yang membuatnya dipanggil Muge (dalam versi terjemahan Bahasa Inggris diartikan
sebagai Miss Ultra Gaga and Enigmatic).
Sikap serupa diperlihatkan Miyo kepada siswa pujaannya, Hinode (Natsuki Hanae),
yang tanpa henti dikejarnya, meski senantiasa memberi respon dingin.
Tapi sebenarnya dia memakai topeng. Miyo memandang rendah
dirinya, pun merasa tak punya tempat di rumah, di mana ia mesti tinggal bersama
ibu tirinya, Kaoru (Ayako Kawasumi). Mari Okada (The Anthem of the Heart, Her Blue Sky) mengangkat tema teen angst lewat naskahnya yang memahami
kompleksitas proses coming-of-age, khususnya
pada remaja yang kehidupannya jauh dari “baik-baik saja". Dinamika batin
si remaja pasti diwarnai banyak kebingungan. Contoh terbaik adalah soal masakan
hambar Kaoru. Miyo tidak menyukai makanan hambar. Tapi dia menikmati
ketidaksukaan itu, sebab baginya, tidak suka terhadap seorang wanita asing yang
“memaksa” masuk ke hidupnya merupakan kewajaran. Kemudian Kaoru mulai
menambahkan bumbu lebih dimasakannya. Miyo makan dengan lahap, namun ia
membenci situasi tersebut. “Tidak seharusnya aku menikmati ini”, pikirnya.
Di adegan pembuka, Miyo bertemu dengan seekor kucing
berukuran manusia yang menjual topeng di festival kembang api. Beberapa waktu
berselang, Miyo bercerita pada Yoriko tentang bagaimana dia dan Hinode
berpelukan mesra selama festival. Tentu Yoriko tidak percaya. Toh Miyo memang
sering berimajinasi—penokohan yang oleh dua sutradaranya, Junichi Sato (dikenal
lewat deretan anime bertema magical girl seperti Sailor Moon dan Magical DoReMi) dan Tomotaka Shibayama, guna menyelipkan beberapa
visual bernuansa fantasi di antara realisme slice
of life.
Rupanya itu benar-benar terjadi, hanya saja, Miyo berada
dalam wujud kucing. Mengenakan topeng kucing yang dibelinya, Miyo dapat
bertransformasi. Sebagai kucing yang diberi nama Taro oleh Hinode, setiap hari
Miyo menyambangi rumah pujaannya itu. Tapi tenang. Kisahnya takkan terasa
seperti romantisasi seorang penguntit. Miyo bukan sebatas ingin curi-curi
kesempatan, pula mencari suaka atas kebenciannya terhadap diri sendiri. Hingga
garis pemisah antara sisi kemanusiaan dan kucing Miyo makin memudar, lalu
membawanya mempelajari banyak hal.
Dan naskahnya memang merangkum banyak hal seputar nilai-nilai
kehidupan, yang walau dipenuhi lika-liku rumit (perceraian, penerimaan diri, bullying, keterasingan, dan lain-lain),
tak pernah tampil terlalu kelam. Perspektif positif yang akan membuat
penontonnya tersenyum begitu film usai, diusung tanpa harus jadi tontonan
inspiraitf yang kerap memandang sebelah mata dinamika psikis manusia. Deretan
humor, ditambah polah eksentrik Miyo turut serta menyegarkan suasana.
Menjelang babak akhir, elemen fantasi mulai mengental,
menggantikan slice of life dengan perjalanan
magis, yang sayangnya sedikit berantakan perihal rules. Suguhan fantasi, meski memperluas cakupan eksplorasi, bukan
berarti memperbolehkan naskahnya bertindak sesuka hati. A Whisker Away sempat jatuh ke lubang itu. Seolah penulisnya
mengarang hal-hal baru di tengah perjalanan hanya demi menambah rintangan yang
mesti protagonisnya tempuh.
Sejauh apa pun filmnya menyambangi keajaiban-keajaiban, pada
akhirnya, kekuatan terbesarnya tetap terletak di drama. Sato dan Shibayama
piawai memainkan emosi. Misalnya sewaktu Miyo mendengar ungkapan kebencian Hinode.
“Kamera” mengambil gambar close up, meletakkan
fokus ke ekspresi Miyo yang biarpun tersenyum lebar, pipinya dibasahi air mata
yang mengalir deras. Sebuah pengadeganan yang membuat momen itu semakin heartbreaking. Dan seringkali, dampak momen-momen
emosionalnya bertambah berkat visual cantik, juga musik melankolis gubahan
Yorushika.
Available on NETFLIX
THE ODD FAMILY: ZOMBIE ON SALE (2019)
Rasyidharry
Juni 15, 2020
Comedy
,
Jung Ga-ram
,
Jung Jae-young
,
Kim Nam-gil
,
Korean Movie
,
Lee Min-jae
,
Lee Soo-kyung
,
Lumayan
,
Park In-hwan
,
REVIEW
,
Uhm Ji-won
1 komentar
Sejak Train to Busan, tema
zombie menemukan popularitas baru di Korea Selatan. Di layar lebar, bermunculan
judul-judul seperti Rampant (2018), Alive (2020), dan tentunya sekuel dari
film garapan Yeon Sang-ho itu sendiri, Peninsula
(2020). Sedangkan di layar kaca, Kingdom
tengah menantikan musim ketiganya. Maka tidak mengherankan jika gelombang
besar tersebut turut melahirkan film zombie dengan sentuhan komedi. Sambutlah The Odd Family: Zombie On Sale.
Latarnya di sebuah pedesaan, di mana protagonis kita,
Joon-gul (Jung Jae-young), mempunyai pom bensin yang didirikan bersama sang
ayah, Man-deok (Park In-hwan). Dia memiliki dua adik, Min-gul (Kim Nam-gil)
yang baru pulang setelah dipecat dari pekerjannya, dan Hae-gul (Lee Soo-kyung),
si gadis pendiam yang gemar membunuh kelinci. Kehamilan istrinya, Nam-joo (Uhm
Ji-won), ditambah bisnis pom bensin yang gagal, “memaksa” Joon-gul menjalankan
jasa derek dan bengkel, sembari menebar paku di jalan agar memperoleh konsumen.
Suatu hari datanglah sesosok zombie (Jung Ga-ram). Anda
keliru kalau berpikir ia bakal menebar teror. Dari dikejar anjing, ditendang
selangkangannya, hingga ditabrak truk derek, mungkin inilah zombie paling tidak
mengancam sekaligus paling malang. Dia sempat menggigit Man-deok, sebelum
akhirnya singgah di rumahnya. Berkat browsing
plus menonton klip Train to Busan, Man-deok
sekeluarga menyadari bahwa pemuda aneh ini adalah zombie.
Tapi ada yang beda dari si zombie. Alih-alih daging atau otak
manusia, dia lebih menyukai kubis yang diolesi saus. Pun bukannya berubah jadi
zombie, setelah digigit Man-deok malah bertambah muda. Kerutnya lenyap,
rambutnya menghitam, dan penisnya bisa ereksi, sehingga menciptakan kehebohan
bagi kalangan lansia di penjuru desa. Semua ingin bernasib sama. Ketika
mayoritas manusia di film zombie berusaha kabur, orang-orang di film ini malah
berbondong-bondong meminta digigit zombie (setidaknya sebelum memasuki third act).
Lalu tercetus ide “brilian” untuk membisniskan gigitan
zombie, yang oleh Hae-gul diberi nama Jjong-bi. Lee Min-jae selaku sutradara
sekaligus penulis naskah memang gemar bermain pelesetan soal nama karakter. Min-gul
memanggil Hae-gul dengan “Hey Girl”,
sedangkan kelinci-kelinci si gadis remaja punya nama-nama seperti Ho-dong dan
Soo-geun (dua komedian ternama Korea Selatan).
Tidak semua humornya mendarat tepat sasaran, namun saat
berhasil, kita akan menyaksikan kreatvitias Min-jae perihal mengocok perut
penonton. Misalnya saat sang sutradara mengubah serbuan pasukan zombie jadi bak
pesta di kelab malam, lengkap dengan seorang DJ. Kreativitas dalam
bersenang-senang itulah yang berfungsi sebagai penyegar, tatkala premis soal
zombie sebagai peliharaan (kemudian keluarga) bukan lagi suatu modifikasi baru.
Kita sudah pernah mendapatkan Fido (2006).
Begitu pula unsur romansa antar-spesies yang mulai dibangun sewaktu Hae-gul dan
Jjong-bi berkejar-kejaran di ladang kubis diiringi lagu Rebirth milik Yoon Jong-shin, sebuah pilihan yang juga merupakan
humor tersendiri.
Sedikit disayangkan, babak ketiganya, yang menyelipkan referensi-referensi
untuk seri film The Dead kepunyaan
George A. Romero, tak mencapai puncak keseruan, salah satunya akibat rendahnya
kuantitas gore, yang mana substansial
dalam film zombie. Setidaknya, The Odd
Family: Zombie On Sale mampu memanfaatkan keklisean konsep “memanusiakan
zombie” sebagai senjata guna menambahkan hati pada kisahnya, pula menghibur
lewat jajaran humornya.
Available on VIU
DA 5 BLOODS (2020)
Rasyidharry
Juni 13, 2020
Bagus
,
Chadwick Boseman
,
Clarke Peters
,
Delroy Lindo
,
Drama
,
Isiah Whitlock Jr.
,
Jonathan Majors
,
Kevin Willmott
,
Newton Thomas Sigel
,
Norm Lewis
,
REVIEW
,
Spike Lee
,
War
Tidak ada komentar
“That’s one small step
for man, one giant leap for mankind”, ucap Neil Armstrong saat menapakkan
kaki di bulan. Sang astronot sempat menyatakan ada kesalahan pengutipan
terhadap pernyataannya. Bukan “for man”,
melainkan “for A man”. Tentu saja
koreksi itu tak dipedulikan, sebab kalimat yang keliru itu terkesan lebih
megah, lebih menjual sebagai branding terhadap
pendaratan di bulan: Sebuah lompatan besar bagi umat manusia. Tapi sebagaimana
Spike Lee (Do the Right Thing,
BlacKkKlansman) siratkan melalui rangkaian footage selaku sekuen pembuka, lompatan besar macam apa di saat
banyak anak-anak masih didera kelaparan?
Lompatan besar macam apa di saat rasisme terus merajalela?
Perang Sipil menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya.
Perang Dunia II menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak
mendapatkannya. Perang Vietnam menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka
tidak mendapatkannya. Sementara Hollywood sendiri dituding melakukan whitewashing dalam mengemas film perang
mereka. Itu pula yang beberapa tahun lalu sempat membuat Spike Lee bersitegang
dengan Clint Eastwood setelah perilisan Flags
of Our Father dan Letters from Iwo
Jima pada 2006. Lee menuding Eastwood menutup mata atas peran prajurit
kulit hitam.
Selang 14 tahun, Lee merilis Da 5 Bloods, yang sejatinya merupakan naskah berjudul The Last Tour buatan Danny Bilson dan
Paul De Meo, yang rencananya bakal disutradarai Oliver Stone. Bisa ditebak,
karakternya berkulit putih. Lee menulis ulang naskahnya bersama Kevin Willmott
yang telah menjadi partnernya sejak Chi-Raq
(2015), mengubah ras protagonis, menjadikannya film pertama soal Perang
Vietnam yang dituturkan lewat kaca mata prajurit kulit hitam.
Bisa ditebak, hasilnya adalah tontonan menghibur sekaligus
kritis nan tajam. Siapa lagi yang berani mengolok-olok kepalsuan Rambo selain
Spike Lee? Kisahnya sendiri mengetengahkan empat veteran, Paul (Delroy Lindo),
Otis (Clarke Peters), Eddie (Norm Lewis), dan Melvin (Isiah Whitlock Jr.), yang
kembali ke Vietnam, bukan sebatas untuk reuni, melainkan membawa pulang jenazah
pemimpin tim mereka dahulu, Norman (Chadwick Boseman). Nantinya, turut menyusul
pula David (Jonathan Majors), putera Paul, yang punya hubungan kurang baik
dengan sang ayah.
Tapi ada satu lagi misi rahasia yakni mencari peti berisi
emas, yang kelimanya kubur di tengah peperangan. Emas itu sejatinya dipakai
oleh pemerintah Amerika Serikat guna membayar jasa penduduk lokal agar mau
bertempur di pihak mereka. Tapi pesawat yang membawanya jatuh. Norman meyakinkan
rekan-rekannya untuk membawa emas tersebut, sebagai bentuk pelunasan hutang
pemerintah Amerika atas tindakan sewenang-wenang mereka terhadap kaum kulit
hitam.
Tentu banyak rintangan membentang, tapi yang paling menghantui
adalah pergulatan karakternya dengan diri sendiri akibat trauma, dan Da 5 Bloods menyiratkan bahwa trauma itu
bermuara pada rasisme. Rasisme oleh siapa? Kulit putih tentunya, yang
bertanggung jawab menyebarkan, bahkan mempopulerkan rasisme. Di sebuah
kesempatan, warga Vietnam sempat melontarkan kata-kata bernada rasial, yang
menurut pengakuan mereka, diajarkan oleh kulit putih.
Keempat protagonisnya menyimpan luka lama, tapi jelas Paul
yang paling terdampak. Digerogoti PTSD, ia mengaku selalu ditemui Norman setiap
malam. Satu elemen menarik adalah ketika Paul dengan bangga menyatakan memilih Trump,
memakai topi MAGA (Make America Great
Again), bahkan mendukung pembangunan tembok demi menghalangi masuknya
imigran. Ini adalah penokohan kompeks, thought-provoking,
mungkin juga membingungkan.
Agar memahaminya, kita perlu memperhatikan konteks, serta
ucapan-ucapan dari mulut Paul. Dia merasa selalu dikhianati, baik sebagai kulit
hitam yang dijanjikan kebebasan, maupun prajurit, yang disebut “pembunuh
anak-anak” sepulangnya ia ke tanah air selepas (dipaksa) bertaruh nyawa. Dia
merasa selalu jadi pihak yang kalah. Paul lelah akan semua itu. Sudah terlalu
hancur hatinya. Begitu muncul figur yang lantang menyatakan “Aku akan
menjadikan kita pemenang”, Paul tergoda oleh bayangan superioritas tersebut. Pilihan
yang tentu saja cuma menambah kekalutan hatinya.
Delroy Lindo memerankan Paul dalam tingkat kompleksitas
serupa, dengan mata yang senantiasa diwarnai teror, sesekali menjadi pria
penyayang, sesekali menjadi pria sedih, lalu di waktu lain menjadi pria penuh
ketakutan. Puncaknya ketika Paul mencapai “batas” dan melakukan monolog sembari
menatap ke arah kamera, seolah ingin meluapkan segalanya kepada penonton.
Secara berulang, alurnya mengajak kita mundur ke masa lalu mengunjungi
medan perang, melalui flashback yang
kembali membuktikan bahwa Spike Lee adalah sutradara yang menaruh bobot
seimbang kepada gaya dan substansi. Flashback-nya
memakai rasio aspek 1.33:1, sementara sinematografer Newton Thomas Sigel (Drive, Bohemian Rhapsody) merekamnya
menggunakan format film 16 mm, melahirkan kesan bak newsreel di zaman perang.
Menariknya lagi, flashback-nya
tidak memakai riasan, CGI, atau aktor lain untuk memerankan versi muda
karakternya. Selain alasan biaya plus ketidaksukaan Lee akan penggunaan lebih
dari satu aktor, pilihan ini juga menguatkan kesan bahwa flashback yang kita saksikan adalah memori di kepala karakternya.
Bukankah kala kita bermimpi atau membayangkan mengenai masa lalu, secara tidak
sadar kita cenderung memvisualisasikan diri kita dari masa kini?
Satu contoh lain perihal keseimbangan Lee bergaya dan
bertutur dapat disimak ketika seorang prajurit Vietnam membicarakan soal
pembantaian My Lai. Beberapa kali Lee menyelipkan cuplikan foto pembantaian
tersebut. Hanya sekilas, hingga agak sulit mencerna gambar apa yang ada di
layar. Otomatis, penonton terpancing untuk menajamkan pandangan agar tak
melewatkan gambar berikutnya. Dan tepat saat itu dilakukan, Lee memasang foto
jenazah seorang bocah yang kepalanya tertembak. Tapi alih-alih berlalu secepat
kilat seperti sebelumnya, foto itu bertahan lebih lama, dan berujung efektif menanamkan
gambaran memilukan di benak penonton.
Sejak Girl 6 (1996),
semua film Spike Lee selalu menembus durasi dua jam, kecuali karya terburuknya,
Oldboy (2013). Tidak jarang itu
menimbulkan masalah dinamika. Begitu pula Da
5 Bloods, yang andai tak berlangsung selama 154 menit pun, takkan
mengurangi kekuatan tuturannya (bahkan menambah) mengenai para veteran yang
gemar berucap, “5 bloods don’t die. We
multiply”. Familiar dengan kalimat tersebut? Tentu saja. Sebab di negara
mana pun, tentang isu apa pun, itulah roh suatu perjuangan.
Available on NETFLIX
CLASSIC AGAIN (2020)
Rasyidharry
Juni 12, 2020
Cukup
,
Ranchrawee Uakoolwarawat
,
REVIEW
,
Romance
,
Samitpong Sakulponghcai
,
Sutthirak Subvijitra
,
Thai Movie
,
Thatchaphong Suphasri
,
Thitipoom Techaapaikhun
6 komentar
Sebagai remake, Classic
Again tak memberi warna baru, apalagi mengobrak-abrik pondasi yang disusun
oleh The Classic (2003), yang
menampilkan Son Ye-jin, Jo In-sung, dan Cho Seung-woo di jajaran pemeran
utamanya. Hal itu menciptakan dua sisi. Pertama, value film ini jelas tak setinggi pendahulunya. The Classic (kemudian diteruskan oleh A Moment to Remember) merupakan pionir
gelombang melodrama Korea Selatan, sedangkan Classic Again muncul 17 tahun kemudian tatkala formula serupa entah
sudah berapa kali kita saksikan.
Sisi kedua (sisi yang lebih positif), adalah, lewat kesetiaannya mengadaptasi, debut penyutradaraan Thatchaphong Suphasri ini mampu
menghadirkan nostalgia bagi penggemar. Classic
Again memahami momen-momen ikonik film aslinya, guna melakukan reka ulang
dengan baik. Ketika dua tokoh utamanya berlari di bawah hujan dengan hanya
sebuah jaket melindungi kepala mereka, sambil diiringi lagu One Memory (versi Thailand dari Me to You, You to Me), anda akan
tersenyum merenungi masa-masa indah cinta pertama dahulu.
Ranchrawee Uakoolwarawat melanjutkan jejak Son Ye-jin
memerankan dua karakter, Bota dan ibunya, Dala, di mana kisah cinta keduanya
saling bersinggungan meski terpisah puluhan tahun, seolah menegaskan ungkapan “love will find a way”. Tinggal sendirian
di Thailand sementara sang ibu berada di Korea (salah satu reference terhadap The
Classic selain kemunculan posternya), Bota kerap menenggelamkan diri membaca
surat-surat cinta ibunya. Lalu kisahnya bergerak maju-mundur, sesekali melempar
kita ke masa sekitar lima dekade lalu, ketika romansa Dalah dan Kajorn (Thitipoom
Techaapaikhun) berlangsung.
Bota menuangkan surat-surat tersebut ke dalam naskah
pertunjukan teater, di mana Non (Sutthirak Subvijitra) menjadi pemeran utama
pria. Bota diam-diam menyukai Non, tapi sebagaimana Dalah yang telah dijodohkan
dengan sahabat Kajorn, Tanil (Samitpong Sakulponghcai), Bota pun mengalami
dilema, sebab sahabatnya juga menyukai Non, bahkan menjadi pemeran utama wanita
di pertunjukan tersebut. Menyusul selanjutnya adalah perjalanan yang
menunjukkan betapa takdir bergerak secara misterius dalam campur tangannya pada
pertemuan dua hati, yang penuh kejutan.
Classic Again begitu setia kepada film aslinya
sampai anda bisa membuat checklist berisi
adegan-adegan penting mana saja yang disertakan lagi. Dan checklist itu bakal terisi penuh. Sayangnya, sesekali proses
memenuhi checklist itu menjadikan
filmnya seolah hanya menjalankan kewajiban ketimbang menyajikan rangkaian
cerita organik. Alhasil pergerakannya kerap buru-buru (walau seperti The Classic, permainan temponya
cenderung lambat bila dibandingkan banyak romansa modern), dan beberapa momen
signifikan berlalu begitu saja tanpa kesan berarti. Contohnya sebuah keputusan
mencengangkan dari salah satu karakter, yang semestinya berperan penting dalam
pengambilan keputusan protagonis, lalu menciptakan titik balik dalam kisahnya.
Tapi kelemahan di atas tak serta-merta menjadikan Classic Again sebuah remake inferior, khususnya saat ada
poin-poin yang dipresentasikan lebih baik daripada pendahulunya. Sebutlah penokohan
Tanil. Tidak seperti Tae-soo di The
Classic yang begitu konyol sehingga kurang seimbang sebagai pesaing cinta
Joon-ha, Tanil lebih dekat ke sosok remaja bengal, tanpa menanggalkan unsur
tindak kekerasan yang ia terima dari sang ayah.
Memasuki babak akhir, Classic
Again pun unggul perihal melahirkan paralel, dengan menampilkan
potongan-potongan peristiwa serupa antara dua kisah cinta beda zamannya, yang membuat
dampak emosinya semakin kuat, walau soal melukiskan romantisme menyentuh dalam
seuatu momen, Thatchaphong Suphasri belum selihai Kwak Jae-yong (sutradara The Classic). Terkait latar waktu, tidak
ada masalah dalam pemindahan lokasi dari Korea Selatan ke Thailand. Selain terlibat
aktif di Perang Vietnam, tahun 70an pun sama-sama merupakan masa penuh kemelut
bagi kedua negara, ketika deretan pergerakan serta demonstrasi kerap terjadi.
Di jajaran pemain, Ranchrawee Uakoolwarawat melakoni debut
layar lebar yang takkan mengejutkan bila berujung melambungkan status
kebintangannya. Sang aktris memerankan dua figur ibu-anak yang serupa tapi tak
sama. Dalah maupun Bota tidak banyak bicara, tapi tutur kata dan perilaku sang
ibu lebih tertata, sedangkan puterinya cenderung akrab dengan kecanggungan.
Available on NETFLIX
CRAZY WORLD (2020)
Apa hal terpenting dalam proses moviemaking? Pemahaman ilmu filmis? Penguasaan teknis? Bukan semua
itu. Ada yang lebih mendasar, yakni kecintaan terhadap film itu sendiri.
Kecintaan itulah yang dimiliki Nabwana I.G.G., selaku sutradara, penulis
naskah, produser, sinematografer, editor, dan penata efek spesial dari
judul-judul produksi Wakaliwood (Wakaliga + Hollywood).
Setelah menciptakan kehebohan melalui Who Killed Captain Alex?, kini giliran Crazy World yang menyambangi penonton internasional, setelah pada
pertengahan 2019 diputar dalam segmen Midnight
Madness di Toronto International Film Festival, lalu pada 29 Mei 2020, diputar
di YouTube sebagai bagian We Are One Film Festival.
Secara kualitas, ditinjau dari textbook mana pun, Crazy
World jelas tak memenuhi standar. Tapi sekali lagi, ini perihal cinta, yang
mengalahkan segala tetek bengek teknis. Bagi Nabwana, film adalah passion. Sebuah jalan hidup. Dia
mencintai film jauh sebelum pernah menontonnya (Nabwana rutin mendengar cerita
sang kakak tentang film). Dia mengidolakan Chuck Norris hanya dari menatap
poster di dinding bioskop, yang sebagai anak kecil, tak bisa ia kunjungi. Apa
itu kalau bukan bukti “the magic of
cinema”?
Dan kecintaan itu menular. Tengok saja jajaran pemain yang
mengerahkan seluruh daya upaya, baik saat menghantarkan baris demi baris
kalimat yang tak jarang absurd, maupun ketika saling baku hantam bak hidup
mereka jadi taruhannya meski tanpa koreografi yang ditata sedemikian rupa. “Tak
bertenaga” bukan masalah yang perlu dikhawatirkan.
So what’s the story of
this SUPA ACTION MOVIE? Alkisah sekelompok gangster di bawah pimpinan Mr. Big tengah gencar
melakukan penculikan anak (diperankan aktor-aktor cilik Uganda yang disebut “Waka
Starz”) untuk dijadikan tumbal. Salah satunya puteri Commando, tentara elit
yang baru saja menerima misi dari Presiden Uganda. Tentu saja jagoan kita
sanggup menggagalkan penculikan tersebut bukan? Salah. Ingat, ini Wakaliwood
bung! Istri Commando terbunuh, puterinya diculik, dan enam bulan berselang kita
bertemu lagi dengan si jagoan yang kini menjadi gelandangan sakit jiwa, yang
memakai botol plastik sebagai teropong.
Penculikan terus berlanjut. Tidak ada yang lolos dari
incaran, termasuk si bocah jago kung fu putera “SUPA KUNG FU MASTER” Bruce U,
bahkan keponakan Mr. Big sendiri. Ketika aktor yang memerankan Bruce U diperkenalkan,
mendadak filmnya menampilkan klip-klik dari Who
Killed Captain Alex? hingga The
Return of Uncle Benon, sebagai informasi bahwa sang aktor ambil bagian
dalam judul-judul itu.
Bukan sekali itu saja filmnya tiba-tiba menampilkan klip di
luar adegan. Iklan anti pembajakan pun sempat muncul, di mana kesatuan Piracy
Patrol memburu mereka yang menonton film-film Wakaliwood secara ilegal. Saat
saya menyebut kata “memburu”, artinya adalah menerbangkan helikopter sampai ke
Paris (dan negara-negara lain) untuk meledakkan kepala si pembajak. Pada titik
ini saya sudah menerima kalau segala interupsi di atas merupakan bagian
filmnya.
Crazy World mempunyai subjudul Ani Mulalu?, yang berarti “Siapa yang
gila?”. Jadi siapa yang gila? Commando? Para gangster? Atau polisi yang menolak
mengusut kasus penculikan? Ya, Nabwana tidak ketinggalan menyelipkan kritik
perihal ketidakbecusan aparat. Tapi apabila kritik sosial di film-film
Hollywood kerap jatuh sebagai penambah nilai jual dengan mengambil sikap “politically right”, Crazy World berbeda. Ini bentuk keresahan yang jujur. Begitu pun
terkait penculikan anak sebagai tumbal. Menilik gaya filmnya, mungkin anda
berasumsi itu hanya rekaan demi injeksi kegilaan semata, tapi tidak.
Pengorbanan anak demi kekayaan (baca: pesugihan) merupakan isu yang nyata di
Uganda.
Gelaran aksinya terkesan raw,
sesekali menyertakan CGI untuk darah dan ledakan, yang meski berkualitas
rendah, terasa punya semangat serta passion
tinggi. Baku tembaknya turut diiringi selorohan seorang VJ (Video Joker), yang mengomentari tindakan
karakter, melontarkan pelesetan, menciptakan nama-nama aneh seperti Babymando
bagi puteri sang Commando, dan tak ketinggalan mengiklankan Ramon Film
Productions selaku rumah produksinya. Mengutip kalimat Nabwana I.G.G., ”Life without comedy is not life”. Di
tengah keterbatasan, para penggiat industri Wakaliwood ini tahu betul caranya
hidup. Bravo Wakaliwood! Y’all have my
biggest respect!
Parts of WE ARE ONE
FILM FESTIVAL on YouTube
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


















1 komentar :
Comment Page:Posting Komentar