THE VAST OF NIGHT (2019)

1 komentar
The Vast of Night dibungkus layaknya sebuah episode serial televisi antologi berjudul Paradox Theatre, lengkap dengan narasi pembuka serta title card yang memberi rujukan kuat pada The Twilight Zone. Beberapa kali, termasuk di opening, penonton diposisikan seolah sedang menonton di depan televisi model lama. Pengemasan itu tanpa substansi. Sebatas gimmick. Sementara keseluruhan filmnya bak versi talky dan low-key dari The Twilight Zone, tapi dengan hasil memikat, alias bukan sekadar tribute kosong.

Kenapa talky? Karena sejak awal, saat Everett (Jake Horowitz) si penyiar radio mampir sejenak ke stadion yang nantinya terisi penuh oleh mayoritas warga Cayuga, New Mexico, yang berbondong-bondong menyaksikan pertandingan basket perdana musim tersebut, filmnya langsung memberondong penonton dengan deretan banter cepat, terkadang saling tumpang tindih, yang seperti diambil dari judul-judul karya Richard Linklater.

Bersama Fay (Sierra McCormick), operator switchboard yang tengah bersemangat memainkan alat perekam barunya, Everett berjalan meninggalkan stadion, membicarakan banyak hal dari gosip tetangga, masalah kabel di sekolah yang digigit seekor tupai, sampai bahasan saintifik mengenai posibilitas penemuan canggih di masa depan (kisahnya berlatar tahun 1950an), seperti jalan raya elektrik, alat transportasi berwujud tabung, dan satu hal yang menurut Fay mustahil terwujud: telepon selular.

Sejatinya obrolan mereka cuma alat pengisi waktu. Tanpa dampak ke cerita utama, tanpa pesan terselubung (selepas konflik utama masuk, pembicaraan sempat sekilas menyinggung isu rasisme serta paranoia pasca Perang Dingin), walau berfungsi memberi gambaran lebih mengenai hubungan non-romantis kedua protagonis.

Everett dan Fay memulai pekerjaan masing-masing. Malam bergulir seperti biasa, sampai Fay menangkap sebuah frekuensi audio misterius, yang mendorong mereka melakukan investigasi, sementara di saat bersamaan, beberapa fenomena aneh dialami warga Cayuga yang tak menonton pertandingan basket. Sutradara debutan Andrew Patterson membuka misteri lewat single take sepanjang 10 menit, yang menghasilkan bangunan ketegangan bertahap yang pelan-pelan makin mencengkeram, sedangkan McCormick menjual kebingungan sekaligus kecemasan karakternya secara meyakinkan.

Dibantu sinematografer M.I. Littin-Menz, Patterson gemar memainkan metode pengambilan gambar, termasuk saat kamera beranjak keluar dari kantor Fay, menyapu jalanan kota kosong yang membangun kesan isolasi yang sesekali bisa ditemui juga di The Twilight Zone, masuk lalu keluar dari stadion basket yang bergemuruh, sebelum tiba di stasiun radio Everett. Momen tersebut—ditambah efek spesial di penghujung durasi—adalah pameran pencapaian teknis filmnya di tengah keterbatasan biaya. Demikian pula ketika Erick Alexander dan Jared Bulmer menjadikan suara tepuk tangan sebagai salah satu bagian musik. Semua mewakili ambisi tim pembuat film muda ini untuk melahirkan film murah yang bergaya.

Penyelidikan tokoh utamanya turut dibantu dua narasumber: Billy (disuarakan Bruce Davis), mantan anggota militer, dan wanita tua bernama Mabel (Gail Cronauer). Sepanjang percakapan, sosok Billy tak pernah nampak. Kita cuma mendengar suaranya melalui telepon, sedangkan kamera menaruh fokus pada ekspresi Everett, sambil sesekali berpindah ke Fay, yang ditangkap secara close-up. Bahkan tak jarang kita hanya melihat layar hitam, melahirkan nuansa atmosferik yang mencerminkan sensasi serupa drama radio. Imajinasi penonton dibiarkan bergerak liar mengikuti cerita ala teori konspirasi yang tak pernah membosankan.

Pertanyaan yang diajukan adalah, “Apakah cerita-cerita tersebut benar adanya?”. Apakah Billy berkata jujur atau sebatas orang iseng? Apakah Mabel mengutarakan kebenaran atau cuma wanita tua yang kehilangan kewarasan, juga salah mengartikan autisme puteranya? Misteri-misteri ini jadi pengikat atensi, sembari kita pelan-pelan mengumpulkan petunjuk, yang sejatinya mengarah ke satu jawaban. Jawaban dalam ending, yang sayangnya gagal memberi penebusan setimpal. Seolah naskah buatan James Montague dan Craig W. Sanger berkata, “You wanna see “that thing” right? Here, we give you one”, tanpa ada olahan ketegangan, teror, atau sense of wonder (yang kemungkinan besar jadi incaran terbesar pembuat filmnya, sebagai tribute kepada Close Encounters of the Third Kind).

The Vast of Night merupakan surat cinta. Surat cinta untuk suguhan fiksi-ilmiah, pula surat cinta untuk seni merekam suara. Bahkan terdapat adegan mendetail di mana Everett berkali-kali membongkar-pasang pita rekaman. Mungkin itu juga alasan mengapa filmnya begitu “cerewet”. The Vast of Night bukan tontonan yang bakal meneror , menakuti, apalagi memacu jantung penonton melalui kisah invasi alien berskala besar. Bayangkan kalian sedang duduk bersama teman-teman, berkumpul sembari minum-minum, merokok, berkelakar, kemudian salah seroang teman mulai menceritakan sebuah kisah abnormal yang amat menarik.


Available on PRIME VIDEO

1 komentar :

Comment Page:

HONEST CANDIDATE (2020)

2 komentar
Honest Candidate merupakan remake dari film Brazil, O Candidato Honesto (2014), yang kisahnya sendiri kurang lebih bisa dideskripsikan sebagai “Liar Liar-nya Jim Carrey, tapi ubah profesi protagonis dari pengacara menjadi politikus”. Ditangani oleh sutradara wanita, Jang Yoo-jeong (Finding Mr. Destiny, The Bros), di atas kertas keputusan mengubah gender tokoh utamanya merupakan pilihan tepat, di mana isu seputar seksisme terhadap kandidat anggota dewan wanita jadi bisa ditambahkan. Masalahnya, Honest Candidate berambisi menambahkan terlalu banyak.

Joo Sang-sook (Ra Mi-ran) sudah tiga kali terpilih sebagai anggota Majelis Nasional, dan kini tengah berkampanye untuk masa jabatan keempat. Adegan pembuka film memperlihatkan video kampanye Sang-sook, yang menjual simpati tentang sepak terjangnya di dunia politik yang terinspirasi kebaikan mendiang neneknya (Na Mon-hee). Sampai kita tahu bahwa nenek Sang-sook belum meninggal, mengasingkan diri di pedalaman, mengubah namanya agar secara hukum tercatat sebagai nenek dari Park Hee-cheol (Kim Moo-yul), asisten pribadi Sang-sook.

Politikus satu ini memang penuh kepalsuan (tapi politikus mana yang tidak?). Demi citra “merakyat”, ia menginjak sepatunya agar terlihat usang, membangun kemesraan palsu bersama sang suami (Yoon Kyung-ho), bahkan pura-pura tinggal di apartemen sempit walau sebenarnya memiliki rumah mewah. Setiap malam, Sang-sook dan suami memakai penyamaran lengkap, lalu diam-diam pulang ke kediaman nyaman mereka. Absurd? Percayalah, banyak politikus bertingkah lebih gila. Apa yang Sang-sook lakukan adalah cerminan relevan.

Proses kampanya berjalan lancar dan sepertinya kemenangan tinggal menunggu waktu, hingga mendadak Sang-sook kehilangan kemampuan berbohong. Mulutnya tak terkontrol, berujung menciptakan kekacauan ketika ia melontarkan pernyataan jujur yang “tidak seharusnya” diucapkan polikus, terlebih di masa kampanye. Tapi jangan harap Honest Candidate menawarkan satir mendalam yang thought-provoking, meski kondisi di atas memberikan bekal memadai.

Naskah buatan Kim Sun dan Heo Sung-Hye (Secret Zoo), seperti sempat saya singgung, berusaha mengolah begitu banyak isu, dari kebohongan politikus yang menghalalkan segala cara demi kemenangan, korupsi menjadi-jadi termasuk di ranah edukasi, peran jurnalisme, konspirasi tingkat tinggi, sampai persoalan gender, di mana Sang-sook mesti menghindari citra “terlalu maskulin”, tapi di sisi lain juga memakai rambut palsu pendek (yang menurut standar kecantikan kerap dipandang kurang feminin) agar tampak sebagai politikus wanita tangguh. Tapi semuanya disatukan paksa, murni didasari ambisi menyuarakan, “Lihat! Politikus kita segila ini!”, ketimbang memilih satu kisah utama, kemudian secara cermat mengembangkannya.

Apakah komedi memerlukan alur solid? Tentu, jika tujuannya melahirkan satir berbobot. Tapi di ranah hiburan ringan pun, itu dibutuhkan, supaya humornya terfokus, dan filmnya sendiri bisa menaruh fokus pada penghantaran humor tersebut alih-alih dibuat kelabakan menggabungkan terlalu banyak cabang.

Honest Candidate terkena getahnya. Konfliknya penuh sesak, ditambah penyuntingan kasar yang membuat pergerakan alur jauh dari kesan nyaman. Belum lagi penyutradaraan yang di beberapa kesempatan menyalahartikan pendekatan bertenaga dengan kekacauan (in a bad way). Penceritaannya berantakan, bahkan kerap membingungkan, yang mana haram hukumnya dalam komedi ringan semacam ini. Sulit bersantai menikmati banyolan-banyolan, sebab pikiran kita rutin terganggu  dengan pertanyaan, “Ada apa? Bagaimana itu terjadi?? Kenapa???”. Tatkala penonton mempertanyakan hal-hal demikian, humornya pun hanya lewat begitu saja. Sedangkan sebagai satir, film ini terlalu menyederhanakan masalah yang sejatinya kompleks, pula begitu nyata. Bagaimana problematika dunia politiknya bergulir dan diakhiri terkesan sarat simplifikasi. Dangkal.

Benar bahwa beberapa kelucuan tetap bisa ditemukan berkat Ra Mi-ran yang berhasil mengalahkan kegilaan eksplorasi naskahnya. Sewaktu kedua penulis menemui jalan buntu dalam memaksimalkan premis kemudian memilih melempar humor yang terlampau jinak, sang aktris seperti biasa tak menahan diri, mengerahkan semua senjata yang dimiliki.


Available on KLIK FILM

2 komentar :

Comment Page:

JAWAANI JAANEMAN (2020)

Tidak ada komentar
Usia hanya sebatas angka. Begitu prinsip yang dianut Jazz (Saif Ali Khan), protagonis dalam remake film Argentina, Igualita a mí (2010), ini. Menginjak kepala empat, jangankan berkeluarga, menjalani hubungan serius pun Jazz tidak pernah. Pada siang hari, bersama saudaranya, Dimpy (Kumud Mishra), ia adalah makelar yang tengah berusaha menuntaskan penjualan komplek apartemen tempat tinggalnya, lalu malamnya, tak sekalipun Jazz absen dari kelab, mabuk-mabukan, membawa pulang wanita berbeda setiap hari.

Jazz punya seorang teman wanita. Rhea (Kubbra Sait) namanya, karyawan di salon langganannya. Tapi keduanya cuma sebatas saling menggoda tanpa niat menjalin hubungan serius. Cinta satu malam bersama para wanita muda di kelab tetap jadi gaya hidup Jazz. Maka tidak heran ketika seorang gadis 21 tahun asal Amsterdam, Tia (Alaya Furniturewala), mendatanginya, Jazz tidak pikir panjang untuk membawanya ke apartemen.

Tia diajaknya berdansa, menenggak wine, sembari bertukar cerita. Bagi Jazz, aktivitas bercerita hanyalah basa-basi sebelum seks, sehingga kata-kata Tia tak ia perhatikan.....sampai muncul pernyataan, “Ada 33,333% kemungkinan kamu adalah ayahku”. Pernyataan yang akhirnya dikonfirmasi oleh hasil tes DNA. Jazz terkejut, tak menyangka kunjungan singkatnya ke Amsterdam kala muda dulu memberinya buah hati. Semakin terkejut kala diketahui, Tia sedang hamil. Dalam sekejap, Jazz si pria paruh baya pecandu pesta menyandang status baru: seorang ayah sekaligus kakek.

Sungguh keadaan yang kacau, dan naskah buatan Hussain Dalal memastikan bahwa semakin kacau keadaan, semakin lucu pula filmnya. Saya terhibur oleh seringnya Tia “mengacaukan” petualangan cinta Jazz, pula beberapa komedi situasi berbasis kesalahpahaman akibat pilihan Jazz menyembunyikan status Tia, yang berhasil dijual dengan baik oleh para pemainnya. Keabsurdan tak terhindarkan, termasuk saat Tabu (dalam penampilan singkat nan berkesan sebagai ibu-ibu hippie yang menganggap teknologi bisa menyebabkan kanker) mulai ambil bagian, lalu melahirkan kejadian unik dan canggung ketika Tia memperkenalkan ayah dan ibunya satu sama lain. “Mom, this is dad. Dad, this is mom”. Kapan lagi kita mendengar kalimat semacam itu?

Dibungkus pengadeganan bertenaga dari sutradara Nitin Kakkar (Filmistaan, Notebook), Jawaani Jaaneman mulus menjalankan misinya memancing tawa penonton, walau perihal penceritaan agak terlunta-lunta. Serupa protagonisnya, film ini terlalu banyak berpesta. Mungkin sekitar 3-5 menit sekali kita diajak mengunjungi kelab malam yang acap kali membuat alurnya jalan di tempat. Pun sejak menit pertama hingga konklusi, alurnya formulaik, meski beruntung, naskahnya mampu menahan diri untuk tidak memaksakan keklisean berupa romansa instan antara Jazz dan Rhea. Benih romansa keduanya dibiarkan mulai tumbuh, namun tidak dipaksakan berbunga.

Jalannya proses akan mudah anda tebak, tapi setidaknya, seiring waktu filmnya mampu memunculkan kepedulian terhadap Jazz dan Tia, membuat kita berharap keduanya memperoleh kebahagiaan. Konklusinya pun menghasilkan kepuasan melalui penutup menyentuh yang dengan tepat menggunakan malam Diwali sebagai latar kebersamaan hangat keluarga.

Saif Ali Khan sarat antusiasme, sementara dalam debutnya, Alaya Furniturewala menampilkan senyum yang bisa melelehkan orang berhati paling keras sekalipun. Kombinasi keduanya pun cukup solid di tataran drama. Momen saat Jazz meminta Tia pulang setelah pertemuan perdananya dengan keluarga besar terasa menyentuh berkat ketulusan yang muncul dari tutur kata Saif, disusul respon sempurna Alaya, sebagai seorang puteri yang terharu mendengar ucapan penuh kasih sayang dari sang ayah untuk pertama kali.

Jawaani Jaaneman memang klise, khususnya bila dibandingkan dengan keunikan premisnya. Tapi di antara keklisean tersebut, kita dapat memahami segala tindakan dan keputusan yang diambil karakternya, termasuk salah satu yang paling penting adalah sewaktu Jazz memutuskan berubah. Alasan kesehatan, keluarga, serta keengganan menanti akhir usia seorang diri. Bukankah semua itu yang kerap jadi pendorong pensiunnya para “Raja Pesta”?


Available on PRIME VIDEO

Tidak ada komentar :

Comment Page:

BAD EDUCATION (2019)

5 komentar
Frank Tassone (Hugh Jackman), selaku pengawas Roslyn School District mampu membawa SMA Roslyn bertengger di peringkat keempat nasional, yang meningkatkan harga properti di Long Island, sebab orang tua berbondong-bondong menyekolahkan putera-puteri mereka di sana demi terbukanya jalan diterima di jajaran universitas Ivy League. Frank juga piawai memotivasi murid-murid, hafal nama serta kelas yang mereka ambil,pun ingat bahwa salah satu siswi merupakan adik seorang alumni. Frank selalu memakai setelan berkelas, rambutnya tertata rapi, wajahnya rupawan berkat berbagai perawatan termasuk operasi plastik.

Semua tampak sempurna bagi Frank maupun lingkungannya. Tapi itu mengingatkan kita pada beberapa hal: a) Tidak ada yang sempurna; b) Ambisi berlebih akan kesempurnaan kerap berujung bencana; c) Selalu ada dua sisi koin.

Sebagai pengawas, Frank mendapat bantuan dari asistennya, Pam Gluckin (Allison Janney dalam satu lagi penampilan superiornya), yang mengurusi finansial. Tidak butuh waktu lama sampai terungkap jiwa Pam menyalahgunakan wewenang tersebut. Dia memiliki banyak properti mewah, pula kerap menjalani liburan mahal bersama keluarga, walau cuma memperoleh apa yang Frank sebut sebagai “glorified teacher’s salary”.

Ya, Pam memakai uang sekolah demi kepentingan pribadi, lalu memanipulasi laporan keuangan, yang menjelaskan mengapa atap gedung selalu bocor walau biaya perawatan yang diajukan amat tinggi. Sampai sebuah kesalahan bodoh dari puteranya, yang Pam minta untuk merenovasi rumah, memancing kecurigaan direksi. Mereka pun melapor pada Frank.

Frank si pengawas tanpa cela. Frank yang berparas rupawan. Frank yang begitu peduli pada murid-muridnya, baik yang masih sekolah atau telah lulus. Wajah jajaran direksi mempercayainya. Mendengar perbuatan Pam, Frank terkejut. Tapi benarkah ia tidak tahu?

Dari sini, naskahnya (adaptasi artikel The Bad Superintendent karya Robert Kolker), yang ditulis oleh Mike Makowsky selaku mantan murid Frank di dunia nyata sekaligus saksi hidup skandal tersebut, secara cerdik bermain dengan pilihan narasinya. Karena didasari peristiwa nyata, bukan spoiler jika saya menyebut bahwa Frank tidak sesuci kelihatannya. Dan saya yakin banyak penonton sudah mencium gelagat tersebut berdasarkan beberapa petunjuk subtil yang filmnya tanam. Menjadikan Frank seolah tak bersalah di awal kisah merupakan keputusan tepat. Sewaktu kebenaran akhirnya terungkap, itu bukan berfungsi sebagai twist yang hendak mengejutkan penonton, namun membangun nuansa dramatis dalam titik balik ceritanya.

Saat itulah senyum hangat sang superintendent mulai berevolusi jadi seringai yang cukup menyeramkan. Kharisma dari senyuman itu mejadi intimidasi, tatkala Jackman, dalam salah satu penampilan terbaik sepanjang karir, menghadirkan akting kaya di mana kedua sisi berlawanan milik Frank mampu dipresentasikan sama kuatnya.

Tapi bagaimana mungkin Frank, dengan segala kecerdikannya, mampu diungkap kejahatannya? Anda ingat di paragraf awal saya menyebut tentang seorang siswi yang dikenali Frank sebagai adik mantan muridnya? Namanya Rachel Bhargava (Geraldine Viswanathan). Dia adalah anggota kelab ekstrakurikuler jurnalistik, yang ditugaskan menulis artikel tentang pembangunan jembatan udara di sekolah. Rachel sempat mewawancarai Frank, meminta sang pengawas menyampaikan komentar singkat. Seperti biasa, Frank berusaha memotivasi anak didiknya. Didorongnya Rachel agar menggali kisahnya secara lebih dalam. Ironisnya, dorongan itu menggali lubang kubur Frank sendiri.

Bad Education memang dipenuhi ironi serta sense of tragedy, yang turut diwakili scoring gubahan Michael Abels (Get Out, Us), yang sesekali menyiratkan impending doom yang menghantui, sedangkan di lain waktu terdengar bagai keruntuhan dramatis suatu skema kecurangan. Saat Rachel menyetorkan draf pertama yang menyoroti biaya berlebih proyek jembatan udara, tulisannya ditolak oleh ketua kelab, yang kemudian menggantin framing artikel menjadi antusiasme siswa menyambut proyek tersebut. Acap kali citra memang lebih dipentingkan ketimbang kebenaran. Ini adalah hasil dari komersialisasi pendidikan, baik demi menebalkan saku pribadi atau prestise, yang berujung menghancurkan esensi pendidikan itu sendiri.

Cory Finley selaku sutradara mampu membawa Bad Education bergerak dalam pace yang nyaman dinikmati, dengan ketepatan kadar dramatisasi. Kesuksesan menangani film berbasis kisah nyata dengan pendekatan serealis mungkin merupakan pencapaian bagi sineas yang angkat nama melalui komedi hitam seperti Thoroughbreds (2017) ini, membuktikan luasnya jangkauan Finley dalam berkarya.

Tapi seperti saya, mungkin anda bakal merasa ada bumbu yang kurang dalam film ini. Bad Education mengambil jalan tengah, berniat menyeimbangkan elemen investigasi (khususnya pesan tentang bagaimana investigasi kecil berupa surat kabar siswa sanggup mengungkap skandal besar yang menghebohkan negeri), dengan fokus terhadap sisi personal Frank. Sayangnya tak satu pun mencapai potensi maksimal. Intensitas investigasi urung memuncak, pun terkesan ambigu apakah kita diajak bersimpati pada Frank, mengutuk, atau keduanya. Pun bentuk Bad Education tak pernah seutuhnya jelas. Murni suguhan dramatik, atau komedi gelap (walau ada usaha menyasar bentuk yang kedua).


Available on HBO GO

5 komentar :

Comment Page:

THE LOVEBIRDS (2020)

1 komentar
The Lovebirds jelas dibuat atas kesadaran perihal diversity (baik perspektif humanis maupun bisnis). Kisahnya mengenai romansa antarras pria Pakistan-Amerika dengan wanita Afrika-Amerika. Di tengah cerita, keduanya sempat berbagi Lyft dengan pria kulit putih dan wanita Asia-Amerika, yang kebetulan juga sepasang kekasih. Pada titik itu diversity-nya terlalu on-the-nose, tapi mau bagaimana lagi? Fase ini diperlukan agar Hollywood bisa tiba di titik di mana film dengan tokoh multikultural jadi pemandangan biasa.

Masalahnya bukan tentang hubungan beda ras protagonisnya, namun untuk film berjudul “The Lovebirds”, kedua protagonis kita tidak tampak seperti...well, the lovebirds. Kumail Nanjiani dan Issa Rae memikat sebagai pasangan komedik, bukan romantis. Ketimbang kekasih yang hubungannya retak, mereka lebih seperti sahabat yang selalu bersama, atau malah tinggal di satu atap meski tanpa perasaan lebih. The Lovebirds memang dipenuhi hal-hal yang menuntut pemakluman penontonnya agar dapat dinikmati.

Jibran (Kumail Nanjiani) adalah pembuat dokumenter yang tak menghasilkan uang. Leilani (Issa Rae) terobsesi mengikuti The Amazing Race. Jibran menganggap Leilani berpikiran dangkal, Leilani merasa Jibran seorang yang gagal. Mereka baru saja sepakat mengakhiri hubungan di tengah jalan menuju pesta saat mobil yang dikendarai tiba-tiba menabrak pria penunggang sepeda. Pria tersebut bertingkah mencurigakan, buru-buru kabur tanpa bersedia dipanggilkan ambulans. Lalu datang pria lain (Paul Sparks), yang oleh Jibran dan Leilani dipanggil “Moustache”.

Moustache mengaku sebagai polisi, mengambil alih mobil mereka untuk mengejar si penunggang sepeda, kemudian melindasnya sampai mati. Di tengah kekacauan, datang dua pejalan kaki yang menuduh Jibran dan Leilani telah melakukan pembunuhan dan menelepon polisi. Keduanya panik, lalu melarikan diri, setelah meyakini bahwa sebagai minoritas, polisi takkan berbaik hati memberikan praduga tak bersalah.

Mengingat kerapnya aparat bertindak tidak adil terhadap minoritas, keputusan mereka bisa diterima. Bodoh, tapi dapat dimengerti. Sampai datang deretan keputusan-keputusan bodoh lain yang oleh Aaron Abrams dan Brendan Gall selaku penulis naskah, dipaksakan hadir demi menggulirkan alur. Salah satu kebodohan paling fatal adalah ketidakmampuan Jibran, sebagai pembuat dokumenter, menyadari satu hal yang bisa membuktikan ia dan sang (mantan) kekasih tidak bersalah. Satu hal yang akhirnya juga dipakai film ini sebagai jalan keluar.

Sejatinya The Lovebirds punya ide dasar yang cukup guna menyokong absurditas dalam film semacam ini, dengan melibatkan misteri pembunuhan, konspirasi, hingga rahasia "nakal" para penguasa, tapi eksplorasinya tidak cukup berani (atau kreatif?) untuk melangkah ke jalur yang lebih liar. Sempat tercipta suasana menegangkan kala protagonis kita menyusup ke sarang musuh dan nyaris ketahuan. Saya pun antusias menanti bagaimana filmnya bakal menyelesaikan itu. Antusiasme itu gagal terbayar, saat lagi-lagi rute tidak kreatif ditempuh, yang berujung pada unsur dipaksakan lain. Kali ini mengenai polisi yang terlalu bodoh mengambil sikap ketika menyadari ada mata-mata dalam tubuh mereka.

Humornya mayoritas berasal dari banter yang seringkali berkembang jadi adu argumen konyol, ditambah beberapa komedi situasi. Walau tak cukup kuat menjalin chemistry romantis, Nanjiani dan Rae tampil prima perihal memancing tawa. Keduanya tahu bagaimana harus bereaksi atas banyolan satu sama lain, berimprovisasi, dan menyelamatkan beberapa materi medioker lewat gaya histerikal masing-masing.

Komedinya cukup efektif, namun jauh dari kesan segar, pun sang sutradara, Michael Showalter (The Big Sick) kurang piawai mengolah adegan supaya bertenaga. Sama seperti keseluruhan filmnya, yang sebatas pengulangan lebih lemah dari tontonan-tontonan serupa yang telah ada sebelumnya. The Lovebirds diisi deretan keklisean. Bahkan dua tokoh utamanya menyanyikan lagu klise: Firework. Tapi berbeda dengan lagu Katy Perry tersebut, film ini tak punya gairah kuat yang mampu menyemarakkan hari penontonnya.


Available on NETFLIX

1 komentar :

Comment Page:

WAVES (2019)

1 komentar
Seperti judulnya, film ini bergerak seperti ombak, baik secara teknis maupun rasa. Waves mengingatkan bahwa Trey Edward Shults yang melahirkan karya out-of-the-box lewat Krisha (2015), masih getol mengeksplorasi dan mendobrak batas-batas storytelling, selepas It Comes at Night (2017) yang lebih seperti usaha menjadi hipster.

Melalui tata kamera arahan sinematografer langganannya, Drew Daniels, Shults mengemas opening yang serupa gelombang di lautan. Kamera berputar 360 derajat, sesekali bergerak liar, sesekali melambat, bahkan saat hanya menyoroti layar smartphone, tetap ada gerakan layaknya riak-riak kecil. Kita pun bisa merasakan betapa kaya serta dinamisnya kehidupan si tokoh utama, seorang siswa SMA populer sekaligus atlet gulat bernama Tyler (Kelvin Harrison Jr).

Karir gulatnya moncer, membuat beasiswa jalur olahraga dari universitas ternama seolah tinggal menunggu waktu. Walau sang ayah, Ronald (Sterling K. Brown), yang dulu mantan atlet kerap terlalu menekannya, sang ibu tiri, Catherine (Renée Elise Goldsberry) membuat Tyler tak kekurangan kasih sayang. Apalagi hubungan cintanya dengan Alexis (Alexa Demie) sedang panas-panasnya.

Hidup Tyler sekilas sempurna, walau sesungguhnya ada beberapa benih permasalahan yang siap meluap. Akibat kerap memaksakan diri, pundak Tyler menderita cedera SLAP (Superior Labral Tear from Anterior to Posterior) Tear tingkat 5 alias tingkatan terparah. Tertekan, Tyler justru diceramahi oleh Ronald, yang berkata, “Menurutmu cuma kamu yang punya masalah?!”. Dia pun memilih bungkam, merahasiakan cedera tersebut. Di saat bersamaan, Alexis mendapati sudah tiga minggu ia telat datang bulan.

Lalu semua yang ditakutkan terjadi. Tyler cedera di tengah pertandingan dan karir gulatnya hancur. Bukannya mengangkat moral puteranya, Ronald justru menyalahkan. Ayah enggan mendengarkan, anak menolak bicara. Demikian juga soal kehamilan Alexis. Tyler bersikeras memaksakan aborsi tanpa mau memedulikan perspektif kekasihnya. Waves mengangkat soal pentingnya proses bicara dan mendengarkan dalam keterbukaan. Seluruh konflik hadir karena karakternya menolak “memasang telinga” sembari membiarkan ego menguasai dirinya.

Waves tidak dibuat agar penonton bersimpati pada protagonisnya, mengingat seiring waktu, Tyler semakin hancur dan semakin sering berbuat kebodohan. Tujuan Waves adalah membuat kita ikut merasakan sakit serta kecemasan yang sama. Shults seperti membawa kita mengarungi ombak ganas, yang bisa berubah dari menghadirkan rasa sesak, kemudian melegakan, hanya untuk tiba-tiba melempar luka.

Dinamika emosi itu diwakili oleh visualnya. Drew Daniels jeli bermain warna, entah itu kamar berdinding biru milik Tyler yang dihiasai sebersit cahaya matahari yang masuk melalui gorden merah-hijau-biru, malam bertabur lampu-lampu neon yang meski vibrant tetap terkesan kelam, hingga biru gelap yang mewarnai laut tatkala senja. Tapi yang paling menonjol sekaligus berkesan tentu bagaimana Shults menggabungkan empat rasio aspek (ada yang menyebut lima, tapi saya hanya menemukan empat, begitu juga data dari IMDb) dalam filmnya.

Dibuka dengan rasio standar 1.85 : 1, gambarnya ikut menyempit saat tekanan yang Tyler alami makin besar (menjadi 2.35 : 1, sempat sejenak menjadi 2.67 : 1, lalu berakhir di 1.33 : 1). Apa yang terjadi setelah aspek rasio menyentuh format 1.33 : 1 di mana protagonis mencapai titik terendahnya? Saat itulah Shults melakukan keputusan tak terduga terkait penentuan arah cerita. Waves memasuki babak kedua, mengoper fokus kepada adik Tyler, Emily (Taylor Russell), berubah dari rangkaian kisah yang menghancurkan jadi membangun. And guess what? Aspek rasionya pun pelan-pelan kembali seperti semula.

Membagi alurnya ke dalam dua babak dengan fokus berlawanan, menandakan bagaimana Shults tidak memandang remeh proses menyembuhkan luka hati. Walau tidak menyimpan kejutan-kejutan seperti babak pertama, ditambah intensitas yang mengendur sebab kita sudah bisa menebak pola yang bakal filmnya tempuh, rasanya tetap menyenangkan sewaktu rentetan rasa sakit yang sebelumnya menerjang tanpa henti mulai dibasuh oleh emosi-emosi positif.

Tidak mau kalah dari departemen visual, tata suara film ini juga piawai mewakili rasa. Mulai efek suara menyakitkan ketika Tyler mengalami cedera, juga barisan musik pilihan sang sutradara yang terdiri atas nomor-nomor rap, R&B, hingga pop elektronik yang terdengar atmosferik (bukan kejutan kalau ada Radiohead). Sementara di jajaran cast, trio Kelvin Harrison Jr., Taylor Russell, dan Sterling K. Brown berhasil menuangkan emosi raw yang efektif mencengkeram hati penontonnya.


Available on CATCHPLAY+

1 komentar :

Comment Page:

SEA FEVER (2019)

1 komentar
Debut penyutradaraan layar lebar Neasa Hardiman yang sebelumnya lebih aktif di industri perteleisian ini mungkin takkan menjadi klasik layaknya judul-judul yang memberinya inspirasi, sebutlah Jaws, The Abyss, hingga The Thing, tetapi itu tidak menutupi fakta bahwa Sea Fever dibuat secara kompeten, pun mungkin bakal jadi topik perbincangan berskala medium, terkait relevansi insidental yang dimilikinya dengan pandemi corona saat ini.

Siobhan (Hermione Corfield), seorang ilmuwan muda cerdas, terpaksa mengesampingkan keengganannya bersosialisasi demi gelar profesor, ketika mengikuti studi lapangan bersama para kru kapal penjaring ikan Niamh Cinn-Oir milik pasangan suami istri, Gerard (Dougray Scott) dan Freya (Toni Collette awalnya dipilih sebagai pemeran sebelum digantikan Connie Nielsen). Awalnya semua berjalan lancar, walau kita tahu peristiwa buruk bakal terjadi setelah Gerard dan Freya mengabaikan larangan penjaga pantai memasuki zona terlarang.

Para kru terkejut mengetahui Siobhan berambut merah, yang mereka percaya bisa mendatangkan sial. Kemudian di sebuah kesempatan, Siobhan dan Freya terlibat obrolan santai mengenai laut yang bersinar. Siobhan menjabarkan lewat sisi saintifik, sedangkan Freya mengaitkannya dengan cerita rakyat. Sebuah pembicaraan yang menyandingkan dua perspektif berlawanan, sekaligus menyiratkan benturan sudut pandang ilmiah dengan hasrat personal yang nantinya terjadi.

Di tengah perjalanan, kapal tiba-tiba berhenti, lalu Hardiman (juga bertindak selaku penulis naskah) secara efektif mulai menyiratkan kengerian yang menanti, ketika Omid (Ardalan Esmaili) mendapati lambung kapal berlubang. Beberapa substansi berlendir dan menjijikkan menempel di lubang tersebut. Akhirnya diketahui, sesosok makhluk raksasa misterius berwujud seperti cumi-cumi raksasa jadi penyebab berhentinya kapal.

Mengikuti jejak judul-judul klasik yang disebut sebelumnya, kita tidak pernah melihat secara utuh wujud sang monster, apalagi memahami asal-usulnya. Tapi kita tahu makhluk terseut menebarkan parasit yang bisa mengakibatkan kematian mengenaskan, yang jadi cara Hardiman menebar teror melalui gore. Sisanya, ia mengandalkan nuansa klaustrofobik, membangun tontonan atmosferik yang tak pernah tampil draggy berkat kelihaiannya bermain tempo. Naskahnya juga cukup baik membagi poin-poin plot. Banyak film serupa menyimpan elemen menariknya terlalu lama, sementara Sea Fever memastikan ada fakta baru tiap beberapa waktu sekali tanpa harus mengungkap terlampau banyak.

Masalahnya, filmnya tidak pernah berhasil memancing kepedulian terhadap tokoh-tokohnya. Beberapa karakteristik personal cuma diungkap sekilas alih-alih diperdalam. Selebihnya, para kru hanya figur-figur tak bernyawa, yang tinggal menunggu ajal tatkala mulai terserang sea fever, tanpa sempat disoroti dinamika psikologisnya. Paling tidak ada hal positif dari penokohan Siobhan. Perihal sisi antisosialnya, proses perubahannya tidak terjadi tiba-tiba. Baru jelang akhir ia berbuat sesuatu yang takkan dilakukan oleh sosoknya di awal film.

Prosesnya berlangsung dalam tahapan pasti. Dari individu egois, dia mulai membuka diri, berinteraksi, lalu belajar untuk tak menambah luka orang di sekitarnya, barulah akhirnya bersedia berkorban. Dan ketimbang kelemahan fatal, filmnya memanfaatkan sisi antisosial itu sebagai alasan logis saat menjadikan Siobhan voice of the reason dalam kelompok. Memasuki sepertiga akhir, timbul perdebatan yang secara kebetulan mencerminkan isu social distancing yang belakangan marak dibahas. Masuk akal saat Siobhan jadi pihak yang mengusulkan karantina sedangkan kru lain ingin segera pulang demi bertemu keluarga (Halo para pemudik nekat Indonesia!). Bukan semata karena ia protagonis sehingga otomatis merupakan karakter berpikiran paling jernih, namun pola pikirnya memang berorientasi saintifik.

Sayangnya ada poin bermasalah. Siobhan mengusulkan karantina 36 jam demi menekan peluang penyebaran parasit, sebab bukan mustahil sudah ada salah satu dari mereka yang terinfeksi, yang mendorongnya melakukan tindakan ekstrim sewaktu kru lain menentang. Tapi segala pertikaian itu berujung percuma, bahkan konyol, ketika hanya menggunakan metode sederhana, Siobhan dapat mendeteksi apakah parasit telah hidup dalam tubuh seseorang atau tidak. Setelahnya, urusan karantina pun total dilupakan.

Klimaksnya juga lemah, gagal mencapai puncak ketegangan. Keputusan menyelipkan pesan lingkungan yang membuat Sea Fever menempuh jalan berbeda dibanding kebanyakan film monster maupun dana minim jelas bukan alasan. Kegagalan ini murni dikarenakan ketidakmampuan Neasa Hardiman, baik sebagai penulis atau sutradara, bereksplorasi secara kreatif guna mengakali keterbatasan. Andai berhasil, mungkin Sea Fever akan lebih memorable.


Available on KLIK FILM

1 komentar :

Comment Page:

TRUE HISTORY OF THE KELLY GANG (2019)

Tidak ada komentar
Film ini mencantumkan “True History” pada judul; dibuka dengan kalimat “Nothing you’re about to see is true”; dinarasikan dalam bentuk surat sang protagonis kepada calon anaknya, agar ia tidak tertipu oleh sejarah tentang sang ayah yang kemungkinan bakal dipelintir para penguasa. Jika terdengar banyak mengandung kontradiksi, itu memang disengaja, sebab sutradara Justin Kurzel (Macbeth, Assassin’s Creed) bersama penulis naskahnya, Shaun Grant (Berlin Syndrome), mengadaptasi novel berjudul sama karya Peter Carey sebagai media bermain-main dengan gagasan mengenai sejarah dan cerita rakyat.

Nama Ned Kelly (versi bocah diperankan Orlando Schwerd, versi dewasa diperankan George MacKay) begitu legendaris. Seorang perampok yang menjadi ikon nasional. Sosoknya pun tak asing di dunia sinema. Mendiang Heath Ledger pernah memerankannya dalam Ned Kelly (2003), begitu pula Mick Jagger dalam film rilisan 1970 berjudul serupa, bahkan mundur jauh ke belakang, film bisu The Story of Kelly Gang (1906) dipercaya sebagai film panjang naratif pertama sepanjang sejarah.

Banyak pihak memuja Ned Kelly, menganggapnya sebagai pejuang kaum bawah yang ditindas penjajah layaknya Robin Hood, namun tak sedikit yang melihatnya sebagai pembunuh keji belaka. Jadi versi mana yang benar? True History of the Kelly Gang tidak tertarik menuturkan kebenaran, tapi mengincar sesuatu yang secara estetika jauh lebih menarik, yaitu eksplorasi terhadap “the creative nature of storytelling”.

Ned punya masa kecil yang keras. Dia melihat ibunya, Ellen (Essie Davis), bercinta dengan Sersan O’Neill (Charlie Hunnam) demi uang; ayahnya, yang kelak meninggal di penjara, konon sering terlihat berlarian sambil mengenakan gaun perempuan berwarna merah (ada rahasia lain terkait fakta ini); harus membunuh sapi ternak tetangga agar bisa memberi makan keluarga; sampai terpaksa meninggalkan rumah setelah Ellen diam-diam menjualnya kepada Harry Power (Russell Crowe), yang kelak mengajari Ned cara merampok dan menembak penis seseorang.

Menerapkan genre western di latar Australia, sinematografi arahan Ari Wegner (Lady Macbeth) mengganti kegersangan wild west dengan pedesaan kumuh yang bakal membuatmu merasa kotor hanya dengan melihatnya. Sebuah panggung sempurna untuk memotret kerasnya kehidupan, pun mungkin juga soal machismo, mengingat filmnya berkisah tentang sekelompok bandit laki-laki gila. Tapi sebaliknya, Kurzel dan Grant justru memberi sentuhan homoerotik. Ned berguling-guling dengan sahabatnya, juga bicara dengan Fitzpatrick (Nicholas Hoult) si jagabaya, yang duduk santai bertelanjang bulat.

Geng Kelly beraksi sambil mengenakan gaun layaknya transvestite. Mereka percaya, dandanan tersebut bisa menumbuhkan ketakutan di benak lawan, sebab manusia cenderung takut pada hal aneh yang tak mereka dipahami. Dari situ, Kurzel berkesempatan menyuntikkan estetika queer di film yang juga bertindak selaku drama keluarga ini. Keluarga disfungsional tentunya.

Sewaktu seorang wanita kaya—yang puteranya Ned tolong saat jatuh ke sungai—menawarkan diri membiayai pendidikan Ned, Ellen menolak, beralasan jika ia tak bisa hidup tanpa sang putera, dan bahwa keluarga selalu jadi yang utama. Ned percaya itu. Dia pun sangat mencintai ibunya, sampai Ned menemukan kenyataan pahit. Cinta Ellen rupanya palsu.....atau tidak? Mungkin memang begitu cara mereka mencintai? Mungkinkah itu dampak persekusi dan tidak pernahnya mereka melihat cahaya harapan? Ned pernah melihat cahaya itu. Saat kecil ia sejenak mengunjungi rumah mewah keluarga kaya, lalu menghabiskan masa remaja jauh dari kumuhnya kampung halaman. Mungkin itulah kenapa, dibanding anggota keluarganya, Ned lebih “lembut”, juga satu-satunya yang terpikir untuk menuturkan kebenaran, tatkala orang lain sebatas memikirkan perut.

Dan layaknya shakesperian, yang mana familiar bagi Kurzel, True History of the Kelly Gang ditutup sebagai tragedi ironis akibat satu kesalahan sang protagonis yang didasari oleh kebaikan hati dan keinginannya melihat cahaya harapan. Sebagaimana Macbeth (2015), Kurzel piawai membangun nuansa bak mimpi buruk penuh kegelisahan, khususnya pada klimaks mencekat berlatar malam kelam, yang disinari kedipan cahay menyilaukan, suar merah, dan puluhan titik-titik cahaya obor. Musik gubahan Jed Kurzel, kakak sekaligus komposer langganan sang sutradara, tak ketinggalan tampil menghantui nan intens. Sama intensnya dengan performa George MacKay yang tampil manik, melepaskan diri sebagai pria beremosi tak stabil yang di balik amarahnya, merindukan cinta di tanah tanpa cinta.

Tapi perlu dicatat, seperti biasa, film Justin Kurzel bukan untuk semua orang. Penonton yang mencari gaya narasi tradisional berpotensi kehilangan selera menyaksikan metode bertuturnya yang liar (banyak disebut membuat filmnya terkesan "punk") dan seperti tanpa konflik utama, yang juga mengesampingkan pendekatan dramatis demi nuansa atmosferik. Terkait narasi, True History of the Kelly Gang pun menyimpan inkonsistensi. Dikemas memakai sudut pandang orang pertama, ada beberapa peristiwa yang semestinya tak diketahui oleh narator. Pada akhirnya, bahkan oleh orang yang mengakui kelebihan-kelebihannya, True History of the Kelly Gang lebih mudah dikagumi ketimbang dicintai.


Available on KLIK FILM

Tidak ada komentar :

Comment Page:

THAPPAD (2020)

9 komentar
Thappad (artinya “tamparan”) dibuka secara ceria, memperlihatkan beberapa orang (mayoritas pasangan, entah menikah, berpacaran, atau pelaku perselingkuhan) tengah berbahagia, bersikap romantis, atau saling bercanda. Bahkan sampai 25 menit pertama, setelah kita mengunjungi pasangan utamanya, Amrita (Taapsee Pannu) dan Vikram (Pavail Gulati), keceriaan itu masih ada, layaknya komedi romantis yang ringan.

Bekerja di sebuah perusahaan, Vikram berusaha keras menggapai mimpinya menjadi pimpinan cabang di London, sedangkan Amrita merupakan mantan penari yang menyerah mengejar mimpi demi menjadi ibu rumah tangga nomor satu di dunia. Mereka bahagia. Apalagi saat ambisi Vikram soal London terwujud.

Pesta pun digelar. Keluarga, teman, hingga rekan-rekan kerja Vikram diundang. Bisa dibilang, semua orang dalam hidup mereka ada di sana. Tapi perayaan besar itu berubah jadi bencana besar. Vikram menerima telepon bahwa promosinya dibatalkan. Dia tetap bisa ke London, namun sebagai bawahan. Pertengkaran pecah antara Vikram dengan salah satu atasannya, Amrita coba melerai, namun sang suami justru menamparnya. Saat itulah kita sadar, filmnya sengaja dibuat ceria di awal, agar seperti karakternya, penonton tercengang kala peristiwa itu terjadi.  

Tamparan itu merupakan awal eksplorasi, pembuka kritik sosial yang juga bagai tamparan ke wajah penonton. Amrita mulai mempertanyakan semuanya. Pernikahannya, cintanya. Vikram juga bertanya-tanya. Bertanya, mengapa insiden “sepele” itu menghilangkan senyum sang istri. Sebab bagi banyak pria, wanita harus selalu tersenyum.

Kalimat pertama yang diucapkan Vikram  pada Amrita di pagi berikutnya bukan “maaf”, melainkan pembenaran, alasan-alasan, serta kekhawatiran mengenai pandangan orang-orang terhadapnya. Tapi bagaimana dengan Amrita? Bayangkan perasaannya. Betapa sakit dan malu menerima perlakuan semacam itu di tengah kerumunan orang-orang yang tidak asing. Vikram berkata ingin keluar dari pekerjaan yang tak menghargainya, tapi apakah Amrita dihargai?

Thappad adalah tentang banyak hal, yang oleh naskah buatan Anubhav Sinha (juga selaku sutradara) dan Mrunmayee Lagoo, disatukan dalam tuturan sepanjang 142 menit dengan baik. Filmnya mengajak kita berpikir dengan menunjukkan berbagai perspektif melalui beragam situasi, di mana konflik protagonisnya bertindak sebagai penghubung.Tidak butuh waktu lama hingga terungkap bahwa orang-orang di sekuen pembuka punya kaitan dengan tokoh utamanya. Kaitan yang terjadi tanpa terasa dipaksakan, sebagai cara cerdik guna mengeksplorasi isunya. Seperti sudah saya sebutkan, awalanya mereka semua tampak bahagia, tapi seiring waktu kita bisa melihat kehadiran seksime di tiap sudut.

Seksime (dan patriarki) yang kasat mata bagi karakternya, karena itu terjadi terlalu lama dan sering sampai menjadi kebiasaan, atau malah budaya. Sunita (Geetika Vidya Ohlyan), pembantu di rumah protagonis kita, bercerita tentang sang suami yang sering memukulinya di rumah sambil tertawa, seolah itu keseharian bagi sepasang suami istri. Di tengah jalan menuju kantor, Vikram mengeluhkan tentang orang-orang yang membiarkan wanita menyetir mobil, lalu ketika Amrita bertanya apa dia boleh belajar menyetir, Vikram berkata, “Lebih baik kamu belajar masa dulu!”. Dan masih ada kasus-kasus lain.

Tamparan itu menjadi pemantik, bukan cuma bagi Amrita, juga orang-orang di sekitarnya soal ketidakadilan gender. Mereka mulai bereaksi, berpikir, bahkan coba membayangkan apa jadinya bila ada di posisi serupa. Dengan demikian, penonton pun bisa memperoleh perspektif berbeda-beda pula.

Berlatar India di mana patriarki mengakar kuat, tidak membuat film ini eksklusif diperuntukkan bagi masyarakat lokal. Thappad cukup universal. Mungkin kalian pernah mendengar beberapa sudut pandang karakternya di kehidupan sehari-hari. “Wanita harus belajar toleransi demi mempertahankan keluarga. Wanita harus menahan perasaannya”. Terdengar familiar?

Hebatnya, Thappad adil dalam melempar kritik. Kita melihat beberapa pria “bersatu”, menyatakan bahwa perbuatan Vikram bukan hal besar, tapi di sisi lain, banyak juga wanita yang terlanjur terperangkap jebakan pola pikir patriarkis. Ibu Amrita (Ratna Pathak Shah) menganggap, sebagai seorang wanita, kepergian puterinya dari rumah saat tengah gamang akibat tamparan sang suami, bukanlah keputusan baik. Sedangkan Netra (Maya Sarao), pengacara yang kerap memperjuangkan hak wanita, menganggap kemarahan Amrita kurang beralasan. Kenapa itu dapat terjadi? Thappad punya jawaannya. Pola asuh jelas bertanggung jawab.

Menyimpan begitu banyak pokok pembicaraan, mampukah filmnya bertutur secara solid? Rupanya mampu. Isunya terkesplorasi menyeluruh, biarpun sempat jalan di tempat begitu mencapai pertengahan durasi. Beberapa bagian bisa dipotong sehingga tak perlu berjalan selama hampir dua setengah jam, pacing bisa lebih dimainkan, dan semua itu takkan mengurangi dampaknya.

Setiap dinamika penceritaan mulai menurun, departemen akting datang menolong. Jajaran cast-nya melakoni porsi masing-masing dengan baik, tapi secara alamiah, tentu saja Taapsee Pannu paling menonjol. Transisinya, dari sosok wanita bercahaya menjadi seseorang yang kehilangan semua cahaya, meyakinkan. Selepas transisi, meski sekilas tak banyak mengubah ekspresi, tatapan dan kata-kata singkatnya justru semakin tajam. Kita bisa merasakan apakah ia sedang sedih, terkejut, jijik, marah, atau semuanya sekaligus.

Selain keberhasilan eksplorasi isu, pencapaian lain dari kedua penulisnya adalah soal penulisan kalimat yang diucapkan karakternya. Anubhav Sinha dan Mrunmayee Lagoo piawai mengolah kata-kata, dari yang menyadarkan kita, memberi informasi, memprovokasi, atau menyentuh hati, seperti kalimat terakhir yang diucapkan Vikram kepada Amrita, yang memantapkan status Thappad bukan sebagai tontonan sarat amarah atau dendam, melainkan kisah humanis yang didasari cinta dan kepedulian. Tidak semestinya kita melakukan hal yang salah, namun jika terlanjur, hal terbaik dan pertama yang harus dilakukan adalah meminta maaf, sebelum kemudian berusaha menjadi lebih baik, demi diri sendiri dan orang-orang tercinta.


Available on PRIME VIDEO

9 komentar :

Comment Page:

THE HALF OF IT (2020)

3 komentar
Disclaimer berbunyi “this is not a love story” sudah menjadi keklisean baru dalam suguhan romansa yang membawa keinginan tampil beda. Salah satu quote dalam The Half of It yang berbunyi “Doesn’t everyone think they’re different? But pretty much we’re all different in the same way” dapat diaplikasikan kepada film-film semacam itu. Apakah The Half of It merupakan cerita cinta? Ya dan tidak. Apakah pengemasannya baru? Beberapa ya, beberapa tidak.

Film kedua sutradara sekaligus penulis naskah Alice Wu setelah mencetak sejarah lewat Saving Face (2004)—selaku film Hollywood pertama dengan tokoh sentral Cina-Amerika selama lebih dari satu dekade—ini tetaplah romansa. Masih melibatkan beberapa remaja yang (diam-diam) saling suka, walau tak sepenuhnya demikian, sebab konklusinya sendiri berusaha menjangkau sesuatu yang lebih luas. Ada kesegaran terkait caranya menangani cinta segitiga, meski sekarang, komedi-romantis yang cenderung lembut ketimbang eksplosif dalam mengutarakan rasa, sederhana ketimbang festive, menampilkan manusia sehari-hari ketimbang sosok-sosok glamor nan rupawan, mulai menciptakan keumuman yang baru.

Ellie Chu (Leah Lewis) merupakan tipikal protagonis komedi-romantis masa kini. Penampilannya tidak feminin, terasing dari lingkungan sosial, seorang murid teladan, walau untungnya, penulisan Wu dan penampilan Lewis membuatnya tak seklise itu. Tidak terasa aura kesengsaraan, meski ia tetap punya sudut pandang pesimistis pula skeptis. Ellie tidak percaya Tuhan (yang melahirkan beberapa humor yang menyentil religiusitas termasuk kekacauan luar biasa lucu di gereja jelang akhir cerita), pun ia memandang cinta secara logis.

Ellie memanfaatkan kepintarannya untuk berbisnis. Dia menerima jasa penulisan makalah filsafat bagi teman-teman sekelasnya. Sewaktu Paul (Daniel Diemer) memintanya menuliskan hal lain, yakni surat cinta untuk Aster (Alexxis Lemire), gadis cantik yang terjebak dalam hubungan dengan alpha male populer yang bodoh, Ellie bertanya, bagaimana bisa Paul mencintai seseorang yang tak pernah ia ajak berinteraksi langsung.

Cinta tak harus logis. Kita bisa mencintai seseorang yang tak begitu kita kenal. Pun setelah bertemu Aster, anda akan memahami kenapa Paul bisa jatuh hati. Dia cantik, senyumnya seolah menebarkan kebaikan, dan terpenting, ia berwawasan luas. Mudah bersimpati terhadap Aster, yang memiliki pacar bodoh, juga koran surat cinta palsu yang membangkitkan harapan palsu, bahwa ada pria baik nan cerdas yang dapat mencuri hatinya.

Tapi Ellie juga tak seutuhnya keliru. Cinta juga soal mengenal satu sama lain. Tanpa itu, takkan ada koneksi, seperti yang menimpa Paul dan Aster pada sebuah kencan perdana yang berantakan, di mana menyedot milkshake lebih sering dilakukan daripada bertukar pikiran.

Melihat dari apa yang sudah saya tulis, mungkin anda menemukan beberapa kontradiksi dalam filmnya. Sederhananya, membingungkan. Bagaimana tidak? Bukankah cinta membingungkan? Bukankah masa remaja membingungkan? Bayangkan betapa membingungkan saat kedua hal itu bertemu. Semakin rumit ketika pelan-pelan kita menyadari kalau Ellie adalah lesbian, dan mulai timbul kecurigaan jika ia pun menyukai Aster. Elemen tersebut memberi twist menarik untuk cinta segitiganya. Sebuah sentuhan yang membuatmu sulit menerka kisahnya bakal berakhir di mana.

Lagipula siapa yang bisa menebak hasil akhir dari problematika remaja yang senantiasa kompleks, dan seringkali di luar nalar orang dewasa. Tapi The Half of It bukan suguhan teen angst. Dan karena punya protagonis seorang queer, bukan berarti filmnya harus sarat pesan sebagai suatu tontonan berorientasi protes. Alice Wu memperlakukan elemen LGBT “hanya” sebagai salah satu bagian dari perjalanan remaja mencari jati diri.

The Half of It ingin tampil serealistis mungkin, meskipun melambungnya popularitas Ellie secara mendadak pasca sebuah penampilan sederhana di atas panggung, jelas bukan wujud realisme. Turut menyimpan masalah adalah penyutradaraan Alice Wu. Minim letupan, tender, yang mana merupakan niatan baik guna membawa keintiman lebih, biarpun seringkali, sang sutradara terlalu sibuk bermain simbolisme visual, sembari berusaha keras menekan ekspresi rasa supaya filmnya tidak berwajah mainstream. Tapi satu titik yang memperlihatkan kesuksesan sensitivitas Alice Wu terletak pada ending, tatkala selama beberapa detik, bersama karakternya, kita diajak meresapi kedamaian dalam momen. Like the moment seizes us, absorbs us into its existence.


Available on NETFLIX

3 komentar :

Comment Page: