THE VAST OF NIGHT (2019)
Rasyidharry
Mei 31, 2020
Andrew Patterson
,
Bagus
,
Bruce Davis
,
Craig W. Sanger
,
Erick Alexander
,
Gail Cronauer
,
Jake Horowitz
,
James Montague
,
Jared Bulmer
,
M.I. Littin-Menz
,
REVIEW
,
Science-Fiction
,
Sierra McCormick
1 komentar
The Vast of Night dibungkus layaknya sebuah episode
serial televisi antologi berjudul Paradox
Theatre, lengkap dengan narasi pembuka serta title card yang memberi rujukan kuat pada The Twilight Zone. Beberapa kali, termasuk di opening, penonton diposisikan seolah sedang menonton di depan televisi
model lama. Pengemasan itu tanpa substansi. Sebatas gimmick. Sementara keseluruhan filmnya bak versi talky dan low-key dari The Twilight
Zone, tapi dengan hasil memikat, alias bukan sekadar tribute kosong.
Kenapa talky? Karena
sejak awal, saat Everett (Jake Horowitz) si penyiar radio mampir sejenak ke
stadion yang nantinya terisi penuh oleh mayoritas warga Cayuga, New Mexico, yang
berbondong-bondong menyaksikan pertandingan basket perdana musim tersebut,
filmnya langsung memberondong penonton dengan deretan banter cepat, terkadang saling tumpang tindih, yang seperti diambil
dari judul-judul karya Richard Linklater.
Bersama Fay (Sierra McCormick), operator switchboard yang tengah bersemangat memainkan alat perekam barunya,
Everett berjalan meninggalkan stadion, membicarakan banyak hal dari gosip
tetangga, masalah kabel di sekolah yang digigit seekor tupai, sampai bahasan
saintifik mengenai posibilitas penemuan canggih di masa depan (kisahnya
berlatar tahun 1950an), seperti jalan raya elektrik, alat transportasi berwujud
tabung, dan satu hal yang menurut Fay mustahil terwujud: telepon selular.
Sejatinya obrolan mereka cuma alat pengisi waktu. Tanpa
dampak ke cerita utama, tanpa pesan terselubung (selepas konflik utama masuk,
pembicaraan sempat sekilas menyinggung isu rasisme serta paranoia pasca Perang
Dingin), walau berfungsi memberi gambaran lebih mengenai hubungan non-romantis
kedua protagonis.
Everett dan Fay memulai pekerjaan masing-masing. Malam
bergulir seperti biasa, sampai Fay menangkap sebuah frekuensi audio misterius,
yang mendorong mereka melakukan investigasi, sementara di saat bersamaan,
beberapa fenomena aneh dialami warga Cayuga yang tak menonton pertandingan
basket. Sutradara debutan Andrew Patterson membuka misteri lewat single take sepanjang 10 menit, yang
menghasilkan bangunan ketegangan bertahap yang pelan-pelan makin mencengkeram,
sedangkan McCormick menjual kebingungan sekaligus kecemasan karakternya secara
meyakinkan.
Dibantu sinematografer M.I. Littin-Menz, Patterson gemar
memainkan metode pengambilan gambar, termasuk saat kamera beranjak keluar dari
kantor Fay, menyapu jalanan kota kosong yang membangun kesan isolasi yang
sesekali bisa ditemui juga di The
Twilight Zone, masuk lalu keluar dari stadion basket yang bergemuruh,
sebelum tiba di stasiun radio Everett. Momen tersebut—ditambah efek spesial di
penghujung durasi—adalah pameran pencapaian teknis filmnya di tengah keterbatasan
biaya. Demikian pula ketika Erick Alexander dan Jared Bulmer menjadikan suara
tepuk tangan sebagai salah satu bagian musik. Semua mewakili ambisi tim pembuat
film muda ini untuk melahirkan film murah yang bergaya.
Penyelidikan tokoh utamanya turut dibantu dua narasumber: Billy
(disuarakan Bruce Davis), mantan anggota militer, dan wanita tua bernama Mabel
(Gail Cronauer). Sepanjang percakapan, sosok Billy tak pernah nampak. Kita cuma
mendengar suaranya melalui telepon, sedangkan kamera menaruh fokus pada ekspresi
Everett, sambil sesekali berpindah ke Fay, yang ditangkap secara close-up. Bahkan tak jarang kita hanya
melihat layar hitam, melahirkan nuansa atmosferik yang mencerminkan sensasi
serupa drama radio. Imajinasi penonton dibiarkan bergerak liar mengikuti cerita
ala teori konspirasi yang tak pernah membosankan.
Pertanyaan yang diajukan adalah, “Apakah cerita-cerita
tersebut benar adanya?”. Apakah Billy berkata jujur atau sebatas orang iseng?
Apakah Mabel mengutarakan kebenaran atau cuma wanita tua yang kehilangan
kewarasan, juga salah mengartikan autisme puteranya? Misteri-misteri ini jadi pengikat
atensi, sembari kita pelan-pelan mengumpulkan petunjuk, yang sejatinya mengarah
ke satu jawaban. Jawaban dalam ending, yang
sayangnya gagal memberi penebusan setimpal. Seolah naskah buatan James Montague
dan Craig W. Sanger berkata, “You wanna
see “that thing” right? Here, we give
you one”, tanpa ada olahan ketegangan, teror, atau sense of wonder (yang kemungkinan besar jadi incaran terbesar
pembuat filmnya, sebagai tribute kepada
Close Encounters of the Third Kind).
The Vast of Night merupakan surat cinta. Surat cinta
untuk suguhan fiksi-ilmiah, pula surat cinta untuk seni merekam suara. Bahkan
terdapat adegan mendetail di mana Everett berkali-kali membongkar-pasang pita
rekaman. Mungkin itu juga alasan mengapa filmnya begitu “cerewet”. The Vast of Night bukan tontonan yang
bakal meneror , menakuti, apalagi memacu jantung penonton melalui kisah invasi
alien berskala besar. Bayangkan kalian sedang duduk bersama teman-teman,
berkumpul sembari minum-minum, merokok, berkelakar, kemudian salah seroang
teman mulai menceritakan sebuah kisah abnormal yang amat menarik.
Available on PRIME
VIDEO
HONEST CANDIDATE (2020)
Rasyidharry
Mei 30, 2020
Comedy
,
Heo Sung-hye
,
Jang Yoo-jeong
,
Kim Moo-yul
,
Kim Sun
,
Korean Movie
,
Kurang
,
Na Mon-hee
,
Ra Mi-ran
,
REVIEW
,
Yoon Kyung-ho
2 komentar
Honest Candidate merupakan remake dari film Brazil, O
Candidato Honesto (2014), yang kisahnya sendiri kurang lebih bisa
dideskripsikan sebagai “Liar Liar-nya
Jim Carrey, tapi ubah profesi protagonis dari pengacara menjadi politikus”.
Ditangani oleh sutradara wanita, Jang Yoo-jeong (Finding Mr. Destiny, The Bros), di atas kertas keputusan mengubah
gender tokoh utamanya merupakan pilihan tepat, di mana isu seputar seksisme terhadap
kandidat anggota dewan wanita jadi bisa ditambahkan. Masalahnya, Honest Candidate berambisi menambahkan
terlalu banyak.
Joo Sang-sook (Ra Mi-ran) sudah tiga kali terpilih sebagai
anggota Majelis Nasional, dan kini tengah berkampanye untuk masa jabatan
keempat. Adegan pembuka film memperlihatkan video kampanye Sang-sook, yang
menjual simpati tentang sepak terjangnya di dunia politik yang terinspirasi kebaikan
mendiang neneknya (Na Mon-hee). Sampai kita tahu bahwa nenek Sang-sook belum
meninggal, mengasingkan diri di pedalaman, mengubah namanya agar secara hukum
tercatat sebagai nenek dari Park Hee-cheol (Kim Moo-yul), asisten pribadi
Sang-sook.
Politikus satu ini memang penuh kepalsuan (tapi politikus
mana yang tidak?). Demi citra “merakyat”, ia menginjak sepatunya agar terlihat
usang, membangun kemesraan palsu bersama sang suami (Yoon Kyung-ho), bahkan
pura-pura tinggal di apartemen sempit walau sebenarnya memiliki rumah mewah.
Setiap malam, Sang-sook dan suami memakai penyamaran lengkap, lalu diam-diam pulang
ke kediaman nyaman mereka. Absurd? Percayalah, banyak politikus bertingkah
lebih gila. Apa yang Sang-sook lakukan adalah cerminan relevan.
Proses kampanya berjalan lancar dan sepertinya kemenangan
tinggal menunggu waktu, hingga mendadak Sang-sook kehilangan kemampuan
berbohong. Mulutnya tak terkontrol, berujung menciptakan kekacauan ketika ia
melontarkan pernyataan jujur yang “tidak seharusnya” diucapkan polikus,
terlebih di masa kampanye. Tapi jangan harap Honest Candidate menawarkan satir mendalam yang thought-provoking, meski kondisi di atas
memberikan bekal memadai.
Naskah buatan Kim Sun dan Heo Sung-Hye (Secret Zoo), seperti sempat saya
singgung, berusaha mengolah begitu banyak isu, dari kebohongan politikus yang
menghalalkan segala cara demi kemenangan, korupsi menjadi-jadi termasuk di
ranah edukasi, peran jurnalisme, konspirasi tingkat tinggi, sampai persoalan
gender, di mana Sang-sook mesti menghindari citra “terlalu maskulin”, tapi di
sisi lain juga memakai rambut palsu pendek (yang menurut standar kecantikan
kerap dipandang kurang feminin) agar tampak sebagai politikus wanita tangguh.
Tapi semuanya disatukan paksa, murni didasari ambisi menyuarakan, “Lihat! Politikus
kita segila ini!”, ketimbang memilih satu kisah utama, kemudian secara cermat
mengembangkannya.
Apakah komedi memerlukan alur solid? Tentu, jika tujuannya
melahirkan satir berbobot. Tapi di ranah hiburan ringan pun, itu dibutuhkan,
supaya humornya terfokus, dan filmnya sendiri bisa menaruh fokus pada
penghantaran humor tersebut alih-alih dibuat kelabakan menggabungkan terlalu
banyak cabang.
Honest Candidate terkena getahnya. Konfliknya penuh
sesak, ditambah penyuntingan kasar yang membuat pergerakan alur jauh dari kesan
nyaman. Belum lagi penyutradaraan yang di beberapa kesempatan menyalahartikan
pendekatan bertenaga dengan kekacauan (in
a bad way). Penceritaannya berantakan, bahkan kerap membingungkan, yang
mana haram hukumnya dalam komedi ringan semacam ini. Sulit bersantai menikmati
banyolan-banyolan, sebab pikiran kita rutin terganggu dengan pertanyaan, “Ada apa? Bagaimana itu
terjadi?? Kenapa???”. Tatkala penonton mempertanyakan hal-hal demikian,
humornya pun hanya lewat begitu saja. Sedangkan sebagai satir, film ini terlalu
menyederhanakan masalah yang sejatinya kompleks, pula begitu nyata. Bagaimana
problematika dunia politiknya bergulir dan diakhiri terkesan sarat
simplifikasi. Dangkal.
Benar bahwa beberapa kelucuan tetap bisa ditemukan berkat Ra
Mi-ran yang berhasil mengalahkan kegilaan eksplorasi naskahnya. Sewaktu kedua
penulis menemui jalan buntu dalam memaksimalkan premis kemudian memilih
melempar humor yang terlampau jinak, sang aktris seperti biasa tak menahan
diri, mengerahkan semua senjata yang dimiliki.
Available on KLIK FILM
JAWAANI JAANEMAN (2020)
Rasyidharry
Mei 29, 2020
Alaya Furniturewala
,
Comedy
,
Cukup
,
Drama
,
Hindi Movie
,
Hussain Dalal
,
Kubbra Sait
,
Kumud Mishra
,
Nitin Kakkar
,
REVIEW
,
Saif Ali Khan
,
Tabu
Tidak ada komentar
Usia hanya sebatas angka. Begitu prinsip yang dianut Jazz
(Saif Ali Khan), protagonis dalam remake film
Argentina, Igualita a mí (2010), ini.
Menginjak kepala empat, jangankan berkeluarga, menjalani hubungan serius pun
Jazz tidak pernah. Pada siang hari, bersama saudaranya, Dimpy (Kumud Mishra),
ia adalah makelar yang tengah berusaha menuntaskan penjualan komplek apartemen
tempat tinggalnya, lalu malamnya, tak sekalipun Jazz absen dari kelab,
mabuk-mabukan, membawa pulang wanita berbeda setiap hari.
Jazz punya seorang teman wanita. Rhea (Kubbra Sait) namanya,
karyawan di salon langganannya. Tapi keduanya cuma sebatas saling menggoda
tanpa niat menjalin hubungan serius. Cinta satu malam bersama para wanita muda
di kelab tetap jadi gaya hidup Jazz. Maka tidak heran ketika seorang gadis 21
tahun asal Amsterdam, Tia (Alaya Furniturewala), mendatanginya, Jazz tidak
pikir panjang untuk membawanya ke apartemen.
Tia diajaknya berdansa, menenggak wine, sembari bertukar
cerita. Bagi Jazz, aktivitas bercerita hanyalah basa-basi sebelum seks,
sehingga kata-kata Tia tak ia perhatikan.....sampai muncul pernyataan, “Ada
33,333% kemungkinan kamu adalah ayahku”. Pernyataan yang akhirnya dikonfirmasi
oleh hasil tes DNA. Jazz terkejut, tak menyangka kunjungan singkatnya ke
Amsterdam kala muda dulu memberinya buah hati. Semakin terkejut kala diketahui,
Tia sedang hamil. Dalam sekejap, Jazz si pria paruh baya pecandu pesta
menyandang status baru: seorang ayah sekaligus kakek.
Sungguh keadaan yang kacau, dan naskah buatan Hussain Dalal
memastikan bahwa semakin kacau keadaan, semakin lucu pula filmnya. Saya
terhibur oleh seringnya Tia “mengacaukan” petualangan cinta Jazz, pula beberapa
komedi situasi berbasis kesalahpahaman akibat pilihan Jazz menyembunyikan
status Tia, yang berhasil dijual dengan baik oleh para pemainnya. Keabsurdan
tak terhindarkan, termasuk saat Tabu (dalam penampilan singkat nan berkesan
sebagai ibu-ibu hippie yang menganggap teknologi bisa menyebabkan kanker) mulai
ambil bagian, lalu melahirkan kejadian unik dan canggung ketika Tia
memperkenalkan ayah dan ibunya satu sama lain. “Mom, this is dad. Dad, this is mom”. Kapan lagi kita mendengar
kalimat semacam itu?
Dibungkus pengadeganan bertenaga dari sutradara Nitin Kakkar
(Filmistaan, Notebook), Jawaani Jaaneman mulus menjalankan
misinya memancing tawa penonton, walau perihal penceritaan agak terlunta-lunta.
Serupa protagonisnya, film ini terlalu banyak berpesta. Mungkin sekitar 3-5
menit sekali kita diajak mengunjungi kelab malam yang acap kali membuat alurnya
jalan di tempat. Pun sejak menit pertama hingga konklusi, alurnya formulaik,
meski beruntung, naskahnya mampu menahan diri untuk tidak memaksakan keklisean
berupa romansa instan antara Jazz dan Rhea. Benih romansa keduanya dibiarkan
mulai tumbuh, namun tidak dipaksakan berbunga.
Jalannya proses akan mudah anda tebak, tapi setidaknya,
seiring waktu filmnya mampu memunculkan kepedulian terhadap Jazz dan Tia,
membuat kita berharap keduanya memperoleh kebahagiaan. Konklusinya pun
menghasilkan kepuasan melalui penutup menyentuh yang dengan tepat menggunakan
malam Diwali sebagai latar kebersamaan hangat keluarga.
Saif Ali Khan sarat antusiasme, sementara dalam debutnya, Alaya
Furniturewala menampilkan senyum yang bisa melelehkan orang berhati paling
keras sekalipun. Kombinasi keduanya pun cukup solid di tataran drama. Momen
saat Jazz meminta Tia pulang setelah pertemuan perdananya dengan keluarga besar
terasa menyentuh berkat ketulusan yang muncul dari tutur kata Saif, disusul
respon sempurna Alaya, sebagai seorang puteri yang terharu mendengar ucapan
penuh kasih sayang dari sang ayah untuk pertama kali.
Jawaani Jaaneman memang klise, khususnya bila
dibandingkan dengan keunikan premisnya. Tapi di antara keklisean tersebut, kita
dapat memahami segala tindakan dan keputusan yang diambil karakternya, termasuk
salah satu yang paling penting adalah sewaktu Jazz memutuskan berubah. Alasan
kesehatan, keluarga, serta keengganan menanti akhir usia seorang diri. Bukankah
semua itu yang kerap jadi pendorong pensiunnya para “Raja Pesta”?
Available on PRIME
VIDEO
BAD EDUCATION (2019)
Rasyidharry
Mei 25, 2020
Allison Janney
,
Biography
,
Cory Finley
,
Hugh Jackman
,
Lumayan
,
Michael Abels
,
Mike Makowsky
,
REVIEW
5 komentar
Frank Tassone (Hugh Jackman), selaku pengawas Roslyn School
District mampu membawa SMA Roslyn bertengger di peringkat keempat nasional,
yang meningkatkan harga properti di Long Island, sebab orang tua
berbondong-bondong menyekolahkan putera-puteri mereka di sana demi terbukanya
jalan diterima di jajaran universitas Ivy League. Frank juga piawai memotivasi murid-murid,
hafal nama serta kelas yang mereka ambil,pun ingat bahwa salah satu siswi
merupakan adik seorang alumni. Frank selalu memakai setelan berkelas, rambutnya
tertata rapi, wajahnya rupawan berkat berbagai perawatan termasuk operasi
plastik.
Semua tampak sempurna bagi Frank maupun lingkungannya. Tapi
itu mengingatkan kita pada beberapa hal: a) Tidak ada yang sempurna; b) Ambisi
berlebih akan kesempurnaan kerap berujung bencana; c) Selalu ada dua sisi koin.
Sebagai pengawas, Frank mendapat bantuan dari asistennya, Pam
Gluckin (Allison Janney dalam satu lagi penampilan superiornya), yang mengurusi
finansial. Tidak butuh waktu lama sampai terungkap jiwa Pam menyalahgunakan
wewenang tersebut. Dia memiliki banyak properti mewah, pula kerap menjalani
liburan mahal bersama keluarga, walau cuma memperoleh apa yang Frank sebut
sebagai “glorified teacher’s salary”.
Ya, Pam memakai uang sekolah demi kepentingan pribadi, lalu
memanipulasi laporan keuangan, yang menjelaskan mengapa atap gedung selalu
bocor walau biaya perawatan yang diajukan amat tinggi. Sampai sebuah kesalahan
bodoh dari puteranya, yang Pam minta untuk merenovasi rumah, memancing
kecurigaan direksi. Mereka pun melapor pada Frank.
Frank si pengawas tanpa cela. Frank yang berparas rupawan.
Frank yang begitu peduli pada murid-muridnya, baik yang masih sekolah atau
telah lulus. Wajah jajaran direksi mempercayainya. Mendengar perbuatan Pam,
Frank terkejut. Tapi benarkah ia tidak tahu?
Dari sini, naskahnya (adaptasi artikel The Bad Superintendent karya Robert Kolker), yang ditulis oleh Mike
Makowsky selaku mantan murid Frank di dunia nyata sekaligus saksi hidup skandal
tersebut, secara cerdik bermain dengan pilihan narasinya. Karena didasari
peristiwa nyata, bukan spoiler jika
saya menyebut bahwa Frank tidak sesuci kelihatannya. Dan saya yakin banyak
penonton sudah mencium gelagat tersebut berdasarkan beberapa petunjuk subtil
yang filmnya tanam. Menjadikan Frank seolah tak bersalah di awal kisah
merupakan keputusan tepat. Sewaktu kebenaran akhirnya terungkap, itu bukan
berfungsi sebagai twist yang hendak
mengejutkan penonton, namun membangun nuansa dramatis dalam titik balik
ceritanya.
Saat itulah senyum hangat sang superintendent mulai berevolusi jadi seringai yang cukup
menyeramkan. Kharisma dari senyuman itu mejadi intimidasi, tatkala Jackman,
dalam salah satu penampilan terbaik sepanjang karir, menghadirkan akting kaya
di mana kedua sisi berlawanan milik Frank mampu dipresentasikan sama kuatnya.
Tapi bagaimana mungkin Frank, dengan segala kecerdikannya,
mampu diungkap kejahatannya? Anda ingat di paragraf awal saya menyebut tentang
seorang siswi yang dikenali Frank sebagai adik mantan muridnya? Namanya Rachel
Bhargava (Geraldine Viswanathan). Dia adalah anggota kelab ekstrakurikuler
jurnalistik, yang ditugaskan menulis artikel tentang pembangunan jembatan udara
di sekolah. Rachel sempat mewawancarai Frank, meminta sang pengawas
menyampaikan komentar singkat. Seperti biasa, Frank berusaha memotivasi anak
didiknya. Didorongnya Rachel agar menggali kisahnya secara lebih dalam.
Ironisnya, dorongan itu menggali lubang kubur Frank sendiri.
Bad Education memang dipenuhi ironi serta sense of tragedy, yang turut diwakili scoring gubahan Michael Abels (Get Out, Us), yang sesekali menyiratkan impending doom yang menghantui, sedangkan
di lain waktu terdengar bagai keruntuhan dramatis suatu skema kecurangan. Saat
Rachel menyetorkan draf pertama yang
menyoroti biaya berlebih proyek jembatan udara, tulisannya ditolak oleh ketua
kelab, yang kemudian menggantin framing artikel
menjadi antusiasme siswa menyambut proyek tersebut. Acap kali citra memang
lebih dipentingkan ketimbang kebenaran. Ini adalah hasil dari komersialisasi
pendidikan, baik demi menebalkan saku pribadi atau prestise, yang berujung
menghancurkan esensi pendidikan itu sendiri.
Cory Finley selaku sutradara mampu membawa Bad Education bergerak dalam pace yang nyaman dinikmati, dengan
ketepatan kadar dramatisasi. Kesuksesan menangani film berbasis kisah nyata
dengan pendekatan serealis mungkin merupakan pencapaian bagi sineas yang angkat
nama melalui komedi hitam seperti Thoroughbreds
(2017) ini, membuktikan luasnya jangkauan Finley dalam berkarya.
Tapi seperti saya, mungkin anda bakal merasa ada bumbu yang
kurang dalam film ini. Bad Education mengambil
jalan tengah, berniat menyeimbangkan elemen investigasi (khususnya pesan
tentang bagaimana investigasi kecil berupa surat kabar siswa sanggup mengungkap
skandal besar yang menghebohkan negeri), dengan fokus terhadap sisi personal
Frank. Sayangnya tak satu pun mencapai potensi maksimal. Intensitas investigasi
urung memuncak, pun terkesan ambigu apakah kita diajak bersimpati pada Frank,
mengutuk, atau keduanya. Pun bentuk Bad
Education tak pernah seutuhnya jelas. Murni suguhan dramatik, atau komedi
gelap (walau ada usaha menyasar bentuk yang kedua).
Available on HBO GO
THE LOVEBIRDS (2020)
Rasyidharry
Mei 23, 2020
Aaron Abrams
,
Brendan Gall
,
Comedy
,
Crime
,
Issa Rae
,
Kumail Nanjiani
,
Kurang
,
Michael Showalter
,
Paul Sparks
,
REVIEW
,
Romance
1 komentar
The Lovebirds jelas dibuat atas kesadaran perihal diversity (baik perspektif humanis
maupun bisnis). Kisahnya mengenai romansa antarras pria Pakistan-Amerika dengan
wanita Afrika-Amerika. Di tengah cerita, keduanya sempat berbagi Lyft dengan
pria kulit putih dan wanita Asia-Amerika, yang kebetulan juga sepasang kekasih.
Pada titik itu diversity-nya terlalu on-the-nose, tapi mau bagaimana lagi?
Fase ini diperlukan agar Hollywood bisa tiba di titik di mana film dengan tokoh
multikultural jadi pemandangan biasa.
Masalahnya bukan tentang hubungan
beda ras protagonisnya, namun untuk film berjudul “The Lovebirds”, kedua protagonis kita tidak tampak seperti...well, the lovebirds. Kumail Nanjiani dan
Issa Rae memikat sebagai pasangan komedik, bukan romantis. Ketimbang kekasih
yang hubungannya retak, mereka lebih seperti sahabat yang selalu bersama, atau
malah tinggal di satu atap meski tanpa perasaan lebih. The Lovebirds memang dipenuhi hal-hal yang menuntut pemakluman
penontonnya agar dapat dinikmati.
Jibran (Kumail Nanjiani) adalah
pembuat dokumenter yang tak menghasilkan uang. Leilani (Issa Rae) terobsesi
mengikuti The Amazing Race. Jibran
menganggap Leilani berpikiran dangkal, Leilani merasa Jibran seorang yang
gagal. Mereka baru saja sepakat mengakhiri hubungan di tengah jalan menuju
pesta saat mobil yang dikendarai tiba-tiba menabrak pria penunggang sepeda.
Pria tersebut bertingkah mencurigakan, buru-buru kabur tanpa bersedia
dipanggilkan ambulans. Lalu datang pria lain (Paul Sparks), yang oleh Jibran
dan Leilani dipanggil “Moustache”.
Moustache mengaku sebagai polisi,
mengambil alih mobil mereka untuk mengejar si penunggang sepeda, kemudian
melindasnya sampai mati. Di tengah kekacauan, datang dua pejalan kaki yang menuduh
Jibran dan Leilani telah melakukan pembunuhan dan menelepon polisi. Keduanya
panik, lalu melarikan diri, setelah meyakini bahwa sebagai minoritas, polisi
takkan berbaik hati memberikan praduga tak bersalah.
Mengingat kerapnya aparat bertindak
tidak adil terhadap minoritas, keputusan mereka bisa diterima. Bodoh, tapi
dapat dimengerti. Sampai datang deretan keputusan-keputusan bodoh lain yang
oleh Aaron Abrams dan Brendan Gall selaku penulis naskah, dipaksakan hadir demi
menggulirkan alur. Salah satu kebodohan paling fatal adalah ketidakmampuan
Jibran, sebagai pembuat dokumenter, menyadari satu hal yang bisa membuktikan ia
dan sang (mantan) kekasih tidak bersalah. Satu hal yang akhirnya juga dipakai
film ini sebagai jalan keluar.
Sejatinya The Lovebirds punya ide dasar yang cukup guna menyokong absurditas
dalam film semacam ini, dengan melibatkan misteri pembunuhan, konspirasi, hingga rahasia "nakal" para penguasa, tapi eksplorasinya
tidak cukup berani (atau kreatif?) untuk melangkah ke jalur yang lebih liar.
Sempat tercipta suasana menegangkan kala protagonis kita menyusup ke sarang
musuh dan nyaris ketahuan. Saya pun antusias menanti bagaimana filmnya bakal
menyelesaikan itu. Antusiasme itu gagal terbayar, saat lagi-lagi rute tidak kreatif
ditempuh, yang berujung pada unsur dipaksakan lain. Kali ini mengenai polisi
yang terlalu bodoh mengambil sikap ketika menyadari ada mata-mata dalam tubuh
mereka.
Humornya mayoritas berasal dari
banter yang seringkali berkembang jadi adu argumen konyol, ditambah beberapa
komedi situasi. Walau tak cukup kuat menjalin chemistry romantis, Nanjiani dan Rae tampil prima perihal memancing
tawa. Keduanya tahu bagaimana harus bereaksi atas banyolan satu sama lain,
berimprovisasi, dan menyelamatkan beberapa materi medioker lewat gaya
histerikal masing-masing.
Komedinya cukup efektif, namun jauh
dari kesan segar, pun sang sutradara, Michael Showalter (The Big Sick) kurang piawai mengolah adegan supaya bertenaga. Sama
seperti keseluruhan filmnya, yang sebatas pengulangan lebih lemah dari
tontonan-tontonan serupa yang telah ada sebelumnya. The Lovebirds diisi deretan keklisean. Bahkan dua tokoh utamanya
menyanyikan lagu klise: Firework.
Tapi berbeda dengan lagu Katy Perry tersebut, film ini tak punya gairah kuat
yang mampu menyemarakkan hari penontonnya.
Available on NETFLIX
WAVES (2019)
Rasyidharry
Mei 16, 2020
Alexa Demie
,
Bagus
,
Drama
,
Drew Daniels
,
Renée Elise Goldsberry
,
REVIEW
,
Sterling K. Brown
,
Trey Edward Shults
1 komentar
Seperti judulnya, film ini bergerak seperti ombak, baik secara
teknis maupun rasa. Waves mengingatkan
bahwa Trey Edward Shults yang melahirkan karya out-of-the-box lewat Krisha (2015),
masih getol mengeksplorasi dan mendobrak batas-batas storytelling, selepas It
Comes at Night (2017) yang lebih seperti usaha menjadi hipster.
Melalui tata kamera arahan
sinematografer langganannya, Drew Daniels, Shults mengemas opening yang serupa gelombang di lautan. Kamera berputar 360
derajat, sesekali bergerak liar, sesekali melambat, bahkan saat hanya menyoroti
layar smartphone, tetap ada gerakan
layaknya riak-riak kecil. Kita pun bisa merasakan betapa kaya serta dinamisnya
kehidupan si tokoh utama, seorang siswa SMA populer sekaligus atlet gulat
bernama Tyler (Kelvin Harrison Jr).
Karir gulatnya moncer, membuat
beasiswa jalur olahraga dari universitas ternama seolah tinggal menunggu waktu.
Walau sang ayah, Ronald (Sterling K. Brown), yang dulu mantan atlet kerap
terlalu menekannya, sang ibu tiri, Catherine (Renée Elise Goldsberry) membuat
Tyler tak kekurangan kasih sayang. Apalagi hubungan cintanya dengan Alexis (Alexa
Demie) sedang panas-panasnya.
Hidup Tyler sekilas sempurna, walau
sesungguhnya ada beberapa benih permasalahan yang siap meluap. Akibat kerap
memaksakan diri, pundak Tyler menderita cedera SLAP (Superior Labral Tear
from Anterior to Posterior) Tear tingkat
5 alias tingkatan terparah. Tertekan, Tyler justru diceramahi oleh Ronald, yang berkata, “Menurutmu cuma
kamu yang punya masalah?!”. Dia pun memilih bungkam, merahasiakan cedera tersebut.
Di saat bersamaan, Alexis mendapati sudah tiga minggu ia telat datang bulan.
Lalu semua yang ditakutkan terjadi.
Tyler cedera di tengah pertandingan dan karir gulatnya hancur. Bukannya
mengangkat moral puteranya, Ronald justru menyalahkan. Ayah enggan
mendengarkan, anak menolak bicara. Demikian juga soal kehamilan Alexis. Tyler
bersikeras memaksakan aborsi tanpa mau memedulikan perspektif kekasihnya. Waves mengangkat soal pentingnya proses
bicara dan mendengarkan dalam keterbukaan. Seluruh konflik hadir karena
karakternya menolak “memasang telinga” sembari membiarkan ego menguasai
dirinya.
Waves tidak dibuat agar penonton bersimpati pada protagonisnya,
mengingat seiring waktu, Tyler semakin hancur dan semakin sering berbuat
kebodohan. Tujuan Waves adalah
membuat kita ikut merasakan sakit serta kecemasan yang sama. Shults seperti
membawa kita mengarungi ombak ganas, yang bisa berubah dari menghadirkan rasa
sesak, kemudian melegakan, hanya untuk tiba-tiba melempar luka.
Dinamika emosi itu diwakili oleh
visualnya. Drew Daniels jeli bermain warna, entah itu kamar berdinding biru
milik Tyler yang dihiasai sebersit cahaya matahari yang masuk melalui gorden
merah-hijau-biru, malam bertabur lampu-lampu neon yang meski vibrant tetap terkesan kelam, hingga
biru gelap yang mewarnai laut tatkala senja. Tapi yang paling menonjol
sekaligus berkesan tentu bagaimana Shults menggabungkan empat rasio aspek (ada
yang menyebut lima, tapi saya hanya menemukan empat, begitu juga data dari
IMDb) dalam filmnya.
Dibuka dengan rasio standar 1.85 :
1, gambarnya ikut menyempit saat tekanan yang Tyler alami makin besar (menjadi 2.35
: 1, sempat sejenak menjadi 2.67 : 1, lalu berakhir di 1.33 : 1). Apa yang
terjadi setelah aspek rasio menyentuh format 1.33 : 1 di mana protagonis
mencapai titik terendahnya? Saat itulah Shults melakukan keputusan tak terduga
terkait penentuan arah cerita. Waves memasuki
babak kedua, mengoper fokus kepada adik Tyler, Emily (Taylor Russell), berubah dari
rangkaian kisah yang menghancurkan jadi membangun. And guess what? Aspek rasionya pun pelan-pelan kembali seperti
semula.
Membagi alurnya ke dalam dua babak dengan
fokus berlawanan, menandakan bagaimana Shults tidak memandang remeh proses menyembuhkan
luka hati. Walau tidak menyimpan kejutan-kejutan seperti babak pertama,
ditambah intensitas yang mengendur sebab kita sudah bisa menebak pola yang
bakal filmnya tempuh, rasanya tetap menyenangkan sewaktu rentetan rasa sakit
yang sebelumnya menerjang tanpa henti mulai dibasuh oleh emosi-emosi positif.
Tidak mau kalah dari departemen
visual, tata suara film ini juga piawai mewakili rasa. Mulai efek suara
menyakitkan ketika Tyler mengalami cedera, juga barisan musik pilihan sang
sutradara yang terdiri atas nomor-nomor rap, R&B, hingga pop elektronik yang
terdengar atmosferik (bukan kejutan kalau ada Radiohead). Sementara di jajaran cast, trio Kelvin Harrison Jr., Taylor
Russell, dan Sterling K. Brown berhasil menuangkan emosi raw yang efektif mencengkeram hati
penontonnya.
Available on CATCHPLAY+
SEA FEVER (2019)
Rasyidharry
Mei 13, 2020
Ardalan Esmaili
,
Connie Nielsen
,
Cukup
,
Dougray Scott
,
Hermione Corfield
,
horror
,
Neasa Hardiman
,
REVIEW
,
Science-Fiction
,
Thriller
1 komentar
Debut penyutradaraan layar lebar
Neasa Hardiman yang sebelumnya lebih aktif di industri perteleisian ini mungkin
takkan menjadi klasik layaknya judul-judul yang memberinya inspirasi, sebutlah Jaws, The Abyss, hingga The Thing, tetapi itu tidak menutupi
fakta bahwa Sea Fever dibuat secara
kompeten, pun mungkin bakal jadi topik perbincangan berskala medium, terkait
relevansi insidental yang dimilikinya dengan pandemi corona saat ini.
Siobhan (Hermione Corfield),
seorang ilmuwan muda cerdas, terpaksa mengesampingkan keengganannya
bersosialisasi demi gelar profesor, ketika mengikuti studi lapangan bersama
para kru kapal penjaring ikan Niamh Cinn-Oir milik pasangan suami istri, Gerard
(Dougray Scott) dan Freya (Toni Collette awalnya dipilih sebagai pemeran
sebelum digantikan Connie Nielsen). Awalnya semua berjalan lancar, walau kita tahu
peristiwa buruk bakal terjadi setelah Gerard dan Freya mengabaikan larangan
penjaga pantai memasuki zona terlarang.
Para kru terkejut mengetahui
Siobhan berambut merah, yang mereka percaya bisa mendatangkan sial. Kemudian di
sebuah kesempatan, Siobhan dan Freya terlibat obrolan santai mengenai laut yang
bersinar. Siobhan menjabarkan lewat sisi saintifik, sedangkan Freya
mengaitkannya dengan cerita rakyat. Sebuah pembicaraan yang menyandingkan dua
perspektif berlawanan, sekaligus menyiratkan benturan sudut pandang ilmiah dengan
hasrat personal yang nantinya terjadi.
Di tengah perjalanan, kapal
tiba-tiba berhenti, lalu Hardiman (juga bertindak selaku penulis naskah) secara
efektif mulai menyiratkan kengerian yang menanti, ketika Omid (Ardalan Esmaili)
mendapati lambung kapal berlubang. Beberapa substansi berlendir dan menjijikkan
menempel di lubang tersebut. Akhirnya diketahui, sesosok makhluk raksasa
misterius berwujud seperti cumi-cumi raksasa jadi penyebab berhentinya kapal.
Mengikuti jejak judul-judul klasik
yang disebut sebelumnya, kita tidak pernah melihat secara utuh wujud sang
monster, apalagi memahami asal-usulnya. Tapi kita tahu makhluk terseut menebarkan
parasit yang bisa mengakibatkan kematian mengenaskan, yang jadi cara Hardiman
menebar teror melalui gore. Sisanya,
ia mengandalkan nuansa klaustrofobik, membangun tontonan atmosferik yang tak
pernah tampil draggy berkat
kelihaiannya bermain tempo. Naskahnya juga cukup baik membagi poin-poin plot.
Banyak film serupa menyimpan elemen menariknya terlalu lama, sementara Sea Fever memastikan ada fakta baru tiap
beberapa waktu sekali tanpa harus mengungkap terlampau banyak.
Masalahnya, filmnya tidak pernah berhasil
memancing kepedulian terhadap tokoh-tokohnya. Beberapa karakteristik personal
cuma diungkap sekilas alih-alih diperdalam. Selebihnya, para kru hanya
figur-figur tak bernyawa, yang tinggal menunggu ajal tatkala mulai terserang sea fever, tanpa sempat disoroti
dinamika psikologisnya. Paling tidak ada hal positif dari penokohan Siobhan.
Perihal sisi antisosialnya, proses perubahannya tidak terjadi tiba-tiba. Baru
jelang akhir ia berbuat sesuatu yang takkan dilakukan oleh sosoknya di awal
film.
Prosesnya berlangsung dalam tahapan
pasti. Dari individu egois, dia mulai membuka diri, berinteraksi, lalu belajar
untuk tak menambah luka orang di sekitarnya, barulah akhirnya bersedia
berkorban. Dan ketimbang kelemahan fatal, filmnya memanfaatkan sisi antisosial
itu sebagai alasan logis saat menjadikan Siobhan voice of the reason dalam kelompok. Memasuki sepertiga akhir,
timbul perdebatan yang secara kebetulan mencerminkan isu social distancing yang belakangan marak dibahas. Masuk akal saat
Siobhan jadi pihak yang mengusulkan karantina sedangkan kru lain ingin segera
pulang demi bertemu keluarga (Halo para pemudik nekat Indonesia!). Bukan semata
karena ia protagonis sehingga otomatis merupakan karakter berpikiran paling
jernih, namun pola pikirnya memang berorientasi saintifik.
Sayangnya ada poin bermasalah.
Siobhan mengusulkan karantina 36 jam demi menekan peluang penyebaran parasit,
sebab bukan mustahil sudah ada salah satu dari mereka yang terinfeksi, yang
mendorongnya melakukan tindakan ekstrim sewaktu kru lain menentang. Tapi segala
pertikaian itu berujung percuma, bahkan konyol, ketika hanya menggunakan metode
sederhana, Siobhan dapat mendeteksi apakah parasit telah hidup dalam tubuh
seseorang atau tidak. Setelahnya, urusan karantina pun total dilupakan.
Klimaksnya juga lemah, gagal
mencapai puncak ketegangan. Keputusan menyelipkan pesan lingkungan yang membuat
Sea Fever menempuh jalan berbeda
dibanding kebanyakan film monster maupun dana minim jelas bukan alasan.
Kegagalan ini murni dikarenakan ketidakmampuan Neasa Hardiman, baik sebagai
penulis atau sutradara, bereksplorasi secara kreatif guna mengakali
keterbatasan. Andai berhasil, mungkin Sea
Fever akan lebih memorable.
Available on KLIK FILM
TRUE HISTORY OF THE KELLY GANG (2019)
Rasyidharry
Mei 11, 2020
Ari Wegner
,
Biography
,
Charlie Hunnam
,
Essie Davis
,
George MacKay
,
Jed Kurzel
,
Justin Kurzel
,
Lumayan
,
Nicholas Hoult
,
REVIEW
,
Russell Crowe
,
Shaun Grant
Tidak ada komentar
Film ini mencantumkan “True History” pada judul; dibuka dengan
kalimat “Nothing you’re about to see is
true”; dinarasikan dalam bentuk surat sang protagonis kepada calon anaknya,
agar ia tidak tertipu oleh sejarah tentang sang ayah yang kemungkinan bakal
dipelintir para penguasa. Jika terdengar banyak mengandung kontradiksi, itu
memang disengaja, sebab sutradara Justin Kurzel (Macbeth, Assassin’s Creed) bersama penulis naskahnya, Shaun Grant (Berlin Syndrome), mengadaptasi novel
berjudul sama karya Peter Carey sebagai media bermain-main dengan gagasan
mengenai sejarah dan cerita rakyat.
Nama Ned Kelly (versi bocah
diperankan Orlando Schwerd, versi dewasa diperankan George MacKay) begitu
legendaris. Seorang perampok yang menjadi ikon nasional. Sosoknya pun tak asing
di dunia sinema. Mendiang Heath Ledger pernah memerankannya dalam Ned Kelly (2003), begitu pula Mick
Jagger dalam film rilisan 1970 berjudul serupa, bahkan mundur jauh ke belakang,
film bisu The Story of Kelly Gang (1906)
dipercaya sebagai film panjang naratif pertama sepanjang sejarah.
Banyak pihak memuja Ned Kelly,
menganggapnya sebagai pejuang kaum bawah yang ditindas penjajah layaknya Robin
Hood, namun tak sedikit yang melihatnya sebagai pembunuh keji belaka. Jadi
versi mana yang benar? True History of
the Kelly Gang tidak tertarik menuturkan kebenaran, tapi mengincar sesuatu
yang secara estetika jauh lebih menarik, yaitu eksplorasi terhadap “the creative nature of storytelling”.
Ned punya masa kecil yang keras. Dia
melihat ibunya, Ellen (Essie Davis), bercinta dengan Sersan O’Neill (Charlie
Hunnam) demi uang; ayahnya, yang kelak meninggal di penjara, konon sering
terlihat berlarian sambil mengenakan gaun perempuan berwarna merah (ada rahasia
lain terkait fakta ini); harus membunuh sapi ternak tetangga agar bisa memberi
makan keluarga; sampai terpaksa meninggalkan rumah setelah Ellen diam-diam
menjualnya kepada Harry Power (Russell Crowe), yang kelak mengajari Ned cara
merampok dan menembak penis seseorang.
Menerapkan genre western di latar Australia, sinematografi
arahan Ari Wegner (Lady Macbeth)
mengganti kegersangan wild west dengan
pedesaan kumuh yang bakal membuatmu merasa kotor hanya dengan melihatnya.
Sebuah panggung sempurna untuk memotret kerasnya kehidupan, pun mungkin juga
soal machismo, mengingat filmnya berkisah tentang sekelompok bandit laki-laki
gila. Tapi sebaliknya, Kurzel dan Grant justru memberi sentuhan homoerotik. Ned
berguling-guling dengan sahabatnya, juga bicara dengan Fitzpatrick (Nicholas
Hoult) si jagabaya, yang duduk santai bertelanjang bulat.
Geng Kelly beraksi sambil
mengenakan gaun layaknya transvestite. Mereka
percaya, dandanan tersebut bisa menumbuhkan ketakutan di benak lawan, sebab
manusia cenderung takut pada hal aneh yang tak mereka dipahami. Dari situ,
Kurzel berkesempatan menyuntikkan estetika queer
di film yang juga bertindak selaku drama keluarga ini. Keluarga disfungsional
tentunya.
Sewaktu seorang wanita kaya—yang
puteranya Ned tolong saat jatuh ke sungai—menawarkan diri membiayai pendidikan
Ned, Ellen menolak, beralasan jika ia tak bisa hidup tanpa sang putera, dan bahwa
keluarga selalu jadi yang utama. Ned percaya itu. Dia pun sangat mencintai ibunya,
sampai Ned menemukan kenyataan pahit. Cinta Ellen rupanya palsu.....atau tidak?
Mungkin memang begitu cara mereka mencintai? Mungkinkah itu dampak persekusi
dan tidak pernahnya mereka melihat cahaya harapan? Ned pernah melihat cahaya
itu. Saat kecil ia sejenak mengunjungi rumah mewah keluarga kaya, lalu
menghabiskan masa remaja jauh dari kumuhnya kampung halaman. Mungkin itulah
kenapa, dibanding anggota keluarganya, Ned lebih “lembut”, juga satu-satunya
yang terpikir untuk menuturkan kebenaran, tatkala orang lain sebatas memikirkan
perut.
Dan layaknya shakesperian, yang mana familiar bagi Kurzel, True History of the Kelly Gang ditutup sebagai tragedi ironis
akibat satu kesalahan sang protagonis yang didasari oleh kebaikan hati dan keinginannya
melihat cahaya harapan. Sebagaimana Macbeth
(2015), Kurzel piawai membangun nuansa bak mimpi buruk penuh kegelisahan,
khususnya pada klimaks mencekat berlatar malam kelam, yang disinari kedipan
cahay menyilaukan, suar merah, dan puluhan titik-titik cahaya obor. Musik
gubahan Jed Kurzel, kakak sekaligus komposer langganan sang sutradara, tak
ketinggalan tampil menghantui nan intens. Sama intensnya dengan performa George
MacKay yang tampil manik, melepaskan diri sebagai pria beremosi tak stabil yang
di balik amarahnya, merindukan cinta di tanah tanpa cinta.
Tapi perlu dicatat, seperti biasa,
film Justin Kurzel bukan untuk semua orang. Penonton yang mencari gaya narasi
tradisional berpotensi kehilangan selera menyaksikan metode bertuturnya yang
liar (banyak disebut membuat filmnya terkesan "punk") dan seperti tanpa konflik utama, yang juga mengesampingkan pendekatan
dramatis demi nuansa atmosferik. Terkait narasi, True History of the Kelly Gang pun menyimpan inkonsistensi. Dikemas
memakai sudut pandang orang pertama, ada beberapa peristiwa yang semestinya tak
diketahui oleh narator. Pada akhirnya, bahkan oleh orang yang mengakui
kelebihan-kelebihannya, True History of
the Kelly Gang lebih mudah dikagumi ketimbang dicintai.
Available on KLIK FILM
THAPPAD (2020)
Rasyidharry
Mei 05, 2020
Anubhav Sinha
,
Drama
,
Geetika Vidya Ohlyan
,
Hindi Movie
,
Maya Sarao
,
Mrunmayee Lagoo
,
Pavail Gulati
,
Ratna Pathak Shah
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Taapsee Pannu
9 komentar
Thappad (artinya “tamparan”) dibuka secara ceria, memperlihatkan
beberapa orang (mayoritas pasangan, entah menikah, berpacaran, atau pelaku
perselingkuhan) tengah berbahagia, bersikap romantis, atau saling bercanda.
Bahkan sampai 25 menit pertama, setelah kita mengunjungi pasangan utamanya, Amrita
(Taapsee Pannu) dan Vikram (Pavail Gulati), keceriaan itu masih ada, layaknya
komedi romantis yang ringan.
Bekerja di sebuah perusahaan,
Vikram berusaha keras menggapai mimpinya menjadi pimpinan cabang di London,
sedangkan Amrita merupakan mantan penari yang menyerah mengejar mimpi demi menjadi
ibu rumah tangga nomor satu di dunia. Mereka bahagia. Apalagi saat ambisi
Vikram soal London terwujud.
Pesta pun digelar. Keluarga, teman,
hingga rekan-rekan kerja Vikram diundang. Bisa dibilang, semua orang dalam
hidup mereka ada di sana. Tapi perayaan besar itu berubah jadi bencana besar.
Vikram menerima telepon bahwa promosinya dibatalkan. Dia tetap bisa ke London,
namun sebagai bawahan. Pertengkaran pecah antara Vikram dengan salah satu
atasannya, Amrita coba melerai, namun sang suami justru menamparnya. Saat
itulah kita sadar, filmnya sengaja dibuat ceria di awal, agar seperti
karakternya, penonton tercengang kala peristiwa itu terjadi.
Tamparan itu merupakan awal
eksplorasi, pembuka kritik sosial yang juga bagai tamparan ke wajah penonton.
Amrita mulai mempertanyakan semuanya. Pernikahannya, cintanya. Vikram juga
bertanya-tanya. Bertanya, mengapa insiden “sepele” itu menghilangkan senyum
sang istri. Sebab bagi banyak pria, wanita harus selalu tersenyum.
Kalimat pertama yang diucapkan
Vikram pada Amrita di pagi berikutnya
bukan “maaf”, melainkan pembenaran, alasan-alasan, serta kekhawatiran mengenai pandangan
orang-orang terhadapnya. Tapi bagaimana dengan Amrita? Bayangkan perasaannya.
Betapa sakit dan malu menerima perlakuan semacam itu di tengah kerumunan
orang-orang yang tidak asing. Vikram berkata ingin keluar dari pekerjaan yang
tak menghargainya, tapi apakah Amrita dihargai?
Thappad adalah tentang banyak hal, yang oleh naskah buatan Anubhav
Sinha (juga selaku sutradara) dan Mrunmayee Lagoo, disatukan dalam tuturan
sepanjang 142 menit dengan baik. Filmnya mengajak kita berpikir dengan
menunjukkan berbagai perspektif melalui beragam situasi, di mana konflik
protagonisnya bertindak sebagai penghubung.Tidak butuh waktu lama hingga
terungkap bahwa orang-orang di sekuen pembuka punya kaitan dengan tokoh
utamanya. Kaitan yang terjadi tanpa terasa dipaksakan, sebagai cara cerdik guna
mengeksplorasi isunya. Seperti sudah saya sebutkan, awalanya mereka semua
tampak bahagia, tapi seiring waktu kita bisa melihat kehadiran seksime di tiap
sudut.
Seksime (dan patriarki) yang kasat
mata bagi karakternya, karena itu terjadi terlalu lama dan sering sampai
menjadi kebiasaan, atau malah budaya. Sunita (Geetika Vidya Ohlyan), pembantu
di rumah protagonis kita, bercerita tentang sang suami yang sering memukulinya
di rumah sambil tertawa, seolah itu keseharian bagi sepasang suami istri. Di
tengah jalan menuju kantor, Vikram mengeluhkan tentang orang-orang yang
membiarkan wanita menyetir mobil, lalu ketika Amrita bertanya apa dia boleh belajar
menyetir, Vikram berkata, “Lebih baik kamu belajar masa dulu!”. Dan masih ada
kasus-kasus lain.
Tamparan itu menjadi pemantik,
bukan cuma bagi Amrita, juga orang-orang di sekitarnya soal ketidakadilan
gender. Mereka mulai bereaksi, berpikir, bahkan coba membayangkan apa jadinya bila
ada di posisi serupa. Dengan demikian, penonton pun bisa memperoleh perspektif
berbeda-beda pula.
Berlatar India di mana patriarki
mengakar kuat, tidak membuat film ini eksklusif diperuntukkan bagi masyarakat
lokal. Thappad cukup universal. Mungkin kalian pernah
mendengar beberapa sudut pandang karakternya di kehidupan sehari-hari. “Wanita
harus belajar toleransi demi mempertahankan keluarga. Wanita harus menahan
perasaannya”. Terdengar familiar?
Hebatnya, Thappad adil dalam melempar kritik. Kita melihat beberapa pria “bersatu”,
menyatakan bahwa perbuatan Vikram bukan hal besar, tapi di sisi lain, banyak
juga wanita yang terlanjur terperangkap jebakan pola pikir patriarkis. Ibu
Amrita (Ratna Pathak Shah) menganggap, sebagai seorang wanita, kepergian
puterinya dari rumah saat tengah gamang akibat tamparan sang suami, bukanlah
keputusan baik. Sedangkan Netra (Maya Sarao), pengacara yang kerap
memperjuangkan hak wanita, menganggap kemarahan Amrita kurang beralasan. Kenapa
itu dapat terjadi? Thappad punya
jawaannya. Pola asuh jelas bertanggung jawab.
Menyimpan begitu banyak pokok
pembicaraan, mampukah filmnya bertutur secara solid? Rupanya mampu. Isunya
terkesplorasi menyeluruh, biarpun sempat jalan di tempat begitu mencapai
pertengahan durasi. Beberapa bagian bisa dipotong sehingga tak perlu berjalan
selama hampir dua setengah jam, pacing bisa
lebih dimainkan, dan semua itu takkan mengurangi dampaknya.
Setiap dinamika penceritaan mulai
menurun, departemen akting datang menolong. Jajaran cast-nya melakoni porsi masing-masing dengan baik, tapi secara
alamiah, tentu saja Taapsee Pannu paling menonjol. Transisinya, dari sosok
wanita bercahaya menjadi seseorang yang kehilangan semua cahaya, meyakinkan. Selepas
transisi, meski sekilas tak banyak mengubah ekspresi, tatapan dan kata-kata
singkatnya justru semakin tajam. Kita bisa merasakan apakah ia sedang sedih,
terkejut, jijik, marah, atau semuanya sekaligus.
Selain keberhasilan eksplorasi isu,
pencapaian lain dari kedua penulisnya adalah soal penulisan kalimat yang
diucapkan karakternya. Anubhav Sinha dan Mrunmayee Lagoo piawai mengolah
kata-kata, dari yang menyadarkan kita, memberi informasi, memprovokasi, atau
menyentuh hati, seperti kalimat terakhir yang diucapkan Vikram kepada Amrita,
yang memantapkan status Thappad bukan
sebagai tontonan sarat amarah atau dendam, melainkan kisah humanis yang
didasari cinta dan kepedulian. Tidak semestinya kita melakukan hal yang salah,
namun jika terlanjur, hal terbaik dan pertama yang harus dilakukan adalah
meminta maaf, sebelum kemudian berusaha menjadi lebih baik, demi diri sendiri
dan orang-orang tercinta.
Available on PRIME VIDEO
THE HALF OF IT (2020)
Rasyidharry
Mei 03, 2020
Alexxis Lemire
,
Alice Wu
,
Comedy
,
Daniel Diemer
,
Drama
,
Leah Lewis
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Romance
3 komentar
Disclaimer berbunyi “this
is not a love story” sudah menjadi keklisean baru dalam suguhan romansa
yang membawa keinginan tampil beda. Salah satu quote dalam The Half of It yang
berbunyi “Doesn’t everyone think they’re
different? But pretty much we’re all different in the same way” dapat
diaplikasikan kepada film-film semacam itu. Apakah The Half of It merupakan cerita cinta? Ya dan tidak. Apakah
pengemasannya baru? Beberapa ya, beberapa tidak.
Film kedua sutradara sekaligus
penulis naskah Alice Wu setelah mencetak sejarah lewat Saving Face (2004)—selaku film Hollywood pertama dengan tokoh
sentral Cina-Amerika selama lebih dari satu dekade—ini tetaplah romansa. Masih
melibatkan beberapa remaja yang (diam-diam) saling suka, walau tak sepenuhnya
demikian, sebab konklusinya sendiri berusaha menjangkau sesuatu yang lebih
luas. Ada kesegaran terkait caranya menangani cinta segitiga, meski sekarang,
komedi-romantis yang cenderung lembut ketimbang eksplosif dalam mengutarakan
rasa, sederhana ketimbang festive,
menampilkan manusia sehari-hari ketimbang sosok-sosok glamor nan rupawan, mulai
menciptakan keumuman yang baru.
Ellie Chu (Leah Lewis) merupakan
tipikal protagonis komedi-romantis masa kini. Penampilannya tidak feminin,
terasing dari lingkungan sosial, seorang murid teladan, walau untungnya,
penulisan Wu dan penampilan Lewis membuatnya tak seklise itu. Tidak terasa aura
kesengsaraan, meski ia tetap punya sudut pandang pesimistis pula skeptis. Ellie
tidak percaya Tuhan (yang melahirkan beberapa humor yang menyentil religiusitas
termasuk kekacauan luar biasa lucu di gereja jelang akhir cerita), pun ia
memandang cinta secara logis.
Ellie memanfaatkan kepintarannya
untuk berbisnis. Dia menerima jasa penulisan makalah filsafat bagi teman-teman
sekelasnya. Sewaktu Paul (Daniel Diemer) memintanya menuliskan hal lain, yakni surat
cinta untuk Aster (Alexxis Lemire), gadis cantik yang terjebak dalam hubungan
dengan alpha male populer yang bodoh,
Ellie bertanya, bagaimana bisa Paul mencintai seseorang yang tak pernah ia ajak
berinteraksi langsung.
Cinta tak harus logis. Kita bisa
mencintai seseorang yang tak begitu kita kenal. Pun setelah bertemu Aster, anda
akan memahami kenapa Paul bisa jatuh hati. Dia cantik, senyumnya seolah
menebarkan kebaikan, dan terpenting, ia berwawasan luas. Mudah bersimpati
terhadap Aster, yang memiliki pacar bodoh, juga koran surat cinta palsu yang
membangkitkan harapan palsu, bahwa ada pria baik nan cerdas yang dapat mencuri
hatinya.
Tapi Ellie juga tak seutuhnya
keliru. Cinta juga soal mengenal satu sama lain. Tanpa itu, takkan ada koneksi,
seperti yang menimpa Paul dan Aster pada sebuah kencan perdana yang berantakan,
di mana menyedot milkshake lebih sering dilakukan daripada bertukar pikiran.
Melihat dari apa yang sudah saya
tulis, mungkin anda menemukan beberapa kontradiksi dalam filmnya. Sederhananya,
membingungkan. Bagaimana tidak? Bukankah cinta membingungkan? Bukankah masa
remaja membingungkan? Bayangkan betapa membingungkan saat kedua hal itu
bertemu. Semakin rumit ketika pelan-pelan kita menyadari kalau Ellie adalah
lesbian, dan mulai timbul kecurigaan jika ia pun menyukai Aster. Elemen
tersebut memberi twist menarik untuk
cinta segitiganya. Sebuah sentuhan yang membuatmu sulit menerka kisahnya bakal
berakhir di mana.
Lagipula siapa yang bisa menebak
hasil akhir dari problematika remaja yang senantiasa kompleks, dan seringkali
di luar nalar orang dewasa. Tapi The Half
of It bukan suguhan teen angst. Dan
karena punya protagonis seorang queer, bukan
berarti filmnya harus sarat pesan sebagai suatu tontonan berorientasi protes.
Alice Wu memperlakukan elemen LGBT “hanya” sebagai salah satu bagian dari
perjalanan remaja mencari jati diri.
The Half of It ingin tampil serealistis mungkin, meskipun melambungnya
popularitas Ellie secara mendadak pasca sebuah penampilan sederhana di atas
panggung, jelas bukan wujud realisme. Turut menyimpan masalah adalah
penyutradaraan Alice Wu. Minim letupan, tender,
yang mana merupakan niatan baik guna membawa keintiman lebih, biarpun
seringkali, sang sutradara terlalu sibuk bermain simbolisme visual, sembari
berusaha keras menekan ekspresi rasa supaya filmnya tidak berwajah mainstream. Tapi satu titik yang
memperlihatkan kesuksesan sensitivitas Alice Wu terletak pada ending, tatkala selama beberapa detik,
bersama karakternya, kita diajak meresapi kedamaian dalam momen. Like the moment seizes us, absorbs us into its
existence.
Available on NETFLIX
Langganan:
Komentar
(
Atom
)




















1 komentar :
Comment Page:Posting Komentar